I Feel… [part 1]


Author: Kim Hyura

Rating:

Length: Chapter

Genre: G, Romance

Cast:

Han Soo Rim

Jung Yong Hwa

Other Cast:

Lee Jong Hyun

Shin Minwoo

Park Yihyun

Note: ini fanfiction pertamaku yang akan dishare. Jadi maaf kalau masih aneh ya. *walaupun aku gatau dimana anehnya. Hehe*

 

 

Han Soo Rim POV

Sekolah macam apa ini? Sudah jam segini kok masih ramai di setiap koridor. Apakah ini benar sekolah tempat pertukaran pelajarku? Aku tak yakin..

“Yakinkan dirimu, Han Soo Rim. Kau dapat bertahan di sekolah macam ini. Hanya empat bulan. Kau pasti tahan. Hwaiting!” gumamku menyemangati diriku sendiri sambil tetap menyusuri koridor sekolah. Sekolah ini terlalu luas, ruang kepala sekolahnya saja susah sekali kutemukan.. hh..

“Hey, kau mencari apa sih? Sudah berapa kali kau memutari daerah ini?” tegur seseorang. Aku menoleh. “Apa pedulimu? Itu urusanku!” tukasku cepat. Namja yang tadi menegurku diam saja dan berjalan menjauhiku. Tiba-tiba aku menyesali ucapanku.

“Kenapa aku tadi tak bertanya padanya dimana ruang kepala sekolah? Han Soo Rim, kau memang bodoh!” gerutuku seraya memukul-mukulkan tanganku ke kepala.

“Ya! Kau yang tadi! Tunggu aku!” seruku saat mengejarnya. Ia menoleh dan menghentikan langkahnya.

“Apa?”

“… dimana ruang … kepala sekolah?”  tanyaku ngos-ngosan. Jalannya cepat sekali.

“Itu, di belakangmu” jawabnya seraya menunjuk ruangan di belakangku.

“Ah, iya. Gomawo. Oh ya, Han Soo Rim,” ujarku ramah dan mengulurkan tanganku.

“ … ” ia hanya mengangkat alis dan kembali melangkah pergi. Aku menyesali ucapanku barusan.

Aku mendengus. “Namja angkuh” seraya melangkahkan kakiku ke ruang kepala sekolah.

***

“Ya, semuanya. Hari ini kita kedatangan murid pertukaran pelajar di kelas ini. Ia akan bersekolah disini hingga empat bulan ke depan. Semoga kalian dapat bersenang-senang dengannya. Arasseo?” tanya seonsaengnim di dalam kelas. Aku dapat mendengarnya samar.

“Ne, seonsaengnim.”

“Ya, silakan masuk dan perkenalkan dirimu” kurasa itu panggilan untukku. Aku menarik napas perlahan, mencoba mengurangi rasa gugupku. Jujur saja, aku sangat membenci  semua sesi perkenalan karena ini dapat membuatku gugup, tegang, dan berkeringat dingin.

Perlahan, aku melangkahkan kakiku memasuki ruangan kelas ini dan berusaha tersenyum semanis mungkin pada mereka semua.

“Annyeonghaseyo, Han Soo Rim imnida. Bangapseumnida. Mohon bantuannya.” sapaku seraya membungkuk hormat. Rambut panjangku yang tergerai sedikit menutupi wajahku.

“Annyeong” jawab mereka semua. Aku tersenyum sambil merapikan rambutku.

“Han Soo Rim-ssi, silakan duduk di sebelah Jung Yong Hwa. Namja tampan di dekat jendela itu. Oh ya, panggil aku Oh seonsaengnim, wali kelas disini.” suruhnya. Aku hanya mengangguk.

“Jung Yong Hwa itu yang mana?” pikirku. Oh seonsaengnim tampaknya bingung karena aku tak juga melangkahkan kakiku.

“Ehm, Han Soo Rim. Itu yang namanya Jung Yong Hwa” kata Oh seonsaengnim seraya menunjuk namja yang sedang menulis sesuatu di bukunya. Tampaknya ia tak memperhatikan.

“Waeyo?” tanya namja yang bernama Jung Yong Hwa itu. Mungkin ia merasa diperhatikan satu kelas. Aku melihat wajahnya yang sudah terangkat.

MWO? Dia kan namja angkuh tadi. Oh Tuhan..” batinku.

“Tunggu apa lagi, Soo Rim-a? Ayo duduk dan kita lanjutkan pelajaran” tegur Oh seonsaengnim. Aku mengangguk dan melangkahkan kakiku.

“Kau yang tadi?” aku baru menghempaskan tubuhku dan dia sudah memburuku dengan pertanyaan.

“Ne, waeyo?” aku menanggapi dengan nada sangat manis yang dibuat-buat.

“Ani” jawabnya dan langsung mencatat apa yang ada di papan tulis. Aku mencibir ke arahnya. Aku ikut mencatat semua yang ada di papan tulis.

“Apa itu tulisannya? Tak terbaca olehku. Kacamataku?” gumamku sendirian sambil merogoh saku didalam tasku. Tak ada.

“Ahh.. apa bacanya?” gumamku frustasi sambil mengacak rambut hingga tak keruan.

“Han Soo Rim, jangan membuat keributan! Ada apa?” tegur Oh seonsaengnim.

“Uh? Aku, tak dapat membaca tulisan di papan tulis. Mataku terasa berkunang-kunang. Eh, maksudku, aku lupa membawa kacamataku.” jawabku kacau.

“Hh.. kau pinjam saja catatan Yong Hwa.” usul Oh seonsaengnim.

“Mwo? Shireo!” tukasku cepat.

“Waeyo?” tanya Oh seonsaengnim bingung. Selama ini belum ada yang menolak untuk meminjam catatan Yong Hwa. Bahkan mereka sangat menginginkannya.

“Masih bisa terbaca sedikit kok. Tak usah khawatir. Lagipula nanti aku akan mengganggunya.” jawabku memberi alasan.

“Nah, itu kau tahu akan menggangguku. Baguslah.” komentar Yong Hwa dingin. Namja ini  benar-benar minta ditampar. Ugh! Menyebalkan.

“Itu bacanya apa? Aahh! Benar-benar tak terbaca! Han Soo Rim, ayo baca! Baca! Baca dan salin ke bukumu! Cepat!” aku meracau sendirian. Dengan suara yang cukup pelan tentunya. Siapapun, aku ingin pinjam buku kalian! Kenapa kalian pelit sekali sih?!

***

“Pakai saja bukuku.”

Aku tersentak. Apakah itu buku namja menyebalkan tadi? Aku menoleh ke arahnya. Kurasa bukan karena ia masih menulis. Aku menoleh ke arah yang berlawanan. Seorang yeoja berambut ikal tersenyum sembari menyodorkan bukunya padaku.

“Pakai saja. Ambilah.” suruhnya. Aku menyambut buku itu perlahan.

“Gomawo,” aku tersenyum padanya. Ternyata tak semua murid disini seperti Yong Hwa, yang dingin dan angkuh. Menyebalkan pula.

Aku menyalin catatan di buku itu cepat sekali. Ternyata aku tertinggal banyak tulisan hanya karena kacamataku yang entah dimana. Sudah berapa kali Oh seonsaengnim menghapus papan tulis. Awal hariku disini lumayan.. membuatku pusing. Hahaha.

***

“Gomawo. Mm, Park Yihyun.” aku berterimakasih pada yeoja yang tadi setelah membaca nama yang tertera di sampul depan buku.

“Mm.. Cheonma” jawabnya manis.

“Mau ke kantin bareng?” ajaknya. Aku mengangguk.

Kami bergandengan tangan dalam perjalanan ke kantin yang sudah mulai penuh.

***

“Han Soo Rim,” panggilnya.

“Ne?”

“Kayaknya kau benci sekali dengan Yong Hwa. Waeyo?” tanyanya. Aku tersedak. Tak menyangka ia akan menanyakan topik macam ini.

“Uhukk.. aku tidak membencinya. Hanya saja kesan pertamanya padaku itu menyebalkan, angkuh dan dingin. Jadi aku, yah begitulah.” jawabku.

“Memangnya kenapa? Kau menyukainya ya?” aku mulai menggoda Yihyun.

“Hah?”

“Sudahlah, mengaku saja. Wajahmu memerah, tuh. Tandanya berarti benar. Hahaha” aku tertawa puas menggodanya.

“Rahasiakan ini!” jawaban Yihyun membuatku terdiam. Ini baru hari pertama dan aku sudah dituntut untuk menyimpan rahasia.

“Aku..”

“Waeyo? Aku yakin kau dapat menjaganya kok.” Yihyun menukas.

“Alasan kau menyukainya apa?” tanyaku akhirnya.

“Pertama. Yong Hwa itu tampan.”

Memang.

“Kedua. Ia baik.”

Apanya?

“Ketiga. Ia cerdas.”

Oh ya?

“Keempat. Ia sangat jago bermain gitar. Aku tersentuh akan pertunjukkannya minggu lalu.”

Memangnya ia memiliki tampang jago main gitar ya?

“Ada berapa alasan?”

“Masih banyak berjuta-juta alasan aku menyukainya. Intinya, bagiku ia sempurna.”

Sempurna? Sesempurna itukah?

Aku merasakan perasaan aneh dalam hatiku saat Yihyun mengucapkan kalimat terakhir.

Bagiku, ia sempurna” terngiang-ngiang terus di kepalaku kalimat itu.

Apakah Yong Hwa sesempurna itu? Indah bagaikan indahnya bulan di langit? Bersinar bagaikan sinar bintang di angkasa? Tatapan matanya begitu jernih sejernih air laut? Sikapnya lembut selembut rumput di padang rumput? Atau lebih sempurna dari semua itu?

Jung Yong Hwa POV

“Yong, ada apa? Kok melamun?” kurasa Jonghyun menegurku.

“Ah? Aniyo. Aku hanya sedang berpikir.”

“Berpikir apa? Yeoja berambut panjang itu ya?” tanya Jonghyun.

“Siapa dia? Berambut panjang? Aku tak kenal.” jawabku.

“Aigo~ yeoja yang duduk di sebelahmu. Han.. apa namanya?”

“Dia? Tentulah bukan. Justru aku sebisa mungkin menghindarinya. Aku sebal padanya.”

“Waeyo? Kurasa ia cukup manis. Ah tidak. Sangat manis. Tak ada alasan bagimu untuk menghindarinya.” komentar Jonghyun.

“Aku punya alasan” jawabku datar.

“Me-nye-bal-kan. Ce-re-wet. Dan ti-dak ma-nis” aku mengutarakan alasan tanpa menunggu jawaban Jonghyun.

“Oh ya, jika kau tertarik padanya, pacari saja dia” usulku.

“Kau kira aku apa? Playboy?”

“Kau memang Playboy kan. Sudah banyak yeoja kau pacari dan sudah banyak pula yang kau sakiti. Kau hanya ingin bersenang-senang dengan mereka. Dasar..”

“Mereka hanya tak cocok untukku. Mereka menyukaiku hanya karena aku tampan dan aku anak orang kaya. Mereka tak pernah menyayangiku apa adanya. Bagaimana dengan dirimu?”

“Aku? Aku malas membahas topik seperti ini. Terlalu pribadi.” jawabku dan langsung pergi.

“Yong! Yong!” kudengar Jonghyun memanggil manggil namaku namun aku tak menghiraukannya.

***

Aku menaiki pohon besar di bukit belakang sekolah. Ini adalah tempat rahasiaku. Tempatku menyendiri. Tempatku melepas lelah. Tempatku menghabiskan waktu bersamamu, Im Sora. Dan tempatku mengenang segala kenangan-kenangan indah.

Sudah dua tahun sejak kepergianmu, Im Sora. Aku merindukanmu. Aku ingin kau kembali dan mengubah hidupku lagi. Sejak kepergianmu kala itu, aku begitu terpukul dan sering menyendiri. Sejujurnya aku capek seperti ini. Tapi hanya kau yang dapat membuatku tertawa. Tak ada orang lain. Bahkan lelucon terlucu yang dilontarkan pelawak dunia yang sangat lucu pun takkan mampu membuatku tertawa.

Aku sangat ingin kau kembali, Sora. Kembali mengisi hari-hariku. Sora, aku merindukanmu. Aku tahu kau selalu mengawasiku di alam sana. Tapi aku ingin sosokmu kembali. Sekali.. saja. Dan katakan padaku kau selalu mencintaiku; “Saranghae, Yong”. Dan aku akan menjawab; “Nado saranghae, Sora-a”

Tuhan, izinkan aku dan Sora bertemu lagi di alam ini sekali lagi. Dan aku akan mengikhlaskannya sepenuhnya setelah itu. Aku ingin ia tenang disana. Biarkan kami bertemu lagi sekali saja, Tuhan.

Flashback

“Kau tahu, Yong? Melihat langit senja yang sudah mulai berganti langit malam adalah kesukaanku.”

“Waeyo? Kurasa biasa saja tuh.. tak ada yang istimewa.” aku menanggapi.

“Kau menganggapnya biasa karena kau tak pernah menikmatinya, bodoh. Coba saja kau nikmati sekali-kali. Indah dan dapat membuat pikiranmu rileks.” Sora memukul lenganku pelan.

“Aku tidak mau..”

“Wae?”

“Aku tidak mau kalau tidak bersamamu. Hehehe.. langit pagi, siang, sore, ataupun malam bagiku tiada yang lebih indah dan dapat membuatku rileks kecuali bila kunikmati bersama dirimu, Sora.” Aku mengacak rambut Sora pelan.

“Hahaha.. kau gombal. Bagaimana jika aku pergi?” Sora merapikan rambutnya.

“Kau akan pergi meninggalkanku?” aku tersentak akan kata-katanya.

“Ani.. aku hanya bertanya. Yong. Aku takkan meninggalkanmu dan akan selalu ada disini, di hatimu selamanya. Dan kau pun selalu ada di hatiku selamanya. Saranghae, Yong.” Jelasnya sembari menepuk dada kiriku perlahan.

“Ah.. Aku lega mendengarnya. Kupikir kau akan meninggalkanku. Na do saranghae, Sora” jawabku seraya mengelus rambut halusnya.

“Nah, mari kita nikmati langit senja ini, ne?” ajak Sora. Aku mengangguk dan Sora mulai menyenderkan kepalanya di bahuku. Senja itu kami lewati bersama dan merupakan senja terindahku bersama Im Sora.

***

Aku begitu bahagia mengisi hari-hariku bersamamu, Sora. Tapi hari itu, hari terburuk sepanjang hidupku. Kau meneleponku. Memintaku menemuimu dengan suaramu yang parau, berbeda dari biasanya. Aku begitu panik begitu mendengar suaramu yang terputus-putus. Aku langsung berlari ke rumah sakit tempatmu dirawat. Aku heran kenapa kau baru memberitahuku akan penyakitmu ini.

Hujan deras yang menerpa saat itu tak menyurutkanku. Tubuhku basah kuyup. Aku menggigil. Aku langsung berlari ke kamar tempatmu dirawat. Aku menerjang masuk ke kamarmu, tak peduli akan lantai rumah sakit yang becek karenaku. Aku hanya memikirkanmu, Sora. Only you..

“Sora..” panggilku lirih.

“Yong..” jawabnya seraya melambaikan tangannya ke arahku, tanda agar aku mendekat ke arahnya.

Aku melangkah mendekatimu. Wajahmu pucat pasi, Sora. Tubuhmu menjadi ringkih, kurus sekali. Dan tatapan matamu yang biasanya hangat, sekarang menjadi redup.

Kau berusaha duduk. Aku membantumu duduk.

“Temani aku ke luar, ne?” pintamu.

“Tapi.. diluar hujan deras.”

“Aku tak peduli. Sejak tadi aku menunggumu. Aku ingin menikmati langit sore ini bersamamu, Yong. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.”

“Apa maksudmu untuk yang terakhir kalinya? Kau pasti kuat, Sora. Kau pasti sembuh. Lakukan ini demi aku, ne?” aku memintamu melakukannya.

“Sebenarnya sudah sejak setahun lalu aku mengidap penyakit ini..”

Aku tersentak. Kenapa aku tak tahu?

“Aku tak memberitahumu karena aku menyayangimu, aku tak ingin kau khawatir akan kesehatanku, Yong. Kurasa ini sudah saatnya kau tahu. Aku sakit. Aku memiliki penyakit yang sudah parah.”

Aku semakin erat menggenggam tangannya.

“Baiklah. Ayo kita keluar. Aku berikan ini untukmu.. tapi kau harus berjanji padaku, kau akan sembuh. Ne?” aku mencoba tersenyum. Tapi hanya senyuman getir yang tersungging di bibirku.

“Ne, aku janji.”

***

“Ayo kita ke batu besar itu!”

“Hujan, Sora.. hujan deras..”

“Jebal, Yong. Jebal.. sekali ini saja.” Aku tak tega akan permintaanmu hingga aku menyanggupinya.

“Lihat, Yong. Langitnya indah ya. Ternyata awan hitam yang menurunkan hujan sangat indah jika kita lihat dari bawah. Bagaimana menurutmu?” tanyamu.

Air mataku menetes. Semoga kau tak melihatnya dan hanya menganggap ini air hujan, bukan air mata.

“Ne, sangat indah.” hanya kalimat itu yang dapat keluar dari mulutku. Kurasakan jarimu yang lembut menyentuh sekitar kelopak mataku.

“Kau menangis, chagi?” tanyamu.

“A.. aniyo. Ini hanya air hujan.” aku mengelak. Kau hanya terdiam sembari menatapku. Perlahan, kau ikut menangis.

Aku merengkuhmu ke dalam pelukanku. Ya, aku memelukmu. Sangat erat. Dan kau membalas pelukanku.

“Jangan menangis, Sora. Tertawalah, aku ingin melihatmu tertawa.” suaraku agak bergetar.

“Bagaimana aku bisa tertawa? Sementara kau menangis, Yong? Aku mengenalmu. Kau tidak bisa berbohong padaku.” balasmu. Suaramu ikut bergetar.

“Jangan meninggalkanku, Sora. Jebal.. kumohon. Aku tak tahu bagaimana jika kau tak ada.” pintaku.

“Aku ingin sekali menyanggupinya. Tapi aku tak bisa, Yong. Kurasa tak lama lagi aku pergi.”

Aku terdiam.

“Aku lelah. Aku menahan semua rasa sakit ini selama setahun demi kamu. Aku pun ingin melakukannya saat ini. Tapi aku terlalu lelah, Yong. Aku ingin istirahat. Aku ingin tenang, tak tersiksa lagi.”

Aku masih menunggu kata-katamu.

“Tapi apakah tak ada cara lain?” aku akhirnya bertanya.

“Tak ada, Yong. Aku hanya bisa pasrah dan menunggu keajaiban dari Tuhan. Kurasa keajaiban itu sudah diberikan untukku selama setahun terakhir. Dan kurasa ini kesempatan terakhirku. Aku ingin bila aku pergi nanti, aku sedang berada dalam pelukanmu seperti sekarang.”

“Saranghae, Sora..”

“Na do saranghae, Yong..”

“Hhh.. sekarang aku sudah menceritakan semuanya padamu. Kurasa aku bisa pergi sekarang.. Jeongmal jeongmal saranghae, Jung Yong Hwa..”

“Nado jeongmal jeongmal jeongmal saranghae, Im Sora..”

Sora telah pergi dan ia pergi sesuai keinginannya. Pergi dalam pelukanku. Aku tetap memeluknya walaupun tangannya perlahan melepaskan pelukannya.

“Sora saranghae.. Sora saranghae.. Sora saranghae!!” aku berteriak sekencang-kencangnya sambil tetap memeluk Sora. Hujan semakin deras. Seolah ikut bersedih akan kepergian Sora, cintaku.

“Waeyo Sora? Waeyo? Kenapa kau meninggalkanku? Bukankah kau sudah berjanji?” aku berbisik di telinganya walaupun aku tahu ia takkan menjawab.

Hening. Hanya suara hujan deras yang terdengar.

“Yong..”

Aku merasa mendengar suara Sora. Ah, aku pasti hanya berhalusinasi

“Yong..”

Suara itu terdengar lagi. Aku mulai meragukan kalau ini halusinasi.

“Yong..”

Aku yakin Sora yang memanggilku.

“Ne?” jawabku.

“Jangan berpikir dunia ini akan kiamat bila aku pergi, ne?”

“Uh?” aku tak mengerti apa maksud ucapannya.

“Aku minta tolong padamu. Aku ingin tetap melihatmu tersenyum. Jadi bila aku pergi jangan bersikap seolah-olah hidupmu tak berarti tanpa aku, ne? Suatu saat nanti, kau akan temukan penggantiku.”

“Tak ada yang dapat menggantikan dirimu, Sora..” ucapku lirih.

“Yah, aku tahu ini berat. Tapi cepat atau lambat kau akan menemukannya, Yong..”

“Janji ya?”

“Ne~. Tapi kau juga janji akan mengenangku selamanya dalam hatimu. Ara?”

“Arasseo..” dan kaupun menutup matamu perlahan dengan senyum indahmu yang tersungging di bibir manismu.

Ya, aku tak boleh begini terus. Tapi aku belum bisa melakukannya, Sora. Aku masih terlalu merindukanmu dan mencintaimu..

Flashback End

 

6 thoughts on “I Feel… [part 1]

  1. @semua: gomawo udah baca fanfic ku yang gaje banget ini.. jujur aku baru buat dua hari yang lalu lohh #plakk.

    part selanjutnya ditunggu aja ya, masih dalam proses pengerjaan😀

    gomawo buat semua yang udah baca yaa..
    jeongmal jeongmal gomawo😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s