Chocolate For You

 

 

Title        : Chocolate For You

Author  : ReeneReenePott

Maincast : Jung Yong Hwa, Ahn Jaekyo

Genre    : Romance, Fluff, School Life

Length  : Ficlet

Rating   : Teen

Disclaimer : Cast cowoknya punya orangtuanya, Tuhan dan FNC Ent. Cast cewe dan plot cerita punya Tuhan yang dititipin (?) ke saya. Fic CN Blue pertama ku nih, hohoho ^o^

Note : Sudah pernah di post di Fanfiction Kpop Indonesia.

Author POV

__

 At Valentine’s Day

February 14th

Seorang yeoja tengah menggenggam sebuah kotak berwarna pink pucat dengan pita perak sambil menundukkan wajahnya. Ia menyenderkan punggungnya di balik tembok aula, masih meragukan apakah ia harus menyerahkan cokelat yang sudah ia buat dengan susah payah semalam harus ia serahkan pada seorang namja yang diam-diam telah mencuri hatinya.

Ia menghembuskan napas pelan, lalu melongokkan kepala ke luar tembok aula. Ia menatap satu persatu haksaeng yeoja yang masing-masing juga membawa sebuah kotak, dan kebanyakan para yeoja itu berjalan menuju ke arah yang sama. Ke kelas namja bergigi gingsul yang amat sangat tampan, Jung Yong Hwa.

“Ahn Jaekyo?” gumam sebuah suara cempreng. Yeoja yang bersembunyi di balik tembok aula itu menegang, ia memastikan tubuhnya tidak mengeluarkan suara sekecil apapun. Bisa mati karena  malu bila ia ditemukan di sini. “Kemana anak itu? Benar-benar menghilang seperti hantu,”

Jaekyo masih menahan napasnya meski suara langkah kaki itu menjauh,  lalu menggigit bibirnya keras. Haruskah ia memberikan ini? Haruskah ia mempermalukan diri sendiri dengan memberi kotak yang berisi aneka biskuit cokelat dan cokelat cetak yang ia buat sendiri? Memberikannya kepada namja yang menjadi musuh bebuyutannya setelah ia berhasil mencetak bola basket di keningnya?

“Bodoh,” Jaekyo memukul kepalanya sendiri. “Bodoh,” cepat-cepat ia melangkah kembali ke kelasnya yang sudah sepi, dan langsung memasukkan kotak yang sedari tadi di pegangnya ke dalam tas ranselnya.

__

Jaekyo menghentikan langkahnya ketika ia menelusuri koridor yang berhiaskan loker para haksaeng, tepat di depan sebuah loker bernomor 325 dengan label bertuliskan ‘Jung Yong Hwa’. Tanpa pikir panjang, ia menarik gagang pintu loker itu.

Klek

Jaekyo menelan ludahnya. Tidak di kunci? Ia memandang ke kanan dan ke kiri, berharap tak ada yang melihat perbuatannya. Membuka loker yang bukan miliknya bisa disangka mencuri, kan? Ia kembali memandang isi loker itu. Hanya ada beberapa buku, sebuah kotak pensil, headphone dan beberapa CD. Jaekyo menelan ludahnya, berharap rencana yang tersusun spontan di otaknya itu tidak akan mengacaukan keadaan. Dengan pelan ia menurunkan ranselnya, membuka resletingnya dan mengeluarkan kotak yang awalnya ingin ia bawa pulang.

Mianhae, Yong-sunbae,” gumamnya sambil memasukkan kotak itu dan menutup lokernya cepat-cepat. Ia kembali memeriksa lingkungan di sekitarnya, dan melangkah cepat ke gerbang sekolah yang sudah sangat sepi itu.

__

At White’s Day

March, 14th

“Ahn Jaekyo,” seorang namja tampan bergumam pada sebuah kotak persegi berwarna putih berpita biru di hadapannya. “Benar-benar licik kau,”

Sudut matanya menangkap seorang yeoja berambut ikal yang dikucir samping, yang kini tengah membungkuk kepada salah seorang guru sambil menyerahkan sebuah map. Mata namja itu terus mengekori yeoja berambut ikal itu, sebuah senyum miring tersungging di bibirnya.

“Yong,”

Ye?” namja itu menoleh. “Ah, Minhyuk-ah,” Yong Hwa menepuk bahu namja imut yang baru saja duduk di atas mejanya.

“Untuk yeoja?” tanya Minhyuk sambil mengarahkan dagunya ke kotak yang dipegang Yong Hwa. Yong Hwa mengangkat sebelah alisnya, lalu memasukkan kotak itu ke dalam laci mejanya.

“Bukan, untuk Han sonsaengnim,” guraunya. Minhyuk mencibir.

“Lebih baik untuk Miss Kim, dia kan seksi dan cantik,” Yong Hwa terbahak mendengar kata-kata Minhyuk.

“Dia mah untukmu saja deh,”

“Jadi ini benar-benar untuk Han sonsaengnim? Si Botak nan Belong itu?” tanya Minhyuk serius. Yong Hwa menatapnya tak percaya, tawanya meledak sedetik kemudian.

“Ya tidak lah, bodoh!” Yong Hwa menoyor kepala Minhyuk kejam.

“Ya! Sakit!”

__

Yong Hwa meletakkan penanya di atas buku matematikanya dan langsung mengangkat tangannya. Ia tak peduli kalau sekarang adalah pelajaran si killer Han sonsaengnim, karena hasratnya benar-benar tak bisa di bendung lagi. “Sonsaengnim,” panggilnya pelan. Han sonsaengnim membalikkan tubuhnya, menampakkan keningnya yang sangat lebar karena rambutnya yang ada di sekitar keningnya sudah rontok.

“Hm?”

“Bolehkah saya ijin ke kamar kecil?” Yong Hwa langsung ngibrit keluar kelas setelah Han sonsaengnim menganggukkan kepalanya dengan sedikit tidak rela.

Ia melangkah cepat tanpa suara menuju ke salah satu koridor yang berlawanan dengan kelasnya, sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Ia berhenti tepat di depan sebuah loker dengan nomor 114, bertuliskan nama ‘Ahn Jaekyo’ di sana. Ia menyeringai mendapati sebuah kunci tergantung di lubang kunci pintu loker itu.

“Dasar gadis bodoh,” gumamnya lalu menyelipkan sebuah surat ke dalam loker lewat ventilasi yang ada.

__

Jaekyo menaikkan sebelah alisnya ketika sebuah kertas putih yang berupa amplop tergeletak saat ia mengambil kamus Bahasa Inggris-nya yang tertinggal di loker. “Ige mwoya?” gumamnya heran sambil membuka amplop simpel itu. Ia menelan ludah ketika matanya menelusuri beberapa baris kalimat yang tertulis dalam kertas di dalamnya.

Ahn Jaekyo,

 Tak tahukah kau betapa liciknya dirimu?

Kau pikir perbuatanmu selama ini tersimpan rapat olehmu, huh?

Ahn Jaekyo,

Kau benar-benar cari mati denganku.

Waeyo, Jaekyo-ah?” sebuah tangan menepuk bahu Jaekyo yang masih bengong lama bahkan setelah ia selesai membaca surat yang ditujukan padanya itu. “Waw, surat ancaman rupanya,” Jaekyo melirik yeoja di sampingnya lalu menyembunyikan kertas itu.

“Park Jiyeon, kau mengagetkanku,”

“Aku lapar, ayo temani aku ke kantin,” rengek Jiyeon tiba-tiba, menghiraukan kata-kata Jaekyo yang bersuara es.

__

“Kau benar-benar licik, Ahn Jaekyo,” sebuah suara bergumam tepat setelah Jaekyo menenteng tas nya keluar kelas. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelas, dan melotot mendapati seorang namja tengah bersender di sampingnya.

Omo!”

Yong Hwa—namja itu—mneoleh menatap Jaekyo perlahan, masih dengan tatapan datar dan dingin khasnya. Ia mengacungkan sebuah kotak persegi berwarna putih ke hadapan Jaekyo yang kebingungan.

“Karena aku bukan orang licik, maka aku memberikannya langsung padamu. Ini balasan cokelatmu waktu Valentine kemarin. Happy White Day,” ujarnya sambil tersenyum tipis. Ia membalikkan tubuhnya, langsung meninggalkan Jaekyo yang mematung.

Jaekyo memandangi kotak yang ada di hadapannya, dan cepat-cepat membukanya. Ia tertegun mendapati sebuah kancing jaket tergeletak di atas cokelat putih.  “Chamkkaman!” seru Jaekyo nyaring sambil mengejar Yong Hwa yang belum terlalu jauh. Yong Hwa menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Jaekyo.

“Ada apa?” Jaekyo langsung mengacungkan kancing jaket itu dengan tangannya.

“Apa maksudmu memberikanku ini?”

“Kau simpan saja, nanti diambil orang lain,” Yong Hwa kembali tersenyum kecil sambil membalikkan tubuhnya. Jaekyo makin mengerutkan keningnya.

“Ya! Aku tidak jelas! Jangan sampai kuberikan ini pada eomma-ku untuk koleksi kancingnya,” Yong Hwa menghembuskan napasnya, lalu melangkah mendekati Jaekyo.

“Kau memang gadis terbodoh yang pernah kutemui,” cibirnya sedikit kesal. Jaekyo sudah menyiapkan kepalan tangannya untuk menjitak namja yang notabene lebih tinggi darinya itu, namun tangannya terhenti ketika namja itu mengacungkan sebuah kertas berbawrna pink pucat yang dilipat menjadi dua. “Kau tahu benda ini?”

Glek

“Apa itu?” dusta Jaekyo. Padahal ia sangat mengenal kertas yang teracung ke depan wajahnya, karena kertas itu miliknya sendiri. Yong Hwa menatapnya datar.

“Masih menjaga gengsi rupanya,”

Glek

“Aku menyadari gerakan tanganmu waktu kegiatan klub fotografer, lensamu terarah padaku,”

Glek

“Aku tahu kau diam-diam me-request lagu lewat radio sekolah untukku,”

Glek

“Dan aku tahu, sponge cake yang kau buat di pelajaran tata boga itu untukku, namun kau makan sendiri,”

Glek

“Itu… itu hanya lelucon,” balas Jaekyo sambil menunduk. Wajahnya merah padam sekarang.

“Kau tak tahu, kan? Siapa yang memberimu CD Beethoven saat ulang tahunmu kemarin?”

Glek

“Dan kau tak tahu, siapa yang membawamu kembali ke perkemahan bulan lalu saat tertidur di tepi tebing,”

Jaekyo tercenung,lalu memiringkan kepalanya sejenak. “Nde?”

“Ck, susah berbicara pada yeoja bolot sepertimu,” tukasnya sedikit dingin lalu berbalik dan melangkah menjauh.

“Jangan-jangan… kau mengetahui perasaanku?” tebak Jaekyo pelan. Yong Hwa menghentikan langkahnya lalu berbalik kembali menatap Jae Kyo.

“Sudah jelas, bukan?”

Wajah Jaekyo memucat. “Err.. jinchayo?”

“Kalau kau suka membaca manga Jepang ataupun menonton dorama, kau pasti tahu apa artinya bila seorang pria memberikanmu kancing jaket sebagai balasan cokelat Valentine,” desisnya datar. Jaekyo menggigit bibirnya, lalu membenarkan posisi ranselnya.

“Akan… kurenungkan malam ini. Annyeong,”

__

“Pagi,” sebuah suara menyapa Jaekyo sepersekian detik saat ia baru saja menutup pintu gerbang rumahnya. Jaekyo berjengit, ia langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah jalan. Ia hanya bisa melongo saat sebuah tangan melambai dari balik sebuah pohon di tepi jalan.

“Yong…?”

“Rumahku di daerah sini, jangan ge-er dulu,” sahut namja itu sedikit dingin. Jaekyo mencibir, lalu merapatkan ranselnya dan melangkah menjauh. “Apa kau selalu berangkat sepagi ini?” Yong Hwa menyusul yeoja di depannya itu dengan tenang.

Jaekyo memandang ujung kakinya yang terus melangkah, tanpa menyadari namja yang muncul dari balik pohon dan bernama Jung Yong Hwa itu sudah berada sejajar dengannya. Dengan pelan ia mengadah, dan menoleh. “Omo!” pekiknya sambil menghentikan langkahnya tiba-tiba. Ia menendang udara ketika sosok Yong Hwa di hadapannya berjalan menjauh.

“Kau menyebalkan!” desisnya. Yong Hwa menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan wajahnya mendekati wajah Jaekyo.

“Kau pernah membuat bola basket mencium jidatku,” ujarnya serius.

“Bwuahahahaha…”

“Ya! Kenapa kau tertawa?”

“Aku kan sudah pernah minta maaf,” ungkap Jaekyo, setengah tersenyum. “Aku tak tahu ternyata seorang Jung Yong Hwa ternyata pendendam seperti ini,”

“Aku bukan pendendam, tapi belajar dari kenyataan,”

“Sama saja,” balas Jaekyo makin sebal, ia mempercepat langkahnya agar segera terpisah dengan mahkluk menyebalkan yang tanpa terasa sudah menemaninya sepanjang jalan menuju ke sekolah. Yong Hwa mendengus kesal, ia menjejerkan langkahnya dengan Jaekyo, menyambar pergelangan tangannya hingga Jaekyo tepat menghadapnya. Tanpa ragu, ia mengecup kening Jaekyo dalam.

Annyeong,”

__

“Wajahmu kaku sekali, Ahn Jaekyo,” tegur Jiyeon saaat Jaekyo sudah menempelkan pantatnya di atas kursi.

“Ini semua karena si keparat kelebihan hormon itu,”

“Oh, Yong Hwa oppa?” tanya Jiyeon yang membuat Jaekyo melotot menatapnya.

“Kau memanggilnya apa? Oppa? Hah?”

“Suka-suka aku dong,” sahut Jiyeon sambil memanyunkan bibir tipisnya. “Hei… jangan cemberut begitu, tapi Yong Hwa oppa masuk ke kelas ini loh…”

“Aku tidak tahu dan tidak mau tahu,” sahut Jaekyo cuek. Jiyeon mencibir, lalu berujar lagi.

“Dia duduk di mejamu, dan katanya kau harus meraba laci-mu itu,”

“Csh,” Jaekyo hanya melengos pergi sambil membawa salah satu serial novel favoritnya. Jiyeon nyengir aneh menatap punggung Jaekyo yang semakin menjauh.

“Dasar anak aneh,”

__

I lay my love on you, that’s all I wanna do, every time I breathe I feel brand new… You open up my heart, show me all your love and walk right troungh… as I lay my love on you…” Jaekyo menyanyi keras-keras saat ia tengah duduk bersila di pagar kebun sekolah yang selalu sunyi tiap istirahat. Matanya tertutup, sedangnya kedua telinganya tersumpal earphone berwarna pink pucat menandakan ia tak mau ambil pusing bila orang melihatnya dan berpikir bahwa ia gila.

“Hey, penyanyi gagal,” sebuah suara pelan membuatnya membuka mata. Hey… itu suara yang sangat mengganggu, meski ia sudah menyetel volumenya sampai medium. Jaekyo membuka kedua matanya dan melotot mendapati namja yang bisa membuatnya darah tinggi nampak menyenderkan diri di tembok yang lumayan dekat dengannya.

“Mau apa kau kemari?”

“Suaramu fals,”

“YA!” dengan sigap Jaekyo menyentuh kaki kirinya, lalu…

Tuing…

Brakkk

“Kau emosian sekali,” sahut namja itu, yang tak lain tak bukan adalah Jung Yong Hwa. “Paling tidak sopanlah sedikit pada seniormu ini,”

“Untung sepatu kiriku tadi tidak menoyor kepalamu, Sunbae-Gingsul,” desis Jaekyo kesal. Kenapa dia bisa sekesal itu ya? Entahlah, Jaekyo pun tak tahu.

“Panggilan yang manis,” balas Yong Hwa sinis. Jaekyo memeletkan lidatnya.

“Jangan mulai deh, Yong Hwa-sunbaenim,”

“Memangnya aku kenapa?” tanya Yong Hwa heran. “Bagaimana jawabanmu?”

“Hah?” Jaekyo melongo. Yong Hwa menunjuk kotak yang ada di pangkuan Jaekyo dengan dagunya.

“Kancing,”

“O-oh…” Jaekyo tiba-tiba jadi salting. “Er.. itu… bisa aku tidak menjawabnya?” gumam Jekyo cemas. Yong Hwa mengerutkan keningnya.

“Kenapa?” Jaekyo mengerucutkan mulutnya dengan kesal, lalu menjejalkan sepotong cokelat dari kotak yang dipakainya  ke mulut Yong Hwa.

“Tebak saja dari cokelat yang kuberikan padamu,” jawabnya kesal. Yong Hwa terdiam menatapnya. Matanya teru menatap wajah Jaekyo. Tiba-tiba sebuah senyuman muncul dari bibir Yong Hwa. “Kenapa kau menyeringai seperti itu?”

“Aniya,” kilahnya lalu menyambar sepotong cokelat lagi dari kotak di pangkuan Jaekyo. Jaekyo mendorong bahu Yong Hwa.

“Ya! Jangan kau makan dong, ini kan jatahku!” sebuar Jaekyo sambil menutup kotaknya. Yong Hwa terkekeh, lalu memasukkan potongan cokelat itu ke dalam mulut Jaekyo.

“Ini kan cokelat dariku,” Jaekyo menatapnya dengan tatapan tak terima, hendak mengatakan sesuatu namun tak bisa karena mulutnya sedang mengunyah cokelat.

“Tapi sudah jadi milikku,” katanya setelah menelan cokelat itu.

“Berarti kau memang menyukaiku,” gumam Yong Hwa pede, membuat kedua mata Jaekyo membulat. Tapi pada akhirnya semburat merah itu muncul juga di kedua pipi Jaekyo.

“Jangan blak-blakan gitu dong,” ujarnya sambil menunduk. Yong Hwa terkekeh geli.

Chu~

Jaekyo mendelik ketika sesuatu yang lembab menempel di bibirnya. Hanya sekejap, tapi itu cukup membuatnya membeku.

“Anggap saja itu hadiah untukku,”

Jaekyo menatap Yong Hwa, lalu tersenyum tipis.

Chu~

Kini Yong Hwa yang dibuat bengong. Jaekyo mengecup bibirnya kilat lalu tersenyum manis.

“Dan anggap saja itu hadiah untukku,” setelah menatap mata Jaekyo beberapa saat, Yong Hwa menyeringai, lalu meraih dagu Jaekyo dan menautkan bibir mereka lagi.

Saranghae yeonwonhi,” katanya setelah melepaskan ciumannya.

Nado,”

END

A/N : Bagaimana? Alangkah gajenya kan readers? Alangkah tidak nyambungnya huahahah#plakkk Maklum, baru pertama kali bikin FF castnya member CN Blue, mohon komen, kritik dan sarannya ya ^o^

4 thoughts on “Chocolate For You

  1. owh…sweet, aku suka namja tampan bergigi gingsul itu..ha….ha…
    seru ff y, tapi sayang udah end, coba ada lanjutan nya

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s