I Feel… [part 2]

Author: Kim Hyura

Rating:

Length: Chapter

Genre: G, Romance

Cast:

Han Soo Rim

Jung Yong Hwa

Other Cast:

Lee Jong Hyun

Shin Minwoo

Park Yihyun

Note: ini lanjutan fanfiction I Feel… part 1. Jadi ini part 2 nya ya? #yaiyalah thoorr.. mian kalo kecepetan. Soalnya idenya lagi mengalir deras nih, hehe. Okok, langsung baca aja yaa.. selamat menikmati🙂 jangan lupa comment!

 

 

Author

Istirahat beberapa menit lagi akan usai. Koridor-koridor sudah mulai sepi. Tapi Han Soo Rim dan Park Yihyun masih diluar kelas.

“Yihyun-a. Siapa ketua kelas di kelas kita?” tanya Soo Rim.

“Ketua kelas? Um, Shin Minwoo.”

“Oo..” jawab Soo Rim sekedarnya. Mereka berdua masih berjalan menyusuri koridor menuju kelas. Mereka habis berkeliling sekolah.

“Soo Rim-a, menurutmu tempat ternyaman di sekolah ini dimana?” tanya Yihyun tiba-tiba.

“Menurutku di.. atap gedung yang dekat bukit sekolah. Disana kau bisa melihat pemandangan sekeliling sekolah bagian belakang. Kau bisa melihat bukit pula. Kurasa itu menyenangkan.” papar Soo Rim.

“Mm.. kkaja kita masuk! Park seonsaengnim bisa marah kalau kita terlambat” ajak Yihyun. Soo Rim mengangguk dan mereka berdua mempercepat langkahnya.

“Park Yihyun, kau hampir saja terlambat masuk. Dan kau? Mm, tunggu jangan beritahu aku! Kau.. kau itu.. Aha! Kau itu murid pertukaran pelajar selama empat bulan itu kan?” kata Park seonsaengnim di depan pintu kelas. Mereka bertiga masuk secara bersamaan.

“Mm.. ne. Annyeonghaseyo, seonsaengnim. Han Soo Rim imnida. Bangapseumnida.” kata Soo Rim sembari membungkuk hormat.

Memangnya ada berapa murid pertukaran pelajar disini?’ batin Soo Rim sambil melangkah masuk ke dalam kelas.

Han Soo Rim POV

Aku duduk di kursiku. Aku melihat kursi di sebelahku kosong. Lho, dimana namja angkuh itu? Ini kan sudah jam pelajaran.. Atau, ia biasa membolos? Tapi kurasa ia tak punya tampang BadBoy. Entahlah..

Aku mengikuti pelajaran Park seonsaengnim dengan perasaan tak nyaman. Berkali-kali aku melirik ke pintu kelas. Menunggu namja angkuh itu, Jung Yong Hwa masuk kelas. Aigo~ dia kemana, sih?

“Han Soo Rim-ssi. Ada apa? Kau terlihat resah.” tegur Park seonsaengnim. Apakah gerak gerikku terlalu menonjolkan keresahanku?

“Ah? Aniyo, seonsaengnim. Aku hanya.. ingin ke toilet. Bolehkah?” aku menyangkal.

“Ne, silakan. Jangan terlalu lama.” Park seonsaengnim memberikan izin. Aku pun beranjak dari kursiku dan melangkah untuk membuka pintu.

KRIEETT..

Aku tersentak saat aku melihat siapa yang berada di hadapanku.

“Kau menghalangi jalan. Minggir” suruhnya. Ya, namja angkuh itu ada di hadapanku sekarang. Tepatnya kami berdua sama-sama berada di depan pintu.

Aku tak bergeming. Aku tetap terpaku di posisiku berdiri.

“Ya, kau kenapa sih? Minggir! Aku mau masuk.” ia sedikit berteriak padaku.  Ugh! Namja  ini suka sekali membentak! Me-nye-bal-kan.

“Kenapa kau terlambat?” aku mulai bersuara.

“Urusanku.” jawabnya.

“Apakah sekolah ini milik keluargamu, hah? Seenaknya saja keluar-masuk kelas sesuka hatimu. Kau tidak menghargai seonsaengnim yang mengajar sama sekali!” aku membentaknya.

Omona! Kenapa aku melakukan ini? Oke, pasti akan ada masalah baru.’ batinku menjerit.

“Sekolah ini memang milik keluargaku, kok. Dan itu urusanku mau masuk kelas atau tidak. Kenapa kau yang malah repot?” jawabnya enteng.

“Kau.. masih sempat-sempatnya kau menyombongkan diri! Aku tak peduli apakah sekolah ini milik keluargamu, atau milik keluarga Park seonsaengnim (?), atau apapun! Kau memang benar-benar namja tak tahu diri! Kau meremehkan pendidikan. Kau tahu? Diluar sana banyak anak yang sangat ingin bersekolah tapi mereka tak mampu! Dan kau, kau dapat bersekolah dengan mudah tapi kau menyia-nyiakannya! Kau mengecewakan orangtuamu secara tak langsung! Aku tak menyangka, di sekolah elite ini yang katanya murid-muridnya sangat disiplin, ada murid seperti dirimu! Jika begini, lebih baik kau tidak usah sekolah sekalian!” aku membentaknya sambil menunjuknya dengan jariku. Pandanganku mulai kabur karena mataku mulai basah tapi aku berusaha keras menahannya.

Han Soo Rim pabo! Untuk apa sih kau mengurusinya hanya gara-gara ia terlambat masuk kelas beberapa menit? Aahh! Masalah akan datang dari namja angkuh yang bahkan aku takkan mau berususan dengannya!

Aku menunduk. Tak berani menatapnya setelah semua yang aku katakan barusan.

“Apa sih? Untuk apa kau mengurusku, hah? Semuanya terserah padaku! Lagipula kita baru saling mengenal beberapa jam yang lalu dan kau berani membentakku? Dasar yeoja bodoh..” balasnya pedas. Aku merasakan aura permusuhan dari kata-katanya.

“Oke. Aku minta maaf bila aku membentakmu tiba-tiba tanpa sebab. Intinya, aku hanya ingin mengingatkanmu agar tak menyia-nyiakan semua kenikmatan yang kau nikmati. Arasseo? Minggir,” aku menggigit bibir. Tak menyangka kata-kata ini yang akan keluar. Namja itu menggeser tubuhnya, agar aku segera pergi dari pandangannya. Aku pun memburu langkahku ke toilet.

“Enyah kau, yeoja pabo yang berjiwa sosial tinggi.” desisnya di telingaku saat aku melewatinya.

Han Soo Rim, jebal! Ini baru hari pertama dan kau sudah membuat masalah! Dan kau juga merendahkan harga dirimu!

***

“AARRGGHH!!” aku berteriak frustasi di hadapan cermin di atas wastafel. Aku sudah cukup lama disini dan untungnya, sejak tadi hanya ada diriku di dalam toilet ini.

Aku memandangi diriku di cermin.

“Kau terlihat menyedihkan, Han Soo Rim.” gumamku. Yah, rambutku acak-acakan. Seragamku berantakan. Wajahku basah akan air mata dan air basuhanku di wastafel. Napasku memburu. Mata dan hidungku memerah.

“Hah, bagaimana bisa kau kalah dari Jung Yong Hwa? Si ‘BadBoy’ itu? Aku yakin, luarnya saja ia terlihat kejam, angkuh, dan menyebalkan. Tapi dalamnya sangatlah rapuh. Jangan mau kalah dengannya, Han Soo Rim. Kalahkan ia!” aku berusaha menyemangati diriku sendiri dengan mengejek Jung Yong Hwa menyebalkan itu.

Aku akan memakinya lagi ketika tiba-tiba sebuah suara memanggilku.

“Soo Rim-a?” Park Yihyun. Apakah ia dengar tadi aku memaki namja itu? Bagaimana kalau ia marah? Pabo, Han Soo Rim, masih saja sempat berpikiran seperti itu di situasi seperti ini. Hahah..

“Yihyun?”

“Neo gwaenchana?” tanyanya cemas.

“Ne, nan gwaenchana.” jawabku sedikit tersenyum.

“Sudahlah, jangan dimasukkan ke hati. Yonghwa itu memang begitu, sangat suka membentak orang lain. Tapi aku yakin kok, sebenarnya ia baik.” kata Yihyun.

“Aigo~ kau masih saja membelanya. Apa sih yang kau harapkan dari seorang namja seperti dia?” aku mendengus kesal.

“Jangan bicarakan itu dulu. Yang penting sekarang. Rapikan dirimu, kau terlihat sangat menyedihkan. Lalu kita masuk kelas. Park seonsaengnim mengamuk tadi.” ucapan Yihyun sukses membuatku kaget.

“Mengamuk? Padaku? Ah, aku tidak mau masuk kelas. Tolong bilang aku sakit perut, ne? Atau alasan apapun lah..” aku memohon pada Yihyun.

“Pabo! Bukan mengamuk padamu. Tapi pada Yonghwa. Lagipula kan yang ngotot bilang bahwa tidak boleh meremehkan pelajaran kan dirimu..” Yihyun mengulang ucapanku tadi pada Yonghwa.

“Jinjja? Kenapa dia yang dimarahi seonsaengnim? Harusnya aku. Kan aku yang memulai.” aku merasa tak enak pada Yonghwa. Kan aku yang memulai..

“Kau itu bagaimana sih? Tadi tak mau Park seonsaengnim mengamuk padamu. Tapi tak enak jika Yonghwa yang dimarahi. Maumu bagaimana?” Yihyun geregetan.

“Mauku Park seonsaengnim tidak mengamuk pada siapapun. Hehehe.. Ya sudah. Tunggu sebentar, aku akan merapikan diriku dan kita masuk kelas. Ne?” kataku tiba-tiba bersemangat.

“Ne, ne. ppali!” sungut Yihun.

***

Aku membuka pintu kelas perlahan. Setelah beberapa menit berada di depan pintu bersama Yihyun yang berusaha meyakinkan diriku bahwa takkan terjadi apapun pada diriku. Aku memang siswa yang labil, hahaha..

“Han Soo Rim-ssi,” aku bergidik mendengar ucapan Park seonsaengnim yang begitu dingin.

“Ne, seonsaengnim?” aku menjawabnya perlahan dengan kepala yang ditundukkan.

“Ehem..” Park seonsaengnim mengatur suaranya yang justru membuatku semakin gemetaran.

“Saya sangat terkesan akan keberanianmu memperingatkan seluruh kelas akan pentingnya pelajaran itu dan tidak boleh membolos dalam pelajaran.”

“Huuuuu..” seru anak-anak sekelas.

“Tapi karena kau membuat keributan. Kau dihukum juga. Cepat ke bukit sekolah dan bersihkan daun-daun kering yang berguguran sampai bersih. Lalu bersihkan ruang musik. Setelah itu kau baru boleh masuk kelas kembali.” perintah Park seonsaengnim.

Ucapan Park seonsaengnim sukses membuatku yang tadinya mendesah lega kembali gemetaran.

Aigo~ dihukum! Eh? Apa maksudnya dihukum juga? Apa namja angkuh itu juga dihukum?’ batinku.

“Ne, seonsaengnim. Annyeong.” aku membungkuk hormat dan keluar kelas.

***

“Mwoya? Ini kotor sekali! Ah, ini kan sedang musim gugur.” gumamku saat berada di bukit sekolah.

“Kemana namja itu? Ah sudahlah Han Soo Rim, jangan pikirkan dia lagi. Itu hanya membuatmu semakin mendapat masalah” gumamku sembari mengikat rambutku.

“Ah, tapi kan yang membuatmu dihukum seperti ini dia..” aku meraung. Aku benar-benar labil..

“Akhirnya kau datang.” aku baru memunguti beberapa daun sebelum mendengar suara yang sangat familiar beberapa jam yang lalu di telingaku.

“Harusnya aku yang bilang seperti itu, bodoh.” jawabku ketus.

“Aku baru saja membeli minum. Mengerjakan ini sendirian melelahkan, tahu.” ujarnya sembari menggerak-gerakan kaleng  minumannya di depan wajahku.

“Apa yang sudah kau kerjakan? Lihat, ini masih sangat kotor!” sergahku sambil menunjuk sekeliling bukit.

“Lihat itu. Han Soo Rim-ssi.” ia menunjuk sebuah tumpukan daun yang sudah lumayan tinggi.

“Wow, ternyata anak manja sepertimu bisa bersih-bersih juga ya.” komentarku.

PLETAKK!

Sebuah pukulan yang agak keras mendarat di kepalaku.

“Aw.. appo!” seruku seraya mengusap-usap kepalaku. Ternyata selain membentak, ia gemar memukul..

“Dengar dan camkan ini baik-baik, ne? Aku bukan anak manja. Ah sudahlah. Cepat rapikan semua ini!” balasnya yang langsung membersihkan daun-daun itu. Aku terpaku melihatnya.

Ternyata seorang Jung Yong Hwa sangat keren..

Tanpa sadar aku memperhatikannya bersih-bersih. Bukannya ikut bersih-bersih.

Aku terpukau akan ketampanan wajahnya yang sedikit berkeringat. Tertempa sinar matahari pula.

“Han Soo Rim? Kau sedang apa? Cepat bantu aku!” suaranya membuyarkanku.

“Ne” jawabku.

“Ish, padahal lagi seru..” gumamku.

“Mwo? Kau bilang apa?”

“A.. aniyo. Ayo cepat kita bersihkan ini.” tukasku cepat. Debaran jantungku terasa cepat sekali. Suara debaran jantungku juga lebih keras dari frekuensi normal. Aku khawatir namja ini akan mendengarnya.

Jung Yong Hwa POV

Aisshh.. yeoja ini kenapa sih? Bukannya membantuku membersihkan daun-daun ini malah menatapku dengan pandangan aneh. Ah tidak. Bukan pandangannya yang aneh. Tapi aku merasa aneh akan pandangannya. Sudahlah, aku diamkan saja. Mungkin ia terpesona akan ketampananku. Haha, Han Soo Rim akhirnya kau menyadari betapa tampannya aku. Hahaha.. *evil laugh. #plakk

“Kkaja! Kita ke ruang musik!” kataku membuyarkan lamunannya.

“Ne.” jawabnya dan langsung mengikutiku.

“Aigo~ jalanmu lelet sekali! Lebih cepat sedikit bisa tidak? Bahkan siput saja lebih cepat darimu” aku mengomel padanya. Lebih tepatnya sih mengejek. Hahaha..

“Halah! Kau berlebihan sekali, Yong! Aku tak selelet itu!” balasnya cepat.

“Yong? Sejak kapan ia memanggilku Yong? Itukan panggilan Sora untukku. Aku tak relaaa..” aku meraung dalam hati.

Aku berbalik dan spontan ia menghentikan langkahnya. Aku menatap matanya. Iapun balas menatapku. Kami bertatapan mata selama beberapa saat. Perlahan kugenggam kedua tangannya. Berusaha meyakinkan diriku sendiri.

Aku tertegun setelah menatap matanya lebih cermat. Aku mengenal mata ini..

Kenapa matamu sangat mirip dengan Sora? Tatapanmu jernih dan manik matamu sangat indah. Kepolosan tersirat dari tatapan matamu yang bening. Matamu yang kecoklatan mengingatkanku akan senyuman mata Sora. Sora, apa ini dirimu? Dirimu yang berwujudkan Han Soo Rim?

“Sora..” panggilku. Kusentuh pipinya perlahan.

“Yong..”

“Ini aku. Aku selalu di sisimu dalam wujud Han Soo Rim. Kau jangan murung lagi ya? Aku disini. Ok?”

Aku merasa itu jawaban Sora.

“Ne, Sora.” jawabku.

***

“Ya, Yong! Kau kenapa sih? Lagipula siapa Sora?” suara halus Sora berganti menjadi suara Han Soo Rim yang menyebalkan.

“Kau, Sora. Aku merindukanmu, chagi.” hanya itu yang keluar dari mulutku.

“Ya! Yong! Aku Han Soo Rim, bukan Sora!” tampaknya yeoja itu berusaha menyadarkanku.

“Uh? Ne, ne. Kau Han Soo Rim. Bukan Sora.” jawabku sekenanya setelah tersadar.

“Ayo ke ruang musik!”

Aku pun mengikutinya ke ruang musik.

“OMONA! Ruang musik siapa sih ini? Kotor banget. Kulit kacang, gelas soda, bungkus makanan, semuanya tertata sangat rapi di meja..” seru Han Soo Rim frustasi. Di akhir kalimatnya sudah jelas ia hendak mengatakan kebalikannya.

“Yaelah biasa saja kali. Sudah biasa!” komentarku pendek.

“Jangan-jangan ini ruangan musikmu?” ia mendelik curiga ke arahku.

“Memang.” jawabku tanpa dosa.

GUBRAKKK

“Memang biasanya begini kok. Jangan berlebihan deh.” cetusku sebal akan reaksi Soo Rim yang amat sangat berlebihan. Hiiyy..

“Iya iya. Maaf. Udah ayo rapikan semua sampah ini!” jawabnya sembari menekankan suaranya pada kata ‘sampah’.

“Kenapa kata sampahnya kau ucapkan segitunya?” tanyaku sebal.

“Merasa ya? Hahaha..” wah, dia malah menyindirku. Aku bukan sampah!

“Hahah.. lucu!” aku membalasnya dingin.

PLETAKK

Bagus, ia melempar kaleng soda dan mendarat tepat di kepalaku. Hebat juga dia. Ckck.. Aigo~ maunya yeoja menyebalkan ini apa sih? Baru sehari ia disini dan ia sudah membuatku hampir gila. Dan ia akan tetap disini selama empat bulan. Empat bulan, saudara-saudara!! Tabahkan dirimu, Yong. Dalam menghadapi cobaan yang berasal dari Han Soo Rim.

“Sakit?” tanyanya meremehkanku. Seolah aku adalah bayi yang sedang menangis karena ada orang yang baru saja merebut permen lolipop dari tanganku.

“Tidak.” jawabku. Ya iyalah, orang takkan masuk ICU hanya karena tertimpuk sebuah kaleng soda. Kudengar ia mendengus. Kau takkan dapat mengalahkanku, Han Soo Rim! Aku adalah yang terhebat dalam urusan adu-mengadu mulut.

“Ok. Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, Jung Yong Hwa-ssi –” katanya memulai. Jangan bilang yeoja pabo ini akan berpidato,

“Apa?” aku memotong kalimatnya.

“Kau berpikir kalau aku takkan menang melawanmu dalam urusan adu-mengadu mulut kan?” lanjutnya. Wow, amazing. Seorang yeoja pabo dapat membaca pikiranku.

“Lalu?”

“Jadi, aku mengakui aku kalah dalam hal ini. Aku memang tak pandai adu mulut karena aku orangnya kalem tak seperti dirimu yang banyak omong. Dengar dan camkan ini dalam benakmu. Aku mengakui aku kalah darimu dalam hal adu-mengadu mulut. Tapi akan kubuktikan aku bisa menang darimu dalam hal lain.” ucapnya menggebu-gebu. Sambil menunjuk-nunjukku pula.

Mwo? Apa katanya? Aku banyak omong? Heh, dengar ya, semenjak aku bertemu denganmu aku baru banyak bicara. Sebelum ada kau, Han Soo Rim, hidupku tenang tentram dan damai. Justru kau yang banyak omong!

“Keurae.. arasseo. Dalam hal apa?” tanyaku masih meladeni ucapannya. Dan aku menyingkirkan jarinya yang mengganggu pemandangan.

“Dalam hal.. apa yah? Mm.. pokoknya lihat saja nantilah!” tuh kan, cara bicaranya saja yang sok. Sebenarnya ia tak tahu apa yang akan dilakukannya.

“Han Soo Rim, kupikir yeoja polos sudah musnah di dunia ini. Ternyata masih ada, ya. Atau jangan-jangan kau hanya tinggal satu-satunya? Wah, keren ya. Kau limited edition,”  aku mengejeknya lagi. Kulihat ia mengerucutkan bibirnya kesal.

“Ingat, jangan menangiss..” aku mengejeknya lagi. Haha, wajahnya merah padam. Aku merasakan aura permusuhan dari hembusan napasnya yang tak beraturan. Ternyata ia masih mengontrol napasnya dan aku menunggu ia membalas ucapanku dengan setia.

“Kau kehabisan kata-kata, Han Soo Rim-ssi? Sudah kuduga kau akan mengunci mulutmu. Sudahlah, untuk apa kita berantem terus? Lebih baik kau rapikan ruangan ini.” kataku masih belum puas mengejeknya. Aku mengeluarkan evil smirk dan evil laugh-ku sekaligus.

“Enak saja hanya aku yang merapikan ruangan ini! Lalu kau hanya duduk begitu melihatku merapikan semua ini?” Han Soo Rim memberontak.

“Tentu saja tidak. Rajin banget aku memperhatikanmu. Atau kau yang kegeeran dan sangat yakin bahwa aku akan memperhatikanmu? Salah satu dari itu pasti benar, kan, Han Soo Rim-ssi?” balasku lagi. Wow, aku merasa memiliki tempat untuk mengasah hobiku beradu mulut. Orang macam Han Soo Rim sih terlalu mudah kukalahkan.. #sound effect menggema.

“Jadi kau mau melakukan apa?” tanyanya. Aku tersenyum puas. Bendera putih dikibarkan oleh Han Soo Rim, saudara-saurara!

“Bermain gitar. Kau tahu, berbicara denganmu sejak tadi membuatku penat. Jadi aku akan refreshing sebentar lalu aku akan membantumu membersihkan ruangan ini. Aku berjanji.” aku mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kiriku.

“Hh.. Ok. Aku membersihkan semua ini dan kau memainkan gitarmu, arachi?” tanya Han Soo Rim. Matanya terlihat berbinar. Ada apa dengannya sih? Yeoja aneh..

“Hiiyy, seenaknya saja kau menyuruh-nyuruhku. Lagipula aku memainkan gitar ini bukan agar kau mendengarnya. Ini untukku sendiri, weekk.. nanti jika kau mendengar penampilanku nanti kau malah sangat terpesona lagi. Dan kau akan mengejar-ngejarku. Lalu aku akan gila karena dikejar-kejar terus olehmu. Lalu..” aku berceloteh panjang. Tepatnya sih menyombongkan diri. Hahaha.. oya tak lupa kupeletkan lidahku ke arahnya. Ah, aku senang sekali meledek dan mengejek Han Soo Rim!

“Hentikan semua omong kosongmu! Siapa pula yang akan terkesan akan penampilanmu yang aku yakin sangat biasa itu?Dengar ya, kalau cuma main gitar sih, aku juga bisa. Dan juga banyak orang yang bisa main gitar tahu?” yeoja itu masih menjaga imagenya. Dia juga masih berusaha membalas semua ucapanku.

“Jinjjayo?” aku memicingkan mata dan membuat jarak wajahku dan wajahnya sedikit lebih dekat.

“Apa yang akan kau lakukan?” ia mundur beberapa langkah menghindariku. Aku diam saja dan terus berjalan mendekatinya.

“Ya! Jung Yong Hwa-ssi! Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya takut sambil terus berusaha menghindariku.

Ia terus mundur hingga tubuhnya menabrak tembok. Aha, kau tak dapat kemana-mana sekarang. Aku semakin berjalan mendekatinya hingga jarak wajah kami sangat dekat. Tidak, agak jauh sedikit.

“Ya! Minggir kau!” ia mengusirku.

 

Wahh.. kira-kira apa yang akan dilakukan Yonghwa yaa??

 

6 thoughts on “I Feel… [part 2]

  1. Andwaeeee…. !!
    Yong mow ngapaent..¿?
    Arghh.. Andwae andwae anwae..!!!

    Low mow cium, snih mha akqu ajahh…
    #PLETAK
    *tarik Yong~* wakwkk

    next_

  2. yongppa bnr2 narsis nih,,,,,,
    tp narsis’a bnr2 nyata!! siapa yg liat dia maen gitar plus nyanyi g ada cwe yg tahan euyyyyyyyy
    pesona nya bikin es di kutup utara meleleh # bahaya bgt euy #

    cayooooooo author,,,semangat trus buat part selanjut’a ^^

  3. hahay. .
    yong mau ngapain???
    mnrt qu ngetes soo rim maen gitar. . .
    gk nyangka bgt yong jd cerewet dsni,biasanya kn kalemmm..
    next part…

  4. @beautiful: pastinya doongg.. soo rim-nya aja yang masih tetep jaga image. haha ::::: @rhia: ngga pantes ya kalo ngga kalem? haha.. ditunggu aja ya part selanjutnya🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s