I Found You [Chapter 1]

 

 

Title: I Found You [Chapter 1]

Author: ree

Rating: PG-15

Genre: AU (alternative universe), romance, action

Length: chaptered

Main Cast:

-Jung Yonghwa CN Blue

-Shin Hye Ri (OCs)

-Song Joong Ki

Other Cast:

-Shin Hye Sa (OCs)

-Song Eun Kyung (OCs)

Disclaimer: This story is just my imagination. The characters belong to God, but the story is mine

Note: FF ini udah pernah aku publish di ourprivateroom.wordpress.com dengan cast yang berbeda

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Los Angeles, USA

10.45 PM

“Bagaimana kali ini?”

“Maaf, lagi-lagi kami gagal. Rumah itu sudah kosong. Sepertinya dia sudah mengetahui kedatangan anak buahku jauh-jauh hari sebelumnya.”

“Sial! Si brengsek itu! Bagaimana dia bisa mengetahuinya lebih dulu!?” batin pria itu geram. Ia melepaskan cerutu yang dihisapnya dan meniupkan asapnya ke udara. Menyebarkan bau khas cerutu yang menyengat.

“Kalau begitu cepat cari dia! Aku tidak peduli dengan cara apa! Yang jelas kau harus segera bawa dia kehadapanku hidup-hidup!” perintahnya kemudian.

“Ne. Algesseumnida, sajangnim.”

“Perintahkan juga anak buahmu yang baru itu untuk menjalankan rencana B.”

“Rencana B? A…anda serius?”

“Tentu saja. Untuk memancing ikan kita harus menggunakan umpan, kan?” pria itu menyeringai.

“Ta…tapi, dia anak baru. Apa anda yakin dia bisa berhasil?” pria di seberang telepon itu terdengar ragu.

“Ini hanya misi yang mudah. Kudengar dia cukup hebat. Ini bukan misi pertamanya kan? Menjalankan misi seperti ini pasti bukan masalah baginya.”

Hening. Pria di seberang telepon itu tidak mengatakan sepatah kata pun. Sepertinya ia masih merasa ragu untuk menyetujui rencana bosnya itu.

“Aku tidak menerima penolakan, Jang Woo. Kau tahu itu kan?” ujar pria yang menghisap cerutu itu lagi seolah bisa membaca pikiran Jang Woo. Nada suaranya memang tenang, tapi terasa aura mencekam seakan mengancam akan menghabisi siapa saja yang tidak mau menuruti perintahnya.

“Ba…baiklah kalau anda menginginkan seperti itu.” Jang Woo, pria di seberang telepon itu akhirnya menyerah.

“Kutunggu hasil kerjamu.”

***

Seoul, South Korea

06.15 PM

“Jjinjja? Jadi menu baru buatanmu akan dipromosikan besok!? Aigo~ oppa, kau hebat sekali! Harusnya kau sudah jadi executive chef sekarang!” pekik Hye Ri girang. Tidak peduli pada pandangan heran orang-orang yang berlalu-lalang didepannya karena tingkahnya yang heboh sendiri saat menelepon.

“Ahahaha, aku belum sehebat itu, Hye Ri-ah!” sahut Joong Ki di seberang telepon.

“Ya~ kau ini rendah diri sekali! Semua orang di restoran itu pasti mengakui kalau kau adalah chef yang hebat!” jika saja Joong Ki ada disamping Hye Ri sekarang, gadis itu pasti sudah memukul-mukul tangannya karena gemas. Sayangnya saat ini cowok itu masih sibuk berkutat di dapur restoran tempatnya bekerja sehingga mereka hanya bisa berkomunikasi lewat telepon.

Song Joong Ki adalah cowok berusia 25 tahun yang bekerja di salah satu restoran di kawasan Itaewon. Dia baru saja menyelesaikan studinya di Le Cordon Bleu Culinary Arts School, Paris, dan baru kembali ke Korea beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya banyak sekali restoran bintang 5 di Perancis yang menawarkannya pekerjaan sebagai chef disana, namun Joong Ki lebih memilih pulang ke Korea dan menjadi chef di restoran milik ayahnya. Meskipun baru beberapa bulan bekerja, ia sudah menunjukkan tanda-tanda seorang master chef masa depan. Minat dan bakatnya pada dunia kuliner memang sangat mengagumkan. Dia begitu tergila-gila pada memasak, sampai-sampai dia lebih sering mementingkan masakan daripada Hye Ri, kekasihnya. Awalnya kesal, memang, tapi lama-kelamaan gadis itu bisa memakluminya. Kita tidak bisa mengekang seseorang untuk melakukan hal yang disukainya kan?

Hye Ri mengenal Joong Ki sejak SMA. Dia adalah kakak kelas Hye Ri di Gyeongsan High School. Mereka pertama kali bertemu saat tanpa sengaja Hye Ri melihatnya di restoran ayahnya. Ketika itu ia baru tahu kalau Joong Ki sangat jago memasak. Sejak itu mereka menjadi teman dekat, saling bercerita mengenai berbagai hal satu sama lain. Saat itulah Hye Ri baru menyadari, senyum dan sikap Joong Ki sangat menawan, membuat gadis manapun yang melihatnya pasti langsung jatuh hati. Dan itulah yang terjadi padanya.

Hye Ri tak menyangka Joong Ki juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Joong Ki menyatakan perasaannya pada gadis itu saat hari kelulusannya, dan Hye Ri langsung menerimanya, tentu saja. Siapa juga yang bisa menolak pesonanya yang sangat menyilaukan itu? Sampai saat ini─dan berharap sampai seterusnya─Hye Ri merasa sangat, sangat bangga menjadi kekasihnya. Gadisnya.

“Hmmm… jadi malam ini kau tidak jadi membuatkanku makan malam?” tanya Hye Ri kemudian. Mengingat tadi siang Joong Ki berjanji untuk memasak makan malam di apartemennya.

“Jeongmal mianhae, Hye Ri-ah. Aku harus menyiapkan masakanku untuk promosi besok. Restoran akan buka lebih awal dan ayahku tidak ingin ada masalah sekecil apapun.” nada suara Joong Ki terdengar kecewa.

“Gwaenchanha, oppa. Kau tidak perlu merasa bersalah begitu. Aku akan memasaknya sendiri. Kau tinggal memberi saran padaku kira-kira bahan makanan apa saja yang harus kubeli. Aku sudah dekat supermarket sekarang.” kata Hye Ri menenangkan.

“Apa kau yakin bisa melakukannya sendiri? Ah, aku benar-benar merasa tidak enak. Haruskah aku meminta izin pada ayahku untuk pergi ke rumahmu sebentar?”

“Ya~! Aku memang tidak sejago dirimu, tapi setidaknya aku masih bisa memasak! Tidak perlu berlebihan begitu.” Hye Ri mengerucutkan bibirnya. Sedikit tidak terima kalau cowok itu menganggapnya sama sekali tidak bisa memasak. Padahal sebetulnya, Hye Ri terbilang cukup terampil dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

“Ara, jangan marah begitu, Hye Ri-ah. Aku hanya khawatir karena kau tinggal sendirian.” Joong Ki terkekeh.

“Aish… dia pasti sedang membayangkan ekspresi wajahku sekarang!” batin Hye Ri.

“Baiklah, nanti aku akan mengirimkan daftar belanjaan yang harus kau beli lewat e-mail. Sekarang aku harus segera menemui ayahku.” lanjut Joong Ki.

Hye Ri mengangguk walaupun ia tahu cowok itu tidak bisa melihatnya, “Baiklah, sampai nanti, oppa.”

“Hati-hati, Hye Ri-ah. Sampai nanti.” Joong Ki memutuskan sambungan.

Hye Ri pun kembali meneruskan langkahnya menuju ‘e-mart’ yang jaraknya tinggal beberapa ratus meter lagi. Hari sudah mulai gelap, tapi suasana Seoul masih ramai layaknya siang hari. Bahkan semakin malam semakin ramai, seolah tidak pernah tertidur.

Tak lama kemudian Hye Ri merasakan ponselnya bergetar. Cepat-cepat ia melihat display-nya. E-mail dari Joong Ki. Cowok itu mengirimkan daftar beberapa bahan makanan sesuai janjinya tadi.

To: Joong Ki oppa

Gomawo, oppa!🙂

Setelah membalas e-mail dari Joong Ki, Hye Ri bergegas masuk kedalam supermarket itu dan langsung berjalan menuju booth sayuran, buah-buahan serta bumbu masak yang lain dan mengambil bahan makanan sesuai dengan yang disarankan Joong Ki tadi.

Hye Ri sedang melintas didepan rak yang berisi berbagai macam sereal kotak dan memutuskan untuk menghentikan langkahnya.

“Hmm… beberapa kotak sereal untuk persediaan sepertinya boleh juga.” pikirnya. Kemudian ia pun memutuskan untuk mengambil sereal madu berbentuk bintang kesukaannya.

Tapi sayangnya, letak kotak-kotak sereal itu cukup tinggi sehingga gadis itu tidak bisa menjangkaunya. Ia pun berjinjit untuk menambah jangkauan tangannya, namun tidak berhasil. Hye Ri mencoba dua kali, tiga kali, namun tetap tidak berhasil. Ia lalu menoleh ke kiri dan kanan untuk sekedar meminta bantuan, namun tidak ada siapapun yang lewat di lorong itu.

Hye Ri mendengus dan memandangi sereal yang letaknya lebih tinggi darinya itu. Mumpung sedang ada disini, jadi bagaimanapun juga ia harus mendapatkannya.

Akhirnya ia mencoba berjinjit dan menggapai kotak itu untuk yang kesekian kalinya. Namun mungkin karena kurang hati-hati─dan sedikit kesal juga─, tanpa sengaja tangannya malah menepuk kotak itu. Padahal hanya tepukan ringan, tapi akibatnya kotak-kotak itu malah berjatuhan ke arahnya. Tidak hanya satu atau dua, tapi banyak! Hye Ri merasa hampir semua kotak sereal itu berjatuhan dan sebagian ada yang menimpa kepalanya. Ia hanya bisa meringis dan berusaha melindungi kepalanya dengan tangan sambil menunggu kotak-kotak sereal sialan itu selesai menjatuhkan dirinya.

“Aiisshh…!! Kenapa malah jadi kacau begini!?” gerutu Hye Ri sambil cepat-cepat mengambil kotak-kotak sereal itu dan mengembalikannya ke rak sesegera mungkin sebelum ada SPG yang memergokinya. Kalau sampai SPG itu melihat banyak kotak yang penyok seperti ini, bisa-bisa ia disuruh membayar semuanya.

“Tapi masalahnya sekarang adalah, bagaimana aku bisa mengembalikannya ke tempat semula kalau mengambilnya saja aku gagal? Aish… seandainya saja Joong Ki oppa ada disini. Oppa, tolong aku!!”

Tiba-tiba saja Hye Ri melihat seseorang dengan pakaian serba hitam sudah berjongkok didepannya. Orang itu membantunya memungut kotak-kotak sereal yang masih tergeletak di lantai dan mengembalikannya ke tempat semula.

“Ah, gomabseumnida.” sahut Hye Ri sambil ikut berdiri dibelakangnya.

Cowok itu berbalik, melihat ke arahnya sekilas, namun tidak mengatakan apapun. Dia langsung merebut kotak-kotak sereal yang dipegang gadis itu dan menyusunnya kembali di rak.

“Kalau tidak sampai, setidaknya kau bisa meminta bantuan.” ujarnya dingin tanpa menoleh ke arah Hye Ri. Dia masih sibuk merapikan kotak-kotak itu. Tentu saja cowok itu bisa melakukannya dengan mudah karena postur badannya yang lebih tinggi dari gadis itu.

Hye Ri sedikit bergeser ke samping cowok itu dan memperhatikannya sejenak. Cowok itu bisa berbahasa Korea dengan fasih, namun aksennya terdengar sedikit aneh. Hye Ri berpikir mungkin dia bukan orang asli Korea.

“Joisonghamnida. Tadi tidak ada siapa-siapa di sekitar sini.” kata Hye Ri jujur.

Setelah selesai merapikan kotak-kotak itu dan memberikan salah satunya kepada gadis itu, cowok itu kembali melirik Hye Ri sekilas dengan tatapannya yang dingin, kemudian berjalan meninggalkannya.

“Ah, sekali lagi terima kasih. Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tahan Hye Ri sebelum cowok itu berjalan menjauh. Namun bukannya menjawab, dia malah kembali melanjutkan langkahnya.

Hye Ri memperhatikan punggung cowok itu, “Sepertinya umurnya tidak beda jauh denganku. Tapi kenapa sikapnya dingin sekali?” Dan sekilas tadi, Hye Ri melihat dahi dan sudut bibir cowok itu berdarah. Lengan mantelnya yang sebelah kanan juga sedikit robek. Setelah diperhatikan, caranya berjalan juga sedikit tidak stabil dan ia sering memegangi perutnya, “Apa dia sedang terluka parah? Jangan-jangan dia adalah berandalan yang baru saja berkelahi di sekitar sini?”

Hye Ri menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Ah, sudahlah! Untuk apa juga aku memikirkan hal itu? Toh itu bukan urusanku dan aku juga tidak mengenalnya.”

***

Hye Ri mengangkat kantong belanjaannya dan memperhatikan isinya dari balik kantong plastik berwarna putih yang membungkus bahan-bahan makanan yang baru saja dibelinya itu. Sekadar untuk memastikan bahwa tidak ada yang lupa dibelinya. Setelah dirasa semua sudah lengkap, gadis itu pun tersenyum puas.

“BRUK!!!”

Ketika sedang melintas didepan sebuah gang, tiba-tiba saja ia mendengar suara sesuatu menghempas tanah. Hye Ri menoleh ke kiri dan ke kanan, namun tidak ada sesuatu yang aneh yang terjatuh.

Baru berjalan satu langkah, tiba-tiba Hye Ri merasa menginjak sesuatu yang empuk. Betapa terkejutnya ia ketika melihat ke bawah, rupanya ia salah menginjak tangan orang! Buru-buru Hye Ri mengangkat kakinya dan membungkukkan badannya untuk meminta maaf, tapi orang itu tidak mengatakan apa-apa dan anehnya tidak bereaksi apa-apa. Tubuhnya hampir tidak bergerak. Hanya rintihan pelan yang terdengar.

Hye Ri berlutut dihadapan orang itu, “Omo, gwaenchanhaseyo?” tanyanya kemudian. Karena gelap, jadi ia sedikit kesulitan melihat orang itu. “Joisonghaeyo, tadi aku benar-benar tidak sengaja.”

Karena orang dihadapannya itu tidak juga menjawab, Hye Ri pun mengguncang-guncangkan tubuhnya. Ia hampir tidak bisa bernapas ketika orang itu malah roboh ke tanah. Dari situ Hye Ri baru bisa melihat dengan jelas wajah cowok itu yang berlumuran darah.

“Di…dia kan cowok yang tadi menolongku!”

“Ya~ kau kenapa!? Ya~ bangunlah!!” pekik Hye Ri panik sambil tetap mengguncang-guncangkan tubuh cowok itu. Kali ini lebih kencang. Namun mata cowok itu tetap terpejam dan napasnya putus-putus. Sesekali ia meringis sambil memegangi perutnya, kemudian terbatuk-batuk.

“Gawat! Dia sekarat! Aigoo~ eotteokhaji!??” Hye Ri menoleh ke setiap sudut jalan itu, namun kebetulan daerah itu sepi dan tidak banyak orang yang lewat.

Hye Ri tidak punya pilihan. Ia tidak bisa begitu saja meninggalkan cowok yang sedang berjuang melawan mautnya ini sendirian. Bagaimanapun juga ia harus menolongnya. Tapi bagaimana caranya? Dia takut darah dan tidak bisa memapah cowok itu sendirian sambil membawa belanjaannya yang cukup banyak.

Hye Ri memperhatikan wajah cowok itu dengan panik. Kelihatannya dia sangat menderita dan tampaknya tidak akan bertahan hidup lama jika ia tidak segera menolongnya.

Tidak ada cara lain. Hye Ri menghela napas kuat dan memantapkan hatinya untuk menolong cowok itu. Dengan susah payah ia pun memapah cowok itu sambil menenteng kantong belanjaannya. Tentu ini bukanlah pekerjaan yang mudah karena cowok itu sudah sangat kepayahan. Tubuhnya lemas dan kakinya sudah tidak kuat menopang tubuhnya sehingga seringkali hampir terjatuh. Hye Ri dengan sekuat tenaga menahan tubuh cowok itu dan memapahnya sampai ke halte bus terdekat.

***

Yonghwa membuka matanya perlahan. Sambil mengumpulkan nyawa, ia berusaha mendudukkan badannya. Cukup sulit karena kemudian ia langsung merasa pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Ia kembali meringis pelan dan dengan refleks menyentuh dahinya. Ia baru sadar sepenuhnya ketika merasakan yang disentuhnya bukanlah kulit, melainkan kain kasa. Cowok itu memperhatikan tangan kanannya yang terasa kaku. Tangan itu sudah terbalut oleh gips dan penyangga, begitu juga dengan kaki kirinya. Baju yang dikenakannya juga sudah diganti dengan piyama berwarna putih dengan motif polkadot kecil yang menghiasinya.

Yonghwa mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Bau ini… bau rumah sakit. Entah bagaimana dia bisa sampai di tempat ini, dan siapa orang yang sudah berbaik hati mengantarkannya.

Ruangan yang didominasi warna putih itu terasa sangat sunyi. Yang terdengar hanyalah suara jam. Saking sunyinya, bahkan suara asap yang keluar dari alat penghangat di samping ranjang yang ditempatinya pun dapat terdengar olehnya. Merasa dia tidak sendirian di ruangan itu, pandangannya lalu tertuju ke arah gadis yang sedang tertidur disamping ranjang sambil membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya yang terlipat. Yonghwa memang tidak bisa melihat wajahnya, tapi dari penampilannya pastilah dia seorang gadis.

Yonghwa memperhatikan gadis itu dengan wajah datar. Ia tidak berniat untuk membangunkannya atau apapun, karena sejujurnya dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada gadis itu.

Tak lama kemudian, gadis itu pun terbangun dengan sendirinya. Sambil menguap, ia pun membuka matanya. Ia nampak terkejut ketika melihat cowok itu sudah sadar dan sekarang sedang memandang ke arahnya.

“Kau… sudah sadar?” tanya Hye Ri kemudian. Pertanyaan yang tidak penting sebetulnya karena dia sudah bisa melihatnya dengan jelas.

“Kau yang membawaku kesini?” Yonghwa balik bertanya. Matanya menatap tajam ke arah Hye Ri.

Gadis itu tersenyum, “Ah, ne. Tadi tanpa sengaja aku menemukanmu terkapar di tengah jalan. Jadi aku langsung membawamu kesini.”

“Kenapa?”

“Ng?”

“Kenapa kau harus repot-repot? Aku tidak mengenalmu dan juga sebaliknya. Harusnya kau tinggalkan saja aku di gang itu.”

Hye Ri mengerjapkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan cowok itu barusan. Bukannya berterima kasih karena sudah ditolong, kenapa dia malah berkata tidak sopan seperti itu?

“Ng… anggap saja ini sebagai balas budi karena kau sudah menolongku di supermarket tadi. Lagipula aku tidak bisa diam saja melihatmu sekarat. Bagaimana kalau kau sampai mati, hah!?”

“Cih!” Yonghwa menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dengan kasar dan berusaha turun dari ranjang.

“Eodie gayo?” Hye Ri ikut bangkit dari tepat duduknya.

“None of your business.” Yonghwa berusaha melangkah ke arah pintu dengan susah payah sambil berusaha berpegangan pada apapun yang ada didekatnya. Namun karena belum terbiasa, ia pun sempat beberapa kali hampir terjatuh. Beruntung dengan sigap Hye Ri langsung menahan tubuh cowok itu.

“Kau baru saja siuman. Sebaiknya jangan bangun dulu. Luka-lukamu ini cukup serius. Dokter bilang kau mengalami patah tulang di tangan kanan dan retak di kaki kiri. Ada luka lebam di perutmu dan untungnya tulang rusukmu tidak ikut patah.” Hye Ri berusaha menjelaskan.

“Apa pedulimu? Hanya patah tulang saja tidak akan membuatku mati kan?”

“Ya~! Tentu saja aku peduli! Aku yang menemukanmu dan aku sudah menolongmu! Kau menjadi tanggung jawabku sekarang!” Hye Ri merasa gemas karena cowok ini benar-benar keras kepala.

Hye Ri mendengus. Berusaha mengontrol emosinya agar tidak meledak-ledak. Ingat, bagaimanapun juga dihadapannya sekarang adalah orang sakit dan dia harus bisa menghargainya.

“Sekarang aku akan membantumu berbaring.” lanjut Hye Ri. Nada suaranya sudah kembali normal.

“Shireo! Aku harus keluar dari tempat ini.” Yonghwa tetap bertahan di posisinya.

Hye Ri menatap cowok itu, “Dimana rumahmu?”

“Eobseo.”

“Jadi… kau tidak punya tempat tujuan?”

Yonghwa tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Gadis itu benar, ia tidak punya tempat tujuan.

Yonghwa menepiskan tangan Hye Ri dari tangannya dan berbalik ke arah ranjang. Ia menumpukan tangan kirinya pada tembok agar tidak terjatuh. Retak di kaki kirinya cukup membuatnya sulit berjalan.

Melihat itu, entah kenapa perasaan iba muncul dalam diri Hye Ri. “Kasihan sekali cowok itu.” pikirnya. Badannya penuh dengan luka dan cedera, juga tidak punya tempat tujuan. Sepertinya dia baru datang ke Korea dan tidak punya kerabat disini.

“Kalau begitu kau bisa menginap di rumahku.” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Hye Ri.

Yonghwa menghentikan langkahnya, namun tidak menoleh ke arah gadis itu.

“Kalau kau memang benar-benar ingin keluar dari rumah sakit ini, sebaiknya kau beristirahat di rumahku.” lanjut Hye Ri.

Yonghwa menolehkan kepalanya ke samping, kemudian tersenyum sinis, “Kau pikir kau tinggal dimana sekarang? Mungkin di barat hal itu terdengar biasa, tapi ini Korea. Mana mungkin aku mau begitu saja tinggal di rumah seorang gadis? Memangnya cowok macam apa aku ini?”

“Kurasa dalam hal ini kita harus mengesampingkan hal itu dulu. Ini demi keselamatanmu juga. Memangnya kau mau tinggal dimana dengan keadaan seperti itu dan bahkan uang sepeser pun kau tidak punya.”

Yonghwa terdiam. Ia tidak bisa menyangkal kata-kata gadis itu karena memang semuanya benar.

“Tunggu sebentar. Akan kubereskan barang-barangku dulu.” Hye Ri kemudian bergegas membereskan barang-barangnya.

***

“Jadi kau baru datang dari New York?” tanya Hye Ri. Saat ini ia dan Yonghwa sedang menikmati makan malam di rumah gadis itu. Setelah perdebatan kecil mereka di rumah sakit tadi, akhirnya Hye Ri berhasil juga membujuk cowok itu untuk tinggal sementara di rumahnya.

Hye Ri tentunya masih menggunakan akal sehatnya untuk memutuskan hal ini. Ia sudah memikirkan semua resikonya seperti bisa saja Joong Ki memergoki dirinya tinggal bersama seorang lelaki yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu. Tapi selama ia bisa menyembunyikan hal ini dengan baik, rasanya hal yang ditakutkannya itu belum tentu akan terjadi. Toh cowok ini hanya tinggal sementara sampai kondisinya pulih dan ia sungguh-sungguh bermaksud baik ingin menolongnya.

Sambil memperhatikan piring berisi kimchi bokkeumbap─hidangan hasil karya Hye Ri malam itu─Yonghwa mengangguk, “Keluargaku berasal dari Busan. Aku lahir di Toronto dan dibesarkan di New York. Dan baru kali ini datang ke Korea.”

Hye Ri menepukkan kedua telapak tangannya, “Ternyata dugaanku benar. Kau berwajah asia, bahasa Korea-mu cukup lancar, tapi aksennya terdengar aneh.” ia terlihat bangga dengan analisisnya, “Benarkah kau baru pertama kali pulang ke Korea?”

“Yah, orangtuaku tidak pernah mengajakku mengunjungi Korea dan aku juga tidak punya waktu.” Jawab Yonghwa datar.

Hye Ri memperhatikan cowok dihadapannya itu. Jika saja wajahnya tidak penuh dengan luka seperti itu, sebenarnya dia cukup tampan. Ah tidak, dia memang tampan. Garis wajah, rahang, dan lekuk bibirnya benar-benar sempurna. Sayang, dibalik wajahnya yang tampan, sikap yang ditunjukkannya pada orang lain sangat dingin.

“Aish, Shin Hye Ri! Apa yang kau pikirkan? Ingat, kau sudah punya Joong Ki oppa!”

Sementara itu, Yonghwa terlihat masih sibuk memasukkan sesendok kimchi bokkeumbap kedalam mulutnya. Maklum, karena tangan kanannya patah, ia terpaksa harus makan dengan menggunakan tangan kiri. Dan ia tidak terbiasa melakukan hal itu.

Hye Ri geli sendiri melihatnya. Ia berusaha menahan tawanya agar tidak membuat cowok itu kesal. Wajah Yonghwa yang jengkel karena tidak juga berhasil menyuapkan satu sendok pun ke mulutnya benar-benar lucu.

“Sini, biar aku yang menyuapimu.” Hye Ri beranjak dari tempat duduknya dan pindah ke kursi disamping tempat cowok itu duduk.

“Shireo! Memangnya aku anak kecil!?” tolak Yonghwa mentah-mentah.

“Jadi kau lebih memilih tidak makan malam? Aku tidak tanggung kalau kau sampai kelaparan!” ancam Hye Ri.

Yonghwa mendecak. Tidak ada pilihan lain. Akhirnya ia pun pasrah dan menuruti keinginan gadis itu untuk menyuapinya.

“Oh, ya, siapa namamu?” tanya Hye Ri sambil menyuapkan nasi goreng kimchi buatannya pada cowok itu.

“Yonghwa. Jung Yonghwa.”

“Aku Shin Hye Ri.” balas Hye Ri, “Boleh aku memanggilmu Yonghwa-ssi? Sepertinya kita seumuran.”

“Terserah.” jawab Yonghwa singkat.

Hye Ri tersenyum. Senyumnya sangat manis sehingga membuat cowok itu tidak mampu mengalihkan pandangannya untuk beberapa saat. Sepertinya ada cahaya menyilaukan yang muncul saat gadis itu tersenyum menatapnya.

“Cih! Apa yang kupikirkan!?”

“Jadi, apa maksud kedatanganmu ke Korea?” tanya Hye Ri setelah beberapa saat. Cukup ampuh membuat cowok itu kembali ke alam sadarnya.

“Urusan pekerjaan.” jawab Yonghwa singkat.

“Apa pekerjaanmu?”

“Aku bekerja di sebuah perusahaan Korea di Amerika.”

Hye Ri mengangguk-angguk. Sepertinya cowok itu tidak berniat menjelaskan panjang lebar soal pekerjaannya. Dan ia juga tidak akan memaksa untuk mengetahuinya.

“Lalu, kenapa kau tidak membawa barang sedikitpun?”

“Tadinya aku hanya membawa ransel. Tapi dirampas oleh geng berandalan di dekat Yongsan.” jelas Yonghwa.

“Jadi, waktu aku bertemu denganmu di Yongsan kau sudah terluka?”

“Ya.”

Hye Ri terdiam. Berarti benar dugaannya waktu itu. Andai saja ia menyadarinya lebih awal, ia bisa langsung membawa Yonghwa ke rumah sakit dan tidak perlu sampai terkapar di tengah jalan seperti itu.

“Jadi, tidak ada yang tersisa?”

“Hanya tinggal dompetku. Tapi yang ada didalamnya hanyalah uang tunai yang jumlahnya tidak seberapa.”

“Dompet? Dompet yang mana?”

“Kutaruh dalam saku celanaku.”

Hye Ri tersentak, “Mi…mianhae, baju yang kau pakai sebelum masuk rumah sakit itu sudah kubuang karena robek disana-sini dan berlumuran darah…”

“MWO!!??”

Hye Ri menunduk takut. Ia dapat merasakan tangannya sedikit gemetar, “Jeo…jeongmal mianhae… aku benar-benar tidak tahu kalau masih ada dompet didalamnya…”

Yonghwa meringis. Rasanya kepalanya jadi bertambah pusing. Bagaimana mungkin gadis ini bisa seenaknya saja membuang pakaiannya seperti itu!? Dia benar-benar tidak punya apa-apa sekarang. Ingin rasanya ia membentak gadis itu habis-habisan, tapi mengingat dia sudah berbaik hati menolongnya dan bahkan memberikannya tempat tinggal sementara, ia jadi tidak tega melakukannya.

Yonghwa menggigit bibir bawahnya dan menutup mata. Berusaha meredam emosinya dalam-dalam. Setidaknya dia bukan cowok kurang ajar yang bisa dengan mudah bersikap kasar pada wanita.

“A…aku akan coba mencarinya di tempat sampah.” Hye Ri bangkit dari tempat duduknya dan hendak bergegas keluar, namun Yonghwa keburu menahan tangannya.

“Sudahlah, kau tidak perlu melakukannya.”

“Tapi…”

“Biarkan saja.” kata Yonghwa tegas, namun tidak bermaksud membentak. Hye Ri pun akhirnya menurut.

“Sekarang kau makanlah.” lanjutnya.

“Kau sudah selesai?”

“Ya. Aku mau tidur di kamar saja.” Yonghwa berusaha bangkit dan berjalan terseok-seok menuju kamar tamu yang sudah disiapkan Hye Ri sebelumnya. Nafsu makannya tiba-tiba saja menjadi hilang.

“Perlu kubantu?” tawar Hye Ri.

“Tidak usah. Kau makan saja.”

Hye Ri memandang punggung Yonghwa sampai cowok itu menghilang dari balik pintu kamar. Ia merasa sangat, sangat bersalah.

***

Hye Ri baru saja menyelesaikan sarapannya ketika mendengar suara pintu ditutup. Tak lama kemudian muncul Yonghwa yang berjalan perlahan menuju meja makan.

“Ah, Yonghwa-ssi! Kau sudah bangun?” sapa Hye Ri riang. Ia seolah sudah melupakan kesalahannya semalam, “Maaf aku tidak menunggumu untuk sarapan. Aku harus berangkat kerja.”

“Kau bekerja dimana?” tanya Yonghwa datar. Namun sikapnya tidak menunjukkan kalau ia masih marah pada gadis itu karena sudah menghilangkan─atau lebih tepatnya membuang─satu-satunya hartanya yang tersisa.

“Di daerah Gangnam. Aku bekerja sebagai illustrator.” jelas Hye Ri. Ia lalu menarik kursi disebelahnya dan menepuk-nepukkannya pelan, “Duduklah, aku akan menyuapimu.”

“Tidak usah. Aku akan berusaha membiasakan diri makan dengan tangan kiri.” jawab Yonghwa. Rasanya sudah cukup sekali saja ia merepotkan gadis itu untuk menyuapinya, demi kebaikan gadis itu dan kesehatan jantungnya juga. Lagipula menu pagi itu adalah roti panggang, ia bisa memakannya tanpa menggunakan alat makan.

“Baiklah kalau itu maumu.” Hye Ri melihat jam yang melingkar di tangannya. Rupanya ia sudah hampir terlambat. Dengan terburu-buru gadis itu bangkit dari tempat duduknya menyampirkan tasnya di pundak, “Aku akan pulang sebelum makan malam. Kau disini saja, jangan kemana-mana dulu. Cederamu kan belum sembuh.”

Gadis itu lalu memperhatikan Yonghwa yang berdiri di sudut meja makan. Benar juga, cowok itu masih mengenakan piyama rumah sakit dan belum mengganti bajunya dari kemarin karena memang tidak ada pakaian yang tersisa.

“Benar juga, Yonghwa-ssi, dari kemarin kau belum ganti baju kan? Aku akan mencarikan pakaian ganti untukmu!” Hye Ri bergegas masuk ke kamarnya dan langsung membuka lemari pakaiannya.Ia berharap ada pakaian yang ukurannya pas dengan badan cowok itu, namun sangat sulit karena hampir semua pakaiannya berukuran kecil dan bermodel feminin. Gadis itu mencoba mencari siapa tahu ada mantel atau jaket milik Joong Ki yang pernah dipinjamkan untuknya yang tertinggal, namun hasilnya nihil.

Sementara itu di luar kamar, Yonghwa hanya bisa berdiri terdiam di tempatnya. Sebenarnya ia ingin menghampiri gadis itu dan menanyakan apa dia benar-benar punya pakaian yang pas karena jujur saja, ia sendiri merasa tidak yakin. Namun karena malas menyeret kaki kirinya yang cedera, jadi ia memutuskan untuk menunggu gadis itu sambil bersandar di pinggir meja makan.

“Yonghwa-ssi! Aku sudah menemukannya!” seru hye Ri yang tiba-tiba keluar kamar sambil menunjukkan sebuah jersey berwarna kuning pastel dengan garis abu-abu di pinggirnya.

Gadis itu menghampiri Yonghwa dan menyodorkan jersey yang dipegangnya didepan tubuh cowok itu, menilai apakah ukurannya pas atau tidak, “Sepertinya cocok untukmu. Ini jersey ayahku. Sepertinya dia lupa membawanya waktu terakhir kali menginap disini.”

“Menginap?” Yonghwa merasa ganjil dengan kata-kata itu.

Hye Ri mengangguk, “Ayahku sibuk mengurusi proyeknya di luar negeri. Dan hanya dua kali dalam setahun dia mengunjungiku disini.”

Entah hanya perasaan Yonghwa saja, namun sekilas ia mendengar nada kecewa dalam suara gadis itu saat menyebutkan kalimat terakhir.

“Nah, sekarang coba kau pakai. Ini!” suara Hye Ri kembali terdengar ceria. Ia menggenggamkan hanger baju itu ke tangan Yonghwa, “Maaf, aku tidak bisa menunggumu berganti pakaian. Aku sudah hampir terlambat.”

“Ng… Apa kau yakin ini cocok untukku?” tanya Yonghwa ragu.

“Geureom!” Hye Ri mengacungkan jempolnya mantap, “Sudah ya, aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, Yonghwa-ssi!” gadis itu tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Yonghwa, kemudian bergegas menuju pintu keluar. Meninggalkan cowok itu yang masih berdiri terpaku di tempatnya sambil memperhatikan jersey kuning itu.

***

Joong Ki sedang sibuk menuangkan saus di pinggir piring berbentuk persegi dengan sendok sebagai hiasan terakhir dalam hidangan yang baru saja dibuatnya. Ia sedikit terkejut ketika mendapati Hye Ri sudah berada dihadapannya, melipat tangannya di atas meja dan menyandarkan kepalanya di atasnya. Wajahnya sedikit mendongak memperhatikan setiap gerak-gerik cowok itu sambil tersenyum.

“Hye Ri-ah, kau membuatku kaget saja. Sejak kapan kau ada disitu?” tanya Joong Ki.

“Kira-kira 15 menit yang lalu. Apa kau tidak menyadarinya?”

Joong Ki tertawa kecil, “Jadi sudah selama itu? Mianhae, aku terlalu serius membuat pesanan untuk para pelanggan.”

Hye Ri menggeleng, “Gwaenchanha. Teruskan saja pekerjaanmu.” lagi-lagi ia tersenyum.

Ini bukanlah pertama kalinya Hye Ri mengunjungi Joong Ki di tempat kerjanya. Duduk diam di belakang meja yang berbatasan dengan dapur sambil memperhatikan cowok itu memasak. Biasanya para chef akan membunyikan bel yang ada didekat situ dan memberikan hidangan yang sudah jadi kepada para pelayan, jadi kehadiran Hye Ri tidak terlalu mengganggu pekerjaan orang-orang itu. Gadis itu sangat suka melihat cowok itu memasak, entah kenapa dia terlihat sangat… tampan dan berkharisma. Entahlah, ia tidak bisa menemukan kata-kata yang pas untuk menggambarkannya. Yang jelas, ia sangat menyukai kegiatannya yang satu itu.

“Kau tidak bekerja, Hye Ri-ah?” tanya Joong Ki setelah memberikan hidangan yang baru saja diselesaikannya pada salah satu pelayan.

“Ini sudah jam 4 sore, oppa. Aku keluar kantor jam 3. Kau ingat?”

Joong Ki menepuk dahinya, “Ah iya, benar juga. Aigo~ kenapa aku jadi pelupa begini? Kau sudah makan?” tanyanya kemudian.

Hye Ri menggeleng, “Belum. Aku sengaja datang kesini untuk mencicipi hidangan baru buatanmu.”

Joong Ki tersenyum, “Kalau begitu kau tunggu saja di tempat biasa. Nanti aku menyusul.”

“Arasseo.”

***

“Silakan menikmati pesanan anda, nona.” Joong Ki meletakkan sebuah piring dihadapan Hye Ri sambil membungkuk layaknya seorang pelayan kepada para tamunya.

Hye Ri hanya bisa tersenyum, “Gomawo.”

“Sepertinya pelanggan yang datang banyak juga. Mereka pasti penasaran dengan hidangan buatanmu.” ujar Hye Ri setelah Joong Ki duduk dihadapannya, “Wah, ternyata kau populer juga!”

“Tentu saja. Semua chef mengakui kalau aku ini memang berbakat.”

“Aish, kenapa kau jadi narsis begini? Bukankah biasanya kau akan bilang ‘Ah, aku tidak sehebat itu’ begitu?” Hye Ri berusaha meniru gaya bicara Joong Ki.

Cowok itu terkekeh, “Mungkin aku sudah tertular virus narsismu!”

Melihat Joong Ki yang tertawa puas seperti itu, Hye Ri lagi-lagi hanya bisa tersenyum. Mungkin kehadirannya bisa sedikit mengurangi rasa lelah yang dirasakan cowok itu. Karena rasa lelah dan jenuh yang menghinggapi dirinya selama di kantor tadi juga menghilang seketika setelah bertemu dengan pujaannya itu.

“Hmmm… gnocchi?” tanya Hye Ri setelah memperhatikan piring dihadapannya.

“Bukan hanya sekedar gnocchi. Ini ricotta gnocchi. Aku mencampurkannya dengan gochujang dan sedikit ginseng. Campuran antara masakan eropa dengan bumbu tradisonal Korea.”

“Jinjja? Biar kucoba dulu.” Hye Ri menyuapkan sesendok gnocchi itu kedalam mulutnya. Merasakan rasa pedas dari gochujag bercampur rasa segar dari ginseng yang tercipta dari potongan kecil gnocchi itu. Rasanya benar-benar unik. Hye Ri tidak pernah menyangka sebelumnya kalau masakan eropa yang dicampurkan dengan bumbu khas Korea akan seenak ini rasanya.

“Mashijji?” tanya Joong Ki.

Hye Ri mengangguk-angguk, “Jeongmal mashitta! Aigoo~ Oppa, kenapa kau bisa membuat makanan seenak ini!?”

Joong Ki tersenyum puas, “Baguslah kalau kau menyukai rasanya.”

Cowok itu kemudian menatap Hye Ri yang sedang sibuk menikmati makan siangnya yang sudah terlambat itu. Ia lalu tersenyum. Senang rasanya melihat gadis itu tersenyum seperti sekarang. Biasanya jika menemukan menu baru, ia pertama kali menunjukkannya pada gadis itu dan memintanya untuk mencicipinya lebih dulu daripada orang lain. Namun karena waktu yang mepet dan kesibukan mereka berdua, terpaksa ia membiarkan orang lain menikmati hidangan yang dibuatnya sebelum Hye Ri.

“Lain kali jangan seperti ini. Kau harus makan tepat waktu. Aku tidak mau kau sampai sakit karena tidak makan dengan teratur.” lanjut Joong Ki kemudian.

“Ne, appa. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”

“Ya~! Tadi kau panggil aku apa!? Seenaknya saja memanggilku appa!”

Hye Ri hanya cengar-cengir, “Kadang-kadang kekhawatiranmu itu seperti ayah yang mengkhawatirkan anaknya.”

“Bagaimana aku tidak khawatir kalau punya anak perempuan yang nakal sepertimu?”

Hye Ri tertawa renyah. Ia lalu kembali melanjutkan makannya. Entah kenapa, ia senang melihat wajah Joong Ki yang khawatir. Rasanya ada kepuasan sendiri.

“Hye Ri-ah, bagaimana kalau nanti malam aku memasak di apartemenmu? Anggap saja sebagai ganti karena kemarin aku tidak bisa datang.”

Mendengar perkataan Joong Ki, tiba-tiba saja Hye Ri tersedak. Rasanya sebagian kecil makanan yang baru saja ditelannya masuk kedalam tenggorokannya. Cepat-cepat Joong Ki menyodorkan gelas berisi air putih yang ada dihadapan gadis itu.

Dengan refleks Hye Ri menepuk-nepuk dadanya. Setelah meminum beberapa teguk air putih, akhirnya ia bisa bernapas normal kembali.

“Ku…kurasa tidak usah. Hari ini kau pasti lelah. Aku bisa memasaknya sendiri kok, tenang saja.” jawab Hye Ri kemudian. Ia menyunggingkan seulas senyum yang agak dipaksakan agar bisa terlihat wajar dihadapan kekasihnya itu. Bagaimana tidak, di apartemennya sekarang ada Yonghwa, cowok yang baru dikenalnya satu hari dan saat ini tinggal sementara di rumahnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Joong Ki jika mengetahui hal itu nantinya.

Dahi Joong Ki mengernyit, sedikit heran dengan sikap gadis itu yang menolak permintaannya untuk memasak di apartemennya. Padahal biasanya dia sangat senang jika dia mengatakan hal itu, “Benarkah? Tumben sekali.”

“Mianhae, oppa. Lagipula aku kan sedang mencicipi masakanmu sekarang. Sama saja kan?”

Walaupun masih merasa sedikit bingung, akhirnya Joong Ki mengangguk, “Baiklah kalau itu maumu.”

“Mianhae, oppa. Jeongmal mianhae.” ujar Hye Ri dalam hati. Sebenarnya ia sendiri masih merasa bimbang untuk menceritakan soal Yonghwa kepada cowok itu atau tidak. Ia takut cowok itu akan merasa marah dan kecewa akan keputusannya ini.

***

“Yonghwa-ssi! Coba lihat ini!” seru Hye Ri antusias. Yonghwa yang sedang menonton TV di ruang tengah menoleh. Padahal gadis itu baru saja masuk, tapi sudah ribut seperti ini.

“Tadaaaaa…!!! Aku sudah membelikanmu beberapa potong baju! Ini!” ia menyodorkan tiga buah tas karton besar bertuliskan nama butik yang cukup ternama kepada cowok itu.

Yonghwa menerimanya dengan tatapan heran, “Apa ini tidak terlalu boros? Untuk apa kau repot-repot membelikanku pakaian-pakaian ini?”

“Aish, sudahlah, terima saja! Anggap saja sebagai permintaan maaf karena tanpa sengaja aku sudah membuang dompetmu.” Hye Ri kemudian duduk disamping Yonghwa, mengeluarkan semua pakaian itu dari dalam tasnya, dan mencocokkannya satu per satu ke badan cowok itu.Ia pun mengangguk puas, “Sepertinya semuanya cocok untukmu.”

“Tapi…”

“Kau coba saja dulu baju-baju itu. Aku akan menyiapkan makan malam.” ujar Hye Ri tanpa menghiraukan perkataan Yonghwa. Ia lalu bergegas menuju ke dapur.

Setelah merapikan baju-baju pemberian Hye Ri dan meletakkannya di kamarnya, Yonghwa menghampiri gadis itu dan duduk didepan meja makan. Memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu yang masih sibuk berkutat dengan sayuran dan alat-alat dapur.

“Sepertinya kau sangat suka memasak.” ujarnya kemudian.

Hye Ri yang sedang sibuk memotong-motong sayuran menoleh sekilas, “Benarkah? Apa kelihatan seperti itu? Mungkin karena Joong Ki oppa seorang chef dan dia suka memasakkan makanan untukku. Aku jadi termotivasi untuk meningkatkan keahlian memasakku juga.”

“Joong Ki? Pacarmu? Ah benar juga, kenapa aku bodoh sekali? Gadis seperti dirimu tidak mungkin tidak memiliki pacar.”

“Kenapa kau berkata seperti itu? Kau ingin menggodaku, hah? Sayang sekali, kau terlambat tujuh tahun.” kata Hye Ri setengah bergurau.

“Tujuh tahun? Kalian sudah berpacaran selama itu?”

“Ya. Sebenarnya aku juga tidak percaya ketika mengetahui hubungan kami sudah berjalan tujuh tahun. Karena kami menjalaninya dengan santai, jadi tidak terasa sudah selama itu.”

“Biar kutebak, kau tidak mengizinkannya datang kesini untuk memasakkan makan malam untukmu karena ada aku kan?”

Hye Ri tersenyum, “Kau ini percaya diri sekali! Tapi sayangnya, itu memang benar. Aku merasa belum siap untuk mengatakan padanya.”

“Ternyata lamanya hubungan tidak menjamin pasangan dapat mengerti satu sama lain.” Yonghwa bergumam.

“Masalahnya tidak sesederhana itu, Yonghwa-ssi.”

Yonghwa memandangi punggung gadis itu. Berusaha mencerna setiap kata yang diucapkannya barusan. Namun tiba-tiba saja ia mendengar gadis itu meringis dan langsung melepaskan pisau yang dipegangnya. Cepat-cepat Yonghwa beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Hye Ri walaupun sedikit sulit dengan kondisi kakinya itu.

“Gwaenchanha?” tanyanya kemudian. Ia melihat jari telunjuk gadis itu mengeluarkan darah. Pasti tergores pisau karena kurang hati-hati.

“Gwaenchanha. Ini bukan pertama kalinya terjadi kalau aku memasak.” Hye Ri mengibas-ibaskan jari telunjuknya yang berdarah, “Aku punya kotak obat di laci.”

“Biar kuambilkan.” kata Yonghwa. Setelah mengambil kotak yang dimaksud, ia mencucikan luka Hye Ri dengan air dan mengajaknya duduk di depan meja makan untuk diobati.

“Kelihatannya kau takut darah.” ujarnya setelah melihat ekspresi Hye Ri yang bergidik saat ia membersihkan luka gadis itu dengan kapas.

“Ah, ya, begitulah.” jawab Hye Ri. Sesekali ia menutup matanya ketika melihat noda darah di kapas yang dipegang Yonghwa.

“Tapi kau masih nekat memasak.”

Bukannya menjawab, Hye Ri malah memperhatikan Yonghwa yang sedang sibuk membuka bungkus plester, “Ternyata orang yang serius sepertimu bisa bercanda juga ya.” ujarnya mmengingat kata-kata yang dilontarkan cowok itu sebelumnya.

“Aku tidak sekaku yang kau kira.”

“Lain kali kau harus lebih berhati-hati.” lanjut Yonghwa setelah selesai menempelkan plester di jari telunjuk Hye Ri.

Hye Ri mengangguk dan tersenyum seperti anak kecil, “Ne, arasseo.”

Yonghwa terdiam menatap Hye Ri. Lagi-lagi gadis itu memamerkan senyum manisnya didepannya. Jika sudah seperti ini, ia sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa.

Tiba-tiba saja ponsel Hye Ri berdering. Cepat-cepat gadis itu mengambil ponselnya yang diletakkan di dekat papan potongnya didapur dan mengangkatnya.

“Ah, ne, oppa.” Hye Ri melirik ke arah Yonghwa dan menempelkan telunjuknya didepan bibir, mengisyaratkan agar cowok itu tidak mengeluarkan suara.

“Ya, aku sudah menyiapkannya. Baru saja aku mau makan malam. Kau tidak perlu khawatir begitu.” terdengar percakapan Hye Ri dengan orang di seberang telepon. Ia berjalan menjauhi Yonghwa agar percakapannya tidak terdengar.

Dan Yonghwa tahu, yang menelepon gadis itu pastilah laki-laki bernama Joong Ki itu.

***

Joong Ki sedang memasukkan satu per satu lauk-pauk seperti telur gulung, tempura, dan sosis goreng kedalam tempat makan persegi berwarna kuning─warna kesukaan Hye Ri─bersamaan dengan nasi yang sudah dihias sedemikian rupa dengan nori sehingga tampak sangat menarik.

“Kau mau menemui gadis itu lagi?” tiba-tiba terdengar suara seseorang. Joong Ki menoleh. Tampak ayahnya sudah berdiri tidak jauh darinya, menatapnya dingin sambil melipat tangannya.

“Ne. Aku akan mengantarkan makan siang untuknya. Kasihan juga kalau setiap hari dia harus datang kesini hanya untuk makan makanan buatanku.” jelas Joong Ki sambil tersenyum menatap lunch box kuning bertingkat dua yang sudah penuh dengan berbagai makanan itu.

“Joong Ki-ya, bukankah aku sudah bilang padamu untuk tidak berhubungan dengan gadis itu lagi? Kalau bisa kau jangan lagi bertemu dengannya.” kata ayahnya dingin.

Joong Ki menghentikan pekerjaannya. Senyum di wajahnya perlahan-lahan menghilang. Ia menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan serius, “Dan sudah berapa kali aku bilang aku tidak akan memutuskan hubunganku dengannya?”

“Kenapa kau selalu tidak mau mendengar perkataanku? Dengar, kau tidak pantas berhubungan dengannya. Masih banyak gadis lain yang menunggumu di luar sana. Carilah gadis yang lebih baik daripada dia.”

“Kurasa aku tidak perlu melakukannya. Karena aku tidak pernah menemukan gadis lain yang sebaik Shin Hye Ri.”

“Kalau begitu biar kutanya beberapa hal padamu. Selama tujuh tahun kau berhubungan dengannya, apa pernah sekalipun kau bertemu dengan orangtuanya? Atau gadis itu mengenalkanmu pada kedua orangtuanya? Apa pekerjaan mereka? Bagaimana respon mereka terhadapmu? Dimana mereka tinggal? Bagaimana keadaan ekonomi mereka? Kau bahkan belum pernah bertemu dengan mereka. Dia itu hanya gadis biasa yang asal-usulnya saja tidak jelas!”

“BRAK!!!” Joong Ki menghentakkan tangannya ke atas meja stainless steel dihadapannya. Kesabarannya hampir habis mendengar kata-kata ayahnya yang selalu saja memojokkan gadis yang dicintainya itu.

“Dengar, abeoji, yang berhak menentukan masa depanku adalah aku sendiri. Aku bisa menilai mana yang gadis yang baik untukku dan mana yang bukan. Aku tidak sepertimu yang selalu menilai sesuatu berdasarkan dia kaya atau tidak, ataupun dia bisa dimanfaatkan atau tidak!!” tukas Joong Ki tegas. Ia tidak suka jika ayahnya mulai mengungkit-ungkit masalah ini dan tidak ingin berdebat dengannya. Setelah merapikan lunch box yang sudah ditatanya dan memasukkannya kedalam tas jinjing kecil, ia pun bergegas keluar meninggalkan ayahnya yang masih tetap bertahan pada posisinya.

“Jangan salahkan aku jika kau menyesal nantinya.” ujar ayahnya pelan, namun dengan nada yang cukup mengancam. Joong Ki menghentikan langkahnya sebentar, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Ia tidak peduli akan kata-kata yang diucapkan ayahnya karena ia yakin akan keputusannya.

***

Hye Ri menggoreskan pensil di atas sketch book-nya sambil bertopang dagu. Sesekali ia menguap. Entah kenapa pekerjaannya hari ini sangat membosankan. Rasanya ia ingin jam makan siang segera datang sehingga ia bisa langsung melesat ke luar kantor. Tidak harus ke restoran tempat Joong Ki bekerja, yang penting dia bisa keluar, itu saja. Yah, kadang-kadang pekerjaan sebagai illustrator juga bisa membosankan jika sedang tidak punya ide.

Hye Ri melirik jam meja berbentuk bulat di sudut meja kerjanya. Waktu makan siang masih 15 menit lagi.

“Haaaah…!!! Apa waktu tidak bisa lebih cepat lagi!?” keluhnya dalam hati.

“Ya~ Hye Ri-ah, ada yang mencarimu.” tiba-tiba Song Eun Kyung, rekan kerjanya menghampirinya.

Hye Ri mendongak, “Nugu?”

Eun Kyung hanya mengedikkan bahu sambil tersenyum penuh arti, “Check it yourself.”

Melihat ekspresi Eun Kyung, Hye Ri jadi makin penasaran. Ia beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju lobby di lantai bawah, tempat yang ditunjukkan rekan kerjanya itu.

Sesampainya disana, ia menyunggingkan senyumnya ketika melihat siapa orang yang datang mencarinya. Orang itu membalas senyumannya sambil menunjukkan tas jinjing kecil berisi lunch box yang dibawanya.

“Oppa?”

***

“Tumben sekali kau mau repot-repot datang kesini.” celetuk Hye Ri, “Dan kau mengajakku makan siang di atap. Bagus sekali!”

“Asal jangan sampai ada helikopter yang mendadak mendarat disini.” sahut Joong Ki setengah bergurau.

Hye Ri ikut tersenyum. Sepertinya selera humor oppa-nya yang satu ini semakin hari semakin meningkat.

“Nah, sekarang kita mau makan dimana?” tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke setiap sudut atap bangunan kantor itu sejauh jangkauan matanya, mencari tempat yang kira-kira pas untuk menikmati makan siang.

Bukannya ikut mencari posisi yang pas, Joong Ki malah menatap Hye Ri lekat-lekat. Setelah Hye Ri menyadari siapa objek yang sedang dilihatnya, ia langsung menarik gadis itu kedalam pelukannya.

“O…oppa, ada apa?” Hye Ri merasa terkejut sekaligus heran, karena tidak biasanya cowok itu bersikap seperti ini.

“Tidak apa-apa. Aku hanya merindukanmu. Itu saja.” jawab Joong Ki pelan. Ia mempererat pelukannya pada gadis itu seolah tidak ingin melepaskannya.

“Saranghae, Hye Ri-ah…”

***

Detroit, USA

06.00 PM

“BRAK!!!” terdengar suara pintu didobrak dengan kasar. Masuklah tiga orang pria berbadan tegap dan berpenampilan rapi dengan setelan jas hitam.

“Cepat geledah!” perintah seorng pria berusia sekitar 50 tahunan yang berdiri di tengah. Dengan sigap dua orang pria dibelakangnya mengeluarkan pistol dari balik jas yang mereka pakai, mengangkatnya dalam posisi siaga, dan mulai berpencar ke setiap sudut rumah yang sudah kosong itu.

Pria yang tampaknya adalah atasan dari kedua pria tadi memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, lalu mulai berjalan santai menyusuri lorong di rumah itu. Sesekali ia menghentikan langkahnya sekedar untuk melihat-lihat kumpulan foto yang sudah dibingkai dengan rapi dan beberapa pajangan lain yang tertempel di dinding. Kebanyakan dari foto-foto itu adalah foto keluarga bahagia yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak perempuan. Namun, semakin lama foto-foto keluarga itu hanya tersisa 3 orang saja. Tak tampak wajah wanita cantik yang senyum manisnya selalu menghiasi beberapa foto sebelumnya. Dilihat dari kondisi foto yang sudah cukup tua dan beberapa masih berwarna hitam putih, sepertinya sudah cukup lama wanita itu telah tiada.

Pria itu mengdarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu bernuansa minimalis itu. Kentara sekali pemiliknya terburu-buru melarikan diri sehingga belum sempat mengambil barang-barangnya di rumah ini melihat dari perabotan yang masih tertata rapi di tempatnya. Namun, keadaan seperti ini justru menguntungkan. Cepat atau lambat, sang pemilik rumah pasti akan kembali kesini.

“Bos!” panggil salah satu anak buah pria itu sambi menuruni anak tangga, “Semua ruangan kosong. Mereka benar-benar sudah pergi.”

“Let me go!!” belum sempat pria itu berujar, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang gadis. Ketiga pria dalam ruangan itu menoleh. Tak lama kemudian masuklah seorang anak buahnya yang lain sambil menggiring seorang gadis berusia sekitar 16 tahun. Gadis itu meronta agar bisa melepaskan diri dari cengkeraman pria berbadan kekar itu, namun kekuatan yang dimilikinya jelas kalah jauh.

Gadis itu menatap tiga pria didepannya. Pandangannya tertuju pada pria paruh baya yang berdiri di tengah sambil memasukkan kedua tangannya didalam saku celana.

“Who are you!?” gadis itu menoleh ke kiri dan kanan dengan panik, “What’s goin’ on?”

“Just calm down, Shin Hye Sa.” ujar pria itu. Ia berjalan perlahan menghampiri gadis bernama Shin Hye Sa itu, “Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau disini?”

Hye Sa terbelalak, “Kau… orang Korea? Ba…bagaimana kau bisa tahu namaku?”

Pria itu tersenyum. Senyum yang tenang, namun penuh dengan tipu muslihat, “Duduklah dulu, Miss Shin. Kita bicara baik-baik.” ia mengisyaratkan anak buahnya untuk melepaskan Hye Sa dan mendudukkannya di sofa tidak jauh dari situ.

Pria paruh baya itu lalu duduk dihadapan Hye Sa dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu, “Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang dilakukan gadis kecil sepertimu di tempat ini?”

“I…ini rumahku. Aku ingin mengambil barang-barangku disini.” jawab Hye Sa jujur. Ia merasa sedikit ngeri melihat tatapan mata pria itu. Sepertinya dia adalah pria yang berbahaya. Pembawaannya yang tenang dan aura dingin menusuk yang dipancarkannya membuat gadis itu merinding.

“Lalu, kenapa kau mengambilnya sendirian? Dimana ayahmu?” tanya pria itu lagi.

Hye sa terkesiap. Sebenarnya siapa orang-orang ini? Kenapa mereka mencari ayahnya? Ia teringat, ayahnya berpesan untuk tidak mengatakan pada siapapun tentang keberadaannya. Ini demi keselamatan mereka berdua.

Hye Sa melirik ke arah tiga orang berbadan tegap yang usianya lebih muda daripada pria dihadapannya. Sepertinya mereka adalah bodyguard pria ini. Terlebih lagi jika melihat senjata yang mereka pegang di tangan masing-masing.

“Ayolah, Hye Sa. Mereka bukan orang baik-baik. They’re no good guy.”

“Kau tidak mau buka mulut?”

Hye Sa merasa gugup setengah mati. Bisa ia rasakan jantungnya berdetak cepat. Tangannya bergetar dan keringat dingin mulai mengucur di dahinya. Hye Sa menelan ludah, diam-diam menyiapkan ancang-ancang untuk kabur dari situ secepatnya. Setidaknya itu yang harus ia lakukan agar ingin selamat.

Ketika pria itu lengah, cepat-cepat Hye Sa bangkit dari tempat duduknya dan melesat menuju pintu keluar. Namun ia lupa memperhitungkan keberadaan para anak buah pria paruh baya itu sehingga mereka bisa menangkapnya kembali dengan mudah.

“Lepaskan!!” geram Hye Sa. Ia meronta-ronta dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan para penjahat itu dari tangannya, namun sia-sia saja.

“Nyalimu besar juga, nona. Aku kan sudah mengatakan kita akan bicara baik-baik.” pria itu menarik tangan Hye Sa dan melingkarkan tangan kirinya di leher gadis itu, sementara tangan kanannya mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan menempelkannya di pelipis gadis itu.

Hye Sa benar-benar sangat ketakutan. Napasnya memburu, keringatnya bercucuran, bercampur dengan air mata yang sekarang mengalir deras membasahi pipinya. Apakah pria ini benar-benar akan membunuhnya?

“Karena kau tidak mau menurut, terpaksa aku harus memaksamu.” ujar pria itu tenang. Sangat kontras dengan ekspresi Hye Sa yang hanya bisa berdoa dalam hati, memohon kepada Tuhan agar menyelamatkan nyawanya.

“Call your dad. Now.” perintah pria itu.

Karena ditodong pistol seperti itu, Hye Sa hanya bisa pasrah. Dengan tangan gemetar ia pun mengambil ponsel dari dalam saku mantelnya dan menekan beberapa tombol.

“Y…yeo…yeoboseyo, a…appa…” ucapnya terbata-bata. Ia berusaha menyembunyikan suara tangisnya agar ayahnya tidak curiga, namun tidak berhasil.

“Hye Sa-ya, ada apa?” terdengar nada panik sekaligus cemas dari seberang. Pria itu pasti bingung mengapa anak perempuannya itu meneleponnya sambil menangis.

Belum sempat Hye Sa menjawab pertanyaan ayahnya, pria paruh baya yang menodongkan senjata ke arahnya merebut ponsel yang ada dalam genggamannya. Sebagai gantinya, ia menyuruh salah satu anak buahnya untuk memegangi tangan Hye Sa agar gadis itu tidak kembali kabur.

“Hello, Mr. Shin Dong Hyuk.” ujarnya menyeringai.

“Kk…kau…!? Bagaimana kau bisa bersama putriku, hah!? Kau apakan dia!?” suara ayah Hye Sa terdengar gusar.

“Tenang saja. Aku tidak akan melakukan apa-apa padanya. Tapi itu kalau kau mau bekerja sama denganku.” pria itu menekan pelatuk pistolnya perlahan, membuat tangis Hye Sa semakin keras, “Kau harus tiba di rumahmu di Detroit dalam waktu kurang dari 5 detik.”

“Kau sudah gila!? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, hah!?”

“Appa, tolong aku!!” teriak Hye Sa sekencang-kencangnya.

“Diam kau!!” pria itu semakin menekankan pistolnya di pelipis Hye Sa. Membuat Hye Sa kembali tidak bisa berkutik.

Setelah Hye Sa terdiam dan hanya bisa menangis sesenggukan, pria itu kembali menempelkan ponsel gadis itu di telinganya, “Mudah saja, Dong Hyuk-ssi. Penyerahan dirimu.”

Pria itu melirik ke arah Hye Sa yang panik, “5…, 4…”

“Mana mungkin aku sampai disana dalam waktu 5 detik!? Itu tidak masuk akal!!?”

“3…, 2…”

“Jauhi tangan kotormu itu dari anakku!! Dasar keparat!!!”

“1…”

“APPA!!!”

“DORR!!”

(to be continued)

__________________________________

Hai semuanya!😀

Sesuai janji sebelumnya, ini FF dengan main cast Jung Yonghwa🙂 memang agak beda dengan yang sebelum-sebelumnya karna ini chaptered, tapi bukan berarti aku membeda-bedakan. FF ini aku bikinnya udah agak lama, cuma diganti main cast nya. Jujur aku belom kepikiran buat bikin one shot lagi, hahaha…

Oh iya, aku mau ngasih kuis nih!

Setelah 4 FF yang aku publish, ada yang bisa nebak bias aku siapa? Yang bisa jawab bakal jadi salah satu cast di FF aku yang selanjutnya (selain I Found You). Syaratnya, kalian harus tulis nama korea dan nama bias serta alasan jawaban kalian kenapa nebak member itu sebagai bias aku. Jawaban yang terbaik (menurut aku) maka dialah yang menang.

Jawabannya… bakal ada di FF yang aku publish selanjutnya.

Gimana, ada yang tertarik buat ikutan?

 

 

 

9 thoughts on “I Found You [Chapter 1]

  1. wah, ceritanya keren nih. genre nya action ya thor? *ngebayangin yonghwa yang ber-abs dan biceps beradegan action* whoaaaa
    ditunggu kelanjutannya ya thor🙂

  2. woooh seru nih.
    masih ga ketahuan yonghwa siapa. tapi kalo aku boleh nebak, kayaknya masih ada hubungannya sama org2 jahat itu. atau jangan2 anak baru di rencana B jangan2 Yonghwa??
    ah mwolla!!
    penasaran!
    ini ff nya ceritanya udah rampung ya? kalo gitu jangan lama-lama xD
    naiseu

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s