LOVE YOU, NUNA! (chapter 1 of 3)

Author: mmmpeb

Rating: PG15

Genre: romance, AU

Length: 3 chapters

Cast:

    • Lee Jonghyun CNBLUE
    • Lee Yejin / Ailee

    Disclaimer: my own drama
    plot, i had posted it on here a year ago with other title & characters

    Note: HAPPY READING =)

    *******************

     

    Ailee/Lee Yejin pov

     

    Sudah satu tahun aku membuka toko bunga tepat di depan rumahku. Aku senang, karena aku memang menyukai bunga. Sangat. Sejak kecil aku sudah tumbuh dengan bunga-bunga yang ibu rawat di halaman rumah. Dan jika ibu sedang bergelut dengan mereka, tidak lupa ia mengajakku ikut serta. Dari situlah aku mulai mencintai bunga. Yah, walaupun rasa cintaku tidak sebesar dengan rasa cinta ibu pada bunga.

    “Annyeong, nuna!”

    Suara ini. Suara yang hampir tiap hari tidak pernah absen dari pendengaranku.

    “Jonghyun-ah! Lagi-lagi kau datang.”

    “Waeyo? Aku datang kan untuk membeli. Harusnya kau senang, dong!”

    “Lalu bunga itu mau kau kemanakan? Kau buang lagi di depan pintu rumahku?”

    Jonghyun berjalan menghampiriku, lalu dengan seenaknya merangkul bahuku.

    “Aigoo! Aku tidak membuangnya. Itu memang untukmu.”

    Lee Jonghyun, murid kelas 3 SMA. Keluarganya pindah ke sini sekitar setengah tahun yang lalu. Sejak saat itu dia selalu datang ke toko bungaku. Ia membeli beberapa tangkai dan kemudian tangkai-tangkai itu ia berikan langsung padaku atau meletakkannya di depan rumahku begitu saja. Aku tidak mengerti maksudnya. Setiap aku tanya mengapa, dia pasti menjawab “Karena aku ingin melakukannya.” Dasar anak kecil. Sempat terpikir kalau namja ingusan itu menyukaiku. Duh, mana mungkin dia menyukai nenek-nenek sepertiku😀

    “Mana Hankyu? Aku ingin mengajaknya bermain ke taman.”

    “Dia ada di dalam, sed-” belum selesai aku bicara, Jonghyun sudah masuk ke rumahku tanpa permisi, “YA! DIA SEDANG TIDUR!”

    Aisssh! Dia tidak segan-segan membangunkannya.

     

     

    Kemana perginya mereka? Hari sudah mulai gelap. Kau culik anakku kemana, Jonghyun babo?

    “Ibuuuuuu!”

    Suara seorang bocah kecil yang sudah sangat tidak asing bagiku. Aku berbalik dan mendapati dia sedang melambai-lambaikan tangannya padaku dari kejauhan.

    “Kyu!”

    Hankyu berlari ke arahku dengan kaki kecilnya. Aku berjongkok dan merentangkan kedua tanganku untuk menyambutnya.

    “Lihatlah!” Hankyu menyodorkanku sekantong permen kapas, “Hyung membelikan aku ini. Ayo kita makan cama-cama.”

    Aku selalu tersenyum setiap mendengar bocah 3 tahun ini bicara. Pelafalan pada beberapa huruf masih belum sempurna, justru itu yang membuatnya semakin menggemaskan.

    Aku bangkit berdiri. Kuberikan death glare-ku pada Jonghyun.

    “Pabo! Lagi-lagi kau belikan anakku yang manis-manis! Kau tidak lihat giginya yang mulai menghitam?” bisikku pada Jonghyun seraya menyikut lengannya.

    “Dia kan masih anak kecil. Wajar saja, nuna!”

    Tiba-tiba anakku menarik-narik bajuku. Aku kembali berjongkok agar aku bisa menyejajari posisi kami.

    “Ada apa, Kyu?”

    “Hyung menyuluhku memanggilnya ayah. Apa boleh?”

    Baru saja aku mau memukul Jonghyun, dia sudah menghilang entah kemana. Awas kau, pabo!

     

    *****

     

    Huaaaaaaaah…. Cuaca yang indah untuk mengawali hari yang indah. Pagi-pagi sekali tadi Kyu membangunkanku dan merengek memintaku mengajaknya ke kebun binatang. Yah, apa boleh buat! Aku memang jarang mengajaknya jalan-jalan. Aku rasa hari ini aku harus menebusnya.

    “Ibu, ayo kita pelgi cekalang. Ayo, ayo!”

    Hankyu melompat-lompat dengan semangat.

    “Iya, Kyu! Ibu harus dandan dulu.”

    “Ibu udah cantik, kok!”

    Ternyata dia pandai memuji, sama seperti ayahnya.

    Ah, apa yang kupikirkan. Lupakan dia Yejin, lupakan!

    Kami sudah siap. Kami berdua pamit pada bibi yang selalu membantuku mengerjakan pekerjaan rumah atau sekedar mengurus Kyu jika aku sedang sibuk. Hankyu begitu semangatnya sampai-sampai aku kuwalahan dengan langkahnya yang agresif.

    Namun, saat melewati rumah Jonghyun menuju halte bus, Kyu tiba-tiba berubah pikiran.

    “Ibu, aku ingin main cama hyung aja deh.”

    “Kau bilang ingin ke kebun binatang?”

    “Ajak hyung ya, ajak hyuuuung!”

    Kyu mulai merengek. Aduh, sungguh kalau melihat matanya yang memelas itu, aku jadi tidak sanggup untuk menolaknya. Bocah ini tahu betul bagaimana caranya mendapatkan keinginannya.

    “Kyu, Jonghyun sedang sibuk. Sebentar lagi dia ada ujian.”

    “YA! SIAPA BILANG AKU SEDANG SIBUK?”

    Oh, suara ini…

    Perlahan aku mendongakkan kepala ke samping. Sosok Jonghyun sedang berada di lantai dua rumahnya. Ia melambaikan tangannya pada kami.

    “Hyuuuuuung!”

    “Kau? Sejak kapan kau di situ?” tanyaku dengan lantang.

    “Jamkkanman!”

    Jonghyun masuk ke rumahnya. Sesaat kemudian dia muncul menghampiri kami.

    “Kajja!” ajak Jonghyun sambil menggandeng tangan Kyu.

    “Ya! Kau mau kemana?”

    “Tentu saja ke kebun binatang, memang kita mau ke sana, kan?”

    “Aiiish, kita? Aku hanya ing-” belum selesai aku bicara, tanganku sudah ditarik pergi oleh dua namja tampan ini.

     

     

    Kebun binatang tampak ramai hari ini. Mungkin karena hari ini hari Minggu. Hari yang pas untuk berkumpul dengan keluarga.

    “Ibu, ibu, aku mau es klim, es klim coklat, es klim coklat!” rengek Hankyu begitu melihat kedai es krim di samping kami. Aku pun menuruti kemauannya.

    “Yang ini?” aku berusaha memilihkannya.

    Kyu menggeleng.

    “Ini?”

    Kyu menggeleng.

    “Atau kau mau yang ini?”

    Kyu masih menggeleng.

    “Jadi kau maunya apa? Ibu sudah mengambilkan yang coklat tapi kau tidak mau.”

    “Mau milih cendili, milih cendili. Gendong, gendong!”

    Tiba-tiba Jonghyun menggendong Kyu, membiarkan Kyu duduk di bahunya. Melihat mereka berdua begini mengingatkanku akan mantan suamiku, orang yang ingin sekali kulupakan.

    Kamipun berjalan-jalan mengelilingi kebun binatang. Kyu masih duduk di bahu Jonghyun, terlihat nyaman bersamanya. Tapi entah mengapa hari ini aku tidak cerewet seperti biasanya. Dan mataku… kenapa selalu tertuju pada Jonghyun? Melihatnya seperti ini seperti aku melihat sesosok ayah beserta anaknya.

    “Nuna, gwaenchanayo?” tanya Jonghyun.

    “Gwaenchana. Wae?” kataku agak dingin. Eoh? Kenapa aku jadi begini?

    “Ani! Dari tadi kau dingin padaku. Nuna marah ya padaku? Apa karena soal aku menyuruh Kyu memanggilku ayah?”

    “Tepat! Itu kelewatan Jonghyun-ah!”

    Syukurlah aku punya alibi.

    “Maaf, nuna! Tapi aku serius mengenai itu.”

    “Hah? Maksudmu?”

    Aku tidak mengerti apa maksudnya.

    “Permisi! Bisa saya mengambil foto kalian untuk koleksi foto pengunjung kebun binatang kami? Dari tadi saya mencari sebuah keluarga dan mata saya tertuju pada kalian,” kata petugas kebun binatang sambil menggenggam SLR-nya.

    “Poto, poto. Ayo kita poto!”

    “Apa? Keluarga? Ah jinjja! Ahjussi, kami bukan-”

    “Ayo ahjussi, kami bersedia!”

    Spontan aku menoleh padanya dan Jonghyun mengedipkan matanya padaku.

    Jonghyun mengambil posisi. Kyu masih dibahunya. Tangan kanannya merangkul pinggangku dan menarikku hingga merapat ke sampingnya.

    DEG

    DEG

    “Satu…dua…tiga!”

     

     

    Hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Jonghyun menggendong Kyu yang sedang tertidur di punggungnya. Aku senang membuat anakku senang. Tapi jadinya kakiku kesakitan. Seharusnya aku tidak menggunakan sepatu high heels.

    “Nuna, jalannya kok pincang? Kakimu sakit?”

    “Tidak! Aku tidak apa-apa!” kataku menahan rasa sakit ini.

    “Aish! Sini ikut aku!”

    Jonghyun tiba-tiba menarik tanganku menuju sebuah bangku taman di dekat kami.

    “Nuna duduk dan tunggu di sini. Ini tolong pegang Kyu.”

    Setelah Jonghyun menyerahkan Kyu padaku, dia pergi entah kemana. Apa yang mau dilakukan anak itu.

    Detak jantungku berdebar cepat, kenapa ini?

    Taman begitu sepi, hanya ada aku dan Kyu. Jelas, ini sudah malam. Kubiarkan Kyu tidur dipangkuanku. Kupandangi wajah lugunya. Sungguh sangat mirip dengan ayahnya, orang yang amat sangat kucintai. Perceraian ini tidak akan terjadi kalau saja sekretaris wanita itu tidak hadir diantara kami.

    Tapi dia memang seorang ayah dan mantan suami yang bertanggung jawab. Dia memberikan seluruh hak asuh Kyu padaku dan mengirimiku uang untuk membiayai kehidupan kami sehari-hari. Ah, apa kabar dia? Setelah perceraian kami tidak pernah bertemu lagi sampai saat ini, menelpon saja tidak. Tidakkah kau tau kalau Kyu merindukanmu…..yeobo?

    “Nuna? Kau melamun?” tanya Jonghyun terengah-engah. Sepertinya dia sehabis berlari.

    “Dari mana saja kau?”

    Jonghyun tidak menjawab. Dia berjongkok dihadapanku, lalu melepas sepatuku.

    “Ya! Apa yang mau kau lakukan?” pekikku padanya.

    “Aigoo, yang begini kau bilang tidak apa-apa? Lihat belakang tumitmu, merah-merah!”

    Tanpa babibu lagi, Jonghyun mengambil sesuatu dari kantong plastik. Dia menempelkan plester di lukaku.

    “Gomawoyo!” kataku malu-malu.

    “Sama-sama! Nah, beres!”

    Lalu Jonghyun duduk di sampingku.

    “Oh ya, aku juga membeli minuman. Ini untukmu.”

    “Kau baik sekali Jonghyun-ah!”

    “Tsk, aku ini memang baik hati, tahu!”

    PLETAK!

    “Waeeee?” protes Jonghyun sambil mengusap-usap kepalanya.

    “Itu memang pantas untukmu!”

    Ia mendengus kesal. Selanjutnya kami hanya terdiam. Hanya terdengar suara air yang mengalir di tenggorokan kami.

    “Jonghyun-ah?”

    “Ne?”

    “Tadi di kebun binatang, kau berkata serius mengenai itu. Itu apa?”

    Mendengar aku bertanya begitu, Jonghyun hanya diam seribu bahasa.

    “Jonghyun, kok diam?”

    “Kau tidak mengerti maksudku?” tanyanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

    Aku menggeleng. Raut muka Jonghyun terlihat serius. Tidak biasanya.

    “Kau tidak peka ya, nuna.”

    “Langsung saja, apa maksudnya. Aku benci dibuat penasaran.”

    “Itu….”

    “Itu?”

    “Hmm….”

    “Hmm?”

    “Eee…”

    “Eee? Aish, cepat katakan!”

    “Aku serius waktu aku menyuruh Hankyu memanggilku ayah.”

    Jadi itu? Aigoo, kukira apa.

    “Kau membuatku penasaran! Jonghyun, aku tidak mau menyuruh Kyu memanggilmu ayah. Kau kan bukan suamiku. Kau itu namja yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.”

    Tangan kiriku meraih bahu Jonghyun dan menepuk pelan.

    “Kau benar-benar tidak peka, Lee Yejin!”

    Jonghyun menoleh padaku dan menatap mataku dengan tatapan yang tidak biasa. Jonghyun melepas tanganku yang ada di bahunya, lalu menggenggamnya. Apa yang ia lakukan kini membuat detak jantungku berdegup kencang.

    “Jonghyun-ah, apa yang kau lakukan?” aku berusaha menarik tanganku, tapi namja yang berusia lima tahun lebih muda dariku ini berusaha menahan.

    “Lee Yejin, aku serius ingin menjadi ayah bagi Kyu dan….menjadi suami bagimu.”

    “MWO?! Ah jinjja! Jangan main-main!”

    Mendengar Jonghyun menyebut nama lengkapku, detak jantungku berdegup semakin kencang. Dan kata-katanya itu…entah aku harus senang atau justru sebaliknya. Ingin rasanya aku tersenyum, tapi tidak bisa.

    “Jonghyun, ini tidak boleh terjadi!”

    Aku berusaha menarik tanganku dari genggamannya, tangannya tidak menahanku lagi. Mengapa kau tidak menahannya lagi?

    Aissssh, kenapa aku berpikir begitu?

    “Wae? Apa karena perbedaan usia kita. Itukah?”

    “A..aniyo! A..aku….”

    Jonghyun kembali memandangiku. Rasanya seperti terhipnotis, sulit menghindar dari tatapan sayunya itu. Aku mulai merasakan sesuatu menempel di pipiku, tangan besar Jonghyun. Ia menarik kepalaku dan tidak butuh waktu lama ia menempelkan bibirnya di bibirku. Hanya menempel, tapi lambat laun ia mulai aktif menggerakkan bibirnya. Ada apa denganku? Kenapa aku menutup mataku? Kenapa aku membalas perlakuannya? Kenapa aku menyukai perlakuannya?

    “Ibu…”

    Hankyu terbangun, kamipun menarik diri.

    “Kau sudah bangun, Kyu?” kataku sambil mengusap-usap rambutnya. Anggap saja ini pengalihan dari kejadian tadi.

    “Rumah sudah dekat, aku pulang duluan. Annyeong!”

    Jonghyun tiba-tiba melongos pergi meninggalkan kami.

     

     

    Dua bulan berlalu, sejak kejadian itu, Jonghyun tidak pernah lagi datang ke toko bungaku atau sekedar mengajak Kyu bermain. Kyu terus saja menanyai Jonghyun, aku mulai kehabisan alasan. Aku ingin sekali menanyai kabarnya, tapi aku takut. Takut dia menolak bertemu denganku.

    Sejak Jonghyun menciumku, entah kenapa bayangan Jonghyun selalu muncul di kepalaku. Jonghyun yang sedang menyapaku, Jonghyun yang sedang membeli bungaku, Jonghyun yang ketahuan olehku sedang menaruh bunga tepat di depan pintu rumahku, Jonghyun yang sedang bermain dengan Kyu, dan masih banyak lagi. Aku sangat rindu sekali padanya.

    ‘Mwo? Rindu padanya? Aniyo!’ kataku di dalam hati.

    ‘Kau rindu padanya, Yejin!’

    ‘Pada Jonghyun? Aish, dia masih kecil!’

    ‘Delapan belas tahun kau bilang masih kecil? Ah, jadi kau cuma mempermasalahkan umur?’

    ‘A..aniyo! Mana mau dia denganku. Aku sudah memiliki anak.’

    ‘Kau masih muda, 23 tahun. Ayolah, jangan membohongi dirimu sendiri. Kau mencintainya!’

    ‘Cinta? Sejak kapan?’

    ‘Sejak Jonghyun menciummu.’

    ‘Tapi itu bukan berarti aku cinta padanya.’

    ‘Kalau tidak cinta, kenapa kau membalas ciumannya? Kenapa hanya ada Jonghyun yang ada di kepalamu. Kyu saja mendengar kau mengingau menyebut nama Jonghyun.’

    ‘Jinjja?’

    ‘Kau mencintai Jonghyun, kau mencintai Jonghyun, kau mencintai Lee Jonghyun.’

    ‘IYA IYA IYAAAA, aku mencintai Jonghyun! Aku rindu sekali padanya! Apa yang harus aku lakukan?’

    ‘Temuilah dia dan utarakan perasaanmu.’

    AISSSSSSH, hatiku bergejolak.

    “Kyu, ayo kita ke rumah Jonghyun.”

     

     

    TOK TOK TOK!

    KLEK! Seseorang membukakan pintunya untukku.

    “Annyeonghaseyo, ahjumma! Lama tidak bertemu,” sapaku pada ibunya Jonghyun. Bibi menyambut kami dengan ramah.

    “Sudah lama sekali aku tidak melihat kalian. Hai tampan, kau sudah besar ternyata.”

    “Omawo, ajuma!”

    Ayah dan ibu Jonghyun sibuk sekali dengan pekerjaan mereka yang tidak kuketahui apa itu. Makanya aku jarang sekali bertemu mereka. Setiap aku bertanya pada Jonghyun apa pekerjaan mereka, dia hanya menggeleng lalu berkata, ‘Aku sendiri tidak tau.’

    “Ayo masuk! Aku rindu sekali pada kalian, terutama si tampan ini.”

    “Aku mencari Jonghyun, apakah ada?”

    “Jonghyun tadi bilang pergi ke taman.”

    “Kalau begitu aku mau menyusulnya. Hmm, bisa titip anakku?”

    “Tentu saja boleh. Ayo Kyu, kita main di dalam.”

    “Aku ingin ikut ibu, ketemu hyung.”

    “Kau disini saja tampan, ahjumma baru saja masak sate ikan.”

    Mendengar bibi berkata sate ikan, tanpa permisi Kyu masuk ke dalam.

    “Kyu? Ah, ahjumma maafkan anakku.”

    “Gwaenchana. Pergilah!”

    Bibi tersenyum kembali, senyuman yang sama seperti senyuman orang yang sangat kurindukan.

    “Gomawoyo!” tak lupa aku pamit pada bibi.

    Akupun pergi menuju taman. Tak sabar ingin bertemu Jonghyun, aku berlari. Serindu itukah aku padanya?

    Sesampai di taman, kutelusuri isi seluruhnya. Tapi aku tidak menemukan Jonghyun. Kemana dia? Ah, satu tempat yang belum kutelusuri. Bangku di tempat kami… yah kau tahulah.

    Benar saja dia ada di sana, tapi tidak sendirian. Dia dengan seorang yeoja yang kelihatannya sebaya dengannya. Dan mereka sedang….

    Kenapa rasanya sesak sekali? Kenapa rasa sakit ini lagi-lagi muncul? Tidak cukupkah Tuhan memberiku ujian yang sama hanya satu kali? Di saat aku sudah mulai bisa menerima kenyataan kalau aku memang mencintai Jonghyun, justru orang itu yang kini mulai mengganti perasaan itu menjadi rasa sakit. Kenapa harus di bangku itu? Kenapa Jonghyun harus mencium perempuan lain di bangku itu?

    Aku hanya terpaku melihat mereka. Aku tidak ingin melihatnya, tapi kakiku terasa terpasung, tidak dapat bergerak.

    Aish! Kenapa air mataku jadi turun deras begini?

    Baru saja kakiku dapat bergerak untuk pergi menjauh, Jonghyun melihatku.

    “Nuna?”

    “Dia siapa, Hyunnie?”

    Yeoja itu memanggilnya Hyunnie? Oke, ini membuktikan kalau mereka bukan sekedar akrab.

    Aku tidak menghiraukannya. Membalikkan badanku dan sebisa mungkin pergi menjauh. Aku terus berjalan cepat menghindari mereka.

    “Nuna! Nuna!” suara Jonghyun terdengar mengecil.

    Bahkan Jonghyunpun tidak mengejarku? Aish, Yejin kau salah paham. Dia itu menciummu hanya untuk mempermainkanmu.

    TOK TOK TOK! TOK TOK TOK! TOK TOK TOK!

    Aku mengetok, lebih tepatnya menggedor pintu rumah Jonghyun. Sang pemilik rumah bersama seorang bocah kecil membukakan pintunya.

    “Ibu?”

    “Yejin, ada apa? Kau menangis?”

    “Kyu, ayo kita pulang! Ahjumma, terima kasih telah menjaga Kyu,”

    Aku langsung menarik kasar tangan Kyu, dan mengajaknya pulang.

    “Ibu, tanganku cakit!” keluh Kyu.

    Tiba-tiba Jonghyun muncul dan menghadang jalanku.

    “Nuna, tolong dengar penjelasanku dulu!” Jonghyun menggenggam bahuku, berusaha menahan kepergianku. Akupun menepisnya.

    “Penjelasan apa? Tadi itu sudah sangat jelas. Ayo Kyu, kita pulang!”

    Kyu lagi-lagi merengek. “Ibu, aku mau main cama hyung, main cama hyung.”

    “PULANG KYU!” bentakku. Kyu terdiam. Maaf Kyu, ibu tidak bermaksud begitu!

    “Kau tidak perlu begitu pada-”

    “DIAM! Ini semua karenamu. Kalau saja aku tidak- Ah, sudah lupakan!”

    Aku tidak meneruskan kata-kataku. Aku menggendong Kyu dan pergi menuju rumah.

     

     

    Sejak tadi Hankyu hanya terdiam. Kuajak bicara dia tidak menyahut. Apa karena tadi aku bentak?

    “Mianhaeyo, Kyu! Ibu tidak bermaksud mem-” Kyu tiba-tiba pergi meninggalkanku menuju kamarnya.

    TOK TOK TOK!

    “Kyu, maafkan ibu! Aku tidak bermaksud membentakmu. Kyu…” air mata kini membanjiri pipiku. Tubuhku lemas, akupun terjatuh.

    “Kyu.. kyu, maafkan ibu, Kyu!” panggilku terisak-isak.

    Ya Tuhan! Kenapa rasanya sesakit ini? Tiga kali aku merasakan sakit yang luar biasa seperti ini? Haruskah aku kehilangan orang yang kucintai lagi? Aku tidak mau! Kyu, jangan marah pada ibu, nak! Cukup ayahmu dan namja ingusan itu yang menyakiti ibu.

    KLEK! Pintu terbuka.

    “Ibu nangis?” tanya Kyu lalu memelukku. Akupun membelai rambutnya yang mulai panjang.

    “Maafkan ibu, Kyu! Maafkan ibu!” aku memeluknya makin erat.

    “Ibu menangis karena aku? Maaf, ibu! Aku tidak mau seperti ayah, aku tidak mau membuat ibu menangis,” katanya sambil mengusap air mataku.

     

    *****

    Keesokan harinya, aku bertekad untuk melupakan kejadian kemarin. Maka dari itu aku tiba-tiba ingin sekali jalan-jalan ke mall. Sengaja aku tidak mengajak Kyu. Kyu kutinggalkan di rumah bersama bibi yang selama ini mengurusku dari kecil.

    “Sudah lama sekali aku tidak memanjakan diriku sendiri. Ayo bersenang-senang!”

    Aku berusaha membangun mood yang baik, tapi tetap saja tidak bisa. Jonghyun, Jonghyun, Jonghyun. Hanya dia yang ada di otakku. Sulitnya persis seperti aku berusaha melupakan mantan suamiku.

    “Eonni?” seseorang memanggilku. Seorang pelajar wanita. Wajahnya tidak asing.

    “Nugu ya?”

    “Ini aku, yang di taman kemarin.! Ah, choneun Ryu Hyoyoung imnida! Aku teman sekelas Hyunnie.”

    Yang di taman? Ah ya, aku ingat! Haruskah ia merusak hariku lagi?

    “Lee Yejin imnida.”

    “Hmm, eonni! Aku ingin menjelaskan sesuatu.”

    “Aku sedang tidak ingin membahas apa-apa.”

    Lalu aku pergi meninggalkannya. Sungguh, tidak menyangka aku akan bertemu dengann di suasana hati yang dengan susah payah kubangun.

    “Eonni, kau harus mendengarkannya dulu.”

     

     

    Akhirnya aku menemukan taksi kosong. Tanpa basa-basi aku langsung masuk ke dalam.

    “Jalan, ahjussi! Tolong cepat!”

    Pabo kau, Yejin! Seharusnya kau dengar dulu penjelasan Jonghyun. Aish, aku sungguh menyesal.

    Eonni salah paham. Aku mengutarakan perasaanku padanya. Tapi dia menolak, katanya sudah ada yeoja di hatinya yang sangat ia cintai. Dan yang kau lihat kemarin, itu aku yang menciumnya, bukan sebaliknya. Saat Hyunnie berusaha mengejarmu, aku baru sadar bahwa kaulah yeoja yang dicintainya. Cepat temui dia. Siang ini dia akan ke bandara Incheon, mungkin sekarang masih dirumah. Dia- Eonni? EONNI???’

    Aku langsung meninggalkannya tadi, begitu panik mendengar kata bandara. Kau mau pergi kemana Jonghyun-ah? Kau mau meninggalkanku tanpa bilang apa-apa? Sekecil inikah nyalimu?

    Taksi berhenti tepat di depan rumah Jonghyun. Akupun berlari lalu menggedor pintu rumah Jonghyun, berharap dia belum pergi.

    “Jonghyun-ah! Jonghyun-ah! Min-”

    KLEK! Ibunya Jonghyun yang membuka pintunya

    “Yejin? Kau mencari Jonghyun? Tapi Jonghyun sudah pergi 3 jam yang lalu.”

    “Mwo? Ke bandara?”

    “Ne! Dia mau-”

    Tiba-tiba tubuhku terasa lemas, lalu terjatuh.

    “Yejin, kau tidak apa-apa?” bibi berusaha membantuku berdiri. Kuraih handphone di sakuku. Menelpon Jonghyun, berharap dia mengangkatnya.

    “Yobosseyo?” terdengar suara namja yang tak asing lagi bagiku di seberang telepon.

    “Jonghyun-ah! Kau di mana? Cepat katakan.”

    “Ada apa, nuna?”

    “Aku… aku mencintaimu Jonghyun! Jonghyun-ah, jangan pergi!” kataku lirih. Air mataku mulai menetes satu persatu. Aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai lagi. Tolong biarkan aku bahagia kali ini, Tuhan!

    “Mwo? Aku tidak mendengarnya, nuna. Bisa katakan sekali lagi?”

    “SARANGHAEYO!”

    KLIK! Sambungan terputus.

    “Halo? Halo? Jonghyun-ah?” Jonghyun memutus sambungannya. Jonghyun, apa kau benci padaku? Andai mesin waktu itu nyata, aku ingin sekali kembali ke malam itu, malam di mana Jonghyun mulai mengutarakan perasaan sesungguhnya padaku.

    “Bisa kau ulangi lagi? Aku masih tidak bisa mendengar.!” Terdengar suara seorang namja yang sama persis dengan pemilik suara di seberang telpon tadi. Aku mencari arah suara tersebut berasal. Dan dari kejauhan, aku melihat sosok Jonghyun. “Nuna bilang apa tadi?” Jonghyun kembali bertanya seraya berjalan menuju kemari. Dan kini dia persis di depanku. Akupun memeluknya.

    “Kau tidak akan pergi jauh, kan?” aku memeluknya semakin erat, seakan tidak mau melepasnya.

    “Nugu?”

    “Kau, pabo! Siapa lagi. Lalu untuk apa kau ke bandara.”

    “Oh itu!” Jonghyun melepas pelukannya. “Aku mau mengantar temanku yang akan pergi ke Jepang. Dia melanjutkan kuliah disana. Ya! Kau saja tidak tau aku sudah lulus, ya kan?”

    “Mwo? Kau sudah lulus? Ah, maaf aku tidak mengetahuinya. Lagi pula, kemana kau dua bulan ini, tidak datang ke toko bungaku, tidak menghubungi aku dan Kyu. Kyu sangat merindukanmu.”

    “Terus terang… aku malu untuk bertemu nuna sejak kejadian itu. Ah, agipula aku sibuk belajar untuk ujian kelulusan. Mana selamat untukku?” katanya sambil menengadah tangannya padaku.

    “Chukhae, Jonghyun-ah!”

    “Mana hadiahnya?”

    Aku mengecup bibirnya. Sedikit berjinjit karena tinggi badan 184 cm-nya.

    “Saranghaeyo, Lee Jonghyun!”

    “Nado, Lee Yejin!”

    Kemudian Jonghyun menciumku. Lembut sekali. Rasa bahagia terasa menyeruak di hatiku. Aku masih bisa tersenyum di sela-sela ciuman kami.

    Namun, tiba-tiba aku menarik diri. Ada yang mengganjal pikiranku.

    “Jonghyun-ah! Kau tidak malu berhubungan denganku? Yeoja yang sudah pernah menikah dan memiliki seorang anak?”

    “Apa peduliku? Ini hidupku! Aku berhak mencintai orang yang memang kucintai, siapapun dia. Dan Cho Han Kyu? Tidak taukah kau sejak aku bertemu kalian, rasanya ingin sekali aku memiliki kalian?”

    Jonghyun kembali ingin menciumku, tapi aku menghindar.

    “Lalu bagaimana dengan kedua orang tuamu? Pasti mereka tidak setuju anak mereka satu-satunya menikah dengan yeoja beranak satu.”

    Jonghyun tersenyum.

    “Kalo itu kau tanyakan saja langsung pada orangnya,” Jonghyun mengendikkan kepalanya ke arah pintu rumahnya. AISSSSSH! Aku lupa bibi masih di sana. Dan, AIGOO!! Kenapa kau disini, Kyu? Jadi dari tadi mereka melihatnya? Aduh, tolong! Wajahku aku rasa kini sudah merah padam.

    “Karena aku ingin mempunyai seorang cucu instan, bolehlah! Kyu, mulai sekarang panggil aku halmeoni. Dan untuk namja yang di sana, panggil dia ayah. Arachi?”

    “Ne, halmeoni! Ayah!” Kyu berlari menghampiri kami. Jonghyun menggendongnya. Kali ini mereka benar-benar terlihat seperti ayah dan anak.

    Terima kasih, Tuhan! Terima kasih atas kebahagiaan yang kau berikan untukku.

    “Kalian, ayo masuk! Kita harus merayakannya. Jonghyun, hubungi ayahmu, suruh pulang cepat!”

    “Ne!”

    Kyu turun dari gendongan Jonghyun dan berlari riang menghampiri bibi. Mereka pergi meninggalkanku berdua dengan Jonghyun di sini.

    Jonghyun tiba-tiba memelukku dengan kedua tangannya, pinggangu dikunci olehnya. Mau tidak mau kami saling merapat. Dengan jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma parfum Jonghyun.

    Love you, nuna!” bisiknya lembut padaku.

    Love you too!”

    Jonghyun kembali mendekatkan wajahnya padaku. Bisa aku rasakan aroma mint keluar dari mulutnya. Nyaris saja bibir kami saling bertemu, tiba-tiba aku merasakan sebuah getaran kecil.

    KRIIIIIIIIIING! Nada handphoneku berbunyi. Ada telepon masuk. Dengan sedikit canggung aku mendorong tubuh Jonghyun. Segera kukeluarkan handphone-ku dari dalam saku. Dari nomor yang tidak kukenal.

    “Yoboseyo?”

    “Ye-ya!”

    “Nugu?”

    “Kau benar-benar lupa suaraku?”

    DEG!

     

    -TBC-

    jeng jenggg nah loh, ini kan udah pernah di posting??? Kenapa di posting lg? Lah suka-suka author dong. Huehehehe! Ini ff aku pas baru awal nulis fanfiction. Judul dan karakter di ganti biar suasana baru xDDD lagian yg dulu kan gaya bahasanya acak adul.

    Oh ya, udah kenal Ailee, kan? Cewek yang lahir di New Jersey, yang main di Dream High 2 dan calon diva Korea bersuara emas yang nyanyi Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven xD Lagi suka aja sama dia, suaranya bagus bangettttt, makanya aku pake, kebetulan juga Boice overseas ada yang shippering Jonghyun-Ailee. Kalo boleh jujur, aku shippering Onew-Ailee xDDDDD Ailee itu 89line, tapi di sini aku buat lebih tua 5 tahun dari Jonghyun si 90line.

    comment is a must!

    8 thoughts on “LOVE YOU, NUNA! (chapter 1 of 3)

    1. wah.. aku suka cerita y. tapi masa bru lulus sma suka ma yeoja ber anak satu? wah Jong lbh daebak dari Rafi ahmad loh apa hubungan y va…?
      aku suka ailee ku ska lgu y heaven….

      tu yg nlpn pasti mantan suami y ya? duh low ia..pasti mo ngerecok nih..

      mmpeb….pls…pls…pls….lnjtan y jngan lma” okeeeeee

    2. Sumpahh ngiri bgtt mha ailee unni… Jonghyun cinta bgttt gituh mha unni pdhalkan dia janda beranak 1… Hehehe
      *djitak ailee unni*

      waduhh… Mntan suami’a kah tuh yg nlpon ?? *mulae sok’tau*

      serruuuuuuuuuuu…
      Next thor..🙂

    3. ehh kok bisa ya ad boice overseas ngeship jonghyun sm ailee? Apa mreka prnah berinteraksi? *curious*
      Dan Ailee, dia emg bener2 daebak nyanyinya! Aku jg suka🙂
      Btw itu pasti yg nelpon mantan suaminya deh..

    4. iya pernah di posting di blog ffcnblue , casting-nya klo g salah minhyuk-taeyeon , trz yg mantan suaminya yonghwa , nama anaknya msh sama . iya kan thor??? hehehe~
      bagus bagus bagus , meski blm tau syp ailee tp makin bagus lah ^_^

    5. kebetulan blom pernah baca yg ini,,jd sesuatu yg baru aja nih ^^
      dikira pas abang hyun sma cwe lain,,pikir aq g kekeh bgt sih si hyun ngejar cinta,,,ternyata salah,,,,bagus lah!!

      bn2r gokil bru lu2s SMA tp udah mau jg ayah instan aja,,,hyun-hyun
      kya’a konflik baru akan dimulai nih,,,,
      hwaiting author
      lanjutttttttttttttttttttttttttttttt >_o

    6. dulu castnya minhyuk sama taeyeon. ga kerasa FF itu udah setahun yang lalu di post nya, persaan baru baca. tetep suka sama ceritanya🙂 dan suka sama pairing jonghyun- ailee. nice FF🙂

    7. kyaaaa~belom pernah baca yang ini ><
      itu adegan kesseunya asoy banget hahaha jadi ngebayangin kalo itu aku (?)
      next eonn nexttttttttttttttt :Dv

    Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s