STUPID ME!

Author: mmmpeb

Rating: T

Genre: romance, friendship

Length: oneshot

Cast:

  • A Girl
  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Lee Jungshin CNBLUE

Disclaimer: mind!

Note: siapin popcorn sama kresek buat muntah

**********************************************

Hiks..

Hiks…

Hiks…

Tadi pagi, alih-alih menjemputku untuk mengantarku ke sekolah, Kibum mengirip pesan singkat yang isinya permintaan maaf. Bukan minta maaf karena tidak bisa menjemputku, tapi karena tidak bisa menjadi pacarku lagi. Di satu sisi aku menginginkan ini, tapi aku sudah terlanjur menyukai Kim Kibum.

BUGH!

Seseorang melempariku sebuah buku. Buku tebal? SIAPA YANG MELEMPARIKU KAMUS BAHASA???

Mataku masih terpaku pada kamus tebal sialan itu di lantai. Dipikir rasanya enak dipukul benda seberat itu? Mana hardcover lagi! Tapi terima kasih, berkat benda itu aku punya alasan untuk menangis dengan keras. Rasanya sesak sejak tadi menahan isakanku sendiri.

“HUAAAA!”

Aku memejamkan mataku dan menangis sekencang-kencangnya. Tidak peduli penjaga perpus akan menegurku. Memangnya kepalaku tidak sakit dipukul palu berwajah buku?

DHUG!

SIAPA LAGI YANG MEMUKULKU, HAAAAAH?

Tentu saja aku hanya berani berteriak di dalam hati. Kubuka mataku. Buku itu sudah tidak ada, digantikan oleh sepasang kaki jenjang milik siswa laki-laki. Tidak ada siswa perempuan yang pakai celana bahan panjang kecuali kalau dia sakit jiwa. Tapa masa iya orang sakit jiwa bisa ke sekolah?

Bodoh! Masih sempatnya berkutat dengan orang gila. Pikirkan kepalamu, pabo!

“Menangis di rumah saja sana! Mengganggu, tahu!” katanya sembari menggenggam kamus laknat yang berani mencium kepalaku

Aku mendongak. Hampir saja orang itu akan kuhujani tatapan mautku, tapi buru-buru kuurungkan niat itu.

“Maaf, sunbae!”

Aku kembali menunduk malu. Aku tidak bisa berbuat banyak kalau yang ada dihadapanku adalah kakak kelasku sendiri. Tersiksa sekali menjadi anak kelas 1.

“Kepalamu tidak apa-apa, hanya benjol! Jangan mendramatisir kalau hanya ingin membolos!”

“Benar tidak gegar otak?”

“Mau kubuat gegar otak?”

Aku memilih untuk tidak menjawab. Tatapannya menyeramkan. Bukannya membuatku gegar otak, yang ada dia membuatku kehilangan otak.

Kini aku sendirian di UKS. Suster Song bilang ingin ke kantin. Hanya alat kompres ini yang kini menemaniku. Kepalaku benar-benar benjol, tidak hilang-hilang. Kalau aku ketemu orangnya lagi, akan aku buat perkedel untuk makan siangku nanti.

CKLEK!

Sepertinya aku tidak ingin makan apa-apa untuk siang ini.

Aku hanya diam, bersikap seolah tidak menyadari kedatangan orang itu. Tapi mau tidak mau aku dibuat menyadarinya karena mata kami tidak sengaja berpapasan.

“Kau yang di perpus tadi?”

Dia masih ingat? Syukurlah!

Sekarang dia duduk di tempat tidur yang sedang kududuki, di sampingku. Melihatiku seperti aku adalah pasien pengidap leukemia stadium paling terakhir.

“Rasanya sakit, ya?”

KAU PIKIR RASANYA STROBERI?

“Aku minta maaf!”

Walaupun rasanya ingin sekali aku membalas pukulannya agar kami impas, tapi aku  justru malah mengangguk. Aku memaafkannya. Aku tidak mau membuat masalah. Aku masih dua bulan di sekolah ini, belum saatnya aku berani melawan.

“Aku benar-benar minta maaf padamu! Aku sedang belajar geografi, tapi kau malah mengganggu konsentrasiku! Tadinya aku ingin melemparimu pensil, tapi aku baru sadar kalau yang aku lempar malah kamus!”

Memang ada ya pensil seberat kamus tebal?

“Aku juga minta maaf karena mengganggumu, sunbae! Aku tadinya ingin menangis di taman, tapi tempatku malah diambil. Menangis di toilet, nanti aku dikira hantu!”

Lagi pula mana ada hantu cantik jelita begini?

“Kalau boleh tahu, kau kenapa menangis? Suaramu sangat mengganggu.”

“Aku menangis karena kamusmu mengenai kepalaku dua kali!”

Mata sipitnya melebar. Masih sipit.

“Dua kali? Aku hanya melempar sekali!”

“Tapi aku merasakan yang kedua kalinya!”

“Sungguh aku tidak memukul! Aku hanya…menoyor! Bukan menangis itu yang aku maksud!”

Rasa sakitnya mendadak hilang. Padahal dua jam ini aku sedikit berhasil melupakannya. Haruskah aku menceritakan pada orang asing ini?

“Aku baru saja putus!”

“Putus? Apanya?”

“Ya Tuhan! Haruskah aku menangisi tali yang putus?”

Tiba-tiba saja laki-laki bermata sipit ini mengacak-acak puncak kepalaku. Aku dibuat speechless oleh senyumannya. Dia manis sekali.

“Ara! Jangan menangis lagi, ya!”

Senyumannya makin melebar, mau tidak mau matanya makin menyipit, bahkan nyaris tertutup. Tapi jujur, dia tampan sekali. Siapa sih sunbae ini? Aku jadi penasaran.

“Minhyuk? Astaga! Kau disuruh mencari plester, bukan pacaran!”

Aku dan laki-laki di sampingku ini serempak menoleh ke belakang. Di ambang pintu, berdiri seorang murid laki-laki lain yang tak lain dan tak bukan adalah kakak kelasku yang lain, Lee Jungshin.

“Oppa tidak pernah cerita kalau punya teman tampan kayak dia!”

“Memangnya aku harus lapor?”

Jungshin oppa kembali menekuri hasil kerjaku. Selagi dia sibuk menilai, sepertinya asik kalau aku membayangkan Minhyuk.

“Pabo!”

Aku spontan memejamkan mataku begitu oppa memukul keningku dengan ujung pulpennya.

“Kenapa sih orang tampan senang menganiayaku?”

“Karena orang tampan ini kesal anak didiknya tidak pintar-pintar! Mengajarimu matematika tiga tahun tapi sama sekali tidak ada kemajuan! Ya Tuhan, kalau bukan karena kau tetanggaku, mungkin aku akan menghadap pada ibumu untuk berhenti jadi guru privatmu!”

“Tsk! Aku sedang tidak nafsu melihat rumus!”

“Tiap detik kau memang tidak nafsu sama matematika!”

Aku mendengar helaan nafasnya. Kulipat kedua lututku dan kupeluk dengan erat.

Kurasakan usapan lembut di puncak kepalaku. Jungshin oppa tahu-tahu sudah duduk di sampingku.

“Kau tidak perlu menangisi dia! Kau sendiri yang melihatnya jalan dengan perempuan lain, harusnya kau bersyukur berpisah dengannya. Ayo dong, jangan sedih!”

Mungkin ini resiko pacaran beda sekolah. Aku tidak mampu masuk ke sekolah Kibum. Otakku masih di bawah rata-rata. Ini saja jujur aku bisa masuk ke sekolah Jungshin oppa yang statusnya hampir setara dengan sekolah Kibum karena menyogok. Hehe!

Tapi pak Lee ini sok tahu! Aku tidak sedang memikirkan Kibum sialan itu!

“Kau seperti orang idiot yang lebih idiot! Sebentar sedih sebentar senyum-senyum sendiri!”

Jungshin oppa menjauhkan dirinya dariku. Memangnya aku gila?

“Siapa yang sedih? Aku sedang memikirkan Minhyuk, tahu!”

“Mudah sekali ganti perasaan. Yang kayak begini sebaiknya dijauhkan dari laki-laki baik!”

“Jadi Minhyuk orangnya baik?”

“Tsk!”

Alih-alih menjawab pertanyaanku, oppa malah memberesi perkakas alat tulisnya.

“Aku pulang saja!”

“Yah, jangan dulu, dong! Cerita tentang Minhyuk, ya? Katanya kau sekelas dengannya!”

“Baru kenaikan kelas tiga ini! Aku tidak begitu mengenalnya.”

Setelah barang-barang Jungshin oppa masuk ke dalam tasnya, dia bangkit berdiri. Akupun bangkit berdiri dan berjalan menyejajarinya.

“Pelit, ah!”

Langkah Jungshin oppa terhenti.

“Lebih baik kau jauh-jauh dari Minhyuk. Itu saja dariku!”

“Wae?”

Jungshin oppa lagi-lagi mengacuhkanku. Dia pergi, sedangkan aku berdiri mematung berspekulasi sendiri.

Kenapa oppa menyuruhku menjauhi Minhyuk? Apa Minhyuk itu tidak sebaik seperti yang aku pikir? Jangan-jangan sama brengseknya dengan Kibum. Tapi masa iya, sih?

*****

“Annyeong, hoobae!”

Aku terkesiap karena Minhyuk tahu-tahu sudah ada di sampingku.

“Sunbaenim?”

Akupun menundukkan setengah tubuhku padanya. Bagaimanapun aku masih punya etika sebagai adik kelas yang baik dan santun. Ini topengku. Kalau sudah jadi kakak kelas, aku tidak segan-segan akan menjuteki adik kelasku sendiri. Seperti yang sudah-sudah.

“Annyeonghaseyo!”

“Hey, tidak usah seformal itu! Oh ya, namamu siapa?”

Baru saja aku membuka mulutku, ponselnya tiba-tiba berdering.

“Lain kali kita ngobrol lagi, ya! Annyeong!”

Minhyuk berlalu dari hadapanku sambil menerima panggilan telepon. Dari kejauhan aku bisa mendengar tawanya yang terbahak-bahak. Pasti asik bisa ngobrol dengan Minhyuk.

“Aku tidak berbohong! Aku pernah pacaran dengan salah satu kakak kelas di sini sewaktu SMP dulu. Namanya Minhyuk, Kang Minhyuk!”

Aku yang sedang asik membaca novel tiba-tiba tertarik dengan obrolan mereka. Sebenarnya aku bukan tipe penggosip, hanya saja tadi Jiyeon –siswi yang duduk di depanku- menyebut-nyebut nama Minhyuk.

“Lalu kenapa putus? Kalau kalian bersanding, kalian serasi.”

Serasi? Matanya rabun? Sepertinya katarak.

“SMP-ku dulu peraturannya begitu ketat, salah satunya melarang siswa berpacaran. Dan kami ketahuan. Orang tua kami dipanggil, kamipun putus.”

Peraturan memang tidak selamanya menyebalkan. Sekolah itu keren!

Eh, kalau aku sekolah di sana, mungkin aku tidak akan bisa pacaran dengan Kibum. Yah, tidak keren!

“Sekarang masih suka, tidak?”

Posisi dudukku semakin maju.

Bilang tidak, please!

“Aku masih suka sih dengannya! Tapi-“

Teman-teman sekelas buru-buru kembali ke bangku masing-masing begitu guru bahasa inggris masuk ke dalam kelas.

Saat bu guru sedang sibuk menyapa muridnya, aku terus berdoa di dalam hati semoga Minhyuk tidak punya perasaan yang sama dengannya.

Kantin hari ini begitu sepi. Kelas 2 diliburkan, sisanya tetap WAJIB sekolah. Kemana keadilan yang selalu digembar-gemborkan di sila ke-5? *Pancasila kali*

Aku duduk sendiri di kantin. Aku sedang malas bergerombol. Tadi sih sempat di ajak Jiyeon dan lainnya, tapi aku malas bergosip. Hingga sampai dua bulan ini juga aku belum punya teman dekat. Hanya sedikit teman SMP yang masuk ke SMA ini dan satupun tidak ada yang aku kenal betul.

“Boleh aku duduk di sini, nona?”

Aku terkejut saat muncul tiba-tiba sosok jangkung di hadapanku.

“Silahkan!”

Minhyukpun duduk di hadapanku beserta nampannya. Makannya banyak atau setengahnya pesanan milik temannya?

Sungguh sejak tadi aku bosan hanya mengaduk-aduk sup asparagus ini, tapi sekarang rasanya seperti pekerjaan yang menyenangkan. Ini sekaligus meredakan kecanggunganku. Aku harus memulai percakapan atau sebaiknya aku diam menunggu dia yang bicara duluan?

“Kau tidak makan?”

Mau tidak mau aku mendongak menatapnya. Tidak sopan bicara tanpa menatap lawan bicara.

“Sebenarnya aku sudah kenyang, sih!”

“Untukku saja kalau begitu!”

“Kau masih lapar, sunbae? Kenapa tidak makan saja punya temanmu? Nanti kan bisa dibelikan lagi pas temanmu datang.”

“Teman? Teman yang mana?”

“Porsi makanmu untuk dua orang kan?”

“Tidak! Ini memang porsi makanku!”

Kalau saat ini ada makanan di mulutku, mungkin akan muncrat ke wajahnya. Inilah kenapa Tuhan tidak memberikanku nafsu makan untuk sekarang, agar aku tidak terlihat bodoh di depan laki-laki tampan ini.

“Kalau masih lapar, ambil saja punyaku!”

Bahkan dia tidak punya basa-basi sama sekali. Menarik nampanku ke samping nampannya. Padahal nampannya belum habis sama sekali.

Makhluk tampan nan manis ini makan dengan lahap sekali, seperti belum makan selama tiga hari. Untung dia tampan, kalau tidak mungkin sekarang aku berada di kelas dan memilih tidur sebagai penghabis waktu istirahat siangku. Mungkin benar apa kata Jieun dulu, hal jelek apapun yang dilakukan oleh orang tampan akan tetap terlihat tampan. Tapi bagiku laki-laki tampan yang mengupil di depan umum sama sekali tidak tampan.

“Oh ya, kau adiknya Jungshin?”

“Bukan! Hanya saja kami memang dekat karena kami tetangga.”

“Ya itu maksudku! Sekarang aku tahu namamu. Jungshin sering cerita tentangmu.”

Tsk! Katanya baru kenal, tapi sudah cerita- cerita.

“Benarkah?”

Gawat! Apa saja ya yang Jungshin oppa ceritakan tentangku?

“Iya! Termasuk saat kau jatuh ke dalam got karena dikejar anjing dan Jungshin menolongmu.”

Memalukan! Selalu saja menceritakan bagian yang hanya enak di dia. Oppa, bodoh!

“Ah, aku iri!”

Iri? Iri karena bisa berdekatan denganku?

“Aku jadi ingin memiliki adik perempuan! Sayangnya ibuku sudah berkomitmen ‘dua anak lebih baik’!”

Aku ingin tertawa sebenarnya saat ia menyebut slogan iklan yang selalu berkumandang di televisi itu –seperti yang aku lakukan bersama Inguk oppa jika melihat iklan itu, tapi yang bisa aku lakukan hanya tersenyum masam dan melihatinya melanjutkan makannya.

Adik perempuan?

Tadi, satu jam sebelum bel pulang sekolah berbunyi, Jungshin oppa mengirimku pesan jika dia ingin pulang bareng denganku. Sebenarnya aku tahu ia ingin menagih traktiran es krim yang pernah aku janjikan kalau kedai es krim di ujung sekolah sudah buka, tapi tidak apalah, aku sedang ingin curhat dengannya.

Makanya sekarang kakiku melangkah menuju ke kelasnya. Anggaplah bonus karena berarti aku akan bertemu dengan Minhyuk.

Kakiku berhenti melangkah tepat di depan pintu kelas 3-A. Kelas unggulan. Sebenarnya aku benci dengan system urutan kelas menurut kemampuan otak. Tapi aku bersyukur bisa masuk kelas 1-E, kalau dilihat dari kemampuan otakku mungkin seharusnya aku dimasukkan ke kelas 1-J. Sayangnya sekolah ini hanya membatasi kelas sampai abjad E.

TUK!

Seseorang melempariku penghapus hitam.

“Jangan melamun! Kau tambah jelek dengan tampang idiotmu!”

Siapa lagi kalau bukan Jungshin oppa yang bicara begitu.

Aku baru sadar Jungshin oppa sedang duduk di meja Minhyuk. Mereka seperti habis mengobrol. Sepertinya aku sudah bisa menanyai tentang Minhyuk pada Jungshin oppa.

Sekarang dua laki-laki tampan itu berjalan menghampiriku dengan tas ransel yang sudah menggantung dipunggung mereka. Tunggu! Aku bawa uang banyak tidak ya? Semoga harga es krimnya masih standar.

“Minhyuk boleh ikut, tidak?”

“Tentu saja!”

Lancar sekali menjawabnya.

“Biar aku yang traktir!”

“Tidak usah, sunbae!”

Tiba-tiba saja aku teringat kejadian istirahat tadi.

“Hmm, terserah sunbae, deh!”

Aku kan tidak tahu berapa mangkuk es krim yang akan Minhyuk pesan nanti. Tidak lucu kan uang mingguanku habis di hari pertama.

Ponsel Minhyuk berbunyi. Ia melihati layarnya begitu serius dan tiba-tiba dia tersenyum sendiri.

“Maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut kalian! Aku harus pergi ke sesuatu tempat! Aku duluan!”

Yah, dia pergi? Pupus sudah kesempatanku mengobrol dengan dia.

“Jadi tidak?”

Jungshin oppa mendelik padaku dengan senyuman yang jauh lebih cerah dari yang tadi. Sepertinya dia tidak sabar ingin makan es krim.

Jarak kedai es krim ke rumah bisa dibilang sekitar 2 km, tapi kami memilih jalan kaki ketimbang naik bis.

“Oppa pelit banget sih kasih info tentang Minhyuk! Ayolah, biarkan adik kesayanganmu ini cepat move on!

“Kau sudah move on di hari saat kau putus dengan Kibum! Kemarin!”

“Kalau memang pelit yang pelit saja! Jangan mengingatkanku pada si rubah belang itu lagi!”

“Kan sudah kubilang dari kemarin! Lebih baik jangan Minhyuk yang kau incar!”

“Lalu siapa? Oppa?”

“Pilihan yang sangat bagus!”

“Pilihan yang sangat buruk!”

“Hei, aku serius!”

“Aku tertawa boleh tidak?”

“Wae? Aku tidak kalah tampan dengan Minhyuk!”

“Lelaki tampan harus bisa menjaga sikap! Tidak mengataiku idiot seenaknya!”

Sebaiknya aku tidak mengungkit si pelahap makanan nan tampan itu.

“Tapi kau memang idiot! Tidak ingat kemarin kau mengisi akar 9 sama dengan 8?”

“Itu hanya kecelakaan!”

“Ayo aku antar ke rumah sakit! Mungkin otak bagian kananmu agak robek! Kalau tidak segera dijahit, aku khawatir nanti kau menjawab 1 tambah 1 sama dengan 11.”

Aku memukul bahu Jungshin oppa dengan keras. Tapi apapun yang dia katakan, aku tidak bisa membencinya. Aku tahu maksudnya hanya ingin menghiburku dari si rubah itu, walaupun aku sendiri yang menjadi bahan olokannya.

Terima kasih Jungshin oppa! Kau memang tidak tergantikan!

*****

Pagi ini rasanya cerah sekali. Rasanya sangat disayangkan kalau hanya berjalan-jalan biasa.

“Tolong jangan membuatku malu!”

Kedua bahuku tiba-tiba ditekan sehingga aku tidak bisa melompat-lompat seperti tadi.

“Kenapa, sih?” dengusku.

“Aku tidak mau dikira membawa orang gila jalan-jalan pagi! Tenanglah sedikit!”

Oppa sialan!

Aku berjalan di samping Jungshin oppa. Dia berjalan dengan tenang sambil menyenandungkan lagu milik Eminem yang sedang dia dengar melalui earphone. Tsk! Dia menyuruhku diam sedangkan dia tidak mengajakku ngobrol sedikitpun!

Saat hampir mencapai sekolah, kami disuguhi pemandangan romantis ala anak remaja dari kejauhan. Saat seorang siswi berseragam SMA lain sedang membenahi dasi laki-laki berseragam SMA-ku. Dan kemudian laki-laki itu mengecup kening sang gadis. Owh!!! Romantis sekali! Aku ingin Minhyuk melakukan itu untukku.

Gadis itu memasuki mobilnya dan memacunya pergi. Sekarang laki-laki itu melambai-lambaikan tangannya dengan riang pada kami.

Aku tercengang begitu tahu laki-laki romantis yang aku lihat tadi ternyata Kang Minhyuk.

“Hai, kalian!”

Dan sejak kapan Minhyuk sudah ada di hadapan kami?

“Pagi-pagi sudah mesum dengan Krystal!” cetus Jungshin oppa.

“Kau iri? Kau bisa melakukannya dengan adik manis yang satu ini!”

Minhyuk tersenyum manis padaku, tapi sepertinya aku tidak tertarik untuk membalasnya.

“Aku lupa merekamnya!! Baru saja sudah ditinggal beberapa detik oleh pacarmu, kau sudah melancarkan aksimu!”

“Enak saja! Dia memang manis, kok! Kau juga sering bilang begitu, kan?”

Eoh?

“Kalau melihat kalian berdua begini, sebaiknya kalian pa-AWWW! APAAN, SIH?”

Yang aku lihat barusan adalah Jungshin oppa menendang lutut Minhyuk. Ada apa sih sebenarnya?

“Sunbae? Gwaenchana?”

“Yah ini masih belum seberapa dibanding rasa gemasku dengan laki-laki pengecut di sampingmu! Sudah, ya! Aku masuk ke kelas duluan! Aku tidak mau disuruh push up 50 kali karena kedapatan tidak mengerjakan pr!”

Minhyuk berlalu dari hadapan kami dengan senyum sumringah.

Sedangkan aku, masih tercengang.

“Yang kau lihat tadi pacar Minhyuk, Krystal Jung dari SMA saingan. Mereka sudah berpacaran sejak dua tahun yang lalu dan berencana akan bertunangan setelah lulus.”

Wah, terdengar menyakitkan sekali.

“Oppa kenapa tidak memberitahuku kalau Minhyuk sudah punya pacar?”

“Kau tidak tanya!”

“Ya kan kau bisa memberitahuku!”

Aku menundukkan kepalaku. Rasanya memalukan sekali beberapa hari ini berharap pada orang yang baru aku kenal. Sebaiknya aku dengarkan nasehat Jungshin oppa waktu itu.

“Tidak usah sedih! Ambil hikmahnya saja. Setidaknya kau belum terlalu menyukai Minhyuk.”

Jungshin oppa benar! Setidaknya ini masih terlalu awal. Baguslah jika terungkap sekarang sehingga yang aku rasakan hanya rasa kecewa, bukan sakit hati.

“Cari laki-laki single lain saja, yang tampan banyak!”

“Mau promosi diri sendiri lagi? Mungkin karena sifat narsismu ini tidak ada perempuan yang mau menjadi pacarmu!”

Jungshin oppa tiba-tiba menoyorku.

“Enak saja kau bilang! Kau sendiri kan yang sering melihat tumpukan surat cinta di lokerku?”

“Iya, sih! Nah, kenapa tidak kau ambil saja salah satu? Eunji cukup cantik, apalagi pendiam, 11:12 dengan oppa. Kalau Suzy, hmmm, jangan deh, dia terlalu populer. Kalau-“

“Kalau kau saja bagaimana?”

“Aku sedang serius, oppa!”

“Aku juga sedang serius!”

Saat Jungshin oppa menatap mataku cukup tajam, aku merasakan aliran listrik menyengat tubuhku. Aku belum pernah merasakan Jungshin oppa seserius ini. Bahkan sekelilingku mendadak berubah menjadi kebun bunga yang sedang bermekaran. Hanya ada aku dan Jungshin oppa di tempat indah ini.

“Aku tidak mau mereka!”

Semua bunga tiba-tiba putus dari tangkai dan berterbangan mengelilingi kami.

“Kau memang tidak pernah peka dengan perasaanku, Seo Eunkyung! Aku menyukaimu sejak dulu! Aku hanya ingin kau yang menjadi pacarku!” katanya sambil membuang muka.

Kelopak-kelopak bunga itu putus dan berhamburan menghujani kami.

Aku hanya bisa terdiam sambil memandangi wajah Jungshin oppa yang memerah. Baru kali ini aku melihatnya begitu.

“Ini terlalu buru-buru, oppa! Kau sudah kuanggap seperti kakakku sendiri, seperti Inguk oppa!”

Jungshin oppa tersenyum masam. Dan senyuman itu makin melebar, membentuk senyuman seperti senyuman Lee Jungshin yang seperti biasanya.

“Aku maklum dengan hal ini! Sepertinya aku mengungkapkan perasaanku di waktu yang tidak tepat. Kajja, kita masuk!”

Jungshin oppa menepuk sebelah bahuku dan kemudian berlalu melewatiku begitu saja.

Kebun bunga indah ini tidak kunjung padam dari pandanganku. Jantungku berdebar-debar setiap mengingat kata-kata Jungshin oppa kalau dia menyukaiku. Aku hanya tidak menyangka Jungshin oppa yang usilnya setengah mati ternyata menyukai gadis yang selalu ia katai idiot ini.

Haruskah aku membuka perasaanku untuk Jungshin oppa?

“GADIS IDIOT! CEPAT! GERBANGNYA MAU DITUTUP!”

OTL

Sepertinya harus kupertimbangkan sejuta kali.

Buru-buru kubalikkan badanku dan berlari menyusulnya.

“AWW! Kenapa kepalaku dipukul?” erangnya. Kalau semakin melotot, mata belonya seperti mau keluar.

“Kau mengataiku idiot setelah menembakku? Siapa yang idiot sekarang?”

“Lah? Aku kan ditolak?”

“Kapan aku bilang aku tidak mau?”

“Jadi kau mau?” katanya dengan mata berbinar.

“Aku juga tidak bilang mau, sih!”

“Yah jadi bagaimana, dong? Tolong jangan kau gantungkan perasaanku!”

Hah! Dia melawak dengan kata-kata sok pujangganya.

“Beri aku waktu sampai aku sudah bisa menerimamu sebagai pacar, bukan sebagai seorang kakak!”

“Jinjja?”

Kini Jungshin oppa memelukku. Rasanya sesak dan hangat. Aku bahkan tidak bisa menyembunyikan senyumanku.

Kapan sih kebun bunga ini menghilang dari pandanganku? Aku tidak bisa melihat gerbangnya sudah ditutup atau belum!!

 

-end-

 

FF ini sebenarnya udah dibuat jauuuuuuuuuuuuh sebelum negara api menyerang, tapi karena stuck bingung mau nentuin endingnya gimana, akhirnya aku brenti. tergerak mau ngelanjutin ini gara-gara baca ff nya temen kemarin xDDD

Dengan dipostingnya FF ini, aku mau pamit hibernasi panjang sampe desember. Doain ngerjain skripsi lancar #amin, doain dosen pembimbingnya baik hati – tidak sombong – rajin traktir murid bimbingannya #amin, doain semoga sidang bulan desember dilancarkan #amin, dan doain semoga uang jajan mingguanku dinaikin biar bisa traktir minhyuk dan minho #amin.

Oh ya mau bilang makasih sama calon mertua: papa Dojin dan mama Yisoo. Maaf calon istri anakmu -Collin Black- ini seenak jidat ngambil kebun indah milik kalian ^^ (kalo nonton AGD pasti tau)

9 thoughts on “STUPID ME!

  1. Kekekek…q pkir bkal dpet si minhyuk..mlah dpet jungshin…lw minhyuk g jd tnangan ma krystal,q siap menerima……wkwkwk

  2. so sweeeeet….. ternyata jungshin slama ini suka ma eunkyung. tp minhyuk cpet amet mau tunangan abs lulus. tp krystal dsn keliatannya lebh kaya ya dr minhyuk?. berarti minhyuk …. aih jd inget perannya di heartsring yg dmen makan.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s