You Are My Days (OneShot)

Tittle                :  You Are My Days

Cast                 :  CNBLUE/OC ; Yonghwa/Jieun

Genre              :  Family Romance  PG 16

Length             :  Oneshot

Author             :  Yen Yen Mariti

*yang bercetak miring adalah flashback atau bisa juga mimpi jieun

.

.

.

You Are My Days

“Ibu…Ibu…”

Suara ceria, melengking dan sekaligus cempreng yang menggema kesegala ruang rumah terpaksa membuatku menyibak selimut, meninggalkan kasurku yang hangat dan mengorbankan jam tidurku yang berharga. Kuturuni anak tangga rumahku dengan tergopoh-gopoh dan mataku dapat menangkap dua sosok yang begitu kucintai berdiri di depan tangga sambil tersenyum sumringah.

Yonghwa dan Yongji.

Aku bergerak mengecup lembut pipi anak yang  berusia lima tahun lebih yang kini berada di gendongan Yonghwa dengan rasa sayang. Dan anak itu balas mengecup pipiku, membuatku tersenyum bahagia.

“Hmmm…”

Yonghwa berdehem, membuatku mengalihkan perhatianku. “Hn?” sebelah alisku terangkat keatas menatapnya penuh dengan tanda tanya.

“Aku?” ia menepuk-nepukan telunjuknya pada pipi kirinya yang indah. “Aku juga berhak mendapat kecupan sayang darimu seperti Yongji,” ujarnya sambil mendekatkan wajah padaku.

“Oh baiklah,” aku bergerak maju dan mengecup pipinya yang berkulit seputih salju dan sehangat mentari pagi di musim bunga.

Yonghwa bertingkah, kini telunjuknya beralih ke bibirnya. Memintaku untuk mengecupnya lagi. oh Tuhan !

“Tidak sayang, kau sudah mendapatkannya di pipimu barusan,” tolakku cepat tanpa basa-basi lagi.

“Hey Ji, ayolah..” ia merengek seperti anak kecil dan Yongji tertawa melihat tingkah konyolnya barusan.

“Yonghwa ! aku tidak ingin melakukannya di depan Yongji. Aku tidak ingin anakku melihat hal yang tidak-tidak, mengerti ?!

“Aku bisa menutup mata Yongji dengan tanganku dan kau bisa langsung menciumku.”

“Tidak. Sekali tidak ya tidak.”

Aku mengambil alih Yongji dari gendongan Yonghwa dan membawanya ke kamar tidurnya, mengganti pakaiannya dan membacakan dongeng singkat sebagai penghantar tidur siangnya. Setelah ia tertidur aku melangkah pelan meninggalkannya dan kembali ke kamarku.

Baru saja aku masuk ke kamarku dan hendak menutup pintunya kembali, sepasang tangan kekar namun hangat melingkar sempurna menghiasi pinggangku. Ada beban baru yang bertumpu di pundak kananku. Rasanya menyenangkan dan hangat saat kurasakan nafasnya berhembus pelan menyentuh bulu-bulu halus leher dan telingaku.

“Saranghae…” Yonghwa berbisik pelan dan ucapannya barusan masuk tepat ke rongga telingaku, membuat hatiku menghangat dan merasa tenang.

Kubalik tubuhku hingga menghadapnya, “Aku juga. Aku juga,” balasku atas ucapannya barusan. Yonghwa meraih tengkukku dan menahannya kemudian menempelkan bibirnya pada bibirku. Diam selama sekitar tiga detik, dan mulai bergerak setelah itu. Kecupan manis, lumatan manja. Ah.. aku begitu mencintai perlakuannya yang seperti ini padaku. Hanya dia yang mampu memberikanku ciuman seperti ini, hanya dia yang mampu membuatku tenang setiap saat. Hanya dia dan hanya akan dia untuk selamanya.

Aku mencintainya sejak bertahun-tahun yang lalu, bertahan hingga kemarin, hingga hari ini dan kuyakin cinta ini akan bertahan hingga saat seluruh rambutku menjadi putih dan seluruh tubuhku tidak mampu bergerak lagi hingga aku menutup mata untuk selamanya.

 

Kedua orang tuanya memutuskan untuk  bercerai. Tidak ada yang Ayahnya tinggalkan sebagai tunjangan hidup mereka. Yang ada hanyalah bekas-bekas luka yang masih terlihat baru menghiasi kulit kering mereka yang kusam. Dan yang lebih parahnya lagi Ibunya masuk rumah sakit, hampir mati setelah pertengkaran di dini hari itu. Suara botol bir yang menghantam kepala Ibunya dan suara nafas Ibunya yang tercekat saat jari-jari hina Ayahnya melingkar sempurna di leher Ibunya dapat diingat jelas oleh ingatan Jieun.

Semua berkahir. Tapi kenapa harus seperti ini ?

Sangat tidak adil.

 

Di usianya yang baru menginjak 20 tahun membuatnya harus membanting tulang. Demi mengisi perutnya setiap hari, demi membayar biaya rumah sakit Ibunya dan demi kehidupan yang lebih baik untuk mereka berdua.

Apapun ia lakukan, demi beberapa lembar uang. Hingga hari itu, ia datang ke club setelah melakukan kesepakatan pada pemilik club. Dengan pakaian yang lumayan minim.

Jieun terlalu polos hingga ia bertanya, “Apa pekerjaanku?”

Si brengsek itu hanya tersenyum, “Hanya melayani tamu untuk minum.”

Jieun dapat mengerti bahwa semua bohong saat tangan-tangan hidung belang itu merayapi tubuhnya. Saat pakaiannya ditanggalkan dari tubuhnya. Saat ia menangis karena menahan sakit akibat perlakuan manusia-manusia tidak berperikemanusiaan itu.

Jieun hancur hanya dalam kejapan malam. Mimpinya, harapannya dan hidupnya hancur lebur dan ia berpikir semua telah berakhir saat itu juga.

Panas dan dingin bercampur jadi satu, menggerogoti seluruh tubuh dan perasaanku. Mimpi itu tiba-tiba datang setelah hampir bertahun-tahun yang lalu sempat menghilang. Peluh mengucur deras, begitu juga dengan air mata.

Ketakutan itu terasa kental lagi. Begitu juga dengan rasa bersalah dan hina yang menjadi satu. Malam ini kembali terasa mencekam, sama persis seperti malam-malam yang pernah kulewati bertahun-tahun yang lalu.

“Yonghwa…” ada ia di sampingku, tidur dengan tenang. Setidaknya aku merasa tenang dengan kehadirannya. Kupeluk erat tubuhnya, kutenggelamkan kepalaku di dada bidangnya yang lembut.

Aku berusaha melupakan mimpi buruk yang merupakan cermin kehidupan masa laluku. Masa lalu yang begitu buruk, yang menyakitkan dan sangat hina.

“Kenapa kau menangis?” tangisanku membangunkan Yonghwa. Ia mengusap lembut kepalaku. Aku hanya menggelengkan kepala berkali-kali, tidak mampu mengucapkan satu katapun.

“Ada aku, tenanglah. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi selama kita bersama,” kurasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh ubun-ubunku berkali-kali. Sepertinya Yonghwa mengecupi aku.

“Saranghae…”

Satu kata terakhir darinya di tengah malam ini membuatku tenang. Aku bersamanya sekarang. Aku sudah keluar dari lorong gelap itu. Aku punya kehidupan yang berbeda. Yang bahagia, yang hangat, bersamanya. Suamiku tercinta—Jung Yonghwa.

Bulan Desember. Saju turun dengan derasnya, angin bahkan seakan membeku. Sungai Han yang dalam, airnya begitu dingin dan terlihat agak membeku. Jieun melangkah perlahan, satu langkah setiap dua detik. Tubuhnya hampir mmebeku, tanpa dibalut pakaian tebal dan hangat. Matanya membengkak dan memerah. Rambutnya kusut, wajahnya pucat dan terlebih lagi hatinya hancur.

Seiring dengan kediapan matanya Jieun berniat melompat ke dalam sungai Han yang dingin. Tapi semua gagal, sepasang tangan kekar menarik tubuhnya dengan cepat, secepat Jieun membuka matanya kembali.

“KAU GILA ! APA YANG INGIN KAU LAKUKAN ?! INGIN BUNUH DIRI HAH?!” laki-laki tinggi dengan wajah tampan itu berteriak marah di depan wajah Jieun.

Gadis itu menggigit bibir, “Kau tidak mengenalku, begitu juga aku yang tidak mengenalmu. Jangan mencampuri urusanku, ini hidupku jadi biarkan aku yang memutuskan.”

“Tapi bukan begini caranya. Kau masih muda, masih punya masa depan yang harus kau tata. Jangan bertindak bodoh !” laki-laki itu kembali bersuara, kali ini tidak berteriak namun tetap terdengar nada dinginnya.

Jieun ambruk di atas salju yang dingin, air matanya bercucuran dan matanya bertambah bengkak. Ia terisak hebat, menggenggam salju yang ada di sekitarnya. Laki-laki itu terlihat bingung.

“Kau tidak mengerti. Aku hancur, aku tidak mampu hidup lagi.”

“Sehancur apa dirimu hingga kau berniat mati?!”

“Aku…..aku kotor. Pria itu menyentuhku, pria itu menamakan benihnya di sini. Aku tidak kuat!” Jieun memukul perutnya berkali-kali, air matanya tetap bercucuran keluar. Bagaimana hidupnya nanti ? apa yang akan terjadi pada nyawa yang ada di rahimnya sekarang ?

Laki-laki itu mengerti mengapa gadis di hadapannya begitu putus asa. Ia meraih kepala Jieun lalu mengusapnya lembut, ia bisa merasakan kesedihan gadis itu. “Hey Siapa namamu?” tanyanya dengan sedikit senyum di bibir.

Jieun menghirup udara, “Ji…eun. Lee Jieun,” sebutnya dengan suara parau, bergetar dan terdengar sangat hancur.

Laki-laki itu mengulurkan tangannya dengan senyum tulus, “Aku Jung Yonghwa. Maukah kau hidup denganku, Jieun-ssi?”

Terkadang ada rasa penyesalam yang menikam hatiku. Rasa ragu terhadapnya, rasa malu dan hina. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat itu hingga ia berani menanggungku kedalam hidupnya. Aku pernah berpikir akan bercerai darinya, karena alasan aku tidak pantas untuknya, aku hanya bisa menyusahkannya dan banyak alasan lainnya. Tapi itu dulu, saat usia pernikahan kami masih seumuran jagung. Sekarang tidak akan ada kata-kata penyesalan lagi. Aku bahagia bersamanya. Kami adalah keluarga kecil yang bahagia.

Aku turun dari kasur, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tidak ada Yonghwa di kamar kami, rumah terasa begitu sepi. Aku melangkah buru-buru ke taman kecil yang ada di samping rumah kami. Senyum terukir di bibirku, saat suara tawa bocah perempuan dan suara hangat seorang Ayah menyapa telingaku. Mereka terlihat tengah bermain-main.

“Ibu…” Yongji berlari ke arahku dan aku mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi sebelum mengecup sayang pipinya.

“Kau sudah bangun,” ujar Yonghwa yang berjalan ke arah kami.

“Kenapa tidak membangunkanku?” aku memasang wajah kesal.

“Kau terlihat sangat nyenyak sekali, aku jadi tidak tega membangunkanmu. Kelihatannya kau sedang mimpi indah.”

Aku hanya tersenyum dan berjalan ke arahnya. Yongji pergi ke tumpukan bunga dan mulai bermain sendiri. “Aku memimpikanmu,” kataku pada Yonghwa sambil mengapit lengan kanannya.

“Benarkah?”

Aku mengangguk, dan Yonghwa menatap wajahku. “Yonghwa…”

“Ya, istriku?”

“Terima kasih.”

Dahi dan hidungnya berkerut bersamaan, “Untuk?”

“Kau menepati janjimu untuk membahagiakanku, kau juga mencintaiku sepert janjimu dan terakhir terima kasih banyak karena telah menyayangi Yongji seperti anakmu sendiri. Aku tidak akan pernah menyesali nasibku bertemu denganmu.”

Langit sudah agak menggelap, sinar matahari sore mengenai sebagian wajah Yonghwa. Membuat wajahnya beribu kali lipat lebih tampan dari biasanya, ia tersenyum seperti malaikat.

“Jangan berterima kasih. Aku mencintaimu karena aku mecintaimu, aku membahagiakanmu karena aku mencintaimu dan aku menyayangi Yongji karena aku menyayanginya. Kita adalah keluarga kecil yang bahagia.”

Entah sejak kapan wajah kami jadi berhadapan dan hanya dibatasi oleh ujung hidung kami. Matanya yang indah seakan menembus mataku. Senyumnya yang tulus membuatku tertawa kecil. Semilir angin sore yang sejuk seakan mendorong kami untuk berciuman. Bibirnya menempel erat di bibirku, lumatan yang begitu merdu dan nyaman. Ini adalah ciuman termanis dari sekian ciuman-ciuman manis yang biasa kami lakukan.

Hari ini aku sadar akan satu hal. Aku tidak akan bisa lepas dari laki-laki ini. Aku tidak akan mampu bertahan tanpa sosoknya, aku tidak dapat menemukan kebahagiaan di manapun selain padanya. Aku mencintai sosok ini. Dan aku bersumpah akan mencintainya hingga akhir hidupku nanti. Aku mencintaimu sayang. Saranghae~

–THE END—

Halo, saya admin baru di sini. Ini merupakan ff pertama saya sebagai admin, sebelumnya 5 ff saya yang lain juga pernah di post di sini. Untuk readers maupun admin yang lain saya mohon bimbingannya. Ff yang saya tulis semuanya masih sangat sederhana dan kebanyakan ceriatanya masih murahan, jadi mari kita bersama-sama belajar menulis ff yang menarik dan berkualitas ^^

Oh ya untuk ff ini mungkin banyak kata-kata yang agak kotor, maaf sekali ya. Ini terspirasi dari banyak cerita yang saya dengar dari orang-orang terdekat saya. Mungkin agak menggantung dan kurang jelas. Jika kurang jelas bisa ditanyakan dan insya Allah saya akan menjawab dengan sebaik-baiknya. Kemudian, saya masih punya hutang di sini, yaitu membuat sequel untuk ff Secret Of Under The Dark Sky dan After 4 Years Has Passed. Akan saya usahakan menyelesaikan semuanya setelah mid semester berakhir (sekitar minggu depan)

Terakhir, Kritik/saran sangat diharapkan.

3 thoughts on “You Are My Days (OneShot)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s