Bad Boy

Tittle    : Bad Boy

 

Author : Eng_gar (@yumikenta280691)

 

Cast     :

–      Kang  Minhyuk CNBlue

–      Park Jiyeon  T-Ara

–      Lee Jieun  (IU)

–      Other

 

Length : Chapter

 

Genre/Rating   : T, Comedy *dikit*, Romance *dikit*

 

Disc : IU, Jiyeon, dan other cast milik Tuhan dan ortu masing2. Tapi Minhyuk punya author.. kkkk *plak

Minhyuk punya Boice maksudnya.. J  Jalan cerita juga punya saya dan ada beberapa yang terinspirasi dari MV yang saya lihat J

 

Note    : Mian beribu mian (lagi) author masih dag dig dug nunggu pengumuman UN sambil ngegalau SS4INA kemaren dan ff ini terlahir dari otak kacau saya. Maaf.. tapi bagi yang uda baca wajib n kudu RCL karena saya uda maksain otak saya yang lagi galau buat kerjain ff gak jelas ini. J  Happy reading J

 

 

 

 

Jiyeon POV

 

”Omo mo mooo.. Dia..”

 

Namja bermata sipit itu? Apa aku tidak salah lihat? Bagaimana dia bisa ada disini? Wuuah.. tampannya.. ^_^ Tanpa kusadari aku memegang pipiku yang mendadak panas. Namja itu keren sekali, ah bagaimana kalau aku ajak kenalan? Tidak mungkin dia menolak berkenalan dengan yeoja secantik aku.

 

”A..Annyeonghaseyo..”  Aduh,  Jiyeon.. kenapa kau jadi gugup begini? Dia hanya namja. Bukan seorang presiden.

 

”Ne? Ah, annyeong.. Mianhae aku..”

 

”Ah, gwaenchana. Duduklah kembali.” Ucapku selembut mungkin saat namja itu hendak berdiri membalas salamku.

 

”Ne, emm.. chogiyo, aku bukan maling jadi jangan pukul aku.”

Namja itu menatapku takut-takut seakan aku akan mengacungkan pentungan berduri dan menghantamkan ke kepalanya. Oh, tidak. Aku tidak sekejam itu. Apa lagi dengan namja setampan dia. Ah, jadi malu. (-_-)

 

”Ah, aku tau. Mana ada pencuri setampan dirimu. Kkkkkk.”

 

”Mwo? Kau bilang apa, chogiyo?”

 

Aduuh.. keceplosan. Babo! Kenapa aku jadi agresif begini? Jiyeon kendalikan dirimu.

 

”Aa.. anu.. itu maksudku..”

 

”Kau sudah pulang, Jiyeon?”

 

Jieun! Huft..  Dia menyelamatkanku.

 

”Ya! Kenapa kau malah selonjoran? Apa sudah kau perbaiki jendela rumahku?”

Jieun menatap kesal ke namja tampan itu. Aku menatap Jieun dengan tatapan –jangan-kasar-bicara-dengan-namja-tampan-  *emang ada tatapan yang model begitu?*. tapi Jieun tidak merespon. Entah dia tidak mengerti arti tatapanku atau memang tidak mau mengerti.

 

Kudengar hembusan nafas kesal dari namja itu.

 

”Sudah, nona. Apa lagi sekarang?”

 

”Awas ya kalau lain kali menendang bola sembarangan lagi!” Jieun mengancam namja itu. Bola? Jadi kemarin itu bola?

 

 

Author POV

 

 

Setelah namja itu pergi dari kost2an Jiyeon-Jieun, kini saatnya Jiyeon ngamuk ke Jieun karena telah memarahi namja yang (menurutnya) tampan itu hanya karena salah tendang bola.

 

”Kalau aku tidak memukulinya dia tidak akan mau aku seret kemari.”

 

”Ya tapi ternyata dia bukan maling kan? Kamu sih, dia jadi salah paham.”

 

”Seharusnya kau senang karena dengan itu kau tidak perlu keluar uang mengganti jendela itu, Jiyeon..” geram Jieun. Dia meletukkan (?) giginya seakan akan memakan Jiyeon saat itu juga.

 

”Ah, sama saja. Sekarang mungkin dia sudah berpikiran buruk tentang kita. Yeoja anarkis? Galak? Dan..”

 

”Sudahlah Jiyeon. Perduli amat dengan pikiran namja sipit itu tentang kita. Tidak penting.”

 

”Menurutku penting.”

 

Jieun meniup poninya, kesal dengan omongan Jiyeon. Selalu begini menurut Jieun. Berdebat dengan Jiyeon membuat kepalanya seakan diputar di atas komediputar. Selain Jiyeon yang tidak mau mengalah alias kuat dengan pendapatnya, omongan Jieun sendiri juga terlalu ketus. Itulah mengapa author selalu bosan menulis keributan mereka.

 

 

Esoknya, setelah debat panjang Jiyeon-Jieun tentang namja sipit itu mereka kembali akur dan berangkat sekolah bersama. Sepanjang jalan menuju sekolah, seperti biasa Jiyeon selalu mengoceh dan Jieun mendengarkan dengan seperempat ikhlas. Sampai akhirnya mereka sampai di pintu kelas Jiyeon tetap tidak berhenti mengoceh. Apa yang Jiyeon bicarakan? Yup! Namja sipit yang kemarin memperbaiki kaca jendela rumah kost mereka.

 

”Ya ya ya. Aku tau, Park Jiyeon. Tapi bisakah kau berhenti bicara?” Jieun menghentikan langkahnya dan menatap kesal pada Jiyeon yang berjalan disampingnya. Sementara Jiyeon nyengir manis.

 

 

 

Dikelas saat pelajaran Fisika, pelajaran yang menurut Jieun menyenangkan dan menyebalkan menurut Jiyeon disertai pak Yonghwa, guru fisika berkumis tebal yang paling ditakuti para siswa, pantang bagi siswa untuk bicara apalagi bisik-bisik dipelajarannya. Tapi hari ini, Park Jiyeon berkata lain.

 

”Par Jiyeon! Kalau kau terus berbicara kau yang menggantikan posisiku disini!” Pak Yonghwa emosi dan dari kepalanya muncul asap yang mengepul. Reaksi awal pak Yonghwa jika dikelasnya ada murid seperti Jiyeon.  Jiyeon mingkem seketika.

 

 

”Terus ya, tatapan matanya biar sipit tapi menggairahkan (?) . Uda gitu senyu…”

 

”Ya! Jiyeon! Apa kau tidak bosan dari tadi membicarakan Minhyuk?! Sudah berapa kali kau mengatakan itu?” Jieun jengkel dan menatap Jiyeon kesal. Memang dasar Jiyeon, mulai dari sarapan sampai sekarang lagi ngisi perut dikantin ngomongin namja ituuu mulu. Pak Yonghwa aja sampai jengkel, apalagi Jieun.

 

”Yee.. siapa yang membicarakan Minh.. Mwo?? Nama namja itu Minhyuk? Ya! Jieun kenapa kau tidak bilang dari kemarin?” Jiyeon mendadak memajukan wajahnya dan pasang wajah sesangar mungkin setelah ucapan Jieun membuat Jieun menjauhkan diri dari jangkauan Jiyeon. Takut ditelen. (-_-)

 

”Kau sendiri tidak tanya.” Balas Jieun santai lalu melanjutkan acara makannya.

 

”Seharusnya kau punya inisiatif memberitahuku agar aku tidak memanggilnya ’namja sipit’ terus, Jieun..” Jiyeon memanyunkan bibir.

 

”Tidak ada kesempatan, sekali aku mau bicara sudah kau sela. Sudahlah. Lanjutkan makanmu nanti keburu lembek.”

 

”Dia tinggal dimana? Lalu sekolah dimana? Umurnya berapa? Kelas berapa? Lalu..”

 

”Ya! Kau pikir aku pegawai sensus?” Sendok makan Jieun melayang ke kepala Jiyeon.

 

 

 

Siang yang terik, sangat terik. Saatnya Minhyuk pulang dan mendinginkan diri di kulkas (?). Teman-teman setianya,  Jonghyun dan Kyuhyun masih membicarakan sesuatu dikelas sementara siswa yang lain sudah beranjak keluar gerbang. Di depan gerbang sekolah Minhyuk ada penjual es  krim. Harusnya dihari yang panas terik begini es krimnya laku dijual, tapi anehnya malah tidak laku. Kok?

 

”Yaiyalah, tidak laku. Lah sebelum dijual aja es krimnya sudah keburu meleleh di box saking panasnya ini hari.” jawab Minhyuk sambil mengipasi wajah cutenya dengan kedua tangannya. (-_-)

 

Oke, kita tinggalkan penjual es krim dan dagangannya yang tidak laku.

 

 

Sampai dirumah, Minhyuk langsung menuju kulkas mengambil segelas jus jeruk dingin dan menggaknya sampai habis. Rumah terlihat sepi, hanya terdengar deruan mesin kulkas saja. Minhyuk masuk ke kamarnya dan mengganti seragam.

 

Minhyuk kemudian tersenyum. Dia mengambil gitar dan secarik kertas kemudian mulai memetik senar gitar. *sejak kapan Minhyuk beralih profesi jadi gitaris?*. 2 menit kemudian terdengar suara nyaring dari kamar Minhyuk. Sebuah lagu cantik sedang dinyanyikan  namja tampan ini.

 

 

Gaseume saegyeojin byeori

Gaseume bitnadeon byeori

Ama neoingeot gatta

 

Tteollineun soriga deullini

Oh, star

Tteugeoun simjang eul neugini

You’re my star

 

*Lewat bentar. Kebetulan  pas author ngetik lagu ini winamp author  nge-play ’Star’ by Minhyuk. Kkkkk*

 

 

”Wah.. wah.. nuguya?” seorang yeoja tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar Minhyuk.  Minhyuk menghentikan permainannya dan menoleh.

 

”Noona sudah  pulang?”

 

”Siapa bintangmu itu? Aaa… ayo bilang..”

 

”Noona ini kenapa? Ini hanya sebuah  lagu tau.”

 

”Ah, jinja? Nae dongsaeng sudah besar rupanya. Ah ya. Aku belikan makanan untukmu, kau pasti belum makan. Kajja.”

 

 

 

”Jinja? Wah kau hebat Jieun.” Ibu kost mencubit pipi tembem Jieun.

 

Jiyeon yang bilang ke ibu kost kalau Jieun iku LCC dan ibu kost sangat bangga dengan itu. Yap. Ibu kost telah pulang dari menonton live Super Show 4 Super Junior *author mupeng*. Dan sekarang mereka sedang makan malam bertiga. Maklum, ibu kost mereka ini belum punya anak. Kalau dilihat-lihat dia belum pantas disebut ’ibu’ karena wajahnya masih imut dan umurnya terbilang masih muda. Dia tidak mau di panggil ahjuma atau ibu.

 

”Jiyeon yang memaksa, eonni. Kalau saja rumah tidak kemalingan saya tida.. ooppss..” Jieun spontan menutup mulutnya. Dia memukul mulutnya seolah megutuk perkatannya yang keceplosan tadi.

 

”Mwo?? Kemalingan? Kok bisa? Apa yang hilang? Kalian ada yang luka?”

 

”Bohong eonni. Itu hanya bola sepak yang salah tendang. Jieun saja yang berlebihan!” Jiyeon bersemangat. Tiba-tiba saja bayangan wajah Minhyuk muncul di ingatannya.

 

”Hah? Syukurlah..” ibu kost bernafas lega. Sementara Jieun meniup nasi didepannya.

 

”Yang nendang bola tampan loh eonni.. manis.. ” Jiyeon mulai senyum-senyum membayangkan wajah Minhyuk. Sementara Jieun mencari kapas untuk menutupi telinganya, bosan mendengar kalimat itu-itu saja yang dibicarakan Jiyeon dari pagi.

 

 

 

Akhirnya, tiba hari H dimana Jieun harus bertanding memperebutkan juara #1 di LCC. Sebenarnya lomba ini juga  yang diajukan Kyuhyun dan Jonghyun kepada Minhyuk. Tapi sekuat apapun usaha mereka, Minhyuk tetep memilih ikut final footsal. Dan seperti harapan ibu kost, Jieun menang tetapi tidak menjadi juara satu. Hanya #2. Diatas langit masih ada langit.

 

”Gwaenchana Jieun-ah. Ini sudah cukup baik.” Hibur ibu kost.

 

Padahal sebenarnya Jieun sama sekali tidak peduli mau kalah atau menang. Juara satu, dua, tiga atau tidak dapat juara sekalipun dia tidak peduli karena niatan ikut LCC dari awal adalah karena paksaan. Berbeda dengan Jieun yang pasang tampang biasa saja, Jiyeon dari tadi ribet nyari panitia penyelenggara, mau minta hadiahnya Jieun (-__-).

 

”Jieun-ah, kau harus traktir kami sebagai syukuran gitu..” Jiyeon menyenggol lengan Jieun sambil senyum-senyum. Bak sudah hapal akan kelakuan Jiyeon, Jieun mengangguk dan mereka segera capsus ke restoran. Ibu kost mereka tidak bisa ikut karena.. ada sesuatu *Syahrini mode on*.

 

 

 

”Ya! Pelankan makanmu Jiyeon. Apa kau benar-benar kelaparan?”

 

”Tentu shaja. Dari pagi akhu belum makan. Kalian khan tidak masak.” Jiyeon biarpun penampilan oke dan fashionable, kalau berurusan dengan kelaparan sudah lupa segalanya. Jieun geleng kepala dan menikmati makananya. Selang beberapa lama..

 

”Aduh, Jieun. Perutku..” Jiyeon meringis memegangi perutnya. Seperti kesakitan.

 

”Wae? Makanya kalau makan pelan-pelan jadi begini kan. Makan juga rakus. Tad..”

 

 

Tanpa menggubris ceramah Jieun, Jiyeon langsung berdiri dan berbalik hendak ke toilet. Namun naas (?) karena saat Jiyeon berdiri ada seorang membawa nampan berisi makanan dan minuman lewat dibelakangnya. Yah, sudah bisa kalian bayangkan sendiri kalau Jiyeon pasti menabrak orang itu dan semua makannya tumpah tepat mengenai kemeja orang itu.

 

”Oppss.. Mianhaeyo.. mianhaeyo..” Jiyeon membantu memunguti makanan tak berbentuk yang jatuh di lantai sambil menahan sakit perutnya. Wajahnya sekarang sudah merah cabai yang panas.

 

”Ya, chogiyo..” orang itu mengomel pelan (?). Memang tidak marah tapi jelas terlihat aura kesal di wajahnya. Sementara Jieun? Cuek, lanjut memamah biak makanannya, pura-pura tidak kenal Jiyeon *sadis*

 

”Mianhae.. mianhae..” Jiyeon berdiri dan membungkuk berkali-kali ke orang itu sambil memengangi perutnya.

 

”Semoga orang ini tidak mengomeliku, aku sudah tidak tahaan ke wc..”  batin Jiyeon.

 

”Ne, gwaencahana..”

 

”Kamsaham..” Jiyeon menegakkan tubuhnya menghadap keorang itu yang ternyata seorang namja. Mendadak sakit perut Jiyeon hilang, wajahnya yang tadi panas menahan sakit sekarang berganti menjadi berseri-seri seperti musim semi saat melihat namja di depannya.

 

”Minhyuk?!” Jiyeon berseru bahagia. Spontan Jieun menghentikan makannya dan menoleh ke2 orang itu.

 

”Ne? Apa aku mengenalmu?” Namja itu yang ternyata sering diomongankan dan dipuji Jiyeon dimana saja dan kapan saja, namja bernama Minhyuk itu berdiri di depan Jiyeon.

 

”Ya! Aku Jiyeon. Park Jiyeon yang kemarin kau..”

 

”Yang kemarin kau pecahkan kaca jendela rumahnya. Annyeong, Minhyuk-ssi?” Jieun berdiri dan mencoba tersenyum. Jiyeon menatap Jieun dengan tatapan –jangan-menyindir-minhyuk-. Jieun cuek.

 

”Ya! Kenapa aku harus bertemu kau lagi, nona?”

 

”Wae? Ini tempat umum dan kau tau dunia sangat sempit. Itu kenapa kita bertemu.”

 

”Kau juga sedang makan disini, Minhyuk? Soal makanan itu aku minta maaf..”

 

Jiyeon lagi-lagi membungkuk. Untung  tidak encok karena terlalu sering membungkuk. Minhyuk hanya melempar senyum ke Jiyeon dan pasang wajah kecut ke Jieun. Jiyeon langsung terbang mendapat lemparan senyum Minhyuk (-_-).

 

”Sedang apa kau disini?” Jiyeon kembali mencari kesempatan untuk biacara dengan Minhyuk.

 

”Makan.” Minhyuk menjawab singkat-padat-jelas sambil menatap Jieun kesal. Masih kesal karena masalah di kost.an Jieun-Jiyeon kemarin. Dan Jieun kembali duduk sambil menatap evil Minhyuk.

 

”Sendirian ya?” tanya Jiyeon (lagi).

 

”Dengan chingudeul-ku. Sedang merayakan kemenangan tim footsal kami.”

 

”Waah.. tim footsal-mu menang? Chukkae…” Jiyeon terus pedekate.

 

Padahal Minhyuk sudah ngebatin, ”Yeoja ini siapa sih? Aku aja nggak kenal..”

 

”Jiyeon-na? Kau bilang mau ke kamar kecil? Nanti keburu keluar disini lohh..” sindir Jieun yang sukses membuat Jiyeon malu. Dia melempar tatapan –jangan-bicara-sembarangan-  ke Jieun.

 

”Oh, kau mau ke kamar mandi? Silahkan aku juga mau kembali ke chingudeul-ku. Annyeong Jiyeon-ssi, dan.. Jieun-ssi.”  Minhyuk menyebut nama Jieun dengan seperempat ikhlas dan segera berlalu ke meja dimana teman-temannya menunggu.

 

”Waah.. Jieun, dia semakin tampan ya?” Jiyeon kembali duduk dan menopang dagunya.

 

”Tidak ada yang berubah.” Jiyeon tidak peduli dengan pendapat Jieun dan kembali senyum-senyum tidak jelas.

 

 

 

Malam yang dingin disinari sinar bulan yang agak redup, Minhyuk, namja yang (katanya) bisa membuat Jiyeon meleleh kayak lilin dipanasin malam itu sedang duduk di bawah jendela kamarnya sambil melamun memandangi sisa memar di lengannya kemarin. Jangan tanya siapa yang membuatnya seperti iu.

 

”Dasar yeoja aneh. Yang satu galak minta tolong yang satu centil naujubilah..”  *sejak kapan Minhyuk masuk islam?*

 

”Mana aku dibikin bonyok begini. Untung cakepku ngga sampai hilang. Ckckckck.”  Minhyuk kePDan.

 

”Ah, aku harus kerjain balik itu yeoja galak. Aku ngga trima dijadiin babu begitu.”

 

 

-Flashback-

 

 

”Ya! Mau kemana kau? Maling ga bertanggung jawab!”

 

Jieun menyeret Minhyuk ke rumah kost-nya sembari menarik kerah baju Minhyuk sampai namja itu tercekik. Itu saat mereka tidak sengaja bertemu di jalan, saat jieun tidak sengaja menendang batu dan kaleng soda lalu mengenai kepala Minhyuk.

 

”Cho..choghiyo.. uhuk.. kau mencekhikku.. uhuk..”

 

”Biar. Sekarang kau jelaskan semua dan ikut aku!”

 

 

Sampai di kost-an Jieun, Minhyuk diinterogasi habis-habisan oleh Jieun. Entah bagaimana caranya ruang tamu itu tiba-tiba berubah menjadi ruang interogasi maling ayam mirip di serial kartun yang sering author tonton *upin-ipin* lengkap dengan lampu 5watt yang yang digantung redup karena lupa bayar listrik.

 

 

”Lalu kenapa kau kabur?” Jieun membawa pentungan hansip yang entah nyuri dari pos ronda mana sambil mengitari Minhyuk.

 

”Aku takut kau memukulku lebih parah, nona. Kau itu sangat galak..” Pentungan melayang ke kepala Minhyuk.

 

”Apa benar kau hanya tidak sengaja mendang bola?” Jieun menyipitkan matanya.

 

”Benar. Kemarin aku latihan footsal karena beberapa hari lagi tim ku bertanding. Lagipula bukan aku yang menendang bola itu, nona. Temanku Jungshin yang menendang..”  jelas Minhyuk panjang lebar. Jungshin yang sedang makan tiba-tiba tersedak karena diomongkan Minhyuk.

 

”Siapa namamu?”

 

” Kang minhyuk.”

 

”Keundae. Minhyuk-ssi. Karena kau sudah merusak kaca jendelaku jadi kau harus menggantinya..”

 

”Tapi nona..” Minhyuk memotong ucapan Jieun.

 

”Dan karena tadi kau mengatakan aku galak, kau harus bereskan taman belakang. Cabuti rumputnya, siram bunganya, dan sapu halaman depan sampai bersih..”

 

”Nona, kau pikir kau siapa bisa menyuruhku seenak jidatmu?!”

 

”Ya! Berani melawan?! Mau aku giles pakai gilingan beras, huh?!” Jieun memelototkan matanya yang sukses membuat Minhyuk tertunduk lesu. Calon suami takut istri #plak.

 

 

-Flashback End-

 

 

 

 

Siang itu Jiyeon datang kesebuah kafe. Bukan tanpa alasan ataupun pergi sendirian. Dia ada janji dengan seseorang yang bilangnya dia salah satu penggemar Jiyeon dan sukses membuat Jiyeon kegirangan. Dia meminta Jiyeon menemuinya lewat surat yang dikirim lewat burung merpati *masih jaman gitu?*.  Maklumlah, si pembuat janji ini tidak tau nomer hp Jiyeon dan alamat e-mailnya. Jadi ambil cara pintas dengan beli merpati di pasar burung.

 

Mumpung masih 30 menit lagi dia ketemuannya, dia pakai dulu untuk jalan-jalan. Lewat pinggir danau yang ada dipinggir taman kota. Tanpa sengaja Jieon melihat sesorang yang sudah tidak asing baginya memakai baju coklat sedang duduk-duduk melempari air danau dengan batu kerikil.

 

”Minhyuk-ssi? Sedang apa kau disini?” sapa Jiyeon seramah mungkin sambil tebar senyum termanisnya.

 

”Jiyeon-ssi? Menunggu seseorang. Kau sendiri sedang apa? Jalan-jalan?” Minhyuk berdiri dan membalas salam Jiyeon. Tumben hari ini wajah Minhyuk cerah. Menurut author sih karena Jiyeon pergi sendirian tidak bersama Jieun. Minhyuk kan paling males tuh kalau sudah bertemu Jieun bawaan pengen garuk aspal aja     (-__-).

 

”Aniyo. Aku sedang ada janji.”

 

Akhirnya merekapun larut dalam obrolan. Tapi Jiyeon sepertinya yang lebih sering bicara ketimbang Minhyuk. Jiyeon yang niatnya mau ketemuan sama orang di kafe jadi lupa sama janjinya karena terlalu ayik ngobrol dengan Minhyuk. Yang tadinya Cuma mau jalan-jalan 30 menit jadi 1,5 jam. Ckckckckck.. Minhyuk, wajahmu mengalihkan dunia Jiyeon *plak.

 

 

”Jiyeon-ssi? Bukankah kau ada janji?” Minhyuk menghentikan tawa Jiyeon.

 

”Ah iya. Jam berapa sekarang?” Jiyeon memeriksa arloji biru yang melingkari pergelangan tangannya.

 

”Aigooo.. aku telat 1 jam lebih.. Minhyuk-ssi lain kali kita bertemu lagi. Annyeong..” Jiyeon buru-buru berdiri dan berlari menuju kafe. Minhyuk tertawa melihat Jiyeon yang menurutnya sangat lucu saat berlari.  *ciieeee.. ada apaan tuh, bang? Ehem ehem..*

 

 

”Ah, apa aku terlambat? Dimana orang itu? Apa dia sudah pulang?” Jiyeon mengitarkan pandangannya ke setiap sudut kafe. Dari surat yang dia baca, orang itu bilang dia akan memakai jas putih dan t-shirt coklat. Tapi dari tadi Jiyeon memperhatikan sampai matanya kelilipan orang itu tidak dia temukan.

 

”Dasar fans menyebalkan! Tau begini aku tidak meninggalkan Minhyuk tadi. Apa orang itu hanya mengerjaiku?” Jiyeon menendangi angin yang lewat di sekitarnya lalu pulang dengan hati jengkel.

 

Dari kejauhan seseorang yang dimaksud Jiyeon, memakai t-shirt coklat sedang cekikikan mengintip ekspresi Jiyeon dari balik penjual es krim.

 

 

 

”Kau kesambet setan ya, Park Jiyeon?” tegur Jieun saat dia melihat Jiyeon senyum-senyum sendiri sambil memandangi layar handphone-nya.

 

”Ani..” Jiyeon tidak bergeming dari handphone-nya.

 

”Dari pulang tadi kau sudah begini. Dapat arisan?”

 

”Ani..”

 

”Ketemu artis di jalan?”

 

”Aniyo..”

 

”Dapat hp baru?”

 

”Aniyo..”

 

”Lalu? Bertemu Minhyuk?”

 

”Ani.. ya! Darimana kau tau?”

 

”Kau baru saja menjawabnya.” Jieun mendadak tidak mood bicara setelah kata ’Minhyuk’ terlontar dari mulutnya.

 

”Kau tau, Jieun?”

 

”Ani.”

 

”Ya! Aku serius..” Jiyeon menggembungkan pipinya kemudian tersenyum lagi.

 

”Aku juga serius. Kau saja belum bicara apa-apa. Ya mana aku tau.” balas Jieun cuek.

 

”Kau mau tau?” senyum makin lebar dari bibir Jiyeon. Matanya semakin berbinar.

 

”Ani.”

 

”Ya! Setidaknya kau pura-pura mau, Jieun. Kau ini selalu merusak mood baik-ku..” Jiyeon ngambek. Jieun memutar bola matanya.

 

”Keundae, Jiyeon. Mwo?” Jieun membuat wajahnya seolah-olah penasaran.

 

”Ayo tebak..” Jiyeon kembali tersenyum.

 

Layaknya setan Gong Xi yang sering author tonton, bedanya kali ini yang muncul dari pikiran Jieun adalah setan (?) Minhyuk yang terbang keluar dari kepala Jieun.

 

”Ya! Kalau bicara yang serius! Tadi aku tidak mau mendengarkan kau marah, sekarang aku sudah buat wajah sepenasaran mungkin kau malah suruh menebak!”

 

”Ne, ne, ne. Kau tau Jieun? Aku dan Minhyuk baru saja bertukar nomer hp.. hebatkan?” Jiyeon melompat-lompat kecil.

 

”Great! Hanya begitu saja kau sudah seperti orang gila?” Jieun keluar dari kamar meninggalkan Jiyeon yang masih menimanng-nimang hp-nya.

 

 

 

 

”Jinja? Kau mau ke rumahku? Tentu saja. Ne, annyeong.” Jiyeon menutup slide hp-nya sambil senyum-senyum.

 

Reader tau siapa yang barusan telepon? Yup! Minhyuk. Minhyuk bilang dia ingin main ke rumah Jiyeon karena alaasan gombalnya, kangen. Baru dibilang ’kangen’ begitu Jiyeon sudah teriak – teriak sambil salto ngga karuan sampai-sampai ibu kost yang lagi arisan di tetangga sebelah langsung pulang nyamperin Jiyeon.

 

”Huh! Kirain kamu kena gas LPG yang meledak.” setelah mengatai seperti itu, ibu kost langsung kembali ke acara arisannya.

 

”Jieun.. Jieuun.. Jieun-ku sayaaang.. eottiya?” Jiyeon masuk ke kamar Jieun dengan penuh semangat. Sampai di kamar Jieun ternyata si empunya lagi ngerjain tugas.

 

”Mwo?”

 

”Minhyuk mau main kesini looh.. kyaaa..”

 

”Mwoo???!! Si curut itu mau kesini?! Ya, Jiyeon-na!  Kenapa kau biarkan?!” Jieun refleks setelah mendengar kata ’Minhyuk-mau-main-kesini’ langsung melempar buku yang dia pegang keluar jendela kamar dan tidak sengaja kena tukang bakpao yang lewat.

 

”Biar saja. Eh, kau bantu aku bikin kue ya?”

 

”Shireo! Buat saja sendiri. Awas ya kalau rumah berantakan!” Jieun memasang wajah seseram mungkin.

 

 

 

”Jinja? Jadi kau bisa memasak? Omo..”

 

Dari ruang tamu terdengar jelas suara obrolan berisik tidak jelas, dan kriuk-kriuknya cemilan (?) dari 2 orang yang sedang seru tertawa sambil ngemil itu. Jiyeon-Minhyuk. Di meja kaca yang ada di tengah sofa tercecer banyak bungkus kue, kaleng soda, permen dan makanan kecil lainnya. Apakah Jiyeon yang menyiapkan? Tentu saja tidak. Dia beli di warung sebelah terus tinggal di sajikan deh.

 

”Tentu, kau tau? Bahkan appa-ku berniat mewariskan resep dan restorannya ke aku. Kkkkk.”

 

”Waah aku ingin mencicipi masakanmu, Minhyuk.”

 

”Aku jamin kau ketagihan.”

 

”Wah, selain itu?”

 

”Aku juga bisa sulap. Mau lihat?” Jiyeon mengangguk semangat.

 

”Perhatikan ini baik-baik.”

 

Minhyuk mengeluarkan kertas tisu. Jiyeon memandang kertas tisu itu baik-baik. Minhyuk mulai memainkan tisu itu dengan tangannya, sangat lihai. Menyembunyikan tisu itu dibalik punggungnya dan.. TRING ! Seikat bunga.

 

”Wuah.. daebak.. lagi lagi..”

 

”Ya! Sekali lagi kalian berisik aku sihir kalian jadi monyet!” Jieun melongokkan kepalanya dari pintu kamar dengan wajah sedikit merah. Jiyeon mingkem seketika.

 

”Nenek sihir itu?”

 

” Nugu? Itu tadi Jieun bukan nenek sihir. Dia memang suka mengancam mau nyihir orang jadi monyet kalau belajarnya diganggu. Pegang tongkat sihir saja tidak pernah, mau menyihir orang.” Jiyeon menggerutu seraya memandangi pintu kamar Jieun yang sudah tertutup. Minhyuk menepuk wajahnya.

 

 

Setelah selesai bermain dan tertawa *lu kata teletubbies?*, Minhyuk pamit pulang karena hari sudah hampir siang. Reader pasti heran apakah Minhyuk-Jiyeon-Jieun tidak sekolah? Ya.. anggap saja mereka sedang liburan semester ganjil (dimulai saat Jiyeon gagal mau ketemuan sama fans rahasianya di kafe). Author males nulis setting di sekolah. Soalnya kalau di sekolah author inget mulu sama nenek lampir alias boice abal-abal, alias kpopers musiman,  alias newbie sotoy  yang sukanya ngembat bias author *plak! jangan curhat, thor.

 

 

”Sudah kubilang jangan buat rumah berantakan, Jiyeon! Sampah sebanyak ini siapa yang mau membersihkan?!” Jieun memelototi Jiyeon yang sedang menonton kartun di tv.

 

”Nanti aku bereskan sebelum eonni pulang dan setelah acara ini selesai.” balas Jiyeon enteng. Matanya tidak lepas dari layar tv.

 

Apa benar yang dikatakan Jiyeon akan membereskan sampah-sampah itu sebelum ibu kost pulang? Jiyeon dipercaya. Setelah acara kartun itu selesai Jiyeon menguap dan masuk ke kamarnya. Alhasil, dia ketiduran dan lagi Jieun yang harus membereskan sampah Jiyeon sebelum ibu kost pulang dari arisannya atau uang kost mereka kan dinaikkan karena tidak bisa menjaga kebersihan. Malangnya nasibmu, Jieun.

 

 

 

 

Di rumah Minhyuk

 

Minhyuk PoV

 

 

Haha, senangnya hatiku (?). tadi  siang benar-benar seru. Bisa aku lihat wajah jengkel Jieun saat kami mengganggunya belajar. Biarpun kata Jiyeon Jieun itu pintar, tapi belajar tidak segitunya. Inikan masa liburan. Aku saja yang pintar overdosis begini masih nyantai. Kkkkkk.

 

Mungkin besok-besok aku akan kesana lagi. Ke rumah Jiyeon-Jieun. Kangen? Oh, no! Hanya lucu saja setiap hari aku bisa membuat Jieun nenek sihir itu marah-marah. Apalagi kalau setiap aku kesana Jiyeon menyuguhi dengan camilan yang enak. Bukan karena aku rakus, tapi biar Jieun kerepotan membersihkan sisa-sisa rontokan (?) makanan kami. Hahaha.

 

Aku tau kalau Jiyeon tidak suka bersih-bersih. Dan Jieun, siap-siaplah menjadi pembantu dadakan selama liburan ini. Kang Mihyuk yang tampan ini akan membalas perbuatanmu dulu! Huahahahaha.. *evil laugh*   #yang dimaksud Minhyuk itu perbuatan menjadikan Minhyuk sebagai tukang kebun dadakan waktu Minhyuk gak sengaja mecahin kaca jendela Jiyeon-Jieun#

 

 

Author PoV

 

Jieun kembali mendengus kesal dibuat Minhyuk. Lagi-lagi dia berkunjung (?) ke rumah Jiyeon-Jieun dan membuat ruang tamu rumah kost itu berantakan. Dan Jieun (lagi) yang membersihkan kerusuhan itu. Si abang sipit niat banget bikin Jieun ngamuk. Apalagi sekarang gak Cuma berantakin ruangtamu, Minhyuk sengaja jalan kaki lewat jalan berlumpur biar sepatunya kotor dan otomatis lantai rumah Jiyeon-Jieun pun seperti sarang bebek yang baru pulang dari empang.

 

”Aku harap liburan cepet selesai, aku nggak kuat menghadapi ulah cecunguk sipit itu..” geram Jieun dalam hati.

 

Sebenarnya Jieun pengen marahin Jiyeon, tapi dia ngga tega marahin orang sepolos Jiyeon. *kalo author boleh ngomong, Jiyeon itu kelewat polos dan lebih mengarah ke o’on deh..*  #author ditabok diadem.

Maka dari tiu dia lebih milih diem dan ngeberesin barang-barang yang udah kayak kapal pecah itu.

*poor Jieun.

 

 

 

 

-tbc

 

 

 

 

 

 

Otte? Masih kurang panjang kah? Makin ngga jelas kah? Kkkkk.. author masih bingung kelanjutannya mau kayak apa. *Lha? Piye iki?

 

Oke sekian, kamsahamnida uda mau baca dan jangan lupa RCL. *bow

15 thoughts on “Bad Boy

  1. Wahh si abang minhyuk kya’a kesel amhat amha si jieun yah?? Hati” lohh awal”a benci akhr’a jd cinta… HahaaaxD

    udah ckup pnjg sih, tp low mau dpnjgin lg jg gpp…. Hehee
    next thor, hwaiting^^

  2. wah.. Keren + banget thor . Hahahaha ngakak gw bacanya . Sumpah itu minhyuk jail bgt sama IU . Kasian eonniku dikerjain abis”an . #hah?eonnie?sapa lu? #plakabaikan.
    Good job cingu ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s