[FF Event – Yonghwa’s Birthday] The Best Present in My Life It’s YOU.

Title : The Best Present in My Life It’s YOU.

Author : Weny Jung (@wnfly3828)

Main Cast : Jung Yonghwa, Seohyun

Support Cast : Juniel, Lee Jonghyun, and other.

Genre : AU, Romance, Hurt/Comfort, Angst.

Rating : PG-13

Lenght : Oneshoot.

Disclaimer : Cast minjem nama doang. Tapi alur ceritanya murni, IT’S MINE. It’s fanfiction, so not all of them real, but YS I hope them real😄.

Backsound Music : Super Junior KRY – Coagulation, Super Junior – In My Dream, K.Will – Love is Crying. (bisa langsung di klik karena terhubung dengan link youtube. Sangat-sangat disarankan mendengarkan ketiga lagu ini, biar feelnya makin dapet ^^)

Warning : TYPO yang berserakan sesuka hati .___.

Note : This is my birthday present for my lovely brother –Jung Yong Hwa😀. Maaf telat O.O. YongSeo shipper? Hayooo merapat😄.

~~

Aku tak perlu kue ulang tahun dengan berbagai hiasannya..

Tak perlu sebuah pesta meriah yang mengundang banyak orang..

Tak perlu berbagai kado dari berbagai barang-barang mahal..

Karena satu kado terindah di hari ulang tahunku dan dalam hidupku..

Adalah kehadiranmu..

 

~~

19 Juni 2012

Yonghwa mengerjapkan matanya pelan. Sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya membuatnya terjaga. Ia merenggangkan otot-otot tubuhnya sejenak. Berusaha mengumpulkan kesadaran lebih. Dan melirik sofa tempat ia tertidur semalaman. ‘Ugh, badanku sakit semua’, batin Yonghwa.

Terakhir diliriknya seorang yeoja cantik yang tengah terlelap damai di sebuah ranjang king size. Seketika itu juga rasa kantuk yang masih menderanya tadi lenyap. Ia tersenyum miris. Sampai sebuah ketukan pintu menyadarkannya.

TOK TOK TOK

CKLEK

Seorang yeoja muncul dengan pakaian kemeja sky blue, skinny jeans hitam dan jas putih. Ia terlihat rapi dan segar. Tersenyum melihat Yonghwa dan dibalas Yonghwa juga dengan sebuah senyuman kecil.

“Sudah bangun Tuan Jung? Apakah tidur anda nyenyak?”, tanya yeoja itu ramah.

“Sudah berapa kali ku bilang jika tidak ada orang panggil saja aku Oppa, Juniel. Dan berbicaralah banmal padaku. Aku tak suka kau terlalu formal.”

Yeoja bernama Juniel itu terkekeh mendengar pernyataan Yonghwa.

“Ne Oppa. Bagaimana tidurmu?”

“Tidak terlalu baik. Tidur di sofa membuat punggungku terasa sakit.”, ucap Yonghwa sambil tertawa pelan.

“Maaf Oppa, aku jadi merasa bersalah padamu.”, Juniel menunduk mendengar perkataan Yonghwa. Ia benar-benar merasa tak enak.

“Gwaenchana. Jangan dipikirkan Juniel. Aku yang memintamu untuk tidur disitu. Jadi tidak usah merasa bersalah.”, ucap Yonghwa. Sepertinya ia salah berbicara.

“Ne Oppa.”, ucap Juniel lalu memeriksa sosok cantik yang masih terlelap damai itu. Suara dari elektro kardio grafi yang berbunyi teratur dan memenuhi pendengaran Yonghwa membuat pandangannya berubah sendu.

“Bagaimana.. keadaannya?”, tanyanya hati-hati.

Juniel melepas stetoskop dan mengarahkan pandangannya pada Yonghwa.

“Kondisinya sudah cukup stabil daripada kemarin malam. Tapi, belum ada perubahan yang berarti dari kondisi Eonnie.”

Yonghwa menunduk dan menghela nafas berat mendengar penjelasan Juniel. Sampai sebuah pertanyaan yang memenuhi benaknya muncul dan mendesak untuk dikeluarkan.

“Sebenarnya, apa yang membuatnya seperti itu tadi malam?”

“Entahlah Oppa. Tapi kurasa dalam tidurnya ada sesuatu hal buruk yang diingat oleh Eonnie. Sehingga kondisinya pun ikut memburuk.”

“Ugh, sialan.”, gumam Yonghwa tapi masih bisa didengar oleh Juniel. Yeoja cantik yang berprofesi sebagai dokter itu melangkah pelan dan duduk di sofa samping Yonghwa. Menyentuh bahu bidang yang terkesan frustasi itu.

“Sabarlah Oppa.”, ucapnya berusaha menenangkan.

“Apa yang harus kulakukan, Juniel?”, lirih Yonghwa. Ia betul-betul merasa frustasi kali ini. Kejadian dimana Seohyun –ya, yeoja cantik yang tengah terlelap di tempat tidur lengkap dengan alat-alat kedokteran yang terpasang di tubuhnya itu adalah istrinya, Seohyun— yang mengalami down condition tadi malam terus terngiang di kepalanya. Ia benar-benar takut saat itu. Tubuh Seohyun mengalami kejang-kejang. Dan itu membuat Yonghwa sangat panik. Syukurnya, saat itu Juniel datang dan langsung memeriksa keadaan Seohyun. Dan sekitar 10 menit, akhirnya tubuh Seohyun bisa tenang kembali setelah diberi obat penenang yang berdosis cukup tinggi oleh Juniel. Semua kejadian itu membuat Yonghwa takut dan khawatir. Ia pun meminta Juniel untuk menginap di rumahnya dan tidur di samping Seohyun untuk mengawasi keadaan Seohyun.

Juniel mengusap bahu Yonghwa yang bergetar. Laki-laki tampan itu ternyata menangis tanpa suara.

“Oppa dengarkan aku. Kita bisa mencegah hal seperti tadi malam terjadi lagi. Coba kau ajak bicara Eonnie lebih banyak lagi, Oppa. Perlakukan dia seperti biasanya meskipun tubuhnya tidak bisa meresponmu. Ingat hal yang pernah ku katakan kan? Orang koma tidaklah mati rasa. Pendengaran dan pikiran mereka masih berfungsi dengan baik. Aku yakin, Eonnie pasti bisa mendengarmu dan sedikit demi sedikit keadaannya akan membaik.”

“Tapi ini sudah minggu ketiga, Juniel. Dan kenapa tidak ada perubahan yang berarti, heuh?”, ucap Yonghwa yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Suaranya serak karena menangis.

“Jangan menyerah Oppa. Kau harus kuat untuk menjalani semua ini. Kau adalah sandaran Eonnie. Aku dan tim dokter lainnya akan berusaha untuk membantumu. Peranmu dan keluarga Eonnie sangat penting untuk kesembuhan Seohyun Eonnie sendiri. Kami akan berusaha yang terbaik Oppa. Jangan khawatir, oke?”

Yonghwa hanya bisa mengangguk patuh mendengar ucapan Juniel.

“Aku ada membeli pancake dan bubur ayam Oppa. Semuanya sudah kuletakan di meja makan. Sebaiknya kau bersihkan dulu dirimu dan sarapan. Aku akan ke rumah sakit sebentar. Ada hal yang harus ku tangani. Tidak apa kan kalau ku tinggal sendiri?”

Yonghwa menatap Juniel dan tersenyum. Meskipun yang ia tunjukkan bukan senyum ceria seperti biasanya.

“Ne, gwaenchana. Jeongmal gomawo, Juniel-ah.”

Juniel mengangguk kecil dan mengusap pelan punggung Yonghwa sekali lagi.

“Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku saja Oppa.”, ucapnya sebelum sosoknya pergi dari kamar besar itu. Menyisakan Yonghwa yang masih tertunduk lesu.

~~

Penampilan Yonghwa sudah cukup rapi. Ia pun sudah selesai sarapan sesuai anjuran Juniel tadi. Perlahan Yonghwa masuk ke dalam kamar besar itu. Melangkah mendekati sosok Seohyun yang masih tertidur lelap. Wajahnya tampak begitu damai meskipun terlihat pucat. Yonghwa melangkah menuju kamar mandi. Mengambil baskom kecil dan mengisinya dengan air hangat dari shower kamar mandi dan membawa lap kain berukuran sedang. Ia kemudian beralih menuju lemari pakaian. Mengambil beberapa untuk pakaian ganti Seohyun. Setelah semuanya siap, Yonghwa duduk di tepi ranjang di dekat Seohyun. Dan dengan lembut namun cekatan, ia mulai membersihkan tubuh Seohyun dan mengganti pakaian istrinya itu. Kegiatan ini menjadi hal rutin yang dilakukan Yonghwa selama kurang lebih tiga minggu terakhir setiap pagi. Dengan ikhlas ia mengerjakan semua itu. Setelah semuanya selesai, biasanya ia akan ikut tiduran di samping Seohyun. Menunggu istri cantiknya.

“Sayang, Eomma tadi meneleponku, katanya 3 hari lagi ia akan berkunjung kesini. Ia akan datang bersama Appa.”

“…”

“Eomma bilang, ia akan membawa banyak goguma dari Busan. Disana, petani goguma sedang panen. Eomma juga bilang, kalau semua goguma itu ia minta dari pamanku yang bekerja sebagai petani goguma disana. Kau tahu? Pamanku itu sedikit perhitungan, kadang dengan Eomma saja ia pelit. Ia jarang mengabari kami jika sedang panen dan berbagi goguma. Tapi demi kau, Eomma berdebat dengannya untuk meminta banyak goguma dan membawanya kesini.”

“…”

Yonghwa menghela nafas berat sekali lagi. Pandangannya yang entah kapan sudah kabur oleh airmata dan mendesak ingin keluar. Dengan gerakan pelan dan lembut ia menyibak poni yang menghalangi wajah cantik Seohyun. Serta tak berhenti menatap wajah ratu hatinya itu.

“3 hari lagi ulang tahunku sayang. Apa kau ingat?”

“…”

“Aku ingin kita merayakannya bersama. Kau membuatkanku tart dan makan malam, dan kita akan menjalani sebuah dinner romantis. Seharian akan kita lalui berdua, dan aku akan mengajakmu berdansa di bawah sinar bulan, kau akan mengecup bibirku dan mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ padaku dengan senyuman manismu, lalu kita akan berakhir dengan penyatuan cinta di sini. Kau mau?”

“…”

“Bangunlah sayang, apa kau tidak lelah tidur terus, eoh? Aku begitu.. merindukanmu.”, ucapan Yonghwa begitu lirih. Ia memegang tangan kanan Seohyun yang terbebas dari infus dan mengecupnya penuh sayang. Suara elektro kardio grafi yang teratur memecah keheningan di kamar besar itu, namun membuat hati Yonghwa seperti teriris mendengarnya.

“…”

“Aku merindukan mata bening ini menatapku dengan tatapan memohonnya.”, Yonghwa beralih mengelus mata Seohyun yang terpejam.

“Aku merindukan pipi ini merona karena mendengar rayuan gombalku.”, tangannya beralih mengelus pipi Seohyun yang pucat.

“Dan.. aku begitu merindukan bibir ini mengeluarkan suaranya yang indah dan berucap manja padaku.”, kini bibir Yonghwa beralih mengecup bibir pucat Seohyun. Tak ada nafsu disana. Yang ada hanyalah ungkapan rasa cinta yang besar dan tak kunjung pudar. Yonghwa mencoba untuk memberi kehangatan pada bibir pucat dan dingin itu. Kecupan sayang itu terasa asin karena airmata Yonghwa yang mengalir pelan dari pipinya dan berakhir di bibir keduanya. Dan kecupan itu, bentuk rasa sayang, pengharapan, namun juga keputus-asaan Yonghwa dalam semua masalah ini. Ia mengecup bibir itu lama. Dan sebuah ingatan tentang kejadian buruk yang menimpa Seohyun kembali terngiang di ingatannya.

Flashback

3 weeks ago

“Oppa, kau ada dimana?”, Seohyun kini sedang berbicara di line telepon dengan suaminya.

“Aku ada di daerah Daegu, Hyun. Menemani Jonghyun mengurus bahan proyek di perusahaan cabang. Ada apa sayang?”

“Aniya, aku ingin meminta Oppa untuk menjemputku nanti selesai reunian ini. Bisakah Oppa?”

“Hmm.. memangnya selesai jam berapa?”

“Ku pikir akan sedikit malam. Karena Tiffany Eonnie memaksaku disini sampai acara selesai Oppa.”

“Oppa tidak bisa berjanji, sayang. Kemungkinan Oppa disini juga akan lembur sampai larut malam. Eottohke?”

“Begitukah? Ya sudah, Oppa. Aku akan coba meminta tumpangan dengan temanku yang lain nanti.”

“Mianhae Hyun. Aku akan segera pulang setelah urusan disini selesai. Dan aku usahakan untuk tidak menginap di kantor.”

“Gwaenchana Oppa. Jangan khawatir. Oppa jangan telat makan, ne?”

“Arraseo. Kau juga, jaga dirimu baik-baik ya. Jangan pulang terlalu malam dan kunci rumah dengan benar sampai aku pulang. Hubungi aku kalau ada apa-apa. Arrachi?”

“Arraseo, Yong~~”

Keduanya tertawa bersamaan setelah Seohyun mengucapkan kata itu.

“Baiklah, aku tutup telponnya, ne? Saranghae..”

“Nado saranghae yeobo..”

PLIP

Sambungan telpon itupun berakhir. Seohyun pun kembali bergabung dalam acara reunian teman-teman sewaktu kuliahnya dulu. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk acara itu. Satu hal yang tak pernah disangka Seohyun, penutup acara reunian itu adalah pesta soju. Suami dari teman-temannya sudah meminum soju terlalu banyak dan akhirnya mabuk. Seohyun yang memang tidak tahan dengan alkohol memutuskan untuk pamit duluan. Rencana untuk menumpang pulang dengan seorang temannya pun gagal karena ia berpikir akan sangat merepotkan jika harus mengantarnya pulang lagipula sepertinya acara belum juga selesai.

Seohyun berjalan cepat di jalanan Gyeonggi-do Selatan yang cukup sepi itu. Ia mengeratkan mantel merahnya karena hari yang cukup dingin. Tanpa disadari Seohyun bahaya sedang mengincarnya. Seorang penjambret tiba-tiba saja menghentikan langkah Seohyun dan berusaha mengambil tasnya. Seohyun berteriak panik. Penjambret itupun ikut panik mendengar jeritan Seohyun. Apalagi Seohyun berusaha mempertahankan tasnya. Seohyun tidak menyadari penjambret itu mengambil senjata api di kantong belakangnya dan..

DORRR

Peluru itu mengenai kepala Seohyun dan membuat tubuh Seohyun ambruk dalam hitungan detik. Beruntung, karena teriakan Seohyun itu seorang pemuda lewat dan berusaha mengejar penjambret yang berhasil membawa tas Seohyun. Namun usaha pemuda itu tak berhasil. Dan segera saja pemuda itu beralih pada Seohyun yang tergeletak bersimbah darah di jalanan. Sampai beberapa orang lainnya datang dan membantu pemuda itu mengantar Seohyun ke rumah sakit.

Dilain tempat..

Yonghwa merasa gelisah. Laporan proyek yang ia kerjakan hampir selesai namun entah kenapa hatinya merasa tak tenang. Jonghyun yang melihat hal itu menanyakan keadaan Yonghwa.

“Hyung, ada apa denganmu? Kau terlihat gelisah?”

“Entahlah Jonghyun-ah, tiba-tiba perasaaanku tak enak.”

Jonghyun beralih mengambil segelas air putih dan memberinya kepada Yonghwa untuk menenangkan pikiran hyungnya itu, namun..

PRANGGGG

Gelas itu jatuh dari tangan Yonghwa bahkan sebelum sempat ia meminumnya. Hati Yonghwa berdebar kencang, ia gugup. Keringat dingin mulai bermunculan dari tubuhnya. Saat itu juga ia teringat akan Seohyun dan mengambil handphonenya dengan tergesa, berniat untuk menghubungi Seohyun. Namun, sebelum Yonghwa sempat menelepon, sebuah panggilan tak dikenal masuk ke ponselnya. Dengan perasaan kalut Yonghwa mengangkatnya.

“Yeobseo.”

“…”

“Ne, dengan saya sendiri. Ini siapa dan ada apa?”

“…”

Mata Yonghwa membulat dan ia mematung mendengar penuturan seseorang di seberang sana. Istrinya, Seohyun dirampok di jalanan, kepalanya tertembak timah panas dan sekarang dalam kondisi kritis dirumah sakit. Sedetik kemudian ia sadar dari keterkejutannya, dan bergegas secepat mungkin pergi kerumah sakit disusul oleh Jonghyun yang makin merasa ada hal yang tidak beres dengan Yonghwa.

@Seoul Nation Hospital

Yonghwa berlari kencang menuju ruang ICU tanpa memperdulikan apapun. Banyak orang yang tak sengaja ia tabrak saat berlari dan ia pun tak menghiraukan teriakan Jonghyun yang memanggilnya. Sesampainya di depan ICU, tim dokter yang memeriksa keadaan Seohyun ternyata baru saja keluar. Dan Yonghwa mengenali salah satu dari dokter itu. Juniel, adik sepupunya.

“Juniel-ah!!!!”

Yonghwa berlari mendatangi Juniel dengan nafas tersengal. Dan dengan sisa tenaganya, ia bertanya.

“Bagaimana keadaan istriku? Kau yang memeriksanya kan?”

Mata Juniel terlihat berkaca melihat keadaan kakak sepupunya itu. Dengan hati yang berat ia berucap.

“Eonnie memang sudah lewat dari masa kritisnya, namun kondisinya belum bisa dibilang stabil Oppa. Peluru itu tepat mengenai otaknya dan Eonnie kehabisan banyak darah. Jika semenit saja ia terlambat dibawa kesini, mungkin nyawanya tidak akan bisa selamat, Oppa. Dan kalau sampai besok Eonnie tetap seperti ini, maka dengan berat hati, keadaannya kami nyatakan koma.”

Yonghwa pun merasa sebuah batu besar menghantam kepalanya saat itu juga, membuat ia sulit bernafas dan kakinya melemas. Ia ambruk dengan pandangan kosong dan dan airmata yang tak kunjung berhenti mengalir dari kedua pipinya. Bahkan setelah keluarga Seohyun datang, kondisinya tetap seperti itu sampai akhirnya Yonghwa pingsan akibat terlalu lelah menangis. Dan mulai saat itu, dimulailah masa-masa kelam bagi seorang Jung Yonghwa.

Flashback end

~~

22 Juni 2012

Tiga hari berlalu semenjak peristiwa itu, Seohyun masih betah terlelap dalam tidurnya. Membuat Yonghwa kembali merasa sedih. Kehadiran keluarganya, keluarga Seohyun, dan teman-temannya hanya sedikit bisa membuatnya tersenyum. Mereka baru saja mengadakan kejutan kecil untuk ulang tahun Yonghwa yang tentu saja dilaksanakan di rumah itu. Dengan segala kerendahan hatinya, sebelum meniup lilin ulang tahunnya, Yonghwa berharap dan berdoa pada Tuhan agar istrinya cepat sadar dan sembuh. Karena hanya itulah yang ia inginkan saat ini. Saat semua sedang berkumpul, Yonghwa izin untuk pamit ke kamarnya dan Seohyun. Ibu Yonghwa dan ibu Seohyun pun mengikuti langkahnya. Saat membuka pintu kamar, keduanya menatap sedih Yonghwa yang kini tengah mengelus kepala Seohyun dengan sayang. Dua orang wanita paruh baya itu mengisyaratkan Yonghwa untuk duduk sofa mengikuti mereka berdua. Dan Yonghwa pun duduk di tengah-tengah mereka.

“Yonghwa-ya, kau harus tetap semangat ne? Eomma lihat kau semakin kurus. Perhatikanlah kesehatanmu sendiri. Kau tak boleh lemah. Tuhan tak akan memberikan cobaan yang melampaui kemampuan kita.”

“Ini ulang tahunku, Eomma. Begitu beratkah permintaanku pada Tuhan untuk membuat Seohyun sembuh, Eomma, Eommonim?”, tanya Yonghwa. Ia lelah, ia lelah menjadi sosok yang sok kuat tadi, tersenyum pada semua orang tapi hatinya terasa hampa. Ny. Jung memeluk anaknya, dan seketika itu juga tangis Yonghwa pecah. Dan itu membuat kedua wanita paruh baya itu ikut menangis melihat Yonghwa menangis. Ny. Seo mengelus sayang tangan menantu kesayangannya.

“Jangan pernah berhenti berharap, Yonghwa. Eommonim percaya semuanya akan berlalu, dan itu tidak akan lama lagi. Kenapa? Karena Eommonim percaya pada keajaiban. Keajaiban yang akan menyelamatkan Seohyun kita. Kau hanya perlu berdoa, berharap, tetap disampingnya dan yang paling penting tetap mencintainya. Eommonim percaya, kekuatan cinta kalian akan menimbulkan sebuah keajaiban. Kita, terutama kau akan bisa melewati semua ini. Hanya tinggal menunggu sedikit lagi, Yonghwa. Kau bisakan?”

Yonghwa merasa tak tega mendengar pernyataaan ibu mertuanya itu. Ia pun melepaskan pelukannya pada sang eomma dan beralih memeluk Ny.Seo. Kini harapan dan semangat dalam diri Yonghwa mulai muncul kembali. Eomma dan Eommonim benar, ia tak boleh lemah. Dengan senyum ia menghapus airmatanya, dan menatap kedua wanita cantik sisi kiri dan kanannya secara bergantian.

“Terima kasih, Eomma, Eommonim. Nasihat kalian membuatku merasa semangat lagi. Jeongmal gomawo.”, ucap Yonghwa tulus. Kedua tangannya menggenggam erat tangan ibu kandung dan ibu mertuanya.

“Terima kasih telah mencintai anakku sepenuh hatimu, nak. Aku tak pernah menyesal menitipkannya pada pemuda baik sepertimu. Jangan pernah lagi menyalahkan dirimu sendiri akibat kejadian itu. Ingat pesanku tadi, arrachi?”

Yonghwa mengangguk dan meraih dua wanita itu kedalam pelukannya. Dalam hati ia merasa sangat bersyukur mempunyai ibu seperti Ny.Jung dan Ny.Seo.

~~

22 Juni 2012

22.00 KST

Pesta kecil itu sudah selesai dari beberapa jam yang lalu. Semua keluarga dan teman-temannya kini sudah pulang. Juniel sedang mengambil beberapa potong pakaian di rumahnya, karena malam ini ia akan menginap lagi di rumah Yonghwa untuk memantau keadaan Seohyun. Kini, di rumah besar itu hanya ada Yonghwa dan Seohyun. Yonghwa, duduk bersandar di punggung ranjang, mengelus rambut istrinya itu pelan.

“Tadi Eomma, Appa, Eommonim, Aboeji, Juniel dan beberapa teman-temanku datang sayang.” Yonghwa memulai ceritanya pada Seohyun malam itu.

“…”

“Mereka membawa fruit cake kesukaanku. Membawa beberapa makanan dan mengadakan pesta kecil yang dadakan dibawah.

“…”

“Sebelum tiup lilin tadi, aku diminta untuk membuat permohonan dulu. Aku tahu apa doaku?”

“…”

“Baiklah, aku akan memberitahumu. Pertama, aku ingin diberi kesehatan agar aku selalu bisa menjagamu. Umur yang panjang agar bisa selalu bersamamu, dan rezeki agar bisa membahagiakan dan menuruti keinginanmu. Dan yang terakhir..”

“…”

“Aku ingin kau sembuh dari tidur panjangmu sebelum hari ini berakhir. Aku tak ingin meminta kado yang mahal sayang, hanya ingin melihat kau membuka matamu. Jebal, ku mohon, bangunlah Hyun…”, lirih Yonghwa. Ia menunduk untuk mengecup kening itu penuh sayang. Lama sekali. Yonghwa seakan ingin menyalurkan semangat kehidupan pada istrinya. Ia berharap harapan dan doa dalam hatinya bisa tersampaikan lewat kecupan panjang nan manis ini. Sampai pada akhirnya…

“Eunghhh..”

Lenguhan lemah itu menyentak raga Yonghwa. Ia belum berani berharap, ia masih memejamkan matanya.. tapi..

“Eunghhh..”

Yakin. Yonghwa sangat yakin dengan apa yang di dengarnya kali ini. Perlahan ia lepaskan kecupan di dahi Seohyun. Dan membuka matanya.

Tangan itu bergerak pelan seperti ingin menggapai sesuatu, bibir itu terbuka mengeluarkan lenguhan yang masih lemah, dan mata bening itu… mengeluarkan airmata dan jatuh di sudut matanya. Detik berikutnya, mata bening itu mengerjap sayu. Mencoba mengumpulkan kekuatan karena telah lama tertutup. Memfokuskan pandangannya keatas. Melihat objek yang kini terpaku melihat kejajaiban didepannya.

“O..ppa..”

Suara itu lebih pantas disebut bisikan. Perlahan Yonghwa mengubah posisinya, duduk di tepi ranjang itu. Tangannya bergerak mengelus pipi Seohyun, mencoba memastikan sekali lagi.

“Hyun, kau.. s-sadar?”

Dan untuk pertama kalinya dalam hampir selama sebulan ini, Yonghwa merasa beban yang selama ini menimpanya terangkat melihat senyum itu. Kini ia sangat yakin, ini nyata. Istrinya –Seohyun—telah sadar. Tuhan mendengar doanya. Tuhan benar-benar mendengar doanya.

Yonghwa memeluk sosok itu, dan kehangatan lain pun segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Seohyun membalas pelukannya. Ia bersumpah ia merasakan hal itu.

“Kau s-sudah sadar, sayang? Benar-benar sadar?”

“Ne, Oppa.. Terima kasih telah menungguku.”

Saat itu juga tangisan Yonghwa pecah. Ia benar-benar bersyukur karena Tuhan mengabulkan doanya. Yonghwa mendekap Seohyun erat, seakan tak ingin kehilangan sosok itu lagi. Beberapa menit kemudian, ia melepaskan pelukannya, beralih menatap mata Seohyun yang kini sudah terbuka sempurna.

“Aku begitu bahagia, Hyun.”

Dan detik berikutnya, ia melumat bibir itu. Dan untuk kesekian kalinya, Yonghwa merasa sangat teramat lega dan bahagia, bibir itu kini membalas lumatannya. Membawa mereka dalam sebuah ciuman panjang nan merindukan. Ciuman yang kembali basah karena tangisan, bedanya waktu itu karena tangisan kesedihan. Tapi kini, ciuman itu basah karena airmata bahagia.

“Saengil chukahae..”. Seohyun berbisik lirih dalam ciuman mereka. Yonghwa melepaskan pagutan itu. Memandang tak percaya pada istri cantiknya, belahan jiwanya.

“Maaf kalau aku telat Oppa. Saengil chukahae, sayang..”

Yonghwa tersenyum sangat manis sekarang, kebahagiaan berlimpah ia dapatkan hari ini. Dan sekali lagi, ia mengecup bibir itu, sedikit melumatnya pelan.

“Terima kasih. Terima kasih telah menutup hari ulang tahunku dengan keajaiban membahagiakan, sayang…”

~~

‘Sekali lagi aku tegaskan. Aku benar-benar tak ingin kado yang berlebihan untuk ulang tahunku. Hanya dengan melihat mata dan senyumanmu, itu sudah merupakan anugerah terindah sekaligus kado terbaik dalam hidupku. Terima kasih, Tuhan. Aku mencintaimu, Seohyun-ku..’

 

‘Aku merasa tersesat dalam kegelapan kemarin. Dan rasanya sangat mengerikan. Namun kau hadir menyemangatiku, memintaku untuk bangkit. Aku bertahan karena cintamu, dan aku sadar karena dirimu. Terima kasih, Tuhan. Selamat ulang tahun suamiku. Aku juga mencintaimu, Yonghwa-ku..’

~~

 

 

END

 

 

Notes : FF ini dibuat kilat ditengah insomnia author. Dari jam 9 sampe jam setengah dua tengah malem baru kelar. Dan diposting pas hampir jam 2 dini hari. *sakit jiwa ==’

Mian kalo banyak typo, alur kecepetan, feel kurang dapet dan banyak kekurangan. Mengingat singkatnya pembuatan FF ini. Kalo mau afdol, mending sambil denger backsoundnya deh. Dijamin mewek😄.

Sekedar pemberitahuan, sbenernya FF I’m Still In Your Love Story Chapter 3 itu udah hampir kelar dari lama. Tapi bagian akhirnya yg masih galau nih. Udah beberapa kali dihapus dan diedit. Mungkin karena author banyak pikiran dan ngerasa ba-bi-bu nya kurang sreg *alesan klasik* Jadinya ga posting-posting deh .___. Doain weny dapet pencerahan cepet ya~

So, terakhir nih, weny minta yg udah baca ayo kasih jempol dan komen kalian banyak2 ^o^.. *kasih bibir minhyuk* #eh?

Terakhir.. (ini benar-benar terakhir)

Yah, meski telat tapi weny tetep mau ngucapin…

SAENGIL CHUKAHAE NAE OPPA …

JUNG YONGHWA :*

 

Hope you’re be better and still in love with Hyun eonnie😄

*angkat banner YS tinggi-tinggi XD*

27 thoughts on “[FF Event – Yonghwa’s Birthday] The Best Present in My Life It’s YOU.

  1. Yongseo is back
    Ini nih yg namax cinta sejati❤

    Yongppa happy birthday,,,,berjuta cinta untuk mu❤❤❤❤❤❤❤

  2. yongseo yongseo yongseo *yelyelgila*
    iri bgt sama seo unnie bisa punya suami super setia kaya yoong oppa,semoga mereka bener” nikah nantinya🙂

  3. hyaaaa!! sedih banget ficnya. apalagi pas dibagian: “Ini ulang tahunku, Eomma. Begitu beratkah permintaanku pada Tuhan untuk membuat Seohyun sembuh, Eomma, Eommonim?” huweeeee pandanganku buraaamm😥 suka banget sama fic ini eonni😀

    mau ucapin lagi, ah meskipun telat😄
    Saengil chukkae Yonghwa oppa! all the best for you! ^ ^

  4. daebak . aku ikutin saran author baca smbil dengerin tiga lagu recommended itu, asli hancur hancur hatiku (eh?) mksdnya jd dpt bgt feel-nya . suka-nya dapet, suka-nya juga iya ^_^
    pokonya ditunggu deh ff yongseo yongseo yg lain . eh aku goguma shipper sih, hehe~

  5. yongseo yee *tebar mawar* weny oen, alur ceritanya bagusss banget suka banget deh , benar2 mendeskripsika cinta tiada akhir *halah*
    dan yang pasti bikin mewek T,T

    ditunggu lanjutannya oen..

  6. suka ceritanya!!! aaa bener2 beruntung bisa punya suami kayak yonghwa🙂
    semoga aja suatu saat nanti yonghwa seohyun beneran nikah🙂

  7. Uwaaaaaaaahhh daebakk! Sumpah aku seneng bacanya :’) sampe kebawa perasaan nih, yonghwa romantis banget deh kata katanya, dan lebih bagusnya lagi happy ending :’) YONGSEO IS REAL❤

  8. Daebakkkk bgt ceritanya
    klo bikin nya dlm insom aja bs sebagus ini aplg klo lama pake planning
    gue mewek badaiiii ga pake dgr backsound aja udah butuh tissu
    daebakkkk

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s