Hater Gonna Be Lover

 

Title : Hater Gonna Be Lover

Author : Minhyuk’s Anae

Length : Oneshoot

Genre : Romance

Rating : PG-15

Cast :

–          Kang Min Hyuk

–          Park Hae Ra (OCs)

–          Other Cast

Disclaimer : My own plot hihi kesamaan dan kemiripan dengan cerita lain dilakukan karena ketidaksengajaan~

Note : Maaf kalo banyak typo dan ceritanya kurang memuaskan🙂 Di publish ulang di wordpress pribadi author minhyukanaefanfic.wordpress.com . Happy Reading!

—————————————————–********—————————————————-

Hae Ra’s POV

Aku menjerit senang begitu mendapati namaku sebagai peringkat pertama paralel dalam hasil ujian semester ini. Mengalahkan namja sombong yang kini ada di peringkat kedua hihihi. Akhirnya aku bisa meraih peringkat pertama juga.

Ku langkahkan kakiku menuju kantin bersama teman-temanku.

“ Chukkaeyo, Hae Ra!” Ujar Jong In.

“ Ah ne, gomapta Jong.” Balasku sambil membungkuk.

“ Chukkahamnida, Park Hae Ra!” Sahut seseorang yang kini tengah berjalan ke arahku. Tentu saja dengan wajah angkuh dan senyum sinis yang dibuatnya jadi sok manis itu.

“ Gomawo.” Ucapku datar hanya menyunggingkan senyum sinisku.

“ Lain kali, kau tak akan bisa mengalahkanku lagi.” Ujarnya sambil berlalu pergi.

“ Terserah apa yang kau katakan, Minhyuk-ssi.”

-***-

Hhhhhh! Minhyuk membuat moodku yang sangat sangat baik menjadi sangat sangat buruk. Tidak! Aku tidak akan membiarkannya memenangkan juara paralel lagi, Andwae! Aku harus rajin belajar mulai dari sekarang.

-***-

“ Hae Ra, kau dipanggil Kim Seonsaengnim.” Ucap Yoon Jae.

“ Oh ne, gomawo infonya Yoon.” Aku langsung bergegas menuju ruang kantor Kim Seonsaengnim, guru matematikaku. Aku terkejut begitu mendapati namja sombong itu yang dengan amat sangat malas ku sebutkan namanya juga ada di ruangan Kim Seonsaengnim.

“ Ah, itu Hae Ra sudah datang. Duduk disini Hae Ra.” Ujar Kim Seonsaengnim ramah. Aku selalu memberikan applause tersendiri kepada Kim Seonsaengnim karena dia adalah guru matematika paling ramah sedunia.

Aku duduk di samping namja itu.  Terpaksa karena tak ada kursi lain. Minhyuk hanya mendelik sebentar ke arahku lalu membuang pandangannya lagi.

“ Hmm pertama-tama aku ucapkan selamat kepada kalian karena lagi-lagi kalian bisa memenangkan juara paralel disini, Hyuk-ssi, Hae Ra-ssi.” Ujar Kim Seonsaengnim memulai percakapan.

“ Tapi kali ini aku bukan jadi juara pertama, Sam (panggilan kepada guru).” Potong Minhyuk sambil mendelik sebal ke arahku. Ish kalau saja ini bukan ruang guru dan di depanku bukanlah Kim Seonsaengnim aku ingin sekali menjambak rambutnya.

“ Hahahaha tapi sebenarnya nilai kalian itu sama, Hyuk-ssi. Kalian belum menghitung ulang?”

“ Baiklah aku ingin membicarakan suatu hal yang lebih penting dari juara paralel. 1 bulan lagi akan diadakan olimpiade matematika nasional dan aku sudah mendaftarkan kalian untuk mengikutinya.”

“ Jadi nanti lomba ini diadakan semacam cerdas cermat matematika jadi kalian harus bisa bekerja sama dengan baik.”

Aku? Bekerja sama dengan namja sombong ini? Cih.

Kami saling melirik, melirik tajam.

“ Jadi mulai hari ini, sepulang sekolah. Ku harap kalian bisa sering berlatih bersama. 1 minggu sekali saya akan membimbing kalian. Ingat, kebersamaan sangat diperlukan di lomba ini.” Ujar Kim Seonsaengnim menutup pembicaraannya.

Kebersamaan sangat diperlukan. Baiklah kalau itu bukan dengan Kang Minhyuk aku yakin aku bisa tapi jika dengan dia aku sendiri tidak tahu.

Aku dan Minhyuk ditakdirkan untuk bersaing semenjak kami sekolah dasar. Kami satu SD dan yaa seperti yang dilihat, peringkat kami selalu bersaing ketat. Sampai akhirnya SMP dan bodohnya kenapa aku dan dia bisa masuk sekolah yang sama lagi dan sekarang SMA. Jadi kurang lebih 10 tahun aku sudah bersaing dengannya.

Kami memang dikenal sebagai siswa yang tidak saling akur. Suruh siapa dia dulu mengejekku, mengatakan aku tak mungkin mengalahkannya. Dia bilang aku percuma belajar karena akhirnya hasil kerja kerasku selalu di kalahkan olehnya. Benar juga sih, terkecuali kali ini.

Sebenarnya jika dipikir-pikir pertengkaran kami adalah pertengkaran tanpa sebab. Tapi aaaaah entahlah kenapa aku harus bekerja sama dengannya.

“ Pulang sekolah kita bertemu di perpustakaan.” Ujar Minhyuk seraya pergi menuju kelasnya. Ya, kelas kami berbeda.

-***-

“ Yak, Park Hae Ra apakah kau bodoh? Berapa IQ-mu? Mengerjakan soal seperti ini tidak bisa. Aku. Aku hanya melihat soalnya saja sudah tahu berapa jawabannya.” Omel Minhyuk yang terus terang saja membuat telingaku sakit.

“ Hei, Kang Min Hyuk orang salah itu wajar. Aku juga ini lagi hitung ulang. Kalau kau sudah tahu jawabannya kenapa masih suruh aku mengerjakan? Ha?”

“ Hh aku tak yakin bisa bekerja sama dengan baik denganmu nyonya Park.”

“ Kau kira aku senang bekerja sama denganmu. Hah?” Minhyuk hanya kembali berkutat dengan soal-soal di tangannya.

Oh aku ingin sekali membekap mulutnya yang tidak mau diam itu. Sungguh berbeda dengan imagenya yang terkenal pendiam dan imut. Sudahlah aku sedang tidak mau membahas Minhyuk. Aku mau membahas soal matematikaku saja.

Waktu sudah menjelang sore dan kami masih di perpustakaan. Oh sial, hujan. Aku tak membawa payung.

“ Apa kau mau pulang sekarang? Ini sudah jam 5.” Ujar Minhyuk yang sedang membantuku membereskan buku-buku untuk kembali menaruhnya di rak perpustakaan.

“ Tapi hujan dan aku tidak bawa payung.” Ucapku sambil memandang air hujan yang cukup deras.

“ Lalu? Kau berharap aku akan mengantarmu pulang? Aku tak mau.” Nah kan. Sifat Minhyuk yang seperti inilah yang benar-benar membuatku ingin menjambaknya.

“ Siapa juga yang mau.” Balasku angkuh dan berjalan menuju koridor kelas yang terkena percikan air hujan yang memang deras.

“ Lalu? Kau akan hujan-hujanan?”

“ Terserah aku. Sudah sana kau pulang saja!” Usirku.

Minhyuk menarik pergelangan tanganku membuat langkahku terhenti,

“ Ayo pulang bersamaku saja.” Entah kenapa kata-kata itu membuat hatiku berdesir. Oh, tidak tidak! Apa yang kau pikirkan, Hae Ra!

“ Tidak usah.” Tolakku mencoba melepas genggaman Minhyuk. Tapi Minhyuk semakin menggenggamku kuat.

“ Ayolah, aku tidak bisa membiarkanmu sakit.” Mohon Minhyuk membuatku membelalakkan mataku. Apa yang baru dia katakan?

“ Hah? Maksudmu?” Minhyuk melepaskan genggamannya.

“ Maksudku aku tidak bisa membiarkanmu sakit karena kehujanan. Nanti kalau kau sakit kita tidak bisa berlatih untuk lomba dan kita akan kena marah Kim Sam.” Ujarnya dingin.

“ Maka dari itu, aku antar kau pulang.” Aku hanya mengangguk.

Oh, jangan! Hatiku berdebar kencang lagi! Andwae! Aku tidak mungkin…

-***-

Minhyuk’s POV

“ Gomawo.” Ucap Hae Ra tetap dengan nadanya yang dingin.

“ Ne, Cheonmanhaeyo.” Balasku dan dia langsung keluar dari mobilku.

Tanpa terasa aku tersenyum sendiri. Oh, aku tau aku sudah mulai gila dan yang membuatku gila adalah yeoja yang baru keluar dari mobilku tadi.

Aku menyukainya bahkan semenjak kami smp. Tapi dia selalu menganggapku musuh dan dia selalu bersikap dingin padaku. Aku yang bukan tipe namja romantis juga bingung harus gimana. Malah menurutku aku juga membalas sikapnya yang dingin itu dengan sikap yang tak kalah dingin.

Aku sangat berterima kasih pada Kim Sam yang sudah menyuruh kami bekerja sama ^^ setidaknya ini bisa aku gunakan untuk mendekati Hae Ra.

Ra-ya, sadarlah kalau selama ini aku menyukaimu. Karena kaulah aku rajin belajar dan senang bersaing denganmu.

-***-

Hae Ra’s POV

Ini sudah memasuki minggu terakhir. Minggu depan kami akan mengikuti olimpiade itu. Artinya setelah itu aku dan Minhyuk akan jarang bersama-sama seperti sekarang…

Arrrrgh, apa yang kau pikirkan Hae Ra? Kenapa tiba-tiba kau takut kehilangan Minhyuk?

“ Andwaeeee!!!” Teriakku.

“ Yak! Kau kenapa Hae Ra?” Tanya Minhyuk yang kaget dengan teriakanku barusan. Oh, lamunanku terlalu tinggi sampai aku berteriak sendiri.

“ Ah, aniyo. Aku hanya kesal kenapa soalnya sangat susah hehe.” Ujarku menunjuk soal yang sebenarnya sudah aku selesaikan.

“ Yang mana yang susah?” Tanya Minhyuk mendekatkan kepalanya ke arahku. Oh, jangan seperti ini.

“ Aa..a—ni. Aku sudah menemukan jawabannya.” Jawabku sambil tersenyum.

“ Baiklah.” Ujar Minhyuk membetulkan posisi duduknya seperti sebelumnya.

Hei, kenapa aku jadi gugup? Kenapa aku jadi tidak fokus? Ini sudah beberapa kali semenjak aku dan Minhyuk mulai dekat. Sekarang kami sudah tidak ngotot-ngototan lagi kalau bicara. Bahkan teman-temanku bilang kami terlihat seperti orang pacaran -___-

Anehnya aku tak pernah marah jika ada orang yang mengira kami pacaran. Aku justru berharap…

“ Kenapa kau memandangiku terus? Kerjakan lagi soalnya, Ra-ya. Nanti kalau kau memandangiku terus, bukannya rumus yang kau tulis malah kau menggambar wajahku lagi.” Ujar Minhyuk terkekeh membuyarkan lamunanku.

Pletak

“ Awww!” Ringis Minhyuk ketika aku jitak kepalanya.

“ Jangan ke ge-eran. Siapa juga yang ngeliatin.” Ujarku dan mulai berkutat pada soal lagi.

Aaaah aku sedang tidak fokus! Pikiranku terus menerus memikirkan Minhyuk. Minhyuk menyingkirlah dari pikiranku.

“ Pulang ini kau pulang naik apa?”

“ Naik taksi. Wae?”

“ Pulang sama aku aja ya.”

“ Baiklah. Gomawo, Hyukkie.”

Awalnya setiap kami belajar bersama, aku selalu berharap waktu berjalan cepat sehingga aku bisa cepat-cepat pulang. Tapi sekarang, aku selalu berharap waktu berjalan melambat bahkan mungkin berhenti agar aku bisa lebih lama bersama Minhyuk.

Ternyata pikiranku tentang Minhyuk selama ini salah. Dia tak menganggapku sebagai pesaing bahkan musuh, dia bahkan ini menganggapku sebagai teman. Tapi aku bersyukur Tuhan mempertemukan kami, karena Minhyuk membuatku lebih semangat belajar.

Lagi-lagi aku menatap Minhyuk yang sedang fokus dengan jalanan. Ternyata benar apa yang dibilang teman-temanku, dia sangat manis. Aku bahkan telat menyadarinya. Dia manis terutama ketika tersenyum. Matanya yang sipit dan otomatis menghilang ketika ia tersenyum. Itulah bagian favoriteku setiap melihatnya.

Hei, apa yang kau pikirkan, Hae Ra?

***

“ Kami ucapkan selamat kepada saudara Kang Min Hyuk dan saudari Park Hae Ra yang berhasil memenangkan Olimpiade Matematika Nasional. Yang bersangkutan dipersilakan untuk maju.” Ujar Kepala Sekolah. Dengan bangga aku maju ke depan dan meraih piala, hasil kerja kerasku dan Minhyuk selama satu bulan.

Aku dan Minhyuk tersenyum. Senang tentu saja.

Entah apa yang membuatku tiba-tiba ingin menangis. Tapi bukan tangisan terharu. Aku buru-buru pergi ke taman sekolah dan baiklah kali ini aku benar-benar terisak.

Aku senang atas hasil ini. Tapi ada satu hal, mulai hari ini artinya aku tak akan bekerja sama dengan Minhyuk lagi. Aku tak akan menunggu sekolah untuk cepat membunyikan bel pulang hanya untuk bertemu Minhyuk. Aku tak bisa dekat dengan Minhyuk seperti apa yang sebulan ini aku lakukan. Kurasakan dadaku sesak. Aku kenapa? Aku sendiri aku tidak tahu. Perasaan ini berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan saat pertama kali aku mendengar kabar dari Kim Sam bahwa aku harus bekerja dengan Minhyuk.

“ Kau kenapa, Ra-ya?” Tanya seseorang. Oh, syukurlah itu bukan Minhyuk.

“ Yoon, aku ingin bercerita padamu.” Sahutku kepada Yoon Jae.

“ Silahkan. Kenapa kau sedih? Kau kan harusnya senang.”

“ Aku sedih karena mulai hari ini aku gak bisa deket lagi sama Minhyuk, Yoon.” Yoon Jae tersenyum,

“ Bukankah dulu kau selalu benci deket sama Minhyuk? sekarang kau justru gak mau jauh?” Aku hanya menunduk.

“ Aku juga gak tau aku kenapa, Yoon.”

“ Astaga, sahabatku kena batunya juga.” Yoon Jae terkekeh. Aku menatapnya sinis tak mengerti apa yang baru saja ia katakan,

“ Iya. Sudahku bilang berapa kali, Ra-ya. Kau jangan terlalu membenci Minhyuk. antara benci sama cinta itu tipis. Sekarang kau kena batunya. Kau menyukai bahkan mungkin mencintai Minhyuk.”

“ Mwo? Gak mungkin!” Sergahku.

“ Kalau gak suka ngapain kamu nangis Cuma karena gak bisa deket sama dia lagi.” Ucap Yoon Jae. Benar juga sih.

Aku selalu berdebar tiap dengan Minhyuk. nyaman. Gak mau jauh. Astaga, benarkah? Aku mencintainya?

“ Lalu, apa yang harus aku lakukan Yoon? Sepertinya kau benar. Aku memang mencintai Minhyuk.” Ujarku.

“ Apa? Kau mencintaiku?” Ujar seseorang mengagetkanku. Aku menutup mulutku. Minhyuk mendengarnya! Arrrgh aku babo!

“ Aa—ni.” Sergahku.

“ Aku mendengarnya tadi.” Ucap Minhyuk dengan senyum yang err menyebalkan menurutku tapi tetap menunjukkan wajahnya yang super manis itu.

“ Oh, sebaiknya aku pergi.” Ujar Yoon Jae.

“ Yak, Yoon! Kau mau kemana?!!!”

“ Hehehe aku tak mau mengganggu kalian hehehehe.” Astaga apa yang harus ku lakukan?!

“ Jadi? Benarkah?” Tanya Minhyuk yang kini duduk di sebelahku menggantikan posisi Yoon Jae.

“ Apanya?”

“ Tadi.”

“ Apa?”

“ Yang soal kau dan aku. Benarkah kau mencintaiku?” Tanya Minhyuk. aku hanya diam dan memandang lurus ke depan. Tak berani menatap Minhyuk.

“ Yak, jawab aku!” Minhyuk menggoyangkan bahuku.

“ Nan molla!” Ujarku.

“ Bagaimana jika aku menyukaimu juga?” Tanya Minhyuk membuatku memandangnya. Mata kami saling bertemu.

“ Apa kau habis menangis? Matamu sembab.” Minhyuk menunjuk mataku.

“ Aku…hanya takut setelah hari ini kita tak bisa dekat lagi.” Jawabku menunduk menahan malu. Minhyuk terkekeh mengacak-acak rambutku pelan.

“ Jadi, bagaimana jika aku menyukaimu juga?” Minhyuk mengulang pertanyaannya. Aku mengangkat bahuku masih tetap dalam keadaan menunduk, aku yakin wajahku sudah sangat merah merona sekarang.

“ Aku menyukaimu, Hae Ra.” Ujar Minhyuk. aku menoleh menatap matanya.

“ Benarkah?” Tanyaku pelan bahkan terkesan berbisik. Dia mengangguk. Aku menatap matanya berusaha menemukan kebohongan tapi nyatanya nihil.

“ Aku juga.” Jawabku malu. Minhyuk memelukku sebentar.

“ Ini sekolah, Hyukkie.”

“ Sudah jangan nangis lagi. lagipula sekarang kita masih bisa tetep dekat kan?” Ujar Minhyuk.

Aku hanya mengangguk malu dan membalas senyumnya. Senyumnya yang sangat indah.

Oh, Hyukkie aku membencimu! Membencimu karena sudah membuatku mencintaimu.

-***End***-

Eotteohkae readers? Jeongmal Mianhae kalau kurang bagus ^^ Ditunggu saran dan kritiknya. Jeongmal Gomawo yang sudah menyempatkan untuk baca.

11 thoughts on “Hater Gonna Be Lover

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s