[Oneshot] Present For You

Title: [Oneshot] Present For You

Author: ree

Rating: PG-15

Genre: AU (alternative universe), romance

Length: oneshot

Main Cast:

-Lee Jonghyun CN Blue

-Kim Ye Ji (OC’s)

-Choi Siwon Super Junior

Other Cast:

-Kim Hyun Joong

-Yoon Eun Hye

-Song Eun Kyung (OC’s)

Disclaimer: This story is just my imagination. The characters are belonging to God, but the story is mine

Note: FF ini udah pernah aku publish di ourprivateroom.wordpress.com dengan cast yang berbeda. Jadi, kalo kalian liat FF dengan judul dan cerita yang sama disana, itu bukan plagiat. Kecuali di blog lain

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

-Ye Ji’s POV-

Aku melemparkan tumpukan kertas di atas meja kerjaku dengan frustasi. Bagaimana tidak? Bayangkan, dalam sehari ini sudah tiga kali aku dipanggil ke ruang pimpinan redaksi. Dia sangat kecewa dengan hasil kerjaku yang dinilainya tidak maju-maju. Padahal aku sudah mengerahkan seluruh waktu dan tenaga hanya untuk membuat artikel politik terkini yang berbobot. Bahkan aku rela tidak ikut liburan musim dingin ke Pulau Jeju dengan Hyun Joong-oppa dan pacarnya, Yoon Eun Hye. Tapi apa yang kudapat dari semua jerih payahku? Makian dan hinaan dari bos yang terkenal perfeksionis dan super galak itu. Cih, padahal usianya masih muda, tapi kerjanya hanya bisa marah dan membentak. Lihat saja, sampai sekarang tidak ada gadis yang berani mendekatinya karena sikapnya yang dingin.

Ngomong-ngomong soal penyakit, aku jadi merasa terkena penyakit juga. Penyakit lelah tentunya. Beban di punggungku terasa semakin berat saja. Jika keadaannya sudah seperti ini, akhirnya aku hanya bisa menyalahkan diri dan takdirku sendiri. Dari dulu aku ingin menjadi diplomat seperti Hyun Joong-oppa yang sekarang sudah menjadi jaksa. Entahlah, mungkin darah hukum sudah mengalir turun temurun dari appa-ku yang seorang Kepala Polisi. Harus kuakui, dia memang sedikit memaksa anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya, terutama oppa. Tapi aku tidak merasa keberatan dengan itu. Karena aku juga menyukai bidang yang sama.

Tapi kenapa aku malah terdampar di kantor penerbitan majalah seperti ini!? Sebagai penulis artikel pula! Memang bidang dalam artikel yang kubuat masih berhubungan dengan hukum dan politik, tapi menulis benar-benar bukan bidangku! Dan lagi sepertinya sebagian orang di kantor ini tidak terlalu percaya pada kemampuanku bekerja hanya karena usiaku yang baru 19 tahun. Ya, aku memang sudah menyelesaikan kuliahku di usia 19 tahun ini. Lalu apa yang salah? Bukankah itu tandanya aku jenius? Kecuali dalam bidang menulis tentunya. Kalau soal mendebat orang lain, memang aku jagonya.

“Dimarahi lagi?” tiba-tiba suara seseorang membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke belakang. Tampak Lee Jonghyun, cowok rekan sejawatku yang bertugas menulis artikel kesehatan memandang ke arahku dari meja kerjanya.

“Yah…” jawabku lemas. Biasanya Jonghyun jarang bicara, tapi mungkin karena dia sudah bosan dengan keadaanku yang bagaikan hidup-segan-mati-tak-mau, jadi akhirnya ia memutuskan untuk menyapaku.

Kulihat dia kembali memfokuskan pandangannya ke arah komputer dihadapannya dan kembali mengetik. Dia memang karyawan yang sangat rajin. Tulisannya selalu bagus dan rasanya sudah tak terhitung lagi pujian yang dilontarkan bos dan editor padanya. Beda sekali denganku.

Aku memutar badanku kembali ke depan meja kerjaku, kemudian melirik tumpukan kertas di sudut meja dan kembali menghela napas.

“Ya~ Ye Ji-ah, daripada melamun begitu, lebih baik kau segera menyelesaikan tulisanmu. Ingat, deadline-mu tinggal 2 jam lagi sebelum jam 4 sore! Kau mau bos memarahimu lagi!?” tiba-tiba Song Eun Kyung, editorku, sudah berdiri didepan mejaku sambil berkacak pinggang. Mungkin sudah jengah melihatku duduk bertopang dagu sambil menggerakkan mouse dengan malas.

“Arasseo, tapi apa kau tidak mau membantuku? Kau kan editorku. Harusnya kau yang mengedit hasil tulisanku.” kataku merajuk.

“Tapi hasil tulisanmu sangat mengecewakan, Ye Ji-ssi! Hampir seluruhnya belum memenuhi syarat penulisan yang baik. Aku tidak mungkin merombak semua tata bahasamu!”

“Memangnya ada apa dengan tata bahasaku? Aku sudah merasa cukup baik!”

“Ayolah, Yaeji. Memang dalam berbicara tata bahasamu cukup baik, tapi cara penulisanmu kurang sesuai untuk majalah. Kau harus berusaha memperbaikinya lagi. Bukankah kemarin aku sudah membawakan selusin majalah untuk referensimu?”

“Tentu saja. Karena aku memang tidak cocok di bidang ini. Harusnya aku jadi diplomat!”

“Jangan mengeluh. Sekarang kau berada di kantor ini. Jadi, disinilah takdirmu. Sudah, cepat kerjakan pekerjaanmu! Kalau sudah selesai segera bawakan ke mejaku.” Eun Kyung-eonni mengetukkan pulpennya ke mejaku dan segera berlalu. Namun tak lama kemudian ia kembali lagi.

“Oh iya, aku lupa. Artikel kuliner untuk edisi bulan ini juga harus kau kerjakan untuk menggantikan nona Park yang sedang cuti melahirkan. Ini bahannya.” ia menyerahkan sebuah map berwarna merah.

Aku hanya bisa melongo, “Mwo!? Apa kau bilang!? Artikel kuliner?? Sebenarnya bos ingin mengerjaiku atau apa!?”

“Entahlah, mungkin saja. Untuk yang ini deadline-nya 3 hari lagi. Good luck, Ye Ji-ah!” Eun Kyung-eonni memicingkan sebelah matanya lalu berjalan meninggalkan meja kerjaku.

“Tapi, aku…” kata-kataku terputus karena ia sudah berjalan menjauh. Dan sepertinya ia juga tidak akan mendengarkan perkataanku.

Lagi-lagi, aku hanya bisa menghela napas. Pasrah.

***

“Ne, ne, oppa. Arasseo. Kau harus menunda kepulanganmu sehari lagi karena kehabisan tiket pesawat kan? Kau tidak perlu khawatir. Aku ini kan sudah besar. Percayalah padaku.” aku lalu memutuskan sambungan telepon. Kakak laki-lakiku yang satu itu memang terkadang memiliki kekhawatiran yang berlebihan. Memangnya dia pikir aku tidak bisa tinggal di rumah sendirian?

Saat ini aku dan Hyun Joong-oppa memang hanya tinggal berdua di sebuah apartemen kecil. Aku memutuskan untuk untuk tinggal disini karena jaraknya tidak begitu jauh dari tempat kerjaku. Alasan yang sama dengan Hyun Joong-oppa. Tapi kami tidak selalu berdua karena Eun Hye-eonni terkadang menginap disini. Aku dan dia memang sangat dekat seperti layaknya kakak beradik.

Tapi, harus kuakui, sebagai perempuan aku memang tidak begitu mahir memasak. Aku ini termasuk tipe orang yang menyukai segala sesuatu yang simpel, sedikit enggan untuk repot-repot di dapur seperti halnya memasak. Jadi aku hanya akan memasak makanan seadanya, yang mudah dan cepat.

Oh ya, ngomong-ngomong soal memasak, aku jadi ingat kalau ada deadline artikel kuliner 3 hari lagi! Dengan terburu-buru aku segera memasak air dalam panci dan merebus mie instan, kemudian membawanya ke dalam kamar untuk memakannya sambil menyelesaikan tagihan pekerjaanku itu. Belum selesai satu pekerjaan, sudah muncul pekerjaan lain.

Aku meletakkan kesepuluh jariku di atas keyboard laptopku dan bersiap mengetik, namun ketika melihat layar monitor, entah kenapa semua isi otakku mendadak hilang entah kemana.

“Aish~ aku tidak bisa mengerjakannya!” Aku menutup laptop dengan kasar. Aku tidak tahu apa yang harus kutulis, bahkan aku tidak tahu artikel kuliner itu seperti apa bentuknya.

Akhirnya aku memutuskan untuk segera menghabiskan mie instan yang kubuat, kemudian mengirim pesan pada editorku, Eun Kyung melalui ponsel.

To: Song Eun Kyung

Editor Song yang baik hati, tolong bantu aku!

Tak berapa lama kemudian, ponselku berbunyi. Balasan dari Eun Kyung-eonni.

From: Song Eun Kyung

Shireo! Kerjakan saja sendiri! Itu tanggung jawabmu, nona Kim Ye Ji!

“Aiiisshh…!! Kenapa dia bisa langsung tahu kalau aku meminta bantuannya untuk menulis artikel!? Dan kenapa dia lebih mengutamakan kejujuran pekerjaan daripada membantuku walaupun sedikit saja?” aku merebahkan diri di atas tempat tidur. Terdiam dalam waktu yang cukup lama, memejamkan mata perlahan, dan kemudian tidak ingat apa-apa lagi.

***

“Ckckck… Kau terlambat lagi, nona Kim Ye Ji.” Eun Kyung-eonni menggeleng-gelengkan kepalanya begitu melihatku memasuki ruang kerja dengan tergopoh-gopoh.

Aku hanya menoleh sekilas, “Ne, aku sedikit berputar-putar dulu tadi.”

“Berputar-putar? Untuk apa?”

“Please, nona Song Eun Kyung, jangan bilang kau lupa tentang tugas yang kau sampaikan padaku kemarin.”

Dari raut wajahnya, sepertinya Eun Kyung-eonni masih bingung dengan maksud perkataanku tapi aku tidak memedulikannya. Aku segera berjalan menuju meja kerjaku dan berkutat didepan komputer karena sebentar lagi inspeksi karyawan yang rutin dilakukan bosku setiap pagi akan dilaksanakan. Sesekali aku merapikan tatanan rambut yang dicepol sekenanya dan juga pakaianku yang simpel. Jangan sampai aku terlihat masih terengah-engah karena berlari.

Benar saja. Baru saja aku membuka Ms.Word di komputerku dan mengetikkan satu kata (ingat, baru satu kata!), pimpinan berdarah dingin itu masuk ke ruang kerja para karyawan. Sontak sebagian karyawan yang sedang berlalu-lalang didepannya langsung berbaris rapi di pinggir dan menundukkan kepala dengan hormat. Dengan sedikit kalang kabut aku langsung menutup majalah yang baru ingin kubaca sebagai referensi dan menyembunyikannya di laci meja kerjaku.

Entah karena dia heran melihat tingkahku atau apa, bos langsung menghampiri meja kerjaku. Dengan kikuk aku langsung bangkit dari tempat dudukku dan menundukkan kepalaku dihadapannya.

Selama beberapa saat dia hanya memandang ke arahku dengan tatapan yang sepertinya tidak meyakinkan. Membuatku semakin takut melihat ke arahnya dan hanya menunduk. Gawat! Rasanya bulu kudukku mulai berdiri dan kedua telapak tanganku mulai berkeringat.

Aku melirik bosku yang bernama Choi Siwon itu memiringkan kepalanya ke arah monitor komputer dihadapanku, melihatnya sebentar, dan kembali menatapku. Omo~ aku takut sekali! Rasanya sedikit demi sedikit muncul hawa pembunuh yang siap menyerangku kapan saja. Eotteokhae…!!!???

“Bagaimana dengan tugas membuat artikel kuliner yang kuserahkan padamu, nona Kim Ye Ji? Sudah kau selesaikan?” tanyanya datar namun cukup untuk membuatku mati berdiri saat ini juga.

“Oh, ng… anu… itu… sedang dalam proses.” jawabku asal.

“Benarkah? Tapi aku tidak melihat satu kalimat pun di layar monitormu.”

Mendengar kata-kata itu, diam-diam aku hanya bisa meringis dan mengharap bantuan siapapun yang ada di situ. Aaahh, andai saja mereka bisa mendengar suara hatiku yang teraniaya ini.

“Bukankah aku sudah mengatakan melalui nona editor Song kalau deadline-mu hanya 3 hari?”

Aku mengangguk perlahan sambil tetap menunduk.

“Maaf pimpinan, tapi nona Kim sudah berusaha keras mencari rekomendasi restoran yang bagus.” tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang. Aku menoleh, rupanya itu suara Lee Jonghyun.

Tunggu dulu! Memang tadi pagi aku berputar-putar mencari restoran yang kira-kira bagus untuk diliput, namun kurasa restoran-restoran itu biasa saja, tidak ada sesuatu yang istimewa. Kalaupun ada yang bagus, restoran itu sudah pernah dimuat di majalah sebelumnya. Tapi, bagaimana dia bisa tahu?

“Benarkah?” bos Siwon kembali menatapku.

Lagi-lagi aku mengangguk perlahan, “Ne.”

Butuh waktu beberapa saat sebelum ia mengatakan “Baiklah kalau begitu. Kuharap kau tidak menyia-nyiakan waktumu.” sebelum berjalan meninggalkan meja kerjaku. Akhirnya aku bisa bernapas lega.

Aku berbalik dan menatap Jonghyun-sunbae (entah kenapa aku lebih senang memanggilnya sunbae) yang sudah kembali berkutat dengan komputernya. Ketika ia menatap ke arahku, aku langsung membisikkan kata terima kasih padanya. Ia hanya tersenyum samar dan kembali mengetik.

***

Aku menepuk-nepuk pelan kedua bahuku yang terasa pegal. Sudah lebih dari 4 jam aku terus mencari restoran yang bagus di sekitar Seoul melalui internet, namun belum juga membuahkan hasil. Aku merasa hampir putus asa.

“Ini.” tiba-tiba Jonghyun sunbae yang sudah berdiri disampingku menyodorkan segelas kopi hangat. Saat ini aku memang sedang berada didepan mesin kopi untuk sekedar melepas penat.

“Ah, gomawo, sunbae.” aku mengambil gelas tersebut.

“Kau masih saja memanggilku sunbae.”

“Aku lebih suka memanggilmu sunbae. Kurasa itu lebih cocok daripada oppa. Apa kau keberatan?”

Dia hanya tersenyum. Senyumannya manis sekali. Dia memang termasuk tipe cowok yang manis dibalik kacamata lebar dengan bingkai hitam yang hanya dipakainya selama bekerja itu.

“Hari ini kau akan lembur lagi?” tanyanya kemudian.

“Ne, kurasa begitu. Masih banyak yang harus kuselesaikan.”

“Bukankah lebih baik kau mencari rekomendasi restoran? Itu kan tugas jangka pendekmu. Kurasa itu yang harus lebih diprioritaskan.”

Aku terdiam. Mungkin kata-kata Jonghyun-sunbae ada benarnya. Kenapa selama ini tidak terpikirkan olehku? Lebih baik aku memfokuskan diri ke salah satu pekerjaan dulu. Jika sudah selesai baru beralih ke tugas yang lain.

“Itulah kelemahanmu, Ye Ji-ah. Kau tidak memiliki program kerja yang direncanakan dengan baik. jadi seringkali kau keteteran dengan semua tugasmu yang menumpuk itu.” katanya tenang seolah bisa membaca pikiranku.

Tiba-tiba saja terbersit ide dalam otakku.

“Gomawo, sunbae!” aku segera melesat meninggalkan Jonghyun sunbae yang masih berdiri didekat mesin kopi. Untuk menyelesaikan artikel kuliner ini, aku harus melakukan satu hal.

***

-Author’s POV-

“Apa kau bilang tadi? Perpanjang deadline?” tanya Siwon sedikit terkejut.

“Ne. Kumohon, pimpinan. Beri saya waktu 3 hari lagi. Sebagai gantinya saya akan menyelesaikan artikel politik hari ini. Bahkan saya rela jika harus lembur asalkan besok saya bisa memfokuskan diri mencari rekomendasi restoran.” jawab Ye Ji memohon.

Siwon menghela napas berat dan melipat tangannya, “Bagaimana aku bisa percaya kalau kau akan menyelesaikan artikel politik hari ini sementara hasil tulisanmu selalu mengecewakan?”

“Kumohon, berilah saya kesempatan sekali lagi. Saya akan bekerja keras.”

“Kau tahu, nona Kim Ye Ji? Seminggu lagi majalah kita edisi bulan ini harus sudah terbit.”

“Saya sangat mengetahuinya. Dan saya akan berusaha sebaik mungkin menyelesaikan artikel kuliner ini. Maka dari itu saya akan memohon perpanjangan deadline.”

Siwon berpikir cukup lama. Jujur ini adalah keputusan yang berat. Tidak ada yang bisa menjamin kalau Ye Ji bisa menyelesaikan tulisannya dengan baik. Jika tulisannya tetap mengecewakan, maka dia hanya akan punya sedikit waktu untuk memperbaikinya.

“Baiklah, tapi kalau sampai hasilnya mengecewakan, kau akan tahu akibatnya.”

Mendengar persetujuan dari Siwon, senyum di bibir Ye Ji mengembang. Berkali-kali ia membungkukkan badannya dan mengucapkan terima kasih.

***

“Oppa, apa kau tidak bisa menemaniku?” tanya Ye Ji di sela-sela makan malam bersama Hyun Joong, yang sudah kembali dari liburannya di Pulau Jeju tadi siang.

“Menemani apa?” tanya Hyun Joong sambil memasukkan sepotong telur gulung ke dalam mulutnya.

“Aiisshhh…!! Apa dari tadi kau tidak mendengarkan ceritaku? Tentu saja menemaniku mencari restoran yang bagus.”

“Jeongmal mianhae, Yaeji-ah. Tapi aku akan sibuk mulai besok.”

Mendengar jawaban Hyun Joong yang megecewakan, Ye Ji hanya bisa merengut.

“Ah, bagaimana dengan Eun Hye-eonni? Siapa tahu dia bisa menemaniku.”

Hyun Joong tampak mengingat-ingat, “Sepertinya tidak bisa. Besok dia akan ada pemotretan di majalah.”

Lagi-lagi Ye Ji harus menelan pil kekecewaan, “Kalau begitu, kira-kira apa makanan kesukaannya?” tanyanya kemudian. Mungkin saja ia bisa mendapat ide dari makanan kesukaan pacar kakak laki-lakinya itu.

“Es krim.”

“Mwo!? Apa kau bilang tadi?”

“Es krim. Dia suka es krim.”

“Ha…hanya itu?”

“Kalau yang kau maksud makanan kesukaan itu artinya makanan barat atau makanan mahal, mungkin dia hanya suka wagyu steak.”

“Wagyu steak? Bukannya itu sudah biasa? Jika membuat lapoan mengenai makanan itu, rasanya tidak mungkin diterima.” pikir Ye Ji dalam hati.

“Maafkan aku, lebih baik kau ajak orang lain saja. Ajak saja rekan kerjamu.” usul Hyun Joong.

Ye Ji menghela napas. Rekan kerja? Siapa? Selama bekerja di situ ia belum mendapatkan teman yang cocok. Editor Song pasti tidak akan mau jika ia mengajaknya.

“Oppa, enak sekali jadi dirimu. Kau punya pacar yang cantik, tinggi, pintar, seorang model, ramah, dan bersifat keibuan. Sedangkan aku? Teman di kantor saja tidak punya.”

Hyun Joong tersenyum, “Tentu saja, aku ini kan tampan. Lebih baik kau ubah sedikit penampilanmu.” ia pun tertawa terbahak-bahak.

“Ya~ Kenapa kau tertawa! Dasar kakak narsis!”

***

Ye Ji masih berpikir keras menentukan siapa kira-kira yang akan diajaknya untuk menemaninya mengerjakan tugas berwisata kuliner ini. Hal ini tentu akan mudah jika saja ia memiliki banyak teman di kantor ini. Sayangnya, itu sangat jauh dari kenyataan. Sudah hampir 3 bulan ia bekerja, namun ia belum mendapatkan teman mengobrol satupun. Paling hanya editor Song Eun Kyung, tapi ia lebih sering marah-marah karena pusing melihat hasil pekerjaan Ye Ji selama ini.

“Selamat pagi, Ye Ji-ah!” sapa Jonghyun ramah ketika Ye Ji sampai di meja kerjanya.

“Pagi.” jawab Ye Ji lemas.

Namun kemudian ia seperti teringat sesuatu. Gadis itu langsung membalikkan badannya ke arah meja Jonghyun.

“Itu dia! Sunbae, kau mau membantuku tidak?” tanya Ye Ji antusias.

“Membantu apa?” tanya Jonghyun heran.

“Bantu aku mencari restoran yang bagus untuk diliput di majalah.” Ye Ji menempelkan kedua telapak tangannya didepan wajahnya, “Ayolah, sunbae. Jebal… Hanya kau yang bisa membantuku.”

Belum sempat Jonghyun menjawab permohonan Ye Ji, editor Song tiba-tiba menghampiri gadis itu. Berbeda dari biasanya, kali ini wajahnya terlihat sumringah.

“Ye Ji-ah! Chukkae! Akhirnya bos menerima tulisanmu!”

Mata Ye Ji membulat, “Jinjja!?”

“Ne, dia bilang dia cukup terkejut dengan hasil tulisanmu yang mengalami peningkatan. Sebenarnya aku juga begitu sih, tapi bos tidak akan menerima tulisanmu kalau aku tidak membantumu kan?” jelas Eun Kyung percaya diri.

“Aigoo~ Aku senang sekali! jeongmal gomawo, eonni!” Ye Ji memeluk Eun Kyung kegirangan.

Jonghyun yang melihatnya juga ikut senang, “Kalau begitu, untuk merayakannya bagaimana kalau kau makan di luar? Sekalian mencari rekomendasi restoran yang bagus?”

“Wah, itu ide yang bagus! Eonni, kau mau ikut?” ajak Ye Ji.

“Sebenarnya aku mau sekali. Tapi sayangnya masih banyak artikel yang harus kuedit. Mungkin lain kali.” tolak Eun Kyung halus.

“Yah, sayang sekali.” Ye Ji tampak sedikit kecewa.

“Tenang saja. Aku akan menemanimu.” ujar Jonghyun.

“Jinjja? Gomawo, sunbae.” Ye Ji sedikit menundukkan kepalanya.

“Baiklah, kalian berdua selamat bersenang-senang. Ingat, jangan sampai kemalaman. Dan jangan lupa bawakan makanannya untukku.” pesan Eun Kyung.

“Tenang saja, eonni. Baiklah, kami pergi dulu.”

***

-Ye Ji’s POV-

Aku melihat ke sekeliling. Desain restoran yang mewah dengan hiasan lampu kristal berwarna kuning cukup membuatku terkagum-kagum. Aku memang meminta Jonghyun-sunbae untuk menemaniku mencari restoran yang bagus. Tapi aku sama sekali tidak menyangka dia akan membawaku ke restoran mewah seperti ini. Melihat interiornya saja, sudah membuatku menelan ludah membayangkan berapa harga yang harus dibayar untuk sekali makan. Bagaimana ini? Mau menolaknya juga susah, aku merasa tidak enak pada Jonghyun-sunbae. Tapi, aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar makanan kami berdua.

“Ehm… Sunbae, sebenarnya ini restoran apa?” tanyaku hati-hati. Sedikit mengecilkan volume suaraku agar tidak terdengar oleh para tamu lainnya.

“Ini restoran Thailand.” jawab Jonghyun-sunbae tenang.

“Bagaimana kalau kita mencari restoran lain saja?”

“Wae?”

Aku sedikit mendekatkan wajahku kearahnya dan menempelkan tangan kiriku di pipi agar gerakan mulutku tidak terlihat orang lain, “Kelihatannya ini sangat mahal. Mianhae, tapi aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar ini.”

Jonghyun-sunbae terlihat berusaha menahan tawanya, “Tenang saja. Kau tidak perlu membayarnya.”

“Mwo?”

“Sebenarnya ini restoran milik keluargaku.”

“Ap…apa katamu!? I…ini…”

“Sssssttt…!!!” Jonghyun-sunbae menempelkan jari telunjuk di bibirnya, “Jangan keras-keras. Nanti orang-orang tahu. Dan jangan katakan ini pada bos kalau aku membantumu.”

Aku mengangguk patuh walaupun jujur aku masih kaget dengan pernyataannya barusan.

Jadi yang punya restoran ini adalah keluarga Jonghyun-sunbae? Itu berarti dia berasal dari keluarga kaya raya? Lalu kenapa ia masih bekerja di kantor penerbitan dan bukan meneruskan bisnis keluarganya ini? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang terus terngiang di kepalaku sekarang.

“Bagaimana kalau kita memesan makanan sekarang? Kau sudah pernah makan masakan Thailand sebelumnya?” pertanyaan Jonghyun-sunbae membuyarkan semua lamunanku.

Aku menggeleng dan membuka buku menu dihadapanku.

“Kalau begitu aku akan merekomendasikannya untukmu.” lanjutnya.

Ketika sedang asyik memperhatikan buku menu, tiba-tiba saja mataku mengarah pada sesosok pria yang duduk sendirian dengan selisih beberapa meja didepan meja kami. Entah kenapa, sepertinya pria itu tidak asing bagiku.

Mataku membulat ketika pria itu menolehkan kepalanya ke samping sambil menyerahkan buku menu kepada salah seorang pelayan. Itu kan bos Siwon!!!!

Entah hanya perasaanku saja, tapi sepertinya dia hampir menolehkan kepalanya ke arah meja kami. Dengan refleks aku langsung menutupi wajahku dengan buku menu dan berharap semoga saja dia tidak menyadarinya.

“Ada apa?” tanya Jonghyun-sunbae yang sepertinya heran melihat tingkahku. Ia hendak menolehkan kepalanya ke belakang namun aku langsung menarik lengan bajunya.

“I…itu, bos Siwon!!” pekikku tertahan.

“Lalu?”

“Kenapa dia bisa ada disini!?”

“Mau apa lagi? Tentu saja makan siang. Mungkin dia memang sering makan siang disini.”

“Sering? Kalau aku meliput tentang restoran ini, dia pasti sudah mengetahui restoran ini sebelumnya. Tulisanku tidak akan diterima.”

“Menurutku belum tentu.”

“Ayolah, sunbae. Kau ingat waktu pertama kali masuk kerja? Dia pasti mengatakannya juga padamu. Bahwa inovasi dan kreatifitas sangat dibutuhkan dalam pekerjaan ini. Dia pasti akan menganggapku tidak kreatif.”

“Lalu sekarang kau mau bagaimana?”

“Aku tidak mau mengambil resiko. Lebih baik kita mencari restoran lain.” aku meraih tasku dan segera menarik Jonghyun-sunbae pergi dari situ.

“Jeongmal mianhae, sunbae. Kita tidak jadi makan di restoranmu.” berkali-kali aku menundukkan kepalaku ketika kami sudah berada di luar restoran. Aku merasa sangat tidak enak padanya.

“Sudahlah, kau tidak perlu minta maaf. Sekarang kita mau kemana? Waktu makan siang sebentar lagi habis.” ujar Jonghyun-sunbae sambil memperhatikan jam tangannya.

Aku berpikir keras menentukan kira-kira restoran mana yang bagus selain restoran ini.

“Ah, iya! Aku ingat! Kenapa tidak kepikiran sebelumnya?” Aku menepukkan kedua telapak tanganku.

“Apa itu?”

“Temanku pernah mengajakku ke sebuah restoran Indonesia. Ada satu masakan yang sangat kusuka!” jelasku antusias.

“Benarkah?”

Aku mengangguk, lalu menarik tangan Jonghyun-sunbae, “Ayo ikut aku!”

***

-Jonghyun’s POV-

Aku memperhatikan meja dihadapanku dan Ye Ji. Gadis ini baru saja mengajakku makan di sebuah restoran Indonesia. Jujur, aku belum pernah makan makanan Indonesia sebelumnya, walau sebelumnya Ye Ji sudah menjelaskan kalau makanannya tidak jauh berbeda dari makanan Thailand karena kedua negara itu sama-sama berada di kawasan Asia Tenggara.

Tapi, aku sedikit tidak terbiasa dengan tampilan meja makan yang begitu penuh dengan makanan seperti ini. Seakan sedang berada di restoran Cina, namun bedanya mejanya tidak memakai meja putar dan makanannya sudah lebih dulu disiapkan di atas meja sebelum kami memesan.

“Ye Ji, apa kita harus makan sebanyak ini?” tanyaku pada gadis dihadapanku itu. Wajahnya terlihat sumringah. Padahal baru beberapa saat yang lalu ia sangat panik ketika melihat bos Siwon makan di restoran keluargaku yang kami datangi sebelumnya.

Bukannya menjawab, Ye Ji malah menertawakanku. Membuatku tampak seperti orang bodoh. Tapi aku memang tidak pernah makan seperti ini sebelumnya. Jadi sama sekali tidak mengerti.

“Tentu saja tidak, sunbae. Kau hanya tinggal memilih makanan yang kau sukai dari semua ini.” jelas Ye Ji kemudian, “Dan kau harus memakannya dengan nasi ini. Semua lauk-pauk dan sayuran ditaruh dalam satu piring.”

Aku menganggguk patuh seperti anak kecil, lalu kembali memperhatikan satu demi satu piring-piring berisi berbagai macam jenis masakan dihadapanku. Ada potongan ayam yang diberi semacam bumbu, cumi berkuah kuning, semacam sayuran yang juga berkuah kuning, telur dengan bumbu cabai, dan lain-lain yang tidak bisa kusebutkan satu per satu karena sudah terlalu pusing melihatnya. Sepertinya semua makanan ini rasanya pedas. Dan ditambah lagi dengan cabai hijau yang sudah dihaluskan. Membayangkan memakan semua makanan ini sudah cukup membuat perutku mulas.

“Kau bingung ya? Biar kupilihkan untukmu. Yang ini enak sekali. Aku paling suka yang ini.” Ye Ji mengambil salah satu potongan daging berbumbu dan meletakkannya di piringku.

“Namanya rendang. Terbuat dari potongan daging sapi yang dicampur dengan bumbu cabai dan santan.” jelas Ye Ji, “Dan jangan lupa dengan kentangnya.” ia menambahkan kentang bulat kecil kedalam piringku.

Dengan sedikit ragu, aku memotong daging itu dan memasukkannya kedalam mulut.

“Bagaimana menurutmu?”

“Memang pedas, tapi enak sekali. Bumbunya sangat terasa.” komentarku setelah merasakan makanan bernama rendang itu.

“Benar kan? Aku juga sangat menyukai rasanya.” Ye Ji ikut menyendokkan daging itu bersama nasi dan memasukkannya kedalam mulut, “Begini cara makannya.”

Aku mengikuti cara makan yang diajarkan Ye Ji. Gadis itu benar, makanan ini rasanya sangat enak. Sepertinya makan siang kami hari ini menjadi makan siang yang menyenangkan.

***

-Ye Ji’s POV-

Aku senang sekali melihat Jonghyun-sunbae menikmati makanan yang kurekomendasikan. Pilihanku untuk mengajaknya ke restoran Indonesia memang tepat. Selain aku sudah mengetahui bagaimana cara makan dan rasanya, aku juga bisa mengenalkan kepada Jonghyun-sunbae bagaimana masakan Indonesia itu. Komentarnya sebagai orang yang baru pertama kali memakan masakan ini akan kumasukkan dalam artikel kuliner yang akan kubuat. Itu akan sangat membantu.

***

Sore harinya…

Aku sedang mengetikkan sesuatu di komputerku ketika editor Song menghampiri meja kerjaku.

“Ye Ji-ah! Sebenarnya apa yang kau makan akhir-akhir ini? Kenapa kemampuan menulismu jadi meningkat pesat?”

“Benarkah? Aku tidak tahu. Aku hanya menulis apa yang ada dalam otakku.”

Editor Song mengangguk-angguk, “Memang. Tapi sekarang kau sudah bisa menuangkan apa yang kau pikirkan kedalam sebuah tulisan dengan baik.”

Aku menghentikan pekerjaanku dan memandang editor Song, “Benarkah seperti itu? Jadi maksudmu…”

“Benar! Chukkae, Yaeji-ah! Lagi-lagi tulisanmu diterima bos Siwon! Malah kali ini langsung tanpa harus ada yang diedit! Aigoo~ Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu? Kepalaku jadi pusing!” kata editor Song heboh.

“Jinjja!? Aigoo~ eonni, aku senang sekali! Kau tidak bohong kan!?” aku langsung bangkit dari tempat dudukku dan melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil, kemudian memeluk editor Song.

“Untuk apa aku bohong padamu? Akhirnya, tidak sia-sia aku memarahimu.” editor Song ikut melompat-lompat sepertiku. Kami berdua sudah seperti orang gila di ruangan itu. Tapi aku tidak peduli. Yang penting tulisanku diterima. Oh, Tuhan, aku benar-benar bersyukur.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa kepikiran untuk menulis artikel tentang masakan Indonesia? Aku saja belum pernah dengar.” editor Song menghentikan lompatannya, begitu juga aku.

“Ng… Kenapa ya? Mungkin karena menurutku unik dan aku menyukai rasanya. Jonghyun-sunbae juga begitu. Benar kan, sunbae?” aku menoleh ke arah meja Jonghyun-sunbae.

Cowok itu menoleh, lalu tersenyum, “Chukkae, Ye Ji-ah.”

“Jeongmal gomawo. Tanpa bantuanmu, aku pasti akan kesulitan mengerjakan tugas ini.” aku menundukkan kepalaku.

“Sepertinya aku menjadi pengganggu sekarang. Kalau begitu aku akan kembali ke tempatku.” celetuk editor Song. Sejujurnya aku tidak terlalu mengerti dengan ucapannya itu.

“Ah, tunggu sebentar, eonni.” panggilku cepat. Kemudian aku mengambil sebuah kotak dan memberikannya padanya, “Ini. Tadi kau minta dibawakan makanannya kan? Ini rendang yang aku tulis dalam artikel itu.” jelasku.

Wajah editor Song tampak sumringah, “Benarkah? Gomawo, Yaeji-ah.”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Editor Song lalu berjalan kembali ke tempatnya. Ia tampak sangat senang dengan pemberianku itu. Ah, rasanya aku ingin bersenandung, “Ireohke joheun nal… (IU-Good Day)”

***

“Aku pulang…” ujarku ketika sampai di rumah. Ketika melepas sepatu, aku melihat sepatu orang yang tidak kukenal disebelah sepatu oppa-ku. Tentu saja bukan milik Eun Hye-eonni, karena itu adalah sepatu laki-laki dan sepertinya mahal.

Ketika memasuki ruang tengah, aku sangat terkejut melihat siapa yang sedang duduk berhadapan dengan Hyun Joong-oppa. Kelihatannya laki-laki itu juga sama terkejutnya denganku.

“Oh, Yaeji-ah, kau sudah pulang?” ujar Hyun Joong-oppa.

“Ah, ne, oppa.” jawabku terbata-bata. Aku mengalihkan pandanganku pada laki-laki disampingnya dan sedikit menunduk, “Pimpinan, kenapa anda bisa disini?”

“Ya~ Yaeji, kau tidak sopan! Kenalkan, dia Siwon, temanku sejak SMA.” ujar Hyun Joong-oppa yang membuat mataku membulat.

Jadi, bos Siwon adalah teman kakakku? Lalu, kenapa dia datang kesini malam-malam? Apakah untuk memecatku? Dia sengaja melakukannya di apartemenku karena merasa tidak enak dengan kakakku, begitu?

“Siwon-ah, kenalkan, ini dongsaeng-ku, Ye Ji.” lanjut Hyun Joong-oppa. Aku terpaksa mendekati mereka dan menundukkan kepalaku.

“Jadi dia adikmu?” aku mendengar sedikit nada terkejut dalam suaranya.

“Apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?” Hyun Joong-oppa balik bertanya.

“Ya, dia karyawanku.” jawab Siwon-ssi.

“Maaf, tapi, sebenarnya ada apa ini?” tanyaku menginterupsi.

“Ah, begini Yaeji. Aku dan Eun Hye akan menikah akhir bulan ini…”

“Jinjja!? Kenapa kau tidak memberitahuku dari dulu? Aigo~ Aku senang sekali! Chukkae, oppa!” kataku heboh dan memeluk Hyun Joong-oppa.

“Gomawo, Yaeji-ah. Doakan aku ya.” balas Hyun Joong-oppa.

“Tentu saja. Aku akan selalu mendoakanmu. Awas kalau kau sampai membuat Eun Hye-eonni menangis!” kataku sedikit mengancam.

Hyun Joong-oppa tersenyum dan mengelus─atau lebih tepatnya mengacak-acak rambutku, “Dasar kau ini!”

Tiba-tiba saja telepon berdering. Hyun Joong-oppa langsung beranjak untuk menjawab telepon. Meninggalkanku berdua saja dengan bosku yang sedari tadi hanya diam.

“Yoboseyo? Ne, appa. Aku baru saja mau meneleponmu. Tidak, bukan begitu. Tentu saja aku ingat.” terdengar suara Hyun Joong-oppa menjawab suara di seberang telepon. Itu pasti dari appa yang merasa kecewa karena Hyun Joong-oppa memberitahukan rencana pernikahannya ini secara mendadak.

Tiba-tiba suasana disekitarku terasa canggung. Karena Hyun Joong-oppa sedang menjawab telepon dan sepertinya cukup lama, maka itu berarti akulah yang harus menemani Siwon-ssi sebagai tamu di rumah ini. Tapi, apa yang harus kuobrolkan dengannya? Melihat wajahnya saja aku sudah bergidik ngeri mengingat sikapnya yang selalu galak padaku di kantor.

“Ah, oppa ini bagaimana? Masa’ ada tamu tapi tidak disiapkan minum?” gerutuku ketika melihat meja dihadapan bosku.

“Maaf, aku akan menyiapkan minum dulu. Anda mau minum apa, Siwon-ssi?” tanyaku kemudian.

“Ng…kopi saja.” jawabnya.

“Baiklah.” aku melepaskan mantelku dan meletakkannya di kursi makan, kemudian berjalan menuju dapur dan mulai menyeduh air panas untuk membuat kopi.

“Jadi, kakakmu belum mengatakannya padamu sebelumnya?” tiba-tiba aku mendengar suara Siwon-ssi dari arah belakang. Ketika menoleh, aku sedikit tersentak. Ia sudah berdiri tidak jauh dibelakangku dan menyandarkan badannya ke dinding.

“Be…belum. Aku sedikit terkejut ketika dia mengatakan akan menikah. Tapi jujur aku sangat senang.” jawabku jujur. Kurasakan bibirku sedikit bergetar karena gugup. Ingat, yang sekarang sedang berdiri dibelakangku adalah bosku yang terkenal perfeksionis dan galak.

“Sepertinya dia juga belum memberitahukannya pada orangtua kalian.” lanjutnya kemudian.

“Ne, sepertinya begitu. Sebelumnya dia tidak mengajakku pulang sebentar untuk bertemu eomma dan appa. Mungkin sekarang mereka marah karena itu.” komentarku ketika mendengar samar-samar percakapan mereka di telepon.

Suasana hening sejenak. Siwon-ssi tidak melanjutkan kata-katanya. Dan aku juga segan untuk memulai pembicaraan lagi. Yang terdengar hanyalah bunyi ketel yang bersiul tanda air sudah mendidih. Aku mematikan kompor dan menuangkan airnya kedalam dua buah gelas.

“Maaf, kalau selama ini aku selalu marah-marah dan membentakmu.” tiba-tiba pria itu berujar.

Aku sedikit terkejut dan menoleh ke arahnya, “Tidak apa-apa. Aku sadar, kalau hasil kerjaku tidak terlalu memuaskan dan masih harus banyak berlatih.”

Kulihat Siwon-ssi memiringkan kepalanya, “Kau tidak dendam padaku?”

“Kenapa harus? Kau kan bosku. Wajar kalau kau menginginkan yang terbaik demi perusahaan.” sahutku polos.

Entah hanya penglihatanku yang salah, atau itu memang benar, kulihat Siwon-ssi menyunggingkan senyumnya. Aku bisa merasakan kalau itu adalah senyum yang tulus. Ekspresi wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya darinya.

“Mianhae… Mungkin aku sudah bersikap kasar padamu.” katanya pelan.

“Jangan meminta maaf terus. Aku jadi merasa tidak enak hati.” ujarku merasa bersalah.

Aku benar-benar tidak percaya pada apa yang kulihat. Siwon-ssi benar-benar berbeda dengan saat ia di kantor. Aku baru tahu kalau sebenarnya ia punya sisi lembut juga. Apakah ini sifatnya yang sebenarnya? Atau ia hanya bersikap seperti ini karena aku adalah adik dari sahabatnya? Entahlah.

Setelah selesai menyeduh kopi, aku memberikan satu gelas pada Siwon-ssi dan meletakkan segelas lagi di meja makan untuk Hyun Joong-oppa nanti. Sedangkan aku sendiri memilih untuk membuat hot chocolate, karena aku sering tidak bisa tidur jika meminum kopi di malam hari.

“Ngomong-ngomong, restoran Indonesia yang kau sebutkan di artikel, apa itu ada di Seoul?” tanya Siwon-ssi ketika aku meletakkan gelas kopi di atas meja.

“Ah, ne. Jaraknya juga tidak begitu jauh dari kantor.” jawabku jujur. “Memangnya kenapa?”

“Ah, tidak. Aku hanya penasaran saja dengan rasa masakannya. Kau suka makanan pedas?”

Aku mengangguk, “Begitulah.”

“Kalau begitu apa lain kali kau bisa menemaniku datang kesana? Aku penasaran.”

Lagi-lagi aku dibuatnya terkejut. Dia ingin aku menemaninya ke restoran itu? Apa aku tidak salah dengar?

“Oh, ya, baiklah.” jawabku kemudian. Aku tidak enak jika harus menolaknya. Lagipula, untuk apa aku menolaknya? Tapi bagaimanapun juga dia adalah bosku. Aduh, sebenarnya apa yang kupikirkan? Aku jadi bingung.

***

-Author’s POV-

Pagi itu terasa sangat dingin. Ye Ji merapatkan mantelnya dengan tangan kiri dan memasukkan tangan kanannya kedalam kantong agar terasa lebih hangat. Sepertinya sebentar lagi musim dingin akan segera datang. Sesekali ia meniupkan udara ke kedua telapak tangannya sekedar untuk mengurangi dingin yang terasa menusuk tulang. Ia juga masih merasa mengantuk. Kalau bukan karena pekerjaan, ia pasti lebih memutuskan untuk kembali menikmati tidur dibalik hangatnya selimut.

“Hooaaaahheemmm…!!!” Ye Ji kembali menguap.

Ketika melewati minimarket, entah kenapa sepertinya dirinya terpanggil untuk menoleh. Dan benar saja, dibalik tembok kaca yang besar tampak Jonghyun sedang duduk menikmati ramyeon. Ia tersenyum dan melambai ke arahnya.

Ye Ji membalas senyuman Jonghyun dan memutuskan untuk menghampiri cowok itu kedalam minimarket.

“Setiap pagi kau sarapan ramyeon seperti ini?” tanya Ye Ji setelah duduk disamping Jonghyun.

“Tidak juga. Tapi aku selalu menginginkan sarapan yang cepat. Aku juga sering membeli roti atau jjinbbang (bakpao Korea) untuk dimakan sambil jalan.” jawab Jonghyun.

“Aku heran padamu. Kau ini penulis artikel kesehatan tapi sarapanmu hanya ramyeon. Seharusnya kau menjaga makananmu. Bukankah keluargamu punya restoran?” ujar Ye Ji sambil memperhatikan Jonghyun.

“Itu beda lagi ceritanya. Saat ini aku tinggal sendiri di apartemen. Jadi tidak ada yang memasakkan untukku.”

“Tapi sebenarnya aku juga sama denganmu. Karena malas berurusan dengan dapur, aku jadi hanya bisa memasak seadanya dan lebih sering masak ramyeon.” sahut Ye Ji jujur, “Melihatmu makan ramyeon, aku juga jadi ingin. Tunggu sebentar, aku beli dulu.”

Ketika gadis itu hendak beranjak dari tempat duduknya, Jonghyun buru-buru menahan lengannya. Ye Ji menoleh.

“Jangan. Kau sudah terlalu sering memakan ramyeon. Tidak baik untuk kesehatanmu.” cegahnya.

Jonghyun meletakkan sumpitnya kemudian berdiri dari tempat duduknya, “Lebih baik kita cari makanan lain. Ayo ikut aku.”

“Eh, tapi… ramyeon-mu belum dihabiskan…” tahan Ye Ji.

“Sudah, biarkan saja. Ayo pergi.” Jonghyun menarik tangan Ye Ji dan segera keluar dari minimarket itu.

***

-Ye Ji’s POV-

Jonghyun-sunbae menarik tanganku keluar dari minimarket dan mengajakku ke deretan pertokoan yang menjual berbagai macam makanan ringan khas Korea. Kami lalu berhenti di sebuah toko penjual bakpao.

“Ini untukmu.” Ia menyerahkan bungkusan berisi sekitar 5 buah jjinbbang padaku.

Aku pun mengambilnya, “Gomawo…”

“Setidaknya ini lebih baik daripada ramyeon.” celetuknya, “Dengar Ye Ji, kau tidak boleh terlalu sering memakan ramyeon lagi. Nanti kau bisa sakit.”

“Arasseo. Begitu juga denganmu.” jawabku. Jonghyun-sunbae hanya tersenyum.

“Kau mau?” aku menawarkan jjinbbang yang kupegang padanya.

Jonghyun melirik sekilas ke arahku, lalu tiba-tiba ia menunduk didepanku dan menggigit langsung jjinbbang yang masih ada dalam genggamanku. Jujur aku sedikit terkejut dibuatnya. Tadinya kukira dia akan mengambilnya atau apa.

Jonghyun-sunbae lalu berjalan mendahuluiku sambil mengunyah potongan jjinbbang dalam mulutnya. Entah kenapa tiba-tiba jantungku berdetak cepat dan bisa kurasakan darahku berdesir cepat. Aku juga merasakan wajahku menjadi panas. Aigo~ wajahku asti semerah kepiting rebus sekarang! Sebenarnya perasaan macam apa ini!? Perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Apa aku mulai menyukainya? Atau, dia yang mulai menyukaiku?

***

“Hoooaaahhheeemm…!!!” Entah kenapa rasanya hari ini aku mengantuk sekali. Untuk itulah aku memutuskan untuk pergi ke toilet untuk sekedar membasuh muka. Namun betapa terkejutnya aku ketika melihat cermin, tiba-tiba Jonghyun-sunbae sudah berdiri dibelakangku. Apa dia sebegitu penasarannya sampai-sampai mengikutiku ke toliet? Jangan-jangan dia itu sebenarnya cowok mesum!

“Su…sunbae!? Ke…kenapa masuk ke toilet wanita!?” tanyaku histeris.

Kulihat Jonghyun-sunbae mengernyitkan dahi. Ia lalu menunjuk ke arah tembok dibelakangnya. Aku ikut melihat ke arah tembok itu. Mataku membulat ketika membaca tulisan yang tertera disana;

Gents’ Toilet

MWO!!! Jadi ini toliet pria!!? Aigoo~ kenapa aku bisa salah masuk toilet!? Memangnya sudah berapa bulan aku bekerja disini! Kim Ye Ji, kau ini bodoh sekali!

“Ma…maaf, maafkan aku!” Aku segera berlari keluar dari toilet itu dengan kepala tertunduk. Aku tidak berani menatap wajah Jonghyun-sunbae. Pasti ia menertawakanku sekarang! Omo~ aku malu sekali!!

***

-Author’s POV-

Ye Ji sedang menikmati segelas kopi susu hangat sambil mengobrol dengan Eun Kyung ketika Siwon menghampiri mereka berdua. Wajahnya tampak serius. Yang pertama menyadarinya adalah Eun Kyung karena Ye Ji sendiri berdiri membelakangi arah datangnya Siwon. Eun Kyung mengira, bos mereka itu akan memarahi Ye Ji lagi.

Ketika hendak kembali menyeruput kopi susunya, tiba-tiba saja Siwon menahan tangan Ye Ji dan menariknya. Sontak gadis itu menoleh.

“Antarkan aku ke restoran itu sekarang.” katanya serius.

“Eh? Se…sekarang?” tanya Ye Ji terkejut, “Ta…tapi…”

“Sudah tidak ada tapi-tapi! Ayo cepat!” Siwon mengambil gelas kopi yang dipegang Ye Ji dengan paksa dan memberikannya pada Eun Kyung. Eun Kyung yang terkejut hanya menurut dan memegangi gelas itu.

“Maaf eonni, aku akan segera kembali.” Ye Ji menundukkan kepalanya ke arah Eun Kyung sebelum Siwon kembali menarik tangannya. Mereka berdua lalu pergi ke tempat parkir. Meninggalkan Eun Kyung yang masih berdiri terpaku didepan mesin kopi.

“Sedekat itukah hubungan mereka selama ini? Kenapa aku tidak menyadarinya?” tanya Eun Kyung dalam hati.

“Kau sudah makan?” tanya Siwon pada Ye Ji ketika mereka berdua sudah masuk kedalam mobil pribadi cowok itu.

“Belum.” jawab Ye Ji.

“Bagus. Kalau begitu anggap saja ini sebagai survey lapangan sebagai bukti nyata penilaianku terhadap hasil kerjamu.”

Ye Ji menatap wajah bosnya itu. Sejujurnya ia tidak terlalu paham dengan apa yang diucapkan cowok itu barusan, “Maksudmu?”

“Sudah jangan banyak tanya, cepat pakai seat belt-mu!” ujar Siwon. Ia lalu segera melesatkan mobilnya keluar dari tempat parkir.

***

-Eun Kyung’s POV-

Aku berjalan kembali memasuki ruang kantor dan menghampiri meja kerja Ye Ji yang kosong. Jujur, sikap bos Siwon pada gadis itu barusan terasa sedikit janggal bagiku. Apa terjadi sesuatu diantara mereka? Tapi umur mereka kan terpaut sangat jauh? Ah, dalam hal cinta, kurasa umur tidak menjadi masalah.

Aku meletakkan gelas kopi Ye Ji yang tadi diberikan padaku di atas mejanya. Daripada dibuang, lebih baik kusimpan diatas mejanya. Siapa tahu dia masih mau meminumnya setelah kembali nanti.

“Eun Kyung-ah, mana Ye Ji? Bukankah tadi kau bersamanya?” tiba-tiba Jonghyun memanggilku.

Aku menoleh, “Oh, tadi tiba-tiba saja bos mengajaknya pergi. Memangnya ada apa?”

“Ah, tidak. Gomawo.” Jonghyun kembali berkutat dengan komputernya.

Entah hanya perasaanku saja, tapi kulihat sedikit raut kecewa di wajahnya.

“Kau ingin mengajaknya makan siang?” tebakku. Maklum saja, aku ini orangnya mudah penasaran. Dan rasanya tidak tahan untuk menanyakannya.

Setelah mendengar pertanyaanku, kulihat wajahnya sedikit menegang. Gotcha! tebakanku 100% tepat. Tapi sayang sekali ia harus keduluan bos Siwon.

Rasanya aku mengerti semuanya. Dan aku tidak sabar untuk melihat kelanjutannya. Sepertinya suasana di ruang kerja ini akan semakin menarik saja.

***

-Author’s POV-

Malam ini keluarga Kim Hyun Joong dan Yoon Eun Hye mengadakan acara makan malam bersama antara keluarga masing-masing calon mempelai dan beberapa teman dekat. Sudah menjadi tradisi dalam keluarga di Korea untuk berkumpul bersama keluarga atau sahabat sebelum hari pernikahan salah satu anggota keluarga mereka. Begitu juga dengan keluarga Ye Ji. Semua keluarga dan teman-teman dekat Hyun Joong dan Eun Hye berkumpul di salah satu restoran yang bisa dibilang cukup mewah.

Ye Ji merapikan mini dress berwarna peach yang dikenakannya malam itu setelah keluar dari toilet. Namun betapa terkejutnya ia ketika hendak berjalan, tiba-tiba Jonghyun sudah berdiri dihadapannya dan tersenyum ke arahnya.

“Su…sunbae? Ke…kenapa kau…”

Jonghyun menghela napas, kemudian menunjuk ke arah belakang Ye Ji. Gadis itu membalikkan badannya dan melihat ke arah yang ditunjukkan Jonghyun. Matanya membulat.

“Toilet pria!? Lagi-lagi aku masuk toilet pria! Sebenarnya ada apa dengan dirimu, Kim Ye Ji!!??” pekik Ye Ji dalam hati. Ini seperti déjà vu saja. Dua kali berturut-turut ia masuk ke lubang sama. Dan dua kali pula dipergoki oleh orang yang sama. Ia merasa sangat, sangat, dan sangat malu.

“Ma…maaf sunbae, aku duluan!” Ye Ji segera berlari meninggalkan Jonghyun.

“Ya~ tunggu!” panggil Jonghyun. Ia pun segera mengejar Ye Ji sebelum gadis itu semakin menjauh.

***

-Ye Ji’s POV-

Aku mempercepat langkahku menuju ruang pertemuan. Aku merasa malu sekali! Bayangkan, 2 kali berturut-turut salah masuk ke toilet pria!? Sebenarnya apa yang terjadi padaku!?

Tiba-tiba saja aku merasakan tanganku ditahan oleh seseorang. Aku menoleh. Jonghyun-sunbae sudah berdiri dihadapanku.

“Ye Ji, tunggu! Kau kenapa?” tanya Jonghyun-sunbae. Wajahnya terlihat sedikit panik. Mungkin dia mengira aku menangis.

“A…aniyo… aku hanya malu saja.” jawabku jujur.

Ya, aku malu karena salah masuk toilet dan malu melihatmu. Karena jantungku selalu berdegup tidak karuan.

Jonghyun-sunbae tersenyum, “Tidak perlu malu, Ye Ji-ah. Kebetulan sekali tidak ada yang melihatmu tadi kan?”

Aku mengangguk pelan. Benar juga apa katanya.

“Bagaimana kau bisa ada disini?” tanyanya kemudian.

Aku menoleh ke arahnya, “Hyun Joong yang akan menikah itu kakakku. Apa kau juga teman Hyun Joong-oppa?”

“Bukan, tapi aku teman dari calon mempelai wanitanya, Yoon Eun Hye.” jelas Jonghyun-sunbae.

“Jinjja?” tanyaku tidak percaya. Jonghyun-sunbae ternyata teman Eun Hye-eonni, dan Siwon-ssi ternyata teman Hyun Joong-oppa. Dunia memang sempit.

“Memalukan memang, tapi aku pernah sempat menyukainya.” ujar Jonghyun-sunbae. Sekilas kulihat ia tersenyum getir.

“DEG!!!” tiba-tiba saja jantungku serasa berhenti berdetak. Tenggorokanku serasa tercekat. Apa yang dikatakannya barusan? Ia bilang ia pernah menyukai Eun Hye-eonni?

Dasar Kim Ye Ji bodoh! Kenapa kau bisa sampai berpikir kalau Jonghyun-sunbae menyukaimu!? Wanita yang dia sukai adalah Eun Hye-eonni, atau setidaknya yang bertipe seperti dia, bukan kau! Dan kenapa juga kau harus merasa kecewa seperti ini! Jeongmal baboya!

“Sebaiknya kita cepat kembali ke ruang pertemuan.” kudengar suara Jonghyun-sunbae.

“Ah, ne.” Cepat-cepat kuusapkan tanganku ke mata dan mengedip-edipkannya agar air mata yang susah payah kubendung tidak keluar.

***

-Author’s POV-

Jonghyun masuk ke ruang pertemuan diikuti Ye Ji. Saat itu suasana didalam cukup ramai dengan teman-teman dan keluarga yang hadir. Mereka saling mengobrol dengan akrab.

Ye Ji duduk di kursi disamping Jonghyun karena hanya 2 kursi itulah yang tersisa. Beberapa tamu menawarkan white wine padanya, namun Ye Ji menolaknya dengan halus karena ia tidak terbiasa meminum minuman seperti itu.

“Kenapa kalian berdua bisa datang bersama? Apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?” tanya Eun Hye pada Ye Ji dan Jonghyun.

Ye Ji tersenyum, “Ya, kami adalah rekan kerja.”

“Jinjja?” tanya Hyun Joong tidak percaya, “Ya~ Siwon-ah, jadi mereka berdua ini anak buahmu?”

Siwon yang duduk dihadapan Jonghyun dan Ye Ji melirik sekilas, kemudian mengangguk, “Ya.”

“Wah, ternyata dunia memang benar-benar sempit!” komentar Hyun Joong. Perkataannya sama persis dengan pikiran Ye Ji.

“Jagiya, sepertinya mereka berdua cukup serasi. Ya kan?” celetuk Eun Hye pada Hyun Joong.

“Oh, ng… iya, benar juga.” jawab Hyun Joong.

***

-Ye Ji’s POV-

“Jagiya, sepertinya mereka berdua cukup serasi. Ya kan?”

Aku tersentak mendengar perkataan Eun Hye-eonni pada Hyun Joong-oppa. Apa perasaanku pada Jonghyun-sunbae terlihat sekali olehnya? Ah, tidak mungkin. Dia berkata begitu pasti karena aku dan Jonghyun-sunbae adalah yang paling muda diantara tamu-tamu yang lain. Umur kami juga tidak berbeda terlalu jauh.

Kau tidak boleh begitu, Kim Ye Ji! Jangan memberi harapan pada dirimu sendiri!

Tapi, bagaimana dengan Jonghyun-sunbae? Bagaimana perasaannya setelah mendengar hal itu oleh orang yang dia sukai?

Aku tidak berani menatap wajahnya karena aku tahu, aku juga akan kecewa.

***

-Hyun Joong’s POV-

“Jagiya, sepertinya mereka berdua cukup serasi. Ya kan?” celetuk Eun Hye sambil merangkul lenganku.

Ditanyai seperti itu, jujur aku bingung harus menjawab apa. Dengan refleks aku langsung menoleh ke arah Siwon. Temanku itu sedari tadi hanya diam saja. Aku jadi ingat percakapanku dengannya di telepon semalam;

“Apa yang terjadi padamu? Kau terdengar lemas sekali? Apa kau sakit?” tanyaku pada sahabatku ketika dia meneleponku. Tidak biasanya ia meneleponku malam-malam begini.

“Entahlah, kurasa aku sedang tidak enak badan.” jawabnya dari seberang telepon.

“Kau benar-benar sakit?” tanyaku memastikan. Kasihan sekali temanku yang satu ini, ia tinggal sendirian di apartemennya yang besar, jadi tidak ada yang mengurus dirinya selain dia sendiri.

“Tidak, bukan sakit yang seperti itu.”

“Maksudmu?”

“Entahlah, aku benar-benar bingung, Hyun. Aku merasa ada yang berbeda akhir-akhir ini.”

“Sepertinya kau bukan ingin membicarakan tentang pekerjaan.”

“Tidak, tidak. Tentu saja bukan.”

“Lalu? Apa yang berbeda?”

“Adikmu. Setiap melihat adikmu. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Tentu saja sebelum aku tahu kalau dia itu adikmu. Aku merasa aku tidak menjadi diriku yang sebenarnya.”

Aku tersenyum mendengar perkataannya, “Itu namanya cinta, Siwon-ah.”

“Cinta? Sejauh itukah?” nada suaranya seolah tidak percaya denganku.

“Entahlah. Jawabannya tergantung padamu. Bagaimana perasaanmu selanjutnya.”

“Tapi umur kami kan…”

“Cinta tidak mengenal usia, Siwon-ah…”

Suasana hening sejenak. Kurasa dia sedang mencerna apa yang barusan kukatakan.

“Jadi, aku akan mempunyai adik ipar seperti dirimu?” gurauku.

“Jangan bicara sembarangan, Hyun! Sudah kubilang belum sejauh itu kan!?” nada suaranya tiba-tiba saja berubah galak. Kurasa wajahnya merah padam sekarang.

“Yah, kita lihat saja nanti.” jawabku, lalu memutuskan sambungan telepon. Membiarkan dia bertanya-tanya tentang perasaannya sendiri. Dia pasti marah-marah karena aku memutuskan sambungan telepon tiba-tiba.

“Oh, ng, iya…” aku menjawab pertanyaan Eun Hye sekenanya. Aku baru tahu kalau laki-laki yang bernama Jonghyun itu adalah teman baik Eun Hye, bahkan sudah dianggap seperti adik sendiri. Sepertinya, tanpa disadari masing-masing dari kami, sudah terbentuk kubu untuk memperebutkan adik perempuanku satu-satunya itu. Tapi, aku tidak boleh sampai berselisih paham dengan calon istriku hanya karena hal semacam ini.

***

-Ye Ji’s POV-

Dengan dibantu Hyun Joong-oppa, aku memapah Jonghyun-sunbae yang tampaknya sudah sangat kepayahan menuju mobil. Acara kami malam itu sudah selesai, dan sepertinya Jonghyun-sunbae minum cukup banyak arak tadi. Padahal aku sudah memperingatkannya, tapi dia tidak mau mendengarkanku.

Aku sedikit memiringkan kepalaku untuk melihat wajahnya, tapi ia terlihat sudah tidak berdaya. Matanya juga terpejam. Sepertinya ia sudah tidak sadarkan diri.

“Biar dia naik mobilku saja.” tiba-tiba aku mendengar suara Siwon-ssi.

“Kau yakin?” tanya Hyun Joong-oppa. “Biar dia dan Ye Ji di mobilku saja. Eun Hye juga bisa menjaganya.”

“Aku tidak mau membuat Eun Hye menjadi repot. Ini kan malam yang bahagia untuk kalian. Jadi aku ingin membiarkan kalian berdua saja.” jelas Siwon-ssi.

Aku menoleh ke arah Hyun Joong-oppa dan mengangguk, “Ne. Benar apa kata Siwon-ssi. Kalian berdua saja.”

“Jadi kau akan naik mobil Siwon?” tanya Hyun Joong oppa memastikan. Aku mengangguk.

“Kau tenang saja. Aku akan mengantarkannya ke rumah dengan selamat.” sahut Siwon-ssi.

“Baiklah kalau begitu. Kalian hati-hati.” pesan Hyun Joong-oppa.

Kulihat Siwon-ssi membuka pintu mobilnya dan menggantikan posisi Hyun Joong-oppa untuk membantuku memapah Jonghyun-sunbae. Aku duduk di jok belakang untuk menjaga sunbae sementara Siwon-ssi menyetir. Setelah kami bertiga masuk kedalam mobil, Siwon-ssi langsung menjalankan mobilnya lebih dulu daripada Hyun Joong-oppa.

“Hati-hati ya.” kudengar Eun Hye-eonni berpesan sambil melambaikan tangannya. Aku tersenyum sambil menundukkan sedikit kepalaku.

***

“Dasar! Bagaimana bisa dia minum arak segitu banyak kalau ternyata dia tidak kuat meminumnya? Sebagai penulis artikel kesehatan tidak seharusnya dia melakukan hal semacam itu!” kudengar Siwon-ssi menggerutu di tengah perjalanan.

Aku hanya terdiam dan menghela napas, kemudian menoleh ke arah Jonghyun-sunbae disampingku, “Sunbae, gwaenchanha?” tanyaku sambil menepuk-nepuk pipinya pelan. Namun ia hanya menggumam tidak jelas.

“Sunbae, apa kau mual?” tanyaku lagi.

“Ya~ jangan biarkan dia muntah di mobilku! Kau tahu berapa harga jok mobil ini!?” bentak Siwon-ssi sambil tetap menyetir.

“Ne, arasseo.” jawabku pelan. Sifat aslinya tiba-tiba saja keluar lagi. Jangan sampai aku membuatnya tambah marah.

Keadaan kembali hening. Sesekali aku menoleh ke arah Jonghyun-sunbae untuk memastikan keadaannya apakah ia mual atau tidak. Tapi sepertinya dia baik-baik saja.

Tiba-tiba kudengar Siwon-ssi meringis pelan. Aku menoleh ke arah spion. Ia terlihat memegangi dahinya dengan tangan yang ditopang ke pintu mobil. Ah, aku baru ingat! Siwon-ssi juga minum arak tadi, walaupun tidak sebanyak Jonghyun-sunbae. Tapi pasti sekarang dia mabuk juga. Hanya saja karena umurnya lebih dewasa, ia cukup bisa menahannya.

“Ng…Siwon-ssi…” panggilku hati-hati.

Kulihat dia melirik sekilas ke arah kaca spion, lalu kembali fokus menyetir, “Ada apa?”

Aku menelan ludah, “Bagaimana kalu aku saja yang menyetir? Sebenarnya kau juga mabuk kan?”

“Kau bisa menyetir?”

“Yah, sedikit. Aku pernah menyetir sekali. Kalau mencoba mungkin aku bisa.”

Siwon-ssi langsung menoleh ke arah kaca spion. Wajahnya tampak terkejut, “Mungkin!? Kau anggap apa nyawaku ini, hah!?”

“Tapi kau juga mabuk kan? Ini sudah malam, kalau terjadi sesuatu bagaimana?”

“Setidaknya jauh lebih aman jika aku yang menyetir daripada kau!”

Kemudian aku mendengar Siwon-ssi meringis sekali lagi. Sepertinya kepalanya mulai pusing akibat dari arak itu.

“Tuh kan, apa kubilang? Kau ini mabuk berat, tapi berusaha keras kau tahan. Sudah biar aku saja. Cepat hentikan mobilnya!” kataku memaksa. Aku tidak ingin jika tiba-tiba saja nanti dia kehilangan kesadaran di tengah jalan. Jalan ke rumahku dan Jonghyun-sunbae masih sangat jauh.

Mungkin Siwon-ssi juga sudah merasa tidak tahan dengan rasa pusingnya, sehingga akhirnya menuruti perkataanku untuk menghentikan mobil. Cepat-cepat aku keluar dari mobil dan pindah ke jok kemudi. Sedikit memaksanya untuk pindah ke jok disampingnya.

Setelah menutup pintu mobil, aku langsung melingkarkan seat belt di badanku dan mulai men-stater mobil. Walaupun awalnya ragu, ternyata aku bisa juga menyalakannya dengan mulus.

“Sekarang tinggal menjalankannya.” kataku dalam hati.

“Kau benar-benar bisa menjalankannya?” tanya Siwon-ssi. Kudengar sedikit nada was-was dalam suaranya.

“Kau tenang saja. Aku bisa kok!” kataku yakin walaupun tidak penuhnya benar.

Dengan sangat perlahan, aku mulai menjalankan mobil mewah itu. Namun sepertinya aku salah memasukkan gigi sehingga mobil berjalan tersendat-sendat. Tubuh kami terdorong ke depan berkali-kali.

“Ya~ sebenarnya kau bisa menyetir atau tidak!?” tanya Siwon-ssi marah-marah.

“A…aku bisa kok!”

“Mana buktinya!? Seperti ini kau bilang menyetir!? Kau ingin merusak mobilku, hah!?”

“Mi…mianhae, akan kucoba sekali lagi.”

Yang kukhawatirkan hanyalah keadaan Jonghyun-sunbae di jok belakang. Aku menoleh, tapi keadaannya masih sama seperti tadi. Hanya posisinya saja yang sedikit berubah akibat guncangan tadi. Aku bisa sedikit bernapas lega.

Aku mulai menjalankan mobil itu sekali lagi. Namun hasilnya tetap sama. Mobil itu tetap berjalan tersendat-sendat. Sekalinya berjalan, maka jalannya akan mengebut dan kemudian tersendat lagi. Jantungku serasa mau copot dibuatnya.

“Ya~ kau mau mati, hah!?” bentak Siwon-ssi. Kulirik dia sekilas. Sebelah tangannya dilingkarkan pada pegangan di atas pintu mobil. Sepertinya ia juga tidak kalah gugupnya dariku. Tentu saja, ini kan mobilnya.

“BRAKKK!!!”

Tiba-tiba terdengar suara tabrakan yang cukup keras. Aku menutup mata dan mengerem mobil, kemudian membukanya perlahan untuk mengetahui bunyi apa itu sebenarnya. Saat tersadar, kulihat bagian depan mobil Siwon-ssi menabrak tiang lampu jalan. Mobil itu juga sedikit miring. Sepertinya aku telah membuat mobil itu melewati trotoar.

“Ya~!! Kau ini! Lihat apa yang sudah kau lakukan!!!” amarah Siwon-ssi sepertinya sudah naik ke ubun-ubun. Ia mengepalkan tangannya, kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya.

“Ya~! Cepat datang kesini! Awas kalau kau tidak datang dalam waktu 10 menit!” bentaknya pada seseorang di seberang telepon. Sepertinya ia baru saja menelepon supirnya.

Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku kuat-kuat, membayangkan hukuman apa yang akan diberikannya padaku besok.

***

Aku memapah Jonghyun-sunbae menuju apartemennya dibantu Siwon-ssi. Apartemen tempat sunbae tinggal terbilang cukup besar dan mewah. Aku sedikit kerepotan juga saat menyangga tubuhnya menaiki lift. Untung saja ada Siwon-ssi yang membantuku.

Akhirnya kami sampai juga didepan pintu kamar sunbae. Setelah Siwon-ssi menggesekkan kartu yang diambilnya dari dompet sunbae (sedikit tidak sopan memang, tapi mau bagaimana lagi?), kami pun masuk kedalam.

Apartemen itu cukup luas dengan desain modern minimalis yang mewah. Tapi tidak ada waktu untuk terkagum-kagum. Aku segera berjalan menuju ruang tengah karena disitulah tempat yang terdapat sofa. Dengan perlahan aku menyandarkannya di sofa, lalu merebahkan diriku sendiri disampingnya. Jujur, aku benar-benar lelah memapah sunbae yang ukuran badannya lebih besar daripadaku.

“Aku akan mencari selimut.” ujarku sambil bangkit dari tempat duduk. Kupikir, sunbae pasti akan kedinginan jika tidur di sofa semalaman.

“Kalau begitu kenapa kita tidak bawa dia ke kamar saja?” sahut Siwon-ssi.

“Ah, benar juga!” seruku. Lalu mencari dimana kira-kira kamar tidur sunbae. Namun saat kuputar kenopnya, pintu itu tidak bergeming sedikitpun.

“Tidak bisa, kamarnya dikunci.” ujarku sedikit kecewa.

“Kalau begitu biarkan saja dia tidur di sofa.” kata Siwon-ssi.

Aku mengangguk. Lalu memperhatikan sunbae sebentar. Kuputuskan untuk melepaskan mantel yang dipakainya dan menutupi mantel itu di tubuhnya seperti layaknya selimut.

Ketika hendak berdiri, tiba-tiba aku merasakan tanganku seperti ditahan seseorang. Belum sempat aku menoleh, sunbae sudah lebih dulu menarik tanganku. Cukup kencang sehingga aku kehilangan keseimbangan dan terhempas di atas tubuhnya.

“Su…sunbae…”

Tanpa terduga, sunbae melingkarkan sebelah tangannya di punggungku sementara tangannya yang satu lagi masih tetap menggenggam tanganku.

“Sunbae, lepaskan!” aku meronta melepaskan diri dari pelukannya yang tiba-tiba itu. Namun dia malah semakin kuat memelukku.

“Ya~ sunbae, kau mengigau ya!?” kataku panik. Apa dia melakukan ini secara sadar atau tidak? Entahlah, tapi yang jelas saat ini aku benar-benar malu. Jarak diantara kami sangat dekat sampai-sampai aku bisa merasakan hembusan napasnya. Apalagi, Siwon-ssi juga melihatnya.

“Ya~ sunbae! Sadarlah!” Aku berusaha mengguncang-guncangkan tubuhnya agar dia melepaskan genggamannya.

Tak berapa lama kemudian, sedikit demi sedikit akhirnya genggaman Jonghyun-sunbae melemah dan aku bisa melepaskan diri. Dengan refleks aku meletakkan tanganku di dada dan merasakan jantungku masih berdebar kencang. Wajahku terasa panas.

Apa sebenarnya yang dilakukannya barusan? Apa dia benar-benar mengigau?

“Sudahlah, lebih baik kita segera pulang. Sudah malam.” tiba-tiba Siwon-ssi angkat suara.

Aku sedikit tersentak, namun kemudian mengangguk dan segera menyusul Siwon-ssi yang mulai berjalan keluar dari apartemen itu.

***

-Jonghyun’s POV-

Aku merasakan sedikit silau dan dengan susah payah membuka mata. Ketika tersadar, ternyata matahari sudah meninggi dan jendela di ruang tengah apartemenku terbuka lebar.

Tunggu, ini di ruang tengah? Kenapa aku bisa tertidur disini dan bukan di kamarku?

Sambil mengumpulkan kesadaran, aku mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Seingatku aku menghadiri acara makan malam dengan keluarga Eun Hye-noona dan calon suaminya, lalu… Oh ya, aku mabuk!

Aku benar-benar tidak ingat bagaimana aku bisa kembali ke apartemen ini. Mungkin calon suami Eun Hye-noona itu yang mengantarkanku. Aku jadi merasa sedikit tidak enak karena sudah merepotkannya.

Aku menoleh ke setiap sudut ruangan dan menemukan secarik kertas yang tergeletak di atas meja tamu. Aku mengambil dan membaca tulisannya;

Sunbae, aku sudah menyiapkan sarapanmu di dapur. Kau tinggal menghangatkannya saja besok pagi. Kau harus mulai sarapan yang bergizi dan jaga kesehatanmu.

-Kim Ye Ji-

Aku tersenyum membaca tulisan yang tertera didalam kertas yang kupegang. Ini tulisan Ye Ji. Berarti dialah yang salah satu orang yang mengantarku kemarin. Baik sekali dia mau repot-repot membuatkanku sarapan. Benar-benar gadis yang baik.

***

-Author’s POV-

Eun Kyung menghampiri meja Ye Ji dengan wajah masam. Ia meletakkan sebuah map berwarna biru dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Eun Kyung melipat tangannya, “Padahal kerjamu kemarin sudah bagus. Kenapa kali ini menurun lagi?”

Ye Ji yang sedang sibuk mengetik lalu mendongakkan kepalanya, “Maksudmu?”

Eun Kyung mengangkat bahu, “Seperti yang sudah-sudah, tulisanmu ditolak.”

“Ba…bagaimana bisa? Aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk…”

“Tapi buktinya?” potong Eun Kyung cepat, “Aku tidak tahu, Yaeji. Tapi kaulah yang harus memperbaikinya.”

“Aku?”

“Ya. Dan juga ada beberapa tugas lain yang harus kau selesaikan hari ini juga.” Eun Kyung meletakkan setumpuk map dihadapan Ye Ji.

“Sebanyak ini!? Jangan bercanda, eonni. Aku harus menyelesaikan tugas sebanyak ini hari ini juga!?” kata Ye Ji terkejut.

Eun Kyung mengangguk, “Begitu juga denganmu, Jonghyun-ah.” ia menoleh ke arah Jonghyun dan meletakkan setumpuk map yang hampir sama persis dengan yang diberikannya pada Ye Ji.

Jonghyun tersentak, “Aku?”

“Sudah, sekarang cepat kerjakan tugas kalian dengan baik.” Eun Kyung menepuk bahu Ye Ji pelan.

“Tu…tunggu dulu! Aku paham tugas ini diberikan padaku sebagai hukuman, tapi kenapa Jonghyun-sunbae juga!? Dia kan tidak melakukan apa-apa!” protes Ye Ji.

“Hukuman? Hukuman apa maksudmu?” tanya Eun Kyung.

Ye Ji menghela napas berat, “Sebenarnya, semalam tanpa sengaja aku menabrakkan mobil bos Siwon ke tiang di pinggir jalan…”

“Jinjja!? Aigo~ kau ini bodoh sekali! Tentu saja bos marah! Kau tidak tahu berapa harga mobil itu!?”

“Aku tahu. Makanya aku terima diberi hukuman seperti ini. Tapi seharusnya Jonghyun-sunbae tidak!”

“Memang bagaimana ceritanya bisa sampai seperti itu?”

“Ceritanya panjang, eonni. Sudahlah, lebih baik aku tidak mengingatnya lagi.” kata Ye Ji lemas.

“Sudahlah, sekarang lebih baik kalian kerjakan saja tugas itu dengan baik. Hwaiting!” Eun Kyung mengepalkan tangannya tanda memberi semangat, lalu berjalan kembali ke meja kerjanya.

Setelah Eun Kyung pergi, Ye Ji membalikkan badannya ke arah Jonghyun, “Sunbae, serahkan saja tugas itu padaku. Yang salah itu kan aku, kau tidak perlu terlibat.”

“Shireo. Kau selesaikan saja tugasmu sendiri.” tolak Jonghyun.

“Tapi kan…”

“Kubilang tidak ya tidak! Aku tidak akan membiarkanmu menanggung kesalahan sendirian. Aku juga salah karena mabuk semalam.” tegas Jonghyun, “Sudah cepat kerjakan sana!”

Ye Ji akhirnya menyerah. Ia lalu mengangguk dan mulai berusaha menyelesaikan setumpuk tugas yang diberikan padanya itu.

***

-Jonghyun’s POV-

Aku melihat ke arah jam tanganku. Sudah pukul 9 malam. Pantas saja aku merasa sedikit mengantuk. Keadaan kantor juga sudah sepi. Di ruang kerja kami saja hanya tinggal aku berdua dengan Ye Ji.

Setelah dari toilet, aku memutuskan untuk pergi ke mesin kopi dan membawakan segelas untuk Ye Ji. Kasihan gadis itu, tadi dia kelihatan sangat lelah dan mengantuk. Segelas latte yang hangat mungkin bisa sedikit menghilangkan rasa kantuknya.

Ketika hendak memasuki ruang kerja, aku sedikit terkejut dengan kehadiran seseorang di ruangan itu. Karena seingatku, tidak ada siapapun yang ada disana selain Ye Ji. Aku sedikit menyipitkan mataku untuk meyakinkan penglihatanku. Dilihat dari bentuk badan dan caranya berjalan, tidak salah lagi, itu bos Siwon!

Mau apa dia datang ke ruang kerja kami tiba-tiba? Apa dengan memberi banyak tugas tidak cukup baginya sehingga harus ditambah dengan memarahi kami di tempat kerja?

Aku hendak melangkah masuk, ketika kulihat sebelah tangannya memegang sebuah kain yang cukup besar. Ia meletakkan segelas kopi yang dibawanya dengan tangan yang satunya ke atas meja kerja Ye Ji yang sedang tertidur dengan menyembunyikan kepalanya di atas meja dengan tangannya. Kemudian kulihat dia melebarkan kain besar yang ternyata selimut itu dan menutupi badan Ye Ji. Tidak sampai disitu saja, dia bahkan memperhatikan wajah Ye Ji dengan pandangan yang sulit kuartikan dan mengelus kepala gadis itu dengan lembut.

“DEG!!!” Rasanya jantungku berhenti seketika saat melihat kejadian itu. Tanganku tiba-tiba saja lemas. Jika tidak takut ketahuan sedang mengintip, kurasa aku akan menjatuhkan gelas karton di genggamanku. Apa-apaan ini!?

Apa bos Siwon juga menyukai Ye Ji?

Walau belum sepenuhnya tersadar, kulihat bos Siwon hendak membalikkan badannya ke arahku. Cepat-cepat aku bersembunyi dibalik tembok yang tidak begitu jauh dari ruang kerjaku dan menunggunya sampai dia kembali ke ruangannya. Entah kenapa aku melakukan hal pengecut seperti ini, tapi jujur aku sedikit takut menghadapinya.

Mungkin aku takut untuk kalah. Mungkin.

Setelah kupastikan dia sudah berjalan cukup jauh meninggalkan ruang kerjaku, aku memantapkan hati untuk kembali kesana dan kembali meneruskan pekerjaanku seolah tidak terjadi apa-apa.

Tidak lama kemudian, aku melihat badan Ye Ji sedikit bergerak. Gadis itupun bangun dari tidurnya dan dengan dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul ia menguap dan menggeliat, kemudian melihat ke sekeliling sampai akhirnya pandangannya mengarah padaku. Entah kenapa, perasaanku menjadi tidak karuan saat melihatnya.

“Sunbae, aku tertidur ya?” tanyanya polos.

Aku memaksakan seulas senyum, “Ne. Kau pasti lelah sekali ya?”

Dengan wajah yang masih terlihat mengantuk, ia tersenyum.

“Sunbae, kau yang menyelimutiku? Aigo~ aku jadi tidak enak… maafkan aku…” sahutnya setelah memperhatikan selimut yang tersampir di punggungnya.

Tiba-tiba kejadian tadi terbersit kembali di otakku. Namun rasanya aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya padanya. Akhirnya akupun tersenyum dan terpaksa berbohong padanya bahwa akulah yang menyelimutinya.

“Ah, ne. Aku takut kau kedinginan.”

“Kopi ini juga kau yang membawakan? Aigo~ kau baik sekali. Jeongmal gomawo, sunbae.” lanjut Ye Ji kemudian menyeruput kopi didalam gelas karton tersebut.

Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum dan diam-diam menyembunyikan salah satu gelas kopi di mejaku agar tidak sampai terlihat olehnya. Itu adalah gelas kopi yang tadinya kumaksudkan untuk diberikan padanya.

Aku benar-benar merasa seperti orang bodoh saat ini.

Beberapa saat kemudian, aku melirik jam tanganku. Sudah pukul 10. Dengan sedikit tergesa-gesa aku membereskan tumpukan kertas di mejaku dan mematikan komputer. Kemudian beranjak dari tempat dudukku dan menarik tangan Ye Ji. Gadis itu mendongak.

“Sudah malam. Sebaiknya kita pulang.” ajakku.

“Tapi, pekerjaanku belum selesai.” jawabnya khawatir.

“Kau bisa menyelesaikannya di rumah dan memberikannya besok pagi. Kurasa bos tidak sungguh-sungguh meminta kita menyelesaikan tugas itu hari ini juga.”

“Benarkah? Tapi…”

“Sudahlah, bos tidak akan memarahimu.” kataku dingin.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Aku mendecak, “Jangan banyak tanya. Sudah cepat bereskan barang-barangmu.” ujarku tanpa membentak.

“Ah, baiklah.” akhirnya dia menuruti perkataanku dan membereskan barang-barangnya. Ia membawa tumpukan map biru yang berisi tugas-tugasnya dan menyampirkan tasnya di bahu. Kami lalu berjalan keluar.

“Ah, tapi kita harus pamit dulu pada bos.” sahut Ye Ji ketika kami berdua melewati kantor bos Siwon.

Aku melirik pintu ruangannya sekilas, “Tidak perlu. Aku sudah mengatakannya tadi.”

“Oh, begitu.”

Ketika kami mulai berjalan menjauhi ruangan itu, tanpa sadar aku menoleh ke belakang dan memperhatikan pintu ruangan bos itu. Dari situ aku berpikir, aku pasti sudah melewatkan banyak hal.

Aku sudah kehilangan satu langkah, dan selama ini aku tidak menyadarinya.

***

-Author’s POV-

Ye Ji sedang menyiapkan makan malam ketika bel apartemennya tiba-tiba saja berbunyi.

“Ne, sebentar.” ia meletakkan piring di meja makan dan buru-buru menuju pintu. Di layar interkom, dilihatnya Siwon sedang berdiri didepan pintu apartemennya.

“Siwon-ssi? Untuk apa dia kesini malam-malam?” tanyanya dalam hati. Tapi Ye Ji memutuskan untuk tidak terlalu memusingkannya dan segera membukakan pintu.

“Ah, Siwon-ssi, silakan masuk.” sapanya ramah ketika membuka pintu. Siwon tersenyum samar dan masuk ke dalam apartemen itu.

“Kalau boleh tahu, ada perlu apa anda datang kesini malam-malam?” tanya Ye Ji kemudian.

Siwon terdiam sejenak, seolah bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis itu. “Hyun Joong yang menyuruhku datang.”

Ye Ji mengernyitkan dahi, “Oppa yang menyuruhmu datang?”

“Ya. Lalu dimana dia sekarang?” tanya Siwon setelah melihat keadaan apartemen yang sepi.

Ye Ji juga tidak kalah bingung, “Ng… Saat ini oppa sedang menginap di rumah orangtua kami selama beberapa hari untuk mempersiapkan pernikahannya. Memangnya kau tidak tahu?”

Siwon melongo. Jadi dia telah ditipu?

Tanpa pikir panjang, cepat-cepat ia mengambil ponselnya menghubungi Hyun Joong. Ia berjalan menjauhi Ye Ji agar percakapannya tidak terdengar.

“Ya~ Apa maksudmu sebenarnya!? Kau mau mengerjaiku, hah!?” bentak Siwon setengah berbisik.

“Mengerjai bagaimana maksudmu?” jawab Hyun Joong tenang.

“Sebenarnya apa maumu!?”

“Aku hanya ingin membantumu, Siwon-ah. Sesama teman kita harus saling membantu kan?”

“Tapi bukan begini caranya! Sekarang kau cepat kesini! Kalau tidak, kau akan tahu akibatnya!”

“Mianhae, sepertinya ibuku memanggil. Sampai jumpa.”

Klik! Telepon terputus.

“Argh, sial! Kenapa aku bisa bodoh begini!? Kalau sudah begini, apa yang harus kulakukan!?” batin Siwon. Diam-diam ia menoleh ke belakang. Sepertinya Ye Ji mulai bingung dengan apa yang terjadi.

“Aneh sekali, apa Hyun Joong-oppa lupa dengan janjinya?” tanya Ye Ji setelah Siwon berjalan menghampirinya.

“Ah ya, mungkin saja.” jawab Siwon, “Kalau begitu sebaiknya aku pulang saja.”

“Ah, tunggu dulu!” cegah Ye Ji, “Kebetulan aku sedang menyiapkan makan malam. Kau makan saja disini dulu.”

“Ah, tidak usah. Terima kasih.”

“Tidak apa-apa. Tunggu sebentar!” Ye Ji berjalan menuju dapur karena mendengar suara air yang mendidih. Sup asparagus yang sedang dimasaknya pasti sudah matang. Buru-buru ia mengangkatnya karena takut Siwon menunggu lama.

Namun karena terburu-buru, ia jadi kurang hati-hati. Diangkatnya panci yang masih panas itu dengan tangan telanjang tanpa dilapisi pelindung.

“Aduh!” ringis Ye Ji sambil mengibas-ibaskan kedua telapak tangannya yang terasa perih.

Melihat itu, Siwon langsung menghampiri Ye Ji dan memegangi tangan gadis itu.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya sambil memperhatikan pergelangan tangan Ye Ji yang mulai memerah.

“Ya. Cuma agak perih.” jawab Ye Ji. Ia lalu meringis lagi.

Siwon cepat-cepat menarik Ye Ji ke wastafel dan membasahi tangan gadis itu dengan air yang mengalir. Sebenarnya Ye Ji masih merasa perih, namun berusaha keras ditahannya.

Setelah selesai, dengan sigap Siwon lalu mencari handuk kecil dan membasahinya dengan air. Kemudian handuk basah itu diusapkannya perlahan ke pergelangan tangan tangan Ye Ji.

“Bagaimana? Apa masih terasa perih?” tanya Siwon kemudian.

Ye Ji menggeleng, “Gomabseumnida.”

“Cklek!” Tiba-tiba saja terdengar suara pintu dibuka. Ye Ji langsung menoleh ke arah pintu diikuti Siwon. Betapa terkejutnya mereka berdua melihat siapa yang datang. Begitu juga dengan orang itu.

“Jonghyun-sunbae!?”

***

-Jonghyun’s POV-

Aku berjalan menyusuri lorong apartemen sambil menenteng kantong plastik besar berisi berbagai macam bahan makanan. Rencananya, hari ini aku akan datang ke apartemen Ye Ji dan membantunya memasak makan malam. Aku berharap semoga saja ia belum memasaknya. Kudengar, hari ini dia sendirian di rumah karena kakanya sedang menginap di rumah orangtua mereka untuk mempersiapkan pernikahan. Jadi, aku bisa sekalian menemaninya.

Ketika sampai didepan pintu apartemennya, aku sedikit heran karena pintunya tidak terkunci. Entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak, tapi aku memutuskan untuk tidak terlalu menghiraukannya. Mungkin saja Ye Ji hanya lupa menguncinya. Setelah menghela napas, aku pun membuka pintu itu perlahan dan berjalan masuk.

Jantungku serasa berhenti ketika melihat pemandangan didepanku. Pemandangan yang tidak jauh berbeda dari beberapa hari yang lalu. Hanya kali ini jauh lebih menyakitkan. Aku melihat bos Siwon dan Ye Ji sedang berpegangan tangan dengan mesra. Sepertinya dia sudah lama berada disana.

Ye Ji sangat terkejut ketika melihatku. Tapi kuyakin wajahku juga sama terkejutnya seperti dia. Aku berusaha menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya dan tersenyum sinis.

“Ck, seharusnya aku tahu.”

Entah apa yang mendorongku, aku langsung menjatuhkan kantong plastik yang kubawa ke lantai dan segera keluar dari ruangan itu.

Sebenarnya apa yang kulakukan? Kenapa aku harus pergi?

Aku merasa menjadi orang yang paling bodoh sedunia.

“Sunbae, tunggu!” kudengar suara Ye Ji memanggilku. Tapi aku tidak peduli. Aku lebih mempercepat langkahku menuju keluar gedung apartemen.

***

-Ye Ji’s POV-

“Sunbae, tunggu! Aku bisa menjelaskannya!” aku berlari menyusul Jonghyun-sunbae keluar apartemen. Sekeras apapun aku memanggilnya, dia tetap tidak mau menghentikan langkahnya ataupun menoleh padaku.

“Sunbae, dengarkan aku! Tidak ada hubungan apa-apa antara aku dan Siwon-ssi!!” aku berusaha berteriak sekeras mungkin agar dia menghentikan langkahnya.

Kulihat dia akhirnya menghentikan langkahnya. Aku juga ikut menghentikan langkahku. Aku membungkuk dan menopangkan tanganku di lutut untuk mengatur napasku yang terengah-engah setelah berlari tadi.

“Ti…tidak ada hubungan apa-apa diantara kami. Percayalah padaku.” kataku dengan napas yang masih tersengal-sengal.

Aku memandang punggung Jonghyun-sunbae. Cukup lama ia terdiam sampai akhirnya ia menolehkan kepalanya ke samping, namun bukan ke arahku. Walaupun keadaan sedikit gelap dan hanya diterangi lampu jalan, aku bisa melihat dia tersenyum sinis.

“Aku tidak peduli bagaimana hubunganmu sebenarnya dengan bos Siwon. Itu bukan urusanku. Maaf kalau selama ini aku menjadi pengganggu kalian.”

Aku sangat terkejut mendengar pernyataannya itu. Jantungku serasa berhenti berdetak seketika. Kurasakan pandanganku sedikit kabur karena air mata yang hampir tak terbendung lagi.

Kemudian kulihat Jonghyun-sunbae kembali menolehkan kepalanya ke depan dan hendak melanjutkan langkahnya. Entah apa yang mendorongku, aku langsung berlari ke arahnya dan memeluk punggungnya dengan erat.

“Kumohon sunbae, jangan pergi. Dengarkan aku dulu…” kataku memohon. Aku semakin mempererat pelukanku. Rasanya aku sudah tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku pun menangis terisak-isak.

“Orang… yang kusukai… adalah kau, sunbae. Aku menyukaimu…” kataku lirih di tengah isakan tangisku.

Suasana hening. Jonghyun-sunbae tidak mengatakan apapun.

“Kumohon, berbaliklah ke arahku.” batinku. Aku sangat takut jika dia nanti melepaskan tanganku dan pergi.

Kudengar dia menghela napas pelan, lalu dengan perlahan melepaskan pelukanku. Apakah ini artinya aku ditolak?

Jonghyun-sunbae kemudian berbalik ke arahku dan menatapku lekat-lekat. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku dengan masih terisak-isak. Bersiap menerima apapun yang akan dia katakan nantinya.

Kurasakan Jonghyun-sunbae mengusapkan jarinya di pipiku dengan lembut untuk menghapus air mataku. Aku malah semakin ingin menangis karena perlakuannya ini.

“Aku juga menyukaimu, Ye Ji…” katanya lembut.

Aku menoleh. Apa yang dikatakannya tadi? Dia juga menyukaiku? Aku tidak salah dengar kan? Jonghyun-sunbae, dia… dia juga menyukaiku. Dia bilang dia menyukaiku.

Jonghyun-sunbae kemudian memegang kepalaku dan menarikku kedalam pelukannya, “Sudah, jangan menangis lagi. Maafkan aku…”

Tangisku malah bertambah keras. Bukan karena sedih, tapi karena terharu. Aku benar-benar tidak menyangka perasaanku akan bersambut. Aku kemudian mengangguk dalam pelukannya. Rasanya aku benar-benar tidak ingin melepaskannya.

***

-Author’s POV-

Sementara itu, tidak jauh dari tempat Ye Ji dan Jonghyun berdiri, Siwon mengintip kejadian itu dari kejauhan. Karena terkejut dengan Ye Ji yang berlari tiba-tiba, ia pun memutuskan untuk mengikutinya dari belakang. Namun ternyata ia malah melihat pemandangan yang paling tidak diinginkannya.

Siwon hanya bisa tersenyum getir dan menunduk.

“Tuhan, kumohon, hapuslah perasaanku saat ini juga…” batinnya.

***

Beberapa hari kemudian…

Akhirnya tibalah hari pernikahan Hyun Joong dan Eun Hye. Upacara pernikahan yang berkonsep garden party itu berlangsung khidmat. Kedua mempelai tampak sangat serasi bagaikan pangeran dan putri kerajaan. Membuat iri siapa saja yang melihatnya. Hyun Joong terlihat sangat tampan dengan jas dan celana putih, sementara Eun Hye tampak sangat cantik dengan gaun putih dengan rok panjang yang sederhana namun elegan.

Setelah seluruh tamu mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, sekarang tibalah saatnya untuk mempelai wanita melemparkan buket bunga kepada para tamu. Sudah tersebar mitos diantara masyarakat bahwa siapa yang dapat menangkap buket bunga itu berarti dia akan segera menikah.

Hampir seluruh gadis dan beberapa pemuda yang hadir di acara itu sudah berkumpul dan bersiap-siap menangkap buket bunga. Namun tiba-tiba Hyun Joong dan beberapa teman semasa SMA-nya menghampiri Siwon dan dengan kompak menariknya ke depan untuk ikut menangkap buket bunga. Awalnya Siwon menolak, namun karena terus-terusan dipaksa untuk maju, akhirnya ia terpaksa menerimanya.

“Ayo, kau juga ikut!” ajak Ye Ji pada Jonghyun sambil menarik tangan cowok itu.

“Aku? Kenapa harus aku? Shireo! Kau saja.” Jonghyun melepaskan tangannya dari Ye Ji.

Tapi Ye Ji tetap tidak menyerah untuk menarik tangan Jonghyun, “Ayo, aku juga akan ikut. Memangnya kau tidak mau cepat menikah? Kau mau membujang seumur hidup?”

“Aku bisa menikah kapanpun aku mau.” Jonghyun masih bersikeras.

“Aish…!!! Sudahlah, ikut saja!” Ye Ji menarik tangan Jonghyun lebih kencang sehingga cowok itu akhirnya tidak punya pilihan.

“Baiklah, siap ya, hana, dul, set!” Eun Hye berbalik ke belakang dan melemparkan buket bunga itu ke arah orang-orang yang berkumpul tadi. Semua orang berebut untuk mendapatkan buket bunga itu, kecuali Siwon dan Jonghyun yang tampak tidak terlalu antusias.

Namun ternyata buket bunga itu malah melayang ke arah Siwon dan dengan spontan dia pun menangkapnya. Semua tamu yang melihatpun bertepuk tangan.

Siwon sangat terkejut karena ternyata dialah yang mendapatkan buket bunga itu. Dengan kaku ia pun tersenyum ke arah tamu-tamu yang hadir.

“Wah, Siwon-ah, selamat ya! Kalau sudah waktunya kau harus memberitahuku nanti.” goda Hyun Joong. Ia lalu merangkul sahabatnya itu sebelum dia protes, “Ara. Tapi bukankah masih banyak gadis lain di luar sana yang mengantri untuk mendapatkanmu?” bisik Hyun Joong yang sukses membuat muka Siwon memerah.

“Ya~dasar kau ini!”

***

“Siwon-ssi, chukkae!” ujar Ye Ji ketika acara menangkap buket bunga selesai dan para tamu mencicipi hidangan yang telah disediakan.

“Dan terima kasih karena kau sudah mau menerima tulisanku.” lanjut Ye Ji.

Siwon menatap Ye Ji selama beberapa saat, kemudian tersenyum.

“Jangan senang dulu. Masih banyak tugas yang harus kau kerjakan di edisi-edisi berikutnya. Dan tentunya masih ada hukuman untuk kalian berdua.” Ia melirik sekilas ke arah Jonghyun yang berdiri disamping Ye Ji.

“Baiklah, aku harus pergi sekarang. Sampaikan salamku pada Hyun Joong dan Eun Hye.” Siwon membalikkan badannya dan berjalan menuju tempat parkir.

“Tunggu! Kau tidak mau mencicipi hidangannya dulu?” tahan Ye Ji.

“Terima kasih. Tapi aku masih ada urusan.” Siwon kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Ye Ji dan Jonghyun.

“Yah, sayang sekali.” Ye Ji sedikit kecewa. Ia lalu menoleh ke arah Jonghyun, “Sunbae, bagaimana kalau kita…”

“Kau masih saja memanggilku ‘sunbae’. Mulai sekarang kau harus memanggilku ‘oppa’.” potong Jonghyun.

“Oppa?”

“Bukan begitu. Kau harus mengucapkannya dengan sedikit manja. Oppaa…. begitu.” Jonghyun bergaya menunjukkan aegyo-nya yang dibuat-buat.

Ye Ji mengernyitkan dahi, “Kenapa aku harus melakukan itu? Memalukan, aku tidak mau!”

“Ya~ kau ini pacarku sekarang! Jadi bersikaplah seperti pasangan lainnya.”

“Shireo! Aku tidak mau melakukan hal menjijikkan seperti itu!”

Jonghyun mendecak, “Kemarikan tanganmu!”

“Untuk apa?”

“Sudah jangan banyak tanya. Mana tanganmu?”

Dengan sedikit bingung, Ye Ji mengadahkan telapak tangan kanannya ke arah Jonghyun.

Jonghyun kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantongnya dan meletakkannya di tangan Ye Ji, kemudian dengan cepat mencium pipi gadis itu. Seketika itu juga pipi Ye Ji memerah.

“Happy birthday.” ujar Jonghyun sambil tersenyum.

Ye Ji memperhatikan kotak kecil berwarna merah yang diberi hiasan pita kecil berwarna emas di tangannya. Ia sangat terkejut karena lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.

“Boleh kubuka sekarang?” tanyanya kemudian. Jonghyun mengangguk.

Ye Ji melepaskan pita berwarna emas di sekeliling kotak itu dan membuka tutupnya. Lagi-lagi dia dibuat terkejut dengan sesuatu yang ada didalamnya. Sebuah cincin. Cincin yang terbuat dari perak itu sangat simpel namun elegan.

“I…ini…”

Jonghyun mengambil cincin itu dari tempatnya dan memaikannya di jari manis Ye Ji.

“Ta…tapi nanti semua orang yang melihatnya mengira aku sudah bertunangan…”

Jonghyun tersenyum jahil, “Memang itu yang aku inginkan.”

Ye Ji memperhatikan cincin yang sudah tersemat di jari manisnya itu. Ukurannya sangat pas dengan jarinya. Entah bagaimana Jonghyun bisa mengetahui ukuran jarinya.

“Bagaimana? Kau suka?” tanya Jonghyun kemudian.

Ye Ji mengangguk dan tersenyum, “Ne. Gomawo, oppa…”

-The End-

_______________________________

Annyeonghaseyo! ^^

Ini FF pertamaku di ffcnblueindo. Aku mau ngucapin makasih buat kalian yang udah nyempetin waktu buat baca, dan buat admin yang udah baik banget nge-post FF aku disini. Sorry for typo.

Mannaseo bangabseumnida!^^

14 thoughts on “[Oneshot] Present For You

  1. ff nya bikin laper, ada rendang ;;_____;; #dor
    cinta segitiga wkwk ceritanya bagus. cuma aku ngerasa disini kok pdkt nya si siwon yg lebih greget gitu (?) apa itu buat ngecohin pembaca supaya endingnya ga ketebak? xD

    ditunggu ff nya yg lain yaa xD

  2. Haha,like like…

    Siwon..sama kakak ku aja,dy single lhoo.. Mski punya inceran,klo km mw,lgsg berpaling deh..huahaha

  3. aaaahh ~ kirain cerita apaan awalnya kerja melulu u,u ternyata love story ~ mana triangle love pula ><
    kasiyan siwon T T tapi Jonghyun keknya emang lebih cocok sama yeji (?) *loh
    kalo menurut aku ceritanya panjang banget thor, kek 2 love story sekaligus HJL-Eunhye sama jong-yeji jadi agak bosen juga .___.v
    terus endingnya juga kurang klimaks u,u
    tapi tetep suka, apalagi part jong masuk pas yeji lagi sama siwon u,u
    it's a nice one :3 good job ~

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s