I Feel…

Judul: I Feel…

Author: Kim Hyura

Rating:

Length: Chapter

Genre: G, Romance

Cast:

Han Soo Rim

Jung Yong Hwa

Other Cast:

Lee Jong Hyun

Shin Minwoo

Park Yihyun

Note: mian yah, lama. Authornya lagi sibuk susulan UTS. Jadi baru buka internet lagi L ok deh langsung aja, selamat menikmati! Don’t forget to RCL!

 

 

Author

Yonghwa terus berjalan mendekati Soo Rim. Dan Soo Rim terus melangkah mundur menghindari Yonghwa. Mereka berdua terus berjalan ke pojok ruangan. Soo Rim sedikit gemetar ketakutan ketika kakinya sudah tak bisa melangkah mundur lagi karena terhalang dinding. Sungguh, apa yang akan Yonghwa lakukan?

“Kau kira aku akan melakukan apa, hah?” desis Yonghwa di depan wajah Soo Rim. Soo Rim masih terdiam dan terpaku menatap Yonghwa.

Yonghwa menggeser posisinya dan kini ia berada di samping telinga Soo Rim.

“… bagaimana, kalau kita taruhan?” tantang Yonghwa persis di telinga Soo Rim. Suaranya pelan dan terdengar seperti bisikan. Tapi cukup membuat bulu kuduk Soo Rim meremang.

Soo Rim mendorong tubuh Yonghwa. Yonghwa yang tak siap akan dorongan Soo Rim terhuyung sedikit.

“Kau..”

“Kau pikir aku akan melakukan apa, hah? Jangan berpikir yang tidak-tidak deh! Aku namja baik-baik.” potong Yonghwa cepat. Soo Rim mendengus.

“Oke, taruhan apa?” tanya Soo Rim.

“Kau maunya apa?” Yonghwa balas bertanya. Haha, Yonghwa masih belum puas juga menjaili Soo Rim.

“Jebaaaal.. cepat katakan kau ingin taruhan apa?” Soo Rim semakin geregetan.

***

“Ya! Kalian berdua! Han Soo Rim dan Jung Yong Hwa! Sedang apa kalian di pojok sana? Kenapa ruangan ini masih berantakan?” seru seseorang. Mereka berdua menoleh serentak.

“Park seonsaengnim?”

“Ne, saya Park seonsaengnim. Sedang apa kalian disana?” Park seonsaengnim mengulang pertanyaannya.

“Kami? Ng.. kami sedang.. kami sedang..” spontan mereka berdua menjauhkan jarak masing-masing.

“Sedang apa?” sentak Park seonsaengnim.

“Menurut Park seonsaengnim kami sedang melakukan apa?” tanya Soo Rim. Yonghwa memandangnya dengan tatapan tak percaya seraya mengirim telepati pada tatapannya.

‘Hei, apa yang kau katakan? Kalau semuanya semakin kacau, gara-gara kau, ya!’

Soo Rim membalas telepati Yonghwa.

‘Sudah! Ikuti saja’

‘Rencanamu apa memangnya?’ balas Yonghwa.

‘Tidak tahu, haha..’  Soo Rim tertawa tertahan.

‘MWOYA?!’ Yonghwa serasa melemas.

“Sudah deh, diam saja” kata Soo Rim pada Yonghwa seraya menginjak sebelah kaki Yonghwa.

“Ya! Sakit!” seru Yonghwa.

“Kalian sedang apa sih, sebenarnya? Apa kalian mau hukuman kalian ditambah?” tanya Park seonsaengnim setelah terdiam beberapa saat. Berusaha mencerna percakapan telepati kedua muridnya yang sedang dihukum itu.

“Shireo! Ah, seonsaeng. Lebih baik seonsaeng kembali ke kelas dan kembali mengajar. Kan tidak baik meninggalkan pelajaran. Kami akan selesaikan ini semua paling lambat dalam 30 menit. Bagaimana?” usul Yonghwa sembari menyindir Soo Rim.

“Ya! Itu kata-kataku!” protes Soo Rim.

“Memang. Aku pinjam dulu kata-katamu.” balas Yonghwa sambil meleletkan lidahnya.

“Ya, ya, ya. Terserah kalian saja lah. Pokoknya kalau dalam 30 menit kalian tidak kembali, kalian harus menulis essay tiga halaman penuh. Arasseo?” ujar Park seonsaengnim. Sementara dua murid yang sedang dihukum ini hanya mengangguk patuh.

***

“Fuh.. untung Park seonsaengnim langsung percaya. Tapi, kok bisa sih dia langsung percaya begitu saja?” gumam Soo Rim seraya menatap punggung Park seonsaengnim yang perlahan bergerak menjauh.

“Ya, Park seonsaengnim kan sudah 17 tahun mengajar disini” jawab Yonghwa.

“Apa hubungannya?”

“Tak tahu”

Soo Rim diam saja dan mulai membersihkan ruang musik yang sangatlah berantakan ini.

Han Soo Rim POV

Ah, terlalu lama berbicara dengan Yonghwa hanya buang-buang energi saja. Lebih baik aku merapikan ini semua. Terserah kalau Yonghwa mau membantu membereskan atau tidak. Aku diam sajalah..

Aku singsingkan(?) lengan seragamku dan mengibaskan rambutku yang menutupi wajah. Aku mulai memunguti sampah-sampah di meja. Aku sempat berpikir; kenapa hukumanku selaaaaluuu saja membersihkan sampah. Memangnya aku terlihat berbakat dalam hal ini ya? #JLEB. Entahlah, yang penting lakukan saja dan jalani hukumanmu supaya kau cepat pergi dari sini dan kembali masuk kelas. Apa kata eomma kalau Han Soo Rim, sang murid pertukaran pelajar yang baru setengah hari bersekolah disini sudah dihukum, double pula..

Beberapa saat kemudian aku melihat ke sekeliling ruangan. Debu-debu masih tersisa di sana sini.

Mwo? Yonghwa benar-benar tak membersihkannya?  Kalau begini caranya aku diperbudak olehnya secara tak langsung dong? Huaaaa..’ batinku tak rela.

“Ya sudahlah. Mau diapakan lagi? Lebih baik aku segera rapikan ini semua. Dan aku akan segera pergi dari tempat ini.” gumamku sendirian.

Lee Jong Hyun POV

Pelajaran Park seonsaengnim membosankan sekali. Sudah berkali-kali aku menguap. Untung aku duduk di belakang jadi takkan ketahuan oleh Park seonsaengnim. Han Soo Rim dan Yonghwa enak sekali sih, tak mengikuti pelajaran ini. Aku ingin dihukum jugaaa.. supaya aku bisa membolos pelajaran ini. Haha..

Aku baru saja ingin melipat tanganku lalu membenamkan wajahku, lalu terbang ke alam mimpi saat sebuah gumpalan kertas muncul di mejaku. Aku membukanya dan membaca isinya.

Jonghyun,” tulisan dalam surat itu berbunyi.

“Dari siapa ini?” mataku berkeliling ke seluruh penjuru kelas. Dan pandanganku tertuju ke seorang yeoja yang sedang menoleh ke arahku. Aku menunjukkan kertas surat itu ke arahnya. Dan ia hanya mengangguk. Siapa ya dia?

Ah, Park Yihyun.

Mwo?” aku membalas dan melemparnya ke arah Yihyun.

Yihyun membacanya dan menulis lagi.

Kau teman dekatnya Yonghwa ya?”  kubaca itu lalu langsung kubalas.

Tidak juga sih, dia kan menjadi penyendiri dan dingin semenjak dua tahun lalu” aku melemparnya lagi.

Waeyo?” balasnya.

Aku menyimpan kertas itu di loker mejaku karena kulihat Park seonsaengnim menatapku tajam. Aku pura-pura mendengarkan dan mencatat.

Semenjak Sora meninggal” aku membalasnya setelah keadaan aman.

Sora? Nuguya?

Masa kau tidak tahu Sora sih? Mereka berdua kan best couple dan couple terpopuler di sekolah selama dua tahun berturut-turut.”

Jinjja? Pantas saja ia jadi dingin begitu L

Lho? Kok ada emoticon sedihnya sih? Apa jangan-jangan Yihyun..

Kau.. suka pada Yonghwa ya?

Aku menyeringai.

Lama tak dibalas. Aku pun menimpuknya dengan penghapus Shin Minwoo, teman semejaku.

“Ya, kau kemanakan penghapusku?” bisik Minwoo. Aku menjawab dengan menunjuk Yihyun sambil menyengir lebar. Minwoo hanya mendecak sebal.

“Balas” mulutku mengucapkan kata itu tanpa suara. Sementara Yihyun hanya mendesah.

Bukan urusanmu” balasnya di kertas.

Aha, kalau kau jawab begitu berarti benar. Hahaha.. *evil laugh

Aku cengar-cengir sendiri. Akan kuberitahu Yonghwa tentang hal ini, Yihyun-a. Siapa tahu ia menerima perasaanmu walaupun kemungkinannya 2 banding 98. Jauh dari setengahnya, bahkan seperempatnya.

Temanku, bodoh

Wah, beraninya dia menyebutku bodoh.

“Hei, kau baca apa sih? Dari tadi kau tulis sesuatu – baca sesuatu – lempar kertas ke Yihyun. Isinya apa?” tanya Minwoo.

“Baca saja” jawabku sambil memberikan kertas yang sudah sangat lecek itu ke Minwoo. Yihyun yang melihatnya membelalakkan matanya. Matanya jadi terlihat sangatlah besar. Aku membalasnya dengan mengangkat sebelah alis plus evil smile.

“Oh, ini” kata Minwoo sembari mengembalikan kertasnya padaku.

Park Yihyun POV

Aish, Jonghyun benar-benar rese deh. Ingin rasanya aku merusak wajah tampannya itu dengan kuku jariku, lalu dia akan bersujud memohon ampun padaku! Nyiahahahaha..

Eh, jangan deh. Aku kan tak sejahat itu. Mana mungkin aku tega melakukannya. Hanya karena hal sepele pula. Ya sudahlah. Tak apa. Lagi pula, yang membaca kertas itu kan Shin Minwoo. Aku yakin dia ketua kelas yang baik – teladan – bijaksana yang takkan pernah mencari masalah. Haha..

Han Soo Rim sedang apa, ya? Apa dia bersenang-senang dengan Yonghwa? Atau malah berantem lagi? Apapun yang dilakukannya membuatku iri! Betapa beruntungnya dirimu, Han Soo Rim bisa bersama Yonghwa..

Apanya yang beruntung? Justru aku semakin sebal padanya!’ pasti itu yang akan dikatakannya nanti. Han Soo Rim, kau begitu lucu. Menggemaskan..

“Ok, pelajaran kita hari ini selesai. Jangan lupa minggu depan ulangan ya.” pesan Park seonsaengnim. Kelas yang tadinya hening seperti tak ada kehidupan di dalamnya segera berubah menjadi ramai dengan suara kursi–meja yang saling beradu, buku-buku dengan sedikit suara berdebum, dan obrolan-obrolan para siswa dengan suara yang naik turun. Riuh rendah. Seperti pasar rasanya. Aku segera melangkahkan kakiku ke luar kelas. Aku sedikit menggigil karena AC di dalam tadi sangat dingin. Mungkin semangkuk sup rumput laut dapat membuatku merasa hangat dan kenyang.

Aku berjalan menyusuri koridor yang memiliki banyak ruangan di sebelah kanan dan kirinya. Langkahku terhenti tiba-tiba dan aku sedikit memundurkan posisiku. Terdengar suara dentingan piano. Sangat indah. Jari siapapun yang memainkannya, pasti akan terkenal suatu saat nanti. Karena siapapun yang mendengarnya akan merasa nyaman dan tersentuh. Aku memicingkan mataku guna melihat siapa yang memainkan piano itu melalui sebuah jendela kecil di pintu ruangan yang tertutup. Kuamati ia. Jari-jarinya masih sangat lincah memainkan piano itu. Lagu yang dimainkannya pun sangatlah indah. Sesekali ia menyanyikan bait lagu itu. Suaranya sangat merdu pula. Aku baru tahu ada murid di sekolah ini yang semacam ia.

Tanpa sadar aku bertepuk tangan saat lagu itu berakhir. Tapi orang itu tak mendengarnya. Aku pun buru-buru menjauh dari tempat itu saat melihat ia melangkah ke pintu. Ah, aku belum sempat melihat wajahnya. Sedari tadi ia melirik jam tangannya kurasa, habis dari tadi tatapannya tak pernah ke depan sih. Yah, sayang sekali..

***

“Ahjumma, pesan sup rumput laut semangkuk ya.” kataku pada Ahjumma kantin. Ahjumma itu hanya mengacungkan jempolnya dan berlalu ke dapur. Mungkin memberikan pesananku.

“1500 won” ujar Ahjumma itu sembari memberikan mangkuk sup. Aku merogoh sakuku dan mengambil uang. Lalu menyerahkannya pada Ahjumma.

“Gomawo, Ahjumma.” aku berterima kasih. Ahjumma itu hanya tersenyum.

Aku berjalan menuju salah satu kursi kantin yang hampir penuh itu. Aku makan sup itu dengan tenang. Rasanya sangatlah enak. Perlahan aku merasakan tubuhku menghangat. Kehangatan dan kenikmatan sup itu sudah menjalar ke seluruh tubuhku rupanya.

Ah, sup ini membuatku merasa bahagia..

Jung Yong Hwa POV

“Jadi taruhan?” suara Soo Rim membuyarkan lamunanku tentang Sora. Aku diam saja dan terus memainkan gitarku tanpa mempedulikannya.

“Hei. Dengar aku.” Soo Rim mengguncangkan lenganku. Aku masih tak bergeming.

“Lebih baik kau pergi saja. Kau menggangguku latihan. Sudah sana.” aku mengusirnya karena ia benar-benar mengacaukan konsentrasiku. Dasar cerewet. Akhirnya dia pergi meninggalkanku dengan membunyikan langkahnya. Cari perhatian banget, sih.

Aku memainkan gitarku lagi. Kali ini dengan tenang. Tanpa harus mendengar ocehannya yang membosankan itu. Akhirnya aku mendapatkan ketenangan hari ini. Sendirian dalam sebuah tempat dan terlarut dalam keheningan. Itulah aku. Gemar menyendiri sejak Sora pergi.

Tiba-tiba aku teringat tatapan mata Soo Rim. Persis dengan manik mata Sora. Tidak, Sora tetap Sora. Takkan bisa disamakan dengan orang lain. Apalagi digantikan.

Sora, aku bingung. Kenapa ia harus muncul dalam hidupku? Dan juga kenapa ia sangat mirip denganmu? Walaupun hanya tatapan matanya. Tetapi hal yang pertama kali kusukai dalam dirimu adalah tatapan ceria nan teduhmu itu. Yang lama kelamaan berubah menjadi segalanya. Aku menyukai segala dalam dirimu, Sora.

Kalau kupikir-pikir, sifatmu dengan sifatnya berbeda sangat jauh. Bagaikan langit dan bumi. Kau kalem, dia cerewet. Kau lembut, dia.. huaahh. Kau lebih banyak tersenyum padaku, dia lebih banyak marah-marah. Kau manis, dia mengesalkan. Kita lebih sering tertawa bersama, bercanda, dan menghabiskan waktu bersama dengan senyuman. Hh, pokoknya, kau yeoja yang paling kusayang setelah eomma-ku. Dan Han Soo Rim yeoja yang berhasil membuat moodku turun drastis hari ini. Hobby-nya itu membuatku kesal, membuatku mendapat masalah, dan sok peduli padaku, sok mengerti perasaanku, sok lebih baik dariku, padahal jauh lebih buruk dariku. Aku merindukanmu.. kembalilah, Sora..

Im Sora POV

Sejujurnya, aku belum bisa pergi dengan tenang. Memang ini sudah dua tahun lamanya. Tapi Yong berubah murung sejak kepergianku. Bukan hanya murung, ia juga dingin, angkuh pula. Memang, pertama kali aku bertemu dengannya, empat tahun lalu, ia bersikap dingin. Dan entah kenapa, perasaanku mengatakan kalau aku harus bisa membuatnya ceria. Dan aku benar-benar bertekad akan melakukannya. Mungkin saat itu aku bisa dikatakan mencintai Yong. Aku melakukan segala macam cara demi Yong. Demi Yong agar ia ceria..

Awalnya, Yong memang tak menggubrisku. Malah menganggapku kalau aku mengejar-ngejarnya. Ia memarahiku, membentakku, malah pernah ia mengusirku. Aku ingin putus asa saja rasanya. Dan aku benar-benar tak pernah berinteraksi dengannya lagi sejak ia mengusirku.

Rasanya ada yang berbeda. Aku merindukan suaranya, suaranya yang memarahiku..

Hingga suatu hari, aku sedang memainkan piano di ruang musik. Di akhir permainanku, suara tepuk tangan terdengar. Aku menoleh, Yong berada disana. Lalu ia melangkah ke arahku. Aku tersenyum padanya dan ia balas tersenyum.

Aku melanjutkan hari-hariku sembari berusaha membiasakan diri tak berinteraksi dengan Yong. Suatu hari selama dua minggu Yong mendekatiku dan melakukan apa yang kulakukan padanya dulu. Malamnya, ia meneleponku dan berkata aku harus menunggunya di bukit belakang sekolah. Dibawah pohon yang paling rindang. Aku mengiakan dan keesokan harinya aku menunggunya di tempat yang sudah ditentukan.

 Berjam-jam aku menunggunya. Tapi Yong tak kunjung datang. Aku mulai menduga kalau ia menipuku. Jahat sekali, membiarkanku menunggu di tempat itu berjam-jam. Menjelang sore, hujan turun rintik-rintik yang lama-kelamaan berubah menjadi deras. Sangat deras. Tapi Yong tak kunjung datang. Tubuhku menggigil. Bibirku pasti membiru. Akhirnya aku memutuskan pergi dari tempat itu dan berniat untuk melupakan Yong yang telah melukaiku seperti ini.

“Sora..” aku menghentikan langkahku. Seperti suara Yong.

Aku merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti tubuhku. Sangat hangat. Hingga aku takkan ingin melepasnya. Semakin lama, semakin hangat. Dan tanpa ragu lagi aku membalasnya.

“Saranghae..”

“Saranghae..”

Aku membenamkan wajahku di bahu Yong. Aku menangis di dalamnya. Seluruh perasaanku saat itu kutumpahkan dalam air mata. Senang, haru, tidak percaya, semuanya.

Aku melepaskan pelukanku. Yong, ini benar-benar Yong. Keadaannya sama sepertiku, basah kuyup, menggigil, tapi aku merasakan semua rasa dingin itu sirna berkat senyumannya. Aku benar-benar mencintainya..

Bahkan hingga saat ini. Aku ingin kita bersatu lagi, Yong. Tapi itu takkan mungkin. Kita hidup di alam yang berbeda sekarang. Kau dan aku, terpisah oleh dinding pemisah bernama kematian. Tak seorang pun dapat menerobosnya kecuali mereka merasakan apa yang dinamakan kematian.

Sejujurnya aku sangat merindukanmu. Sama dengan apa yang selalu kau katakan jika kau teringat padaku. Kau pasti merasa capek dan tersiksa. Aku pun sama, Yong. Aku selalu mengawasimu dari sini. Aku hanya bisa mengawasi, tanpa bisa berada di sampingmu, tanpa bisa mengelus punggungmu, tanpa bisa meminjamkan bahuku, tanpa bisa merasakan pelukanmu lagi, tanpa bisa membuatkanmu makanan, tanpa bisa merasakan genggaman tanganmu yang mengalirkan sebuah kehangatan dan kenyamanan.

Kumohon, Yong. Tersenyumlah. Bangkitlah. Sampai kapan kau mau begini terus? Sikapmu yang seperti ini takkan bisa mengubah keadaan. Takkan bisa membuatku berada di sisimu lagi. Semuanya, sudah berakhir, Yong. Semua pertemuan pasti ada perpisahan.. dan kita sudah berpisah, terpisahkan, dipisahkan  oleh dan karena kematianku.

Kumohon Yong. Tersenyumlah. Kenapa kau tidak ingin membuatku tenang? Berat memang. Berat bagimu untuk melupakanku. Berat juga bagiku bila ada yeoja lain yang meminjamkan bahunya untukmu. Tapi ini semua demi kita. Demi kita. Demi senyumanmu yang sudah lama tak kau tunjukkan, demi keceriaanmu yang sudah lenyap entah kemana, demi canda dan tawamu. Dan demi ketenanganku disini. Aku janji aku akan menerimanya. Asalkan kau ceria lagi. Kukorbankan semuanya, termasuk cintamu untukku..

Tak apa jika kau mulai menyukai yeoja lain. Nan gwaenchanha. Tapi tetap sisakan ruang di hatimu untukku. Jangan lupakan aku.. jangan kubur aku dalam-dalam tanpa ingin kau ingat lagi. Jangan lenyapkan aku. Jangan anggap aku tak pernah hadir dalam hidupmu. Meskipun dengan melupakanku dapat membuatmu tak membuka duka itu. Duka karena kematianku.

Kumohon tetaplah ingat aku, sebagai orang yang pernah mengisi hatimu..

Karena aku tetap mencintaimu sampai kapanpun..

Yeongwonhi neol saranghae, Yong..   

Han Soo Rim POV

Menyebalkan. Yonghwa menyebalkan. Sangat menyebalkan. Eh, tapi kalau menyebalkan, lebih baik aku tak usah berbicara dengannya kan? Aha, aku balas menyuekinya saja. Nyiahahahaa.. *nenek sihir ketawa.

Sora? Siapa dia? Tapi tatapan mata Yonghwa begitu berbinar, tatapan penuh kerinduan saat menganggapku adalah Sora. Ah, apa peduliku? Biarkan saja. Aku tak mau mencampuri urusannya.

Aku memburu langkahku ke kelas. Aku baru saja menghempaskan tubuhku di kursi saat kulihat sebuah kertas jatuh di antara mejaku dan meja Yonghwa.

“Yeongwonhi neol saranghae, Im Sora.”

Aku membalik kertas tersebut dan terlihat gambar seorang yeoja bersama Yonghwa sedang berfoto di sebuah museum. Yeoja itu cantik sekali. Rambutnya panjang tergerai dan agak bergelombang. Penampilan yeoja itu feminin sekali tapi natural. Yonghwa terlihat sedang mencium puncak kepala yeoja itu dan yeoja itu menggenggam tangan Yonghwa. Kelihatannya saat itu sedang musim dingin karena pakaian mereka pakaian musim dingin.

“Apa ini yang namanya Im Sora? Benar-benar sempurna.” gumamku sendirian. Aku masih terus memandangi foto itu dan tiba-tiba aku merasa tak suka melihat ada yeoja lain yang terlihat sangat dekat dengan Yonghwa.

“Han Soo Rim, jangan katakan kau suka Yonghwa. Dia itu menyebalkan, ingat!” aku berusaha mengusir perasaan itu dan langsung menyimpan foto itu di loker meja Yonghwa. Tapi pikiranku masih berkelebat ke foto itu. Im Sora. Yeojachingu Yonghwa.

 

10 thoughts on “I Feel…

  1. Ini part2 nya ya thor:)

    kyaaa~ pgent dehh hujan”an smbil pluk”an jg amha yong~… Hyiiahahahaaa #ngarep

    lanjut thor.. Hwaiting^_^

    • tenang aja, ngga gentayangan kok, cuma belom tenang perginya. author paling suka di bagian: “Kau dan aku, terpisah oleh dinding pemisah bernama kematian. Tak seorang pun dapat menerobosnya kecuali mereka merasakan apa yang dinamakan kematian.” keren bangeeettt

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s