Thank U (Gumawoyo)

 

Title : Thank U (Gumawoyo)

Author : Qadrisa

Rating : T

Genre : Romance

Length : Drabble

Main Cast : Kang Minhyuk and Lee Ji Eun

Disclaimer : Asli! Buatan sendiri.

Note : Aku baru pertama kalinya buat fanfic. Jadi, maaf kalo ceritanya jelek dan sedikit tidak jelas. Fanfic ini juga udah pernah di post di blog aku sendiri. ^^

Seorang gadis sedang duduk ditaman. Sendirian. Ia memandangi bunga-bunga yang berada ditaman. Tanpa disadari, ia pun mulai menangis. Sepertinya, ia sedang merasakan luka yang sangat mendalam. Hatinya terasa sakit. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Mungkin, tidak akan ada yang bisa mengobati luka dihatinya. Dia tidak tahu lagi apa yang akan ia lakukan setelah ini?. Otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku sudah tidak tahan lagi, batinnya. Tanpa berpikir panjang lagi gadis itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ternyata, ia mengeluarkan sebuah pisau. Ia menatap pisau itu sambil menangis tersedu-sedu.
“Umma, Appa. Mianhae.” katanya.
Tangisannya semakin deras. Gadis itu memang sudah benar-benar tidak bisa berpikir jernih lagi. ‘Mianhae’ kata itulah yang terus dia ucapkan. Ia pun mengarahkan pisau itu ketangannya. Ketika itu, seseorang menahan tangan si gadis. Ia sangat kaget dan pisaunya pun terjatuh. Ia melihat ke arah orang yang menahan tangannya. Saat melihatnya, gadis itu langsung mengernyitkan matanya. Dia pun langsung melepaskan tangannya dari genggaman orang itu.
“Jangan lakukan ini!” kata orang itu.
“Minggir sana! Jangan halangi aku. Biarkan aku mati!” Si gadis mendorong orang yang menghalanginya itu hingga terjatuh.
“Jebal! Jangan lakukan ini.” kata orang itu dengan nada memohon.
“Kau tidak berhak mengatur hidupku. Aku tidak suka diatur olehmu!”
“Jangan melukai dirimu sendiri.”
“Aku bilang, minggir! Menjauh dariku!”
“Aku mohon Ji Eun-a.”
“Ya! Minhyuk Oppa. Apa kau tidak mendengarnya?! Kubilang…”
Omongan Ji Eun terhenti saat tiba-tiba dia dipeluk oleh Minhyuk. Dia berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Minhyuk. Tetapi, lelaki itu menahannya dengan sangat kuat.
“Lepaskan aku!”
“Aku tidak akan melepaskanmu. Kau boleh memukuli diriku, kau boleh membenciku. Tetapi, jangan sekali-kali kau mencoba untuk bunuh diri. Karena itu tidak ada gunanya. Itu semua tidak akan mengobati luka dihatimu Ji Eun-a. Sebaliknya, itu akan semakin melukai hatimu. Jadi, jangan pernak melakukan hal konyol ini lagi. Aku tidak mau kau terluka.”
“Lepaskan!”
“Tidak akan aku lepaskan, sebelum kau sadar. Kau bukan Ji Eun yang aku kenal selama ini.”
“Apa maksudmu?”
“Ji Eun yang aku kenal tidak akan berbuat seperti ini.”
“Ya! Oppa. Lepaskan aku! Aku tidak bisa bernapas!”
“Aku akan melepaskanmu. Tetapi, kau harus berjanji tidak akan melakukannya lagi. Kalau kau ingin menangis, menangislah sepuasnya. Aku akan selalu ada untukmu.”
Ji Eun pun menangis dipelukan Minhyuk. Ia menangis sejadi-jadinya. Saat dipelukan Minhyuk, dia merasa hangat. Dia tidak merasa sendiri lagi. Sedikit demi sedikit, luka yang ada dihatinya terobati berkat Minhyuk.
“Oppa…”
“Ne, Ji Eun-a.”
“Gumawo.”
“Eemm..untuk apa?”
“Gumawo, karena kau telah mengobati luka dihatiku. Mianhae, aku telah berbuat hal yang bodoh.”
“Gwaenchanha, jangan diulangi lagi, ne? Semua masalah pasti ada jalan keluarnya.”
“Ne, Oppa. Gumawo, jeongmal gumawo.”
Minhyuk melepaskan pelukannya dari Ji Eun. Dia pun tersenyum melihat Ji Eun. Ia menghapus semua air mata yang membasahi wajah gadis itu.
“Sudah merasa baikan sekarang?” tanya Minhyuk. Ji Eun pun mengangguk sambil tersenyum.
“Ne, Oppa.”
“Sekarang, kau bisa ceritakan semuanya kepadaku, kenapa kau bisa seperti ini?”
“Keunddae…”
“Ayolah Ji Eun-a, ceritakan saja. Aku siap mendengarkan ceritamu.”
“Ini semua karena…Jonghyun Oppa.”
“Jonghyun Oppa?”
“Ne.”
“Bukankah dia adalah namjachingumu?”
“Dulu iya…tetapi, sekarang dia bukan lagi namjachinguku.”
“Mwo?! Waeyo? Bukankah kau sangat mencintainya Ji Eun-a?”
“Itu memang benar. Tetapi, kami baru saja putus, dan..itu semua karena Jonghyun Oppa lebih memilih Yoona Eonni.”
Minhyuk langsung kaget setelah mendengar penjelasan dari Ji Eun. Dia tidak habis pikir, seorang gadis yang berada didepannya ini hampir mencelakakan dirinya sendiri hanya karena seorang laki-laki.
“Mwo?! Jadi, itukah alasanmu sampai kau berbuat seperti tadi?”
“Ne, Oppa. Sekarang aku sangat menyesal.”
“Ya! Pabo. Sudah seharusnya kau menyesal!”
“Aishh…Oppa, jangan memanggilku bodoh. Kau juga tidak perlu meninggikan suaramu itu!”
“Sudah seharusnya aku seperti ini. Ji Eun-a, kau itu masih terlalu polos.”
“Aishh…” Ji Eun memanyunkan mulutnya.
“Aaa..jangan marah, aku hanya bercanda. Sudahlah, ayo kita pulang. Sudah hampir gelap, anak kecil tidak boleh pulang malam-malam. Haha..”
“Ya! Oppa. Jangan menganggapku anak kecil lagi! Aku sudak besar.”
“Benarkah? Buktinya kau masih pendek.”
“Mwo?! Aku, pendek! Oppa saja yang terlalu tinggi.”
“Ah, sudahlah. Ayo pulang!”
Mereka berdua pun pulang bersama. Minhyuk berjalan duluan, sedangkan Ji Eun mengikutinya dari belakang. Ji Eun diam-diam memandangi Minhyuk. Ia memandangi seorang namja dengan postur tubuh yang tinggi dan badan yang kurus. Sesosok senyum terpancar dari bibirnya. Gumawo Oppa, batinnya.
“Hey! Ji Eun-a.” Minhyuk melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Ji Eun. Yeoja itu oun tersadar dari lamunannya.
“Kenapa kau tersenyum sendiri?” tanya Minhyuk.
“Aahh..ani.”
“Kalau begitu ayo. Nanti kita ketinggalan bus.”
“Ne.”
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan menuju halte bus.

Di dalam hatinya, Ji Eun berkata, “Minhyuk Oppa, gumawo. Gumawo kau sudah membuatku tersenyum kembali, gumawo kau selalu ada disaat aku senang dan disaat aku sedih, gumawo kau selalu ada untukku. Aku sangat berterima kasih padamu. Gumawo Oppa, gumawoyo. Jeongmal gumawo. Aku tidak akan pernah bosan untuk mengatakan ‘gumawo’ padamu. Mungkun, aku akan mengatakannya setiap bertemu denganmu. Bahkan mungkin, setiap hari. Minhyuk Oppa, jeongmal gumawo. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu, bahkan sampai aku mati. Sekali lagi, gumawoyo!

– One month later-

 

Ditengah hamparan rumput hijau yang luas, terlihat dua orang berlarian dengan gembiranya.

“Oppa, ayo kejar aku. Haha..” kata Ji Eun yang sedang berlari-lari kecil.

“Baiklah, aku pasti bisa menangkapmu.” kata Minhyuk sambil berlari mengejar Ji Eun. Alhasil, mereka berdua pun saling bermain kejar-kejaran.

“Kena kau Ji Eun-a. Larimu cepat juga ya anak kecil. Haha..” kata Minhyuk meledek.

“Aisshh…Oppa! Berhentilah mengejekku!”

“Baiklah, chagiya.”

“Minhyuk Oppa,”

“Nde?”

“Gumawo.”

“Ji Eun-a, apa kau tidak bosan mengucapkan kata ‘gumawo’ terus kepadaku?”

“Ani, waeyo? Oppa tidak suka kalau aku terus mengatakan itu?”

“Tidak.”

“Hmm…jadi, aku harus berkata apa?”

“Katakan ‘saranghae’.”

“Mwo?!”

“Kenapa kaget? Kau tidak suka padaku? Kau tidak mencintaiku?”

“Ani, bukan itu maksudku.”

“Kalau begitu ayo cepat katakan!”

Ji Eun pun langsung membalikan badannya ke arah Minhyuk. Dia menatap mata Minhyuk dalam-dalam sambil mengembangkan senyuman manisnya, Minhyuk pun membalasnya dengan senyuman juga.

“Minhyuk Oppa, saranghaeyo. Jeongmal saranghae.”

“Ji Eun-a, nado saranghae.”

Mereka saling bertatapan mesra. Minhyuk pun mencium kening Ji Eun dan memeluknya. Rasa hangat dan nyaman selalu Ji Eun rasakan saat dipeluk oleh Minhyuk. Saranghaeyo Oppa. Gumawoyo, batin Ji Eun.

 

Thanks for the love you’ve given me.

I Love You.

 

 

-The End-

 

7 thoughts on “Thank U (Gumawoyo)

  1. waaaah.. Ngakak waktu minhyuk oppa bilang kalo jieun itu anak kecil soalnya masih pendek . Hahahaha kasian sekali IU eonnie . Hahaha
    Keren keren cingu . ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s