FNC, I’m in Love (Part 1)

 

Title : FNC, I’m in Love (Part 1)

 

Author : Na Ah Ra

 

Length : Chaptered

 

Genre : Romance

 

Rating : G

 

Casts :

CNBLUE’s Lee JongHyun

AOA’s Youkyung/Y

FNC Family

 

Disclaimer : My own plot!’Tulisan ini fiksi, jadi apabila ada adegan2 atau deskripsi yang tidak berkenan tentang bias reader, author mohon maaf sebelumnya. Pls don’t bash!

Pls, jangan di-copast, tanpa seizin author!!!!

 

Note : This is my first ff. Comments and critics are required. Happy reading!

 

♪Author POV♪

 

Senja musim gugur di Dangsandong-ga nampak begitu eksotis. Langit berwarna pastel di ufuk barat terlihat begitu menawan, menjadi background yang apik di belakang gedung-gedung pencakar langit. Terlebih jika dilihat dari balik tirai tipis yang menutupi jendela Studio A F&C Academy. Pemandangan itulah yang dilihat para member CNBLUE dari tempat latihan mereka, bak lukisan mahal di pameran pelukis terkenal.

 

Mereka telah usai latihan, tetapi tak satu pun dari mereka berkehendak untuk bangkit dari temtapat duduk mereka. Masing-masing terpaku pada pemandangan indah bernuansa sendu itu. Aih, sensitif sekali hati mereka!

 

“Hyu~un, bogosipo…” ucapYonghwa tiba-tiba.

 

“Aiiiishhhh!”

 

Ketiga dongsaeng Yonghwa pun melengos mendengar ucapannya. Benar-benar merusak suasana! Seketika burung-burung merpati yang hinggap di jendela itu pun ikut terbang (?) pergi bersama lamunan-lamunan indah tiga member yang lain.

 

“Aih, kau, hyung!” keluh Minhyuk. “Masih saja kdau ingat-ingat Seohyun! Dikejar, lah. Jangan dilanturin doang!”

 

“YA! Minhyuk~ah!” geram Yonghwa menjitak kepala Minhyuk.

 

“Aih, hyung. Kau ini!” protes Jungshin membela Minhyuk. “Memang salah yang dikatakan Minhyuk?”

 

“Pulang, pulang! Aku lapaaar… Ppaliwa!” sergah Jonghyun seketika menghentikan perdebatan ketiganya sambil menjinjing Martin HD28 yang sudah ia masukkan ke dalam hardcase. Choding leader dan kedua dongsaengnya pun segera mengikuti langkah Jonghyun keluar dari Studio A.

 

Sepanjag koridor di gedung F&C Academy Yonghwa, Minhyuk, dan Jungshin masih melanjutkan debat kusir tadi. Sementara Jonghyun sudah berkutat dengan pikirannya sendiri tentang makanan yang ingin dimakannya.

 

“Rasanya ramyeon pun aku mau. Ah, ani, ani!” Jonghyun menggeleng.

“Setidaknya aku bisa makan tteokbokki dulu di depan. Ah, aku juga ingin kimchi jjigae.” Ia nampak bingung sendiri. Tiba-tiba, ia membalikkan tubuhnya menatap ketiga orang yang masih saja berdebat itu.

 

“Gamjatang! GAMJATANG!” serunya di depan muka ketiganya.

 

“YA!” seru Yonghwa kesal karena kaget.

“HYUNG!” Minhyuk dan Jungshin pun merasa terganggu dengan seruan gaje dari Jonghyun itu. Ketiganya kesal karena lagi-lagi perdebatan mereka terhenti.

 

“Wae?” tanya Jonghyun dengan polosnya. “Hyung, kau masak gamjatang untukku, ya? Jebal…” pintanya tanpa rasa bersalah sama sekali. Pyong sensitivity! Tsk, tsk, tsk.

 

“Ara, ara!” jawab Yonghwa masih sedikit kesal. “Kalau tak kuiyakan, nggak bakal berenti ngrengek dia.”

 

“Jjinjayo?” Jonghyun membulatkan matanya senang. “Gumapta, hyung!” serunya sambil menepuk-nepuk pundak Yonghwa.

 

“Ige mwoya?” tanya Minhyuk heran melihat tingkah Jonghyun yang tiba-tiba berlebihan, mirip Yonghwa saja. Pasti gara-gara overdosis latihan acting untuk A Gentleman’s Dignity yang sudah habis tayang itu. Lihat? Siapa yang awalnya nggak mau akting dan sekarang jadi overdosis, padahal sudah tidak ada jadwal shooting drama lagi. Jungshin aja yang ada jadwal shooting untuk drama terbaru Nae Ddal Soyoungi, biasa aja, tuh! #apadeh

 

“Wae?” Muka sok nggak paham milik Jonghyun ini memang tidak pernah bisa hilang darinya!

 

Jonghyun mengangkat bahunya menunjukkan ketakpeduliannya atas pertanyaan Minhyuk dan muka protes Jungshin. Ia pun membalikkan badan dan melenggang ringan dengan girang. Saking asyiknya memikirkan gamjatang yang akan dibuat oleh Yonghwa, ia tak mendengar suara riuh dari ketukan sepatu dengan lantai dari arah persimpangan koridor.  Ia berbelok ke kanan dengan ayunan Martin HD28 ber-hardcase  di tangan kanannya. Dan….

 

“Aaa~!”

 

♪Author POV End♪

 

♪Jonghyun POV♪

 

“Aaa~!” seruku bersamaan dengan orang-orang di hadapanku, kaget. Jantungku rasanya ingin copot saking kagetnya melihat rombongan cewek yang tiba-tiba sudah ada di hadapanku ini. Mereka pun sama kagetnya denganku. Aku tersadar dari keterperangahnku. Aih, Martin-ku! Sepertinya tadi ia terbentur sesuatu sampai membuat langkahku tertahan.

 

“Ada apa, hyung?” pertanyaan Jungshin yang datang dari belakang, mengembalikanku ke realita.

 

Aku tak menjawab apa-apa. Jungshin yang diikuti Yonghwa hyung dan Minhyuk nampaknya mengerti apa yang terjadi. Bersamaan dengan  kedatangan ketiga bandmate-ku ini, cewek-cewek di hadapanku ini juga mulai sadar dari shock-nya dan segera membungkukkan badan mereka 90 derajat dan memberi salam kepada kami.

 

“Annyonghaseyo, sunbaenim!” ucap mereka kompak. Aku membalasnya dengan kikuk, tapi berbeda dengan tiga orang itu yang nampak sumringah menjawabnya.

 

“Uri Angels!” seru Yonghwa hyung dengan senyum mengembang lebar.

 

Delapan cewek itu menanggapi seruannya dengan tertawa ringan. Ya, mereka itu AOA, Ace Of Angels. Girlband FNC pertama yang baru debut itu. Walaupun waktu debut mereka aku yang memberikan supporting speech kepada media bersama Minhyuk dan Juniel sebagai perwakilan dari FNC, aku sebenarnya tidak begitu akrab dengan mereka. Yah, kecuali dengan Choa yang dulu pada saat masa trainingnya beberapa kali meminta waktu untuk berlatih gitar bersamaku dan FT Island’s Jonghoon.

 

“Latihan?” tanya Jungshin.

 

“Ne, sunbaenim!” jawab Jimin, sang leader, mewakili yang lainnya.

 

“Aish, Jimin~ah! Kita ini keluarga, jangan panggil kami sunbae,” sahut Minhyuk. “Panggil aku Minhyuk! Kita ‘kan seumuran. Eh, atau kupanggil kau noona saja?” Jimin memang seumuran dengan Minhyuk dan Jungshin, hanya saja ia lahir di bulan pertama.

 

“Aku yang harusnya kaupanggil noona, Hyuki!” seru Choa menimpali. Ya, Choa memang noona bagi Minhyuk dan Jungshin karena ia seumuran denganku.

 

“Dan ini uri oppa!” sahut Yonghwa hyung menunjuk dirinya sendiri, tak mau kalah mencari perhatian kedelapan malaikat ini.

 

“Ne, ahjussi!” seloroh Youkyung dengan muka tidak senangnya. Ia yang berdiri di samping Yuna nampak sedang tidak dalam keadaan sehat. Mukanya nampak kesakitan dengan memegangi lengan kanannya.

 

Yonghwa sontak melotot mendengar selorohan Youkyung itu. Youkyung pun menyadarinya dan seketika menarik bibirnya membuat sebuah senyuman. “Ne, Yonghwa-oppa!” serunya manis meniru suara Seohyun. Kami pun tertawa mendengarnya.

 

“Aku? Aku? Aku kalian panggil apa?” tanya Jungshin menginginkan pengakuan.

 

“Jungshin chingoo!” seru delapan malaikat itu. Kami tertawa lebih lepas lagi. Sudah lama sekali nama itu tidak terdengar setelah Yonghwa hyung dan Seohyun berpisah.

 

Ah, kurasa sudah cukup perbincangan yang tidak begitu berguna ini. Aku sudah sangat lapar, mereka pun nampaknya harus segera latihan. Mengapa tiga orang ini terus saja bercanda tidak penting?

 

“Kalian terburu-buru, ‘kan?” tanyaku pada AOA memutus gurauan mereka denga ketiga bandmate-ku. “Ayo, hyung! Ppaliwa, aku lapar,” keluhku pada Yonghwa hyung.

 

Kami pun berpamitan denga mereka. Huaa, aku lapar, lapar, lapar. Cacing di perutku ini adalah demonstran yang sangat brutal dan tidak sabaran. Tidak dapat diajak negosisasi, apalagi kompromi! Makanya aku harus segera makan!

 

Aku menyelempangkan tali hardacase Martin-ku di pundak kananku. Eh, tadi perasaan Martin-ku membentur sesuatu. Apa kau baik-baik saja, Martin? Aku memperhatikan hardcase yang membungkus gitar akustik kesayanganku itu. Hmm, nampaknya baik-baik saja. Gamjatang, gamjatang, kajja!

 

♪ Jonghyun POV End ♪

 

♪ Youkyung POV♪

 

Langit di Dangsandong-ga sudah gelap. Aku berdiri di balkon Studio D F&C Academy, menikmati hembusan angin musim gugur yang dingin. Aroma musim panas masih tersisa. Hmmm… Aku sangat menyukai musim gugur.

 

Di dalam studio suasananya tidak sehening ini. Groupmate-ku sedang berlatih koreografi dengan tekun. Aku suka melihat mereka berlatih, mereka selalu menunjukkan totalitas mereka. Akan tetapi, aku tak mau mengganggu mereka dengan duduk-duduk di dalam. Ya, aku memang bukan bagian dari dance group AOA. Aku hanya bermain drum untuk versi band AOA. Itulah karakterku di AOA, sebagai halfangel yang memegang kunci agar tujuh angel  lainnya bisa masuk ke dunia manusia.

 

Kecintaanku pada drum-lah yang membuatku tidak ikut dalam group dance. Sebelum aku menjadi training FNC dan bergabung dengan AOA, aku sudah aktif memamerkan kelihaianku memainkan stik drum, di co-ed group­-ku dulu. Hehe… excuse, sih. Sebenarnya aku tidak jago dance. Badanku terlalu kaku untuk itu.

 

“Kyungi,” panggil Jimin eonni membuyarkan lamunanku. “Kami sudah selesai. Ayo ke Studio C! Latihan band.”

 

“Ne, eonni,” sahutku sambil masuk ke studio. Di dalam ketujuh groupmate-ku sedang mengistirahatkan tubuh mereka yang bercucuran keringat. Kulihat maknae Chanmi sedang membagikan air mineral untuk eonni-eonninya.

 

Great job, Angels!” ucapku pada mereka Mereka membalasnya dengan senyuman. Jimin eonni nampak keluar dari studio. Aku pun mengikutinya bersama Choa eonni, Yuna eonni, dan Mina. Giliran AOA band yang berlatih. Aku sangat bersemangat!

 

Aku mendahului Jimin eonni ke Studio C. Kunyalakan lampu Studio C yang khusus didesain oleh FNC untuk kami. Ruangan ini bertemakan “taman surga”, sesuai dengan karakter kami “penghuninya”. Aku langsung duduk di kursi drumku dan mengambil stik drum dari tas selempangku. Jimin eonni dan Choa eonni sedang menstel gitar mereka, Mina juga sedang menstel bass-nya, sedangkan Yuna eonni sudah siap di depan keyboardnya.

 

Kedua kakiku sudah menginjak dua pedal di bawah. Jimin eonni mengangkat tangan kanannya tanda kami harus siap-siap memulai. Aku pun mengetuk-ngetukkan stik drumku sebagai aba-aba memulai. Namun…

 

“Aaaaa~!” Aku sontak menjerit saat kurasakan jera di lengan kananku. “Apo yo…” rintihku.

 

Suara alat-alat musik yang baru dimulai pun terhenti mendengar teriakanku. Jimin eonni, Choa eonni, Yuna eonni, dan Mina langsung menghampiriku tergesa. Tiba-tiba aku merasa menyesal karena tidak dapat menguasai diri sendiri agar tidak berteriak.

 

“Gwenchana?” tanya Choa eonni.

 

“Kyungi, kau kenapa? Apa yang sakit?” sambung eonni Yuna.

 

“Wai, tanganmu bengkak…” ujar Mina yang melihat lenganku yang berwarna merah kebiru-biruan. Aku baru sadar lenganku sudah berubah warna seperti itu. Jera sekali rasanya. Aku merasa air mataku terbendung di kantung mata.

 

“Sebaiknya kita sudahi saja latihannya, ya, eonni,” ujar Jimin eonni meminta pendapat Choa eonni yang dijawab dengan ekspresi setuju. “Kyungi, ayo kuantar ke dokter!” ajaknya seraya menuntunku untuk berdiri.

 

“Tapi, eonni… Aku masih bisa melanjutkannya, kok. Ayo latihan lagi,” tolakku.

 

Tiba-tiba Yuna eonni menarik tangan kananku yang sakit itu. Seketika aku pun kembali menjerit. Ahhh, sakiiit. Sakiiit sekali. Aku menggigit bibir bawah menahan sakit itu.

 

“Dengan lengan seperti ini kau akan melanjutkan latihan, hah!?” omel Yuna eonni dengan nada yang tinggi. Aku tersentak mendengarnya. Yuna eonni terlihat sangat marah padaku.

 

“Sudah, sudah,” Choa eonni menengahi. “Yuna~ya kontrol…” ucapannya terhenti mendengar suara pintu yang terbuka, diikuti seseorang yang masuk ke dalam studio.

 

“Ada apa?”

 

♪ Youkyung POV End♪

 

♪Jonghyun POV♪

 

Huaaa.. Aku baru ingat Diablo III-ku tertinggal di studio tadi. Wah, aku tidak bisa tidur sebelum memainkannya. Sejak bulan Mei lalu, tepatnya setelah mendapat hadiah ulang tahun dari SHINee’s Jjong itu, aku tidak sanggup lepas dari games itu. Saking laparnya tadi, aku lupa Diablo III-ku belum kumasukkan ke dalam tas. Aku harus cepat mengambilnya sebelum pukul 20.00.

 

Pukul 20.00 memang bukan waktu pemusnahan barang-barang yang tertinggal di studio (tidak ada peraturan seperti itu di F&C), tetapi hari ini pada jam itu Studio A dipakai oleh FT Island. Terus apa masalahnya? Masalahnya besar, lah. Di FT Island itu ada makhluk yang bernama Seunghyun yang selama empat bulan ini selalu berebut Diablo III itu denganku. Aku nggak akan membiarkan hal itu terjadi. Seunghyun tidak boleh menyentuh Diablo III-ku, tidak seujung kuku pun!

 

Aduh, mana elevatornya lama lagi jalan naiknya. Kulihat, ada yang “memanggil” elevator ini dari lantai 1. Ck, bikin lama aja. Pintu elevator itu terbuka dan kulihat FT Island dengan Seunghyun di depan pintu elevator. What? Mataku membulat.

 

“Jonghyun hyung!” sapa Seunghyun sumringah. Aku tak peduli denganmu! Tanpa berkata apa-apa kudorong tubuh Seunghyun jauh-jauh dan segera kututup pintu elevator. Sial, kenapa dia sudah ada di sini?

 

Elevator pun langsung naik ke atas dan pintunya pun kembali terbuka di lantai 3. Hhh, aku lega. Untung si Seunghyun belum sampai sini. Aku langsung bergegas lari ke Studio A. Kemampuaku sebagai pelari pada saat sekolah dulu bisa dimanfaatkan untuk saat-saat genting seperti ini. Yey, itu dia pintu Studio A, tempatku meninggalkan harta karun. Segera kuraih kenop pintu, tetapi gerakku tiba-tiba terhenti ketika kudengar suara teriakkan yang kencang.

 

Aku kaget bukan main. Kau tak tahu aku sedang tergesa? Sok buat surprise segala. Eh, tapi siapa yang teriak-teriak gini? Aku melirik pintu ruangan yang ada di kananku. Dari sini? Karena penasaran, tanganku pun beralih dari kenop pintu Studio A ke kenop pintu Studio C yang ada di kananku itu. Kuintip sedikit. Eh? AOA? Pintu pun akhirnya kubuka dan kuberanikan melangkahkan kaki masuk ke dalam studio itu.

 

“Ada apa?” tanyaku ingin tahu. Choa yang tadi nampak sedang berbicara menatapku dengan kaget. Begitu juga dengan Yuna, Mina, Jimin, dan Youkyung .

 

“Ah, Oppa…” Yuna yang mukanya merah seperti menahan amarah mengeluarkan suaranya tanda kaget.

 

“Wai, oppa… Wai… tangannya bengkak…” Pandanganku beralih dari Yuna ke Mina yang nampak bergetar. Kulihat matanya berkaca-kaca menahan tangis. Aku pun segera melihat ke arah yang dimaksud Mina itu. Wai (Y) alias Youkyung itu menundukkan kepalanya membuat rambut pirang selehernya itu menutupi wajahnya. Namun, dapat terlihat dia sedang menggigit bibirnya. Aku pun menghampirinya yang sedang dipegangi oleh Jimin, ingin melihat bagaimana keadaannya.

 

“Aku sudah mau mengantarnya ke dokter, oppa. Tapi, dia ngotot mau terus latihan,” lapor Jimin.

 

Aish, cewek-cewek ini. Gitu aja dibikin ribut, ada yang jengkel, ada yang mau nangis, eh yang dipeduliin malah ngotot-ngototan.

 

“Coba sini kulihat!” Aku langsung menarik tangan Youkyung pelan-pelan. Wuaa, ini udah nggak merah lagi, tapi biru, benar-benar biru. Karena ingin melihat seberapa parahnya, langsung saja kuurut perlahan memarnya.

 

“Aaaa~! Apo, apo!” teriaknya lagi sambil memukul-mukul bahuku dengan tangan kirinya.

 

“Aishhh, jinjja!” Kutahan tangan kirinya yang memukul-mukul bahuku itu. “Kau pikir dengan membiarkannya seperti ini tidak akan merepotkan teman-temanmu?”

 

“Jonghyun…” Choa menepuk punggungku memberi isyarat bahwa dia tidak begitu suka dengan kata-kataku.

 

“Ara,” sahutku. “Kau ini, kenapa bisa sampai memar seperti ini?” tanyaku padanya.

 

Youkyung hanya menundukkan kepala dan melirikku dengan ujung matanya. Aku dibuat gemas karena kesal dengan tingkahnya itu.

 

“Ah!” Yuna tiba-tiba mengeluarkan suara seolah-olah ia tahu alasannya. “Tadi bukannya tanganmu terhantam…” Ia tiba-tiba menghentikkan ucapannya.

 

“Menghantam apa?” desakku.

 

“Gitar Jonghyun oppa…” lanjutnya hati-hati. “Eh, benarkah?”

 

“Mwo?”

 

♪ Jonghyun POV End ♪

 

 

11 thoughts on “FNC, I’m in Love (Part 1)

  1. Wow, AOA!
    Aduh, si Youkyung masa’ panggil Yonghwa ahjussi, sih? T.T

    Hmmm… masih kurang greget, thor. Ayok gregetin lagi. *krauk*

  2. Aiih suka suka suka
    ajong cinta bgt sm gitar.a
    hayoloh ajong tanggung jawab,ini gara2 kamu tangan Y jd kea gt.
    Jangan lama2 ya thor please…

    • Hehehe, iya. Cinta mati pake banget sama gitarnya, namanya aja guitarfreak.

      Oke2, author buat ajong (#eh ikut2an manggil ajong) tanggung jawab secepatnya. Udah ada, kok, lanjutannya, tapi ito kuasa mimin.
      *colek admin

  3. Aku udah sering baca ff yg diambil dari sudut pandang jonghyun, tapi baru ff ini yg suskes bikin aku gak berhenti ngakak😄
    Cara author nyeritain keadaan di sekelilingnya bener2 kayak jonghyun sendiri yg nulis :D:D
    Apalagi yg pas dia suka rebutan diablo III sama seunghyun…… Ya ampun kocak😀
    Good jobbbb author!
    Lanjutannya jangan lama2 thor, jeballll

    • Wah, padahal author kira sedikit kaku tulisan ini:/
      Sukur, deh, kalok bikin ngakak. haha😛

      Okay, ditunggu, ya!

      Thanks a lot. ^_^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s