Not A FAIRYTALE [part 2]

Author: mmmpeb

Genre: Romance, friendship, family

Length: chaptered

Rating: PG15

Cast:

  • Jung Soojung / Krystal f(x)
  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Kai EXO-K

Other cast:

  • Jung Yonghwa CNBLUE
  • Lee Taemin SHINee
  • Kim Myungsoo Infinite
  • Park Shinhye
  • Im Kyuna [OCs]
  • Lee Jinguk [OCs]

Disclaimer: a fairytale with editing

Prev: PART [1]

*************************************

Minhyuk pov

 

Terhitung hari ini menginjak hari ke-60. Terhitung pula aku berkunjung ke tempat ini sebanyak 60 kali. Kalian tanya bosan? Tidak! Aku justru tidak merasa bosan sedikitpun. Hanya tempat ini yang bisa membuatku tenang karena aku bisa berdekatan langsung dengan Soojung.

Seperti biasa, tempat ini sungguh sepi. Hanya ada beberapa orang yang mengantarkan kepergian sanak kerabatnya dan kemudian tempat ini kembali hanya aku yang menguasai.

Aku memang gila. Sampai kapan aku mengharapkan sesuatu yang sudah pasti tidak pasti?

Kau tahu apa yang aku rasakan saat mendengar kabar Soojung tewas? Rasanya benar-benar menyakitkan. Anggap saja seperti paku yang menancap di dadamu. Aku tidak berbohong. Aku merasakannya seperti itu.

Mengenalnya hanya beberapa hari, tapi kemudian ia pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Kenapa harus Soojung? Kenapa harus gadis yang aku sukai? Kenapa?

Aku tidak mengerti kenapa aku bisa menyukai Soojung sedalam ini. Berawal dari cerita berubah menjadi cinta. Adakah seseorang yang tertarik dengan lawan jenis hanya karena sebuah cerita? Akulah orangnya, mungkin satu-satunya di dunia ini.

Nama Soojung pertama kali kudengar dari kakak sepupunya sendiri, Jung Yonghwa. Setengah tahun yang lalu, saat aku memutuskan bergabung dalam sebuah band yang terbentuk dari anak-anak kampusku. Aku memang menyukai drum dan diterimalah aku menjadi drummer di band itu.

Yonghwa hyung adalah orang yang paling dekat denganku dari pada Jungshin dan Jonghyun. Kami sering bertukar cerita mengenai kehidupan kami. Dan dari situlah Yonghwa hyung bercerita kalau ia memiliki seorang adik sepupu yang cantik. Mendengar nama Soojung, hatiku langsung bergetar. Muncul sebuah ketertarikan saat Yonghwa hyung menyebut nama gadis itu. Kemudian aku memberanikan diri meminta hyung untuk mengenalkan Soojung padaku. Dan…kelanjutannya seperti yang terjadi dua bulan lalu.

Kepergian Soojung yang secara mendadak seperti ini tidak hanya menggores luka untukku saja. Yonghwa hyung sama merasa sangat kehilangannya sepertiku. Yonghwa hyung yang biasanya cerewet dan usil berubah menjadi agak pendiam. Aku tahu ia sangat menyayangi Soojung seperti adik kandungnya sendiri. Pasti rasanya lebih kosong dari pada seperti yang aku rasakan.

Soojung-ah, nan bogoshipo!

*****

Author pov

 

Wanita itu, Im Kyuna, dengan langkah anggun berjalan menyusuri lorong gedung khusus para tahanan sementara. Badannya tegap dan kepalanya sedikit menengadah ke atas, secara tak langsung memberi kesan jika ia adalah seorang wanita yang jauh tidak sepadan dengan orang-orang di sekitar.

“Bisa saya bantu, Nyonya?” tanya seorang sipir yang di datangi Kyuna.

“Saya Im Kyuna!”

“Oh, mari ikuti saya!”

Sang sipirpun memandu Kyuna menuju sebuah ruangan yang telah dipersiapkan. Ada seseorang yang menunggunya di sana.

“Silahkan!”

Sipir tua itu mempersilahkan Kyuna masuk.

CKLEK!

Pintu tertutup dan hanya ada dua orang di dalam sana. Masih dengan sikap angkuh, Kyuna menarik sebuah kursi dan kemudian mendudukinya.

“Nyonya, aku tahu kau akan datang!”

Dia adalah Jinguk, yang kemudian berubah status dari seorang supir menjadi seorang tahanan sejak kematian Soojung. Ia ditahan dengan tuduhan lalai hingga menghilangkan nyawa seseorang. Ia tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa menurut dari wanita seorang Im Kyuna.

“Apa kabar, Jinguk?”

“Tidak baik! Jadi, apa saya bisa bebas sekarang?”

“Kenapa kau tanyakan itu padaku?” kata Kyuna dengan nada yang tidak mengenakkan.

“Maksud Nyonya?”

“Kau pikir aku ke sini untuk membebaskanmu? Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja!”

Sudah tidak ada lagi yang ingin Kyuna katakan. Ia hanya ingin memastikan Jinguk. Kyuna bangkit berdiri. Dengan langkah kecil, ia berniat untuk meninggalkan ruangan itu.

“Saya akan ceritakan yang sebenarnya jika nyonya tidak membebaskan saya segera!”

Ancaman Jinguk mampu membuat langkah Kyuna terhenti. Siapa yang berani mengancam Kyuna?

“Ceritakan saja! Itupun kalau mereka percaya pada omonganmu!” Kyuna membalikan badannya dan menatap tajam Jinguk. “Satu hal yang mesti kau ketahui! Keluargamu tidak akan dalam keadaan baik-baik saja jika kau buka mulut!”

Mata mereka saling menatap dengan tajam. Ada sebuah rasa penyesalan dalam diri Jinguk. Tidak seharusnya ia menurut begitu saja dengan majikan yang masih terbilang baru itu. Bagaimana bisa Jinguk mengikuti rencana Kyuna untuk mencelakai anak dari seseorang yang telah berbaik hati untuknya selama ini?

“Tapi kau tidak perlu merasa khawatir jika kau masih memilih untuk tetap tutup mulut. Aku telah menepati janjiku, bukan? Keluargamu sudah memiliki rumah itu kembali!”

BRAK!

Spontan Jinguk menggebrak mejanya dengan kasar. Ia bangkit berdiri. Tangannya gatal ingin sekali meninju wanita iblis itu. Dan kali ini Jinguk memang sedang diliputi amarah yang besar. Dengan langkah cepat ia berjalan menghampiri Kyuna yang tengah menatapnya. Kyuna yang menyadari itu tiba-tiba saja terjatuh, membuat Jinguk bertanya-tanya sehingga ia menghentikan langkahnya tepat di depan Kyuna yang sedang terduduk di lantai.

“T…TOLONG!”

Sial! Jebakan untuk Jinguk. Mendengar teriakan itu, sipir yang sengaja berjaga di depan ruangan masuk. Sungguh timing yang tidak tepat.

Sipir itu memanggil temannya dan segera ia menahan Jinguk karena takut tahanan itu berbuat lebih jauh. Kyuna memang selalu tidak kehabisan akal. Di tengah wajah ketakutan itu, ia tertawa terbahak-bahak di dalam hatinya.

“Sialan kau, Kyuna! Hei, pak polisi, aku tidak berbuat apa-apa sungguh!”

Senyuman kemenangan itupun terukir di bibir cantik Kyuna setelah Jinguk menghilang dibawa kembali ke selnya. Ia bangkit berdiri dan merapikan pakaiannya dari lipatan-lipatan kecil. Hari ini adalah hari yang indah untuknya, selain sesuatu yang diincarnya telah resmi menjadi miliknya.

*****

A year later

 

Someone pov

 

“AH!”

Entah karena memang aku yang tidak lihat jalan atau dia yang justru tiba-tiba muncul di depanku, aku terjatuh karena begitu terkejut.

“Kau bisa jalan, tidak?”

Suara menyebalkan itu! Aku mendongakkan kepalaku dan terpaksa melihat wajah sangat-tidak-enaknya yang seperti biasa. Lagi-lagi mata itu menatapku seolah aku adalah tersangka dalam sebuah kasus besar.

“Kau yang menabrakku duluan!”

“Naega?”

Laki-laki itu menunjuk dirinya sendiri. Kenapa sih orang ini tidak mau mengalah sedikitpun padaku?

“Hey, orang! Kau pikir kau siapa bisa menyalahkanku seenaknya?”

Ia mencondongkan tubuhnya padaku hingga jarak wajah kami mengecil. Lagi-lagi dihadapkan dengan wajah tampan nan sengak. Aku benci situasi ini. Di saat ia bersikap yang ketara sekali menunjukkan rasa ketidaksukaannya padaku, di sisi lain aku akui ia memiliki wajah yang tampan.

“Kalian kenapa lagi, sih?”

Ia kembali menegakkan wajahnya begitu seseorang muncul. Oh baguslah, penyelamat.

“Omo! Kau kenapa duduk di bawah, sih? Kai, kau berulah apa lagi dengannya?”

“Berulah? Kenapa sih kau membela orang itu terus? Ah!”

Sepertinya Kai sangat tidak terima dituduh berulah. Ia menjambak rambutnya dan dengan wajah kusut melangkahkan kakinya pergi.

“Kau menyebalkan, hyung!” katanya sebelum menghilang.

“Kai, mau ke mana?”

“Kuliah!”

Tidak enak sebenarnya membuat dua orang ini jadi bertengkar, apalagi mereka bertengkar karena aku. Keadaan seperti ini sudah sering terjadi, banget malah. Dan semua itu terjadi selalu bukan aku yang mulai, tapi si Kai itu.

“Kau tidak apa-apa, kan?”

Aku meraih tangannya yang terjulur padaku. Akupun berdiri dengan bantuan darinya. Bisa dibilang, orang ini adalah juru penyelamatku di rumah ini.

“Dia selalu saja dingin padaku!”

“Dia memang begitu, kan? Bukan hanya padamu saja!”

Dia tersenyum. Melihat senyumannya membuatku kembali semangat. Ah, dia tidak kalah tampan dengan Kai.

Laki-laki dihadapanku itu kini melihatiku head-to-toe. Dari wajahnya seakan ingin bilang ‘kau sakit?’

“Aneh tidak?”

“Yeppeoda!”

“Kau berlebihan, oppa! Jangan lupa nanti sore!”

“Oke!”

Ia mengacak-acak puncak rambutku dan kemudian melongos pergi tanpa pamit. Sepertinya ia akan pergi kuliah juga.

Ah, aku sudah telat! Bisa-bisa jabatan kasir itu direbut orang lain.

Minhyuk pov

 

Semua barang-barang di dekat pintu telah aku cek semua. Aku rasa tidak ada yang tertinggal, termasuk tiket pesawat.

“Maaf terlambat!”

“Dimaafkan khusus untuk bos muda!”

Yonghwa hyung memukul bahuku, ditambah dengan senyumannya yang selalu kharismatik. Ya Tuhan, aku rasa hanya gadis gila yang tidak menyukainya. Lihat Yonghwa hyung kini. Dia tampan dengan setelan resminya, jas abu-abunya tampak serasi. Ditambah statusnya kini sebagai direktur perusahaan. Aku rasa akan sangat mudah untuk hyung mendapatkan seorang gadis.

“Ini tahun terakhirmu, Minhyuk! Harus kau manfaatkan sebaik-baiknya!”

“Arasseo! Aku juga tidak ingin mengecewakan ayah dan ibuku. Masa aku tidak lulus tahun ini hanya karena skripsiku?”

“Ya Tuhan! Cepat sekali waktu berjalan. Kau yang kukenal sebagai anak baru sebentar lagi akan lulus.”

“Haha, sayangnya aku tidak merasa begitu!” jawabku tak seantusias hyung. Yonghwa hyung menatapku dengan tatapan kasihan. Aku memalingkan wajahku karena aku benci ditatap seperti itu. Apa aku terlihat seperti orang yang menderita? Aku bahkan sudah hampir bisa melupakan masa lalu, walaupun hatiku berkata ada sesuatu yang tidak terungkap, atau lebih tepatnya belum.

Ah, aku harus cepat-cepat, kalau tidak aku akan ketinggalan pesawat.

Yonghwa pov

 

“Terima kasih!” seruku pada sekretarisku yang telah membukakan pintu ruanganku untukku. Hari ini terhitung hari ketujuh aku memasuki ruangan ini dengan status sebagai direktur perusahaan tempatku berpijak, dan aku sudah datang terlambat untuk yang pertama kalinya.

“Wah, direktur muda! Apa beginikah sikap seharusnya seorang direktur?”

Kursi dengan senderan tinggi itu, kursi yang sedang memunggungiku itu kini berputar sehingga tampak jelas siapa yang sedang menduduki kursiku.

“Bibi Im, lama tidak bertemu!”

“Hmm, ya, ya! Tidak perlu basa-basi! Aku bisa saja mengadukan hal ini pada ayahmu!”

Kenapa orang ini masih saja begitu menyebalkan? Kalau saja dia bukan istri Paman Jung, aku tidak akan pernah bersikap sopan pada orang yang seenaknya saja merendahkanku.

“Dan aku bisa saja mengambil alih perusahaan ini!”

Lihat, dia sangat berkuasa sekarang. Mengancamku? Belum puas dengan apa yang ia dapat? Kalau Soojung masih hidup, belum tentu dia bisa bersikap sok berkuasa seperti ini.

“Sebenarnya ada perlu apa bibi ke sini?”

Ia bangkit berdiri. Suara sepatu hak tingginya begitu terdengar, semakin jelas seiring dengan langkahnya yang mendekat padaku.

“Berhenti memanggilku bibi! Langsung saja! Aku sedang berbaik hati saat ini. Duduklah dulu, aku ingin melihat kau duduk di kursi direktur.”

Aku tidak mengerti dengan Bibi Im. Ia menarik tanganku dan menuntunku hingga duduk di kursiku. Kemudian iapun duduk di sudut meja.

“Shinhye!”

Aku tidak sadar kalau di ruanganku ini tidak hanya ada dua orang, tapi tiga. Wanita itu, wanita yang dipanggil Shinhye oleh bibi bangkit berdiri dari sofa dan berjalan mendekat pada kami dengan sebuah map ditangannya. Diberikannya map itu pada bibi dan kemudian keluar begitu saja dari ruangan ini.

“Silahkan baca ini!”

Bibi Im menyerahkan map digenggamannya padaku. Kubuka perlahan dan kubaca satu persatu tulisan di lembar itu.

“Aku tahu perusahaan ini sedang membutuhkan dana, aku bisa memberikan berapapun yang dibutuhkan.”

“Bibi, ini-“

“Kau tidak perlu mengucapkan terima kasih padaku!”

Aku tidak salah baca? Atau tulisan ini tidak salah ketik? Atau justru isi kertas ini memang sengaja dibuat seperti itu? Kuangkat lembaran itu dan kuacungkan pada wanita sialan itu.

“Berterima kasih?”

Dan kemudian kurobek kertas itu hingga menjadi empat bagian. Tepat di depan wajahnya. Ha! Ada rasa kepuasan tersendiri melakukan ini padanya. Apa lagi begitu melihat mimik wajahnya yang berubah menjadi datar.

“Aku akan berterima kasih jika Anda mau mengangkatkan kaki Anda dari ruanganku.”

“Kau-“

“Dan aku akan sangat berterima kasih jika Anda tidak pernah menginjakkan kaki Anda lagi di perusahaan ini!”

Oke! Aku menang!

“Kau akan menyesal, Jung Yonghwa!”

“Justru aku akan menyesal jika aku menyerahkan hampir seluruh perusahaan yang ayah bangun dengan susah payah padamu. Bisa keluar sekarang?”

Haha! Aku menang, kan? Terbukti dengan suara pintu yang sengaja ia banting. Aku tidak akan menyerahkan 80% perusahaan ini pada orang licik seperti dia. Dengan 80% itu dia bisa saja menguasai 20% dan perusahaan ini mutlak bukan milik keluargaku lagi.

Tapi apa yang harus aku lakukan? Ayah meninggalkan perusahaan ini dalam keadaan hampir bangkrut.

Kai pov

 

“KENAPA HARUS AKU?”

Hyung memukul lenganku dengan keras dan memberikan death glare-nya padaku. Orang-orang di sekitar kami mulai memandangi kami berdua.

“Kalau tidak ada kuis dadakan, aku juga tidak akan menyuruhmu. Bantu hyung, ya?”

Sialan! Sore ini aku ada janji dengan Baekhyun, mana enak membatalkannya.

“Ya sudah! Terpaksa!”

“Kai, gomawo!”

Taemin hyung memelukku dan buru-buru kudorong tubuhnya. Kapan sih sikap kekanak-kanakkannya hilang?

“Setengah jam lagi, di restoran biasa!”

“Hmm!”

Hyung kembali tersenyum –euh- padaku dan kemudian berlari dengan terburu-buru menuju gedung di ujung kampus. Rusak sudah rencana bersenang-senangku dengan Baekyun.

Aku bingung dengan jalan utama di Busan akhir-akhir ini. Saat jam kerja, jalanan mendadak macet. Aku tidak tahu ini karena ada perbaikan jalan atau apa, yang jelas aku jadi terlambat hampir satu jam dari waktu yang dijanjikan hyung pada orang itu.

BRUK!

Aku terjatuh dan begitu pula orang yang menabrakku. Kami sama-sama bangkit berdiri.

“Oh, jeosonghamnida!” katanya.

“Gwaenchanseumnida!”

Tanpa menghiraukan tas miliknya yang terjatuh, aku melongos pergi meninggalkannya. Yang salah bukan aku, kan? Untuk apa aku membantunya.

KLENG! Bunyi lonceng berbunyi begitu aku membuka pintu restoran. Kuedarkan pandanganku ke seisi restoran dan tak lama kutemukan sosok yang tidak asing bagiku sedang duduk memunggungiku tidak jauh dari pintu masuk. Dengan langkah pelan aku menghampirinya hingga bisa kulihat jelas bahu orang itu bergetar dengan hebat. Jelas bukan karena kedinginan.

“Ya, kau kenapa?”

Akupun mengambil posisi duduk di sampingnya. Kenapa dia menangis?

“Kai!”

Belum sempat aku melihat wajahnya, ia menghamburkan dirinya ke dalam pelukanku. Oh? Orang ini…memelukku?

“Aku tidak diterima kerja di kafe itu!” katanya sesenggukkan. Dia melamar pekerjaan? Kok aku tidak tahu? “Katanya karena aku tidak cantik,” sambungnya lagi.

“MWO?”

Sontak aku mendorongnya hingga bisa kulihat wajahnya sudah sangat sembab. Sepertinya dia sudah menangis sejak lama.

“Cantik begini dibilang tidak cantik? Matanya buta atau apa?”

Gadis di depanku terdiam. Mulutnya menganga begitu saja. Dia tiba-tiba berhenti menangis.

“Kau mengakui kalau aku cantik, Kai?”

AH, SIAL! Apa yang aku bilang tadi??? Pabo!

“Ya, maksudku…kau… Tunjukkan yang mana kafenya, biar aku buat perhitungan padanya!”

Dia menarik ujung bibirnya dan tersenyum puas seolah dia telah menemukan titik kelemahanku. Ini pasti gara-gara aku bicara keceplosan tadi.

“Apa lihat-lihat? Ya sudahlah, kita pulang saja! Ibu pasti menunggu bahan makanan ini!”

Aku bangkit berdiri. Kuambil dua kantung besar di meja dan kubawa tanpa menghiraukan si gadis bodoh itu. Gadis itu bisa begitu menyebalkan dan inilah kenapa aku tidak begitu menyukainya.

“Kai, tunggu!”

Sudah tidak merasa sedih lagi, huh? Kelihatannya ia sudah melupakan musibah yang menimpanya. Kudengar suara kursi bergeser dan tahu-tahu langkahnya mulai menyejajariku. Aku berusaha mengacuhkannya dan sengaja menghindari tatapannya. Aish, gadis ini!

“Kai, aku cantik, kan?”

“Apa, sih?”

Aku menepis tangannya yang mulai bergelayut manja padaku. Tapi kemudian ia kembali memeluk lenganku. Orang ini memang susah untuk dikasih tahu. Menyerah rasanya lebih baik, aku malas berdebat dengannya.

“Kai, hahaha!”

Lebih baik aku tolak saja permintaan hyung tadi. Berada di dekat orang ini menjadi petaka tersendiri untukku.

“Ngomong-ngomong kita mau pesta, ya? Ibu menyuruhku membeli daging yang banyak.”

“Tidak tahu!”

“Tsk, Kai, aku tidak akan bilang siapa-siapa tentang yang tadi! Jangan marah!”

Rasa kesalku sepertinya sudah sampai ubun-ubun. Ia terus saja tersenyum mengancam padaku. Apanya yang tidak akan bilang siapa-siapa? Dia bisa berkata apa saja di belakangku.

“Minggir kau!”

Kutarik tanganku darinya hingga tubuhnya tersentak. Aku tahu aku telah keterlaluan, tapi salahnya sendiri memancing kekesalanku sejak tadi. Saking kesal padanya, aku sampai tidak begitu fokus dengan apa yang aku lihat hingga tidak sengaja menabrak orang. Dua kali dan dengan orang yang sama, laki-laki yang aku tabrak tadi.

“Ah, maaf! Sepertinya aku telah menyusahkanmu dua kali!” katanya sambil terus-terusan menundukkan kepalanya. “Maaf, ya!”

“Tidak, kali ini aku yang salah!”

Dia seperti dikejar waktu. Ia melihati jamnya terus.

“Ada yang bisa aku bantu?”

“Hmm, sebenarnya aku harus buru-buru ke suatu tempat, tapi sejak tadi tidak ada taksi yang lewat!”

Ya jelas saja tidak ada! Jalan ini jalan yang dilarang untuk kendaraan umum berlalu-lalang.

“Kau pasti orang baru, ya?”

“Begitu ketara, kah?”

“Haha! Kau tidak akan pernah menemukan taksi di jalan ini. Sebaiknya kau jalan ke jalan besar.” Aku menunjuk lurus ke depan tepat ke arah di mana jalan besar itu melintang. “Tidak jauh, kok! Aku dan adikku sedang buru-buru, tidak bisa mengantarmu.”

“Hanya jalan lurus saja, kan?”

Aku mengangguk pelan sebagai respon atas pertanyaannya.

“Baiklah! Gamsahamnida!”

Ia berjalan sesuai dengan arah yang aku tunjukkan tadi. Sebaiknya aku juga pulang, ibu pasti saat ini sedang menunggu kami.

“Ayo kita- Kry? Krystal?”

Tubuhku berputar. Mataku berusaha menemukan sosok Krystal. Menghilang ke mana dia?

“Kau kenapa pulang sendiri? Aku mencarimu ke mana-mana, tahu! Kenapa ponselmu mati?” tanyaku langsung bertubi-tubi begitu aku mendapati Krystal berada di depan pintu rumah.

“Kai! Kita main, yuk?” pintanya terburu-buru.

“Ya! Setelah membuatku panik setengah mati, sekarang kau mengajakku bermain? Ayo, masuk! Akan aku adukan pada ibu!”

Kuraih pergelangan tangannya dan kutarik dia masuk. Namun langkahku tertahan karena ternyata Krystal sengaja menahan tubuhnya. Ya Tuhan, apa salahku hari ini?

“Kai, ayolah!”

Dia kenapa, sih? Kesannya kok sedang menghindar? Pasti ibu habis marah-marah padanya. Haha, rasakan! Bukankah sebaiknya aku ikut menyaksikannya terpojok?

“KAI, KRYSTAL, KALIAN DI LUAR? CEPAT MASUK!”

Tuh, kan!

“IYA, BU! Ayo kita masuk, adikku sayang!”

Sengaja kuberikan senyuman terbaikku padanya dan Krystal hanya membalas dengan wajah pucat. Kali ini, tanpa ampun kutarik lengannya kuat-kuat. Ia berusaha memberontak, tidak akan aku biarkan dia pergi.

“Kalian ke mana saja, sih?” tanya ibu berbisik-bisik begitu kami menginjakkan kaki di rumah.

“Krystal menghilang, dan aku harus men-“

“Tidak penting!”

Ibu menarik lengan kami berdua dan membawa kami ke tempat biasa kami menerima tamu. Kulirik Krytal. Ia masih memasang wajah pucatnya. Dia itu kenapa sih sebenarnya?

“Oh, kita bertemu lagi!”

Sumber suara itu berasal dari seseorang yang berdiri tidak jauh dari Myungsoo hyung. Dia? Orang yang tadi. Bagaimana dia bisa di sini?

“Kalian sudah saling kenal?” tanya hyung padaku. Myungsoo hyung menunjukku dan orang itu secara bergantian.

“Kami tidak sengaja bertabrakan tadi di jalan!”

Wah, aku dan orang itu sepertinya memang jodoh. Kami bertemu tiga kali dan perasaanku mengatakan orang ini akan membawa suasana baru di rumah ini. Jadi dia yang akan tinggal di rumah ini?

“Senang bertemu denganmu…Taemin-ssi!” kata laki-laki itu.

“Aku bukan Taemin! Aku Kim Jongin, panggil Kai saja!”

“Oh, maaf, aku kira kau yang bernama Taemin.  Senang berkenalan denganmu, Kai! Aku Minhyuk! Key, Minho, Myungsoo, Kai, tinggal Taemin dan Krystal. Apa dia yang bernama Krystal?”

Tangan laki-laki bernama Minhyuk itu menunjuk ke arah Krystal yang sedang…kenapa dia bersembunyi di belakang ibu?

“Krystal, jangan jadi kayak anak kecil, deh!” Myungsoo hyung tiba-tiba menarik tangan Krystal.

Sepertinya sekarang aku tahu kenapa Krystal berusaha menghindar. Sekarang apa? Teman lama yang tidak pernah bertemu setelah sekian lama? Perlukah mereka saling tatap lama-lama begini?

“Sudah, jangan ditatap lama-lama!” sindirku pada Minhyuk. Kutarik Krystal, tapi Minhyuk menariknya balik. Lagi-lagi ia menatap Krystal dengan mata sipitnya yang terbuka lebar.

“Kau…Soojung?”

-TBC-

yap, putri salju

14 thoughts on “Not A FAIRYTALE [part 2]

  1. makin seru nih soalnya cast nya banyak dan part 2 ajah ceritanya udah complexs. penasaran krystal sama soojung itu orang yang sama atau nggak sih dicerita ini.
    trus penasaran kok minhyuk bisa ketemu krystal dirumahnya krystal ….
    pokoknya penasaraaaan >,< next part ditunggu…

  2. Mau dong jadi kristal punya oppa” yg guanteng….
    Eh koq kristal bisa jdi adiknya mereka?Terus minhyuk lagi ngapain d’rumah mereka?

    Lanjut thor ! Ku tnggu kelanjutan’a🙂

  3. keren!!!!!!!! >.<
    pleaseee lanjutannya jangan lama"
    penasaran tingkat akut
    krystal sma soojung sama kan? abis krystalnya ngehindar gitu dari minhyuk, wkt nambrak juga krystalnya pergi
    sumpah penasaran tingkat dewa
    ayoooooooooo lanjutin😀

  4. aaahh kenapa aku jadi penasaran dan bingung sendiri?
    krystal itu soojung kan? kenapa dia ngga balik aja ke rumahnya? ceritanya dia diangkat gitu sama keluarganya kai? eh apa salah? aahhh! dilanjut aja deh thor.. penasaran tingkat dewa. jangan lama-lama yaa

  5. kyaaaaaaaaaaaa sedih ternyata kisah cinta minhyuk ma so joong sangat singkat malah belum sempet jadian hiks.
    ibu tiri kenapa ga ada yg baik ??? dan tuh kan ternyata supirnya malah dibuat penjara oon kan malah bantuin si nenek sihi.huffft
    dan itu apa ya hubungan krystal dan kai apa adik kaka???
    kyaaaaaaaaaaaaaa jd minhyuk pindah dan nginep drmh kai dan krysta? dan krystal itu penampakannya so joong ?? hehe.. maksudnya mirip.
    ahhhhhh ga sabar nih ma lanjutannya. soalnya masih samar2

  6. penasaraaan… bingung jg sih, tkohnya bnyak bgt.
    jd soojung jg krystal dan diadopsi? dan minhyuk segitunya berjuang buat nyari soojung? terharu.
    btw krystal inget ma hyukkie g?

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s