LOVE YOU, NUNA! [chapter 2 of 3]

 

 

Author: mmmpeb

 

Rating: PG15

 

Genre: romance, AU

 

Length: 3 chapters

 

Cast:

 

  • Lee Jonghyun CNBLUE
  • Lee Yejin / Ailee
  • Cho Kyuhyun SUJU

 

Disclaimer: my own drama plot, i had posted it on other place a year ago with other title & characters

 

Note: HAPPY READING =)

 

 

 

*******************

 

 

 

Jonghyun pov

 

 

 

Sebulan telah berlalu. Aku, Lee Jonghyun, kini telah resmi menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Seoul. Jurusan yang kuambil tidak jauh-juah dari musik, karena aku memang suka musik. Tidak sia-sia belajar gigih selama dua bulan penuh, sampai-sampai aku tidak bertemu dengan noona dan Kyu.

 

Ah, sebenarnya alasan utama aku tidak menemui noona karena… aku malu. Malu sekali! Bocah sepertiku tiba-tiba menciumnya secara mendadak dan tanpa persiapan apapun tahu-tahu aku mengutarakan apa yang aku rasakan padanya secara gamblang.

 

Sejak hari di mana noona mengakui isi hatinya padaku, rasanya dunia ini mendadak berubah jadi surga. Kata Minho sih, katanya efek jatuh cinta stadium akhir. Haha! Mungkin. Bertemu Lee Yejin itu kayak mendapat anugerah paling terindah selama aku hidup di dunia.

 

Kalian percaya jatuh cinta pada pandangan pertama, kan? Nah, aku mengalami itu saat aku baru pindah ke rumah yang sekarang. Pulang sekolah di hari pertama menginjak sekolah baru, dengan sepeda aku melewati sebuah toko bunga kecil nan cantik. Yah, tahu-tahu aku berhenti, menjatuhkan sepedaku sembarangan dan masuk ke dalamnya. Ternyata magnetnya adalah si pemilik toko. Sejak saat itu aku mendedikasikan diri kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan begitu tahu noona adalah–ehm- janda, bukannya hilang feeling justru aku merasa rasa sukaku pada noona kian bertambah.

 

Tapi belakangan, ada yang aneh dengan Yejin noona. Sejak saat itu, saat di mana kami resmi menjadi sepasang kekasih, dia jadi sedikit agak pendiam. Penyebabnya karena kita pacaran? Kurasa tidak. Apa karena penelpon misterius yang ia terima? Noona bilang cuma telpon salah sambung. Tapi wajahnya terlihat shock saat itu.

 

Ah, lupakan saja!

 

“Noona, kau melamun lagi!” kataku sambil menempelkan gelas dinginku ke pipinya. Kini kami sedang berada di kafe dekat kampus. Noona menemaniku menantikan kelas pertama di hari pertamaku kuliah yang akan kuhadiri sebentar lagi.

 

“Hah? Ani! Aku tidak melamun!”

 

“Kau melamun noona! Kenapa sih tidak menceritakannya padaku? Aku kan pacarmu.”

 

“Ya, Jonghyun-ah! Kita sudah pacaran, kenapa masih panggil aku noona?”

 

Aish, lagi-lagi dia mengalihkan pembicaraan.

 

“Jadi aku panggil apa? Beda umur kita kan lima tahun.”

 

“Terserah, asal jangan noona! Kok kesannya aku tua banget ya!”

 

Dia juga makin sensitif.

 

“Oke, Ye-ya! Aku-”

 

“ANDWAE! Jangan itu!”

 

Noona tiba-tiba berteriak di kafe yang hening ini. Sontak semua pengunjung mengalihkan pandangan mereka ke arah kami. Aku hanya tersenyum sambil menunduk maaf pada mereka.

 

“Suaramu keras sekali. Ada yang salah?” tanyaku penasaran.

 

“Hah? Tidak apa-apa! Aku tidak suka dipanggil begitu.”

 

Noona sungguh aneh, ada apa sih?

 

“Oke… chagi!”

 

“Jonghyun-ah, kau mau sepatuku apa gelas ini?” tanya noona geram, tangan kanannya mencengkeram sebuah gelas, dia siap melemparkannya kemanapun dia mau.

 

“Aisssssh! Lalu apa?????”

 

“Noona saja kalau begitu. Ya! Ini sudah jam satu, lima belas menit lagi kelasmu dimulai kan? Ayo cepat pergi sana!”

 

 

 

Yejin/Ailee pov

 

 

 

Syukurlah! Akhirnya Jonghyun pergi juga. Aku bingung harus beralasan apa lagi. Yang jelas tidak mungkin aku menceritakannya. Tidak pada Jonghyun. Aku tidak mau mengungkit luka lama. Biar saja Jonghyun tidak tahu masa laluku.

 

Ponselku yang terletak dekat dengan gelas minumku tiba-tiba berdering. Dari nomor tidak dikenal.

 

“Yoboseyo?”

 

“Ye-ya!”

 

“Nugu?”

 

“Kau benar-benar lupa suaraku…”

 

Suara itu….

 

Tanpa sadar ponselku terjatuh.

 

KRIIIIIIIIIING! Nada handphoneku berbunyi lagi. Akupun memungutnya. Masih dari nomor yang sama. Apa ini benar dia? Ah, ottokhae? Panggilan itu… Sudah jelas itu dia. Panggilan aneh yang selalu ia ucapkan jika memanggilku.

 

“Yo..yoboseyo?”

 

“Ye-ya, ini benar kau?”

 

Astaga, astaga..

 

“Ye-ya??”

 

Aigoo, apa yang harus aku lakukan?

 

“Yoboseyo? Ini kau Tae-ya?”

 

“Kyu…Kyuhyun?”

 

“Syukurlah, ini benar kau. Susah sekali aku mencari nomormu, kau tidak memberitahuku nomormu yang baru. Apa kabar?”

 

Hah? Apa-apaan dia?

 

“Ye-ya?”

 

“Ada apa kau menelponku?” tanyaku dingin. Entah kenapa tiba-tiba saja aku mendadak merasa kesal. Dia bicara seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi di antara kami

 

“Tidak ada apa-apa. Tiba-tiba aku ingin menelponmu. Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kabarmu dan jagoan kecilku? Bisa kau sambungkan padanya? Aku rindu sekali padanya.”

 

“Aku dan Kyu baik-baik saja, SANGAT baik! Kyu sedang bermain dengan teman-temannya.”

 

Kyu tidak sedang bermain. Dia kutinggalkan di rumah bersama bibi.

 

“Syukurlah kalian baik-baik saja. Aigoo, kau tidak menanyakan kabarku? Tega sekali!”

 

“Aku tau kau pasti baik-baik saja. Bisakah kita sudahi pembicaraan kita? Aku sedang sibuk!”

 

“Baiklah, sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik. Lain kali akan kuhubungi lagi. Semoga-”

 

Langsung saja kuputus sambungannya.

 

Dia adalah mantan suamiku, Cho Kyuhyun, ayah Kyu. Setelah kami bercerai, satu setengah tahun yang lalu, dia tidak pernah menelponku atau sekedar menanyakan kabar Kyu, tidak satu kalipun. Dan kini tiba-tiba dia menelponku, seolah-olah kami adalah teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Mau apa dia?

 

 

 

Flashback. Satu bulan yang lalu, di depan rumah Jonghyun

 

Jonghyun menghampiriku.

 

“Noona, gwaenchanayo? Mukamu pucat!” tanya Jonghyun khawatir. Ia menggenggam tanganku dengan erat.

 

“Gwaenchana. Bukan siapa-siapa, hanya…salah sambung.”

 

Ia menatapku seperti tidak percaya. Tapi kemudian mengangguk padaku dan tersenyum. Dan kemudian Jonghyun menarikku ke dalam rumahnya

 

Flashback end.

 

 

 

Sejak itu aku selalu kepikiran dirinya. Entahlah. Padahal aku nyaris bisa melupakan Kyuhyun brengsek itu. Aku masih belum berani memberitahu Jonghyun, takut menyakiti hatinya. Aku selalu berusaha mengalihkan pembicaraan saat Jonghyun mendesakku bercerita. Aku akan menunggu waktu yang tepat.

 

Mana mungkin Kyuhyun masih memikirkanku? Mungkin hanya penasaran dengan keadaan kami.

 

Eoh? +65 6836 9xxx? Telepon yang kuterima darinya merupakan sambungan dari luar negeri. Sedang dimana dia saat itu? Di mana dia sekarang? Aku kira dia di Ko–Ah, apa peduliku!

 

PIIIIIIIIIP! Nada smsku berbunyi. Pesan dari Jonghyun.

 

Masih di kafe? Aku akan keluar sebentar lagi. Dosenku hanya masuk sebentar. Jangan kemana-mana ya, chagiiiiiiiii :*

 

Aissssh! Minta kujitak kepalanya.

 

Tapi sulit rasanya untuk tidak tersenyum.

 

 

 

 

 

Jonghyun pov

 

 

 

“Masih jam 2. Nonton yuk?”

 

“Shireo! Kyu pasti sedang menungguku.”

 

“Tidak apa-apa, kan ada ahjumma yang menjaga.”

 

“Aku sedang tidak ingin, Jonghyun! Bagaimana kalau kita makan ramen saja? Di dekat sini ada restoran Jepang.”

 

“Baiklah! Terserah tuang putri saja.”

 

Noona tersenyum manis padaku. ia berjalan memimpin, sebelah tangannya tidak lepas dari genggamanku.

 

Sesampainya di sana, kami mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman untuk kami.

 

“Jonghyun, aku mau ke toilet dulu sebentar.”

 

Akupun mengangguk.

 

Seorang pelayan memberikan menu restoran dengan ramah padaku dan kemudian ia pergi. Tak lama nada ponsel noona berbunyi di atas meja. Dari nomor tidak dikenal.

 

Aku angkat tidak, ya?

 

Ah aku kan pacarnya. Angkat saja.

 

Ye-ya! Bisa kau temui aku sekarang?” kata pria di seberang telpon.

 

“Hmm mianhae! Noona sedang ke toilet.”

 

“Baiklah, akan kuhubungi lagi nanti.”

 

Sambungan tiba-tiba terputus.

 

Siapa pria itu? Tanpa menyapa, langung saja bicara. Apa teman noona? Dia memanggil noona Ye-ya? Bukannya noona benci dipanggil begitu? Pria itu mengajak noona bertemu? Siapa sih dia? Aissssh, banyak sekali pertanyaan yang muncul di benakku. Ternyata masih banyak yang belum kuketahui dari noona.

 

“Kau belum memesan?” tanya noona yang baru datang.

 

“Belum, aku kan menunggumu. Hmm.. Noona, aku punya sesuatu untukmu!”

 

Aku meraih tasku dan mengeluarkan kotak kecil berpita pink.

 

“Apa itu?”

 

“Kau ini yeoja tapi tidak peka!” sungutku, “Buka saja!”

 

Yejin noona tampak ragu-ragu meraih benda yang aku berikan padaku. dan ekspresi itu berubah drastis setelah ia membuka kotak itu.

 

“Jonghyuuuuuun! Kau membuatku terharu. Cincin ini indah sekali.”

 

“Itu hanya imitasi kok. Tapi suatu hari nanti akan kubelikan yang asli. Pasti.”

 

Aku merebut kotak itu dari tangan noona, lalu mengambil salah satu cincin yang berukuran lebih kecil.

 

“Kemarikan tanganmu!”

 

Noona pun menjulurkan tangan kirinya. Aku menyematkannya di jari manisnya.

 

“Wah, pas! Giliranmu, noona!”

 

Noona meraih cincin yang satu lagi, lalu menyematkannya di jari manis kiriku. Ia tidak henti-hentinya tersenyum memandangi cincin yang kuberikan. Ternyata aku tidak salah pilih.

 

PIIIIIIIIIP! Nada sms ponsel noona berbunyi. Diapun mengeceknya.

 

Apa dari pria tadi? Siapa sih dia sampai berhasil membuat noona terlihat shock begitu?

 

“Jonghyun, aku harus pergi sekarang. Kau tau kan rencanaku memasukkan Kyu ke taman kanak-kanak? Kepala sekolahnya ingin menemuiku sekarang.”

 

“Ara! Pergilah!”

 

Noona pun pergi terburu-buru.

 

Timing-nya pas sekali. Apa benar dari pria tadi? Tapi noona bilang ingin menemui kepala sekolah. Atau mungkin pria itu kepala sekolah? Semoga saja begitu. Noona tidak mungkin membohongiku, kan?

 

 

 

 

 

Yejin pov

 

 

 

Ye-ya! Temui aku sekarang di bawah menara jam. Aku akan menunggumu sampai kau datang.

 

Begitu aku mendapat sms itu, tiba-tiba tanpa berpikir panjang aku menurutinya. Tapi tidak mungkin kan aku bilang pada Jonghyun kalau aku mau bertemu dengan mantan suamiku, di tengah kencan kami?

 

Taksi yang kutumpangi berhenti ditempat yang kutuju. Setelah membayar, aku turun dari taksi dan berlari menuju menara jam yang jaraknya tidak sampai 50 meter dari posisiku.

 

“Ye-ya!” terdengar suara yang menyebut namaku.

 

Suara ini.

 

Suara Kyuhyun.

 

Langkahku melambat. Kulihat Kyuhyun tak jauh dari tempatku berada. Dia tersenyum, masih sama dengan yang dulu. Tubuhku seakan lemas begitu melihat Kyuhyun berjalan menghampiriku.

 

Tanpa seizinku dia langsung memelukku. Jujur, aku rindu pelukan ini. Pelukan yang selalu ia berikan padaku setiap hari di hari-hari indah kami dulu. Pelukan yang membuatku selalu berpikir kalau Kyuhyun tidak akan pernah meninggalkanku di dunia ini sampai ajal memisahkan kami.

 

Tiba-tiba wajah Jonghyun muncul di benakku.

 

Tidak boleh, tidak boleh!

 

“Kita sudah bercerai, Kyu! Ingat!” kataku sambil mendorong tubuhnya.

 

“Aku malah lupa!”

 

Dan kini dia menggandeng tanganku, lalu menarikku ke suatu tempat. Menara jam.

 

“Kau inget tempat ini, Ye-ya?”

 

Tangannya masih menggandeng tanganku. Entah kenapa aku tidak ingin melepasnya. Tangan Kyuhyun merupakan salah satu bagian tubuhnya yang aku sukai.

 

“Tempat ini….”

 

“Tempat aku melamarmu dulu, sekitar lima tahun yang lalu, tepat di hari kelulusanmu.”

 

Pikiranku tiba-tiba penuh dengan kenangan masa lalu. Saat pertama kali aku bertemu Kyuhyun sekitar tujuh tahun lalu, saat ia dengan beraninya memperkenalkan diri sebagai sunbae dua tahun di atasku, saat dia menyatakan perasaannya padaku, saat dia merenggut ciuman pertamaku di hari kelulusannya, dan…. saat dia berani melamarku ditengah kesibukan studi kami. Semua kenangan itu datang seperti slide show.

 

“Kau masih memakainya?” tanya Kyuhyun.

 

“Pakai apa?” tanyaku balik.

 

“Cincin kita.”

 

“Ma..mana mungkin aku memakainya. Kita kan sudah bercerai.”

 

Lalu dia memamerkan jari kirinya. Di jari manisnya masih tersemat cincin yang amat sangat kukenal.

 

“Aku masih memakainya,” katanya sambil memamerkan seluruh jari tangan kirinya padaku. Benar saja. Cincin silver itu masih tersemat. “Coba lihat tanganmu?” langsung saja dia mengangkat tangan kiriku. “Kau tidak memakainya,” katanya dengan wajah yang mendadak serius.

 

“Ten..tentu saja, kita ini sudah bercerai, Kyu! Mana mungkin aku memakainya.”

 

“Dan cincin itu? Kau…”

 

“Iya! Aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Baru berjalan sebulan, tapi kami saling mencintai.”

 

Entah kenapa ucapanku barusan agak terkesan memaksa. Seperti… TIDAK! Untuk apa aku berniat membuatnya cemburu?

 

“Aku kira kau masih mencintaiku.”

 

Nada suaranya berubah datar.

 

“Harusnya aku yang bertanya begitu, Kyu! Kau yang berkhianat!”

 

Dia melepas genggamannya. Tatapannya beralih sejenak dan kemudian kembali menatapku.

 

“Ada alasan yang tidak bisa kuceritakan padamu. Maaf! Tapi jujur, aku masih mencintaimu.”

 

Kyuhyun kembali menggenggam tanganku. Sebelum tangan itu berhasil membuatku luluh, aku menepisnya.

 

“Katakan itu pada sekretarismu!”

 

Dan sebelum matanya itu berhasil menghipnotisku, aku pergi meninggalkannya.

 

“Lee Yejin!”

 

Tidak kuhiraukan.

 

 

 

*****

 

 

 

Jonghyun pov

 

 

 

Hari kedua masuk masa kuliah dan –lucky me- tidak ada jadwal. Hari ini aku bisa bermalas-malasan di rumah. Ingin main ke rumah noona tapi… males, ah! Hehehe!

 

TINGTONGTINGTONG!

 

Orang-orang rumah tidak ada kecuali aku. Sungguh mukjizat jika orang tuaku ada di rumah kecuali hari Minggu. Terpaksa aku yang buka.

 

Kutengok interkom di dekat pintu. OH MY GOD! Buru-buru kubuka pintu.

 

“Apakah ini benar rumah keluarga Lee?” tanya pria itu.

 

“HYUUUUUUUNG!!!!!!”

 

Dia tetanggaku dulu sewaktu tinggal di Ilsan.

 

 

 

 

 

 

“Jadi selama ini kau di Singapura? Kau sombong tidak memberi kabar sama sekali.”

 

“Haha, maaf! Tidak bermaksud begitu. Aku sedang terfokus satu hal.”

 

“Aaaah, pasti istrimu, haha! Maaf ya aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu saat itu. Oh ya, aku benar-benar kangen saat kita ngeband dulu. Andai kau belum menikah, mungkin kita akan serius ngeband.”

 

Hyung tertawa. Baru saja ingin merespon, ponselku tiba-tiba bergetar. Hyung mengangguk dan membiarkanku membaca pesan singkat yang baru kudapat.

 

-Jonghyun, aku dan Kyu sedang menuju ke rumahmu. katanya Kyu ingin bermain denganmu.

 

Akupun membalasnya.

 

-Jangan jadikan Kyu sebagai alasanmu. Aku tau noona ingin bertemu denganku.

 

-Kau mau kubawakan batu?”

 

Aish noona. Asal yang memukul noona aku rela. Cepatlah datang kesini, aku akan mengenalkanmu pada temanku.

 

Ya! Sms dari pacarmu, ya? Kau lupa aku ada di sini? Senyum-senyum sendiri.”

 

Aish, hyung tahu saja.

 

“Hehe! Dia akan kemari bersama anaknya. Akan kukenalkan. Dia yeoja yang cantik.”

 

“Kau menyukai yeoja yang sudah memiliki anak?” tanya hyung heran.

 

“Iya. Aku mencintainya. Wae?”

 

“Aniyo. Wajahmu sangat berseri-seri. Kau pasti sangat mencintainya. Aku ikut senang.”

 

Hyung menepuk bahuku. Aku kira dia akan protes.

 

“Sangat! Gomawoyo! Lihat ini,” aku memamerkan cincinku, “Ini cincin kami. Ngomong-ngomong mana istrimu? Aku dengar dari eomma, kau sudah punya anak. Kenapa kau tidak mengajak mereka, hyung?”

 

“Aku sudah-”

 

TINGTONGTINGTONG!

 

“Ah, itu pasti noona. Tunggu sebentar ya, hyung!”

 

 

 

 

 

Kyuhyun pov

 

 

 

Cincin itu? Sepintas mirip dengan cincin yang Yejin kenakan kemarin. Kenapa Yejin mau saja memakai cincin pasaran begitu?

 

“Hyung, kenalkan! Ini Lee Yejin, dan si tampan yang satu ini Cho Hankyu. Nah noona, dia Cho Kyuhyun. Dia ini tetanggaku dulu, juga teman ngebandku. Kami sangat-”

 

“Appaaaa!”

 

Tiba-tiba anak kecil yang bernama Hankyu itu memelukku. Anak yang sangat ingin kupeluk sejak satu setengah tahun ini. Anakku.

 

Mataku memandang Jonghyun dan Yejin secara bergantian. Terutama Jonghyun, dia terlihat bingung sekali.

 

“Hyung? Dia… anakmu?” Jonghyun menunjuk ke arahku dengan tampang bingungnya, lalu beralih ke Yejin, “Dan ini istrimu?”

 

Aku hanya bisa diam ditanya begitu. Begitupun Yejin.

 

“Appa kok dicini? Berarti appa Kyu dicini cemua.”

 

Hankyu kembali memelukku erat. Akupun begitu. Rindu rasanya memeluk jagoan kecilku. Satu setengah tahun berlalu, ternyata dia masih ingat aku.

 

Jadi yeoja yang disukai Jonghyun itu….mantan istriku? Lee Yejin? Yeoja yang sangat kucintai?

 

“Jonghyun, aku ingin bicara denganmu,” kata Yejin lalu menarik paksa Jonghyun ke luar.

 

Apa yang akan mereka bicarakan? Ah, aku penasaran sekali.

 

“Appa! Appa jangan pelgi lagi, ya?”

 

Kugendong Hankyu. Aigoo, aku rindu sekali dengan anak ini. Sudah lama tidak bertemu, beratnya jauh semakin bertambah.

 

“Appa enggak akan pergi, kok!”

 

 

 

 

 

Jonghyun pov

 

 

 

Kami hanya terdiam, berjalan tak tentu arah. Noona sejak tadi tidak membuka mulutnya sama sekali.

 

Jujur! Aku sendiri masih tidak percaya kalo hyung itu ternyata mantan suami noona. Kenapa dunia terasa sempit begini? Kenapa harus Yejin noona? Kenapa harus Kyuhyun hyung?

 

“Mianhae, Jonghyun! Seharusnya aku cerita padamu. Telepon yang aku terima sebulan lalu, sebenarnya itu dari dia, bukan salah sambung. Dan kemarin… aku menemuinya. Jeongmal mianhae, Jonghyun-ah.”

 

Noona tiba-tiba menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya. Jelas ia menangis begitu aku mendengar ia terisak. Kupeluk dia, kubelai rambutnya.

 

“Tidak apa-apa, noona! Yang penting noona sudah mengaku. Dan….hyung hanya masa lalumu, kan?”

 

“Kenapa kau tidak marah saja padaku, Jonghyun?”

 

“Mana mungkin aku marah pada yeoja yang sedang menangis.”

 

Kini dia membalas pelukanku erat. Semoga pelukan ini hanya untukku seorang.

 

“Andai saja aku menghadiri pernikahan kalian waktu itu-”

 

“Kau tidak akan menyukaiku?” tanya noona lirih.

 

“Aniya! Aku bersyukur Tuhan mencegahku untuk tidak menghadirinya. Mungkin hubungan kita akan canggung karena aku tahu kau adalah mantan suami Kyuhyun hyung dan hubungan kita tidak akan sejauh ini.”

 

Aku memberanikan diri mengecup bibirnya dan noona tidak menolak.

 

“Ayo aku antar pulang. Biar Kyu aku yang antar nanti.”

 

 

 

 

 

 

Sesampainya di rumah, aku mendapati sepasang ayah dan anak sedang duduk di sofa. Kyu tertidur dipangkuan hyung. Akupun ikut duduk. Tidak ada suara yang keluar dari mulut kami.

 

“Dunia ini sempit sekali,” kata hyung memecah keheningan.

 

Aku hanya bisa tertawa, memaksakan diri untuk tertawa. Entah kenapa suasana jadi dingin begini.

 

“Dulu aku berusaha mengenalkan Yejin padamu, tapi selalu gagal. Andai saja kau hadir ke pernikahan kami maka-”

 

“Maka aku tidak akan menyukai noona? Kurasa tidak. Lagipula kalian kan sudah bercerai, hyung! Aku harap kau menyadari itu.”

 

Rasanya seperti tersulut api. Dan rasanya kurang ajar aku bicara ketus pada hyung seperti barusan.

 

“Bercerai bukan berarti kami tidak bisa bersatu lagi.”

 

“Mwo?”

 

Kata-kata hyung membuatku bergidik. Aku mencium sesuatu yang tidak enak.

 

“Aku mencintai Yejin, sampai kapanpun aku mencintainya. Jauh-jauh aku pulang ke Korea karena berniat rujuk dengan istriku.”

 

Tanpa kusadari tanganku sudah mengepal. Oke, rasanya sekarang aku ingin memukul sesuatu.

 

“Kau-”

 

Tiba-tiba hyung berdiri sambil menggendong Kyu yang tertidur.

 

“Aku akan membawa Kyu pulang.”

 

“Andwae!”

 

“Wae? Aku berhak karena aku ayahnya.”

 

Hyung berjalan melewatiku begitu saja. Entah karena jarak yang memang sempit atau tidak, tubuhnya mendorongku hingga duduk dengan tubuhnya sendiri.

 

“Aku harus mengantarkannya ke rumah noona.”

 

Tanpa menoleh hyung berkata, “Aku memang akan mengantarkan Kyu ke sana, kok! Aku masih hafal betul rute daerah sini, lebih darimu. Jangan khawatir!”

 

 

 

 

 

Yejin pov

 

 

 

Apa-apaan ini? Kyuhyun dan Jonghyun saling kenal dekat? Rasanya pusing kepalaku memikirkannya. Satu namja yang pernah kucintai dan satu lagi yang sedang kucintai, kini hadir di dalam hidupku bersamaan. Aigoo!

 

TINGTONG! Ah, itu pasti Jonghyun.

 

KLEK!

 

“Jonghyun, kau-”

 

Betapa kecewanya aku ternyata yang datang bukan yang kuharapkan.

 

“Kau ingin Jonghyun yang datang? Dugaanmu salah!”

 

Tanpa dipersilahkan, Kyuhyun masuk bersama Kyu yang digendongnya. Dia meletakkan Kyu di kamar Kyu. Dia masih ingat.

 

Tak lama ia muncul dan seenaknya duduk di sofa seperti rumahnya sendiri.

 

“Haaaaaaaaaaaah, aku rindu rumah ini!”

 

Aku masih tidak bisa bergerak dari pintu. Sungguh, rasanya sulit.

 

“Kau sedang apa Ye-ya? Sini duduk disampingku! Kau kan dulu suka begitu.”

 

Tiba-tiba saja air mataku menetes. Air mata yang sudah lama tidak kuteteskan untuk Kyuhyun.

 

“Maumu apa Kyu sebenarnya? Kau datang disaat aku tidak ingin mengharapkanmu.”

 

Kulihat Kyuhyun bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiriku. Kini dia tepat di hadapanku.

 

“Melihatmu menangis begini, aku merasa kau masih mencintaiku, Lee Yejin.”

 

Dia memelukku. Aku berusaha melepaskannya, namun pelukannya sangat kuat.

 

“Jangan harap, Kyuhyun! Ini bentuk rasa sakitku karena kau!”

 

Lagi. Aku berusaha mendorong tubuhnya, tapi kekuatanku kalah saing.

 

“Saranghaeyo, Yejin! Masih seperti dulu.”

 

Aku bergidik mendengar dia berkata begitu. Bayangan Jonghyun lagi-lagi muncul begitu Kyuhyun mengucap kata cinta padaku.

 

“Kau masih mencintaiku juga, kan?”

 

Aku hanya diam sampai ia melepas pelukannya.

 

“Aku tahu cara mengetahui kau masih mencintaiku atau tidak.”

 

Kini badannya condong ke arahku. Bibirnya berhasil mendarat di bibirku. Entahlah, aku tidak berkutik. Muncul rasa senang di hatiku. Ciuman seorang Cho Kyuhyun yang begitu kurindukan. Berciuman dengan Kyuhyun seperti candu. Dan begitu aku berhasil menghilangkan rasa canduku itu, kini ia kembali.

 

Jari-jarinya menyusup ke dalam rambutku dan menekan kepalaku seakan menuntunku untuk menciumnya lebih dalam. Kupeluk pinggangnya erat dengan kedua tanganku. Sedikit melenguh di sela ciuman kami yang seharusnya tidak kami lakukan.

 

Di saat aku ingin yang lebih dari itu, Kyuhyun melepaskan kontak bibir kami.

 

“Gomawoyo, yeobo! Aku sudah menemukan jawabannya,” bisiknya padaku sebelum ia memberikan senyumannya.

 

Apa maksudnya? Aku masih mencintainya? Haha?!

 

“Aku pergi dulu, besok aku akan datang lagi.”

 

 

 

*****

 

 

 

Apa benar Kyuhyun akan datang hari ini? Aish, apa peduliku! Ingat Yejin, kau sudah punya Jonghyun. Tapi rasanya sulit sekali mengenyahkan bayang-bayang Kyuhyun. Ah, ottokhae? Terbesit rasa bersalah di hatiku mengingat apa yang aku lakukan kemarin dengan Kyuhyun. Jonghyun, aku harus bagaimana?

 

PIIIIIIIP!

 

Noona, nonton yuk?! Aku punya dua tiket. Kalau kau mau, aku akan menjemputmu sekarang.

 

Kesempatan bagus, mungkin dengan kencan dengan Jonghyun aku bisa melupakan kejadian kemarin.

 

Aku mau!

 

Sebaiknya Kyu kutinggalkan bersama bibi saja dirumah.

 

 

 

 

 

Jonghyun pov

 

 

 

“Filmnya lucu sekali, ya kan noona?” tanyaku pada noona.

 

Noona tidak menjawab. Dari tadi aku perhatikan noona melamun terus. Aku tahu sekali apa penyebabnya.

 

CIIIIIIIIIIIIIIIT! Aku injak rem dalam-dalam.

 

“Jonghyun! Kau bisa nyetir tidak, sih?” tanya noona yang baru tersadar dari lamunannya. Ia terlihat kesal.

 

“Kau kenapa, noona?”

 

“Aku kenapa? Harusnya aku yang tanya begitu.”

 

“Kau melamun terus. Akui saja dan jangan membantah. Apa karena hyung?”

 

Raut kesal itu berubah menjadi bimbang. Lagi-lagi noona hanya diam.

 

“Benar dugaanku!”

 

Aku kembali menyetir mobilku, melaju dengan kecepatan 60 km/jam.

 

“Mianhae, Jonghyun! Situasi ini benar-benar membuatku bingung.”

 

“Kau bingung kenapa noona? Karena hyung? Aku kira kau sudah tidak mencintainya lagi.”

 

Ia diam, akupun diam. Aku benar-benar kecewa saat ini. Jelas sekali noona masih mencintai Kyuhyun hyung. Noona paling tidak bisa menyembunyikan perasaan, dan klopnya aku paling bisa membaca perasaan orang.

 

Tak terasa kami sudah sampai tepat di depan rumah noona. Hingga mobil berhentipun noona masih diam.

 

“Kau tidak mengerti posisiku sekarang, Jonghyun! Kau tidak mengerti.”

 

“Kau….masih mencintai hyung?”

 

Noona tidak menjawab.

 

“Kalau kau masih mencintainya, lantas kenapa bercerai? Bisa kau ceritakan padaku? Biar aku mengerti posisimu.”

 

Aku menunggu jawaban noona, lama sekali dia terdiam sampai akhirnya dia angkat bicara.

 

“Dua tahun yang lalu, sikap Kyuhyun tiba-tiba berubah drastis. Kyuhyun yang selalu perhatian berubah bersikap dingin padaku. Dia juga jadi jarang pulang ke rumah. Lalu satu setengah tahun yang lalu, seorang yeoja yang mengaku sebagai sekretarisnya, datang padaku dan mengaku bahwa dia telah menjalin hubungan dengan Kyuhyun. Mendengarnya membuatku ingin mati. Ditambah Kyuhyun tidak pulang selama sebulan, tidak memberi kabar sama sekali. Tahu-tahu aku menerima surat cerai dari pengacaranya. Sejak saat itu aku tidak pernah berhubungan lagi dengan Kyuhyun, sampai pada saat akhir-akhir ini. Kemunculannya membuatku bimbang. Dia muncul di saat aku nyaris berhasil melupakannya.”

 

Noona mulai menangis.

 

“Lalu-”

 

“Stop, noona. Aku sudah mengerti.”

 

Aku meraih tangan kiri noona, lalu mengambil cincin yang ia kenakan.

 

“Jonghyun-ah?”

 

“Ambil cincin ini bila kau sudah memantapkan hatimu untukku. Bagaimanapun, aku tidak mau yeojachinguku membagi cintanya pada orang lain. Aku akan menghormati segala keputusanmu, noona.”

 

Aish, ada apa dengan diriku? Bisa-bisanya bicara begitu.

 

“Kau sudah dewasa ternyata.” Noona mengacak-acak rambutku dan kemudian memelukku.

 

Aku harap keputusanmu sesuai harapanku noona. Harapanku adalah noona selalu bahagia.

 

 

 

 

 

Yejin pov

 

 

 

KLEK!

 

“Lama sekali kau pulang, Yejin?”

 

“Kyuhyun? Sedang apa kau disini?”

 

Dia menghampiriku.

 

“Kemarin kan aku sudah katakan akan kemari hari ini. Aigoo, kau pikun ternyata!”

 

Aku bukannya lupa, aku kira dia tidak serius.

 

“Kajja, cuaca sedang bagus! Kita main ke taman. Kyu dan ahjumma sedang ke supermarket.”

 

Kyuhyun menarik tanganku. Tapi justru tubuhnya seperti tertarik karena aku tidak beranjak dari posisiku.

 

Kini ia berdiri di hadapanku dengan kedua tangannya yang bertumpu di bahuku. Ia menghela nafasnya.

 

“Besok aku akan kembali ke Singapura.”

 

Kembali?

 

“Lantas?”

 

“Aku harap kau dan Kyu juga ikut.”

 

“Maksudmu?”

 

“Hahaha, kau memang tidak berubah Yejin. Tetap saja tidak peka sama hal seperti ini. Aku ingin rujuk. Kau mau kan?”

 

Apa? Rujuk?

 

Tiba-tiba saja bayangan Jonghyun yang muncul di benakku.

 

Setiap aku memeluk Jonghyun, aku bisa melupakan Kyuhyun sejenak. Tapi jika Kyuhyun memelukku, selalu bayangan Jonghyun yang muncul. Apakah ini pertanda posisi Kyuhyun benar-benar tergeser di hatiku? Apakah ini pertanda kalau aku memang mencintai Jonghyun?

 

Aku memang pernah mencintai Kyuhyun, tapi itu dulu. Kini dihatiku sudah ada Jonghyun. Lee Jonghyun.

 

“Aku tidak bisa, Kyu!”

 

“Wae?”

 

Akupun menatap Kyuhyun lekat-lekat. Dan fokusku mendadak berubah ketika melihat darah segar yang mengalir dari hidungnya.

 

“Kyuhyun? Hidungmu? Kau mimisan!” kataku sambil mengacak-acak tasku mencari tisu. Tapi Kyuhyun sudah membersihkannya terlebih dahulu dengan sapu tangannya.

 

“Sudah kubereskan.”

 

“Gwenchanayo? Wajahmu pucat Yong?”

 

“Gwenchana! Aku suka mimisan kalau kecapekan.”

 

Aku tidak pernah tahu itu.

 

“Jawab pertanyaanku tadi. Wae, Ye-ya? Apa karena Jonghyun?”

 

Akupun mengangguk dengan mantap. Semua memang karena Jonghyun, bukan?

 

“Ternyata kau benar-benar mencintai Jonghyun. Arasso! Kalau Jonghyun yang ada disampingmu, aku bisa tenang sekarang.”

 

“Mwo?”

 

“Aku harap kau bahagia dengan Jonghyun.”

 

Kyuhyun menyunggingkan senyuman mautnya. Dia masih tampan, sama seperti dulu. Hanya saja sekarang dia kurusan, pipinya juga tirus. Dia terlalu memforsir kerjanya. Itulah Kyuhyun, si pekerja keras.

 

“Selamat tinggal, Ye-ya.”

 

“Cih, kau mengucapkannya seolah-olah kita tidak akan bertemu lagi.”

 

“Hahaha!”

 

Kyuhyun kini sudah lenyap dari pandanganku. Dan entah kenapa perasaan lega muncul begitu saja. Apa karena penghambat hubunganku dengan Jonghyun sudah tidak ada? Sepertinya iya.

 

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tentu saja menemui Jonghyun dan meminta kembali cincinku.

 

 

 

 

 

Jonghyun pov

 

 

 

Kupandangi dua cincin yang pernah aku dan noona kenakan dengan dua cincin yang jauh lebih indah. Cincin ini kubeli tepat setelah aku memberikan cincin yang satu lagi pada noona, saat noona pamit untuk bertemu seorang kepala sekolah yang ternyata adalah mantan suaminya. Aku ingin sekali melihat noona memakai cincin ini. Aku menepati janjiku kan, noona? Ini cincin yang asli. Aku berniat melamar noona dengan cincin ini.

 

Tapi apakah noona akan datang dan mengambil cincinnya? Aku tidak tau. Aku rasa–

 

KRIIIIIIIIIIIIIIIIIING! Noona menelponku.

 

“Noona?”

 

“Jonghyun, cepat buka pintunya. Bel rumahmu mati, dari tadi aku gedor tidak ada yang membuka. Kau dirumah kan?”

 

KLIK! Langsung kuputus sambungannya. Akupun berlari menuju pintu. Apa noona sudah membuat keputusannya? Secepat ini?

 

KLEK!

 

“Noona?”

 

“Jonghyun-ah, kembalikan cincinku!” tangannya menengadah ke arahku.

 

“Mwo?”

 

Jinjja? Noona memilihku?

 

“Cincinku Jonghyun-ah! Cincin yang tadi kau ambil. Cepat berikan!”

 

“Noona? Kau…?”

 

“Aish, kau selalu bilang aku tidak peka. Namja aneh!”

 

Sebuah senyuman manis tersungging di bibir noona. Aku tidak bermimpi, kan? Lee Yejin datang ke sini karena aku, kan?

 

Kupeluk dirinya segera. Kurasakan kedua tangan noona memeluk leherku.

 

I love you, Lee Jonghyun!”

 

Love you too, noona! Ah cincinmu. Sebentar! Aku ambil di kamarku dulu.”

 

Aku berlari ke kamarku, mengambil cincin. Rasanya sangat tidak sabar untuk menyematkan kembali cincin itu ke jari manis yeojaku. Tapi bagaimana dengan hyung? Pasti dia sakit hati sekali. Mianhae hyung, jeongmal mianhae!

 

Aigoo! Aku bingung harus memberikan cincin yang mana. Apa aku lamar saja sekarang? Aish, aku tidak siap. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan saat melamarnya. Harusnya aku latihan kata-kata dulu. Ah nanti saja kuberikan, saat aku sudah benar-benar siap untuk melamarnya. Akan kuberikan cincin yang pernah noona pakai saja.

 

“Noona, ini mil–Noona? Gwaenchana? Siapa yang telepon?”

 

Aku mendapati noona dengan ponsel yang ia tempel ke telinganya. Raut wajah itu, seperti terkejut.

 

 

 

-TBC-


10 thoughts on “LOVE YOU, NUNA! [chapter 2 of 3]

  1. mmmpeb ada Yong nyempil tuh…

    ah jd Yong toh cast yg dulu y..
    wah ye-ya..bingung nih….
    Kyu sakit ya? maka y dia ga pulang n ngasih surat cerai…kyu memilih cerai saking mencintai Ye-ya#sotoy km Va…
    aku suka ff nya….
    di tnggu part terakhirnya…. y…

  2. Kyaaaaaa galau ye si yejin >< astaga kenapa ini FF aku banget? dilema antara kyuhyun dan jonghyun (?)
    aishhhh jangan bilang Kyu mimisan gegara sakit, terus meninggal, yejin bahagia sama jonghyun? #sotoy
    daripada nebak-nebak yasutralahh post part 3 nya yaaaa cepetan ^^

  3. Wahh kerrent gilaaak thor…:D
    bca nih ff krasa aq yg sbg yejin eonni, coz qmi sma” klhiran 30mei… #plak *gxngaruh😄

    next ya thor… Hwaiting🙂

  4. ah baru kenal ff, aplg main cast’a ailee^^
    daebak critany min,, ayo lanjutin yg part-3.. kirain udh di post smuan nih crita abisny udh lama sih post’a haha🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s