Not FAIRYTALE [part 1]

 

Author: mmmpeb

Genre: Romance, friendship, family

Length: chaptered

Rating: PG15

Cast:

  • Jung Soojung / Krystal f(x)
  • Kang Minhyuk CNBLUE

Other cast:

  • Jung Yonghwa CNBLUE
  • Im Kyuna [OCs]
  • Lee Jinguk [OCs]

Disclaimer: a fairytale with editing

***********************************************************

 

Musik disko berdentang begitu keras. Minhyuk menutup kedua telinganya karena musik yang begitu memekakkan telinga. Harap maklum karena ini adalah pertama kalinya bagi Minhyuk menginjakkan kakinya di sebuah kelab. Minhyuk bukan tipe penyuka keramaian seperti ini. Jika karena bukan undangan ulang tahun sang sahabat, ia pasti lebih memilih tidur di rumah atau membaca komik-komiknya yang ia beli kemarin.

“Minhyuk, datang juga akhirnya!”

Seseorang menepuk bahunya. Minhyuk berbalik dan didapatinya sang sahabat tengah tersenyum padanya. Iapun balas tersenyum.

“Oh, hai, bro! Selamat ulang tahun!” seru Minhyuk setengah berteriak. Bahkan berteriakpun suaranya masih kalah saing dengan suara musik.

Thanks! Aku kira kau tidak datang!”

“Tidak ingat kemarin kau yang memaksaku, Yonghwa hyung?”

“Kekeke! Kau itu tampan, uangmu banyak, kau harusnya sering-sering maik ke sini bukan di rumah. Santai saja! Ini baru pemanasan!”

Minhyuk melirik jam tangannya. Jam menunjukkan pukul sebelas malam dan ini baru disebut pemanasan? Kehidupan macam inikah yang Yonghwa jalani saat tidak bersama dengannya?

“Aku pulang, ya?”

“Eh, eh, eh!” Buru-buru Yonghwa mencegah kepulangan Minhyuk. “Jangan, lah! Sekali-sekali kau ke sini, nikmati saja! Arachi?”

“Tapi-“

“Oppaaa!”

Seseorang tiba-tiba datang menghampiri Yonghwa dan Minhyuk. Jalannya sedikit limbung, hampir saja ia terjatuh jika Minhyuk tidak segera menangkapnya.

“Gamsahamnida!” seru gadis itu pelan.

Minhyuk hanya tersenyum pada gadis yang tidak ia kenal itu. Apa gadis itu yang bernama…

“Soojung, kau mabuk, ya?” tanya Yonghwa.

“Oppa pikir?”

“Aku kan sudah bilang jangan minum macam-macam di sini!”

“Tsk! Aku cuma minum segelas, kok! Lagian mana aku tahu mana cola mana alkohol, warnanya sama-sama biru!” seru gadis itu polos. Gadis bernama Soojung sama halnya dengan Minhyuk, sebelumnya tidak pernah ke kelab.

“Kau bodoh!”

“Iya, iya, aku bodoh! Aku ingin pulang sekarang, antar ya?”

“Antar? Mana bisa aku meninggalkan acaraku sendiri?”

Acara puncak belum dimulai dan sangat tidak mungkin jika si pemilik acara sendiri justru malah meninggalkan acaranya terlebih dahulu. Tapi kemudian Yonghwa teringat akan seseorang yang terlupakan. Ia lupa ada Minhyuk di sana. Bukankah tujuannya mengajak Soojung ke kelab karena ingin mengenalkannya pada Minhyuk?

“Oh, Minhyuk-ah! Kenalkan ini adik sepupuku, Jung Soojung! Soojung-ah, ini Minhyuk, sahabatku!”

Yonghwa terdiam begitu mendapati Minhyuk terpaku memandangi Soojung, begitu juga sebaliknya. Seperti muncul ketertarikan satu sama lain dan itu yang membuat Yonghwa menyeringai. Sepertinya ia harus merubah rencana sedikit.

“Hei, kau mau pulang, kan?” tanya Yonghwa seraya menyenggol lengan Minhyuk. “Kau boleh pulang asal kau mau mengantar adik kesayanganku ini.”

 

 

“Jadi kau yang bernama Soojung?” tanya Minhyuk ditengah kegiatan menyetirnya.

“Eoh? Yonghwa oppa cerita apa saja tentangku?”

“Dia cerita punya sepupu yang cantik, ternyata jauh lebih cantik!” Keduanya sama-sama menoleh dan ada rasa canggung yang muncul begitu saja.

Sebenarnya Minhyuk telah jatuh hati pada Soojung karena cerita-cerita yang terlontar mengenai Soojung dari Yonghwa. Soojung memang begitu cantik hingga lagi-lagi berhasil memikat hatinya hanya pada pandangan pertama.

“Soojung-ssi, m…maaf, ya! Aku terbiasa bicara apa adanya.”

“Tsk! Ucapan oppa barusan seperti sedang gombal, hehe! Tapi terima kasih!”

Minhyuk kembali menatap Soojung dan tersenyum untuknya sebelum kembali memandang jalanan yang begitu sepi dari lalu-lalang kendaraan.

“Oh ya, hmmm, selamat atas kelulusanmu! Aku dengar dari hyung, kau baru saja lulus.”

“Itu benar! Sekarang aku bingung ingin masuk universitas mana.”

“Bagaimana kalau masuk universitas yang sama dengan Yonghwa hyung?”

Soojung menoleh terkejut pada Minhyuk.

“Universitas Seoul? Shireo! Aku ini orang bodoh, masuk sana sama saja seperti keledai diajar pawang macan!”

“Hahahaha, jangan merendah! Nilai kelulusanmu salah satu yang terbaik di sekolah, kan? Pantas-pantas saja kalau mau kuliah di sana.”

Soojung kembali dibuat terkejut. Bagaimana Minhyuk tahu dengan semua itu?

“Yonghwa oppa sepertinya cerita banyak padamu.”

“Itu karena dia bangga punya adik sepertimu! Lagian kalau memang nanti kau mengalami kesulitan di sana, kau bisa minta tolong pada calon seniormu ini.”

“Minhyuk oppa juga kuliah di sana?”

“Yonghwa hyung tidak cerita?”

“Ani! Oppa cuma cerita kalau Minhyuk oppa pandai bermain drum. Kapan-kapan tunjukkan padaku, ya?”

Rasanya ini kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Sedikit unjuk kebolehan di awal pertemuan.

“Boleh saja! Ah, kebetulan besok aku ada jadwal nge-band di kafe, kau mau ikut?”

“MAU!!!!” Minhyuk sontak kaget. Soojung jadi merasa malu karena spontanitas dirinya, “Maaf, aku terlalu semangat!”

“Kau lucu sekali!” kata Minhyuk seraya mengacak-acak pelan puncak kepala Soojung. Mendadak ada sengatan listrik kecil menjalar di tubuh gadis itu. Tak pelak Minhyuk juga ikut merasakannya. Ia tidak pernah menyentuh seorang gadis sedekat itu.

Tiga puluh menit berselang. Sepinya jalanan Seoul membawa mereka ke rumah Soojung lebih cepat lima belas menit. Mobil Minhyuk berbelok memasuki gerbang besar yang terbuka begitu saja, kemudian berhenti di depan pintu besar yang diyakini sebagai pintu masuk utama rumah megah itu.

“Ini rumahmu?”

“Iya! Terima kasih sudah mau mengantarku!”

“Sama-sama! Senang bisa mengobrol denganmu! Kalau begitu aku pulang, ya! Besok aku jemput jam empat sore!”

“Siap!”

Minhyuk keluar dari mobilnya dengan terburu-buru. Ia bukakan pintu mobil untuk Soojung.

“Sekali lagi thanks, oppa!”

Anytime!”

Dah!” seru Soojung seraya melambaikan tangannya untuk Minhyuk. Minhyukpun bergegas masuk ke mobilnya dan lekas pergi pulang ke rumahnya. Dari kaca spion, laki-laki itu bisa melihat sosok Soojung masih melambai untuknya. Ia tersenyum mengingat akhirnya ia bisa bertemu dengan Soojung.

Soojung tertawa kecil begitu melihat mobil Minhyuk telah menghilang dari pandangannya. Ia tersenyum sendiri. Tidak tahu mengapa. Apa mungkin karena ia menyukai Minhyuk?

Soojung melangkah masuk ke dalam rumahnya. Rumah tempat ia berpijak sekarang tergolong sangat besar. Tidak heran karena keluarga Soojung adalah keluarga yang sangat amat terpandang. Ayah Soojung adalah salah satu pewaris utama hotel-hotel bintang lima yang kini sudah tersebar di kota-kota penting seluruh dunia. Hotel Hiltonpun bahkan tersaingi.

Tapi tanpa kehadiran orang yang disayanginya, rumah itu seperti hutan belantara yang jauh dari jangkauan manusia. Ia selalu merasa kesepian. Sudah dua tahun semenjak ayahnya meninggal, rasa sepi itu masih terus menyelimutinya.

“Soojung-ah!”

Ah, ada yang terlupakan oleh Soojung. Im Kyuna, sang ibu tiri. Wanita itu adalah alasan mengapa Soojung mau tertawa di rumahnya sendiri. Ia tidak ingin mengecewakan ayahnya yang telah tiada dengan menganggap Kyuna seolah bukan siapa-siapa. Dan perlakuan baik Kyuna selama ini yang membuat Soojung masih tetap betah tinggal di rumahnya. Rasanya tidak pantas bagi Soojung mengabaikan orang sebaik Kyuna walaupun statusnya adalah ibu tiri. Dari Kyunalah Soojung bisa merasakan kasih sayang seorang ibu selama lima tahun belakangan.

“Ibu? Belum tidur?”

Kyuna berjalan pelan menghampiri Soojung. Ia memeluk Soojung dan mengecup kening anaknya.

“Ini sudah jam setengah satu, Soo! Kenapa baru kembali?”

“Maaf aku belum memberitahu ibu! Yonghwa hyung mengadakan acara ulang tahun di kelab. Tapi karena aku merasa tidak betah, aku pulang saja.”

“Kenapa tidak memberitahu ibu langsung? Ibu khawatir padamu, sayang!”

“Maaf ya, ibu!”

Kyuna tersenyum melihat wajah memelas Soojung.

“Ya, sudah! Cepat sana tidur!”

“Ibu baik!” Soojungpun mengecup pipi kanan Kyuna. “Selamat tidur, ibu yang cantik!”

“Selamat tidur juga, anak ibu yang cantik!”

Senyum lembut Kyuna mengiringi kepergian Soojung. Senyumnya memudar begitu terdengar suara pintu yang tertutup yang diyakini suara pintu kamar Soojung.

“Anak sialan! Kau membuatku terpaksa menahan rasa kantukku hanya demi anak tengik sepertimu pulang! Aish! Tunggu sampai kau kutendang dari sini, Soojung!”

 

*****

Yonghwa datang menghampiri Minhyuk yang tengah asik memainkan meja di depannya dengan stik drum miliknya. Ia berhenti menabuh meja itu begitu melihat segelas orange juice di hadapannya.

Thanks, hyung!”

Yonghwapun ikut duduk di samping Minhyuk. Matanya menelisik kesekelilingnya. Kafe malam ini cukup ramai, Jonghyun dan Jungshin –sang bandmate- sedang sibuk membereskan alat musik mereka. Rasanya ini waktu yang tepat untuk menginterogasi Minhyuk.

“Hey, bagaimana Soojung?”

“Dia menyenangkan! Hyung, Soojung juga suka padaku tidak, ya?”

“Yaaah, jadi kau benar-benar suka pada adikku?”

Minhyuk berdeham kecil. Ia sungguh malu jika ia berkata ‘iya’.

“Soojung itu orang yang aku sayang. Aku membawa Soojung kemarin karena aku ingin mengenalkannya padamu.”

“HYUUUUUUNG!” Minhyuk spontan berteriak, membuat beberapa pasang mata menatapnya heran. “Hyung, gomawoooo!” Tangan Minhyuk terentang ke depan ingin memeluk Yonghwa, buru-buru Yonghwa mencegahnya. Apa kata orang melihat dua laki-laki sedang berpelukan?

“Aku mengizinkanmu mendekati adikku karena aku percaya kau orang yang baik. Tapi ingat, kalau kau menyakiti adikku, sekalipun kau sahabatku, kau akan habis di tanganku!” Minhyuk bergidik ngeri melihat wajah Yonghwa yang begitu datar karena mengancamnya.

“Beres, Bos!”

“Kalian ngobrol apa, sih?”

Minhyuk sedikit menjauh dari Yonghwa begitu mendengar suara Soojung di belakang mereka. Minhyuk menoleh ke belakang dan memang benar itu Soojung. Minhyuk menelan ludahnya. Apa Soojung mendengar percakapan mereka?

“Maaf ya aku baru kembali, toiletnya penuh. Oppa, permainanmu keren! Jinjja daebak!” seru Soojung seraya mengacungkan dua jempolnya pada Minhyuk.

Bagi Minhyuk, pujian Soojung terlalu berlebihan karena ia hanya memainkan drumnya seperti biasa. Tapi jika Soojung memujinya begitu, bukannya itu menjadi sebuah nilai tambah? “Gomawo! Kau berlebihan!”

“Yang keren itu permainannya atau orangnya?”

“Oppa!!!” pekik Soojung.

PLAK!

Yonghwa mengaduh karena Soojung menepuk bahu Yonghwa begitu keras. Minhyuk bahkan terkejut karena suara tepakan keras tadi.

“Soojung, kasar banget, sih?!” Yonghwa masih saja mengusap-usap bahunya, masih terasa sakit. Dan kemudian muncul rasa bersalah di hati Soojung.

“Mian, oppa! Lagian usil banget, sih!”

“Loh, aku usil di bagian mananya? Aku kan cuma bertanya, kenapa marah? Yah, kecuali kalau kau memang benar-benar menyukai Minhyuk!”

“YAAAA!”

Yonghwa buru-buru berlari pergi sebelum bahunya dipukul untuk yang kedua kalinya. Soojung berniat mengejar, tapi Minhyuk ternyata lebih cepat menahannya. Ditariknya lengan Soojung dan menuntunnya duduk di tempat Yonghwa duduk semula.

“Kalian kayak anak kecil, tahu!”

Soojung mendengus. Ia jadi malu sendiri karena tingkahnya barusan.

“Tapi aku juga jadi penasaran. Kau…menyukai permainanku atau pemainnya?”

Soojung terkejut. Wajahnya tiba-tiba memerah.

“Oppaaaa!” rajuk Soojung. Spontan Soojung memukul-mukul bahu Minhyuk hingga mampu membuat Minhyuk terkekeh. Rasanya menyenangkan menggoda Soojung.

“Ampun, ampun! Tuan putri galak banget, sih?”

PLAK!

“Awww!”

Kali ini Minhyuk benar-benar mengaduh karena pukulan terakhir Soojung terasa sakit sekali. Pantas Yonghwa mengeluh. Seperti dipukul palu.

“Kalau oppa rese’ lagi, aku marah sama oppa!” dengus Soojung. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sudah dua kali ia dibuat kesal dan malu dalam sehari. Bagaimanapun, Minhyuk mampu membuatnya malu berkali lipat melebihi Yonghwa.

Soojung menatap jam tangan tipisnya. Jam menunjukkan pukul hampir setengah sepuluh malam.

“Oppa, aku pulang dulu, ya!”

“Yah, marah, ya? Jangan marah, dong!”

“Aniya! Aku harus segera tidur. Besok ada hal penting yang harus aku hadiri, makanya ibu menyuruhku untuk tidur cepat.”

“Oh, aku antar, ya?”

“Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri!”

“Ayolah, sebagai permintaan maafku. Ya, ya?”

Soojung bangkit berdiri, ia membelakangi Minhyuk. “Terserah oppa!” kata Soojung sebelum berjalan meninggalkan Minhyuk. Ia tidak mau Minhyuk melihat dirinya tersenyum seakan senang jika di antar Minhyuk. Dan gadis itu tidak melihat bagaimana senangnya Minhyuk saat ini.

 

*****

“Semua sudah berkumpul?”

“Sudah, Pak Kim!”

“Baiklah!”

Pria paruh baya itu kini sibuk menelisik lembar demi lembar dari map yang dibawanya. Soojung tidak mengerti sebenarnya apa yang ingin pengacara ayahnya bicarakan sehingga meminta Soojung untuk wajib hadir di kantor utama ayahnya. Lain halnya dengan Kyuna. Hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu sejak dua tahun yang lalu.

“Apa nyonya Im Kyuna hadir?”

“Seperti yang Anda lihat sendiri!” sahut Kyuna. Ia sungguh tidak sabar kali ini.

“Apa nona Jung Soojung hadir?”

“Itu aku!”

“Baiklah! Saya meminta kalian berdua berkumpul hari ini karena ada yang harus saya sampaikan mengenai apa yang tuan Jung tinggalkan sebelum ia meninggalkan dunia ini.”

Soojung mengangguk pelan. Kini ia paham apa yang ingin sang pengacara lakukan. Kim Daesook, mengeluarkan sebuah lembar bertuliskan tangan dari ayah Soojung, Jung Soomin. Ia kenakan kacamata tipisnya dan membaca satu per satu kata yang tertera dalam selembar kertas itu.

“Saya, Jung Soomin, membuat surat wasiat ini dalam keadaan sadar dan tidak dalam tekanan. Dengan surat ini, saya memutuskan untuk menyerahkan seluruh harta warisan saya kepada anak semata wayang saya, Jung Soojung. Semua itu resmi menjadi miliknya setelah ia menyelesaikan sekolah menengah atasnya. Harta saya dapat dialihkan pada pihak kedua, istri saya, Im Kyuna, jika terjadi sesuatu pada pihak pertama. Tertanda, Jung Soomin!”

Soojung dan Kyuna saling bertatapan. Perasaan yang berbedapun muncul pada dua insan itu.

 

 

Bunyi klakson begitu terdengar nyaring. Entah apa yang membuat jalanan utama begitu macet. Namun suara bising itu sama sekali tidak mengganggu sepasang anak dan ibu yang tengah berada di alam bawah sadar. Mereka melamun memikirkan sesuatu.

Soojung tidak mengerti mengapa semua harta warisan ayahnya jatuh ke tangan miliknya? Kenapa sang ibu tidak mendapatkannya sepeserpun. Sungguh tidak enak hati mengingat Kyuna adalah bagian dari keluarga mereka tetapi ia tidak mendapatkan apapun.

Ada rasa marah dan kecewa di diri Kyuna. Bagaimana bisa suami yang ia anggap sangat mencintainya tidak memberikannya sedikitpun? Semua yang ia harapkan ternyata jauh dari kenyataan. Dua tahun ia menunggu hari ini tiba dan ternyata hanya angin kosong untuknya.

Soomin sialan!” rutuknya dalam hati.

Kyuna menoleh menatap Soojung yang tengah menatap keluar. Matanya sungguh tajam menusuk seperti pisau, sebelah tangannya meremas ujung blazernya dengan kuat. Tiba-tiba Soojung menoleh padanya. Tatapan Kyuna yang menusuk berubah lembut seketika.

“Ayahmu pasti sangat menyayangimu, Soojung! Kau harus bisa menjaga semua yang diamanahkan ayahmu untukmu, arachi?”

Ada perasaan lega di hati Soojung. Ternyata apa yang dipikirkan Soojung sangat tidak terbukti. Dibalik semua pemikirannya sekarang, Soojung tidak tahu ada rasa sakit hati yang teramat sangat dalam diri Kyuna. Tapi tenang saja. Bukan berarti Kyuna hanya berdiam diri saja. Ia sudah mengantisipasi hal ini dengan menyiapkan rencana-rencana. Kyuna sudah sangat siap untuk menjalankan rencana pertama.

Mobil silver itu kini sudah berhenti tepat di depan pintu utama. Sang supir –Lee Jinguk- bersiap diri untuk segera keluar dari mobil dan membuka pintu mobil untuk para majikannya, tapi Kyuna buru-buru mencegah.

“Jinguk, tolong antar aku ke salon!”

“Baik, nyonya!”

“Soojung, kau bisa turun sendiri, kan?”

“Tentu saja, bu! Aku kan bukan anak kecil lagi! Have fun kalau begitu!”

See ya, dear!”

Kyuna mencondongkan tubuhnya dan mencium puncak kepala Soojung dengan rolling eyes-nya tanpa sepengetahuan Soojung.

“Pak Lee, jaga ibuku, ya!” pesan Soojung.

“Baik, nona!”

Soojung tersenyum pada Kyuna dan kemudian turun dari mobilnya. Ia melambaikan tangannya hingga mobil silver itu kini sudah tidak ada di lingkungan kediamanny. Sungguh lega karena Kyuna tidak perlu lagi tersenyum palsu untuk menutupi apa yang ia rasakan sebenarnya.

“Jinguk?”

“Iya, nyonya?”

“Aku dengar rumah milik keluargamu akan disita oleh petugas?”

“Iya, nyonya! Rumah itu rumah keluarga saya turun temurun. Karena surat kepemilikan tanah dan rumah itu sempat terbakar dan belum diurus, saya kesulitan untuk mempertahankan rumah itu.”

“Hmm! Aku bisa membeli rumah itu untukmu!”

“J…jinjayo?”

“Dengan satu syarat!”

“Katakan, nyonya! Saya akan berusaha menyanggupinya!”

 

*****

Ini sudah ketujuh kalinya Soojung mengganti pakaiannya. Setiap ia bercermin, ia selalu merasa tidak ada yang cocok dengan pakaian yang ia kenakan. Haruskah ia mencoba seluruh pakaian di dua lemari besarnya?

“Soojung-ah, bisa-bisa seharian kau habiskan hanya berganti baju. Minhyuk itu suka yang kasual. Jamkkanman!”

Yonghwa yang sejak tadi menunggu di kamar Soojung mulai memilih-milih baju milik Soojung yang ada di lemari. Pilihannya jatuh pada kaos putih polos, kemeja kotak-kotak berwarna biru dan celana jeans hitam.

“Cepat ganti! Untuk kemeja, empat kancing teratas kau lepas saja,” kata Yonghwa seraya menyerahkan semua yang ada di tangannya. Tanpa membuang-buang waktu Soojung bergegas ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya yang jauh dari kasual dengan pakaian yang ada di genggamannya.

Hari ini Minhyuk berjanji mengajak Soojung untuk melihat-lihat Universitas Seoul. Tentu saja ada balik dari semua itu. Cupid Yonghwa kembali beraksi.

“Oppa, ottokhae?”

“Nah, ini baru cocok jadi calon pacar Minhyuk!”

Soojung mendudukan dirinya di samping Yonghwa. Diambilnya bantal guling dan dipeluknya dengan erat.

“Lalu aku harus melakukan apa lagi? Apa yang Minhyuk oppa suka? Apa yang Minhyuk oppa tidak suka?”

“Minhyuk itu suka seseorang yang apa adanya. Hmm, apa lagi, ya? Dia-“

CKLEK!

“Soojung?”

Soojung dan Yonghwa sontak menoleh pada Kyuna yang tiba-tiba muncul.

“Oh, ada kau, Yonghwa!”

“Annyeong, bibi! Tadi aku ingin menyapamu, tapi katanya sedang sibuk.”

“Tidak masalah, Yong! Oh ya Soojung-ah, bisa kau ambilkan gaunku di butik biasa? Butik itu akan tutup satu jam lagi sedangkan malam ini aku harus memakai gaun itu.”

“Tapi aku ingin pergi dengan temanku!”

“Tolong ibu, nak! Kau bisa ambil gaun itu terlebih dahulu, kemudian Jinguk akan mengantarkanmu ke tempat temanmu. Biar Jinguk yang memberikannya gaun itu pada ibu.”

Muncul rasa kecewa di hati Soojung. Padahal ia ingin sekali Minhyuk menjemputnya.

“Bibi, bagaimana kalau aku saja yang mengambilnya?” tawar Yonghwa.

“Tidak bisa, Yong! Aku takut nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Gaun itu sangat penting. Bisa kan, Soojung?”

Tidak ada pilihan lain. Toh jika supirnya yang mengantar, ia masih tetap bisa bertemu Minhyuk. Hanya mengambil gaun, kan?

“Iya, bu! Aku bisa!”

“Gomawo, Soojung!” seru Kyuna sebelum ia menghilang dari kamar Soojung.

Soojung menghela nafasnya dengan berat seperti yang Yonghwa lakukan sekarang.

 

 

Soojung melirik jam tangannya. Setengah jam lagi butik langganan sang ibu akan tutup, dan masih ada satu jam untuk bertemu Minhyuk sesuai perjanjian. Yonghwa telah mengaturnya. Mereka berdua akan bertemu di Universitas Seoul.

Tidak ada yang bisa Soojung lakukan. Ia ingin segera bertemu Minhyuk. Dan entah kenapa ia tersenyum karena tiba-tiba teringat akan dirinya tadi malam. Memberanikan diri menelpon Minhyuk hanya ingin memintanya menemaninya melihat-lihat salah satu pilihan universitasnya kelak. Soojung terlalu agresif, kah?

Soojung sendiri tidak mengerti dengan dirinya. Minhyuk bukan hanya sekedar orang yang ia suka. Minhyuk sudah menjadi sebuah keinginan bagi Soojung. Ada rasa di mana ia ingin sekali mendapatkan Minhyuk karena Jung Soojung telah jatuh cinta pada Kang Minhyuk.

Keningnya kemudian mengerut. Ia tersadar sesuatu. Bukankah ke butik seharusnya belok kanan? Kenapa sang supir –Janguk- justru berbelok ke kiri?

“Pak Lee? Kita salah jalan, deh!”

“Sedang ada perbaikan jalan, nona!”

“Oh!”

Soojung hanya menanggapi biasa. Sudah maklum jika ada pengalihan jalan bila sedang ada perbaikan. Namun, masalahnya adalah Jinguk tidak membawanya ke tempat yang dituju. Entah ada di mana dia sekarang, yang pasti mobil berhenti di tempat yang benar-benar sangat sepi.

Bulu kuduk Soojung merinding dengan seketika. Pikiran-pikiran negatif datang begitu saja, memenuhi isi kepalanya. Ada apa sebenarnya?

“P…Pak Lee? Ada apa?”

Jinguk menatap Soojung melalui kaca di atasnya. Tatapan Jinguk jelas tergambar antara rasa bersalah dan kebimbangan.

“Nona Jung Soojung, maafkan aku! M…maaf!”

Jinguk kembali menyalakan mobil itu. Dalam sekali injak, mobil itu berjalan dengan kecepatan tinggi hingga jelas terdengar suara gesekan antara ban dengan jalanan. Mobil itu tidak berjalan di jalanan, melainkan melewati sebuah rawa yang akan membawa mereka menuju sungai besar nan deras.

 

-TBC-

 

ada yang bisa nebak ini dongeng apa?


15 thoughts on “Not FAIRYTALE [part 1]

  1. Huaaaaaaaaaaa
    Putri salju??? Wkwkwk
    Hyukstal ahirnya ada ff ini lagi🙂
    Lanjutnya please jangan lama”😀
    D tunggu yah penasaran tingkat dewa ini sudah wkwkwk

  2. Putri salju ya? *ikut2an* #hhe

    Suka s5 nih couple😀
    mzukin(?) Yongseo jg donk thor, hehee #maksa

    next thor,
    hwaiting!^^

  3. putri salju:/ kalo dibawa ke sungai besar ntar sopirnya ikutan mati dong. trua jangan bilang soojung nya selamat trus terdampar di pondok yg ada kurcacinya xD *sotoyngarang.

    lanjutin eon~ xD

  4. sejenak aku baca agak salut juga ibu tiri nya sayang banget sama krys tapi terntaya itu hanyalah akting, makanya judulnya a fairytale ya hee.
    ditunggu kelanjutannya ^^

  5. wahh pairing’a minhyuk-krystal..aku suka banget
    cerita’a menarik,bikin penasaran,alur’a jelas,penggambaran tokoh’a juga jelas
    daebak deh..aku nunggu next part^^

  6. Putri salju ya?
    yahh lagi seru-serunya tbc aishh *tendang tbc jauh jauh*
    apa banget itu ibu tirinya, pengen kucakar cakar wajahnya! ish. terus itu Yonghwa kenapa nggak ikutin Krystal aja? itu kan gerak gerik ibu tirinya mencurigakan. Minhyuk, semoga kau menolong Soojung yang sedang dalam bahaya #prayforkrystal. hehehhee.. lanjut next part jangan lama-lama😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s