Hospital Autumn

Image

 

 

Title: Hospital Autumn

Cast:

Jung Yong Hwa

Choi Jun-hee as Kim Jun-hee (Taeyeon sister)

Kang Min Hyuk

Kim Tae Yeon SNSD

Choi Jong Hun FT.ISLAND

Other Cast:

Lee Jong Hyun

Lee Jung Shin

Genre: romance

Length: *chaptered

Author: Go follow @putriaans okok?

Disclaimer: Real from my mind.

Note: DON’T  FORGET  TO RCL!

Mian kalau ada bahasa yang kurang dimengerti  dan feel-nya nggak kerasa😀 Hope you like it!😀 I Feel… di skip dulu ya😀

Don’t be silent readers!

H.A.P.P.Y    R.E.A.D.I.N.G

 

 

Hembusan angin semilir di senja awal musim gugur menerpa wajah Yonghwa dengan lembut. Membuat siapapun yang merasakannya akan merasa tenang dan rileks. Di bawah hangatnya sinar matahari senja yang menyembul dibalik dedaunan, ditambah alunan lembut gemericik air yang menetes dari keran yang belum tertutup sempurna, dan bisik rumput yang menenangkan, Yonghwa melukis langit senja kota Seoul di musim gugur. Langit yang berwarna oranye kebiruan, sekumpulan burung sedang melintas, dan serat-serat awan putih yang sangat lembut.

“Yonghwa-ssi, ayo kita ke dalam. Udara semakin dingin..” sebuah panggilan halus membuat Yonghwa menghentikan aktifitas melukisnya. Ia tersenyum pada pemilik suara dan mengangguk. Siluet pemilik suara semakin jelas terlihat. Tubuh tinggi dan ramping, kulit putih bersih berkilau, dan pancaran mata teduh nan cerah. Ialah Kim Taeyeon, seorang yeoja cantik yang berprofesi sebagai dokter di sebuah rumah sakit internasional ternama di Seoul.

Yonghwa merapikan peralatan melukisnya dan menggerakkan kursi rodanya mendekati sang dokter. Taeyeon pun mengambil alih kursi roda dan membawa Yonghwa masuk ke kamarnya.

“Nah, Yonghwa-ssi, istirahatlah. Supaya kau cepat sembuh dan kembali menjalani rutinitasmu seperti biasa. Jangan lupa minum obat, ne?” ujar Taeyeon ramah setibanya mereka di depan kamar nomor 226, kamar dimana Yonghwa dirawat.

“Ne, gomawo dokter.” Jawab Yonghwa seraya tersenyum. Ia memandangi Taeyeon lekat-lekat, mengagumi tiap lekuk wajahnya yang sempurna, helaian rambut yang sedikit menutupi matanya, benar-benar bak seorang bidadari.

“Jangan terlalu formal, panggil saja Taeyeon. Umur kita tak berbeda jauh kan?” Pinta Taeyeon seraya tersenyum tipis. Mungkin karena ia seorang dokter muda dan masih baru, ia belum terbiasa dengan panggilan ‘dokter’. Dan Yonghwa merupakan pasien keduanya.

“Ye, arasseo. Gomawo, Taeyeon.” Yonghwa memeragakan panggilan barunya untuk Taeyeon. Taeyeon pun tertawa kecil.

“Terdengar aneh, ya?” tanya Yonghwa bingung karena Taeyeon tertawa tiba-tiba.

“Ah, ani ani. Keurae, aku keluar dulu. istirahat yang cukup, ne?” pamit Taeyeon dan langsung beranjak pergi meninggalkan Yonghwa yang masih memandanginya hingga ia sudah tak terlihat di pandangan.

***

“Eonnie!”

Sontak, Taeyeon menoleh dan menghentikan langkahnya. Tampak Kim Jun-Hee, adik Taeyeon berlari kecil menuju ke arahnya.

“Annyeong, Jun-Hee-ya. Sedang apa kau disini?” balas Taeyeon.

“Aku ingin menjenguk  seseorang. Ia baru masuk ke rumah sakit ini beberapa hari yang lalu, tapi aku baru bisa menjenguknya sekarang.” Jelas Jun-Hee riang.

“Oh ya? Nugu?”

“Orang yang sangat penting untukku..” jawab Jun-Hee penuh rahasia. Ia tersenyum-senyum sendiri dan rona merah mulai menjalar di pipinya.

“Namjachingu?” tebak Taeyeon.

“Semoga.” Jawab -JunHee dan lalu menundukkan wajahnya yang sudah memerah bagaikan tomat matang. Taeyeon tersenyum jahil.

“Ah.. kurasa ia pasienku. Namja itu baru beberapa hari dirawat di rumah sakit ini.”

“Jeongmal? Nugu eonnie?” tanya Jun-Hee dengan wajah berbinar. Ia bergelayut manja di lengan eonnie-nya itu.

“Eh, mungkin bukan. Ia sangat tampan. Aku yakin ia sudah punya yeojachingu..” ralat Taeyeon yang membuat Jun-Hee merengut. Taeyeon hanya memberi harapan palsu untuknya, pikir Jun-Hee.

“Apa eonnie menyukainya?” tanya Jun-Hee dengan nada meledek.

“Aniya! Sudah ada Jonghun, Jun-Hee!” seru Taeyeon gemas.

“Tapi kan eon, Jonghun oppa sedang keluar negeri untuk waktu yang cukup lama, sudah tiga tahun kan, ia di Kanada? Apa eonnie masih punya perasaan padanya?” tanya Jun-Hee polos.

“Hey! Memangnya aku sepertimu, heh? Aku masih tetap mencintai Jonghun kok. Lagipula kalaupun aku sudah tak mencintai Jonghun lagi, pasienku itu sudah pasti mempunyai namjachingu!” seru Taeyeon semakin geregetan.

“Namjachingu, eon?”

“Uh? Maksudku yeojachingu! Ah sudahlah! Berbicara denganmu membuatku merasa aneh! Sudah, sana temui namja itu! Aku pergi dulu..” jawab Taeyeon lalu langsung meninggalkan Jun-Hee yang masih cekikikan sendiri dengan wajah menahan malu.

::

Klek.

“Y-Yonghwa?”

Sang pemilik nama menoleh.

“Annyeong.” Ujar tamu itu kaku. Yonghwa hanya tersenyum tipis dan kembali menatap langit senja kota Seoul dari lantai 5 rumah sakit internasional itu.

“Apa kabar?” tanya si tamu. Hahah, pertanyaan biasa! Rutuknya dalam hati.

“Sudah lebih baik, Jun-Hee-ssi.” jawab Yonghwa tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.

“Ng.. mm..” si tamu yang ternyata Jun-Hee itu hanya bergumam tak jelas. Terlihat jelas sekali kalau ia sangat gugup. Tetapi Yonghwa tampaknya tidak memedulikan.

Suasana hening menyeruak diantara mereka selama beberapa saat. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jun-Hee menundukkan kepalanya. Terdiam kaku ketika teringat peristiwa beberapa hari yang lalu.

“Mianhae..” ujar Jun-Hee lirih. Hatinya serasa dihujam beribu sembilu. Merobeknya, dan membuangnya ke jurang besar dan dalam tanpa bisa dilacak lagi keberadaannya untuk dapat dikembalikan lagi ke tempatnya (?).

“Untuk apa?” jawab sekaligus tanya Yonghwa tanpa rasa peduli sedikitpun pada yeoja yang tengah berusaha menahan bulir bening terjatuh dari matanya.

“Karena.. a-aku yang membuatmu menjadi seperti.. ini” jawab Jun-Hee terbata. Ia benar-benar merasa amat sangat bersalah karena ia yang mencelakai Yonghwa hingga tulang rusuk Yonghwa retak hingga mengharuskannya memakai kursi roda selama beberapa minggu.

“Dan karena aku.. baru bisa mengatakan maafku, sekarang..” lanjutnya. Jun-Hee menggigit bibir bawahnya karena bulir bening itu semakin memaksa turun.

“Maafku kuterima,” jawab Yonghwa datar. Terbersit sedikit rasa tidak enak dalam batinnya karena ia bersikap begitu datar pada yeoja yang sudah berusaha keras menahan air matanya hanya untuk memohon maaf pada dirinya. Tetapi Yonghwa langsung mengacuhkan pikiran itu begitu saja.

“Maaf kalau kau tidak bisa bergerak bebas lagi karenaku..”

“Ne.”

“Jeongmal jeongmal mianhae. Aku tau bagimu sulit memaafkanku. Kau.. kau mau membenciku tak apa. Gwaenchanayo. Aku memang bodoh. Aku mencelakaimu jadinya karena kecerobohanku sendiri. Seharusnya kau tidak usah menyelamatkanku saat itu. Seharusnya aku yang dirawat di rumah sakit ini. Seharusnya aku yang harus memakai kursi roda. Bukan dirimu, Yong –“

“Berhenti memanggilku Yong. Jun-Hee-ssi. Untuk apa kau sesalkan? Semuanya sudah terjadi dan sudah terlambat bagimu untuk berkata ‘seharusnya’ lebih banyak lagi. Sudah kukatakan aku memaafkanmu, Yoon Hee-ssi. Jadi untuk apa lagi kau meminta maaf kalau aku sudah memaafkanmu, heh?” potong Yonghwa. Nada bicaranya terdengar sebal. Ia benci jika Jun-Hee berkata macam itu dan juga ia tidak terlalu menyukai keberadaan Jun-Hee dalam hidupnya sejak awal.

Kini, Jun-Hee sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Pipinya yang mulus memiliki sungai kecil yang deras sekarang. Napasnya memburu. Kemudian tanpa pikir panjang ia bertekuk lutut di belakang Yonghwa yang masih menatap langit kota Seoul.

“Ya! A-apa yang kau lakukan?” tanya Yonghwa kaget ketika mendengar suara berdebum kecil. Kemudian ia melihat Jun-Hee sudah terduduk di lantai. Terus terang ia memang sedikit tidak menyukai keberadaan yeoja ini, tapi membuat dan menyaksikannya menangis hingga seperti itu perkara yang lain lagi.

“Maafkan aku..” ujar Jun-Hee lirih. Jun-Hee tau apa yang ia lakukan ini sangatlah merendahkan harga dirinya. Tapi ia tak memedulikan apapun lagi selain permintaan maafnya diterima namja yang sangatlah dicintainya ini.

“H-hey.. Bangunlah. Aku tidak ingin orang lain menyangka yang tidak-tidak.” kata Yonghwa kemudian ia meraih lengan Jun-Hee dan menariknya agar yeoja itu segera menghentikannya.

BRUKK!

Jun-Hee mengelak dari tangan Yonghwa yang berusaha meraihnya. Yonghwa pun kehilangan keseimbangan dan ia pun terjatuh dan menindih tubuh Jun-Hee yang kini berbaring di lantai.

Jantung Jun-Hee berdebar keras ketika jarak wajah antara dirinya dan dan Yonghwa hanya beberapa senti. Sekitar empat hingga tingga senti. Terbersit sebuah keinginan untuk … tapi ia segera mengurungkan niatnya ketika melihat kondisi Yonghwa yang meringis menahan sakit.

“Neo gwaenchana?” tanya Jun-Hee panik. Ia memang ceroboh. Ia melukai Yonghwa lagi karena kecerobohannya.

Yonghwa tidak menjawab karena rasa sakit yang dirasakannya begitu menyakitkan. Ngilu. Gigi-giginya hingga bergemeretuk beradu satu sama lain karena hanya itulah yang dilakukannya untuk meredam rasa sakitnya. Sekujur tubuhnya terasa kaku sekarang.

“Ya! Kalian sedang apa?!” tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu. Entah sejak kapan orang itu berada disana. Suara seorang namja.

“M-minhyuk?”

Namja yang tiba-tiba muncul itu – Minhyuk – langsung menghampiri mereka berdua. Ia berjongkok dan terdiam beberapa saat. Tampaknya berusaha memahami apa yang sedang terjadi.

“Ya! Jangan buang waktu, Minhyuk! Cepat tolong Yonghwa!” pekik Jun-Hee sembari menatap Minhyuk dengan tatapan memohon. Minhyuk pun tersadar dan segera membantu Yonghwa bangun.

“A-aw!”

“Cepat panggil dokter Taeyeon!” suruh Minhyuk pada Jun-Hee. Jun-Hee mengerutkan kening dan matanya terbelalak bersamaan entah bagaimana caranya.

“Dokter.. Taeyeon? Apa maksudmu Kim Taeyeon?” tanya Jun-Hee.

“Ye! Tidak ada dokter lain di rumah sakit ini yang bernama Taeyeon selain dia! Cepatlah Jun-Hee! Jangan buang waktu!” bentak Minhyuk. Kini ia memutarbalikkan kata-kata Jun-Hee ‘jangan buang waktu!’

“A- ne!” Jun-Hee mengangguk cepat ketika tersadar dan langsung merogoh sakunya. Ia pun mengetik beberapa nomor lalu menaruh ponselnya di terlinga kirinya.

“Yoboseyo, Jun-Hee-ya?”

“Eonnie! Cepat ke kamar 226, pasien Jung Yonghwa! Kondisinya gawat!”

“Mwo? Bagaimana kau bisa tau ia pasienku?”

“Tidak penting eonnie! Ppali!”

“A-ah. Ne! aku kesana sekarang!”

KLIK.

***

“Yonghwa baik-baik saja. Lukanya hanya terbuka sedikit karena jatuh tadi. Aku dan tim dokter sudah menutup kembali lukanya. Sekarang setelah ia banyak istirahat, lukanya akan segera mengering.” Ujar Taeyeon pada Minhyuk dan Jun-Hee yang sedari tadi menunggu di luar ruangan dengan segala perasaan cemas yang membuncah.

“Jeongmal?”

“Ne. Aku permisi dulu, Minhyuk-ssi. Jun-Hee, bisakah kau ikut aku sebentar?” Taeyeon pun segera berlalu pergi serta menggamit lengan Jun-Hee.

::

“Hyung, neo gwaenchana?” tanya Minhyuk ketika ia memasuki ruang 226 dan mendapati Yonghwa masih terjaga.

“Aniya,” jawab Yonghwa dingin.

“Apa kau ingin sesuatu?” tanya Minhyuk lagi.

Tetapi Yonghwa tidak menjawabnya.

“Apa kau ingin kumainkan gitarmu?”

“Memangnya kau bisa main gitar?” tanya Yonghwa sedikit mengejek.

“Ani..” jawab Minhyuk lesu.

“Ah, kau benar, aku ingin mendengar suara petikan gitar. Bisakah kau minta Jonghyun kemari?” ujar Yonghwa ketika merasa mendapat pencerahan (?)

“Ye. Ara.”

“Hahahaha.. Hey! Itu milikku! Ah,Yoboseyo?”

“Ramai sekali, hyung. Sedang pesta ya?”

“Mm, begitulah. Hahaha.. Ya! Jangan dibuang!”

“Lagi seru, ya hyung?”

“Ne. Ya! Jungshin! Jangan taburkan rumput di kepalaku! (?)”

“Yonghwa hyung..”

“M-mwo? Ada apa dengan Yonghwa hyung? Eh, diam dulu. Sstt”

“…” suara-suara kencang di tempat Jonghyun menjadi hilang. Sunyi senyap disana.

 “Tadi luka jahitannya sedikit terbuka karena ia terjatuh,”

“MWO?” terdengar suara beberapa orang serempak sehingga Minhyuk terjungkal karena kaget dengan suara sekeras itu.

“Hyung! Di loud-speaker ya?”

 “Ah! Aku kesana sekarang! Jungshin, ayo!”

“…” Minhyuk terdiam beberapa saat.

KLIK. Telepon diputus Jonghyun.

::

“Minhyuk, apa lagi? Aku sedang menuju kesana!”

 “Jangan lupa bawa gitar, ya hyung!”

***

“Jun-Hee-ya! Apa yang kau lakukan pada Yonghwa?” bentak Taeyeon marah. Jun-Hee hanya menundukkan kepalanya.

“Mianhae, eonnie..”

“Kau tahu? Itu sangat membahayakan dirinya! Apa kau mau dia dirawat lebih lama di rumah sakit ini?”

“Ani, eonnie..”

“Hah! Sudah! Aku tidak mau moodku rusak. Silakan keluar. Maaf aku membentakmu, aku hanya ingin sendirian sekarang” kata Taeyeon pelan dan datar. Jun-Hee pun mengangguk dan melangkah keluar ruangan eonnie nya itu.

Jun-Hee berlari keluar tanpa arah. Tak peduli kemana kakinya membawanya pergi sekarang. Ia ingin lenyap tertelan bumi sekarang juga. Air matanya mengucur deras. Tak peduli pada tatapan orang-orang yang menatapnya aneh.

“Agasshi, permisi, jangan menghalangi jalan,” kata seseorang didalam mobil yang persis berada di hadapannya. Yoon Hee diam.

TIINN.. TIINN..

Beberapa pengemudi mobil yang tidak bisa lewat karena terhalang Jun-Hee mendecak kesal.

“YA! Agasshi! Cepat pindah atau aku akan menabrakmu!” teriak salah seorang pengemudi mobil yang sudah benar-benar kesal.

“Tabrak saja aku!“ jawab Jun-Hee tak kalah keras. Para pengemudi itu tampaknya sudah sangat frustasi dengan ulah Jun-Hee itu. Tak mungkin mereka nekat menabrak yeoja itu. Bisa-bisa sel penjara menyeringai manis menunggu calon penghuni mereka.

TIIN.. TIINN.. TIINN..

Sebuah bus melaju kencang karena sudah tak tahan dengan ulah Jun-Hee. Tak peduli lagi apabila ia akan masuk penjara.

Jun-Hee menatap bus itu mantap. Cahaya lampu semakin menyilaukan matanya. Jun-Hee pun menutup matanya dan bersiap menjajaki alam hidup baru manusia.

……..

Tak ada suara berdebum keras atau apapun itu.

Perlahan Jun-Hee membuka matanya. Dan melihat sekeliling. Ia sudah tak di tengah jalan lagi. Ia tengah berada di pinggir jalan. Di rerumputan dalam dekapan seseorang. Seorang namja berbalut jaket baseball biru dongker. Aroma parfum yang sangat familiar di hidungnya. Tatanan rambut yang begitu familiar juga. Sebuah headphone putih juga melingkar manis dalam lehernya.

Kim JunHee sedang dalam dekapan seorang Kang Min Hyuk.

“Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu. Mengingkari garis yang telah Tuhan buat. Selalu ada yang menyayangimu meskipun kau berpikir semua orang membencimu, mencemoohmu. Dan orang yang selalu menyayangimu apapun yang terjadi padamu itu aku. Kang Minhyuk.”

Jun-Hee terdiam. Tubuhnya masih gemetaran.

“Saranghae, Kim Jun-Hee”

***

Aroma manis dan suasana hangat menyambut Jun-Hee dan Minhyuk di depan pintu. Di sebuah café, Jun-Hee dan Minhyuk melangkah bersama untuk berbincang-bincang. Terutama mengenai kejadian di jalan tadi. Alunan musik lembut memanjakan telinga mereka. Pelayan yang ramah dan desain interior perpaduan tradisional-modern memberi kesan mewah tapi bersahabat. Pikiran dan hati yang panas dan tidak tenang akan menjadi rileks seiring waktu berjalan di café cantik ini.

“Chogiyo agasshi!”

“Ne, ada yang bisa saya bantu?” seorang pelayan wanita yang lumayan tinggi menghampiri meja tempat Minhyuk dan Jun-Hee duduk. Pelayan wanita itu dengan semangat menghampiri mereka ketika melihat eye smile Minhyuk yang begitu memikat. Beberapa pelayan lain di sudut ruangan tampak berbisik-bisik.

“Pasangan itu serasi sekali, ya!”

“Namja itu cute, dan yeoja-nya juga cute. Ah iri!”

“Aku dan namjachinguku lebih oke kok!”

“Huu.. bilang saja kau iri!”

Jun-Hee tersenyum kecil mendengar bisikan-bisikan itu. Sebenarnya bukan bisikan, karena pembicaraan para pelayan di sudut ruangan itu dapat terdengar hingga telinga Jun-Hee, dan mungkin Minhyuk.

“Agashi! Namja cute ini namanya Kang Minhyuk! Dan kami bukan sepasang kekasih, kami hanya bersahabat!” seru Jun-Hee guna membalas ucapan-ucapan itu. Para pelayan itu membelalak tak percaya.

“Tapi tadi aku melihat mereka berpelukan di pinggir jalan tadi ketika aku hendak menuju kemari.. mana mungkin mereka bukan sepasang kekasih,” bisikan itu sekarang benar-benar bisikan. Sejauh apapun Jun-Hee ingin mendengarnya, tetap saja takkan terdengar.

“Kalau kalian tak percaya, anggap saja kami memang sepasang kekasih! Mungkin Jun-Hee masih malu mengakuinya..” balas Minhyuk dan itu membuat kedua bola mata indah Jun-Hee membelalak lebar.

“Mwoya?”

“Ah, oke, aku pesan caramel macchiato. Dan juga.. hmm, ice coffee shake.” Ujar Minhyuk pada pelayan wanita di depan meja mereka tanpa memedulikan tatapan bingung dari Jun-Hee.

“Ada lagi, tuan, nona?”

“Ngg.. ani. Itu saja”

“Arasseo. Tunggu sebentar.”

Jun-Hee terdiam dan melempar pandangannya keluar jendela. Menatap langit kota Seoul yang semakin kelam. Jutaan bintang menghiasi langit ditambah dengan lampu-lampu gedung pencakar langit Seoul. Ia masih bingung dengan ucapan Minhyuk yang menyatakan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

“Caramel macchiato dan ice coffee shake. Silakan dinikmati :D” pelayan wanita itu membuyarkan lamunan Jun-Hee yang melayang bebas kemana-mana.

“Kamsahamnida,” jawab Jun-Hee dan Minhyuk bersamaan. Sementara pelayan wanita itu tersenyum dan membungkuk hormat. Kemudian ia berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.

::

“Jadi.. apa yang membuatmu seperti tadi?” tanya Minhyuk membuyarkan suasana hening yang canggung. Jun-Hee terdiam, mengaduk-aduk caramel macchiato-nya tanpa diesapnya sama sekali.

“Molla. Saat itu pikiranku kacau,” jawab Jun-Hee seadanya. Masih mengaduk-aduk minumannya.

“Apa, karena hyung?”

Jun-Hee tersentak. Ia berhenti mengaduk-aduk minumannya dan mengangkat wajahnya menatap Minhyuk yang menatapnya dalam.

“Hyung?”

“Ne, Yonghwa hyung. Apa karena dia?” ujar Minhyuk mengulangi pertanyaannya.

“Maksudmu?”

“Aku tahu kau mengerti maksudku. Katakan sajalah, aku akan mendengarmu. Keluarkan semua yang mengganjal di hatimu. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat setelah ini.” Minhyuk menghela napas. Uap putih dan aroma ice coffee shake keluar dari mulutnya. Menimbulkan kenyamanan, tetapi malah membuat Jun-Hee semakin canggung.

“Ayolah.. kita sudah kenal lama kan? Kita mengenal satu sama lain. Tetapi kalau kau tetap ingin memendamnya sendiri, aku tak memaksa. Kita bisa segera ke tempat yang kukatakan tadi. Habiskan dulu caramel macchiato-mu,” ujar Minhyuk lembut dan meraih tangan Jun-Hee dan menggenggamnya. Menyalurkan kehangatan dari Minhyuk ke tangan Jun-Hee yang terasa dingin.

“Aku tak yakin akan mengatakan ini, tapi aku juga tak bisa memendamnya sendiri..” kata Jun-Hee pelan akhirnya. Setelah meneguk caramel macchiato, ia merasa lebih baik.

“Aku siap mendengarkan apapun yang akan kau katakan. Karena itu dapat melegakanmu,” balas Minhyuk lembut.

 

 

Apa yang akan dikatakan Jun-Hee? Comment yaa, kalau bagus bakal dilanjutin😀

6 thoughts on “Hospital Autumn

  1. Junhee bilang Yonghwa udah pux yeochin yg nma’a park ah ra/yarra… *plak #abaikan

    penasaran thor… Lanjuuuuuttttttttttttt🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s