[LombaFF] MELANCHOLY FATE

Title : Melancholy Fate

Rating : General

Genre : fantasy

Cast :

–          Jung Yong Hwa

–          Im Yeon Hee

 

 

 

Apa kau percaya takdir?

Kau tak bisa lari, kau tak bisa bersembunyi, dan kau tidak mungkin dapat mengingkarinya.

Pahit sekalipun.

Apa kau percaya pertemuan kita direncanakan?

Apa kau percaya cinta itu tidak pernah kebetulan?

Mianhae, yeonhee-yaa,,,

Inilah takdir kita.

 

YEONHEE’S POV

“nomor 27, Im Yeon Hee !!!”

Suara bass Choi sosaengnim menyeretku kembali ke alam sadar dimana kini kutemukan seluruh murid mengawasiku.

Sudah giliranku ya?! Hatiku mencelos bersamaan dengan tubuhku yang lunglai seketika untuk sekedar membawa kakiku menghampiri Choi sosaengnim. Sebenarnya aku tidak ada masalah sama sekali dengan guru olahraga yang tampan lagi atletis itu, apalagi ia cukup baikhati, hanya saja… errrr aku benci olahraga ! terutama lari, seperti sekarang.

Kau tahu, nafasku akan habis saat berlari lima puluh meter saja, dan kini aku harus berlari sepuluh putaran?! Kau ingin membunuhku, sosaengnim??!!!

Sungguh, aku bukan sedang mengarang alasan. Tubuhku memang tidak sekuat orang lain, semua temanku bahkan mengataiku mayat hidup karena pucat wajahku yang keterlaluan.

Aissh, tapi bukan saatnya untuk menjelaskan itu, sekarang aku telah bersusun bersama lima orang lainnya, mengambil kuda-kuda dengan jantung menegang menunggu peluit berbunyi.

“hana… deul… set, kka !!!”

Aku berlari sekencang yang kumampu, aku tahu ini akan buruk, tapi aku tak mau tertinggal jauh diputaran awal. Belum setengah lagi yang kucapai, jantungku rasanya sudah mau bobol, aku tak bisa mengatur nafasku sendiri, turun naik tak terkendali, dan aku memompanya lewat mulut karena hidung sudah tak cukup. Kucoba tetap berlari meski aku sudah hampir tak lagi merasakan kakiku. Sesak. Kepalaku berdenyut hebat. Sekejap berikutnya tubuhku telah meringan, aku tak menyadarinya saat aku melimbung. Aku rasa aku akan jatuh kebelakang, aku sudah tak punya kekuatan untuk mencegahnya.

Tapi tidak. Tepat detik yang aku ramalkan untuk berdebam ditanah, sesuatu telah menahanku, seseorang tepatnya. Meski pandanganku berkunang, itu masih dapat menangkap sosok wajah tampan setengah tersenyum, entah ia memang sedang tersenyum atau karakter wajahnya yang terlalu ramah. Yang jelas itu terlalu tampan !

Astaga, jantungku bahkan lupa untuk berdetak ! dan aku tak lagi ingat untuk menarik nafas…

“Im YeonHee…”

Ia menyanyi? Jika dipikirkan secara logis tidak mungkin. Tapi ergh, suaranya terlalu merdu, caranya menyebut namaku, tak pernah kudengar sebelumnya, tak pernah selembut itu. Itu seperti alunan piano klasik, ah tidak! Lebih halus dari itu.

Tapi tunggu ! dia tau namaku?

Baru saja kesadaran menjalari ragaku kembali setelah sebelumnya aku antara sadar dan tidak. Hal pertama yang kusadari adalah bahwa namja ini lebih tampan dari apapun, dari imajinasi yang pernah aku bayangkan, yang terliar sekalipun.

“gwaenchana?”

Kali ini ia benar tersenyum.

Ough, nafasku sesak lagi. Aku tak dapat merespon, seperti ada sesuatu dari balik mata gelapnya mengambil alih otakku, bahkan aku tak dapat mengendalikan diri untuk berhenti terpesona. Pada akhirnya aku pasrah, membiarkan mataku menjelajahi setiap gurat yang terpahat di wajah itu.  Malaiakat! Aku yakin dia malaikat. Hidungnya panjang sempurna, bibirnya semerah plum tak begitu tebal juga tidak tipis, sementara pendar matanya serupa kanopi sycamore di penghujung musim semi. Dan ketika ia tersenyum, aku yakin kau akan seperti diriku, melupakan segala hal yang pernah kau ingat sekalipun yang tak perlu kau ingat. Kau akan lupa untuk bernafas dengan benar, jantungmu mungkin akan berdetak secara frontal, kau lupa tentang apa saja, termasuk dirimu sendiri.

“yeonhee-ya…”

Sekejap aku terhanyut oleh suaranya, sebelum akhirnya logikaku kembali.

“nuguseyo?” tanyaku takut-takut.

Ia tersenyum.

Haruskah kuceritakan bahwa aku kembali tersihir? Senyum itu, suaranya, bahkan ketika ia tak melakukan apa-apa, itu saja telah lebih dari cukup untuk membuatku sinting.

“penjemput kematianmu…”

 

***

 YONGHWA’S POV

 

                Ia melihatku dengan mulut terbuka dan bolamata yang seperti siap meloncat keluar. Bodoh sekali. Yah, tapi semua orang tentu akan bersikap seperti itu begitu mendengar profesiku.

Awalnya aku tak percaya, gadis ini memelototiku dengan pandangan idiotnya, dia bisa melihatku? Tidak mungkin! Seharusnya tidak. Biasanya mereka hanya bisa merasakan keberadaanku disekitar mereka saja atau apa yang sering disebut firasat. Mereka berperilaku aneh karena auraku yang membayangi mereka, 7 hari sebelum kematian itu datang. Tepat saat krystal dalam tubuh mereka pecah dan menguarkan bau kematian. Itu adalah sebuah undangan bagiku. Tapi gadis ini, hey! Dia menatapku penuh takjub, aku rasa ia sampai tidak rela untuk berkedip. Oh, well,  tentu saja, aku ini ras malaikat, aku seribu kali lebih tampan dari manusia. Bukannya sombong, itu tidak akan matching dengan wajahku, tapi begitulah kenyataan.

Dan gadis ini… tidak begitu cantik, tapi ia memiliki garis wajah yang unik, terlihat lucu, terutama ketika ia berkerut bingung seperti sekarang. Mungkin aku sudah terlalu bosan dengan paras-paras bidadari yang selalu saja cantik, aku lebih suka wajah ini.

“penjemput kematian?” rupanya ia masih terlalu idiot untuk mengerti ucapanku.

“geurae. Kau bisa memanggilku dengan nama Koreaku, YongHwa”

“ahaha, kau pasti bercanda.” Tawanya sumbang, ah bukan! Itu janggal tapi bagus, aku menyukai itu.

“malaikat tak pernah bercanda. Aku hanya menjalankan tugasku.” Sahutku datar. Yah, aku memang tak memiliki banyak ekspresi, kami tidak seperti manusia yang sellau saja heboh terhadap kehidupan mereka yang teramat singkat.

“aku akan mati? Sekarang?”

Kini suaranya bergetar hebat, tertangkap olehku nada takut, juga sangsi. Wajah mungilnya memucat seketika, lebih pucat dari yang sudah-sudah.

“tidak. Kau masih punya waktu satu minggu. Kusarankan kau benar-benar menikmatinya.”

“tap, tapi…” alisnya berkedut-kedut menatapku, sedikit mendongak karena ia memiliki tubuh yang mungil.

“ini lucu. Bukankah tidak seharusnya kau memberitahuku kapan aku akan mati?!”

Aku menatapnya intens. Ergh, gadis ini benar-benar cerewet, merepotkan saja ! mata kecil itu membulat seakan menuntutku.

“sama saja. Kau tak kan pernah bisa lari.” Punggung tanganku pun tergerak menjelajahi pipi mulusnya. Astaga! Apa yang kulakukan?! Ini tidak biasa. Ada sesuatu dalam dirinya. Bau kematian ini, belum pernah kuhirup sebelumnya, tubuh itu menguarkan bau yang memabukkan, lebih keras dari anggur terbaik sekalipun.

Kau, kenapa kau harus mati muda, eoh?!

Dan kenapa harus aku yang menjemput kematianmu?

 

***

YEONHEE’S POV

 

“Yeonhee-yaa, ireona ! ireona, yeonhee-yaa…”

Eunggg, kepalaku berdenyut ketika kucoba membuka mata. Berisik disekitarku, ada berapa banyak orang? Sepertinya ramai, kurasakan gerombolan manusia itu mengelilingiku.

“ireona, yeonhee-yaa..”

Jelas itu suara Eun Wook sahabatku, dan entah ada berapa suara lain memanggilku, semuanya berbaur.

Dengan payah aku membuka kelopak mataku setengah, masih sakit dan terasa kaku. Apa yang terjadi? Kutemukan diriku terbaring ditepi lapangan, semua murid mengerubungiku, wajah mereka cemas. Apa aku pingsan?

Yonghwa…

Seseorang tolong jelaskan, apa aku tadi bermimpi bertemu seorang malaikat tampan yang mengaku sebagai penjemput kematian? Kabar tentang kematianku. Yah, aku harap ini benar mimpi.

“kau tidak bermimpi, nona.”

Nafasku tercekat. Suara itu, aku mengenalinya, tidak mungkin aku dapat melupakan suara yang bahkan lebih merdu dari denting piano itu. Tapi… ah, aku pasti belum sadar sepenuhnya, aku pasti masih bermimpi. Ya, benar. Ini hanya mimpi yang aneh.

“kau tidak bisa menghindari takdirmu, Yeonhee-yaa…”

Suara itu kian jelas. Percuma aku meyakinkan diriku bahwa ini hanya ilusi sementara sebagian pikiranku mengingkarinya. Menarik satu nafas panjang sebelum kuberanikan menoleh pada asal suara.

“annyeong.” Ia tersenyum.

Tuhan, kenapa Kau tidak bunuh aku sekarang saja?

“Yeonhee-yaa, neo waegeurae?”

Suara Eunwook menyadarkanku kembali dari setiap hipnotis dimana aku terjerumus. Raut wajah Eunwook baik-baik saja, sedikit cemas menanyakan keadaanku. Apa dia tidak sama terpukaunya sepertiku melihat malaikat itu? Atau… kuperhatikan orang-orang disekelilingku, mereka biasa-biasa saja. Dengan kata lain hanya aku yang melihatnya?

“yes, you allright!”

 

***

Aku menatap kalender meja yang kuberi tanda silang besar dengan spidol merah. Sudah 4 centang, berarti sudah 4 hari sejak aku dijadwalkan untuk tak lagi hidup. Aku tidak punya waktu lebih banyak. Dan aku mulai percaya soal kematian itu, aku tak mengerti, tapi jantungku selalu berdenyut nyeri, semakin hari semakin sakit.

“apa kau tidak punya kegiatan yang lebih menyenangkan selain meratapi kematian?”

Mengalihkan pandanganku sedikit, sekilas pada yonghwa yang tengah duduk diatas meja belajarku. Ia memang selalu menempelku seperti ini. dan aku masih tak berani menatapnya terlalu lama, aku pasti akan terhanyut, bahkan disaat aku dibayangi kematian seperti ini, saat nyawaku dicabut pun, mungkin jika ada dia, aku takkan lagi merasakannya.

Wajahnya terlalu damai untuk seorang penjemput kematian. Aku masih sering mengherankan hal itu. Bagaimana mungkin wajah malaikat penghuni surga bisa berpindah pada seorang penjemput kematian? Setidaknya wajah itu tak membuatku takut karena ia selalu disisiku, justru membuat addicted.

“oppa. Apa aku boleh tau bagaimana aku akan mati?” tanyaku tanpa menoleh kearahnya, sibuk mencoret-coret buku harian yang sudah kuisi dengan hal-hal yang ingin kulakukan sebelum mati.

Yonghwa tak segera menjawab. Saat aku menoleh, mataku langsung bersirobok dengan tatapannya yang dingin. Ia memang bukan manusia, tatapannya terlalu dingin dan tak terdefinisi.

“sebaiknya tidak.”

“wae?”

Ia bergerak menuruni meja, lalu selangkah menghampiriku, membungkukkan badannya hingga kini kami bertatapan horisontal.

“Kau tahu takdir? Cukup percaya itu saja.”

Kemudian dengan tatapan aneh itu lagi, ia mundur menjauh.

“oppa, boleh aku bertanya lagi?”

 

***

 YONGHWA”S POV

 

aku menjauhkan diriku, bukan tanpa alasan, tapi bau kematiannya terlalu menyengat, aku sinting oleh wangi itu. Yah, ia wangi. Tapi jika dapat, aku lebih memilih untuk tidak mencium bau itu, aku tidak ingin menjemput kematian gadis ini.

“oppa, boleh aku bertanya lagi?”

Saat itu aku telah beringsut membelakanginya, karena bertatapan dengannya membuatku nyaris gila. Aku malaikat kematian bukan?! Ada apa denganku? Tidak mungkin aku merasakan hal yang sama seperti yang manusia alami. Suka? Jatuh cinta? Cih. Kecuali…

“bagaimana jika kau mencintaiku?”

ERGH ? pertanyaan macam apa itu. Lebih cepat dari kilat, aku kembali disisinya, disamping belakang gadis itu, rambutnya menyentuh hidungku. Ia memutar kursi menghadapiku.

“bisakah kau membatalkan kematian ini jika kau mencintaiku?”

“ahaha…” aku tertawa, tidak benar-benar tertawa, tidak ada yang lucu sama sekali.

“aku sudah katakan bukan, kau tidak bisa mengingkari takdirmu. Bahkan malaikat kematian sekalipun.”

Malaikat juga memiliki takdir masing-masing. Takdirku? Apa kau penasaran bisakah malaikat juga ditakdirkan untuk jatuh cinta? Aku hanya dapat memperingatkan, sedapat mungkin hal itu jangan pernah terjadi.

“ah, ya! Sebaiknya kau jangan mencintaiku.”

Kucoba bercanda meski terasa hambar. Ah, aku benci ! teramat benci jika mengingat tentang takdir ! bagaimana jika kau sudah tahu nasibmu, tapi kau tidak dapat melakukan apa-apa untuk mengubahnya? Aku benci kenapa malaikat diberitahu lebih dulu tentang takdirnya.

“bagaimana jika aku sudah terlanjur mencintaimu?”

 

 

***

YEONHEE’S POV

 

Hari itu datang seperti angin, berlalu dengan cepat. Tepat satu minggu setelah aku bertemu penjemput kematianku. Tepat saat aku menyelesaikan daftar hal yang ingin kulakukan dalam hidup. Yonghwa membantuku, ia membawaku naik gunung, kami juga telah berjalan jalan didaratan eropa, sempat pula kurasakan debur ombak pasifik, kami benar-benar melakukan hal-hal yang menyenangkan. Daftar terakhirku adalah, aku ingin belajar mencintai, sekali saja seumur hidup. Dan ia telah mewujudkannya sejak awal ia menjemputku, sebelum aku berfikir untuk menginginkannya.

Yonghwa oppa-yaa, gamssahamnida…

Aku tengah duduk ditengah sabana, rumput-rumput menghijau diatas bukit-bukit rendah, tempat ini salah satu yang paling ingin kukunjungi. Angin sore menampari pipi dan leherku, tengah kubentangkan tangan lebar-lebar coba memeluknya saat rasa sakit yang hebat menghujami jantungku.

Pernah kah kau merasa seperti dikuliti? SAKIT ! jantungku seolah akan dicopot secara paksa. Aku tak bisa menjelaskan rasa sakit yang kini menghantamku, tak terperikan. Aku tak sanggup menjelaskannya, tak ada kata yang cukup untukku menjerit.

Aku melemas, kusorotkan pandang pada Yonghwa, ia hanya menatapku dengan mata yang… aku tidak tahu, tapi aku tidak menyukai tatapan itu, seperti irama keheningan yang teramat mengiris.

“a..”

Sakit, teramat sakit sampai aku tak sanggup mengeluarkan suara untuk berteriak. Seluruh tubuhku dari ujung keujung berangsur dingin. Entahlah, aku sendiri tidak dapat merasakan apa-apa. Lebih parah dari kesemutan, rasa sakit itu rupanya tak mengijinkanku untuk merasakan hal lainnya, berpikir sekalipun. Dingin sekali! Semu…

YongHwa oppa-yaa…

Aku masih mengingat nama itu, coba memanggilnya meski ia telah disisiku, aku ingin lebih dekat. Aku tak tahu apa yang beanr-benar kuinginkan saat yang ada dipikiranku hanya perih berdenyut. Namun hatiku memanggilnya.

Ada sedikit hangat. Kucoba mengembalikan kesadaranku dan kutemukan YongHwa telah memelukku demikian erat. Inikah ritualnya? Beginikah caranya mengambil nyawaku? Aku tidak akan marah. Aku menyukai ini…

“oppa, saranghae…” bisikku, tak tahu apa itu terdengar.

“mianhae Yeonhee-yaa…”

Sakit oppa ! sakit ! aku ingin memeluknya lebih erat dan menekan sakit ini, tapi rupanya aku tak lagi punya tenaga untuk itu.

Oppa, saranghae ! dengarlah itu.

Ini benar-benar sakit ! ini kah takdir?

 

***

YONGHWA’S POV

 

Mianhae yeonhee-yaa. Kematianmu adalah salahku. Ini takdir kita.

Tanpa kusadari aku telah memeluknya, aku tak perlu melakukan itu untuk menghisap rohnya, aku hanya ingin menemaninya disaat terakhir, benar-benar yang terakhir.

Mendekapnya erat tak terkendali, aku tahu ini takkan berguna, takkan memundurkan kemaatiannya sedetik saja. Setidaknya aku dapat memeluknya, hal yang selama ini sellau ingin kulakukan. Ya, ini pertama dan terakhir aku merasakan menyatu dengan tubuhnya yang berbau teramat wangi. Selama ini aku takut untuk jatuh cinta dengannya.

Bodoh! Aku sendiri yang selalu mengatakan kita tak bisa menghindari takdir.

Dengan atau tanpa apapun yang kulakukan, aku tetap akan jatuh cinta padamu.

Apa aku bisa menyebut ini takdir?

Kau mati karena mencintaiku. Konyol bukan? Kita berbeda, jantungmu tidak sanggup menerima perasaan asing ini. seperti sudah digariskan, aku datang lebih dulu, menjemputmu bahkan sebelum kau mencintaiku dan membuat kau seperti ini. aku sudah tahu ini sebelum kau diciptakan Yeonhee-yaa, aku sudah tahu aku akan mencintaimu dan kita akan berpisah seperti ini.

Mengetahui takdir yang tak bisa kau ubah, itu sungguh menyakitkan. Ia terlalu egois mempermainkan kita. Kenapa kau mencintaiku? Kenapa aku yang menjemput kematianmu?

Inilah takdir kita.

Na do saranghae, yeonhee-yaa…

 

===FIN===

 

Abal==”
iya, author sadar sepenuhnya. Tapi dengan segenap kerendahan hati, mohon dukungannya~ *bow

 

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

48 thoughts on “[LombaFF] MELANCHOLY FATE

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s