CNBLUE VS SHINee [chapter 3: FACTS]

Title: CNBLUE vs SHINee (chapter 1: Background)

Author: mmmpeb

Rating: T

Genre: AU, general, school life

Length: chaptered

Main Cast:

– CNBLUE

– SHINee

Disclaimer: my plot!

Prev:

[prolog+cast]

[chapter 1: Background]

[chapter 2: Ambulance!]

**********************************

 

Jungshin pov

 

BISA AKU PULANG SEKARANG? Horor banget masuk kandang musuh. Dari tadi ada saja perasaan seperti diintai. Di pojokkan sana, kakaknya Jonghyun hyung sedang membaca majalah. Tapi aku yakin sedari tadi ia hanya melihati kami. Mata-mata si liliput.

“Sudah mengerti, kan?”

“Sudah, hyung!” kataku.

Pulang latihan, aku meminta Jonghyun hyung mengajariku fisika. Ia tidak mau di tempat lain selain di rumahnya. Gawat kalau aku menolak hanya karena alasan pribadi –yah kalian tahu lah apa itu. Tugasku sulitnya minta ampun dan besok harus dikumpulkan. Satu-satunya yang bisa aku harapkan saat ini hanya Jonghyun hyung.

Ponsel Jonghyun hyung berdering. Ia mengangkat dan seperti Jonghyun hyung yang biasanya ia hanya diam jika sedang ditelpon. Jonghyun hyung ini memang terkenal sebagai ‘cowok mahal’, irit ngomong.

“Nuguya?” tanyaku padanya setelah ia memasukkan kembali ponselnya ke saku kemejanya.

“Yonghwa hyung!”

“Lalu bagaimana keadaan Minhyuk?”

“Aduh, Jungshinie! Kau percaya begitu saja dia sakit? Minhyuk sakit, dunia kiamat!”

Oh, iya juga, sih! Si tukang makan itu mana mungkin sakit. Cadangan tenaganya segunung. Entah dimana dua sembunyikan lemak-lemaknya.

Hyung bangkit berdiri. Tanpa menoleh padaku ia berkata, “Aku ke toilet dulu!”

Kini hanya tinggal aku dan Songdam nuna di ruangan ini. Rrrr, horor!

“AKU PULANG!”

Suara ini, suara liliput.

“Hai, nuna! Mana um-“

Ia terdiam begitu menatapku yang tengah menatapnya.

“Sedang apa kau di sini?”

Aku hanya mencibir padanya, lalu kembali ke tujuan awal aku kemari.

“Heh, sutet! Kau tuli? Oh iya, menara sutet tidak punya telinga, kan?”

Baru saja aku ingin membalas, tiba-tiba Songdam nuna mendahuluiku. Dilemparnya majalah yang ada digenggamannya pada Jjong si liliput.

“Apa, sih? kenapa memukulku?”

“Tadi rumah ini masih tenang saat kau belum pulang!”

“Kau membelanya, huh? Ah, kau kan menyu-hmmmmmph!”

“Kau ini bicara apa sih, Jjong pabo? Kajja!”

Songdam nuna menyeret liliput itu pergi dari sini, tangannya masih membekap mulut si Jjong. Kenapa sih dua kakak-beradik itu? Pantas Jonghyun hyung suka tertekan tinggal di sini.

Tidak lama Jonghyun hyung muncul. Ia kembali duduk di sampingku.

“Sudah mengerjakan sampai mana? Ayo cepat lanjutkan biar kau cepat pulang. Aku ngantuk, tahu!”

HYUUUUNG! Kau jujur sekali sih mau mengusirku?

Author pov

 

Seperti biasa. Hening menyambut Yonghwa begitu ia memasuki rumah besarnya. Tiga tahun ia tinggal di sana dan ia sudah terbiasa dengan keheningan. Ini masih lebih baik baginya dari pada ada ayahnya di rumah lalu sibuk membandingkan Yonghwa dengan anak angkatnya, Lee Jinki. Orang gila mana yang senang dibanding-bandingkan dengan orang lain.

“Oh, begitu!”

Langkah Yonghwa terhenti tepat di depan pintu ruang kerja ayahnya. Ia tidak tahu jika ayahnya sudah pulang dari Mesir. Muncul keinginannya untuk menguping.

“Tidak apa-apa! Pantau saja! Jika pekerjaannya bagus, beri dia bonus yang banyak. Dan ingat untuk terus tutup mulut.”

Yonghwa memilih menjauhkan telinganya dari pintu. Ia sudah tahu apa yang sedang dibicarakan ayahnya barusan. Dan hal itu sontak membuat mood-nya turun.

“Yong?”

Yonghwa terkejut begitu mendapati ayahnya sudah ada di hadapannya.

“Kenapa baru pulang?”

“Dari rumah Minhyuk.”

“Band lagi? Kapan sih kau mau serius dengan sekolahmu? Kau seharusnya berteman dengan-“

“Ayah tidak pernah kecewa dengan nilai-nilaiku, kan?”

“Tapi setidaknya kau lebih baik melakukan hal yang lebih berguna. Coba kau berteman dengan-“

“Cukup! Jangan pernah mengaturku kalau kau tidak tahu apa-apa tentangku!”

Dengan sikap acuh Yonghwa berjalan meninggalkan posisinya saat ini. Bisa meledak otaknya jika bicara dengan ayahnya.

“Ayah belum selesai bicara, Yong!”

Langkah Yonghwa terhenti. Dengan malas ia berbalik.

“Apa lagi?”

“Kenapa kau jadi kurang ajar begini, huh?”

“Aku juga tidak akan begini kalau ayah tidak memulainya duluan.”

“Apa yang ayah perbuat? Ayah hanya mengkhawatirkanmu!”

Spontan bola mata Yonghwa berputar. “Terserah ayah saja, lah!” Dan sebelum meninggalkan tempatnya, dengan sarkastik Yonghwa berkata, “Dan jangan pernah mengaturku pada siapa aku harus berteman. Urus saja pekerjaan dan anak angkat kesayangan ayah!”

“YA!”

Yonghwa tidak mengindahkan ayahnya saat ini. Dan kemudian…

BRAK!

Terdengar jelas suara pintu yang sengaja Yonghwa banting. Kini pria paruh baya itu tahu anak bungsunya sedang tidak dalam suasana hati yang baik.

Yonghwa melempar tasnya sembarangan dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.

“Tsk!

Ia mengeluarkan ponselnya. Saat ini ia sedang ingin berbagi dengan orang lain.

To Chaerim:

Hai jelek! Sibuk, tidak? Sahabatmu yang tampan sedang kesal.

 

Tak lama balasan datang.

From Chaerim:

Karena oppa mengataiku jelek, aku jadi sibuk sekarang. Oppa kenapa? Gara-gara Minhyuk, ya? oppa habis dari sana, kan?

 

To Chaerim:

Duh, kau bawel! Sekesal-kesalnya aku, tidak pernah aku super kesal begini karena Minhyuk atau karena Jungshin dan Jonghyun. Kau tidak bisa menebaknya? Katanya kau sahabatku!

 

From Chaerim:

Arra, tampan! Ayahmu sudah pulang rupanya. Mintakan oleh-oleh cadar darinya untukku!

 

To Chaerim:

Kau pikir ayah dari mana? Ayah dari mesir

 

From Chaerim:

So, wae? Memangnya tidak boleh orang mesir memakai cadar?

 

To Chaerim:

Aish, silly Chaerimie! Tapi yang biasa pakai cadar itu orang arab, bukan?

 

From Chaerim:

Arab bukannya tetangganya mesir ya?

 

To Chaerim:

Kau punya peta tidak?

 

From Chaerim:

Aku hanya punya peta seoul. Mesir itu mananya Seoul?

 

Dan Yonghwa akhirnya tenggelam dengan percakapan bodoh antara dirinya dengan Chaerim. Chaerim tahu betul bagaimana caranya menaikkan mood Yonghwa dan… berhasil.

*****

Pagi menjelang. Hari yang cerah sebenarnya untuk Minhyuk kembali memulai harinya di sekolah hari ini. Sialnya, ia harus diingatkan dengan kejadian tadi malam. Dan itulah kenapa pagi ini ia terlihat lesu.

“Sudah siap?”

Minhyuk hanya membalasnya dengan sebuah anggukan lemas. Dan dengan spontan ia menangkap sebuah tas yang dilempar ke arahnya secara tiba-tiba.

“Kajja!”

Minhyuk hanya bisa mendengus kesal di dalam hatinya mendengar suara itu, suara cempreng yang dibencinya. Ia tidak bisa melawan. Kalau ia melakukan itu, habislah ia.

Semua mata memandang dua orang yang baru menginjakkan kakinya di sekolah itu. Spotan suara riuh mengiringi jalan mereka. Key hanya berjalan biasa, dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dadanya. Sedangkan makhluk di belakangnya hanya diam sejak tadi, sebisa mungkin ia menyembunyikan jati dirinya dengan menundukkan kepala walaupun tetap saja mustahil.

“Kau ingat apa yang aku bilang tadi malam, Minhyuk?”

“Mengerjakan pr-mu?”

“Coret saja bagian itu, aku bisa mengerjakan sendiri. Yang lain?”

“Mengantarkan makanan ke kelasmu saat istirahat?”

“Bukan itu!”

Key menghentikan langkahnya. Minhyuk hanya diam saja begitu Key merangkul bahunya dan membisikkan sesuatu.

“Perjanjian kalau ini semua karena kemauanmu atau-“

“Arra, arra! Jangan bawa-bawa Minho!”

Key menepuk puncak kepala Minhyuk dan tersenyum. Demi Tuhan, Minhyuk benci senyuman dari seorang Kim Kibum.

Good boy!”

“Kau benar-benar sakit rupanya, ya?”

“Yonghwa hyung bilang katanya kau nggak sakit kemarin.”

“Aku lihat sendiri dia sehat bugar!”

Minhyuk hanya diam saja mendengar ocehan tiga temannya. Semua yang sudah terjadi bukan kemauannya. Sial memang! Andai Key tidak menyadari kalau sosok yang dengan susah payah ia sembunyikan semalam adalah Minho.

“Ceritakan pada kami yang sebenarnya!”

“Mana mungkin kau mau jadi kacung Kibum kalau nggak ada alasan!”

“Dia mengancam kau apa sih sampai kau mau menurut sama dia?”

Minhyuk mulai frustasi dengan pertanyaan yang dilontarkan untuknya secara bertubi-tubi. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri hingga berantakan.

“Aduh, Minhyuk stres!”

“Kasihan!”

“Kayaknya harus kita kasih tahu Mindeok ahjussi!”

“ANDWAE!”

Tiga orang itu kini diam memandangi Minhyuk.

“Jangan laporkan pada ayah! Aku hanya… Ah, aku belum siap menceritakannya.”

Ia ingin sekali bercerita yang sebenarnya dari dulu. tapi ia takut salah satu, atau bahkan mereka bertiga, mengadukannya pada Jay.

Yonghwa yang sejak tadi sibuk dengan gitar falcon-nya bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Minhyuk.

“Gwaenchana! Kita bakal menunggu sampai kau siap. Kita cuma nggak mau kau jadi babu dari mereka.”

Minhyuk tersenyum pada Yonghwa begitu Yonghwa menepuk bahu Minhyuk dan tersenyum terlebih dahulu padanya. Ini yang Minhyuk suka dari Yonghwa. Leader yang perhatian.

“Ah, telepon! Jamkkanmanyo!” seru Minhyuk begitu merasakan getaran ponsel dari dalam saku seragamnya.

“Ayah? Tumben banget telepon. Kenapa?

Yonghwa, Jonghyun dan Jungshin ikut diam begitu melihat Minhyuk hanya berdiam diri. Entah sebenarnya apa yang sebenarnya sedang dibicarakan Minhyuk dengan ayahnya sehingga air mukanya berubah panik.

“Y…ye! Kami akan segera ke sana!”

Dan tatapan Minhyuk kosong begitu percakapan telah berakhir.

“Wah, kau pakai pelet apa sih, Key?”

“Aku nggak pakai pelet atau jampe-jampe atau mantra seperti yang kalian tuduhkan! Murni keinginan dia!” seru Key girang dengan mata terarah pada Minho. Yang ditatappun hanya membuang muka.

“Kau hebat, Key hyung!”

“Ayolah! Aku ingin Jonghyun melakukan itu padaku!”

“Aduh, Jjong hyung! Jangan bermimpi kembaranmu mau melakukan itu!”

“Kau saja bisa, kenapa aku tidak?”

Hanya Onew dan Minho yang tidak terlibat percakapan itu. Onew merasa kasihan pada situasi yang dihadapkan pada Minho saat ini. Ia tahu, Minho suka menari sama besarnya seperti Taemin. Itu yang membuatnya bersimpati pada Minho setelah Minho bercerita empat mata tadi sebelum Key-Taemin-Jjong datang. Ia tidak ingin Minho keluar dari SHINee.

“Sudahlah, bisa nggak sih kita bahas yang lain? Mending bahas mengenai jadwal latihan!” seru Onew.

“Setuju, hyung!” pekik Key. “Yang nggak latihan patut dicurigai!” katanya lagi dan matanya masih tidak beranjak dari Minho. Minho tahu betul kata-kata itu adalah sindiran untuknya kemarin.

Taemin yang menyadari ada sesuatu yang aneh mulai bertanya-tanya. “Key hyung sama Minho hyung kenapa sih?”

“Aku nggak kenapa-kenapa. Mungkin kau bisa tanyakan pada Minho hyung kesayanganmu! Dari tadi dia hanya diam.”

Spontan mata Taemin dan Jjong menoleh pada Minho.

“Minho-ya, kau kenapa?” tanya Jjong.

“Hyung dari tadi diam saja.”

“Gwaenchana! Aku memang pendiam, kan?”

“Diamnya kau hari ini berbeda dengan yang biasanya. Ceritakan pada kami. Mungkin kami bisa membantu!” tawar jjong. Minho hanya menggeleng lemah merespon tawaran Jjong. Dan tentu ini menambah kecurigaan yang ada.

“Atau mau aku yang ceritakan? Ini kisah tentang seorang pengkhianat yang ternyata telah membohongi kita selama ini.”

Dan kini pandangan Jjong dan Taemin pindah pada Key.

“Maksudmu apa sih, hyung?”

“Siapa yang berkhianat?”

“Aduh, aku belum selesai cerita! Jadi si pengkhianat ini ternyata diam-diam berteman dengan orang yang seharusnya kita hindari. Dia bahkan bolos latihan demi orang itu. ”

“Kau berteman dengan mereka, Minho?” tanya Jjong yang sudah mulai bisa menangkap maksud dari pembicaraan Key.

Semua mata kini tertuju pada Minho, termasuk Onew yang masih memilih untuk tidak ikut campur hingga saat di mana ia harus ikut turun tangan.

“Hyung! Kalau Eunhyuk sonsaeng tahu bagaimana?”

“Kau nggak bercanda kan, Minho?”

Minho lagi-lagi hanya diam saja begitu pertanyaan Taemin dan Jjong terlontar untuknya. Dia tidak tahu harus bicara apa saat ini.

Key yang sejak tadi sebenarnya memendam rasa kesal di dalam hatinya, mulai bangkit dari posisinya dan berjalan menghampiri Minho.

“Kau tahu konsekuensinya kan, Choi Minho?” tanya Key sarkastik.

“Aku minta maaf! Tapi tolong jangan adukan pada sonsaengnim! Aku mohon!”

“Mohon? Kau tahu kan aku paling benci dibohongi! Apalagi orang yang membohongiku adalah orang yang sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Kau pikir aku tidak kesal?”

Minho membuang mukanya, berusaha menghindar dari pandangan Key yang terlalu menghakimi dirinya.

“Sudah lah, Key! Anggap saja kau tidak melihat apa-apa kemarin malam!”

Key spontan menoleh pada Onew. Matanya membulat besar.

“Bagaimana kau tahu tentang semalam, hyung? Aku bahkan belum menceritakan detailnya!”

Di antara keheningan itu Onew menghela nafasnya.

“Minho sudah cerita.”

“K..kau sudah tahu kalau selama ini Minho dan Minhyuk berteman?”

“Aku tidak bilang begitu, ya! Tapi sebenarnya tanpa Minho katakan yang sebenarnya juga aku sudah tahu mereka pasti punya hubungan.”

“DAN KAU TIDAK MARAH? Kau ini leader, hyung! Kau tahu arti leader? Pemimpin! Kau harus bisa tegas pada anak buahmu! Kau harus bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak. Kau harusnya bisa mem-“

“Cukup, Key! Jangan buat darahku naik lagi!”

Hening kini menyelimuti ruangan itu. Tidak ada yang berani memulai percakapan begitu sang leader sudah berada pada titik puncaknya. Tapi rasanya Key tidak mau tinggal diam. Kali ini ia harus berbuat sesuatu.

“Baiklah! Kalau hyung tidak mau bertindak, biar aku yang melakukannya!”

Key membanting majalahnya ke lantai. Dengan hentakan keras ia berjalan menjauhi mereka.

“Kau mau ke mana, Key hyung?” tanya Taemin.

“Ke tempat Eunhyuk sonsaengnim!” jawab Key dengan ketus. Kalau sudah kesal begitu, tidak akan ada yang bisa menghalangi apa yang Key akan lakukan. Dan Minho merasa nasibnya kini akan berakhir.

Baru saja Key ingin membuka pintu, ternyata pintu itu terbuka dari luar. Ia kecewa karena bukan Eunhyuk yang datang, melainkan salah satu penyebab pertengkaran pagi ini.

“Kau mau apa ke sini?” tanya Key sarkastik. Semua menoleh pada mereka, termasuk Jonghyun-Jungshin-Yonghwa yang mengekor di belakang Minhyuk sejak tadi.

“Ada kabar buruk, Key!”

“Apa? Kau dikeluarkan dari kelompok? Iya, aku tahu! Selamat! Kau juga sudah berhasil membuat kacau kelompokku! Minggir!”

Key bermaksud menerobos tubuh Minhyuk, tapi Minhyuk enggan beranjak walaupun tubuhnya didorong keras sekalipun.

“Kau mau apa, sih?”

“Kita harus pergi sekarang!”

Minhyuk lantas mencengkram lengan Key begitu saja dan menarik paksa tubuhnya. Key tentu saja memberontak. Dengan sekuat tenaga ia melepas cengkeraman itu.

“Heh, kau pikir kau siapa seenaknya berbuat begitu padaku?”

“Menurut saja satu kali padaku! Aku mohon!”

Bukan mau Minhyuk memohon-mohon begini pada Key. Tapi ia harus melakukannya. Situasi begitu mendesak dan tak terduga.

Key lantas berbalik dan bermaksud pergi menjauh dari Minhyuk. Minhyukpun mengejar. Kembali ia raih lengan Key dan kemudian tahu-tahu sebuah tinju melayang ke pipinya. Minhyuk jatuh tersungkur. Rasa asin tiba-tiba masuk ke dalam mulutnya. Ujung bibirnya robek.

“YA!”

Jonghyun yang tidak tahan dengan pemandangan itu mengambil ancang-ancang untuk melakukan hal yang sama pada Key. Yonghwa yang berada di sampingnyapun menahan tubuh Jonghyun.

“Jangan!”

“Tapi-“

“AKU BILANG JANGAN!”

Tubuh Jonghyun yang memberontak kini diam. Dirasa sudah tenang, Yonghwa melepas tubuh Jonghyun. Jonghyun mulai sadar lorong sekolah kini mulai ramai karena kekacauan ini. Siapa yang tidak penasaran?

“Kim Kibum! Kau kenapa?”

Key menepis kasar tangan Onew yang bersarang di bahunya. Entah kenapa Key bisa jadi semarah ini.

Minhyuk bangkit dari jatuhnya. Sedikit meringis kesakitan karena luka sobek diujung bibirnya. Kembali ia raih tangan Key dan lagi-lagi menariknya pergi.

“KANG MINHYUK!” berontak Key.

“DIAM ATAU KAU KUHAJAR MATI!”

Key seketika terdiam begitu Minhyuk mengamuk padanya. Orang-orang terdekat Minhyuk tentu tahu siapa Minhyuk sebenarnya. Sungguh baru kali ini mereka melihat Minhyuk berteriak marah. Begitu menyeramkan!

“Dan kalian! Tolong jangan ikuti kami!”

Langit malam begitu indah. Bulan begitu bersinar terang, ditambah bintang-bintang yang tumben sekali banyak yang menampakkan diri. Namun, semua pemandangan indah itu tidak menyurutkan kesedihan Key atas kejadian buruk yang menimpanya.

Key kembali menatap koran yang dibelinya satu jam yang lalu. Semua sampul koran sore hari ini hampir serupa.

Putra Pemilik Hotel Terbesar di Korea Dinyatakan Koma

Putra Triliuner Yang Menghilang Kini Ditemukan Tidak Berdaya

Key tertawa membaca judul-judul itu. Atau lebih tepatnya menertawai kenyataan yang tidak ia ketahui sebelumnya. Dan ia mengetahui itu bukan dari mulut ayahnya sendiri, melainkan tetangga yang sudah ia anggap rival sejak dulu, ayah Minhyuk.

“Kau tidak haus, ya?”

Key mendongakkan kepalanya. Ia melihat Minhyuk memberikan sebotol air mineral dingin padanya.

“Ambil! Aku tahu kau belum minum sama sekali sejak pagi!”

Demi gengsi, Key menolak air minum itu.

“Ya sudah kalau nggak mau!”

Kursi taman berguncang karena menahan beban tubuh Minhyuk. Ia membuka tutup botol minuman yang tadi ia beli dan menenggaknya sedikit. Kemudian ia pegang telapak tangan Key dan memaksanya untuk memegang botol minuman itu.

“Minum! Kalau tidak mau makan setidaknya kau harus minum! Jangan menambah beban pikiran ayahmu kalau kau sakit nanti!”

Minhyuk membiarkan botol minuman itu di tangan Key. Syukurlah Key mau menurutinya untuk yang kedua kalinya. Dalam hitungan detik, air dalam botol itu habis ditenggak oleh Key.

“Ngapain kau ke sini?” tanya Key sembari menyeka setetes air di ujung bibirnya.

“Wae? Ini tempat umum!”

“Kau kasihan padaku?”

“Kasihan padamu? Jangan bermimpi!”

Dan keheningan kembali menyelimuti suasana taman yang sepi. Jam hampir menunjukkan pukul 10 malam, hanya beberapa orang yang masih memilih duduk di taman rumah sakit itu.

“Jadi selama ini kau tahu semuanya?”

“Tahu apa?”

“Sudah lah, jangan berpura-pura lagi, Minhyuk!”

“Maaf!”

Key memijit-mijit kepalanya sendiri. Kepalanya benar-benar pusing, mungkin karena perutnya yang belum terisi makanan sejak tadi pagi. Tapi perutnya sama sekali tidak merasakan apa-apa. Karena beban pikirankah?

“Kenapa aku harus mengetahui semua itu dari orang lain?”

Minhyuk menoleh pada Key. Ia terkejut melihat tetesan air mata yang keluar dari mata orang di sebelahnya. Baru kali ini dia melihat Key menangis. Situasi yang telah terjadi membuatnya ikut merasa sedih.

“Selama ini aku membenci ibu yang tidak pernah aku ingat sekalipun dia ada di depan mataku sendiri. Aku bahkan enggan melihat foto yang ayah berikan padaku karena rasa benciku padanya sudah terlalu tinggi. Tapi kenapa ayah berbohong? Kenapa ayah bilang ibu pergi karena laki-laki lain? Kenapa ayah tidak bilang kalau ibu sudah meninggal?”

Tangisan Key semakin keras. Entah kenapa mendengar cerita Key barusan membuat hati Minhyuk terenyuh. Ia juga tidak pernah melihat sosok ibunya dengan mata kepalanya sendiri sekalipun. Key masih lebih beruntung darinya. Minhyuk bahkan tidak mengenal siapa orang tua kandungnya sendiri.

“Haish! Bibirku sakit!” seru Minhyuk sambil memegangi ujung bibirnya yang telah diobati. Tapi Key hanya diam saja. Niatnya untuk mengalihkan pembicaraan tidak berhasil.

“Minhyuk?”

Minhyuk lagi-lagi menoleh. Terasa aneh mendengar Key memanggil namanya dengan cara yang tidak biasa. Ke mana suara melengking Key jika sedang memanggilnya?

“Boleh aku pinjam bahumu? Aku lelah!”

“Silahkan!”

Satu rasa dari dua orang itu membuat taman terasa begitu sunyi.

Setelah menuntun Key untuk istirahat di sofa kamar inap ayahnya, dengan langkah gontai ia keluar dari kamar tersebut. Ia senderkan tubuhnya pada dinding dan kemudian jatuh merosot karena tiba-tiba tidak kuat menahan beban tubuhnya sendiri. Air matanya tiba-tiba jatuh. Ia tidak mengerti kenapa perasaan ini muncul kembali. Perasaan akan keinginan bertemu dengan orang tuanya sendiri.

“Minhyuk!”

Baru ia sadari ada orang yang telah berdiri di depannya. Ia mengenal sepatu itu, sepatu pantofel berwarna krem yang ia beli dua bulan lalu bersama Minyeon untuk ulang tahun ayah tercinta.

“Ayah?”

Ayah Minhyuk, Mindeok, berjongkok di depan Minhyuk. Dicapainya puncak kepala anak laki-laki satu-satunya itu dan ia mengusapnya lembut. Minhyuk sangat suka akan perlakuannya itu dan selalu saja sulit bagi dirinya menerima kenyataan kalau laki-laki tampan paruh baya di depannya adalah bukan ayah kandungnya.

“Ada apa denganmu? Aigoo! Kau sudah tidak cocok menangis seperti ini.”

Tiba-tiba saja Minhyuk merangsek maju dan memeluk Mindeok. Kini Mindeok sadar mengapa Minhyuk menangis.

“Jangan menangis seperti ini, ah! Kalau nunamu tahu kau menangis lagi, kau bisa kena hajar. Orang tuamu juga tidak ingin melihatmu menangis seperti ini.”

*****

“Baiklah! Nanti akan aku kabari yang lain. Jaga dirimu ya dan.. rrrr… titip salamku untuk… yah kau tahu siapalah! Semoga ayahnya cepat sembuh!”

Jonghyun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya begitu percakapannya dengan Minhyuk telah usai. Kini ia siap untuk berangkat menuju sekolah, tempat yang menjadi salah satu daftar yang paling enggan ia kunjungi sebenarnya.

“Ayah, ibu, nuna, aku berangkat, ya!” kata Jonghyun begitu melewati meja makan.

“Kau tidak sarapan, Jong?”

“Aku-“

Jonghyun berhenti bicara begitu ia menoleh ke arah meja makan. Seharusnya ia tahu Jong yang dimaksud adalah Jjong, bukan dirinya.

“Aku buru-buru, Bu!” jawab Jjong setelah menenggak habis segelas susu.

“Baiklah, hati-hati! Ah, kau tidak sarapan dulu, Jonghyun?”

Jonghyun kembali memalingkan wajahnya dari orang-orang di meja makan.

“Aku sudah kehilangan nafsu makan!” jawab Jonghyun sebelum akhirnya ia beranjak dari suasana yang baginya memuakkan itu.

“Kalau begitu kau bawa bekal- Jonghyun? JONGHYUN?”

Jonghyun tidak mengindahkan ucapan ibunya. Ia terus berjalan dengan mata kosong sehingga tubuhnya tidak sengaja menabrak meja sampai bergeser. Karena geseran itulah, laci yang ada di sisi meja terbuka. Dari awal Jonghyun tidak menyukai meja itu, terlalu menghalangi jalan.

“Tsk!” umpatnya.

Ditutupnya laci meja yang selalu ayahnya kunci itu. Tapi begitu matanya menangkap tiga kata yang tak lain dan tak bukan adalah namanya, ia kembali menarik lebar laci itu.

Inilah salah satu alasan mengapa Jonghyun malas ke sekolah. Hanya ada satu jalan menuju sekolah. Ada sih satu lagi, tapi Jonghyun masih waras untuk memilih jalan yang lebih dekat ketimbang harus memilih jalan yang lebih jauh hanya untuk menghindar dari Jjong.

Jjong berjalan di depannya. Sempat terpikir kenapa Jjong berangkat lebih pagi. Ia yakin pasti ada hubungannya dengan Key, yang pastinya ada hubungannya juga dengan Minhyuk karena ia berangkat lebih pagi dengan alasan itu. Yonghwa menyuruhnya ke sekolah lebih cepat tanpa memberikan alasan.

Terlihat segerombolan siswi dari arah berlawanan berjalan semakin dekat. Mereka berbisik-bisik sambil memandangi objek menarik yang semakin dekat dengan mereka. Mata mereka mencuri-curi pandang. Dan Jjong tahu apa maksudnya itu. Ia tersenyum pada mereka.

“Keren!”

Ice prince!”

Sayup-sayup terdengar celoteh mereka oleh Jjong dan Jonghyun.

Mereka melambaikan tangan mereka. Jjongpun tersenyum. Jjong melambaikan tangan pada mereka begitu mereka berjalan saling melewati. Bukan Jjong yang ingin mereka sapa, melainkan Jonghyun yang berjalan dengan cueknya dan tidak lupa dengan wajah datarnya. Justru itu semua membuatnya terlihat semakin cool.

Sepertinya bermain-main sedikit juga seru.

Jonghyun mulai mengangkat tangannya dan melambai pada gerombolan gadis-gadis dari sekolah wanita tersebut. Tak lupa dengan senyuman á la Jonghyun. Spontan gadis-gadis itu berteriak. Dilihatnya Jjong dan terasa bahagia begitu melihat ekspresi masam Jjong. Oh, pagi yang indah untuk Lee Jonghyun.

 

 

Ruang klub begitu sepi. Jonghyun menghela nafasnya begitu menyadari ia datang terlalu pagi. Bahkan gerbang sekolah baru saja dibuka saat ia baru saja sampai.

Kembali ia diingatkan akan map biru yang tak sengaja ia temukan di laci meja yang ia benci. Ia ambil tas ransel miliknya dan meletakkannya dia atas pangkuannya. Dengan sedikit tidak sabar ia merogoh isi tasnya. Rasa penasaran yang tinggi. Itu karena ia mendapatkan map itu dari laci yang biasanya ayahnya kunci.

Tiba-tiba saja tangannya bergetar. Jantungnya berdegup dengan kencang. Wae?

Dengan perlahan ia membuka map itu. Sebuah akte kelahiran yang sama sekali belum pernah ia lihat sekalipun. Orang tuanya selama ini melarang Jjong dan Jonghyun untuk melihat akte kelahiran mereka dengan alasan belum cukup umur. Jonghyun sadar alasan itu alasan yang sangat tidak masuk akal. Tapi ia malas membahasnya. Toh tidak penting baginya.

Matanya menelisik setiap kata yang ada pada lembar tersebut.

“Lee Jangsuk? Kim Haneul?”

Bibirnya perlahan membentuk sebuah senyuman. Rasa bahagia tiada tara tiba-tiba menyeruak di hatinya.

Tapi tunggu!

“Lee Jangsuk? Lee Jangsuk yang…”

Jonghyun melempar sembarangan map itu. Ia bangkit terburu-buru menuju pc di ruangan itu. Hanya hibernate, tidak butuh waktu lama untuk Jonghyun berselancar di dunia internet.

Kini ia bingung apa yang harus ia cari sekarang. Yang ia tahu, Lee Jangsuk adalah gitaris Korea terkenal yang tewas bersama istri dan teman-temannya karena kecelakaan pesawat dari New York menuju Seoul belasan tahun yang lalu.

Tak terasa air matanya menetes satu per satu.

 

-TBC-

 

mau bilang makasih buat readers yang masih mau nungguin ff gajelas ini xDD makasih juga buat readers yang tahu tata krama setelah membaca fanfiction *if you know what i mean*. 


21 thoughts on “CNBLUE VS SHINee [chapter 3: FACTS]

  1. kyaaaa eonni itu artinya jonghyun bukan adik jjong? apa dia anak angkat? huhu kasiaaann. dan Minhyuk juga, oohh` part ini banyak bagian yang menyentuh tapi aku tetep suka kok. part jungshin selalu buat aku ketawa xD
    lanjut jangan lama-lama ya eonn hehehe semakin seru soalnya.

  2. huooo minhyuk kalau marah serem ya :3
    kenapa minhyuk mesti berantemnya sama key? ah author please jangan bikin aku benci key dia kan bias ku jugaaaaa =____=
    jadi jonghyun yatim piatu dong? kasihan jonghyun..

  3. Lee jangsuk i2 siapa??
    Ayah kndung jonghyun kah? Ayah kndung jonghyun dan jjong ? Atau siapa ?? Hahahaa *ribet*

    next ya thor🙂

  4. ceritanya makin seru.. kalo part yg kmaren banyak crita lucunya nah part ini ada bagian berantem sama sedih2nya.. ditunggu next partnya eon~

  5. wiiiih tiap orang punya rahasianya masing-masing. tapi maish ga ngerti yang key, yang sakit itu appanya?? lah terus yang punya restoran saingan restoran MH itu appanya juga?? atau gimana??
    FF nya bagus, seru…. tiap chapter punya tema sendiri🙂 di tunggu part selanjutnya ^,^

  6. suka ceritanya, tiap orang punya rahasianya sendiri. tapi maish ga ngerti yang appanya key itu yang sakit atau yang punya restoran diseberang rumah MH ???
    suka FF ini, seru soalnya tiap part punya temanya sendiri, can’t wait for next part🙂

  7. Lanjuuuuut Toooorr… Pnasarn bgt… My Boy smpe d’blang Liliput awas ya Jungshin *Jungshin: trsrah donk,slah Jonghyun msa aq d’blang mnara Sutet?*
    wkwkwk…

  8. wahhhh…… JongHyun ank angkt jg neh???? ughh….. jdi sdih dh!!!
    tiap kali part JungShin bkin ngkak mlu neh.
    aihhhh….. pnsaran bgt bwat part slanjt’y~~~ >.<
    *udh da blom thor?? kalo blum dtgu part slnjut'y!!!* ^^

  9. Emang muka jonghyun cocoknya dapet peran yg dingin. padahal kalau habis nonton RM jd berubah pandangannya. tuh anak cengengesan mulu. btw key temprament bgt.
    seru seru seru lanjutin dong thor.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s