Forbidden Love (Chapter 2)

 

 

Title: Forbidden love

Author: Kim Sung Rin
Rating: PG 15
Genre: romance, fantasy, AU
Length: chaptered
Main Cast:
– Jung Seo Jin (OC)
-Lee Jonghyun
Other Cast:
– Other member CN BLUE
-Kim Sunggyu INFINITE
Disclaimer: ide cerita dari va dan aku merealisasikannya disini. chapter dua dan seterusnya murni pemikian aku
😛
Note: tidak bashing, silent reader dan RCL!! itu sangat penting bagiku dan mungkin bagi author lain juga hahaha.
cerita ini sebelumnya sudah di publis di note FB aku. ini sedikit tidak orisinil karena ada beberapa bagian yang aku ubah. so check this out!
so, happy reading :D
previous part : [1] 
~~~

“Ada apa Seo Jin? Kenapa kau berteriak?” Yonghwa kini telah menghambur masuk kedalam kamar Seo Jin. Seo Jin masih terpaku memandang dirinya dicermin. Perlahan jarinya menyentuh matanya  yang tergambar jelas dicermin.

Seo Jin berbalik dan menatap bingung Yonghwa yang kini tengah menatap sang adik juga, “Oppa kenapa bola mataku tidak berwarna hitam? Kenapa dia berwarna biru?” desah Seo Jin menahan tangisnya. Ya~dia ingin menangis karena dia tidak tau keanehan apa yang sedang melanda dirinya.

“Ah, aku lupa hari ini ulang tahunmu yang ke 23.” Ucap Yonghwa santai dan bersiap ingin meninggalkan Seo Jin namun Seo Jin menarik lengan Yonghwa sehingga Yonghwa menatapnya heran, “Kau ini kenapa sih?” kesal Yonghwa.

“Aissshh~dasar kau ini! Suka melihatku penasaran? Sebenarnya ada apa denganku oppa?” Seo Jin merengek sambil menghentakkan kakinya. Dia kesal karena Yonghwa pasti menyembunyikan sesuatu darinya, Yonghwa terkekeh merasa menang karena telah membuat adik perempuannya penasaran sekaligus takut.

“Sebaiknya kau mandi dulu, sesuatu hal yang baik dipagi hari tentu akan mendapat kabar baik juga.”

Seo Jin langsung meraih handuknya dan terburu menuju kamar mandi, membuat tawa Yonghwa meledak.

“Aishhh~ ternyata anak itu benar-benar takut!”

~~~

“Oppa cepat jelaskan apa yang terjadi dengan mataku? Kenapa daritadi bola mataku tetap berwarna biru?” desak Seo Jin yang dikala itu baru saja menghempaskan tubuhnya di bangku meja makan. Yonghwa yang sedang mengoles mentega di lembar-lembar roti dihadapannya mendelik sebentar kearah Seo Jin dan menarik ujung bibirnya membuat sebuah senyuman, “Kau kelihatannya penasaran sekali ya?”

Seo Jin mendengus kesal, “Cepatlah, aku ingin tau apakah aku baik-baik saja atau tidak.” Pekik Seo Jin keki. Yonghwa terkekeh melihat adik perempuannya marah, “Arasso, kau itu sebenarnya bianco aloto.”

Seo Jin mentautkan kedua alisnya heran, “Bian… apa?” Yonghwa menyelesaikan mengoles mentega dan selainya lalu melahapnya, “Kita itu keturunan bianco aloto.”

“Kita?” Seo Jin menatap Yonghwa bingung. Yonghwa mendecak kesal, “Ya~kita! Kau dan aku, umma dan appa. Kau mengerti?”

Seo Jin mendengus kesal, “Lalu apa itu bianco aloto? Dan kenapa kau tidak memiliki bola mata berwarna biru?”

“Slow down baby!” Yonghwa meneguk susunya sampai habis, “Bianco aloto adalah makhluk bersayap putih, umma dan appa juga bianco aloto tapi mereka telah memutuskan untuk melepas ‘atribut’ bianco aloto, sama halnya denganku. Karena menurut kami, lebih baik menjadi manusia yang hidup dengan damai, tidak seperti bianco aloto yang kapan saja bisa masuk dalam zona bahaya karena bangsa blackdarc yang selalu berperang dengan bianco aloto yang lainnya. Matamu menjadi berwarna biru karena ini sudah saatnya kau memutuskan akan meneruskan menjadi bianco aloto atau menjadi manusia, sepertiku dan umma appa” Lanjut Yonghwa. Seo Jin menatap punggungnya, sayap? Dia bahkan tak pernah berpikir kalau makhluk bersayap itu benar-benar ada.

“Lalu apa itu blackdarc?”

Yonghwa menghela napas sebentar, “Blackdarc makhluk bersayap hitam. Mereka selalu merasa bermasalah dengan bianco aloto karena permasalahan terdahulu. Bangsa  blacdarc selalu ingin menghancurkan manusia, karena mereka pikir, manusia adalah makhluk pengganggu. bianco aloto jelas menolak itu semua, karena menurut mereka manusia adalah bukan sesuatu yang harus diperangi. Perbedaan pendapat inilah yang membuat bangsa blackdarc membenci bianco aloto.”

Seo Jin mengangguk pelan namun seketika napasnya tertahan. Pria itu, pria yang menciumnya didalam mimpinya mempunyai sayap hitam. Apakah dia seorang blackdarc?

“Ya! Jangan melamun saja! Cepat sarapan, kalau kau sakit aku yang dimarahin umma” Yonghwa kini beranjak ke sofa ruang tv dan mulai menggonta-ganti channel tv. Sedangkan Seo Jin  dia masih terpaku di meja makan.

~~~

Seo Jin memasuki perpustakaan. Hari ini sebenarnya tidak ada jadwal mata kuliah hanya saja dia ingin menyelesaikan tugas makalahnya yang akan dikumpulkan lusa.

Seo jin mulai menelusuri rak-rak buku yang berdiri kokoh didalam perpustakaan, matanya menelisik dengan teliti tiap judul buku yang ada dihadapannya.

“Kita bertemu lagi,” sapa seseorang yang berada disamping Seo jin.

“Oh, hai.” Tegur  Seo jin singkat lalu meneruskan mencari buku. Jonghyun mendengus dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku, “Bisa membantuku mencari buku?” Tanya Jonghyun lagi.

“Apa kau tak lihat aku juga sedang mencari buku?” jawab Seo Jin enteng sambil mengambil salah satu buku dan membacanya sekilas. Terdengar dengus kesal dari Jonghyun, “Kan kau disuruh untuk membantuku mengejar ketinggalan, apa kau lupa?”

Seo jin menutup buku yang dipegangnya dengan keras sehingga tercipta bunyi debaman yang terdengar agak menggema di perpustakaan yang senggang ini. Dia menatap kesal lelaki dingin yang tengah berdiri dihadapannya.

“Apa kau murid taman kanak-kanak? Kau tinggal melihat kategori yang tercantum di tiap rak dan mulai mencarinya. See?Mudah bukan? Aku punya kesibukan selain mengurus dirimu, tentunya.”

Jonghyun menarik sebuah senyum simpul memandang gadis didepannya tersulut amarah. Mata gadis itu menatap dirinya tajam dan itu membuatnya sedikit salah tingkah dan berdebar. Jonghyun sedikit berjengit kala melihat bola mata Seo Jin yang berwarna… biru?

Jonghyun berdeham sebentar, berusaha mengalihkan tatapan tajam gadis dihadapannya namun sia-sia. Sepertinya dia benar-benar kesal.

“Baiklah, aku mengerti apa maksudmu.” Jawabnya singkat lalu berlalu dari hadapan Seo Jin. Seo Jin menghela napas pelan sambil memejamkan matanya sejenak lalu memandang punggung Jonghyun yang semakin menjauh dari hadapannya.

“Dasar aneh!” gerutu Seo Jin kesal lalu keluar dari perpustakaan.

***

Jonghyun  langsung merebahkan tubuhnya yang lelah di kasur miliknya. Sunggyu belum pulang, itu artinya tidak ada siapa-siapa dirumahnya.

Matanya menelisik langit-langit kamarnya yang polos. Ingatannya melayang ke Seo Jin. Segudang tanda Tanya besar menimpa kepalanya dan itu jelas membuatnya agak sedikit penasaran, tentunya dengan perubahan gadis itu.

Pintu kamar membuka dan terlihatlah kepala Sunggyu menyembul dibaliknya.

“Jonghyun, kau sudah pulang?” Tanya Sunggyu masuk kedalam kamarnya. Jonghyun menatap Sunggyu malas, “Tidak ada pertanyaan yang lebih berbobot lagi? Sudah jelas kau melihatku disini berarti aku sudah pulang.” Sungut Jonghyun yang membuat Sunggyu tersenyum simpul.

“Apa yang membuatmu gusar?” Sunggyu menyentuh pajangan kaca di nakas Jonghyun lalu mengamati ikan mainan yang bergoyang didalamnya seakan-akan dia hidup. Jonghyun menghela napasnya dalam, “Entahlah, aku sedang bingung.” Jawab Jonghyun singkat. Kali ini Sunggyu mengalihkan pandangannya dari pajangan yang sempat menarik perhatiannya, “Kenapa? Apa kau sedang dirundung masalah?”

Jonghyun menggeleng, masih menatap langit-langit kamarnya, “Seo Jin, gadis itulah yang membuatku bingung.”

“Oh ayolah jangan berputar-putar, jelaskan saja!” desah Sunggyu kesal karena jonghyun tak kunjung memberikan penjelasan yang jelas. Jonghyun kini duduk disamping Sunggyu, “Gadis itu, seingatku bola matanya hitam. Tapi tadi pagi berwarna biru. Apa dia bianco aloto?” Tanya Jonghyun antusias. Kali ini Sunggyu tak dapat menahan tawanya membuat Jonghyun bergidik kesal, “Kenapa kau malah tertawa?”

“Kau ini lucu sekali Jonghyun, kau kira bianco aloto seperti kacang goreng di bumi? Bisa saja kan dia memakai soft lense yang berwarna biru.”

Jonghyun semakin kesal karena Sunggyu masih saja tertawa, “Hey, aku juga tidak bodoh! Tapi dia bukan tipe orang yang suka memakai soft lense.”

Kini tawa Sunggyu berganti wajah serius sambil memicingkan mata kearah Jonghyun.

“Wae?” kesal Jonghyun.

“Darimana kau tau dia tidak seperti itu?”

Jonghyun  tercengang dan menelan salivanya dengan susah payah, “Aku…aku duduk disampingya dan dia diutus untuk membantuku, yeah tentu aku tau.” Jawab jonghyun setengah gugup. Sunggyu masih saja memicingkan matanya menatap Jonghyun.

“Aishh~aku tau aku tampan, tidak usah iri denganku!” Jonghyun lalu bangkit dari ranjang, meraih handuk miliknya dan menuju kamar mandi. Sunggyu kembali terbahak.

“Oh iya, sebaiknya kau buatkan aku makanan selagi aku mandi mandi.” Teriak Jonghyun dari dalam kamar mandi, dan itu membuat Sunggyu menelan tawanya karena kesal setengah mati.

***

Seo Jin menatap lelah laptopnya, akhirnya setelah bekerja keras selama dua hari belakangan ini, tugas makalahnya selesai. Dia meregangkan kepalanya melepas penat yang mulai menggerogoti tubuhnya.

Dia berjalan menuju balkon kamar, kendati malam sudah mulai menyapa tak berarti gadis itu melupakan kebiasaannya untuk sekadar membuka pintu balkon.

Rambut panjangnya terurai berantakan kala angin berhembus masuk melalui balkon. Gadis itu tersenyum dan menikmati hembusan itu sambil meregangkan tangannya.

“Ah capeknya.” Keluhnya lagi. Dia menatap jalan sekeliling perumahannya yang Nampak sepi namun…dia merasa ada sedikit kejanggalan.

Matanya terus saja menatap pohon rindang yang tumbuh kokoh di sebrang rumahnya.

“N…nuguseyo?” tanyanya kendati sangat takut. Pohon itu hanya mengayun lemah tertiup angin. Seketika bulu kuduk Seo Jin meremang dan dia memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya lalu buru-buru menutup balkon dengan rapat.

Ditempat lain, tepatnya pohon yang berada disebrang rumah Seo Jin, seorang lelaki mendesah lega karena keberadaannya tidak diketahui oleh Seo Jin.

***

“Yak! Jung Seo Jin, ireona ppali!” Yonghwa mengetuk-ngetuk pintu kamar Seo Jin berkali-kali namun tak ada sahutan dari dalamnya.

“Sedang apa kau? Cepat buka pintunya!” desak Yonghwa yang sedikit panic.

Seo Jin membuka pintunya sedikit dan terlihatlah setengah wajah Seo Jin yang tak kalah panic menyembul dibaliknya.

“Apa yang kau lakukan di dalam? Kenapa lama sekali membuka pintu untukku?” Tanya Yonghwa tak sabar. Seo Jin menggelengkan kepalanya lemah, “Anieyo, aku hanya –“

Yonghwa segera membuka lebar pintu kamar Seo Jin dan tercengang dengan pemandangan yang tengah dilihatnya.

TBC

9 thoughts on “Forbidden Love (Chapter 2)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s