CNBLUE vs SHINee [Chapter 2: AMBULANCE!]

Title: CNBLUE vs SHINee (chapter 1: Background)
Author: mmmpeb
Rating: T
Genre: AU, general, school life
Length: chaptered
Main Cast:
– CNBLUE
– SHINee
– SUJU Eunhyuk
– TRAX Jay
Disclaimer: my plot!
Prev:
*******************************

Author pov

 

“CHAERIM!”

Yang merasa namanya terpanggil menoleh ke belakang. Dilihatnya seorang murid laki-laki dengan rambut hitam legam berlari menghampirinya. Ia tersenyum menyambut kehadiran pria itu.

“Annyeong, oppa!” sapanya sambil melambaikan tangannya.

Tanpa risih, Yonghwa merangkul bahu Chaerim seperti biasanya tanpa mempedulikan tatapan iri dari murid-murid perempuan di sekitar. Ia lebih mementingkan gadis di sampingnya kini karena ia menyukai jantungnya yang berdebar-debar jika di dekat Chaerim.

“Oppa! Aku bisa-bisa mati di tangan fansmu!” kata Chaerim. Ia berusaha menyingkirkan tangan Yonghwa. Sudah bisa ditebak Yonghwa lebih kuat.

“Peduli amat! Yang mati kan kau, bukan aku!”

Yonghwa mengacak-acak puncak kepala Chaerim sebelumnya dan barulah berlari sebelum mendapat bogem mentah dari Chaerim. Baru saja Chaerim ingin mengejar, langkahnya terhenti begitu mendapati Chagyeong sedang jalan berdampingan dengan Onew. Mereka berdua sedang asik berbincang hingga sadar seseorang telah menghalangi jalan mereka.

“Chaerim? Annyeong!” sapa Onew dengan mataya yang menyipit karena tersenyum.

Sebisa mungkin ia tersenyum pada Onew. “Baru sampai?”

“Uh huh!” Onew mengangguk. Kemudian ia menatap Chaerim dan Chagyeong secara bergantian. “Aku duluan, ya! Key bisa ngamuk-ngamuk padaku kalau tidak sampai di klub dalam lima menit.”

Kedua gadis kembar itu mengangguk secara serempak.

“Jangan lupa ajari aku matematika nanti istirahat!” kata Chagyeong.

“Oke!”

Onewpun pergi. Mata mereka mengikuti ke mana tubuh Onew pergi hingga menghilang. Chaerim langsung menoleh pada Chagyeong dan begitupun sebaliknya.

“Matematika?” tanya Chaerim dengan sarkastik, “Matematikamu bahkan yang terbaik di kelas, kenapa masih perlu bantuan Onew oppa? Cari perhatian!”

Chagyeong menyeringai. Ia merasa puas telah membuat kesal kembarannya sendiri. “Wae? Cemburu, ya?”

Chaerim menggeleng.

“Tidak cemburu? Lalu untuk apa kau menyukai Onew oppa? Bodoh!”

Chagyeong berjalan dan dengan sengaja menyenggol bahunya dengan bahu Chaerim hingga beranjak dari posisinya beberapa langkah. Chaerim memandangi tubuh belakang kakaknya itu dengan nanar. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang jelas, Bang Chaerim membenci Bang Chagyeong.

Tak jauh dari sana, dari balik tembok Yonghwa terus saja mengamati Chaerim yang tidak bergeming. Ia mengerti bagaimana perasaan gadis itu kini. Tersisih.

“Kau tidak menghampirinya, hyung? Ia butuh hiburan!” seru seseorang tiba-tiba dari belakang. Ia mendengus kesal memandang Jonghyun.

“Ia hanya butuh sendiri.”

“Chaerim sama sepertimu, tahu! Cinta bertepuk sebelah tangan!”

“Lalu?”

“Tidak apa-apa, sih! Cocok saja! Pasangan bertepuk sebelah tangan. Kalian bisa galau bareng.”

Jonghyun terkekeh. Guitar case milik Yonghwa hampir saja akan mendarat di kepalanya kalau saja niat Yonghwa memang tidak bercanda. Ia tidak menyukai istilah itu. Cinta bertepuk sebelah tangan? Lihat saja nanti, akan ia buktikan kalau Chaerim akan menjadi miliknya.

 

 

“HYUUUUUNG! Akhirnya kau datang juga! Aku bilang kan lima menit, kenapa malah lima belas menit? Kau ke mana saja tadi? Aku menunggumu, tahu tidak sih? Aku benci menunggu, kau tahu itu kan hyung? Harusnya-“

“STOP!”

Ocehan Key terhenti begitu mendengar Minho berteriak. Namja berambut pirang itu menoleh pada Minho yang sedang berbaring di sofa panjang.

“Aku sedang sakit kepala, Kibum! Aku bisa kena kanker otak mendengar suara bawelmu tiap hari!”

Baru saja Key ingin marah-marah, Onew langsung mencegahnya. “Sudahlah! Sekali-sekali tidak bicara terlalu panjang lebar tidak apa-apa, kan?”

“MAKSUDNYA?”

“Kenapa kau menyuruhku buru-buru ke sini?”

Key ingin sekali protes, tapi ia urungkan dan iapun menunjuk dua sosok di pojok ruangan yang sedang asik menonton sesuatu. Onew ikut menoleh. Dan jika Jjong, Eunhyuk dan laptop bersatu, sudah bisa ditebak apa yang sedang terjadi.

“YAH!”

Dua orang itu tidak bergeming sama sekali dengan teriakan Onew karena merasa sangat amat terlalu disayangkan jika scene yang sedang ditunggu-tunggu terlewat begitu saja. Mereka tidak sadar kalau mereka telah membangunkan beruang di masa hibernasinya.

Onew langsung membungkuk di hadapan mereka. Ditekannya tombol kecil di sisi laptop dan keluarlah sebuah kepingan DVD yang sempat berhasil membuat mereka takluk setengah mati untuk beberapa saat. Di saat yang bersamaan mereka menengok pada Onew.

“KAU!” kata Jjong dan Eunhyuk berbarengan.

“Ini sekolah, ingat itu!” seru Onew. Dengan kedua tangannya yang kuat, dengan sekali gerakan ia mematahkan DVD itu hingga terbelah menjadi dua. Dua makhluk itu merana seketika. Sebuah keping DVD yang baru Eunhyuk beli kemarin dengan harga yang terbilang tidak murah.

Eunhyuk berdiri dalam sekali hentakan hingga membuat lututnya terantuk dengan sudut meja cukup keras. Ia tahan rasa sakit itu agar wibawanya tidak hilang. “Kau berani melakukan itu pada gurumu, huh?”

Onew menoleh pada Eunhyuk. Dipandanginya guru mesum itu dengan remeh. “Sekarang kau membawa-bawa nama guru! Haduh, sonsaengnim! Kapan sih kau dewasanya?”

“Dia sudah dewasa, tahu!” bela Jjong. Ia masih kesal pada Onew.

“Dewasa apanya? CD dewasa itu tidak memberi jaminan kita sudah dewasa atau tidak! Tsk! Kau tahu? Aku kena tegur kepala sekolah tadi karena ulang sonsaeng dua hari yang lalu. Sound system rusak. Dan kita harus menggantinya. Kau tidak mau menggantinya sendiri kan, Eunhyuk sonsaengnim?”

Orang yang menjadi tersangka utama kini hanya menunduk dan mengangguk dengan pelan. Kalau seperti ini, terlihat Onew yang lebih cocok menjadi pembina klub.

“Baguslah! Jangan berbuat hal konyol lagi! Sound system, pintu yang rusak, kaca pecah, semua yang terjadi selama ini karena ulahmu dan Jay sonsaeng, bisa-bisa kau merusak sekolah ini.”

Onew berbalik membelakangi Eunhyuk sembari mengacak-acak rambutnya. Ia berjalan menuju sofa. Disingkirkannya kaki panjang Minho dan ia duduki sofa itu. Memang, tidak ada yang berani melawan Onew jika ia sedang marah, Key saja bahkan dibuat tercengang. Tumben sekali namja bermata sipit itu bicara lebih dari lima kalimat dalam satu paragraf.

“Wah, kok hening? Tumben!”

Semua mata menoleh pada Taemin di ambang pintu kecuali Onew. Ia menyadari pasti barusan Onew sehabis memberi kuliah pendek.

“Wah, anakku sudah datang! Kau bawa apa itu?”

Key berusaha mencairkan suasana dengan berbicara riang. Ia menghampiri Taemin dan langsung merebut kotak itu. Dibukanya tanpa seizin Taemin dan terlihat sebuah remot yang sudah terbelah dua. Remot yang sangat dikenali Key. Remot tape yang sudah menemani mereka semenjak mereka menginjakkan kaki di ruang klub sebagai sebuah grup dari SHINee.

“Kau dapat dari mana ini, huh?” tanya Key dengan gigi yang saling beradu, menandakan kalau dirinya sedang kesal.

“Oh, aku menemukan ini di depan pintu ruang sebelah. Karena tulisannya Untuk Taemin makanya aku ambil.”

Di waktu yang sama, tepat di sebelah ruang SHINee, Jungshin dan Jay tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal. Misi mereka berhasil. Kedua tangan mereka saling beradu dan menimbulkan suara plok cukup keras.

“Ada apa kalian tertawa begitu?” tanya Jonghyun yang baru muncul, diikuti Yonghwa di belakangnya.

“Kami baru saja memberi hadiah pada teman kita di ruang sebelah!” jawab Jungshin.

Jonghyun langsung tertarik dengan pimbacaraan itu. Ia menghampiri Jungshin dan menuntut cerita.

“Apa? Apa?”

“Tadi pagi-pagi sekali aku meminta kunci ruang sebelah pada Pak Han dan aku mengambil remot hijau di sana. Kami buat remot itu jadi dua belahan dan isi-isi remot itu tumpah ruah! Hahaha! Kalau mereka memang pintar mereka pasti bisa menyusunnya kembali.”

“Memangnya kau bisa?” tanya Yonghwa yang sibuk mengeluarkan gitar falcon-nya dari guitar case tanpa menoleh pada Jungshin sedikitpun.

“Yaaa, enggak sih! Tapi kau harus tahu, hyung! Kepala sekolah marah-marah karena amplifier rusak.”

“Salah siapa?”

Jungshin seketika menoleh pada Jay. Jay hanya memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Jungshin.

“Jay sonsaeng, sih!”

Deal with it! Kenapa kau jadi membawa-bawa mereka. Bisa-bisa mereka-“

BRAK!

Semua kepala di ruangan itu sontak menoleh ke arah pintu yang terjeblak kasar.

“Tuh kan mereka ngamuk!” sambung Yonghwa atas ucapannya yang terputus tadi.

Onew berjalan memimpin, diikuti empat rekan tanpa adanya si pembuat onar yang lain -Eunhyuk.

“Maksud kalian apa merusak remot ini?”

“Remot apa yang kalian maksud?” tanya Yonghwa tanpa mengalihkan pandangannya dari gitar putih miliknya.

“Remot ini!” Onew membanting remot-terbelah-dua itu ke lantai. Yonghwa yang sejak tadi sibuk dengan gitarnya mau tidak mau ikut menatap remot itu. Kalau kondisinya sudah begitu ya mana bisa diperbaiki?

“Kau punya bukti kalau kamilah yang merusaknya?”

“Tidak ada! Tapi kami yakin kalianlah yang merusaknya!”

Kepala Yonghwa mendongak. Ia mendesis kesal. Diletakkannya gitar kesayangannya dengan hati-hati di samping dan kemudian ia bangkit berdiri.

“Oh ya? Kalian tidak bisa menuduh kami yang melakukannya jika tidak memiliki bukti. Itulah hukum! Nilai Kewarganegaraanmu (?) tidak jelekkan, JIN-KI-SSI?” kepala Yonghwa merangsek maju di sela penekanan saat mengucap nama orang yang dibencinya.

Onew bukan tipikal orang yang tempramental. Ditahannya emosinya dengan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

“YA! Kami menemukannya di depan ruangan kalian. Itu sudah pasti kalian!” Key yang ingin sekali maju menggantikan posisi Onew langsung dicegah oleh Minho. Sebenarnya Minho tidak mau terlibat kalau saja Jjong tidak memaksanya turut hadir.

Jonghyun yang tadinya diam saja kini mulai membuka suara dinginnya. “Menemukan di depan ruangan kami bukan berarti yang melakukan adalah kami, kan? Bisa saja ada pihak yang membenci kami sehingga ia ingin nama kami jelek di mata kalian. OH! Jangan-jangan kalian hanya mengada-ada. Tolong cari cara yang lebih bagus sedikit, jangan yang murahan seperti itu!”

Jjong hanya menatap nanar mata kembarannya. Bagaimana bisa ia memiliki sosok kembaran yang bicara begitu dingin. Sungguh berkebalikan dengan Jjong yang dikenal periang.

“Seperti yang sudah-sudah! Kami yakin kalianlah yang melakukannya! Ayo kita pergi dari sini!” Onew berbalik dan mendorong orang-orang yang berdiri di belakangnya untuk menyingkir dari ruangan itu. Key lagi-lagi ingin protes. Melihat death glare Onew, ada baiknya ia memilih menurut.

Begitu mereka menghilang, Yonghwa ikut memberikan death glare-nya pada Jungshin.

“Puas kau?”

Jungshin yang sejak tadi hanya diam, bibirnya mulai mengembangkan sebuah senyuman.

“Puas! Yeah!”

Jungshin menoleh pada Jay dan mengangkat kedua tangannya ke atas.

High five!”

 

 

Istirahat tiba dan benar seperti apa yang Chagyeong ucapkan tadi, Onew datang ke kelas si kembar untuk mengajari Chagyeong matematika.

“Oppa! sini!” seru Chagyeong begitu melihat Onew yang memang sedang mencarinya di ambang pintu. Begitu mata mereka bertemu, Onew langsung saja berjalan menghampiri Chagyeong yang duduk di depan. Ia menarik kursi lain dan memposisikan diri di samping Chagyeong. Siapa yang tidak kesal melihat kedekatan mereka? Pandangan iri tertuju pada mereka, termasuk Chaerim dan Author. Chaerim yang lebih duduk di belakang hanya diam. Pensil mekanik digenggamannya hampir patah.

Sepuluh menit berlalu. Bagi Chaerim seperti sudah seabad lamanya ia mendekam di kelasnya sendiri. Melihat dan mendengar betapa manjanya seorang Bang Chagyeong. Ia tahu Chagyeong sengaja ingin membuat Chaerim kesal dan itu berhasil.

Chaerim bangkit berdiri. Diambilnya ponsel miliknya dengan kasar dan dengan langkah cepat ia berjalan menuju tempat manapun. Melewati Chagyeong dan Onew begitu saja. Onew tentu saja menyadarinya. Ia cukup hafal dengan postur tubuh orang yang ia kenal sejak enam tahun yang lalu.

“Chaerim? Kau mau ke mana?”

Chaerim yang mendengar pertanyaan itu hanya diam saja tanpa menghentikan langkahnya barang sedikitpun. Berpura-pura tidak mendengar. Yang ia pikirkan adalah atap sekolah agar ia bisa menangisi kebodohannya sendiri.

Atap sekolah memang selalu menjadi tujuan Chaerim jika ia ingin menyendiri. Dan Yonghwa tahu itu. Ia datang begitu tadi melihat Chaerim dengan langkah cepat dan kepala menunduk melewatinya yang ingin menyapanya begitu saja. Sekaleng soda ia sodorkan tepat di depan wajah Chaerim. Gadis itupun mendongak.

“Oppa!”

“Kenapa lagi kembaranmu?”

Chaerim mengambil kaleng soda itu. Yonghwapun duduk di sampingnya. Ia siap mendengar semua unek-unek yang akan dilontarkan Chaerim. Kalau tidak tentang Chagyeong, ya tentang Onew. Namja itu sudah hafal betul.

“Aku kesal melihat Chagyeong bersikap manja pada Onew oppa!”

Bola mata Yonghwa spontan berputar tanpa sepengetahuan Chaerim. Seperti dugaannya.

“Kapan sih kau mau berhenti berharap pada si Onew itu?”

“Sampai aku tidak merasakan rasa sukaku lagi pada Onew oppa!”

Chaerim membuka pengait kaleng minuman itu. Dan dalam tiga detik ia berhasil menghabiskan minuman itu.

“Wah, kau haus sekali, ya? Harusnya aku membawa satu dus! Kekeke!”

“Tidak lucu!”

Yonghwa berhenti terkekeh begitu melihat muka masam Chaerim. Merubah suasana memang bukan keahlian Yonghwa, apa lagi jika Chaerim yang dihadapinya kini. Ia harus belajar banyak dari mood maker Jungshin.

“Sudahlah! Aku malas menghadapi sahabat yang bisanya hanya murung karena orang lain. Ayo tersenyum!”

Yonghwa merengkuh kedua pipi Chaerim. Ditariknya kedua ujung bibir gadis itu hingga membentuk sebuah –yang bisa dikatakan- senyuman. Chaerim menepis tangan Yonghwa dan ia tersenyum dengan sendirinya.

“Gomawo, oppa!”

“Ya, ya! Simpan saja ucapan terima kasihmu! Sahabatmu yang tampan ini hanya ingin melihatmu tertawa bukan ucapan terima kasih. Tsk!”

Tergambar ekspresi kesal di wajah Yonghwa yang justru membuat Chaerim tersenyum. Betapa beruntungnya ia memiliki sahabat seperti Jung Yonghwa.

“Oppa! Aku peluk, ya?”

“Bayar!”

Chaerim memeluk Yonghwa begitu saja. Angin tiba-tiba saja berhembus cukup kencang. Membuat rambut mereka sedikit melayang mengikuti arus angin tersebut.

“Terima kasih kau selalu ada di saat aku susah!”

That’s what friends are for!”

Kau bukan hanya sekedar teman. Kau sudah kuanggap seperti kakakku sendiri!”

DEG!

Betapa menyakitkannya kata-kata Chaerim barusan bagi Yonghwa. Kakak? Namja itu justru berharap lebih dan Chaerim tidak pernah menyadari itu. Kenapa kata kakak lebih menyakitkan ketimbang teman jika dari keluar dari mulut Chaerim?

 

 

Minho pov

 

“Hari ini aku tidak latihan, ya! Maaf!”

Musik berhenti. Taemin yang sejak tadi sudah memulai aktivitas hariannya terpaksa berhenti menari begitu melihatku.

“Mau ke mana, hyung?” tanya Taemin padaku sambil mengelap keringat di sekitar wajah dan leher dengan handuk merah kecil.

“Aku harus menemani umma. Ia ingin membeli segala perlengkapan untuk Minseok hyung!”

“Oh, hati-hati! Salam untuk bibi!”

“Oke!”

Aduh, maafkan aku, Taeminie! Aku tidak bermaksud berbohong pada dongsaeng kesayanganku. Tapi kalau aku cerita yang sebenarnya pada Taemin, bisa-bisa yang lain tahu ke mana aku pergi.

Aku berbalik, bermaksud meninggalkan ruangan. Namun seseorang muncul dan menghadang jalanku.

“Kok masih pakai seragam? Mau bolos?” tanya Kibum menyelidik. Seragamnya sudah terganti dengan pakaian yang biasa ia pakai untuk latihan.

“Tsk! Kau bicara seperti aku selalu saja membolos! Kali ini saja, Kibum! Dah!”

Aku melambaikan tanganku padanya dan bergegas pergi sebelum mendapat ceramah panjang lebar dari Kibum. Duh, bisa-bisa aku mendekam seharian jika berhadapan dengan ocehan dia.

Hari ini aku dengar Minhyuk tidak masuk. Aku mencoba mengiriminya SMS tapi tidak dia balas-balas. Lihat saja nanti, pasti alasannya karena tidak punya pulsa.

Tidak perlu panjang lebar. Sekarang aku sudah sampai di depan restoran milik keluarga Minhyuk. Dan kutatap restoran gaya Perancis yang terletak persis di depannya. Aku tidak pernah masuk ke sana. Dan jika Key mengajak ke rumahnya, aku selalu saja menolak dengan alasan bervariasi. Bisa gawat kan kalau ayahnya tahu aku adalah teman Kibum dan tahu-tahu sekarang ia menangkap basah aku ke rumah Minhyuk. Bisa ditendang aku dari SHINee.

“Selamat sore, paman!” sapaku pada ayah Minhyuk yang sedang tidak melakukan apa-apa. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling restoran. Sepi sekali. Restoran seperti ini memang akan ramai saat jam kantor usai, mengingat lokasi restoran yang tidak jauh dari beberapa perkantoran.

“Minho-ya! Sudah lama sekali kau tidak ke sini, nak! Mencari Minhyuk, kan?”

Tidak juga, sih! Aku juga mencari nuna.

“Iya! Dia kenapa, paman?”

“Badannya sedang tidak enak katanya! Aku heran dengan anak itu! Katanya sakit tapi sejak pagi tadi yang ia lakukan hanya bermain.”

Itu mah bukan sakit, tapi menghindar dari yang namanya sekolah.

“Maklum saja, paman! Mungkin dia bosan hanya berbaring saja. Kalau begitu aku ke atas dulu!”

Ayahnya Minhyuk tersenyum padaku. Sudah cukup lama aku tidak ke sini. Sepertinya sejak kami sekolah di SMA itu. Hari ini saja aku ke sini setelah aku melihat situasi. Untungnya hari ini Key latihan dan setahuku sepulang nanti dia bakal ada les.

Kubuka pintu kamar Minhyuk yang terletak di lantai dua. Dan pemilik kamar sepertinya tidak sadar ada tamu yang tidak diundang datang.

TOK TOK

“Boleh aku masuk, tuan?”

Minhyuk spontan menoleh ke arahku. Dan kemudian kembali bergelut dengan psp-nya. “Masuk saja!”

Sial! Dia benar-benar menganggapku pelayan, huh?

Kulempar ranselku di sampingnya dan duduk sambil memandangi Minhyuk yang lebih menyayangi psp ketimbang sahabatnya sendiri.

“Kau mau apa ke sini, Choi Minho!”

Benar-benar sialan dia! Dia tidak tahu ya aku khawatir padanya.

“Aku menjengukmu, bodoh! Tsk! Kau tidak sakit ternyata!”

“Kalau tahu aku tidak sakit, lalu kenapa kau datang menjengukku? Siapa yang bodoh sekarang?” lagi-lagi Minhyuk bicara tanpa mengalihkan pandangannya pada alat kecil itu.

“Kenapa tidak bilang kalau kau tidak sakit? Aku mengirimimu sms tapi tidak kau balas-balas!”

“Oh, itu! Aku sedang tidak punya pulsa! Aku malas mengikuti pelajaran bahasa Inggris.”

Apa aku bilang tadi, kan?

“BRENGSEK!”

Aku terlonjak bergitu mendengar umpatan Minhyuk yang begitu keras. Minhyuk yang terlihat seperti anak baik-baik dengan tingkah laku yang sopan santun, tidak ada yang tahu kalau ia bisa begitu kasar hanya karena sebuah permainan. Dan hanya akulah yang tahu itu, teman masa kecilnya hingga sekarang.

“Permainan sialan!” Minhyuk melempar psp-nya sembarangan ke atas tempat tidur.

“Kenapa? Kalah?”

“Kau sudah tahu jawabannya!”

Aku terkekeh karena Minhyuk. Dia benar-benar sama sepertiku, kalau sudah kalah yang akan aku salahkan adalah permainannya. Kadang aku menyalahkan orang lain di sampingku yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.

“Minhyuk-ah! Ke mana nuna?”

“Tuh kan, kau ke sini hanya mau mencari nuna, kan? Kalau aku bilang nuna sedang kuliah, kau mau apa? Pulang?”

“Untuk apa lagi aku masih di sini? Kau tidak sakit dan… nuna belum pulang!”

 

 

Minhyuk pov

 

Apa aku bilang! Dia ke sini bukan sepenuhnya karena ingin menjengukku. Dia pasti rindu dengan Minhyun nuna, kekekeke!

Minho mengambil tas ransel miliknya dan bergegas pergi. Dia benar-benar pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Marah? Sepertinya hanya kesal. Kami memang biasa seperti ini. Besok juga dia sudah baikan lagi. Mana mau dia lama-lama musuhan denganku.

Terdengar suara pintu tertutup cukup kasar! Kekeke! Minho sedang kesal.

Mataku tidak sengaja melirik ponsel yang sejak tadi pagi sengaja kuacuhkan. Sebenarnya bukannya aku tidak memiliki pulsa. Aku hanya malas mengetik pesan dan aku yakin pesan yang aku dapat pasti banyak sekali. Nah, tuh kan! 251 pesan masuk. Bagaimana caranya aku membalas?

Aku men-scroll down beberapa pesan itu. Kebanyakan yang mengirim dari nomor tidak dikenal. Setelah kubuka pesan-pesan itu secara random, isinya serupa.

Aku dengar oppa tidak masuk? Wae?’

‘ Cepat sembuh, oppa!’

Kapan aku bilang aku sedang sakit? Ah, pasti Minhyun nuna yang memberitahu Yonghwa hyung dan BLASH… tersebar seperti virus.

BRAK!

Aku spontan menoleh ke arah pintu. Kenapa wajah Minho panik begitu?

“AMBULANCE! AMBULANCE!”

Kenapa orang ini? Aku tidak butuh Ambulance.

“Kau sakit, Minho-ya?”

“Maksudku ini gawat darurat!”

Minho menutup pintu kamarku dengan pelan lalu menguncinya. Oh, apa yang mau dia lakukan padaku?

“YAH! KENAPA KA-HMMMMPH!”

Minho membekapku. Dan tidak sampai tiga detik ia kembali melepaskannya.

“Kau ini kenapa sih?”

Aku hanya bisa bingung melihat tingkah Minho yang seperti monyet kelaparan. Lari ke sana kemari.

“Kau mau pisang tidak? Monyet saja kalah heboh denganmu!”

“Sembunyikan aku! ppali!”

“Wae?”

“Yonghwa hyung ada di bawah!”

AMBULANCE!!!!!!!!!!!!!!!!

TOK TOK TOK

CKLEK! CKLEK!

Gawat! Itu pasti Yonghwa hyung! Untung saja pintunya terkunci. Aduh, kalau ia tidak lupa mengirim sms padaku terlebih dahulu, kemungkinan sms-nya terselip diantara sms-sms lain. Minho semakin panik, terlihat dari mata bulatnya yang semakin bulat.

Aku menarik Minho dan menuntunnya masuk ke dalam kolong tempat tidurku. Kamar mandi sangat tidak aman.

“Minhyuk? Kok dikunci? Kau masih bangun, kan?”

“T…tunggu, hyung! Aku sedang tidak pakai baju!”

Tenang, Minhyuk! Tenang!

“Sejak kapan kau malu bertelanjang dada di depanku? Kau bahkan dengan bangga memamerkan barang sensitif milikmu!”

Sial! Dia pasti mengungkit itu. Sewantu mandi sehabis main futsal, aku memang menunjukkan ‘barangku’ padanya. Yeah, punyaku lebih besar. Setidaknya ada satu sisi yang bisa aku banggakan melebihi Yonghwa hyung yang bisa dikatakan hampir sempurna.

“Heh, tolol! Jangan melamun! Buka pintunya!” sayup-sayup aku mendengar bisikan dari bawah.

Aku bergegas menuju pintu. Menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dalam sekali hentakan. Kubuka pintu itu.

“Lama sekali! Apa yang kau lakukan di dalam, huh?” tanya hyung dengan matanya yang terpicing.

“Tidak ada!”

“Tsk! Kau mulai menonton film porno, kan?”

Yonghwa hyung berjalan menuju laptop yang aku letakkan di atas tempat tidur. Dan dari ambang pintu aku bisa melihat tas minho yang sepenuhnya tidak masuk! TIDAKKKKKKK!!! Jangan sampai hyung menyadarinya. Sedikit saja ada barang asing yang tidak pernah dilihatnya, maka dia akan bertanya-tanya.

Tapi syukurlah, sepertinya Yonghwa hyung tidak menyadarinya. Ia duduk begitu saja di atas tempat tidur dan kemudian meraba-raba permukaan laptopku.

“Kau tidak berbohong rupanya!”

Iyalah! Laptop saja tidak kunyalakan seharian ini, mana mungkin bisa panas sendiri.

“Ayahmu bilang ada temanmu yang sedang menjenguk. Kok tidak ada?”

Aish!

“Dia sudah pulang kok! Mungkin ayah tidak menyadarinya karena sibuk melayani pelanggan.”

“Sibuk apaan? Sepinya minta ampun begitu!”

Haduh! Aku harus menyembunyikan tas itu. Aku berlari menghampiri hyung. Langsung kutendang tas milik Minho dalam sekali hentakan dan muncul bunyi ‘bhug’.

“Apa itu?”

“Eung… mungkin tetangga sebelah yang sedang gebuk kasur!”

Bodoh! Alasan apa ini? Matilah kalau misalnya Yonghwa hyung tidak percaya.

“Oh!”

Aku mulai menghela nafas dengan lega.

“Ada apa kemari, hyung?”

Kunaikkan kakiku dan bersila seperti yang Yonghwa hyung lakukan.

“Sebenarnya aku agak terkejut pas mendapat pesan dari nuna kalau kau sakit. Melihat kondisimu seperti ini, kau pasti hanya menghindar pelajaran.”

Aku mengangguk. Yonghwa hyung memang orang yang selalu mengerti akan diriku selain Minho dan keluargaku.

“Ada kejadian apa di sekolah?” tanyaku mengalihkan topik.

“Hanya masalah kecil dengan SHINee! Mereka menuduh kita –CNBLUE- yang merusak remot mereka. Mereka menuduh dengan tepat, sih! Sayangnya tidak memiliki bukti.”

BHUG!

Lagi-lagi bunyi itu terdengar dari bawah, lebih keras dari yang tadi.

“Minhyuk, suaranya seperti dari bawah tempat tidurmu!”

CELAKA TIGA BELAS! Yonghwa hyung merangsek untuk mengecek kolong tempat tidur, tapi buru-buru kucegah.

“Bukan, hyung!”

“Tapi-“

“Hai, kalian!”

Kami sama-sama menoleh dan mendapati Minhyun nuna di ambang pintu. Oh, malaikatku datang!

“Hai, nuna!” sapa hyung.

Posisiku sangat bagus, duduk membelakangi Yonghwa hyung. Dengan gerak bibir aku berusaha memberitahu nuna kalau ada Minho di bawah.

“Kau ngomong apa sih, Minhyuk?”

“H…hah? Aku tidak ngomong apa-apa!” kataku sambil menatap Minhyun nuna dan Yonghwa hyung secara bergantian. Kembali kutatap nuna dan kali ini mataku berusaha memberitahu ada yang perlu diselamatkan di bawah.

“Hmm, Yonghwa-ssi! Sepertinya adikku butuh istirahat. Sebaiknya kau pulang saja, oke?”

Lagi-lagi aku menghela nafas lega kecil. Syukurlah kau sadar, nuna!

“Umm, oke!”

Yonghwa hyung langsung bergegas pergi. Ia enggan membantah pada si pengidap brother complex seperti nuna.

“Kau besok harus masuk, ara?” tanya Yonghwa hyung dengan tegas.

“Siap, bos!”

Yonghwa hyung menepuk bahuku dan kemudian ia beranjak dari kamarku. Tidak lupa ia membungkuk pada nuna sebelum ia benar-benar pergi.

Nuna berjalan menghampiriku dan kemudian tahu-tahu ia memukul kepalaku begitu saja.

“Ya!”

“Cih! Rahasiamu bisa terbongkar tahu!”

“Aku juga tahu! Si Choi Minho itu yang datang tiba-tiba!”

Dan lagi-lagi kepalaku dipukul.

“Kenapa sih kalian suka sekali memukulku?”

“Jangan salahkan aku! Salah kau yang tidak membalas pesanku.”

“Mana aku tahu kau mengirim sms. Pesanmu tenggelam, tahu!”

“Kenapa kalian jadi ribut-ribut, sih?”

Tiga kali kepalaku dipukul, dan satu kali untuk Minho.

“Nuna! Aku sedang sakit, tahu!”

“Kau pikir aku bodoh, huh? Aku juga pernah sekolah dan pernah bolos sepertimu! Alasan klasik untuk orang rakus sepertimu!”

Aku mendesis kesal. Tapi setidaknya nuna mau membantuku. Ya sudahlah, lupakan tiga pukulan maut darinya.

 

 

Aku, Minho dan nuna mengobrol banyak. Banyaaaaaaaaaak sekali, sampai-sampai aku merasa mungkin satu hari untuk kami belum cukup. Minho yang terlihat pendiam di sekolah sangat lain dengannya sekarang. Dia bawel, mengingatkanku pada si kunci. Bergaul dengannya ternyata membawa pengaruh banyak pada Minho.

Kami saling mengetahui rahasia kami masing-masing, dan karena itulah nuna juga tahu mengenai masalah akting bodoh yang aku dan Minho lakukan di sekolah. Tapi ada satu yang nuna tidak ketahui, satu-satunya. Minho menyukai Minhyun nuna. Dan Minho memintaku untuk merahasiakan itu dari nuna.

Sangat tidak kerasa waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Ayah menyuruhnya menginap di rumahku karena terhitung sudah beberapa bulan Minho tidak main ke rumah. Tapi besok kami harus sekolah dan tidak mungkin ia berangkat dari rumahku, kan?

“Aku pamit pulang dulu!”

“Hati-hati! Kau tidak bawa motor?” tanya ayah.

“Tidak, paman! Motorku di bengkel!”

Alah! Ia memang sengaja meninggalkan motornya di rumah yang letaknya empat kilo dari sini. Mau dia parkir di mana motor miliknya agar tidak ketahuan dari Key?

Alih-alih melihat Minho yang sedang berbasa-basi pada nuna, aku menoleh keluar dan- GAWAT! Aku melihat Key sedang menoleh ke arah restoranku, restoran yang sepenuhnya terlihat dari luar karena dinding kaca dan terangnya lampu. Dengan spontan aku menghalangi tubuh Minho.

Key tidak melihat Minho, kan?

 

-tbc-

10 thoughts on “CNBLUE vs SHINee [Chapter 2: AMBULANCE!]

  1. Astazim.. Minhyuk bangga”en avaan amha yonghwa thor..¿?? Hahahaaaa *ngakak*

    Gawatt!!
    ambulance ambulance thor… Hhaaa
    key liat minho kgx yahh?? Mmm.. Moga liat aja dehh biar tmbah rame msuhant’a… KekekexD

    Next ya thor… Hwaiting^^

  2. paling ngakak pas Jonghyun bilang : “Tidak apa-apa, sih! Cocok saja! Pasangan bertepuk sebelah tangan. Kalian bisa galau bareng.” kelanjutannya jangan lama-lama ya thoorr.😀

  3. makin seru…. ceritanya makin kompleks. well, jujur ya agak sedikit bingung karena cast nya terlalu banyak trus perpindahan POV nya terlalu cepet, but over all aku suka ceritanya🙂
    ditunggu part selanjutnya… oh ya di part selanjutnya si cewe kembarnya lebih banyak dimunculin ya🙂 fighting onn!!

  4. kyaaaaaa makin seru aja ceritanya nih..
    asli ajakan Jonghyun untuk galau bareng sepenuhnya buat aku ngakak, orang sedingin jonghyun bisa ngomong gitu xD
    ditunggu ya part selanjutnya part minho, jonghyun, minhyuk, onew dibanyakin yaaahhh #plaaakk abisnya mereka lucu sih hehe
    hwaiting eonn😉

  5. Padahal baca part satu nya di FFINDO , tapi baca part dua nya disini .. ga papa kan mpeb onnie ? ._.

    Ok , I will said it’s……
    SERU !!!

    Yeay, jadi tegang banget pas tau si minho hampir ketahuan sama si yong , apalagi pas adegan terakhir , si Key ngeliat si Minho kah ?

    Ah~ kenapa kalian haus saling benci-membenci ? Kalian harusnya berdamai… ayo..ayo..segera damai… hehe..😀

    Lumayan bingung , abis pov nya pindah cepet banget … tapi paling dapet feelnya pas baca scene nya si Minho-Minhyuk…

    Ditunggu..lanjutannyaaa….🙂

  6. penasaran penasaran mudah2an aja key engga lihat minho. kocak dah walaupun gda part jungshin sm jjong, tp partnya minhyuk sm minho jg kocak.
    penasaran jg sama crita yonghwa sm chaerim

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s