Fake Fiancee [Chapter 1]

 

Title      ::Fake Fiancee Chapter 1

Author :: Ang11Rach

Rating ::General

Genre  :: Romance

Length :: Chapter/Series

Main Cast:

-Jung Yonghwa

-Shin Hyuna (OCs)

Other Cast:

-Yonghwa’s parents

-Jung Yunho

-Lee Ang Hyeon

Disclaimer :: ff ini terinspirasi dari Fill In Fiancee nya DeAnna Talcott…dengan perubahan disana-sini…

Please jangan plagiat yaah ^^ Yonghwa itu punya emak babenya…cerita doank yg punya saya…kekeke

Note :: pernah di publish di obizienka.wordpress.com semoga kalian suka

 

“Hyung, aku benar-benar tulus mengatakan ini, kau selalu terlihat tampan diantara wanita-wanita cantik yang mengelilingimu walaupun kalau aku ada disana aku masih lebih tampan,” Yonghwa terkekeh pelan saat berbicara dengan hyungnya di telepon.

Ia menjepit gagang telepon kantornya yang wireless diantara telinga dan bahunya dan bergerak berjalan-jalan di ruangan kantornya yang cukup luas dan berhenti di depan kaca untuk melihat pemandangan senja Seoul dari ruangannya. Langit menampakkan sinar jingga keunguan yang berpadu manis menerobos sekumpulan awan. Ia sangat senang mendengar berita dari kakak laki-laki satu-satunya yang sangat disayanginya itu, tapi berita itu agak mengejutkannya. Bayi perempuan? Lagi?

“Setidaknya kau tau bayinya sehat hyung,” ujar Yonghwa menenangkan kakaknya,”Biar Tuhan yang menentukan bayinya laki-laki atau perempuan,” lanjutnya sungguh-sungguh.

“Appa dan eomma lah masalahnya Yonghwa-ya.“ keluh Yunho menjelaskan alasan kegalauannya,“Mereka sangat menyayangi gadis-gadis kecilku, sungguh. Tapi mereka menginginkan cucu laki-laki. Seorang pewaris yang akan mewarisi Jung Corporation setelah kau menolak mewarisinya dan aku pun sudah berkomitmen penuh pada Cassiopeia Entertainment. Mereka menganggap aku tidak bisa menghasilkan pewaris dan sekarang mereka mengharapkanmu,” lanjut Yunho penuh harap.

Yonghwa terdiam. Ia sudah bosan mendengar kalimat itu. Semua keluarganya terus mendesaknya untuk menikah dan menghasilkan pewaris untuk meneruskan perusahaan yang enggan diwarisinya. Ia sudah mengatakan pada orang tuanya bahwa ia bertekad untuk berjuang sendiri membangun kariernya.

“By the way, mereka mulai menjalin komunikasi dengan Seohyun kau tau dan eomma bilang yeoja itu menanyakanmu saat mereka mengunjungi salah satu subsidiary company kita di LA,” kalimat terakhir Yunho membuat Yonghwa tersentak.

“Hyung! Haruskah kau merusak hari-hariku yang sempurna dengan menyebut hal itu lagi? Aku dan Seohyun sudah berakhir!” seru Yonghwa pada kakak iparnya itu.

Yonghwa bisa membayangkan hyungnya mengangkat bahu dengan telepon rumah terjepit di bahunya dan si kecil Yunhyeon atau Jihyun di gendongannya

“Aku hanya memberitahumu yang sebenarnya. Sepertinya yeoja itu masih belum bisa melupakanmu. Lagipula kalian berdua sudah dewasa, dan berdasarkan pengalamanku, menikah itu menyenangkan, kekeke…” Yunho tertawa bahagia dari ujung telepon, mau tidak mau membuat Yonghwa iri.

“Mungkin, tapi aku tidak mau menikah dengannya hyung,” kata Yonghwa masih sambil menatap langit sore yang seakan nampak sangat menarik dari tempatnya berdiri. Ia jadi kesal karena hyungnya menyebut-nyebut Seohyun lagi.

“Keundae, kedua keluarga bisa saling melengkapi,” kata Yunho rasional.

“Kalau maksudmu adalah merger terbesar yang akan ada di Korea, lupakan saja hyung. Kau tau kalau tujuan sebenarnya adalah agar perusahaan kita dan orang tua Seohyun bisa menguasai pasar Korea,” kata Yonghwa mengingatkan kakaknya pada fakta yang ada.

“Dan memangnya apa yang salah dengan itu?” tanya Yunho.

“Merger dan pernikahan itu tidak sama hyung,” jawab Yonghwa pendek.

“Tapi appa dan eomma akan senang jika dalam prosesnya lahir pewaris. Kau tidak melihat ekspresi appa dua minggu yang lalu di LA saat aku memberitahunya bahwa Hyeon hamil lagi. Demi Tuhan, hal pertama yang dia tanyakan adalah apakah bayinya laki-laki atau perempuan. Hyeon berkata bahwa ini bayi terakhir kami jadi Yong, aku sudah berusaha keras dalam proses pembuatannya, kau bisa yakin pada yang satu itu, tapi mungkin memang sudah tugasmu untuk menghasilkan pewaris,” ujar Yunho tenang.

Yonghwa menghela napasnya yang terasa berat. Ia sudah bekerja keras untuk mendapatkan posisi manajer pengembangan software di Sendbill. Ia ingin berjuang dengan kemampuannya sendiri dan sejauh ini ia bangga dengan apa yang telah ia capai di perusahaan software terbesar di Korea itu. Orang tuanya memang sudah mengembangkan Jung Corporation menjadi Merchandising Company berskala internasional yang berbasis di Korea tapi memiliki cabang di Singapore sampai ke China, Amerika dan Finlandia. Tapi jauh di dalam hatinya, ia ingin membuktikan bahwa ia bisa sukses dengan usahanya sendiri.

“Memangnya bagaimana dengan kehidupan percintaanmu? Kau jarang menceritakan tentang itu sejak bekerja di Sendbill. Eomma bilang, mungkin kau menyesali berakhirnya hubunganmu dengan Seohyun, mungkin perpisahan sementara membuat cinta kalian semakin kuat. Seohyun memancing eomma untuk mengundangnya ke Korea dengan mengatakan kalau sejak putus darimu dan pindah ke Los Angeles, dia sudah lama dia tidak pulang ke Korea,”

“MWO? Andwaeyo hyung!” teriak Yonghwa spontan.

“Wae? Wae andwae?” tanya Yunho penasaran.

“Aku sudah melupakannya, hyung. Dulu aku mau berpacaran dengannya karena eomma yang memintanya tapi lalu aku menyadari bahwa kami terlalu berbeda dalam segi apapun. Dia orang yang begitu teratur dan rapi, nyaris cerewet dengan semua hal sementara aku lebih suka santai,” jelas Yonghwa.

“Rasa cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu Yong,” kata Yunho enteng.

Sial! “Tapi aku mulai mencintai seseorang hyung,” kata Yonghwa dengan malu-malu. Ia berpikir kalau ia mengatakan ia sudah memiliki yeojachingu maka orang tua dan kakaknya akan berhenti meributkan nasibnya.

“Mwo?” dok dok.

“Aish! Berisik Yonghwa! Membuat telingaku sakit saja,” keluh Yonghwa karena rupanya Yunho mengetuk corong telepon rumahnya.

“Mian..hehe…kupikir ada yang salah dengan pendengaranku atau sinyal teleponnya. Sepertinya tadi kudengar kau punya yeojachingu? Pasti ada yang salah dengan sambungan telepon ini,”

Yonghwa mendesah kesal. “Aku sudah melamarnya,”

“MWO?? Kau pasti bercanda! Masa kau tidak menceritakan rahasia sebesar itu padaku?”

“Aku tidak bermaksud begitu hyung, hanya saja, kami err…baru saja tinggal bersama,” Yonghwa semakin berani menciptakan cerita karangannya yang sudah pasti akan membuat orang tuanya batal berencana membawa Seohyun menemuinya lagi.

“Apa kau sudah gila? Appa dan eomma akan sangat marah jika tau tentang hal itu! Mereka berencana pulang ke Korea dalam waktu dekat dan aku yakin pasti mereka akan memilih untuk pulang ke rumah kita di Seoul daripada ke rumah utama di Busan karena igin melihatmu,” kata Yunho memperingatkan.

“Aku tau, tapi tapi aku belum siap memberitahu semua orang,” Yonghwa benci harus berbohong pada Yunho tapi ia tidak punya pilihan lain lagi. Ia sudah muak dijejali omong kosong tentang menikah dan punya pewaris. Tahun ini ia baru akan berusia 24 tahun, demi Tuhan!

Saat Yonghwa menyusun cerita yang matang dari dalam otaknya, Hyuna mengetuk pintunya yang terbuka. Melihat Yonghwa sedang menelepon, Hyuna dengan sopan mengacungkan dokumen yang Yonghwa minta sejam yang lalu sambil menunggu di pintu kantor Yonghwa. Untuk ukuran orang semuda itu, Yonghwa sukses dan beruntung bisa menjadi manajer pengembangan software.

Hyuna berjalan melewati ambang pintu kantor Yonghwa lalu memasuki ruangannya. Hyuna memiliki kaki jenjang yang sesuai dengan tingkahnya yang sedikit tidak konvensional dan tanpa beban. Ia lahir dan besar di California. Sekitar enam bulan yang lalu, ia baru saja pindah ke Sendbill menjadi staf khusus yang bekerja untuk di divisi hukum perusahaan Sendbill. Yonghwa selalu penasaran dengannya, tapi tidak pernah berhasil membangun percakapan sampai kearah kencan. Sejauh ini mereka hanya bertemu sekilas saat naik lift ataupun saat di koridor kantor

“I have the copy,” bisik Hyuna, siap untuk meletakkan dokumen itu diatas meja.

“Wait,” kata Yonghwa tanpa suara, mengangkat jari telunjuknya sambil mendengarkan ceramah kakak iparnya.

“Aku tidak percaya! Kau? Punya tunangan? Astaga! Keajaiban apa ini? Selama ini kau tidak mudah tertarik pada yeoja. Itu lah mengapa aku selalu berpendapat dibutuhkan yeoja yang sangat menggoda untuk merobohkan imanmu!”

Saat itu juga Hyuna menyisir rambutnya dan menyingkirkan poni yang menjuntai menutupi matanya dengan senyum sabar. Senyum itu memacu detak jantung Yonghwa. Seketika tatapan mereka bertemu dan pada satu saat yang singkat itu Yonghwa seperti mendapat pencerahan atas apa yag disebut kakak iparnya yeoja menggoda.

“Err…well, I’m one step closer to end my bachelor time,” kata Yonghwa menegaskan walaupun dia merasa takut mengantisipasi arah pembicaraan mereka.

“Siapa namanya?” tanya Yunho penasaran,”Apa pekerjaannya? Dimana dia tinggal?”

“Ehm..sebenarnya dia ada disini hyung,” cetus Yonghwa sembarangan,”Hyuna-ya, maukah kau menjawab telepon dari hyungku?”

Hyuna mengerjapkan matanya kaget dan mengerutkan keningnya,”Ne?” pertama kaget karena Yonghwa memanggilnya tanpa embel-embel –ssi, kedua karena tiba-tiba diminta menjawab telepon dari kakak Yonghwa. Ada apa sebenarnya?

“Bicaralah dengannya, katakan bahwa aku baik-baik saja disini. Aku bahagia dan pekerjaanku juga menyenangkan,” Yonghwa menyerahkan telepon pada Hyuna.

Hyuna dengan enggan menerima telepon itu sambil menatap Yonghwa seakan-akan Yonghwa sudah gila.

“Ne? Ne kabarku baik-baik saja,” jawab Hyuna sedikit bingung.

Yonghwa menekan tombol conference call telepon kantornya dengan tidak sabar.

“Kudengar kau tinggal bersama dongsaengku?”

“Jogiyo?” seru Hyuna. Tubuhnya langsung kaku.

Yonghwa cepat-cepat mematikan tombol conference call yang dengan efektif meredam suara ingin tau Yunho,”Dia belum ingin orang tau tentang kami hyung. Kami bekerja di kantor yang sama. Akan sangat canggung jika semua orang tau kami menjalin hubungan,” Yonghwa berkata sambil menatap Hyuna yang tampak agak sedikit, oh oke, dia benar-benar tampak marah.

“Aish arraseo. Datanglah ke Gwangju kalau kau sedang ada waktu dan bawa juga Hyuna kemari. Hyeon pasti akan senang sekali berkenalan dengannya,”

“Ne, hyung. Sampai jumpa. Gomawoyo,”

Hyuna diam ditempatnya, menunggu penjelasan. Dagunya terangkat menantang, tidak peduli kalau jabatan Yonghwa di perusahaan itu lebih tinggi darinya. Yonghwa menatapnya dengan ragu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mungkin bisa lolos dari kejaran Yunho tapi ia tidak akan bisa lolos dengan mudah dari Hyuna. Yonghwa meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya dan mengambil dokumen yang tadi diserahkan Hyuna.

“Terima kasih telah mengantarkan dokumen ini Hyuna-ssi,,,..”

“Itu sudah tugasku Manager Jung,” tegas Hyuna.

“Ehm..dan mengenai tadi, aku sedang ada masalah kecil. Jadi karena tadi kebetulan kau sedang ada disini, kupikir mungkin kau bisa membantuku,” Yonghwa mencoba menjelaskan.

“Kakak anda bilang kalau tadi aku mendengarnya dengan benar, kita tinggal bersama?” tanya Hyuna marah. Mereka bahkan tidak cukup akrab untuk makan siang bersama, apalagi hidup bersama? Siapa yang gila coba disini?

“Jadi begini…mmm…bagaimana ya aku menjelaskannya? Sebenarnya kita bisa melakukan itu kalau kau mau,” ujar Yonghwa otomatis membuat mulut Hyuna menganga perlahan.

Yonghwa segera memutari meja mendekati tempat Hyuna berdiri dan menambahkan,”Orang tuaku mendesak untuk menikahi yeoja yang tidak aku cintai. Seorang yeoja baik-baik dan cantik, keluarga kaya raya, koneksi yang bagus, semuanya bagus. Terlalu bagus, pas dan tidak berperasaan untuk hatiku. Aku mengarang cerita tentang yeojachinguku di Seoul.  Lalu, ketika hyungku sudah hampir percaya aku mengatakan bahwa kita tinggal bersama,” jelas Yonghwa.

“Apa?” Hyuna tidak mengerti.

“Aku melakukannya dengan terpaksa, sungguh! Orang tuaku akan datang kemari dan mulai menggerecokiku untuk mencari yeoja yang sepadan, bahkan mereka mengancam akan mengajak Seo Joohyun juga kemari.”

“Oh astaga! Seo Joohyun? Desainer terkenal yang sekarang tinggal di LA itu?” Hyuna bertanya dengan sangsi.

Yonghwa menghela napas dan menatap Hyuna intens. Ia bergerak untuk menutup pintu kantornya yang terbuka lalu kembali duduk bersandar di mejanya menghadap Hyuna yang tidak bergerak sesenti pun dari tempatnya berdiri.

“Ada hal yang harus kau tau tentangku Hyuna-ssi. Bukan hal yang memalukan atau apa kurasa. Sebenarnya aku memiliki kehidupan yang luar biasa baik. Orang tuaku adalah orang yang baik, hanya saja, di masyarakat luar, mereka dikenal sebagai pemimpin dari Jung Corporation,” Yonghwa akhirnya mengaku. Ia menatap Hyuna, memperkirakan perubahan ekpresi dari yeoja itu.

“Jung Corporation? Jung Merchandising Company? Jung Export-Import?” tanya Hyuna kaget.

Yonghwa mengangguk.

“Jadi kau anak orang kaya,” tukas Hyuna dengan nada menuduh.

Yonghwa mengangkat bahunya,”Aku tidak akan kaya lagi kalau hak warisku dicabut seperti ancaman mereka bila aku tidak mau meneruskan perusahaan atau menghasilkan pewaris.”

“Tapi aku masih tidak mengerti apa hubungan itu semua dengan aku menjawab telepon hyungmu dan mengapa kita harus hidup bersama?” Hyuna menjawab tanpa nada menolak terang-terangan dan hal itu membuat Yonghwa lega. Ia berharap jika yeoja ini mau mendengarnya maka yeoja ini juga akan mau membantunya.

“Duduklah Hyuna-ssi,” Yonghwa menunjuk kursi berbantal yang ada di depannya. Hyuna mau tidak mau duduk juga di kursi nyaman itu, walaupun merasa jaraknya dengan Yonghwa menjadi agak terlalu dekat.

“Aku ingin menjelaskan semuanya tapi ini agak sedikit rumit. Dan sebenarnya aku lebih suka menjadi Jung Yonghwa tanpa embel-embel apapun. Aku belum memberitahu orang-orang disini tentang latar belakangku yang sebenarnya tapi aku sebenarnya memang tidak ingin mereka tahu.”

“Kau memintaku menyimpan rahasia ini,” simpul Hyuna pasti.

Yonghwa mengangguk,”Kalau kau tidak keberatan dengan itu,”

Hyuna mendengus perlahan,”Aku tidak akan berlari di sepanjang koridor dan meneriakkan kalau Jung Yonghwa adalah pewaris dari Jung Corporation. Siapa yang akan percaya kalau pewaris perusahaan dagang terbesar di Korea mau bekerja di perusahaan ini sebagai seorang manajer?”

“Gamsahamnida,” Yonghwa dengan impulsive menggenggam tangan Hyuna dengan penuh terima kasih.

“Jung Yunho, hyungku adalah pemilik dari Cassiopeia Entertainment dan dia tidak berniat untuk meneruskan Jung Corp. Tadi dia menelepon untuk memberitahu bahwa dokter baru saja memeriksa kandungan istrinya dan memperkirakan dari gejala yang ada kalau mereka akan mempunyai anak perempuan ketiga. Sebenarnya itu tidak jadi masalah bagi Yunho hyung dan Hyeon noona, tapi orang tuaku sungguh-sungguh menginginkan pewaris setelah kami berdua menolak menjadi penerus.”

“Aaah, such a traditional issue about gender,” tukas Hyuna bosan.

Sentakan rasa senang muncul di hati Yonghwa. Mungkin Hyuna memiliki pandangan yang sama dengannya. Mungkin Hyuna akan mau membantunya. Mungkin…”Tepat sekali! Mereka memintaku untuk segera menikah. Demi Tuhan, aku baru dua puluh empat tahun pada tahun ini. Mereka bahkan sudah menyiapkan calonnya, Seo Joohyun. Yeoja itu sangat baik, sungguh! Kaya, baik, berpendidikan, punya karier cemerlang, cantik tapi aku tidak mencintainya. Kami terlalu berbeda. Padahal aku benar-benar menginginkan cinta dalam suatu hubungan yang kubangun,”

Mata Hyuna melembut. Sepertinya Yonghwa sudah berhasil menyentuh hati yeoja itu dan menggoyahkan pendiriannya.

“Aku sudah tidak tahan diceramahi. Aku memberitahu Yunho hyung kalau aku sudah punya yeojachingu disini, lalu tanpa sadar aku memperparah keadaan dengan mengatakan bahwa aku dan yeojachinguku sudah bertunangan dan tinggal bersama,” Hyuna memutar bola matanya dan meniup poninya tampak tidak percaya. Dalam keadaan biasa, Yonghwa akan merasa terpesona pada ekspresi gadis itu yang sangat lucu dan membuatnya gemas.

Yonghwa mencoba melanjutkan,”Kau masuk kesini dan aku menyebutkan namamu tanpa berpikir panjang. Kau ada disana dan sepertinya kau cocok. Dengarkan aku Hyuna-ssi, panggungnya sudah siap, skenarionya mungkin salah dan tidak sesuai dengan keinginanmu tapi panggungnya sudah siap. Maukah kau mempertimbangkan untuk berpura-pra menjadi tunanganku hanya selama orang tuaku ada disini?” mohon Yonghwa.

Hyuna menatap Yonghwa ragu,”Kau ingin aku bersikap manis pada orang tuamu selama satu atau dua  hari?”

“Err…mungkin lebih dari itu. Aku bilang kepada hyungku kita tinggal bersama, ingat? Hyungku pasti akan memberitahu mereka tentang hal itu.”

Hyuna mengerang frustrasi,”Ya ampun Manajer Jung,”

“Panggil saja aku Yonghwa kalau kau tidak keberatan,”

“Kau pasti bercanda!”

“Aku seratus persen serius,”

“Ini menggelikan!”

“Aku tahu. Tapi mereka akan datang minggu depan Hyuna-ssi. Berpura-puralah menjadi tunanganku. Kau bisa pindah ke apartemenku dan membuat seolah-olah kita hidup bersama,”

Hyuna menatap Yonghwa putus asa,”Biar kuperjelas. Aku datang kemari untuk mengantarkan dokumen yang kau minta, bukan untuk pindah ke apartemenmu,”

“Keundaeyo Hyuna-ssi, di apartemenku ada dua kamar tidur. Kita akan menempati kamar masing-masing, seperti teman dorm. Akan kupastikan kita bisa bersenang-senang selama orang tuaku disini. Ide ini mungkin konyol dan tidak masuk akal tapi aku tulus akan hal-hal yang lain,”

Hyuna menatap Yonghwa ragu. Tapi satu kalimat Yonghwa menggema di otaknya, dua kamar tidur. Sejak orang tuanya yang biasanya menyukai travelling datang ke Korea dan pindah bersamanya, apartemennya jadi terasa sangat sempit. Dulu mereka biasa hidup berkelana dan berpindah-pindah seperti petualang sebelum Hyuna lahir. Bahkan pendidikan Hyuna didapatnya melalui home schooling. Hyuna dibesarkan di California sampai orang tuanya yakin bahwa dia cukup dewasa dan meninggalkannya untuk travelling keliling dunia lagi. Sejak usia tujuh belas, Hyuna telah mengusahakan hidupnya sendiri dan lulus dengan hasil menggembirakan dari Yale University jurusan hukum. Setelah itu ia memutuskan untuk kembali ke negara asal orang tuanya dan bekerja di Sendbill. Dua bulan yang lalu orang tuanya datang dari pedalaman Afrika. Kamar di apartemennya hanya satu dan tidak cukup menampung mereka semua tapi ia tidak tega untuk mengusir orang tuanya yang cukup nyentrik itu.

“Just to make sure, kau punya apartemen dengan dua kamar?” tanya Hyuna memperjelas.

Yonghwa mengangguk.

“Dimana apartemenmu?”

Yonghwa menyebut salah satu kompleks apartemen yang tidak jauh dari kantor mereka. Kompleks apartemen yang cukup besar dengan berbagai jenis kamar mulai yang paling sederhana seperti apartemen Hyuna sampai yang paling mewah.

“Itu tempat aku tinggal juga,” gumam Hyuna lemah. Ini terlalu kebetulan.

Yonghwa tampak bersemangat,”Kalau begitu kau bisa pindah secepat kau bisa.”

“Maksudmu pindah begitu saja? Like a room-mate in Friends Sitcom?”

Yonghwa mengangguk senang.

“Sebenarnya aku tidak ingin merepotkanmu, tapi orang tuaku baru saja pindah untuk tinggal bersamaku dan jujur saja tempatku sedikit sesak tapi…”

“Hyuna-ssi, aku punya ruang lebih. Kau hanya perlu berperan sebagai teman sekamar dan bergaul denganku selama beberapa minggu. Beraktinglah kau menyukaiku dan meyakinkan  orang tuaku bahwa kita ditakdirkan untuk bersama selamanya,” cetus Yonghwa.

“Kau membuatnya terdengar mudah.”

“Tidak, tidak akan mudah. Orang tuaku punya standar yang ketat tentang siapa yang sepadan menjadi calon pendampingku. Mereka mungkin akan menolakmu sama sekali tapi aku harap kau bisa bertahan,” Yonghwa memperingatkan dengan tatapan sungguh-sungguh.

Ya ampun, situasi macam apa ini. Hyuna bisa merasakan pendiriannya mulai goyah. Mereka memang bisa saling membantu satu sama lain walaupun ia ragu ia bisa menatap mata jenaka Yonghwa dalam beberapa minggu ke depan tanpa jatuh dalam pesonanya. Jung Yonghwa adalah pria tampan yang menarik, Hyuna harus mengakui itu, tapi diatidak berniat menjadi korbannya. Yonghwa memiliki reputasi sebagai playboy.

“Hyuna-ssi, apa yang harus kukatakan lagi untuk meyakinkanmu. Aku tidak ingin berbohong pada orang tuaku, sungguh, tapi aku tidak ingin terus-menerus dipaksa untuk menikah dan menghasilkan pewaris. Demi Tuhan, aku baru 23 tahun, dan akan menjadi 24 tahun ini. Aku tidak ingin pernikahan yang dimanfaatkan sebagai alat tawar-menawar untuk urusan bisnis. Aku ingin menemukan yeoja yang benar-benar kucintai, sungguh!” Yonghwa menangkup tangan Hyuna dengan tangannya.

“Oh, Yonghwa-ssi,” Hyuna tanpa sadar menyebut nama Yonghwa,”Aku mungkin akan menyesalinya,” Hyuna melihat kilatan khawatir di mata Yonghwa,”tapi baiklah, aku akan mencobanya.”

Yonghwa langsung mengeluarkan senyum terbaiknya dan Hyuna sadar, walaupun ia hanya membantu Yonghwa dalam masalah ini, tapi tinggal bersama namja itu pasti akan mengacaukan akal sehatnya.

“Kapan kau ingin aku pindah?” tanya Hyuna hati-hati.

“Err..apa besok malam terlalu cepat menurutmu?”

****00000****

Hyuna mengambil tempat yang paling pojok di café favoritnya, menunggu kedatangan Yonghwa. Setelah kepelikan tadi, mereka berjanji untuk bertemu sepulang kantor di sebuah café untuk membicarakan rencana mereka. Yonghwa bilang, ia ingin membicarakan detail masalah “hidup bersama” itu lebih lanjut.

Hyuna melamun memikirkan kondisi apartemennya kini. Orang tuanya memenuhi apartemen Hyuna dengan barang-barang eksentrik mereka. Mereka bilang mereka akan pindah dalam waktu dekat namun mereka terus-menerus mengoceh tentang memiliki rumah peristirahatan di Pulau Jeju sehingga mereka bisa hidup dari alam, memancing untuk makan dan bercocok tanam. Menurut Hyuna itu mimpi yang sangat idealis. Orang tuanya tidak pernah menabung dan memilih untuk berkeliling dunia sambil bersenang-senang dan membesarkannya. Seperti backpacker. Dan sampai waktu yang tidak terbatas itu, mereka tetap akan tinggal di apartemen Hyuna.

Hyuna menghela napasnya. Tinggal bersama putra konglomerat mungkin tidak normal tapi pasti lebih tenang dan damai.

Yonghwa masuk ke dalam café itu sambil menggulung lengan kemeja putihnya. Jas hitamnya tersampir sembarangan di sebelah bahunya. Namja itu setidaknya setinggi 180 centimeter karena dengan high heels nya yang setinggi 7 centimeter pun Hyuna masih harus sedikit mendongak untuk menatap matanya. Hyuna harus mengakui kalau Yonghwa tampan. Wajahnya oval dengan rambut sedikit panjang untuk ukuran kerapian kantor, tapi siapa yang peduli. Yonghwa setidaknya membuat 5 gadis menoleh padanya saat ia lewat menuju meja yang telah dipilih Hyuna. Logatnya kadang-kadang memperlihatkan ‘Busan namja’ yang sangat kentara, dan ia sangat senang tertawa.

Semua gadis di Sendbill menjerit heboh dan mengipasi diri mereka setiap kali Yonghwa mampir dan biasanya namja itu akan melemparkan godaan, senyuman maupun kedipan mata yang membuat gadis-gadis itu berteriak senang. Itulah yang membuat Yonghwa mendapat reputasi playboy. Yonghwa adalah salah satu most wanted di Sendbill selain Lee Sungmin, putra pemilik Sendill yang masih muda dan tampan. Tapi dalam setiap kesempatan Hyuna bertemu dengannya, Yonghwa hanya mengucapkan komentar standar tentang cuaca atau dokumen yang dibutuhkan. Beberapa kali pertemuan itu yang membuat Hyuna merasa tidak istimewa da heran kenapa Yonghwa memilihnya. Apalagi Yonghwa sudah mengatakan kalau orang tuanya akan menolaknya mentah-mentah. Aigooo…semua ini membuatnya pusing.

“Hyuna-ssi, maaf aku terlambat, ada sedikit dokumen tambahan yang harus kutandatangani tadi. Kau sudah lama menunggu?” tanya Yonghwa sambil tersenyum dan duduk di depan Hyuna.

“Tidak, aku belum lama datang. Kau tau, seharusnya kau memacari salah satu artis perempuan atau model dan semacamnya. Kukira kau mengenal begitu banyak gadis di kantor yang dengan senang hati akan membantumu,” ujar Hyuna to the point. Gadis ini begitu blak-blakan. Pantas dia bekerja di divisi hukum.

“Aku tidak benar-benar mengenal mereka, kau tau,” Yonghwa mengangkat bahunya cuek.

“Tapi sepertinya kau cukup popular diantara para karyawan perempuan di Sendbill dan aku juga sering melihatmu berbicara dengan banyak yeoja,” tukas Hyuna.

“Basa-basi kantor. Sopan santun, ramah tamah. Semua orang melakukannya,” jawab Yonghwa.

Saat itu juga seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka.

“Satu cappuccino dan…”

“Satu ice coffee,” jawab Yonghwa membuat pelayan menatapnya ragu. Cuaca hari ini cukup dingin karena masih dalam peralihan dari musim dingin ke musim semi tapi Yonghwa masuk ke dalam café sambil menggulung kemejanya dan memesan kopi es?

Hyuna sempat berpikir, sesampainya di café Yonghwa akan mengeluarkan daftar apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya sebagai ‘calon istri’ pangeran kerajaan dagang sehingga menyadarkan Hyuna akan perbedaan gaya hidup konglomerat dengan orang biasa sepertinya. Tapi Yonghwa memasuki café dengan meminta maaf atas keterlambatannya dan memberikan senyum tulusnya. Mungkin sejak awal dia tidak memberi kesempatan pada Yonghwa untuk menunjukkan sisi lainnya yang itu.

Yonghwa menyandarkan tubuhnya dan mengamati Hyuna terang-terangan,”Kenapa kita tidak pernah benar-benar mengobrol sebelumnya ya?”

“Simpel, kau sibuk, aku sibuk. Kita harus bekerja,” tukas Hyuna, menyadari kalau itu bukan alasan sebenarnya.

“Mmm…tidak masalah. Tapi ini yang penting. Masalah latar belakang keluargaku, kukira ada baiknya kalau kau mengabaikan fakta ini dan bersikap padaku seperti orang yang tidak mengetahuinya. Aku tidak ingin orang lain tau,” kata Yonghwa serius.

“Tapi mengapa? Kau tidak bangga akan hal itu?” tanya Hyuna heran sampai-sampai ia mengangkat alisnya.

“Aku lebih suka menjadi diriku sendiri,” cetus Yonghwa simpel.

Hyuna tidak mau percaya itu. Yonghwa pasti tumbuh di rumah sebesar istana #katanya sih emang gitu, mobil nyokapnya di WGM aja Mercy boo# bersekolah di sekolah swasta terbaik dan mendapat fasilitas yang tidak pernah ia dapatkan selama hidup berpindah-pindah.

“Aku tidak bermaksud menghakimi, tapi aku benar-benar penasaran. Aku tidak banyak mengenal keluarga seperti keluargamu karena orang tuaku bukan tipe konvensional sama sekali. Tapi apa kau sadar dengan apa yang kau korbankan? Kenyamanan, kesuksesan dari orang tuamu pasti menopangmu dengan baik kalau kau mau,” tanya Hyuna penasaran.

Yonghwa meminum kopi esnya perlahan lalu menjawab,”Kau punya waktu beberapa minggu untuk melihat kehidupanku dengan atau tanpa standar dari orang tuaku. Setelah orang tuaku kembali sibuk dengan bisnisnya di luar negeri, yang aku yakin mereka tidak akan bisa lama meninggalkan itu semua, kau bisa memutuskan apakah aku layak menukar diriku sendiri dengan yeoja yang tidak kucintai atau aku harus melaksanakan pernikahan yang bisa disebut merger itu demi memperoleh warisan dan mempertahankan posisiku sebagai putra pemilik perusahaan besar.”

Hyuna menggigit bibirnya. Orang tuanya selalu menekankan padanya mengenai cinta tanpa syarat dan semua orang layak menerimanya.

“Kau yakin akan melanjutkan ini semua? Denganku?” tanya Hyuna lagi.

“Seratus persen.”

“Kalau rencana ini gagal atau orang tuamu tahu tentang sandiwara kita, aku tidak ingin ikut bertanggung jawab,” cetus Hyuna.

Yonghwa tertawa lepas,”Tenang saja Hyuna-ssi, kalau rencana ini gagal, keadaanku tidak akan lebih buruk dari saat ini.”

“Hei, bagaimana dengan hubungan kita di kantor? Aku tidak mengenalmu, kau tidak mengenalku. Kita berpura-pura tidak terjadi apapun,” ujar Hyuna.

“Justru itu masalahnya Hyuna-ssi, kita belum benar-benar saling mengenal dan itu harus kita ubah kalau kita ingin rencana ini berjalan lancar. Besok hari jumat. Kau bisa pindah besok malam kalau kau tidak keberatan. Kita bisa saling mengenal sepanjang akhir minggu dan satu minggu berikutnya sebelum orang tuaku datang. Bagaimana?”

“Besok malam? Kukira kau hanya bercanda soal itu,” tanya Hyuna kaget. Well, sisi positif rencana itu adalah tujuh hari tambahan tanpa tofu dan kacang karena orang tuanya yang vegetarian memaksa Hyuna ikut cara makan mereka selama mereka ada disini.

“Err…kalau kau punya jadwal kencan di weekend apa kehadiranku tidak mengganggu?” tanya Hyuna hati-hati.

“No problem,” Yonghwa mengeluarkan senyumnya yang paling menggoda.

“Kau tidak akan menjelaskan aku sebagai adik atau sepupumu bukan?”

“Anieyo, aku tidak perlu menjelaskan apa-apa. Jadwalku kosong,” jawab Yonghwa tenang.

Hyuna mencoba membuat penawaran,”Kalau aku pindah lebih awal apakah itu akan termasuk makan malam juga?”

Yonghwa mengangkat bahu seolah itu masalah sepele,”Aku tahu beberapa restaurant yang menawarkan masakan enak dan aku bisa membuat reservasi atau kita makan di apartemenku dan memanggang steak atau membuat samgyupsal?”

“Kalau begitu kau makan daging?” tanya Hyuna bersemangat.

Yonghwa menatapnya bingung,”Ne, apakah itu asset?”

“Of course. I’m not a vegetarian and I don’t have any intention to be a vegetarian. I’ll pack my stuff tonight since I’m sure that we share some similarities.”

****0000****

Yonghwa berdiri di samping mobilnya di depan café dan mengamati Hyuna yang berdiri mematung di pinggir jalan.

“Kau tidak membawa mobil?” tanyanya polos.

Hyuna menggeleng,”Aku selalu naik bus ke kantor.”

“Jinjjayo? Kalau begitu masuklah, aku akan mengantarmu pulang.”

“Anieyo, gwaenchanayo. Mungkin ada yang harus kau lakukan sebelum pulang…”

“Tidak ada yang harus kulakukan selain pulag ke kompleks apartemen yang sama denganmu,” Yonghwa memutari mobil sport merah #bayangin mobil Yonghwa di WGM episode terakhir# dan membukakan pintu untuk Hyuna.

Hyuna melangkah ragu. Semua kejadian ini terjadi terlalu cepat dan nyaris membuatnya pusing. Besok dia akan serumah dengan salah satu most wanted boy di kantor, mereka baru saja minum kopi bersama dan sekarang ia harus duduk di sebelah Yonghwa di dalam mobil sport yang belum pernah ia tumpangi? Oh yang benar saja!

Dengan enggan Hyuna duduk di kursi itu dan pintu tertutup dengan hempasan pelan. Yonghwa memutari mobilnya lagi dan masuk ke kursi pengemudi dengan bergaya. Ia mengenakan kacamata hitamnya lalu memundurkan mobilnya. Ia mengemudikan mobilnya ke jalan raya dan berhenti saat lampu merah.

“Sepertinya kita harus berangkat bersama setiap hari agar orang tuaku tidak curiga,” kata Yonghwa sambil menoleh ke arah Hyuna.

“Ngomong-ngomong soal orang tua, sebaiknya orang tuaku tidak tahu tentang ini. Mengingat kita tinggal di kompleks apartemen yang sama, mungkin kita akan bertemu dengan mereka secara tidak sengaja dan aku sebisa mungkin menghindari kehebohan yang tidak perlu,” ujar Hyuna tegas.

“Baiklah kalau itu yang kau mau,”

Beberapa saat kemudian, Yonghwa berhenti di tepi jalan yang berdekatan dengan apartemen. Sambil menyeringai licik, ia menekan pedal gas kuat-kuat dan membanting setirnya ke jalur mobil. Hyuna terlonjak kaget dan berusaha memegang pintu tapi mau tidak mau ia tetap terdorong ke arah Yonghwa.

“Apakah kau tidak terkesan dengan cara mobil sport memeluk jalanan?” tanya Yonghwa iseng sambil melepaskan tangannya dari setir mobil sehingga setir itu memutar kembali dan membuat mobil lurus. Seperti adegan di film-film Amerika.

“Astaga! Kukira tadi aku akan jatuh di pangkuanmu!” cetus Hyuna terkejut.

“Tentu saja saat kita berkendara kau harusnya memelukku, bukan memeluk pintu,” sindir Yonghwa.

“Aku tidak memeluk pintu kok!” sergah Hyuna walaupun tadi memang ia sengaja menciptakan jarak yang cukup lebar diantara mereka. Hyuna tanpa sadar menunjuk ke suatu arah untuk memberi isyarat pada Yonghwa agar berhenti.

Yonghwa memarkirkan mobilnya di tempat parkir terdekat. Ia melepaskan kacamata hitamnya dan melemparkannya ke dashboard mobil. Ia menoleh kepada Hyuna dengan tatapan ingin tahu.

“Kembali ke topic mengenai orang tuaku. Mereka akan mengharapkan kita bersikap mesra. Mereka akan menyukai sikap santunmu tapi…”

“Ne?”

“Bagaimana dengan ciuman?” tanya Yonghwa blak-blakan,”Mereka akan lebih percaya dengan satu atau dua ciuman. Dengan begitu juga kau bisa tahu apakan kau bisa mentolerirku atau tidak kalau aku tiba-tiba menciummu.”

Tatapan Yonghwa semakin intens pada Hyuna, membuat jantung Hyuna berdetak sepuluh kali lebih cepat dan lebih keras.

Yonghwa mencondongkan tubuhnya perlahan, mendekati tubuh Hyuna lalu menunggu, membei kesempatan pada Hyuna untuk menolak, mundur atau protes.

Tapi entah mengapa Hyuna tetap ditempatnya. Tubuhnya terasa kaku dan begitu berat.

“Let’s say kita berciuman sebagai segel dan bukti dari perjanjian dan rahasia kecil kita,” ucap Yonghwa saat napasnya mulai terasa menerpa pipi Hyuna.

“Aku janji akan menjaga rahasia,” Hyuna merasa pusing dengan kedekatan wajah Yonghwa yang memabukkan.

“Deal,” bibir Yonghwa menyentuh bibirnya pelan.

TBC

 

Jeongmal gomawo atas kesediaanya membaca ff aneh ini…hahaha…klo udah baca sekalian komen yaah…dikit aja gapapa kok…

18 thoughts on “Fake Fiancee [Chapter 1]

  1. oh my!! ini keren banget beneran!!
    aku suka bahasanya beneran.
    hyuna disini entah kenapa aku kebayang si Kim Hyuna xDD abis katanya cewek yg menggoda.
    ah seruuuuuuuu! ditunggu lanjutannya

  2. Wahh.. Sumpahh ff’a keren bgtt thor..
    Main Cast’a bias aqu lgihh.. Hhehe

    aq ngfans mha ff mu ini thor..;D
    lnjut yah…🙂

  3. Wahh.. Sumpahh ff’a keren bgtt thor..
    Main Cast’a bias aqu lgihh.. Hhehe

    ngfans(?) dehh mha ff mu ini thor..;D
    lnjut yah…🙂

  4. wawwwwwwwwWWWWWWW,,,,,,baru ini yongseo couple g berjodoh,,,he3
    setuju nih,,,,aq ko bayang’in x si hyunA 4minute ya #jd serasa aneh#,,,tp bukan dong!!!!

    so far interest ff’ ko!!!! ntar yongppa suka’a sma hyuna or seohyun ya?????
    author lajutttttttttttttttttt
    >_o

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s