Falling and Waiting [Part 11 – END]

Teaser | Part 1 | Part2 | Part 3| Part 4| Part 5 | Part 6| Part 7|Part 8| Part 9 |Part 10

Author: happyhanna @hannamoran

Lenght : *chaptered

Genre: Romance, Friendship

Rating : PG 17

Cast: Kang Minhyuk

Lee Jong Hyun

Jiyeon (T-ARA)

Yoon Eunchae (OCs)

Dis: my own story

Note: Jonghyun side story. last part🙂

 

***

 

Eunchae POV

 

Pernikahan ini sangat meriah, semua orang tampak bahagia dan senang, seharusnya aku juga larut dalam kebahagiaan ini. Bukankah aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk bahagia apapun jalannya? Tapi kenapa teori itu selalu lebih mudah dibanding prakteknya? Kenapa aku hanya sanggup tersenyum di bibir saja? Kenapa hatiku rasanya meraung-raung? Bodoh!

Untungnya acara pemberkatan kedua mempelai sudah selesai, aku tidak perlu lagi menahan rasa sakit yang mulai berlebihan ini. Kedua mempelai sudah berjalan keluar gereja. Ah… jiyeon tersenyum kearahku saat ia dan minhyuk melintas tepat didepanku, mereka sungguh terlihat sangat bahagia. Aku melihat punggung gagah minhyuk berlalu, bersama jiyeon yang akan mengisi hidupnya. Rasa sakit ini semakin menjadi  melihat minhyuk berjalan menjauh bersama wanita yang bukanlah diriku.

“gwenchana?” suara seseorang menghampiriku. Aku emnoleh dan ternyata itu jonghyun.

“ne gwenchana” kataku

“lalu kenapa kau menangis?” tanyannya, aku menangis? Akupun emnyentuh bagian bawah mataku, benar saja ada iar mata yang emnetes dari sana. Apakah sesakit ini sampai aku tidak sadar kalau aku sedang menangis.

“kemari…” ia menarik tanganku sampai kami ada disudut gereja. Ia mengeluarkan saputangannya

“hapus dengan ini, jangan sampai ada yang melihat kau menangis seperti ini” akupun menghapus air mataku dan memasang senyum terbaikku demi terlihat baik-baik saja

“aku menangis bahagia… melihat mereka akhirnya bahagia” kataku.

“ck… bohong” hanya kaliamt singkat yang dingin itu membuatku terdiam ditempat. Ia benar aku berbohong. Aku segera mengembalikan saputangannya dan berniat pergi dari situ.

“maukah kau menemaniku?” katanya membuat langkahku terhenti

“kemana?”

“kemanapun, asal aku bisa pergi jauh dari rasa sakit hati ini”

 

***

“apa sudah lebih baik?” tanyaku

“belum… sakit hatinya amsih ada” komentarnya, membuatku menahan tawa

“bodoh! Tentu saja. Kau mau pergi ke ujung duniapun rasa sakit hati itu pasti akan ikut juga”

“kalau begitu kau tahu obatnya?” tanyannya sambil tiduran di atas rumput yang membentang hngga terlihat tak memiliki ujung. Sedangakn aku hanya duduk bersila disampingnya.

“kalau ada obatnya, aku sudah menghabiskannya terlebih dulu” kataku. Lama kami terdiam menikmati semilir angin yang menerpa tubuh kami dan sinar matahari yang ikut menghangatkan.

Aku menoleh kea rah jonghyun karena ia tampaknya tidak berbicara apa-apa lagi. Pantas saja, dia tertidur dengan punggung tangannya menutupi matanya dari sinar matahari. Suasana seperti ini memang membuat orang mengantuk.

Hoaaaamm…. Kenapa aku juga jadi ikut mengantuk? Akupun merebahkan tubuhku agak jauh dari tubuh jonghyun, membuat tas tanganku menjadi ganjalan kepalaku, dan desiran angin sukses membuatku terbuai tidur.

***

Jonghyun POV

 

Aku terbangun, melirik jam tanganku, tampaknay sudah 1 jam aku tertidur disini. Aku bangkit dan mendapati eunchae tidur tak jauh dari tempatku tidur. Tidak tega aku membangunkannya jadi aku memutuskan untuk menunggunya sampai ia terbangun. Suasana ini sangat indah, aku belum pernah ek padang rumput seperti sebelumnya.

Hingga pikiranku terbawa ke beberapa minggu sebelum pernikahan jiyeon dan minhyuk. Saat aku bertemu eunchae yang jauh lebih kacau dari ini.

 

Flash Back

Kepalaku butuh penyegaran… seharian bekerja seperti ini membuatku lupa kalau aku butuh istirahat juga. Aku memutuskan untuk menyetir keliling kota saja, lumayan membuatku rilex.

Aku berusaha melupakan beban yang beberapa hari terakhir ini memenuhi pikiranku, beban masalahku dengan jiyeon, tentang perselingkuhannya, itupun kalau masih bisa dibilang persellingkuhan, karena dari awal aku tahu hal ini akan terjadi tapi aku tidak berusaha mencegahnya, jadi ini bukan sepenuhnya salah jiyeon.

Aku sedang memikirkan cara untuk menyelesaikan semuanya, apapun yang pada akhirnya terjadi, aku harus menyelesaikannya. Tiba-tiba mataku menangkap sosok perempuan yang sepertinya aku mengenalnya, ia tengah duduk dosenuah bangku taman, memeluk tasnya erat-erat. Ia menangis, berualng kali tangannya mengusap matanya yang mengeluarkan air mata. Aku menghentikan mobilku, melihat sekeliling barangkali minhyuk, namja cinggunya ada disekitar sini. Tapi tampaknya tidak ada siapa-siapa disekitar sini. Aku memutuskan untuk turun dan berjalan mendekatinya.

“eunchae-ssi?” panggilku pelan takut mengaggetkannya, ia menleh kearahku dan sedetik kemudian ia bangkit dan melangkah pergi, tapi reflex tanganku menahan pergelangan tangannya.

“lepaskan aku” pintanya

“anio.. setidaknya sampai kau berhenti menangis” kataku, sadar tidak sadar aku mengucapkan kalimat itu, kenapa aku begitu peduli bahkan pada pacar orang lain.

“duduklah dulu” kataku, lalu melepas genggaman tanganku, tak ku sangka ia menurutiku dan duduk disebelahku.

“kenapa kau menangis?” Tanyaku, terlalu ingin tahu.

“kau tidak tahu? Atau belum tahu?” kata eunchae sambil menundukan kepala.

“minhyuk?” tanyaku. Ia menoleh kearahku

“ya, hubunguan kami baru saja berakhir” suara serak eunchae begitu memilukan.

“aku turut sedih mendengarnya…” kataku, tiba-tiba sesuatu terlintas dikepalaku

“apa ini ada hubungannya dengan jiyeon dan… aku?” tanyaku, hanya seulas senyum lemah dari eunchae yang menjadi jawaban “ya”

“maaf… aku minta maaf, anggap saja aku mewakili jiyeon juga untuk minta maaf”

“untuk apa maaf?” Tanya eunchae, pandangannya lurus kearah jalan raya

“tentu saja karena kau harus merasakan dampak dari hubungan yang rumit antara aku, jiyeon dan minhyuk ini” kataku

“tidak usah… aku tahu cepat atau lambat minhyuk akan mengakhiri hubungan kami, dan sekarang semuanya sudah berakhir”

“kau tidak memohon untuk kembali padanya?” tanyaku semakin dalam, ia hanya menggeleng

“kenapa? Kau tidak mencintainya??”

“jonghyun-ssi aku mencintai minhyuk, itulah kenapa aku membiarkan dia meraih apa yang dia mau. Kau tahu cinta itu sederhana?”

“cinta itu rumit, eunchae-ssi” potongku

“cinta itu hanya tentang dua hal. Mempertahankan atau melepaskan. Aku melepaskan minhyuk, karena aku yakin suatu hari aka nada seseorang yang mempertahankan aku sekuat hatinya… aku yakin itu”

Flash Back End

***

Sejak itu perkataan eunchae terus membayangiku, aku memutuskan untuk melepaskan jiyeon, dan aku yakin suatu hari nanti aku akan mempertahankan seseorang yang jauh lebih berarti untukku. Tiba-tiba gadis disebelahku ini terbangun, ia terduduk lalu menguap. Aku tersenyum melihat rambut panjangnya yang terlihat agak berantakan.

“apa yang kau tertawakan?” tanyanya. Lalu tanganku menyusuri puncak kepalanya, membuatnya sedikit menghindar tapi tanganku terus merapikan rambutnya.

“rambutmu berantakan” kataku. Lalu ia hanay diam sementara tanganku menyusuri kepalanya, lalu turun menuju pipinya dan aku mengusapnya. Untuk puluah detik berikutnya tidak ada yang bicara diantara kami berdua, mataku menatap matanya, ada guratan kekhawatiran dan cemas juga sedih dimatanya.

Akupun menurunkan tanganku, melipatnya didepan dadaku, dan ia menekuk lututnya dan memeluknya erat. Hembusan angin dingin membuat tubuhnya mengigil. Akupun melepaskan jasku dan menyempirkannya di bahunya.

“terima kasih” katanya

“aku antar kau pulang. Hari mulai gelap” kataku lalu kami berjalan dan masuk kedalam mobilku.

 

***

Author POV

Mobil jonghyun sudah berhenti didepan rumah yang baru saja ia kunjungi tadi malam. Ia mengetuk-ketuakn tangannya di kemudi mobilnya, sesekali melirik jam tangannya. Setelah 20 menit menunggu, akhirnya pagar rumah itu terbuka dan seorang gadis keluar dari gerbang itu. jonghyun segera turun dari mobilnya.

“jonghyun-ssi?”  wanita itu tampak terkejut mendapati jonghyun ada didepan rumahnya

“annyeong” kata jonghyun sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan ia menjadi salah tingkah.

“apa ada barangku yang tertinggal?” Tanya eunchae lagi.

“tidak ada… hanya saja… ah kau pasti mau ke kantor”

“ne.. lalu?”

“kalau begitu biar aku antarkan” kata jonghyun

“jadi kau kemari pagi-pagi hanya untuk mengantarku ke kantor, begitu?”

“anggap saja begitu” kata jonghyun lalu membukakan pintu penumpang. Eunchae masuk dan memasang seatbeltnya.

“aku sungguh merepotkan, tapi terima kaish banyak” kata eunchae saat jonghyun sudah duduk dikursi pengemudi disampingnya.

“ini inisiatifku, jadi kau tidak perlu merasa merepotkan siapapun”

“sekali lagi terima kasih” kata eunchae

“sama-sama. Jadi dimana kantormu?”

“di daerah insadong” dan mobilpun melaju meninggalkan halaman rumah eunchae.

 

***

“tuan jonghyun… tuan…” Pak Kim, salah satu tangan kanan jonghyun menyadarkan jonghyun dari lamunannya

“oh! Ya, ada apa pak kim?” Tanya jonghyun

“anio… saya hanay khawatir kalau terjadi sesautu pada anda. Seharian ini anda tampak terus melamun. Maaf kalau saya lancang, apa anda masih bersedih karena pernikahan nona jiyeon?” Tanya pak kim. Yang ditanya hanya tersenyum

“bukan, aku sudah tidak mempermasalahkan itu lagi”

“syukurlah kalau begitu. Kalau anda butuh sesuatu, anda silahkan menghubungi saya. Sekarang saya akan mempersiapkan materi rapat anda untuk besok siang, saya permisi dulu” pak kim berniat meninggalkan ruangan jonghyun.

“pak kim, tunggu sebentar ada yang mau aku tanyakan” pak kim menghentikan langkahnya lalu melihat kearah jonghyun.

“kalau sehari sesudah pernikahan jiyeon, ternyata aku jatuh cinta pada wanita yang baru 3 kali aku temui, apa itu tidak apa-apa? Maksudku apa itu tidak terlalu cepat?” Tanya jonghyun.

“aku rasa itu sah saja, asal tuan harus memastikan perasaan cinta yang anda rasakan bukan sebuah pelarian, pastikan tidak aka nada yang terluka, itu saranku tuan”

“baiklah, terima kasih” pak kim akhirnya meninggalkan ruangan jonghyun. dan jonghyun merenung.

“yang harus aku lakukan adalah memastikan ini bukan sebuah pelarian” katanya pada dirinya sendiri.

***

Eunchae menyusuri jalanan myeongdong, walaupun sudah pukul 9 malam tapi jalanan sama sekali tidak bisa dikatakan sepi. Seoul selalu ramai, kota ini tidak pernah tidur. Rasa haus menghampirinya tiba-tiba, ia pun memutuskan untuk mampir ke salah satu café.

Eunchae duduk disebuah kursi menunggu pesanannya sambil mendengarkan lagu kings of convenience kesukaannya yang diputar di café itu.

“tampaknya kau baru saja memborong setengah isi toko” eunchae menoleh kearah suara yang terdengar tepat dibelakangnya. Benar saja, seorang namja tengah berdiri dibelakangnya.

“kau mengikutiku? Atau kau punya radar hingga kau tau dimana aku berada?” Tanya eunchae, dijawab oleh tawa namja itu.

“ini sebuah kebetulan saja, eunchae-ssi”

“owh begitu…. Silahkan duduk. kau sering ke café ini, jonghyun-ssi?” Tanya eunchae

“ehemm… begitulah” kata jonghyun, sebenarnya ini pertama kalinya ia ke café ini.

“ohh… pesanlah kalau begitu” tak lama seorang pelayan datang mengentar pesanan eunchae dan jonghyunpun ikut memesan.

“kau habis belanja?” Tanya jonghyun melirik beberapa kantong belanjaan dikursi sebelah eunchae.

“ne… biasalah, wanita. Aku hanya memanjakan diriku sendiri saja. Hitung-hitung menghibur diri sendiri”  lalu percakapan panjangpun terjadi diantara mereka, membuat mereka semakin dekat.

 

***

2 minggu berlalu. Kini jonghyun ada dijepang untuk tugas kantornya. Ia tengah menyesap kopi panasnya di balkon hotelnya. Ia tidak bisa tidur, karena ia terlalu rindu pada eunchae. Beberapa kali ia berniat menghubungi gadis itu tapi selalu ia urungkan.

Ia pun menhela nafas panjang.

“kenapa aku ini? Rasanya sangat gelisah sudah 2 minggu tidak mendengar suara eunchae, atau bahkan aku tidak melihat wajahnya… “ jonghyun mengomel pada dirinya sendiri. ia menghempaskan tubuhnya keatas sofa empuk dibalkon dan mengacak-acak rambutnya frustasi.

“bahkan aku tidak penah serindu ini pada jiyeon dulu. Kenapa dengan eunchae rasanya aku sanagt membutuhkannya ada didekatku…” lama berfikir akhirnya jonghyun meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor. Lama nada sambung terdengar tapi tidak ada jawaban.

“mungkin dia sudah tidur”pikir jonghyun, tapi sedetik kemudia terdengar suara eunchae

“yoboseo…?” suaranya terdengar lemah dan serak

“ah eunchaeya… maaf meneleponmu malam-malam begini”

“ada apa? Apa terjadi sesuatu dijepang?” suara eunchae tiba-tiba terdengar khawatir.

“semua baik-baik saja”

“lalu?” Tanya eunchae

“bogosipho” seketika beban yang ada di dada jonghyun seperti menguap pergi begitu saja, rasanya lega sudah mengungkapkan apa yang ia rasakan. Tapi diujung telepon sana tidak ada jawaban apa-apa.

“eunchae… apa kau maish disana?” Tanya jonghyun

“kalau aku minta kau detik ini juga kembali ke korea, apa kau bersedia?” Tanya eunchae, membuat jonghyun mengerutkan dahinya.

“waeyo?”

“karena aku sangat merindukanmu jonghyun… saking rindunya sampai mendengar suaramu saja tidak cukup untukku” kata eunchae, membuat jonghyun tersenyum.

“tunggu aku, aku akan mendapatkan tiket pesawat pertama yang menuju korea. Secepatnya aku akan ada dihadapanmu” kata jonghyun. lalu ia menutup teleponnya dan menghubungi nomor lain.

“pak kim, booking penerbangan pertama menuju korea malam ini juga, penting”

“baiklah tuan, tapi apa yang sangat penting sampai anda harus pulang ke korea secepatnya?”

“ada yang merindukanku disana, aku tidak mau dia menunggu terlalu lama” kata jonghyun.

“baiklah tuan”

Jonghyun melempar ponselnya keatas sofa ia bangkit dengan semangatnya, terlalu bersemangat. Ia tidak pernah merasakan sebahagia ini sebelumnya.

 

***

Eunchae POV

Aku sedang memasak cookies saat bel rumahku berbunyi, aku mematikan oven dan segera berjalan menuju pintu depan. Saat kulihat siapa yang datang, rasanya aku ingin melompat dan memeluknya, tapi aku masih bisa menahan kewarasanku.

“annyeong…” sapaku, aku tidak bisa menahan senyumku saat melihatnya juga tersenyum.

“I miss you” katanya lalu mendekat dan memelukku, rasanya sangat hangat.

“hhmmm… aku juga” kataku singkat. Tanpa aku duga ia mencium keningku.

“apa yang sedang kau masak?” tanyanya.

“cookies, apa kau suka cookies?” tanyaku, dan ia mengangguk

“kalau begitu masuklah” aku menarik tangannya dan membawanya ke meja makan

“kau diruam sendirian?” Tanya jonghyun

“ne, ayah dan ibuku sedang mengunjungi paman dan bibiku di pulau nami. Besok pagi baru kembali” kataku smabil meletakan sepiring coockies hangat diatas meja makan, ia mengambilnya dan memakannya.

“bagaimana? Enak tidak?” Tanya ku, jonghyun terlihat merengut.

“pahit” koemntarnya, aku mengambil satu dan memakannya. Tidak percaya dengan kata-kata jonghyun.

“ini sangat enak jonghyun… “ protesku. Tiba-tiba jonghyun berjalan kearahku dan wajahnya mendekat, dalam hitungan detik bibir kami sudah bersentuhan.

“ini baru manis” bisiknya, bibirnya melumat bibirku. Sementara aku masih berusaha menelan sisa cookies didalam mulutku. Aku menutup mata, merasakan setiap sentuhannya dibibirku. Sesekali aku ikut melumat bibirnya.

“saranghae…. “ disela ciuman kami. Aku hampir menangis mendengarnya, aku tidak pernah merasa sehangat ini saat seseorang menyatakan cintanya padaku. bahkan minhyuk pun tidak pernah membuatku senyaman ini, aku merasa aman dalam dekapannya.aku menjawab jonghyun dengan memeluk tubuhnya erat. Terlalu terbuai denagn ciumannya. Tiba-tiba aku meraskan getar ponsel disaku jonghyun. jonghyun mengerang kesal lalu melepaskan tautan kami mengambil ponselnya dengan kasar.

“yoboseo…”

“……”

“pak kim, aku baru saja sampai di korea, dan sekarang kau memintaku kembali kejepang. Ada apa?”

“……” entah apa yg di katakana lawan bicaranya itu, tapi jonghyun terbelalak sedetik setelah melirik jam tangannya.

“baik! Aku kebandara sekarang juga” jonghyun terlihat panic.

“waeyo?” tanyaku

“aku ada rapat dijepang 3 jam lagi” kata jonghyun

“lalu kenapa kau kembali ke korea?” tanyaku tidak mengerti.

“karena aku ingin bertemu denganmu” katanya, membuat senyumku kembali merekah.

“kembalilah… aku sudah siap kau tinggalkan” kataku dengan tampang kesal yang dibuat-buat

“ikutlah denganku” katanya

“mana bisa? Aku punya pekerjaan yg harus aku kerjakan” protesku, tangannya menggenggam tanganku

“kau tidak mau melihatku gila karena terlalu merindukanmu kan?” katanya

“nanti boss ku marah”

“kalau begitu resign saja dari kantormu”

“lalu aku makan apa nanti?”

“aku yang akan bertanggung jawab pada hidupmu. Aku akan menikahimu segera sesuadh itu kau tidak usah lagi bekerja. Semuanya akan aku sediakan”

“mwo… menikah??? Secepat ini?” tanyaku

“apa aku tidak iri pada jiyeon dan minhyuk?”

“tapi…tapi…” aku tergagap karena semua yang dikatakan jonghyun.

“cepat kemasi barangmu, 10 menit lagi aku tunggu kau didepan”

“jonghyun…” tapi jonghyun menyentuh kedua bahuku, memutar tubuhku dan mendorongku ringan kearah tangga menuju kamarku

“cepat…. Jangan buang waktu” tanpa bertanya lagi, aku segera menuju kamar dan berkemas. Aku sudah pasrah sekaligus bahagia.

***

Author POV

Eunchae meletakan kepalanya di atas paha jonghyun. jonghyun menyelimuti tubuh eunchae.

“kenapa tidak masuk saja? Disini dingin” kata jonghyun

“aku maish mau melihat lampu kota dari sini” kata eunchae, matanya menelusuri kelap-kelip malam lampu kota Tokyo dibawah sana, ia merasakan tangan jonghyun mengusap rambutnya halus.

“eunchae, seperti katamu cinta itu melepaskan dan mempertahankan. Jadi kali ini aku akan mempertahankanmu sekuat tenagaku, apapun akan aku lakukan untuk membuatmu tetap disisiku. Semuanya akan aku berikan, asal kau tidak pernah pergi dari sisiku” eunchae memutar tubuhnya, membuat wajahnya menatap jonghyun, masih meletakan kepalanya di atas kaki jonghyun.

“untuk apa kau bersusah payah? Untuk waktu yang sangat lama, aku tidak ada rencana untuk meninggalkanmu, aku aka nada bersama denganmu” kata eunchae.

Jonghyun menyusuri kening euncahe dengan bibirnya, terus menuju hidung eunchae dan berakhir dibibir eunchae.

 

***

7 Bulan kemudian

“jagiya….. banguuun” jiyeon berlari kekamarnya. Lalu menepuk punggung telanjang minhyuk yang masih tidur tengkurap. Minhyuk mengerang karena dibangunkan tiba-tiba.

“andwee… ayo bangun” jiyeon menggoyang-goyangkan tubuh minhyuk. Minhyuk emmbalik tubuhnya lalu menarik jiyeon dalam pelukannya. Lalu menutup tubuh mereka dengan selimut.

“minhyuk…. Bangun…” bukannya bangun, minhyuk malah menenggelamkan wajahnya di leher jiyeon

“ini hari sabtu sayang, aku libur dan ingin tidur lebih lama” bisik minhyuk sambil memeluk tubuh jiyeon

“tuan Kang, ayo banging. Jonghyun dan eunchae akan menikah” kata jiyeon, sontak minhyuk membuka mata.

“menikah?” Tanya minhyuk, jiyeon mengangguk

“hari ini?” Tanya minhyuk lagi, jiyeon tertawa

“tentu saja tidak tapi minggu depan” jiyeon menunjukan undangan berwarna putih dengan ukiran nama jonghyun dan eunchae di depannya. Minhyuk mengambilnya lalu membacanya.

“akhirnya mereka menikah juga” kata minhyuk tersenyum. Lalu ia meletakan undangan itu di nakas samping ranjangnya, lalu ia merengkuh tubuh jiyeon dan memeluknya lebih erat lalu membenamkan lagu wajahnya di leher jiyeon dan mengehmbuskan nafas hangatnya disana membuat jiyeon kegelian.

“ya.. ini sudah pukul 10 pagi… ayo bangun dan mandi”

“aku masih ngantuk nyonya Kang, jadi tetaplah disini dan tidurlah bersamaku” kata minhyuk, jiyeon pasrah dan akhirnya ikut tertidur juga.

-END-

terima akish untuk readers yang udah baca FF ini dari awal sampai akhir, terima aksih untuk pujian juga kritik dan sarannya.

see ya on next title, readers🙂

 

20 thoughts on “Falling and Waiting [Part 11 – END]

  1. dear author > ini dpt & belajar dr mana nih “cinta itu hanya tentang dua hal. Mempertahankan atau melepaskan.” kkkkkkkk..ehm…bener juga sih.. hahhahaha…wah yang kali ini part Jonghyunnya banyak /blushing/ aku harap bakal rilis FF main cast Jonghyun buatan sarah ^^ hihihihi . btw sarah kayaknya jarang/belum buat yg sad ending yah?

  2. Waaah snangx.. Smua happy end.. Tnyt jonghyun dan eun chae bs sangat cinta.. Jd iri.. \=D/<=-P=))≈º°˚˚※ћaћaћa※˚˚°º≈\=D/<=-P=)).. Kpkran pacar sndiri.. \=D/<=-P=))≈º°˚˚※ћaћaћa※˚˚°º≈\=D/<=-P=))..

  3. Bagussss

    Suka endingnya
    Walaupun tadinya berharap jiyeon sama jonghyun

    But, it’s nice semua pada tempatnya yg sesuai

    Gomawo

    Mian ga comment satu2, abis terlalu penasaran

    ƗƗɑɑƗƗɑɑ…ƗƗɑɑƗƗɑɑ…ƗƗɑɑƗƗɑɑ. =D

  4. Dua orang yang memiliki luka yg sama Berbagi hidup berdua akan memiliki ikatan yg sangat kuat….
    Author..Terima kasih…

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s