[Oneshot] Coffeeshop Stranger

Author: @hannamoran

Rating: T

Genre: romance

Length: oneshot

Cast:

–          You (Reader)

–          One of CNBLUE member

Dis: inspired by “Coffeeshop Chronicles” novel and “Falling in love at a coffeeshop” Landon pigg’s song

Note: . FF ini juga di post di FFindo. Terima kasih juga untuk orang-orang yang berseliweran selama saya sering nongkrong di Starbuck, kalian kasih saya banyak inspirasi😀

 

************************************************************************

 Aku ingin menjadi cream manis yang dituangkan dalam black coffee mu

 

 

Aku kembali ke tempatku, dibelakang meja barista yang sudah 3 bulan menjadi tempat berkutatku, sejak aku memutuskan untuk kerja paruh waktu sehabis jam kuliahku berakhir. Mengamati pengunjung coffeeshop yang mulai ramai. Hujan gerimis dan sedikit angin musim gugur diluar membuat orang-orang yang melewati coffeeshop milik pamanku ini memilih untuk menghangatkan diri didalamnya, terlebih lagi aroma kopi yang menguar dari dalam pasti sangat mengiurkan.

“frapucinnonya  1” seorang wanita dengan rambut ikal berwarna coklat muda memesan, akupun segera meracikan pesanannya dari balik meja barista. Asap mengepul dari segelas frapuccino panas yang siap aku serahkan pada wanita itu. wanita itupun menyerahkan beberapa lembar uang sesuai harga segelas frapucinno itu.

“kamsahamnida”  ucapku, dibalas senyuman wanita itu yang kemudian berlalu menuju tempatnya duduk dan menyesap frapuccinonya. Setelah memasukan uang tadi ke mesin kasir akupun terdiam. Aku mengedarkan tatapanku keseluruh penjuru café. Cukup ramai hari ini, hampir 80% isi café penuh, hanya beberapa meja dan kursi yang masih kosong. Terdengar gelak tawa, obrolan santai. Mataku menangkap sepasang kekasih yang tengah berbincang santai satu sama lain, si namja mengenggam tangan yeojanya yang duduk didepannya. Dan si yeoja terlihat tersenyum dengan tulus. Lalu disisi lain coffeeshop ada seorang ibu yang tengah menyuapi anak laki-lakinya sesendok strawberry short cake andalan coffeeshop ini. Dan ada seorang wanita dengan dandanan stylish tengah menuangkan ide desain dikepalanya kedalam guratan-guratan pinsil disebuah kertas gambar ditemani segelas machiatto special.  Dan tak lupa lantunan lagu “hometown glory” milik adele yang terdengar melalui pengeras suara coffeeshop menambah suasana hangat coffeeshop ini. “Afternoon” inilah nama coffeeshop ini. Memang coffeeshop ini buka dari jam 10 pagi hingga menjelang larut, tapi kata pamanku ia memilih nama afternoon karena ia dan bibiku sangat suka menikmati secangkir kopi bersama saat menjelang sore hari.

Aku melirik jam dinding, sudah pukul 15.55 berarti 5 menit lagi dia akan datang. Tiba-tiba aku gelisah, tanganku mulai berkeringat. Akhirnya aku memilih membereskan cangkir-cangkir daripada aku tambah gelisah.

Ting!

Bunyi dentang lonceng yang berbunyi tiap kali pintu coffeeshop terbuka membuatku sontak menoleh dan sedetik kemudian aku berusaha menahan senyum saat melihat orang yang aku tunggu datang tepat pukul 16. Ia menghampiri meja order dan aku segera menyambutnya

“aku pesan…”

“espresso tanpa cream?” tawarku cepat menyebutkan menu yang selalu ia pesan. Ia tersenyum mengiyakan, dan darahku berdesir melihat senyumnya. ia menyerahkan sejumlah uang lalu berjalan menuju kursi didekat jendela besar, kursi yang selalu ia pilih. Ia lalu mengeluarkan laptopnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Dan aku kembali berkutat dengan espresso tanpa cream pesanannya. Sejak pertama kali aku membuatkan pesanan untuknya 3 bulan lalu, ia tidak pernah berganti pesanan, selalu espresso tanpa cream.

Lalu aku mengantarkan pesanan itu kemejanya. Sepintas aku melihat ia tengah berkutat dengan autocad di laptopnya.

“kamsahamnida” katanya saat aku meletakan pesanannya dimejanya, lalu aku segera berlalu sebelum ia menyadari wajahku yang mulai merona. Lalu aku kembali duduk dibalik meja barista sambil mengamatinya yang tengah asik menatapi laptopnya sesekali ia menyesap espressonya yang masih mengeluarkan asap panas.

Aku memperhatikannya, namja tampan itu kemeja biru langitnya sedikit basah dibagian pundaknya, mungkin terkena hujan saat ia berlari kecil dari tempatnya memarkirkan mobil sampai ke tempat ini. Aku tidak pernah tau namanya, tapi yang aku tahu dari salah satu pekerja pamanku yang juga seorang barista ia sudah menjadi langganan coffeeshop ini sejak coffeeshop ini dibuka hampir 2 tahun lalu.

Ia selalu datang setiap hari, senin sampai jumat  tepat pukul 4 sore. Ia seorang arsitek dan kantornya berjarak 1,5 KM dari coffeeshop ini,  tidak jauh dari kampusku. Hari ini ia datang sendiri, biasanya ia mengajak seorang wanita cantik bersamanya, atau beberapa teman kantornya, tapi tak jarang ia juga datang seorang diri seperti hari ini. Hujan diluar sana mulai mereda, tapi pengunjung coffeeshop semakin ramai, akupun sibuk melayani pelanggan dibantu oleh 2 orang barista lainnya. Hingga tanpa sadar sudah hampir jam 7 malam, dan namja itu sudah membereskan laptopnya, meyesalp tegukan terakhir espressonya dan tak lama ia meninggalkan mejanya, berjalan keluar coffeeshop, malam ini aku mengamati lagi punggungnya yang menjauh pergi sambil berharap besok ia akan datang lagi.

 

***

Aku membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan seorang pelanggan tepat saat bel pintu coffeeshop terbuka dan sepasang namja dan yeoja masuk sambil bergandengan tangan. Dia datang lagi tapi kali ini ia membawa yeoja yang memang biasanya ia bawa. Seorang yeoja dengan rambut sepunggung dengan kulit putih mulus dengan dandanan feminim yang natural tidak berlebihan. Kali ini aku biarkan barista lain yang menyambut pesanan mereka, setelah mereka berdua duduk dikursi biasa aku baru kembali ke meja barista.

“apa yang mereka pesan?” Tanya sambil membantu menyiapkan pesanan mereka

“espresso tanpa cream” jawab barista itu

“si yeoja?” tanyaku

“caffelatte” lalu tanganku sibuk meracik pesanan mereka. Mau tak mau aku yang mengantarkan pesanan itu karena seorang barista izin tidak masuk jadi hanyalah aku dan seorang teman barristaku tadi yang bekerja dan saat ini ia tengah sibuk melayani pembeli yang lain.

“pesanan anda, espresso tanpa cream dan caffelatte” kataku sambil meletakan kedua cangkir itu.

Setelahnya aku beranjak, tapi sudut mataku menangkap kedua tangan mereka yang saling bertaut, aku tersenyum masam melihatnya.

Aku tahu mereka sepasang  kekasih, terlihat dari pancaran dikedua mata mereka saat saling memandang satu sama lain, selain tautan tangan mereka yang menyatakan kalau mereka itu sepasang kekasih. Tautan mata mereka seperti bahasa lain yang mereka miliki untuk menyatakan perasaan mereka. Dan aku cemburu.

Sejak awal aku tertarik dengan laki-laki itu. dengan senyumannya, dengan suaranya dengan gerak geriknya bahkan saat  ia hanya diam dan berkencan dengan pekerjaannya saja aku begitu menyukainya. Dan kenyataan kalau ia sudah memiliki kekasih membuat hatiku sesak. Tapi seingatku belum ada cincin yang melingkar dijari mereka berdua, tandanya hubungan mereka masih sebatas kekasih, belum lebih. Itu memberikanku sedikt, sangat sedikit harapan.

Mereka tampak sedang asik berbincang, sesekali si namja mengelus rambut si yeoja dengan sayang. Pemandangan yang menyesakan. Untung saja seorang wanita datang ke meja barista

“aku mau pesan greentea satu”

“baik, tunggu sebentar nyonya” lalu aku mulai sibuk dengan pesanan para pelanggan.

 

***

Jam sudah menunjukan pukul 5 sore tapi namja itu belum muncul juga. Aku gelisah, beberapa kemungkinan penyebab ia tidak datang atau belum datang mulai terfikir. Mungkin ia sedang sakit, atau terjadi sesuatu apadanya. Astaga!! Apa yang aku pikirkan?? Jangan sampai terjadi apapun yang membahayakan dia, doaku. Atau mungkin ia tengah bekerja lembur? Mungkin ada urusan keluarga dugaanku, atau mungkin ia tengah bersama yeojanya, mungkin mereka sedang berkencan disuatu tempat.

Dan aku terus menunggu namja itu datang dan sampai pukul 11 malam saat coffeeshop tutup, ia tidak muncul juga.

***

Sudah terhitung 4 hari namja itu tidak datang. Aku sudah tidak terlalu berharap ia datang lagi.

“espresso satu tanpa cream ya” aku terhenyak mendengar suara itu lagi. Benar! Namja itu datang lagi, aku segera menerima lembaran uang yang ia sodorkan, lalu segera meracikan espresso tanpa cream kesukaannya. Ia langsung menyesapnya tanpa melepaskan pandangannya dari layar laptop. Dan aku seperti biasa menunggu dibalik meja kasir sambil mengamatinya diam-diam.

Ia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya menekan layarnya lalu menempelkan ponselnya ditelinga.

“hyung…” sapanya, suaranya cukup terdengar dari posisiku saat ini

“…….”

“ya, aku baru kembali dari suwon” jawabnya pada sipenelepon sekaligus menjawab rasa penasaranku kemana perginya ia selama 4 hari ini

“……”

“proyek pembangunannya sukses, semua lancar dan sekarang aku sudah kembali ke seoul” katanya. Aku mengambil kesimpulan kalau ia pergi ke suwon untuk tugas bisnisnya.

“……”

“baiklah, terima kasih hyung. Mungkin besok aku akan ketempatmu untuk presentasi tugas selanjutnya” katanya.

Lalu tak lama ia meletakan ponselnya dan tangannya kembali memainkan mouse laptopnya. Eh! aku baru menyadari hari ini ia menggunakan kacamata, baru kali ini ia menggunakan kaca mata. Mungkin untuk menghindari kelelahan mata karena ia terus bekerja didepan layar laptop.Kaca mata dengan bingkai kotak berwarna hitam membingkai mata sipitnya, membuatnya tampak semakin tampan dan terlihat lebih… apa ya aku harus menyebutnya. Mungkin kata sempurna yang harus aku pakai untuk menggambarkan dirinya saat ini. Jantungku berdegup semakin kencang, aku menarik nafas panjang untuk menenangkan diriku sendiri.

30 menit berlalu ia menutup laptopnya dan melepas kaca matanya. Lalu tatapannya beralih padaku yang tengah mengamatinya. Ia tersenyum dan aku mengalihkan pandanganku, aku takut ia melihat wajahku yang mulai bersemu. Tiba-tiba dia berjalan menghampiriku. Aku semakin salah tingkah, ia tersenyum.

“boleh aku pesan red velvetnya?” tanyanya.

“ne..ne tunggu sebentar” kau tergagap, terpesona dengan wajahnya. Aku segera mengambilkannya sepotong redvelvet dari etalase dan menyerahkannya.

“kamsahamnida” katanya lalu ia kembali ke kursinya. Ia melahap sendok demi sendok cakenya.

Ponselnya berdering lagi, ia mengangkatnya.

“jagiya…” aku mendengus mendengarnya, pasti yeoja itu lagi.

“………”

“aku? Aku sedang memikirkanmu” cih! Dia bisa menggombal juga

“……..”

“hahahaha. Aku sedang di coffeeshop biasa, baru menyelesaikan persiapan presentasi besok. Kau?”

“……..”

“perlu aku jemput?” perhatian sekali dia

“……”

“baiklah, kalau begitu hati-hati ya… annyeong jagiya” dan perbincangan teleponnya pun selesai. Ia menghabiskan potongan cake nya lalu menghabiskan espressonya dan ia pun segera meninggalkan coffeeshop, dan sekali lagi aku melihat punggungnya pergi meninggalkan aku yang hanya sanggup memperhatikannya dari jauh.

 

***

Sebenarnya hari ini aku lelah sekali. Baru tadi pagi aku sampi di seoul setelah 2 minggu aku habiskan waktuku untuk pulang ke rumah orang tuaku di Cheonan, dan berlibur disana. Dan sebenarnya paman mengizinkanku untuk istirahat hari ini dan tidak usah bekerja di coffeeshop dulu, tapi aku menolak. Alasan utama karena aku ingin bertemu dengan namja itu.

Dan seperti biasa saat jam menunjukan pukul 4 sore namja itu datang, kali ini ia bersama dengan yeoja itu lagi. Tapi ada yang berbeda dengan mereka, mereka terlihat sedang tidak akur, si namja terlihat sedang kesal begitu pula dengan si yeoja. Mereka berjalan masing-masing, tidak lagi bergandengan tangan. Si namja mendahului diikuti si yeoja beberapa langkah dibelakangnya.

“pesan yg biasa” katanya datar padaku, lalu duduk di kursi yang biasa juga. Si yeoja tidak memesan apapun, ia langsung duduk dihadapan si namja. Si yeoja melipat tangannya didepan tubuhnya, membuang muka dari tatapan si namja. Mereka terdiam lama, sepertinya mereka sibuk dengan pikiran mereka maisng-masing. Aku segera meletakan espresso itu dimeja mereka dan segera berlalu tanpa banyak bicara. Terasa sekali suasana tegang diantara mereka.

Ponsel gadis itu bergetar, tapi si namja segera merebutnya sebelum si yeoja sempat mengatakan apa-apa pada sipenelepon.

“sudah ku bilang jangan lagi hubungi yeojaku atau kau akan ku hajar lebih parah dari yang sudah kulakukan tadi” katanya setengah membentak. Beberapa pengunjung menoleh kearah mereka tapi namja itu tidak peduli. Lalu ia mencabut baterai ponsel dan menyerahkannya dengan kasar pada siyeoja. Aku baru sadar ada sedikit luka lebam di sudut bibir si namja.

“ya!! Aku sudah aku bilang ia hanya teman biasa. Kenapa kau bersikap kasar padanya?” si yeoja membentak si namja. Pertengkaran mereka pun sepertinya baru saja dimulai.

“kau sebut dia teman biasa?!! Sejak kapan teman biasa berani mencium temannya yang jelas-jelas sudah punya kekasih” namja itu mengeratkan kepalan tangannya, menahan emosinya

“aku sudah bilang itu salah paham!” si yeoja membela diri. Yeoja itu mulai terisak

“dimana letak salah pahamnya?? Jelaskan!!” si namja membentak, tatapan penasaran pengunjung coffeeshop yang lain terus terarah pada mereka

“coba jelaskan!! Oh ya coba jelaskan juga isi inbox ponselmu yang berisi puluhan pesan mesra darinya dan kau juga membalas pesannya tak kalah mesra. Jelaskan!!” namja itu menuntut, tapi si wanita tenggelam dalam tangisnya.

“kau tidak bisa menjelaskannya kan…hah!! Sudah kuduga. Kalian berselingkuh dibelakangku” laki-laki itu berdiri dan berkacak pinggang. Si yeoja hanya duduk menunduk masih menangis

“sudahlah. Kita putus saja” si namja berkata tegas. Sorot matanya menunjukan luka yang dalam, si yeoja terlonjak dan menatap si namja dengan pandangan kaget.

“jagiya… ini semua salah paham. Kita tidak bisa putus seperti ini. Aku mencintaimu” si yeoja memohon sambil memegangi tangan si namja. Si namja mengenyahkan genggaman tangan siyeoja.

“cukup… aku bukan lagi pacarmu. Jadi berhenti memanggil aku jagiya” laki-laki itu kemudian pergi tanpa menyentuh espressonya.

“jagiya…tunggu.. jangan tinggalkan aku” si yeoja mengejar pacarnya. Atau yang sejak beberapa menit lalu sudah menjadi mantan pacarnya. Aku tersenyum getir melihat mereka pergi. Dan pengunjung lain kembali pada aktifitas mereka semula setelah selesai menyaksikan drama cinta yang memilukan yang baru saja berakhir.

 

***

Lagi-lagi aku kecewa, sudah seminggu sejak pertengkaran namja itu dengan yeojanya ia tidak menampakan dirinya di coffesshop ini.

Sudah jam 9 malam, hujan deras diluar sana membuat pengunjung coffeeshop tidak terlalu banyak. Hanya ada sekelompok anak muda yang sedang berbincang ramai di salah satu sudut café dan seorang wanita yang sedang menyesap kopinya sambil membulak-balikan majalah yang tengah ia baca.

Kesempatan ini aku gunakan untuk mengetik tugas kuliahku yang harus aku kumpulkan besok lusa. Tidak terasa sudah hampir pukul 11 malam dan hujan pun sudah reda. Coffeeshop sudah kosong dan para pekerja yang lain sudah mulai membereskan coffeeshop dan akupun mulai ikut membantu. Setelah semua beres, pekerja yang lain meminta izin pulang, dan tinggalah aku sendirian. Aku tinggal dirumah pamanku, tepat dibelakang coffeeshop ini, jadi akulah yang bertugas mengunci pintu coffeeshop.

“tunggu…” seseorang menahan pintu kaca coffeeshop  saat aku hendak menutupnya. Dia! Namja itu datang tepat sebelum coffeeshop tutup.

“boleh aku masuk?” tanyanya. Wajahnya terlihat kacau. Seperti kurang tidur, ada lingkaran hitam dibawah matanya. Rambutnya acak-acakan dan kemeja yang ia pakai terlihat kusut. Sangat jauh dengan penampilannya yang selalu terlihat rapih, tapi dimataku ia tetap seorang pangeran. Tanpa menunggu lama, aku mempersilahkan ia masuk. Ia langsung duduk dikursi biasa. Aku yakin ada masalah yang sedang ia tanggung.

“aku buatkan kau espresso” kataku

“jangan!” aku mendelik

“aku ingin black coffee” katanya. Aku hanya mengangguk, tumben sekali ia memesan black coffee, jenis kopi yang tidak aku sukai karena rasanya yang sangat pahit. Aku meliriknya, ia tengah menunduk memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Sesekali ia mendesah panjang. Dan kali ini yang terdengar hanya suara detik jam, detak jantungku dan nafasnya yang berat. Di coffeeshop ini hanya ada aku dan namja itu.

Aku menyuguhkan kopi hitam itu. ia melirikku sebentar.

“duduklah disini” katanya sambil menunjuk kursi didepannya. Akupun menuruti, dan untuk waktu yang cukup lama ia hanya diam sambil memandangi cangkir kopinya dan asap yang keluar dari cangkir itu.

“mian… kalau kemarin aku dan yuri membuat sedikit keributan disini” katanya. Jadi nama yeoja itu yuri. Aku hanya mengangguk

“dia wanita yang paling menjijikan yang pernah aku kenal” geramnya, sorot matanya menunjukan kebencian yang amat sangat. Aku sedikit bergidik, aku tidak pernah melihat sorot mata menyeramkan itu sebelumnya.

“beberapa waktu lalu aku menemukan pesan mesra di ponselnya dari seorang teman laki-lakinya. Ia bilang itu hanya teman biasa tapi aku tidak percaya. Dan esoknya aku melihat mereka berdua tengah berciuman. Aku menemui laki-laki itu dan aku menghajarnya habis-habisan. Setelah pertengkaran kita waktu itu, aku sama sekali tidak menghubungi atau berbicara dengannya. Lalu hari ini aku memutuskan untuk menemuinya, aku ingin meminta maaf padanya. Mungkin aku yang terlalu protektif padanya.dan aku ingin ia kembali padaku. Tapi kau tahu apa yang aku dapatkan saat aku datang ke apartementnya?”

Aku hanya diam menunggunya melanjutkan ceritanya. Ia mengaduk kopinya dan menyesapnya, sedikit meringis karena rasa pahitnya. Ia memperhatikan wajahku, aku menunduk.

“tadi aku menemukannya tengah tidur berduaan dengan laki-laki itu. mereka tidur bersama dalam satu ranjang. Dan cukup menjijikan bagiku membayangkan apa yang sudah mereka lakukan. Bahkan aku tidak pernah menyentuhnya selain mencium bibirnya. Tapi ia bahkan berani tidur dengan laki-laki yang sama brengseknya dengan dirinya” mata laki-laki itu kembali menunjukan emosi yang sulit ditebak.

“aku Kang Minhyuk tidak akan pernah memaafkannya. Sampai kapanpun” kata laki-laki itu, aku sedikit tersenyum mendengar ia menyebutkan namanya. Kang Minhyuk, jadi itu nama namja yang selama ini menyita hati dan pikiranku. 30 menit selanjutnya kami hanya diam. Tanpa ada satupun yang bicara. Tapi aku senang setidaknya ia menceritakan semua bebannya padaku. rasanya aku ingin memeluknya, ingin mengatakan kalau aku tidak akan pernah menyakitinya, aku hanya ingin bersamanya. Tapi semuanya aku bungkam dalam diam.

Akhirnya dia kembali menyesap kopinya yang sudah mulai dingin, lagi-lagi ia meringis karena rasa pahit yang menjalar dilidahnya, bahkan mungkin sampai dihatinya. Akupun berdiri dan berjalan menuju meja barista dan mengambilkannya cream manis.

“aku tahu kenapa kau memesan black coffee” akhirnya aku berkata-kata

“karena suasana hatimu sedang sepahit kopi ini kan?” ia hanya diam mengamatiku

“kau tahu, rasa pahit dilawan rasa pahit lagi bukankah akan semakin buruk rasanya?” katanya. Lalu tanganku menuangkan cream manis tadi diatas blackcoffee nya dan mengaduknya pelan. Lalu aku menyuruhnya meminumnya. Ia pun menyesap kopinya dan ia tidak meringis lagi.

“bagaimana? Lebih enak bukan?” tanyaku

“ya” jawabnya dan ada senyuman yang menyertai jawabannya.

“kenapa kau mau mendengar ceritaku?” tanyannya. Aku diam berfikir

“karena aku tahu kau sedang merasakan rasa pahit yang sangat hatimu. Dan aku ingin menjadi cream manismu” jawabku. Alis nya berkerut mendengar penjelasanku.

“cream manis?? Kenapa kau ingin menjadi cream manis?” tanyannya lagi

“karena aku ingin membuat hatimu nyaman, tidak lagi pahit dan tidak lagi disia-siakan”

“kenapa?” tanyanya lagi, kali ini aku butuh waktu agak lama untuk menjawabnya, memikirkan segala jawabannya yang ada lalu menghela nafas panjang, aku menatapnya tepat dimatanya. Hal yang sebelumnya tidak berani aku lakukan.

“karena aku mencintaimu, jadi izinkan aku menjadi cream manismu” kataku. Semua diam, bahkan detak jantungkupun rasanya berhenti. Tapi tangan dinginnya menyentuh tanganku, mengusapnya lembut.

“itu alasannya yang membuatmu selalu memperhatiakanku setiap kali dari balik meja kasirmu?” tanyanya. Aku mengangguk malu.

“sejak kapan?”

“sejak kau pertama kali memesan espresso tanpa cream buatanku”

 

***

Ting!!

Bel pintu berbunyi tanda seorang pelanggan baru datang. Aku menoleh kearah pintu, senyumku menyambutnya datang. Teman sekaligus sahabatku, kang minhyuk. Sejak kejadian malam itu kami menjadi seorang teman. Ia bilang ia belum bisa membalas cintaku, tidak masalah buatku. Aku tahu ia masih harus menata hatinya, dan akupun masih sanggup menunggu.

Sudah 1 tahun sejak malam itu dan semakin hari hubungan kami semakin dekat saja.  Lantunan lagu “if eyes could speak” milik devon werkheizer yang terdengar dari pengeras suara coffeeshop menuntun langkahnya mendekat.

“aku mau pesan…”

“espresso tanpa cream” kataku memotong pembicarannya

“tidak, bukan itu” katanya. Lalu ada sebuah senyuman tulus yang tampak dari bibirnya

“lalu mau pesan apa?” tanyaku. Ia mendekatkan tubuhnya padaku, dan berbisik pelan ditelingaku.

“boleh kupesan hatimu?” dan yang aku tahu sekarang ia tengah melumat bibirku lembut. Rasanya manis, mengalahkan rasa manis dari coffeelatte terenak didunia sekalipun.

 

-END-

 

 

10 thoughts on “[Oneshot] Coffeeshop Stranger

  1. Kasian minhyuk diselingkuhin sama pacarnya sendiri😦
    Tega banget si yuri, udah punya pacar ganteng gitu masih aja gak bersyukur😦

    Tapi endingnya gila… Pesan hati? Hahaha jago ngegombal juga nih ye :p
    Dan omo~ mereka ciuman di meja kasir??
    Dasar!!

    Nice ff author🙂

  2. pas author nulis cast : one of CNBLUE member ,,,,awal cerita aq pikir itu yongppa coz arsitek,,,,trus pas bagian pake kacamata n mata sipit aq yakin pst hyukie!!!! sukses nih author bikin cerita ^^

    kerennnnnnnn
    pa’lgi pas “aq ingin menjadi cream manis mu” so sweeettttttt bgt
    nice ff author >_o

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s