Soirée

 

Title: [Oneshot] Soirée

Author: ree

Rating: PG-15

Genre: AU (alternative universe), romance

Length: oneshot

Casts:

-Lee Jungshin CN Blue

-Kim Seo Hyang (OCs)

-Ok Taecyeon 2PM

Disclaimer: This story is just my imagination. The characters belong to God, but the story is mine

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Bluey, ayo tangkap!” seru Seo Hyang pada Bluey, anjing jantan berjenis golden retriever peliharaannya, sambil melemparkan frisbee berwarna merah ke udara.

Bluey mendongakkan kepalanya cepat, memperhatikan arah terbang benda plastik pipih tersebut yang melayang jauh ke sudut lain lapangan, dan secepat kilat berlari mengejar frisbee itu sambil menggonggong dengan semangat.

“Anak pintar!” Seo Hyang mengelus puncak kepala Bluey ketika anjing itu berhasil mendapatkan frisbee yang dilemparnya dan duduk kembali kehadapannya. Sebagai hadiah, ia pun memberikan beberapa buah biskuit anjing yang dibawanya.

Beginilah kegiatan Seo Hyang setiap sore sepulang kuliah; mengajak Bluey berjalan-jalan di taman yang letaknya memang tidak begitu jauh dari rumahnya. Ini bukan paksaan, karena dialah yang menginginkan demikian. Seo Hyang sangat menyayangi hewan peliharaannya itu dan sering menghabiskan waktu bersamanya.

Setelah Bluey menghabiskan biskuitnya, Seo Hyang kembali mengacungkan frisbee ke udara dan bersiap untuk melemparnya, “Nah, Bluey, ayo tangkap lagi!”

***

Jungshin mengarahkan kameranya ke objek yang memang berada sedikit jauh dari tempatnya berdiri sekarang, dan segera mengambil gambarnya begitu mendapatkan angle yang pas. Ia pun tersenyum puas ketika melihat hasilnya.

“Benar-benar cantik…” batinnya.

Ya, kira-kira seperti inilah hal rutin yang dilakukan Jungshin setiap sore. Sendirian berdiri di belakang pohon besar atau dibalik rerumputan di taman kota dengan kamera yang selalu menggantung di lehernya, dan diam-diam memotret sebuah objek yang sudah menarik perhatiannya sejak kira-kira seminggu yang lalu. Gadis itu─gadis yang menarik perhatian Jungshin untuk menjadi objek fotonya─tampak sedang asyik bermain dengan golden retriever kesayangannya sama seperti hari-hari sebelumnya. Padahal kegiatan itu dilakukannya hampir setiap hari, namun Jungshin tidak pernah merasa bosan untuk memotretnya, mengabadikan setiap moment yang tercipta dan menangkap setiap ekspresi dari wajah cantik gadis itu kedalam lembaran-lembaran kertas.

Jungshin bukanlah stalker atau paparazzi yang dengan sengaja menguntit seseorang untuk kemudian mengambil fotonya. Ia tidak sengaja bertemu─atau lebih tepatnya melihat─gadis itu saat sedang mencari objek foto di taman. Ia sangat menyukai fotografi dan sedang serius menggeluti profesi sebagai fotografer. Awalnya, ia hanya asal saja memotret, namun ketika diperhatikan baik-baik, setiap garis wajah gadis itu yang tertangkap oleh kameranya benar-benar sempurna. Membuatnya tertarik untuk memotretnya lebih banyak lagi dan lagi.

Ketika sedang memperhatikan hasil bidikannya barusan, tiba-tiba saja Jungshin melihat sebuah benda bulat pipih berwarna merah yang terbang menukik di dekat kakinya. Dengan sedikit ragu ia pun mengambil benda yang ternyata adalah frisbee itu dan memperhatikannya.

“Bukankah ini…”

“Guk! Guk!” tiba-tiba terdengar suara gonggongan anjing.

Jungshin menoleh. Dilihatnya seekor golden retriever sedang duduk disamping kakinya. Kepalanya mendongak ke arahnya sambil sesekali menggonggong.

Jungshin memperhatikan frisbee merah dan anjing itu secara bergantian. Pasti tadi tanpa sengaja gadis pemilik hewan berbulu coklat didepannya ini melempar frisbee-nya terlalu jauh sehingga tanpa sengaja mengenai kakinya. Ia lalu berjongkok dihadapan anjing itu dan mengelus-elus kepalanya dengan lembut.

“Bluey, sudah kau dapatkan frisbee-nya?” tiba-tiba terdengar suara seorang gadis. Jungshin menoleh. Dilihatnya gadis yang sedari tadi menjadi objek fotonya sudah berdiri tidak jauh dari sana.

“Guk!” Bluey menyalak.

“Ini.” Jungshin pun memberikan frisbee merah yang dipegangnya pada anjing itu.

“Ah, kamsahamnida…” Seo Hyang membungkuk sopan. Sebagai balasan, Jungshin mengedikkan kepalanya sambil tersenyum ramah.

“Kau pemilik anjing ini?” tanyanya kemudian.

“Ah, ne. Apa Bluey mengganggumu?”

“Sama sekali tidak. Dia benar-benar anjing yang manis.” Jungshin kembali menepuk-nepuk kepala Bluey, “Pasti kau sudah merawatnya dengan baik.”

Mendengar perkataan Jungshin, Seo Hyang hanya bisa tersipu. Ia memang baru pertama kali bertemu dengan laki-laki itu, namun kelihatannya dia sangat baik dan ramah.

“Kau…fotografer?” tanya Seo Hyang begitu melihat kamera yang dipegang Jungshin.

“Ng… Yah, begitulah.” Tanpa sadar Jungshin sedikit menarik kameranya, berharap agar gadis itu tidak melihat hasil bidikannya dan menyadari siapa objek yang dipotretnya. Padahal kalau dilihat dari posisi mereka sekarang, gadis itu tidak mungkin bisa melihatnya.

Seo Hyang mengangguk-angguk, kemudian tersenyum. Ia tidak menaruh curiga sedikitpun pada keberadaan Jungshin di tempat itu. Ia mengira laki-laki itu sedang memotret lingkungan di sekitar taman tersebut dan itu hal yang wajar-wajar saja.

“Kalau begitu kami permisi dulu. Terima kasih sudah menjaga Bluey.” Ujar Seo Hyang sambil mengedikkan kepalanya sopan. Ia lalu mengajak Bluey untuk pergi, setelah sebelumnya membiarkan Jungshin menepuk-nepuk kepala anjing itu sekali lagi.

Tak lama setelah gadis itu pergi, Jungshin bangkit berdiri dan mengarahkan kameranya ke punggung Seo Hyang yang mulai berjalan menjauh sambil sesekali bercanda dengan anjingnya. Kemudian ia pun memotretnya. Siluet mereka yang dihiasi langit senja membuat foto itu menjadi salah satu foto terbaik yang pernah Jungshin miliki.

***

Keesokan harinya…

Jungshin memperhatikan jam tangannya sekali lagi dan mendesah. Entah sudah berapa lama ia berdiri bersandar di belakang sebuah pohon besar tanpa melakukan apa-apa. Pasalnya, hari ini tidak seperti hari-hari sebelumnya. Sedari tadi ia sama sekali tidak melihat sosok Seo Hyang yang biasanya sedang asyik bermain bersama anjing kesayangannya itu. Terkadang Jungshin menyesali dirinya yang tidak juga memperkenalkan diri pada gadis itu, sehingga ia harus menerima resiko kehilangan gadis itu sewaktu-waktu tanpa mengetahui alasannya, seperti saat ini.

Lagi-lagi Jungshin melirik jam tangannya─entah sudah yang keberapa kali─dan lagi-lagi ia harus menelan pil kekecewaan karena sepertinya memang Seo Hyang tidak datang ke taman itu hari ini. Ini sudah hampir pukul setengah enam sore, dan matahari juga sudah bersiap kembali ke peraduannya. Suasana di taman itu juga mulai sepi.

Jungshin menghela napas panjang. Mungkin sudah saatnya ia menyerah dan pulang ke rumah. Mungkin kemarin adalah terakhir kalinya ia bisa memotret gadis itu, mengingat waktu yang dimilikinya memang sudah habis. Ya, Jungshin punya alasan dan tenggat waktu tersendiri untuk memotret gadis itu secara diam-diam seperti ini.

Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Jungshin melihat beberapa orang yang berkerumun di pinggir jalan. Karena penasaran, segera saja ia menghampiri kerumunan itu.

“Ada apa?” tanya Jungshin pada seorang wanita yang berdiri tidak jauh darinya.

“Sepertinya ada yang tertabrak.” Jawab wanita itu. Sesekali ia mendongakkan kepalanya untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang dikerubungi oleh orang-orang didepannya.

Sebenarnya tidak begitu sulit bagi Jungshin untuk melihat apa─atau mungkin siapa─yang sedang dikerubungi, mengingat postur badannya yang tinggi menjulang. Matanya membulat begitu melihat sekilas Seo Hyang sedang terduduk di pinggir jalan dengan wajah panik. Tanpa pikir panjang, Jungshin segera menyeruak diantara kerumunan itu dan menghampiri gadis itu.

“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Jungshin sedikit panik begitu berhasil menerobos kerumunan dan berjongkok dihadapan Seo Hyang.

“Blu…Bluey…” jawab Seo Hyang dengan suara tercekat, “Dia tertabrak mobil…”

Jungshin memandang ke arah yang sama dengan Seo Hyang. Dilihatnya anjing berbulu coklat keemasan itu terkapar tidak berdaya dengan kaki depan dan kepala yang mengeluarkan darah.

“Eo…eotteokhaji…??!!” tanya Seo Hyang lirih. Sambil terisak, ia menyentuh badan Bluey dan hendak mengangkatnya, namun mengingat bentuk badan Bluey yang besar, ia tidak kuat menggendongnya sendirian. Apalagi, orang-orang yang berkerumun di sekitarnya sedari tadi hanya melihat dan tidak ada yang mau menolongnya.

“Bluey! Bertahanlah! Jebal…” Seo Hyang semakin panik. Air matanya semakin mengalir deras tanpa mampu ia kendalikan. Pikirannya benar-benar kalut. Bagaimanapun juga, ia harus membawa Bluey secepatnya ke rumah sakit.

Jungshin melihat ke sekeliling. Tak lama kemudian, datanglah beberapa orang polisi lalu lintas dan petugas medis menghampiri mereka. Segera saja Jungshin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada para polisi itu.

“Tenanglah, kau bisa membawa Bluey ke rumah sakit dengan ambulance.” Jelas Jungshin menenangkan. Dengan hati-hati ia mengangkat Bluey yang berlumuran darah dan membawanya masuk ke mobil ambulance yang terparkir tidak jauh dari tempat itu.

“Masuklah.” Ujar Jungshin.

“Kau ikut.” Tahan Seo Hyang sambil menarik lengan kemeja yang dipakai laki-laki itu.

“M…mwo?”

“Aku mohon kau ikut. Temani aku…” pinta Seo Hyang di tengah isakannya yang belum mereda.

Jungshin menatap Seo Hyang lekat-lekat. Kasihan juga gadis itu jika harus menunggui Bluey di rumah sakit sendirian. Lagipula tampaknya dia sangat shock dengan kejadian yang menimpa anjing kesayangannya itu.

“Baiklah…” jawab Jungshin akhirnya. Ia pun ikut masuk kedalam mobil ambulance menemani Seo Hyang.

***

“Ini.”

Seo Hyang yang sedang melamun sedikit tersentak ketika tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kulit pipinya. Ia pun menoleh. Dilihatnya Jungshin sedang berdiri disampingnya sambil menyodorkan sekaleng lemon tea yang baru dibelinya di mesin penjual minuman yang berada di ujung lorong rumah sakit hewan tersebut.

“Kamsahamnida…” Seo Hyang mengedikkan kepalanya sekilas.

“Jangan bicara seformal itu.” Jungshin memposisikan dirinya duduk disebelah gadis itu dan meneguk minumannya, “Bagaimana keadaannya?”

Seo Hyang memandang pintu yang masih tertutup rapat dihadapannya dan menghela napas. Tadi Bluey dibawa masuk kedalam ruangan itu dan sampai sekarang dokter yang menanganinya belum juga keluar.

“Katanya dia baik-baik saja. Hanya patah tulang di kaki dan sedikit retak di kepala, itu akan sembuh dalam beberapa minggu.” Jelas Seo Hyang.

“Syukurlah kalau begitu.”

Seo Hyang mengangguk-angguk, meskipun masih merasa sedih, namun ia bersyukur karena Bluey masih bisa diselamatkan. Setidaknya ia tidak harus kehilangan hewan yang sudah dianggapnya sebagai sahabat baiknya itu.

“Ah, aku belum tahu siapa namamu.” Ujar Seo Hyang memecah keheningan.

“Jungshin. Namaku Lee Jungshin.”

“Aku Kim Seo Hyang. Jeongmal gomawo, Jungshin-ssi…” Seo Hyang mengulurkan tangannya ke arah Jungshin yang langsung disambut baik oleh laki-laki itu.

Gadis itu kemudian memperhatikan jam tangannya, “Ini sudah malam. Kau… tidak apa-apa terus menunggu disini?” tanyanya ragu.

“Justru aku khawatir padamu jika harus menunggu sendirian disini. Apa keluargamu tidak datang?”

Seo Hyang tidak langsung menjawab, “Orangtuaku sedang tidak ada di rumah. Aku sendiri anak tunggal. Jadi…”

“Ah, mianhae…” entah kenapa Jungshin menjadi merasa bersalah telah menanyakan hal itu.

“Gwaenchanha.” Balas Seo Hyang cepat sambil menyunggingkan senyum, “Sekarang kau pulanglah. Aku tidak apa-apa sendirian disini.”

Jungshin mendengus. Sebenarnya apa yang dipikirkan gadis itu? Mana mungkin dia meninggalkan gadis itu begitu saja di rumah sakit ini tanpa ditemani siapapun.

“Tidak. Aku akan menemanimu disini.” Kata Jungshin tegas.

“Ta…tapi…”

“Kau pasti belum makan kan? Ayo kita cari makan.” Jungshin bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan Seo Hyang, namun gadis itu tetap bertahan pada tempatnya.

“Aku… mau menunggu Bluey disini saja…”

“Baiklah, kalau begitu akan kubelikan makanan untukmu.” Jungshin menepuk pelan kepala Seo Hyang, kemudian bergegas keluar rumah sakit.

“Ah, tung…” kata-kata Seo Hyang terputus karena laki-laki itu sudah keburu berjalan menjauh.

“Dia benar-benar baik…”

Seo Hyang menyandarkan badannya ke kursi. Pikirannya menerawang. Tiba-tiba saja ia kepikiran dengan Jungshin. Padahal ini adalah pertemuan kedua mereka, namun entah kenapa mereka bisa cepat akrab selayaknya orang yang sudah berteman cukup lama. Apalagi, Jungshin juga sangat baik padanya. Selama ini Seo Hyang memang tidak mempunyai begitu banyak teman, dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Bluey. Dan kehadiran Jungshin membuat semangat hidupnya kembali lagi.

Tiba-tiba saja Seo Hyang merasakan kakinya menginjak sesuatu yang licin. Ia pun menoleh ke bawah. Dilihatnya selembar kertas yang terjatuh didekat kakinya. Diambilnya kertas yang ternyata adalah foto tersebut dan diperhatikannya baik-baik. Rasanya, gambar dalam foto itu tidaklah asing baginya.

Seo Hyang terperangah, “Bukankah ini… aku?”

Diperhatikannya lagi foto itu dengan seksama. Memang hanya berupa siluet, namun Seo Hyang sangat yakin bahwa itu adalah siluet dirinya yang sedang bermain bersama Bluey. Latar belakang foto adalah taman yang biasa dikunjunginya setiap sore. Memang bukan hanya dia saja orang yang membawa anjing ke taman, tapi ia berani bertaruh jika gadis yang membawa golden retriever dan frisbee kesana hanya dirinya seorang.

“Apa… ini milik Jungshin-ssi? Tapi… kenapa?”

“Maaf menunggu lama.” Tiba-tiba terdengar suara seseorang.

Seo Hyang tersentak. Pasti ia terlalu sibuk berpikir sehingga tidak menyadari kehadiran Jungshin yang sekarang sudah duduk kembali disampingnya. Laki-laki itu mengeluarkan lunch box berisi nasi lengkap dengan lauk-pauk dan memberikannya pada gadis itu.

“Di dekat sini hanya ada supermarket. Jadi aku hanya bisa membelikan itu.” Jelas Jungshin.

“Tidak apa-apa. Ini sudah cukup bagiku. Gomawo…” Seo Hyang menerima lunch box itu, namun ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Pikirannya masih dipenuhi dengan foto tadi. Jika benar itu milik Jungshin, apa alasan laki-laki itu memotret dirinya diam-diam?

“Wae geurae? Kenapa tidak langsung dimakan?” tanya Jungshin begitu melihat Seo Hyang yang hanya terdiam di tempatnya.

“Ah, Jungshin-ssi…” Seo Hyang sedikit mengubah posisi duduknya sehingga pandangannya sejajar dengan laki-laki itu, “Tadi aku menemukan ini.” Ia menunjukkan selembar foto yang tadi dipungutnya, “Apakah… ini milikmu?”

Jungshin memperhatikan foto tersebut. Sontak ia terkejut. Perasaan gugup mulai menyergapnya, “Ah, i…itu…”

“Jadi benar ini milikmu?”

Jungshin menelan ludah. Sepertinya tidak ada gunanya jika ia berbohong. Mungkin saat inilah waktu yang tepat untuk memberitahukan gadis itu yang sebenarnya.

Jungshin menghela napas panjang, “Yah, itu milikku…”

“Jadi selama ini kau… memotretku diam-diam?”

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Jawab Jungshin cepat, “Aku bukan seperti penguntit yang selalu mengikuti kemana kau pergi. Aku punya alasan untuk itu.”

“Alasan?”

Jungshin buru-buru merogoh tas kameranya dan mengeluarkan selembar kertas, kemudian menyodorkannya pada Seo Hyang, “Besok di kampusku akan ada pameran foto. Dan aku ikut berpartisipasi dalam acara itu.”

Seo Hyang membaca setiap tulisan yang tertera didalam pamflet dengan seksama, “Maksudmu… kau akan memamerkan fotoku dalam pameran ini?”

Jungshin mengangguk mantap, “Selama ini, aku tidak pernah sembarangan memilih objek untuk kupotret. Waktu itu aku tidak sengaja melihatmu dan Bluey di taman dan iseng kupotret. Setelah kulihat, ternyata hasilnya sangat bagus. Siluetmu di bawah langit senja benar-benar artistik. Teman-temanku bahkan memujinya.”

Seo Hyang tercenung. Benarkah ia semenarik itu didalam foto? Entah apa alasannya, yang jelas kata-kata Jungshin barusan sukses membuat wajahnya memanas.

“Kenapa… kau tidak mengatakan saja padaku yang sebenarnya?” tanya Seo Hyang sambil berusaha menutupi wajahnya yang memerah.

“Aku takut kau menolaknya… Lagipula aku ingin mengambil ekspresi alami darimu. Yang hanya bisa kudapat jika diambil diam-diam.” Jelas Jungshin.

Seo Hyang terdiam. Dalam hati ia menyesal karena hampir saja ia menuduh Jungshin yang tidak-tidak. Ternyata benar kata hatinya, Jungshin tidak mungkin melakukan hal yang rendah seperti menguntit.

“Mianhae…” desah Jungshin, “Mungkin ini salahku…”

“Tidak, akulah yang harusnya minta maaf. Hampir saja aku menuduhmu yang tidak-tidak.” Sela Seo Hyang.

Kemudian keduanya sama-sama terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Seo Hyang hanya bisa menunduk sambil memegangi lunch box yang ada di pangkuannya.

“Jadi, apa kau mau datang ke pameran besok?” tanya Jungshin hati-hati.

Seo Hyang menoleh, “Apa aku boleh?”

“Geureom. Aku ingin kau melihat hasil karyaku yang lain. Lagipula, orang-orang disana pasti penasaran siapa gadis yang sebenarnya ada didalam foto itu.”

Seo Hyang tampak menimbang-nimbang sejenak sebelum akhirnya mengangguk, “Baiklah, aku akan datang.”

“Gomawo.” Jungshin menyunggingkan senyumnya, berusaha sebisa mungkin menekan rasa bahagianya yang─sebenarnya─meluap-luap agar tetap terlihat wajar dihadapan gadis itu. Ingat, bagaimanapun juga gadis itu belum mengetahui perasaan Jungshin yang sebenarnya terhadapnya.

Seo Hyang membalas senyuman Jungshin. Senyumnya sangat manis sehingga mampu membuat Jungshin tidak bisa melepaskan pandangan darinya selama beberapa saat. Dirasakannya jantungnya mulai berdegup kencang di luar kendali.

Jungshin berdeham, berusaha menormalkan kerja jantungnya, “Sekarang kau makanlah. Sudah malam.”

***

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh para fotografer, baik fotografer profesional maupun yang masih amatir, karena di hari inilah mereka bisa menunjukkan karya mereka dalam sebuah pameran. Dalam pameran ini juga terdapat penghargaan yang akan dibagi kedalam beberapa kategori. Dan semua peserta yang ikut berpartisipasi dalam pameran kali ini memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkannya.

Namun tampaknya hari ini tidak begitu membahagiakan bagi Jungshin. Pasalnya, baru saja Seo Hyang mengirimkan pesan padanya bahwa ia tidak bisa datang ke acara pameran tersebut, karena harus menghadiri acara keluarga yang sangat penting setelah sebelumnya membawa pulang Bluey dari rumah sakit.

Jungshin menghela napas panjang. Meskipun kecewa, ia harus mengerti bahwa ia tidak bisa memaksakan kehendak. Seo Hyang mempunyai kehidupannya sendiri dan dia berhak mengambil keputusan dalam hidupnya. Lagipula jika dipikir-pikir, tentulah urusan Seo Hyang jauh lebih penting daripada dirinya yang bukan siapa-siapa.

“Jeogiyeo…” tiba-tiba suara seseorang membuyarkan lamunan Jungshin.

“Apa… foto-foto ini milikmu?” tanya laki-laki berbadan atletis yang berdiri tidak jauh dari tempat Jungshin berdiri. Laki-laki itu menunjuk ke arah kumpulan foto Seo Hyang yang sengaja dipajang di tempat tersebut.

“Ya. Ada apa?” kata Jungshin sedikit enggan.

Laki-laki itu tidak menjawab. Ia memperhatikan kumpulan foto itu sekali lagi sebelum berujar, “Gadis ini… Apa namanya Kim Seo Hyang?”

“Dari mana kau tahu?”

“Kebetulan aku sedang mencarinya. Apa kau tahu dimana alamatnya sekarang?”

Jungshin memperhatikan laki-laki itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ingin sekali rasanya ia bertanya bagaimana laki-laki itu bisa mengenal Seo Hyang dan apa hubungan mereka. Namun ia sadar, ia tidak memiliki kapasitas untuk bertanya sejauh itu.

“Aku tidak tahu.” Jawab Jungshin singkat.

“Kalau begitu, dimana terakhir kali kau bertemu dengannya?”

“Kalau boleh aku tahu, apa hubunganmu dengannya?” akhirnya Jungshin tidak tahan untuk menanyakannya juga.

Laki-laki itu tersenyum singkat, “Kami teman lama. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, jadi tidak tahu dimana dia sekarang.” Ia memandangi lagi kumpulan foto dihadapannya. Pandangannya berubah sendu.

“Oh ya, apa kau temannya?” tanya laki-laki itu lagi.

Jungshin memalingkan wajahnya ke arah lain, “Yah… kurasa begitu.”

“Kenalkan, namaku Ok Taecyeon. Kau?” laki-laki yang ternyata bernama Taecyeon itu mengulurkan sebelah tangannya ke arah Jungshin.

Dengan sedikit ragu Jungshin membalas uluran tangan itu, “Lee Jungshin.”

Tiba-tiba saja Jungshin merasakan ponselnya bergetar. Buru-buru ia berjalan menjauh dan melihat display ponselnya. Pesan dari Seo Hyang.

From: Kim Seo Hyang

Sebagai permintaan maaf karena tidak bisa datang, bagaimana kalau besok kita pergi ke pantai? Aku mau memotret sunset dan aku mau kau yang mengajariku.

Diam-diam Jungshin tersenyum. Kalau sudah begini… apa boleh ia menganggap hubungannya dengan Seo Hyang mengalami kemajuan?

To: Kim Seo Hyang

Bagaimana kalau kujemput di rumahmu saja?

***

Jungshin menghentikan BMW M3 hitam miliknya didepan sebuah rumah bergaya minimalis yang cukup besar. Ia sedikit membungkukkan badannya didepan setir dan memperhatikan bangunan tersebut.

“Sepertinya memang ini rumahnya.” Pikir Jungshin. Untuk lebih memastikan, ia pun mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Seo Hyang, pemilik rumah tersebut.

10 detik… 20 detik… namun Seo Hyang belum juga menjawab panggilan Jungshin. Jungshin mencoba menghubunginya sampai beberapa kali, namun hasilnya tetap sama. Gadis itu tetap tidak menjawab teleponnya.

Akhirnya Jungshin memutuskan untuk melepas seat belt-nya dan bergegas keluar dari mobil. Ketika hendak membuka pintunya, tiba-tiba saja ia melihat pintu pagar rumah Seo Hyang terbuka. Senyum di bibir Jungshin mengembang. Ia mengira pasti yang keluar adalah gadis itu.

Namun rupanya perkiraannya meleset. Memang benar yang keluar adalah Seo Hyang, namun gadis itu tidak sendiri. Didepannya ada seorang laki-laki yang juga ikut keluar bersamanya. Jungshin mengernyitkan dahi, berusaha mempertajam penglihatannya dan memastikan kalau ia tidak salah lihat. Laki-laki itu… Ya, laki-laki berbadan atletis itu adalah orang yang dilihatnya di pameran kemarin. Jungshin masih ingat laki-laki itu terus memperhatikan foto Seo Hyang dan menanyakan beberapa hal yang terkait dengan gadis itu.

“Taecyeon…” Jungshin mencoba mengingat nama laki-laki tersebut.

Senyum yang sempat terukir di wajah Jungshin perlahan memudar. Ia pun mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil dan memutuskan untuk memperhatikan kedua orang itu lebih lama lagi, berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan.

Dilihatnya Taecyeon berjalan mendahului Seo Hyang menuju Nissan Juke hitam yang terparkir tidak jauh didepan mobil Jungshin. Mungkin itu mobilnya. Dan tak lama kemudian Seo Hyang berjalan dengan tergesa-gesa menyusul Taecyeon. Meskipun hanya sekilas, namun Jungshin dapat melihat wajah pias kedua orang itu. Mungkin ada masalah di antara mereka. Entahlah.

Jungshin membuka matanya lebar-lebar begitu melihat Seo Hyang tiba-tiba saja memeluk Taecyeon, yang dibalas oleh pelukan hangat laki-laki itu. Karena posisi mereka yang sama-sama menyamping jika dilihat dari sudut pandang Jungshin, maka Jungshin dapat melihat dengan jelas bahu gadis berambut panjang itu yang naik turun, menandakan bahwa ia sedang menangis.

Tiba-tiba saja Jungshin merasakan dadanya sedikit sesak. Rasanya ia tidak sanggup lagi melihat semua kejadian itu. Tanpa sadar tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Hampir saja ia menuruti egonya untuk segera keluar dari mobil dan menghajar Taecyeon yang sudah berani membuat Seo Hyang menangis. Namun kemudian ia kembali berpikir, jika benar Taecyeon yang membuat Seo Hyang menangis, tidak mungkin gadis itu sengaja berlari ke pelukannya.

“BRAK!!!” Jungshin menghentakkan tangannya ke atas setir, kemudian menyandarkan keningnya disana. Diam-diam ia menertawakan dirinya sendiri yang menurutnya benar-benar bodoh. Harusnya ia mencari tahu lebih dulu siapa Seo Hyang sebenarnya dan mencari tahu segala hal tentangnya lebih jauh, sebelum besar kepala dan seenaknya menyimpulkan bahwa gadis itu memiliki kemungkinan untuk tertarik dengannya, dan ia memiliki kesempatan yang besar untuk mendapatkannya.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Jungshin bergegas memakai seat belt-nya kembali, kemudian menyalakan mesin mobilnya dan segera pergi meninggalkan tempat tersebut.

***

“Mungkin aku akan pulang agak malam. Ahjussi tidak perlu menungguku.” Ujar Seo Hyang pada Park ahjussi, supir pribadinya, dengan setengah berteriak. Maklum saja, suara deburan ombak dan angin laut yang berhembus kencang membuatnya terpaksa memperbesar volume suaranya.

“Tapi, agasshi…”

“Sudah ya, hati-hati di jalan!” Seo Hyang melambaikan tangannya sekilas pada pria paruh baya tersebut, kemudian berlari menuju pantai yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari tempat mobil itu terparkir.

Seo Hyang terus mempercepat langkahnya menuju pantai. Arah larinya yang berlawanan dengan arah angin sedikit menghambat pergerakannya, namun hal itu tidak ia hiraukan. Yang ia pikirkan adalah ia harus secepatnya menuju pantai dan bertemu dengan Jungshin. Ya, ia sudah berjanji dengan laki-laki itu untuk bertemu di pantai pada saat matahari terbenam dan memotretnya.

Setelah sampai di pinggir pantai, Seo Hyang menghentikan langkahnya dan menumpukan kedua tangannya di atas lutut untuk sekedar mengatur napasnya yang tersengal. Diliriknya jam tangannya. Sudah hampir pukul setengah enam, dan langit sudah mulai dihiasi semburat oranye, menandakan bahwa sebentar lagi matahari akan segera kembali ke peraduannya.

Seo Hyang melihat ke sekeliling. Suasana pantai itu tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang yang rata-rata semuanya adalah pasangan yang sengaja datang kesana untuk melihat sunset, sama seperti dirinya. Namun dari kesemua orang yang dilihat Seo Hyang, sama sekali tidak ada sosok Jungshin disana.

Seo Hyang melirik jam tangannya sekali lagi, kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Jungshin. Mungkin saja laki-laki itu lupa atau terkena macet di jalan sehingga belum sampai. Namun setelah beberapa kali menelepon, Jungshin tidak juga menjawabnya.

Seo Hyang memperhatikan display ponselnya dan mendengus, “Apa aku terlambat?” pikirnya. Mungkin saja Jungshin sudah sangat bosan menunggunya sendirian di pantai ini dan memutuskan untuk pulang.

Timbul rasa bersalah dalam diri Seo Hyang. Seharusnya tadi ia mengabarkan dimana posisinya sehingga Jungshin tidak perlu menunggunya terlalu lama, jika memang benar begitu. Tapi mungkin saja Jungshin memang belum datang.

Seo Hyang menjatuhkan tas kameranya ke atas pasir dan kemudian duduk disampingnya. Dipandangnya pantai yang berlatarbelakang matahari terbenam sejauh jangkauan matanya, sambil menikmati hembusan angin yang cukup kencang menerpa tubuhnya. Gadis itu memandangi tas kameranya, kemudian mengeluarkan isinya. Ia pun memutuskan untuk mencoba memotret pemandangan itu sendiri, namun hasilnya tidak sebagus yang ia inginkan.

“Seharusnya Jungshin-ssi mengajariku dasar-dasar memotret yang baik.” Seo Hyang mengerucutkan bibirnya. Ia lalu memasukkan kembali kamera itu kedalam tasnya dan duduk sambil memeluk kedua lututnya, mencoba menunggu Jungshin sebentar lagi.

Waktu demi waktu berlalu, namun Jungshin tidak juga menampakkan batang hidungnya. Ia juga tidak menghubungi Seo Hyang sama sekali dan gadis itu juga masih tidak bisa menghubunginya. Seo Hyang menggigit bibir bawahnya. Pasalnya matahari sudah tenggelam beberapa saat yang lalu dan ia tidak berhasil memotretnya sekalipun.

Seo Hyang semakin merapatkan kedua lengannya dan menggosok-gosokkannya. Angin pantai terasa semakin dingin, dan hari sudah semakin gelap. Dilihatnya jam tangannya─entah sudah yang keberapa kali─dan terkejut begitu mengetahui kalau sekarang sudah hampir pukul delapan malam.

“Jinjja?! Sudah berapa lama aku duduk disini?!” tanyanya pada diri sendiri.

Seo Hyang melihat ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa lagi di pantai itu selain dirinya. Pasti tadi ia melamunkan banyak hal sehingga lupa waktu.

Seo Hyang menghela napas berat. Ternyata Jungshin benar-benar tidak datang. Ia merasa sangat kecewa. Bukan kecewa karena laki-laki itu tidak datang dan ia tidak jadi memotret, melainkan kecewa karena laki-laki itu tidak memberikannya kabar sedikitpun kalau ia tidak bisa datang.

Ketika hendak berdiri dan memutuskan untuk pulang, tiba-tiba saja selembar kertas terbang ke arah Seo Hyang dan mengenai kepalanya. Cepat-cepat Seo Hyang mengambil kertas itu dan memperhatikannya. Matanya membulat begitu mengetahui bahwa yang mengenainya tadi adalah kertas foto, dan bukan sembarang foto. Itu adalah foto dirinya. Dan Seo Hyang tahu persis siapa pemiliknya.

Seo Hyang buru-buru bangkit berdiri dan mencari orang yang sudah menjatuhkan foto tersebut sehingga mengenai dirinya. Senyumnya mengembang begitu melihat sesosok pria tinggi dengan rambut panjang sebahu yang berdiri beberapa ratus meter dari tempatnya. Segera saja Seo Hyang berlari menghampiri laki-laki itu.

“Jungshin-ssi!” panggil Seo Hyang sambil tetap berlari. Meskipun terlambat, namun ia senang karena ternyata Jungshin masih tetap datang ke pantai itu.

Namun yang dipanggil tidak menoleh. Jungshin tetap berdiri mematung di tempatnya sambil memandangi laut yang terbentang luas dihadapannya.

“Ya~! Jungshin-ssi!!” panggil Seo Hyang sekali lagi. Namun Jungshin tetap tidak bergeming.

Seo Hyang terus mempercepat langkahnya menghampiri Jungshin. Ekspresi bahagia yang terpancar di wajahnya seketika berubah begitu melihat dari dekat apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh laki-laki itu. Jungshin menggenggam beberapa lembar foto dirinya yang diambil diam-diam tempo hari, merobeknya menjadi beberapa bagian, kemudian menerbangkannya begitu saja ke udara, atau sesekali melemparnya ke laut. Membiarkan serpihan-serpihan kertas foto itu ikut tersapu ombak dan hilang entah kemana.

Seo Hyang segera mendekati Jungshin dan menarik kemeja yang dipakainya dengan kasar, “Ya~! Apa yang kau lakukan?!!”

Jungshin menoleh, dan sedikit tersentak begitu melihat Seo Hyang sudah berada disampingnya. Ia mengira gadis itu sudah pulang sejak tadi dan tidak mungkin masih berada di pantai ini hanya untuk menunggunya. Namun kemudian ekspresinya kembali datar.

“Ya~, Jungshin-ssi! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau membuang foto-foto itu?!” Seo Hyang terus menarik-narik lengan kemeja Jungshin. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Karena sudah tidak berguna lagi.” Jawab Jungshin enteng.

“Tidak berguna? Apa maksudmu?!” Seo Hyang merebut beberapa lembar foto dalam genggaman Jungshin sebelum laki-laki itu membuangnya lagi, “Jawab aku, Lee Jungshin!!”

Jungshin tidak langsung menjawab. Ia membalikkan badannya menghadap Seo Hyang dan meletakkan sebelah tangannya di bahu gadis itu, “Mianhae, Seo Hyang-ah. Aku memang stalker pengecut.” Ia pun lalu berjalan meninggalkan gadis itu.

“Apa maksudmu?! Aku tidak mengerti!” ujar Seo Hyang setengah berteriak, berharap agar laki-laki itu mau menghentikan langkahnya dan kembali berbalik ke arahnya. Namun rupanya sia-sia saja, karena Jungshin terus melanjutkan langkahnya.

Melihat itu, Seo Hyang memutuskan untuk segera membuka sepatu keds yang dipakainya, menggulung celana jeans panjangnya sampai sebetis, kemudian mulai memunguti satu per satu robekan foto-foto tadi. Tidak semuanya dapat ia kumpulkan, karena sebagian besar sudah hilang tersapu ombak yang semakin besar di malam hari. Namun Seo Hyang tidak menyerah. Ia terus mengumpulkan foto-foto itu, bahkan mengejar beberapa foto yang masih utuh dan terbang tertiup angin.

Merasa ada yang tidak beres, Jungshin memutuskan untuk membalikkan badannya. Ia sangat terkejut melihat apa yang tengah dilakukan Seo Hyang. Tanpa pikir panjang ia segera berlari menghampiri gadis itu sebelum dia berjalan lebih jauh kedalam air.

“Bodoh! Apa yang kau lakukan?!” Jungshin menarik tangan Seo Hyang untuk menghentikan langkah gadis itu. Pada malam hari ombak dan angin yang berhembus semakin besar dan jika tidak segera ditahan, maka kemungkinan besar gadis itu bisa terseret ke laut.

“Harusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan?! Kenapa membuang foto-foto itu?!!” kata Seo Hyang gusar. Ia hendak membungkuk untuk mengumpulkan foto-foto itu lagi, namun Jungshin sudah lebih dulu menahannya.

“Lepaskan! Aku harus mengumpulkan foto-foto itu!!” Seo Hyang berusaha melepaskan cengkeraman tangan Jungshin pada lengannya, namun kekuatan Jungshin jauh lebih besar.

“Kau gila?! Kau bisa terseret!!” Jungshin tidak kalah gusar. Segera saja ia menggendong gadis itu dan membawanya ke tepi pantai tanpa memberikan sedikitpun Seo Hyang kesempatan untuk memberontak.

Setelah sampai di tepi, Jungshin menurunkan gadis itu dan mengajaknya pulang, namun Seo Hyang menepis tangan Jungshin dan duduk sambil menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.

Jungshin menghela napas, kemudian berjongkok dihadapan gadis itu dan memandangnya, “Seharusnya kau tidak perlu mengambil barang yang sudah dibuang.”

Seo Hyang mengangkat kepalanya cepat. Terlihat air mata sudah membasahi pipinya, “Memang kau anggap apa foto itu?! Kau sudah susah payah mendapatkannya! Foto itu penting bagimu dan penting juga bagiku!!”

Jungshin tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka Seo Hyang sampai menangis seperti ini. Gadis itu benar-benar terlihat sangat sedih dan kecewa.

“Aku tidak mau menyimpan foto orang yang sudah memiliki kekasih.” Jungshin memalingkan wajah.

“Kekasih? Kekasih siapa maksudmu?!” tanya Seo Hyang masih dengan nada emosi.

Jungshin mendengus. Ia lalu bangkit berdiri dan hendak meninggalkan Seo Hyang. Jujur, ia tidak mau membahas masalah yang membuatnya sakit hati itu.

“Padahal… akhirnya aku bisa berteman lagi…” ujar Seo Hyang dengan suara bergetar. Suaranya sangat lirih sehingga hampir tenggelam di tengah suara deburan ombak, namun entah kenapaa Jungshin bisa mendengarnya dengan jelas. Ia pun menghentikan langkahnya dan menatap gadis itu lekat-lekat.

“Setelah kematian kakakku dan Bluey yang cedera… hanya kaulah satu-satunya orang yang berada di sisiku… Aku… ingin sekali berteman baik denganmu…” Seo Hyang memeluk kedua lututnya erat, membiarkan butir-butir air mata jatuh membasahi pipinya.

“Bagaimana dengan Taecyeon?”

Seo Hyang mendongak, “Taecyeon? Maksudmu… Ok Taecyeon?”

Jungshin mendengus lagi.

Seo Hyang kembali menundukkan kepalanya, “Dia… dia adalah kekasih eonni-ku. Selama ini dia tinggal di Jepang, dan tidak tahu-menahu keadaan eonni. Dia benar-benar sangat sedih begitu mengetahui bahwa eonni telah meninggal. Sebagai adik, aku… aku…” gadis itu tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena tangisnya keburu pecah.

Jungshin tercekat. Rupanya apa yang dilihatnya di rumah Seo Hyang tadi tidaklah seperti yang dia pikirkan. Diam-diam ia merutuki dirinya sendiri yang sudah seenaknya mengambil kesimpulan dan membuat kesalahpahaman seperti ini. Ia pun kembali berjongkok dihadapan Seo Hyang dan mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut.

“Sudahlah…”

Bahu Seo Hyang bergerak naik turun. Gadis itu masih menangis sesenggukan.

“Padahal… aku… mulai menyukaimu…”

Mata Jungshin membulat, “K…kau… menyukaiku?”

Seo Hyang menghela napas berat, kemudian menunduk. Ia pun mengangguk perlahan.

Jungshin mendecak kecil. Pernyataan cinta Seo Hyang malah membuat rasa bersalahnya bertambah berkali-kali lipat. Ia baru tersadar kalau ia benar-benar salah paham. Harusnya ia tahu, dan perbuatan bodoh tadi tidak perlu dilakukan.

Jungshin mendekatkan badannya ke arah Seo Hyang, menghapus air mata gadis itu dengan jarinya, kemudian menarik gadis itu kedalam pelukannya.

“Mianhae, Seo Hyang-ah… Jeongmal mianhae…”

***

Beberapa hari kemudian…

“Haaatchii…!! Haaatchiii…!!” Seo Hyang menutup mulut dan hidungnya dengan tissue, kemudian menggosok-gosok hidungnya yang gatal dan mulai memerah.

“Benar kan, agasshi? Saya sudah mencegah untuk datang ke pantai itu, tapi agasshi tetap nekat kesana. Makanya jadi sakit begini…” ujar Park ahjussi, yang kebetulan sedang berada di kamar Seo Hyang untuk melihat bagaimana kondisi majikannya itu.

“Ahjussi ini bagaimana? Bukan pantainya yang membuatku sakit!” Seo Hyang mengerucutkan bibirnya, kemudian menarik selimut tebalnya sampai menutupi kepala.

“Aish! Benar-benar memalukan! Musim panas begini aku malah demam!” gerutu Seo Hyang dalam hati. Sudah lebih dari tiga hari ia sakit namun demamnya belum kunjung sembuh. Mungkin ini akibat dia nekat menceburkan kakinya ke laut tempo hari sehingga bajunya menjadi basah, ditambah dengan terpaan angin laut yang dingin.

“Guk! Guk!” tiba-tiba Bluey yang sedang duduk di atas keranjang tidurnya menyalak.

Seo Hyang yang sudah setengah tidur mengulurkan tangannya ke atas kepala Bluey yang memang berada di bawah ranjangnya, kemudian mengelusnya lembut tanpa mengubah posisi tidurnya, “Aku tahu kau kasihan padaku. Ya, aku memang kasihan…”

“Guk! Guk!” Bluey kembali menyalak. Kali ini ia menggigit lengan piyama yang dikenakan Seo Hyang dan menariknya pelan, seolah meminta gadis itu untuk bangun.

Dengan sedikit enggan Seo Hyang mendudukkan badannya. Ia masih merasa pusing dan malas untuk bangun, “Ada apa, Bluey? Kenapa ribut begitu?”

“Guk!” Bluey menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar yang baru terbuka. Seo Hyang mengikuti arah pandang anjing itu, dan terkejut begitu melihat siapa yang berdiri disana.

“Ju…Jungshin-ssi…?” tanyanya tidak percaya.

Jungshin tersenyum lembut. Ia lalu berjalan perlahan menghampiri tempat tidur Seo Hyang dan duduk di tepinya, “Bagaimana keadaanmu?”

“Aku ba…. Haaatchii…!!!” sontak Seo Hyang menutupi hidung dan mulutnya dengan selimut, kemudian membersihkannya dengan tissue, “Cuma agak sedikit bersin…”

“Benarkah?” Jungshin mencondongkan badannya ke arah Seo Hyang dan menempelkan telapak tangannya ke dahi gadis itu, “Badanmu hangat. Sepertinya demammu belum turun.”

Seo Hyang mendecak. Apa badannya selemah itu sampai-sampai demam saja harus sampai berhari-hari?

“Mianhae, Jungshin-ssi. Seharusnya kau tidak kesini. Nanti kau tertular.”

Jungshin kembali menyunggingkan senyumnya, “Aku mau memberikanmu ini.” Ia mengeluarkan sebuah kotak persegi pipih yang berukuran cukup besar dari balik punggungnya dan memberikannya pada gadis itu.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Dengan rasa penasaran yang besar, Seo Hyang pun membuka kotak yang dibungkus kertas kado tersebut, dan terpana begitu melihat isinya.  Kotak itu berisi pigura besar yang membingkai sebuah gambar pemandangan matahari terbenam di pantai. Bukan gambar biasa, karena gambar itu dibentuk dari robekan-robekan foto yang jika diperhatikan baik-baik, akan diketahui bahwa itu adalah potongan foto-foto Seo Hyang yang dirobek Jungshin tempo hari. Ternyata Jungshin mengumpulkannya kembali dan menempelkannya menjadi satu bentuk yang baru.

“Maaf kalau aku baru bisa memberikannya sekarang. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan foto-foto itu lagi, dan membuat mozaik sunset itu.” Jelas Jungshin jujur. Ia sengaja membuat karya itu sebagai permintaan maaf karena telah salah paham pada Seo Hyang.

Seo Hyang masih terpesona melihat mozaik itu. Ia benar-benar tidak menyangka Jungshin akan membuatkannya karya seindah ini. Pemandangan matahari terbenam itu benar-benar mirip seperti aslinya, bahkan lebih bagus daripada yang ia potret waktu itu.

“Ini… benar-benar untukku?” tanyanya masih tidak percaya.

“Tentu saja.” Jawab Jungshin mantap, “Bukankah kau sendiri yang bilang mau memotret matahari terbenam? Mungkin itu memang bukan foto, tapi… kuharap itu bisa cukup untuk menggantikan apa yang seharusnya kau dapatkan di pantai waktu itu…”

“Kau ini bicara apa? Ini lebih dari cukup.” Seo Hyang menatap Jungshin lekat-lekat, “Gomawo, Jungshin-ssi. Jeongmal gomawo…”

Melihat wajah Seo Hyang yang sangat bahagia, diam-diam Jungshin ikut tersenyum. Ia lega karena kesalahpahamannya dengan Seo Hyang bisa diselesaikan dengan baik. Ternyata memang tidak ada hubungan apa-apa antara gadis itu dan Taecyeon, hanya rasa simpati sebagai orang yang sama-sama dekat dengan kakak Seo Hyang. Dan baru saja Jungshin mendengar dari Han ahjumma, kepala pelayan di rumah Seo Hyang, bahwa Taecyeon sudah kembali ke Jepang keesokan harinya setelah mengunjungi makam kakak Seo Hyang. Bukan berita yang penting bagi Jungshin sebenarnya, namun ia cukup berterima kasih karena dengan begitu ia tidak perlu lagi menerka-nerka dan menimbulkan kesalahpahaman baru nantinya.

“Tapi kau tidak bisa mendapatkan itu dengan gratis.” Ujar Jungshin tiba-tiba.

Seo Hyang tersentak, “Jadi, aku harus bayar?!”

Jungshin menggeleng, “Kau harus menjawab pertanyaanku.”

“Apa itu?”

“Maukah kau menjadi pacarku?”

-The End-

___________________________

Hai, aku balik lagi. Kali ini dengan main cast Lee Jungshin😀

Dengan ini berarti total udah 3 FF yang aku bikin, pertama dengan main cast Jonghyun (Burning), kedua Minhyuk (Lovely), dan yang ketiga Jungshin (Untouchable). Jadi kalian udah bisa nebak dong siapa main cast di FF selanjutnya? Yep, Yonghwa! Hahaha, aku ga tau yang selanjutnya mau di-publish kapan, jadi tungguin aja ya😀

Sampe ketemu di FF selanjutnya!

 

 

 

 

6 thoughts on “Soirée

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s