[FF/CHAPTER] PLEASE, LOVE ME!! [PART 3]

Tittle :

  • PLEASE, LOVE ME!! [PART 3]

Author :

  • AlviMagnaeHyun

Idea by :

  • AlviMagnaeHyun
  • Meri_Mentari

Main cast:

  • Choi Hye Yoon –> Author
  • Lee Eun Soo –>  @Meri Mentari
  • Lee Jong Hyun
  • Kim Ki Bum (Key)
  • Choi Minho

Support cast:

  • Lee Taemin
  • Kim Hye Ya
  • Kim Jong Hyun
  • Lee Jin Ki (Onew)

Genre :

  • Romance

Rating :

  • General

Disclaimer:

  • FF ini adalah 1000% karya saya dan hasil pemikiran author dari bertapa di tanjung perak(?). Kisah ini sedikit menceritakan kisah cinta author sendiri. Main cast ataupun support cast milik tuhan, dan orangtua nya. Sedangkan para OCs punya otak author.

Note :

  • Jeongmal mianhae readers, baru sekarang author bisa nge post ff nya .. mian~ mian~ mian T_T

TAEMIN P.O.V

Karena Jonghyun tidak datang-datang juga, akhirnya kami pun meninggalkannya dan pergi ke rumah sakit. Setelah kita semua sampai di ruang rawat Hye Yoon, kita masuk.

“Annyeong?”Suara kita hampir bersamaan . Kulihat Minho hyung masih tidur pulas, dia tertidur dengan posisi duduk karena terlalu lelah menunggu Hye Yoon yang masih belum tersadarkan diri.

MINHO P.O.V

Aku terbangun saat aku melihat banyak orang yang datang kesini. Onew hyung, Jjong hyung, Key, dengan chingu-chingu yang lainnya, aku segera berdiri dan menyapa mereka semuanya.

“Kalian semua, kenapa ada disini?”

“Hyung, Key hyung telah memberi kami kabar kepada kami atas apa yang menimpa hyung dan keluarga. Kami turut berduka, hyung!” Taemin menjawab pertanyaanku.

“Gomawo~” Ucapku.

“Jangan menyerah! Kita selalu mendukungmu dan membantumu!” Kata Onew hyung dengan memberikan sedikit pelukan.

“Ne, kau benar hyung! Jika kau butuh tangan kita, dengan senang hati kita akan mengulurkan tangan kami!” Lanjut Jjong dengan menepuk pundak kiriku.

“Dan ini salah satu bukti dari ucapan Jjong hyung!” Kata key dengan membuka tasnya. “Tada~!!” Teriak Key saat mengeluarkan selembaran kertas dari tasnya.

“Apa itu, Key?” Tanyaku.

“Ini adalah data dari pihak kampusku, kau sudah di terima di kampusku. Jadi, mulai sekarang kau akan berangkat kuliah denganku setiap hari!” Kata Key dengan memberikan selembaran itu padaku.

“Hajiman, aku belum pernah mengirim formulir disana!” Kataku dengan sedikit gugup karena kebingungan.

“Tentu, bukan kau! Tapi aku!” Kata Key dengan bangganya.

“Ahh! Jinjja!” Kataku dengan memeluknya. “Gomawo Key, kau adalah malaikat penolongku!” Lanjutku.

“Jangan berlebihan, ini hanya bantuan kecil. Jika kau membutuhkanku. Panggil aku ne?” Kata Key dengan bijak.

“Minho~aa, call me if you need help from me? Ok?” Kata Onew hyung yang menggunakan basic bahasa inggrisnya itu.

“Nado~” Lanjut Jjong.

“Ne, pasti. Jeongmal gamsahamnida! Bagaimana aku bisa membalas semua kebaikan kalian?”

“Sudahlah, jangan bersikap seperti itu pada kami. OK?” Serentak mereka. Minho yang mendengar ucapannya itu hanya tersenyum. Suasana berubah menjadi sangat ramai saat Onew hyung mengeluarkan “Sangtae” yang sering di gunakannya untuk menghibur semua kami bersama, aku hanya meresponnya dengan senyuman karena aku masih belum menerima semua yang telah terjadi padaku dengan Hye Yoon. Melihat responku, semuanya mencoba untuk selalu menghiburku. Taemin selalu mengeluarkan jurus-jurus lucunya, kemudian disambung oleh Key. Tetapi kekecewaan dan kesedihan tampak dimuka mereka karena mereka tahu senyumku adalah senyuman palsu, aku juga masih memikirkan Hye Yoon yang masih belum tersadar dari pingsannya.

KEY P.O.V

Sejenak aku melihat Hye Yoon yang masih terbaring dan belum tersadar, aku menghampirinya dan menunggunya sampai akhirnya dia bangun dari pingsannya. Semua mendatangi aku dan Hye Yoon yang masih terlihat sangat pucat.

“Odi?” Tanyanya.

“Rumah sakit, kemarin kau pingsan dan sekarang kau baru tersadar” Jawabku.

“Hye Yoon~aa, gwaenchana?” Tanya Minho.

“Gwaenchanaeyo, oppa. Hajiman kepalaku masih pusing” Jawabnya.

“Hye Yoon~aa, bersabarlah! Kita semua akan selalu membantumu!” Kata Onew, Jjong, Taemin.

“Ne, gamsahamnida!” Ucapnya.

“Kapan Hye Yoon bisa pulang ke rumah?” Tanyaku.

“Kemarin malam, dokter mengatakan jika Hye Yoon sudah tersadar dari pingsannya dia boleh pulang saat malam tiba!” Jawab Minho dengan duduk disamping Hye Yoon yang masih terbaring lemas. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku.

HYE YOON P.O.V

Aku masih melihat sekitar ruangan. Tembok yang bewarna putih, tirai bewarna hijau, jendela ruangan yang memancarkan sinar matahari ke tubuhku, dan sesuatu yang sangat aku benci yaitu bau obat. Aku sangat tidak suka dengan obat, bahkan saat aku sakit aku tak pernah meminum obat sebutir pun kecuali memang hanya obat yang dapat menyelamatkan nyawaku. Aku mengalihkan pandanganku ke sebelah kanan, disana chingu dari Minho oppa sedang menjengukku. Aku hanya mengedipkan mataku dan tersenyum padanya karena aku tak bisa menundukkan kepalaku karena kepalaku sangat pusing.

Sekilas, aku melihat wajah Key oppa yang bersinar seperti bintang. Dia juga melihatku dan memberikan senyuman manisnya padaku dan aku pun menanggapinya. Minho oppa melihat tingkahku, setelah itu melihat respon dari Key. Terlihat di wajah Minho oppa yang sudah mencurigai kita berdua. Akhirnya, aku mencoba memalingkan pandanganku ke seluruh ruangan. Dimana dia? Apa dia tidak tahu bahwa aku sakit? Apa dia tak peduli padaku? Jonghyun, apa kau benar-benar membenciku?.

Kesedihan dalam hatiku semakin bertambah dengan ketidakhadiran Jonghyun yang selama ini aku impikan. Aku kira setelah aku membuka mataku aku langsung melihat sosok Jonghyun sedang menungguku dan menemaniku, tetapi itu mustahil. Ini benar-benar terjadi kebalikan dari apa yang aku inginkan.

JONGHYUN P.O.V

Pagi-pagi, aku segera bangun dari tidurku dan segera mengganti bajuku untuk berangkat jogging pagi ini. Jogging hari ini aku lakukan karena ada maksud tertentu, aku lari-lari kecil di depan rumah Eun Soo noona karena biasanya dia keluar untuk jogging juga.

“Dimana Eun Soo noona? Mengapa dia tak keluar jam segini?” Guramku dalam hati dengan sesekali mengintip jendela kamarnya. Jantungku berdetak lebih kencang ketika melihat yeppeun noona yang keluar dari rumahnya dengan memakai kaos jogging bewarna biru laut dengan menguncir rambutnya yang lebat dan bewarna hitam. Aku menghentikan lari kecilku dan mendadak berdiam seperti patung di depan rumahnya.

“Jonghyun? Jonghyun~aa, itu kau?” Teriaknya dengan memandangiku.

“Ne noona, Jonghyun imnida” Jawabku dengan nyengir kuda(?).

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya nya dengan menghampiriku. Sekarang, dia berdiri tepat menghadapku. Aigoo, eotteoke?

“Aku sedang jogging, baru saja aku lewat di depan rumah noona! Eh, ternyata noona jogging juga?” Jawabku dengan menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal karena gugup berdiri di hadapannya.

“Tentu, setiap pagi aku beranjak dari tidur untuk jogging. Aku tak ingin meninggalkan udara yang sejuk di pagi hari ini!” Katanya dengan melentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan menghirup udara pagi.

“Ah, ara!” Jawabku singkat.

“Bagaimana jika kita jogging bersama?” Ajak Eun Soo noona.

“Jinjja? Tentu noona, aku mau. Karena lama-lama aku bosan jika jogging sendirian!” Kataku dengan sedikit berbohong. Yeahh! Akhirnya kita bisa berdua di pagi hari yang cerah ini! Oh, tuhan! Jeongmal gamsahamnida karena kau memberikan kesempatan bagiku untuk menemui malaikat yang telah kau kirimkan padaku. Di setiap perjalanan, kita selalu berbincang-bincang satu sama lain. Sesekali aku juga meliriknya yang sedang focus dengan larinya, dan terkadang aku pun tersenyum sendiri seperti orang gila. Setelah setengah jam kita menghabiskan waktu untuk jogging, akhirnya kami meluangkan sedikit waktu untuk istirahat.

Aku dan Eun Soo noona berhenti dan duduk di bawah pohon. Aku lihat Eun Soo noona sangat lelah karena terlihat dari paras wajahnya dan keringat yang terus mengalir dari tubuhnya. Aku yang semula duduk dengan Eun Soo noona pun berdiri sehingga Eun Soo noona memandangku.

“Jonghyun~aa, Odi?” Tanya nya.

“Chakamanyo noona. Aku akan kembali!” Jawabku dan kemudian lari menghindarinya. Aku berlari untuk mencari sebuah toko yang menjual minuman dingin. Setelah menemukannya, aku pun membeli 2 minuman dingin dan kembali ke tempat semula dimana aku dan Eun Soo noona meluangkan waktu untuk beristirahat.

“I go!” Kataku sambil memberikan 1 minuman dingin untuk Eun Soo noona.

“Gomawo!” Katanya dengan mengambil minuman dingin yang telah aku berikan padanya, dan ia pun meminumnya.

“Ne, cheonmaneyo noona!” Ucapku dengan meneguk minuman dingin yang telah aku beli.

“Huftt! Disini sangat panas!” Katanya dengan mengibas-ngibaskan tangannya.

“Apa kita perlu pindah ke tempat lain, noona?” Tanyaku polos.

“Ani, gwaenchana! Sebentar lagi aku akan pulang untuk berangkat kuliah, kau libur sekolah kan hari ini?” Tanya balik Eun Soo noona.

“Ah? Hah? Ne, noona. Bagaimana noona tahu?” Jawabku gugup.

“Tentu aku tahu!” Katanya dengan tersenyum dan meneguk minuman itu lagi. Mendengar dan melihat tingkahnya yang manis itu membuatku tersenyum. Setelah beberapa menit kita berdiam, aku pun memberanikan diri untuk berbicara.

“Noona, nanti sore apa kau ada waktu?” Tanyaku dengan memberanikan nyaliku.

“Nanti sore? Ummh, tidak bisa! Karena aku pulang kuliah tepat nanti malam” Jawabnya manis.

“Jinjjayo?” Tanyaku dengan nada kecewa.

“Wae?” Tanya Eun Soo noona balik.

“Anio, aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan di Myeonsamdong!” Jawabku dengan menundukkan kepalaku.

“Jeongmal mianhae, Jonghyun~aa. Aku tak bisa pergi denganmu!” Dia menepuk pundak kiriku.

“Ne, gwaenchanaeyo!” Ucapku lemas.

“Aku pulang dulu, ne? sekarang sudah jam 8, aku harus berangkat kuliah! Annyeong!” Katanya dengan memberikan senyuman manisnya padaku. Mataku masih menatap Eun Soo noona yang berlari dan semakin jauh dari pandanganku. Aku masih duduk terdiam dengan penuh penyesalan. Lee Jong Hyun! Pabo! Neomu pabo!.

 

HYE YOON P.O.V

Aku masih memegang handphone-ku dan berusaha menelpon Jonghyun, tetapi dia tidak mengangkat semua panggilan dariku. Di ruangan ini hanya aku seorang yang berbaring di tempat tidur. Semua orang termasuk Minho oppa yang keluar entah kemana. Aku terus memencet tombol hijau di handphone-ku berkali-kali sampai Jonghyun mau menerima telponku.

“Yeoboseyo?” Katanya dalam telpon.

“Jonghyun~aa, Odiga?” Tanyaku dengan senang.

“Nuguseyo?” Tanya nya balik dengan nada bingung. Mwo? Jadi selama ini kau tak pernah menyimpan nomor handphone-ku? Apa kau terlalu membenciku sampai kau melakukan seperti ini padaku? Apa sebenarnya salahku padamu, Jonghyun?. Aku segera menutup telponku dan mematikan handphoneku. Aku berusaha lari dari ruangan ini tetapi tercegah dengan adanya infuse yang menancap di tangan kananku. Tanpa berpikir panjang, aku mencabut infuse itu dari tanganku dengan darah yang bercucuran. Aku berlari menuju tempat dimana aku bisa meluapkan semua sakit hatiku. Aku menaiki tangga darurat dan menuju ke lantai 23. Kakiku tak kuat menompang tubuhku yang ingin ada di lantai 23. Aku tak pantang menyerah dan terus menaiki anak tangga langkah demi langkah.

Ketika sampai di lantai 23, aku terjatuh dan berteriak sangat keras. Untungnya, lantai 23 ini adalah gedung kosong tanpa atap. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan menghadapi sikap Jonghyun padaku. Dia terlalu seperti itu padaku, aku sangat tidak tahan dengan semua ini.

“Tuhan? Apa setelah kau mengambil appa dan ummaku, sekarang kau ingin menjauhkanku dari Jonghyun? Namja yang sudah lama aku sukai? Apa maumu tuhan? Apa kau ingin aku juga meninggal dan menyusul orang tuaku yang baru saja meninggal? Apa itu kemauanmu?????” Aku berteriak keras dengan terus menanyakan hal ini.

“Tidak, tuhan tidak seperti itu!” Jawab seorang namja yang telah ada di belakangku. Aku segera membalikkan badanku dan melihat sosok namja itu lagi.

“Key sunbae? Bagaimana kau tahu aku disini?” Tanyaku dengan menghapus semua air mataku. Dia tak menjawab, melainkan menunjukkan darah yang berceceran di lantai. Aku tidak menyangka bahwa darah ini menetes mulai dari aku di ruangan sampai aku disini. Key sunbae hanya menunjukkan senyumannya dan memegang tangan kananku yang berdarah karena cabutan infuse. Dia mengikat lukaku dengan sapu tangan biru yang indah.

“Sapu tangan ini akan membuat darahmu berhenti” Ucapnya. Aku hanya memandangnya lemah, sempat aku memikirkan mengapa tidak Jonghyun yang melakukanku seperti ini.

“Uljima, jangan membuang air matamu untuk seorang namja yang tak mencintaimu!” Key sunbae menghapus air mataku.

“Mwo?” Tanyaku dengan menyingkirkan tangan Key sunbae yang ada di pipiku. Dia hanya tersenyum menanggapiku.

“Jebal, bisakah kau pergi dari sini? Aku ingin sendiri!” Pintaku dengan menghindarinya.

“Wae? Apa kau mau berteriak seperti itu lagi?” Tanya nya dengan mengejekku,

“Sunbae!” Bentakku.

“Chukkae!” Ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya padaku.

“Untuk apa?” Tanyaku bingung.

“Malam ini kau boleh pulang!” Jawabnya.

“Mwo? Mworago? Jinjja, sunbae? Yippi!” Aku melompat-lompat kegirangan mendengar berita Key sunbae. Tanpa sengaja, aku memeluknya erat sedangkan Key sunbae hanya melebarkan kedua matanya. Aku segera melepaskan pelukan itu dan langsung membungkukkan badanku sebagai tanda permohonan maaf.

———- Malam Hari ———-

Aku dan Minho oppa sibuk menata semua barangku yang ada di rumah sakit, karena malam ini aku akan kembali ke rumahku yang sangat aku sayangi. Malam ini, aku sangat berbeda dari pada tadi pagi. Aku yang sekarang adalah aku yang tabah, sabar, mudah tersenyum dan mencoba untuk melepaskan semua permasalahanku yang datang silih berganti.

JONGHYUN P.O.V

Tepat pukul 08.00 malam, aku masih berdiri di depan rumah Eun Soo noona untuk menunggu kepulangannya. Tubuhku menggigil kedinginan karena udara di malam hari ini sangat dingin sedangkan aku tidak memakai jaket tebal. Aku terus mondar-mandir di depan rumahnya seperti orang gila karena terlalu lama menunggu kedatangan Eun Soo noona.

Aku terkejut ketika seseorang menepuk pundakku. Apa itu Taemin? Jika benar, apa yang harus aku jawab? Pasti aku mati-matian di introgasi olehnya!

“Jonghyun~aa, apa yang kau lakukan malam-malam dirumahku?”. Suara itu, suara yeoja yang aku cintai. Aku segera membalikkan badanku dan menemukan sosok yeoja yang cantik dengan memakai baju biru dengan rambut yang terurai.

“Kajja, noona! Kita berangkat ke Myeonsamdong!!” Ajakku dengan menarik tangan Eun Soo noona untuk menaiki motorku.

“Jonghyun~aa, apa yang kau lakukan?” Berontaknya.

“Aku hanya ingin mengajak noona jalan-jalan ke Myeonsamdong. Hanya itu, noona!” Ungkapku dengan menundukkan kepala.

“Kajja!!” Eun Soo noona menarik tanganku untuk segera pergi ke Myeonsamdong. Aku tahu mengapa Eun Soo noona mau pergi denganku, karena dia tak tega melihatku seperti ini. Gwaenchana, yang penting Eun Soo noona mau pergi denganku.

Di Myeonsamdong, kita pun berjalan menelusuri semua tempat dimana semuanya menjual berbagai makanan, permainan, dan masih banyak lagi. Aku dan Eun Soo noona memakan dubbokki disana dan memainkan permainan yang menurutku sangat mengasikkan. Sekilas aku melihat wajah Eun Soo noona, wajahnya memancarkan sebuah kebahagiaan yang tak bisa di bandingkan dengan harta kekayaan. Apa harus malam ini? Apa aku harus mengungkapkan semua perasaanku malam ini padanya? Aku harus yakin pada diriku sendiri, bahwa aku harus mengungkapkan perasaanku hari ini dan aku akan berusaha keras.

“Noona, bagaimana kalau kita pergi ke tempat karaoke itu?” Tanyaku.

“Boleh!” Jawabnya dengan senang hati. Disana kita duduk berdampingan di kursi dan memilih lagu untuk di nyanyikan.

“Jonghyun~aa, lagu apa yang akan kau pilih?” Tanya nya padaku dengan membalik-balikkan buku yang berisi semua pilihan lagu.

“CN.BLUE – IMAGINE(?), bagaimana dengan noona?” Tanyaku balik.

“Umhh, aku? Aku pilih SNSD – RUN DEVIL RUN!” Jawabnya dengan semangat. Mwo? Aku memilih lagu untuk berusaha menaklukan hatinya, mengapa dia memilih lagu Run Devil Run untukku? O.0?.

“Noona, bolehkah aku menambahkan 1 lagu lagi?” Tanyaku.

“Tentu boleh, lagu apa?” Tanyanya balik.

“SHINEE – FOREVER OR NEVER!” Jawabku dengan memberikan evil smile-ku(?).

“Kajja! Kita mulai dari CN.BLUE-IMAGINE!” Katanya. Aku pun mulai menyanyikan lagu favorite ku untuk menaklukan hari yeoja ini. Setiap lyric, aku selalu memandang matanya seakan-akan aku menyatakan cintaku dengan melalui sebuah lagu. Setelah lagu yang aku nyanyikan selesai, Eun Soo noona pun menyanyikan lagi Run Devil Run=.=”. Aku menyatakan cintaku dengan lagu Imagine, tetapi dia membalasnya dengan Run Devil Run-.-. jadi kau menolak cintaku. Noona??.

Semua lagu telah kita nyanyikan, Eun Soo noona beranjak dari duduknya tetapi aku pun mencegahnya dengan menarik tangan kananya.

“Jonghyun, ada apa?” Tanya nya cemas.

“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, noona!” Jawabku.

“Keurom, mwo?” Tanyanya lagi.

“Apa kau tahu arti dari lagi Imagine, dan Forever or never tadi?” Tanyaku balik.

“Ummh, ara! Imagine adalah lagu dari inti seseorang yang selalu membayangkan seseorang yang ia cintai dan ia berusaha untuk menjadikan semua bayangannya itu menjadi nyata. Sedangkan Forever or never, lagu ini menceritakan tentang perjuangan seseorang yang mencoba untuk menjelaskan isi hatinya terhadap orang yang ia cintai!”. Dia menjelaskan panjang lebar, dan aku hanya sedikit tersenyum dengan mengangguk-anggukkan kepalaku.

“Keurom, wae?” Tanya nya.

“Ke-2 lagu itu adalah ungkapan cintaku untukmu, noona!” Jawabku tegas.

“Hahaha, kau jangan bercanda. Jika kau mengungkapkannya dengan lagu itu, lalu aku membalasnya dengan “Run Devil Run”??” Dia tertawa terbahak-bahak.

“Noona, aku tidak sedang bercanda! Ini adalah isi hatiku padamu, noona” Ucapku dengan setulus hati.

“Jinjja? Jadi, ini bukan lelucon yang biasa kau ungkapkan padaku?” Tanya nya serius. Aku hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan. Pandangan Eun Soo noona berubah menjadi aneh, dia tak terlihat seperti biasanya.

“Noona? Kau marah?” Tanyaku cemas. Dia tak menjawab pertanyaanku, melainkan pergi dan meninggalkan aku. Aku segera menyusulnya dan mencegah kepergiannya dariku.

“Noona, kau mau kemana?” Tanyaku dengan memegang tangannya dengan erat.

“Lepaskan, aku mau sendiri!” Jawabnya dengan membuang genggaman tanganku.

“Hajiman, kau belum menjawab pertanyaanku, noona!” Bentakku.

“Aku tak bisa menerima cintaimu!” Jawabnya singkat. Hatiku sangat sakit setelah mendengar jawaban dari Eun Soo noona yang jelas-jelas menolakku. Aku tak peduli dengan keramaian yang telah ada di sekitar kita berdua karena aku hanya butuh jawaban yang jujur dari hati Eun Soo noona.

“Aku menyayangimu seperti dongsaengku, dan itupun tidak lebih! Umur kita berbeda, aku lebih tua darimu dan itu sangat tidak pantas!” Lanjutnya dengan tatapan yang mendalam.

“Jadi, aku tidak boleh jatuh cinta dengan seorang noona? Bukankah cinta tidak memandang umur, melainkan memandang hati kita masing-masing?” Bentakku dengan keras sehingga membuat pandangan semua orang tertuju padaku.

“Mengapa kau berteriak? Ini tempat umum!” Kata Eun Soo noona.

“Aku tak peduli dengan semua orang, aku hanya ingin menjadi namjachingumu noona! Apa aku tidak pantas?” Tanyaku lagi.

“Kau.. kau sangat egois!” Jawabnya dengan meninggalkan aku. Aku hanya menggigit bibir bawahku dengan kesal. Aku pun berteriak di tengah-tengah banyaknya sekurumunan orang.

HYE YOON P.O.V

Aku dan Minho oppa pun masuk ke dalam mobil Key sunbae yang akan mengantarkan kami berdua kembali pulang. Kami pun saling berbincang-bincang di dalam mobil.

“Sunbae, bisakah kau mengantarkanku ke Myeonsamdong? Aku akan membeli sesuatu disana!” Pintaku.

“Aratso, kita juga akan menemanimu” Kata Key sunbae dengan setuju.

“Anio, aku akan berangkat sendiri kesana. Sunbae hanya perlu menurunkanku tepat di gerbang”.

“Kau kan masih sakit?” Kata Minho oppa.

“Gwaenchana, jinjja!” Kataku dengan muka polos.

“Aratso, hajiman kau harus berjanji  pada oppa untuk menjaga dirimu. Aku dengar disana ada festival, pasti sangat ramai. Telpon oppa, aku akan selalu melindungimu!” Kata oppa dengan penuh perhatian.

“Oppa, kau berlebihan! Kau membuatku malu di depan Key sunbae!” Rengekku, sedangkan Key hanya tertawa kecil melihat tingkahku dengan Minho oppa.

Setelah sampai di Myeonsamdong, Key sunbae menurunkanku tepat di gerbang Myeonsamdong yang sedang mengadakan beberapa festival. Aku terus menelusuri jalan dan mencari sebuah toko mainan. Akhirnya, aku pun menemukan penjual mainan dan aku pun memilih-milih barang tersebut. Mataku langsung tertuju dengan alarm yang berbentuk gitar, muncul di benakku untuk membeli dan memberikannya untuk Jonghyun karena gitar adalah barang yang ia sukai. Aku pun segera mengambil barang itu dan membayarnya. Aku kembali dengan senang dan sesekali melihat alarm berbentuk gitar itu.

“Noona, kau mau kemana?” Tanya seorang namja yang sedang berdiri di tengah-tengah kerumunan orang.

“Lepaskan, aku mau sendiri!” Jawab yeoja yang ada dihadapannya. Aku pun mendekat dan melihat apa yang telah terjadi.

Degg, tiba-tiba jantungku berhenti saat mengetahui namja itu adalah Jonghyun dengan yeoja yang pernah menjenguknya saat di rumah sakit. Tanpa sengaja aku menjatuhkan alarm gitar yang telah aku beli karena tanganku sangat lemas dan kaku untuk digerakkan.

“Hajiman, kau belum menjawab pertanyaanku, noona!” Bentak Jonghyun.

“Aku tak bisa menerima cintaimu!” Jawabnya singkat. Jadi, saat ini Jonghyun sedang mengungkapkan perasaannya terhadap yeoja itu? Jadi, selama ini dia mencintai yeoja itu? Apa karena yeoja itu, Jonghyun tidak menjengukku tadi pagi di rumah sakit?.

“Aku menyayangimu seperti dongsaengku, dan itupun tidak lebih! Umur kita berbeda, aku lebih tua darimu dan itu sangat tidak pantas!”

“Jadi, aku tidak boleh jatuh cinta dengan seorang noona? Bukankah cinta tidak memandang umur, melainkan memandang hati kita masing-masing?” Bentak Jonghyun dengan keras sehingga membuat pandangan semua orang tertuju padanya, termasuk aku yang masih berdiri kaku.

“Mengapa kau berteriak? Ini tempat umum!” Kata yeoja itu.

“Aku tak peduli dengan semua orang, aku hanya ingin menjadi namjachingumu noona! Apa aku tidak pantas?” Tanya Jonghyun.

“Kau.. kau sangat egois!” Yeoja itu meninggalkan Jonghyun sendiri. Ada apa denganmu Jonghyun? Mengapa kau berteriak seperti itu?. Melihat Jonghyun yang berteriak karena yeoja itu, aku pun ikut sedih dan meneteskan air mataku. Aku tak tega melihatnya patah hati seperti ini.

“Hye Yoon~aa? Kau menangis?” Tanya seseorang di sampingku. Aku segera memalingkan pandanganku.

“Key sunbae?” Tanyaku tak percaya. Aku pun menghapus air mataku dengan cepat-cepat.

“Kau menangis? Wae?” Tanya nya dengan memandang wajahku.

“Anio, aku hanya menangis karena barang yang telah aku beli jatuh dan pecah” Jawabku dengan bohong. Aku tak mungkin menjawab karena melihat Jonghyun ada disana terhadap Key sunbae. Key sunbae mencari-cari alarm gitar yang jatuh dan mengambilnya.

“I go?” Tanya nya dengan menunjukkan alarm gitar itu padaku.

“Ne” Anggukku mantap. Key sunbae hanya tersenyum menanggapinya. “Barang seperti ini banyak dijual di toko-toko mana saja! Apa kau mau aku belikan alarm gitar yang sama seperti ini?” Tanyanya.

“Ani, buang saja alarm itu!” Aku menghempaskan tangan Key sunbae sehingga alarm yang di pegangnya terjatuh. “Barang itu sudah rusak, biarlah dia rusak karena aku sudah tidak membutuhkannya lagi” Jawabku dengan tegar. “Keurom, dimana Minho oppa?” Tanyaku.

“Dia ada di mobil, dia menyuruhku agar aku mengikutimu!” Jawabnya.

“Oh, ara! Kajja, kita pulang! Aku sudah lelah” Ajakku pada Key sunbae. Dia hanya menuruti permintaanku dan kita pun kembalike mobil untuk pulang. Di dalam mobil aku masih memikirkan keadaan Jonghyun yang masih terpukul disana. Aku tak mungkin kembali ke sana karena pasti Minho oppa menyuruh Key sunbae lagi untuk mengikutiku.

Setelah sampai di rumah, Key sunbae membantu Minho oppa untuk membawa barangku. Aku pun masuk ke dalam rumah, begitu juga mereka berdua.

“Aku pulang dulu, ne? sekarang sudah malam. Sebaiknya kalian berdua istirahat!” Ucap Key sunbae hangat.

“Gomawo, Key!” Kata Minho oppa dengan menepuk pundaknya.

“Ne, cheonma. Oh, jangan lupa besok kau mulai kuliah. Aku akan menjemputmu besok pagi!” Kata Key sunbae.

“Oppa? Sejak kapan kau berangkat kuliah dengan Key sunbae? Bukankah kalian kuliah di tempat yang berbeda?” Tanyaku kebingungan. Minho oppa tidak menjawab pertanyaanku, melainkan dia mendorong Key sunbae keluar dan menyuruhnya kembali ke rumahnya. Aku hanya terdiam dengan melihat tingkah Minho oppa yang aneh.

MINHO P.O.V

Aku mendorong Key keluar dari hadapan Hye Yoon. Aku membungkam mulut Key agar dia tak membongkar semua rahasiaku untuk pindah ke kuliah yang lebih murah.

“Minho, kenapa kau lakukan ini padaku?” Tanya Key dengan melepaskan tanganku yang membungkam mulutnya.

“Kau! Mengapa kau mengatakan tentang kuliah di hadapan Hye Yoon?” Tanyaku balik.

“Mwo? Keurom, kau belum memberi tahu Hye Yoon?” Tanya Key lagi padaku. Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku.

“Biarlah aku yang memberitahunya, aku tidak ingin dia salah paham padaku” Jawabku dengan nada pelan. Key hanya memberikan senyumannya dan memegang pundakku.

“Aku percaya, Hye Yoon pasti bisa mengerti kondisimu!”.

“Gomawo Key, kau adalah sahabat terbaikku!” Aku pun memeluknya.

“Cheonma” Dia melepaskan pelukanku. “Aku pulang dulu, ttobwayo!”. Dia pergi menuju ke mobilnya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan menunggunya sampai meninggalkan rumahku. Setelah Key pergi, aku pun masuk ke dalam rumah lagi. Aku melihat Hye Yoon sedang duduk di sofa, aku pun menghampirinya dan akan menjelaskannya.

“Hye Yoon~aa, ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu!” Kataku.

“Mwo?”

“Untuk sekarang aku pindah kuliah ke tempat Key” Jawabku.

“Mworago? Wae, oppa?” Tanya nya dengan kebingungan.

“Kita harus membayar ganti rugi terhadap perusahaan yang akan menjalin hubungan dengan perusahaan appa. Mereka meminta ganti rugi karena tidak ada yang akan menjalin hubungan bisnis dengannya karena appa sudah meninggal. Kita juga harus membayar gaji setiap karyawan”. Jelasku.

“Lalu, apa kita bisa membayar semua itu, oppa?” Tanya nya dengan nada cemas.

“Menurut Jung Kim ajusshi, kita membayar semua itu dengan warisan yang sudah appa berikan untukku. Semua warisan yang ada di bank, villa, atau dimanapun. Jika semuanya masih kurang, aku dan Jung Kim ajusshi akan mencari jalan keluar bersama-sama” Jawabku.

“Jung Kim ajusshi? Nugu?”.

“Dia adalah pengacara appa kita, dia membantu kita karena dia ingin membalas semua kebaikan appa kepadanya saat dia mengalami kesulitan ekonomi” Jawabku.

“Ara! Keurom jangan kau pikir sendiri, oppa! Aku juga akan membantumu mencari jalan keluar semua permasalahan kita!” Ucap Hye Yoon dengan sikap yang lebih dewasa. Aku hanya mengangguk-angukkan kepalaku.

HYE YOON P.O.V

———- Keesokkan harinya ———-

Aku membuka mataku ketika mendengar alarm berbunyi. Jam menunjukkan pukul 06.30 pagi. Aku pun segera lari ke kamar Minho oppa dan membangunkannya.

“Oppa! Bangun, cepat mandi! Antarkan aku ke sekolah!” Kataku dengan mengguncang-guncangkan tubuh Minho oppa yang terlentang. Dia pun bangun dari tidurnya dan duduk.

“Kau masuk sekolah hari ini? Bukankah kau masih sakit?” Tanya nya cemas.

“Sakit? Aku sudah sembuh dari kemarin oppa. Aku juga tak mau meninggalkan ujian Biologi pagi ini!”.

“Aratso, kalau seperti itu aku akan mandi. Tunggu oppa, ne?”.

“Ne, nado! Aku belum mandi!” Kataku dengan memberikan senyuman yang lebar.

“Oh jinjja? Jadi bau tak sedap itu datang darimu?” Tanya Minho oppa dan segera lari dariku.

“Kya! Oppa! Awas kau!” Teriakku dengan melemparkan bantal ke punggung badannya. Setelah mandi, aku pun mempersiapkan segala kebutuhan sekolahku dan beranjak ke ruang tamu untuk menunggu Minho oppa.

Ting Tong… Suara bel rumah berbunyi, aku meletakkan tasku dan membuka pintu rumahku.

“Sunbae?”.

“Annyeong, aku akan mengantarkan kalian berdua!” Katanya dengan senyuman kecil.

“Key? Kau sudah datang? Apa kita harus berangkat sepagi ini?”.

“Ani, kita mengantarkan Hye Yoon ke sekolah terlebih dahulu, setelah itu kita berangkat ke kampus”. Aku dan Minho oppa hanya menyetujui semua perkataan Key sunbae. Tuhan, jeongmal gamsahamnida kau mengirimkan malaikat untuk menolong kami. Key sunbae adalah namja yang paling baik, aku tidak menyesal bisa mengenalnya.

Mobil pun berhenti ketika sudah berada di depan sekolahku. Aku turun dan menuju ke kelas. Ketika memasuki kelas, semua chingu memelukku karena ikut berduka atas kepergian appa dan umma-ku. Aku sangat beruntung mempunyai chingu yang sangat peduli kepadaku. Pandanganku terhenti pada kursi Jonghyun. Kursi itu masih kosong tak berpenghuni. Apa dia tak masuk sekolah hari ini? Apa karena kemarin? Ah, mungkin dia terlambat!.

Sejak jam pertama sampai istirahat, Jonghyun tak datang juga. Aku sangat khawatir jika ia mencoba bunuh diri karena kejadian kemarin. Aku memberanikan diri untuk izin ke pihak sekolah agar aku pulang lebih cepat dan untungnya pihak sekolah mengijinkanku. Aku segera mengemasi semua buku-buku ku dan segera keluar dari kelas. Di depan gerbang sekolah, aku menunggu taxi datang. 5 menit kemudian, taxi datang dan aku pun masuk dalam taxi tersebut. Taxi menurunkanku di depan rumah Jonghyun yang sangat sepi karena orang tua nya yang sedang ke US untuk bisnis. Aku pun membayar biaya taxi dan masuk ke dalam rumah Jonghyun. Sangat aneh, karena semua pintu di rumahnya tak terkunci.

Jonghyun? Ada apa denganmu? Mengapa kau tak mengunci semua pintu rumahmu?. Karena khawatir, aku pun lari menuju kamar Jonghyun. Cleek.. aku sedikit membuka pintu kamarnya karena terkejut ternyata pintu kamarnya juga tak terkunci. Tanpa berpikir panjang, aku segera membuka lebar pintu tersebut. Mataku terbelalak ketika melihat kondisi Jonghyun yang ada di dalam kamarnya.

“JONGHYUN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”.

—– TBC —–

2 thoughts on “[FF/CHAPTER] PLEASE, LOVE ME!! [PART 3]

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s