[LombaFF] The Days When Miss You

Rating: G

Casts: Kim Kyo Eun, Jung Yong Hwa

Other Casts: Kim Yo Eun, Kang Min Hyuk, Lee Jong Hyun, Lee Jung Shin, Eun Jo, KwonIn

Genre: Romance

Disclaimer: FF ini terinsipari saat author lagi kangen sama `someone` xD, yang jelas orang itu hanya author yang tahu. Awalnya ini FF keputus di tengah jalan, karena author udah mumet dan mati ide, tapi pas lihat tweets nya @galauanSMP yang entah kenapa bikin author jadi semangat buat nerusin ini FF lagi langsung memuncak. Dan jadilah FF super gaje yang pernah ada didunia ini.

 

 

 

Orang kalau lagi kangen itu rasanya campur aduk,

antara geregetan sendiri, senyam senyum senidri, dan sedih sendiri.

 @galauanSMP

 

KyoEun POV

Aku memandang layar televise dengan wajah cemberut. Ku lihat sosok yang sangat membuat ku frustasi sedang berbicara dengan wajah yang amat berbinar didalam layar. Sosok yang telah mengajari ku merasakan kasih sayang, ketulusan, kebahagian, dan merasakan arti cinta.

“ Shhh.. “ aku medesah pelan sembari meletakan remote yang sejak tadi tergenggam di tangan ku keatas meja. “ Kenapa wajah mu bisa tampak sesenang itu? “ gumam ku kesal.

Aku lalu memandang layar ponsel ku yang tergeletak tepat disamping sofa yang ku duduki.

“ Huh.. bahkan saat aku tadi mengirim pesan pada mu kau tak membalasnya. Tidak kah kau merasa bersalah? “ gumam ku lagi sembari memandangi wajah seorang lelaki dari 4 lelaki yang sedang berbicara di dalam televise. “ Kau tak merindukan ku? “ tanya ku lagi masih menatap wajahnya dengan tatapan kesal.

“ Ah.. Yong. Sesibuk itukah kau sampai tak bisa membalas sms ku? “ gumam ku lagi. Aku lalu menghempaskan tubuh ku ke sandaran sofa dibelakang ku. “ Aigo! Aku bisa benar-benar gila kalau terus begini. “ ucap ku frustasi sembari menutup wajah ku dengan kedua tangan ku. YongHwa. Dialah lelaki yang sejak tadi aku bicara kan. Lelaki yang ada dalam layar televise itu. Lelaki yang menurutku sangat tampan dari lelaki manapun. Lelaki yang amat sangat ku cintai. Jung Yong Hwa, kekasih ku. Lelaki yang sudah beberapa minggu ini membuat ku hampir gila karena merindukannya.

Lelaki yang selalu disibukan dengan jadwal-jadwal padatnya hingga tak sempat sedikit pun menanyakan kabar kekasihnya sendiri. Ya, itulah kenyataan yang kini ku rasakan menjadi seorang kekasih idola yang terkenal di dunia ini.

Aku kembali memandang layar televsie, ku lihat lagi wajahnya yang sedang menjawab pertanyaan MC dengan lancar. Dibalik senyuman dan wajahnya yang berbinar dapat ku lihat sekelubut kelelahan yang menyelimuti tubuhnya. “ Yong.. aku sangat merindukan mu. “ desah ku sembari memandangi wajah YongHwa di televise.

Beginilah menjadi seorang kekasih idola yang selalu disibukan dengan jadwal padatnya. Harus siap menerima penderitaan kerinduan saat dia sibuk yang amat membuat orang frustasi. Disisi lain, aku memang sangat bahagia bahkan masih merasakan seperti mimpi bagi ku bisa menjadi seorang kekasih idola yang sangat dikagumi di dunia ini. Tampan, keren, bersuara bagus, dan pintar bermain music. Semua orang pasti sangat menginginkan ada di posisi ku.

Drett.. tiba-tiba ponsel di sofa bergetar. Aku segera meraih ponsel ku dan melihat 1 pesan masuk.

 

From: My Namjachingu :*

Mian yeppo, aku baru membalas sms mu. Aku baru saja mengaktifkan ponsel ku.

Aku baik-baik saja seperti yang kau lihat di tv. Aku sedang break show MBC. Besok aku harus pergi ke Taiwan untuk promosi dalam waktu satu minggu.

Bagaimana dengan kabar mu? ku harap kau selalu sehat dan terus tersenyum chagi.

I miss U. Saranghae :*

 

Aku hanya bergumam kesal ketika membaca smsnya. Huh.. aku sudah 3 jam yang lalu mengirim pesan padanya, bagaimana bisa dia tidak mengaktifkan ponselnya sejak tadi. Apa selama itu wawancara?

Aku semakin kesal saat membaca jadwal padatnya yang tak henti-hentinya menghampiri bandnya. Kalau begini terus kapan aku bisa bertemu dengan YongHwa? Aish! Benar-benar menyebalkan. Aku lalu menekan layar ponsel ku untuk membalas sms YongHwa.

 

To: My Namjachingu :*

Ne.. aku mengerti jadwal padat mu. Aku senang mendengar kau baik-baik saja, tidak perlu mengkhawatirkan ku. Aku baik-baik saja.

Take care..

 

Aku segera menekan tombol send di layar dengan wajah yang masih kesal. Lalu melemparkan ponsel ku hingga ke ujung sofa. Memang aku terkesan egois dan tidak pengertian dengannya. Tapi, aku benar-benar sudah dibuat kesal dengan jadwal padatnya dan kesibukanya.

 

geuh del bo myun ul gool ee bbal geh jigo geuh del bo myun ga seum ee doogeun doogeun ah ee chuh lum soo joob geh mal hago

 

Aku memandang ponsel ku yang berdering kembali. Aku dapat mengenali suara kali ini bukan suara pesan, tetapi suara panggilan. Aku kembali meraih ponsel ku. Yoeun calling.

“ Yoboseyo? “ tanya ku di telpon.

“ YA! Kyo Eun ah, kau dimana? Kau tidak masuk kerja apa? “ ucap suara keras disebrang sana. “ Ne, aku tahu. Sebentar lagi aku akan berangkat. “ ucap ku malas.

“ Baiklah. Ppali! “ Klik. Aku kembali meletakan ponsel ku di sofa lalu berjalan menuju kamar ku untuk segera berganti pakaian. Ya, sore ini aku ada kerja paruh waktu.

~~~~~

Aku mendorong pintu kaca didepan ku lalu segera berjalan masuk menghampiri meja didekat ku. Disana dapat ku lihat Yoeun sahabat ku sedang sibuk menyusun beberapa album kaset. Disinilah tempat aku bekerja paruh waktu. Toko kaset yang cukup terkenal di Seoul. Aku sudah cukup lama bekerja paruh waktu disini hitung-hitung mengisi waktu senggang ku. “ Annyeong.. “ sapa ku sembari mendekati Yoeun.

“ Annyeong, kenapa suara mu tampak lesu sekali? “ tanya Yoeun. Aku hanya diam sembari mengambil beberapa album kaset yang tersusun rapi didalam kardus. Dapat ku lihat album di dalam kardus ini adalah album C.N Blue, First Step. Ya, album terbaru band kekasih ku.

“ Biar ku tebak, pasti YongHwa lagi? “ tebaknya sembari berjalan menyusuri lemari tempat kaset. “ Ne.. Tebakan mu memang selalu tepat “ jawab ku malas.

“ Kali ini apa? Tidak membalas sms, tidak mengangkat telpon, tidak punya waktu untuk bertemu, atau apa? “ tanya Yoeun.

“ Semuanya. “ jawab ku cepat sembari menyusun album-album kaset yang ada ditagan ku ke lemari kaset sebelah Yoeun.

“ Humm.. kau memang harus sabar, wajar dia sibuk. Albumnya baru saja rilis, Kyo. “ jawab Yoeun.

“ Ne.. aku tahu. Aku selalu memperkokoh dinding kesabaran ku. “ ucap ku tanggap. Setelah semua album-album kaset itu tersusun rapi di lemari kaset. Aku lalu berjalan kembali menuju meja dan menjatuhkan diri ku diatas kursi. “ Ah.. aku benar-benar frustasi. Aku tidak tahan lagi. Aku lelah, Eun ah.. “ rengek ku pada Yoeun.

“ Itulah resikonya menjadi kekasih idola terkenal, kau harus siap disaat mereka sibuk dengan jadwalnya. “ nasehat Yoeun. “ Hiks, aku tahu. Tapi, tidak bisakah dia sebentar saja menemui ku. Apa sebegitu susahnya dia meminta izin untuk menengok kekasihnya yang hampir gila ini? “ tanya ku kesal.

“ Hey, kau lupa? Bukankah hubungan kalian dirahasiakan? “ tanya Yoeun. Aku hanya menghela nafas panjang ketika Yoeun mengucapkan itu.

Ya, hubungan ku dengan YongHwa memang dirahasiakan. Yang tahu hanya member C.N Blue dan Yoeun. Aku tidak pernah lupa dengan hal itu. “ Ya.. ya.. ya.. aku tahu. “ ucap ku lagi.

Aku lalu menjatuhkan kepala ku diatas meja mencoba untuk menenangkan pikiran ku dan melepas sedikit penat ku yang selalu membuat ku tenggelam dalam emosi.

“ Sudahlah, kau harus bersabar. Aku yakin YongHwa juga pasti merindukan mu. Kau harus mengerti keadaannya. Dia juga pasti sama gilanya dengan mu. “ ucap Yoeun sembari menepuk-nepuk pundak ku.

“ Setelah dia menyelesaikan semua promosi albumnya, pasti dia segera menemui mu. Percayalah.. “ sambung Yoeun lagi.

Aku lalu memandang Yoeun yang telah berdiri disebelah ku. “ Gomawo, Yoeun ah. Kau selalu berhasil menenangkan ku. “ kata ku sembari tersenyum.

“ Itu gunanya sahabat bukan? “ tanya Yoeun. “ Kim Yoeun, kau dipanggil sajangim. “ teriak Eunjo, salah satu karyawan disini juga. “ Hem? Ne, Kyo aku pergi sebentar ya. Sudah.. jangan bersedih lagi. “ ucap Yoeun lalu pergi menuju ruangan sajangnim. Aku hanya mengangguk lalu mengetuk-ngetuk jari ku di meja. “ Everyday just lonely. “ gumam ku lesu. Aku lalu iseng memandang keadaan diluar melalui kaca toko yang tembus pandang. Mencoba mengusir kegalauan.

Tak sengaja ku lihat sepasang kekasih yang sedang minum di cafe sebrang toko. Mereka sedang meminum segelas juice secara bersamaan menggunakan sedotan couple, saling memandang dan tersenyum. Benar-benar kelihatan sangat romatis. “ Huh.. mesra sekali mereka. “ gumam ku iri setangah kesal. Aku jadi ingat saat aku dengan YongHwa melakukan hal yang seperti itu juga.

Lalu tak lama muncul lagi sepasang kekasih yang lewat tepat didepan kaca toko. Mereka saling berlindung dari sinar matahari dengan payung yang dipegang lelaki disebelahnya. Mereka benar-benar tampak serasi sekali. “ Ah! Kenapa sih disekitar sini banyak pasangan yang lewat!  “ aku berdecak kesal lalu segera menelungkupkan wajah ku diatas meja. Melihat keadaan diluar malah membuat ku semakin galau. Hhh.. musim semi yang menyebalkan -__-

~~~~~

YongHwa POV

Aku memandang jam yang terletak didinding didepan ku. Jam telah menunjukan pukul 23.30. Jelas saja, sejak tadi mata ku amat terasa berat karena mengantuk. Hah.. sampai kapan wawancara ini berhenti. Rasanya tubuh ku benar-benar pegal, sejak tadi pagi pemotretan dibeberapa majalah, siangnya tampil di MBC, sorenya tampil di Music Bank, setelah itu bernyanyi di radio Sukira, dan ini aku sedang wawancara lagi untuk majalah apalah itu. Aku lupa namanya. Arghh.. seluruh tubuh ku rasanya remuk.

Aku juga teringat dengan pesan yang tadi ku baca sekilas dari KyoEun, kekasih ku. Aku tahu, dia pasti marah pada ku karena (lagi-lagi) lambat membalas smsnya. Dan (lagi-lagi) tidak punya waktu untuk menemuinya. Ah.. KyoEun ah, mianhae. Aku benar-benar sulit mencuri waktu untuk bertemu denganmu. Aku juga sangat sangat merindukan mu.

“ Bagaimana dengan YongHwa sshi? “ aku terkejut ketika seorang wanita tiba-tiba menyodorkan mic kea rah ku. “ Eum? “ ucap ku terkejut. Aku terdiam mencoba berpikir apa yang harus aku katakan. Ah.. Yong.. fast thinking!

“ Soal promosi album baru kita, hyung. “ tiba-tiba Jonghyun yang duduk disebelah ku membisiki ku.

“ Eumm.. sampai saat ini lancar-lancar saja. Saya dan member yang lain jelas merasa sangat senang atas sambutan fans yang begitu meriah saat kami tampil di Music Bank. Benar-benar membuat saya merasa sangat senang. “ jawab ku dengan cepat dan tanggap. Hah.. untung saja Jonghyun membisiki ku. Kalau tidak aku bisa terlihat memalukan dan bodoh karena tidak bisa memjawab pertanyaan wawancara.

“ Ah, gereo. Kamsahamnida sudah meluangkan waktu kalian untuk menerima wawancara kami. “ kata wanita itu. “ Ne.. “ ucap aku dan member C.N Blue yang lainnya bersamaan.

Ah.. akhirnya selesai juga sesi wawancara yang melelahkan ini.

“ Baiklah, semoga kalian selalu sukses di dunia entertainment. Annyeong~ “ wanita itu segera beranjak dari kursi yang didudukinya lalu membungkukan badannya. Kami –aku dan member C.N Blue- segera membalas membungkukan badannya.

Setelah wanita dan beberapa staff yang dibawanya keluar dari ruangan, aku segera berjalan menuju sofa lalu meraih ransel biru yang sejak tadi terletak diatas meja samping sofa. Aku berniat menghubungi KyoEun, sekalian meminta maaf padanya. Semoga saja dia belum tidur.

“ Yes! Akhirnya jadwal hari ini berakhir juga.. “ kata Min Hyuk sembari menghempaskan tubuhnya kembali ke sofa. “ Ne.. tubuh ku rasanya benar-benar seperti remuk hyung. “ kata Jungshin menambahi.

“ Hyung, tadi kau melamun ya? “ tanya Jonghyun yang duduk disebelah ku. Aku yang sejak tadi mencari-cari ponsel di ransel biru ku mencoba mengalihkan pandangan ku sedikit kea rah Jonghyun.

“ Tidak juga, aku hanya sedikit lelah. “ jawab ku, berbohong. “ Gomawo atas bantuan mu tadi, Jong. “ tambah ku lagi.  Gwaenchana hyung. “ ucap Jonghyun.

“ Kau sedang mencari apa hyung? “ tanya Min Hyuk.

“ Ponsel ku. Perasaan tadi aku masukannya ke ransel ini. “ jawab ku sembari mengeluarkan semua isi ransel ku ke atas meja.

“ Oh, ponsel. Kalau tidak salah aku tadi melihatnya di meja rias. “ kata Jungshin.

Aigo.. benar. Tadi aku mengeluarkannya dari ransel ku saat membaca pesan KyoEun saat dirias, mungkin aku lupa memasukannya ke ransel lagi.

“ Ku kira hyung sudah mengambilnya. “ tambah Jungshin lagi. “ Gwaenchana. Aku ke ruang rias dulu. Kalian beres-beres saja duluan, nanti tunggu didepan saja. “ kata ku lalu segera meraih ransel biru ku dan menggantungkannya di pundak kanan ku lalu keluar dan berjalan menuju ruang rias.

Tidak sampai beberapa menit aku telah sampai didepan ruang rias yang memang tidak terlalu jauh dari ruangan tadi. Aku segera menekan knob pintu, namun pintunya tidak mau terbuka.

“ Sepertinya sudah dikunci. “ batin ku. Aku lalu memandang ke sekeliling ku, kedaan memang sudah sepi. Wajar kru dan teknisinya sudah pulang karena ini memang sudah melewati jam kerja. “ Huh.. bagaimana aku bisa menelpon KyoEun? “ gumam ku lirih sembari menyandarkan tubuh ku ke pintu.

Hari ini aku merasa benar-benar sangat lelah, apalagi ketika aku memikirkan KyoEun. Kerinduan, kekhawatiran berkelubut sesak di otak ku. Aku sangat merindukannya. Semua tentangnya, senyumannya, omelannya, rengekannya, ahh.. seandainya saja dia bisa ada disisi ku saat ini, aku pasti bisa merasa lebih baik. Berapa minggu sudah aku tidak melihat wajahnya? 2 minggu? Tidak, lebih. Mungkin sekitar 1 bulan. Ahh.. sulit sekali rasanya menjalani ini semua.

KyoEun ah, jeongmal mianhae. Aku tidak bisa selalu ada disisi mu. Bahkan aku jarang sekali membalas sms nya atau mengangkat telponnya. Ini semua karena waktu ku yang terlalu padat untuk promosi dan latihan. Hhh~ kepala ku semakin terasa pening.

“ Hyung, kenapa tidak masuk? “ tiba-tiba Min Hyuk berdiri didepan ku.

“ Pintunya sudah dikunci. “ jawab ku lemas.

“ Hmm, pakai ponsel ku saja. Kau pasti ingin menelpon KyoEun noona kan? “ kata Min Hyuk sembari mengeluarkan ponselnya dan menunjukannya kearah ku. “ Bagaimana kau tahu? “ tanya ku polos.

“ Aigo hyung, kau kira aku ini bodoh apa? Tentu saja kau gelisah sejak tadi dan tampak bodoh seperti ini karena dia. “ kata Min Hyuk dengan santainya. “ Hhe.. “ aku hanya menyengir kemudian meraih ponselnya lalu memasukan nomor KyoEun yang jelas sudah ku ingat diluar kepala. Aku segera mendekatkan ponsel Min Hyuk ke telinga ku. “ Yoboseyo? “ ucap ku ketika suara tut… tut… yang sejak beberapa menit yang lalu berhenti.

Tut Tut Tut Tut Tut. Aku menyerengitkan kening ku ketika suara telpon tiba-tiba terputus.

“ Yoboseyo? KyoEun ah? “ kata ku diponsel dengan nada khawatir.

“ Kenapa hyung? “ tanya Min Hyuk heran.

“ Sepertinya dimatikan. Dia pasti sedang tidur dan segera mereject suara ponsel yang menggangu tidurnya. “ jawab ku lirih.

“ Gwaenchana, kau bisa menelponnya besok pagi hyung. “ kata Min Hyuk menenangkan. “ Ne, dia pasti lelah juga. “ kata ku sembari menyerahkan ponsel Min Hyuk.

“ Ya sudah, lebih baik kita segera pulang, kita harus istirahat cukup. Besok kita berangkat ke Taiwan bukan? Nanti sebelum ke airport kita bisa mengambil ponsel hyung dulu disini. “ kata Min Hyuk. Aku hanya menganggukkan kepala lemas lalu berjalan bersama Min Hyuk menuju pintu keluar.

~~~~~

KyoEun POV

Aku menyerengitkan kening ku ketika sinar matahari yang menyilaukan memasuki celah mata ku yang tertutup. Perlahan-lahan aku mulai membuka sedikit mata ku, samar-samar ku lihat langit-langit kamar ku yang berwarna biru. “ Hoammm.. “ aku mengucek-ucek mata ku untuk lebih memperjelas pandangan ku lalu mulai memandang ke sekeliling kamar.

“ Ahh.. sudah jam berapa ini? “ kata ku sembari mencari dimana jam beruang milik ku. “ Masih jam 8. Hari libur begini seharusnya aku bisa bagun lebih siang. “ kata ku setelah menemukan jam beruang ku diatas meja belajar.

Aku kembali menarik selimut ku yang hanya tertutup sampai pinggang sampai ke dagu ku, berniat untuk melanjutkan tidur lagi. Namun saat mata ku tak sengaja menatap poster biru dengan 4 orang lelaki didalamnya, mata ku berhenti sejenak pada poster yang tepat tertempel didinding depan tempat tidur ku. Ya, poster itu poster C. N Blue.

Ada rasa kerinduan yang luar biasa ketika mata ku tertuju pada wajah YongHwa dengan kemeja biru diposter itu. Walaupun aku kemaren kesal padanya, tetapi sesungguhnya aku benar-benar sangat menghawatirkannya. Aku merindukan matanya yang  selalu teduh menatap ku. Sandaran bahunya yang begitu nyaman dan senyumannya yang selalu membuat jantung ku berlompat tanpa mampu berhenti.

“ Good morning oppa, i hope you have a nice day today. I miss you, saranghae. Keep health! “ ucap ku pelan sembari memandang fokus pada wajah YongHwa.

Aku lalu merebahkan kembali tubuh ku ke tempat tidur. Aku menghela nafas panjang sembari memandang langit-langit kamar ku yang berwarna kesukaan ku.

“ Apa dia sudah berangkat ke Taiwan ya? “ tanya ku pada diri sendiri. Aku lalu meraih ponsel yang memang ku letakan disamping bantal. Saat ku lihat dilayar ponsel, ada 5 panggilan tidak terjawab dan 2 pesan masuk. Aku segera mengecek terlebih dahulu 5 panggilan tidak terjawab.

“ YongHwa? “ gumam ku terkejut. “ Jam 4 pagi, ahh.. kenapa dia menghubungi ku jam segitu? Dia tidak tahu apa aku ini suka bangun siang. “ gumam ku kesal. Shh~ hilang kesempatan emas ku mendengar suaranya yang sudah sejak lama tak ku dengar.

Aku lalu membuka 2 pesan masuk yang ku perkirakan dari YongHwa juga. Dan dugaan ku tidak meleset.

 

From: My Namjachingu :*

Good moring chagi.. :*

Kau pasti baru bangun dan menemukan 5 missed call dari ku. Mian, aku menelpon mu terlalu pagi, karena setelah tiba di Taiwan nanti aku tidak punya waktu lagi untuk membuka ponsel ku.

KyoEun ah, aku tahu kau pasti masih marah pada ku. Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa selalu membalas sms mu dan mengangkat telpon dari mu. Aku benar-benar sibuk.

Aku berjanji setelah semua jadwal padat ini berakhir aku akan segera menemui mu. Jujur saja, aku sangat sangat sangat merindukan mu. Neomuno jinjja jinjja jinjja bogosiposeo! Rasanya semua ini menjadi semakin berat tanpa kau ada disisi ku );

KyoEun ah, jebal.. jangan marah lagi ya. Bogosipo, neomuna jeongmal saranghae. Selalu jaga kesehatan mu, jangan sampai kau sakit karena frustasi merindukan ku, arra?

 

Aku hanya tersenyum saat membaca kata demi kata sms dari YongHwa. Ada rasa senang dan bahagia saat aku membaca pesan darinya. Walaupun aku tidak secara langsung medengarnya dan tidak melihat wajahnya, aku bisa merasakan ketulusan yang dipancarkannya melalui pesan ini.

“ Oppa, nado bogosipo. Nado jeongmal saranghae. “ gumam ku senang. Entah kenapa aku merasa terukir senyum yang begitu lebar dibibir ku.

Aku lalu membuka pesan yang ke-2. Mungkinkah ini dari YongHwa lagi? Aku mulai menghayal dengan penuh rasa semangat. Menebak-nebak apa yang kira-kira akan dikatakan YongHwa dipesan ke-2 ini. Mungkin saja dia menulis ‘ KyoEun ah ada sesuatu yang aku ingin katakan lagi. KyoEun ah~ Neomuna yepoooo.. jeongmal jinjja jinjja saranghae.. tersenyumlah untuk ku. Arra? ‘.

“ Arra oppa! Arra! .. “ aku berteriak dengan nada tertahan untuk mengandalikan suara teriakan ku yang mungkin akan menggemparkan seluruh orang dirumah ku. “ Huh.. hah.. huh.. hah.. sabar KyoEun ah, sabar.. hufttt, kau tidak perlu terlalu excited  begini. “ aku mencoba mengatur nafas ku yang terlalu memburu karena terlalu senang. Aigo.. aku kenapa jadi seperti orang gila begini.

Setelah mengatur nafas dan mengenghentikan khayalan-khayalan bodoh itu, aku perlahan membuka pesan masuk yang ke-2.

 

From: +080314061998

Kau ingin ku pecat apa? Cepat ke toko sekarang juga. Ini sudah jam kerja mu!

 

Aku menyerengitkan kening ku ketika mata ku membaca pesan itu dan memperhatikan nomor yang tak ku kenal itu. “ Nomor siapa ini? “ gumam ku heran. Aku terdiam mencoba menyerap apa yang baru saja aku lihat dan aku baca. “ Ke toko? Jam kerja. Orang nyasar kali nih. Pagi-pagi udah ngerjain orang aja. Hari ini hari libur, kerja kemana? “ gumam ku lagi, berbicara pada ponsel ku.

Aku lalu meletakan kembali ponsel ku ke samping bantal. Ku pikir pesan itu hanya dari orang-orang nyasar yang tidak ada kerjaan. “ Huh.. dasar orang kurang kerjaan. Aku mengharapkan sms dari YongHwa lagi, malah sms ini yang ku dapat. “ aku mendengus kesal sembari memalingkan tubuh ku ke sebelah kanan, menghadap ke dinding.

 

geuh del bo myun ul gool ee bbal geh jigogeuh del bo myun ga seum ee doogeun doogeun ah ee chuh lum soo joob geh mal hago

 

Aku segera memalingkan tubuh ku lagi saat mendengar ringtone ponsel ku tanda ada panggilan. Dengan sedikit enggan aku meraih ponsel ku lalu mendekatkan ponsel ke telinga tanpa melihat siapa yang memanggil. “ Yobo.. “.

“ Ya! KyoEun ah! Ini sudah jam kerja mu. Kenapa belum ke toko juga. Kau ingin ku pecat apa? “ aku segera menjauhkan ponsel ku dari telinga ku, ketika suara berat seorang lelaki begitu keras terdengar dari ponsel ku. “ Ya! Kau ini siapa sih? Main teriak-teriak aja, aku punya telinga dan masih berfungsi dengan baik. Jadi tidak perlu berteriak, babo! “ kata ku kesal.

“ Mwo? Apa tadi kau bilang? Babo? Kau bilang babo pada sajangnim mu yang tampan ini? “ tanya suara lelaki itu dengan suara tajam. “ Uh? Sajangnim? “ aku sontak bergumam reflek. Aku terdiam sesaat, mencoba mengumpulkan sel-sel diotak ku untuk berpikir. Sajangnim? Aku menjauhkan ponsel ku sesaat dari ponsel ku untuk memandang nomor yang tertera di layar ponsel ku. Nomor yang sama dengan pesan yang tadi terakhir ku baca.

“ OMO! KwonIn sajangnim? “ aku seketika terkejut ketika ku sadari nomor itu nomor KwonIn sajangnim, pemilik sekaligus bos di toko tempat ku bekerja paruh waktu. Sontak aku terbangun dari tempat tidur ku.

“ Hya! Dasar babo! Sejak tadi aku mengirim pesan bahkan bicara pada mu kau tidak sadar aku siapa?! “ tanya KwonIn sajangnim meninggi. “ Joesonghamnida, sajangnim. Joesonghamnida.. Jeongmal joesongmanida. “ aku menggigit bibir bawah ku lalu beranjak berdiri dan reflek meminta maaf secara formal dengan KwonIn sajangnim melalui ponsel sembari membungkukan badan ku sampai 90˚.

“ Shh.. sudah berhenti minta maaf. Sekarang cepat ke toko!! “ ucap KwonIn sajangnim dengan nada tinggi. “ Hah? Ke toko? Bukan kah ini hari libur? “ ucap ku bingung.

“ Dasar babo! Kau tidak mendengar ucapan ku minggu lalu, mulai minggu depan hari Minggu toko kita akan tetap buka. Kau ini mau bikin emosi ku tambah naik lagi apa?! “ kata KwonIn sajangnim keras.

“ Ohhh.. begitu. Baiklah, sajangnim. Aku akan kesana. “ ucap ku sembari mengangguk-anggukan kepala.

“ Pokonya dalam waktu 15 menit kau harus sudah tiba di toko! Eh tidak jadi. Karena kau tadi menyebut ku `babo` ku kurangi jadi 10 menit. Aku tidak mau tahu, ppali! Kalau tidak, kau ku pecat. “.

“ Mwo? Ya, sajangnim.. tapi.. yoboseyo? Sajangnim? “ belum selesai aku berbicara, sudah terdengar suara tut.. tut.. tut dari ponsel disebrang sana. “ Aish! Kenapa diputus? “ gumam ku kesal sembari duduk disisi tempat tidur ku.

“ Ck, dasar sajangnim menyebalkan. Kenapa dia membuat keputusan hari Minggu toko tetap buka? Aku kan ingin istirahat!“ ucap ku pada diri sendiri. Dengan enggan aku lalu beranjak lagi dari tempat tidur ku dan segera masuk ke kamar mandi.

“ Eumm.. sepertinya aku tidak pernah medengar sajangnim bicara mulai minggu depan hari Minggu toko akan tetap buka. Dia yang lupa atau aku yang lupa ya? “ aku bertanya-tanya pada diri ku sendiri karena merasa sedikit bingung, lalu menekan knob pintu kamar mandi dan masuk ke dalam. “ Hhh.. sudahlah. “

~~~~~

“ Kenapa kau tampak senang sekali hari ini? Bahkan saat KwonIn sajangnim memarahi mu tadi karena telat, kau tetap ceria. “ tanya Yoeun yang duduk disebalah ku. Aku hanya tersenyum sembari menjilat ice cream yang tadi aku dan Yoeun beli setelah pulang dari kerja paruh waktu. “ Mm.. I know. Pasti YongHwa menelpon mu tadi malam? “ tebak Yoeun. Aku hanya mengulum senyum ku sembari memandangi beberapa mobil yang lewat didepan ku. Ya, dia memang selalu bisa menangkap apa yang ku rasakan.

“ Iya kan? Ahh.. aku sudah dapat menangkap jawabannya dari senyum mu yang kau simpan itu. Aigo.. bahkan wajah mu tampak sangat merah. “ Yoeun hanya tertawa lepas memandang ku. “ Ya! Tidak ada yang lucu. “ ucap ku kesal untuk menahan malu.

“ Muehehe.. itu lucu babo! Soalnya aku sudah lama tidak melihat wajah mu yang seperti itu. “ kata Yoeun lagi. Aku hanya memandang Yoeun sembari tersenyum. “ Begini lebih baik daripada melihat bibir mu manyun kaya bebek. “ kata Yoeun lagi diringin dengan evil laugh.

“ Shh.. “ aku hanya mendesah ketika mendengar ucapan Yoeun. Sudah ku duga, anak ini ujung-ujung pasti akan mengejek ku.

“ Dia sekarang di Taiwan kan? “ tanya Yoeun setelah beberapa saat berhenti dari tawanya. “ Ne, katanya setelah jadwal padatnya berakhir dia aka menemui ku. “ ucap ku dengan wajah exicted hingga tubuh ku bergerak bebas sangking senangnya. “ Ya! jangan keluarkan aegyo begitu. Tidak pantas. “ ucap Yoeun kesal.

Aku hanya mencibir sembari mengeluarkan lidah ku kearah Yoeun. Yoeun hanya memandangku dengan wajah kesal. “ Hahaha.. kau iri ya? “ goda ku dengan mata menggoda. “ Siapa yang iri? “ elak Yoeun segera dengan mata melotot kearah ku.

“ Aigoo.. lihatlah wajah mu, jelas sekali kalau kau itu iri.. Iya kan? “ aku semakin menggoda Yoeun hingga wajahnya menjadi merah padam karena malu. “ Kekeke, makanya cari pacar dumps. “ sambungku lagi sembari terkekeh geli.

“ Kau mengejek ku ya? Ya! asal kau tahu, diluar sana banyak yang mengantri ingin menjadi namjachingu ku, hanya saja aku enggan meladeni mereka. “ kata Yoeun membela diri. “ Eum? Jinjja? “ tanya ku sembari berusaha menahan tawa karena tak tahan melihat wajah Yoeun yang menurut ku tampak sangat lucu.

“ Ya! berhenti tertawa! “ kata Yoeun dengan kekesalan yang hampir memuncak. “ Ne.. ne.. arraseo. Aku tidak bermaksud mengejek mu, hanya saja wajah mu itu nampak sangat lucu. “ kata ku sembari memegangi perut ku mencoba menahan tawa. “ Ck.. menyebalkan. Baik akan ku buktikan, lihat saja minggu depan aku akan membawa seorang namja dihadapan mu! “ ucap Yoeun tegas.

“ Wew.. jinjja? “ aku sedikit terkejut ketika Yoeun mengucapkan kata-kata itu. Selama ini dia memang selalu menghindar dari lelaki. Lebih tepatnya dia tidak pernah pacaran dan tidak pernah berminat sekalipun untuk merasakan yang namanya cinta. Karena dia memang tidak pernah tertarik dengan itu.Ya, itu setahu ku. “ Ne! Yakso! “ kata Yoeun lagi dengan percaya diri.

“ Eum? Waw.. “ aku reflek kagum setengah surpised menanggapinya. “ Ahhh.. akhirnya best friend ku akan merasakan namanya cinta.. “ sambung ku dengan senang.

“ Ah, aku jadi tidak sabar untuk kencan gandaaaa.. “ ucap ku sembari beranjak berdiri dari dudukan ku lalu tersenyum senang. Yoeun hanya terdiam menanggapi ku, aku tahu pasti dia masih memikirkan kata-katanya yang tadi. Aku yakin dia pasti tak mudah untuk memulai itu semua.

Aku lalu mendekati Yoeun sembari merangkul lengannya. “ Kajja, kita pulang. “ ucap ku manis. “ Shh.. senang kau? “ ucap Yoeun galak. “ Fighting, Yoeun sshi! “ balas ku sembari mengepalkan satu tangan ku memberi semangat sembari tersenyum Yoeun hanya memandang ku dengan tatapan malas lalu membuang muka. Tiba-tiba kakinya berjalan lebih dahulu untuk melangkah pergi dari halte yang tempat kami dari tadi berbicara.

“ Ya! tunggu aku. “ ucap ku sembari setengah berlari menyusul Yoeun yang berjalan cepat meninggalkan ku.

~~~~~~

 

 

YongHwa POV

Hari-hari terus berlalu, jadwal-jadwal penuh ku selama di Taiwan sedikit demi sedikit mulai terlaksana. Hari-hari yang menurut ku terasa amat panjang dan melelahkan kini akan segera berakhir. Promosi akan segera berakhir. Akhirnya setelah ini aku bisa bernafas lega, walau hanya untuk sementara dan dikedepannya aku akan mengalami ini lagi. Ya, itu memang sudah jalan ku sebagai idola terkenal.

Rasanya aku benar-benar sangat senang, bukan hanya karena promosi ini berakhir dengan kesukeksesan yang band ku bawa. Tetapi karena aku akhirnya bisa segera melepaskan kerinduan ku selama beberapa bulan ini untuk bertemu dengan KyoEun, kekasih ku yang amat sangat ku rindukan.

Aku lalu memandang puluhan Boice dan beberapa orang lainnya yang ada dihadapan aku dan member

C. N Blue lainnya sembari tersenyum lalu menyeruakan teriakan kebahagian sebagai tanda terima kasih lalu menundukan tubuh kami mengucapkan salam perpisahan sebagai tanda pengakhir dari promosi ini.

Setelah selesai berpose untuk berfoto, aku lalu berjalan diikuti member lainnya turun dari panggung dan segera pergi ke ruang belakang. Wajah kebahagiaan bercampur lelah terpacar diwajah ku dan aku yakin member yang lainnya juga menunjukan wajah itu.

“ Ahh~ akhirnya promosi kita berakhir.. senang dan lega sekali rasanya!!! “ teriak Jonghyun sembari merebahkan tubuhnya ke kursi. “ Ya.. aku juga sangat senang. Album kita sangat disukai oleh para Boice. Benar-benar sangat menyenangkan. “ ucap Min Hyuk menambahi.

“ Ne, ini semua karena kerja keras kita dibantu yang lainnya, tidak sia-sia kita mengeluarkan peluh keringat kita selama ini. “ kata ku ikut menambahi sembari tersenyum senang.

“ Setelah ini kita akan diberi istirahat selama 1 bulan kan sebelum tur konser kita? “ kata Jungshin sembari meraih botol minum di atas meja.

“ Ne, ahh.. aku bisa bersantai-santai untuk sesaat. “ ucap Min Hyuk senang. “ Tetapi tetap kita harus latihan disela-sela istirahat itu untuk mempersiapkan tur kita. “ timpal Jonghyun sembari meneguk botol minumnya.

“ Tidak akan terlalu sibuk Jong, hanya pemanasan seperti biasa. “ ucap ku. Jonghyun, Min Hyuk, dan Jungshin hanya menganggukan kepala sembari menyantaikan tubuh mereka melepas lelah. Aku lalu meraih ransel biru ku yang ada dibawah kursi yang ku duduki, lalu meraih ponsel ku yang ku letakan disaku depan ransel. Aku berniat ingin menelpon KyoEun untuk mengabarinya karena promosi ku sudah berakhir dengan kesuksesan dan mengatakan bahwa aku akan segera menemuinya. Ah.. aku yakin dia pasti sangat senang. “ Hyung, kau ingin menelpon KyoEun noona? “ tanya Min Hyuk tiba-tiba. “ Eum? Ne.. “ ucap ku bangga.

“………”

~~~~~

KyoEun POV

“ Ini kembaliannya. Kamsahamnida telah membeli kaset disini. Jangan lupa mampir lagi ya.. “ kata ku dengan wajah ramah sembari memberikan beberapa lembar uang kembalian. “ Ne, cheonmaneyo. Annyeong.. “ jawab gadis yang masih kira-kira masih berusia 16 tahun ini sembari tersenyum lalu meraih uang yang ku berikan dan membungkukan tubuhnya.

Aku segera membalas bungkukan tubuhnya.

Setelah gadis itu pergi aku lalu memandang keadaan diluar dari kaca toko yang tembus pandang. Matahari bersinar cerah, awan tampak putih dengan dihiasi sedikit warna biru langit. Ya, hari ini hari terakhir musim semi. Aku benar-benar berharap hari ini adalah hari yang paling indah yang akan ku rasakan. Sebenarnya hari ini memang hari yang amat special untuk ku. Hari yang paling ku nanti selama ini.

Hari ini.. adalah hari dimana YongHwa akan pulang dari Taiwan. Ah.. aku sangat merasa senang. YongHwa oppa, nan kyeopta namjachingu is back! Aku benar-benar tak sabar ingin bertemu dengannya. Nan jeongmal bogosipo.

Dan masih ada 1 lagi yang juga tak kalah pentingnya dari kepulangan YongHwa, hari ini Yoeun akan mengumumkan pada ku namjachingunya. Ah.. aku juga tak sabar menunggu ini. Tadi Yoeun sudah mengabari ku melalui sms dia akan datang ke toko membawa namjachingunya jam 4 sore, sekarang sudah jam 4 kurang 15 menit. Sebentar lagi.. Ahh.. hari ini akan ada 2 kejutan yang siap menanti ku.

Cittt..

Tiba-tiba terdengar suara decitan pintu yang amat keras. Sontak aku segera memandang kearah pintu toko. Ku lihat Yoeun sedang membungkukan badannya dengan ke dua tangannya bersimpuh di kedua lututnya. Dapat ku dengar suara nafasnya yang begitu memburu. “ KyoEun ah.. “ ku dengar suara lirih dari mulut Yoeun tepat saat aku ingin bicara menanyakan sesuatu yang sepertinya kejadian buruk telah tejadi.

Aku segera berjalan dengan langkah cepat menghampiri Yoeun. “ Gwaenchanayo? Apa yang terjadi? “ tanya ku khawatir sembari membantu Yoeun menegakan tubuhnya. Ku lihat wajahnya yang kini pucat pasi dan peluh yang membasahi sisi wajahnya. “ Hhh.. KyoEun ah.. hhh.. “ Yoeun mulai berbicara namun dengan nafas yang masih memburu.

“ Atur nafas mu dulu, baru bicara. “ ucap ku sembari mengipasi Yoeun dengan telapak tanganku.

“ YongHwa.. YongHwa.. kecelakaan.. “

DEG!

Sebuah hantaman keras mendarat tepat diulu hati ku. Seketika tubuh ku membeku, darah yang mengalir disetiap pemuluh darah ku dapat ku rasakan tersumbat seketika. Semua anggota tubuh ku dapat ku rasakan mati fungsi. Astaga, informasi apa ini yang aku dengar. Telinga ku pasti salah menangkap suara.

“ YongHwa kecelakaan saat menaiki taksi dari.. airport Busan.. menuju Seoul. “

Seketika aku menatap kedua mata manik mata Yoeun. Kali ini aku mendengar untuk  kedua kalinya kalimat itu dengan kalimat yang lebih panjang. Antara tidak percaya dan tidak, antara sadar dan tidak. Sontak aku menggelengkan kuat kepala ku.“..Mwo? “ hanya itu kalimat yang keluar dari mulut ku.

“ Ulijima, KyoEun ah.. “ lirih Yoeun dengan nada gemetar.

Perlahan-lahan tubuh ku mulai amat terasa berat, kepala ku tiba-tiba pening. Mata ku mulai terasa panas. Dan ku rasakan cairan bening mulai membasahi pelupuk mata ku. Perlahan-lahan dapat ku rasakan sepasang tangan hangat menyentuh lengan ku lalu membawa ku pada sebuah kehangatan. Kehangatan yang sebenarnya tak mampu mengatasi keperihan ku saat ini. Yoeun mendekapkan ku dideplukannya.

“ Mianhae, aku mengatakan ini semua. Mian.. mianhae. “ ucap Yoeun lirih.

Aku hanya dapat menyandarkan tubuh ku dipelukan Yoeun. Mencurahkan semua keperihan ku dengan air mata di pelukan Yeoun. “ Mianhae.. Dan tadi Min Hyuk menelpon ku..  katanya.. YongHwa baru saja meninggal. “

Belum sempat aku mencerna kata-kata yang tadi diucapkan Yoeun dengan benar, hantaman itu kedua kalinya menghantam ulu hati ku lagi. “ Nyawanya terlambat diselamatkan oleh tim medis. “

Aku mulai merasa telinga ku sepertinya benar-benar mengalami masalah. Telinga ku pasti salah mendengar kata-kata yang diucapkan Yoeun dan otak ku mungkin juga mangalami masalah karena pasti salah menangkap kata-kata yang diucapkan Yoeun barusan. Sontak aku segera melepaskan pelukan Yoeun.

“ BOHONG! “ aku segera mengelak dengan cepat.Yoeun hanya menatap ku dengan tatapan nanar. Kali ini aku benar-benar merasa hati ku benar-benar tercabik.

“ Katakan ini bohong Yoeun! Katakan!!! “ aku beteriak kencang sembari memandangi Yoeun dengan tatapan tajam. Mencoba mencari kebohongan dari matanya. Namun hanya ku dapati air mata yang juga membasahi pipinya.

“ Bohong! Ini semua pasti bohong! YongHwa tidak mungkin meninggal! Hari ini dia berjanji menemui ku babo! “ aku terus mengelak kalimat yang terus membayangi otak ku itu. Ke dua tangan ku reflek menutupi mulut ku, ini terlalu tiba-tiba. Membuat otak ku tak bisa mencernanya dengan sempurna.

“ Mianhae, KyoEun. Aku benar-benar berkata yang sejujurnya. “ ucap Yoeun dengan suara lirih.

Tanpa berpikir lagi, aku segera berlari keluar dari toko meninggalkan Yoeun, aku berlari sekencang mungkin tanpa mempedulikan teriakan Yoeun yang terus memanggil nama ku. Aku terus berlari sembari berusaha melenyapkan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Yoeun. Ini semua pasti bohong. YongHwa tidak mungkin meninggal! Ini semua mustahil. Aku berlari tak tentu arah, membawa tubuh ku yang mulai melemah, membawa air mata yang tak henti-hentinya membasahi pipi ku.

Hingga akhirnya aku mulai merasakan nafas ku sudah mulai tercekat dan tidak ada lagi tenaga untuk berlari, aku menghentikan langkah ku. Berjalan menelusuri jalan yang aku tidak tahu dimana aku sekarang. Aku hanya berjalan menurut kaki ku ingin melangkah. Hingga kaki ku berhenti didepan sebuah taman.

Aku menghentikan langkah ku sesaat. Entah kenapa hati ku semakin sakit saat berhenti tepat didepan taman ini. Aku mencoba mengedarkan pandangan ku pada taman yang sunyi ini. Pepohonan rindang, beberapa tananam bunga, rerumputan hijau yang luas, bebatuan yang tertata indah, dan beberapa bangku taman yang entah kenapa tidak terasa asing bagi ku.

Hati ku tiba-tiba berdecit dengan kuat saat ku sadari taman ini adalah tempat pertama kalinya aku bertemu dengan YongHwa.

Taman ini, tempat dimana aku juga merajut cinta ku yang indah bersama YongHwa. Lagi-lagi mata ini mulai ingin mengeluarkan cairan bening. Perlahan-lahan kaki ku mulai berjalan memasuki taman ini, mati-matian aku coba menahan rasa sakit yang semakin sakit ini.

Aku lalu berjalan menuju bangku panjang yang amat sangat ku kenal.

Di bangku panjang itu, di bawah pohon yang rindang itu, YongHwa mengikrarkan isi hatinya didepan ku. Berlutut dengan wajah yang merah padam, mengeluarkan setangkai mawar putih dengan tangan gemetiran, mengecup kening ku, mengelus puncak kepala ku dengan kelembutan. Semua itu.. amat terasa sangat jelas dimemori ku tersimpan dengan sangat utuh. Aku menggigit bibir ku, menahan rasa sakit yang terus teroreh dihati ku.

“ YongHwa oppa.. “ lirih ku sembari mencoba menyentuh bangku yang ada didepan ku dengan amat hati-hati. Seolah barang itu akan segera lenyap dari pandangan ku.  “ Secepat itukah kau meninggalkan ku? Katakan ini semua bohong oppa! “ aku mencoba berteriak dengan suara tertahan.  Suara ku benar-benar hampir habis karena terus berteriak.

Seketika tubuh ku luruh ke tanah dengan tangan ku yang menggenggam kuat kaki bangku panjang itu. Aku menangis sederas-derasnya, mengeluarkan semua perih yang ku rasakan. “ Aku benar-benar mencintai mu oppa, merindukan mu, nan jeongmal saranghae, bogosiposeo. “ desah ku tertahan. Aku kembali teringat dengan ucapan terakhir YongHwa, dia berkata akan menemui ku setelah pulang dari Taiwan. Tetapi kenyataannya…

“ Selama ini aku selalu bersabar menunggu mu. Menanti diri mu yang selalu sibuk dengan jadwal padat mu. Tetapi kenapa kau membalas semua kesabaran ku selama ini dengan tangisan oppa? Wae?! “ aku kembali berteriak tertahan.

“ KyoEun ah.. “ aku mendengar suara sayup-sayup seorang lelaki. Suara yang sangat familiar ditelinga ku, suara yang entah kenapa mirip sekali dengan suara orang yang membuat hati ku berantakan seperti ini. Namun aku tidak mepedulikannya, mungkin itu hanya perasaan alam bawah sadar ku.

Setelah tangisan ku mulai mereda dan nafas ku mulai teratur aku perlahan mengangkat kepala ku yang sejak tadi tertumpu di atas  bangku taman dengan beralaskan kedua tangan ku. Aku mencoba mengatur emosi ku dan menerima kenyataan pahit dengan rasa sesak yang sebenarnya masih tertancap utuh dihati ku. Aku menghapus perlahan sisa-sisa air mata dipipi ku.

“ Merasa lebih baik? “ aku sontak terhuyung ke belakang saat ku lihat sebuah wajah yang sungguh tak asing dimata ku. Aku menatapi lekat-lekat orang yang berdiri didepan ku. Tubuh besar yang menjulang tinggi dengan kemeja putih dan trouser senada.

“ YongHwa oppa? “ panggil ku dengan wajah tercengang. Ku lihat lelaki didepan ku menunjukan senyumannya. Senyuman yang benar-benar sangat mirip denga senyuman YongHwa.

Aku sontak beranjak dari dudukan ku antara mimpi, sadar dan tidak. Kenapa orang ini tampak sangat mirip dengan YongHwa. Mungkin kah dia arwahnya YongHwa yang menemuiku.

Tanpa pikir lagi, aku segera berjalan menghampiri tubuh lelaki itu. Memeluknya dengan kuat, melepaskan semua kerinduan ku selama ini. Aku tak peduli kalaupun orang yang ku peluk ini adalah seorang arwah YongHwa. Aku hanya ingin memeluknya, melepaskan semua beban kerinduan yang selama ini ku pendam.

Air mata ku kini kembali mengalir membasahi kemeja putih yang dikenakannya. “ Oppa.. aku hanya ingin mengatakan kata yang selama ini selalu ku pendam, nan bogosiposeo. Saranghae. “ ucap ku dengan suara tertahan. “ Semoga kau tenang disana, kau akan selalu ada dihati ku, oppa. Selamanya. “ aku terisak sembari terus mengeratkan pelukan ku. Hening sesaat, aku terbawa dalam arus kerinduan dan kesedihan.

“ Mwo? Apa tadi kau bilang? “ aku sontak memiringkan sedikit kepala ku keatas ketika tiba-tiba mendengar suara khas YongHwa saat sedang memarahi ku. “ Arwah bisa bicara? Kenapa suaranya seperti manusia begini? “ gumam ku heran.

“ YA! kau kira aku ini arwah atau hantu huh? “ aku tercengang ketika melihat arwah YongHwa membentak ku sembari memukul lengan ku yang melingkar di pinggangnya. “ Aw! Appo! “ ucap ku sembari reflek melepaskan tangan ku dari pelukannya. Aku seketika tersadar, ketika mengelus tangan ku yang sakit karena di pukul arwah YongHwa.

Ada keganjilan yang baru saja ku sadarai, arwah kok bisa bicara? Aku juga kok bisa meluk arwah? Bukannya arwah tidak bisa disentuh? Arwah juga kok bisa mukul manusia, mana sakit lagi? Aku terdiam sesaat sembari memandangi wajah lelaki didepan ku ini.

“ YongHwa? Jung Yong Hwa? Kau.. “ aku menutupi mulut ku dengan telapak tangan ku, tidak percaya pada hipotesa yang kini sedang terlintas diotak ku.

“ Ya! kau kira aku benar-benar mati apa? Aigo.. kau ini masih saja babo dan percaya saja pada omongan orang lain. Ya! seharusnya kau itu jangan percaya begitu saja pada orang lain. Jangan tertipu dengan air mata buayanya Yoeun, huh! Aku kan sudah ajarkan ja.. “

Tanpa pikir panjang lagi, aku kembali memeluk orang yang mengomel didepan ku. Setelah aku memandang lekat-lekat secara detail dan seutuhnya, aku sadar lelaki didepan ku ini bukan arwah, tetapi benar-benar YongHwa kekasih ku. Manusia seutuhnya bukan arwah atau hantu.

Aku kembali memeluk YongHwa dengan erat, lagi-lagi air mata membasahi pipi ku. Kali ini aku menangis bukan karena kesedihan, tetapi karena senang dan bahagia karena kekasih ku benar-benar masih hidup.

“ Oppa, jangan pergi.. jangan tinggalkan aku, hiks.  “ kata ku terisak, seolah YongHwa akan benar-benar lenyap dari hidup ku. “ Aku tidak akan pergi meninggalkanmu sendirian chagi.. “ ucap YongHwa lembut sembari mencium rambut ku. Hening sesaat, aku terus membiarkan tubuh ku memeluk YongHwa dan tubuh YongHwa yang memeluk ku untuk membalas semua kerinduan ku selama ini. Membiarkan diri kami hanyut dalam kerinduan.

“ Mianhae.. “ tiba-tiba YongHwa membisiki telinga ku. “ Mianhae, karena aku membuat mu bersedih. Membiarkan mu khawatir. Mianhae, karena aku tidak bisa selalu ada disisimu disaat kau membutuhkan ku. “ tambah YongHwa lagi. Aku hanya tersenyum mendengar ucapan YongHwa, dapat ku rasakan jantungnya yang berdegup kencang sama seperti detak jantung ku yang tak karuan. “ Nan jeongmal bogosipo, jeongmal saranghae. “ ucap YongHwa lagi sembari mengeratkan pelukannya.

“ Nado.. nado bogosipo, nado saranghae. “ ucap ku senang.

“ Mianhae, membuatmu menangis dan khawatir seperti ini. Ini kejutan dari ku. “ kata YongHwa lagi.

“ Kejutan mu berhasil oppa, membuat ku gila untuk beberapa saat. “ ucap ku berpura-pura dingin. Kali ini aku tidak ada rasa sedikitpun untuk marah atas rencana atau lebih tepatnya kejutan gila yang baru saja dibuatnya. Aku terlalu senang dan bahagia karena bisa memeluknya lagi. Yang penting sekarang, aku bisa melihatnya lagi dan dia masih hidup.

“ Aku juga ingin minta maaf karena membuat mu terlalu tertekan karena ku. Karena sikap egois ku. “ kata ku lirih. “ Gwaenchana, chagi. “ balas YongHwa lembut. Aku terus mengeratkan pelukan ku, rasanya tak ingin melepaskan tubuh kekar ini.

“ Ini semua sebenarnya bukan ide ku, tapi idenya Min Hyuk dan Yoeun sebagai peran

pembantu. “ kata YongHwa dengan nada membela. “ Couple itu memang sangat cocok kalau urusan ngerjain orang. “ tambah YongHwa lagi.

“ Eum? “ aku terkejut ketika mendengar YongHwa berkata Couple pada subjek Min Hyuk dan Yoeun.

“ Ne, mereka pacaran. Kau tidak tahu? “ tanya YongHwa sembari memandang ku dengan tatapan lembut. Aku mengangguk dengan tampang polos.

“ Ugh.. kasian, yeojachingu ku ketinggalan berita. “ kata YongHwa sembari mengacak-acak rambut ku.

“ Tuh mereka, mereka pacaran tidak lama setelah kita pacaran. “ tambah YongHwa lagi. Perlahan aku pun reflek melepaskan pelukan YongHwa lalu mencari sosok yang dikatakan YongHwa tadi. “ Yoeun sama Min Hyuk pacaran? Tak lama setelah kita? Sudah 1 tahun lebih dong. “ kata ku tercengang. YongHwa hanya mengangguk.

“ Huh.. dasar Yoeun! Beraninya dia membohongi ku. “ ucap ku kesal. “ Ya! Yoeun sshi! “ aku berteriak keras ketika menemukan sosok yang ku cari sedang bermain ayunan bersama Min Hyuk tak jauh dari tempat ku dan YongHwa. “ Dasar anak satu itu, cari rusuh dia! Awas saja kau, akan ku balas semuanya! “ kata ku dengan kesal. Huh, pantas saja Yoeun selama ini begitu mengerti perasaan ku, ternyata dia juga merasakan hal yang sama dengan ku. Dasar anak satu itu, pintar berbohong, mahir berakting pula! Bagaimana bisa dia menangis tersedu-sedu seperti tadi?

Aku berniat ingin berlari menghampiri Yoeun dan Min Hyuk untuk menghukum pasangan itu, namun tangan YongHwa berhasil menahan lengan tangan ku.

“ Ya! kau mau kesana hanya untuk menghukum Yoeun? “ tanya YongHwa dengan wajah kesal. “ Ugh! Sia-sia aku datang menemui mu. Seharusnya tadi aku tidak usah cerita saja! “ ucap YongHwa dengan wajah kecewa yang dibuat-buat.

Aku reflek menghentikan kaki ku lalu berbalik memandang YongHwa yang menunjukan wajah merajuk. “ Ah.. bukan begitu.. “ elak ku cepat. “ Emm, kau ingin kita melakukan apa? Mmm, main sembunyi- sembunyian seperti dulu? “ tambah ku lagi berusaha membuatnya berhenti merajuk.

YongHwa hanya terdiam dengan wajah yang masih merajuk dan matanya fokus pada objek yang lain.

“ Ya! Oppa.. “ rengek ku sembari menarik kemeja YongHwa. Namun YongHwa tetap diam dengan wajah arrogant. Aku lalu berdecak kesal dan berniat untuk pergi, namun tiba-tiba..

Gyut! Tiba-tiba YongHwa mengangkat tubuh ku lalu memutar tubuhnya hingga membuat tubuh ku yang menompang dikedua tangannya terasa melayang diudara. Aku pun segera memeluk lehernya, takut jatuh. “ Kau tak perlu melakukan apa-apa. Cukup selalu ada disisi ku, aku sudah bahagia, KyoEun ah. Saranghae.. “ ucap YongHwa sembari menunjukan wink nya pada ku. “ Aigoo.. kau tampak sangat imut Yong oppa.. neomuna kyeopta! “ batin ku geregetan. Seketika dapat ku rasakan wajah ku mulai memanas. Ah.. dia selalu saja membuat ku seperti ini. “ Nado.. saranghae, “ jawab ku tak berani menatap matanya. YongHwa pun kembali memutar tubuhnya hingga membuat ku semakin mengeratkan pelukan ku dilehernya. “ Ya! Oppa, hentikan..! “

 

Flasback (Author POV)

 

“ Hyung, kau ingin menelpon KyoEun noona? “ tanya Min Hyuk pada YongHwa yang sedang sibuk mengotak-atik layar ponselnya. “ Eum? Ne.. “ ucap YongHwa dengan wajah berbinar. “ Chamkanam, hyung! Sebaiknya tidak usah! “ ucap Min Hyuk dengan cepat.

“ Wae? “ sontak YongHwa mengangkat kepalanya dan memandang Min Hyuk. “ Aku punya ide, bagaimana kalau kau buat kejutan untuknya. “ usul Min Hyuk. “ Kejutan? Maksudmu? “.

“ Kejutan.. aku sering melakukan itu dengan Yoeun. “ ucap Min Hyuk bangga. YongHwa mengerutkan keningnya. “ Kejutan, kejutan seperti apa? “.

Min Hyuk tampak mengeluarkan evil smrik nya. Jungshin dan Jonghyun tampak ikut memperhatikan pembicaraan YongHwa dan Min Hyuk. “ Membuat KyoEun noona menangis dengan hyung pura-pura kecelakaan dan meninggal saat ingin pergi ke Seoul.  “ kata Min Hyk dengan wajah yakin. “ MWO? Apa tadi kau bilang? “ sontak YongHwa tercengang ketika mendengar ide Min Hyuk.“ Gila! “ tambah YongHwa.

“ Ya! Ku jamin ini akan berhasil. Tidak apa-apa, sekali-sekali hyung! Aku akan menyusun strateginya.“ Dijamin, ini kejutan yang paling romantis! kata Min Hyuk dengan wajah meyakinkan. “ Kejutan yang membuat KyoEun mati ditempat sih iya! “ ucap YongHwa dengan wajah mengelak. “ Ck, hyung tidak perlu khawatir. Aku jamin ini aman, aku akan mengaturnya dengan sangat sempurna! “ ucap Min Hyuk, yakin.

YongHwa hanya diam sembari memadangi Min Hyuk dengan wajah bimbang. Antara tertarik dan ragu untuk menyetujui idenya Min Hyuk. “ Kalau sampai terjadi apa-apa pada KyoEun, awas saja kau! “ ucap YongHwa akhirnya.

 “ Yes! Hyung, setuju dengan ide ku? Arra.. KyoEun noona dijamin akan baik-baik saja.“ YongHwa hanya memandang Min Hyuk dengan tatapan nelangsa, masih ada rasa tak yakin atas keputusannya mempercayai idenya Min Hyuk.

 

The End

 

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

7 thoughts on “[LombaFF] The Days When Miss You

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s