Fake Fiancee [Chapter 2]

 

Title          ::Fake Fiancee Chapter 2

Author      :: Ang11Rach

Rating       ::PG 17

Genre        :: Romance

Length      :: Chapter/Series

Main Cast ::

– Jung Yonghwa

– Shin Hyuna (OCs)

Other Cast::

– Yonghwa’s parents

– Jung Yunho

– Lee Ang Hyeon

Note    ::FF ini terinspirasi dari Fill-in Fiancee nya DeAnna Talcott. Ceritanya persis cuman ada beberapa amandemen *berasa UUD aja* semoga enak dibaca..hehehe mian klo lama update nya..beberapa minggu ini lagi ga ada koneksi internet nih aku…kekeke

 

“Let’s say kita berciuman sebagai segel dan bukti dari perjanjian dan rahasia kecil kita,” ucap Yonghwa saat napasnya mulai terasa menerpa pipi Hyuna.

“Aku janji akan menjaga rahasia,” Hyuna merasa pusing dengan kedekatan wajah Yonghwa yang memabukkan.

“Deal,” bibir Yonghwa menyentuh bibirnya pelan. Bibir Yonghwa terasa seperti kopi tapi yang mengejutkannya, terasa hangat. Mengejutkan mengingat tadi dia meminum kopi es. Saat Hyuna akhirnya membalas ciuman Yonghwa, Yonghwa memperdalam ciumannya. Ia merasakan kelembutan dan sensasi bibir Hyuna. Napasnya berubah menjadi pendek-pendek dan jantungnya terasa menggedor dadanya.

 

Tangan Hyuna berpindah ke bahu Yonghwa untuk menopang tubuhnya yang terasa lemas karena ciuman Yonghwa. Setelah beberapa saat yang hanya terasa beberapa detik bagi mereka berdua, Yonghwa menjauhkan diri dengan enggan bahkan saat bibirnya terus mencicipi bibir Hyuna.

Akhirnya Yonghwa menghentikan ciumannya dan menyandarkan dahinya di dahi Hyuna.

“Kurasa kita bisa melanjutkan sandiwara ini dengan baik. Keluargaku pasti percaya kalau kita tulus. Dan kalau aku tidak tau yang sebenarnya, aku sendiri hampir percaya hal itu,” ujar Yonghwa pelan.

***000***

Hyuna merasakan tubuhnya limbung begitu memasuki lift apartemennya. Hyuna biasa bertindak rasional, tidak secara impulsive seperti ini. Tidak pernah dalam  mimpinya yang paling liar sekalipun, ia bermimpi berciuman dan tinggal bersama putra seorang konglomerat yang lebih menyerupai pangeran baginya. Hyuna menatap kakinya. Oke, dia masih menjejak bumi, sedikit. Setidaknya ada sedikit kewarasannya yang amsih tertinggal.

Hyuna menatap pintu apartemennya sambil berpikir. Ia akan menyingkirkan namja itu dari otaknya dengan tekad sekuat baja. Ia tida mau menjadi korban ketampanan Yonghwa selama tinggal dengannya dan berakhir menjadi yeoja patah hati yang menyedihkan. Hyuna memasukkan kode apartemennya lalu membuka pintu. Aroma madu dan vanilla langsung menyelinap ke hidungnya, membawa efek menenangkan. Ia menarik napas pelan-pelan, memasukkan sebanyak mungkin aroma itu ke dalam paru-parunya.

“Ommm…” ia mendengar ayahnya. Sial! Appa pasti sedang bermeditasi lagi. Hyuna adalah penganut agama Kristen sejak ia masuk ke SMA dan hidup sendiri. Sejak kecil, orang tuanya tidak pernah mengajarkan tentang agama. Mereka terbiasa hidup di Negara sekuler dan sama sekali tidak percaya dengan agama yang terorganisir. Kalau mereka hidup bersama Hyuna sepanjang waktu, mungkin mereka bisa berteman baik dengan Kim Heechul dan Tan Hangeng, teman kuliah Hyuna yang juga atheis. (=.=)v

Hyuna membayangkan appanya duduk di tengah ruang tamu dengan posisi bunga teratai dan mata tertutup sambil mendupai dirinya sendiri.  Huff. Ia menghela napas. Itu salah satu alasan mengapa ia menyetujui ajakan Yonghwa untuk pindah. Ia butuh sedikit kenormalan. Hidup bersama salah satu namja paling popular yang ternyata putra seorang konglomerat mungkin tidak normal, tapi dijamin lebih tenang daripada hidup dengan keabnormalan orang tuanya. Sunny melepas sepatunya lalu masuk dan benar saja, ayahnya sedang memakai jubah pertapa bermotif polkadot (?) dan menyenandungkan Ommm  nya semakin keras karena terusik dengan kedatangan Hyuna.

“Eomma? Wangi apa ini? Apa eomma sedang membuat kue?” tanya Hyuna penuh harap.

“Ini harum vanilla sayang, tapi untuk lilin,” sahut eommanya dari balik dapur.

Hyuna berjalan menuju arah suara ibunya lalu terperangah melihat apa yang telah dilakukan ibunya pada dapurnya.

“APA YANG EOMMA LAKUKAN PADA DAPURKUUUU??” jerit Hyuna histeris.

Peralatan masak mahal yang susah payah ia beli dengan hasil kerja kerasnya berantakan, pintu rak lemari dapur terbuka menampakkan puluhan tumpukan lilin berbentuk memanjang aneh, bak cuci piringnya penuh dengan peralatan dapur kotor, sisa lilin memenuhi permukaan meja disana-sini dan diatas kompor, panci-panci dan Teflon mengilap karena lilin yang sedang dipanaskan. Lilin tumpah dan kering di bagian kompor dan lantai dapur. Emosi Hyuna memuncak dan ia sudah mencapai tahap frustrasi dengan ke’kreatif’an ibunya yang bersifat destruktif.

“Lilin, lebah dan bahan-bahan alami. Lihat!” sahut ibunya dengan bangga memperlihatkan lilin setinggi lima belas sentimeter yang berdiri miring.

“Eomma berusaha membuat menara pisa? Apa eomma tahu berapa harga panci-panci ini?” tanya Hyuna kesal.

“Pasti mahal, panci-panci itu menghasilkan panas yang merata. Apa kau lapar?”

Hyuna memilih mengabaikan ke’eksentrik’an ibunya lalu berjalan membuka freezernya dan menemukan tumpukan lilin lainnya.

“Menaruh lilin setengah kering ke freezer membuat pola retakan yang indah, kau tahu.”

“Uh-huh, tapi dimana makanan yang tadinya tersedia di kulkas ini?”

“Aku hanya membuang beberapa makanan yang mengandung bahan pengawet, pewarna, atau gula buatan atau zat tambahan lainnya yang tidak alami,” dengan kata lain, nyaris semuanya.

Hyuna menutup matanya lalu menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Satu lagi alasan yang membuatnya semakin yakin untuk tinggal bersama Yonghwa. Ia butuh makanan biasa, bukan yang hanya terdiri dari tofu dan kacang. Ia meraih kotak yang ditemukannya di balik tumpukan lilin.

“Setidaknya aku masih punya ini. I’ll nuke (memasak) this chicken nuggets in the microwave,” ujarnya sambil memindahkan isi kotak itu ke dalam satu-satunya piring bersih yang ditemukannya.

Hyuna melihat ibunya menatap ngeri kearah chicken nugget yang kecil dan menyedihkan itu,”Hyuna-ya, kurasa makanan itu tidak baik untukmu. Makanan itu mengandung bahan pengawet dan kau tidak pernah tau apa yang terkandung di dalam bahan utamanya.”

Tiba-tiba ayahnya yang tidak kalah nyentrik dengan ibunya bergabung dengan mereka di dapur.

“Hyun, kurasa nuke (nuklir) bukanlah kata yang bisa digunakan sesuka hatimu nak. Kata itu membangkitkan trauma tersendiri di Negara dunia ketiga dan kau tau sendiri apa yang terjadi di Jepang pada 1945.”

Hyuna memegang lekukan hidung diantara matanya dengan perasaan geli bercampur frustrasi,”Apa appa pikir salah satu mata-mata Jepang atau Korea Utara mungkin memasang alat sadap di dapurku dan sedang mendiskusikan tingkat bahaya pada rencanaku untuk memasak chicken nugget di microwave?”

Ayahnya terlihat menggelengkan kepala tidak setuju dengan sikapnya. Helaian rambut terlepas dari kuncir kudanya dan antingnya bergoyang sesuai gerakan kepalanya. Sunny bersumpah ayahnya pasti akan berteman baik dengan Kim Heechul, salah satu teman kuliahnya di California dulu. Mereka begitu serupa. Rambut gondrong yang tidak biasa untuk ukuran namja, anting-anting, atheis dan yang pasti kepribadian 4D yang begitu sama.

“Aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian,” ujar Hyuna setelah memasukkan piring dan menyalakan microwave.

“Aku mendapat tawaran dari teman sekantorku untuk pindah sementara ke apartemennya, setidaknya untuk beberapa saat.“

“Kau akan meninggalkan kami?” tanya ibunya.

“Hanya sementara eomma. Aku butuh ruang lebih.”

“Ruang itu relative. Kebebasan jiwa melampaui kebebasan fisik,” cetus ayahnya abstrak.

“Kurasa hanya ayah yang bisa menggunakan kebebasan itu. Apartemenku sedikit sempit sejujurnya,” kata Hyuna sungguh-sungguh.

“Sayang, kami kan tidak akan berada di sini selamanya. Kami akan segera pindah setelah menemukan rumah yang cocok di Jeju,” ujar ibunya.

“Dimana kami bisa hidup dari alam,” ayahnya memaparkan lagi impian idealis mereka.

“Aniyo, aku mengerti. I love you, mom, dad. Tapi kesempatan ini muncul tiba-tiba dan aku menerimanya begitu saja. Aku akan pindah besok,” kata Hyuna.

“Kenapa buru-buru?’ tanya ibunya tampak kecewa.

“Well, dia bilang besok adalah waktu yang tepat, jadi aku…”

“Apa dia namja?” tanya ayahnya.

“Err…ne,” jawab Hyuna ragu. Tiba-tiba ia kehilangan selera makannya. Sebenarnya ia tidak mau memberitahu orang tuanya kalau teman serumahnya yang baru adalah namja. Orang tuanya sudah menggerecokinya selama beberapa lama tentang kehidupan cintanya yang datar-datar saja atau bisa dibilang hampa. Hyuna tidak pernah terlihat dekat dengan namja karena selama ini lebih berkutat dengan pekerjaannya.

“Well, itu bagus,” ayahnya kini tersenyum lebar. Kadang Hyuna menyesali pilihan orang tuanya untuk hidup di Amerika dan Eropa. Pola pikir mereka menjadi terlalu liberal untuk ukuran orang Korea. Ayahnya bahkan merasa senang ia memutuskan untuk tinggal di rumah seorang namja. Apakah itu normal? Mungkin kata normal memang tidak bisa dituliskan dalam kamus yang sama dengan ayahnya.

“Sayang, kalau kau mau tinggal dengan namjachingumu, kami tidak akan keberatan,” kata ibunya geli.

“He’s not my boyfriend mom!” seru Hyuna.

Orang tuanya hanya tertawa menganggap reaksi Hyuna adalah reaksi gadis yang malu-malu karena ketahuan punya kekasih. Astaga!

“Kami hanya teman, sungguh. Lagipula, kalau aku punya namjachingu, aku tidak akan mau tinggal bersamanya. Aku ini masih berpikir seperti orang Korea, tidak seperti kalian,” Hyuna berusaha menjelaskan lebih lanjut.

“Well Hyun, like everybody says, if it feels right then just do it,” jawab ayahnya enteng.

***000***

Hyuna mengangkat semua koper dan kardusnya ke apartemen Yonghwa sendiri. Bukan karena Yonghwa terlalu sibuk atau tidak mau membantu, tapi karena ia tidak mau Yonghwa bertemu dengan orang tuanya. Mereka pasti akan menginterogasi Yonghwa dengan pertanyaan macam-macam.

“Ini sudah semua?” tanya Yonghwa ragu, melirik kedua koper Hyuna yang kecil dan tiga kardus sisanya. “Kau mungkin aka nada disini selama dua sampai tiga minggu.”

“Aku tidak terbiasa membawa banyak barang saat bepergian Yonghwa-ssi. Keluargaku terbiasa hidup berpindah-pindah sehingga kami tidak mau dibebani dengan barang yang terlalu banyak.”

“Itu bagus. Keluargaku persis sebaliknya. Sini kubantu membongkar pakaianmu. Aku akan menggantungkannya di lemari,” Yonghwa mengambil hanger dan membantu Hyuna menggantung pakaian kerjanya. “Kau tau, sebenarnya aku tidak keberatan membantumu memindahkan barang-barangmu kesini,” ujar Yonghwa lagi.

“Aku masih bisa melakukannya. Kalau aku memang butuh bantuan aku akan memberitahumu. Aku bukan orang pemalu,” cetus Hyuna.

Bohong. Kalau ia bukan pemalu kenapa ia menghabiskan sepanjang jam kerja hari ini untuk berjala menunduk melalui koridor atau bahkan menyelinap ke dalam lift? Itu karena ia tidak siap bertemu Yonghwa dan bingung harus bersikap bagaimana jika berhadapan dengan namja itu di kantor. Namja yang tidak begitu ia kenal tapi mendadak akan menjadi teman serumahnya.

“Jinjjayo? Kau bukan pemalu? Kukira ada bebetapa namja yang menyukai tipe pemalu yang manis. Aku, sebaliknya, menyukai tipe berani yang membuat hidupku lebih menarik,” ucap Yonghwa masih sambil mengambil pakaian kerja di koper Hyuna dan menggantungkannya di lemari.

“Well, kujamin hidupmu akan menjadi lebih menarik dengan pindahnya aku kesini.”

Yonghwa menghentikan aktivitasnya dan menatap Hyuna seakan Hyuna adalah objek menarik yang sedang ia teliti. Keningnya berkerut dan matanya menyipit,”Oh yeah? Tapi pakaianmu tidak terlalu berani, apakah itu bukan merupakan salah satu yang mencerminkan dirimu?” tanya Yonghwa blak-blakan.

“Apa maksudmu?”

“Well…” Yonghwa menunjukkan berbagai variasi warna yang mendominasi pakaian kerja dan pakaian lain yang Hyuna punya, off white, cokelat, khaki, beige,”sedikit membosankan. Aku akan membelikanmu pakaian,”  putusnya.

“Itu ide yang sangat menghina,” sergah Hyuna.

“Jelas. Tapi eommaku benar-benar punya selera desainer dan ia juga menyukai sedikit warna.”

“Aku tidak akan membeli pakaian baru untuk membuat ibumu terkesan Yonghwa-ssi,” ujar Hyuna.

“Gwaenchanayo Hyuna-ssi, aku yang akan membayar semuanya. Memangnya yeoja mana yang tidak suka belanja?”

“Aku.”

Yonghwa mengacak rambutnya frustrasi,”Oh ayolah. Aku hanya ingin ini berhasil dan orang tuaku terkesan padamu. Aku tidak bermaksud mengejek seleramu atau mengatakan kalau barang-barangmu bagus. Itu semua tidak menjadi masalah untukku dan kau sangat cantik mengenakan apapun juga, sungguh. Tapi aku tau apa yang lebih disukai ibuku Hyuna-ssi,” jelas Yonghwa panjang lebar.

“Aku tidak yakin itu harus dilakukan Yonghwa-ssi.”

“Hyuna-ssi, aku ingin memanfaatkan setiap taktik dan kesempatan yang ada untuk meyakinkan orang tuaku bahwa kau gadis yang tepat untukku. Ayolah, kau tidak akan membiarkan Seo Joohyun mengalahkanku hanya gara-gara kau tidak mau kubelikan pakaian dan barang kan?” bujuk Yonghwa.

“Tapi…”

“Lagipula, kita bisa sambil jalan-jalan dan saling mengenal sambil menghabiskan uangku di mall nanti.”

“Oh, oke. Terserah kau sajalah,” Hyuna akhirnya menyerah.

***000***

Kamar tidur kedua di apartemen Yonghwa hampir dua kali lebih besar daripada satu-satunya kamar di apartemennya. Di kamar itu Yonghwa telah memasang bed cover yang tebal dan lembut. Di depan tempat tidur ada lemari TV dan disampingnya ada lemari pakaian sebesar kamar mandi apartemen Hyuna.

Kamar itu didominasi warna merah dan emas. Begitu mewah dan nyaman.

“Kalau ada sesuatu yang kau butuhkan…”

“Ini lebih daripada yang aku bayangkan,” ujar Hyuna jujur.

“Aku harap kau merasa nyaman. Aku minta maaf karena hanya ada satu kamar mandi,” kata Yonghwa mengacu pada satu-satunya kamar mandi di apartemen itu yang terletak di antara kamar mereka.

“Tenang saja, aku tau cara berbagi,” jawab Hyuna.

Yonghwa tertawa padahal Hyuna tidak melihat ada yang lucu dalam perkataannya,”Mungkin. Tapi aku tidak,” katanya jujur.

“Ah, gaya hidup kaum kaya dan terpandang,” sindir Hyuna sambil pura-pura sibuk mengatur dua botol lotion di meja rias dengan kaca yang sangat besar.

“Apa itu?” Yonghwa mengambil botol lotion berwarna biru dengan penasaran dan membuka tutupnya. Ia mencium bau lotion itu,”Blueberry? Wanginya seperti dessert, hmm…”

Ia membalik botol itu dan menuangkan sedikit di telapak tangannya,”Sini tanganmu. Aku ingin tau bagaimana wanginya di tubuhmu setelah beberapa jam.”

Hyuna hanya menatap tangan Yonghwa ragu,”Errr…I don’t think so.”

“Come on. Kau tau kan kalau wangi selalu bercampur dengan unsure kimia dari tubuh pemakainya. Orang tuaku akan lebih percaya kalau aku mengatakan hal-hal remeh seperti ‘ah, Hyuna lebih suka aroma blueberry disbanding strawberry’ atau,” ia membungkuk dan melirik botol kedua,”night blooming cereus extract.”

Yonghwa mengendikkan kepalanya menyuruh Hyuna mendekat. Hyuna menyerah, tangannya terulur kearah Yonghwa.  Aliran darah dan jantung Hyuna seakan berdesir saat Yonghwa menyentuh tangannya. Yonghwa mengusapkan lotion itu dengan lembut dan perlahan, nyaris seperti memijat.

“Mulus,” komentar Yonghwa membuat Hyuna spontan menarik tangannya.

“Apa maksudmu?”

“Lotion ini. Sangat bagus. Aku akan memberitahu eomma bahwa pada malam hari kau beraroma seperti

Blueberry tart.”

“Tart? Blueberry tart?”

“Well, kita harus mengatakan sesuatu yang remeh seperti itu. Segala sesuatu yang detail dan cenderung sederhana. Semakin aku mengerti bagian itu darimu semakin mereka percaya aku tergila-gila padamu. Sementara tentang aku, kau hanya perlu mengoceh tentang mataku yang bagus. Mataku persis seperti mata ibuku. Dia akan senang jika kau memerhatikannya. Dan juga wajahku yang tampan.”

Akhirnya Hyuna mengamati mata Yonghwa yang sedang menatapnya. Matanya besar, dengan kantung mata yang terlihat jelas. Kesan pertama Hyuna melihat mata itu adalah mata itu memancarkan kesan bersahabat dan keceriaan, hampir jahil.

“Sudah cukup basa-basi kita ini. Ayo makan. Aku sudah menyiapkan steak sesuai pesananmu dan juga anggur untuk merayakan hari pertama kita,” kata Yonghwa mengajak Hyuna ke ruang tengah.

Hyuna terkejut mengetahuo kalau Yonghwa sudah menyiapkan meja lengkap dengan serber linen dan botol wine. Yonghwa berjalan memutar dan menarikkan kursi untuk Hyuna, membuat Hyuna menarik napasnya terkejut. Ia tidak terbiasa diperlakukan dengan begitu gentle. Astaga! Orang tuanya tidak pernah mengenalkannya pada pembedaan perlakuan berdasarkan gender. Hyuna duduk dengan canggung sementara menunggu Yonghwa duduk di depannya.

“Kita harus berlatih,” Yonghwa menjelaskan sikapnya tadi,”Untuk berjaga-jaga siapa tau kita harus makan malam di luar bersama orang tuaku,”

“kau berencana untuk berdipak penuh perhatian seperti ini? Sepanjang waktu?” tanya Hyuna.

Yonghwa nyengir,”Ini tidak akan membunuhku,” simpulnya enteng.

‘Tapi ini jelas akan membunuhku pelan-pelan,’ batin Hyuna. ‘Bagaimana bisa aku bertahan menghadapi ini? Bagaimana mungkin aku bisa tetap waras dan selamat saat ini berakhir?’

Mereka mulai makan.

“Lagipula itu tindakan yang tepat. Kurasa kau akhirnya akan melihat bahwa orang tuaku suka memastikan segala sesuatu ada pada tempatnya,” kata Yonghwa dengan senyum misteriusnya.

Keluarga yang sangat tradisional? Hyuna memutar bola matanya,”Kalau begitu bukankah seharusnya mereka sangat marah saat tahu kalau kita tinggal bersama?” tanyanya.

“Kurasa begitu,” aku Yonghwa,”Tapi disisi lain kita tau kalau kita tidak melakukan sesuatu yang salah.”

“Jadi, apakah kau selalu minum anggur saat makan malam?” tanya Hyuna mengubah arah pembicaraan karena mulai merasa tidak nyaman dengan pengertian kata salah yang ada di otaknya.

“Tidak juga. Aku tidak suka minum anggur tawar, aku lebih suka anggur manis. Tapi orang tuaku suka cabernet,“ jawab Yonghwa sambil menyerahkan mangkuk salad pada Hyuna *cabernet itu tawar rasanya aneh weekk*

“Aahh…” Hyuna mengangguk paham sambil mengambil salad lalu mengembalikannya ke meja.

“Bagaimana denganmu?” tanya Yonghwa.

Hyuna terkejut,”Aku? Aku tidak pilih-pilih.”

“Salah satu saja favoritmu.”

Hyuna menimbang ragu-ragu dan akhirnya memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya,”Aku tidak bisa Yonghwa-ssi. Aku tida pernah benar-benar minum anggur. Satu-satunya minuman keras yang kuminum hanyalah soju dan anggur beras murah yang tidak bermerek.”

Yonghwa lalu menuang anggur yang sudah tersedia di gelas dan tersenyum,”Cobalah.”

Hyuna mengambil gelasnya lalu mencicipi. Yonghwa menatap Hyuna dan menunggu reaksinya.

“Ini lumayan enak,” katanya sambil lalu membuat Yonghwa menganga.

“Apa yang lebih kau sukai untuk minum?” tanya Yonghwa.

“Jus jeruk?”

“Hanya itu? Aku kecewa. Anggur itu harganya empat puluh USD per botol dan aku tidak membuatmu terkesan sedikitpun,” Yonghwa mengerutkan keningnya sambil mengusap dagunya dengan ibu jari dan telunjuknya.

“Aku tidak datang kesini untuk dibuat terkesan olehmu Yonghwa-ssi,” kata Hyuna cuek dan meneruskan makannya.

Bibir Yonghwa mencebik dan matanya berkilat iseng,”Kalau begitu untuk apa kau berada disini nona?”

“Untuk mendapatkan akomodasi plus konsumsi,” jawab Hyuna blak-blakan.

Yonghwa terkejut dan terdiam. Dua detik kemudian ia tertawa terbahak dan menggeleng seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar,”Kurasa Sungmin hyung pernah mengatakan kalau kau ini terlalu jujur. Jujur saja aku lega kau tidak datang kesini karena aku.”

Yonghwa mengambilkan segelas jus jeruk dari kulkas untuk Hyuna lalu mengisi gelasnya sendiri dengan anggur tadi. Yonghwa mulai menceritakan banyak hal. Hyuna heran melihat betapa mudahnya Yonghwa berbicara. Ia sudah setengah yakin namja itu berbakat menjadi politisi atau mungkin memang dia suka berbicara?

Setelah makan Yonghwa mengatakan bahwa ia harus menelepon Yunho untuk memastikan tanggal kepulangan orang tuanya dan Hyuna lebih dari sekadar senang untuk kembali ke kamarnya sendiri. Kamarnya begitu nyaman dan Hyuna merasa ia akan betah hanya dengan berbaring dan memandangi kamar itu.

Setelah sekian lama akhirnya ia punya kamar sendiri. Kamar yang sunyi dan jauh dari keanehan orang tuanya. Ia menikmati suasana baru yang ia dapat dan merasa begitu cocok di apartemen dan kehidupan Yonghwa. Sudah jelas bahwa namja itu hasil didikan tradisional orang tuanya.

***000***

Pada tengah malam, Hyuna terbangun dan pergi menyeberangi lorong menuju satu-satunya kamar mandi di apartemen itu. Ia memang sering terbangun untuk ke kamar mandi malam-malam. Hyuna terkejut melihat Yonghwa melangkah keluar dari kamarnya pada saat yang bersamaan.

Yonghwa hanya mengenakan celana pendek dan handuk tersampir di bahunya menampung tetesan rambutnya yang basah. Walaupun tidak berotot seperti Lee Sungmin, putra pemilik perusahaan Sendbill Corporation tempat mereka bekerja, tapi tetap saja badan Yonghwa ramping. Hasil dari hobi basket dan snowboardnya saat masih sekolah dulu, kalau Hyuna mengingat cerita Yonghwa saat makan malam tadi.

Pikiran terbodoh Hyuna adalah Yonghwa sangat cocok menjadi artis atau model sampul majalah dengan menenteng gitar dan berpose cool. Mereka berdiri disana selama beberapa detik yang canggung, hanya saling menatap satu sama lain.

“Maaf,”akhirnya Yonghwa mengatakan sesuatu,”Aku baru saja mandi dan sudah hampir berganti baju saat menyadari kalau beberapa barangku tertinggal di kamar mandi.”

“Aku…terbangun,” sahut Hyuna lemah.

Senyum menggoda Yonghwa muncul,”Ternyata kau memiliki berbagai warna berbeda dalam koleksi pakaianmu.” Mata Yonghwa menelusuri piama merah-kuning yang Hyuna pakai untuk tidur.

Hyuna mendadak gugup, membayangkan penampilannya saat ini. Piama pudar dan longgar favoritnya yang selalu paling nyaman dipakai saat ia tidur.

“Err..yeah. That’s what American says ‘Red and Yellow, catch a fellow’..kau tau?” ujar Hyuna menyuarakan apa yang terlintas begitu saja di pikirannya.

“Maaf, aku belum pernah dengar. Tapi kurasa namja akan lebih tertarik pada sesuatu yang…” Yonghwa menghentikan kata-katanya dengan ragu, menatap piama itu lekat-lekat dan pikirannya teralihkan,”…lebih seksi.”

***000***

Yonghwa tau tidak seharusnya ia mengatakan apapun tentang baju tidur Hyuna. Itu melewati batas. Tapi ia tidak bisa menahan diri. Ia ingin tau apa yang tersembunyi dibalik piama yang sangat jelek itu. Well, bukannya ia berpikiran kotor, hanya saja ia masih namja normal.

Sejak Hyuna setuju berperan sebagai tunangan pura-puranya, Yonghwa bertanya-tanya, seperti apa penampilan yeoja ini saat tidak mengenakan warna suram dan membosankan. Piama yang ia lihat semalam benar-benar luar biasa menggoda imannya. Ia tidak bisa mengenyahkan bayangan itu dari benaknya dua jam setelahnya. Hyuna berdiri disana, dengan rambut berantakan dan piama yang jelas kedodoran. Lengan piama itu terlalu panjang dan menggantung melebihi tangannya. Garis lehernya sudah melebar menampakkan kulit putih Hyuna yang halus. Dibutuhkan seluruh kendali yang bisa dikumpulkan Yonghwa untuk mencegah tangannya merapikan leher piama Hyuna dan menyusurkan jarinya di kulit yang seakan mengundang itu.

Yonghwa mengatakan sesuatu tentang baju tidur yang lebih seksi, tapi sebenarnya itu hanyalah karena ia terprovokasi oleh piama itu. Tapi ia jelas harus mendesak Hyuna untuk membeli baju tidur lain karena kalau dalam satu kesempatan yang tiba-tiba, ibunya melihat piama itu maka ibunya akan segera tau kalau pertunangan ini pura-pura. Kecuali Hyuna hanya mengenakan atasan piamanya. Atasan itu begitu seksi.

YOnghwa menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan bayangan aneh dari kepalanya dan berkonsentrasi pada kemudi mobil. Yonghwa membawa Hyuna menuju sebuah mall dan memarkirkan mobilnya di tempat kosong pertama di area parkir yang dilihatnya. Ia mematika mesin dan memutar posisi duduknya lalu menatap Hyuna lekat.

“Waeyo?” tanya Hyuna bingung.

“Aku sedang berpikir darimana kita memulai make over ini,” tukas Yonghwa.

Hyuna cemberut,”Seharusnya aku merasa terhina.”

“Tapi aku tidak menghinamu. Dan kujamin ini pasti akan menyenangkan,” ujar Yonghwa sambil mengedipkan sebelah matanya dengan jahil.

Yonghwa membawa Hyuna ke bagian pakaian berkelas di mall itu, tempat yang hanya menyediakan buatan desainer dan desain terbatas.

Hyuna meraih sebuah blus dan langsung pucat pasi melihat harganya. Yonghwa mengambil gantungan baju itu dan mengembalikan ke tempatnya,”Tidak warna beige lagi. Aku bosan,” sergahnya.

“Tapi itu tadi cokelat.”

“Sama saja,” Yonghwa mengeluarkan dress berwarna merah cranberry dari pajangan. “Coba ini.”

“Merah?”

Yonghwa tersenyum,”Aku mendapatkan ilham semalam kalau kau tampak sangat mengesankan memakai warna merah.” *note : jangan bayangin kaya Yonghwa di WGM yang selera nya aneh. Anggep aja Yonghwa disini seleranya keren banget*

“Dan sesuatu berwarna biru. Biru aristocrat,”

Hyuna menoleh dari balik bahunya dan menatap Yonghwa membuat jantung Yonghwa mendadak melompat,”Hanya kau yang akan memilih warna-warna yang memiliki status social tertentu,” tuduhnya.

Seorang pramuniaga datang dan mengambil pakaian dari tangan Yonghwa.

“Saya akan membawakan pakaian-pakaian pilihan ini di ruang gantu.”

Yonghwa terus berjalan dan membebani tangan pramuniaga dengan baju-baju pilihannya.

“Ini akan makan waktu seharian,” keluh Hyuna.

“Aku tau sayang. Tapi memanjakanmu benar-enar membuatku senang,” ujar Yonghwa berlebihan.

Saat itu juga Hyuna menyadari ada ribuan yeoja di luar sana yang akan dengan senang hati bertukar tempat dengannya.

“Silahkan bawa itu ke ruang ganti,” ujar Yonghwa pada pramuniaga itu,”Dan kami juga pesan dua minuman ringan, apa saja.”

Saat pramuniaga itu pergi ke kamar ganti, Yonghwa menatap Hyuna dan meletakkan kedua tangannya di bahu Hyuna,”Kau tampak tidak menikmatinya, apa kau tidak menyukai pilihanku?”

“Semuanya bagus, hanya saja aku tidak membutuhkan itu semua. Demi Tuhan kau pasti mengambil belasan baju! Ini pemborosan!”

“Kau harus mengenakan baju yang berbeda setiap hari untuk bekerja dan setiap malam untuk bertemu orang tuaku, selama mereka ada disini, jadi apa salahnya?”

“Ini akan menguras banyak uangmu!” seru Hyuna.

“Tidak masalah. Anggap saja ini sebagai investasi untuk masa depan kita,” jawab Yonghwa enteng.

Yonghwa duduk di sebuah kursi kulit  yang sangat besar dan menunggu Hyuna mencoba pakaiannya.Ruang ganti itu sangat luas. Hyuna tumbuh dengan membeli pakaian di toko diskon yang hanya memiliki ruang ganti kecil dibalik tirai yang dipeniti. Disini, bahkan kacanya begitu besar dan aroma parfum ruangannya begitu lembut.

Hyuna sudah mencoba dua pakaian saat Yonghwa berteriak,”Kalau aku yang membayar, setidaknya aku harus melihat fashion show nya!”

“Okay. Aku akan keluar,” Hyuna menutup ritsleting dress merah cranberry yang tadi pertama diambil Yonghwa dan melangkah keluar untuk meredakan rasa penasaran namja itu. Saat ia keluar, Yonghwa memandangnya tanpa berkedip dengan mulut sedikit menganga.

“Aku suka itu. kau bisa memakainya saat makan malam atau saat menjemput orang tuaku di bandara.”

***000***

Setelah makan siang mereka berjalan-jalan lagi mengelilingi mall besar itu.

“Ayo, kita belum selesai,” kata Yonghwa. Hyuna merasa heran kenapa justru Yonghwa yang lebih bersemangat berbelanja.

“Bagaimana kalau kita melihat-lihat saja? Aku mulai merasa bersalah menghabiskan banyak uangmu. Rasanya seperti aku memanfaatkanmu.”

“Aku cukup cerdas untuk membedakan kapan seseorang mendekatiku untuk memanfaatkan aku dan tidak Hyuna-ssi. Dan aku tau pasti kau bukan orang seperti itu. Melihat-lihat itu menyenagkan.” Yonghwa menunjuk etalase lilin dan lampu,”Aku suka lilin.”

“Ibuku juga suka sekali lilin,” kata Hyuna mengakui.

“Memangnya kau tidak?”

Hyuna menahan senyum yang hampir muncul di bibirnya. Ibunya orang yang aneh yang bisa membuat hidup menarik dan menyenangkan tapi sekaligus menjengkelkan.

“Ibuku agak tidak biasa yonghwa-ssi. Mungkin nantinya juga kau akan bertemu dengannya akhirnya. Dia suka melakukan hal-hal yang tidak biasa. Minggu ini dia membaut lilin sendiri.

“Jinjjayo? Menarik sekali.”

“Menarik? Di dapurku yang indah? Dengan panic mahalku?” tanya Hyuna jengkel.

“Memangnya kenapa?”

“Semua barang di apartemenku beraroma seperti vanilla. Ternmasuk chicken nugget menyedihkan yang kumakan malam itu!”

Yonghwa tertawa geli,”Itukah sebabnya kau begitu wangi saat pindah? Tadinya kuharap kau akan memanggang kue di waktu senggangmu.”

“Lihat! Toko kulit! Siapa tau kita bisa mendapatkan dompet murah,” ujar Hyuna mengalihkan topic pembicaraan untuk mengihindari pembicaraan mengenai resep tidak lazim yang ditambahkan ayahnya setiap kali ibunya membuat kue untuk mereka.

“Bahan kulit untuk pengendara motor? Kurasa tidak.” Yonghwa meneruskan langkahnya.

“Nah ini baru cocok untukmu,” ia berhenti di depan sebuah toko pakaian dalam eksklusif. Pipi Hyuna otomatis memerah.

“Aku mendapat bisikan malaikat semalam bahwa…,” ia mengintip ke papan nama mewah di atas,”Intimate Apparel-mu perlu diperbarui.”

Hyuna menatap rangkaian celana dalam ibu-ibu, bra kawat berenda, gaun tidur seksi dan semua perlengkapan yang ada di dalam.

“Ibuku tidak boleh melihat piama flanelmu semalam. Tidak kalau kita ingin melanjutkan sandiwara ini,” ujar Yonghwa dengan senyum jahil.

“Yonghwa-ssi? Aku gugup setengah mati membayangkan kau tau apa yang aku pakai dibalik pakaianku.”

Yonghwa mendorong bahu Hyuna untuk masuk ke toko.

“Mungkin, tapi setidaknya dengan begitu aku tidak perlu menebak-nebak.”

Dari belakangnya, Yonghwa menunjuk sebuah gaun tidur paling provokatif yang ada di toko itu. Gaun tidur satin merah pendek dengan tali bahu kecil, garis leher rendah dan belahan tinggi di paha.

“Bagaimana kalau kau memeragakan itu sekarang? Hanya untuk melihat apakah cocok,” goda Yonghwa.

Hyuna menatap Yonghwa menantang,”Teruslah bermimpi!”

Yonghwa memasang wajah kecewa,”Begitu? Kalau begitu aku akan membayangkannya dalam mimpi-mimpiku sejak malam ini karena itu akan menjadi satu-satunya pakaian yang tergantung di lemarimu.”

tbc

 



18 thoughts on “Fake Fiancee [Chapter 2]

  1. awwwww seru beneran~
    jadi pengen baca cerita aslinya.
    yonghw di sini nakal dan usil, ga tau kenapa aku ngerasa cocok aja sama dia. lucky hyuna~
    ayo dilanjutkaaaaaaaan

  2. Woah…ff ni benar” membuat ku geregetan banget,suka…suka…suka…., apa lagi dengan karakter YongYong yg seperti itu, aku benar-benar suka karakter YongYong di sini,author daenak deh….

    Lanjutan nya jangan lama-lama ya… jebal……
    poko

  3. Wahh sumpahh sneng bgtt akhir’a ff yg dtunggu” muncul jg.. Hhehe^^

    yonghwa oppa mulae nakal ndt jail nihh, tp ttp lucu.. Kekeke~xD

    Bguz bgtt crita’a thor… Daebak!!:D
    next_
    jgn lma” yahh:DD

  4. di cerita ini kesannya yongppa itu co yg sedikit ‘nakal’, tapi itu keren bgt thooor… lanjuuuuuuuuuuuuut😀. lucky girl hyuna~

  5. Once you board many air tours, you ‘re going
    to see a lots of very beautiful attractions.
    The pool are may be considered to be essentially the most friendly for families with
    kids mainly because it includes a beach, wave pool, and all forms of other amenities that can be accessed from your rooms without going in the casino (a rarity in Las Vegas).
    You can also have a date towards the Olive and get a fantastic view with the fountains from there.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s