[[FF EVENT – JUNGSHIN’S BIRTHDAY]] The Best Gift Ever

Judul: The Best Gift Ever

Author: mmmpeb

Length: ficlet

Rating: G

Genre: family, romance, friendship

Cast:

  • Lee Jungshin
  • Lee Jeonghee

Other cast:

  • Lee Jonghyun
  • Kang Minhyuk
  • Jung Yonghwa
  • Krystal Jung

Note: HAPPY BIRTHDAY, MAKNAE LEE JUNGSHIN!!

****************************************

 

Motor CBR hitam itu terparkir tepat di hadapan pintu besar berwarna putih. Si pengendara tidak begitu mempedulikan motornya kini parkir sembarangan. Toh tanpa diminta, motor itu akan berada di garasi dengan sendirinya begitu ia ingin menggunakan motor kesayangan miliknya kembali. Lagipula sekarang bukan saatnya untuk untuk memusingkan letak motornya.

“NUNA!! NUNA!!!” teriaknya sembari berjalan terhuyung-huyung.

Suara teriakannya menggema saking luasnya rumah tempat berpijaknya kini. Rumah tinggalnya yang tanpa sepengetahuan dirinya didirikan atas nama dirinya.

Yang merasa terpanggilpun muncul. Ia berlari dari arah dapur.

“Kau sedang apa, nuna?”

“Pakai celemek begini kau pikir aku sedang main basket?”

Gadis itu berjalan mendekat. Tanpa menghiraukan apa yang ia lihat, ia memukul kepala adik laki-lakinya yang terpaut dua tahun dengan entengnya.

“YAH! Kau tidak lihat luka di wajahku?”

“Skateboard lagi? Jungshin, kau bukan hanya bodoh, tapi juga tuli! Takdirmu hanya bersama kamera, bukan skateboard!”

“Namanya juga belajar! Kau kira dulu saat belajar sepeda nuna langsung bisa? Perlu kutunjukkan foto saat nuna tercebur ke got?”

Gadis itu menjewer telinga laki-laki yang bernama Jungshin itu. Tanpa rasa kasihan, ia menarik Jungshin menuju dapur. Untuk apa lagi jika tidak ingin mengobati luka adiknya? Lagipula ia takut ayam yang tengah ia goreng menjadi gosong. Dan juga tidak ingin mengingat kembali salah satu momen memalukan itu.

“Duduk!” perintahnya tegas.

Di dunia ini, tidak ada yang Jungshin takuti. Ia berani melawan preman kekar sekalipun, ia berani diancam dikeluarkan dari sekolah karena begitu banyaknya hari yang sengaja ia tinggalkan. Dua yang ia takuti, kakak perempuannya dan kematian. Ia tidak akan berani dan tidak akan pernah melawan kakak kesayangannya.

Jungshin hanya tinggal berdua dengan Jeonghee. Kehidupan yang ia alami setengahnya hampir serupa seperti kisah khayalan yang mungkin hanya dialami segelintir orang di kehidupan nyata. Kedua orang tuanya adalah pengusaha sukses yang memiliki anak perusahaan yang tersebar hampir di seluruh kota di Korea Selatan, dan mereka telah tiada karena tewas akibat kecelakaan pesawat 3 tahun yang lalu. Hanya Jeonghee yang tersisa dan  Jungshin bersumpah akan menjaganya.

Dan satu lagi yang Jungshin takuti adalah kematian. Ia tidak ingin mati. Tidak jika Jeonghee belum pergi dari dunia ini. Sumpahnya sangat membekas di hatinya. Ia tidak akan pernah menyia-nyiakan Jeonghee. Ia akan menjaganya selalu.

“Nuna-ya, aku menyayangimu!”

“Makan nih sayang!”

“AWWW! YAH! Sakit, tahu!”

Jungshin meringis kesakitan. Entah karena tenaga Jeonghee yang terlalu besar saat mengusap luka di pelipis matanya atau lukanya yang terlalu menyakitkan sehingga makin terasa sakit saat sesuatu menyentuh luka itu.

“Lagian kok main skateboard bisa jadi begini? Ini cuma menyiksamu, tahu tidak?”

Tangan Jeonghee berhenti mengusap luka Jungshin. Ia mencium sesuatu yang aneh namun terasa familiar. “Bau apa ini?”

“Seperti bau kebakaran!”

“Astaga!”

Jeonghee melempar begitu saja kapas yang memerah itu ke wajah Jungshin.

“Ayamku gosong!”

“Ya, sudah! Tinggal beli saja, kenapa mesti repot?”

“Kau tidak tahu aku membuatkan ini hanya untukmu? Kalau kemarin kau tidak bilang ingin makan ayam goreng rumahan, lebih baik aku belajar di kamar, nanti sore aku ada kuis di kelas bisnis!” berangnya.

Dan Jeongheepun menyayangi adiknya, sama seperti sang adik yang begitu menyayangi kakaknya.

 

*****

 “Kalian berdua gila, Jungshin! Tapi kalau dipikir-pikir yah sayang juga sih putus sama Jonghyun hyung!”

Kenapa?”

“Orang tuanya kan donator tetap kampus kita!”

“Tsk! Kalau perlu kampus itu aku beli!”

Beli pakai apa? Beli pakai daun? Uang saja kau masih mengemis sama pengacaramu.”

“Sial! Lihat saja! Setelah aku memegang perusahaan, kau akan aku beli, Kang Minhyuk!”

Arasseo! Aku sudah tidak sabar dibeli oleh temanku yang kaya! Bagaimana dengan Jeonghee nuna? Dia curiga?”

“Untungnya tidak!”

Baguslah! Oh ya, Profesor Song mencarimu, katanya besok ditunggu di ruangannya. Lagi-lagi kau dapat C! Hahaha! Bodoh! Mata kuliah softskill saja jeblok!”

“Kau bawel sekali! Pergi sana!”

Siapa duluan yang menelponku, huh? Aku juga tidak mau berlama-lama menelpon! Yang ada Krystal curiga kenapa aku harus menjauh hanya karena telepon!”

“Ya, sudah! Bye, yeobo!”

See you, yeobo-ya!”

“MINHYUK! KAU-“

Jungshin segera memutus sambungan dan iapun tertawa geli begitu tadi mendengar suara Krystal dari seberang telepon. Semoga saja perang ketiga tidak pecah.

“Guling, ayo peluk aku!” katanya pada benda di sampingnya.

 

 

“LEE JUNGSHIN!”

BRAK!

Tidur Jungshinpun terganggu begitu mendengar suara pintu yang beradu keras dengan dinding kamarnya. Ia tahu Jeonghee yang berada di ujung kamar. Tapi setelah mengucek kedua matanya dan mendapati penglihatan jernihnya, ia sadar singa betinalah yang datang dan siap memangsanya.

“Nuna, kau lebih menakutkan dari setan!”

Dan ucapan barusan sukses membuat amarah Jeonghee memuncak. Gadis itu berjalan menghampiri Jungshin dengan langkah cepat. Tangannya gatal ingin memukul Jungshin dengan buku tebal yang ia genggam.

Stupid! Idiot! Bodoh! Tolol! Pabo!”

“Nuna, ampun, nuna! Badanku masih sakit-sakit!”

Jungshin berusaha menghindar dari pukulan-pukulan itu, tapi sayangnya ia sudah tersudut oleh dinding.

“Kenapa kau cari gara-gara dengan Jonghyun?”

“Nuna sudah tahu?”

“Bodoh! Dia datang menghampiriku dan marah-marah!”

Pukulan Jeonghee melemah, seiring air mata yang ia keluarkan. Jungshinpun bertanya-tanya di dalam hatinya. Sebegitu sedihkah Jeonghee ditinggal Jonghyun?

“Nuna, jangan menangis!”

Hati Jungshin mencelos melihat air mata sang kakak. Rasa bersalah itu muncul dan untuk sementara ia harus menahannya sampai ia bisa melihat senyuman sang kakak dan berterima kasih untuk semua yang telah Jungshin lakukan.

“Kenapa tidak bilang kalau lukamu dipukul olehnya? Aku menangis bukan karena Jonghyun bodoh itu! Sekalipun aku mencintainya, kau tetap yang paling berharga bagiku! Aku menyayangimu, Lee Jungshin!”

Kedua ujung bibir Jungshin sedikit terangkat. Kata sayang yang entah kapan terakhir kali Jeonghee lontarkan. Kata sayang yang selama ini tergantikan oleh sikap protektif Jeonghee.

Jeonghee mengusap air matanya sendiri saat Jungshin melepas pelukannya. Ia tidak ingin terlihat sedih di depan Jungshin. Apa lagi di hari special ini.

“Jungshin-ah, selamat ulang tahun!”

“Nuna masih ingat?”

“Tentu saja, bodoh!”

“Aku pikir hanya Jonghyun hyung yang ada di otakmu sekarang!”

“Lupakan saja dia!”

Jungshin sadar, mungkin akan sulit sekali melupakan orang yang dicintai kakaknya. Bagaimana saat Jeonghee berusaha menghindar dari tatapan Jungshin, bagaimana Jeonghee memalingkan wajahnya, dan bagaimana bahu Jeonghee tiba-tiba bergetar. Ia tahu Jeonghee sedang memikirkan Jonghyun, membuatnya kembali menarik tubuh kakaknya dan kembali memeluknya.

Bersabarlah, nuna! Rasa sakit itu hanya sementara!

“Jangan kasihan padaku!” picing Jeonghee pada adiknya.

“Kau memang perlu dikasihani! Kajja! Aku traktir makan es krim. Aku tidak mau melihatmu murung di hari ulang tahunku!”

Jeongheepun tersenyum. Senyuman yang Jungshin tahu adalah sebuah senyum paksaan.

DRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRTTT

Sesuatu mengalihkan perhatian mereka. Suara bergetar yang makin lama terdengar makin kencang. Jeonghee terkejut mendapati sebuah helikopter mainan tengah terbang dan berjalan menghampirinya.

“Jangan bilang ini mainan anak tetangga!” rutuk Jeonghee.

Tapi nyatanya helikopter mini itu datang bukan tanpa tidak disengaja. Sebuah spanduk mini yang terikat di helicopter mini tersebut menyadarkan Jeonghee jika benda itu datang untuknya.

“’Jeonghee, lihatlah keluar’? Maksudnya apa?”

“Mwolla!”

Helikopter itu kini berjalan menuju jendela, dan Jeongheepun mengikutinya. Gadis itu terpaku di dekat jendela. Sesuatu yang menarik perhatiannya di bawah sana sekaligus terasa mengharukan. Entah berapa lilin yang menggenang di permukaan kolam renang, tapi hal itu mampu membuatnya tidak bisa berkata-kata.

Would you marry me?”

Suara lembut itu terdengar jelas di telinga Jeonghee seiring sebuah pelukan erat yang memeluknya dari belakang. Suara itu seakan membaca tulisan yang dibentuk oleh lilin-lilin itu. Suara siapa lagi kalau bukan suara Jonghyun?!

 

 

Jungshin pov

 

Pemandangan itu begitu indah. Pemandangan yang berasal dari kamarku sendiri. Tidak ada yang lebih membahagiakan ketika melihat Jeonghee nuna bahagia. Aku tahu, nuna pasti menerima lamaran Jonghyun hyung. Kalau tidak kenapa mereka berpelukan?

Aku sudah mendapatkan kadoku hari ini. Kebahagiaan Jeonghee nuna. Rasanya seperti kado terindah.

“Rencanamu berhasil, Jungshin!”

Yonghwa hyung menepuk bahuku dan tersenyum puas. Rencanaku berhasil berkat bantuan hyung, juga Minhyuk dan Krystal. Dan tak lupa Jonghyun hyung yang sempat menolak mentah-mentah rencanaku. Aku hanya ingin momen lamar-melamar itu berkesan untuk nuna, bukan di restoran seperti yang sudah-sudah.

“Nde, hyung! Tidak sangka ya nuna dan Jonghyun hyung bisa sampai ke pernikahan. Padahal dulu aku pikir, hubungan mereka tidak bertahan lama, hyung kan lebih muda dari nuna.”

“Cinta tidak pandang umur, Jungshinie!”

“Yonghwa oppa benar tuh! Oh ya, kutunggu janjimu dua hari yang lalu loh! Imbalan membantumu. Dan juga upah mengajarimu main skateboard. kau belum mengupahku sejak 2 minggu yang lalu!”

“Haha! Jeju Island!!!” seru Minhyuk kegirangan dengan tangan yang terkepal ke atas. Manusia ini yang mengusulkan menginap di Jeju sebagai imbalannya.

“Arasseo!”

“ASIIIIK!”

Aku tertawa masam melihat tingkah mereka. Semoga saja Pak Han mau memberiku uang lebih.

“Minhyuk, jangan peluk-peluk!”

“Wae?? Kau kan pacarku, Krystal sayang!”

“Jangan panggil aku sayang! Aku harus mencari tahu siapa saja yang kau panggil yeobo!”

Lebih baik aku pergi dari pada Minhyuk ikut menyeretku ke dalam masalahnya.

Kulirik sekali lagi jendela kamarku dari tepi kolam renang. Nuna dan Jonghyun hyung sudah tidak ada.

“LEE JUNGSHIN!! BERANINYA KAU MELAKUKAN INI PADAKU!”

I’m in trouble!

 

-end-

 

got inspired by this https://ffcnblueindo.wordpress.com/2012/09/01/truly-deeply-love/

Another failed ff. Buat Jungshin ganteng: Happy birthday, Kang Sungjae!

 

4 thoughts on “[[FF EVENT – JUNGSHIN’S BIRTHDAY]] The Best Gift Ever

  1. HBD Lee Junh Shin…… !

    ,ckck….si Jung Shin ada” aja, tar terjadi perang dunia antara Hyuk an kry…
    bener” troublmaker
    sweet banget deh….jd pngn ade kaya Jung Shin…

  2. wakakakak mpeb eonni ceritanya seru abiiisss xD jadi terharu terinspirasi dari ff ku #plak hehe
    “Jangan bilang ini mainan anak tetangga!” rutuk Jeonghee. <– entah kenapa aku ngakak baca kalimat ini, sambil ngebayangin raut wajahnya si jeonghee yang galak itu wkwkwk.
    ff ini keren dan gak kepikiran, saat ini kan banyak orang yang ingin kado untuk dirinya sendiri tapi disini membuktikan bahwa ada sesuatu yang bisa dijadikan sebuah kado untuknya : kebahagian untuk seseorang yang disayanginya.
    huaaaaa terharu dengan makna itu eon :') nice …

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s