Spring’s Tears

 

 

Tittle                :  Spring’s Tears

Cast                 :  CNBLUE/OC ; Jonghyun/Jieun/Hye In/Donghae

Genre              :  Friendship/angst/romance

Length             :  Oneshot

Rating             :  All Ages

Author             :  Yen Yen Mariti

Disclaimer       :  FF ini pernah dipost di sebuah fanpage di facebook, dengan versi yang berbeda. Ini adalah ff remake, karena sebetulnya ff ini ada dua part, kemudian saya edit menjadi oneshot saja. Selamat membaca, semoga kalian terhibur dan jangan lupa tinggalkan saran/kritik anda ^^

BackSound ;  SM The Ballad – Miss You,  Apink – Like Dream (atau lagu apapun, yang bergenre ballad ^^)

»»»»

“I can’t laugh

even if I laugh, I can’t remember

today seems like a dream too

once I open my eyes, it will disappear

you don’t seem to be beside me” –Lee Jieun

 

NEW YORK , 2013

 

Gadis itu duduk di atas kursi rodanya di tepi jendela kamar yang terletak di tingkat empat. Matanya memerhatikan sekumpulan anak sekolah yang tengah asyik bercengkrama satu sama lain sambil memamerkan kertas-kertas mereka. Walau mereka tidak memakai seragam sekolah seperti yang dilakukan murid di Korea, namun gadis itu tahu mereka adalah siswa SMA.

Senyum samar menghiasi wajah gadis bernama Lee Jieun itu. Rasa iri menguasai hatinya. Ingin rasanya ia bergabung bersama mereka. Bercerita,tertawa,belajar dan banyak hal lain yang sangat ingin dilakukannya, mengingat ia tidak sempat menyelesaikan masa SMAnya. Ia hanya dua tahun menduduki bangku SMA. Sembilan tahun berlalu, namun gadis itu masih merindukan saat-saat itu.

-Flashback On-

 

SEOUL, 2004

“Ingat. Jangan sampai membahayakan kesehatanmu. Dan saat Oppa menjemputmu nanti kau harus siap. Kita berangkat.”

Jieun membusungkan dada lalu menyela ucapan Donghae dengan cepat, “Arrasseo, arrasseo. Aku akan melakukan semua yang kau perintah, Oppa. Sudah dulu ya, pelajaran akan dimulai.”

Tanpa minta persetujuannya, Jieun memutus sambungan. Terlihat tidak sopan, memang. Tapi tolong mengertilah. Jieun lelah mendengar segala ocehannya yang sama setiap hari.

Jieun lelah. Sangat. Ingin rasanya memiliki hari seperti dulu. Tanpa ada suara-suara cemas dari orang-orang yang ditujukan untuknya. Jieun bisa bermain semaunya.

Harinya yang indah berubah begitu saja sejak orang-orang terdekatnya mengetahui bahwa ia menderita sebuah penyakit mematikan.

Kadang Jieun ingin cepat mati, namun kadang Jieun ingin hidup lebih lama.

 

Jieun merebahkan kepalanya di atas meja. Ia melihat ke sebelahnya, Hye In sedang sibuk menulis pada selembar kertas.

“Jangan mengintip!” Hye In menutup kertasnya dengan buku saat Jieun berusaha melihat apa yang ia tuliskan.

“Kau menulis surat? Untukku?” tanya Jieun dengan suara penuh, karena pipinya merata dengan meja.

Eo..” jawabnya pelan. “Maka dari itulah, jangan mengintip,” sambungnya lagi.

Jieun melempar senyum persetujuan padanya.ia kembali menorehkan pulpen tintanya di atas kertas tadi.

Suasana kelas hari ini riuh, maklum saja ini adalah jam kosong. Seperti surga bagi murid-murid.

Jieun mengedarkan pandangan ke seluruh kelas. Bisakah Jieun mendengar suara riuh seperti ini lagi suatu hari nanti? Duduk di bangku siswa dengan seragam sekolah seperti ini lagi??

Pandangan Jieun terhenti di salah satu meja murid. Terlihat seorang laki-laki yang mengenakan seragam sama sepertinya tengah menyandarkan kepalanya di atas meja. Wajahnya tampak kebosanan.

Diam-diam, Jieun memerhatikan wajahnya. Setiap guratan wajahnya tampak begitu indah di matanya. Tanpa sadar Jieun tersenyum penuh arti saat memerhatikan wajahnya.

“Apa kau merindukannya?” Hye In menyikut siku Jieun. Sepertinya ia sudah selesai menulis surat untuk Jieun.

“Pasti kau ingin kembali padanya,”  kata Hye In lagi sambil melipat kertas dan memasukkannya ke dalam amplop cantik berwarna soft pink.

Baboya!” umpat Jieun padanya.

Dapat Jieun dengar Hye In tertawa renyah. Ia menertawai Jieun.

Jieun kembali ke aktivitasnya semula, memandanginya. Ia sungguh begitu tampan. Mengingat pertanyaan Hye In tadi, apakah aku merindukannya ? iya. Jika saja diberi kesempatan untuk kembali padanya Jieun pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Karena Jieun masih sangat mencintainya. Mantan kekasih Jieun, Lee Jonghyun.

 

-Flashback Off-

 

“Apa yang kau lihat?”

Jieun menggerakkan kepala ke belakang, ke arah pintu yang baru saja dibuka oleh seorang pria yang paling dekat dengannya selama seumur hidup. Dia Lee Donghae, kakak kandung Lee Jieun.

“Sedang memikirkan sesuatu?” tanya Donghae lagi yang kini sudah berada di samping kursi roda adik perempuannya.

Jieun Menggeleng disertai senyumannya yang samar.

“Sudah makan sarapanmu, Jieunnie?”

Jieun mengangguk tanpa menatap wajah orang yang bertanya.

“Bagaimana dengan obatmu? Sudah diminum ?”

Lagi-lagi Jieun mengangguk, namun kali ini disertai dengan menatap wajah Donghae dengan tatapan malas.

“Kau harus istirahat Jieun-a,” Donghae mengambil alih kursi roda Jieun lalu mendorongnya pelan menuju ranjang putih yang terletak di tengah ruangan. Membantu gadis itu naik ke atas ranjangnya dan membaringkannya di sana.

“Kau harus istirahat, hari ini Hye In akan datang mengunjungimu. Kau pasti tidak ingin terlihat lemah di depannya kan?” tanya Donghae. Ia menyelimuti tubuh adiknya hingga menutupi seluruh tubuh dan hanya menyisakan kepala.

Oppa, bangunkan aku jika Hye In sudah datang,” gadis itu meminta dengan suara lemahnya.

Arasso, tidurlah.” Donghae mengecup kilat poni tipis Jieun, lalu berjalan ke arah sofa yang berada di samping jendela. Ia  meraih bukunya dan menyenderkan kepala di sana.

 

Jieun. Gadis itu belum juga menutup mata untuk tidur. Dalam diam ia memandangi seluruh isi ruangan putih yang sudah sembilan tahun ia tempati seperti rumahnya sendiri. Namun anehnya ia merasa terkurung setiap berada di ruangan ini, bangunan ini. Tidak ada teman selain Donghae dan para dokter-suster. Ini rumah sakit.

 

 

“Jieun-a,” Donghae mengguncang pelan lengan gadis yang tertidur pulas di atas ranjangnya.

“Jieun-a,” masih dengan suara tenangnya, Donghae mencoba membangunkan adiknya.

“Lee Jieun…”

“Ah…ne?” gadis itu membuka perlahan matanya, menatap Donghae sambil mengerjapkan mata berkali-kali.

“Mereka sudah datang,” Donghae memberitahu sambil tersenyum gembira.

“He?” gadis itu tampak tidak percaya. Dan benar di belakang Donghae ia lihat sahabatnya berdiri, tersenyum ke arahnya. Dia adalah Choi Hye In, sahabat yang sudah sembilan tahun tidak pernah ia temui secara langsung, hanya lewat surat, telepon, email dan video chat.

“Hye In-a,” panggilnya serak. Hampir menangis saking bahagianya menyadari sahabatnya kini benar-benar berada di sini. Bersamanya.

“Apa kabar ?” Hye In memeluk tubuh Jieun. Ia juga merasakan hal yang sama dengan Jieun, rindu yang amat sangat.

“Kapan kau datang?” tanya Jieun saat mereka melepas pelukan.

“Baru saja,” jawab Hye In. Lagi-lagi gadis itu tersenyum.

“Aku merindukanmu,” ujar Jieun tulus. Hye In terharu lalu mengatakan hal yang sama pula pada Jieun.

“Kau sendirian?”

Hye In menggeleng, “Tidak. Bersama seseorang.”

Baru saja Jieun hendak bertanya pada Hye In ia datang bersama siapa, mata Jieun lebih dulu menemukan sesosok Pria selain Donghae ada di kamarnya. “Jonghyun….?” ia mengucapkan nama itu setengah tak percaya. Tenggorokannya rasanya tercekat, tiba-tiba saja ia ingin menangis. Namun ia tahu, ia tidak boleh menangis.

“Hai. Apa kabar?” tanya Jonghyun dengan nada sesantai mungkin.

Jieun menelan ludahnya sebelum menjawab pertanyaan itu,”Ya, aku baik.”

 

 

Mereka bertiga menyusuri taman kecil yang ada di samping rumah sakit. Jonghyun mendapat tugas jadi tukang dorong kursi roda yang diduduki Jieun dan Hye In berjalan tepat di sampingnya, dengan langkah yang sama jedanya dengan gerakan roda. Mereka mengobrolkan banyak hal, mengingat masa SMA yang pernah dilaluinya dulu. Tidak ada kesedihan sedikitpun menghiasi wajah kedua gadis itu dan satu pria itu.

 

“Tunggu di sini. Aku mau beli kopi,” ujar Hye In saat tiba di bangku panjang di bawah pohon besar nan rindang.

“Aku tidak boleh minum kopi,” Jieun menanggapi ujaran Hye In dengan cepat. Hye In menggaruk tengkuknya, tersenyum kikuk ke arah Jonghyun maupun Jieun.

“Soya saja,” Jonghyun ikut menimpali. Hye In mengangguk, sedangkan Jieun melongo tak percaya. Bagaimana bisa? ternyata Jonghyun masih ingat minuman kesukaannya.

“Mmm..aku mau soya,” kata Jieun agak kikuk.

Hye In melambaikan tangan lalu berjalan meninggalkan taman. Jieun memandangi punggung sahabatnya dengan senyum senangnya. Ia tahu membeli minuman hanyalah sebuah alasan Hye In, gadis itu hanya ingin memberi ruang antara dirinya dan Cho Jonghyun agar bisa berbicara lebih leluasa tanpa merasa terganggu sedikitpun. Dan Jieun rasa Hye In mengerti betul bagaimana perasaan Jieun pada Jonghyun. mengingat tadi ia sering tersenyum dan salah tingkah saat Jonghyun menggodanya.

 

“Apa kabarmu, tuan Cho Jonghyun?” mulai membuka percakapan, gadis itu tersenyum ke arah Jonghyun yang duduk di bangku panjang di depannya.

“Hmm… kabarku? Seperti yang kau lihat Lee Jieun.”

“Kau sepertinya banyak berubah.”

Jonghyun mengangkat alis, “Berubah bagaimana?”

“Jauh lebih tampan dibanding sembilan tahun yang lalu. Kau juga sudah dewasa tampaknya. Lembut,perhatian,hangat, dan….” gadis itu meletakkan telunjuk di bawah bibirnya, ia sedang berpikir. “Tapi aku tidak tahu apa hobimu bermain game juga berubah?”

Terdengar gelak tawa Jonghyun terbang bersama angin musim semi siang itu, “Kau ada-ada saja.” Ia mengacak pelan rambut Jieun.

“Ternyata masih jahil ya.. suka mengacak-acak penampilanku yang sudah sangat rapi hari ini.” Jieun mengerucutkan bibir menatap Jonghyun. tentu saja itu untuk melindungi wajah malunya yang hampir saja terlihat oleh Jonghyun. debaran jantung Jieun tak menentu, gerakan tangan Jonghyun mengacak-acak rambutnya, ah…benar-benar !

“Bagaimana denganmu, Lee Jieun?”

“Eh?”

“Bagaimana kabarmu?”

“Menurutmu bagaimana?”

“Kau ini, selalu saja membuat orang-orang berpikir dua kali saat bertanya padamu,” ujar Jonghyun pura-pura kesal.

Gadis itu terkikik sendiri,”Seperti yang kau lihat,” jawabnya kemudian. Lalu ia kembali terkikik, Jonghyun juga kembali mengacak rambutnya lalu mereka tertawa bersama.

“Apa kau benar-benar tidak bisa berjalan lagi?” tanya Jonghyun agak ragu, takut gadis di hadapannya akan tersinggung.

Namun salah, gadis itu malah tersenyum, “Bisa. Hanya saja Donghae Oppa tidak mengizinkan. Aku suka terjatuh jika terlalu banyak berjalan, maka dari itu Donghae Oppa memintaku pakai kursi roda saja. Dia bilang itu agar lututku tidak sering terluka lagi.”

Jonghyun mencoba memerhatikan tubuh Jieun. Ke arah lutut, namun sayang gadis itu mengenakan jeas panjang yang melindungi seluruh tubuh bawahnya.

Hening sesaat. Jieun mengalihkan pandangan. Dipandanginya pohon sakura tiruan yang ada di taman itu. ia menghela nafas, di Korea pohon sakura pasti belum berbunga. Jelas, bukankah ini awal Maret, musim semi juga baru datang minggu lalu. Berarti masih sekitar dua minggu lebih baru bunga sakura akan berbunga. Dan sayangnya saat bunga sakura mekar nanti ia tidak bisa ikut festival Cherry Blossom, berhubung ia ada di New York dan harus menjalani perawatan.

“Bagaimana kabar Victoria eonnie?” tanyanya setelah agak lama memandangi pohon sakura tiruan.

Jonghyun melipat tangan di depan dada,”Baik-baik saja….dan kami sudah berpisah.”

Terkejut. Itulah yang dirasakan gadis itu saat Jonghyun berkata ‘kami sudah berpisah’.

“Bagaimana bisa?” tanyanya lagi, masih dengan rasa terkejutnya.

“Setelah dia lulus dia kuliah ke China. Jadi rasanya sulit untuk menjalani hubungan Long Distance. Kami akhirnya memutuskan untuk berpisah,” Jonghyun berkata dengan santai namun matanya menerawang kosong langit musim semi hari itu. terlihat sangat biru.

“Sudahlah. Itu telah berlalu. Hanya sejarah. Sekarang aku punya kehidupan baru, tanpa dia. Namun terasa lebih bahagia,” sedetik kemudian Jieun dapat melihat senyum mengukir wajahnya. Jonghyun tampak sangat bahagia. Tapi ada yang tidak dimengerti Jieun, ‘Sekarang aku punya kehidupan baru, tanpa dia. Namun terasa lebih bahagia’. Itu maksudnya apa?

Jieun menimbang-nimbang di dalam hati, apakah seharusnya ia bertanya apa maksud kalimat tadi ? tapi …..

“Lama menunggu?” Hye In tiba-tiba terlihat sudah di taman, membawa dua kaleng kopi dan soya dengan senyum merekah. Itu cirikhas seorang Choi Hye In.

“Kau sudah datang,” ucap Jieun agak kecewa. Sirna sudah keinginannya untuk bercakap-cakap lebih lama dengan Jonghyun.

 

 

“Apakah harimu menyenangkan?” tanya Donghae yang tengah membantu Jieun berbaring di kasurnya.

“Sangatttt menyenangkan,” jawab gadis itu dengan mata berbinarnya. Donghae tersenyum, seakan puas dengan jawaban adiknya tadi.

Jieun melirik kedua orang di sisi ranjangnya, Jonghyun -Hye In.

“Kapan kalian akan datang lagi?” tanya Jieun semangat.

“Besok kami pasti datang. Iya kan Jonghyun?” Hye In melirik Jonghyun yang berdiri di sampingnya. Pria itu mengangguk disertai senyuman tulus.

“Jam berapa? Agar aku bisa bersiap-siap,” tanya Jieun lagi. Kali ini sangat antusias.

“Sepuluh pagi, nah sekarang kau istrirahatlah. Aku tidak mau melihat wajah lelahmu besok.” Jonghyun mengacak rambut Jieun. Gadis itu tersenyum salah tingkah.

Arasso.”

 

Jonghyun -Hye In keluar kamar Jieun saat melihat gadis itu akhirnya tertidur pulas disertai dengkuran kecilnya.

 

Empat hari ini Jieun merasa sangatttt bahagiaaa… Jonghyun dan Hye In tidak pernah absen mengunjunginya. Bangunan ini rasanya bukan rumah sakit yang menyedihkan lagi bagi Jieun. Karena ada Jonghyun dan Hye In, ia merasa berada di rumahnya sendiri. Karena ada Jonghyun dan Hye In ia merasa lupa akan banyak beban yang sembilan tahun ini membuat hari-harinya begitu berat.

 

Hye In mengupas apel, Jieun memerhatikannya dengan seksama. Kata Hye In, Jonghyun tidak bisa datang hari ini karena ada beberapa urusan. Agak kecewa memang, namun mau diapakan lagi. Mungkin besok Jonghyun akan datang.

 

“Mau?” Hye In menyodorkan sepotong apel, Jieun membuka mulutnya. Dengan manja ia minta disuapkan.

“Ooo, mashitta !!” serunya.

“Jieun-a?”

“Ne?”

“Apa kau masih mencintai Jonghyun?” tanya Hye In dengan hati-hati. Menjaga nada tanyanya agar bisa sedatar mungkin.

Jieun tertawa kecil,”Sembilan tahun lamanya aku di sini. Aku belum pernah bertemu pria sebaya denganku sekalipun. Bahkan aku hanya melihat Donghae sebagai yang paling tampan di sini. Itu membuatku tidak bisa melupakannya. Dia sudah terlanjur membuatku mencintainya, sangatt.. jika saja ada yang seperti dia di rumah sakit ini pasti aku bisa melupakannya.” Jieun tertawa di saat mengakhiri kalimat-kalimatnya.

Hye In meremas-remas jemarinya yang mulai berkeringat, “Begitu cintanyakah kau padanya?”

“Apa aku terlihat seperti itu, Hye-ah? Kau benar-benar pandai membaca isi hatiku,” ia tertawa lagi. Gadis itu tertawa, tampak sangat bahagia.

“Jadi…?” pertanyaan Hye In sengaja ia gantung. Berharap Jieun mau meluruskannya.

“Aku mencintainya. Sangat, Hye-ah. Aku tidak percaya ini akan terjadi padaku. kau tahu, saat kudengar dia putus dari Victoria Eonnie hatiku berteriak senang. Aku memang agak berlebihan, tapi aku berharap bisa memilikinya kembali.”

Hye In menggigiti bibir bawahnya, menyebabkan bibirnya sedikit mengeluarkan darah yang terasa asin di lidahnya. Melihat ekspresi sahabatnya saat ini ia benar-benar dilanda kebingungan.

“Hari itu, setelah aku menghabiskan sore di sungai bersamanya. Kukira itu adalah pertemuan terakhir kami. Aku menangis begitu banyak saat Donghae Oppa berkata aku harus berangkat. Hatiku berteriak kencang, aku ingin melawan nasib tapi tidak bisa. Dan kupikir aku juga akan…..mati di sini tanpa sempat melihatnya lagi dan dirimu.”

“Jieun-a…”

“Aku senang dia banyak berubah. Dia benar-benar seorang pria dewasa, bukan anak sekolahan yang menyebalkan seperti yang kukenal dulu. Kudengar darinya, itu semua karenamu. Aku tahu kau sahabat yang baik, makanya kau mau merawat dan menjaganya demi aku.” Jieun terkikik lagi.

Hye In tersenyum kecil. Ada kekecewaan di balik senyumnya, namun Jieun tidak menyadarinya. Hye In menatap jendela yang mengarahkannya ke atap-atap gedung di luar sana. Gadis itu berusaha membuang air yang memenuhi pelupuk matanya, berharap angin musim semi sore itu membawa air itu terbang jauh lalu menghilang.

“Aghhhh!!” Jieun mengerang sambil memegangi perut bawahnya. Hye In tampak terkejut. Jieun mengerang lagi, satu tangannya mencengkeram lengan Hye In.

“Jieun-a, kau kenapa?” gadis itu bertanya dengan panik. Wajah Jieun terlihat sangat pucat, tangannya juga dingin. “DOKTER…DOKTER !!” Hye In berteriak panik.

Beberapa perawat dan dokter masuk dengan peralatan medisnya. Hye In melepas tangannya dari cengkeraman tangan Jieun. Ia melihat sosok Jieun tengah dikerumuni suster-dokter yang berusaha menolongnya. Nafas Jieun yang terdengar kesakitan menjalar memasuki telinga Hye In dan detik berikutnya ia melihat Jieun muntah. Mengerikan. Darah segar mengucur deras keluar dari mulutnya. Hye In menutup mulut. Antara kasihan, sedih dan rasa mual yang juga bergejolak di perutnya. Dengan langkah seribu ia keluar dari ruangan itu.

Disandarkannya tubuhnya di dinding putih rumah sakit. Ia masih memegangi perutnya, menahan rasa mual itu agar ia tidak muntah. Ekor matanya sudah basah oleh air mata. keadaan Jieun begitu mengkhawatirkan. Terlebih lagi ada sesuatu yang belum sempat ia sampaikan pada Jieun. Itu mengenai dirinya dan Jonghyun. yang mungkin bisa memperparah keadaan Jieun jika mendengarnya nanti.

Tubuh Hye In terduduk lemas di lantai rumah sakit. Kepercayaan di balas dengan kebohongan ? aku memiliki apa yang bukan milikku. Aku merebutnya darimu. Pantaskah aku dimaafkan ?

 

 

Jieun terbangun. Ruangannya kosong. Tidak ada Donghae maupun Hye In. Ia mencoba mengubah posisinya agar bisa duduk. Tubuhnya terasa sangat sakit. Perih di bagian kiri perutnya semakin menjadi. Samar ia mendengar percakapan antara dua orang yang sangat dikenalnya.

“Aku tidak bisa melanjutkan ini. Tidak bisa ! aku sudah menyakitinya terlalu banyak.”

“Kenapa kau seperti ini? Ini semua tidak ada hubungannya dengannya.”

“Kau tahu dia mencintaimu. Apa kau tega padanya, Jonghyun-a?”

“Tapi aku mencintaimu dan kutahu kau juga mencintaiku !”

“Aku memang mencintaimu, tapi…tapi ini seharusnya tidak boleh terjadi. Kau miliknya dan aku merebutmu darinya. Aku bersalah !”

“Tidak. Apakah kau tidak ingat apa tujuan kita datang menemuinya di sini? Kita akan memberitahunya mengenai pernikahn kita, Hye-a !”

 

Jieun menangis. Suara kedua orang itu sangat familiar di telinganya. Mereka adalah Hye In dan Jonghyun. ingin rasanya Jieun tidak mempercayai semua dan menganggap apa yang didengarnya tadi hanyalah bunga tidur semata. Tapi tidak ! ini keyataan. Sangat pahit. Gadis itu menangis lagi, kali ini terdengar isakannya. Tak lama setelah itu, Donghae, Hye In dan Jonghyun membuka pintu. Jieun masih menangis. Donghae mendekat, mecoba menenangkan adiknya. Sedangkan Jonghyun dan Hye In berdiri mematung di depan pintu.

 

“Tenanglah,” Donghae merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Dibelainya lembut kepala Jieun. Gadis itu membenamkan wajahnya di dada kakaknya.

Oppa…”

Jonghyun mendekat dengan Hye In yang ia pegangi pundaknya. Tampak Hye In seperti tidak mampu lagi berpijak di lantai. Ia menatap Jieun penuh rasa bersalah. Jieun melepaskan diri dari Donghae.

“Jieun-a…” panggil Hye In lirih.

“Aku tahu Hye-a, aku akan datang…ke pernikahan kalian.”

Seperti biasa, berusaha kuat dan tegar…menahan air mata di hadapan semua orang. Itulah Lee Jieun. Tapi sekuat apapun gadis itu menahannya, semuanya orang tahu. Hatinya terluka saat itu. terluka sangat dalam.

 

 

SEOUL, 2013

 

‘Sekarang aku punya kehidupan baru, tanpa dia. Namun terasa lebih bahagia’ di saat mengingat kalimat yang diucapkan Jonghyun saat itu. Hati Jieun berusaha tegar. Ini semua demi Jonghyun, demi kebahagiaan Jonghyun. pria itu harus hidup bahagia.

Ya.. merelakannya adalah satu-satunya jalan. Jieun tidak bisa menahannya apalagi memilikinya, jelas-jelas ia tahu pria itu tidak mencintainya lagi melainkan mencintai sahabatnya sendiri. Untuk apa mempertahankan perasaan ini ? batin Jieun.

‘Sudahlah. Itu telah berlalu. Hanya sejarah.’ Kembali terngiang di telinganya perkataan Jonghyun waktu itu. ya..semua telah berlalu dan kini menjadi sejarah yang mungkin tidak bisa dilupakan Jieun namun terlupakan oleh Jonghyun. ia sadar kisah cintanya dengan Jonghyun hanyalah sekedar cinta anak remaja. Bukan cinta sejati seperti yang Jieun lihat pada Hye In.

 

Donghae menggenggam erat tangan Jieun. Mencoba menguatkan gadis itu. ingin rasanya Jieun menutup mata dan telinganya saat Jonghyun dan Hye In mengucap janji suci di depan semua orang yang tersenyum bahagia melihatnya, kecuali Jieun. Mereka berdua resmi menjadi sepasang suami istri. Baik Jonghyun maupun Hye In, mereka tersenyum bahagia. Jieun dapat menangkap semua itu dengan jelas.

 

“Hye In sangat cantik dengan gaun pengantinnya,” gumam Jieun. Donghae mendengarnya.

“Tapi kau jauh lebih cantik darinya,” ujar Donghae. Jieun hanya tersenyum miris.

Oppa?”

“Hmm..?”

“Bisakah aku menikah suatu hari nanti?” suara Jieun terdengar bergetar, terdengar begitu menyakitkan. Namun gadis itu tetap saja ingin terlihat kuat dan tegar.

Donghae membenamkan wajahnya di atas paha Jieun yang tertutupi dress berwarna pastel, ia menangis di sana. Menangis kencang, kedua tangannya meremas tangan Jieun.

Oppa.. kau memalukan sekali. Ini tempat umum,” gadis itu menyisipkan tawa di antara kata-katanya, namun tetap saja terdengar pahit.

“Kau…” Donghae mengangkat kepala, ia menangkup wajah Jieun dengan kedua tangannya. “Oppa akan mencarikanmu suami yang baik. Kau pasti akan bahagia dengan pilihan Oppa nanti.”

Jieun tersenyum namun sedetik kemudia ia juga menangis bersama Donghae. Tidak tahan. Dengan buru-buru Donghae memutar kursi roda Jieun, membawanya keluar ruangan acara pernikahan. Tanpa pamit dulu  kepada pengantin baru Donghae memutuskan untuk ke Airport dengan segera, kembali ke New York, menyembuhkan adiknya dan membahagiakannya.

 

 

NEW YORK , 2014

 

Gadis itu duduk di atas kursi rodanya di tepi jendela kamar yang terletak di tingkat empat. Matanya memerhatikan sekumpulan anak sekolah yang tengah asyik bercengkrama satu sama lain sambil memamerkan kertas-kertas mereka. Walau mereka tidak memakai seragam sekolah seperti yang dilakukan murid di Korea, namun gadis itu tahu mereka adalah siswa SMA.

Ia tertawa kecil saat mengingat masa-masa sekolahnya dulu. Tidak ada keinginan untuk kembali ke masa itu, ia hanya sekedar mengenang.

“Apa yang kau lihat?”

Jieun menggerakkan kepala ke belakang, ke arah pintu yang baru saja dibuka oleh seorang pria yang paling dekat dengannya selama seumur hidup. Dia Lee Donghae, kakak kandung Lee Jieun.

“Sedang memikirkan sesuatu?” tanya Donghae lagi yang kini sudah berada di samping kursi roda adik perempuannya.

Jieun Menggeleng disertai senyumannya yang samar.

“Sudah makan sarapanmu, Jieun –a?”

Jieun mengangguk tanpa menatap wajah orang yang bertanya.

“Bagaimana dengan obatmu? Sudah diminum ?”

Lagi-lagi Jieun mengangguk, namun kali ini disertai dengan menatap wajah Donghae dengan tatapan malas.

“Kau harus istirahat Jieun-a,” Donghae mengambil alih kursi roda Jieun lalu mendorongnya pelan menuju ranjang putih yang terletak di tengah ruangan. Membantu gadis itu naik ke atas ranjangnya dan membaringkannya di sana.

“Kau harus istirahat, hari ini Hye In dan Jonghyun akan datang mengunjungimu. Kau pasti tidak ingin terlihat lemah di depan mreka kan?” tanya Donghae. Ia menyeliimuti tubuh adiknya hingga menutupi seluruh tubuh dan hanya menyisakan leher.

Oppa, bangunkan aku jika Hye In dan Jonghyun  sudah datang,” gadis itu meminta dengan suara lemahnya.

Arasso, tidurlah.” Donghae mengecup kilat poni tipis Jieun, lalu berjalan ke arah sofa yang berada di samping jendela. Dia meraih bukunya dan menyenderkan kepala di sana.

 

Jieun. Gadis itu belum juga menutup mata untuk tidur. Dalam diam ia memandangi seluruh isi ruangan putih yang sudah sepuluh tahun ia tempati seperti rumahnya sendiri dan perlahan-lahan hatinya mulai menerima tempat ini.

 

“Kalian datang?”

Di pintu sudah berdiri sepasang manusia yang tersenyum ke arah Donghae.

“Aku akan membangunkan Jieunnie, tunggulah sebentar.”

Sepasang manusia itu mengangguk lalu duduk di sofa tak jauh dari ranjang tempat Jieun tertidur. Mereka adalah Jonghyun dan Hye In.

“Jieun-a…”

“Jieun-a…”

Sudah yang keenam kalinya Dongahe memanggil nama itu, mengguncang pelan tubuh gadis yang baru tertidur sekitar lima belas menit tadi. Namun gadis itu tak kunjung bangun juga.

“Apa dia baik-baik saja?” tanya Jonghyun yang entah sejak kapan berdiri di samping ranjang bersama Hye In di sampingnya.

Donghae diam, tangannya menggenggam erat tangan Jieun. Matanya berkaca-kaca dan tampak kosong.

Hyung, ada apa??” tanya Jonghyun lagi.

Donghae merosot ke lantai rumah sakit yang dingin, masih dengan menggenggam tangan adik tercintanya. “Jieunnie, dia sudah tiada.”

“Apa maksudmu Oppa?” tanya Hye In dengan suara yang parau, bergetar di setiap katanya.

“Dia pergi meninggalkan kita untuk selamanya.”

 

-Flashback on-

SEOUL, 2004

 

Jieun dan Jonghyun menyusuri jalan kecil di tepi sungai yang tak jauh dari sekolah. Di atas rumput muda di tepi sungai itu ditumbuhi pohon-pohon sakura. Sayangnya belum mekar padahal sekarang sudah musim semi.

“Kenapa mengajakku ke sini?” tanya Jonghyun memecah keheningan.

“Oh.. tidak apa-apa. Aku hanya merindukan tempat ini,” jawab Jieun sambil menyentuh kelopak azalea yang tumbuh tak rapi di tanah.

Jieun jongkok di depan sungai, menangkup telapak tangan di atas lutut sambil memerhatikan air yang melewati celah-celah batu.

“Kenapa kau murung?” tanyanya. Ia masih berdiri di samping Jieun, sibuk melempar batu-batu kecil ke tengah sungai.

“Apakah ini murung?” Jieun melempar pertanyaannya.

Ia tertawa untuk beberapa detik, “Akhir-akhir ini maksduku. Kau selalu murung dan tidak pernah keluar kelas. Padahal biasanya kan kau dan Hye In hobi seklai berlari-lari mengelilingi sekolah.”

Senyum kecil terukir di bibir Jieun. Tak ia sangka ternyata Jonghyun sering memerhatikannya dan masih ingat dengan kebiasaannya-berlari-lari-.

“Aku kan seorang gadis, mana boleh berlari-lari seperti orang gila,” jawab Jieun asal.

Saat mereka berpacaran dulu, Jonghyun sering meminta pada Jieun agar berhenti barlari-lari seperti orang gila. Ia bilang itu bukanlah hal yang pantas dilakukan oleh seorang gadis.

“Haha… akhirnya kau sadar,” Jonghyun merendahkan tubuhnya, meraih kepala Jieun lalu mengacak rambut Jieun.

Jieun  melempar wajah muram pada Jonghyun. Padahal sebenarnya Jieun sangattttt suka ^^.

 

“Jonghyun..?”

“Apa?”

“Apa kau dan Victoria Eonnie berpacaran?”

Bodohnya Jieun mempertanyakan hal seperti itu !!

Yaa… akhir-akhir ini Jieun lihat memang ia dan Victoria, anak kelas XII itu sedang dekat.

“Kenapa kau menanyakan itu?”

Mereka saling menatap.

“Hanya ingin tahu saja,” jawab Jieun sambil mengalihkan pandangan.

“Kau ingin tahu? Apakah penting?” Jonghyun kembali bertanya, kali ini dengan nada mengejek.

“Kurasa ya. Sangat penting.”

“Kenapa kau merasa hal itu penting?”

Mereka saling melempar kata-kata. Di ujung pertanyaanya Jieun mendengar nada dingin Jonghyun.

“Ah, sudahlah..” Jieun berdiri, meraih ilalang yang tidak begitu tinggi dengan tangannya, lalu menariknya hingga putus.

Jonghyun memunguti beberapa kerikil lalu melemparnya ke tengah sungai.

“Aku dan Victoria, kami memang berpacaran…”

Sontak Jieun menoleh ke arahnya, “Oh..begitu,” akhirnya Jieun bicara untuk menutupi kegugupannya.

“Kalian serasi,” kata Jieun lagi. Tangan Jieun meremas ilalang yang memenuhi genggaman tangannya.

“Begitukah..?” tanyanya dengan senyum kecil.

Jieun menangkupkan tangan di depan wajahnya, bermaksud agar Jonghyun mau membagi kerikilnya untuk Jieun. Jonghyun tersenyum lalu meletakkan tiga buah kerikil di telapak tangan Jieun.

Jieun melempar kerikil pertama. Lumayan jauh.

“Jonghyun…”

“Mmm..?”

“Aku akan berangkat ke Amerika sore nanti,” kembali Jieun melempar kerikil ke arah sungai. Kini hanya tersisa satu kerikil di tangannya.

“Amerika? Untuk apa?”

Memang, tidak banyak orang yang tahu bahwa Jieun menderita sebuah penyakit. Termasuk Jonghyun sendiri.

“Dan kapan kau pulang?” tanyan Jonghyun lagi.

“Entahlah, kurasa aku tak kan pulang.”

“Kenapa?”

“Kau tidak perlu tahu,” jawab Jieun. Kini ia melempar kerikil terakhir. Melayang begitu jauh.

“Inikah alasanmu mengajakku ke sini?” tanyanya.

“Mmm… aku ingin membawa kenangan indah saat pergi nanti,” Jieun menggeser tubuhnya, hingga berhadapan dengan Jonghyun. “Aku juga punya sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”

“Katakanlah.”

“Jonghyun, aku …. sebenarnya…”

“Donghae Hyung. Oppa-mu datang, Jieun –a,” Jonghyun memotong kalimat Jieun.

Sial! Ternyata benar. Donghae sudah datang menjemput Jieun. Ia berjalan ke arah kedua remaja itu.

“Jieun-a, sudah saatnya,” Donghae tersenyum ke arah Jieun dan Jonghyun secara bergantian. Ia mengetukkan jari telunjuknya pada jam tangannya.

Jieun menghembuskan nafas kesal,”Baiklah. Jonghyun –a aku pergi. Selamat tinggal,” Jieun membetulkan letak tas punggungnya lalu melangkah mengikuti Donghae.

“Kuharap kau akan pulang dan kita dapat bertemu lagi.”

Jieun berhenti sesaat. Jonghyun berkata dengan suaranya yang lembut.

Jieun tersenyum penuh arti padanya. Lalu tanpa membalas perkataannya aku melanjutkan langkah kakinya, masuk ke dalam mobil Donghae.

“Pakai sabuk pengamannya,” pesan Donghae

Eo,”

Mesin mobil dihidupkan, perlahan mobil ini bergerak.

Lewat kaca mobil, Jieun masih dapat melihat sosok Jonghyun yang terdiam di tepi sungai sambil menatapnya dari kejauhan. Jieun tak mengerti arti tatapan itu. Menahannya pergi? Mungkinkah ?

Sosok itu makin tampak jauh seiring melajunya mobil ini.

Air mata Jieun tak terbendung saat bayangnya benar-benar tak bisa dijangkau oleh penglihatannya.

Jika saja Jonghyun tahu aku pergi untuk selamanya, mungkinkah ia akan menahanku dan memintaku agar tidak pergi??

Lee Jonghyun, sampai bertemu di kehidupan berikutnya.

-Flashback Off-

 

The End

 

“Like a dream I met you

Like a dream I loved

Like a dream you appeared before me

Like a dream you left me

Come back to me, I’ll wait you here

My throat keeps drying up

I can’t say anything

Because you’re two eyes are not looking at me

And your head is turned away

Still, I can’t let you go

Still, I’m crying because of you

I want to believe that this isn’t

That this is a dream

I want to tell you my heart that says I miss you, I love you”—Like Dream by Apink

 

 

 

 

18 thoughts on “Spring’s Tears

  1. dalem banget!!!!!!
    ini angst paling angst.
    bahasa ff nya juga bagus, bikin terhanyut ke dalam ceritanya.
    uaaaaa yg di terakhir itu, yg tatapan jonghyun, nyesek!!!!

    tapi masih ada typo tuh. cho jonghyun? pasti castnya sebelumnya kyuhyun xD

    • tolong maafkan saya yg kurang teliti ini. iya memang dulunya ini ff kyuhyun hehe. terima kasih ya sudah baca/komen. lain kali saya akan berusahan untuk lebih hati-hati lagi.
      semoga kita bisa bertemu di ff selanjutnya🙂

    • waktu masih duduk di bangku SMA. mereka masih saling mencintai. hanya setelah berpisah dan jonghyun lebih dekat dg hyein setiap hari jadi rasa cintanya berpindah pada hye in. terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. semoga kita bs bertemu di ff yg lain🙂

  2. huab dalem banget, ampe nangis aku bacanya :’ (
    diksinya juga bagus jadi pembaca bener2 ngerasain apa yang jieun rasain. pas nemu cho jonghyun, tiba2 bayangan jonghyun tergantikan kyu tapi gak berlangsung lama kok xD hahaha.
    ff ini DAEBAAK! sering2 post ff disini ya hehe : )

  3. tolong maafkan saya yg kurang teliti ini. iya memang dulunya ini ff kyuhyun hehe. terima kasih ya sudah baca/komen. lain kali saya akan berusahan untuk lebih hati-hati lagi.
    semoga kita bisa bertemu di ff selanjutnya🙂 .

  4. kyaaaaa aku suka bangeeet >< sedih ih jadi jieun-nya. hye in-nya tetep baik ya sama jieun,persahabatan yang sejati :') sebenernya jieun sakit apa? gak dikasih tau ya?
    untuk saran,perbaiki typo aja,tadi aku nemu beberapa typo,selain yang cho jonghyun😉 daebak!

    • iya say, ini banyak banget typo-nya. oh ya sebelum ngirim saya selalu memeriksa ulang karya saja, hanya saja sangat disayangkan mata saya masih belum terlalu lihai hehe
      penyakitnya memang gak di sebutkan. saya sendiri bingung kalau soal penyakit. maaf ya ^^ iya, hyein tetep sahabatnya kok. terima kasih sudah membaca/komen🙂

  5. kerennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
    walaupun sedikit binggung karna alur’a kan maju-mundur #tukang parkir kleeeee
    tp ttp bikin aq merinding euyyyyyyyy
    syng bgt ya msh cinta tp tak tersampaikan
    nice ff author

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s