Secret of Memories (OneShot)

Gambar

Tittle                :  Secret of Memories

Cast                 :  CNBLUE’S/OC  ;  Minhyuk, Yonghwa, Jieun

Genre              :  Romance

Length             :  Oneshot

Author             :  Yen Yen Mariti

FF ini adalah sequel dari Secret of Under The Dark Sky

.

.

.

Secret of Memories

5 years after the day…..

Japan

Kegaduhan mengisi pagi itu. Jieun-gadis dengan rambut panjang,cokelat pekat- sibuk mengecek kopernya dan barang-barang lain yang harus dia bawa hari ini. Di bawah, ayah dan ibunya sudah memanggil-manggil namanya untuk yang kesekian kalinya, memintanya cepat turun untuk sarapan. Jieun bergegas mengeret kopernya ke lantai bawah dan menghampiri kedua orang tuanya di meja makan. Baru saja dia menyeruput susu cokelatnya, matanya tak sengaja menoleh jam yang menempel di dinding dapur. Segera saja dia mengeret kopernya lagi, dengan terburu-buru.

“Yonghwa bilang dia akan mengantarmu kebandara,” Ibunya berdecak kesal seraya mengekorinya berjalan keluar rumah.

“Tidak usah bu, aku bisa naik taksi. Lagipula aku tahu dia begitu sibuk,” Jieun merespon seadanya, dia terlalu sibuk dengan kegiatan mengikat tali sepatunya. “Dimana ayah, aku harus berpamitan sekarang,” kepalanya menjejal ke mulut pintu, mencari-cari sosok pria tua yang telah menjadi ayahnya selama 5 tahun belakangan ini. Senyum gadis itu mengembang dikala matanya menangkap sosok yang dicarinya. “Ayah…” dia memeluk erat pria tua yang begitu dicintainya, dan pria yang dipanggil ayah itupun membalas pelukannya tak kalah erat, penuh dengan cinta.

“Jaga dirimu baik-baik, sayang,” ibunya berpesan dengan suara lemah lembutnya, membelai kepala satu-satunya putri yang dia miliki.

“Ya ibu,” kemudian mereka saling berpelukan.

Jieun mengeret kopernya, menyentuh tanah dan melambaikan tangan kepada kedua orang tuanya. Baru saja dia membuka pagar rumah, sebuah mobil sport berwarna hitam mengkilat tiba-tiba berhenti tepat di hadapannya, gadis itu hampir ingin memaki ketika telinganya mendengar decitan yang ditimbulkan mobil itu.

“Yooooong !” Jieun menghentakkan sepatunya kesal, lalu keluarlah seorang pria yang sudah  4tahun dia kenal dan selalu mengisi hari-harinya.

“Aku harus mengantarmu ke bandara kan?” senyum jahil tersungging di bibir Yonghwa. Gadis itu mendengus kesal, kemudian membiarkan Yonghwa mengambil alih kopernya dan membuka pintu mobil untuknya, dan terakhir mereka meluncur ke bandara.

“Kau harus makan tepat waktu, tidur tepat waktu, jangan kecapean. Ah, angan lupa meneleponku. Jika kau tidak meneleponku maka aku akan menyusulmu langsung ke Venesia,” Yonghwa mengacak-acak rambut Jieun meski gadis itu memasang wajah muram.

“Aku bukan anak kecil lagi Yong,” gadis itu mendecak sebal membuat Yonghwa tertawa.

“Hmm.. bisakah kau berikan aku sebuah pelukan perpisahan?”

Jieun memutar bola matanya dan menghembuskan nafas kasar, “Haruskah?”

“Tentu saja harus,” Yonghwa mencubit pinggang Jieun, gadis itu mau tak mau mengeluarkan tawa karena merasa geli. “Aku akan sangat merindukanmu,” Yonghwa berbisik pelan dan lembut, tangannya mendekap tubuh gadis itu.

“Aku akan baik-baik saja, jangan terlalu khawatir,” Jieun membalas pelukan Yonghwa dan dia diam saja saat sesuatu yang terasa lembut dan basah mengecup dahinya.

.

.

.

A few hours after that…

Italy

Senyum lebar menghiasi wajah Jieun. Teman-teman satu redaksinya menyambut antusias kedatangannya di Venesia. Mereka berpelukan, bersyukur karena akhirnya Jieun datang juga meski gadis itu telat 2 hari dari jadwal.

“Kita akan tidur berdua selama di sini, kamar hotelnya mewah kujamin kau pasti menyukainya,” Yeosin ikut membantu Jieun mengeret kopernya menuju kamar hotel tempat mereka menginap selama berada di Venesia.

“Yeo, bagaimana dengan pekerjaanmu apa semua sudah beres?” Jieun melepas sepatunya dan segera memakai sandal kamar kemudian mmengacak-ngacak isi kopernya demi mendapatkan baju ganti.

“Sedikiiiiit lagi. Jika besok berjalan lancar maka berakhirlah sudah tugasku.”

“Oh ya?” Jieun ikut merasa bahagia.

Yeosin bertugas mewawancarai seorang musisi terkenal, dan Jieun bertugas untuk membuat artikel yang menyangkut keindahan kota Venesia. Mereka ingin menyelesaikan semuanya dengan segera agar bisa jalan-jalan dan bersantai sambil menikmati indahnya kota yang romantis ini.

Jieun melngkah ke balkon kamar, ini sudah larut malam dan Yeosin sudah tertidur sejam yang lalu saat selesai mengetikkan sesuatu di notebooknya, sedangkan Jieun dia memang sudah biasa tidur larut. Insomnia.

Angin malam kali ini terasa asing baginya, dia menengadahkan kepala menatap langit malam yang sungguh menakjubkan. Di bawah sana terdengar sayu-sayup hingar-bingar orang-orang berpesta. Jieun tersenyum kecil, jadi seperti inikah Venesia? Kota yang begitu dia idam-idamkan selama ini. Hatinya sedikit lega karena pada akhirnya dia berhasil menjejakkan kaki kemari. Tapi…. Setitik air mata jatuh begitu saja menodai pipi pucatnya.

Minhyuk……

.

.

.

“Kau mau ikut tidak sih ?”

“Eoh.”

Jieun dan Yeosin bersiap-siap pergi ke sebuah café, tempat di mana Yeosin membuat janji untuk melakukan wawancara dengan musisi terkenal itu. Pagi itu agak kabut, karena angin musim dingin sudah agak terasa meski sekarang masih penghujung bulan september. Mereka bergerak dengan langkah ringan setelah menyelesaikan sarapan dengan teman-teman yang lain.

“Dia akan datang sebentar lagi,” Yeosin mengecek jam tangannya kemudian menyeruput cappucino panas yang dia pesan dari café ini.

Jieun menggulung-gulung spagetinya dengan garpu. Seumur hidupnya baru kali ini dia makan spageti meski di jepang tersedia banyak restoran dan toko-toko kecil yang menjual. Tapi gadis itu hanya ingin makan spaeti saat dia berada di Venesia. Ternyata rasanya tidak lebih baik dari jjajangmyun. Lidah gadis itu masih sangat Korea sekali.

“Itu dia datang,” Yeosin berseru senang hingga bangkit dari kursinya.

Jieun menggerakan kepalanya menatap musisi muda itu. Dan musisi muda itu tersenyum padanya sebelum mendudukkan dirinya di kursi tepat di hadapan Jieun. Sebuah perasaan yang begitu lama Jieun sembunyikan di hatinya kali ini mencuat kembali, setetes air mata mengalir perlahan dan gadis itu segera menghapusnya.

Sahabat lamanya, laki-laki yang dicintainya. Satu-satunya sosok yang begitu dia rindukan kini berada tepat di hadapan matanya.

Kang Minhyuk….

.

.

.

Jieun kembali melangkahkan kakinya ke balkon kamar hotel. Dia sendirian, sedangkan yang lainnya berada di restoran untuk makan malam. Jieun tidak ikut, dia kehilangan nafsu makannya sejak pertemuan tidak terduga pagi tadi.

Jieun sesekali menggosok pundaknya, angin musim gugur di malam hari begitu menyeramkan apalagi gadis itu hanya mengenakan gaun tidur dengan tali yang seukuran telunjuk menggantung di pundaknya.

Minhyuk…. Tidak banyak yang berubah dari dirinya. Dia masih seperti dulu. Tampan, murah senyum dan ramah. Sesungguhnya Jieun begitu ingin memeluk Minhyuk saat pertama kali matanya menangkap sosok itu, tapi apa daya. Ada Yeosin di sana, dan mungkin Minhyuk juga sudah melupakannya. Minhyuk tidak bicara banyak padanya, dan itu membuat Jieun kecewa.

Dia menangis tanpa suara, pipinya semakin pucat dan tenggorokannya mendadak kering. Kehidupannya 5tahun yang lalu berputar cepat di kepalanya. Cerita, mimpi dan cinta…. Dunia ini begitu sempit ya?

“Kau seharusnya ikut makan malam bersama teman-temanmu.”

Jantung Jieun seakan berhenti berdetak. Sebuah tangan kekar melingkari pinggangnya dengan erat, dia merasakan hembusan nafas hangat menggerayangi daerah pundaknya.

“Yonghwa?!”  gadis itu membalik cepat tubuhnya, dan dia benar-benar tidak bermimpi. Yonghwa ada di sini, dan mendadak memeluknya. “Kenapa kau…”

“Kau tidak meneleponku sama-sekali, bukankah sudah kubilang aku akan menyusulmu jika kau tidak menelepon.”

Jieun menghembuskan nafas frustasi. Dia bersumpah tidak akan mengabaikan ancaman Yonghwa di lain waktu.

“Kapan kau datang ?” tanya Jieun tanpa basa-basi.

“Beberapa menit yang lalu, aku menunggumu di restoran tapi kau tidak datang.”

“Jadi kau memutuskan emnyusulku ke kamarku ? astaga !” ingin sekali Jieun menghantam wajah innocent Yonghwa dengan hak sepatu.

“Kenapa? Apa yang salah?”

“Tidak, tidak ada. Kau tidak salah, lupakan saja,” Jieun malas jika harus berlama-lama hanya untuk berdebat dengan Yonghwa. Laki-laki itu selalu bisa mematahkan kalimat Jieun.

Gadis itu membelakangi Yonghwa dan kembali bersunyi. Dia tetap bernafas, melawan dinginnya malam. Yonghwa memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya dipundak Jieun. Gadis itu membiarkan Yonghwa memeluknya, mereka berdiam diri cukup lama hingga akhirnya terdengar isakan Jieun, Yonghwa mendekapnya semakin erat.

“Kenapa kau menangis hm?” Gadis itu hanya diam ketika Yonghwa membalik tubuhnya. “Kau merindukanku?”

Jieun hanya mengangguk pelan, Yonghwa tersenyum kecil dan kembali memeluk Jieun. Dia tidak tahu bahwa gerakan tubuh Jieun adalah palsu.

Bukan Yonghwa, tapi Minhyuk. Gadis itu selalu dan akan selamanya merindukan Kang Minhyuk.

.

.

.

Jieun keluar hotel pagi-pagi sekali, di saat semua temannya dan Yonghwa masih tertidur. Jieun segera menyetop taksi dan meluncur ke tempat yang sudah dia rencanakan.

Gadis itu berdiri di tepi jembatan, memerhatikan air bening Venesia. Di bawah sana banyak sekali sampan-sampan. Dia merogoh saku, mengecek ponselnya. Tidak ada pesan dan panggilan dari siapapun. Gadis itu mendesah perlahan.

Dini hari tadi dia mengacak isi meja nakas milik Yeosin, mencari informasi tentang Kang Minhyuk dan dia menemukannya beserta nomor ponselnya. Jieun tidak berani menelepon, dia hanya mengiriminya sebuah pesan yang isinya bahwa Jieun memintanya datang untuk bertemu. Di sini.

“Jieun…”

Gadis itu membalik tubuhnya dengan cepat, dan matanya berair serta tenggorokannya tercekat saat menemukan sosok Minhyuk berdiri di hadapannya.

“Minhyuk…Minhyuk, aku…aku tidak percaya kau datang,”’ Jieun membekap mulutnya sendiri, dan dia berusaha mengontrol dirinya agar tidak menangis sekarang.

“Aku pasti datang, aku tidak akan pernah melewatkan kesempatan bertemu denganmu,” Minhyuk menyeret kakinya maju beberapa langkah dan dia memeluk Jieun erat. “Aku merindukanmu Ji.. aku merindukanmu,” tangannya mengelus hati-hati rambut Jieun. Dan gadis itu tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis terisak di dada Minhyuk. Dan Minhyuk juga menangis.

.

.

.

“Kita naik sampan oke?”

“Tidak mau! Aku takut jatuh Minhyuk !!”

Minhyuk tertawa lepas dan berusaha menarik tubuh gadis itu hingga masuk ke sampan, dan akhirnya Jieun tidak bisa berkata apa-apa saat Minhyuk berhasil melakukannya.

Hari sudah menjelang tengah hari, sejak pagi tadi mereka sibuk emngunjungi tempat-tempat wisata di Venesia, mereka makan spageti bersama, melihat badut bersama dan banyak lagi yang mereka lakukan.

Mereka tertawa bersama. Tawa itu persis seperti tawa mereka terdahulu, tidak ada beban, yang ada hanya rasa saling percaya dan sayang. Ini bagai mimpi, keduanya berpikir demikian. Setelah bertahun-tahun lamanya berpisah kini mereka bertemu kembali. Ini bukan drama. Ini realita yang indah.

Tanpa terasa, matahari sudah tenggelam. Mereka keluar dari restoran setelah mengisi perut, dan kembali menyusuri jalanan malam yang indah. Mereka berpegangan tangan, begitu erat. Seperti sepasang kekasih.

“Jieun…”

“Mmmm…?” Jieun sibuk menjilati es krim yang ada di genggamannya. “Ada apa?”

Minhyuk tertawa pelan, “Tidak ada apa-apa,” Minhyuk menyikut siku Jieun hingga tidak sengaja hidung gadis itu terkena es krim. Minhyuk tertawa lagi.

“Issshhhh kau menyebalkan sekali,” gerutu Jieun.

Gadis itu hendak membersihkan hidungnya, tapi Minhyuk menahannya. Laki-laki manis itu tersenyum, membuat Jieun hampir hilang kesadaran saking memesonanya.

Minhyuk menghapus krim yang ada di hidung Jieun dengan ibu jarinya, “Jieun, aku merindukanmu,” ujarnya begitu pelan, dan Jieun hanya mampu tersenyum. “Jieun, aku…menyukaimu,” Minhyuk mendekatkan wajahnya pada Jieun hingga gadis itu mampu merasakan deruan nafasnya, dan dalam kejapan mata bibir Minhyuk menempel tepat di bibirnya. Begitu hangat dan lembut. Ini pertama kalinya bagi Jieun, dan dia begitu bahagia mendapatkannya dari orang yang begitu dia sayangi. “Aku mencintaimu,” bisik Minhyuk setelah mereka berciuman, laki-laki itu kemudian memeluk Jieun erat.

Ingat ini bukan drama. Jieun menangis di dalam dekapan Minhyuk, “Aku…aku juga mencintaimu.”

“Kumohon jangan meninggalkanku lagi, tetap seperti ini. Kumohon Jieun-a, tinggallah bersamaku, kita wujudkan mimpi kita bersama. Aku mencintaimu,” Minhyuk mengecupi puncak kepala Jieun berkali-kali.

“Aku berjanji, aku tidak akan pernah pergi lagi.”

‘aku mencintaimu’

Akhirnya kata itu mengudara di antara mereka. Beban di hati mereka hilang secara perlahan digantikan dengan perasaan bahagia. Mereka yakin selamanya akan seperti ini, mereka akan bersama.

Jieun melupakan sosok Yonghwa.

.

.

.

Yeosin sedikit bernafas lega saat menemukan Jieun di depan hotel, gadis itu meminta Jieun segera pergi ke kamarnya, nampaknya ada sesuatu yang terjadi. Jadi Jieun pun bergegas ke kamarnya dan benar saja, dia menemukan Yonghwa di kamarnya dengan wajah yang tidak biasa. Rahangnya mengeras dan matanya bagai ber-api-api.

“Yongh…”

“Apa saja yang kau lakukan, kemana saja kau seharian ini !”

“Aku…aku pergi ke suatu tempat. Maaf aku tidak memberitahumu.”

Yonghwa mendekat dan mencengkeram bahu Jieun, “Kau membuatku kecewa.” Jieun dapat melihat kesedihan di balik tatapan Yonghwa.

“Maafkan aku, Yong. Aku hanya…” Jieun tidak melanjutkan ucapannya saat dengan tiba-tiba laki-laki itu memeluknya erat, penuh rasa takut.

“Aku mengkhawatirkanmu. Kumohon jangan seperti ini lagi.”

“Ya.”

“Kau tidak boleh pergi tanpa pengawalanku mulai sekarang.”

Jieun ingin protes tapi, ingatlah Yonghwa selalu bisa mematahkan kalimatnya. Dia menurut. Terpaksa. Bahkan saat Yonghwa menggantikan posisi Yeosin mengisi tempat tidur. Laki-laki itu tidak melepaskan pelukannya sedikitpun, tidak peduli bahkan jika Jieun merasa sesak atas perlakuannya. Dia hanya ingin Jieun tetap bersamanya, tetap menjadi miliknya.

“Aku mencintaimu….” Bisik Yonghwa begitu pelan dengan suaranya yang bergetar.

Jieun hanya mampu membisu. Harus menjawab apa ? dia tidak pernah mencintai Yonghwa, meski sudah 4tahun mereka bersama. Hatinya hanya memikirkan Minhyuk.

“Jangan menemuinya lagi, kumohon.”

Dan Jieun hampir tersedak mendengar ucapan Yonghwa kali ini. Apa mungkin Yonghwa tahu tentang Minhyuk?

“Yong…”

“Kubilang jangan menemuinya, kau milikku hanya milikku.”

“Yonghwa dengar,” Jieun menarik diri dari dekapan Yonghwa. “Apa kau mengetahui tentang aku dan Minhyuk?”

“Ya aku mengetahuinya jangan temui dia,” jawabnya dingin.

Yonghwa pernah membaca buku harian Jieun dan dia menemukan foto minhyuk juga di sana.

“Jika kau sudah mengetahuinya maka…lepaskan aku,” Jieun menundukkan wajahnya.

“Tidak!”

“Aku mencintainya Yong..”

Itu membuat emosi Yonghwa memuncak, laki-laki itu meraih tengkuk Jieun dan mencium gadis itu dengan kasar. Ini ciuman pertama mereka, sebenarnya Yonghwa ingin sekali melakuaknnya dengan manis tapi kali ini emosi memusnahkan segalanya.

Jieun memukul dada Yonghwa berkali-kali, “Lepasss!”

“Apa yang salah, aku kekasihmu. Aku berhak menciummu, aku berhak melarangmu, aku berhak cemburu. Kau milikku Jieun-a, kau milikku!”

Gadis itu lemas, Yonghwa memang agresif. Dia tahu itu. Jieun hanya bisa menangis, pikirannya beradu antara Yonghwa dan Minhyuk.

Minhyuk, sahabat yang dicintainya sejak kecil. Dan Yonghwa, laki-laki yang baru dikenalnya 4tahun ini. Mereka menjalin hubungan karena Ayah dan Ibu angkat Jieun menyukai Yonghwa. Itu saja. Tidak ada perasaan istimewa terhadap Yonghwa.

.

.

.

A few days later…

Japan

Jieun meringkuk di atas tempat tidur, menggulung tubuhnya dengan selimut tebal. Menyembunyikan tubuh kurusnya, meneymbunyikan wajah bengkaknya juga. Suara hidungnya yang berair menguar ke seluruh ruangan kamarnya.

Empat hari yang lalu, Yonghwa menyeretnya ke bandara, kembali ke Jepang. Itu artinya dia meninggalkan Minhyuk. Tanpa ada pesan perpisahan atau apapun. Kali ini mereka berpisah lagi. Gadis itu menangis keras. Yonghwa mengambil ponselnya, jadi dia tidak bisa menghubungi Minhyuk.

“Jieun sayang,” Ibunya membuka pintu lalu berjalan menghampirinya. Jieun pura-pura tidur, Ibunya mendesah, “Ibu mengkhawatirkan keadaanmu. Kau tidak makan berhari-hari dan hanya mengurung diri di kamar. Ibu cemas.”

Jieun mau tak mau membalik tubuhnya ketika mendengar desahan cemas sang ibu, “Ibu…” kini ibunya dapat melihat wajah bengkak dan mata yang berair itu. “Aku….aku…” dia terisak bahkan sebelum menyampaikan apa yang ingin dikatakannya, ibunya memeluknya erat. Menenangkannya.

“Apa Yonghwa menyakitimu hn?”  jieun menggeleng pelan. “lalu ?”

“Ibu, aku… aku sebenarnya tidak mencintai Yonghwa,” aku Jieun dengan mata tertutup dan air mata yang mengalir. Ibunya mendengar dengan sabar, “Aku mencintai orang lain,” Jieun terisak. “Aku…aku menjalin hubungan ini karena ayah dan ibu menyukainya, karena itu bu.”

Ibunya tersenyum penuh kasih, “Jadi selama empat tahun ini kau membohongi perasaanmu sendiri?” Jieun mengangguk ragu, “Kenapa kau begitu bodoh hn?”

“Maafkan aku bu. Maaf, aku..aku tidak bisa melanjutkan ini lagi. Apa yang harus kulakukan. Apa yang harus kuaktakan pada Yonghwa?”

“Kau sudah dewasa, kau bisa menentukan jalanmu sendiri. Ibu mendukung apapun yang terbaik bagimu,” ujarnya dengan seulas senyum.

“Termasuk jika aku berpisah dari Yonghwa?” tanya Jieun sedikit ragu.

“Ya, tidak apa-apa jika kau harus berpisah darinya dan menjalin sebuah hubungan lama dengan laki-laki bermata bulan sabit itu.”

Jieun mengernyitkan dahi, “Laki-laki bermata bulan sabit?”

“Ya, dia kan orangnya. Ibu ingat dulu saat menjemputmu di panti asuhan, kalian berpelukan dan saling menangis. Dari situ semuanya tampak bahwa kalian sangat saling mencintai. Jika kau mencintainya maka kejarlah dia.”

“Ibu….” Jieun memeluk Ibunya dengan perasaan bahagia. Ini merupakan sebuah jalan baru baginya dengan Minhyuk.

Di balik pintu kamar Jieun, seorang laki-laki tengah berusaha menahan sesak di dadanya, tengah berusaha mencegah agar air matanya tak jatuh. Jung Yonghwa.

.

.

.

Jieun merapatkan mantelnya, kakinya menendang-nendang kerikil di atas tanah yang ditumbuhi sedikit rumput. Dia melirik jam tangannya, dan mendesah pelan. Yonghwa memintanya untuk datang kemari. Entah apa yang ingin Yonghwa lakukan padanya lgi. Hatinya sedikit gundah.

Seorang laki-laki dengan tubuh tinggi, dibalut dengan pakaian musim gugur yang santai berjalan ke arahnya tanpa senyum. Jieun hanya tersenyum samar.

“Kenapa kau mengajakku kemari?” Jieun bertanya tanpa menatap mata Yonghwa.

“Jieun-ah…”

“Ne?”

“Apakah kau mencintaiku?” tatapan Yonghwa sungguh dalam.

“Aku….”

“Tidak apa-apa, kau tidak perlu menjawab. Kau hanya harus tahu bahwa aku sangat

mencintaimu.”

“Yong…”

“Maaf aku melukai persaanmu, maaf aku menjadi egois, maaf Ji, maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi karena aku sadar semua yang kulakukan hanya akan menyakitimu lebih jauh lagi.”

“Yong jangan berkata seperti itu. Kau baik padaku, kau terlalu baik.”

Yonghwa tersenyum samar , “Ya, aku memang laki-laki yang baik. Ji… berjanjilah padaku kau akan hidup bahagia.”

“Eh?”

“Aku mencintaimu,” Yonghwa merengkuh gadis itu kedalam pelukannya. Membenamkan kepalanya dilekukan gadis itu, menghirup aroma tubuh gadis itu selama yang dia bisa. Sungguh dia mencintai Jieun.

Mereka berhenti berpelukan, dan mata Jieun memicing. Dia mennagkap sosok lain di sini, laki-laki yang begitu dia rindukan kini sedang melambaikan tangan dan tersenyum padanya,

“Minhyuk….” Gumamnya sangat pelan, “Yong, bagaimana bisa?”

“Aku minta maaf seharusnya aku sadar betapa besar cinta kalian. Maaf aku pernah berusaha memisahkan kalian, maaf.”

“Yong, terima kasih. Terima kasih,” Jieun hampir menangis. Dan Yonghwa tersenyum tulus, dia mengusap kepala gadis itu sebelum melangkahkan kaki dan pergi meninggalkan Minhyuk dan Jieun. Dia rmencoba untuk merelakan segalanya. Meski hatinya begitu sakit. Tapi apa salahnya mencoba ?

Jieun berlari dengan cepat ke arah Minhyu, kemudian memeluk pria itu. “Minhyuk…”

“Jieun…aku merindukanmu,” Minhyuk mengusa kepala Jieun penuh kasih.

“Aku juga merindukanmu.”

“Aku mencintaimu Jieun-ah, jangan pergi lagi.”

“Aku tidak akan pergi, tidak akan pernah.”

“Bagus, jadilah milikku. Ayo kita menikah.”

Jieun menatap wajah Minhyuk, dan dia hampir menangis saking bahagianya. “Ayo, ayo menikah, ayo kita hidup bersama.”

Mereka berciuman, dan berpelukan lagi. Kali ini selamanya mereka akan bersama.

Ini bukan drama, ini realita yang sungguh indah.

#the end

Mohon maaf apabila ceritanya sangat tidak memuaskan, alurnya tidak beraturan, typo (ff ini tidak diperiksa ulang) dll. , Tolong hargai saya ,sangat sulit dalam melanjutkan ff ini karena beberapa alasan ;

1. notebook saya rusak dan demi menulis ff ini saya harus meminjam laptop seseorang, jadi waktunya pun terbatas yang membuat saya mengetik ff ini dengan sangat terburu-buru.

2. saya sedang UTS, jadi pikiran saya bercabang-cabang antara pelajaran dan ff ini.

3. saya sedang sakit, demam melanda tubuh saya. Dan tahukah kalian pada saat mengetik ff ini, ‘sesuatu’ tidak pernah berhenti menetes dari hidung saya (pilek) hingga saya menghabiskan sekotak tisu.

Sekian, maaf banyak bacot. Terima kasih. Berjumpa lagi di ff yang lain ^^

3 thoughts on “Secret of Memories (OneShot)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s