SEVERELY

Author: mmmpeb

Length: oneshot

Genre: romance, angst

rating: PG15

Cast: Kang Minhyuk CNBLUE, Krystal F(x)

Disclaimer: FT Island – Severely (dengan edit sana-sini versi saya sendiri)

Note: FF ini adalah cerita dengan alur berdasarkan gambaran MV Severely. Mungkin/pasti udah ada FF lain yang temanya sama, tapi biarkan saya membuat Severely versi saya. Selamat membaca ^^

****************************************************************

Ruangan itu begitu sunyi. Hanya ada Minhyuk di tempat itu. Tidak ada tempat yang ingin ia kunjungi selain gereja itu. Seharusnya sekarang ia menyaksikan konser tunggal grup gadisnya. Namun semuanya musnah karena orang-orang lebih memilih berduka dari pada bersukacita.

Air matanya telah kering karena ia keluarkan terus menerus sejak kemarin. Hatinya hancur berkeping-keping karena ditinggal oleh yang terkasih. Di saat ia sudah mulai bisa membuka kembali hatinya dari masa lalu, di saat itu pula ia harus merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya. Cinta selalu pergi menjauh darinya.

Baru kali ini ia menginjakkan kakinya di gereja tua itu. Jika boleh memilih, ia ingin menginjakkan kaki di gedung itu dalam suasana suka cita menyambut teman sehidup sematinya, bukan untuk melepas kepergian seseorang.

Ponselnya berdering. Butuh sepuluh detik untuk Minhyuk menyadarinya.

“Ye, hyung?”

Setelahnya Minhyuk hanya memilih berdiam diri menyimak ucapan Yonghwa di seberang telepon.

“Gomawo!”

Senyuman sedikit tergambar di bibirnya. Senyum pertamanya sejak insiden mengenaskan itu terjadi sewaktu dirinya tidak bisa berada di samping gadisnya. Beruntung ia bisa mengenal Yonghwa. Saat ini ia sama sekali tidak memiliki semangat untuk beraktifitas seperti biasanya, bahkan pada benda kesayangannya –drum- sekalipun. Kali ini CNBLUE mau tidak mau harus tampil dengan drummer pengganti.

Dengan berat hati ia bangkit dari tempat duduk barisan depan. Matanya masih tidak bisa lepas dari figura besar yang menampilkan wajah gadis yang tengah tersenyum dengan manis. Sungguh, Minhyuk merindukan senyuman itu. Dan kini ia harus disadarkan oleh sebuah fakta menyakitkan bahwa orang yang memiliki senyum manis itu sudah tiada.

Langkahnya gontai, seakan berat rasanya hati ini untuk menjauh dari figura itu berada kini. Bahkan ia tidak memiliki tenaga untuk membuka pintu. Pintu itupun terbuka karena beban berat tubuhnya yang tak sengaja ia hempaskan pada pintu. Minhyuk terjatuh, tepat di depan seseorang.

“Gwaenchanseumnida?”

Suara itu? Suara yang sangat Minhyuk kenali. Buru-buru ia menengadahkan kepalanya dan betapa terkejutnya ia melihat sesuatu yang dirasa mustahil.

“Minhyuk oppa? Kok oppa bisa di sini?”

Minhyuk terus mengedipkan matanya. Ia tidak salah lihat, kan?

“Oppa kenapa, sih?”

Buru-buru Minhyuk bangkit dari jatuhnya dan segera memeluk gadis itu.

“Soojung-ah, ini kau?”

“Oppa pikir aku siapa?”

Minhyuk memang tidak salah lihat. Gadis yang tengah dipeluknya kini adalah Krystal. Tapi…bagaimana bisa ia ada di sini? Minhyuk bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri peti mati Krystal telah dikubur pagi tadi.

“Oppa, aku sesak!”

Ada yang bisa menampar pipinya? Ia masih tidak yakin dengan apa yang ia lihat sekarang.

“Kau…masih hidup?”

Krystal setengah terkejut mendengar pertanyaan Minhyuk. Konyol! Tentu saja ia masih hidup. Kalau tidak, siapa yang ada di depannya kini?

Tapi lain bagi Minhyuk. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Ia tidak mengerti. Atau apa yang ia alami belakangan hanya mimpi? Tapi benar-benar terasa nyata.

“Oppa, kita sudah tidak bertemu seminggu. Tidak rindu padaku?”

Ia seperti pernah berada di situasi ini.

Déjà vu.

Rasa-rasanya sama seperti saat ia baru saja pulang dari Jepang sebulan yang lalu.

“Aku rindu dengan oppa!” seru Krystal manja seraya merangsek maju memeluk tubuh Minhyuk.

Ia kembali merasakan Déjà vu. Ia semakin yakin apa yang ia alami sama seperti sebulan yang lalu. Selama lima bulan berpacaran dengan Krystal, baru satu kali ia mendapati Krystal merajuk seperti tadi, dan Minhyuk tahu persis kapan itu terjadi. Hanya saja kejadian ini tidak terjadi di depan gereja, melainkan pintu rahasia gedung SM saat Minhyuk berniat untuk melepas rindunya pada Krystal.

Minhyuk kembali teringat apa yang terjadi setelah Krystal memeluknya dengan manja. Iapun melakukan hal yang sama. Memeluk pinggang ramping gadisnya dan mencium dengan lembut bibir Krystal.

“Oppa, nanti dilihat orang!” kata Krystal sambil mendorong tubuh Minhyuk. Minhyukpun terkekeh, bukan hanya karena tingkah Krystal yang malu-malu, tapi juga karena keanehan yang ia alami.

“Kau duluan yang memelukku!”

“Itu karena aku kangen dengan oppa!”

“Aku juga! Sedang apa kau di sini?”

“Aku sedang jalan-jalan. Oppa sendiri sedang ap…pa?”

Krystal berusaha menyembunyikan wajahnya dari Minhyuk. Suara perutnya yang keroncongan sungguh sangat mengganggu suasana yang ada. Minhyuk tertawa dibuatnya.

“Kau lapar? Kajja!”

Minhyuk merebut kaca mata hitam digenggaman Krystal dan memakainya untuk menutupi mata Krystal. Dan kemudian menarik kupluk hoodie yang tengah Krystal kenakan untuk menutupi kepalanya. Ia sendiri mengambil masker dan topi kesayangan miliknya dan memakainya sebagai penyamaran. Bagaimanapun mereka telah berjanji untuk menutupi hubungan mereka dari orang luar.

Minhyuk pov

“Yonghwa hyung? Kau disini? Bukannya kau seharusnya hari ini di Inkigayo?”

Yonghwa hyung yang kini tengah berdiri di depanku hanya terdiam menanggapi pertanyaanku. Memang ada yang salah? Seharusnya sekarang ini CNBLUE tampil karena comeback. Bahkan hyung sendiri tadi yang  menelponku dan memperbolehkanku untuk tidak tampil.

“Pabo! Sepertinya ada yang bergeser diotakmu setelah bertemu dengan Krystal. Orang yang sedang jatuh cinta memang bodoh!”

Hyung tertawa. Dan kemudian berlalu dari hadapanku. Akupun mengejar Yonghwa hyung. Bagaimanapun aku harus tahu kenapa Yonghwa hyung bisa ada di dorm.

“Hyung, tadi kan aku tanya. Kenapa hyung bisa ada di sini? Ke mana yang lain?”

Bukan sebuah jawaban yang aku dapat, melainkan sebuah pukulan kecil di kepalaku. Tsk!

“Hyuuuung!” seruku merajuk.

“Kau ini kenapa, sih? Ada urusan apa aku ada di Inkigayo? Come back kita masih bulan depan, Minhyukie!”

Bulan depan? Jadi aku benar-benar kembali ke masa sebulan yang lalu. Aku tidak sedang bermimpi. Ini nyata! Ya Tuhan, buat aku paham dengan situasi aneh yang Kau berikan padaku ini!

“Aku ke kamar dulu! Aku sama sekali tidak tidur di Jepang. Kau beristirahatlah!”

Tanpa memperdulikan tatapan Yonghwa hyung, aku berlari memasuki kamarku.

Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kalenderpun juga ikut berubah. Aku masih ingat jelas kapan Krystal mengalami kecelakaan. Kemarin, 30 Juli. Tapi kalender kamarku justru menampilkan tanggal sebulan yang lalu, 30 Juni.

Jamkkan!

Aku teringat koran yang sengaja kubeli tadi pagi sebelum melangkahkan kakiku ke gereja. Kuambil koran itu dan kulihat baik-baik headline news yang terpampang di sampul koran.

Koran ini bahkan edisi 31 Juli, tidak ikut berubah. Dan berita tabrak lari yang dialami Krystal yang menjadi headline news.

Hanya koran ini saksi bisuku.

Apa ini berarti aku masih diberi kesempatan? Aku tahu Tuhan pasti tidak mungkin mengambil gadis yang kusayang begitu saja. Kalau memang ini adalah kesempatan keduaku, demi apapun aku akan menjaga Krystal dengan sungguh-sungguh. Aku tidak mau kehilangan dia.

*****

12 Juli

Semua berjalan seperti yang sudah-sudah. Aku hanya tinggal mengulang hari dan bersikap biasa seolah aku mengalami hari yang baru. Ada beberapa kejadian yang tidak berjalan seperti yang aku alami. Mungkin karena aku tahu apa yang akan terjadi di masa depan sehingga aku bisa mengubah alur hidupku .

“Yah Minhyuk, kita sudah telat! Ppali!” seru Jungshin di ambang pintu.

Hampir dua minggu berlalu. Semua berjalan dengan normal. Aku yang kembali disibukkan dengan kegiatan band-ku, membuatku terpaksa untuk tidak bertemu Krystal selama. Ini juga karena jadwalnya yang padat. Hanya ponsel satu-satunya penghubung kami.

Kami semua –termasuk manajer- sedang dalam perjalanan menuju studio. Suasana hati kami sedang sangat baik. Jungshin terus saja menggerakkan badannya mengikuti gerakan-gerakan girl group kesukaannya dan ini mengundang tawa kami. Happy virus ini selalu tahu bagaimana cara membuat kami tertawa.

Ponselku berdering. Kutengok layarnya dan senyum tipis mengembang di bibirku.

“Hai, chagi!”

Semua mendadak menatapku dengan tatapan aneh. Iri, ya?

Oppa! Bogoshipo!”

Nado! Sedang apa?”

Sedang latihan untuk konser nanti! Aku mau-“

“Mengundangku? Tanggal 31 nanti, bukan? Tentu saja aku akan hadir.”

Kok tahu aku mau bicara tentang itu?”

“Hanya menebak.”

Oh, arraseo! Ajak yang lain, ya!”

“Siap!”

Kamipun menyudahi percakapan kami. Senang rasanya bisa mendengar suara Krystal. Seperti vitamin ampuh. Semua mendadak indah.

“Krystal mengundang kita ke konser f(x),” kataku.

“Tanggal 31 ya?”

Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Perasaan tidak enak kembali muncul.

“Minhyuk, gwaenchana?”

“Aku tidak apa-apa!”

Kualihkan pandanganku menuju jendela, menatap kosong sisi jalan yang kami lewati. Kukeluarkan buku agenda kecil yang kubeli dua minggu yang lalu. Tanganku gemetaran terus menerus.

Terhitung sejak tanggal 30 Juni, sudah ada sebelas tanggal yang aku silang. Kusilang tanggal 12 yang berarti sudah 12 hari telah aku lewati. Rasanya aku masih tidak siap jika tanda silang itu mendekati tanggal 30 Juli, pertanda hari itupun datang. Apa takdir bisa kuubah? Jika tidak, itu berarti waktuku bersama Krystal hanya tinggal 18 hari lagi.

Kukeluarkan ponsel dari saku cardigan. Dengan cepat kuketik pesan singkat untuk Krystal.

To: my crystal

Jam 8 malam nanti aku jemput di tempat biasa. Kau bisa?

Tidak cepat Krystal membalas pesanku. Kurang lebih 15 menit.

From: my crystal

Malam ini aku free. Oke :*

Aku tersenyum melihat balasan Krystal. Waktuku tidak banyak. Kesempatan yang ada harus aku gunakan.

*****

18 Juli

 

Author pov

 

“Oppa kenapa sih belakangan ini suka mengajakku jalan-jalan?”

Suhu malam hari ini begitu dingin. Minhyuk semakin mengeratkan rangkulannya di bahu Krystal.

“Tidak apa-apa! Memangnya tidak mau jalan sama pacarmu yang tampan ini?”

Krystal hanya mengerucutkan bibirnya tanpa menjawab pertanyaan Minhyuk. Lagi-lagi percaya diri. Tapi sayangnya, Minhyuk memang tampan.

Ingin berhubungan dengan orang yang lebih jelek darinya? Itu hanya karangan belaka yang Krystal buat ketika ditanya tentang pria idaman. Ia menyukai Minhyuk pada pandangan pertama, saat mereka sedang memiliki acara bersama. Bahkan ia hampir kehilangan konsentrasi begitu tahu Minhyuk tengah melihatnya beraksi di atas panggung di bangku penonton bersama artis-artis lain. Ia tidak pernah segugup itu.

“Soojung, kau tidak pakai sarung tangan?”

“Eoh? Aku lupa karena buru-buru tadi!”

“Tsk!”

Dibukanya sarung tangan kanan miliknya dan dipakaikan pada tangan kanan sang gadis. Minhyuk menggenggam erat tangan yang satunya dan memasukkannya ke dalam kantung sweater tebal yang ia kenakan.

“Sudah hangat?”

“Hmm!” Krystal mengangguk.

Dengan penyamaran seadanya, mereka yakin tidak ada yang mengikuti mereka. Dengan santai mereka berjalan menuju kedai ramyun yang selalu menjadi tempat tujuan mereka selagi ada kesempatan bertemu.

Mereka bercakap dengan santai di perjalanan. Kebanyakan membicarakan tentang keseharian mereka. Jadwal padat tidak menjadi masalah karena mereka telah mengerti kesibukan satu sama lain. Andai mereka bukan selebriti, mungkin tiap hari akan menjadi hari-hari indah mereka.

“Oppa, mau masuk ke sana dulu?” tunjuk Krystal pada sebuah toko aksesoris.

As your wish!”

Merekapun memasuki toko itu. Walaupun tidak ada pengunjung, mereka tetap memilih untuk tidak membuka kacamata atau topi mereka.

Minhyuk lebih banyak berdiam diri. Berjalan mengekor di belakang Krystal yang tengah sibuk melihat-lihat aksesoris-aksesoris cantik. Sampai matanya menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.

“Kalungnya bagus!” seru Krystal begitu melihat Minhyuk mengangkat sebuah kalung rantai berbandul replika stik drum. “Cocok untuk oppa!”

“Aku suka, sih! Tapi tidak usah, lah! Aku jarang memakai kalung.”

Apa yang Krystal lihat tidak seperti apa yang Minhyuk katakan. Mulut Minhyuk berkata ‘tidak usah’, tapi matanya seolah berkata ‘aku menginginkannya’.

“Sudah dapat apa yang mau dibeli?”

Krystal menggeleng. “Tidak ada yang aku sukai! Ayo kita makan!”

Krystal menggenggam tangan Minhyuk dan kali ini ia yang memasukkan ke kantong jaketnya. Kedai ramyun tidak jauh dari tempat mereka berada. Hanya membutuhkan waktu 1 menit dan merekapun sampai.

“Oppa, masuk duluan, ya! Aku mau menelpon Amber unnie dulu. Di dalam berisik!”

“Jangan lama-lama!”

“Hanya sebentar!”

Minhyukpun masuk ke dalam, sedangkan Krystal melangkah keluar. Minhyuk tidak tahu kalau Krystal justru pergi ke suatu tempat.

*****

25  juli

 

Siang ini Minhyuk mengajak Krystal ke dorm. Mumpung member lain sedang ada jadwal masing-masing sedangkan dirinya tidak memiliki jadwal satupun. Kenapa tidak jika ia ajak Krystal sekali-sekali ke tempat tinggalnya?

Bel berbunyi. Minhyuk yakin itu Krystal.

“Hai, Soo-“

Bukan Krystal, melainkan Yonghwa. Bukankah ia baru saja pergi 10 menit yang lalu?

“Hyung? Ada yang tertinggal?” tanya Minhyuk dengan wajah gugup.

“Yah, kau mau bawa Krystal ke sini?”

Minhyuk mengalihkan pandangannya dari mata Yonghwa sembari menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

“Kalau ketahuan manajer  hyung bagaimana?”

“Berarti hyung yang memberitahu!”

“Terserah kau saja, lah!”

Yonghwa bergegas mengambil dompetnya yang tertinggal di atas tempat tidur. Benda penting, mengingat ia hanya pergi sendirian tanpa siapapun.

“Minhyuk, jangan melakukan hal yang macam-macam! Dia anak orang!”

“Kau pikir aku mau melakukan apa? Tsk!”

Yonghwa tahu siapa Minhyuk. Ia hanya suka menggodanya.

Minhyuk segera menutup pintu begitu Yonghwa sudah pergi. Tapi baru kakinya melangkah sedikit, bel kembali berbunyi.

“Apa lagi?”

“Hah? Apa lagi?”

“Soojung?”

Krystal melipat kedua tangannya di depan dada. Ia baru saja datang, tapi justru disambut dengan wajah kesal.

“Mianhae, Soo! Aku kira Yonghwa hyung!”

Kali ini kedua kalinya Minhyuk menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia malu. Ia kira Yonghwa –lagi- yang datang, ternyata tamu yang ditunggu-tunggu.

“Hey, jangan marah!”

Minhyuk menarik Krystal masuk ke dalam. Menutup pintu dengan kakinya dan tiba-tiba memeluk Krystal seperti ia tidak akan pernah memeluknya lagi di kemudian hari.

“Oppa, kau kenapa?” tanya Krystal tanpa merespon pelukan Minhyuk. Sebenarnya Krystal agak sedikit was-was karena hanya ada mereka berdua di dalam apartemen itu.

“Biarkan aku memelukmu begini, Soo! Aku janji tidak akan macam-macam!”

Dan hampir lima belas menit mereka saling berpelukan. Krystal tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Minhyuk. Minhyuk memeluknya sangat lama tanpa berucap sedikitpun.

Pelukannya mengendur, pertanda jika Minhyuk akan melepaskan pelukannya. Dan kini Krystal terkejut dengan apa yang ia lihat.

“Oppa, waeyo?”

Minhyuk berusaha tersenyum seperti biasanya. Tapi tetap tidak menghilangkan rasa khawatir Krystal melihat Minhyuk yang tiba-tiba meneteskan air mata.

“Aku tidak apa-apa!”

“Pasti tidak ada yang tidak apa-apa!” sahut Krystal sembari mengusap air mata Minhyuk yang mulai mengering. Minhyuk merasa nyaman dengan perlakuan Krystal dan kembali membuatnya ingin memeluk tubuh gadis itu.

“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu!”

“Pabo! Kau kira aku akan pergi?”

“Mungkin saja aku atau kau!”

BHUG!

“Aww!”

“Kalau kau bilang begitu lagi, awas ya! Bukan perut oppa saja yang aku pukul!”

Minhyuk sama sekali tidak gentar mendengar ancaman Krystal. Toh ia bisa tahu jika Krystal tidak ingin kehilangannya. Mengenal Krystal lebih jauh sangat menyenangkan baginya. Baginya, apa yang ada diluar belum tentu di dalam sama. Minhyuk tahu orang-orang yang belum mengenal Krystal akan menganggap Krystal adalah orang yang tidak begitu ramah, sama sepertinya dulu saat baru berkenalan dengan Krystal. Saat mengenalnya lebih dalam, ia semakin tahu jika Jung Soojung adalah orang yang sangat menyenangkan.

“Dari pada marah-marah lebih baik kita makan. Kau mau spageti?”

“Mau banget!” jawab Krystal penuh semangat. Perutnya memang sedang lapar.

“Ayo kita masak!”

Minhyuk menarik tangan Krystal dan membawanya menuju dapur. Di dapur kecil itu sudah tersedia bahan-bahan untuk memasak. Minhyuk telah menyiapkan ini sebelumnya.

“Mau celemek biru atau merah?”

“Aku-“

“Merah!”

“Aku kira oppa lupa warna kesukaanku!”

“Aku hanya ingin menunjukkan kalau aku selalu ingat apa yang kau suka, hanya sejauh yang aku ketahui.”

Minhyuk memakai celemek birunya, dan kemudian memakaikan Krystal celemek merah yang telah ia siapkan.

“Aku bisa pakai sendiri!”

“Jangan bawel!”

Wajah Krystal memerah. Minhyuk seperti sedang memeluknya ketimbang memakaikannya selembar celemek. Tapi ia suka. Apalagi dengan aroma parfum yang biasa Minhyuk pakai. Maskulin. Begitu merasuk dan membuatnya ingin menghirupnya setiap hari.

“Kau rebus mie-nya. Aku akan membuat bumbunya!”

“Hanya merebus?”

“Hanya merebus.”

“Tsk!”

Minhyuk hanya menyembunyikan senyumannya dari Krystal. Melihat  Krystal kesal salah satu kebahagiaan untuknya.

Sedangkan Krystal dengan terang-terangan menunjukkan kekesalannya. Hanya merebus? Ia juga ingin ikut andil. Hanya merebus, baginya anak kecil juga bisa melakukannya.

Mereka memasak dalam diam. Sudah banyak bahan bumbu yang telah Minhyuk potong-potong, dan mie spagetipun telah matang.

“Mie-nya sudah matang. Aku bantu, ya?”

Minhyuk meletakkan pisaunya dan menghentikan kegiatannya. Krystal hanya diam saja saat Minhyuk melepaskan celemek merah yang ia kenakan. Mengambil posisi di belakang Krystal, memegang kedua bahu milik gadisnya dan mendorongnya menuju meja makan.

“Kau duduk di sini dan tunggu aku selesai masak!” seru Minhyuk sembari menepuk puncak kepala Krystal.

“Kok?”

“Menurut saja, Soojung sayang!”

Lagi, Minhyuk menepuk puncak kepala Krystal.

Tidak jauh dari keberadaan Minhyuk, Krystal terdiam menyaksikan Minhyuk yang sedang memunggunginya. Rasanya seperti mustahil bisa menjadi pacar seorang drummer. Apa kata fans jika mereka tahu kalau mereka memiliki hubungan special? Entah mereka akan tetap setia menjadi fansnya atau justru meninggalkannya.

“Aku tampan, ya?”

“Mwo?” matanya terbelalak melihat tanpa berkedip memandangi punggung Minhyuk.

“Jangan melihatiku terus. Nanti jadi semakin jatuh cinta!”

“Cih!”

Bagaimana Minhyuk bisa tahu jika ia tengah memandanginya? Walaupun terlihat mengelak, di dalam hati Krystal mengakuinya. Orang gila mana yang mengatakan Minhyuk itu tidak tampan? Di mata Krystal, Minhyuk justru semakin tampan.

Suasana kembali hening, hingga Minhyuk tiba-tiba merasakan sebuah pelukan dari belakang.

“Soo?”

“Oppa, saranghae!”

Hati Minhyuk kembali berdebar-debar. Bisakah di kemudian hari ia mendengar kata-kata itu lagi?

Merasakan sebuah pelukan yang semakin erat, Minhyukpun berbalik dan menyenderkan tubuhnya. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya begitu menatap wajah Krystal dan Krystal selalu suka saat Minhyuk tersenyum untuknya. Saking bahagianya, mereka tidak sadar jika wajah mereka bergerak perlahan saling mendekat. Hembusan nafas yang hangat menerpa wajah mereka.

“Jeongmalyo?” bisik Minhyuk tepat di depan wajah Krystal. Dipeluknya leher sang gadis dengan penuh kasih sayang.

“Uh huh! Aku mencintai Minhyuk oppa!” sahut Krystal berbisik.

Minhyuk kembali tersenyum. Bibirnya nyaris menyentuh bibir Krystal kalau saja Krystal tidak mencegahnya.

“Oppa bagaimana?”

“Mau tahu?”

“Iyalah! Oppa mencintaiku, tidak?”

“Aku baru saja ingin memberitahumu, tapi malah kau cegah. Diam dan tebak apa yang aku rasakan.”

Cengkraman tangan Krystal di ujung kemeja Minhyuk langsung mengerat begitu merasakan sentuhan di bibirnya. Rasa senang yang Krystal rasakan begitu membuncah karena kini ia mengetahui apa yang Minhyuk rasakan padanya selama ini. Tubuhnya kini seperti tersengat listrik karena lumatan yang ia rasakan.

Minhyuk membalikkan posisi mereka hingga kini Minhyuk yang menghimpit Krystal. Entah setan apa yang merasuki Minhyuk, ia menginginkan sesuatu yang lebih jauh. Bahkan ciuman mereka sudah terlalu dalam karena nafsu yang menyelimuti mereka. Suara kecapan terdengar sangat jelas, nafas sudah tidak beraturan. Krystal tidak bisa berbuat apa-apa dan berusaha menikmati apa yang Minhyuk berikan.

Keduanya kemudian sama-sama menghirup udara dengan rakusnya. Menyatukan kening mereka dan tersenyum bahagia. Minhyuk sedikit tertawa melihat wajah Krystal yang memerah.

“Kenapa tertawa?”

“Ani! Kau lucu!”

“Tsk! Sepertinya kau mahir dalam berciuman?”

“Jinjja? Mau coba lagi?”

Krystal spontan mendorong tubuh Minhyuk.

“Tidak!!”

Lagi-lagi Minhyuk tertawa. Setelah nafasnya sudah teratur, ia mengeluarkan sesuatu dari kantung celemek birunya dan menjuntai sebuah kalung di depan wajah Krystal.

“Oppa, ini cantik sekali! Untukku?”

“Karena tidak cocok untukku, ya untukmu saja! Sini aku pakaikan!”

Minhyuk membuka pengait kalung tersebut. Dipeluknya sang kekasih dan dipakaikannya kalung yang sengaja ia beli untuk Krystal.

“Apapun yang terjadi, kau harus selalu tersenyum! Kalau kau bersedih terus, aku akan marah padamu! Mengerti?”

Krystal tidak terlalu mengerti apa maksud yang dikatakan Minhyuk. Tapi untuk sekarang rasanya ia tidak ingin peduli. Dari sekian banyak pemberian Minhyuk, kalung ini yang membuatnya sangat bahagia.

“Aw!”

Krystal mengaduh begitu keseimbangannya sedikit hilang dan menumpukan tangan kebelakangnya. Jarinya tidak sengaja terkena pisau.

“Soojung-ah, gwaenchana?” tanya Minhyuk khawatir.

“Tidak apa-apa, oppa! Hanya teriris sedikit!”

Minhyuk menuntun Krystal untuk duduk di kursi sedangkan dirinya kembali panik mencari baskom kecil dan mengisinya dengan air.

“Hahahaha!”

“Kenapa tertawa?”

“Hanya luka teriris, oppa! Pakai plester juga sembuh!”

Minhyukpun segera mencari kotak p3k di kamar Yonghwa. Setahunya ada plester di kotak itu.

Selagi Minhyuk tidak ada, Krystal tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dikeluarkannya sebuah kalung berbandul replica stik drum. Sewaktu mereka berpisah sebentar di kedai ramyun, ia kembali ke toko itu dan membelinya. Diam-diam, Krystal juga menyiapkan sesuatu.

“Sebaiknya diletakkan di mana, ya?” gumamnya.

Matanya menangkap sesuatu. Sebuah jaket hitam kesayangan Minhyuk tepat di senderan kursi yang ia duduki. Ia masukkan kalung itu ke kantung jaket. Saat tangannya keluar, sebuah lipatan kertas juga ikut keluar.

“Igeo mwoya?” gumamnya. Tangannya dengan buru-buru membuka lipatan itu. Matanya membaca judul-judul headline di lembaran dan iapun tercengang.

“Soo?”

Senyuman Krystal terlihat getir. Bangkit berdiri dan ingin rasanya tidak melihat wajah Minhyuk sekarang.

“Soojung, tunggu!”

Kepergian Krystal berhasil Minhyuk cegah.

“Kau kenapa?”

“Aku kenapa? Berita itukah yang membuat oppa belakangan ini begitu perhatian padaku?”

“Aku-“

“Jangan seenaknya mempermainkanku! Lelucon tadi sangat tidak lucu, Kang Minhyuk! Kau pikir aku suka lelucon itu? 30 Juli? Sekarang bahkan baru tanggal 25! Kau gila seenaknya mempermainkan kematian?”

Krystal mendorong Minhyuk agar menyingkir dari hadapannya. Minhyuk tidak bisa berbuat apa-apa.

Andai Krystal tahu apa yang Minhyuk alami!

*****

29 Juli

 

Belakangan Minhyuk suka sekali menggigit kuku jempol tangannya. Ia lebih sering menengok ponselnya kapanpun jika ia ingin. Biasanya jika ia mengirim pesan singkat pada Krystal, ia akan mendapat balasannya pada hari itu juga. Tapi semenjak kejadian itu, Krystal sama sekali tidak membalas pesan atau menjawab telepon Minhyuk.

Minhyuk tidak tahu apakah ia bisa mengubah takdir atau tidak. Waktunya sudah tidak banyak. Itupun kalau benar besok  adalah harinya.

Hey you!”

Jungshin datang dan ikut duduk di samping Minhyuk. Disusul Yonghwa dan Jonghyun.

“Masih belum?” tanya Jonghyun.

Minhyuk menggeleng dengan lemas. Semangatnya akhir-akhir ini down. Padahal besok adalah comeback grupnya.

“Kau tidak apa-apa, Minhyuk? Kau harus bisa bedakan mana hatimu dengan pekerjaan. Besok sudah tiba saatnya kita memberikan yang terbaik untuk mereka yang selalu bertahan untuk kita.”

“Arasseo, hyung!” katanya lemas pada Yonghwa. “Asal kalian tahu, aku mencintai CNBLUE melebihi cintaku pada diriku sendiri. Aku akan memberikan yang terbaik untuk kalian dan untuk fans. Sekalipun besok adalah hari terakhirku.”

Tak terasa Minhyuk meneteskan air matanya. Ia begitu sensitif.

Jungshin memeluk Minhyuk dari samping. Ia menyayangi Minhyuk karena Minhyuk adalah orang terdekatnya.

Minhyuk tersenyum getir. Entah kenapa Minhyuk merasa ada yang salah dengan kalimat terakhirnya.

*****

30 Juli

 

Minhyuk semakin gelisah menanti penampilannya. Sejak tadi tangannya berkeringat. Ia hanya takut stik drum di genggamannya nanti lepas.

Ia masih menunggu Krystal yang tak kunjung mau bicara dengannya. Ratusan kali ia menelpon Krystal, dan ratusan kali tak kunjung diangkat. Beberapa kali sengaja di-reject. Membuat hatinya semakin terluka.

“Kalian siap?” teriak seorang staff.

Masing-masing member telah berada di posisi masing-masing. Sembari menunggu detik-detik penampilan mereka, sesekali Yonghwa dan Jungshin bergurau satu sama lain yang mampu membuat penonton tertawa karena tingkah kekanakan mereka. Jonghyun seperti biasa memilih diam dan tertawa, sesekali bicara karena dipancing Jungshin.

Minhyuk? Ia sengaja bertingkah seperti sibuk dengan drumnya. Saat matanya menangkap para fans, barulah ia tersenyum seperti biasa, dan kembali mengalihkan pandangannya pada drum. Ternyata sulit untuk tersenyum di saat hatinya sedang tidak ingin tersenyum.

Penampilan mereka berjalan dengan lancar. Kadang ada untungnya juga Minhyuk mendapat posisi di belakang. Jika ia di depan, bisa dipastikan banyak yang akan menyadari jika Minhyuk hanya sedikit tersenyum.

Minhyuk memilih berjalan di depan tiga member lainnya menuju waiting room. Ia ingin mengecek apakah kali ini Krystal membalas pesannya atau tidak.

Dan senyuman lebar itupun terukir di bibir Minhyuk. Ia mendapat sebuah pesan dari Krystal.

From: my crystal

Oppa, bisakah kita bertemu di kedai ramyun sekarang? Aku sedang dalam perjalanan dari kantor.

Kantor yang Krystal maksud adalah perusahaan agensi tempatnya bernaung saat ini. Posisi Minhyuk tidak begitu jauh dari kedai itu. Jika ia berangkat sekarang, mungkin hanya akan terlambat sekitar lima sampai sepuluh menit.

Senyum merekah itu hilang seketika saat ia teringat sesuatu. Bukankah dari tempat Krystal menuju kedai harus menyebrangi jalan raya? Jalan raya itu adalah lokasi…

“Minhyuk, kau mau ke mana?” pekik Jungshin begitu melihat Minhyuk berlari meninggalkan ruangan tanpa bicara sepatah katapun.

Sudah tidak ada waktu lagi. Ia tidak ingin orang yang ia sayangi pergi begitu saja.

Langkah Minhyuk semakin melambat begitu ia hampir mencapai tepi jalan raya. Matanya menangkap sosok Krystal yang tengah melambai padanya.

“Oppa, bogoshipo!”

Walaupun Minhyuk tidak bisa mendengar, tapi ia mengerti mimik bibir Krystal. Kata-kata Krystal terasa begitu indah baginya.

“Nado!”

Jalan raya sangat sepi. Ia tidak tahu kenapa Krystal bisa mengalami kecelakaan di tengah sunyinya malam itu. Apalagi saat lampu penyebrangan jalan berubah menjadi hijau. Tidak perlu risau bukan untuk menyebrang jalan?

Krystal terlihat tengah mengambil ancang-ancang untuk menyebrang.

“Soojung, biar aku yang ke sana!”

Tapi Krystal tidak mengindahkan kata-kata Minhyuk. Gadis itu sangat merindukan Minhyuk dan ingin segera memeluknya. Bahkan Krystal tidak sadar jika ada mobil melaju kencang datang menghampirinya.

Minhyuk melihat itu. Pikirannya tiba-tiba kosong.

.

.

.

Waktu seperti berhenti untuk Minhyuk. Berhasilkah ia mengubah takdir?

.

.

.

“Op…pa..?”

Air mata itu jatuh begitu saja. Gadis itu tidak bisa merasakan nafasnya sendiri. Barulah beberapa detik kemudian ia bernafas, itupun karena dadanya yang tiba-tiba terasa sangat sesak. Matanya begitu panas. Apa yang ia lihat di hadapannya kini seperti hanya sebuah mimpi buruk.

“MINHYUK OPPA!!!!!!!” teriak Krystal memecah keheningan malam.

Krystal merangkak dari jatuhnya, tidak peduli kakinya lecet karena bergesekan dengan aspal. Secara perlahan ia mengangkat kepala Minhyuk ke pangkuannya dengan maksud agar Minhyuk tidak kesakitan. Tapi percuma, apa yang Minhyuk rasakan adalah sakit yang sangat luar biasa.

Tangan Krystal bergetar hebat begitu melihat tangannya berceceran lumuran darah dari luka di kepala Minhyuk akibat benturan kaca yang sangat keras.

“Oppa, bertahan, ya!”

Krystal tidak mampu menahan tangisnya. Suaranya bergetar.

Bukan ini yang ingin Minhyuk lihat. Ia ingin Krystal terus tersenyum untuknya, bukan menangisinya.

“Soo…”

Tangan lemas itu berusaha meraih pipi Krystal. Diusapnya air mata itu dari pipi gadisnya.

“Janghh..jangan menangishh!”

Nafas Minhyuk sudah mulai tidak beraturan. Ia bisa merasakan tetes demi tetes air mata yang keluar dari mata Krystal di wajahnya. Dengan segenap tenaga, Minhyuk menarik wajah itu dan sekedar mengecup bibir gadisnya untuk yang terakhir kalinya.

Rasa asin itu begitu terasa di bibir Krystal. Bukan air mata, melainkan darah. Dalam ciuman itu, mereka menangis berdua. Menyadari tangan Minhyuk yang merengkuh pipinya perlahan merosot, Krystal segera menahannya agar ia tetap bisa merasakan tangan besar itu merengkuhnya.

Krystal tidak bisa berbuat apa-apa saat ia menyadari tidak ada nafas yang keluar baik dari hidung maupun mulut Minhyuk. Tangisannya pecah. Memeluk tubuh Minhyuk dengan erat dan berharap Minhyuk tidak pergi meninggalkannya, walaupun ia sadar betul jika Minhyuk kini telah pergi.

*****

31 Juli

Halaman koran itu. Halaman koran milik Minhyuk yang sempat menjadi bahan pertengkaran mereka. Minhyuk tidak berbohong dan tidak bercanda. Kini Krystal sadar, harusnya memang dirinyalah yang ada di halaman itu, bukan Minhyuk.

Akal sehat tidak mampu menjelaskannya, tapi isi koran itu berubah. Seharusnya halaman itu berisi tentang berita tentang kematian Krystal, bukan kematian Minhyuk.

Tidak hentinya Krystal menangis. Air matanya tak kunjung surut mengingat ia telah menangis hampir 15 jam. Yang ingin ia lakukan hanya menangis dan menyesali semua yang terjadi. Ia sudah tidak peduli jika hari ini adalah hari besar untuk dirinya dan juga rekannya.

Krystal duduk termenung di atas tempat tidur. Kamarnya cukup berantakan dengan kertas-kertas yang berserakan karena angin kencang yang masuk melalui jendela besar yang terbuka. Angin hari ini berhembus begitu kencang, ditambah langit mendung yang sepertinya tahu apa yang Krystal rasakan kini.

“Minhyuk…hiks!” serunya lagi sesenggukan.

Tangisannya selalu pecah setiap mengingat kejadian kemarin yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Ia sangat mengingat bagaimana khawatirnya Minhyuk berlari untuknya dan mendorong tubuhnya hingga terhempas. Ia masih hidup berkat Minhyuk.

Penyesalan selalu datang terakhir. Andai saja saat itu ia tidak menuruti egonya. Andai ia tidak mengacuhkan setiap telpon yang masuk atas nama Minhyuk. Andai ia tidak mengabaikan semua pesan Minhyuk.

Rasa hampa itu tidak pernah surut. Ia merasakannya sejak lama, saat ia begitu egoisnya pergi dari Minhyuk tanpa mau mendengarkan penjelasan laki-laki itu. Ia merasa sendirian, walaupun banyak orang yang mengkhawatirkannya kini. Ia hanya ingin Minhyuk saat ini.

“Soojung-ah? Kau yakin tidak mau berangkat?”

Sebuah konser tunggal jika tanpa satu member sekalipun pasti rasanya sangat ada yang kurang. Mungkin rasa inilah yang harus dialami para fans. Krystal merasa sudah tidak mampu lagi untuk beraktifitas.

Angin kencang kembali berhembus. Angin tersebut masuk ke kamar Krystal dan menerbangkan benda-benda ringan, termasuk poster promosi konser tunggal yang Krystal letakkan di meja. Poster kecil itu jatuh tepat di depannya.

Diambilnya poster itu. Ia menatap begitu pilu. Bukankah ini konser yang ia tunggu-tunggu? Haruskah ia menyia-nyiakannya?

Kalung putih pemberian Minhyuk yang masih bertengger di lehernya tiba-tiba lepas dan jatuh ke pangkuannya. Tangannya bergetar meraih kalung itu.

Apapun yang terjadi, kau harus selalu tersenyum! Kalau kau bersedih terus, aku akan marah padamu! Mengerti?

“Minhyuk?”

Harusnya ia sadar Minhyuk telah pergi ke alam lain. Percuma mencari-mencari Minhyuk ke seisi ruangan karena Minhyuk telah tertanam oleh tanah beberapa jam yang lalu.

“Susah untukku tersenyum, Minhyuk oppa!”

Tanpa sadar ia tersenyum saat ia mengucap nama Minhyuk. Nyatanya tidak sulit.

“Kau mau aku pergi?” katanya lagi. Dipakainya kalung yang ada digenggamannya. Entah apa yang sedang merasuknya. Semangatnya tiba-tiba membuncah. Sama seperti semangat saat ia menanti konser besarnya.

“Baiklah!”

Krystal bangkit dari tempat tidur dengan tergesa-gesa dan membuka pintu secara mendadak. Sontak mengagetkan member lain yang sedang mengkhawatirkannya.

“Soojung?” seru Victoria.

Diantara para member, Amberlah yang paling sedih karena Krystal. Ia berlari dan memeluk Krystal dengan erat.

“Kajja!” ajak Krystal sembari memeluk Amber. Air matanya kembali turun. Rasanya Victoria ingin menangis melihat orang yang terlihat kuat justru terlihat sangat lemah.

Sulli dan Luna saling bergenggaman tangan. Mereka tahu tidak mudah bagi Krystal untuk menghadapi semua ini. Luna yang paling mengerti bagaimana perasaan Krystal pada Minhyuk.

“Kau yakin, Soo?” tanya Amber.

“Nde, eonni! Aku tidak mau mengecewakan fans. Aku juga tidak mau Minhyuk marah-marah diatas sana!” kata Krystal tersenyum sembari mengusap air matanya, walaupun air mata itu lagi-lagi turun.

-END-

Maaf ya kalo ceritanya sedikit membingungkan. Jadi di awal cerita, yang meninggal itu Krystal, tapi ga tau kenapa tau-tau Krystal muncul di depan gereja dan ternyata Minhyuk kembali ke masa sebulan yang lalu.

Cerita berdasarkan alur dari MV Severely, dengan edit sana-sini dan penambahan versi aku sendiri.Untuk tanggal-tanggal di atas cuma asal. Kayak tanggal comeback atau tanggal konser.

Kalau bisa kasih komentar ya kalo emang baca sampe abis ^^ komen aja gimana perasaan kamu setelah baca ff ini,  atau bagian2 yg mesti diperbaiki. Ini juga sebagai penilaian buat aku karena aku ngerasa makin lama kok ff yang aku bikin serasa failed *efek otak kebagi sama skripsi*. Komentarnya jujur!! Bilang aja apa adanya, justru bakal jadi kritikan yang membangun buat aku. Dari pada komen “bagus thor” tapi sebenarnya ga seperti yang ditulis. Apa lagi cuma komen “Yah, minhyuknya mati”, udah gitu doang? Bukan komen namanya T______T Terserah aku dong mau bikin minhyuknya mati atau ga, kan aku yg buat cerita.

Thank you :*

11 thoughts on “SEVERELY

  1. ga ko ga filed, seperti biasa selalu ok, yah ff y memang ga semua y sama ma d mv, aku kira ada scane yg ujan itu loh…yg d luar gereja, itu sweet, mmmpeb ada kata” yg pas aku baca kurang enak, mungkin karena aku jarang baca x y. 😀

  2. Author ffnya bagus banget. Aku malem2 bacanya dan ceritanya sukses bikin aku nangis… Aku beneran ngeluarin air mata… Kebawa banget sama ceritanya😥
    Aku ikut ngerasain sedihnya krystal yg ditinggal minhyuk😥
    Huwaaaaa😥
    Yg tabah ya krys….

    Walaupun di awal2 aku kurang paham sama jalan ceritanya (yg krystal tau2 muncul di gereja padahal dia udah meninggal) tapi makin kesini jadi ngerti karena dijelasin sama author🙂

    Tapi ada yg mengganjal. Kok cuma korannya doang yg nggak berubah ya? Itu kenapa ya author?

  3. ceritanya mirip drama korea operation proposal, tapi bedanya di drama itu pas si cewe seharusnya mati tabrakan mobil dan si cowo dikasih kesempatan untuk ngulang hari yang sama, jadinya si cowo yang tabrakan tapi akhirnya si cowo ga mati, cuma masuk rumah sakit doang dan si cewenya ga kenapa-kenapa.
    menurut aku FF onni ga failed kok, masih seru kaya ff-ff sebelumnya, dan FF ini bikin penasaran karena kan ada dua kemungkinan, antara MH gagalin kecelakaan itu dan dia sama krystal selamet atau minhyuk mati gantiin krystal, nah dari awal baca aku penasarn sama 2 kemungkinan itu dan ternyata akhirnya MH yang mati gantiin posisi krystal, tapi akhirnya tetep memuaskan kok onn🙂

  4. hiks kenapa jd takdirnya minhyuk yang mesti meninggal. aihhh dikira bakal ada kesempatan kedua untuk mereka bareng2 terus. hiksshiks :””(
    jadi krystal yg keilangan minhyuk tuh. iya ini kaya liat MV FTI tapi beda jln ceritanya. tapi endingnya sama huhu…

  5. aaahh coba kalau disini nggak berisik, pasti aku udah sesenggukan nih thor.. aih nyesek banget ini ceritanya. feelnya dapet banget, semua adegan bener-bener kebayang dengan jelas. aku sukaaaa❤ sering-sering bikin angst ya author😀

  6. tengahh* tuhh sweet bgtt,, U,U
    greatt !!!!!! aq nangissss tauu !!!
    story.x nyentuhh bgtt,, cettarr dehh pko.x ,,
    nyesekk inii !! ending.x gak ketebakk..
    tulisan.x rapi and WOW sangatt’🙂
    huhuuu.. buatin ff ttg mereka lagi yaa,,
    cemungudh kka !!!!!!!!😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s