Is This L.O.V.E !!

Title : Is This L.O.V.E !!

Author : Shineelover14

Main Cast :

  • Kang Minhyuk CN BLUE
  • Park Chorong A PINK

Other Cast : Yoon Bomi A PINK

Rating : PG-15

Genre : Romance

Lenght : Oneshot

Disclaimer : Annyeong, setelah sekian lama fakum. Aku membawa dua cast yang merupakan favorit aku. Moga aja pada suka. DON’T LEAVE A COMMENT!! Like klo suka ceritanya.

***

Author P.O.V

Chorong berlari tergesa-gesa ketika matanya mengarah pada jam berukuran raksasa yang berada di tengah-tengah gedung sekolahnya. Jam itu telah menunjukkan pukul 07.30 KST.

“Aish!!” gumamnya kesal.

Nafasnya memburu berusaha meraih oksigen sebanyak-banyaknya, namun langkahnya tak jua berhenti. Ia masih berlari dengan cepat menyusuri koridor sepi itu.

Perlahan diketuknya pintu kayu berwarna coklat tua bertuliskan ‘Kelas XII.IPA1’. Beberapa kali ia menegak salivanya, berusaha menghilangkan rasa gugup. Terdengar dari dalam, suara deheman seseorang yang sangat ditakuti seluruh murid di Choongbook High School.

Chorong menggerak-gerakakan bibirnya seperti membaca sebuah matra ketika memasuki ruang kelas yang tampak sunyi itu. Tak satu pun murid yang berani bersuara. Semua mata tertuju padanya dan menyiratkan ‘Tamatlah Riwayat mu’.

Chorong menunduk dalam, tak berani menatap wajah gurunya yang sangat menakutkan. Pandangannya hanya tertuju pada ujung sepatu kulit berwarna hitam dan mengkilat milik Lee Seongsaenim.

“Jadi apa alasan mu kali ini, Park Chorong!” ucap Lee Seongsaenim dengan nada penegasan ketika mengeja namanya.

Chorong mengutuk dirinya sendiri. ‘Sepertinya aku akan benar-benar mati ditangan Lee Seosaenim hari ini’ pikir gadis itu. Chorong tak jua menjawab dan tetap menunduk dalam.

Lee Seongsaenim menghela nafas berat, tak habis pikir dengan tingkah murid perempuannya yang satu ini karena hobinya yang selalu terlambat masuk sekolah.

“Sudahlah, kau tak perlu menjelaskan apa pun pada ku. Pergi ke perpustakaan sekarang dan ringkas seluruh buku sastra yang ada disana!” ucap Lee Seongsaenim membuat Chorong mengangkat wajahnya segera.

“Ta—tapi …” bantah Chorong.

“Tidak ada tapi-tapi. Cepat selesaikan hukuman mu sekarang juga!” usir Lee Seongsaenim. Chorong hanya pasrah, ia berjalan pelan sembari tertunduk.

“Dan ingat, ringkasannya harus selesai ketika bell istirahat berbunyi!” lanjut pria berkaca mata dengan kumis tebal itu. Chorong hanya mampu tertunduk semakin dalam, meratapi nasibnya yang kurang beruntung hari ini. Biasanya ia akan mendapat hukuman berdiri didepan kelas selam 1 jam. Itu tidak masalah baginya, tapi kali ini ia disuruh meringkas buku sastra. Dan pelajaran itu sangatlah dibenci Chorong.

***

Diketuknya berkali-kali ujung pulpennya yang berbentuk kepala beruang. Matanya menatap malas sederet tulisan yang ada didalam buku sastra itu. Kini pandangannya beralih pada jam dinding yang terpajang di perpustakaan tersebut. Dua jam lebih telah berlalu, dan otaknya sudah merasa lelah dengan segala mantra membosankan yang ada didalam buku tersebut.

“Aish! Kenapa harus diberi hukuman meringkas?! Aku lebih baik disuruh mengerjakan soal-soal fisika, ketimbang harus meringkas kalimat-kalimat aneh ini!” rutuk Chorong geram. Didorongnya buku tebal itu untuk menjauh darinya.

Ia menatap keseluruh sudut perpustakaan, suasananya tampak sunyi dan lengang. Tentu saja, karena saat ini seluruh siswa-siswi Choongbook High School sedang belajar.

Chorong merentangkan tangannya diudara, melemaskan sendi-sendinya yang menegang. Tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya dan membuatnya menoleh.

“Ini!” ucap sosok itu sembari melempar buku kearahnya. Chorong menatap buku itu sekilas lalu kembali menatap sosok tadi dengan tatapan tajam. Tersirat pancaran ke bencian dimata gadis itu.

“Itu catatan sastra ku. Lee Seongsaenim menyuruh ku untuk meminjamkan catatan itu pada mu karena kau tidak mengikuti pelajarannya tadi,” ucap sosok itu seperti tahu maksud pandangan Chorong yang bertanya ‘Untuk apa buku ini’.

“Kau tidak perlu berbaik hati pada ku, Kang Minhyuk. Aku tidak butuh catatan mu. Aku bisa pinjam catatan Bomi nanti,” ucap Chorong sengit. Ia menatap mata pria itu dalam. Pandangan mereka yang saling bertemu seolah memercikkan api kebencian satu dengan lainnya.

Tiba-tiba pria bernama Kang Minhyuk tersenyum, lebih tepatnya menyengir meremehkan gadis yang ada dihadapannya sekarang.

“Baiklah,” sahut Minhyuk singkat kemudian meraih catatanya dan segera meninggalkan Chorong sendirian. Namun belum jauh ia melangkah, tiba-tiba pria itu berteriak, “Selamat menikmati hukuman mu, Park Chorong! Ku rasa hukuman mu akan dilipat gandakan!” ejek Minhyuk sembari tertawa.

Chorong menyernyit, tak mengerti maksud ucapan pria setan yang sangat dibencinya itu. Namun seketika matanya membulat saat mendengar bunyi bell istirahat yang berdentang.

“Omo, matilah aku …”

***

“Chorong~a, mengapa kau sangat membenci Minhyuk?” tanya Bomi pada sahabatnya itu.

Chorong menatap lurus ke depan, melihat deretan awan putih yang tampak meneduhkan hatinya. Ia belum menjawab pertanyaan Bomi dan masih tenggelam dengan pikirannya sendiri. Mereka berdua berada di atap gedung sekolah.

“Dia itu sangat menyebalkan,” desis Chorong. Bomi menatap  mata sahabatnya lekat berusaha membaca pikiran gadis yang berada disebelahnya itu.

“Ya, ku akui Minhyuk memang pria yang menyebalkan. Ia terlihat begitu dingin pada siapa saja, namun tidak dengan mu,” sahut Bomi.

“Apa maksdu mu?” tanya Chorong heran. Kini ia menatap mata Bomi tajam. Gadis berwajah imut itu hanya tersenyum dan membuat Chorong semakin kebingungan.

“Aku tidak tahu ini perasaan ku saja atau bukan. Tapi Minhyuk terlihat begitu memperhatikan mu. Bukankan kau berkata bahwa tadi ia datang menemui mu dan meminjamkan catatannya? Kurasa itu bentuk perhatiannya pada mu,” jawab Bomi. Dan seketika membuat Chorong tertawa.

“Ya! Kau bercanda, Yoon Bomi?!” ucap Chorong masih dengan tawanya. Bomi menggerutu kesal.

“Ya! Aku tidak sedang bercanda, Park Chorong. Sepertinya ia menyukai mu!” bentak Bomi. Mendengar nada suara Bomi yang meninggi, Chorong segera meredam tawanya dan kini menatap wajah sahabatnya serius.

“Baiklah-baiklah. Maafkan aku,” ucap Chorong dengan nada penyesalan. “Tidak mungkin ia menyukai ku. Ia selalu mengajak ku bertengkar dan selalu saja menindasku. Masalah catatan itu, Lee Seongsaenim yang menyuruhnya untuk meminjamkannya pada ku karena aku tidak mengikuti kelasnya tadi,” jelas Chorong.

“Dia berbohong,” sahut Bomi segera.

“Mwo,” gumam Chorong heran.

“Entahlah, tapi kurasa ia bohong. Aku tidak mendengar Lee Seongsaenim berkata seperti itu tadi,” ucap Bomi. Chorong tertegun sejenak, memikirkan perkataan Bomi. Namun dengan cepat ditepisnya pikiran-pikiran aneh yang bermunculan diotaknya dan segera menarik tangan Bomi.

“Sudahlah, lupakan dan jangan bahas masalah itu lagi,” ucap Chorong sembari menyeret sahabatnya kembali ke kelas.

***

Chorong duduk termenung di tepi lapangan basket. Ia mengistirahatkan kakinya sehabis berlari. Tiba-tiba ucapan Bomi tempo hari berkelabat memenuhi pikirannya. Ia mengingat-ingat kapan pertama kali ia mulai bermusuhan dengan Minhyuk dan itu terjadi ketika dirinya masih duduk di kelas X.

Saat itu Minhyuk adalah teman sebangkunya. Pria itu tak pernah berlaku ramah padanya dan selalu meremehkannya. Pria sombong dengan tampang dingin membuat hari-hari Chorong diisi dengan rutukan serta cacian akan sosok Kang Minhyuk dan lambat laun rasa benci itu menumpuk hingga sekarang.

“Ya gadis jelek minggir! Menjauh dari ring itu! Jangan salahkan aku jika bola ini mengenai mu!” teriak seseorang. Chorong sangat mengenal jenis suara yang meneriakinya. Ya siapa lagi kalau bukan Kang Minhyuk.

Belum sempat Chorong menyahuti ucapan Minhyuk, tiba-tiba kepalanya merasa pusing dan pandangannya berubah menjadi gelap. Bola basket itu baru saja mengenai kepalanya dan membuatnya jatuh pingsan. Darah segar mengalir dipelipis Chorong dan seketika itu pula teman-teman sekelasnya menghambur menghampirinya.

 

“Euungh,” guman Chorong ketika tersadar. Bomi segera menghampirinya dan membantu sahabatnya itu untuk bangkit.

“Kau sudah sadar?” tanya Bomi khawatir.

Chorong mengangguk tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya. “Syukurlah. Bagaimana perasaan mu, apa kau merasa lebih baik?” tanya Bomi lagi.

“Ne,” jawab Chorong pelan.

Bomi menghela nafasnya, “Aku pikir kau akan mengalami cedera otak. Untung saja tidak,” desis gadis itu. Chorong teringat sesuatu. Ia menjadi seperti ini pasti akibat si Setan Minhyuk. “Aku tidak akan memaafkannya,” umpat Chorong. Amarahnya memuncak, tak habis pikir dengan tingkah musuh bebuyutannya itu.

“Lihat saja, aku tidak akan membiarkan ia selamat,” desis Chorong geram.

“Mwo? Apa yang kau katakan?” tanya Bomi heran melihat sahabatnya yang berbicara sendiri. Chorong hanya tersenyum sembari menggelang.

“Aniy …”

Tiba-tiba pintu ruang kesehatan itu terbuka dan muncullah Minhyuk dari balik pintu membuat Chorong membelalak. Dilihatnya pria itu sedang menggenggam gelas berisi air putih ditangan kanannya dan ditangan kirinya, ia menggenggam sebuah tablet obat berwarna biru muda.

Bomi bangkit dari duduknya dan hendak menghampiri Minhyuk, namun langkahnya terhenti ketika mendengar Chorong berteriak keras.

“Ya! Kau, Kang Minhyuk! Jangan tampakkan wajah mu lagi dihadapan ku! Belum puas kau sudah membuat ku sakit seperti ini, huh?! Pergi kau! Jangan kira dengan membawakan ku obat, aku akan segera memaafkan mu!” Chorong melempar bantalnya ke wajah Minhyuk dan pria itu hanya diam saja. Ia tertunduk dalam.

Bomi menatap sahabatnya heran. “Suruh dia pergi sekarang juga! Aku tidak ingin melihat wajahnya yang memuakkan!” ucapnya pada Bomi.

“Kau tidak perlu mengusir ku. Aku akan pergi sekarang juga,” ucap Minhyuk dingin. Ia memberikan gelas serta obat yang dibawanya tadi pada Bomi. Gadis itu tak mampu berkata apa-apa dan hanya menurut saja.

Chorong membuang muka, ia tak mau melihat lebih lama wajah pria yang sangat dibencinya itu. Bomi berjalan mendekati Chorong.

“Mengapa kau meneriakinya?” tanya Bomi.

“Aku membencinya. Aku tidak ingin melihat wajahnya,” jawab Chorong segera tanpa mengalihkan pandangannya.

Bomi menghela nafas berat. “Tapi sikap mu keterlaluan,” sahut Bomi.

“Tidak untuk orang yang telah menyakitiku,” desis Chorong. “Bisakah kau tinggalkan aku sebentar. Ku rasa aku butuh istirahat, kepala ku terasa sakit sekali,” lanjut Chorong.

Bomi tak dapat berkata apa-apa lagi. Gadis itu meletakkan obat serta gelas yang diberikan Minhyuk tadi kemudian berjalan keluar dan menutup pintu ruang kesehatan itu rapat-rapat.

Chorong  menekuk kedua lututnya kemudian membenamkan kepalanya di sana. Ia terisak, geram akan tingkah Minhyuk yang sudah sangat keterlaluan menurutnya. Semakin dieratkannya pelukan itu hingga tanpa terasa ia tertidur dalam posisi meringkuk.

***

“Im Yoona!”

“Ne ..”

“Jung Jinyoung!”

“Ne ..”

“Kang Sangje!”

“Ne ..”

“Kang Minhyuk!”

“Kang Minhyuk?” ulang Miss Han. Chorong yang tengah sibuk dengan catatannya kini beralih menatap ke bangku kosong yang terletak disudut kelas.

“Ada yang melihat Kang Minhyuk?” tanya Miss Han.

“Sepertinya Minhyuk tidak masuk hari ini, Miss,” jawab Jinyoung. Ia adalah ketua kelas di XII IPA.1

“Ada yang tahu mengapa ia tidak masuk?” tanya Miss Han lagi. Tak satu pun ada yang menjawab. Dan itu terlihat tak biasa.

Chorong mendelik ke arah Bomi yang duduk di sebelah kirinya. Gadis berwajah imut itu seolah tahu maksud tatapan Chorong, ia mengangkat kedua bahunya tanda ia tidak tahu.

Ini kali pertamanya Minhyuk tidak masuk sekolah. Ia adalah salah satu juara umum di Choongbook High School dan tidak mungkin pria itu membolos tanpa alasan yang jelas. Bahkan ketika ia sedang sakit pun, Minhyuk masih tetap masuk sekolah.

Setelah selesai mengabsen, Miss Han segera bergegas meninggalkan kelas karena jam mengajarnya telah berakhir. Satu per satu teman sekelas Chorong melangkah keluar menuju kantin. Sekarang adalah jam istirahat, dan Chorong hanya menghabiskan waktu istirahatnya dikelas. Bomi yang mengajaknya untuk sarapan pun tak dihiraukannya.

Suasana hening dan tenang. Ada perasaan yang aneh muncul dihatinya. Ia benar-benar merasa sepi dan sendiri. Ya, bisa dikatakan sedikit banyak Minhyuk telah berpengaruh dalam hari-harinya. Tak ada teriakan serta cacian yang terlewatkan setiap harinya akibat ulah Minhyuk yang selalu membuat Chorong kesal. Namun tidak untuk hari ini. Teriakan serta cacian itu tidak terlafaskan dari bibirnya.

Chorong menatap kearah bangku kosong yang berada dibelakang sana. Bangku itulah yang biasanya diduduki manusia setan bernama Kang Minhyuk itu.

“Apa ia baik-baik saja?” desis Chorong pelan. Kini pandangannya beralih dan ia terkejut ketika melihat Bomi telah duduk menghadap kearahnya.

“Aa—apa yang kau lakukan disini?” tanya Chorong gelagapan. Bomi terlihat mengulum senyum.

“Kau mengkhawatirkannya?” terka Bomi.

“Ya! Apa yang kau bicarakan?! Mengkhawatirkan apa? Aku tidak mengerti,” elak Chorong.

“Sudahlah, mengaku saja. Terlihat jelas dari raut wajah mu,” sahut Bomi.

“Ne .. Ne .. Aku mengkhawatirkannya karena ini tak biasa. Sudahlah, jangan bahas masalah ini lagi,” ucap Chorong kesal. Bomi tertawa, ia tahu betul sifat gugup sahabatnya itu. Ia akan mengelak ketika ditanya prihal yang membuatnya merasa gugup dan meminta untuk tidak membahasnya.

***

Chorong menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru muda. Ia menghempas tubuhnya keatas tempat tidur begitu sampai di rumah.

Pandangannya menerawang jauh membayangkan apa yang sedang dilakukan Minhyuk saat ini. Chorong tidak dapat membohongi hatinya, bahwa pria itu benar-benar telah menyita seluruh perhatiannya.

“Apa aku keterlaluan padanya?” desis Chorong pelan.

“Ah .. Tidak-tidak. Ia pantas diperlakukan seperti itu,” sanggahnya.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan tak lama kemudian suara Ny. Park yang terdengar. “Chorong~a. Ada teman mu didepan.”

“Siapa, eomma?” sahut Chorong.

“Eomma tidak mengenalnya. Ia seorang pria,” sahut Ny. Park lagi. Chorong langsung bangkir dari tidurnya.

“Minhyuk!” gemamnya. Segera dirapikannya rambut coklatnya yang sedikir berantakan kemudian berlari membuka pintu.

“Apa pria itu bertubuh tinggi dan putih?” tanya Chorong segera.

“Euungg .. Ne,” jawab Ny. Park.

Chorong berlari menuruni tangga kemudian bergegas menuju halaman rumahnya. Dahinya menyernyit ketika menemukan Minho yang berada disana.

“Minho!” gumam Chorong. Pria itu tersenyum ramah padanya. “Apa yang kau lakukan disini? Mana Minhyuk?” timpal gadis itu lagi dan kali ini pria itulah yang menyernyit.

“Minhyuk? Aku tidak melihat Minhyuk. Aku kemari untuk meminta maaf,” jawab Minho segera.

“Maaf?” tanya Chorong heran.

Minho menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. Ia bingung harus memulai ucapannya dari mana. Beberapa kali ia bergumam sendiri dan itu membuat Chorong semakin bingung.

“Sebenarnya ada apa?” tanya Chorong mulai tak sabaran.

“Begini. Sebenarnya aku ingin meminta maaf atas kejadian tempo hari. Aku tidak sengaja melempar bola basket itu kearah mu. Maafkan aku Chorong telah membuat mu terluka.”

Chorong membelalakan matanya. “Mwo?”

“Sebenarnya, Minhyuk sudah menyuruh ku untuk segera meminta maaf pada mu. Tapi aku terlalu pengecut dan tidak menghiraukan perkataanya. Dia bilang bahwa aku telah menghancurkan hidupnya. Aku tidak mengerti apa maksud dari perkataanya, namun karena beberapa hari ini ia tidak masuk sekolah jadi aku berpikir bahwa akulah penyebab itu semua.”

Chorong tak mampu berkata-kata lagi. Ia segera berlari meninggalkan Minho sendirian dipekarangan rumahnya. Rasa sesal kini menghantuinya. Ia teringat betapa kasarnya ia pada Minhyuk beberapa hari yang lalu. Melempar pria itu dengan bantal dan meneriakinya dengan keras.

Tak butuh waktu lama untuk sampai dirumah Minhyuk karena jarak rumah mereka yang tidak terlalu jauh. Chorong memasuki pagar rumah itu dan ia disambut oleh seorang wanita paruh baya yang sedang berkebun dihalaman rumahnya yang begitu luas.

“Permisi, apa anda ibu Kang Minhyuk?” terka Chorong dengan nafas tersengal.

Wanita paruh baya itu tersenyum ramah, “Ne. Aku ibunya Kang Minhyuk. Anda siapa?” tanya Ny. Kang. Wanita paruh baya itu melepaskan sarung tangannya dan berjalan mendekati Chorong.

“Apa kau teman sekelasnya?” tanya Ny. Kang lagi ketika sudah berhadapan dengan Chorong. Chorong mengangguk, sembari terus mengatur peredaran nafasnya.

“Ini pertama kalinya teman Minhyuk datang kemari. Masuklah, ia sedang belajar diruang baca,” ucap Ny. Kang mempersilahkan Chorong masuk.

“Ne, terima kasih Ny. Kang,” jawab Chorong segera. Tak lupa ia membungkuk hormat pada Ny. Kang dan wanita paruh baya itu membalasnya dengan senyuman.

Chorong memasuki rumah mewah itu. Sepi, tak seorang pun di temuinya didalam rumah tersebut. Chorong berjalan berkeliling mencari ruang baca. Matanya menatap kagum semua interior mahal yang terpajang disetiap sudut rumah. Dan kini pandangannya tertuju pada sebuah pintu yang sedikit terbuka.

Chorong mengintip keadaan dibalik pintu itu, “Tuhan maafkan aku jika telah berbuat lancang,” gumamnya.

Dilihatnya sosok Minhyuk yang tengah membaca sebuah buku. Chorong mendorong pintu itu perlahan hingga Minhyuk tak sadar akan keberadaanya.

Pria itu masih tenggelam dengan bacaannya. Ia membaca dengan teliti rumus-rumus fisika yang berada didalam buku tersebut hingga sebuah suara membuatnya tersadar.

“Ya! Kang Minhyuk!”

Minhyuk mengalihkan pandangannya dan menatap sosok yang berada didepannya sekarang. Ia bangkit dari duduknya dengan wajah terkejut menatap Chorong. Gadis itu terdiam dengan tatapan yang tak dapat dibaca oleh Minhyuk.

Beberapa kali, salivanya diteguk untuk menghilangkan rasa gugup dan seketika ia berlari memeluk tubuh pria itu. Minhyuk membeku tak dapat menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, “Aa—apa yang sedang kau lakukan disini?” tanyanya dingin.

Chorong menangis, ia terisak dipelukan pria itu. “Bodoh, kau sangat bodoh Kang Minhyuk!” umpat Chorong disela tangisnya.

“Ya! Mengapa mengataiku bodoh?!” sahut Minhyuk tak terima.

“Kang Minhyuk sangat bodoh. Mengapa tidak bilang bahwa waktu itu bukan kau yang melempar bola basketnya? Mengapa kau malah diam saja ketika ku lempar kepala mu dengan bantal? Mengapa kau pergi tanpa mengucap sepatah kata pun pada ku? Kau bodoh Kang Minhyuk!” pekik Chorong.

Minhyuk menjauhkan tubuh Chorong darinya kemudian merengkuh pundak gadis itu erat. Ditatapnya mata Chorong dalam. “Bagaiman aku ingin menjelaskan pada mu, sedangkan kau berteriak-teriak seperti orang gila lalu mengusir ku. Sedikit pun kau tak memberiku kesempatan,” jawab Minhyuk. Dihapusnya air mata yang membasahi pipi Chorong.

Minhyuk tersenyum ramah dan ini kali pertamanya Chorong melihat senyum yang begitu tulus untuknya, bukan senyum meremehkan yang biasa ditunjukkan Minhyuk padanya.

“Lalu mengapa kau datang kemari dan memeluk ku?” tanya Minhyuk heran.

Chorong terdiam sejenak. Dunia seakan berhenti berputar detik itu juga. Ia merutuki kebodohannya kali ini. ‘Kau telah mengantar nyawa kekandang Singa, Park Chorong’ gumamnya dalam hati.

“Aa—aku …”

Belum sempat ia menuntaskan kalimatnya, Minhyuk telah mengunci bibir Chorong dengan kecupannya. Perlahan Chorong menutup matanya, menikmati kecupan lembut yang diberikan Minhyuk.

Jantungnya berdetak cepat dan tak dapat terkendali lagi. Lama Chorong menikmati hembusan hangat nafas Minhyuk, membuatnya semakin terhanyut.

Minhyuk melepas kecupannya dan menatap mata Chorong lembut. “Saranghae,” lirihnya.

Chorong tak mampu berkata lagi, ia segera memeluk Minhyuk erat sebagai jawaban bahwa ia juga mencintai pria itu.

***

Aku tak pernah tahu, kapan cinta datang …

Tapi aku tahu, ini adalah cinta yang sesungguhnya …

Aku merasa begitu kosong ketika suaranya menghilang dan lenyap dari pendengaran ku …

Merasa hilang …

Ketika ulahnya tak lagi mengganggu hari-hari ku …

Satu yang ku yakini, Is This LOVE !!

Sekuat apa pun aku menyangkalnya, ini tetaplah cinta ..

***

Minhyuk menggosok-gosok kedua telapak tangannya yang mulai terasa dingin. Pandangannya mengalih pada ruas jalan diseberang sana. Di telitinya satu per satu pejalan kaki yang melewati jalan itu, namun yang dinanti tak kunjung datang.

Jam telah mengarah pada pukul 17.00, sudah hampir satu jam ia menunggu kekasihnya di taman itu.

“Lihat saja aku tidak akan membiarkan mu selamat, Park Chorong,” dumel Minhyuk dalam hati.

Dieratkannya syal rajut berwarna biru tua itu. Hawa dingin hampir membuatnya membeku ditempat. Telapak tangannya pun telah berubah pucat.

Segera seseorang meraih tangan itu dan menggosoknya hangat, membuat Minhyuk sedikit terkejut dengan tindakan frontal tersebut.

“Ya! Park Chorong, kau mengagetiku!” pekik Minhyuk.

Chorong hanya melempar senyum manisnya, dan cukup membuat hati Minhyuk luluh. “Mianhae,” sesal gadis itu.

“Apa lagi alasan ku kali ini?” tanya Minhyuk sinis.

“Aish! Jangan tekuk wajah mu seperti itu, kau terlihat semakin tua,” ejek Chorong.

“Mwo!” Di pukulnya kepala Chorong pelan, membuat gadis itu sedikit meringis.

“Baiklah-baiklah. Aku ketiduran,” ucap Chorong enteng.

“Mwo!” pekik Minhyuk. Merasa dirinya terancam, Chorong segera bangkit dan berlari menjauhi kekasihnya itu. Minhyuk tak tinggal diam, ia segera mengejar gadisnya yang kini tengah membuatnya kesal.

“Ya! Park Chorong! Kau tidak akan ku lepaskan jika tertangkap nanti.”

“Kejar saja aku jika kau bisa. Aku juara satu lari di sekolah,” ejek Chorong membuat Minhyuk semakin kesal.

Dipercepatnya langkah hingga tangannya dapat menggapai Chorong. Ditariknya tangan gadis itu hingga tubuh mereka saling berdekatan. Mata Minhyuk menatap tajam, membuat Chorong sedikit gelisah dan takut.

“Ya! Kang Minhyuk, lepaskan aku,” perintah Chorong.

Minhyuk hanya tersenyum kecil dan segera meraup bibir mungil Chorong. Dikecupnya bibir itu lembut, membuat detak jantung keduanya berpacu abnormal.

Lama mereka dalam posisi seperti itu, menikmati kehangatan yang tercipta di antara keduanya. Di rengkuhnya dalam tubuh Chorong, membuat gadis itu pun membalas dengan hal yang serupa. Suasana taman yang begitu sepi, membawa keduanya hanyut hingga sebuah suara seseorang mengagetkan mereka.

“Apa yang sedang kalian lakukan!” Minhyuk melepas kecupannya dan menatap Chorong dalam. Mata mereka saling menyiratkan sesuatu yang sulit untuk diartikan hingga keduanya mengalihkan pandang ke sumber suara tersebut dan membelalak kaget.

“Lee Seongsaenim!!!!”

-Fin-

13 thoughts on “Is This L.O.V.E !!

  1. Uwahhh!! Kerennn xD
    Bikin lagi dong cerita couple “ChoMin”nya..
    Suka banget!
    Keep writting, thorr!!😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s