Two Years Later

 

Title: [Oneshot] Two Years Later

Author: ree

Rating: PG-15

Genre: AU (alternative universe), romance

Length: oneshot

Main Cast:

-Kang Minhyuk CN Blue

-Song Eun Kyung (OCs)

Other Cast:

-Kim Soo Hyun

-Kang Minkyung Davichi

Disclaimer: This story is just my imagination. The characters belong to God, but the story is mine

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

-Author’s POV-

Hari ini adalah hari kelulusan siswa kelas tiga Chungju High School. Setelah upacara kelulusan selesai, semua murid berhamburan menuju lapangan untuk berfoto bersama keluarga masing-masing atau bersama para guru dan teman-teman. Suasana menjadi riuh seketika. Banyak siswa yang bersorak bahagia karena sudah lulus, namun banyak pula yang menangis karena terharu, sekaligus sedih karena sebentar lagi akan berpisah dengan teman-temannya. Bahkan banyak pula siswi yang beramai-ramai mengerubungi beberapa siswa yang populer di sekolah untuk sekedar mendapatkan kancing seragam mereka. Para siswi itu masih percaya, jika mereka mendapatkan kancing seragam siswa yang disukai pada saat hari kelulusan, maka mereka akan berjodoh.

Namun tidak seperti yang lainnya, Minhyuk, salah seorang siswa di SMA itu hanya berdiri terpaku di tengah lapangan. Sesekali ia menoleh ke kiri dan kanan dengan gelisah. Tampaknya ia sedang mencari seseorang.

“Minhyuk-ah, ayo kita berfoto bersama.” Panggil Minkyung, kakak perempuan Minhyuk sambil menghampiri adik laki-laki satu-satunya itu.

“Iya, nanti saja.” Jawab Minhyuk tanpa menoleh. Ia terus mengedarkan pandangannya ke setiap sudut lapangan yang luas itu.

Minkyung menarik tangan Minhyuk, “Eomma dan appa sudah menunggu. Kau sedang mencari siapa sih?” tanyanya penasaran. Ia pun mencoba mengikuti arah pandang Minhyuk.

Minhyuk tidak menjawab. Sampai akhirnya ia menemukan sosok yang dicarinya; Song Eun Kyung. Gadis yang sudah menjadi sahabat baiknya sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Gadis itu sedang berdiri di salah satu sudut lapangan dengan sebuket besar bunga anyelir putih di tangannya. Sesekali ia tertawa melihat tingkah teman-temannya yang sedang sibuk berebut mendapatkan kancing seragam Lee Jonghyun, salah satu siswa terpopuler di sekolah mereka.

“Noona, tunggu sebentar. Aku akan segera kembali.” Minhyuk melepaskan pegangan tangan Minkyung, kemudian bergegas meninggalkan gadis itu.

“Ya~, kau mau kemana?” tanya Minkyung setengah berteriak.

Minhyuk tidak menjawab. Ia mempercepat langkahnya menuju tempat Eun Kyung. Dengan sedikit tergesa-gesa ia menerobos kerumunan siswa yang menghalangi jalannya. Pandangannya tetap terfokus pada gadis itu. Bagaimanapun juga hari ini ia harus menemui Eun Kyung dan berbicara padanya, untuk terakhir kalinya.

Setelah sampai di pinggir lapangan, Minhyuk segera menarik tangan Eun Kyung, “Ayo ikut aku.”

Eun Kyung yang kaget tangannya tiba-tiba ditarik lalu menoleh, “Ah, Minhyuk-ah. Mau kemana?”

Minhyuk tidak menjawab. Ia terus menarik tangan Eun Kyung hingga sampailah mereka dibawah sebuah pohon besar di pinggir lapangan belakang sekolah yang cukup sepi.

“Eun Kyung-ah, ada yang ingin kukatakan padamu…” ujar Minhyuk membuka pembicaraan. Ia berusaha keras menyembunyikan perasaan gugupnya.

Eun Kyung menatap Minhyuk lekat-lekat. Menunggu kata-kata cowok itu selanjutnya.

Minhyuk menghela napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang berdegup tidak karuan, “Mungkin… ini pertemuan terakhir kita. Setelah ini aku harus pergi…”

Eun Kyung terperanjat. Ia tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja dilontarkan Minhyuk barusan. Hanya dua buah kalimat pendek, tapi cukup memunculkan banyak pertanyaan di benaknya. “Pergi? Pergi kemana?” Rasanya ia mengucapkan kata-kata itu, tapi yang terjadi ia hanya bisa berdiri membatu dan semua pertanyaan itu hanya bisa tertahan di ujung lidah tanpa sanggup ia ucapkan.

“Karena itu, aku…” dengan sedikit tergesa-tergesa Minhyuk melepas salah satu kancing seragamnya yang terletak di urutan kedua dari atas dan menggenggamkannya ke tangan Eun Kyung, “Aku ingin kau menyimpan ini.”

Eun Kyung memerhatikan kancing di telapak tangannya dan menatapnya tidak percaya, “Ini…”

“Aku mau…” potong Minhyuk, “Aku mau kita bertemu lagi disini, dua tahun lagi. Ya, dua tahun lagi!” ia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ke arah Eun Kyung.

“Dua tahun… lagi? Disini?”

Minhyuk mengangguk mantap, “Ya. Aku janji akan kembali dua tahun lagi. Kau mau kan, mengabulkan permintaanku?”

Eun Kyung tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba mencerna setiap kata-kata yang dilontarkan Minhyuk. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa mereka akan berpisah secepat ini. Selama ini Minhyuk tidak pernah menceritakan tentang rencana kepergiannya. Dan jika cowok itu sampai mengucapkan kata-kata perpisahan seperti ini, berarti dia akan pergi jauh.

Eun Kyung menggigit bibir bawahnya dan menggenggam kancing pemberian Minhyuk kuat-kuat. Sebenarnya ia sudah menyukai Minhyuk sejak lama, namun ia tidak mau merusak hubungan persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak lama, sehingga memilih untuk memendam perasaanya itu dalam-dalam. Namun kata-kata Minhyuk membuat pertahanannya sedikit goyah. Rasanya ia ingin mengungkapkan perasannya sebelum semuanya terlambat.

“Apa… kau benar-benar harus pergi?” tanya Eun Kyung lirih. Sedikit berharap agar Minhyuk mempertimbangkan kembali rencananya. Tapi kemudian ia sadar, ia tidak boleh bersikap egois. Bagaimanapun juga Minhyuk memiliki kehidupannya sendiri.

Minhyuk memalingkan wajahnya, “Mianhae Eun Kyung-ah, aku harus pergi…”

Eun Kyung menatap Minhyuk lekat-lekat. Ia tidak lagi bisa menahan perasaannya. Sebagian besar hatinya mengatakan bahwa ia harus segera mengungkapkannya sekarang, disini, saat ini juga.

Setelah memantapkan hati, Eun Kyung pun berjalan mendekati Minhyuk, kemudian sedikit berjinjit agar tingginya sejajar dengan cowok itu, lalu mengecup pipinya sekilas.

“Saranghae…” ujar Eun Kyung setengah berbisik. Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutnya. Kata-kata yang sudah lama dipendamnya sejak ia menyadari perasaannya pada Minhyuk enam tahun yang lalu. Ia tidak bermaksud menahan kepergian Minhyuk, dan tidak pula membutuhkan jawaban. Ia hanya ingin Minhyuk mengetahui perasaannya yang sebenarnya, sebelum ia benar-benar pergi.

Minhyuk yang terkejut dengan sikap dan kata-kata Eun Kyung hanya bisa diam membeku. Apa yang dikatakan gadis itu barusan?

“Annyeonghi kaseyo, Minhyuk-ah…” Eun Kyung kembali memundurkan badannya menjauh dari Minhyuk, kemudian segera berbalik dan berlari meninggalkan cowok itu.

Minhyuk yang belum sepenuhnya tersadar hanya bisa memandangi punggung Eun Kyung dari kejauhan, yang kemudian menghilang di balik kerumunan para murid lainnya di tengah lapangan. Tanpa sadar sebelah tangannya terangkat dan menyentuh pipinya. Rasanya hangat. Dan perlahan rasa hangat itu menjalar ke sekujur tubuhnya.

***

TWO YEARS LATER…

Minhyuk memandangi jendela besar yang berada persis disamping tempatnya duduk sambil bertopang dagu. Tatapannya kosong. Tiba-tiba saja bayangan kejadian dua tahun yang lalu kembali terbersit di benaknya. Kejadian dimana ia mengucapkan kata-kata perpisahan pada Eun Kyung, yang tanpa diduga menyatakan perasaannya padanya.

Minhyuk menghela napas pelan, sedikit menyesali sikapnya waktu itu yang hanya bisa berdiri membatu tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menjawab pernyataan Eun Kyung. Gadis itu keburu pergi sebelum ia kembali ke alam sadarnya. Eun Kyung bahkan tidak datang untuk mengantarnya di bandara keesokan harinya. Rasanya Minhyuk ingin mengulang waktu kembali ke masa itu dan menjawab pernyataan Eun Kyung, bahwa ia juga menyukainya, bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

“Kau memperhatikan gadis itu lagi, eh?” tiba-tiba seseorang menepuk bahu Minhyuk dari belakang. Membuyarkan lamunan cowok itu seketika.

“Kalau memang menyukainya, kenapa tidak kau hampiri saja?” lanjut Minkyung yang sudah berdiri di belakang Minhyuk.

Minhyuk menghela napas kecil, “Itu tidak mungkin.” Jawabnya tanpa menoleh.

“Wae?”

“Dia tidak akan mengenaliku.”

Minkyung mengernyitkan dahi, “Jadi kalian saling kenal?” ia lalu menoleh ke arah yang sama dengan Minhyuk. Matanya membulat, “Itu Song Eun Kyung kan? Gadis yang dulu kau sukai?”

Minhyuk mendengus. Perlahan-lahan, ia merasakan wajahnya kembali memanas. Haruskah Minkyung mengucapkan namanya sejelas itu? Tidakkah dia tahu, hatinya sesak setiap kali mendengar nama gadis itu. Sesak karena jantungnya selalu berdegup tidak karuan, dan sesak karena kenyataannya ia tidak bisa memberikan apa-apa pada gadis itu.

Menyadari perubahan ekspresi wajah adik laki-lakinya itu, Minkyung tersenyum jahil, “Ah, aku salah. Ternyata sampai sekarang kau masih menyukainya!”

“Ya~! Bisakah kau tidak berbicara sekeras itu!? Kau membuatku terdengar seperti laki-laki menyedihkan!” protes Minhyuk yang tidak lagi mampu menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Minkyung terkekeh, “Tapi memang begitu kenyataannya kan?” ia lalu menarik kursi dan duduk dihadapan Minhyuk, “Kenapa kau tidak menemuinya? Kalian belum pernah bertemu semenjak kau kembali dari Chicago kan?”

Minhyuk tidak menjawab. Memang sudah hampir dua tahun berlalu sejak kepergiannya yang mendadak ke Chicago bersama kedua orangtuanya, dan sekarang ia baru saja kembali ke Korea. Namun Eun Kyung belum mengetahui kabar kepulangannya, karena Minhyuk yang menginginkan demikian. Ia merasa belum siap untuk bertemu dengan gadis itu, lagi. Ia takut Eun Kyung tidak menerima perubahan dirinya, dan juga karena beberapa faktor lain.

Bukan keinginan Minhyuk untuk pergi secara tiba-tiba kesana tanpa membicarakannya dulu pada Eun Kyung. Tepat sehari sebelum hari kelulusannya, tiba-tiba saja teman ayahnya yang seorang dokter di salah satu rumah sakit di Chicago mengatakan bahwa ia sanggup mengoperasi mata Minhyuk yang mengalami rabun jauh parah hingga normal, tanpa resiko apapun. Segera saja ayah Minhyuk menyetujui hal itu. Ia juga menyuruh Minhyuk untuk mengambil kuliah sementara disana, setelah masa penyembuhan. Dan dua tahun disana membuat penampilan Minhyuk otomatis berubah. Dia bukan lagi Minhyuk yang sering dianggap aneh oleh teman-teman sekolahnya dulu karena rambutnya yang berwarna kecoklatan dan seperti singa─karena memang jarang disisir─dan memakai kacamata lebar dan tebal karena matanya minus cukup parah. Minhyuk yang sekarang adalah Minhyuk yang fashionable, dengan rambut hitam pendek yang ditata dengan rapi, manly, sehingga mampu membuat banyak gadis melirik ke arahnya ketika ia melintas didepan mereka.

Minkyung menatap Minhyuk lekat-lekat, “Kau tidak percaya diri dengan perubahan dirimu?” tanyanya tepat sasaran, “Seharusnya kau bangga. Maksudku, hei lihat… Kau yang sekarang jauh lebih baik daripada yang dulu. Eun Kyung juga pasti akan bangga. Kau tidak lihat tatapan para gadis di luar sana? Bahkan pelanggan di café ini pun mengalami peningkatan semenjak kau datang.”

Minhyuk melirik ke sekeliling café milik noona-nya itu. Minkyung benar. Sesaat tadi, ia melihat beberapa gadis sedang melirik ke arahnya, bahkan ada yang terang-terangan mengerlingkan mata dan melambai ke arahnya. Membuat Minhyuk sedikit bergidik ketika melihatnya.

“Apa salahnya menemuinya? Kalau memang dia tidak mengenalimu, kau tinggal bilang, ‘Annyeong, Eun Kyung-ah. Ini aku, Minhyuk’.” Lanjut Minkyung sambil menirukan gaya bicara Minhyuk, “Aku yakin kau pasti merindukannya.”

***

-Minhyuk’s POV-

“Aku yakin kau pasti merindukannya.”

Kata-kata Minkyung noona barusan terasa menusuk hatiku. Aish, kenapa sepertinya dia selalu tahu apa yang kurasakan? Memang benar, aku merindukannya, sangat. Tapi ada alasan kenapa aku belum bisa menemuinya.

“Sudah kubilang itu tidak mungkin.” Jawabku enggan.

“Bukankah sebenarnya ini alasanmu mengubah total penampilanmu? Kalau kau tidak segera menemuinya, nanti dia direbut orang lain. Eun Kyung cukup cantik, kau tahu? Dan dua tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuatnya berpaling dari orang yang sudah berani menggantungkan perasaannya.” Kulihat Minkyung noona melirikku sinis ketika mengucapkan kata-katanya yang terakhir.

Oh, baiklah, aku akui. Bisa dibilang aku memang menggantungkan perasaannya. Kami bahkan tidak saling berhubungan selama aku berada di Chicago. Entah karena dia sibuk, atau karena masih malu dengan pernyataan cintanya. Tapi aku juga segan untuk menghubunginya duluan karena sikapku saat pertemuan kami terakhir kali.

“Memang sudah.” Ujarku sinis, berusaha menekan emosi yang mulai muncul. Aku tahu Minkyung noona pasti bingung dengan perkataanku, jadi aku mengedikkan dagu ke arah jendela besar disampingku─atau lebih tepatnya ke arah Eun Kyung yang sedang berdiri di halte yang berada tepat di seberang jalan.

Dengan sedikit bingung Minkyung noona mengikuti arah pandangku. Kudengar ia mengatakan “oh” dengan pelan ketika melihat sebuah mobil sedan hitam yang berhenti tepat didepan Eun Kyung. Gadis itu tersenyum manis ketika kaca pintu mobil tersebut terbuka, dan kemudian bergegas masuk kedalamnya. Tanpa kujelaskan pun, tampaknya Minkyung noona sudah mengerti apa yang sedang terjadi. Karena aku pun juga demikian ketika pertama kali melihat kejadian itu kemarin.

Eun Kyung sudah memiliki kekasih, dan itu bukan aku.

Noona benar. Dua tahun adalah waktu yang cukup lama untuk melupakan perasaannya padaku, dan mulai membuka hatinya untuk orang lain.

Dua tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuat jantungku berdebar tidak karuan, menunggu saat-saat untuk bertemu dengannya kembali, sekaligus menghancurkan hatiku ketika mengetahui bahwa penantian itu hanya sia-sia.

Ini adalah salah satu alasan kenapa aku tidak bisa menemuinya. Ia sudah memiliki orang lain, dan aku tidak bisa tiba-tiba muncul begitu saja dihadapannya tanpa rasa bersalah, mengatakan kalau aku merindukannya padahal belum sedikitpun aku membalas perasaannya.

Terkadang aku berpikir, Eun Kyung-ah, apa waktu itu kau… benar-benar menyukaiku?

“Ya~! Kau mulai melamun lagi!” aku terkejut ketika tiba-tiba Minkyung noona menepuk meja dihadapanku dengan keras.

“Ah, eh, apa yang kau bilang barusan?” tanyaku gelagapan.

“Sudahlah, aku malas berbicara dengan orang yang sedang patah hati.”

“Aish, kenapa malah jadi kau yang marah?”

“Aku tidak marah.” Minkyung noona menghela napas, kemudian tersenyum, “Karena kau tidak mau menemuinya, bagaimana kalau kusampaikan saja salammu padanya?” ia lalu menunjukkan ponselnya dan menggoyang-goyangkannya ke arahku, “Setelah ini aku mau menemuinya.”

Aku tersentak, “Ya~! Bagaimana kau bisa menemuinya?”

“Tentu saja bisa. Kami bertemu setiap hari.” Jawabnya sambil tersenyum penuh arti. Aku tidak begitu suka melihatnya tersenyum seperti itu. Itu tandanya ia mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui.

“Setiap hari?”

Minkyung noona mengangguk, “Aku bekerja di perpustakaan milik ayahnya.”

“Perpustakaan? Bagaimana bisa?”

Bukannya menjawab, Minkyung noona malah beringsut mengambil tasnya dan bangkit dari tempat duduknya, “Sudah ya, aku pergi dulu. Ini sudah hampir terlambat. Tolong urusi dulu para pelanggan. Annyeong, Minhyuk-ah!” ia lalu bergegas menuju pintu keluar.

“Ya~! Kau berhutang cerita padaku!”

***

-Eun Kyung’s POV-

“Kau sudah menunggu lama?” tanya Soo Hyun oppa ketika aku baru saja menutup pintu mobil.

Aku menggeleng sambil tersenyum, “Ani. Baru saja.” Kemudian kuraih seat belt yang berada tepat di samping jok tempatku duduk dan melingkarkannya mengelilingi badanku.

Aku sedikit tersentak ketika tiba-tiba saja Soo Hyun oppa mencondongkan tubuhnya ke arahku dan membantuku memasangkan seat belt. Mungkin ia gemas melihatku yang sedikit kerepotan tadi.

“Gomawo.” Ujarku setelah seat belt itu terpasang sempurna. Ia hanya tersenyum dan menepuk kepalaku ringan.

Selama perjalanan, kami berdua tidak banyak bicara. Sesekali Soo Hyun oppa menanyakan hal-hal yang ringan padaku, yang kujawab tanpa banyak basa-basi. Selebihnya, kami lebih banyak diam. Aku lebih memilih untuk memandangi barisan pohon dan bangunan dari balik jendela, sedangkan Soo Hyun oppa tetap fokus menyetir. Yah, ini bukan pertama kalinya kami bersikap begini. Mungkin memang beginilah gaya berpacaran kami; tenang, tidak banyak bicara, dan tidak melulu mengumbar kemesraan di depan orang banyak. Selama ini kami bahkan tidak pernah bertengkar.

Sudah satu tahun kami menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Soo Hyun oppa adalah mantan seniorku di kampus. Kami pertama kali bertemu saat masa orientasi siswa. Saat itu kebetulan Soo Hyun oppa adalah senior pembimbingku. Sekarang ia sudah lulus dan baru saja diterima menjadi dokter hewan di salah satu klinik di Seoul. Meskipun begitu, ia tetap rajin menjemputku setiap pulang kuliah dan mengantarkanku ke perpustakaan milik ayahku. Aku memang hampir setiap hari datang kesana untuk sekedar membaca buku atau membantu para karyawan yang dipekerjakan ayahku, sekaligus mengawasi mereka.

Kupandangi lagi jalanan daerah Myeong-dong yang saat ini cukup padat. Hari sudah semakin sore, dan semakin banyak anak-anak muda yang datang ke daerah ini meski hanya untuk sekedar jalan-jalan. Perlahan-lahan, deretan bangunan dan toko berganti menjadi deretan pohon-pohon cherry blossom yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Hembusan angin yang cukup kencang membuat sebagian besar kelopak bunga cherry blossom itu beterbangan di udara.

“Musim semi… indah ya?” celetuk Soo Hyun oppa. Aku melirik ke arahnya, kulihat sudut bibirnya sedikit terangkat.

Aku mengangguk dan kembali membuang pandanganku ke luar jendela, memperhatikan kumpulan kelopak bunga yang terus berjatuhan.

Musim semi, tiba-tiba saja mengingatkanku pada kenangan dua tahun yang lalu. Kenangan semasa SMA-ku. Kenangan dimana aku, dengan bodohnya nekat menyatakan cinta pada seorang sahabat saat hari kelulusan. Kenangan yang sampai sekarang membuatku malu, namun tidak sanggup untuk kulupakan.

Ya, sampai sekarang aku tidak pernah melupakan orang itu. Orang yang telah memberiku keberanian sekaligus mengajarkanku akan suatu hal abstrak yang bisa membuatmu bahagia, namun juga dapat membuatmu sesak di waktu yang bersamaan.

Tiba-tiba saja perasaan cemas menyelimuti hatiku. Sudah dua kali aku melewati musim semi tanpanya, yang berarti sudah dua tahun kami berpisah.

Ya, dua tahun. Waktu yang ia janjikan agar kami bertemu disana, di tempat kenangan itu.

Sudah dua tahun, Minhyuk-ah, dimana kau sekarang?

***

-Author’s POV-

“Aku pulang.” Seru Minkyung begitu sampai kedalam rumahnya. Setelah menutup pintu, ia pun segera mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Betapa terkejutnya ia ketika hendak melangkah, tiba-tiba saja Minhyuk sudah berdiri tepat di hadapannya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kau berhutang cerita padaku.” Katanya tegas.

Minkyung mengerjap beberapa saat, mencoba mencerna kata-kata yang dilontarkan Minhyuk barusan. Rupanya adik laki-lakinya itu ingin meminta penjelasan bagaimana ia bisa bekerja di perpustakaan milik ayah Eun Kyung.

“Iya, aku tahu. Tapi nanti saja ceritanya. Aku capek.” Minkyung berjalan dengan langkah gontai melewati Minhyuk. Tiba-tiba terbersit ide di otaknya untuk sedikit menjahili adiknya itu.

Minhyuk buru-buru merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi jalan Minkyung, “Tidak bisa. Kau harus cerita sekarang.”

“Aish, kau ini keras kepala sekali! Apa kau sebegitu penasarannya dengan Eun Kyung?”

Minhyuk tercekat. Buru-buru ia memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaannya, dan apa saja yang ia bicarakan ketika bersamamu.” Jawabnya dengan wajah tersipu.

Minkyung tersenyum geli melihat ekspresi adiknya itu. Pasti seharian ini dia gelisah menunggu kepulangannya untuk mendapatkan segala informasi tentang Eun Kyung, karena kenyataannya selama dua tahun ini Minkyung berada sangat dekat dengan gadis itu. Jadi, ia pasti tahu apa saja yang dilakukannya selama dua tahun terakhir ini.

“Baiklah, akan kujelaskan.” Minkyung akhirnya menyerah, “Aku sengaja melamar pekerjaan di perpustakaan milik ayahnya begitu kau pergi, karena aku tahu kau sangat mengkhawatirkannya dan ingin meminta seseorang untuk mengawasinya untukmu, tapi kau terlalu takut untuk mengatakannya.”

Minhyuk terbelalak. Jadi, itukah alasan sebenarnya Minkyung bekerja sebagai penjaga perpustakaan padahal ia sudah memiliki café yang cukup besar?

“Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanyanya kemudian.

“Karena kau tidak pernah menanyakannya, padahal kau tahu hubunganku dan Eun Kyung cukup dekat.” Jawab Minkyung enteng, “Tapi dia tidak tahu kalau aku juga seorang pemilik café. Jadi, kalau nanti kau bertemu dengannya, tolong jangan beritahu dia.”

Minkyung hendak melanjutkan kembali langkahnya ketika lagi-lagi Minhyuk menahannya, “Lalu, bagaimana…”

“Soal kau?” potong Minkyung, “Entahlah, selama ini dia tidak pernah menanyakan soal dirimu. Aku sendiri heran.”

Mendengar jawaban Minkyung, hati Minhyuk mencelos. Ternyata selama ini Eun Kyung tidak pernah sekalipun menanyakan soal dirinya sesuai harapannya. Hal semakin memperkuat dugaannya bahwa gadis itu sudah benar-benar melupakan dirinya.

“Oh iya, satu lagi.” Minkyung kembali berujar, “Soal hubungannya dengan pria itu, aku tidak tahu dia siapa. Yang jelas aku memang pernah melihatnya mengantar Eun Kyung ke perpustakaan beberapa kali. Tapi kalau mereka benar-benar berpacaran, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Itu di luar kuasaku.”

Minhyuk terdiam. Jujur, rasanya sangat menyesakkan mendengar kenyataan sepahit itu. Namun di satu sisi ia sedikit lega karena dapat mengetahui bahwa gadis itu baik-baik saja. Hal itu sudah cukup baginya.

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kau istirahat saja di kamarmu. Kau pasti lelah kan?” Minkyung menepuk pelan bahu Minhyuk, berusaha membesarkan hati adik laki-laki satu-satunya itu.

“Ah, noona…” panggil Minhyuk. Minkyung kembali menoleh.

“Boleh… kuminta alamat perpustakaan itu?”

***

Minhyuk berjalan perlahan menyusuri satu per satu rak buku besar yang berjejer rapi di perpustakaan itu. Sesekali ia mengambil salah satu buku yang ada di dalamnya, namun matanya tetap terfokus pada seorang gadis yang berdiri tidak jauh darinya. Gadis itu sedang sibuk mengembalikan tumpukan buku yang dipegangnya sesuai dengan tempatnya semula.

Saat merasa gadis itu hampir menoleh ke arahnya, cepat-cepat Minhyuk bersembunyi di balik rak buku sebelum gadis itu menyadari keberadaannya. Saat ini ia memang belum siap untuk menemui gadis itu, meskipun Minkyung sudah berulang kali membujuknya.

Entah karena terlalu panik atau apa, tanpa sengaja Minhyuk menyenggol rak buku yang berada di belakangnya dengan cukup keras sehingga beberapa bukunya berjatuhan. Minhyuk meringis pelan. Kalau begini, artinya sia-sia saja ia bersembunyi.

Minhyuk akhirnya pasrah. Ia pun memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya dan berjongkok untuk memungut buku-buku itu.

“Biar kubantu.” Tiba-tiba seorang gadis sudah berjongkok di hadapan Minhyuk dan membantunya merapikan buku-buku tersebut.

Minhyuk mendongak. Dilihatnya Song Eun Kyung, gadis yang sejak tadi diperhatikannya diam-diam sudah berada tepat dihadapannya. Dirasakannya jantungnya mulai berdegup kencang. Minhyuk menatap gadis itu lekat-lekat. Ia penasaran bagaimana reaksi gadis itu kalau nanti ia mendongak dan melihat dirinya?

“Ini.” Eun Kyung menyerahkan setumpuk buku yang dirapikannya pada Minhyuk, “Lain kali berhati-hatilah.”

Minhyuk mengerjapkan matanya. Aneh, reaksi gadis itu benar-benar di luar dugaannya. Sama sekali tidak tampak ekspresi terkejut ketika mata mereka bertemu satu sama lain. Apa… gadis itu tidak mengenalinya?

“Ada apa? Kau mau meminjam buku-buku itu kan?” tanya Eun Kyung heran. Sorot matanya jelas-jelas menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak mengenali lawan bicaranya itu.

“A…apa…” Minhyuk memberanikan diri untuk bertanya.

Eun Kyung memiringkan kepalanya, menatap cowok itu dengan seksama, “Hm?”

“Ah, tidak…” Minhyuk pun mengurungkan niatnya. Sepertinya gadis itu benar-benar tidak menyadari bahwa dirinya adalah Kang Minhyuk, sahabatnya sejak sekolah dasar. Mungkin karena penampilannya yang berubah drastis sejak terakhir kali mereka bertemu.

Tiba-tiba saja terbersit sebuah ide di otak Minhyuk. Bukankah keadaan seperti ini justru menguntungkan baginya? Ia bisa berpura-pura menjadi orang lain dan diam-diam mencari tahu siapa laki-laki yng menjemputnya di halte waktu itu, serta bagaimana perasaan Eun Kyung yang sebenarnya saat ini.

Setelah menyerahkan tumpukan buku tersebut pada Minhyuk, Eun Kyung segera bangkit dan bergegas pergi.

“Jeo… jeogiyeo…” tahan Minhyuk. Eun Kyung menghentikan langkahnya dan menoleh.

Minhyuk terdiam sejenak, “Kalau boleh tahu, siapa namamu?”

Eun Kyung mengernyitkan dahi. Ia merasa sedikit bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Minhyuk barusan, namun kemudian ia tersenyum, “Eun Kyung. Namaku Song Eun Kyung.”

Minhyuk menelan ludah. Ia tidak salah. Gadis itu benar-benar Eun Kyung, sahabatnya, yang selalu memenuhi pikirannya selama dua tahun ini. Akhirnya ia bisa melihat senyum gadis itu lagi. Meskipun ia sadar, senyum itu bukan benar-benar untuknya.

Minhyuk menyunggingkan seulas senyum, “Kalau begitu, terima kasih, Eun Kyung-ssi.”

***

-Eun Kyung’s POV-

“Jadi, oppa tidak bisa menjemputku?” tanyaku memastikan. Baru saja Soo Hyun oppa menelepon dan mengatakan bahwa ia tidak bisa menjemputku di perpustakaan hari ini.

“Mianhae, Eun Kyung-ah. Masih banyak hewan yang harus kutangani. Kau tidak apa-apa kan, pulang sendiri?” sahut Soo Hyun oppa di seberang telepon. Nada suaranya terdengar sangat kecewa.

“Gwaenchanha. Ini kan bukan pertama kalinya aku pulang sendiri. Kau tidak perlu khawatir.” Jawabku menenangkan.

“Baiklah, hati-hati, Eun Kyung-ah. Kalau ada apa-apa hubungi aku saja.”

“Arasseo. Sampai nanti, oppa. Bekerjalah yang giat.” Pesanku sebelum memutuskan sambungan telepon.

Aku melirik jam tanganku. Sudah pukul setengah sepuluh malam. Perpustakaan sudah tutup sejak setengah jam yang lalu. Berhubung aku adalah orang terakhir yang ada disini, jadi akulah yang bertugas menutup perpustakaan. Semua karyawan sudah lebih dulu pulang. Jadi, tidak ada pilihan lain, terpaksa aku pulang sendiri naik bus.

“Kalau kau tidak keberatan, aku bisa mengantarmu.” Saat hendak melangkah, tiba-tiba saja seseorang sudah berdiri dihadapanku.

Aku mendongak. Kulihat laki-laki itu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana dan tersenyum ramah.

Aku sedikit tersentak. Kalau tidak salah, dia adalah orang yang kutolong tadi sore, “Ah, kau…”

“Bagaimana? Kau mau?” tawarnya lagi.

“Ng… tapi…” jujur aku merasa tidak enak padanya. Lagipula kami baru bertemu beberapa jam yang lalu. Apa boleh aku langsung mempercayainya?

“Jangan khawatir, aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin membantumu. Tidak baik seorang gadis pulang sendirian malam-malam begini.”

Aku terdiam. Kata-katanya memang benar. Akhir-akhir ini berbagai kasus kejahatan kriminal di malam hari mulai marak lagi. Mungkin akan lebih aman jika aku bersamanya. Lagipula, sepertinya dia orang baik-baik. Jadi tidak ada salahnya aku menerima ajakannya.

Dengan sedikit ragu aku pun mengangguk, “Baiklah.”

Aku lalu mengikuti langkahnya menuju motor sport merah yang terparkir tidak jauh dari tempatku berdiri tadi. Setelah membuka bagasi motornya, ia menyerahkan sebuah helm berwarna putih padaku.

“Pakailah.”

Aku kembali mengangguk dan memakai helm itu. Namun karena tidak terbiasa, aku mengalami sedikit kesulitan ketika mengencangkan talinya.

Kudengar laki-laki itu terkekeh pelan, “Sini, biar kupasangkan.” Ujarnya sambil membantuku mengencangkan tali helm tersebut. Tanpa sadar aku sedikit berjengit karena jarak kami yang terlalu dekat.

“Nah, sudah.” Ia menepuk pelan bagian atas helm yang kupakai dan tersenyum, “Ayo kita jalan.”

Aku mengikutinya menaiki motor sport merah itu. Sedikit sulit karena desain motor itu cukup tinggi. Aku memang belum pernah naik motor sport sebelumnya, dan seperinya laki-laki itu menyadarinya karena berkali-kali ia membantuku.

“Dimana rumahmu?” tanyanya di tengah perjalanan.

“Ng… di daerah Pyeongchang-dong.” Jawabku jujur. Kemudian kulihat ia mengangguk.

“Eun Kyung-ssi, …………………………” aku merasa ia mengatakan sesuatu, namun karena terpaan angin yang cukup kencang, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

“Mwo?” aku pun sedikit mencondongkan tubuhku ke arahnya agar bisa mendengarnya lebih jelas.

Tiba-tiba saja laki-laki itu menarik sebelah tanganku dan melingkarkannya di pinggangnya, “Pegangan yang erat, nanti kau jatuh.” Ulangnya sambil menarik tanganku yang satu lagi dan mengaitkannya satu sama lain sehingga mau tidak mau badanku bersandar di punggungnya.

Aku terkejut. Ingin rasanya kulepaskan pegangan tanganku, namun ia keburu mempercepat laju motornya. Aku takut jika aku melepaskannya, aku akan terdorong ke belakang dan jatuh.

Selama perjalanan, kami hanya terdiam. Aku segan untuk memulai pembicaraan. Lagipula, posisi seperti ini membuatku sedikit tidak nyaman. Bukankah… posisi seperti ini biasanya dilakukan oleh sepasang kekasih?

Aneh. Seharusnya aku menolak permintaannya agar aku berpegangan erat padanya. Namun entah kenapa aku tidak bisa melakukannya. Malah sebaliknya, aku merasa nyaman. Rasanya, aku seperti sudah lama mengenalnya.

“Aish, Eun Kyung-ah! Apa yang kau pikirkan!”

Mungkin karena terlalu lama melamun, tanpa terasa kami sudah tiba di daerah Pyeongchang-dong. Aku memberitahunya posisi rumahku, dan tak lama kemudian kami pun sampai.

“Kamsahamnida, ng…” ujarku setelah turun dari motor. Sengaja kupotong ucapanku untuk mengetahui namanya.

“Cheonmaneyo.” Jawabnya cepat. Aku tidak dapat melihat ekspresi wajahnya dengan jelas karena tertutup helm. Tapi kulihat matanya menyipit, mungkin ia sedang tersenyum.

Baru saja aku membuka mulut untuk meneruskan ucapanku, tapi dia sudah lebih dulu menyalakan mesin motornya kembali dan melesat pergi. Meninggalkanku yang masih berdiri terpaku didepan pagar.

Aku menghela napas pelan. Sudahlah, mungkin ia lupa menyebutkan namanya. Jika suatu saat kami bertemu lagi, aku harus membalas kebaikannya karena sudah bersedia memberiku tumpangan dan mengantarkanku sampai ke rumah dengan selamat.

“Aku pulang.” Ujarku setelah masuk kedalam rumah.

“Ah, Eun Kyung-ah. Kau sudah pulang?” sahut eomma-ku yang muncul dari balik dapur. Sepertinya ia sedang beres-beres setelah makan malam.

“Ne.” Jawabku sambil melepas sepatuku dan menggantinya dengan sandal rumah.

“Eun Kyung-ah, kau… pulang dengan siapa?” tanyanya kemudian. Kudengar sedikit nada heran dari suaranya.

“Dengan Soo Hyun oppa, seperti biasa. Memangnya kenapa?” jawabku berbohong. Aku tidak bisa bilang bahwa aku pulang sendirian karena eomma sangat melarangku pulang sendirian di malam hari. Menurutnya itu sangat berbahaya. Tapi aku juga tidak bisa bilang aku pulang bersama seorang teman karena eomma akan menanyakannya lebih jauh dan aku enggan membahasnya.

“Jadi, sekarang Soo Hyun membawa motor?”

“Maksud eomma?” tanyaku tidak mengerti. Dari mana ia tahu kalau aku diantar pulang dengan motor?

“Lalu… itu…?” ia menunjuk ke arah kepalaku.

Dengan sedikit bingung aku menyentuh bagian yang ditunjuk olehnya, dan terkejut karena yang kusentuh bukanlah rambut, melainkan sesuatu yang keras.

“Gawat! Aku lupa mengembalikan helm-nya! Aigo~ eotteokhae!?” ujarku panik. Buru-buru aku membuka ikatan helm itu dan melepasnya. Benar saja, helm berwarna putih milik laki-laki itu masih melekat di kepalaku sampai tadi dan aku tidak menyadarinya. Aish, bagaimana aku bisa sebodoh ini!?

“Sudahlah, besok kau kan bisa mengembalikannya. Itu milik Soo Hyun kan? Kalian kan bertemu hampir setiap hari.” Eomma berusaha menenangkanku.

Aku menggigit bibir bawahku. Kalau saja ini milik Soo Hyun oppa, aku pasti tidak akan sepanik ini. Masalahnya, aku tidak tahu nama laki-laki tadi dan tidak tahu kapan akan bertemu dengannya lagi.

***

“Eomma, aku pergi dulu.” Sahutku sesaat setelah menyelesaikan sarapanku. Tanpa membuang waktu aku segera bergegas keluar rumah.

Kulihat Soo Hyun oppa sudah berdiri bersandar didepan Lexus hitamnya yang terparkir tepat didepan pagar rumahku. Ia tersenyum begitu melihatku keluar, dan aku balas tersenyum sambil melambaikan tanganku ke arahnya.

“Apa itu?” tanyanya ketika melihatku membawa sebuah tas jinjing yang cukup besar.

“Ah, bukan apa-apa.” Jawabku sambil berusaha menutupi tas jinjing yang kupegang dari hadapan Soo Hyun oppa. Isinya adalah helm milik laki-laki yang mengantarku semalam. Aku tidak ingin ia menanyakannya lebih lanjut dan menjadi salah paham nantinya.

“Eun Kyung-ah, bagaimana kalau hari ini kau tidak usah ke perpustakaan dulu? Lagipula ini hari Minggu.” Ujar Soo Hyun oppa di tengah perjalanan.

Aku mengangguk-angguk, “Tidak masalah, sih. Memangnya kita mau kemana?”

“Aku mau mengajakmu ke suatu tempat.” Jawabnya penuh rahasia. Aku hanya bisa diam sambil menebak-nebak kira-kira kemana ia akan membawaku.

***

-Minhyuk’s POV-

“Jadi, kau pura-pura tidak mengenalnya dan mengantarnya sampai ke rumah? Ckck… licik juga caramu.”

Aku melirik sekilas. Kulihat Minkyung noona menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melipat kedua tangannya didepan dada.

“Licik bagaimana? Dia juga tidak mengenaliku. Jadi tidak masalah. Malah aku merasa beruntung karena itu.” Tandasku sambil menuangkan krim di atas secangkir cappuccino dan membentuknya seperti daun. Aku memang terbilang cukup ahli dalam melakukan ini. Aku tertarik belajar menjadi barrista sejak mengetahui Minkyung noona membuka café. Maka dari itulah, aku sering berkunjung kesini jika ada waktu luang.

“Yah, terserah kau sajalah.”

Kami berdua sama-sama menoleh ketika mendengar suara pintu berdenting, sekaligus terkejut ketika melihat siapa yang baru saja datang; Eun Kyung dan seorang laki-laki muda. Aku sangat yakin dia adalah laki-laki yang menjemput Eun Kyung di halte waktu itu. Yah, wajahnya memang lumayan, sikapnya juga tenang dan bersahaja. Hampir berbanding lurus dengan Eun Kyung yang feminin dan sedikit pendiam.

Aku terus memperhatikan langkah kedua orang itu secara diam-diam hingga akhirnya mereka memilih tempat duduk di samping jendela besar di salah satu sudut ruangan. Pandanganku lalu terfokus pada Eun Kyung, yang tampak sangat manis mengenakan dress berwarna peach─salah satu warna kesukaannya. Sesekali ia tersenyum ke arah laki-laki yang datang bersamanya itu. Wajahnya terlihat sangat… bahagia.

Ya. Bahagia.

“Kau saja yang urusi mereka, ya. Aku mau ke dapur dulu.” Minkyung noona menepuk bahuku ringan, membuyarkan semua lamunanku.

“Ya~, kenapa begitu? Kau pemiliknya kan? Bertanggung jawablah sedikit!” protesku.

“Bagaimana kalau nanti mereka melihatku? Aku juga tidak bisa berpura-pura sebagai pelayan. Apa kata karyawanku nanti!?” kata Minkyung noona sengit, “Sudahlah, aku pergi dulu.” Ia pun berbalik dan berjalan meninggalkanku yang masih berdiri dibalik meja kasir.

“Ya~! Kau… Aish!” aku mengacak-acak rambutku frustasi. Seenaknya saja dia menyuruhku mengurusi kedua orang itu, padahal untuk muncul dihadapannya saja aku tidak bisa.

Aku mendecak pelan dan menyandarkan badanku ke pinggir meja, mencoba untuk memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.

“Sial! Kenapa rasanya sangat menyesakkan!?”

Tak berapa lama kemudian kulihat seorang pelayan menghampiri meja kedua orang itu dan mencatatkan pesanan mereka. Segera saja kutarik pelayan itu ketika ia melintas didepan meja kasir.

“Apa yang mereka pesan?” tanyaku penasaran.

Pelayan itu tampak terkejut, namun kemudian ia menjawab, “Ng… sebelumnya pria itu sudah memesan kue tart tanpa diketahui wanitanya.”

“Kue tart?” pasti ada alasan kenapa laki-laki itu memesan secara khusus. Aku terdiam sejenak, mencoba menyusun strategi, “Kau antarkan pesanan orang itu, tapi sebelumnya antarkan es krim matcha dan chocolate cookies pada gadis yang duduk dihadapannya.” Perintahku.

“Ah, tapi…”

“Tidak ada tapi-tapi. Turuti saja kata-kataku.” Potongku tegas. Pelayan itu pun mengangguk patuh. Bagaimana pun juga, tidak ada alasan baginya untuk melawanku yang notabene adalah adik dari pemilik café ini.

Song Eun Kyung, jika kau tidak menyadari keberadaanku, maka aku yang akan membuatmu menyadarinya.

***

-Eun Kyung’s POV-

“Ada apa, Eun Kyung-ah?” tanya Soo Hyun oppa begitu melihatku hanya terdiam memandangi makanan yang baru saja tersedia di hadapanku.

“Ah, tidak apa-apa…” aku memaksakan seulas senyum. Jujur aku masih merasa terkejut melihat semangkuk besar es krim matcha dan chocolate cookies di atas meja. Seingatku, aku tidak pernah memesan makanan ini, tapi kenapa pelayan tadi mengantarkannya padaku?

“Oppa, apa kau yang memesan makanan ini?” tanyaku sedikit ragu.

Kulihat Soo Hyun oppa mengernyitkan dahi. Ia tampak sangat bingung dengan pertanyaanku, “Bukankah kau sendiri yang memesannya?”

“O, oh… iya…” jawabku sekenanya. Kalau bukan Soo Hyun oppa, lalu siapa?

Kuputuskan untuk mengambil salah satu chocolate cookies tersebut dan memakannya. Mataku terbelalak.

“Ra…rasa ini…”

“Kau tidak suka makanannya?” tanya Soo Hyun oppa lagi.

Aku menggeleng kuat-kuat, “Justru ini makanan kesukaanku.” Jawabku jujur.

“Jinjja? Aku baru tahu.”

Aku terdiam mendengar ucapan Soo Hyun oppa. Padahal hanya argumen ringan, tapi entah kenapa terasa menusuk bagiku. Ia seolah ingin menyampaikan bahwa dirinya masih belum mengetahui apa-apa tentang diriku dan aku tidak pernah memberitahunya.

Kalau dipikir-pikir, selama ini aku memang kurang terbuka pada Soo Hyun oppa, padahal ia kekasihku sendiri. Jika memesan makanan di restoran, aku selalu setuju dengan pesanannya walaupun kenyataannya tidak selalu seperti itu. Aku lebih sering mengatakan ‘baiklah’ atau ‘terserah’ daripada menolaknya dan mengatakan apa yang sebenarnya kuinginkan. Tidak, bukan karena Soo Hyun oppa egois. Hal ini kulakukan semata-mata karena aku menghormatinya. Soo Hyun oppa sangat baik padaku. Saking baiknya sampai-sampai aku tidak sanggup untuk menolaknya.

Sama seperti setahun yang lalu, saat tiba-tiba saja Soo Hyun oppa menyatakan perasaannya padaku. Aku benar-benar terkejut saat itu. Tidak kusangka ia memiliki perasaan khusus terhadapku. Memang perhatian yang ditunjukkannya sedikit berbeda dengan perhatian yang ia tunjukkan pada orang lain, tapi kukira itu karena dia adalah senior pembimbingku. Aku merasa tidak enak jika menolaknya, jadi kuputuskan untuk menerimanya.

Sampai sekarang, aku masih ragu apakah keputusanku ini tepat atau tidak. Karena jujur saja, perasaanku saat bersama dengan Soo Hyun oppa tidak sama dengan perasaanku saat bersama Minhyuk dulu. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaan itu, tapi yang jelas aku bisa merasakannya.

Aku bisa merasakan siapa orang yang benar-benar ditakdirkan untukku, dan bukan Soo Hyun oppa orangnya.

“Eun Kyung-ah…” ketika sedang menikmati es krim matcha, tiba-tiba saja Soo Hyun oppa memanggilku. Aku pun mendongak menatapnya.

Soo Hyun oppa menjentikkan jarinya di udara, dan tak lama kemudian seorang pelayan datang menghampiri meja kami dengan membawa sebuah kue tart berukuran sedang. Aku hanya bisa diam memandangi kue tart tersebut.

Tanpa banyak bicara, Soo Hyun oppa menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna hitam ke arahku, kemudian membukanya dengan perlahan. Aku tertegun. Didalamnya terdapat sebuah kalung perak dengan liontin kecil yang dihiasi berlian di sekelilingnya. Bentuknya sederhana, namun sangat elegan.

“I…ini…”

“Happy anniversary…” ucapnya lembut sambil tersenyum. Ia lalu bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di belakang kursiku. Diambilnya kalung tersebut dari kotaknya, kemudian dipasangkannya ke leherku.

“Kau suka?” tanyanya tepat di telingaku.

Aku tidak langsung menjawab. Jujur, perlakuannya ini membuatku merasa bersalah. Bisa kurasakan perasaannya sangat tulus padaku, tapi aku masih belum bisa membalasnya.

“Oppa, kenapa begini? Kenapa kau sangat baik padaku?”

Kupandangi lagi liontin kalung itu, kemudian tersenyum, “Gomawo, oppa.”

***

-Author’s POV-

Soo Hyun menatap Eun Kyung lekat-lekat. Gadis itu benar-benar terlihat manis dalam balutan dress berwarna peach yang feminin, dengan rambut panjang bergelombang yang tergerai bebas. Soo Hyun tersenyum puas. Kalung pemberiannya benar-benar cocok di leher gadis itu. Membuatnya semakin terlihat anggun.

Dengan perlahan Soo Hyun mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu, berniat untuk mengecup bibirnya. Sementara Eun Kyung hanya bisa diam terpaku di tempatnya. Ia sedikit tersentak, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika bibir Soo Hyun nyaris menyentuh bibirnya…

“PRAAANGG!!!”

Dengan spontan Eun Kyung langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, membuat gerakan Soo Hyun terhenti.

“A…apa itu?” Eun Kyung tidak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.

Soo Hyun ikut menoleh ke arah yang sama dengan Eun Kyung. Dilihatnya seorang pelayan yang sedikit kikuk di balik meja kasir, kemudian ia berjongkok. Sepertinya ada barang yang pecah disana.

“Mengagetkan saja. Kukira apa.” Celetuk Soo Hyun.

Eun Kyung mengangguk pelan. Matanya masih terfokus ke arah meja kasir. Sesaat tadi, rasanya ia melihat sesosok laki-laki yang berjalan meninggalkan tempat itu menuju dapur. Entah ini hanya perasaannya saja, namun ia merasa sosok itu tidaklah asing baginya.

***

“Ya~, Minhyuk-ah, kau baru pulang?” tanya Minkyung begitu melihat adik laki-lakinya itu berjalan memasuki ruang tengah.

“Yah…” jawab Minhyuk enggan. Tanpa bicara sepatah kata pun, ia berjalan gontai menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.

“Ya~, ada apa denganmu? Kenapa lesu begitu?” Minkyung mengikuti langkah Minhyuk dari belakang.

Minhyuk tidak menjawab. Ia menghentikan langkahnya sejenak, kemudian berjalan lagi.

Melihat perubahan sikap Minhyuk, Minkyung merasa mengerti. Pasti ada sesuatu yang terjadi di café tadi. Tebakannya memang tepat, karena tadi tanpa sengaja Minhyuk melihat Soo Hyun yang hampir mencium bibir Eun Kyung tepat di depan matanya, sehingga tanpa sadar ia menyenggol cangkir cappuccino yang berada didekatnya sehingga terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.

“Tadi… Eun Kyung menitipkan helm-mu padaku. Dia bilang dia lupa mengembalikannya kemarin.” Ujar Minkyung hati-hati sambil menunjukkkan tas jinjing besar berisi helm berwarna putih. Sebenarnya Eun Kyung hanya mengatakan agar ia menjaga helm itu sampai pemiliknya datang, tapi karena ia tahu helm itu milik Minhyuk, ia segera membawanya pulang.

“Taruh saja disitu.” Jawab Minhyuk datar tanpa menoleh sedikitpun.

“Dia juga menyelipkan kartu ini didalamnya.”

Kata-kata Minkyung yang terakhir berhasil membuat Minhyuk menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahnya. Ia pun segera mendekati kakak perempuannya itu dan mengambil kartu tersebut.

“Apa isinya? Coba kulihat!” tanya Minkyung penasaran. Ia sedikit mencondongkan badannya ke arah Minhyuk untuk melihat tulisan yang tertera didalam kartu tersebut, namun Minhyuk buru-buru menyembunyikannya.

“Sudahlah, aku mau ke kamar.” Ia pun segera berbalik dan menaiki tangga menuju kamarnya. Meninggalkan Minkyung yang masih memandangnya dengan penuh rasa penasaran.

Setelah sampai di dalam kamar, Minhyuk segera menutup pintu dan bersandar dibaliknya. Dibukanya kartu tersebut dan dibacanya dengan seksama. Disana tertulis;

Terima kasih karena kau sudah memberiku tumpangan. Maaf kalau aku lupa mengembalikan helm-mu. Kuharap kita bisa bertemu lagi.

-Song Eun Kyung-

Minhyuk tertegun. Tulisan ini… benar-benar tulisan tangan Eun Kyung. Walaupun hanya beberapa kalimat pendek, namun sudah cukup membuat jantungnya berdebar tidak karuan. ‘Kuharap kita bisa bertemu lagi’. Bukankah itu artinya gadis itu ingin mengenalnya lebih jauh?

Minhyuk membaca tulisan itu lagi dengan seksama. Rasa kesal yang tadi sempat menghinggapi hatinya seketika menghilang entah kemana. Tanpa disadari, sebuah senyum manis tersungging di bibirnya.

***

“Ting…! Tong…!” terdengar bel pintu berbunyi. Song Mi Joo, ibu Eun Kyung yang saat itu sedang memasak di dapur bergegas menuju ruang tengah. Dari layar interkom, dilihatnya seorang laki-laki muda berperawakan tinggi sedang berdiri di depan pagar rumahnya. Laki-laki itu mengenakan T-shirt putih dan jaket abu-abu yang dipadukan dengan jeans dan sneaker putih. Di tangannya tergenggam sebuah tas jinjing berukuran sedang.

“Siapa?” tanya Song ahjumma yang merasa tidak mengenali laki-laki tersebut.

“Annyeonghaseyo, ahjumma. Aku Kang Minhyuk. Kau ingat?” sahut laki-laki itu.

Song ahjumma tampak berpikir sejenak, “Ah, kau Minhyuk? Aigo~, tunggu sebentar.” Ia segera menekan tombol untuk membuka pintu pagar dan menyuruh laki-laki itu masuk.

“Kau benar-benar Minhyuk? Sepertinya sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kau semakin tampan saja.” Puji Song ahjumma begitu Minhyuk masuk ke dalam rumahnya.

Minhyuk hanya tersenyum simpul, “Kamsahamnida.”

“Kapan kau pulang?” tanya Song ahjumma setelah mengajak laki-laki itu duduk di sofa di ruang tengah.

“Sekitar tiga hari yang lalu.”

“Kau pasti ingin bertemu Eun Kyung. Sayang sekali, dia sedang tidak ada di rumah sekarang.”

“Ah, tidak apa-apa. Yang penting aku bisa bertemu dengan ahjumma.” Minhyuk lalu menyodorkan tas jinjing yang dibawanya pada wanita itu, “Aku membawakan ini sebagai oleh-oleh.”

“Aigo~, kau ini baik sekali. Kamsahamnida.” Ujar Song ahjumma sumringah, “Tunggu sebentar, biar kusiapkan minum dulu. Kau mau minum apa?”

“Ng… apa saja.”

Song ahjumma mengangguk, kemudian bangkit dari tempat duduknya dan bergegas menuju dapur.

Setelah wanita itu pergi, Minhyuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ruang tengah itu masih sama seperti saat terakhir ia datang kesana. Ruangan tersebut bergaya minimalis dengan sentuhan country di beberapa sudut. Aroma citrus dan lavender yang menguar di sekeliling ruangan semakin menambah kesan hangat dan nyaman.

Sambil menunggu Song ahjumma, Minhyuk memutuskan untuk berjalan di sekeliling ruangan itu sambil memperhatikan beberapa pigura foto yang terpajang rapi di dinding. Langkahnya terus berlanjut ke beberapa ruangan di rumah itu hingga akhirnya sampailah ia di depan sebuah pintu kayu berwarna putih yang terletak di lantai dua. Minhyuk menghentikan langkahnya dan menatap pintu tersebut. Dulu, ia sering bermain kesini dan masuk kedalam ruangan di balik pintu itu untuk bertemu dengan pemiliknya.

Minhyuk membuka pintu kamar tersebut dengan perlahan. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan bergaya minimalis yang didominasi warna peach dan putih itu. Minhyuk ingat, dulu Eun Kyung sempat mengutarakan keinginannya untuk mengecat kamar tersebut dengan warna turquoise─salah satu warna kesukaannya selain peach─namun Minhyuk melarangnya, karena warna itu memberikan kesan gelap untuk kamar seorang gadis. Akhirnya Eun Kyung pun menyetujui sarannya untuk mengecat kamar tersebut dengan warna peach.

Dengan hati-hati Minhyuk melangkahkan kakinya masuk. Salah satu kesamaan antara dirinya dengan Eun Kyung, yaitu mereka sama-sama menyukai kamar yang bersih dan rapi. Buku-buku, boneka, dan berbagai peralatan lain tertata dengan sangat baik. Samar-samar tercium aroma citrus yang menguar di sekeliling kamar tersebut. Aroma yang mengingatkannya akan gadis itu.

Pandangan Minhyuk lalu tertuju pada sebuah boneka elmo berukuran cukup besar yang ada di atas tempat tidur. Boneka itu adalah hadiah yang diberikannya pada Eun Kyung saat ulang tahunnya yang ke-17. Seingatnya, dulu boneka itu tidak mengenakan pakaian. Namun sekarang tubuh bagian atas boneka itu ditutupi dengan kemeja mungil berwarna putih. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya; kemeja mungil tersebut hanya memiliki satu kancing di bagian tengahnya. Minhyuk mendekati boneka tersebut dan mengamatinya. Ia sedikit terkejut karena kancing tersebut adalah kancing kemeja yang diberikannya pada Eun Kyung saat hari kelulusan dua tahun yang lalu. Rupanya gadis itu masih menyimpan kedua benda pemberiannya dengan baik.

Minhyuk tersentak. Jika Eun Kyung masih menyimpan barang-barang pemberiannya, itu berarti gadis itu tidak melupakannya seperti yang selama ini ia duga. Ia segera menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, mencoba mencari sesuatu yang dapat menguatkan dugaannya. Pandangannya lalu mengarah pada sebuah buku yang tergeletak di atas meja belajar. Buku tersebut sedikit menarik perhatian karena bentuknya yang berbeda dengan buku-buku yang lain, penuh dengan berbagai tempelan memo dan foto.

Minhyuk mengambil buku tersebut dan membukanya perlahan. Daripada disebut diary, buku itu lebih cocok disebut jurnal. Jurnal kegiatan Eun Kyung sehari-hari karena di setiap halamannya diselipkan foto atau gambar. Minhyuk mengamati halaman demi halaman tersebut dengan seksama. Melalui buku itu, ia dapat mengetahui bagaimana perasaan Eun Kyung yang sebenarnya selama ini.

Minhyuk memperhatikan jurnal dan boneka itu secara bergantian. Rasanya ia mengerti sesuatu.

Minhyuk baru sadar, kalau selama ini ia telah salah paham. Dan yang harus dilakukannya sekarang adalah meluruskan kesalahpahaman itu agar semuanya berjalan seperti seharusnya.

***

Eun Kyung melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul sembilan malam, namun bus yang ditunggunya belum juga muncul. Hari ini lagi-lagi ia harus pulang sendiri karena Soo Hyun oppa mendadak mendapat tugas ke daerah Incheon sehingga tidak bisa menjemputnya. Tapi Eun Kyung sama sekali tidak keberatan, karena bagaimanapun juga pekerjaannya jauh lebih penting.

“Kurasa besok kita harus latihan lagi.” Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis.

“Benar. Usaha kita belum maksimal.” Sahut seorang lagi.

“Hari kelulusan tinggal dua hari lagi kan? Aigo~, rasanya waktu cepat sekali berlalu ya?”

Eun Kyung menoleh. Dilihatnya tiga orang siswi SMA sedang bercakap-cakap tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dari seragamnya, ia dapat mengetahui bahwa ketiga gadis tersebut adalah siswi Chungju High School, SMA-nya dulu. Tanpa sadar, ia pun ikut mendengarkan percakapan ketiga orang tersebut.

Dua hari lagi hari kelulusan. Itu berarti, waktu yang dijanjikan Minhyuk untuk mereka bertemu tinggal dua hari lagi. Namun, sampai sekarang ia masih belum tahu dimana keberadaan cowok itu, dan apakah dia masih mengingat janjinya atau tidak. Hal itu membuat Eun Kyung sedikit ragu.

“Haruskah aku datang kesana?”

“Ah, itu busnya datang!” celetuk salah satu siswi tadi. Eun Kyung ikut menoleh. Benar saja, bus yang sejak tadi ditunggunya sudah tiba di halte tempatnya berdiri sekarang. Ia pun bergegas masuk ke dalam bus itu sebelum pintunya menutup.

Karena malam sudah mulai larut, keadaan di dalam bus tersebut cukup lengang. Eun Kyung memilih tempat duduk di belakang yang cukup sepi, hingga tiba-tiba saja seseorang duduk di sebelahnya.

“Ah, kau…” Eun Kyung mengenali orang tersebut sebagai laki-laki baik hati yang memberikan tumpangan padanya tempo hari.

Laki-laki yang mengenakan T-shirt putih dan jaket abu-abu tersebut menoleh. Ia tampak sedikit terkejut, namun kemudian tersenyum, “Ah, ternyata kita bertemu lagi.”

Eun Kyung balas tersenyum, kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Entah kenapa, setiap kali melihat senyum laki-laki itu perasaannya selalu aneh. Ada perasaan rindu yang menyergap, dan ia tidak tahu bagaimana perasaan itu bisa muncul.

Selama perjalanan, Eun Kyung terus terlarut dalam pikirannya. Tiba-tiba saja ia merasa bahunya menjadi berat. Eun Kyung menoleh. Ia terkejut karena laki-laki tadi sudah menyandarkan kepalanya di bahunya dengan mata terpejam. Dengan ragu-ragu ia menjulurkan tangannya dan mengguncang-guncangkan bahu orang itu, namun dia tetap tidak bergeming.

“Ya~, bangunlah.” Eun Kyung mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah orang itu, namun hasilnya tetap nihil. Sepertinya laki-laki itu sudah benar-benar tertidur.

Eun Kyung menghela napas. Kalau sudah begini, tidak ada yang bisa ia lakukan selain membiarkan orang itu tidur di bahunya, hingga tiba saatnya untuk turun.

Eun Kyung memperhatikan wajah orang itu lekat-lekat, menelusuri setiap garis wajahnya. Entah kenapa, wajah orang itu terasa tidak asing baginya. Wajah yang mengingatkannya akan… Minhyuk. Ya, Minhyuk. Jika diperhatikan, wajahnya memang sangat mirip. Hanya saja model rambutnya berbeda dan dia tidak memakai kacamata.

Tiba-tiba saja Eun Kyung merasakan jantungnya berdegup kencang. Apa… dia benar-benar Minhyuk? Ah, tapi rasanya tidak mungkin. Saat awal mereka bertemu, laki-laki ini sama sekali tidak mengenalinya. Lagipula penampilan mereka sangat jauh berbeda.

Eun Kyung cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lain ketika melihat laki-laki itu menggeliat dan membuka matanya perlahan. Ia menghela napas panjang, berusaha menormalkan kerja jantungnya yang dari tadi berdebar tidak karuan.

“Bukankah seharusnya kau turun di halte ini?” tiba-tiba laki-laki itu berujar.

Eun Kyung segera menoleh. Benar saja, bus itu sudah berhenti didepan halte tempat seharusnya ia turun.

“Ah, benar juga. Kalau begitu aku turun duluan. Sampai jumpa.” Ia buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan bergegas turun dari bus.

***

-Eun Kyung’s POV-     

“Ne, oppa. Aku baru saja sampai.” Sahutku pada Soo Hyun oppa di seberang telepon. Baru saja ia meneleponku dan menanyakan apakah aku sudah sampai atau belum.

Cukup lama aku berbincang dengannya, menceritakan apa saja yang kulakukan seharian ini, hingga akhirnya ia menyuruhku untuk beristirahat dan tidak tidur terlalu larut. Soo Hyun oppa benar-benar sangat perhatian. Namun, entah kenapa aku masih merasa asing dengannya.

Selama ini, aku selalu menganggap dia adalah senior yang harus kuhormati. Dan anggapan itu tidak pernah berubah.

Aku memandang boneka elmo yang berukuran cukup besar dihadapanku dan menatapnya sendu. Kalian boleh menganggapku gila atau apa, tapi dengan elmo inilah aku menumpahkan segala isi hatiku. Aku sudah menganggapnya seperti sahabatku sendiri, walaupun tentu saja ia tidak bisa merespon semua ucapanku. Setiap kali melihatnya aku selalu teringat akan Minhyuk, orang yang memberikan boneka ini untukku. Aku bahkan sengaja memasangkan kancing di kemeja mungil yang kujahit agar aku selalu teringat padanya.

“Eun Kyung-ah…” tiba-tiba terdengar suara eomma yang muncul dari balik pintu kamarku. Kebiasaannya, masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.

Aku pun menoleh ke arahnya, “Ne, eomma. Wae geurae?”

Eomma berjalan mendekatiku dan duduk di tepi ranjang, “Tadi Minhyuk datang kesini.”

Aku terbelalak. A…apa katanya barusan?

“Mi…Minhyuk? Maksud eomma Kang Minhyuk? Di…dia sudah pulang?” tanyaku terbata-bata.

“Dia bilang dia sudah pulang sejak tiga hari yang lalu. Memangnya kau belum bertemu dengannya?”

Aku melongo. Jadi, dia sudah pulang? Kenapa dia tidak memberitahuku sama sekali? Apa dia sudah lupa padaku?

“Setelah pulang dari Amerika, penampilannya menjadi berubah. Dia jadi semakin tampan. Eomma hampir saja tidak mengenalinya tadi.”

Tu…tunggu! Penampilannya berubah? Maksudnya…

Melihatku yang hanya diam membeku, eomma lalu menyodorkan sebuah bungkusan berukuran sedang ke arahku. Dengan sedikit tergesa-gesa aku pun mengeluarkan isinya.

“Tadinya eomma ingin membukanya. Tapi setelah melihat ada kartu didalamnya, eomma rasa hadiah itu ditujukan padamu.”

“Ka…kartu?” aku segera merogoh bungkusan tersebut, mencari kartu yang dimaksud dan kemudian membaca tulisan yang tertera didalamnya.

Hai, Eun Kyung-ah. Apa kabar? Semoga kau masih ingat padaku.

Kuharap kau tidak melupakan permintaanku dua tahun yang lalu. Aku menunggumu di Chungju High School dua hari lagi.

-Kang Minhyuk-

Aku menahan napas. Tulisan ini… benar-benar tulisan Minhyuk. Dia benar-benar sudah pulang.

Aku membuka kotak besar berwarna bening tersebut dan memakan salah satu cookies yang ada di dalamnya. Mataku terbelalak.

“Ini… buatan Minkyung eonni…”

Ya, tidak salah lagi. Sejak dulu aku memang menyukai chocolate cookies, dan cookies buatan Minkyung eonni-lah yang paling menjadi favoritku. Tidak ada yang mengetahui hal ini selain Minhyuk dan Minkyung eonni sendiri.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kalau tidak salah, rasa cookies ini sama dengan rasa cookies yang kumakan di café tempo hari. Ketika tiba-tiba saja menu itu diantarkan padaku padahal aku tidak pernah memesannya. Ternyata, itu bukanlah suatu kesalahan.

Aku merasa mengerti sekarang. Laki-laki yang kutemui di perpustakaan, yang mengantarku ke rumah, dan yang di bus tadi adalah Minhyuk. Dari wajah, fisik, sikap, dan suaranya memang benar-benar mirip. Tidak salah lagi, itu pasti dia.

Jadi, selama ini ia ada di dekatku, tapi aku tidak menyadarinya?

***

Two days later…

-Author’s POV-

Eun Kyung memandangi pohon cherry blossom besar yang ada di hadapannya. Sesekali ia mengadahkan tangannya untuk menangkap lembaran kelopak bunga yang beterbangan ketika tertiup angin yang cukup kencang.

Eun Kyung menghela napas pelan, kemudian memandang ke arah lapangan sekolah. Tampak seluruh siswa kelas tiga di Chungju High School, tempatnya berada sekarang, sedang berkumpul bersama teman-teman dan keluarganya masing-masing untuk berfoto bersama. Mereka baru saja mengikuti upacara kelulusan, dan tampak sangat bahagia. Membuat Eun Kyung yang memperhatikannya ikut tersenyum, mengingat kenangan-kenangan indahnya semasa SMA dulu. Rasanya, baru saja ia melewati semua itu.

“Eun Kyung-ah…” tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya.

Eun Kyung menoleh. Dilihatnya seorang laki-laki sedang berdiri tidak jauh di hadapannya. Seharusnya, orang itu sudah tidak asing lagi di matanya. Seharusnya, ia tidak lagi merasa terkejut karena sudah mengetahui kebenarannya. Namun ketika melihat wajah orang itu dari dekat, tetap saja ia merasa berdebar-debar.

“Apa… dia benar-benar Kang Minhyuk?” batin Eun Kyung yang masih belum memercayai penglihatannya. Perubahan yang terjadi pada diri Minhyuk semakin membuat jantungnya berdegup tidak karuan.

Minhyuk berjalan perlahan mendekati gadis itu, kemudian tersenyum lembut, “Akhirnya kau datang juga.”

Eun Kyung hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya. Senyum itu, suara itu, akhirnya ia bisa melihatnya dari dekat. Dadanya terasa bergemuruh. Ingin rasanya ia menghambur ke pelukan Minhyuk, menumpahkan seluruh kerinduannya sekaligus rasa bahagia karena bisa bertemu lagi dengan laki-laki itu. Namun keinginannya itu ditahannya sebisa mungkin.

“Aku pulang.” Ujar Minhyuk lembut.

Eun Kyung hanya terdiam dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia merasakan matanya mulai memanas dan pandangannya menjadi kabur. Buru-buru ia menghapus air matanya sebelum jatuh membasahi pipinya.

Gadis itu kemudian mengangguk perlahan, “Aku tahu.”

Minhyuk menatap gadis itu lekat-lekat, kemudian merengkuhnya kedalam pelukannya. Ia membenamkan sebagian wajahnya di bahu gadis itu dan menghirup udara dalam-dalam disana. Memenuhi paru-parunya dengan aroma tubuh gadis itu. Aroma yang sangat disukainya, sekaligus sangat dirindukannya.

“Saranghae, Eun Kyung-ah…” bisik Minhyuk lirih.

Eun Kyung semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada bidang Minhyuk. Entah itu pernyataan atau jawaban, yang jelas ia lega karena akhirnya Minhyuk mengatakannya juga.

Minhyuk melonggarkan pelukannya, kemudian mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu. Ia menempelkan bibirnya di bibir Eun Kyung dan melumatnya dengan lembut. Eun Kyung pun membalas lumatannya sambil memejamkan mata, berusaha memaknai perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya sangat hangat dan menenangkan.

Perlahan Minhyuk melepaskan pagutannya, kemudian menunjukkan seuntai kalung perak milik Eun Kyung yang entah sejak kapan sudah berpindah ke tangannya.

“Jadi, apa kau mau memikirkan kembali perasaanmu pada Soo Hyun?” tanya Minhyuk sambil menatap Eun Kyung lekat-lekat.

“Bagaimana kau…”

“Jawab saja, Eun Kyung-ah…” potong Minhyuk. Gadis itu pasti bingung bagaimana dirinya bisa mengetahui tentang Soo Hyun, namun menurutnya itu tidaklah penting untuk dijelaskan.

Eun Kyung terdiam sejenak, kemudian tersenyum jahil, “Akan kupertimbangkan.”

“Mwo?”

Eun Kyung menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang membentuk huruf V ke arah Minhyuk, “Dua tahun lagi. Tunggulah dua tahun lagi, setelah itu akan kuberitahu jawabannya.”

“Ya~! Song Eun Kyung!”

-The End-

 

 

 

_______________________________

Annyeonghaseyo! ^^

Halo, akhirnya kita ketemu lagi! Aku nggak tau dari mana muncul ide buat bikin FF kayak gini. Isinya orang galau semua kayaknya, hahahaha…

Please comment ya, biar aku tau gimana pendapat kalian dan supaya aku bisa memperbaiki kekuranganku >.<

Oke, sampe ketemu di FF selanjutnya!😀

p.s.: sorry for typo *bow*

 

 

 

 

 

 

 

12 thoughts on “Two Years Later

  1. sweet!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    aku bacanya senyum-senyum sendiri, tapi endingnya kalo kata aku masih terlalu cepat xD *banyak mau*
    nice ff

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s