The Tell-Tale Heart (Medicine)

 

 

Title                          : The Tell-Tale Heart (Medicine)

Author                      : @emo2day (emo2day.wordpress.com)

Rating                       : PG 15

Genre                       : a little bit romance, friendship

Length                      : One shoot

Main Cast                 :

–          Jung Yonghwa

–          Hyejeong (AOA)

–          Park Cho Ah – Choa (AOA)

Other Cast                :

–          Onew

–          Key

–          Shin Jimin (AOA)

–          Kim-seonsaeng

–          Lee Hongki

–          Yonghwa’s eomma

Disclaimer                : alur adalah buatan saya dan juga Yonghwa oppa JJJ

Note                          : annyeonghaseyo readers J #bow. Ini FF pertamaku, harap maklum jika ada (banyak) typo + alur yang gaje. Mohon bantuannya dengan RCL.

##selamat membaca##

 

 

Senja itu ada seorang gadis yang sedang duduk sendirian di bangku taman belakang sekolahnya. Ia adalah salah seorang siswa dari sebuah sekolah menengah favorit di Daegu. Sinar matahari yang kuning kemerahan menerangi wajah putihnya yang basah. Bulir air matanya terus saja keluar. Angin yang berhembus lembut, turut merasakan kesedihannya dan sesekali terdengar suara sesenggukan ditengah tangisan lirihnya.

 

Suara lirih gadis itu  mengundang rasa penasaran seorang namja untuk memeriksa apa yang sedang terjadi dan siapakah yang sedang berada di taman belakang sekolah.

 

Ia datang dengan perlahan seolah tak ingin diketahui siapapun. Ia semakin mendekati sumber suara. Ia berhenti sejenak, mencoba untuk memahami situasi.

 

***

 

Hyejeong berangkat bersama sahabatnya Choa, yang tinggal di sebelah kos-kosannya. Keduanya tampak terburu-buru karena kurang 5 menit lagi gerbang sekolah mereka akan ditutup. Parahnya lagi Hyejeong tak sempat sarapan dan masih lagi dipaksa lari menuju halte dekat kos-an mereka.

 

“Choa-ya, kurang 3 menit lagi gerbang sekolah ditutup. Cepetan!!” Kata Hyejeong penuh kekhawatiran.

 

“Aku juga tahu,Hye-ya. Ini juga udah cepet.” Jawab Choaya tak kalah khawatir.

 

***

Teeeet….. Teeet….. Teeeett

“Ugb….ahh untung aja tadi pintu gerbang belum ditutup.” Kata Hyejeong lega setelah meneguk air dari tumbler miliknya.

 

“Belum ditutup sih belum ditutup tapi rasanya nulis nama sendiri di buku skors itu..RANDOM !!” Sungut Choaya.

 

“Eh katanya hari ini ada murid pindahan di kelas kita.” Kata Hyejeong merubah topik pembicaraan.

 

“Uhh… Yang bener? Kau dapet bocoran dari mana? Emang pasti ke kelas kita? Sekolah kita kan punya banyak kelas,Hye-ya. Ato jangan-jangan kau….” Kata Choaya dengan nada menggantung.

 

“Jangan-jangan apa? Kau ini!! Aku dapet info dari TU,tau.” Jawab Hyejeong sekenanya.

 

“ayo cepet masuk, Kim-seonsaeng udah datang tuh. Cepet pada duduk.” Perintah Onew, si ketua kelas.

 

“Selamat pagi, anak-anak! Sebelum mengawali kegiatan pada pagi ini marilah kita berdo’a menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdo’a, dipersilakan.”

 

Yonghwa merasa tak sabar menanti untuk segera dipanggil masuk ke dalam kelas. Ia ingin segera melihat ekspressi Hyejeong saat ia memasuki kelas Hyejeong.

 

Apakah ia akan terkejut melihatku disini?

 

“Berdo’a selesai, nah anak-anak bapak punya kejutan untuk kalian. Kejutannya adalah…” Kata Kim-seonsaeng.

 

“Wah..Nilai percuma ya, pak?” sahut Jimin

 

“Aah..Aku tahu pasti nilai ulangan kita bagus-bagus!” Tebak Key.

 

“Bukan itu tau, yang bener itu……” Jawab Hongki.

 

Belum sempat Hongki menyelesaikan kalimatnya, Kim-seonsaeng memotong perkataannya.

 

“Sudah…sudah…diaaaaammm!!!! Kejutan bapak pada pagi ini adalah….silakan masuk….” Kim-seonsaeng melirik pintu kelas dan memberi kode untuk seseorang untuk masuk ke kelas.

 

Yonghwa masuk ke dalam kelas.

 

Kupastikan dia akan terkejut setelah melihatku pindah kekelasnya. Tapi apakah dia akan senang dengan kedatanganku? Jae-ya, aku merindukanmu……..

 

Yonghwa berjalan tegap saat masuk ke kelas Hyejeong. Ia menebarkan senyuman tipis kepada seluruh siswa yang ada di kelas itu. Semua mata tertuju pada Yonghwa, terutama para siswa putri. Wajah tampannya mampu menyedot perhatian mereka.

 

APA?? Apa mataku tak salah lihat? Dia…dia! Apa yang dilakukan dia disini? Kenapa Yong~ bisa ada disini? Apa dia kurang kerjaan masuk kelas orang sembarangan? Tapi kenapa Pak Pumis mengijinkannya masuk? Jangan-jangan yang dibilang guru TU kemarin adalah benar. Tapi kenapa harus di kelasku? Aisshh Yong~ kau akan membuatku semakin tersiksa jika kau berada disini.

 

Hyejeong berusaha menutupi identitasnya dengan memasang tanganya di depan wajahnya.

 

“Hye-ya, ada apa sih? Kok kamu aneh gitu?” Tanya Choaya menyelidik.

 

“sssst… Diamlah, jangan kau hiraukan aku.” Bisik Hyejeong sambil menyibakkan tangannya.

 

Yonghwa mengedarkan matanya ke seluruh penjuru kelas. Ia mencari sosok Hyejeong, sahabat kecilnya, yang juga akan menjadi teman sekelasnya. Sesaat kemudian ia melihat Hyejeong, mata mereka bertemu. Ia tersenyum penuh arti saat melihat Hyejeong salah tingkah.

 

“Waaaaaahh, dia tampan sekali…Kau lihat itu? Dia begitu mempesona” Puji Choaya.

 

“Annyeonghaseyo! Jeoneun Yonghwa, Jung Yonghwa-imnida. Saya adalah murid pindahan dari Busan. Dulu aku pernah tinggal di kota ini hingga lulus SD, setelah itu aku melanjutkan sekolah di Busan. Senang bisa mengenal kalian. Oh ya, satu lagi kudengar teman keciku ada di sekolah ini juga, namanya adalah…”

 

Yonghwa kumohon jangan katakan,kumohon….jangan katakan kalau kita dulu berteman…

 

“Namanya adalah Hyejeong, apakah salah satu dari kalian mengenalnya?” Yonghwa pura-pura bertanya. Karena sebenarnya ia sudah tahu kalau Hyejeong berada di kelas yang kini ia tempati.

 

Dengan kompak dan tanpa aba-aba dari siapapun, seluruh isi dari kelas itu menengok ke arah bangku Hyejeong dan Choa.

 

“APA???? Jadi dia, si-si murid baru nan tampan itu adalah temanmu?? Kenapa kau tak pernah bercerita padaku kalau kau punya teman setampan dia?” Kata Choaya yang tak henti hentinya memandang wajah Yonghwa.

 

“e..eo.” jawab Hyejeong dengan penuh penyesalan.

 

“Apa? Apakah Hyejeong berada di kelas ini?” Tanya Yonghwa pura-pura dengan menampakkan wajah innocent-nya.

 

“Itu diaa!! Dia ada disana.” Seru satu kelas.

 

“Apakah kau mau mengenalkanku padanya?? Kurasa aku jatuh hati padanya sejak pandangan pertama….” Tambah Choaya dengan penuh semangat.

 

“perkenalannya cukup sampai disini dulu. Kalian bisa mengenalnya lebih dalam, nanti. O ya, kau bisa duduk disebelaaah…” Kata Pak Kumis menggantung karena masih mencari tempat duduk untuk Yonghwa.

 

“Uhmm… Bagaimana kalau aku duduk disana pak?” Kata Yonghwa menyeringai tipis sambil menunjuk tempat duduk yang berada di belakang Hyejeong.

 

“Uh baiklah silakan duduk.” Kata pak kumis.

***

Teeet… Teeeet….. Teeeet

Jam istirahat tiba, Hyejeong memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya sendiri, sambil mendengarkan musik di tempat favoritnya, taman belakang sekolah. Karena taman belakang sekolah adalah tempat yang sepi, tempat yang sesuai untuk meluapkan emosi. Sebenarnya, tadi Choa menawarinya pergi ke kantin dengan maksud  agar ia dapat bertemu Yonghwa, tapi Hyejeong menolaknya. Ia tak mau membuat dirinya tersiksa dengan melihat Yonghwa berdekatan dengan wanita lain. Atau wanita lain yang mencoba mendekati Yonghwa karena wajah dan atitude-nya yang rupawan. Walau ia berusaha menghapus rasa itu, entah kenapa rasa itu terus saja tumbuh di dalam hati kecil Hyejeong.

 

Kenapa dia tak bilang padaku kalau ia akan pindah ke sini. Dan lagi kenapa Choa minta PDKT sama Yonghwa-ku. Aku kan tidak rela, meski dia…… sahabat…….. terbaikku…….

 

Hyejeong mengacak rambutnya seperti orang frustasi.

 

“Hei, gadis jelek apa yang sedang kau lakukan disini? Kau sedang apa? Kau mau menambah jelek mukamu dengan membuat rambutmu seperti singa,ya? Kurasa itu ide yang bagus…. Itu akan membuat efek jelek pada dirimu bertambah ..hehehe..” Ledek Yonghwa.

 

“Mau apa kau kesini? Kalau mau mengganggu pergi sana!!” Jawab Hyejeong ketus.

 

“Aku hanya mau melarikan diri dari murid-murid perempuan yang sejak awal istirahat mengejarku. Itu membuatku jengkel. Apa mereka tak pernah melihat pria setampan aku? Atau memang di sekolah bahkan di kota ini sudah tak ada lagi pria tampan?” Jawab Yonghwa penuh percaya diri.

 

“Ya!!! Kau ini jangan terlalu percaya diri. Dan jangan memamerkan wajahmu itu dihadapanku aku sedang tak berminat melihat wajahmu. Cepat pergi!!” Usir Hyejeong.

 

Apa yang telah aku lakukan? Apa yang telah aku katakan?!! Bodoh, kau Hye-ya!! Bukankah kau merindukan sahabat yang sudah 4 tahun ini jauh darimu?? Dan disaat dia datang kau malah memperlakukannya dengan dingin? Bodoh kau Hyejeong!! Yong, sebenarnya aku sangat merindukanmu. Merindukan tingkah jahilmu,lekuk wajahmu, lembut suaramu dan perhatianmu.

 

Yonghwa terdiam cukup lama. Ia menatap dalam mata Hyejeong.

 

“Baiklah aku akan pergi, nikmatilah kesendirianmu, nona.” Yonghwa berjalan meninggalkan Hyejeong. Di langkahnya yang ke lima, ia berbalik dan menatap punggung Hyejeong sesaat dan kembali meneruskan langkahnya.

 

Hyejeong-ah, apakah kau tidak merindukan aku? Sahabat kecilmu…????

Apakah kau tidak senang dengan kedatanganku? Apa yang telah merubahmu menjadi gadis dingin seperti ini Hyejeong? Apakah karena aku pergi terlalu lama dari sisimu?

***

 

Hyejeong berangkat lebih pagi dari biasanya. Hari ini ia berangkat sendiri tanpa Choa. Ia merasa sedang tak ingin berjumpa dengan Choa. Hyejeong merasa Choaya serius dengan perkataannya kemarin, bahwa ia menyukai Yonghwa.

 

Haruskah aku menghancurkan perasaanku pada Yonghwa yang sudah lama ku bangun untuk seorang yang telah mau bersamaku dalam duka maupun suka?

 

Hyejeong membunuh waktunya pagi itu dengan menikmati pemandangan taman belakang sekolahnya melalui jendela kelasnya. Memandang bunga yang sedang bermekaran, mendengar suara gemericik air yang jatuh dari air terjun mini sekolah itu dan merasakan hangatnya sinar mentari pagi.

 

Teeeeet………… teeeeet….. teeeeeet

 

“Woooaaa……….!!!!” Perhatian Hyejeong teralihkan pada suara gaduh yang ada dibelakangnya.

 

Apa? Mereka berangkat bersama? dan itu, tanganmu? Mengapa bertautan dengan tangan Choa? Secepat itukah mereka sudah menjalin hubungan? Padahal baru kemarin Yonghwa masuk di kelas ini. Dasar Yonghwa playboy! Apakah selama 4 tahun ini dia hanya belajar untuk merebut hati seorang wanita??Kau sudah berubah..Yong~…

 

“annyeong , Hyejeong-ah…” Kata Yonghwa dan Choaya bersamaan.

“annyeong..” Jawab Hyejeong dengan malas.

“By the way, selamat ya atas hari jadi kalian..! Yong kenapa kau tidak memberitahuku tentang ini dan kau Choa!! bukankah baru kemarin kau bilang….mmmph” sebelum sempat meneruskan kata-katanya, mulut Hyejeong sudah terlanjur dibekab oleh Choaya dengan tangannya.

 

“Apa maksudmu dengan jadian? Kami?” kata Yonghwa dengan tatapan bingung.

 

“Sudah-sudah jangan dibahas. Kami tidak menjalin hubungan apa-apa kan Yong?” Kata Choaya memastikan.

 

Apa? Yong? Dia memanggil Yonghwa dengan sebutan Yong? Yong adalah panggilan sHye-ahangku pada Yonghwa, dan itu hanya aku yang boleh mengucapkannya. Aku tahu ini terdengar posesif dan egois tapi aku menginginkannya..

 

“I-iya.” Jawab Yonghwa dengan wajah aneh.

 

Walau mereka tak mengakui, aku dapat melihat raut suka yang terpancar dari mata Choa pada Yonghwa. Dan hatiku dibuat sesak karenanya. Yong~ bisakah kau memahami perasaanku yang kusimpan untukmu? Aku cemburu jika kau membagi perhatianmu dengan orang lain….

 

***

~hari yang cerah sepulang sekolah~

 

“Hye-ya, kasih tau apa yang disuka Yong~, apa yang gak disuka Yong~, terus dia punya tipe cewek ideal yang seperti apa?” Rengek Choaya.

Hyejeong menhentikan langkahnya dan menatap Choaya dengan tajam.  “Kalo mau PDKT, PDKT aja sendiri. Jangan cari jalan pintas.” Jawab Hyejeong dengan dingin.

 

“Dan satu lagi aku gak suka kalo kamu memanggil Yonghwa dengan sebutan Yong.” Bentak Hyejeong.

 

Apa tadi Yong~? Itukan panggilan sHye-ahangku pada Yonghwa. Masa sih Yonghwa mau dipanggil Yong. Aku tak tahan mendengar kata Yong keluar dari mulut kecilnya, rasanya hati ini seperti tertusuk jarum yang beribu jumlahnya. Maafkan aku Choa-ya, telah bersikap kasar padamu.

 

“Kok kamu gitu sih,Hye-ya? Aku kan cuma nanya.”

 

“Sudahlah…” Hyejeong mempercepat langkahnya menuju halte bus depan sekolah mereka dan Choa ditinggalkan Hyejeong.

 

Choa mendengus kesal pada sahabatnya itu. Hari ini ia tak pulang bersama Hyejeong. Choa berjalan menyusuri trotoar yang lumayan sepi. Ia berjalan dengan menendang-nendang kaleng minuman soda yang ada di depannya dengan kepala tertunduk. Tiba-tiba langkah Choaya terhenti. Choa merasa namanya dipanggil oleh seseorang. Ia mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang memanggil namanya.

 

“Choa-ya, mau ku antar gak?” Tawar Yonghwa pada Choa.

Choa menerima tawaran Yonghwa dengan senang hati. Wajah yang tadinya kusut sekarang berubah cerah dan bersinar di hadapan Yonghwa.

 

Untuk apa aku memikirkan masalahku dengan Hyejeong. Lebih baik aku pulang diantar Yong. Kurasa ini adalah hari keberuntunganku. Kapan lagi aku bisa diantar cowok populer di sekolah?? Tapi perutku…

 

“Tapi Yong, aku ingin makan sphagetti dulu sebelum pulang. Apakah kau keberatan?” Tanya Choaya sedikit takut.

 

“Tentu saja tidak, lagi pula sphagetti adalah makanan favoritku” jawab Yonghwa dengan tersenyum.

 

Jadi sphagetti adalah makanan favoritmu? Aku akan terus mengingatnya.

Pada saat sang sama sepasang mata menatam tajam kearah Yonghwa dan Choa. Menatap setiap gerakan yang mereka ciptakan. Menatap setiap perubahan emosi pada raut keduanya. Hyejeong tak bisa melepaskan pandangannya dari keduanya,walau bus yang ia tumpangi sudah berlalu dari halte tempat ia naik.

 

Apakah sesakit ini jika mencintai seseorang dari belakang? Melihatnya tersenyum dengan orang lain itu menyakitkan, hingga aku tak bisa tersenyum melihatnya dan pada akhirnya beningnya air mata harus aku keluarkan untuk membayar senyumnya.

***

 

“Waaaah kelihatannya semua makanan ini enak, ayo kita coba.” Ajak Yonghwa yang sudah mendapati makanan yang ia pesan tersaji di hadapannya.

 

“mm..mm. Selamat makan.” Seru Choaya tak kalah antusias.

 

“Yong, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu.” Kata Choaya pelan disela kegiatan makan mereka.

 

“Hye-ah, bisakah kau berhenti memanggilku Yong? Karena itu terdengar aneh di telingaku.” Potong Yonghwa.

 

Mengapa Yonghwa merasa risih? Sikapnya ini sama dengan sikap Hyejeong tadi. Apakah…..?

 

“Kenapa?” tanya Choa singkat

 

“Mungkin aku hanya tak terbiasa jika orang lain memanggilku dengan sebutan Yong. Maaf jika itu,melukaimu.”

 

“Tidak, tidak sama sekali. Oh ya, Yong, ehh salah Yonghwa. Aku ingin bertanya suatu hal yang pribadi padamu..”Kata Choaya berhati-hati.

 

“Uhmm, katakan saja. Aku akan menjawabnya jika aku tahu jawabannya..” Jawab Yonghwa ringan sambil mengunyah sphagetti yang ada di mulutnya.

 

“Se-sebenarnya aku menyukaimu sejak awal aku melihatmu. Saat kau memasuki kelas ku..”

 

“Uhukk…uhukkk. Kau baik-baik saja Hye-ah? Kau tidak sakit,kan? Atau kau tadi terbentur sesuatu yang membuat otakmu sedikit bekerja dengan tidak baik??” canda Yonghwa.

 

Bagaimana ini bisa terjadi? Choa-ya, kau terlalu cepat mengambil keputusan…maaf aku tak bisa menerimamu…. Hatiku sudah dimiliki seseorang.

 

“Tidak aku SERIUS. Aku menyukaimu, Jung Yonghwa.”

 

“……………………….”

“Maaf Choa-ya, aku tak bisa menerima perasaanmu itu. Aku…..aku tak pantas menerima perasaanmu itu, karena aku memiliki seseorang yang telah mengisi hatiku,maaf. Tapi kita tetap menjadi teman kan?”

 

Pasti wajahku sekarang tampak seperti orang bodoh. Mengharap cinta dari seorang Yonghwa?? Memalukan… Kau ini terlalu gegabah untuk memutuskan bahwa kau menyukai seorang Yonghwa.. jadi terimalah akibatnya..!!!

 

“Ten-tentu saja kita bisa tetap berteman. Dan terimakasih kau mau mendengar ungkapan hatiku. Ya…walau berakhir begini.” Kata Choa dengan penuh kekecewaan.

 

“Choa-ya, aku benar-benar minta maaf.”

 

“Sudahlah aku baik-baik saja. Kini aku merasa sudah tidak ada lagi beban yang menyelimuti hatiku. Tidak apa-apa, aku baik-baik saja.”

 

“Tapi, Choa-ya. Bolehkah aku bertanya padamu?” Tanya Yonghwa dengan hati-hati.

 

“Sebelum kau bertanya, aku mau kau menjawab pertanyaanku, Apakah orang yang mengisi hatimu adalah sahabatku?” Tanya Choa dengan nada tegas.

 

Wajah Yonghwa terlihat kaget saat aku melontarkan pertanyaanku tadi. Ia terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaanku.

 

Yonghwa hanya mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Choa.

 

“Oh ya kau tadi mau tanya apa?” Jawab Choaya setenang mungkin.

 

“Hye-ah, maukah kau membantuku?”

 

“Kalau aku mampu, pasti akan aku bantu,kita sekarang kan sahabat, benar kan?!” Kata Choaya mencoba bergurau dengan hatinya.

 

“Kau bisa bantu aku untuk……………………………………………….”

 

Emmph baiklah, ini juga kesempatan yang bagus untukku…..Walau aku harus mengorbankan perasaanku…. L

 

“Tapi kau yakin?” tanya Choaya memastikan.

 

“Kuharap ini berhasil…emmph adakah hal yang harus aku ketahui dari Hyejeong?”

 

“Hyejeong, tidak punya kekasih. Tapi ia pernah berkata padaku jika ia punya seseorang untuk dinanti.”

 

***

“Hah apa yang sudah aku lakukan pada Choa, sahabatku. Tempatku berbagi suka dan duka. Memang apa salahnya jika ia menyukai Yonghwa? Apa salahnya jika sepasang manusia saling mencintai? Ahh…. Salahnya adalah hatiku ini tak rela jika Yonghwa membagi hatinya kepada orang lain… Apa yang harus aku lakukan besok di sekolah saat bertemu dengan mereka.” Ujar Hyejeong pada dirinya sendiri.

 

“Aku harus meminta maaf padanya, dan resiko terburuk adalah aku harus melepaskan Yonghwa ke hati wanita lain.”

 

***

 

Apakah aku harus meminta maaf padanya? Disaat dia sudah mendapatkan hal yang ia inginkan? Dan kurasa hari-hari  yang gelap kini sudah dimulai….

 

Sudah seminggu ini,Choa menjadi kekasih Yonghwa. Berita hari jadi mereka tersebar dengan cepat, sampai kepala sekolah dan guru-guru pun mengetahui status hubungan mereka.

 

Choa dan Yonghwa memasuki kelas bersama. Mereka saling bertukar senyum, berbagi canda dan bertukar pandangan mata dan bergandengan tangan. Mereka menunjukkan kemesraan mereka pada semua orang.

 

***

~sore sepulang sekolah~

 

Selesai menjalani ekstrakulikuler karate, Hyejeong pergi ke taman belakang sekolah. Ia meluapkan semua emosinya disana. Ia memasang headphone di telinganya,volume suara ia buat medium dan ia bernanyi sekeras-kerasnya. Menumpahkan rasa sakitnya pada lagu-lagu yang ia nyanyikan. Namun volume suaranya tiba-tiba menurun. Kini hanya terdengar suara lirih nyanyiannya yang disertai dengan tetes bening airmata yang berasal dari kelopak matanya.

 

Senyummu terlihat lagi, mengembang dengan sempurna dan aku hanya bisa membalas dengan bersikap acuh. Aku tak mau luka ini semakin dalam dan lebar.. hanya saja hati ini tak bisa menghancurkan perasaan ini. Hati ini terlalu takut kehilangan rasa ini. Kau terlihat bahagia, tapi bahagiamu tak mengena di hatiku. Bahagiamu yang terpancar ke hatiku berubah menjadi air mata. Entah mengapa melihat kau bahagia bersama orang lain, air mata ini dengan mudah keluar tanpa seijinku. Aku marah pada diriku sendiri. Aku benci pada diriku yang seperti ini. Aku..aku mau melepas semua beban menyakitkan ini… Tolong katakan padaku bagaimana caranya…. seseorang kumohon tolong aku…

 

Yonghwa berjalan ringan di lorong kelas saat ia hendak menuju tempat parkir. Tiba-tiba Yonghwa mendengar suara orang yang sedang menangis di taman belakang sekolah, yang kebetulan hanya terhalang oleh 1 ruang kelas. Hal itu mengundang rasa penasaran Yonghwa untuk memeriksa siapakah yang sedang menangis. Semakin ia mendekati sumber suara, ia semakin mengenali sumber suara itu. Ia datang dengan perlahan seolah tak ingin diketahui oleh si pemilik suara. Ia semakin mendekati sumber suara. Ia berhenti sejenak di belakang gadis itu, mencoba untuk memahami situasi yang akan ia hadapi.

 

Kurasa firasatku benar dan rencanaku berhasil….kau sudah masuk dalam permainanku…

 

“…kenapa? Apa hebatnya wanita itu..? Aku lebih cantik darinya, aku lebiih lama mengenalmu…apakah kau tak melihat aku selama ini?” Kata Hyejeong tersedu-sedu.

 

Yonghwa berjalan menghampiri orang itu yang masih sesenggukan.

 

“Aisssh, anak ini kalau mau menangis jangan disini. Kau merusak indahnya suasana senja di taman ini. Lihat matahari pun enggan melihatmu menangis.” Kata Yonghwa kepada Hyejeong dengan nada kesal.

 

“Yaa!! Apa urusannya denganmu jika aku menangis atau tidak. Apa pedulimu padaku?.” Jawab Hyejeong ketus.

 

“Aku hanya ingin menghiburmu. Kalau ada yang bilang kalau wanita itu cantik pada saat menangis, kurasa itu tak berlaku untukmu. Jadi hentikanlah. Wajahmu jelek, tau!!”

 

“Sebenarnya maumu itu apa sih? Kau telah mempermainkan perasaanku apakah kau senang? Dan kalau hanya mengganggu kupersilahkan untuk meninggalkan tempat ini. Aku tak butuh nasihatmu!! Aku tak membutuhkan hiburanmu jika itu hanya membuatku semakin marah.” Jawab Hyejeong dengan nada marah.

 

“Ah benar kurasa aku saja yang pergi..” Tandas Hyejeong

 

Hyejeong beranjak dari bangku yang ia duduki, ia bermaksud meninggalkan Yonghwa dan taman yang sudah ikut merasakan kesedihannya. Ia berjalan melewati Yonghwa.

 

“Kurasa kau sekarang belajar untuk menjadi pengecut, salah. Kau sekarang sudah menjadi pengecut Hyejeong..” kata Yonghwa tanpa menatap mata Hyejeong.

 

Hyejeong menghentikan langkahnya dan memutar badannya menatap tajam Yonghwa.

 

“Apa? Kau tadi bilang apa?” Tanya Hyejeong dengan nada kesal.

 

“Kau dulu adalah seorang pemberani. Berani menghadapi resiko suatu hal yang telah kau pilih. Tapi lihat kini! Dulu kau menganggap air mata hanyalah untuk seorang pengecut. Dan sekarang kau sudah menjadi pengecut. Kau….” Jelas Yonghwa.

 

Hyejeong menghampiri Yonghwa dengan langkah kesal. Saat ia ingin menampar Yonghwa, tiba-tiba tangannya tertahan, tangannya ditahan oleh Yonghwa. Hyejeong berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Yonghwa. Ia mengerang kesakitan.

 

“Ahh… Lepaskan..!!! Lepaskan kataku! Atau kau akan mati di tanganku!” Kata Hyejeong geram. Tiba tiba Yonghwa menarik lengan Hyejeong. Hingga Hyejeong jatuh dalam dekapan Yonghwa.

 

“Ya!! Apa yang kau lakukan?! Cepat lepaskan aku!!” Hyejeong terus memberontak dalam pelukan Yonghwa. Ia memukul dada Yonghwa, mencoba melepaskan dirinya dari dekapan Yonghwa. Tapi sayangnya Yonghwa lebih kuat dari Hyejeong.

 

Hyejeong tiba-tiba sadar kalau bukan dia dan Yonghwa saja yang sedang berada di taman itu. Tetapi disana juga ada Choa, yang terlihat sedang menertawai Hyejeong.

 

Apa maksud dari semua ini? Aku bisa gila.. Sahabatku merebut orang yang aku cintai, lalu mereka menjadi kekasih. Dan sekarang kekasih sahabatku memelukku dihadapan sahabatku, oh come on…! Tell me that i’m crazy now!!

 

“Kau seharusnya tidak memendam perasaanmu sendiri. Kau seharusnya berbagi perasaan denganku.” Bisik Yonghwa di telinga Hyejeong.

 

APA?? Berbagi perasaan denganmu? Apa kau bercanda?? Kau tak tahu? Aku tak bisa berbagi perasaan denganmu, karena aku sudah tak memilikinya. Semua perasaanku padamu telah tiada, karena aku sudah memberikannya padamu. Kau telah memiliki semuanya,tanpa ada yang tersisa untukku.

 

“Apa??? Berbagi perasaan? Apa kau gila? Tentu saja aku tak mau.” Kata Hyejeong dengan sinis.

 

“Aku ingin kau berbagi perasaan denganku karena aku mencintaimu, Hyejeong.”

 

“ya! Yonghwa-ya jangan bercanda! Ini tidak lucu!”

 

“aku tak bercanda. Aku memiliki firasat bahwa kau memiliki perasaan untukku. Makanya aku terpikirkan sebuah ide. Aku hanya melakukan permainan kecil dengan Choa. Aku memintanya untuk berpura-pura menjadi kekasihku, untuk mengetes apakah firasatku itu benar atau salah. Choa-lah yang selama ini mendengarkan isi hatiku tentang kamu, Hye-ya.” Jelas Yonghwa.  Perlahan Hyejeong berhenti memukul dada Yonghwa.

 

Permainan? Benar, kau telah mempermainkan hatiku. Kuucapkan selamat untukmu Jung Yonghwa, permainanmu sungguh manis. You hurt me little by a little. It was nice of you.

 

“apa yang harus aku berikan padamu sebagai hadiah?” tanya Hyejeong sinis.

 

“apa yang kau maksud sebagai hadiah?” tanya Yonghwa bingung.

 

“hadiah untuk pemenang permainan kecil ini.”

 

“kau cukup berada disisiku dan mewarnai hari-hariku.” Kata Yonghwa tulus

 

“kau…” Kata Hyejeong dengan suara serak. Perlahan  butiran bening dari sudut mata Hyejeong terjatuh di bahu Yonghwa. Yonghwa mengangkat tangannya, membelai lembut kepala Hyejeong.

 

“Menangislah jika itu bisa meringankan bebanmu. Aku akan disini menemanimu..” Kata Yonghwa dengan lembut.

 

“ nappeun-neom, nappeun-namja!! Kau.. apakah dengan berkata seperti itu rasa sakit ini akan hilang? Aku sakit, Yong? Beri aku obat untuk mengobatinya.” Kata Hyejeong menuntut.

 

Yonghwa melepas pelukannya, memegang erat pundak Hyejeong dan menatap lekat mata sembab Hyejeong.

 

“aku mengobatimu dengan…”

 

CHU~

 

Hyejeong kaget, matanya terbuka lebar ketika mendapati bibir Yonghwa sudah berada di dahinya. Hanya sekejap, tapi itu mampu membuat Hyejeong membeku.

 

“aku sudah memberi obat yang aku punya. Apakah kau sudah merasa baikan?” Senyum manis menghiasi perkataan Yonghwa. Hyejeong menatap Yong Hwa, mengangguk lemah lalu tersenyum tipis.

 

“Hyejeong, apakah kau sudah sembuh?” ledek Choaya sambil mendekat ke arah Hyejeong dan Yonghwa.

 

“kurasa sedikit membaik dengan obat yang sudah diberikan Yonghwa padaku..” jawab Hyejeong.

 

“lalu kapan kau akan sembuh total?” balas Choa dengan senyuman menggoda.

 

“aku tak tahu kapan ini akan sembuh total. Ini tergantung pada obat yang Yonghwa berikan padaku.”

 

Hyejeong yang tak mampu menyembunyikan perasaanya hanya bisa tersipu malu dan menundukkan kepalanya.

 

“aku berjanji akan memberimu obat yang terbaik untuk lukamu.”

 

“apakah kita akan kembali seperti dulu?” tanya Yonghwa.

 

“seperti dulu maksudmu? Menjadi teman masa kecil, kekasih sahabatku atau menjadi sahabat selamanya?” jawab Hyejeong dengan nada kesal.

 

“aku ingin kau menjadi teman hidupku, untuk Choa dan kau kuharap kalian menjadi lengket lagi.”

 

“lengket? Kau kira aku ini lem?” sahut Choa disertai dengan tawa ringan.

 

Six years ago

 

“huuuu…huuu..huu”

 

“kau kenapa Hye-ya? Mengapa kau menangis?” tanya Yonghwa

 

“aku..hiks..hiks..aku tadi terjatuh.” Jawab Hyejeong.

 

“apa kau tidak papa? Ayo, pulang. Biar eomma nanti yang akan mengobati pipimu yang.”

 

Hyejeong pulang dengan digendong Yonghwa.

 

“bagaimana kalau nanti lukaku ini tidak sembuh, Yong?”

 

“ini pasti akan sembuh. Tenang saja ibuku akan mengobati lukamu.”

***

 

“eomma!! Hyejeong terluka eomma!” teriak Yonghwa setelah sampai di halaman rumahnya.

 

“eomma, Hyejeong terluka!” teriaknya lagi

 

Ibu Yonghwa keluar rumah dengan panik.

 

“Yonghwa-ya, apa yang terjadi pada Hyejeong?” tanya ibu Yonghwa khawatir.

 

“aku tadi terjatuh dari tangga rumah pohon, eomma.” Jawab Hyejeong.

 

“apa rumah pohon?” tanya ibu Yonghwa semakin panik

 

“eomma, lebih baik kita obati Hyejeong dulu. Kalau mau tanya-tanya sama Hyejeong nanti saja, kasihan Hyejeong.”

 

“baik, tapi nanti janji cerita sama eomma ya?” tanya ibu Yonghwa. Hyejeong mengangguk.

***

 

“nah, sudah selesai. Apakah Hyejeong merasa baik?” tanya ibu Yonghwa memastikan.

 

“ne eomma.” Jawab Hyejeong singkat.

 

“Hyejeong-ah, ayo ke taman belakang.” Ajak Yonghwa dengan menggandeng tangan Hyejeong.

 

“Yonghwa-ya! Hyejeong belum bercerita apapun kepada eomma!” kata ibu Yonghwa setengah berteriak.

 

“nanti saja ceritanya eomma!”jawab Yonghwa ringan.

***

 

“Hyejeong-ah, apakah lukamu sudah sembuh?” tanya Yonghwa

 

“kurasa belum, ini masih perih.” Jawab Hyejeong sambil meraba pipinya.

 

“jangan kau sentuh! Nanti obat yang diberikan eomma jadi tidak bekerja” sergah Yonghwa.

 

“lalu bagaimana? Menurutku, mengelus pelan di sekitar luka ini akan mengurangi rasa perih.”

 

“sini biar aku saja. Nah, sekarang giliranku memberi obat kepadamu.”

 

CHU~

 

Yonghwa memberi sentuhan hangat dengan bibirnya di dahi Hyejeong yang tidak terluka.

 

“kurasa obat yang aku beri adalah obat yang manjur untuk menyembuhkan lukamu…”

 

Hyejeong kaget, matanya terbuka lebar ketika mendapati bibir Yonghwa sudah berada di dahinya. Hanya sekejap, tapi itu mampu membuat Hyejeong membeku.

 

“nanti jika kau terluka, panggil aku. Nanti aku akan memberikan obat ini lagi padamu.” Kata Yonghwa dengan senyum yang tulus.

 

Hyejeong menatap Yong Hwa, mengangguk lemah lalu tersenyum tipis.

**END**

 

 

 

3 thoughts on “The Tell-Tale Heart (Medicine)

    • tapi sebagai sahabat yang baik, harusnya dia bantu sahabatnya kan? lebih baik patah satu daripada patah 2 (hati mereka)🙂.JEONGMAL GAMSAHAMNIDA buat commentnya…🙂🙂🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s