PERFECT

cr as tagged
cr as tagged

Author: mmmpeb

Rating: G

Length: oneshot

Genre: family

Cast:

  • Lee Jonghyun & family
Other cast:
  • Other CNBLUE’s member
Disclaimer: based on what i thought recently after hearing Simple Plan’s Perfect

Note: i put some facts in this story. And i share what the facts are below the story. Happy reading, guys ^^

Hey Dad look at me

Think back and talk to me

Did I grow up according to plan?

And do you think I’m wasting my time doing things I wanna do?

But it hurts when you disapprove all along

(Simple Plan – PERFECT)

 

Lama sekali Jonghyun duduk di dekat jendela sembari memainkan gitar kesayangannya. Hampir dua jam. Apapun itu, asal bersama gitar, waktu akan terasa berjalan dengan cepat. Yeah, Jonghyun si guitar freak.

Petikannya terdengar merdu meskipun pikirannya kini melayang kembali ke masa pagi hari tadi. Ia memikirkan bagaimana perasaan ayahnya melihat nilainya yang semakin lama semakin menurun. Ia tidak menyalahkan gitar, tapi ia akui sejak mengenal gitar dunianya berubah sedikit demi sedikit. Jonghyun yang suka sekali jalan-jalan dengan teman mulai menyisihkan diri demi mempelajari gitar. Jonghyun yang rajin mengerjakan tugas sekolah walaupun sebenarnya dia malas mulai suka menunda-nunda demi memainkan gitar kesayangannya. Dan Jonghyun si pemegang peringkat 15 paralel mulai menyisihkan diri dari peringkat 100 besar paralel.

Hari ini adalah hari pertemuan antara wali kelas dan orang tua murid. Jonghyun mulai khawatir dengan apa yang dibicarakan wali kelasnya dengan sang ayah. Dan begitu ayahnya pulang sebentar lagi, ia akan tahu apa itu.

Melalui kamarnya, Jonghyun dapat mendengar suara gerbang rumahnya yang terbuka, disusul suara mobil ayahnya yang makin mendekat dan kemudian mati. Bahkan ia bisa mendengar derap langkah ayahnya saking paniknya. Habislah dia!

DEG!

DEG!

DEG!

BRAK!

Jonghyun terkejut. Tubuhnya tersentak begitu mendengar suara pintunya yang terjeblak kasar. Jantungnya berdetak tidak karuan begitu melihat wajah ayahnya yang 11:12 dengan wajahnya ketika marah. Ayah Jonghyun memang sedang marah pada anaknya sendiri.

“Sudah puas membuat ayah malu, Jonghyun?”

Nafas Jonghyun tercekat mendengar ucapan ayahnya yang pelan namun terasa tajam.

“Nilaimu makin menurun! Aku rasa benda itu akan mengacau masa depanmu!”

Jonghyun mengeratkan genggamannya pada gitarnya begitu menyadari ayahnya menatap gitar kesayangannya. Ia bersikap waspada saat ayahnya berjalan menghampirinya.

“Ya!”

Jonghyun tidak bisa berbuat apa-apa saat ayahnya merebut gitarnya dari tangannya.

“Benda ini akan aku sembunyikan sampai kau bisa memperbaiki nilai-nilaimu!”

“Andwae, appa! Jangan ambil gitarku!”

“Belajar yang benar kalau begitu! Perbaiki nilaimu! Dengan nilaimu yang seperti itu mana bisa kau masuk perguruan tinggi ternama? Aku tidak mau tahu! Kau harus jadi lulusan arsitek Universitas Seoul!”

Jonghyun bangkit dari duduknya dan menatap ayahnya dengan lekat.

“Aku sudah bilang berapa kali, aku tidak suka! Aku benci matematika! Aku benci fisika! Aku benci belajar! Aku suka gitar, appa! Kau tahu itu tapi kau memaksaku menyukai apa yang tidak aku sukai! Tolong appa, aku-“

“JONGHYUN!”

BRAK!

Jonghyun menganga lebar. Matanya melebar menatap gitar coklatnya yang hancur terbelah dua. Dunia serasa berhenti baginya kini.

“Jangan mengecewakanku atau nasibmu akan sama seperti gitar brengsekmu itu!”

Jonghyun hanya bisa diam terpaku menatap gitar kesayangan yang ia beli dengan uangnya sendiri kini hancur. Ia bahkan sengaja membawa bekal makan dari rumah selama sebulan penuh agar ia bisa mengumpulkan uang untuk membeli gitar yang sudah menemaninya hampir dua tahun.

Ia jatuh berlutut di depan mendiang gitarnya. Air matanya menetes dengan sendirinya. Dengan tangan yang gemetar ia meraih serpihan gitar itu. Jonghyun terisak seiring rasa sakit dihatinya yang kini mulai tumbuh. Orang yang mengenalkannya dengan gitar justru orang yang merusak benda kesayangannya.

 

*****

 

Semenjak kejadian malam itu, hubungan Jonghyun dengan sang ayah melonggar. Jonghyun lebih memilih menghindar. Hatinya masih sakit. Bagaimana bisa ayahnya sendiri tidak mau mengerti dirinya?

Sungguh, ia ingin sekali membuat ayahnya bangga. Selama seminggu ini ia berusaha memperbaiki segalanya. Tapi begitu melihat buku, rasa sakit hatinya kembali tumbuh sehingga ia memilih mengenyahkan buku pelajarannya dan beralih pada iPod birunya. Terasa sulit untuk membangun semangat. Gitar yang dengan susah payah didapatkannya dengan mudah dihancurkan begitu saja.

TOK TOK TOK

Jonghyun menarik selimutnya begitu mendengar suara ketukan pintu kamarnya.

“Jonghyun-ah, boleh aku masuk?”

Mendengar bukan suara ayahnya, Jonghyun menyibak selimutnya dan bangkit berdiri bermaksud membukakan pintu.

CKLEK!

“Astaga, Jonghyun! Matamu itu makin lama makin mirip panda! Ayo makan!”

Tangan Jonghyun ditarik, tapi dengan lembut ia menepisnya.

“Shireo, noona! Aku tidak lapar!”

“Tidak lapar? Ayolah, Jonghyun! Kau si penghabis rak cemilan bilang tidak lapar?”

“Aku benar-benar tidak lapar!”

Sang kakak menghela nafasnya panjang melihat kelakukan sang adik. Ia khawatir dengan Jonghyun akhir-akhir ini.

“Jonghyun-ah, jangan diambil hati sikap appa minggu lalu. Aku yakin sebentar lagi appa sudah lupa! Kau seperti baru kenal appa saja,” kata gadis itu sambil menepuk puncak kepala namja yang lebih tinggi darinya.

Jonghyun tersenyum pada kakaknya. Cukup getir.

“Terima kasih, noona! Tapi aku terlanjut sakit hati!”

“Sakit hati sih sakit hati! Tapi bukan berarti kau mengabaikan masakan umma, kan? Kajja! Aku ke sini karena umma yang menyuruhku.”

Jonghyun terlihat ragu-ragu. Namun ia tidak menolak begitu sang kakak menarik tangannya menuju meja makan.

Jonghyun bisa melihat ayahnya di meja makan. Bahkan sang ayah tidak menengok pada Jonghyun begitu ia mendudukan diri di kursi makan.

“Kau mau makan apa, Jonghyun? Biar umma ambilkan!” kata ibunya sembari tersenyum padanya. Sungguh, terbesit rasa bersalah di diri Jonghyun karena seminggu ini ia mengabaikan kebaikan ibunya sendiri.

“Umma tahu kan apa yang aku suka?” tanya Jonghyun dengan senyuman yang susah payah ia bangun.

“Tentu saja! Aku tahu apa yang anakku suka!”

Setelah mengambilkan beberapa lauk untuk Jonghyun, sang ibu memberikan piringnya pada Jonghyun. Jonghyunpun makan dalam diam. Ia sadar ayahnya sedang mengamatinya yang sedang makan dan dengan sengaja ia tidak mengangkat kepalanya agar matanya tidak bertemu dengan mata ayahnya.

“Jonghyun-ah! Jangan makan dengan kepala menunduk!” kata suara berat sang kepala keluarga memecah keheningan.

Jonghyun tidak menurut. Ia tetap makan dengan kepala menunduk. Bentuk protes dari dirinya atas insiden minggu lalu. Dan ayahnya mengerti akan hal itu. Ia sadar sikapnya sudah keterlaluan dan kini ia tidak ingin menambah kekacauan.

“Jonghyun! Hari minggu ada pameran arsitektur gedung. Kau mau ikut?”

TENG!

Jonghyun melepas sumpitnya begitu saja. Dengan segera ia menenggak minumnya dan mengelap bibirnya dengan serbet putih di samping piringnya.

“Umma, noona, aku sudah kenyang!”

Jonghyun bangkit berdiri dan pergi dari ruang makan.

Ia tidak bisa menutupi perasaan kesalnya. Ia tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dan dengan sikap acuh Jonghyun yang begitu terang-terangan, sang ayah masih juga belum bisa mengerti anaknya. Jonghyun makin kesal akan hal itu.

 

*****

 

Jonghyun melangkah ke luar sekolah. Hari ini sekolah sudah usai. Sudah tidak ada semangat lagi baginya untuk bergabung dengan klub gitar hari ini, termasuk klub judo yang sudah membesarkan namanya di ajang pertandingan judo tingkat nasional. Setelah mengenal gitar, ia menjadi jarang bergelut dalam seni bela diri itu dan kemudian bergabung ke dalam klub gitar asuhan guru seni musiknya sendiri.

“Chogiyo!”

Jonghyun menoleh pada orang yang menyetop langkahnya secara tiba-tiba. Keningnya mengerut. Siapa orang itu?

“Ah, maaf! Apa kau Lee Jonghyun?”

“Kau bisa melihat name tag-ku!” kata Jonghyun datar.

“Haha, iya! Perkenalkan, aku Gong Jaesuk! Saya dari FNC Music!”

Pria setengah baya itu memberikan sebuah kartu nama pada Jonghyun. Jonghyun ragu-ragu mengambilnya, tapi ia ambil juga. Dibacanya kartu nama itu. FNC? Perusahaan manajemen musik, kah? Ada embel-embel musik. Ia baru mendengarnya. Yang ia tahu hanya SMent dan YGent.

“Aku dengar permainan gitarmu sangat bagus. Kau juga cukup terkenal dalam kalangan ulzzang.”

“Jadi?”

“Hahaha, kau bukan orang yang suka bertele-tele, ya?”

Jonghyun hanya menatap datar orang itu. Bukannya begitu, suasana hatinya belakangan ini tidak mendukung untuk diajak bicara basa-basi.

“Ah, baiklah! Aku memintamu untuk mengikuti audisi yang akan diselenggarakan minggu depan. Jika kau lulus, maka kau akan diterima menjadi trainee kami.”

*****

 

Tiga hari lagi dan audisi itu akan dilaksanakan pada hari Rabu di sore hari. Hingga sekarang ia masih belum berani meminta izin pada ayahnya. Jangannya meminta izin, berbicara saja hingga kini ia masih belum mau. Tapi waktu tidak banyak. Ibu dan kakaknya terus saja mendesak Jonghyun agar berani bicara pada ayahnya.

“Jjong, cepat sana! Sepertinya suasana hati appa sedang bagus!” seru kakaknya berbisik. Jonghyun hanya diam saja menanggapinya.

“Kakakmu benar! Kajja!”

Jonghyun menoleh pada sang ibu yang tersenyum padanya. Ia menelan ludahnya dan memberanikan diri melangkah menghampiri ayahnya yang sedang membaca koran pagi di balkon.

Ia sudah berada di belakang ayahnya. Masih ragu-ragu. Baru saja ingin berbalik, ayahnya sudah menyadari Jonghyun ada di belakangnya.

“Jonghyun? Ada apa?”

Sang ayah melepas kaca matanya dan melipat korannya. Bangkit berdiri sehingga kini mata mereka sejajar.

Bingung dengan apa yang mesti Jonghyun lakukan. Ia benar-benar tidak tahu harus memulai dari mana. Karena itu, diberikannya kartu nama yang ia dapatkan beberapa hari lalu pada ayahnya. Ayahnya membacanya dengan seksama dan ia mulai mengerti apa yang akan Jonghyun bicarakan.

“Kau mau masuk manajemen ini?”

Jonghyun mengangguk ragu-ragu tanpa mau memandang sang ayah. Di saat kepalanya menunduk itu, ia bisa melihat serpihan kertas kecil turun ke lantai. Ia mendongak dan baru mengetahui ayahnya merobek kartu nama itu.

“Aku tidak tahu kalau ternyata kau jadi sejauh ini! Pikirkan masa depanmu! Musik belum tentu bisa membuatmu hidup sejahtera!”

Tubuh Jonghyun tersentak begitu ayahnya membanting korannya ke lantai. Ia masih diam terpaku saat ayahnya telah meninggalkan dirinya sendirian di balkon. Ia ingin sekali menangis. Sekuat mungkin ia menggigit bibir bawahnya agar tangisannya tidak tumpah. Ia berjongkok dan memunguti sobekan kartu nama itu dalam bisu.

“Musik memang belum jelas akan membawaku ke mana, tapi musik adalah hidupku, appa! Kenapa kau tidak mau mengerti? Kau hanya tinggal mendukungku!”

Dan tanpa ia sangka, air matanya menetes.

*****

Hari rabu datang dan bel terkakhir telah berbunyi. Jonghyun semakin bimbang. Apa yang harus ia pilih saat ini? Hidupnya atau ayahnya? Ia ingin sekali membanggakan ayahnya. Banggakah ayahnya jika Jonghyun ternyata memilih hidupnya? Musik sudah menjadi bagian dari hidupnya. Bukan apa-apa lagi jika musik menghilang darinya.

Ponselnya bergetar di atas meja. Ia membuka sebuah pesan yang ia dapat dari ibunya.

Fighting ^^ Pilih sesuai apa kata hatimu, nak! Kau sudah dewasa dan umma akan mendukung apa yang anak umma ambil.

Terbentuk senyuman lebar dari bibirnya. Kadar semangatnya seakan bertambah hanya karena membaca pesan singkat yang ia dapat dari sang ibu. Andai ayahnya  mendukungnya sama seperti yang ibunya lakukan.

“Dari mana saja, Jonghyun?” tanya ayah Jonghyun begitu menangkap basah anaknya baru pulang sekolah pukul 11 malam.

“Aku belajar dengan teman-teman, besok ujian.”

“Hmm, baiklah! Cepat masuk kamar dan istirahat!”

Jonghyun mengagguk. Ia tersenyum di belakang ayahnya.

Baru saja Jonghyun memasuki kamarnya, pintunya kembali terbuka.

“Jonghyun-ah!” bisik sang kakak.

“Noona? Belum tidur?”

“Mana bisa tidur! Aku memikirkanmu tahu! Otthae?”

Jonghyun berlari menghampiri sang kakak dan memeluknya dengan erat.

“Aku lulus tahap satu!”

“KYAAAA!”

Jonghyun buru-buru membekap mulut kakaknya agar suara kerasnya tidak terdengar hingga ke kamar orang tua mereka.

“Jeongmal?” tanya kakaknya lagi. Jonghyun mengangguk dengan senyum sumringah yang sudah lama tidak kakaknya lihat. Mereka saling berpelukkan dan lompat-lompat kegirangan.

“Berapa tahap lagi?”

“Satu lagi.”

“Kapan?”

“Besok.”

“Besok? Kalau begitu tunggu apa lagi? Cepat tidur! Besok tidak usah sekolah.”

“Tapi nanti ketahuan appa, bagaimana?”

“Appa besok akan berangkat pagi-pagi sekali karena dinas, jadi tidak akan sempat melihatmu berangkat sekolah. Besok kita ke salon untuk memperbaiki penampilanmu. Lihat, rambutmu harus dipotong biar ketampanan adikku terlihat. Lalu gitar! Aku akan membelikanmu gitar yang bagus agar audisimu lancar.”

Jonghyun tersenyum. Ia hampir saja menangis karena perhatian sang kakak padanya.

“Hey, kenapa kau jadi cengeng begitu? Matamu berkaca-kaca!” katanya sambil mengelap air mata Jonghyun yang hampir jatuh di ujung pelupuk matanya.

“Aku tidak perlu gitar baru, noona! Mendapat dukungan sepertimu dan umma saja aku rasa aku akan lulus audisi.”

Dan kini giliran sang kakak yang ingin menangis.

*****

Di dalam sana, Jonghyun serasa di sidang. Ibu dan kakaknya menunggu dengan setia di luar. Harap-harap cemas apakah Jonghyun lulus atau tidak. Mereka mengharapkan yang terbaik untuk Jonghyun.

Hampir setengah jam menunggu, akhirnya Jonghyun keluar. Dari peserta-peserta lain, ia yang paling lama di audisi. Apa yang dilakukan Jonghyun di dalam?

“Otthae?” tanya kakak Jonghyun.

Jonghyun hanya tersenyum tipis, lalu menatap ibu dan kakaknya secara bergantian. Ia menggeleng lemah. Sang ibupun menepuk bahu Jonghyun.

“Sudahlah! Mungkin bukan sekarang!”

“Maksud umma?”

“Kau bisa ikut audisi lain kali! Atau mau umma carikan manajemen yang sedang mengadakan audisi?”

“Kenapa umma bicara begitu?”

“Ya, Lee Jonghyun! Sebenarnya kau lulus atau tidak, sih?” tanya kakaknya geram

Jonghyun kembali menggeleng dengan senyuman lebarnya. “Aku tidak ditolak!”

“KYAAAAAA!” teriak dua wanita itu yang kemudian memeluk Jonghyun dengan erat. Mereka tertawa tanpa menghiraukan pandangan orang lain, serasa dunia milik mereka bertiga.

Mereka bertiga masih asik bercengkrama sejak keluar dari mobil. Mereka tidak sadar sang kepala keluarga sejak tadi mengamati mereka. Hingga mereka masuk ke dalam rumahpun, ayah Jonghyun tidak dianggap seperti angin lalu karena posisinya yang berada di kegelapan. Ia menyalakan lampu dan sontak pandangan mereka beralih menuju saklar yang biasa untuk menyalakan lampu ruangan. Mereka terkejut, terlebih Jonghyun.

“Dari mana saja kalian?”

“Yeobo? Bukannya kau dinas?”

“Dari mana kalian?”

“Kami dari-“

“Audisi?”

Jonghyun diam tidak bergeming. Bagaimana ayahnya bisa tahu? Tapi tak lama ia mengetahui jawabannya. Ia melihat ayahnya mengeluarkan kertas biru. Kertas berisi pernyataan kalau Jonghyun lulus audisi tahap pertama. Dan kemudian dengan ekspresi kesal sang ayah meremuk kertas itu dan membuangnya sembarangan. Ia menghampiri Jonghyun dan melakukan hal di luar dugaan.

PLAK!

Hanya dengan sekali tamparan mampu membuat pipi putih Jonghyun memerah. Tapi rasa sakit yang ia rasakan bukan di pipi, melainkan hatinya. Belum pernah sama sekali ayahnya menampar Jonghyun.  Bahkan sekedar menjewer atau mencubit tidak pernah ia rasakan dari kedua orang tuanya.

“Selamat, Lee Jonghyun! Selamat! Selamat karena kau telah berhasil mengecewakan ayahmu!”

Ayah Jonghyun berlalu meninggalkan mereka. Meninggalkan Jonghyun yang terdiam seraya memegang pipinya yang mulai sedikit membengkak.

*****

Dua tahun berlalu. Dua tahun ia hidup bersama musik. Dan selama dua tahun pula ia merasa tersiksa di dalam rumahnya sendiri. Sang ayah benar-benar tidak main-main. Ia marah hingga betah berlama-lama mendiamkan anak laki-laki satu-satunya. Sudah berbagai cara Jonghyun memohon maaf pada ayahnya, hingga ia berlutut di depan kamar ayahnya selama dua haripun tetap tidak digubris.

Hari ini adalah malam terakhir Jonghyun di Korea. Besok ia akan berangkat ke Jepang dan tinggal di sana selama setahun bersama tiga trainee FNC lainnya, Yonghwa, Minhyuk dan Kwangjin. Namun hingga jarum panjang menunjukkan angka satu, matanya belum juga terpejam. Ia memikirkan bagaimana caranya agar ayahnya mau mendukungnya sebelum ia pergi meninggalkan rumah.

Bicara empat mata akan mustahil baginya. Karena itu Jonghyun bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju meja belajarnya. Diambilnya secarik kertas putih dan ia rangkai kata-kata yang menggambarkan isi hatinya.

Dear, appa!

Aku tahu appa masih marah padaku. Tapi bisakah appa tidak mendiamkanku seperti ini? Aku seperti orang lain bagimu. Kau mengacuhkanku seolah aku adalah orang asing yang menumpang tinggal di rumahmu.

Sungguh aku merindukan masa-masa dimana kita bercengkrama bersama. Ingat saat ayah mengenalkan idola ayah padaku? Aku jadi suka Eric Clapton karenamu. Dan kemudian kau mengajariku dasar-dasar bermain gitar. Aku merasa kesulitan mempelajarinya, tapi dengan sabar appa mengajariku secara rutin. Dan karena itulah aku semakin mencintai gitar.

Maafkan aku jika aku selalu membuat appa malu dengan nilai-nilaiku yang semakin menurun. Aku benar-benar tidak suka belajar dan aku menemukan hal baru yang menjadi kesenanganku. Tapi begitu kau menghancurkan benda kesayanganku, aku merasa ayah telah menghancurkan semua yang ayah ajarkan padaku.

Maaf jika aku tidak bisa menjadi seperti apa yang appa inginkah.

Ingat kata-kata appa dulu? Aku harus serius dalam melakukan satu hal karena hal itulah yang akan membawaku  menuju duniaku. Sama halnya appa dengan dunia arsitektur appa, aku ingin hidup di duniaku, dunia musik. Aku kira appa akan mengerti. Tapi ternyata aku salah.

Saat appa membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada di Korea. Impianku tinggal selangkah lagi appa dan aku sangat membutuhkan dukunganmu. Bisakah kau melakukannya? Hidupku akan terasa sempurna jika appa ikut tersenyum bersamaku dan dunia musikku.

Aku akan terus menunggu, appa! Suatu hari nanti, aku yakin appa akan mengerti.

Saranghae..

Lee Jonghyun

 

Jonghyun menyeka air matanya sebelum tetesan itu jatuh ke kertas itu. Ia tidak mau ayahnya melihat kertas itu sedikit berantakan karena air mata Jonghyun.

*****

“Jjong, pesawatmu akan berangkat! Ppaliwa!” sergah kakak Jonghyun sembari mendorong Jonghyun. Tapi Jonghyun sendiri enggan beranjak dari posisinya. Berharap sekali orang yang ia tunggu sejak tadi datang.

“Ayahmu tidak akan datang, Jonghyun! Umma akan memberikan surat ini padanya sepulang nanti. Tidak perlu khawatir!”

Jonghyun menghela nafas. Sepertinya apa yang ibunya katakan benar. mana mungkin ayahnya datang.

“Kalau begitu aku berangkat!”

Jonghyun bergantian memeluk dua wanita yang dicintainya, kemudian pergi menyusul tiga rekannya yang sudah terlebih dahulu memasuki pesawat.

Ia berbalik sebentar di gate dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut bandara.

“Haaah!” desahnya pasrah.

*****

Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Jonghyun selain musik dan grup bandnya yang baru debut. CNBLUE, nama grup band yang ia gawangi bersama Yonghwa, Minhyuk dan Jungshin. Ia senang bandnya diterima oleh masyarakat Korea. Fake band seperti yang dituduhkan pada mereka oleh netizen tidak terbukti. Mereka mampu memainkan musik mereka karena mereka adalah pemusik sejati.

Sudah hampir tujuh bulan sejak CNBLUE debut di Jepang pada Agustus 2009 lalu dan sudah hampir dua bulan pula sejak CNBLUE debut di Korea Januari lalu, Jonghyun masih tidak bisa membuat sebuah pengakuan dari sang ayah. Lama ia menunggu, tapi dukungan yang ia harapkan tak kunjung datang.

Hari ini bandnya diundang untuk menghadiri sebuah acara spesial untuk mereka. Mereka sudah membawakan dua lagu mereka dan sesi tanya jawabpun tiba. Sang pembawa acara yang telah menanyakan ke tiga rekan Jonghyun kini beralih padanya.

“Jonghyun-ssi, aku dengar kau dulu adalah leader-nya!”

“Iya, itu dulu!” jawabnya sambil tersenyum. “Tapi aku rasa Yonghwa hyung lebih cocok.”

“Dan kau marah?”

“Untuk apa?”

“Yah, siapa tahu kau marah posisimu direbut.”

“Tidak direbut. Semua sudah kami bicarakan masak-masak dan kamipun setuju. Kalau tidak ada Yonghwa hyung, mungkin kami tidak seperti sekarang.”

“Hey, jangan bicara begitu!” kata Yonghwa malu-malu seraya menepuk punggung dongsaengnya. Dan semua tertawa renyah menanggapi itu.

“Jonghyun-ssi, apa ada target yang belum dicapai sejak kau debut dengan bandmu?”

“Tentu saja banyak! Pendengar kami belum seberapa. Aku ingin mengenalkan CNBLUE pada seluruh dunia.”

“Itu target utamamu?”

“Tidak!”

“Lalu?”

“Target utamaku adalah mendapat dukungan dari semua orang yang aku cintai.”

“Maksudmu ada yang belum mendukungmu? Siapa? Ah, pacarmu, ya?”

Jonghyun tertawa.

“Hahaha, aku belum mempunya pacar!”

“Ah, siapa kalau begitu? Bisa ceritakan?”

Jonghyun terdiam sejenak. Berpikir sesuatu sebelum ia bicara.

“Dia orang yang kucintai, orang yang kukagumi sekaligus pahlawanku. Jujur, hingga aku bisa setinggi ini, tanpa ada dia disamping, aku seperti bukan siapa-siapa. Hmm, boleh aku menyanyikan sebuah lagu? Terasa sulit bagiku menggambarkan perasaanku  melalui kata-kata.”

“Oh, silahkan!

Jonghyun mengambil sebuah gitar di sampingnya. Ia mainkan lagu itu dan dengan suara lembutnya ia menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang benar-benar pas untuk menggambarkan situasinya.

 

Hey Dad look at me

Think back and talk to me

Did I grow up according to plan?

And do you think I’m wasting my time doing things I wanna do?

But it hurts when you disapprove all along

And now I try hard to make it

I just want to make you proud

I’m never gonna be good enough for you

I can’t pretend that I’m alright

And you can’t change me

‘Cuz we lost it all

Nothing lasts forever

I’m sorry

I can’t be perfect

Now it’s just too late and we can’t go back

I’m sorry

I can’t be perfect

 

I try not to think

About the pain I feel Inside

Did you know you used to be my hero?

All the days you spent with me

Now seem so far away

And it feels like you don’t care anymore

 

And now I try hard to make it

I just want to make you proud

I’m never gonna be good enough for you

I can’t stand another fight

And nothing’s alright

 

‘Cuz we lost it all

Nothing lasts forever

I’m sorry

I can’t be perfect

Now it’s just too late and we can’t go back

I’m sorry

I can’t be perfect

 

Nothing’s gonna change the things that you said

Nothing’s gonna make this right again

Please don’t turn your back

I can’t believe it’s hard

Just to talk to you

But you don’t understand

 

‘Cuz we lost it all

Nothing lasts forever

I’m sorry

I can’t be perfect

Now it’s just too late and we can’t go back

I’m sorry

I can’t be perfect

 

Petikan gitar terakhir menandakan berakhirnya lagu yang Jonghyun bawakan. Penonton terdiam sejenak dan kemudian suara tepuk tangan membahana. Penonton ikut terhanyut mendengarnya, bahkan ada yang menangis karena mendengar Jonghyun membawakan lagu itu dengan sepenuh hati. Melalui lagu itu, semua tahu apa yang Jonghyun rasakan selama ini.

“Aku tersentuh, Jonghyun-ssi! Oh, tidak! Eyeliner-ku bisa luntur!” kata sang pembawa acara sambil mengipasi wajahnya dengan kertas digenggamannya. Siapa yang tidak tersentuh? Minhyuk saja sampai ikut menitikkan air matanya. Jonghyun hanya tersenyum tipis menanggapinya.

“Ayahmu pasti akan segera mendukungmu, Jonghyun-ssi! Ia harus bangga dengan apa yang telah kau capai sejauh ini!”

“Gamsahamnida!”

Ia belum yakin dengan semua itu.

“Chukkae, hyung!” bisik Jungshin padanya. Jonghyun hanya mengernyit pada Jungshin. “Lihat!”

Jonghyun menoleh sesuai arah ke mana tangan Jungshin menunjuk. Ia melihat ibu dan kakaknya di salah satu bangku penonton. Bukan hanya itu, pria yang ia hormati hingga sekarangpun turut hadir di sana. Tersenyum hangat kepadanya dan mengatakan kata ‘fighting’ melalui gerak bibirnyaJonghyun saat itu juga menangis. Tidak ada yang tahu kenapa kecuali keluarga Jonghyun dan Jungshin.

-END-

 

Tadaaaaa, begitu aja xD

Kepikiran bikin ini abis karaokean sendirian kemaren dan nyanyiin lagu ini sampe mabok. Liriknya dalem *cried*. Tadinya mau diposting kemaren, tapi tadi malem ketiduran jadi baru posting sekarang deh.

And like what ive said in the note, i will share some facts that i used in this story:

  1. Jonghyun cinta gitar (every boice know it for sure, khususnya pacar Jonghyun berinisial Miss PRS *tunjuk yang warnanya merah di foto atas*).
  2. Jonghyun pernah mendapat peringkat 15 entah di SMA atau SMP. Lupa banget.
  3. Jonghyun ga suka belajar, hahaha. Dan nilainya turun karena Jonghyun lebih suka musik.
  4. Jonghyun punya seorang nuna. Ga pernah liat kakaknya.
  5. Jonghyun mengidolakan Eric Clapton.
  6. Jonghyun mantan atlet Judo.
  7. Sebenarnya yang ditawarin audisi di depan sekolah itu Minhyuk, termasuk dikasih kartu nama. Jonghyun itu ditawarin audisi oleh manajer kasting FNC di mini-homepage Cyworld nya. Jadi, temennya itu masukin foto Jonghyun ke Ulzzang Cafe (Best Nine) dan terpilih menjadi ulzzang (kayak Yonghwa). Dan dari disitulah Jonghyun ditawarin audisi. Dasar manusia tampan, untung bakatnya juga sama tampannya..
  8. Suara Jonghyun tuh lembut. Meleleh aja kalo denger dia nyanyi solo di lagu karangannya yang kebanyakan mellow (ini orang demen banget nyiptain lagu cengeng).
  9. Pasti ada yang enggak kenal Kwangjin. Kwon Kwangjin itu mantan member CNBLUE, ex-Bassist yang kemudian digantikan Jungshin. Doi sempet eksis di awal debut indie di Jepang 2009, album Now Or Never kalo ga salah. Ga ada yang tahu kenapa dia keluar kecuali mereka-mereka. Tapi aku denger2 sih dia masih jadi trainee FNC kalo ga salah.
  10. Yeah, sebelum debut indie Jepang, mereka menetap beberapa bulan di Jepang. Perform sana perform sini di jalanan/pinggir stasiun Jepang.
  11. Di awal-awal debut CNBLUE di korea Januari 2010, memang beredar isu CNBLUE itu fake band kan? For sure, aku nangis waktu lihat Minhyuk curhat mengenai itu sambil nangis. But they are surely GREAT and they had proven it.
  12. CNBLUE itu debut duluan di Jepang dengan label indie pada 19 Januari 2009, dan di Korea 14 Januari 2010. Kalau debut major Jepang di bawah label Warner Music Japan pada 2011, lupa kapan xD (boice payah).
  13. YES, Jonghyun itu ex-leader CNBLUE yang kemudian diganti Yonghwa.
  14. Jonghyun emang gapunya pacar sekarang. Tapi tahukah kalian kalau mantan pacar Jonghyun itu ada 8? DELAPAN? Wah, such a great boy xD

Dan sisanya murni karanganku.

Segitu aja ya ^^

Waktu itu ada reader yang tanya twitterku. Ini @mpebriar ^^ Let’s talk!

17 thoughts on “PERFECT

  1. kyaaa eonni sedih bener iih eon, ampe nangis nyesek bacanya😥
    iya ya, baru sadar lagu jonghyun oppa itu maknanya dalem semua, hiks..
    fakta 11 itu aku juga nangis eon ngeliat minhyuk nangis karena disangka fake band, payah! mereka tuh andal, kenapa dibilang fake deh? apalagi yang dibilang im a loner imu plagiat ckck tega! tapi itu sudah berlalu, yang penting mereka itu KEREN,BERBAKAT DAN I LOVE THEM *caps kesenggol jonghyun* xD kekeke~
    ff ini perfect, sama kayak judul haha.
    eon bikin ff comedy laah xD udah ah kebiasaan malah curhat #plaak
    daebak eon \(^o^)/

  2. Dulu sempat sedih waktu Jonghyun digantiin posisinya sama Yonghwa, tapi setelah ngeliat perjuangan & pengorbanan Yonghwa untuk CNBLUE, aku rasa Yonghwa emang pantaaaaaaaaas banget jadi leader😀

    ffnya baguuuussss…. ada fakta2nya pulaaa

  3. eonniiiii aku suka loooh lagu ini~ kemaren-kemaren baru aja nyanyi bareng satu sekolahan (?) #gakadayangnanya -_-

    tapi penasaran juga kalo suara lembut jonghyun nyanyiin lagu ini pasti keren bgt.

    keren eon, akhirnya appa nya ngedukung

    oh aku juga nangis liat minhyuk nangis gara2 fakeband itu ;_;

  4. Jdc ingett Yong~ dlu yg bkient umma’a nangiz gra” jg gx stju yong~ ngeband.. Hhuhuu:((

    kvant” bkient yg versi yong oppa ea eonni… Low biza cmua mmber kbgiant ff’a… Kkekekke~

    PERFECT eon.. ^_^

  5. sebagai gitaris dan musisi, aku bisa merasakan apa yang dirasakan abang jonghyun😥

    gara-gara FF ini, aku jadi bersyukur karena perjalananku di dunia musik tidak terhalang oleh pertidaksetujuan orangtua

    DAEBAK!!! 1000 jempol ^^

  6. PERFECT!
    Terharu bacanya T~T

    Dan btw… itu fakta terakhirnya Jonghyun bikin berasa gimanaaa gitu yaaa~
    (boice labil)

  7. Huwaa ffnya bagus banget! Antar fakta sama karangannya author sangat sinkron dan nyambung…
    Kayak lagi baca kisah perjuangannya jonghyun sampe sekarang ^^
    Daebak!!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s