I Feel…

Judul: I Feel…

Author: Kim Hyura @putriaans

Rating:

Length: Chapter

Genre: G, Romance

Cast:

Han Soo Rim

Jung Yong Hwa

Other Cast:

Lee Jong Hyun

Shin Minwoo

Park Yihyun

Note: mian yah, lama. Authornya sempet ngeblank ide nih. Makanya semenjak dapat ide langsung buru-buru diketik terus publish deh ^^

 

 

“Soo Rim-a! bagaimana tadi? Apa menyenangkan?” suara yang kurasa Yihyun memanggilku dari luar kelas. Aku menoleh dan tersenyum padanya.

“Menyenangkan? Yah, sangat menyenangkan” aku menekankan pada kata ‘sangat’ dalam ucapanku.

“Apa itu berarti kebalikannya?” Yihyun tergelak. Aku pun begitu.

“Ah, aku malas berbicara tentangnya. Aku pergi dulu, ya.” aku berlalu dari hadapan Yihyun.

*** Dua minggu kemudian

Jung Yonghwa POV

Cuaca hari ini cukup bersahabat. Ekskul KIR disana (bahasa koreanya author gatau. Kekeeke~) sedang membuat media tanam hidroponik. Han Soo Rim mengusap peluhnya yang tak hentinya menetes. Ya, ekskul KIR lah yang dipilihnya kala ia sekolah disini. Tak jauh dari sana, aku sedang latihan gitar bersama Jonghyun.  Ada satu teknik yang belum kukuasai benar. Jonghyun sedang menerangkan apa itu aku tak tahu – aku tak begitu memperhatikan. Pandangan dan pikiranku terfokus pada Han Soo Rim.

Entah perasaan apa ini, hanya saja aku begitu menikmati memandangi wajahnya, memandangi setiap gerak-geriknya, dan sesekali aku terkikik melihat tingkahnya. Tingkahnya yang berjalan mundur-mundur lalu menabrak pohon, itu yang membuatku terbahak-bahak, bukan terkikik ataupun terkekeh lagi.

“Hyung! Ige mwoya?” pertanyaan Jonghyun tak kugubris sama sekali. Aku masih tertawa. Mungkin sekarang Jonghyun mengikuti arah penglihatanku. Tapi tampaknya ia tak menemukan apa yang kulihat. Tiba-tiba aku memberi gitarku pada Jonghyun dan langsung berjalan menghampiri Soo Rim yang masih mengusap-usap kepalanya. Sialnya, tak ada satupun anggota KIR lainnya yang menolongnya. Mungkin karena terlalu sibuk.

“Appo?” tanyaku saat tiba didepannya. Soo Rim menoleh dan mendengus tanpa menjawabku.

“Han Soo Rim-ssi, apakah terasa sakit?” aku bertanya lagi. Aku masih belum bisa berhenti tertawa.

“Puas kau? Jung Yonghwa-ssi?” balasnya ketus. Tawaku semakin keras.

“Dasar peniru. Kau ikut-ikutan memakai embel-embel ssi untuk memangggil orang.” Aku membalasnya lagi. Ia terdiam. Sudah kubilang kalau urusan adu-mengadu mulut akulah jagonya!

“A.. aww..”

Seketika tawaku terhenti ketika mendengar Soo Rim merintih sambil memegang keningnya. Aku melihat tangannya yang memegang keningnya, terlihat cairan segar berwarna merah mengalir dari sana. Aku mengangkat tangan Soo Rim, guna melihat lukanya. Benar saja, darah tak berhenti mengalir dari keningnya.

Dengan sigap kuangkat tubuh Soo Rim dan menggendongnya ke ruang kesehatan. Entah berasal dari mana pikiran untuk menggendongnya, yang jelas rasanya aku tak mau melihatnya terluka lebih lama. Soo Rim terbelalak kaget hingga tak mampu berkutik. Begitupun dengan para anggota KIR yang kulewati begitu saja saat kami – aku dan Soo Rim – menuju ke ruang kesehatan. Aku tak peduli lagi. Aku tak peduli apa pandangan orang, yang ada di pikiranku sekarang hanyalah bagaimana caranya darah segar yang mengalir dari kening Han Soo Rim berhenti mengalir.

Author

Yonghwa sedikit berlari saat menuju ke ruang kesehatan. Sesekali ia melirik ke arah Soo Rim yang tak hentinya menatapnya dengan tatapan tak percaya. Yonghwa berdecak kesal, kenapa ruang kesehatan begitu jauh letaknya dari taman belakang sekolah? Tiba-tiba saja Yonghwa merasa kesal kenapa sekolah milik keluarganya sangatlah luas.

“Ng.. Yonghwa-ssi, bisakah kau turunkan aku? Kau pasti merasa pegal.” Soo Rim buka suara. Yonghwa menatap Soo Rim, dan memberikan tatapan – jangan banyak bicara, ikuti saja – karena ia yakin Soo Rim pasti mengerti telepatinya. Selama ini mereka lebih sering berkomunikasi melalui telepati kan? Soo Rim pun memilih diam.

::

“Kau duduk disini dulu. Jangan banyak bergerak sampai aku datang. Ok?” ujar Yonghwa yang langsung berlalu mengambil kotak P3K di sudut ruangan. Soo Rim menurut saja. Entah kenapa hatinya berkata ia harus mengikuti apa yang dikatakan Yonghwa saat ini karena itu merupakan yang terbaik. Kalaupun tubuhnya mau berontak apa daya, kekuatan hatinya lebih besar.

“Diam ya. Ini memang akan sedikit perih, bersabarlah.” Yonghwa berkata pada Soo Rim yang masih saja menurut akan ucapannya. Perlahan, Yonghwa mencelupkan kapas kedalam larutan antiseptik dan dioleskannya perlahan di kening Soo Rim.

“A –“ Soo Rim mengangkat tangannya, hendak mengambil alih kapas dalam genggaman Yonghwa.

“Diam.” Dengan kata itu, Soo Rim kembali bungkam.

“Bagaimana? Masih sakitkah?” tanya Yonghwa setelah menyimpan kotak P3K di tempatnya semula. Soo Rim mengangguk perlahan.

“Mianhae. Mungkin tenagaku terlalu kuat.” ujar Yonghwa. Raut wajahnya terlihat sedih.

“A.. ani. Bukan begitu maksudku..” tukas Soo Rim cepat. Tak ingin Yonghwa merasa bersalah karenanya.

“Lalu? Maksudmu apa?”

“Ng.. molla. Ah ani ani, nan gwaenchana. Ye, nan gwaenchana.” Soo Rim mengibas-ngibaskan tangannya, pertanda ia baik-baik saja. Kata-katanya yang agak aneh merupakan buah dari kesalahtingkahannya sejak beberapa menit lalu.

“Ah, Soo Rim-a, sudah sore. Lebih baik kau segera pulang. Kuantar ya?” tawar Yonghwa setelah terdiam beberapa saat. Ia tahu ia tak pandai mengubah suasana, tapi menurutnya mengganti topik dan mengubah suasana bukanlah hal yang berbeda jauh. Masih satu keluarga lah..

“Ani, Yonghwa-ssi. Aku dijemput.” tolak Soo Rim. Yonghwa mengangkat sebelah alis. Soo Rim mengangguk.

“Kalau begitu ayo kita kembali ke tempat tadi. Gitarku masih ada disana” ajak Yonghwa. Soo Rim mengangguk. Dan mereka berjalan beriringan keluar ruang kesehatan.

GUBRAKK

Yonghwa dan Soo Rim terbengong melihat para anggota KIR serta Jonghyun ada di depan pintu ruang kesehatan. Sebenarnya itu bukan hal besar, tapi posisi mereka semua layaknya ingin mengintip apa yang terjadi pada Yonghwa dan Soo Rim. Dan suara GUBRAKK itu adalah suara yang berasal dari para pengintip yang saling menindih saat melihat Yonghwa dan Soo Rim akan keluar ruangan. Mereka terlalu terburu-buru ingin bersembunyi. And then, tumpang tindih pun tak terelakkan lagi.

“Sedang apa kalian?” tanya Soo Rim polos. Sesekali tangannya memijit keningnya yang terasa berdenyut.

“A..ani. Hanya memastikan kalian berdua dalam keadaan amat sehat sentosa. Karena kalian memang dalam keadaan aman, maka kami akan berbalik pulang. Annyeong!” Jonghyun mengutarakan alasan yang cukup aneh. Yonghwa dan Soo Rim saling menatap satu sama lain. Dan ketika mereka kembali menatap ke para pengintip itu, semuanya sudah lenyap.

“Aigo.. cepat sekali mereka semua kabur..” gumam Yonghwa yang diikuti dengan kikikan kecil Soo Rim yang manis. Mereka pun kembali meneruskan tujuan utama mereka, yakni ke taman belakang sekolah sambil tertawa bercanda.

Im Sora POV

Yong, kau hebat. Daebak! Gomawoyo, ne? Jeongmal jeongmal gomawo. Kau benar-benar memenuhi keinginanku – demi kebaikan kita berdua. Aku tak henti hentinya tersenyum sembari tetap melihatmu dari atas sini. Meskipun terdapat rasa nyeri yang sangat menusuk di hati ini.

Tapi itulah yang terbaik untukmu. Mm.. setidaknya kau tertawa lagi. Semenjak aku pergi, tertawamu dalam setahun dapat dihitung jari. Dan semuanya bukan tawa suka cita, melainkan tawa hambar yang dipaksakan. Tapi kali ini berbeda, tawamu renyah, penuh suka cita, dan kau benar-benar menikmatinya. Bagaikan masakan, tawamu bagai zuppa soup, renyah diluar, lembut didalam, dan dapat membuat orang yang memakan akan merasakan kenyamanan dan kehangatan dalam setiap suapannya. Dapat membuat darahmu berdesir, dan jantungmu berdegup kencang, dugeun dugeun, Yong!

Haha, mungkin zuppa soup contoh yang aneh. Dan kalimat terakhir paragraf diatas lebih dari aneh. Tidak nyambung! Kekekeke~  (biarlah, toh sang author yang bikin :P)

Pokoknya sejauh ini aku mulai bisa tenang. Kau tahu, seluruh keluargaku, temanku, sahabatku, sudah bisa merelakanku pergi. Tapi aku belum bisa tenang jika kau belum bisa merelakanku sepenuhnya. Ketika kau kesepian, kau pasti menggenggam foto kita yang di museum itu, lalu kau berbicara pada foto itu seolah dia itu aku dan akan menjawab semua yang kau katakan.

Dan bagiku, rasanya menyakitkan. Aku merasa sakit saat kau genggam foto itu, lalu berbicara padanya dan menganggap foto itu memberikan jawaban. Padahal? Nihil. Kenapa aku merasa sakit? Karena aku merasa gagal sebagai kekasihmu. Aku teringat janji kita, selalu bersama apapun yang terjadi. Dan aku mengingkari janji itu. Mungkinkah kita bersama lagi saat ini? Mungkinkah aku menarikmu ke alamku? Atau aku kembali ke alammu? Itu takkan mungkin. Tapi jika kau ke alamku itu mungkin.

Aku tak setega itu, Yong.

Aku tak ingin namjachinguku tercinta ikut mati karena yeojachingunya mati. Lalu masalah selesai. Kita hidup bahagia di alam selanjutnya. Begitu? Ya memang kau sering berkeinginan macam itu. Tapi jangan pernah lakukan itu, Yong! Jangan sampai kau menyesal! “Lebih baik menghindari penyesalan daripada merasakannya.” Iya kan? Itu yang selalu kau katakan setiap aku dan kamu diberi dua pilihan yang sama-sama penting, yang sama-sama berarti, dan yang sama-sama berat.

Aku selalu hidup, Yong. Meski ragaku tak bisa lagi berada di sisimu. Meski suaraku takkan pernah keluar lagi. Meski senyumanku takkan bisa kau lihat lagi. Aku akan tetap hidup bersamamu. Tepatnya di hatimu.

I always love you and I always with you forever. Don’t worry honey, Ok?

 

 Jung Yonghwa POV

Begitu sampai rumah aku langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhku di kasur yang empuk. Aku menatap langit-langit kamar dengan penuh minat. Tidak biasanya aku begini. Aku merasa aneh tetapi aku enggan menghentikannya. Pikiranku melayang ke peristiwa-peristiwa yang kualami.  Senyumku tersungging sempurna di wajahku yang tampan saat aku teringat peristiwa tadi, saat Soo Rim menabrak pohon. Ah, aku bukan tersenyum saat menertawakannya, aku tersenyum ketika aku menggendongnya ke ruang kesehatan. Jantungku memompa darah di tubuhku lebih cepat saat itu. Darahku berdesir. Dan wajahku terasa panas. Ah, perasaan apa ini?

Eh tunggu. Jantung memompa darah lebih cepat, darah berdesir, wajah terasa panas? Bukankah itu yang kurasakan dulu saat aku menyukai.. ani mencintai Sora?

Aku suka Han Soo Rim?

Tak mungkin! Ini gila. Baru beberapa hari lalu kami bertengkar lalu secepat itu aku menyukainya? Mustahil!

“Tak ada yang mustahil di dunia ini, Yong” aku teringat ucapan Sora kala itu. Jadi benarkah aku menyukai Han Soo Rim? Ah, ani ani ani! Hanya Sora, hanya Sora. Ingat itu Yong!

Buru-buru kutepis pikiran aneh itu. Aku tak ingin memikirkannya lebih lanjut. Aku tidak mau aku benar-benar menyukai Soo Rim nantinya. Kupejamkan mataku, berusaha tidur. Awalnya pikiranku masih berpikir ke pikiran aneh itu. Buru-buru kutepis lagi. Dan akhirnya aku bisa tidur nyenyak.

***

“Yoboseo?” ucapku di telepon.

“Yong.” aku mendengar suara yang takkan mungkin kulupakan seumur hidupku. Suara yang telah mengisi hariku sejak empat tahun yang lalu. Suara yang sudah tak terdengar lagi sejak hari itu di tengah hujan. Suara yang hilang, yang membuatku terpuruk akan kenyataan pahit ini. Dan aku tak percaya aku dapat mendengarnya lagi sekarang. Senyumku mengembang seketika.

“Sora?”

“Kenapa kau tak memanggilku jagiya lagi heh?” suara diseberang sedikit mengomel. Mengomel manja. (gimana caranya mengomel manja?)

“Kau? Sora? Benarkah itu? Benarkah?” aku tak menghiraukan omelannya dan beralih ke topik lain. Mataku berbinar sekarang.

“Ne. joneun Sora, Im Sora. Your yeojachingu. Enough?” aku terbelalak mendengarnya. Jantungku berdebar keras yang mengeluarkan suara dugeun dugeun yang sangat kencang hingga aku yakin debaran jantungku ini dapat terdengar hingga sekolah. (#plak terlalu lebay). Darahku berdesir dan mengalir cepat ke otakku. Otakku menerima sinyal bahwa aku harus segera menemuinya, melepaskan rinduku padanya yang begitu mendalam.

“Kau dimana sekarang? Aku ingin menemuimu jagiya..” tuturku polos. Sora terkikik manis. Kudengar ia mendesah pelan.

“Baiklah. Aku tunggu kau dibawah pohon tempat kita jadian dulu ne? tapi waktuku tak banyak, aku sibuk. Jadi cepatlah datang!” suara Sora terdengar riang.

KLIK

Telepon diputus. Dengan cepat Yonghwa mengganti pakaiannya. Pakaiannya yang tadi hanya berupa kaus lengan panjang dan celana putih segera berganti dengan kemeja putih berdasi hitam dan dibalut dengan jas hitam. Celana yang dipakainya pun berwarna hitam. Sepatunya, jam tangannya hitam. Entah mengapa saat ini ia hanya ingin memakai hal berbau hitam.

“Sora?”

 

                                                                                                       

 

6 thoughts on “I Feel…

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s