Forbidden Love (chapter 3)

Title: Forbidden love

Author: Kim Sung Rin
Rating: PG 15
Genre: romance, fantasy, AU
Length: chaptered
Main Cast:
– Jung Seo Jin (OC)
-Lee Jonghyun
Other Cast:
– Other member CN BLUE
-Kim Sunggyu INFINITE
Disclaimer: ide cerita dari va dan aku merealisasikannya disini. chapter dua dan seterusnya murni pemikian aku
:P
Note: tidak bashing, silent reader dan RCL!! itu sangat penting bagiku dan mungkin bagi author lain juga hahaha.
cerita ini sebelumnya sudah di publis di note FB aku. ini sedikit tidak orisinil karena ada beberapa bagian yang aku ubah. dan buat readers yang udah RCL di part sebelumnya gomawo *bow bareng jonghyun?* I LOVE YOU ALL *kibarin bendera biru ( ?)*
so, happy reading :D
previous part : [1]  [2]
~~~

“Oppa, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa jadi begini?” Tanya Seo Jin lirih sambil menunjukkan sayap putih yang terbentang dibelakangnya.

Yonghwa sejenak terdiam dan mengamati sayap putih tersebut, “Bagaimana kau memunculkannya?” Seo Jin menggeleng, “Mollaso, tiba-tiba seperti ini setelah aku bangun.” Ujarnya hampir menangis. Mengetahui itu, Yonghwa langsung memeluk Seo Jin guna menenangkannya, “Ini tidak apa-apa, sungguh,” kata Yonghwa meyakinkan, “Hanya butuh waktu sebentar. Tunggu disini, aku akan segera menghubungi eomma dan appa.”

Yonghwa keluar dari kamar Seo Jin, meninggalkannya yang masih gusar.

KRETEK.

Suara patahan ranting yang cukup keras itu membuat Seo Jin menoleh dan bergerak takut menuju balkonnya. Seo Jin bergidik ngeri, tidak ada angin yang berhembus, kecuali didepan balkon kamarnya barusan. Dia mendekat perlahan tapi diurungkan niatnya, takut ada yang melihat sayap yang terbuka lebar di punggungnya.

“Sedang apa kau?” Tanya Yonghwa yang membuat Seo Jin terkejut. Dia memeluk oppanya lagi dan menangis, “Oppa, jebal jangan kemana-mana. Aku …aku takut oppa.”

Yonghwa membelai rambut panjang Seo Jin sambil menatap keluar jendela kamar Seo Jin. Rahangnya mengeras kala melihat seorang laki-laki bersayap hitam terbang menjauh dari kediamannya.

“Sebaiknya kau jangan disini, kekamarku saja. Petang nanti eomma dan appa sampai.”

Seo Jin menatap Yonghwa ragu dan mencengkram erat lengan kemejanya.

“Tenanglah, ada aku disini. Kau tak perlu takut lagi, walaupun aku seorang manusia, aku akan melindungimu karena kau adalah adikku.”

Seo Jin tersenyum simpul sebelum akhirnya menurut dan membuntuti Yonghwa ke ruang tengah.

***

Seo Jin POV

Pintu utama terbuka lebar dan terlihatlah eomma dan appa yang mendesak masuk lalu berlarian kearahku.

Reaksi mereka sama dengan reaksi Yonghwa oppa saat  melihatku, keduanya sama-sama terkejut.

“Wae? Apa ini berbahaya eomma?” tanyaku lagi. Eomma tersadar dari lamunannya lalu buru-buru menggeleng, “Tidak, tentu saja tidak. Ini hanya reaksi pertama saat kau cukup umur, yah pasti Yonghwa sudah menceritakannya kepadamu tentang bianco aloto kan? Oh kemana oppamu?” tiba-tiba wajah lembut eomma sedikit berubah dan menjadi tak sabar untuk bertemu dengan Yonghwa oppa.

“Dia sedang mandi eomma,” jawabku singkat, “Dan…appa? Kenapa kau tetap melihatku seperti itu?” aku mendecak kesal dan itu membuat appaku tergelak tertawa.

“Mianhae chagiya, aku hanya kagum dengan struktur sayapmu yang lebih besar dari punya Yonghwa waktu itu.”

“Eoh, eomma dan appa sudah datang rupanya.” Yonghwa oppa keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di lehernya. Eomma menatapnya garang dan menghampirinya.

“Wae eomma? Kenapa kau begini?” Tanya Yonghwa oppa setengah takut.

Eomma menatap kesal Yonghwa oppa lalu memukulnya, “Kau ini, apa kau lupa kau pernah seperti Seo Jin saat umurmu 23 tahun? Kenapa tidak memberinya obat penawar hah?”

Yonghwa oppa merengut dan mengusap tangan yang menjadi sasaran pukul eomma, “Penawar? aish jinjja aku lupa tentang itu. lagipula tidak ada penawar lagi disini, maafkan aku.” katanya cemberut.

Eomma menggeleng dan mendengus pelan sembari menggeleng melihat tingkah laku oppaku, “Arra, kali ini kumaafkan kau.”

“Eomma, katamu obat penawar?” Tanyaku ragu.

“Betul nak, guna obat penawar ini agar kau bisa mengontrol penggunaan sayap dan bola matamu yang berwarna biru itu, yah setidaknya sebelum kau memutuskannya. Kau tau kan bianco aloto incaran empuk blacdarc. Aku tak mau ada seorang blacdarc manapun yang tau tentang identitas dirimu yang sebenarnya.” Eomma tersenyum getir sambil menyelipkan rambutku dibelakang telinga.

Appa berjalan mendekat kearahku dan memperlihatkan botol kaca berukuran sedang yang berisi cairan berwarna ungu, “Kau harus minum ini nak, agak sakit…sedikit.”

Aku bergidik ngeri dan perlahan mundur dari hadapan appaku, “Appa, aku tidak mau minum cairan itu!”

Yonghwa oppa sudah berdiri dibelakangku dan menahan tubuhku agar tidak mundur untuk menjauh lagi, “Kau harus meminumnya, atau dirimu dalam bahaya.”

Kutatap eomma yang berdiri dibelakang appaku. Diapun mengangguk lemah kendati wajahnya sangat khawatir, “Hanya sebentar, sayang. Aku janji sakitnya hanya sebentar.”

Akupun menurut walaupun aku sendiri masih takut. Appa membuka tutup botol kaca itu dan menyodorkannya kepadaku.

“Minumlah dalam sekali teguk dan pastikan kau menghabiskannya.” Kata appa sambil tersenyum. Aku memandangnya lagi dan mengangguk.

Kupandang cairan ungu digenggaman tanganku sejenak sebelum aku meneguk habis isinya.

PRANG!

Botol kaca yang kupegang terlepas karena tanganku mencengkram  tenggorokanku  yang serasa terbakar dan punggungku sakit bukan main. Tubuhku limbung dan dapat kurasakan perlahan sayap dipunggungku merapat dan masuk kedalam pori-pori tubuhku dengan tempo yang sangat lambat.

Pandanganku kini kabur dan sayup-sayup aku dapat mendengar eomma yang berteriak kepada Yonghwa oppa.

Tubuhku terangkat dan sejak saat itu, pandanganku berubah menjadi gelap.

***

Dia…dia datang lagi. Kali ini menciumku lebih dalam dari sebelumnya. Perlahan dia melepas tautan bibir kami dan menatap tajam bola mataku. Dapat kulihat jelas bola matanya yang merah menghunus jauh kedalam seluk beluk mataku. Sebuah senyum tergambar diwajahnya yang tak dapat kulihat secara jelas.

Dia perlahan mundur dan mulai membentangkan sayap hitamnya.

“Siapa kau sebenarnya?” tanyaku. Dia menatapku sekilas lalu menjawabnya, “Aku…adalah seseorang yang harus kau jauhi karena aku adalah musuh bangsamu.”

Aku mengerutkan keningku, kebingungan. Belum lagi aku mengerti dengan ucapannya, sayapnya telah mengepak dan terbang menjauh meninggalkanku.

Suara pintu balkon yang berderit membuatku perlahan membuka mata. kutatap sekeliling dan aku sangat yakin ini berada didalam kamarku. Mimpi apa itu? Kenapa lelaki bersayap hitam itu terus saja datang kedalam mimpiku?

“Kau sudah baikan?” Tanya seorang lelaki yang berdiri membelakangiku. Dia berdiri di balkon yang ternyata terbuka daritadi. Aku berjengit, frekuensi detak jantungku meningkat seketika.

“K…kau siapa?” tanyaku takut-takut.

Dia menoleh sedikit, hanya membiarkanku melihat sebagian wajahnya yang tersiram cahaya bulan.

“Aku…adalah seseorang yang harus kau jauhi karena aku adalah musuh bangsamu.”

Aku tercengang dan membeku ditempatku. Kenapa apa yang diucapkannya sama dengan lelaki dimimpiku itu? Apa berarti dia adalah orang yang berada di mimpiku selama ini?

Saat aku ingin menanyakannya, dia tak lagi berada di balkonku. Kulihat dia terbang menjauh dengan sayap hitamnya!

Aku meremas kepalaku, apa ini? Dan apa dia seorang blackdarc? Kenapa aku yang didatanginya? Apa dia tau bahwa aku seorang keturunan bianco aloto? Pertanyaan itu berkeliaran dan mendesak otakku sampai kepalaku pusing dibuatnya.

“Kau sudah sadar?” Tanya Yonghwa oppa yang entah kapan sudah berdiri di ambang pintu kamarku. Aku menatapnya dan langsung menghambur kepelukannya.

“Oppa, bagaimana ini? Apa kau yakin aku tidak apa-apa?”

“Tentu saja aku yakin, sayang. Lihat, sayapmu sudah tidak ada dan bola matamu sudah kembali berwarna hitam!” seru Yonghwa oppa riang sambil menggiringku berdiri didepan cermin dikamarku. Yah, benar kata Yonghwa oppa. Aku baru sadar ternyata sayap putih itu sudah tidak ada dipungungku lagi dan bola mataku kembali berwarna hitam.

“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi, kau dengar? Sekarang kau hanya bisa menampakkan sayapmu dan bola mata birumu jika kau menginginkannya.”

Aku menatap wajah Yonghwa oppa dipantulan cermin dan tersenyum simpul, setidaknya aku tidak ingin dia khawatir terhadapku.

“Kemana eomma dan appa?”

“Mereka sudah pergi setelah kau tidur tadi, mereka bilang maaf tidak bisa menemanimu. Dia berjanji liburan nanti akan mengajakmu jalan-jalan.” Kata Yonghwa oppa sambil mengusap puncak kepalaku. Aku tersenyum dan mengangguk. Aku tau mereka sangat sibuk dengan bisnis baru mereka, dan aku tidak mau mengacaukannya karena keegoisanku.

“Baiklah makan dulu ne? aku tunggu dimeja makan.”

Yonghwa oppa berlalu dari hadapanku. Aku tak langsung mengikutinya, aku masih melihat tempat dimana lelaki tadi berdiri. Aku merasa tak asing dengan dirinya, tapi pertanyaannya siapa dia?

***

Author pov

Seo Jin hari ini urung untuk sekadar pergi kekampus padahal hari ini tugas makalahnya harus dikumpulkan.

“Kenapa kau masih bergelung di kasur? Apa hari ini kau tidak kuliah?” Tanya Yonghwa dengan tangan yang masih memegang kenop pintu kamar Seo Jin. Seo Jin menggeleng, “Aniyo, badanku lemas oppa. Bolehkan sehari saja aku tidak kuliah?”

Yonghwa mendengus pelan, dia memang sangat memperhatikan pendidikan adiknya, “Yah, hanya untuk hari ini. Toleransi karena mungkin itu efek dari obat penawar kemarin.”

Seo Jin kembali bergelung dibalik selimut tebalnya setelah Yonghwa pergi dari kamarnya. Sepertinya kakak lelakinya itu urung berangkat kerja dan memilih untuk menjaga Seo Jin dirumah.

Seo Jin menatap langit-langit kamarnya. Sebenarnya dia tidak suka berdiam diri didalam kamar seperti ini, tapi punggungnya masih terasa sakit walaupun hanya sedikit.

Yonghwa masuk kedalam kamar Seo Jin lagi, mengantarkan bubur dan segelas susu untuk sarapan Seo Jin.

“Kau harus menghabiskan ini semua, aku ingin pergi ke super market sebentar, persediaan makanan kita menipis.”

Seo Jin terduduk dan menggeleng, “Andwae oppa! Jangan tinggalkan aku sendiri, aku…aku takut.”

Yonghwa menatap aneh adik perempuannya yang gemetaran, ‘Sebenarnya kenapa dengan dirinya?’ batin Yonghwa.

“Kau melihat sesuatu yang aneh?” tanya Yonghwa memicingkan matanya.

Seo Jin terdiam lama lalu menggeleng, “Tidak, aku hanya minta tolong jangan tinggalkan aku dulu pasca kejadian kemarin. Bisakah oppa? Jebal untuk hari ini saja.”

Yonghwa tidak tega menatap mata jernih milik adiknya itu memohon kepadanya. Dia mengangguk, “Baiklah, sekarang turuti aku ne? habiskan sarapanmu!”

Seo Jin menggerutu namun diikutinya juga saran Yonghwa untuk menghabiskan sarapannya itu.

***

Jonghyun POV

Kulirik bangku kosong disampingku. Gadis itu tidak hadir hari ini. Ini membuatku sedikit kesal, karena kalau ada dia disini, dia bisa menjelaskan apa yang harus kulakukan dengan paper yang baru saja dibagikan ini.

Kutatap kertas didepanku dengan kesal, pensilku hanya bisa mengotori kertas tersebut, bukan dengansebuah jawaban! Tapi dengan coretan tak jelas dariku yang mulai merasa bosan.

Ah~aku harus mengakui keberadaan gadis itu membuat aku semangat untuk kuliah, kendati dia seringkali berteriak dan marah-marah denganku.

Aku izin ke toilet untuk menghindari kegiatan membosankan ini, dan terbebaslah aku dari sejumlah paper yang hampir membunuh saraf-saraf otakku!

Aku mengambil ponselku dan berniat menelpon Sunggyu, ah tidak! Kurungkan niatku untuk menelpon Sunggyu ketika melihat nama Seo Jin di phonebookku.

Yeoboseyo.” Katanya lemah.

“Yak! Kenapa tidak masuk?! Kau tau aku tidak bisa memahami isi paper yang diberikan oleh kangsa dan –“

Jangan mengangguku!”

Klik. Sambungan terputus. Aku mendecak kesal dengan kelakuannya yang tidak sopan itu. Kenapa dia selalu marah-marah bila berbicara denganku? Tch! Dasar menyebalkan!

***

Author Pop

Angin malam mulai berhembus, kini seutuhnya pintu balkon Seo Jin terbuka. Gadis itu duduk dipojok balkonnya sambil menatap bintang-bintang yang bertaburan menghiasi langit malam.

Kondisinya jauh membaik ketimbang pagi tadi. Kini rasa takutnya semakin menipis, untuk itulah dia berani kembali kepada hobbynya, menikmati udara malam hari di balkon kamarnya.

Ingatannya terus saja menggelayut kepada lelaki didalam mimpinya. Lelaki yang juga dilihatnya berdiri dibalkonnya beberapa waktu yang lalu.

“Apa maksudmu sebenarnya?” desis Seo Jin kesal sambil mengacak rambutnya.

“Kau belum mengerti juga?” tiba-tiba lelaki itu berdiri di sisi balkon lainnya dan berdiri membelakangi Seo Jin.

Seo Jin berjengit dan hampir saja berteriak kalau lelaki itu tidak segera menutup mulutnya.

“K…kau siapa?” bisik Seo Jin sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh oppanya,Yonghwa. Lelaki itu membenarkan letak topeng yang menutup matanya, “Seseorang yang tak boleh kau dekati, sebenarnya.” Desahnya pelan sambil memposisikan dirinya duduk disamping Seo Jin.

Seo Jin yang tadi nampak ketakutan kini merasa berdebar kala bahu lelaki itu menempel dibahunya. Dia menatap intens lelaki disampingnya itu.

“Jangan menatapku! tetaplah menghadap kedepan.”

Seo Jin kaget, diapun mengikuti apa yang disuruh oleh namja yang belum diketahui namanya itu.

“Jadi, siapa namamu dan apa maumu datang kesini?” Tanya Seo Jin.

“Aku tidak akan memberitahu namaku, dan tujuanku kesini hanya ingin mengecek keadaanmu. Apa kau baik-baik saja?”

Seo Jin mengangguk, “Ne.” jawabnya singkat.

“Oh iya, ada satu hal yang membuatku terus bertanya-tanya.” ucap Seo Jin setelah hening beberapa saat. Lelaki itu menatap Seo Jin singkat, “Tanyakanlah.”

“Apa kau …ergh…blackdarc?”

Lelaki itu sedikit berjengit lalu menatap dalam mata Seo Jin, “Iya, aku blacdarc.”

Seo Jin bergidik ngeri dan menjauhkan tubuhya dari jangkauan lelaki itu. Lelaki itu pun kaget tiba-tiba Seo Jin menjauhi dirinya. Mata tajamnya berubah sayu menatap pancaran ketakutan yang dihadirkan gadis dihadapannya itu.

“Aku tidak akan menyakitimu, Seo Jin.”

Seo jin menggeleng kuat, “Tidak, kau pasti akan menyakitiku. Tolong, jangan lakukan itu kepadaku!” desis Seo Jin yang hampir menangis .

Lelaki itu perlahan berjalan mendekat dan mulai menangkupkan wajah Seo Jin. Mata mereka kembali bertemu dan mata merahnya menyala-nyala sekarang.

“Aku janji, tidak akan menyakitimu, Seo Jin. Aku…hanya ingin kau percaya kepadaku.”

Seo Jin yang tadi berontak kini terdiam, seolah tersihir oleh ucapan lelaki dihadapannya. Dia pun mengangguk dan membiarkan bibir lelaki itu mendarat lembut di dbibir mungilnya.

1 detik, 2 detik, 3 detik, lelaki itu tak kunjung melepas tautan bibirnya. Seo Jin kini merasa risih karena lelaki itu mencoba untuk mengigit bibirnya.

Didorongnya dada lelaki itu dengan sekuat tenaganya hingga dia terjembab didepan Seo Jin.

Topeng yang menutup matanya pun terlepas dan itu membuat Seo Jin tercengang dan tak mampu berdiri tegak ditempatnya.

“Kau…”

TBC

6 thoughts on “Forbidden Love (chapter 3)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s