CNBLUE vs SHINee (chapter 1: Background)

Title: CNBLUE vs SHINee (chapter 1: Background)
Author: mmmpeb
Rating: T
Genre: AU, general, school life
Length: chaptered
Main Cast:
– CNBLUE
– SHINee
– SUJU Eunhyuk
TRAX Jay
Other Cast:
 Infinite Myungsoo
– 2AM Jinwoon
– MBLAQ Cheondung, BEAST Doojoon, Jaypark (just a name)
Disclaimer: my plot!
Prev:
******************************************

 

Jam menunjukkan pukul 5 sore, tapi bukan berarti sekolah makin sepi, justru tidak ada murid yang berkurang satupun. Mereka memilih menetap lebih lama di sekolah ketimbang pulang ke rumah masing-masing, mengingat fasilitas-fasilitas sekolah yang sayang untuk tidak digunakan. Dan juga sayang untuk melewatkan aksi para murid-murid khayangan.

Lapangan basket ramai sekali. Lebih dominan perempuan, rela berdiri lama-lama di pinggir lapangan demi bisa menyaksikan beberapa murid pria yang kebetulan memiliki tampang yang ketampanannya tak wajar sedang bertanding. Tiga lawan tiga. Senior lawan junior. Cheondung-Doojoon-Jaypark lawan Minhyuk-Myungsoo-Jinwoon. Sebenarnya dengan melihat pemainnya, sudah bisa ditebak kelompok junior yang menang, tapi tetap saja sebagian murid perempuan tidak mau melewatkan aksi para murid-murid tampan tersebut. Terlebih saat Cheondung yang selalu menanggalkan pakaian atasnya jika sedang bertanding.

Pindah ke lokasi lain. Lapangan futsal. Masih sama dengan keadaan tetangga, perempuan mendominasi. Bagaimana tidak? Cha Chisoo versi SMA Hanseoul sedang bertanding futsal. Kelas Minho melawan kelas Minhyuk. Sebenarnya Minhyuk ingin sekali berpartisipasi. Tapi mengingat status palsunya sebagai ‘musuh’ Minho, ia lebih memilih basket ketimbang futsal.

Perpustakaan juga menjadi tempat yang dipilih sebagai tujuan sepulang sekolah, terutama bagi murid perempuan. Oke, sedikit terdengar wajar jika perpustakaan lebih di dominasi oleh perempuan, tapi mereka ke sana bukan dengan niatan seperti layaknya apa fungsi perpustakaan itu sendiri. Yeah, Onew si pemegang peringkat tiga paralel selalu ada di sana setiap pulang sekolah. At least, satu hari setengah jam. Tanpa membaca buku, separuh jiwanya seperti hilang. Bagaimanapun, ia harus bisa mempertahankan posisinya agar tujuannya kuliah di Universitas Seoul dengan biaya gratis bisa di dapatkannya. Lagi pula ia tidak akan sempat belajar di rumah, keburu kelelahan karena pekerjaan paruh waktunya.

Dan pantas saja hari ini perpustakaan sedikit lebih ramai dari biasanya. Di sana juga ada Key. Bukan untuk membaca melainkan memanfaatkan keadaan yang ada. Tidur. Tidak ada tempat sesenyap perpustakaan di SMA Hanseoul. Ia ingin pulang, tapi membayangkan ayahnya yang akan langsung menyuruhnya untuk bantu-bantu di restoran membuat langkahnya membelok masuk ke dalam perpustakaan.

Ruang olahraga, dengan fasilitas yang tentu saja tidak akan dimiliki SMA-SMA lain, bahkan tempat gym­-pun masih kalah lengkap peralatannya. Murid-murid perempuan berdesakkan mengintip dua pria yang sepertinya semangat sekali berolah raga. Jungshin di sudut ruangan dan Jjong di sudut lainnya. Niatan mereka ke sana bukan untuk mencari perhatian, lagian bukan salah mereka jika kegiatan mereka bisa dilihat dari luar, ruang gym memang hanya didindingi dengan kaca. Mereka ke sana untuk membuktikan kalau mereka lebih hebat satu sama lain. Hahaha, si jangkung kerempeng dan si pendek berotot.

Masih dengan dominasi perempuan, hanya saja kali ini murid laki-laki juga ikut menyaksikan. Kalau murid perempuan lebih tertarik dengan dua pemain gitar itu, justru murid laki-laki sedang terpana dengan permainan gitar mereka. Jonghyun dan Yonghwa hanya sedang latihan, tapi bagi para penonton seperti sedang menyaksikan rehearsal sebuah konser. Hari ini Yonghwa meminta Jonghyun ke taman belakang untuk mengajarinya teknik gitar yang sulit untuk dikuasainya. Hanya Jonghyun yang dikenalnya yang menguasai teknik itu. Jonghyunpun selalu tidak keberatan, asal memenuhi dua syarat miliknya. Berhubungan dengan gitar dan tidak mengganggu waktunya bermesra ria dengan judo.

And the rest of Hanseol’s Charming Prince is Taemin. Hari ini bocah ajaib nan polos dengan IQ lebih dari 200 itu sedang berdiskusi dengan beberapa guru mengenai olimpiade matematika tingkat internasional. Pihak sekolah sepakat akan menurunkan Taemin ke ring. Baru dibicarakan dan Taemin belum menyetujuinya.

Itulah sedikit gambaran kegiatan SMA Hanseoul di Sabtu sore hari. Hari yang haram bagi sekolah itu untuk berkutat dengan buku. Semua bersenang-senang. Sekolah ingin murid-murid tidak terbebani dengan rangkaian kegiatan sekolah yang padat dari hari Senin hingga Jumat. Maka dari itu sang kepala sekolah mencanangkan hari Sabtu sebagai hari Haram Belajar. Hidup bukan hanya untuk belajar, kan?

Sexy And I Know It milik LMFAO mengalun, membuat kepala beberapa murid yang mendengarnya menganggukkan kepala. Namun kemudian kepala-kepala itu serentak berhenti karena tiba-tiba suara alunan gitar listrik mengacaukan lagu itu. Lagu milik LMFAO tadi kemudian terdengar lebih keras dan suara gitar lagi-lagi mengacaukannya dengan volume yang seimbang. Semakin kencang dan terus menyusul hingga dua suara itu hanya bisa membuat telinga-telinga pecah saking dahsyatnya volume suara tersebut.

 

 

Yonghwa pov

 

Jung Yonghwa. That’s my full name. Just call me Yonghwa enough. Hmm, kalau boleh jujur, aku lebih suka menggunakan bahasa Inggris, tapi aku akan berusaha menghindari bahasa itu, kecuali kalau aku sedang emosi dan mengharuskanku mengucapkan kata-kata spontan yang kasar. Pengaruh Amerika cukup merasuk ke dalam hidupku. Tujuh tahun aku hidup di sana bersama ibu dan kakak laki-lakiku. Aku bukan anak broken home. Keluargaku masih utuh, hanya saja sesuatu yang disebut pekerjaan mengharuskan ayah dan ibu tinggal terpisah. Tinggal bersama ayah sama saja seperti tidak memiliki ayah, itulah yang membuatku dan hyung memilih ikut tinggal bersama ibu di Amerika, tepatnya pusat kota, New York. Sigh! Ternyata tidak ada bedanya. Kenapa sih pekerjaan itu lebih penting bagi mereka berdua?

Tiga tahun yang lalu aku memilih pulang dan tinggal di Korea. Ayah dan ibu terima-terima saja. Yah, aku yakin saat aku meminta itu pikiran mereka masih dibayangi dengan pekerjaan mereka, makanya mereka menjawab ‘iya’ dengan cepat. Dan tadinya aku ingin tinggal sendiri, tapi ayah melarang dan mau tidak mau aku tinggal dengan ayah. Tuh kan, sama saja aku tinggal sendirian.

Sistem sekolah di Korea dan Amerika cukup berbeda, karena itu aku jadi harus mengulang satu tahun agar aku bisa beradaptasi. Sungguh, entah Korea itu menganggap muridnya Einstein atau apa, mata pelajarannya kelas 3 SMP di Korea sama saja dengan 2 SMP di Amerika. Cukup membuatku frustasi. Tapi aku bisa mengejarnya dengan bantuan sana-sini, termasuk si Onew caper itu. Kalau karena tidak mau ayahku marah-marah nanti karena nilai jelekku, aku juga tidak mau belajar dengan manusia itu.

Onew adalah anak angkat ayah yang baru dikenalkannya sepulang aku dari Amerika. Pernah sih ayah bercerita melalui email, tapi aku tidak terlalu peduli. Onew itu baik, baik sekali. Entah hanya di depan ayahku saja atau tidak. Tsk! Pokoknya Onew selalu dipuji-puji ayahku, dan itulah alasan kenapa aku membenci Onew.

Dan yang membuatku makin membencinya adalah gadis cuek yang bernama Bang Chaerim ternyata menyukai Onew. Okelah, awal aku masuk SMP di Korea, aku jadi pusat perhatian. Bukan sombong, tapi itulah faktanya. Tidak pernah ada yang mengabaikanku ketika aku mengajak ngobrol seseorang, entah itu perempuan ataupun laki-laki. Tapi Chaerim? Aku bertanya kantin di mana saja dia jawabnya enteng sekali. Padahal mata kami saling bertatapan. Kalau yang sudah sering-sering, orang-orang akan takluk akan kharismaku. Tapi Chaerim? Dengan enteng ia menunjuk dengan sebelah tangannya sambil menatapku, terus berlalu dari hadapanku. Wah, sungguh di luar dugaan!

Awalnya aku menganggap Chaerim adalah hoobae yang kurang ajar. Tapi setelah aku selidiki, dia memang selalu cuek pada orang yang tidak dikenalnya, walaupun orang yang dikenalnya itu memiliki ketampanan satu tingkat di atasku. Sungguh orang yang menarik.

Menyelidiki? Wah, aku benar-benar melakukan itu! For the first time, me kept starring at one girl only. Ini spontan aku lakukan saking penasarannya. Dan aku akui aku menyukai gadis itu. Hanya aku dan Tuhan yang tahu itu.

Tapi aku dan Chaerim jadi dekat, loh! Ceritanya berawal saat aku pulang dari sekolah. Saat itu aku sudah bersekolah di SMA Hanseoul kelas 1. Hari sedang hujan dan untungnya aku membawa mobil. Entah karena jodoh atau apa, mataku menangkap sosok Chaerim yang sedang duduk di bangku halte. Aku menepikan mobilku di depan halte dan membuka jendela kaca. Chaerim yang hanya satu-satunya orang di halte itu melongo melihat seniornya menawarinya tumpangan. Karena ia harus pulang cepat sedangkan bus yang ia tunggu tidak kunjung datang, akhirnya ia masuk ke dalam mobilku.

Apa yang kami obrolkan selama di perjalanan tidak jauh-jauh masalah keadaan sekolah lamaku. Dan Chaerim saat itu sedang kelas 3 SMP. Ia banyak cerita padaku tentang kegalauannya dengan SMA mana yang harus dituju. Aku menyarankan SMA Hanseoul dan dia tertarik. Aku berharap dia tertarik karena aku sekolah di sana, tapi lagi-lagi karena Onew.

Jujur, awalnya aku tidak ingin masuk SMA Hanseoul. Tapi melihat nilai ujian kelulusanku, sekolah menyarankan aku memasuki SMA itu. Saat aku menolak, ayah justru mengancam akan mengirimku kembali ke New York. Aku sudah kerasan di Korea, baru tinggal setahun sudah merasa keberatan harus meninggalkan tanah kelahiranku. Terpaksalah aku menerimanya, walaupun aku tahu alasan ayah menyuruhku sekolah di sana adalah karena Onew juga.

Oh, i hate this shit person! He should be Jung Jinki! Tsk! Kenapa sih ayah sayang banget sama anak yatim piatu itu?

“HYUUUNG!”

Suara Jonghyun terdengar begitu memekakkan telinga. Aku bangun dari posisi tidurku dan memandang tajam Jonghyun sambil menggosok-gosok cepat telinga kananku.

“YA! Are you deaf?”

“Kau yang tuli, hyung! Tidak sadar ya sekolah kita sudah kayak diskotik?”

Aku tidak mengerti maksudnya. Tapi tiba-tiba telingaku menangkap suara musik super kencang. Super-duper-kencang!

“Haish! Orang tua itu!” gerutuku.

 

 

Onew pov

 

Aku sontak mengalihkan pandanganku dari buku ke sekelilingku. Aneh! Aku merasa seperti diperhatikan sejak tadi, tapi aku tidak menemukan siapa yang memperhatikanku. Ya sudahlah! Mungkin hanya perasaanku.

Kututup buku ketiga yang aku ambil dari rak buku. Aku tidak membaca ketiganya, hanya sedang mencari materi-materi yang tadi guruku terangkan. Belajar dari guru belum cukup, bukan?

Tiba-tiba aku merasa bosan. Kukeluarkan iPod kecil yang kubeli dengan hasil keringatku dari kantong blazzer. Kusumpal telingaku dan meletakkan kepalaku di atas meja seperti manusia di sampingku ini. Aku tidak berniat tidur, hanya ingin menyesapi lagu yang aku dengar.

Falling Down – OASIS

Lagu ini mengingatkanku akan pertemuan tak terduga dengan Tuan Jung Yongjae. Ia tidak ingin aku memanggilnya tuan, tapi aku merasa sangat kurang ajar jika aku menurutinya untuk yang satu itu. Yah, lama-kelamaan aku terbiasa memanggilnya paman, sih!

Hidupku jauh lebih baik karenanya. Sekolah dan biaya sehari-hari, semua dia yang tanggung. Dia orang yang sangat baik hati. Menolongku yang sebenarnya ia tidak kenal sedikitpun.

Orang tuaku sudah meninggal saat aku menginjak kelas 5 SD karena kecelakaan. Keluargaku bukan orang yang berada sehingga yang mereka tinggalkan hanya sebuah rumah kecil. Aku tahu tidak ada sanak saudara lain yang mau menampungku. Saat mereka basa-basi menawariku tinggal bersama mereka, aku menolak. Terlihat jelas perbedaan antara ekspresi wajah dengan tawaran mereka.

Orang tuaku hanya meninggalkan uang yang hanya cukup untuk tiga hari. Sebenarnya bukan meninggalkan, tapi aku mencarinya ke sana kemari. Aku menemukan uang-uang itu dari berbagai tempat. Di bawah tempat tidur, di bawah tumpukan baju. Saking polosnya aku saat itu, uang itu aku pergunakan untuk membeli makanan yang lebih ‘wah’ dari yang biasa aku makan sehingga uang yang bisa cukup untuk tiga hari langsung habis dalam satu setengah hari.

Tidak ada uang sama sekali. Aku berjalan dikeramaian, berharap menemukan sesuatu yang bisa menghasilkan uang. Aku tidak meminta-minta karena aku ingat pesan ibu, lebih baik mati kelaparan dari pada meminta uang orang lain. Saat itu aku menahan lapar sampai tiga hari. Aku tidak ke sekolah selama hampir seminggu. Yang aku lakukan hanya mencari pekerjaan yang mau menerima murid kelas 5 SD.

Aku tidak sengaja menabrak seorang pria parlente hingga ponsel yang ada digenggamannya jatuh dan headset-nya terlepas. Falling Down mengalun dengan kencang. Hampir satu menit aku mematung, terhipnotis akan alunan musik itu.

“Kau suka lagu ini, nak?”

Aku mendongak begitu sadar dari lamunanku. Ia tersenyum padaku, seperti senyuman ayah untuk anaknya. Dan saat itu juga aku menangis. Aku merindukan ayah dan ibuku. Orang itu menepuk puncak kepalaku dan menuntunku menuju mobil mewahnya. Aku terkesiap begitu menyadari ia membawaku ke sebuah restoran mewah. Mana ada pikiran risih karena pakaianku saat itu, yang aku pikirkan adalah makanan. Paman itu membiarkan aku makan apa saja yang aku mau.

Aku bercerita singkat mengenai kisah menyedihkanku pada orang asing itu. Dan setelahnya ia membawaku ke rumah besarnya. Yeah, aku tinggal di sana dan resmi menjadi anak angkatnya. Aku kira ia masih lajang karena ia hanya tinggal sendirian, ternyata keluarganya yang lain menetap di tempat lain.

Saat kelas 2 SMP, tiba-tiba terbesit di pikiranku untuk meninggalkan rumah mewah itu. Awalnya paman melarang. Tapi karena aku memaksa, akhirnya ia menyetujuinya dengan syarat aku harus menerima segala bantuannya. Tentu saja aku menolak. Dengan uang jajan yang selalu aku tabung, aku masih bisa hidup tanpa bekerja selama 2 tahun. Dan akhirnya paman menyerah.

Hubunganku dengan paman tidak putus begitu saja. Saat paman tidak sibuk, ia menyuruhku untuk datang ke rumahnya. Jarang sekali ia memiliki waktu senggang. Workaholic. Waktu aku tinggal di rumahnya saja, pernah selama sebulan dia tidak kembali. Yah, mungkin itulah kenapa keluarga paman memilih tinggal di Amerika. Aku tidak terlalu mencampuri kehidupan keluarga paman. Masa bodoh lah!

Suatu hari, saat aku baru memasuki SMA Hanseoul, paman menelponku di hari yang tidak biasanya. Ia ingin mengenalkan anak keduanya padaku yang baru pulang dari Amerika. Kesan yang aku dapat dari Yonghwa, hmmm sedikit arogan. Dia terus mengacuhkanku saat makan malam, bahkan pada ayahnya sendiri.

Awalnya aku tidak masalah dengan sikapnya itu. Tapi kemudian ia dengan sarkastik mengatakan aku memanfaatkan kebaikan ayahnya. Oke, aku masih bisa bersabar, demi paman baik hati yang selalu membantuku. Tapi aku sungguh tidak terima ia mengatakan orang tuaku yang menyuruhku untuk memanfaatkan ayahnya. Tahu apa dia tentangku? Orang tuaku bahkan sudah meninggal sebelum aku mengenal paman. Dan aku paling tidak suka ada orang yang menjelek-jelekkan orang tuaku.

Jangan salahkan aku jika aku tidak pernah lagi menginjak rumah ayahnya.

Bagaimana aku bisa masuk SMA Hanseoul? Jangan kalian kira karena bantuan paman. Aku berusaha keras agar bisa memasuki sekolah itu. Satu-satunya alasan karena aku tidak mau merepotkan paman. Aku merasa menjadi beban bagi paman walaupun dia selalu bilang melakukannya dengan senang hati. Dan atas usahaku, aku diterima di SMA itu tanpa dibebani biaya sedikitpun. Semua sekolah yang menanggung. Aku sedikit merasa bangga atas usahaku itu.

“Euh, lagunya kok aneh begini?”

Kenapa dengan iPod-ku? Kenapa lagunya jadi kacau begini?

Tapi ternyata bukan iPod-ku yang rusak. Begitu aku melepas headset, lagu yang merusak bayang-bayangku masih terngiang.

OH-MY-GOD! Dari ruang klub musik. Aish, dua orang labil itu!!!

“Ya, Key! Bangun!”

 

 

Jonghyun pov

 

“YA! Apa yang kalian lihat? Sana pergi!”

“Jonghyun-ssi! Biarkan kami melihat latihan kalian!”

“PER-GI!”

Orang-orang yang ternyata sejak tadi menyaksikan kami –aku dan Yonghwa hyung- latihan langsung pergi begitu aku mengusirnya.

“Kita lihat Jjong dan Jungshin saja, yuk?”

“Kajja!”

Sayup-sayup aku mendengar suara yeoja yang barusan menontoni kami. Cih! Jjong? Apa yang dilakukan manusia itu? Pamer otot?

Semua orang pasti heran kalau tahu ternyata aku dan si Kim Jonghyun itu saudara kembar. Jangankan mereka atau kalian, aku sendiri juga heran. Fisik kami ber-be-da! Atau jangan-jangan aku ini tertukar saat aku masih ditampung di ruangan bayi rumah sakit? Ya Tuhan, sinetron sekali hidupku kalau begitu.

Oke! Membicarakan masalah itu hanya akan membuat kepala pusing, kemudian perut serasa dikocok-kocok, dan tubuh seperti dihantam batu. Hahaha! Bercanda! Tapi yang aku heran hingga sekarang, kenapa orang tuaku malah membedakan marga kami? Justru seharusnya karena kami saudara kami memiliki marga yang sama, bukan? Dan pertanyaan itu membuat kepalaku mual dan perutku pusing. Sudahlah, lupakan!

Aku dan Jjong tidak cukup akur. Tidak cukup akur maksudnya akrab tidak tapi bermusuhan ya sedikit. Aku benar-benar iri dengannya yang selalu diutamakan dalam keluarga. Bukan berarti aku diabaikan. Orang tuaku juga memperlakukanku sama dengan si Jjong, tapi menjadi yang kedua. Selalu! Ibu selalu menanyakan apakah sudah sarapan atau belum pada Jjong, kemudian baru bertanya padaku. Ayah sering menawarkan apakah mau ikut dengannya pergi ke kantor atau tidak pada Jjong, kemudian baru bertanya padaku. Songdam nuna selalu mengajarkan matematika pada Jjong terlebih dahulu, kemudian baru mengajariku setelah manusia itu. See? Itu masih belum seberapa. Dan semua mengutamakan Jjong! Oh, lucky him! Aku ingin menjadi Kim Jonghyun.

Di dalam, si Jjong boleh berkuasa di atasku, tapi di luar jangan harap orang akan lebih memperhatikan dia dari pada aku. Aku berusaha keras agar bisa melampaui Kim Jonghyun. Dan sangat berhasil. Walaupun aku bersikap dingin sekalipun pada orang, tapi tetap saja orang-orang itu –kebanyakan yeoja- datang menghampiriku. Dan setelah aku usir –seperti yang tadi aku lakukan- barulah mereka akan datang ke Jonghyun yang lain.

“Ige mwoya?” protesku sambil menutup kedua telingaku. Suara aneh tiba-tiba menusuk gendang telingaku. Campuran musik shuffle dan permainan gitar.

Aku menoleh pada Yonghwa hyung yang ternyata malah tertidur di sampingku.

“Yonghwa hyung, bangun!” kataku seraya menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ia tak kunjung bangun. Aish, this sleepyhead! “HYUUUUNG!”

Yonghwa hyung akhirnya bangun.

“YA! Are you deaf?”

“Kau yang tuli, hyung! Tidak sadar ya sekolah kita sudah kayak diskotik?”

 

 

Jjong pov

 

“Heh, liliput! Mau skipping sejuta kali tubuhmu tidak akan tinggi!”

Liliput? Sialan!

“Kau! Kau mencoba mengangkat dua truk dengan kedua tanganmu, tetap saja kau bakal tertiup angin!”

Gotcha! Ia kesal. Kita impas, menara sutet!

Kalian tanya kenapa aku bisa bermusuhan dengan si manusia sutet itu? Hanya karena aku menawarinya makanan yang ibuku buat. Ibu biasa memberiku bekal makanan yang lebih, maksudnya biar aku bisa membagikannya pada temanku. Dan dia justru malah mengataiku liliput. Brengsek!

Aku menoleh ke dinding kaca ruang gym. Aku tersenyum pada mereka-mereka yang menontoniku. Hmm yeah, sebagian juga menontoni si Jungshin, sih. Makanya dengan sikap cool aku ber-skipping ria dengan alat yang menyita tenagaku. Harga diri, Jjong! Harga diri! Tenagamu banyak. Jangan berhenti.

Beberapa gerombolan yeoja datang dari arah taman menghampiri gerombolan yang melihatiku dan menara sutet. Dan dari sini aku bisa melihat taman sekolah. Sedang ada apa di taman? Aku mencoba melompat lebih tinggi agar aku bisa melihat jelas suasana taman.

Lee Jonghyun! Kenapa sih selalu dia yang bisa menarik perhatian yeoja lebih dariku? Aku ini jauh lebih tampan. Dan bandingkan saja tubuhku dengan tubuh Jonghyun, abs-ku lebih terbentuk. (tolong jangan ungkit masalah tinggi badan). Dan suaraku, aku tidak yakin Lee Jonghyun bisa mencapai nada tinggi seperti yang bisa dengan mudah aku lakukan. Tapi kenapa yeoja-yeoja lebih menyukai Jonghyun ketimbang aku? Kenapa aku selalu nomor dua????

Konyol memang! Tapi aku benar-benar benci Jonghyun karena itu. Di manapun aku berada, jika berdua dengan si Lee Jonghyun, pasti beberapa pasang mata lebih menyorotkan pandangannya pada dia ketimbang aku, Kim Jonghyun. Tidak di playgroup, SD, SMP, SMA, di tempat les, arrrrrrrrrg! Kenapa Kau siksa aku begini, Tuhan? Kenapa aku harus memiliki kembaran seperti Lee Jonghyun?

Kami tidak akrab satu sama lain. Lebih memilih saling diam. Bahkan jika kami memang bicara, itupun bisa dihitung dengan jari dalam setahun.

Pernah suatu hari, kalau tidak salah saat kelas 2 SMP, aku kedapatan segunung coklat di hari valentine di kolong mejaku begitu aku sampai di sekolah. Hehe, itu membuktikan keeksistansianku tidak pernah pudar. Kukeluarkan seluruh coklat itu itu hingga memenuhi mejaku. Lalu aku mendengar suara berisik-berisik dari luar. Ternyata yeoja. Mereka datang menghampiriku dengan sebatang coklat di tangan mereka masing-masing. Betapa terkenalnya aku.

Chogiyo, oppa!”

Mereka memanggilku oppa saat itu. Padahal kenal saja tidak. Pasti adik kelas.

Ada apa?”

Mereka dengan malu-malu memandangiku.

Apa oppa tahu di mana kelas Lee Jonghyun? Atau bisa titip coklat kami untuknya? Aku dengar kalian tinggal serumah.”

Sial!!! Aku kira mereka ingin memberikan coklat-coklat itu padaku, ternyata hanya ingin bertanya di mana kelas kembaranku berada. Dengan senyum yang dipaksakan, aku mengendikkan kepalaku ke kelas di seberangku dan mereka langsung meninggalkanku begitu saja. Penasaran? Yeah! Aku bangkit dari dudukku, bermaksud mengintip kelas Jonghyun melalui kaca. S-I-A-L! Coklat yang ia dapat bahkan tidak mampu ditampung dalam satu meja.

“Liliput?”

Kegiatan skipping-ku terhenti!

“Apa sutet?”

“Berhenti mengataiku sutet!”

“Kalau begitu berhenti mengataiku liliput!”

Jungshin hanya memutar kedua bola matanya dan kembali menatapku. “Pembinamu membuat ulah lagi!”

Aku mengerutkan keningku. Dan kemudian aku baru tersadar dengan musik super kencang yang entah datang dari mana. Eh? Musik ini dari mana lagi kalau bukan dari ruang klub.

“Pembinamu juga sama kacaunya!” kataku sambil mengambil haduk putih di dekatku, kemudian pergi dari ruang gym untuk memadamkan api di ruang klub musik.

 

 

Key pov

 

Mimpi apa aku barusan? Restoran ayah bangkrut, lalu Minhyuk dan ayahnya tertawa di atas penderitaanku. Hell! Restoran kami lebih berkualitas, tidak mungkin bisa kalah saing dengan restoran sushi milik keluarga Minhyuk.

Aku tetap bertahan pada posisiku. Kepala yang tergeletak begitu saja di atas meja perpustakaan dan dengan sedikit membuka mataku aku bisa melihat Jinki hyung yang terhanyut dengan tumpukan buku. Apa enaknya sih membaca?

Kupejamkan mataku kembali dan mencoba menyesap ke dalam mimpi. Kalau sudah terbangun, aku akan sulit tidur. Tsk! Tapi aku juga malas bangun, aku berpura-pura tidur saja.

Sebenarnya aku ingin mengintip Minhyuk, sih! Tapi aku bosan jika melihatinya sedang bermain basket. Membuatku iri saja! Kapan sih yeoja-yeoja itu mau berteriak padaku? Yah, bukan berarti aku ini tidak populer di kalangan para gadis. Aku yakin perpustakaan penuh karena ada aku, hehe! Hanya saja mungkin akan terasa lain jika segerombolan yeoja mau rela berdiri panas-panasan hanya karena melihatiku bermain. Cih! Aku bahkan tidak bisa olah raga jenis itu.

Aku sendiri sebenarnya heran, kenapa aku jadi menganggap tetanggaku itu sebagai rival. Maksudku si Minhyuk. Yang lebih dulu buka toko di salah satu gang Hongdae itu keluarganya Minhyuk, dan baru setelah keluargaku pindak ke sana, ayah membuka restoran Perancis. Tapi ayah selalu menganggap restoran sushi milik keluarga Minhyuk seperti musuh. Dan ujung-ujungnya aku didoktrin oleh ayah untuk selalu menjadi yang terbaik dari Minhyuk.

Dan yang aku sebal dari Minhyuk adalah saat aku sedang bicara panjang lebar, dia akan kabur dan menganggap ucapanku sebagai angin lalu. Itu sangat menyebalkan.

Eh, kenapa perpustakaan jadi ramai berisik-berisik begini, sih? Dan musik dari mana ini?

“Ya, Key! Bangun!”

Aku langsung bangun layaknya orang sehabis tidur begitu Jinki hyung mengguncang tubuhku.

“Wae, hyung?”

“Manusia mesum itu membuat masalah lagi!”

 

 

Minhyuk pov

 

“Yeah! Kita menang!”

Jinwoon datang menghampiriku dan Myungsoo yang sedang melepas lelah di pinggir lapangan. Ia datang dengan setumpuk uang digenggamannya. Ia langsung membagikannya menjadi tiga sama rata.

“Ini untukmu, dan ini untukmu!” kata Jinwoon sambil membagi uang itu pada kami.

“Apa aku bilang! Hanya karena bermain kita bisa mendapatkan uang!” seru Myungsoo. Ia mengibas-kibaskan uang miliknya seperti kipas.

“Kalau ternyata kita kalah?” tanyaku pada mereka.

Jinwoon merangkulku dari samping dan membisikkan sesuatu. “Kalah dari tiga orang itu mustahil banget! Mereka itu..hmm..orang kaya yang payah!” Mendengar bisikkan Jinwoon, Myungsoo langsung tertawa terbahak-bahak dan mengangguk menyetujui ucapan Jinwoon. Iya, sih! Tapi yang namanya mukjizat itu masih ada, kan?

“Sudahlah! Aku ingin pulang! Bye!” Myungsoo bangkit berdiri sambil menyelempangkan tali tas besarnya ke tubuhnya. Dan kemudian Jinwoon melakukan hal yang sama, “Aku ikut denganmu, ya? Motorku di bengkel,” kata Jinwoon pada Myungsoo. Myungsoopun mengangguk dan mereka pergi meninggalkanku menuju tempat di mana Myungsoo memarkir mobilnya.

Sigh! Aku apakan uang ini? 100.000 won tidak sedikit. Hmmm, sebaiknya aku tanyakan pada Minho nanti. Dia sedang main futsal kan sekarang. Aaaarg, aku juga ingin main itu bersama Minho.

Sejak sekolah di SMA Hanseoul, aku jarang sekali mengobrol dengan Minho di sekolah. Bukan karena kami sibuk, kami harus pura-pura bermusuhan agar tidak dikeluarkan dari klub musik yang kami masuki. Aku cinta drum dan Minho suka menari. Demi kecintaan kami itulah, kami berdua terpaksa bersandiwara.

Aku sendiri tidak tahu mengapa pembina kami itu saling membenci. Dengar-dengar sih karena wanita di masa lalu mereka. Tsk! Selalu saja wanita. Aku sempat terpikir ayahku dengan ayah Key bermusuhan karena wanita juga. Entah memperebutkan ibuku atau ibunya Key atau wanita lain. Tapi ya sudahlah, aku malas memikirkan masalah orang lain.

Tapi tumben aku tidak melihat Key sejak siang tadi. Ke mana dia? Yah, baguslah! Sekali-sekali tidak melihat pemandangan buruk.

“YA!”

Seseorang tiba-tiba menoyor kepalaku dari belakang. Aku menoleh ke belakang dengan garang dan mendapati Jungshin dengan nafas yang terengah-engah.

“Apaan, sih?” gerutuku. Kapan sih kebiasaan orang ini hilang? Bisa-bisa otakku bergeser karena ditoyor terus olehnya.

“Ayo ke markas!”

“Ngapain? Aku malas!”

“Duh! Jay sonsaeng berulah lagi.”

“Berulah apa?”

“Telingamu tuli, huh? Kurang kencang apa lagi suara musiknya sampai kau tidak menyadarinya.”

Memang terdengar suara musik kencang sih dari tadi. Aku kira ada yang hajatan (?) di dekat sini.

 

 

Minho pov

 

“Kita istirahat dulu!”

“Oke!”

Aku langsung mengambil botol minumanku dan menenggaknya sampai habis. Benar-benar menyenangkan kalau sudah berfutsal ria. Lebih menyenangkan lagi kalau bisa bermain dengan Minhyuk. Aku cukup lelah dengan sandiwara kami.

Kalau bersandiwara di sekolah, oke lah! Aku masih bisa melakukannya. Tapi di luar aku masih harus berakting membenci Minhyuk. Uwaaaa! Sudah beberapa bulan ini aku tidak berkunjung ke rumah Minhyuk. Andai rumah Key tidak terletak persis di depan rumah sekaligus restorannya Minhyuk.

Dan dengan begitu, aku juga jadi jarang bertemu dengan Minhyun nuna. Umm, bogoshipo! Aku merindukannya. Ia sempat mengirimiku sms. Tumben sekali sih nuna mengirim sms. Dia menanyakan kenapa aku jarang main ke sana lagi. Aku balas saja karena sibuk. Dan setelahnya nuna tidak pernah mengirim sms lagi. Hhhh, nuna memang tidak suka berkomunikasi via ponsel.

Dari arena futsal, aku bisa melihat sosok Minhyuk dan Jungshin sedang berlari. Ke mana mereka berdua? Gelagatnya panik sekali.

 

 

Jungshin pov

 

“Kau! Kau mencoba mengangkat dua truk dengan kedua tanganmu, tetap saja kau bakal tertiup angin!”

Si pendek itu mau mati, huh? Kurus-kurus begini tenagaku banyak!

Ah sial! Malang sekali nasibku bermusuhan dengan orang yang tidak sepadan. Tapi sikapnya itu yang sangat menyebalkan.

Aku tahu saat itu ia sedang menawariku makan miliknya dan maksudnya –mungkin- baik. Tapi aku tersinggung dengan kata-katanya. “Makanlah! Kau ini kurus sekali, sih? Baru pertama kali aku melihat orang sekurus kau!” Masa aku tidak tersinggung dengan kata-katanya? Ya tersinggung, lah! Aku balas saja sambil tersenyum, “Kau sepertinya lebih butuh makanan itu! Mungkin makananmu itu bisa menaikkan ukuran tinggi badanmu!” Dan sejak itulah kami berperang

Dan jika saat aku mengunjungi rumah Jonghyun hyung, aku merasa masuk ke dalam kandang macan. Aku ke sana bukan untuk bertemu macan tentunya, aku ke sana karena ajakan kucing kutub –Jonghyun hyung. Tapi selain karena si Jjong alias liliput, aku juga rada merasa risih jika ada kakak perempuannya Jonghyun hyung. Entahlah! Aku sering mendapati dia sedang menatapku jika aku dan Jonghyun hyung sedang ngobrol di ruang tamu. Mungkin si manusia liliput itu yang menyuruhnya memata-mataiku.

Kegiatanku mengangkat barbel terhenti begitu mendengar suara musik dengan volume maha dahsyat. Aku tahu lagu ini. Lagunya LMFAO. Dan aku juga mengenal nada gitar listrik yang entah kenapa terdengar merusak lagu shuffle itu. Dan ini nada gitar yang baru Jonghyun pelajari dari Jay sonsaeng.

“Liliput?”

Ia berhenti melompat-lompat dan menatapku dengan tajam. Duh, percuma deh kau skipping terus-terusan. Masa pertumbuhanmu sudah berhenti.

“Apa sutet?”

“Berhenti mengataiku sutet!”

“Kalau begitu berhenti mengataiku liliput!”

Hell!

“Pembinamu membuat ulah lagi!”

Ia terlihat bingung dengan ucapanku, tapi tak lama ia menyadarinya.

“Pembinamu juga sama kacaunya!”

Ia pergi dan aku mengekor cukup jauh darinya. Tapi di tengah perjalanan menuju ruang klub, aku melihat Minhyuk sedang duduk selonjoran di pinggir lapangan basket sendirian. Sedang apa dia di sana?

 

 

Taemin pov

 

Aku keluar dari dalam ruangan kepala sekolah dengan sebuah map. Tidak lupa memasang headphone putih kesayanganku ke kepalaku.

Olimpiade? Aku ingin ikut sih, tapi kenapa mesti bentrok dengan jadwal latihan SHINee? Kalau memilih olimpiade atau SHINee, tentu saja aku memilih SHINee. Karena hanya SHINee-lah yang bisa memberikanku kebahagiaan.

Aku merupakan yang paling muda di grup itu, bahkan aku juga paling muda dari murid-murid SMA Hanseoul. Aku tidak tahu mendapat dari mana otak jenius yang kini tertanam di kepalaku. Padahal ayah dan ibu tidak pintar-pintar amat. Yah, inilah yang namanya keajaiban. Sepasang itik hitam dewasa bisa melahirkan angsa putih.

Tapi pintar-pintar begini, aku juga bingung kenapa aku bisa jadi orang yang polosnya tidak ketulungan. Anggota CNBLUE cukup sering menggunakanku untuk mengerjai grupku sendiri dan SHINee malah menggunakanku yang notabenenya adalah member SHINee untuk menjadi umpan balas dendam. What a pity!

Hari ini aku ingin menari. Tidak tahu kenapa, ingin saja! Maka dari itu aku melangkah menuju ruang klub.

Ada apa ramai-ramai di depan ruang klub musik? Aku melepas headphone-ku dan seketika terkesiap karena musik bervolume kencang begitu menusuk gendang telingaku. Pantaslah ada keramaian di sana, sumber biang masalahnya memang ada di ruang klub musik.

Sambil menutup telingaku, aku mencoba menyusup dari gerombolan-gerombolan murid-murid. Dan di saat yang bersamaan, orang-orang yang biasa menghuni kedua ruangan yang saling bersebelahan itu muncul.

“Heh! Kapan sih Eunhyuk sonsaeng berhenti berulah?” tanya Yonghwa hyung tanpa menoleh pada Onew hyung. Onew hyung sendiri enggan untuk menjawab, memutar kedua bola matanya dan aku yakin sekarang ia menggerutu kesal di dalam hatinya.

“Pasti Jay sonsaengnim yang mengganggu duluan!” jawab Jjong hyung.

“Kau diam saja, pendek!” sahut Jungshin hyung.

“Kau, kau! Iya kau memang tinggi dan sebaiknya kau diam saja! Kau itu menyebalkan, sama seperti orang-orang sejenismu!” Key hyung kayaknya jadi ikutan panas. Entah karena terbawa suasana atau merasa tersinggung dengan ucapan Jungshin hyung.

“Duh! Ibu-ibu ke pasar saja sana!” Jonghyun hyung merespon ucapan Key hyung yang memang terkesan bawel. Key hyung jadi kalap. Kalau tidak ada Minho hyung mungkin bakal terjadi perang. Yeah, Minhyuk hyung juga, pembawaannya tenang. Aku tahu hanya Minho dan Minhyuk hyung yang masih waras, termasuk aku juga sih.

Sang kedua leader memposisikan dirinya di depan pintu ruang klub dan secara kebetulan membuka pintu itu dalam waktu yang bersamaan. Permainan gitar berhenti, disusul musik dari tape juga ikut terhenti.

“YAAA!” seru sang kedua leader.

 

-tbc-

12 thoughts on “CNBLUE vs SHINee (chapter 1: Background)

  1. huakakakakakakak sumpah yee baca nih epep bikin ngakak ngakan sendirian dikamar xD
    suka deh bagian Jungshin sama jjong yang marahan, mereka benci benci rindu (?) huahahaha dan key juga menghibuuurrr :*
    Jonghyun mah udah pasti kerenlahyaaaa *ngebela suami sendiri*
    part selanjutnya jangan kelamaan yaaa eon😀 i like it

  2. Wahh akhir’a ff yg sya tunggu” brkibar(?) jg…:D
    suka dehh bgian liliput amha mnusia sutet.. Kekeke~xD
    btw, druang klub musik ada ava’an thor..?? *penasaran*
    lnjut y thor… Hwaiting^_^

  3. akhir’a datang juga udah ditunggu2,,,he3

    konflik’a lengkap bgt jd mesti ekstra konsentrasi biar masuk kecerita,,,,,
    aq g byk koment pokoke mantappppppppppppp

    semangat 45 ya author,,,,chapter selanjut’a menentukan takdir CNBLUE vs SHINee
    penasaran bgt nih

    hwaiting >_o

  4. ahirnya keluar juga ff yg ditunggu.. paling lucu pas baca yg bagian jungshin ama jjong xD
    seru lah ceritanya ^^ ditunggu lanjutannya deh

  5. waaaah big war nih~~~bagus deh dibuat masing-masing POV gini.
    penasaran sama si cast cewenya, jadi next part nya jangan terlalu lama ya ^^
    and,,, itu minhyuk main basket pasti keren bgt bgt bgt *mimisan banyanginnya
    good FF ^^

  6. ngakak pas bagian jungshin ma jonghyun, kocak bgt. walau aku engga tau apa itu sutet, tp dgr namanya aja bikin ketawa. hhahaaha…
    dan it taemin tinggi bgt IQnya, melibihi einstein.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s