Love Rain

 

Tittle : Love Rain

Author : Cho Ri Rin (Adele)

Cast :

– CN BLUE Lee Jonghyun as Lee Jonghyun

– SNSD Im Yoona as Im Yoona / Calishta Im

Other Cast :

–  CN BLUE Member

– SNSD Seohyun

– 2AM Im Seullong

– JJ Project Im Jaebum

Genre : Family, Romance, Friendship, Conflict

Disclaimer :

Semua Cast milik Tuhan, Keluarga Mereka dan Fans mereka. Cerintanya milik saya tentunya.😀

Baca fanfic ini lebih enak sambil dengerin lagu CNBLUE Love Rides The Rain

Aku melihat butiran hujan turun dan menetes di kaca jendela ruang kerjaku. Aku tersenyum, hujan hari ini bertanda sudah tiga tahun. Sudah tiga tahun aku menahan semua ini, menahan airmata yang jatuh dihatiku yang kini airmata itu mengalir ditubuhku layaknya darah yang dipompa jantung. Karena airmata sudah menjadi bagian hidupku hamper tiga tahun ini.
Mungkin kalian mengira aku namja yang memalukan, aku hanya namja cengeng bahkan mungkin kalian berpikir aku hanya seorang pecundang yang selalu menangis. Menangis karena CINTA. Ini adalah hal yang memalukan memang tapi bagaimana lagi, aku hanya manusia biasa yang selalu mengeluarkan emosiku kapan saja aku mau. Aku bisa tertawa, tersenyum, termenung dan aku juga bisa menangis. Aku akan menangis bila aku tidak sanggup melakukan sesuatu dan aku akan terus menangis sebelum sesuatu itu dapat aku lakukan dengan baik.
Kalian tahu, aku sudah tiga tahun menangis disela hari-hari yang kujalani . mengapa itu terjadi? Karena aku tidak sanggup melakukan sesuatu yaitu merelakan yeoja yang sangat aku cintai pergi dan hujan adalah saksi cintaku, cinta kami.

“Tuan Lee.” Seseorang memanggilku sontak aku menoleh kesumber suara.
“Nee?”
“Tuan Jungshin, ingin bertemu denganmu.”
Aku mengangguk suruh dia masuk.

“Hujan?” ujar Jungshin didepanku sambil menatap keluar restoran saat kami makan siang bersama.
Aku menatap keluar lalu mengangguk. “Nee, hujan.”
“Itu tandanya sudah tiga tahun kepergiannya.”
Aku menatap dongsaengku yang masih melihat kearah luar. Apa dia ikut memperhatikanku?
“Wae?” tanyanya yang sudah kembali melihatku.
“Anio.” Elakku menyuapkan steak yang kupesan.
Jungshin terkekeh. “Apa kau masih belum bisa melupakannya?”
Aku menghentikan aktifitas mengunyahku. Aku menghela nafas lalu meneguk air mineral itu sampai habis.
Jungshin tersenyum sinis. “Aku mengenalmu, hyung. Dia adalah yang pertama bagimu, cinta pertama, ciuman pertama bahkan yang menyiksamu pertama kali. Aku dan yang lainnya memperhatikanmu. Aku tahu kau selalu menangis setiap memandang wallpaper ponselmu, kau akan sedih setiap melihat ponsel berwarna pink yang kau pajang di kamarmu. Tapi Come’n masih banyak yeoja lain.”
Aku menggeleng kepala. “Dia tidak menyakiti dan menyiksaku, Jungshin.”
“Tidak. Darimana hyung berkesimpulan seperti itu? Lihat dirimu hyung, tampak tidak punya semangat hidup. Dimana jiwa burningmu dulu? Sikap dinginmu yang membuat semua yeoja berusaha mencari kesempatan untuk dekat denganmu? Dimana itu semua, hyung.”
Aku menunduk. Entah kenapa nafsu makanku hilang.
“Semuanya Hilang, hyung. Semuanya hilang hanya karena seorang yeoja.”
Aku menghela nafas. “Aku sudah kenyang. Aku pulang duluan.” Ujarku sambil mengeluarkan dompet lalu menaruh beberapa lembar uang kertas diatas meja.
Aku bangkit dan berlalu. Jungshin hanya diam, dia sangat tau tentangku. Karena seberapapun usahanya membujukku untuk melupakan yeoja itu, semuanya tidak akan pernah berhasil.

Aku masuk kedalam kamarku yang tampak sunyi dan dingin. Aku tersenyum hambar, seingatku tiga tahun lalu kamar ini selalu sejuk dan menenangkan. Apa semuanya benar-benar berubah? Aku berjalan menuju figura ponsel warna pink yang berada didalam kotak kaca. Aku meraihnya lalu duduk dipinggiran kasur. Ponsel ini, karena ponsel ini kami bertemu empat tahun yang lalu.

Flashback

Aku merasakan air menetes dikepalaku. Aku mendongak melihat keatas ternyata hujan. Aku melangkah lebih cepat agar cepat sampai dihalte tapi usahaku sia-sia dalam hitungan detik air hujan turun seperti bak bocor di lantai dua rumah Minhyuk. Sepertinya hari ini mulai musim Hujan. Tanpa ba-bi-bu aku berlari menuju halte. Saat aku hendak menuju halte tanpa sengaja aku tertabrak seseorang.
‘brak.’
Aku heran, aku dan orang itu tidak terjatuh lalu bunyi apa itu?
“Ottohke?” ujar seorang yeoja yang duduk didepanku sambil mengambil sesuatu ternyata benda jatuh itu adalah sebuah ponsel. “Bagaimana aku menghubungi Ong Oppa?”
“Mianhee.” Ucapku.
yeoja itu melihat kearahku. Omo, yeppeoda. “Gwencanayo, itu semua salahku.”
Aku tersenyum hambar. “Apa yang rusak? Aku akan membawanya ke toko.”
“Gwencana. Aku bisa pergi sendiri.”
“Ayolah, ini sebagai permintaan maafku.” Ujarku.
Yeoja itu tersenyum manis lalu menggeleng. “Gwencana.”
Tiba-tiba bis yang ditunggu datang. Semuanya berbaris untuk masuk, akupun berdiri dibelakang yeoja itu. Hingga akhirnya bis itu menutup pintunya tanda penumpang sudah penuh tepat didepan yeoja manis itu.
Yeoja itu menghela nafas. “Menunggu lagi?”
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Lalu sebuah ide terpintas diotakku, aku mengeluarkan ponselku. “Ini.” Aku menyodorkan ponselku.
Yeoja itu menoleh kearah ponsel lalu menatapku. “Untuk apa?” tanyanya polos.
“Untuk mengganti kurasakan ponselmu sementara.”
yeoja itu menggeleng lalu mendorong tanganku lembut. “Gwencana, aku bisa memperbaikinya nanti.”
“Sudahlah, pakailah ponselku dulu.” Aku menarik tangannya lalu menaruh ponsel itu. “Mana ponselmu?”
Dengan takut yeoja itu memberikan ponsel pink padaku. “Ini.”
Aku tersenyum. “Aku akan menghubungimu nanti kalau ponsel ini sudah diperbaiki.”
Yeoja itu mengangguk.
Aku memberanikan diri untuk mengulurkan tanganku. “Jonghyun. Lee Jonghyun.”
Yeoja itu melihat tanganku lalu meraihnya. “Yoona. Im Yoona imnida.” Dengan cepat ia melepaskan tangannya dari genggamanku.
“Kau kuliah?” tanyaku yang sekarang sudah menatap kedepan melihat hujan.
“Nee. Aku kuliah semester lima.”
Aku manggut-manggut mengerti.
“Dari pakaianmu, kau tampak sudah bekerja. Apa aku benar?” tebaknya.
Aku mengangguk. “Aku baru saja masuk kekantor milik Appaku setelah tamat kuliah tahun kemarin.”
“Oh.”
Sesekali aku melirik kearah sebelahku, aku tidak bisa menahan senyum ketika melihat wajah dan tingkah Yoona. Wajahnya mengeluarkan aegyo bahkan tingkahnya yang menadahkan tangan bermain hujan.
“Kau menyukai hujan?” tanyaku.
“Nde?”
“Kau menyukai hujan?” ulangku.
Yoona tersenyum lalu mengangguk. “Nee. Aku sangat menyukainya, karena setiap melihat dan merasakan hujan aku selalu merasa tenang.”
Aku tersenyum.

Mulai saat itu aku dan Yoona semakin dekat. Aku sering menjemput atau mengantarkannya pergi dan pulang menuju rumah atau kampusnya. Meskipun awalnya alasanku bertemu hanya karena ponselnya tapi sepertinya Yoona mengerti maksud dan tujuanku yang sudah terpesona dengannya dari awal bertemu.
“Kita mau kemana, Hyun?” Tanya Yoona yang sekarang sudah berani memanggilku Hyun saat kami berada disebuah mall.
“Aku akan membelikan sesuatu untukmu.” Ujarku lalu kami berhenti disebuah toko ponsel.
“Pilihlah yang mana kau suka?”
“Hyun.”
“Ponselmu sudah benar-benar tidak bisa diperbaiki.” Bohongku.
Yoona menghela nafas. “Sudah kuduga.”
“Pilihlah.”
Yoona tersenyum lalu mengangguk.

“Gomawo untuk semuanya hari ini.” Ujarnya saat aku mengantarkannya kedepan rumah.
Aku mengangguk. “Gwencana.”
Yoona merogoh tasnya. “Ini ponselmu.”
Aku mendorong tangannya. “Simpanlah. Mungkin itu bisa menjadi kenang-kenangan untukmu.” Ujarku.
“Kau yakin?”
Aku mengangguk mantap.  Lalu mengeluarkan ponsel yang mirip dengannya hanya berbeda warna. “Ponsel kita couple sekarang.”
Yoona tampak kaget lalu mengeluarkan senyuman yang sukses membuat jantungku berdetak kencang. “Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa kembali.” Sapanya. Baru saja ia hendak membuka pintu aku menahan lengannya. “Wae?”
“Apa kita bisa bertemu lagi setelah ini?” pintaku.
Yoona tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja bisa. Kau bisa menemuiku di kampus atau datang kerumahku kapan saja kau mau.”
Aku tersenyum mendengar itu. “Apa kita bisa lebih dari sekedar teman?” ucapku polos.
“Maksudmu?”
Aku menggaruk tekukku yang tidak gatal. “Berkencanlah denganku minggu ini, Im.”
“Akan aku usahakan.” Ujarnya.
Aku tersenyum lalu melepaskan lengannya yang selama ini kutahan. “Good night hyun, jaljayo.”
“Nee.”
Aku mengoper gear mobilku sambil senyum-senyum sendiri.

Aku memencet bel  rumah Yoona. Sampai seorang namja bertubuh kekar membukanya. “Nuguseyo?”
“saya teman Yoona. Apa Yoona-ssi ada ?” ujarku sopan
“Kau Jonghyun?”
Aku mengangguk.
Namja itu tersenyum. “Yoona masih dikamarnya. Silahkan masuk, tunggu didalam saja.”
Aku tersenyum sungkan lalu masuk kerumah itu.
“Yoong, ada tamu.” Teriaknya mendongak keatas.
“Nugu oppa?”
Akupun ikut melihat keatas dan melihat Yoona yang hanya memakai baju handuk berada dipagar lantai dua rumah mereka. “Omo, aku lupa. Tunggu sebentar hyun.” Ujarnya sadar lalu pergi.
“Yeoja itu, padahal semalam dia bercerita akan pergi kencan.”
Aku menatap namja itu.
“Aku Im Seulong, kakak Yoona.”
Aku menunduk. “Jonghyun imnida.”
“Caramu mendekati adikku sangat keren, aku akan menirunya kapan-kapan.” Seulong hyung menggodaku.
Aku hanya mengeluarkan cengiran sambil menunduk. “Aku melakukannya diluar kesadaranku, hyung.”
“Kau benar. Pesona adikku memang hebat, setiap namja yang memandangnya pasti akan jatuh cinta hanya dalam waktu tiga detik.”
Aku mengangguk mengiyakan perkataannya.
“Apanya yang tiga detik?”
Kami menoleh kesumber suara. Aku terperangah, omo Yeppeoda.
Yoona berjalan duduk disebelah Seulong hyung. “Apa oppa menghasut Jonghyun?”
“Anio.Anio. Aku hanya menceritakan tentang lelaki.”
“Hmm. Baiklah.” Yoona manggut-manggut. Aigoo, dia semakin cantik daripada biasanya.  “Hyun. Kkaja.”
Aku tersadar lalu mengangguk. “Hyung, kami permisi dulu.”
Seulong hyung mengangguk. “Nee. Hati-hati, jaga adikku.”
Aku mengangguk mantap.

Hari ini aku mengajaknya kencan. kami melakukan apapun yang dilakukan oleh pasangan lain saat berkencan. Nonton, makan, bercerita.
“Kau terlihat lebih cool kalau pakai baju santai seperti ini.” Ujarnya saat kami duduk dikursi taman ditemani ice cream.
“Jinjja? Wah, aku tidak yakin.”
Yoona mengangguk. “Tapi kau lebih tampan kalau memakai jas.”
“Gomawo atas pujiannya.”
Yoona tersenyum mengangguk.
“kau dan Seulong hyung hanya tinggal berdua?” tanyaku menyantap ice creamku.
Yoona mengeleng. “Kami tinggal bertiga.”
“Lalu dimana yang lain?” Aku menganti posisiku kearahnya karena penasaran.
“Dia tinggal dirumah ahjumma.” Takut-takut.
Aku manggut-manggut. “Oppa atau dongsaeng?”
“Namdongsaeng.”
“Wah, ternyata kau anak tengah.”
Yoona terkekeh lalu mengangguk.
“Dimana orang tuamu?”
Yoona mengernyitkan dahi. “Kenapa kau mengintrogasiku seperti ini?”
Aku terkekeh. “Anio, aku tidak mengintrogasi hanya saja aku ingin mengenalmu lebih jauh. Bukankah itu tujuan kita berkencan?”
Yoona tersenyum lalu mengangguk.
“Jadi dimana abeoji dan eomoni?”
Yoona menunduk. “Mereka meninggal karena kecelakaan pesawat saat aku masih berumur lima tahun dan dongsaengku masih berumur dua tahun.”
Aku menghela nafas. “Mianhee.”
“Gwencana hyun. Itu sudah berlalu.”
Aku menerawang. “Aku juga kehilangan dua yeoja yang kucintai?”
“Kehilangan?”
Aku mengangguk. “Mereka adalah ibu dan noonaku.”
“Aku turut sedih, Hyun.” Aku bisa merasakan Yoona menggosok pundakku.
Aku mencoba tersenyum. “Gomawo.”
“Kau pasti sangat berarti bagi Seulong hyung dan dongsaengmu itu?”
“Nee. Mereka begitu menyayangiku.” Suara Yoona tampak lemah.
“Appa.”
Kami berdua tersadar lalu mencari kesumber suara. Kami menoleh pada yeoja kecil yang bermain ayunan. Tawanya begitu riang saat ayahnya mendorongkan ayunan itu untuknya.
“Lebih tinggi Appa.” Teriak yeoja kecil itu.
“Nanti kau jatuh, Hyun-ah.” Jawab sang ayah.
Aku menoleh kesebelahku. Yoona menangis, aku bisa merasakan perasaannya saat ini.
Dengan cepat aku menariknya kedalam pelukanku. “Gwencana. Aku ada disini.”
Yoona menangis terisak dipelukanku.
“Uljimma, Im. Aku sangat sedih mendengar tangisanmu.”
Untuk beberapa saat aku tidak mendengar isakkan lagi. Mungkin Yoona sudah lebih tenang.
Aku meraih wajahnya. “Kalau kau mau, kau bisa kerumahku untuk menjenguk Appaku. Dia orang yang baik.”
Yoona mengangguk lemah. “Nee.”
“Jangan menangis lagi, eoh.” Yoona mengangguk. Aku menghapus bekas aliran air matanya. “aku tidak bisa melihat ataupun mendengar yeoja yang kusayangi menangis.”
“Hyun.”
aku tersenyum malu. “aku menyayangimu, Im. Aku menyayangimu dan sangat-sangat menyayangimu. Aku tidak ingin melihatmu menangis. Jadi, berjanjilah untuk tidak menangis.”
“Apa sekarang kau menyatakan perasaan padaku?” godanya.
Aku menggaruk tekukku. Mukaku panas. Malu. “Begitulah.”
Yoona terkekeh lalu mencubit pipiku. “Kau imut sekali, Hyun.”
“Appo.” Rengekku sambil memegang pipi.
Yoona terkekeh dan kekehan itu sukses membuatku tersenyum. “Apa jawabanmu?”
“Apa aku harus menjawabnya?”
“Tentu saja.” Ujarku semangat.
“Aiish. Kau terlalu semangat.” Yoona menonjok lenganku sedangkan aku mengeluarkan cengiranku. “Nee.”
“Mwo?”
“nee, Hyun. Aku juga menyukaimu.”
Aku tersenyum.
“Tapi ada satu syarat?”
Aku mengerutkan dahiku dengan tampak ‘apa itu?’
“Berjanjilah kau akan mengerti keadaanku. Keadaanku dalam suka dan duka.”
Aku tersenyum mengangguk lalu mendekatkan wajahku dengan dahinya. Baru saja aku ingin mengecup dahi indahnya itu, aku merasakan air jatuh dikepalaku. Aku menadahkan tangan, hujan.
Aku menarik tangan Yoona. “Kka, hari sudah hujan.”
Yoona mengangguk. Kami pun berlari kearah mobil.
Aku menoleh kearah Yoona yang tampak kedinginan. Akupun melepaskan jaketku lalu memasangkannya pada kekasihku. “Aku yakin kau kedingin.” Ujarku memasangkannya hingga tatapan kami bertemu. Kami bertatapn, cukup lama lalu Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku lambat tapi pasti aku mengeliminasi jarakku lalu mengecup bibir Yoona lembut lalu melumatnya dengan pelan hingga Yoona membalasnya. Hujan, kau menjadi saksi percintaanku.

End.

Aku menghelus pigura itu. “Jadi karena semua ini kau menyuruhku berjanji untuk mengerti keadaanmu?” gumamku.
“Apa kau sangat merindukannya?” ujar seseorang. Aku menoleh. Appa.
Aku tersenyum hambar lalu menaruh pigura itu ketempatnya dan membantu Appa berjalan.
“Aku tahu, dia begitu berharga bagimu.” Ujar appa yang duduk disebelahku dipinggiran ranjang. “Jangankan bagimu, bagiku dia begitu berharga.”
Aku menoleh meminta penjelasannya.
“Dia yeoja yang cantik, ceria, ramah dan menyenangkan. Melihatnya aku seperti melihat ibumu selagi muda, dia begitu enerjik. Saat kau pertama kali mengajaknya kesini, aku yakin dia adalah jodoh anakku.”
“Appa.” Panggilku lirih.
Appa tersenyum menerawang. “Aku tidak menyuruhmu untuk melupakannya karena aku juga tidak bisa melupakan kebaikan dan ketulusan hatinya saat dulu dia merawatku tapi aku juga tidak menyuruhmu untuk terlarut dengan semua ini.”
Aku menggeleng. “Aku tidak bisa, Appa. Aku tidak bisa mencari penggantinya, Yoona sudah mengambil seluruh hatiku.”
Appa menepuk pundakku. “Aku tidak menyuruhmu untuk mencari penggantinya tapi aku menyuruhmu untuk mencarinya.”
Aku menghela nafas. Appa terlambat, aku sudah mencarinya di seluruh tempat yang ada di Seoul.
“Kau baru mencarinya di Seoul. Korea ini luas bukan hanya di Seoul, carilah ia ditempat lain. Bila perlu cari dia sampai ke Amerika dan Eropa.”
Aku merasa ada cercah harapan dari perkataan Appa. Aku mengangguk. “Nee Appa, aku akan mencarinya.”

“Seohyun-ah, beritahu aku dimana Yoona?” ujarku pada Seohyun, sahabat Yoona sekaligus Istri sahabatku.
Seohyun menggeleng. “Aku tidak tahu oppa.”
“Tidak mungkin kau tidak tahu, Joo Hyun-ah. Kalian sudah bersahabat dari SMA.”
“Hyunnie.” Yonghwa hyung menenangkan aku. “Seohyun juga tidak tahu keberadaan Yoona.”
Aku mengatur emosiku.
“Semenjak wisuda, saat oppa dan yoona eonni berfoto bersama kami. Itu adalah pertemuan terakhirku dengan Yoona eonni.”
Aku menghela kecewa. ‘Sedangkan aku dua hari setelah itu.’
“Tapi…”
Aku mendongak menatap Seohyun. “Tapia pa?”
“Yoona eonni memberiku hadiah pernikahan.”
“Jinjja? Apa itu? Apa dia memberitahu keberadaannya dan menulis alamatnya?”
“Rumah ini. Dia membelikan kami rumah ini sebagi kadonya.” Jawab Yonghwa hyung.
Aku terperangah. Rumah. Rumah ini.  Seohyun beranjak dari duduknya.
“Tapi dia tidak memberitahu kami tentang keberadaannya.”
‘Im, dimana kau? Apa kau tau aku begitu merindukanmu?’
“Ini surat darinya, oppa.”
Seohyun menyodorkan sebuah amplop besar yang sudah dirobek pinggirnya. Aku mengeluarkan isi dalamnya.

Dear Seobaby dan Yonghwa oppa.

                Kalian pasti terkejut saat membaca surat ini. Apa kalian merindukanku? Kekeke. Mianhee, aku pergi begitu saja. Jangan khawatir baby, eonni baik-baik saja dan akan selalu memantaumu dari kejauhan. Oh iya, didalam amplop selain surat ini, ada kunci rumah dan surat rumah. Bukankah kau sangat menginginkan rumah klasik itu, aku membelinya. Mianhee, tidak memberitahumu saat kau mengamuk karena rumah itu sudah dibeli orang. Hehehehe. Bukankah ini sangat mengejutkanmu, baby. Semoga kalian bahagia. Amien. Yonghwa oppa jaga Seobaby ku baik-baik, aku juga ingin mendengar kabar kehamilan Seohyun nanti.

                Seobaby, Yonghwa oppa, aku titip Jonghyun oppa pada kalian eoh. Jaga dia baik-baik, jangan sampai dia terlarut memikirkanku bukankah banyak yeoja yang tampak sempurna. Aku yakin dia bisa berkencan dengan yeoja lain. Dan satu lagi, hibur dia saat dia sedang sedih. Karena aku membenci wajahnya saat sedih. Katakan padanya, aku merindukannya dan akan selalu merindukannya setiap melihat hujan.

                Mungkin hanya ini yang bisa kutulis. Jangan mengkhawatirkanku, ada Ong oppa dan Jaebum yang menjaga dan merawatku. Aku harap kalian disana bahagia tanpa aku tapi aku berjanji aku akan kembali bertemu kalian saat waktunya tepat.

Love Your Eonni,

Yoona

Aku meremas surat itu. Dia merindukanku setiap melihat hujan. Kalau kau merindukanku, kembalilah Im. Aku merindukanmu sangat-sangat merindukanmu.

Even if you left, please remember me  (Please remember me)
When my yearning for you becomes too much and overflows, the rain will call you
Love falls down with the rain, memories flow with the rain
Even if you forget me (Even if you forget me)
Please remember me again (Please remember me again)

Aku berjalan gontai menelusuri kota Seoul. Meskipun hari sangat mendung aku tetap melangkah tak tahu arah hingga langkahku terhenti saat melihat tempat terakhir pertemuanku dengannya. Aku menghela nafas lalu memutuskan untuk masuk kedalam café yang ada disebrang tempat terakhir itu. Aku memandang kearah luar.

Flashback

Aku dan Yoona berjalan menikmati malam setelah seharian kami berkencan.tangan kiriku memegang paying sedangkan tangan kananku selalu mengenggam tangannya, entah kenapa hari ini aku merasa dia akan pergi dariku.
“Hyun.” Panggil Yoona menghentikan langkah. Aku menoleh dan ikut berhenti.
“Waeyo, Im?”
“Apa kau bahagia bersamaku?” Tanya polos.
Aku mengangguk. “Aku sangat bahagia bisa bersamamu setahun belakang ini.”
Yoona menghela nafas. “Aku juga begitu. Tapi…”
“Wae?”
“Tapi aku rasa kita cukup sampai disini, hyun. Aku tidak pantas untukmu.” Yoona menunduk dan tubuhku lemas seketika.
“Im, kau serius?”
Yoona mendongak menatapku lalu mengangguk mantap. “Kita berbeda dunia hyun? Aku tidak ingin mengecewakanmu bila hubungan ini akan lebih serius.”
“Uljimma, Im. Aku tidak mau pisah denganmu.”
“Hyun, ini keadaanku. Kita berbeda.”
“Im, bisakah kau egois untukku. Meskipun keadaan kita berbeda tapi tetaplah berada disisiku, hanya untukku Im.” Paksaku.
Yoona mengeleng. “Bukankah kau sudah berjanji untuk mengerti keadaanku? Kali ini aku mohon kau mengerti.”
Aku melengos kearah lain. Mataku sudah panas. “Katakan padaku alasanmu untuk mengakhiri hubungan ini?”
“Kita berbeda dunia. Kau dan aku berbeda.”
“Itu bukan alasan, Im.” Ujarku kesal.
Yoona menunduk. “Mianhee, hyun.”
“Kita tidak bisa berakhir, Im. Aku tidak mau.” Aku melepaskan payungku lalu memeluknya erat. Yoona hanya diam tidak menolak ataupun membalasnya. Aku meraih wajahnya lalu mencium bibirnya dengan kesal, aku tidak peduli pandangan orang-orang tentang kami yang dipikiranku hanya Yoona, mencari cara agar Yoona tidak mengakhiri hubungan kami.
Yoona mendorongku tanda menolak. Kontan aku melepaskan ciumanku.
“Mianhee Hyun. Aku bosan denganmu, itu alasanku.” Ujarnya sontak membuatku kembali lemas. “Aku harap kita tidak bertemu lagi, Mianhee jeongmal Mianhee.” Yoona berlalu dari hadapanku. Entah kenapa kakiku sukar sekali untuk mengejarnya. Ya. Aku hanya berdiam diri dan hujanpun jatuh semakin deras. Untuk ketiga kalinya aku kehilangan yeoja yang kucintai.

End.

Aku menghela nafas. BOSAN. Kata itu terus teringat dibenakku. Aku merogoh saku celanaku untuk mengambil ponsel.
“Yeobseyo. Minhyuk-ah, bantu aku mencari Yoona. Anie, bukan hanya di Seoul, disemua tempat, Korea, Jepang, amerika, Eropa, Rusia. Dimanapun, cari tahu tentangnya. Arraseo. Nee.”
Aku akan mencarimu Im Yoona.

“…Do you still remember me? When it rains I yearn for you
Love falls down with the rain, memories flow with the rain
I think of you again with the sound of rain
Tear falls down with the rain, memories flow with the rain …”

Yonghwa hyung, Aku, Jungshin dan Minhyuk sekarang sedang melakukan kegiatan rutin kami setiap weekend. Berburu kaset DVD ataupun kaset music.
“Kau sudah mencari tahu tentangnya?” tanyaku pada Minhyuk saat kami hanya berdua saja.
“Nee. Sudah.”
Aku berhenti. “Dimana dia sekarang?”
Minhyuk terkekeh. “Kau begitu penasaran tentangnya, hyung.”
“Tentu saja.”
“Dia tinggal di Amerika bersama oppa dan dongsaengnya.”
Amerika? Jauh sekali. “Lalu dimana dia sekarang?”
Minhyuk mengangkat bahu. “Sebulan yang lalu mereka pindah lagi tapi aku tidak tahu tentang hal itu. Mungkin mereka kembali ke Seoul.”
Aku tersenyum. Semoga saja. “Kau tahu alasan mereka pindah ke Amerika?”
Minhyuk mengangguk. “Mereka adalah anak dari Im Hyunjin. Pengusaha tersukses saat kita masih kecil.”
“Im Hyunjin.”
“Nee. Im Hyunjin. Mereka pindah untuk mengurus perusahaan Lim corp yang berpusat disana.”
Aku mengernyitkan dahi. Kenapa saat itu Yoona mengatakan kalau kami berbeda.  Aku menatap kedepan dan melihat seorang namja duduk dikursi roda berusaha meraih kaset yang lebih tinggi. Aku mendekatinya lalu mengambil kaset.
Namja itu tampak pucat lalu tersenyum. “Ghamsamnida.” Ucapnya.
“Nee. Kau sendirian?”
Namja itu menggeleng. “Aku bersama noona dan hyungku tapi mereka sedang mencari film.”
Aku mengangguk. “Lain kali lebih hati-hati.”
Namja itu mengangguk. “nee, hyung.”
“Jonghyun-ah, kajja.” Teriak Yonghwa hyung yang sudah ada dipintu. Aku mengangguk.
“Aku duluan.”
Namja itu tercengang lalu mengangguk.

Appa terus mendesakku untuk mencari Yoona. Aku tidak tahu mengapa ia begitu ingin bertemu Yoona, apa mungkin ia ingin melihat Yoona untuk terakhir kalinya. Karena beberapa bulan terakhir kondisinya semakin buruk. Tapi aku sudah tidak tahu bagaimana caranya untuk mencari Yoona setelah dia pindah ke Amerika.
Aku melihat lurus kedepan. Dua orang dewasa sedang bermain bersama tapi salah satu dari mereka duduk dikursi sedangkan terdapat satu namja sedang mengawasi mereka. Mereka tampak bahagia. Aku tersenyum melihat pemandangan itu, andai saja noona masih ada. Aku yakin aku bisa bahagia seperti mereka.
“Oppa.” Teriak yeoja itu pada namja yang sedang duduk. Kontan namja itu berlari mendekati yeoja itu yang panic.
“Jaebum-ah. Ireona. Jaebum-ah.” Ujar namja itu menggoyangkan namja yang duduk dikursi roda sedangkan yeoja itu menangis.
Aku hendak mendekati mereka saat ponselku bordering. “Yeobseyo. Mwo? Arraseo, aku akan kesana.”
Appa masuk rumah sakit setelah serangan jantung. Aku melihat kearah tiga bersaudara itu, mereka sudah pergi. Lebih baik aku kerumah sakit.

Author POV.

Dua orang berlari panic dengan seorang namja yang lebih muda digendongan sang namja. “Suster, help.” Teriak yeoja.
Tiba-tiba ranjang dorong datang. Sang namja menaruh dongsaengnya diranjang tersebut dan mengikuti ranjang itu sambil menenangkan yeoja disebelahnya.
“Silahkan tunggu disini.”
Keduanya menganguk.
Dari depan Jonghyun berlari masuk dan bertanya dengan resepsionis lalu kembali berlari kearah dalam. Lalu duduk disebelah namja dan yeoja yang sedang menunggu. Ia memperhatikan sebelahnya. ‘Sepertinya aku mengenal mereka?’ batin Jonghyun.
Tidak berapa lama dua dokter keluar dari ruangan yang sama kontan ketiganya berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
“Bagaimana dengan dongsaeng/Appa saya, dok?” kata ketiganya serentak.
Kedua dokter tersebut tersenyum lalu menjelaskan semuanya. Jonghyun tampak legah tapi tidak bagi yeoja itu, dia menangis didalam pelukan kakaknya. Jonghyun menatap dua saudara itu dengan iba. Mungkin dia merasakan apa yang keduanya rasakan.

Suara pendeteksi jantung menghiasi ruang putih. Seorang yeoja menatap nanar dongsaengnya yang masih memejamkan matanya selama dua hari. “Kalau boleh, biarkan noona saja yang terbaring disana bum-ah. Noona tidak tega melihatmu seperti ini.” Gumam yeoja itu.
“Yoong, kau belum kekantor?” Tanya namja bertubuh kekar yang baru keluar dari kamar mandi.
Yeoja itu menoleh lalu menggeleng. “Aku menunggu, oppa. Bukankah kita ada rapat di kantorku.”
Namja itu mengangguk. “Jaebum?”
“Aku sudah menyuruh Hana ahjummah untuk datang dan mejaganya.”
Namja itu mengangguk. “Tunggu sebentar lagi.”

Jonghyun dan Minhyuk tampak jalan bersama dengan santai. “Tumben sekali eL corp mengajak kita rapat bersama?”
Minhyuk mengangkat bahu. “Yang aku dengar kabarnya pemilik eL corp dan pemilik induknya akan datang.”
Jonghyun manggut-manggut. “Nugu?”
“Aku juga kurang tahu, mungkin kita lihat saja nanti.”
“Bagaimana laporan untuk bulan ini?” ujar yeoja dari arah belakang pada seorang namja berkacamata.
“Mengalami kenaikan dan kita harus mempertahankannya.”
“Bagus kalau begitu….” Keduanya melewati Jonghyun dan Minhyuk begitu saja.
Jonghyun dan Minhyuk terpesona melihat yeoja itu. “Yeppeoda.” Gumam keduanya.
“Aigoo, ingat Minhyuk. Krystal lebih cantik.” Minhyuk sadar lebih dahulu lalu ia melihat disebelahnya yang masih diam.
“Hyung.” Minhyuk mengibaskan tangannya didepan Jonghyun.
“wae?” Jonghyun baru saja sadar.
Minhyuk menggeleng. “Ingat kau harus mencari Yoona noona.”
“Nee. Kka, sebentar lagi rapat.” Jonghyun mengalihkan pembicaraan.

Seorang yeoja dan namja masuk kedalam ruang rapat dengan sekretaris keduanya dibelakang. Spontan semua yang berada diruang rapat berdiri dan memberi hormat.
“Hyung, lihat siapa dia?” tunjuk Minhyuk pada Jonghyun.
Jonghyun menyipitkan matanya lalu terbelalak. “Dia…”
“Annyeong Haseyo, naneun Im Seullong imnida. Saya direktur utama Lim corp.” sapa sang namja itu sopan.
“Annyeong.”
‘Jadi itu dia? Yeoja tadi adalah dia…’
“Perkenalkan ini, Ms. Im Yoona. Direktur anak perusahaan Lim corp, eL corp.”
“Annyeong Haseyo, naneun Im Yoona imnida. Bangeupseumnida.” Salam yeoja itu sambil mengedarkan pandangannya hingga ia berhenti setelah melihat namja yang sangat familiar baginya.
“Annyeong, nona Im.” Salam yang lain.
“Nona Im, silahkan duduk.”
Yoona menunduk lalu berjalan kekursinya sedangkan Jonghyun tidak berhenti melepaskan pandangannya pada yeoja itu.
“Kita mulai rapat.”

Ponsel Seullong berdering tepat saat dia baru saja menutup rapat. “Yeobseyo? Nee. Jinjja, kau tidak bercandakan. Nee aku dan Yoona segera kesana.”
Semua orang melihat kearah Seullong yang sangat panic.
“Waeyo oppa? Apa yang terjadi?” Tanya Yoona yang ikutan panic.
“Kita kerumah sakit sekarang. Jaebum kritis.”
Yoona tersentak.
“Mianhamnida. Saya dan nona Im keluar terlebih dahulu. Adik kami tiba-tiba kritis. Annyeong.” Ujar Seullong pada yang lain. Semuanya mengangguk termasuk Jonghyun dan Minhyuk.
‘Jaebum? Nama itu terdengar sangat familiar.’ Batin Jonghyun.
“Hyung, aku ingin menjenguk abeoji. Apa boleh?” ujar Minhyuk.
Jonghyun mengangguk. “Kka.”

Yoona menangis terseduh dipelukan Seulong yang juga menangis terisak sedangkan Hana ahjumma  menatap nanar dua bersaudara itu. Yeoja paruh baya itu sangat mengerti keadaan Im bersaudara itu.
Keduanya tidak sanggup untuk masuk kedalam ruang rawat. “Jaebum-ah.” Isak Yoona sambil memukul tubuh kakaknya. “Jangan tinggalkan noona. Noona mohon.”
Seullong terus menangis dan mengelus rambut dongsaengnya
“Hyung lihat itu.” Minhyuk menunjuk kearah Yoona dan Seulong yang menangis didepan pintu ruang rawat.
“Yoona.” Panggil Jonghyun lalu berlari mendekati Im saudara. “Ada apa hyung?” Tanya Jonghyun panic pada Seulong. Seulong menoleh lalu menggeleng. “jaebum-ah, jangan tinggalkan noona.” Isak Yoona.
Jonghyunpun bangkit lalu masuk kedalam ruang rawat dengan pelan namun pasti namja itu mendekati ranjang yang sudah ditutupi selimut. Ia membuka selimut itu dan melihat wajah Jaebum yang pucat sambil tersenyum tenang. “Dia…”

“Ghamsamnida.” Ucap namja diatas kursi roda.
“Nee. Kau sendirian?”
Namja itu menggeleng. “Aku bersama noona dan hyungku tapi mereka sedang mencari film.”
Jonghyun mengangguk. “Lain kali lebih hati-hati.”
Namja itu mengangguk. “nee, hyung.”
“Jonghyun-ah, kajja.” Teriak Yonghwa yang sudah ada dipintu.
“Aku duluan.”
Namja itu mengangguk.

“Oppa.” Teriak yeoja itu pada namja yang sedang duduk yang Jonghyun perhatikan. Kontan namja itu berlari mendekati yeoja itu yang panic.
“Jaebum-ah. Ireona. Jaebum-ah.” Ujar namja itu menggoyangkan namja yang duduk dikursi roda sedangkan yeoja itu menangis.
Jonghyun hendak mendekati mereka saat ponselku bordering.

‘Jadi dia… Jadi ditaman itu adalah Yoona dan Seulong hyung.’ Batin Jonghyun. Tanpa Jonghyun sadari, air mengalir dipipinya. Ia mengelus rambut Jaebum. “ireona. Lihat noonamu menangis karena kau begini, bangunlah Jaebum-ah.” Jonghyun menggoyangkan mayat Jaebum. “Ireona. Aku tidak bisa melihat noonamu menangis, kembalilah Jaebum-ah.”

Jonghyun POV.

Aku datang diacara pemakaman Jaebum. Aku bisa melihat Yoona terus menangis sedangkan Seullong hyung dan Seohyun mencoba menenangkannya. Aku mengerti perasaannya, aku juga pernah kehilangan. Kehilangan orang yang begitu kita cintai.
“Kau yang bernama Jonghyun?” Tanya Seorang ahjumma.
Aku mengangguk dan menunduk sopan. “Nee, ahjumma.”
Ahjumma itu tersenyum lalu menggosok pundakku. “Kau sangat tampan bahkan lebih tampan dari foto didompet Calishta.”
Aku tersentak. “Calishta?”
“Mian, maksudku Yoona. Calishta adalah nama barat Yoona.”
Aku tersenyum mendengarnya. Calishta=Yoona, nama yang bagus.
“Selama Yoona mengenalmu dia selalu menceritakan tentangmu pada Jaebum sehingga membuat dongsaengnya ingin sekali bertemu denganmu tapi Yoona tidak sempat memperkenalkan kalian karena kau begitu sibuk diakhir pekan sedangkan Jaebum hanya memiliki waktu diakhir pecan.”
Aku tersenyum maklum. “Ghamsamnida Ahjumma.”
“Seminggu yang lalu Jaebum bercerita pada kami kalau dia bertemu namja yang mirip denganmu saat mereka pergi ke toko kaset tapi Yoona mengelak sedangkan Jaebum bersihkuku kalau itu kau. Pada akhirnya Seulong menengahi mereka kalau itu adalah orang yang hanya mirip denganmu. Mereka bertiga sangat lucu, aku tidak menyesal merawat mereka selama ini.”
Aku memejamkan mataku. Kisah yang menyedihkan. “Jaebum benar, Ahjumma. Yang dia lihat saat di toko kaset adalah aku.”
Ahjumma tampak kaget. “Jinjja?”
Aku mengangguk. “Aku baru menyadari kemarin saat melihat wajah Jaebum untuk pertama dan terakhir.”
Tiba-tiba Ahjumma mengeluarkan sebuah amplop. “Jaebum menitipkan ini untukmu, entah kenapa dia sangat yakin kau akan datang disaat dia pergi.”
Aku meraih surat itu. “Ghamsamnida ahjumma.”
Ahjumma itu mengangguk.

“Jonghyun-ah.” Panggil Appa saat aku baru masuk ruang rawatnya.
“Wae?” tanyaku.
“Yoona kembali.” Jawabnya riang seperti tidak ada beban.
Aku tersenyum senang lalu mengangguk. Aku duduk ditepi ranjang lalu memotong apel untuk Appa.
“Dia datang menjengukku kemarin.”
“Jinjja?”
Appa mengangguk sambil melahap apelnya. “Seharian dia menemaniku. Aigoo, dia semakin cantik sekarang.”
“Nee. Dia lebih cantik dan anggun.” Aku mengingat wajahnya saat rapat waktu itu.
“Jonghyun-ah, kembalilah padanya.” Rengek Appa.
Aku membelalakkan mataku. “Appa.”
“Yoona masih mencintaimu. Aku bisa melihat itu dari matanya.”
Aku menggeleng. “Tidak semudah itu, Appa. Bagaimana kalau dia sudah mempunyai namja?”
“Yoona bilang dia tidak berkencan dengan siapapun setelah pisah denganmu. Dia lebih focus pada dongsaeng dan perusahaannya.”
Aku menghela nafas.
“Aku ingin cepat mengendong cucu darimu dan Yoona. Jebbal.”
Aku terkekeh melihat tingkah appa yang begitu kekanak-kanakkan. “Nee, akan kuusahakan.”
Appa tersenyum lalu memelukku. “Ini permintaan terakhirku, Jonghyun-ah. Setelah itu terjadi, aku sudah bisa meninggalkanmu.”
Aku terdiam. Apakah Appa akan pergi setelah aku dan Yoona bersama? Aku tidak bisa kalau kita terjadi, aku tidak ingin kehilangan orang yang kucintai tapi bila Appa bahagia, aku akan melakukan apapun untuk melihat dan merasakan kebahagiaan itu. “Nee, appa. Aku akan melakukan apapun untukmu.”

Aku berjalan mengitari kota Seoul. Entah kenapa hari ini aku ingin sekali berjalan mengingat kejadian yang pernah terjadi dalam hidupku padahal sekarang sedang hujan rintik tapi tidak mengurungkan niatku. Aku menyebrang tepat saat lampu hijau untuk pejalan kaki hingga berpapasan dengan seseorang yang tampak familiar bagiku tapi aku tidak menghiraukannya. Hingga aku sampai tepat disebrang, aku memperhatikan yeoja tersebut. Dia cantik dan memakai payung PINK, warna kesukaan Yoona. Chakkaman? Yoona. Aku melihat kesebrang, benar saja itu Yoona. Aku yang berada disebrang mengikuti Yoona tanpa menghiraukan keadaanku. Aku bisa melihat kesedihan dari wajahnya, sepertinya dia mengingat Jaebum. Hingga sebuah truk menghalangi pemandanganku dan akhirnya hilang. aku melihat kekanan kekiri tidak ada. Kemana dia??

Author POV.

Yoona berjalan lurus tanpa arah. Entah kenapa dia tidak begitu semangat untuk hidup setelah kepergian dongsaeng kesayangan. “Jaebum-ah, noona merindukanmu.” Gumam Yoona tanpa menghiraukan keadaannya yang sekarang hendak menyebrang.
“tiit.tiit.” terdengar klakson mobil sontak Yoona menoleh. Hingga sebuah tangan menarik lengannya lalu memeluk pinggangnya. Yoona terkesiap. Namja berjas hitam dan memegang paying sedang merangkul pinggangnya. “Gwencanayo?” Tanya namja itu lembut.
Yoona mengerjapkan matanya berkali-kali. “Hyun.”
Jonghyun tersenyum. ‘Aku merindukan panggilan itu, Im.’  Batin Jonghyun lalu melepaskan payungnya dan memeluk Yoona erat.  Mereka berpelukkan dibawah hujan yang membasahi kota Seoul.

Jonghyun memberikan Yoona handuk saat mereka berada di Apartment pribadi Jonghyun yang dulu sering mereka kunjungi bersama.
“Gomawo.” Ucap Yoona.
Jonghyun mengangguk. “Kalau kau ingin ganti baju, bajumu masih ada dikamarmu.”
Yoona mengangguk lemah.
Untuk beberapa saat mereka hening hingga Jonghyun buka suara. “Apa kabar?”
Yoona tersenyum. “Aku baik-baik saja.”
Jonghyun tersenyum. “Jangan berbohong padaku, Im. Melihatmu sekarang kau tidak dalam keadaan baik.”
Yoona hanya menunduk. “Aku hanya merindukan Jaebum.”
Jonghyun menghela nafas. Dia tau jawaban itu yang akan didengarnya padahal sudah satu bulan kepergian adiknya.
“Apa kabar abeoji? Apa dia sudah baik? Saat aku kerumah sakit, aku tidak bertemu dengannya lagi.” Yoona mengalihkan pembicaraan.
Jonghyun mengangguk. “Appa baik-baik saja. Dia sangat menunggumu untuk kerumah.”
Yoona tersenyum hambar. “Aku akan kesana kalau ada waktu kosong.”
“Bagaimana keadaanmu setelah kita putus? Apa kau berkencan dengan namja lain?” Tanya Jonghyun penasaran.
Yoona menggeleng. “Aku hanya focus pada Jaebum dan pekerjaanku saja. Kau?”
“Sama saja. Aku hanya lebih memikirkan kesehatan Appa yang kian menurun dan perusahaanku. Hatiku telah terkunci.” Jawab Jonghyun.
Yoona tersentak lalu menatap Jonghyun yang ada disebelahnya.
Jonghyun tersenyum lalu meraih tangan Yoona. “Yang bisa membukanya hanya kau, Im.”
Yoona tersenyum hambar. Lama ia menatap wajah namja itu. “Mianhee.” Ucap Yoona.
“Untuk apa?”
Yoona menghela nafas. “Untuk perpisahan tiga tahun lalu.”
Jonghyun tersenyum lalu membelai rambut yeoja yang dicintainya itu. “Aku mengerti.”
“Maksudmu?”
“Jaebum sudah menjelaskan semuanya padaku.”
“Kalian saling mengenal?”
Jonghyun mengangguk mantap. “Kami sudah sangat dekat.”
Yoona tersenyum.

Dear Jonghyun hyung.

Mungkin hyung akan kaget, kenapa aku memberikan surat ini pada Hyung tapi niatku baik. Aku hanya ingin menyatukan hyung dengan noonaku.😀 Mianhee, karena aku kalian harus berpisah. Mungkin hyung membenci noona karena memutuskanmu secara sepihak tapi aku mohon hyung, jangan membenci noona. Karena noona sangat mencintai hyung. Selama kami di Amerika, noona tidak pernah berkencan dengan namja manapun. Dia hanya setia pada hyung. Noona tidak ingin pisah tapi keadaan, keadaan yang menyuruhnya untuk meninggalkanmu tapi didalam hatinya ia berkeyakinan kalian akan bertemu lagi dalam keadaan yang Indah. Mianhe hyung, Jeongmal Mianhee.

Hyung, kau tau betapa senangnya aku bertemu denganmu secara langsung saat di toko Kaset. Akhirnya, selama empat tahun ingin bertemu denganmu. Aku bisa bertemu secara langsung. Hyung tampak lebih tampan dari foto yang ada didompet dan kamar noona. Aku juga melihat hyung yang memandangku dan Noona saat kami bermain ditaman karena terlalu senang aku langsung kehilangan kesadaranku dan sukses membuat noona dan hyung khawatir.

Hyung berjanjilah padaku untuk selalu menjaga noonaku, membahagiakannya selamanya. Membuatnya kembali ceria dan bersemangat, menghilangkan kantung dibawah matanya. Berjanjilah hyung, berjanjilah demi noona, yeoja yang hyung cintai.

Hyung,aku titip Yoona noona dan Seulong hyung padamu. Jaga mereka. Aku percaya padamu, hyung. Jangan mengecewakan aku. Aku akan memantau kalian dari atas, dari alamku. Salam untuk Yoona noona dan Seullong hyung. Katakan pada mereka, aku mencintai mereka, aku sangat mencintai mereka. Saranghaeyo, noona.

Love,

Jaebum

“Kau tidak perlu menjelaskan apapun lagi, Im. Aku tahu semuanya.” Ujar Jonghyun setelah menjelaskan semuanya pada Yoona.
‘Noona juga mencintaimu, Bum-ah.’ Batin Yoona sambil menghapus airmatanya yang jatuh.
“So, apakah keputusanmu?”
Yooane mengerut dahinya. “Keputusan apa?”
Jonghyun menghela nafas merogoh kantungnya. “Will you marry me?” bisik Jonghyun ditelinga Yoona lalu membuka bandul berwarna merah cerah berbentuk hati. Sebuah cincin tertahtah berlian berada didalamnya..
Yoona menutup mulutnya tidak percaya. “Kau melamarku, Lee Jonghyun?” Tanya Yoona polos.
Jonghyun tersenyum dan mengangguk mantap. “Kita sudah tidak muda lagi, Im. Mungkin tujuan kita menjalin hubungan sama. Mencari pasangan pendamping bukan mencari kekasih.”
Air mata kini kembali mengalir dimata Yoona, bukan karena dia sedih tapi dia terharu dengan cara Jonghyun. Cara Jonghyun yang dulu ingin dekat dengannya, cara Jonghyun mengajaknya menjadi kekasih, cara Jonghyun menantinya selama bertahun-tahun dan kali ini cara Jonghyun yang melamarnya saat ia membutuhkan sandaran. Yoona memeluk Jonghyun erat. “I LOVE YOU, Hyun.” Ucap Yoona.
Yoona tersenyum. “I Love You too, Im.”
Keduanya melepaskan pelukannya lalu Jonghyun memasangkan cincin dijari Yoona lalu mengenggamnya.
“Sudah tiga tahun cincin ini hendak berada ditempatnya tapi selama tiga pula tempatnya pergi tanpa kabar.”
Yoona tersenyum. “Gomawo.”
“Untuk apa, chagi?”
“Untuk semuanya. Untuk cara, untuk cintamu, semuanya.”
Jonghyun tersenyum bahagia. “Saranghae. Neomo Neomo Saranghae.”
Yoona tersenyum dan mengangguk. “Nado.”
Jonghyun mendekatkan wajahnya kewajah Yoona sedangkan Yoona memejamkan matanya yang menerima ciuman Jonghyun. Keduanya berciuman romantis. Diluar apartment, Hujan turun semakin deras dan melesat dikaca jendela. Hujan menjadi saksi bersatunya kembali cinta dua insan yang berpisah.

 

 

 

14 thoughts on “Love Rain

  1. Huwaa sweet, happy ending🙂 ,kirain sad ending.. Pas yoona bilang dunia kita berbeda, aku mikirnya dia itu setengah manusia yg g bisa bersatu sama JongHyun hehehe.. Nice FF🙂

  2. Thank god,author you save my life! Setelah sebulan ga ada ff di blog ini udah desprete banget, gabisa tidur,gabisa makan *lebay hahaha yang penting makasih ya author mau bagi bagi ff karena blog ini sepi tanpa ide ide yang bagus dari para authorku yang baik hati *colek author hehehe

  3. aigoo ~
    first read, i do think that yoona is died!!
    baca sampe tengah apa maksudnya ‘kita beda dunia’ ? kirain yoona angel gitu (-_-“)
    story nya bagus author, tapi ga fokus (._. ) jadi kayak mau nyeritain yoona sama Jonghyun, tapi family nya justru lebih banyak(?) walaupun ga nyeleneh dari genre yg dipaparkan author😄 tapi agak pusing bacanya, soalnya flashback sama now kek ga ada beda gitu, just memorized ~
    btw, good job.. ditunggu karya yg lain ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s