[LombaFF] Your Last Memory In Spring Season

Rating:                  PG-13

Genre:                  Romance, little bit Angst (?)

Cast:                      Kang Minhyuk

Park Eunjae (OCs)

Lee Jonghyun

Other Cast:         Jung Yonghwa

Lee Jungshin

Note:                                     FF ini bener-bener murni ide milik author tidak ada unsur plagiatnya samasekali. Hasil jerih payah author yang bersemedi selama 2 hari 2 malam karena kehabisan ide(-_-) Read, like dan comment supaya author bisa juara dan jadi pemenang lomba ff! Yang ngeread, comment, apalagi yang ngevote SUKA author doain masuk surga, nilainya cemerlang, ketemu bias, pokoknya  yang bagus-bagus deh kekekeke~ Happy reading!

 

CERITA DIMULAI DARI……SEKARANG!!! *apasih

 

 

 

13 Januari 2011

Dia! Aku yakin, sangat yakin 100% bahwa itu dia! Senyumannya, warna kulitnya, semuanya tidak ada yang berubah! Ya Tuhan apa aku berteriak kegirangan tadi? Memandangnya sedetik saja membuat hati berlonjak kesana kemari! Apakah aku akan bertemu dengannya lagi?

14 Januari 2011

Semua kegembiraanku kemarin, seakan-akan menguap. Aku baru sadar, caranya tersenyum  padaku, bagaikan orang lain. Caranya memanggil namaku juga bagaikan orang lain. Kemana ia yang dulu?

Apa yang akan kau rasakan kalau seseorang yang kau cintai bagaikan melupakan semua memori tentang dirimu, orang-orang terdekatmu, dan… kalian?

***

Author POV

Eunjae mendengus menatap tas olahraganya yang kini berantakan. Ia yakin 100%, bukan hampir 1000% bahwa siapa yang melakukan semua ini adalah 3 namja jahil yang bagaikan terlahir kembar siam itu.

Yeoja itu berlutut dan memasukkan semua isi tas olahraganya kembali. Baru ditinggal lima menit di pinggir lapangan saja sudah seperti ini, bagaimana jika seharian? Ia yakin tas olahraganya pasti sudah teronggok tak berdaya di tong sampah. Ia absen satu persatu isinya. Air putih, handuk kecil, vitamin, parfum, baju ganti, dan… tunggu. Dimana sepatu olahraganya?

“Kau mencari ini?” suara berat di belakangnya dengan iring-iringan tertawa mengagetkannya. Ia buru-buru menoleh dan mendapati Jungshin dan dua kembar siamnya. Tak lupa sepatu olahraganya yang tergantung manis di lengan namja jangkung itu.

“Jungshin kembalikan” Eunjae berusaha mengontrol suaranya. Yonghwa mengambil alih sepatu itu kemudian menyodorkannya tepat di dekat hidung Eunjae.

“Kau mau? Tunjukkan sikap sopanmu baru akan kami kembalikan!” Yonghwa menarik sepatu itu kembali saat Eunjae terlihat berusaha untuk meraihnya.

“Aku sedang tidak ingin bercanda, jadi cepat kembalikan!!” Eunjae tak dapat mengontrol emosinya. Yonghwa dan Jungshin saling berpandangan kemudian terkikik geli.

“Kalian!! Dasar menyebalkan!!!” Eunjae berusaha memukul Jungshin dan Yonghwa dengan jurus andalannya namun Yonghwa ternyata cepat tanggap. Ia segera menarik Minhyuk yang sedari tadi berdiri di belakang mereka  untuk menutupi badannya dan Jungshin. Tangan Eunjae yang sudah siap untuk diayunkan tiba-tiba membeku di udara. Ia terkesiap kaget sambil menatap Minhyuk yang berdiri di hadapannya.

“Minhyuk benar-benar perisai buat kita! Yeoja tempramental ini tidak akan berani menyentuhnya sama sekali! Hahahaha!” Jungshin tertawa keras sambil menunjuk-nunjuk ekspresi Eunjae yang… entahlah. Sangat sulit untuk dijelaskan.

Eunjae menurunkan tangannya. Ia berbalik lalu mengambil tas olahraganya yang tergeletak di tanah kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan 3 namja yang sedari tadi berdiri di hadapannya.

Minhyuk menatap kepergian Eunjae. Ada sedikit perasaan di hatinya yang mengganjal tiap kali melihat yeoja itu. Perasaan tidak tenang dan bahagia yang campur aduk.

Tiba-tiba sepasang sepatu Eunjae yang sedari tadi ada di tangan Jungshin tiba-tiba direbut. Ketiga pasang mata namja itu mendongak dan mendapati Jonghyun yang kini menggenggam kedua sepatu sport itu.

“Sudah kubilang berapa kali, jangan pernah ganggu siswa lain” Jonghyun sedikit membersihkan debu yang menempel di sepatu itu lalu berjalan pergi. Ketiga namja yang sedang bengong itu akhirnya sadar kembali.

“Huh! Sok sekali Jonghyun itu! Apa karena mentang-mentang dia anak kepala sekolah, jadi ia bisa bertingkah sok bijaksana begitu?!” cibir Yonghwa. Jungshin mendongak lalu mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju. Sedangkan Minhyuk masih terdiam dan matanya terus mengikuti punggung Jonghyun yang berjalan pergi.

***

Eunjae menyimpan tas olahraganya di locker lalu duduk di kursinya dengan desahan keras. Ia benci keadaan seperti tadi. Ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Pikirannya kacau dan… hatinya sakit. Bukan karena ia tak berani pada Minhyuk, tapi  ia punya alasan tersendiri…

“Sepatumu” seseorang melemparkan sepasang sepatu yang sedari tadi di genggamnya ke pangkuan Eunjae. Eunjae yang bangun dari lamunannya buru-buru mendongak ke arah Jonghyun. Jonghyun segera mengambil kursi dan duduk di samping Eunjae.

“Gomawo..” ujarnya kemudian tersenyum tipis. Jonghyun menghela nafas keras kemudian menoleh ke arah Eunjae.

“Hampir enam bulan, kau tau?” ujar namja itu. Eunjae menatap kosong ke arah papan tulis kemudian tersenyum hambar. Sekarang memang jam pelajaran kosong, jadi semua murid di kelasnya bebas melakukan apapun.

“Seumur hidup pun aku tidak akan menyerah..”

“Park Eunjae!” Jonghyun mulai tak sabar lalu merubah posisi Eunjae agar berhadapan dengannya. Eunjae tetap tak menatap Jonghyun. Matanya menerawang ke masa lalu. Masa-masa bahagia yang mungkin tak dapat diulanginya lagi.

“3 tahun bukanlah waktu yang singkat Hyun…” Eunjae mulai angkat bicara. Jonghyun mendengus lalu tertawa sinis.

“Terserah kau saja” Jonghyun berdiri lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku seragamnya.

“Tidak perlu dikembalikan” lanjutnya. Jonghyun menepuk-nepuk pundak Eunjae lalu berjalan keluar kelas. Tidak sampai, 10 detik kemudian Eunjae sudah menangis dalam diam, persis seperti apa yang Jonghyun prediksi. Yeoja itu meluapkan segala kesedihannya, dan kekecewaannya. Jonghyun mengintip dari pintu kelas. Kalau boleh jujur, hatinya sakit melihat Eunjae yang harus bersedih setiap harinya. Yeoja itu, selalu menyimpan semua lukanya sendiri….

Jonghyun menghela nafas. Yang Eunjae butuhkan sekarang memang bukan dirinya dan ia sadar itu. Ia segera berbalik dan melihat Yonghwa, Jungshin, dan Minhyuk yang kini berjalan ke arahnya. Kedua namja itu, kecuali Minhyuk tentunya menatap Jonghyun sinis lalu segera masuk ke dalam kelas.

“Ya! Kenapa kau menangis! Hei yeoja bodoh!” terdengar seruan Yonghwa dari dalam kelas.

***

“Ya! Kenapa kau menangis! Hei yeoja bodoh!” seru Yonghwa. Minhyuk mendongak ke asal suara dan baru menyadari bahwa Eunjae sedang menangis sambil membenamkan wajahnya di antara kedua lengannya. Namja itu tertegun sejenak.

“Apa karena sepatu olahraganya kita ambil tadi?” Jungshin menatap ke arah Yonghwa. Yonghwa balas menatapnya dan mengerdik tidak tahu. Minhyuk mengalihkan matanya ke Eunjae. Melihat yeoja itu menangis, dadanya terasa sesak. Minhyuk menggeleng-gelengkan kepalanya, kenapa ia harus merasa seperti itu?

***

“Home run! Good job Minhyuk!” ketua team berlari ke arah Minhyuk lalu menepuk-nepuk bahu namja itu. Minhyuk tersenyum kecil lalu mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.

Eunjae menatapnya dari kejauhan. Ia hafal jadwal latihan Baseball yang Minhyuk ikuti. Ia selalu mengamati namja itu dari kejauhan, juga sesekali berdecak kagum saat namja itu berhasil membuat poin yang bagus.

Eunjae menatap kosong ke arah wallpaper ponselnya. Photo ini, 5 tahun yang lalu tepatnya photo tersebut diambil, tapi Eunjae masih menyimpannya baik-baik. Ia kemudian melirik ke arah dua kaleng minuman dingin yang sedari tadi ada di sampingnya. Tiba-tiba seseorang telah duduk di sampingnya.

“Ahh, lelah sekali. Oh, hai Eunjae!” namja itu menoleh ke arah Eunjae yang masih terbengong-bengong. Minhyuk meraih sekaleng minuman dingin disamping Eunjae kemudian berkata.

“Boleh aku minta ini? Aku haus sekali” Minhyuk memohon kemudian disambut anggukan pelan oleh Eunjae.

“Huahh leganya! Bagaimana kau bisa tau kalau aku suka jus jeruk?” Minhyuk melirik  Eunjae. Yeoja itu tersenyum singkat.

“Aku sudah memberitahumu berkali-kali bahwa aku tahu semua hal tentang dirimu” Eunjae kembali tersenyum lalu menatap jus kalengan miliknya yang kini sudah ia buka. Minhyuk terpekur sejenak lalu kembali menatap wajah Eunjae. Wajah Eunjae terlihat sangat familiar di matanya, namun ia tak ingat apapun.

“Mianhae..” gumam Minhyuk. Eunjae mendongak penasaran. “karena aku tak dapat mengingatmu”

Serasa ada berkilo-kilo batu besar yang menghimpit dada Eunjae. Sesak sekali mendengar Minhyuk berkata begitu. Eunjae tersenyum pahit lalu bergumam.

“Gwenchana, tidak usah dipikirkan. Yang terpenting adalah kesehatanmu”

“Tapi.. beberapa bulan belakangan ini, kau sudah dengan giat membantuku untuk mengingat semuanya kembali! Dan , harus kuakui bahwa ingatanku semakin baik dari hari kehari…” Minhyuk menahan napas lalu kembali berkata. “maafkan aku untuk belum bisa mengingatmu lagi”

Headshot! Perkataan Minhyuk tadi seakan-seakan menusuk Eunjae tepat di jantungnya. Serasa ada beribu-ribu bongkahan pahit yang menyangkut di tenggorokan Eunjae dan terpaksa harus ditelannya. Eunjae buru-buru meraih kaleng jusnya lalu meneguknya hingga hampir setengah.

“Apa aku sudah memberitahumu ini?” Eunjae berusaha mengalihkan pembicaraan dengan berkata pada Minhyuk sambil menatap kosong ke arah lapangan. “Jonghyun adalah teman sekolah kita saat di SMP”

Minhyuk tersentak kaget lalu buru-buru menoleh ke arah ruang taekwondo tempat Jonghyun berlatih. Terlihat dari jendela ruangan tersebut bahwa Jonghyun sedang mempraktekan semacam jurus dan Minhyuk harus mengakui bahwa ia sangat kagum melihatnya.

“Jonghyun? Maksudmu… Lee Jonghyun?”

“Bingo!” Eunjae tersenyum tipis kemudian menoleh ke arah Minhyuk. “apa kau sempat mengiranya?” lanjutnya. Minhyuk mengerdikan bahunya, pertanda ia  tidak yakin dan bingung.

“Saat aku pertama kali melihatnya, wajahnya memang sangat familiar dan… aku merasa sudah mengenalnya lama sekali” jawab Minhyuk.

Sakit. Entah untuk yang keberapa kalinya Eunjae merasakan sakit di ulu hatinya. Minhyuk dapat mengingat Jonghyun, atau bahkan dapat merasakan semacam intuisi saat namja itu melihatnya. Sedangkan untuk Eunjae? Apakah waktu 2 tahun mereka tak bertemu dapat membuat segala memori akan dirinya pudar?

“Boleh aku tau?” Eunjae mulai berkata lagi. “ apa yang menyebabkan kau begini?”

Ya, ini memang pertama kalinya Eunjae menanyakan ini pada Minhyuk sejak pertemuan mereka pertama kali sewaktu di Bandara. Eunjae takut dirinya akan kecewa, tapi ia rasa mungkin sekarang ia telah siap menerima kenyataan mengapa Minhyuk tidak bisa ingat akan memori-memori yang dulu sempat tersimpan di otaknya.

“Aku… kecelakaan. Hari pertama saat aku sampai di LA, aku mengalami kecelakaan mobil yang bahkan hampir merenggut nyawaku. Tapi, kau bisa lihat sendiri kan kalau tubuhku sekarang baik-baik saja setelah lama mangikuti terapi? “ Minhyuk tersenyum riang membuat Eunjae tak kuasa untuk ikut tersenyum. Keheningan kembali menyelimuti mereka. Minhyuk menoleh ke arah Eunjae lalu melontarkan pertanyaannya.

“Kenapa kau tidak pernah bilang siapa kau sebenarnya?” Eunjae cepat-cepat mendongak. Benar, Eunjae belum pernah bilang siapa dirinya, seberapa penting perannya dalam masa lalu Minhyuk, dan masih banyak lagi.

“Karena aku takut kau belum siap” jawabnya singat. Minhyuk mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.

“Namja bernama Kang Minhyuk. Hobi bermain baseball atau nonton pertandingan baseball, memotret dan main drum, minuman kesukaan jus jeruk, Lahir pada tanggal 28 Juni 1991” Eunjae tersenyum dan mendapati Minhyuk menatapnya dengan tidak percaya.

“Aku bahkan tidak tau beberapa diantaranya” ujar Minhyuk. Eunjae tersenyum tipis lalu berdiri.

“Sudahlah, kau sudah dipanggil oleh anggota baseball yang lain. Aku juga harus pulang, annyeong” Eunjae beranjak pergi dari sana. Terlalu lama ada di dekat Minhyuk dan mengetahui bahwa Minhyuk tidak mengingat masa lalunya lagi sudah cukup membuat Eunjae sakit hati.

***

Eunjae menutup buku diarynya lalu menaruhnya di dalam laci. Ia berjalan ke tempat tidur lalu meringkuk disana. Ia tak ingin munafik, hatinya selalu sakit jika mengingat atau teringat memori-memori yang terjadi dulu.

Ia terlentang lalu menatap langit-langit kamar. Menerawang ke masa lalu. Masa yang entah bisa ia ulangi lagi atau tidak…

Flashback

Eunjae menyandarkan kepalanya di pundak Minhyuk kemudian menghela nafasnya. Udara di musim semi terasa begitu segar dan keadaan yang sedang ia rasakan sekarang sudah cukup membuatnya senang.

“Eunjae-ya, kau tau ini hari apa?” Minhyuk berkata lalu mengelus-elus punggung Eunjae. Eunjae tersenyum tipis kemudian berkata.

“Hari? Bukankah ini hari minggu?”

“Ya! Bodoh!” Minhyuk menggeserkan pundaknya membuat Eunjae terpaksa bangun.

“Iya, iya aku tau! Hari ini kau ulang tahun kan!” Eunjae tersenyum jahil sambil menatap wajah Minhyuk yang kini terlihat kesal.

“Bukan itu!”

“Lalu apa?!”

“Kau benar-benar tidak ingat, selain ini hari ulang tahunku ini hari apa?” Minhyuk kembali memastikan. Eunjae berpikir sebentar lalu menggeleng pelan.

“Aish! Bagaimana bisa aku punya yeojachingu sebodoh dan sepelupa kau!” Minhyuk mengomel lalu kembali menatap Eunjae. Lalu tiba-tiba,  ia mendekatkan wajahnya sehingga jarak wajahnya dan wajah Eunjae tak lebih dari 10 cm. Eunjae mencoba mundur tapi Minhyuk menahannya.

“Ini tanggal dan hari  jadian kita, yang artinya….” Minhyuk menggantungkan kalimatnya lalu melanjutkannya. “kita sudah berpacaran selama 3 tahun!”

“Mwo?! Jinjja?!” Eunjae memekik senang lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Minhyuk. Minhyuk mengangguk  malas lalu memalingkan wajahnya.

“Ya! Kenapa saat aku ingat kau malah memalingkan wajahmu! Hei!” Eunjae menggoncang-goncangkan lengan Minhyuk lalu Minhyuk menoleh.

“Aku tadinya mau memberi sesuatu padamu kalau kau ingat. Nyatanya… kau tidak ingat sama sekali”

“Aku sekarang ingat, okay? Sekarang berikan aku ‘sesuatu’ itu!”

“Sudah kubuang”

“Mwo? Aish Kang Minhyuk jangan bercanda!” Eunjae terus menggoyangkan lengan Minhyuk.

“Ya..ya..ya lihat ini” Minhyuk menoleh ke arah Eunjae lalu bermain sulap sedikit. Ia memutar-mutar tissue yang entah darimana sudah ada di tangannya lalu ia tutup tangannya. Saat ia buka lagi tissue itu sudah berubah menjadi kalung berbandul replika pita kecil berwarna pink muda. Ia pakaikan kalung itu di leher Eunjae lalu mengecup pelan pipi yeoja itu. Eunjae harus mengakui kalau ia pasti sedang terbengong-bengong sekarang.

“Kau suka?” tanya namja bermata sipit itu. Eunjae yang sedari tadi memerhatikan kalung yang tergantung manis dilehernya kini mendongak dan mengangguk senang.

Flashback end

“Dan setelah itu, kau berkata bahwa kau akan pergi ke Amerika selama 2 tahun” gumam Eunjae tanpa sadar. “lalu kau kecelakaan dan tidak mengingatku lagi? Kang Minhyuk bodoh!” lanjutnya sambil tak sadar meremas kalung berbandul pita miliknya. Ia berpikir keras lalu tiba-tiba memekik.

“Aku harus mengajaknya ke sana!”

***

Eunjae datang lalu memberikan sebungkus makanan ringan kepada Minhyuk. Namja itu menerimanya dengan senang hati.

“Apa aku sangat suka keripik kentang?” tanya Minhyuk. Eunjae tersenyum lalu mengangguk.

“Seingatmu kau belum pernah makan ini?” Eunjae balik bertanya.

“Seingatku sih belum” jawab Minhyuk lalu membuka bungkus keripik kentangnya. Minhyuk menoleh ke arah Eunjae lau bertanya.

“Sebenarnya kita dimana?”

“Kau bahkan tidak ingat kita dimana?”

“Aku tau ini taman, tapi aku merasa tidak pernah kesini” ujar Minhyuk polos. Eunjae menghela nafas yang sedari tadi ia tahan kemudian menjawab.

“Kita di taman kota. Kita sering sekali kesini, dulu saat kita masih SMP. Jonghyun juga kadang ikut kesini” ujar Eunjae jujur. “dan kau juga mengucapkan salam perpisahan disini…”

“Mwo? Benarkah?” Eunjae menoleh lalu mengangguk. Minhyuk mencoba keripik kentang miliknya lalu tersenyum gembira.

“Ini benar-benar enak!” ujarnya polos lalu kembali makan. Eunjae tersenyum hambar lalu menatap kosong ke arah air mancur. Pikirannya berantakan. Terlalu banyak memori yang ingin ia ingatkan pada Minhyuk. Sayangnya ia tak dapat menatanya, hingga semua memori itu seakan tercampur aduk di otaknya.

“Kalungmu bagus” celetuk Minhyuk. Eunjae menoleh lalu menatap kalung yang kini tergantung manis di lehernya.

“Ini darimu” ujar yeoja itu. Minhyuk terbelalak kemudian kembali menatap kalung Eunjae.

“Dariku?” tanyanya seakan tak percaya. Eunjae mengangguk pelan.

“Kau memberikannya sehari sebelum kau berangkat ke Amerika”

***

Minhyuk tertegun. Kalau ia sampai memberikan kalung pada Eunjae, bukankah itu berarti bahwa Eunjae sangat penting dalam hidupnya? Memberikan hadiah pada seorang yeoja, apalagi perhiasan  bukanlah hal yang biasa dilakukan pria.

“Aku memberikannya kapan? Maksudku, apakah pada hari spesial, ulang tahunmu.. atau apa?” tanyanya. Eunjae berpikir sejenak kemudian menjawab.

“Di hari ulang tahunmu yang juga adalah hari jadi…” Eunjae buru-buru menutup mulutnya, sadar bahwa ia hampir mengoceh. Minhyuk mengerutkan keningnya.

“Jadi… apa?” Eunjae buru-buru menoleh lalu menggeleng kuat-kuat. Belum saatnya ia katakan semua ini. Tiba-tiba…

“Hei Minhyuk! Woaaah ada Eunjae juga!” terdengar suara Yonghwa dari kejauhan. Mereka berdua buru-buru menoleh.

“Sedang ‘ngedate’ rupanya! Aigoo kau memang tahan duduk di samping yeoja monster seperti Eunjae?” Jungshin ikutan mengoceh membuat telinga Eunjae terasa panas.

“Kami tidak sedang pacaran Jungshin-ah!” Minhyuk buru-buru membantah membuat Eunjae menoleh dan terbelalak kaget. Sedetik kemudian ia sadar, Minhyuk memang merasa bukan siapa-siapanya lagi.

“Lebih baik aku pulang” Eunjae berdiri lalu bergegas meninggalkan Minhyuk tanpa babibu lagi. Yonghwa dan Jungshin yang melihatnya hanya terbengong-bengong.

“Sejahat itukah kita padanya Yong, sampai ia tak mau ada didekat kita?” Jungshin menatap kepergian Eunjae lalu menoleh ke Yonghwa. Yonghwa menggelengkan kepalanya, tanda tidak tau.

“Molla. Kajja Jungshin, Minhyuk kita masih ada praktek baseball jam 1” Yonghwa beringsut pergi, diikuti Jungshin dan Minhyuk masih duduk diam di bangku taman. Menyadari kesalahannya yang belum bisa mengingat Eunjae.

***

“Bagaimana tadi?” Jonghyun menyesap lattenya lalu memandang lurus-lurus ke arah Eunjae. Eunjae yang sedang bengong buru-buru mendongak dan menggeleng.

“Ia masih belum ingat”

Jonghyun mendegus lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kemudian kembali menatap Eunjae. “kau yakin ia akan kembali ingat?”

Eunjae menghela nafasnya kemudian berkata “aku yakin! 100% yakin bahwa ia akan kembali ingat kalau aku terus mencoba!” Yeoja itu tak sadar telah menaikkan nada suaranya membuat Jonghyun mengerutkan kening. Namja itu memijat sedikit pelipisnya lalu menatap Eunjae tajam-tajam.

“Bisakah kau melihatku?” ujarnya. Eunjae memenatap Jonghyun tak mengerti.

“Kenapa di pikiranmu selalu ada Minhyuk, Minhyuk, dan Minhyuk! Sedangkan namja itupun tak lagi mengingatmu!” Jonghyun menaikkan nada suaranya membuat Eunjae semakin tak mengerti.

“Ada apa denganmu Jonghyun? Bukankan selama ini kau selalu… mendukungku?”

“Tapi aku lelah Eunjae! Aku yakin Minhyuk tak akan pernah ingat lagi!” Jonghyun menarik nafas sebentar kemudian melanjutkan. “bisakah kau melupakan Minhyuk?”

Eunjae terbelalak kaget. Tentu saja ia tak akan bisa melupakan Minhyuk begitu saja, karena Minhyuk masih ia anggap sebagai namjachingunya. Dan waktu tiga tahun mereka menjalin hubungan membuat komitmennya bersama Minhyuk menjadi semakin kuat.

“Maksudmu?” Eunjae masih belum mengerti arah pembicaraan Jonghyun. Jonghyun kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kemudian mencondongkan tubuhnya.

“Tiga tahun kau tau? Bukan, lebih tepatnya lima tahun aku menunggu untukmu. Tapi dipikiranmu selalu ada Minhyuk dan itu sudah cukup membuatku lelah!” untuk kesekian kalinya, Jonghyun menarik nafas sebentar kemudian kembali berkata. “aku suka padamu. Kau puas?”

Eunjae terbelalak kaget. Pikirannya serasa kosong dan otaknya memang terasa berat untuk diajak berpikir. Ia mendongak ke arah Jonghyun yang sedang menatapnya lurus-lurus.

“Jonghyun! Kau sahabatnya Minhyuk, tapi kenapa…” Eunjae tak dapat melanjutkan kalimatnya karena ia sudah hampir menangis.

“Terserah kau saja” Jonghyun bangkit dari duduknya kemudian berjalan keluar cafe.

***

Flashback

“Eunjae-ya…” Minhyuk menatap Eunjae lurus-lurus kemudian meraih tangan yeoja itu dan menggenggamnya erat.

“Would you be my girlfriend?” tanyanya. Eunjae terbelalak kaget. Begitu juga dengan Jonghyun yang sedari tadi mengintip mereka berdua dari balik gerbang taman.

Eunjae menatap kedua manik di hadapannya dalam-dalam. Mencari ketulusan dan kesetiaan yang biasanya tersembunyi di dalam sana. Sedetik kemudian ia tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan.

Minhyuk tersenyum senang kemudian menarik Eunjae kedalam pelukannya. Eunjae terdiam membeku lalu membalas pelukan Minhyuk dengan sedikit kaku.

“Gomawo..” ujar Minhyuk. Eunjae yang masih berada di pelukan Minhyuk mengerutkan keningnya.

“Untuk?”

“Untuk datang ke pesta ulang tahunku di  taman ini, dan mau jadi yeojachinguku walau kita baru kelas 1 SMP” Minhyuk tersenyum gembira lalu melepaskan pelukannya. Eunjae mengangguk senang.

Jonghyun menatap kosong ke arah mereka berdua. Ia terlambat beberapa detik untuk menyatakan perasaannya, dan itu menjadi penyesalan untuknya. Ia segera berbalik untuk pulang, namun tiba-tiba ada yang memanggilnya.

“Jonghyun! Itu kau kan?! Jonghyun!!” panggil Minhyuk. Jonghyun menoleh lalu tersenyum pahit. Ia segera mendatangi mereka.

“Sudah mau pulang? Pestanya belum selesai lho” ujar Eunjae. Jonghyun menoleh ke arah yeoja yang selama ini ia sukai lalu mengangguk.

“Aku tidak enak badan” jawabnya. Eunjae mengangguk-angguk, lalu Minhyuk tiba-tiba berseru.

“Jonghyun! Kau tau, aku dan Eunjae sudah jadi pasangan kekasih!” serunya gembira. Eunjae buru-buru memukul lengan Minhyuk, meminta agar namja itu berhenti mengoceh. Jonghyun tersenyum pahit lalu memandang mereka berdua.

“Chukkae, kalian berdua” ujarnya lalu beranjak pergi darisana. Lebih baik tidak melihat mereka daripada sakit hati.

Flashback end

Jonghyun berbaring di atas kasurnya kemudian mendesah keras. Ia bingung dan otaknya tak bisa berpikir jernih, hingga ia bisa berkata seperti itu pada Eunjae tadi. Ia buru-buru bangun lalu menatap dirinya di cermin.

“Kau bodoh Jonghyun! Eunjae masih mencintai Minhyuk, tapi kau malah bersikap seperti ini!”  ujarnya sambil mencaci maki dirinya sendiri.

***

Eunjae tak bisa tidur dan memang malas untuk tidur. Padahal besok sudah sekolah dan ada test. Di kepalanya masih terngiang-ngiang ucapan Jonghyun.

“Aku suka padamu. Kau puas?” kalimat itu terus memutari otak Eunaje dan membuatnya pusing.

“Aaaaaaaaaa!! Aku bisa gila kalau begini” Eunjae bangkit dari tidurnya kemudian berjalan menuju meja belajar. Ia raih buku diarynya yang tersimpan di laci kemudian membuka halamannya satu persatu dan mulai menulis.

25 Juni 2011

Tuhan, aku tidak percaya dengan apa yang kudengar tadi. Jonghyun menyukaiku dan ternyata ia telah menunggu lama untuk mengatakan ini, sejak aku berpacaran dengan Minhyuk dulu. Aku bingung harus menjawab apa. Aku menyukainya, menyukainya sebagai sahabat tidak lebih dari itu. Tapi aku tidak mau membuatnya terluka lagi. Tuhan aku harus apa?

Eunjae menulis beberapa kalimat terakhir lalu menutup buku diarynya dan mengembalikannya ke laci. Kini pikirannya begitu kalut dengan masalah ingatan Minhyuk dan Jonghyun yang menyukainya. Ia berpikir keras kemudian memekik gembira.

Ia segera mengeluarkan alat tulisnya. Menulis sebuah narasi yang akan diberikannya besok.

***

“Minhyuk!” panggil Eunjae. Minhyuk yang sedang beristirahat sehabis main baseball segera menoleh.

“Aku harap kau akan ingat dengan ini” Eunjae menyodorkan secarik amplop berwarna biru muda pada Minhyuk. Minhyuk mengerutkan keningnya.

“Ini…. apa?”

“Penggalan memori kita dulu!” jawab Eunjae riang lalu menaruhnya di telapak tangan Minhyuk. “kau bisa membacanya berkali-kali, dan benda ini juga mudah dibawa kemana-mana!” ia tersenyum manis kemudian pergi.

“Oh iya!” Eunjae berbalik kemudian menatap Minhyuk yang masih terbengong-bengong.

“Aku harap kau bisa ingat! Aku menulisnya semalaman, annyeong!” Eunjae beranjak pergi kemudian berlari menuju ruang taekwondo. Ia mendapati Jonghyun sedang beristirahat, tak lupa dengan seragam taekwondonya.

“Apa aku mengganggu?” tanya Eunjae sambil menghampiri namja itu. Jonghyun menoleh dan buru-buru menggeleng.

“Ada apa?”

“Untuk yang kemarin… maafkan aku karena..” Eunjae mulai kehabisan kata-kata. Jonghyun tersenyum tipis.

“Aku yang salah. Tidak seharusnya aku bicara begitu” ucapan Jonghyun membuat Eunjae tersenyum senang.

“Jadi.. apakah kita masih berteman?” tanya Eunjae. Jonghyun tertawa geli lalu menoleh ke arahnya.

“Tentu saja nona Park!”

***

Minhyuk mengehempaskan tubuhnya ke kasur. Badannya lelah, tapi keingintahuannya mengalahkan semua itu. Ia raih amplop yang diberikan Eunjae tadi lalu membukanya. Isinya adalah secarik kertas coklat berukuran A4  yang penuh dengan tulisan.

25 Juni 2011

Anyyeong Minhyuk! Kekeke~ apakah aku mengganggu istirahatmu dengan surat yang kuberikan ini? Kuharap tidak ya J Baiklah, aku mengaku kalau aku tak bisa menjelaskan semua ini secara langsung. Aku takut kau akan menjauh. Maka, lebih baik kujelaskan semua ini lewat surat.

Kau dan aku dulunya adalah sepasang kekasih. Kita mulai berpacaran sejak kelas 1 SMP, saat itu kau menyatakan perasaanmu di taman kota tempat kau merayakan pesta ulang tahunmu yang ke 12. Kita menjalin hubungan selama 3 tahun hingga akhirnya di musim semi, kau bilang bahwa kau akan pergi ke Amerika selama 2 tahun. Jujur, aku kaget mendengarnya dan ingin mencegahmu pergi kesana, tapi apa bisa aku melakukan itu? Toh kau kesana karena ayahmu ada urusan pekerjaan dan aku hanya perlu menunggu selama… 2 tahun.

Selama kau di Amerika, aku tidak pernah mendengar kabarmu lagi. Kau bilang bahwa setibanya kau disana, kau akan mengirimiku email dan kita akan berkomunikasi setiap hari. Tapi nyatanya, aku tak pernah mendatapatkan kabarmu hingga aku mengambil kesimpulan bahwa kau tidak akan pernah kembali lagi ke Korea.

2 tahun kemudian, aku tak sengaja melihatmu di bandara. Saat itu, aku sedang mengantar kepergian saudaraku yang hendak pergi ke London. Kau tau, aku merasa bahagia sekali! Hatiku senang mengetahui bahwa kau baik-baik saja dan ada kemungkinan bahwa kau akan kembali tinggal di Korea dan tentunya akan kembali bertemu denganku.

Tapi kini, yang kulihat bukanlah Minhyuk yang dulu. Minhyuk yang sekarang adalah Kang Minhyuk yang melupakan masa lalunya karena sebuah kecelakaan dan aku berharap, kau bisa ingat lagi padaku. Tak perlu khawatir, karena aku berjanji akan terus membantumu mendapatkan memorimu kembali J Huaahh aku sudah mengantuk, lebih baik aku tidur sekarang. Annyeong!! J

Park Eunjae.

Minhyuk menatap secarik kertas coklat itu tanpa ekspresi. Ia kini tau masa lalunya bersama Eunjae. Jadi ini sebabnya mengapa yeoja itu selalu terihat murung bila bersama dengannya.

Tiba-tiba kepalanya terasa sakit. Minhyuk mengerang kesakitan lalu memegang kepalanya. Ia segera meraih obat dari laci meja dan meminumnya cepat.

Inilah yang terjadi, setiap ia mencoba untuk mengingat masa lalu, kepalanya akan terasa sakit dan pandangannya kabur. Eomma dan appanya telah mengingatkannya untuk tidak mencobanya lagi, kalau tidak itu akan berefek buruk untuk ingatannya.

“Aku harus apa sekarang?”

***

Minhyuk menyerahkan secarik kertas itu kepada Eunjae. Eunjae terbengong-bengong melihatnya lalu mendongak menatap Minhyuk.

“Maaf, aku tidak bisa” ujarnya. Eunjae segera bangun dari lamunannya kemudian menatap Minhyuk dalam-dalam.

“Tidak bisakah kau mencoba… sedikit?”

“Maaf Eunjae, ingatanku akan kembali kabur atau hilang jika aku mencoba mengingat masa lalu… Aku ingin mencoba mengingat masa kini mulai dari sekarang” jawabnya. Eunjae menunduk menahan tangisnya yang hampir keluar.

“Gwenchanayo?” Minhyuk menunduk, menjajarkan wajahnya dengan wajah Eunjae, namun Eunjae menggeleng.

“Bukan kesalahanmu. Mungkin aku yang belum bisa melupakan masa lalu” Eunjae tersenyum pahit kemudian mengambil tasnya yang tergeletak di pinggir lapangan. Ia pamit pulang dan segera pergi.

“Minhyuk-ssi!” panggil seseorang dari arah gudang. Eunjae mendongak dan mendapati ada 3 orang namja yang menunggu Minhyuk untuk mendatangi mereka. Entah mengapa, perasaan Eunaje berubah menjadi tidak enak.

“Kemari! Kau dipanggil pelatih!” panggil namja yang paling tinggi. Minhyuk hanya mengikuti mereka lalu akhirnya menghilang di ujung koridor.

Eunjae pernah mendengar bahwa ketiga namja itu sangat tidak suka pada Minhyuk. Mereka iri pada Minhyuk yang selalu di ‘anak emaskan’ dalam klub baseball dan sepertinya sedang berniat jahat padanya. Dan… bukankah pelatih baseball tadi sedang ada di ruang guru?

Eunjae buru-buru berlari mengikuti mereka dan langkahnya terhenti didepan gudang. Ia berdiri mematung disana dan tak lama kemudian, ia mendengar erangan kesakitan dan buru-buru membuka pintunya.

Ia memekik kaget saat melihat Minhyuk sedang dipukuli oleh ketiga namja tersebut ia buru-buru berlari ke sana dan menutupi Minhyuk dengan kedua tangannya yang terlentang.

“Jangan pukuli dia lagi!” jeritnya. Salah satu di antara mereka segera menampar yeoja itu dan mendorongnya agar  menjauh. Eunjae merasakan telinganya berdengung akibat tamparan tadi, tapi ia tak mempedulikannya. Ia lihat Minhyuk yang hendak dipukul dengan tangga besi dan buru-buru menghalanginya. Dan…

“Brak!!!” Eunjae tak sadarkan diri….

***

Minhyuk menatap wajah pucat di hadapannya yang sedang berjuang melawan kematian. Tangga besi itu tepat mengenai kepala Eunjae dan membuat yeoja itu sudah tidak sadar selama beberapa hari.

Sedangkan Minhyuk sudah baik-baik saja sekarang. Seiring berjalannya waktu, ia pun mulai ingat dengan memori-memori yang terlupakan olehnya. Minhyuk mengelus pipi yeoja itu, seakan-akan Eunjae akan terluka jika ia mengelusnya keras sedikit.

Tiba-tiba kedua mata Eunjae terbuka dan tangannya bergerak sedikit. Minhyuk terbelalak senang.

“Ka..kau tidak apa-apa? Maafkan aku Eunjae karena aku kau jadi begini” gumamnya sedih. Eunjae mengangguk pelan.

“Apa..ka.kau sudah..ingat..aku..?” ujar yeoja itu. Minhyuk mengangguk-angguk.

“Aku ingat semuanya! Tanggal anniversary kita 28 Juni, tepat pada ulang tahunku! Hari ini!” Minhyuk berusaha menahan air matanya yang akan keluar. Eunjae tersenyum kecil. Tiba-tiba yeoja itu mengerang kesakitan sambil berusaha memegangi kepalanya. Minhyuk terbelalak dan mulai panik.

“A..aku tidak kuat lagi… Minhyuk..” ujarnya lemah. Minhyuk  menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Be..bertahan Eunjae!!” Minhyuk tak dapat menahan tangisnya. Eunjae menggeleng lemah.

“Tolong…jangan lupakan aku… ak..aku akan selalu ada… disini..” Eunjae berusaha menunjuk dada Minhyuk tapi tiba-tiba tangannya terkulai lemas. Minhyuk terbelalak kaget dan segera memanggil dokter serta keluarga Eunjae.

Mereka segera masuk dan tangisan mulai pecah disana. Ada Jonghyun yang menyaksikan semuanya. Ia juga adalah orang yang menolong Minhyuk dan Eunjae di gudang kemarin.

Tiba-tiba dokter berbalik lalu menggeleng pelan. Suster yanga ada disampingnya segera menutup wajah dan badan Eunjae dengan kain putih. Eunjae telah tiada.

***

Minhyuk menatap tempat peristirahatan terakhir  Eunjae. Nyonya Park tak henti-hetinya menangis lalu mengelus-elus batu nisan sang anak. Tuan Park segera membawa istrinya pergi dari sana, takut istrinya akan semakin bersedih dan pingsan. Minhyuk tak dapat menahan tangisnya dan ia segera menangis disana. Meratapi kebodohannya yang membiarkan Eunjae melindunginya, dan ketololannya yang belum bisa mengingat Eunjae waktu itu. Yonghwa dan Jungshin juga datang tadi dan menangis habis-habisan disana. Sedangkan ketiga namja kemarin telah dibawa ke kantor polisi.

Tiba-tiba sebuah tangan yang membawa buku kecil dan kalung terulur di hadapannya. Ia mendongak dan mendapati Jonghyun lah pemilik tangan itu. Jonghyun menyerahkan buku kecil dan kalung itu itu pada Minhyuk.

“Ini semua milik Eunjae. Ia pasti akan senang kalau kedua barang kesayangannya ini ada ditanganmu sekarang” ujarnya. Minhyuk menerima kedua benda itu dengan senang hati. Ia buka halaman buku kecil itu yang ternyata adalah diary.

Ia baca halaman-halaman terakhirnya, dan itu sukses membuatnya kembali menangis. Sebuah catatan terakhir menarik perhatiannya dan segera ia baca.

25 Juni 2011

Tuhan, aku tidak percaya dengan apa yang kudengar tadi. Jonghyun menyukaiku dan ternyata ia telah menunggu lama untuk mengatakan ini, sejak aku berpacaran dengan Minhyuk dulu. Aku bingung harus menjawab apa. Aku menyukainya, menyukainya sebagai sahabat tidak lebih dari itu. Tapi aku tidak mau membuatnya terluka lagi. Tuhan aku harus apa?

Mungkin harusnya aku merelakan Minhyuk agar tidak mengingatku demi kesehatannya. Dan kurasa, jika ia tidak mengingatku juga tidak apa-apa.

Minhyuk mendekap diary itu, seakan-akan ia sedang memeluk Eunjae. Eunjae rela mengorbankan perasaan Jonghyun padanya demi menunggu Minhyuk dan itu membuat namja bermata sipit itu bertambah sedih.

Jonghyun juga tak kuasa melihat Minhyuk menangis. Ia tatap makam di hadapannya dengan kristal bening yang mulai turun di sudut mata.

“Andaikan aku lebih cepat mengingatmu, mungkin kau tidak akan begini. Andaikan saja aku lebih kuat. Andaikan saja…” gumam Minhyuk. Jonghyun menoleh ke arahnya, dan memandangnya prihatin. “tapi kau tenang saja Eunjae. Aku sudah mengingatmu kembali, dan aku janji aku akan mengingatmu terus… seumur hidupku. Tenanglah di alam sana..”

Minhyuk kembali mendekap diary dan kalung Eunjae erat-erat. Merelakan orang yang telah meninggal akan membuat arwahnya tenang. Dan terus menangisi orang yang telah meninggal juga tak mampu membuatnya hidup kembali…

 

-END-

 

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

7 thoughts on “[LombaFF] Your Last Memory In Spring Season

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s