As Long As You Love Me

 

As Long As You Love Me

Title : As Long As You Love Me

Author : @AiXia0929

Rating : PG17

Genre ; Romance

Length : 5 shoot

Cast:

–          Kim Jang Li

–          Kang Min Hyuk

Disclaimer : ini FF asli bikinan aku sendiri, kalau ada yang ceritanya mirip-mirip. Itu dikarenakan ketidaksengajaan kesamaan ide. Terima kasih🙂

Note : check my other FF http://glasses-girl.blogspot.com/

 

As Long As You Love Me (Part 1)

 “JangLi, ini ibumu sekarang dan ini Oppa-mu, Kang Minhyuk.” Kata ayahku sambil memperkenalkan dua orang di hadapanku. Aku hanya memperlihatkan wajah masam pada mereka. Kau tanya mengapa? Yah, siapa yang tidak kesal punya Ibu baru? Ibuku telah meninggal. Dan ayahku menikah lagi dengan seorang janda beranak satu sementara aku tetap tidak bisa melupakan Ibuku. Ditambah lagi aku punya saudara tiri. Menyebalkan.

“Bangabseumnida.” Kata Ibu baruku itu.

“Bangawoyo.” Aku langsung menuju kamarku dan menidurkan tubuhku di atas ranjang. Aku merenung menatap langit-langit. Tak lama kemudian ayahku datang masuk ke kamarku.

“JangLi, Appa tau kau masih belum bisa menerima ini. Tapi ini demi mengurus dirimu. Appa tidak punya cukup waktu untukmu.” Kata ayahku menghiburku.

“Appa pikir aku akan bahagia?” tanyaku tanpa menoleh sedikitpun.

“Appa yakin kau bisa bahagia seperti dulu. Kau anak yang kuat JangLi. Ayah pesan padamu, jaga Oppa barumu itu.” Kata Appa kemudian.

“Menjaganya? Waeyo?”

“Ia mempunyai kelainan. Perkembangan dan pertumbuhannya lambat. Itu menyebabkan sifatnya masih seperti anak-anak. Kau harus lebih bisa mengerti keadaannya.” Ucap ayahku. Ini gila. Aku masih belum bisa terima dengan pernikahan ini lalu ayah sudah menyuruhku macam-macam. Menyusahkan saja.

“Terserahlah.” Aku beranjak meninggalkan kamarku dan pergi keluar rumah.

“Kau mau kemana?” Tanya Appa.

“Ke rumah teman.”

*****

Aku melempar tubuhku ke atas sofa. Aku baru pulang sekolah. Aku lelah. Tugasku menggunung. Aku tak kuat menghadapi deretan kata berjajar rapi menunggu untuk kujawab dan kupelajari. Aku sangat kelelahan. Aku membuka salah satu bukuku. Memandanginya dan membacanya. Baru kulihat saja kepalaku sudah cenat cenut *eeaa.

“Annyeong…” seseorang menghampiriku dan duduk disampingku. Ia Minhyuk. Oppa tiri-ku. Aku sedikit terpaksa memanggilnya Oppa.

“Annyeong.” Sahutku malas-malasan.

“JangLi sedang apa?” kata Minhyuk. Aku meliriknya sekilas dan kembali menatap soal-soal di bukuku itu.

“Belajar.” Jawabku singkat.

“Minhyuk bisa membantu JangLi.” Katanya lagi.

“Jinjja? Kerjakan saja kalau bisa.” Aku melempar bukuku ke atas meja. Dan dia melihatnya kemudian menulis sesuatu. Awalnya aku tak peduli. Kemudian aku penasaran dan melihat pekerjaannya. Mataku melotot.

“Kau mengerti semua ini?” tanyaku menatapnya dengan serius. Minhyuk mengangguk.

“Minhyuk pernah mempelajari itu.” Kata Minhyuk dengan wajah polosnya.

“Waw…” aku tersenyum lebar tak percaya.

*****

Aku meminum secangkir teh hangat di teras rumah. Akhir-akhir ini aku sering melamun entah mengapa. Lalu Minhyuk datang menghampiriku.

“Bolehkah Minhyuk duduk?” tanyanya. Aku mengangguk. Minhyuk lalu duduk di sampingku. Ia menyodorkan sebatang cokelat padaku. Aku memandanginya.

“Mworago?” tanyaku.

“Wajah JangLi kelihatannya sedih.” Jawabnya.

“Lalu kenapa kau berikan cokelat?”

“Cokelat dapat menghilangkan stress.” Katanya. Aku hanya tertawa. Ia heran melihat tingkahku.

“Gomawo.” Aku menerima cokelat dari Minhyuk. Ia istimewa. Ia dapat mengetahui perasaan orang lain. Sepertinya aku terlalu tertekan dengan pernikahan Appa.

“Ah, tidak apa-apa.” Kata Minhyuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia begitu polos dan jujur. Sebenarnya ia anak yang baik. Entah mengapa aku belum bisa menerimanya.

*****

Aku duduk di balkon sambil menatap bintang. Merenung. Entah apa yang aku pikirkan saat ini. Tiba-tiba ibu tiriku menghaampiriku dan duduk di sampingku.

“Kau belum tidur?” tanyanya.

“Aku tidak mengantuk.” Sahutku singkat.

“Geurae. Tapi jangan tidur terlalu larut. Besok kau harus sekolah.” Kata Ibuku itu. Aku menoleh padanya dan mulai mengajaknya bicara.

“Mengapa Eomma menikahi Appa-ku?” tanyaku tanpa rasa bersalah.

“Mwo? Kau Tanya mengapa?” Ibuku itu balik bertanya.

“Ne. Kau bisa beritahu aku?”

“Aku ditinggal suamiku saat masih mengandung Minhyuk. Ia jahat. Ia pergi entah kemana. Saat itu aku sendirian. Aku tidak punya siapa-siapa yang bisa membantuku. Aku membesarkan Minhyuk seorang diri. Aku menikahi ayahmu untuk Minhyuk. Untuk hidupnya.” Terangnya. Aku merasa bersalah selama ini menghiraukannya. Ternyata masalahnya sangatlah pelik.

“Aku berharap kau mendapatkan pria yang baik. Aku tak ingin nasibmu seperti diriku.” Katanya dengan mata berkaca-kaca.

“Ne. Gomawo.”

*****

Pagi yang cerah. Aku sarapan bersama keluargaku. Aku memakan roti bakarku *gak di FF ga di kenyataan gue makannya roti!*. Minhyuk menuang kan segelas susu dan menyodorkannya padaku. Aku memandang segelas susu itu dan memandangnya secara bergantian. Aku melihatnya yang sedang tersenyum padaku. Lalu aku menghiraukannya.

Minhyuk terdiam. Senyumnya menghilang. Ia menaruh gelas susu itu di dekatnya. Aku kasihan padanya. Ternyata selama ini, aku lebih beruntung. Ia tidak bisa mengalami masa indah bersama ayah dan ibunya dengan segala kekurangannya. Aku lalu mengambil gelas susu itu dan meminumnya. Sekilas aku memandang pada Minhyuk. Senyumnya kembali mengembang. Aku kagum padanya. Ia yang selalu tersenyum.

*****

Aku memakai sepatuku. Dan bergegas pergi. Lalu Minhyuk berdiri di depan pintuku dan menghentikan langkahku.

“JangLi mau kemana?” Tanya bocah itu.

“Ke rumah Jonghyun. Waeyo?” aku balik bertanya.

“Mau apa?”

“Mau mengambil bukuku. Wae? Mau ikut?” aku menawarkannya. Ia tersenyum lebar padaku dan mengangguk. Ia mengambil jaketnya dan mengenakan sepatunya.

Rumahku dan Jonghyun berdekatan. Jadi aku pergi hanya dengan berjalan kaki juga akan cepat sampai. Kami terdiam sampai aku membuka pembicaraan.

“Oppa, mengapa kau selalu tersenyum?” tanyaku.

“Kenapa? Karena Minhyuk senang.” Jawabnya singkat.

“Bagaimana caranya kau bisa terus senang dan tersenyum?”

“Minhyuk senang bertemu orang yang juga senang bertemu Minhyuk . Jadi Minhyuk hanya ingin membalas senyum mereka.” Kata Minhyuk. Orang ini jujur sekali.

“Begitukah?” tanyaku lagi.

“Karena ada JangLi juga.” Katanya lagi. Aku menoleh padanya “Mwo?”

“Minhyuk senang bersama JangLi.” Kata Minhyuk. Aku tertawa kecil.

“Aku juga senang bersama Minhyuk.” Kataku. Minhyuk tersenyum lebar. Tak lama kemudian kami sampai ke rumah Jonghyun.

“Jonghyun-ah! Dimana kau sembunyikan buku tugasku?” tanyaku pda Jonghyun yang sedang menonton televisi. Jonghyun meminjam bukuku. Ini aneh kan? Bukankah seharusnya ia yang mengembalikan buku dan mengantarnya padaku? Tapi malah aku yang mengambil ke rumahnya. Aku datang ke rumahnya bersama Minhyuk. Minhyuk sekarang malah menonton televisi bersama Jonghyun.

“Di rak buku sebelah sana.” Kata Jonghyun.

“Nah, ini dia! Aku akhirnya menemukan buku tugasku. Buku itu terselip di rak buku Jonghyun yang berantakan. Aku pun menghampiri Jonghyun dan Minhyuk yang nampaknya serius menonton televisi. Aku pun menatap layar televisi karena penasaran apa yang ditonton mereka.

“Ya! Oppa mengapa menonton film seperti ini?” seruku pada Minhyuk.

“Memangnya kenapa?” Tanya Minhyuk.

“Waeyo? Ini kan Cuma film drama.” Kata Jonghyun santai.

‘Ah, sudahlah. Kajja, Oppa. Kita pulang.” Aku menarik tangan Minhyuk dan bergegas pulang.

“JangLi, Minhyuk boleh bertanya?” kata Minhyuk saat kami di jalan.

“Tanya apa?”

“Mengapa pria yang di film mencium bibir wanita yang di film itu?” Tanya Minhyuk tiba-tiba. Aku tertegun. Aku mau jawab apa?

 

As Long As You Love Me (Part 2)

“Mengapa pria yang di film mencium bibir wanita yang di film itu?” Tanya Minhyuk tiba-tiba. Aku tertegun. Aku mau jawab apa?

“Aaa, ehhmm.. Sudahlah lupakan.” Ucapku. Lalu aku memandang Minhyuk yang diam. Minhyuk punya rasa ingin tahu yang tinggi. Aku ingin memberitahunya, tapi bagaimana?

“Pria itu mencium wanita itu karena pria itu mencintai wanita itu.” Jawabku asal. Yah, tidak asal juga sih. Tapi hanya itu yang aku tahu.

“Cinta? Apa itu cinta?” Tanya Minhyuk lagi. Aduh, kenapa anak ini memusingkanku.

“Ehhm, cinta itu.. kasih sayang lebih. Rasa sayang kita pada seseorang yang terus ingin menjaga orang yang kita sayang. Tak ingin ia terluka ataupun jadi milik orang lain.” Jawabku mengarang bebas. Hahaha, aku tak tau apa yang ku katakan benar atau tidak.

“Jinjja? Kalau begitu Minhyuk cinta JangLi.” Kata Minhyuk dengan jujur.

“Mwo? Jeongmal?” tanyaku.

“Ne. Minhyuk mau menjaga JangLi.” Katanya lagi. Aku tertawa kecil.

“Kenapa Oppa mencintaiku?”

“Karena JangLi cantik dan baik hati pada Minhyuk.” Ucapnya sambil tersenyum aku tahu orang ini tak mungkin berbohong.

“Haha.. Kau tak bisa membedakan yang mana yang cantik dan baik.” Ujarku.

“JangLi cinta Minhyuk?” aku tertegun saat Minhyuk menanyakan itu.

‘Ne. aku sayang pada Oppa.” Jawabku. Minhyuk menunjukan senyum manisnya.

“Waeyo?”

“Karena Oppa baik, lucu, dan pintar.” Ucapku.

“Apakah Minhyuk pintar?” Tanya Minhyuk.

“Ne. hahaha.”

*****

“JangLi, Minhyuk, Eomma pergi dulu ya.” Kata Ibuku itu sambil bergegas keluar rumah.

“Ne.” jawabku singkat sambil terus membaca buku. Ibuku harus pergi ke swalayan untuk makan malam kami. Ayah harus bekerja dan biasanya pulang malam. Jadi ia meninggalkan aku dan Minhyuk berdua di rumah.

Aku merasakan haus di tenggorokanku. Jadi aku menuruni tangga rumahku untuk mengambil minum di dapur yang ada di lantai bawah. Aku masih serius dengan bacaanku. Aku tak berpaling sedikitpun dari tulisan yang ada di bukuku itu. Sehingga aku lengah dan terjatuh dari tangga.

BRUUK!

“Ah.. Aw..”aku berteriak cukup kencang. Aku memijat mijat kakiku yang sakit. Sepertinya terkilir. Jeongmal, rasanya sakit sekali. Aku melihat Minhyuk yang berlari menghampiriku.

“JangLi-ah, gwenchanayo?” Tanya Minhyuk.

“Ne, gwenchana. Tapi kakiku sakit sekali. Aku tak bisa berdiri.” Rintihku sambil mencoba berdiri. Kakiku seperti tak bisa digerakan. Bergerak sedikit sangat sakit. Aku melihat wajah Minhyuk yang panic. Lucu, ia nampak berpikir.

“JangLi, naiklah ke punggung Minhyuk.” Kata Minhyuk.

“Mwoga?”

“Akan Minhyuk bantu.” Minhyuk menggenggam tanganku dan membantuku naik ke punggungnya. Rasanya masih sakit. Tapi entah mengapa aku tidak terbebani dengan rasa sakit itu. Minhyuk lalu menggendongku.

“Apa yang Oppa lakukan? Kita mau kemana?” tanyaku pada Minhyuk yang sedang mengunci pintu rumah.

“Ke klinik.”

“Aku kan tidak sakit parah.”

“Tapi JangLi sakit. Minhyuk tak mau JangLi sakit.” Ucapnya sambil terengah-engah. Aku hanya terperangah menatapnya. Entah sejak kapan, dan aku baru menyadari bahwa aku mulai menyukai bocah polos dan lugu ini.

Minhyuk berlari sambil menggendongku mencari klinik terdekat. Orang-orang memperhatikan kami berdua. Aku menegur Minhyuk “Oppa tak usah serepot ini.”

“Minhyuk tidak apa-apa. Minhyuk senang menggendong JangLi.” Katanya.

“Apakah aku tidak berat?”

“Sangat berat.”

“Ih, Oppa…” rengekku. Aku menyandarkan kepalaku di punggungnya dan memeluknya. Entah mengapa kini aku tak peduli dengan orang-orang disekitarku yang memandang kami. Bahkan aku sangat senang saat ini.

*****

“Kakiku sudah baikan, gomabseumnida.” Ucapku pada dokter dan seorang perawat. Aku turun dari kasur dan Minhyuk memegang tanganku.

“Nan jeongmal gwenchana.” Kataku pada Minhyuk. *bener ga tuh bahasa?* Wajahnya pucat. Hei, ia benar-benar khawatir padaku ya?

“Oh, geurae.” Kata Minhyuk sambil tersenyum.

Aku berjalan di samping Minhyuk. Ia hanya memperhatikanku. Cara berjalanku masih terlihat pincang. Mungkin ini yang membuatnya memperhatikanku. Ataukah aku yang terlalu percaya diri? Aku lalu menarik tangan Minhyuk dan memeluk lengannya. (?)

“Bantu aku ya?” kataku pada Minhyuk yang terheran heran. Lalu ia tersenyum lebar dan berkata dengan tegas “Pasti…”

Aku sampai di rumah. Eomma masih belum pulang. Minhyuk mengantarku sampai ke kamarku. Aku duduk di atas kasurku.

“Gomapta, Oppa..”

“Ah, gwenchana…” kata Minhyuk sambil tersenyum menatapku. Kami bertatapan. Minhyuk menatap mataku tajam. Ia mandekatkan wajahnya ke wajahku.

“JangLi, Minhyuk, Eomma pulang.” Seru Ibuku. Ia sudah pulang rupanya. Minhyuk menjauhkan wajahnya. Ia lalu pergi menghampiri Ibunya. Jantungku berdebar. Sampai sekarang debaran kencang ini terus terjadi. Oh, lupakan. Aku menuju dapur dan juga menemui Ibuku.

*****

Aku duduk sendirian di depan rumahku. Menatap bintang malam. Kaki-ku masih sakit. Tapi kini sudah lebih baik. Mungkin besok baru akan sembuh. Tiba-tiba Minhyuk datang menghampiriku.

“Annyeong!” sapanya.

“Oppa, annyeong. Oppa mengagetkanku saja.” Sahutku pada Minhyuk. Ia hanya tertawa kecil.

“Kenapa JangLi belum tidur?” Tanya Minhyuk.

“Memangnya kenapa? Oppa juga belum tidur.” Aku balik bertanya padanya.

“Minhyuk tidak bisa tidur nyenyak kalau JangLi belum tidur. Kenapa JangLi belum tidur?” ia mengulang pertanyaannya. Hahaha. Dasar Kang Minhyuk. Mengapa member jawaban yang membuat pipiku merah?

“Aku tidak bisa tidur.” Jawabku.

“JangLi insomnia?”

“Aniyo.”

“Lalu kenapa?”

“Molla.” Ucapku dengan pandangan kosong. Tiba-tiba Minhyuk mendorong kepalaku dan mendekatkannya ke bahunya. Ia lalu membelai rambutku dengan lembut.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” seruku.

“Kalau Minhyuk tidak bisa tidur Eomma selalu begini terhadap Minhyuk. Baru Minhyuk bisa tidur.” Ucapnya polos. Aku memandangnya. Aku tidak mengelak, sejujurnya aku sangat senang hari ini. Aku lalu memeluk pinggang Minhyuk.

“Seandainya saja kita bukan saudara, apa yang terjadi ya?” kataku tiba-tiba.

“Minhyuk tidak mau.” Katanya. Aku memandangnya lagi dan bertanya “Waeyo?”

“Kalau kita bukan saudara, kita belum tentu bisa bertemu. Minhyuk mau bersama JangLi.” Katanya.

“Mengapa Oppa ingin bersamaku?” tanyaku.

“Karena Minhyuk mencintai JangLi.”  Aku tercengang. Kalau dipikir-pikir, Minhyuk telah menyatakan cintanya padaku 2 kali. Entah mengapa, aku sangat bahagia saat ini. Lebih bahagia karena aku mempunyai orang yang mengerti diriku. Apakah sekarang aku juga mulai mencintainya?

*****

PRANG!

Aku mendengar suara barang pecah dari ruang tamu. Aku segera menghampiri asal suara itu. Perasaanku tidak enak. Aku tahu sesuatu hal akan terjadi. Dan benar, yang ku khawatirkan terjadi. Aku melihat Minhyuk yang sedang berdiri mematung.

Sakit rasanya. Aku memandangi vas kesayangan Ibu kandungku yang kini hancur berkeping-keping. Aku tau ia memecahkannya, Minhyuk menghancurkannya! Entah disengaja atau tidak aku tak peduli. Benda itu adalah benda kesayangan Ibuku. Dan hanya itu barang yang menjadi kenangan bagiku dan Ibu.

Aku memandang tajam ke arah Minhyuk. “Kau tau seberapa berharga barang ini?” tanyaku seraya meninggikan nada suaraku. Minhyuk diam.

“Taukah kau ini tak bisa diganti oleh apapun!!!” aku berteriak dengan suara parau. Air mataku tumpah. Aku segera berlari menuju kamarku.

Author’s POV..

“JangLi-a… JangLi-a…” Minhyuk memanggil-manggil JangLi. Minhyuk berjalan menuju kamar JangLi. Tapi kakinya tertusuk kepingan vas yang pecah. Kakinya berdarah. Tapi minhyuk tetap berlari dan mengetuk-ngetuk pintu kamar JangLi.

“JangLi-a.. Mianhaeyo..” Minhyuk merintih. Suaranya bergetar menahan sakit.  Wajahnya pucat. Tiada siapa-siapa di rumah yang bisa membantunya. Ayah dan Ibunya sedang pergi. Hanya ada ia dengan JangLi di rumah. Ia tak bisa berjalan untuk mengobati lukanya.

“JangLi, tolong.. Jebal..”  rintih Minhyuk sambil mengetuk pintu. JangLi tampak tak peduli sama sekali. Minhyuk tetap memanggilnya. Sampai akhirnya Minhyuk berhenti memanggil JangLi dan bersandar di dinding. Ia hanya menunggu sampai ada yang bisa membantunya. *gue kejam yak?*

 

As Long As You Love Me (Part 3)

JangLi’s POV…

“JangLi, tolong.. Jebal..” terdengar suara Minhyuk yang nampaknya sedang kesulitan. Ada apa dengannya? Tapi aku terlanjur kesal padanya. Ia telah memecahkan vas kesayangan ibuku. Mungkin hanya itu bkenangan darinya selain foto-fotonya. Dulu, aku membeli itu bersama Ibu. Tapi sekarang kenangan itu telah hancur.

Aku menangis di kamarku. Aku meningat-ingat Ibuku. Kalau saja Ibu sekarang masih ada, mungkin hidupku akan lebih bahagia. Tapi mungkin juga aku tak bertemu lagi dengan Minhyuk. Seketika namja itu berhenti memanggil namaku. Ada khawatir sesuatu terjadi padanya. Entah mengapa aku seperti punya firasat buruk.

Karena penasaran aku membuka pintu kamarku. Aku mengintip Minhyuk yang sedang bersandar di dinding. Aigo, dia kenapa? Apakah aku harus menghampirinya? Hei, aku ini sedang marah padanya tapi… tapi aku tak bisa melihat wajahnya yang sedih.

“Oppa, gwenchanayo?” tanyaku akhirnya menghampiri Minhyuk. Aigo, apa yang terjadi? Wajahnya pucat dan di tubuhnya mengucur keringat dingin. Ia terdiam menahan rasa sakit. Aku menatap kakinya yang bercucuran darah. Oh Tuhan, apakah Minhyuk menginjak kepingan pecahan vas Ibu?

“Oppa, apa yang kau lakukan? Pendarahanmu harus di hentikan (?). Kau bisa berdiri? Aku akan membantumu.” Aku memegang tangan Minhyuk. Tapi Minhyuk menggenggam tanganku.

“JangLi.. Mianhae.” Ucap Minhyuk lirih. Apakah ia benar-benar tak memikirkan keadaan kakinya? Malah namja ini terus meminta maaf padaku. Ia merasa sangat bersalah. Padahal, Ia tak sepenuhnya salah.

“Sudahlah. Gwenchana, Oppa.” Ucapku sambil bergegas menuju dapur untuk mengambil kotak obat (?). Aku membersihkan luka di kaki Minhyuk dan mengobatinya. Setelah itu aku membalut lukanya.

“JangLi sudah memaafkan Minhyuk?” tanyanya tak yakin padaku.

“Ne. biarkanlah hal itu terjadi. Lagipula, Oppa kan tak sengaja.” Ujarku pada Minhyuk. Kini senyum manisnya mengembang di bibirnya. Tampak wajahnya terlihat lega meskipun telapak kakinya yang terluka.

“JangLi, Gamsahamnida.”  Kata Minhyuk. Aku menyadari, bahwa aku tak bisa marah padanya.

***

Aku membereskan pecahan vas yang berserakan. Air mataku menitik. Aku brusaha tegar. Aku tak tega melihat Minhyuk yang sangat bersalah tapi bagaimana dengan vas ini? Ibu sangat menyukai vas ini. Namun, apakah kenangan itu akan terbuang? Andwae. Aku akan menyimpan pecahan ini. Meskipun bentuknya tak seperti dulu lagi. Kenangan Ibu sama sekali tak akan berubah. Dan selalu di dalam hatiku.

*****

At Night…

“Lebih baik kau istirahat saja.” Kata Ibu. Ibu sudah mengetahui apa yang dialami Minhyuk. Minhyuk hanya menganggukan kepalanya sambil berbaring di atas kasur. Lalu Ibu pergi keluar kamar.

“Cepatlah kau tidur.” Aku menyusul Ibu yang sedang berjalan keluar. Tiba-tiba Minhyuk menarik tanganku.

“Mworago?” tanyaku.

“Temani aku dulu.” Ucapnya manja.

“Ya, kau kan sudah besar. Untuk apa ditemani?” tanyaku pada Minhyuk dengan wajah yang terheran-heran.

“Molla. Minhyuk hnya merasa takut.”

“Takut? Apa yang kau takutkan?”

“Minhyuk takut tak bisa melihat wajah JangLi lagi.” Katanya sambil memandangku tajam. Apa yang ia bicarakan? Minhyuk bukanlah anak yang terlahir normal. Tapi aku tau bicaranya tak pernah asal. Apa maksudnya?

“Bicara apa kau ini!” seruku. Aku lalu duduk di sebelah Minhyuk yang sedang berbaring. Ia mengikutiku. Ia duduk di sebelahku. Kami bersandar di dinding.

“Kau tidak mengantuk?” tanyaku memecah suasana. Minhyuk menggelengkan kepalanya. Lalu aku kembali terdiam. Minhyuk juga. Bingung apa yang ingin di bicarakan. Tiba-tiba Minhyuk menyandarkan kepalanya di bahuku. Haha. Namja ini ada-ada saja. Selalu membuatku geli dengan tingkahnya yang polos.

Aku menatap wajahnya yang tampak riang. Terpancar di wajahnya. Seharusnya tadi aku tak perlu marah dengannya. Aku ditinggal Ibuku hanya setahun lalu. Aku masih bisa merasakan kebahagiaan yang Ibu dan Ayah berikan padaku meski sebentar. Sedangkan Minyuk? Ia ditinggal ayahnya sejak kecil. Ia tak pernah merasakan kasih sayang ayahnya ataupun melihat wajah ayahnya. Aku sungguh lebih beruntung.

“Oppa…” aku memanggil Minhyuk setengah berbisik.

“Hm?” Minhyuk mengadahkan kepalanya menatapku.

“Kau rindu pada Appa-mu?” tanyaku tiba-tiba.

“Minhyuk punya dua Appa. Minhyuk suka dengan Appa Minhyuk yang sekarang. Minhyuk benci Appa Minhyuk yang dulu. Dia sudah membuat Eomma sedih.” Katanya dengan jujur.

“Bagaimana jika Oppa bertemu Appa yang Minhyuk benci?”

“Aku tak mau bertemu. Tapi aku mau ia minta maaf pada Eomma.” Katanya.

“Geureongayo?” tanyaku. Lagi-lagi Minhyuk hanya mengangguk. Minhyuk memelukku. Namja ini membuatku berdegup.

“Aku senang bertemu dengan JangLi.” Katanya. Ia memejamkan matanya. Aku membelai rambutnya. Ia tidak tampak seperti Oppa-ku. Ia tampak seperti anak TK sekarang. Lucu. Entah, tapi aku menyukainya apa adanya. Apakah aku sudah mulai jatuh cinta padanya? Ani! Tidak boleh. Tapia pa aku harus membohongi perasaanku sendiri?

Aku menatap Minhyuk lagi. Aku rasa ia sudah tertidur pulas di bahuku. Aku lalu membaringkannya. Aku memandangnya sebentar. Apa yang harus aku lakukan terhadap bocah ini? Selamanya, aku tak akan pernah menjadi miliknya. Sekalipun ia mencintaiku, ia adalah saudaraku. Meski ia bukan saudara kandungku.

*****

Siang ini terik sekali. Menyebalkan. Mengapa sekolahku itu memiliki peraturan yang seabrek sih? Mengapa mereka memulangkan siswanya jam segini. Aku sangat lelah. Aku memasuki rumahku. Mataku celingukan mencari apa ada orang di rumah.

“BBA~!”

“AAAAA~~!!” aku berteriak kencang. Aku terkejut. Spontan aku meneriakannya. Seseorang di depan mataku menutup telinganya. Tampak ia dibuat rebut olehku. Dia yang mengagetkanku, Minhyuk.

“Teriakan JangLi berisik sekali!” seru Minhyuk sambil cemberut.

“Siapa suruh mengagetkanku?” aku membalas perkataanya. Minhyuk hanya tersenyum menyadari perbuatannya.

“Minhyuk punya sesuatu untuk JangLi.” Katanya ceria.

“Mwoga?”

“Tapi JangLi harus tutup mata dulu.”

“Waeyo?”

“Pokoknya tutup mata dulu!” perintahnya. Aku hanya menurutinya. Aku menutup mataku. Memangnya apa yang mau ia berikan untukku? Tunggu sajalah apa yang akan ia lakukan.

“Sekarang JangLi boleh membuka mata.” Kata Minhyuk. Aku membuka mataku perlahan. Aku menatap benda di depan mataku. Aku terperangah. Minhyuk menyodorkan benda itu padaku. Benda yang sudah rapuh dan sangat berarti bagiku.

“Vas bunga Ibuku?” tanyaku tak percaya. Minhyuk mengangguk mantap. Minhyuk telah menyusunnya kembali. Dari kepingan-kepingan yang telah ia pecahkan ia bentuk lagi menjadi sebuah vas yang cantik seperti dulu. Meskipun bentuknya tak rapi dan masih terdapat bekas pecahan. Aku sungguh kagum.

“Gomawo.” Aku memeluk Minhyuk. Berterima kasih padanya. Ia tak seharusnya melakukan ini. Kini, vas itu kembali. Aku tertawa sambil menitikan air mata. Perbuatannya sungguh konyol, tapi ia mampu menyelesaikan semua ini.

“Ah, gwenchana.” Katanya polos. Aku sangat bahagia. Aku diberi kesempatan bertemu dengannya. Tuhan, inikah yang kau berikan untuk mengatasi kesedihanku?

Aku melepaskan pelukanku dari Minhyuk. Aku menghapus air mataku. Aku lalu meletakkan kembali vas itu di tempat semula. Aku tersenyum. Aku memandang Minhyuk yang tersenyum lebar.

“Kau mau ikut aku?” ajakku.

“Eodilo?” Tanya Minhyuk.

“Mau ikut tidak?” aku balik bertanya. Minhyuk mengiyakan ajakanku. Aku meminta izin pada Eomma untuk mengajak Minhyuk pergi. Eomma pun mengizinkannya. Hanya dengan berkata “Minhyuk akan baik-baik saja!” izin pun didapatkan. Hehe.

*****

“Kenapa JangLi mengajakku kesini?” Tanya Minhyuk.

“Aku suka kesini. Dulu. Bersama Ibuku.” Aku menatap Sungai Han yang indah. Matahari bersinar terik menghiasi sore ini. Membuatku ingat beberapa tahun lalu saat aku bersama Ibu ada di sini. Saat pertama ke sini aku masih sangat kecil. Ke Jembatan Seongsan. Aku kembali teringat Ibu. Dan sepertinya aku mau menangis. Aku menitikkan air mataku.

Tiba-tiba Minhyuk menghapus air mataku. Aku menjauhkan wajahku dari tangannya. Aku menghapus air mataku sendiri dan tertawa.

“Hahaha.. Mengapa aku jadi pabo begini?” ucapku mengalihkan pembicaraan.

“JangLi-a..” Minhyuk memanggilku. Aku memandangnya yang sedang menatap mataku tajam.

“JangLi jangan menangis.” Katanya.

“Aku tidak menangis.”

“Bohong. Cup cup cup. Jangan nangis lagi. Nanti jadi jelek.” Ucap Minhyuk sambil menepuk-nepuk kepalaku. Hatiku geli lagi-lagi dibuatnya.

“Iya. Aku tak akan menangis lagi.” Ucapku sambil tersenyum pada Minhyuk. Minhyuk membalas senyumku. Tapi ada sesuatu di wajahnya. Wajahnya pucat dan berkeringat. Ada apa dengannya?

“Oppa, kau sakit?” tanyaku khawatir.

“Ani.” Jawabnya tegas. Ia tidak merasa seperti orang sakit. Tapi aku tau pasti sesuatu akan terjadi. Aku harap ini hanya bayanganku. Aku hanya merasa khawatir padanya.

“Kajja!” aku mengajaknya berjalan-jalan melewati jembatan ini. Tapi seorang ajjushi paruh baya tampak sdang berlari dan terburu-buru sehingga ia menabrak bahu Minhyuk.

“Ah, yeongsohamnida.” Katanya sambil terus berlari. Minhyuk memperhatikan Ajjushi tersebut. Ajjushi itu juga sesekali memandang Minhyuk. Mengapa mereka saling berpandangan?

“Oppa, kajja!” ajakku.

*****

Aku pulang menjelang malam bersama Minhyuk. Setelah bermain-main tak ada tujuan di luar sana. Aku memasuki rumah. Gelap. Tampak tak ada orang. Aku menyalakan lampu di ruang tamu.

“Apa tidak ada orang?” aku memeriksa seisi rumah. Nampaknya Ibu sedang pergi.

“Dimana Eomma?” Tanya Minhyuk.

“Molla. Aku rasa Eomma pergi.” Jawabku.

“Kemana?” tananya lagi. Aku menggelengkan kepala sambil mengangkat bahu tanda tak tahu. Aku memandang keluar rumah. Angin malam yang dingin memasuki rumahku. Tanpa disengaja mataku termasuki debu.

“Ah~!” aku mengusap mataku yang perih.

“JangLi, waeyo?” Tanya Minhyuk lagi.

“Mataku termasuki debu.” Jawabku.

“jangan dikucek! (?)” kata Minhyuk. Ia mendekatiku dan meniup mataku yang termasuki debu. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Aku rasa debu itu sudah hilang. Aku melihat Minhyuk yang menatap kedua mataku tepat di hadapanku. Minhyuk menggenggam tanganku. Tangannya terasa dingin. Kami saling bertatapan.

“JangLi…” Minhyuk berbisik padaku.

“Ne?” tanyaku. Jantungku berdebar keras. Minhyuk semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku memejamkan mataku dan…

“Ya! Apa yang kalian lakukan huh?”

 

As Long As You Love Me (Part 4)

“Ya! Apa yang kalian lakukan huh?”

Aku membuka mataku dan menolehkan wajahku ke sumber suara itu. Yang aku takutkan terjadi. Eomma dan Appa pulang. Wajah mereka terpancar amarah. Habislah aku. Aku menjauh dari Minhyuk.

“JangLi, apa yang kau lakukan?” seru Appa. Ia menarik tanganku dan menatapku. Aku diam. Tak berani membalas tatapannya.

“Minhyuk, kenapa kau berbuat seperti itu? Waeyo? Apa yang ingin kau lakukan pada JangLi?” Tanya Eomma pada Minhyuk. Ia pasti marah bsar. Dan yang menjadi korban amarah adalah aku. Terang saja, Minhyuk tidak tau apa-apa. Eomma menghampiriku. Tanganku mulai berkeringat.

“JangLi-a, apa yang telah kau ajarkan pada Minhyuk, huh? Kau tak bisa menjaganya dengan baik! Kau kan tahu Minhyuk itu bukan seperti anak pada umumnya! Mengapa kau member tahu hal seperti itu kepadanya! Kalau bukan karena kau, Minhyuk tak akan jadi seperti itu!” Eomma melontarkan semua isi hatinya. Aku lemas. Tak mampu menjawab.

Minhyuk memegang bahu Eomma. “Eomma, kenapa Eomma marah-marah seperti itu pada JangLi? JangLi tidak salah Eomma.” Bela Minhyuk. Anak ini berani sekali membelaku di depan Eomma-nya.

“Tidak salah? Memangnya apa yang tadi ingin kau lakukan padanya?” Tanya Eomma. Aih, Minhyuk tak mungkin berbohong . Ia jujur. Dan ia pasti akan mengatakan yang sebenarnya.

“Minhyuk mau mencium JangLi.” Jawabnya tanpa rasa bersalah. Aku benar. Aku menggigit bibirku. Apa yang harus aku lakukan?

“Mwoga? Kenapa kau mau melakukan itu padanya? Kau tak boleh melakukan itu!” Wajah Eomma memerah. Mungkin Eomma sudah murka dengan semua ini.

“Karena Minhyuk mencintai JangLi.” Seru Minhyuk. Baru kali ini aku melihat wajahnya seperti itu. Wajah dengan penuh emosi yang tertahan di dalamnya. Minhyuk berjalan cepat menghampiriku. Ia menarik bahuku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku memejamkan mataku dan ia menciumku. Hei, apa-apaan ini? Minhyuk menciumku? Aku tak bisa mengelak dari ciumannya.

Minhyuk melepaskan ciumannya. Aku membuka mataku dan menatap Minhyuk di depan wajahku. Jantungku berdegup kencang. Aku tak bisa tenang sekarang. Yang jadi masalah adalah Minhyuk menciumku di depan Eomma dan Appa. Oh, Tuhan.

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Minhyuk. Aku menutup mulutku tanda terkejut. Appa menampar pipi Minhyuk. Appa pasti sangat marah atas perbuatannya. Minhyuk mengelus pipinya yang sekarang memerah karena tamparan itu. Eomma menarik bahu Appa.

“Apa yang kau lakukan pada Minhyuk-ku, huh? Kau tidak seharusnya menamparnya!” seru Eomma pada Appa. Minhyuk anak tunggal, dan aku tahu Eomma sangat menyayangi nak semata wayangnya itu.

“Mianhamnida. Tapi ia telah mencium anakku di depan mataku.” Kata Appa tak membela dirinya. Mereka saling mencaci maki. Mereka bertengkar karena aku. Ini semua salahku. Aku melihat Minhyuk yang sedang memijat kepalanya. Apa yang terjadi padanya?

BRUK! Minhyuk terjatuh dan tergeletak di lantai. Minhyuk pingsan. Aku pun menghampirinya dan berteriak “Oppa~!”

*****

Minhyuk segera dilarikan ke rumah sakit. Aku menunggu Minhyuk yang sedang mendapatkan pengobatan dan pemeriksaan lebih lanjut. Aku diam tertunduk. Aku tak mempedulikan orang di sekitarku.

“JangLi-a…” Eomma menegurku. Aku menoleh padanya. Suaranya parau. Ia seperti akan menangis. Aku tau ia menahan tangisnya.

“Aku harus bicara padamu.” Ucap Eomma lirih.

“Ne. Mworago?” tanyaku setengah berbisik.

“Dulu saat aku mengandung Minhyuk…” kalimat Eomma terputus.

“Ne?”

“Aku mengalami kecelakaan tabrak lari.”

“Huh?” aku tertegun tak percaya. Aku tak dapat berkata.

“Aku hampir mati tapi aku dan Minhyuk selamat. Dan saat itu aku melakukan operasi dan melahirkan Minhyuk. Karena itulah, Minhyuk mengalami gangguan pada mentalnya dan juga otaknya. Jadi…” Cerita Eomma panjang lebar.

“Jadi.. Minhyuk.. Apa maksud Eomma sebenarnya?” tanyaku penasaran.

“Minhyuk mengidap penyakit kanker otak.”

“Jangan bercanda.”

“Aku serius JangLi.” Kata Eomma sambil menangis. Aku tercengang. Air mataku mengalir. Aku tak bisa membendung tangisku. Minhyuk.. Orang yang selalu tersenyum. Orang yang kuat. Menderita kanker otak? Aku bermimpi. Katakan padaku kalau aku bermimpi. Aku memejamkan mataku dan mencubit pipiku. Aku membuka mataku dan masih dalam keadaan yang sama. Dan aku benci menyatakan aku tak bermimpi. Ini kenyataannya.

*****

Aku memandang Minhyuk yang sedang berada di ruang rawat inap. Minhyuk masih belum sadarkan diri. Matanya masih terpejam. Aku tak sanggup melihatnya seperti ini. Aku tak mau hidupku berjalan begitu saja tanpanya. Aku menggenggam tangannya. Aku menangis lagi.

“Pabo!” raungku.

“Nuguga?” aku menoleh pada Minhyuk. Ia membuka matanya. Minhyuk telah sadar.

“Oppa…”

“Minhyuk tidak pabo.” Katanya polos. Aku tertawa kecil.

“JangLi kenapa menangis?” tanyanya padaku.

“Aku tidak menangis.”

“Bohong. Jangan nangis lagi. Nanti jadi jelek.” Ucapnya pelan. Aku tertawa dan menghapus air mataku. Aku lalu tersenyum padanya.

“Ne. aku tak akan menangis lagi.” Ucapku riang. Dasar Minhyuk. Mengapa ia membuatku semakin tak ingin kehilangan dia? Tak lama kemudian Eomma dan Appa datang.

“Minhyuk-i, kau sudah bangun nak?” Tanya Eomma sambil membelai rambut anaknya. Minhyuk mengangguk dan bertanya “Minhyuk dimana?”

“Kamar baru.” Ucapku asal.

“Kamarnya jelek.” Protes Minhyuk. Aku tertawa lagi. Eomma dan Appa menemani Minhyuk. Aku memandang sekeliling. Aku melihat seseorang di luar kaca pintu. Ia tampak sedih menatap Minhyuk tanpa berpaling. Siapa dia?

Aku keluar kamar rawat dan menghampiri pria tadi. Ia tampak terkejut melihatku. Aku rasa aku pernah bertemu dengan pria ini. Pria ini yang menabrak Minhyuk saat kami di jembatan waktu itu. Mau apa dia ke sini?

“Nuguga?” tanyaku menatap wajah pria itu. Pria itu memalingkan wajahnya. Ia lalu bergegas pergi. Untungnya aku mencegahnya dan menarik tangannya.

“Mianhamnida, nuguseyo?” tanyaku sambil menaikan nada suaraku. Pria itu berganti menarik tanganku dan mengajakku ke suatu tempat jauh dari kamar Minhyuk.

“Ya! Maaf, Tuan. Untuk apa anda mengajakku ke sini dan siapa anda?” tanyaku penasaran. Aku mulai tak sabar. Pria itu menunduk.

“Aku… Aku adalah ayah kandung Kang Minhyuk.”

“Mwo?”

 

As Long As You Love Me (Part 5)

                “Mwo?” aku terkejut mendengarnya. Ayah kandung Minhyuk kembali? Ia datang secara tiba-tiba? Ini sulit dipercaya.

“Jeongmal? Lalu kenapa Tuan datang ke sini? Merasa bersalah, huh? Mengapa baru sekarang Tuan datang?” tanyaku bertub-tubi. Entah mengapa kini emosiku meluap.

“Ah, aniyo. Saat itu aku benar-benar tak punya uang. Aku sempat shock karena istriku kecelakaan. Sebenarnya waktu itu aku pergi untuk mencari uang. Aku terpaksa meninggalkan istriku dan Minhyuk. Aku benar-benar terpaksa karena uang.” Jelasnya panjang lebar.

“Kenapa tak sejak dulu Tuan mengakui hal ini pada istri Tuan? Itu hanya akan membuat mereka khawatir!” seruku tak sabar. Sebenarnya orang ini hanya ingin melakukan hal baik, entah mengapa ia tak mau berkata jujur.

“Aku tau istriku. Dia tak akan mengizinkanku pergi. Maka dari itu aku pergi secara sembunyi.” Jelasnya sambil tertundung. Di wajahnya tersimpan rasa penyesalan yang amat sangat.

“Ikut aku.” Ajakku pada Ajjushi tersebut.

“Eodiseo?” tanyanya.

“Terus terang pada istrimu dan Minhyuk.” Aku menggenggam tangan Ajjushi itu.

“Andwae. Masih adakah kata maaf dari mereka untukku?” Tanya Ajjushi itu. Ia melepaskan genggaman tanganku. Lalu ia berlari pergi entah kemana.

“Ya! Chamkkanman!” seruku. Tapi Ajjushi itu terus berlari tanpa menoleh. Aku menghela nafas panjang. Aku yakin ia pasti akan kembali lagi. Tapi sulit mengajaknya menemui keluarganya. Aku harap ia mau mengakui perbuatannya. Semoga.

*****

“JangLi, jaga Minhyuk sebentar ya.” Kata Eomma. Aku hanya mengangguk. Aku menoleh pada Minhyuk yang sekarang sudah bisa duduk di kasurnya. Kesehatannya sedah mulai pulih.

“JangLi, kenapa Minhyuk ada di kamar ini? Minhyuk tak suka. Minhyuk lebih suka kamar yang dulu.” Keluh Minhyuk.

“Memangnya kenapa?aku tahu kamar ini buruk untukmu, Oppa. Oppa mau kamar yang lebih bagus lagi? Mungkin aku bisa memberikannya untuk Oppa tap…” belum selesai aku bicara Minhyuk menutup mulutku dengan jari telunjuknya.

“Cerewet.” Katanya datar. Aku hanya cemberut.

“Asalkan Minhyuk bersama JangLi, Minhyuk mau tinggal di mana saja. Minhyuk bahagia bersama JangLi.” Ucapnya sambil tersenyum tulus. Aku menatapnya dalam. Sungguhkah yang ia katakan itu? Aku menggenggam tangannya.

“Oppa…” aku menelan ludahku. Kami saling bertatapan.

“Bagaimana kalau kita harus berpisah?” tanyaku. Minhyuk diam dan tertunduk. Ia lalu kembali menatapku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Gwenchanha.” Ucapnya dengan senyum yang semakin mengembang di bibirnya. Kini, ia yang meraih kedua tanganku dan menggenggamnya.

“Minhyuk sudah cukup bahagia bisa bertemu dengan JangLi meskipun tidak lama. Minhyuk tak akan menyesal akan berpisah atau mati sekarang.” Ucapnya tegas. Aku menelan ludahku sekali lagi. Menahan air mata yang hampir menetes. Akhirnya air mata itu jatuh juga. Aku menunduk dan segera menghapusnya.

“Jadi kau ingin ku bunuh sekarang, huh?” candaku.

“Tidak mau.” Katanya sambil menggelengkan kepalanya. Haha, Minhyuk. Kata-katanya menenangkanku. Aku seperti ingin hidup selamanya bersama dirimu seorang, Kang Minhyuk.

*****

Sebentar lagi aku ujian. Aku akan menghadapi ujian kelulusan. Menyebalkan. Mengapa di saat seperti ini aku harus ujian? Seharusnya ada peraturan untuk meringankan beban peserta ujian yang galau. *curhat nih u.u*

Aku duduk di salah satu bangku di taman rumah sakit itu. Buku pelajaran terpampang di depan mataku. Aku ingin belajar. Aku membolak-balik halaman bukuku itu. Tapi tak ada satu kalimatpun yang terbaca. Pikiranku melayang-layang. Entah apa yang aku pikirkan sebenarnya, yang jelas aku tak bisa berkonsentrasi. Aku menutup bukuku dan menelungkupkan wajahku di atas kedua tanganku.

“Apa yang kau pikirkan?” seseorang bertanya padaku. Aku membuyarkan lamunanku dan menoleh pada orang sekarang duduk di sampingku itu. Ayah Minhyuk.

“Waeyo?” tanyaku dengan nada malas. Aku menundukan kepalaku menatap buku di atas pangkuanku dengan pandangan kosong.

“Apa kau akan menghadapi ujian?” tanyanya Ajjushi itu. Aku mengangguk.

“Apa kau mencintai Minhyuk?” tanyanya lagi. Aku tertegun dan menatapnya. “Mengapa Tuan tanyakan itu padaku?”

“Aku memperhatikanmu. Kau member perhatian lebih pada Minhyuk. Kau mencintainya kan?” ia meyakinkan kembali. Aku menundukan kepalaku. Aku tak dapat menjawab. Karena itu yang selama ini menjadi pertanyaanku. Apakah aku mencintai Minhyuk?

“Lakukan untuknya. Berjuang untuk Minhyuk. Kau pasti bisa menempuh ujianmu. Lakukan hal baik dan yang terbaik untuk orang yang kau cintai.” Orang itu menceramahiku panjang lebar. Aku menatapnya. Apa yang ia inginkan sebenarnya?

“Ya! Mengapa Tuan tak menemui keluarga Tuan. Aku yakin mereka akan memaafkan Tuan.” Saranku. Kalau saja orang ini tidak keras kepala mungkin ia sudah bisa kembali pada keluarganya.

“Aku akan menemui mereka.”

“Ne?” tanyaku antusias.

“Tapi tidak sekarang. Aku yakin pasti aku akan mempunyai waktu untuk menemui mereka.” Lanjutnya. Aku cemberut dan kembali lemas.

“Aku harus pergi. Annyeong.” Ucapnya sambil berlalu. Aku memandanginya. Minhyuk, sebenarnya kau punya ayah yang baik.

*****

Aku sudah melewati hari-hari ujianku. Besok adalah hari terakhir ujianku. Aku sangat senang menghadapinya. Ujianku kulewati dengan semangat. Hanya ada satu orang yang membuatku seperti ini. Membuatku semangat menghadapi ujianku. Dan orang itu sekarang sedang terbaringdengan segala perawatan yang di jalaninya.

Aku membaca bukuku. Mau tidak mau aku harus mempelajarinya. Mempelajari hal yang tak aku sukai. Aku belajar sampai larut, sehingga aku tertidur dengan setumpuk buku di genggamanku.

****

Aku membuka mataku. Astaga! Aku tertidur di rumah sakit. Di atas kursiku. Dan di depan mataku Minhyuk sudah terbangun. Ia memainkan ponselku.

“Ya! Apa yang Oppa lakukan dengan ponselku?” tanyaku sambil mengusap mataku yang masih belum mau terbuka. Minhyuk hanya tersenyum dan menunjukkan layar ponselku padaku.

“Ya! Kau memotretku ya?” ucapku dengan suara lebih meninggi. Mataku melotot sekarang sambil menatap penuh ejek terhadap fotoku sendiri. Oh, beetapa menyedihkannya wajahku jika tertidur.

“Ne. JangLi lucu saat tertidur. Seperti singa kelaparan. Jelek.” Kata Minhyuk. Aku memancungkan bibirku.

“Dasar!” ujarku.

“Hari ini JangLi ujian hari terakhir kan?” Tanya Minhyuk. Aku mengangguk.

“Hwaiting!” seru Minhyuk sambil mengepalkan tangannya. Ia menyemangatiku. Aku tersenyum memandangnya dan berkata “Gomawo..”

“Ini untuk JangLi.” Minhyuk melepaskan gelang dari tangannya dan memberikannya padaku.

“Mwoga?” aku menerima gelang itu dari Minhyuk.

“Ini dari Eomma untuk Minhyuk. Itu sangat berharga. Minhyuk mau JangLi yang menyimpannya.” Kata Minhyuk.

“Ne? Waeyo?” tanyaku. Minhyuk memakaikan gelang itu di pergelangan tanganku.

“Minhyuk melewati hari dengan gelang ini. Jadi ini seperti bagian dari hidup Minhyuk. Minhyuk memberikannya pada JangLi karena Minhyuk mau jadi bagian dari hidup JangLi.” Ucapnya dengan penuh harapan. Aku tersenyum.

“Ne, aku akan menjaganya.” Janjiku pada Minhyuk.

“Minhyuk, kau sudah terbangun?” kata Eomma yang tiba-tiba masuk ke kamar rawat Minhyuk.

“Ne.” jawab Minhyuk singkat. Eomma membelai rambut anak tercintanya itu.

“JangLi, ini hari terakhir ujian-mu kan?” Tanya Eomma padaku.

“Ne, Eomma.” Jawabku.

“Semoga sukses. Sebaiknya kau harus bersiap untuk ke sekolah.” Ujar Eomma. Aku hanya mengiyakan perkataan Eomma. Aku keluar dari kamar rawat Minhyuk. Aku melihat seseorang dari kejauhan. Orang itu tak asing lagi bagiku, Ayah Minhyuk. Aku menghampirinya untuk yang ke sekian kalinya.

“Kenapa Tuan masih saja bersembunyi?” tanyaku secara tiba-tiba. Ajjushi ini menoleh padaku.

“Molla.  Aku masih saja belum yakin.” KATANYA.

“Tuan tak akan pernah berhasil jika Tuan tak yakin.” Ucapku. Dari mana aku dapatkan kata-kata yang menurutku… yah, puitis. Molla. Kini, tanganku menarik tangan Ajjushi tersebut. Menuju kamar rawat Minhyuk. Mungkin aku sudah tak sabar menghadapi kelakuannya ini.

KREK! Aku membuka pintu kamar rawat Minhyuk. Tampak Eomma yang terkejut melihat kehadiran suaminya ini. Minhyuk diam dan heran sambil memandang bergantian pada Eomma, padaku, dan pada Appa kandungnya ini.

“Mau apa kau datang ke sini?” Tanya Eomma ketus. Ajjushi ini hanya tertunduk. *perasaan gue manggilnya ngga enak banget ya? Lanjut!*

“Eomma, Eomma jangan marah dulu. Biarkan Ajjushi member penjelasan.”

“Apa lagi yang harus di jelaskan?” Tanya Eomma pada suaminya itu tanpa menoleh sedikitpun.

“Jagi, *gue bingung dia mau manggil apa* Jeongmal mianhaeyo. Aku tak bermaksud meninggalkanmu dan Minhyuk. Tapi izinkan aku bertemu Minhyuk.” Mohon Appa-nya Minhyuk.

“Untuk apa kau pergi meninggalkanku dan Minhyuk waktu itu?” Tanya Eomma mulai meluapkan emosinya.

“Eomma…” panggilku dengan ragu. Aku takut di bilang ikut campur dalam masalah ini.

“Biarkan Ia meminta maaf pada Minhyuk-Oppa. Lagipula, tak ada salahnya meminta maaf.” Lanjutku. Aku ikut memohon pada Eomma. Eomma pun menyetujuinya setelah berkali-kali ku bujuk. Minhyuk-ui Appa mendekati Minhyuk. Minhyuk hanya menatapnya dengan penuh tanda tanya, ‘siapakah orang ini?’

“Minhyuk-i… Anakku.” Ucapnya. Minhyuk terus menatapnya lalu bertanya “Nuguseyo?”

“Aku adalah Appa-mu, Minhyuk.”

“Aniyo. Minhyuk tidak tau siapa Appa Minhyuk. Appa Minhyuk adalah Appa JangLi juga.” Bantah Minhyuk. Kasihan Appa kandungnya itu. Minhyuk tak mau mengakuinya.

“Oppa..” aku berbisik pada Minhyuk.

“Oppa, dengarkan aku. Oppa mau mendengarkanku kan?” tanyaku. Minhyuk menatapku. Wajah kami sangat dekat sekarang.

“Ini benar-benar Appa-mu. Dia sudah kembali untuk menjenguk Oppa.” Lanjutku.

“Maafkan Appa, Minhyuk. Jeongmal mianhae.” Minhyuk-ui Appa kembali memohon.

“Minhyuk mau memaafkan Appa kalau Eomma memaafkan Appa.” Ucap Minhyuk sambil memandang Eomma-nya. Eomma-nya pun berfikir sejenak.

“Tolong maafkan aku..” Ia kembali meminta permohonan maaf dari Eomma. Setelah pertimbangan yang berat, akhirnya Eomma memaafkan suaminya itu. Minhyuk lalu memaafkan Appa-nya itu. Minhyuk-ui Appa menangis bahagia.

Aku lalu keluar dari kamar itu. Meninggalkan keluarga bahagia yang sudah lama hilang itu. Semoga mereka akan tetap seperti itu.

*****

Aku melewati soal-soal ujianku. Arrrh, benar-benar memusingkan. Tapi aku harus tetap berusaha. Aku tak mau usahaku sia-sia begitu saja hanya karena soal yang tak bisa aku kerjakan. Sesekali aku melamun. Mengingat wajah Minhyuk. Berdoa agar Ia segera membaik.

Akhirnya ujianku berakhir. Perasaanku sangat lega saat ini. Aku berjalan menuju rumah sakit dengan langkah riang. Bayangan wajah Minhyuk selalu berputar-putar di pikiranku. Tapi ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku. Entah apa itu. Aku mengecek ponselku. Ada pesan dari Eomma. Aku terkejut membacanya. Aku mencoba menghubungi Eomma. Tapi Eomma tak mengangkatnya. Perasaanku tak enak. Aku segera berlari menuju halte bis dan menumpangi bis untuk menuju rumah sakit.

Aku cemas. Aku takut sesuatu akan terjadi padanya. Aku ingin segera bertemu Minhyuk. Tubuhku berkeringat karena tak sabar. Jalanan pun macet. Aku terjebak di dalamnya. Oh, ayolah.. Aku terus menggerutu dalam hatiku. Sampai akhirnya aku muak karena bis tak juga berjalan lancer. *emangnya ini di Indo apa?*

Aku turun dari bis. Tak peduli apa yang orang-orang katakan kepadaku. Aku berlari menyusuri pinggir jalan. Jantungku berdegup. Aku bukanlah seorang pelari, tapi aku berharap aku bisa berlari lebih kencang dari ini. Aku berharap aku tetap bisa menemui Minhyuk. Aku tak mau berpisah darinya. Aku tak sanggup.

Aku sudah lelah. Nafasku naik-turun tak beraturan. Aku masih terus berlari terengah-engah tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarku. Rumah sakit itu terasa sangat jauh sekali. Aku harap terdapat kejaiban. Keajaiban yang bisa memprtemukanku pada Minhyuk lebih cepat. Akhirnya aku sampai ke rumah sakit.

Aku menelusuri koridor dan mencari kamar rawat Minhyuk. Aku masih terus berlari. Minhyuk.. tunggu aku.. Aku akan ada untukmu.. Aku datang untuk menemuimu.. Hanya untukmu..

Aku sampai. Aku menghentikan langkahku. Hanya beberapa meter dari tatapan mataku aku melihat jelas Eomma dan Appa Minhyuk yang sedang menangis. Appa-ku hanya berusaha menenangkan mereka.

Aku lemas. Tubuhku seperti kehabisan tenaga. Seperti tak punya daya dan upaya lagi. Aku terduduk di koridor. Aku menundukan kepalaku. Air mataku mengalir. Aku tak dapat membendungnya. Aku menggenggam gelang yang Minhyuk brikan padaku. Hatiku menjerit, meneriakan namanya. Aku tak pernah menyangka hal ini. Kang Minhyuk, orang yang selalu tersenyum dan berusaha melindungiku. Kini ia pergi. Dan aku benci itu. Ia pergi tanpa mengucapkan salam padaku. Dan aku benci, Ia pergi untuk selamanya. Dan aku semakin terisak. Oppa… jangan pergi dulu dariku. Aku masih membutuhkanmu.

Even though i know that our parting is approaching

Because you’re leaving i hold my breath

When i smile without realizing it, am i passing us by

Even though pretenting to smile without knowing why…

Truthfully I want to cry

You look into my eyes

It seems our Love is ending like this

before i know it our parting is approaching

You say ”Goodbye”

Letting you go like this is still difficult to me,

please give me a little more time

I can’t live without you,

My all is in you

If i say goodbye first,

Then you will expect that i’m letting you go first

Even though in your stare, which has changed since before

there is no longer any love, i’m okay.

Time is slowly passing/ticking by and my mouth runs dry

I’m looking at you anxiously

I’m nervous and pacing

I’m afraid you’re going to say goodbye

It seems our love is endling like this (Even though you say it’s endling like this)

Before i know it our parting is approaching (It’s already unavoidable)

You say ”Goodbye” (You say Goodbye my girl)

Letting you go like this is difficult to me (To me it’s still)

Please give a little more time

Even without me you can smile

Our Love has already run out

Eventually you say your ”goodbye” give me some time

It seems our Love is ending like this (you say it’s ending like this)

Before i know it our parting is approaching (already unavoidable)

You say ”goodbye”

Letting go like this is still difficult to me

Please give me a little more time

Love like this

Before i know it our parting is approaching

You say ”goodbye”

I still can’t let go of the one person,

who means so much to me

I can’t live without you, my all is in you

I can’t live without you, my all is in you

******

Aku berdiri di jembatan Seongsan. Aku menatap matahari senja yang tampak sangat bersinar. Yang tetap sama. Sama seperti hari-hari sebelumnya atau tahun-tahun sebelumnya. Masih menyimpan kenangan yang tak mungkin aku lupakan. Kenangan bersama orang-orang yang aku cintai. Kenangan indah bersama Eomma, Appa, dan Kang Minhyuk.

Minhyuk. Kita telah berpisah, Kang Minhyuk. Kau tahu? Di dalam hatiku, aku tak akan pernah mengucapkan selamat tinggal padamu. Karena kau selalu ada dalam hatiku. Selama aku mencintaimu. Taka akan ada yang berubah. Kau akan selalu menjadi bagian dari hidupku seperti yang kau katakana waktu itu. Aku mencintaimu Kang Minhyuk. Aku mencintaimu.

-THE END-

Thanks to read ^_^

 

 

3 thoughts on “As Long As You Love Me

  1. Kkk…
    Panjang bgt..haha,

    kkk…
    Prtama.a,aku fikir ini inspirasi.a dr lagu JB yang jdl.a ini jga..kkk..

    Hmm… Minhyuuuukkkkk(?)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s