[OneShot] Unfinished Melody

Author : @hannamoran

Cast : Lee Jong Hyun (CNBLUE)

Im Yoona (SNSD)

Jung YunHo (DBSK)

Genre : General, Romance

Length : Onshot

Disclaimer : originally by author with very lil inspired by “then i hate you so” novel

Note: maaf kalo terdapat banyak typos. alu ceritanya maju-munjur (ada beberapa flashback) jadi bacanya hati-hati ya biar ngerti jalan ceritanya🙂 … dan maaf lagi kalau ceritanya agak panjang🙂 happy read and dont forget to comment🙂

****

Jonghyun melangkahkan kakinya ditempat ini lagi, tempat yang pernah ia pijak 10 tahun lalu, saat ia masih berseragam sekolah.

Langkah kaki jonghyun terhenti saat telinganya mendengar dentingan tuuts piano yang dimainkan dengan halus tetapi tegas.

“Chopin Nocturne op.9 no.2” desis jonghyun

matanya terpejam meresapi setiap denting piano yang marasuk kedalam otaknya lalu mengalirkan rasa sejuk kehatinya. Seulas senyum tersungging dibibirnya. Tapi ia segera tersadar, lalu ia melanjutkan langkah kakinya dengan pelan, sangat pelan. Ia tidak ingin menimbulkan bunyi dari sol sepatunya yang bergesekan dengan lantai kayu parkit. Ia menyusuri lorong menuju satu pintu dimana lantunan piano tadi berasal. Ia sedikit mengintip dari celah pintu yang terbuka. Jonghyun menahan nafas, dia yang selama ini dirindukannya. Dia yang selama ini menghantui hidup jonghyun dengan rasa bersalah, dia juga yang sangat di cintainya.

***

Jemari indah gadis itu meninggalkan tuts pianonya, ia berdiri dan membereskan lembar-lembar partiturnya, memasukannya kedalam sebuah map. Ia beranjak dari depan pianonya, hendak keluar dari ruangan kesukaannya. Tapi langkahnya terhenti, tubuhnya diam saat kedua matanya bertatapan dengan mata lain yang tengah mengamatinya. Tiba-tiba hatinya sakit, rasa benci yang selama ini ia kubur berlomba-lomba muncul kembali. Tanpa ia sadari ia menggengam map partiturnya dengan kencang, hingga buku0buku jarinya terlihat jelas.

***

“yoona…” hanya bisikan pelan yang mampu jonghyun ucapkan. Tapi gadis itu masih saja diam ditempat. Jonghyun  memperhatikan gadis itu, wajahnya, postur tubunya, gerak geriknya masih sama seperti 10 tahun lalu, hanya saja sekarang  ia terliaht lebih cantik, walaupun raut wajahnya terliaht tegang dan tidak senang. Juga sorot matanya, ada emosi dan kesedihan juga dendam dan ada sorot lain yang tidak bisa jonghyun terjemahkan artinya. Gadis bernama yoona itu, gadis masih gadis yang sama dengan gadis milik jonghyun 10 tahun yang lalu.

***

Jonghyun POV

Aku berjalan mendekatinya, ia masih diam ditempat, tapi matanya tak focus padaku. ia melihat kearah lain, tubuhnya menegang.

“kau… kenapa kau datang lagi?” akhirnya aku bisa mendengar suaranya lagi.

“tentu saja untuk bertemu denganmu” ia terlihat tersenyum mengejek.

“aku tau… kau mau menertawakanku kan? Sudahlah jonghyun, pergilah. Urus hidupmu sendiri” ucapnya tegas.

“yoona…”

“apalagi yang kau mau setelah kau menghancurkan hidupku dan impianku 10 tahun lalu? Apa lagi yang kau mau dariku?”

“yoona, aku mau minta maaf. Kejadian 10 tahun lalu sungguh diluar dugaanku, aku sudah berusaha untuk menebus semuanya tapi tidak bisa. Aku selalu gagal menemukanmu… dan baru kali ini aku bisa menemukanmu”

“dank au mau menunjukan betapa suksesnya kau sekarang? Seluruh dunia mengenalmu dank au mau menertawakan keterpurukanku? Kerterpurukan yang disebabkan olehmu?” kalimat yoona tadi begitu menusuk hatiku. Sebesar itukah rasa sakit hatinya?

“silahkan pergi”

“yoona dengarkan dulu…”  “PERGI!! AKU BILANG PERGI ATAU AKU YANG PERGI!!” lengkingan teriakannya membuatku tersentak, aku menarik tangannya hendak menahannya tapi dengan sekuat tenaga ia melepaskan genggaman tanganku sampai map pertiturnya berserakan, ia segera berlari meninggalkanku.

BLAM!! Ia membanting pintu ruangan, membiakanku berdiri terpaku.

Aku memungut lembaran-lembaran partitur yang berserakan, mataku menyusuri setiap judulnya. Hingga aku melihat sebuah partitur yang sudah sangat usah, bekas lipatannya terlihat jelas, warnanyapun yang paling pudar. Ternyata ia masih menyimpannya.

***

Flashback –Author POV-

“woooow amazing!!” puji jonghyun sambil bertepuk tangan dan berdiri dari kursinya. Memang hanya jonghyun yang menjadi penonton ditempat itu tapi pujian dan tepuk tangan jonghyun sudah cukup membuat sang gadis pianist itu tersenyum. Gadis itu membungkukan badan seolah memberi hormat pada para penonton.

“kau sangat berbakat yoona-ya… kau pasti akan mendapatkan point tertinggi di international piano festival itu dan kau akan mendapat gelar best pianist of the year juga mendapat beasiswa disekoalh piano terkenal itu”

“aku juga berharap begitu… aku tidak ingin latihanku berakhir sia-sia, kau akan datang kan??”

“tentu saja, aku akan dibarisan penonton paling depan. Aku akan bertepuk tangan paling keras dan tak lupa meneriakan namamu, aku kan fans nomor satumu” kata jonghyun penuh percaya diri.

“baiklah… tapi sekarang pianist favoritmu ini sedang kelaparan… maukan kau menemaniku makan?” Tanya yoona jail

“tentu saja, kalau begitu ayo kita makan. Mau makan dimana? Kantin sekolah?”

“aku bosan dengan menu dikantin sekolah” kata yoona

“baiklah, kalau di café myeongdong bagaimana?”

“nah itu baru aku suka….”

“okay… lets go!!” jonghyun merangkul pundak yoona dan mereka segera meninggalkan ruang latihan piano.

-Flasback End-

***

Yoona duduk bersila diatas tempat tidurnya, didepannya terbuka sebuah buku yang lumayan tebal. Buku tahunan SMA nya. Ia sedang menelusuri setiap halamannya, hingga ia menemukan sosok yang ia cari. wajah orang dalam foto itu sudah penuh dengan coretan tinta merah, menunjukan amarah lewat guratan kasar dan dalamnya. Yonna mengingat kejadian tadi siang saat orang dalam foto itu muncul lagi dihadapannya setelah 10 tahun pergi dan tidak bertanggung jawab atas hidupnya yang sudah diporak-porandakannya.  Tiba-tiba rasa bersalah mulai ia rasakan, seharusnya ia tidak sekasar itu pada laki-laki tadi, bagaimanapun yoona bisa melihat ketulusan dimata namja itu saat ia meminta maaf tadi, tapi tetap saja kesalahan fatal yang sudah laki-laki itu perbuat tidak akan bisa selesai hanya dengan 1 kata maaf.

Yoona menutup buku tahunan SMAnya lalu meletakannya kembali dalam rak. Ia naik kembali ke tempat tidurnya, bersembunyi di balik selimutnya dan ia mulai masuk kedalam mimpi, mimpi yang akhir-akhir ini selalu datang dalam tidurnya. Mimpi tentang 10 tahun yang lalu.

***

FlashBack – Yoona POV

“jonghyuna… tumben sekali kau pulang cepat?” tanyaku saat aku melihat jonghyun sudah berdiri didepan kelasku.

“hyuri songsaenim membubarkan kelas lebih cepat” kata jonghyun, lalu ia mengenggam tanganku.

“hujan…” komentarku sambil aku menengadahkan tangannya merasakan tetesan hujan ditelapak tanganku.

“dinginya…” tiba-tiba jonghyun memelukku dari belakang, dan meletakan kepalanya dipundakku.

“ya jonghyun!!! kita masih disekolah!!! Kalau ada yang lihat bagaimana??” aku panic melihat kelakuakn jonghyun, tidak biasanya dia bersikap seperti ini. Jujur, aku sedikit risih. Aku melihat sekeliling untung saja sekolah mulai sepi.

“begini lebih hangat” bisiknya sambil mempererat pelukannya, aku hanya bisa berdiri diam.

“yoona…” panggilnya

“ya?”

“apa kau sunggunh-sungguh ingin menjadi pianist handal?”

“tentu saja, itu impian terbesarku”

“kau ingin dunia mengenalmu?”

“ya, aku ingin… aku ingin seluruh dunia mendengar lantunan piano ku”

“teruslah berjuang… aku tau kau bisa. Aku tau kau akan menjadi pianist terkenal”

“hmm… terima kasih” dan kami terus begini sambil menunggu hujan yang cukup lama reda.

“romantis ya” komentarku saat hujan mulai mereda, meninggalkan tetesan-tetesan yang tidak terlalu deras, juga aroma tanah basah yang tercium.

“saranghae” bisiknya, masih memeluk tubuhku dari belakang. Aku mengangguk dan tersenyum.

-Flashback End-

***

Yoona menutup pintu kelas musiknya setelah semua muridnya keluar dari kelas. Akhirnya ia selesai mengajar. Iapun berjalan menuju ruang guru untuk meletakan catatan dan buku-buku lainnya.

“yoona songsaengnim” yoona menoleh kearah suara.

“ne, Jung songsaenin?” Tanya yoona sopan pada Jung Yunho teman sesama gurunya

“apa sabtu ini kau ada acara?”

“tidak ada, memangnya ada apa?” Tanya yoona, ia tahu Yonho songsaengnim menyimpan persaannya padanya, jadi ia tak aneh kalau yunho sering bertanya apakah setiap akhir pekan yoona mempunyai acara atau tidak. tapi yoona hanya menganggapnya sebagai teman seprofesi.

“maukah kau menemaniku menonton konser?” Tanya yunho songsaengnim terlihat sedikit salah tingkah

“konser music apa?” Tanya yoona

“ini adalah konser dari beberapa musisi asal jepang. Mereka semua mengadakan konser bersama, aku sering mendengarkan karya-karya mereka, karya-karya mereka sungguh bagus. Dan karena kau seorang guru music, mungkin ini bisa menjadi referensi untuk kelas musikmu” kata yunho. Yoona berfikir sejenak

“ide yang bagus, sudah lama juga kau tidak menonton konser. Baiklah, aku terima ajakanmu”

“baiklah, sabtu nanti aku jemput yonna songsaengnim, ne”

“ne…kalau begitu aku permisi dulu. Aku haru membereskan bebrapa berkas nilai rapot untuk murid-muridku”

“ah tentu, silahkan” yunho songsaengnim mempersilahkan, dan yoona pun mulai berkutat dengan data-data siswanya.

***

Jonghyun mengatur tegangan senar gitar kesayangannya. Setelah dirasa pas, jemarinya mulai memetik senar gitarnya. Lantunan irama mulai terdengar.  Ia memainkan Chopin Nocturne op.9 no.2 dalam versi akustik. Jonghyun memejamkan matanya, meresapi setiap denting senar yang tercipta dari petikan gitarnya.

Semakin banyak irama yang tercipta semakin rasa bersalah itu muncul di dada jonghyun, rasanya ia ingin memutar waktu, ia ingin semuanya kembali ke 10 tahun yang lalu. Saat ia membuat kesalah terbesar. Rasa sesal itu semakin menumpuk, dan suara-suara yang seolah-olah menyalahkannya karena menjadai penyebab hancurnya mimpi seseorang, dan membuat masa depan orang itu menjadi kabur. Orang yang ia cintai, yang sekarang begitu membencinya.

Petikan gitar terakhir sekaligus selesainya lagu yang sedang jonghyun mainkan terdengar begitu menyakitkan. Jonghyun terdiam, matanya mulai terbuka, dan ia menatapi paertitur usang yang ia temukan diantara partitur-partitur lainnya milik yoona yang bberapa hari lalu yoona buang saat ia berusaha melepaskan genggaman tangan jonghyun. jonghyun mengambil lembaran partitur usang itu, ia yakin yoona sudah ratusan kali memainkan setiap not dalam partitur ini, bahkan mungkin gadis itu sudah hafal diluar kepala, dan mungkin sejak kejadian 10 tahun lalu gadis itu tidak pernah memainkannya lagi, semua karena salah jonghyun. seharusnya jonghyun berani berkata tidak, demi melihat gadis itu bahagia dan terus mengejar mimpi dan masa depannya.

Flash Back – Jonghyun POV

Aku tengah duduk dibersantai didepan TV, saat tiba-tiba omma ku memanggilku

“jonghyuna… ada telefon untukmu” akupun segera beranjakdan menjawab telepon itu

“yoboseo…”

“yoboseo, apakah ini Lee Jonghyun?” Tanya seseorang dengan bahasa korea yang terdengar sedikit aneh

“ne, ini siapa?”

“aku Ukina Tamaki, kepala Allegria Japan International Music School, cabang korea. aku ingin memberitahumu kalau kau mendapatkan beasiswa music full selama 4 tahun dijepang”

“mwo?? Tapi aku tidak pernah mengirimkan sample music ku ke Allegria music school ini, kenapa tiba-tiba aku mendapat beasiswa??” tanyaku heran

“seorang temanmumengupload video saat kau perform akustik diacara ulang tahun sekolahmu, kepala alegria tertarik dengan bakatmu, ia ingin memberikanmu beasiswa music dan menjamin keberhasilan musikmu dijepang. Apa kau bersedia?”

Ini pasti karena jungshin, aku ingat ia pernah minta izin untuk mengupload videoku ke channel youtubenya, aku menyetujui karena aku pikir tidak akan ada orang yang terlalu tertarik dengan bakatku itu, tapi ternyata malah ada yang memberiku beasiswa karena video itu. ah!! Alegria itukan sekolah music yang ingin di tuju yoona juga.

“lee jonghyun, apa kau masih disana?” Tanya suara sipenelepon itu lagi

“ya, aku masih disini”

“bagaimana? Apa kau menerima tawaran beasiswa ini?”

“aku rasa aku harus memikirkannya terlebih dahulu, aku juga harus membicarakannya dengan kedua orang tuaku”

“baiklah, kalau begitu. Aku beri kau waktu 1 minggu. 1 minggu lagi aku akan menghubungimu, ingat beasiswa ini banyak dicari oleh banyak orang diseluruh dunia, dan kami menawarkan ini secara Cuma-Cuma untukmu. Jadi jangan sia-siakan kesempatan emas ini, kami tidak akan menawarkan kesempatan ini dua kali. Selamat malam” lalu hubungan telepon ditutup.

“dari siapa tadi?” Tanya omma terdengar penasaran

“allegria international music school jepang” kataku

“sekolah music terkenal dijepang itu?” Tanya omma semakin antusias

“ya, mereka menawarkanku beasiswa full sekaligus menjamin perkembangan musikku dijepang, mereka tertarik dengan video performku saat ulang tahun sekolah seminggu lalu….”

“kau harus menerima beasiswa itu jonghyun! omma tahu kau sangat berbakat dibidang music, jangan sia-siakan kesempatan emas ini jonghyun. ellegria itu sekolah music berkelas, omma akan memberitahu appamu. Ia pasti akan sangat senang” omma begitu antusias mendengar berita aku mendapat beasiswa disekolah music terkenal itu, dan appapun sama senangnya, ia bahkan terus tersnyum dengan bangganya.

Tapi satu yang aku pikirkan, yoona. Apakah responnya jika ia tahu kalau aku mengambil kesempatan yang mungkin seharusnya menjadi miliknya.

FlashBack END

***

Yoona POV

Aku dan yunho sudah duduk di kursi penonton bersiap menonton konser. Jarak kami dan panggung hanya sekitar 7 meter saja, karena ini memang konser eksklusif sehingga hanya 300 penonton saja yang hadir, dan kebetulan yunho memiliki tiket VVIP sehingga kami bisa dengan sangat nyaman dan leluasa menonton konser ini.

Tak lama konser dimulai dengan ditandainya lampu diatas kursi penonton yang mulai meredup dan lampu sorot yang terang menhgarah ketengah panggung. Seorang musisi akustik pertama asal jepang memulai memainkan lagunya, sangat indah. Aku dan penonton lainnya sampai terbius dengan setiap detingan senar yang ia ciptakan. Ia membawakan kurang lebih 3 lagu.

Lalu musisi akustik kedua muncul dipanggung, gaya bermusiknya sedikit berbeda dengan musisi pertama tadi, lagu-lagu yang ia bawakan lebih banyak mengandung unsure jazz dan swing didalamnya, tapi tetap terdengar indah. Sayangnya ia hanya membawakan 1 lagu. Dan musisi ketiga melangkah keatas panggung, dan jantungku berdetak 3 kali lebih cepat melihat sosok itu berjalan diatas panggung, laki-laki itu, laki-laki yang aku benci sekaligus lak-laki yang aku cintai. Laki-laki yang sudah merebut impian berhargaku, yang mengaburkan masa depanku, laki-laki yang pernah menjadi laki-lakiku. Lee jonghyun.

Jonghyun berjalan kearah stand mic dan mengambilnya, sedikit berdeham lalu matanya memandang kepada penonton, mungkin ia tidak sadar dengan kehadiranku.

“aku tahu ini konser music akusitik, aku tidak bermaksud menyabotasenya. Tapi dikesempatan ini aku ingin memperbaiki kesalahan yang pernah aku buat, hingga membuat hidup seseorang menjadi kacau. Mungkin ia tidak ada disini, mungkin ia terlalu benci padaku hingga ia tidak sudi untuk menonton konserku ini” katanya. Betul, ia tidak menyadari kehadiranku disini.

“10 tahun lalu, seorang wanita yang sangat aku cintai mencoba memainkan sebuah lagu dengan pianonya untuk mendapatkan beasiswa music impiannya, tapi karena kebodohanku lagu itu tidak pernah ia selesaikan, maka mala mini izinkan aku menyelesaikan permainan pianonya sebentar saja. Setidaknya aku bisa menebus sedikit rasa bersalahku” lalu jonghyun meletakan kembali micnya di atas stand mic, ia berjalan kearah sebuah grand piano hitam yang aku tidak tahu sejak kapan ada diatas panggung itu. aku menahan nafas, rasanya seperti mimpi. Mataku tidak bisa lepas dari sosok jonghyun yang mulai meletakan jari-jarinya adiatas tuts piano, aku membeku dikursiku.

Dan lantunan listz concerto no.2 Cyprien Katsaris terdengar, jonghyun memainkannya dengan sangat sempurna, sebuah gubahan yang tidak pernah aku selesaikan, tidak akan pernah aku selesaikan. Gubahan tentang ambisiku yang seketika berubah menjadi kebencian dan amarahku. Semakin lama setiap not yang jonghyun mainkan menyesakan dadaku, berebut masuk kedalam celah-celah otakku. Aku benci ini, aku benci menjadi lemah seperti ini.

Dan tanpa aku sadari, aku berdiri dari tempatku duduk, dan berlari keluar dari ruanganan konser, aku mendengar yunho memanggil namaku beberapa kali tapi aku membiarkannya, yang aku mau adalah pergi dari tempat ini, tidak ingin mendengar gubahan itu lagi. Aku terus berlari hingga aku sampai di lobby gedung konser yang sepi, kakiku lemas, aku terjatuh dan bersandar pada tembok. Wajahku basah oleh air mata, aku terisak hebat, dadaku rasanya penuh sesak, aku terus mengeluarkan semua emosiku melalui air mata yang terus mengalir, aku merengkuh kedua lututku dan meletakan kepalaku diatas kedua lututku, tapi lantunan piano itu rasanya terus bergema ditelingaku.

-FlashBack- Yonna pov

10 menit lagi aku tampil, tapi jonghyun belum juga muncul. Aku mulai gelisah dibelakang layar. Sudah beberapa kali aku menghubungi ponselnya tapi hanya ada nada sambung tanpa ada yang menjawabnya, aku berjalan kesana-kemari.  Akhirnya aku memutuskan untuk sekali lagi menghubungi jonghyun, aku tidak bisa tampil tanpa jonghyun dibangku penonton, selain karena ia sudah berjanji akan menonton recital piano yang menentukan masa depanku ini, ia juga semangat dalam hidupku, cukup melihatnya saja aku bisa mendapatkan kepercayaan diriku.

Aku menggigit bibirku gelisah saat nada sambung terus terdengar

“yoboseo…” aku menghela nafas lega saat mendengar jonghyun menjawab telepon ku juga

“yoboseo.. jonghyunna kau dimana?? Sebentar lagi aku tampil”

“yonna… hmm… maaf, aku tidak bisa datang melihatmu tampil” kata jonghyun, sontak aku berhenti melangkah

“ap…apa yang terjadi? Apa kau skait atau ada urusan mendadak.. kenapa?”

“aku dibandara sekarang, sebantar lagi aku akan terbang menuju jepang” kata-katanya seperti petir bagiku, seingatku ia tidak pernah mengatakan memiliki rencana untuk ke jepang dalam waktu dekat ini

“apa…? Kau tidak pernah bilang padaku”

“mianhae, yoona… ini rencana mendadak. Dan satu lagi… joengmal mianhae, aku pergi ke Jepang untuk belajar music dan aku sungguh-sungguh minta maaf, mungkin ini akan menyakitkan persaanmu, tapi aku harus jujur….” Jonghyun tidak meneruskan kalimatnya, ia hanya menghembuskan nafas berat

“jonghyun, katakana apadku ada apa ini? Aku tidak mengerti…” tanyaku frustasi

“yonna, aku mengambil kesempatan beasiswa dari sekolah music international dijepang, aku mengambil beasiswa yang seharusnya menjadi milikmu. Maaf… aku sungguh minta maaf”

“Im Yonna? Dimana kau? Sebenatr lagu saatnya kau tampil” terdengar suara Han Mi noona salah satu panitia backstage, tapi aku tidak menghiraukannya

“kau jahat jonghyun!! kau jahat, aku membencimu” desisku, hatiku rasanya sakit saat tahu jonghyun yg selama ini aku cintai tega mengambil kesempatan yang seharusnya menjadi milikku, kesempatan yang sudah aku perjuangankan selama ini, kesempatan yang sebentar lagi akan aku raih tapi sekarang ia merebutnya begitu saja.

“disini kau rupanya, ayo sekarang giliranmu naik panggung” Han Mi noona mengambil ponselku lalu menyerahkan buku partiturku. Dengan terpaksa aku melangkah keatas panggung, hatiku sudah tidak ada disini, semangatku sudah mengabur hatiku rasanya sakit, tapi aku masih ingat untuk bersikap professional, seolah-olah tidak ada batu yang menhantam kepalaku, atau paku yang ditaburkan didalam hatiku. Aku tersenyum pada para penonton, memberi hormat sebelum memulia permainanku.

Aku meletakan jemariku diatas tuts piano, mulai memainkan seluruh isi partitur listz concerto no.2 Cyprien Katsaris. Tapi tiba-tiba rekaman suara jonghyun tadi berputar ulang diotakku, saat ia bilang ia merebut kesempatan beasiswa yang seharusnya untukku, lalu rekaman saat jonghyun memenamaniku setiap kali aku berlatih. Tiba-tiba air mataku mengalir tanpa bisa aku kendalikan, tapi aku terus memainkan piano. Sampai tiba-tiba mataku melihat sebuah kursi kosong dibarisan paling depan, kursi dimana seharusnya jonghyun duduk memberiku semangat. Tiba-tiab rasa benci dan kesal itu semakin memenuhi hatiku, airmataku semakin mengalir deras, tanganku gemetaran. Aku tidak sanggup melanjutkan permainan pianoku, akhirnya aku menghantikan permainan pianoku, beberapa penonton terlihat bingung, akupun berlari menuju backstage dengan mata sembab penuh air mata. Dan aku tidak pernah menyelesaikan liszt concerto no.2 cyprien katsaris.

Flasback End

***

Author POV

Jonghyun tengah berkonsentrasi memainkan pianonya diatas panggung, suasana sangat hening. Semua penonton terbius dengan permainan sempurna jonghyun. hingga tiba-tiba jonghyun melihat seorang penonton berlari terburu-buru meninggalkan ruangan konser, dan sedetik kemudian jonghyun sadar siapa penonton yang berlari keluar itu.

“yonna…” desisnya, tanpa pikir panjang jonghyun meninggalkan panggung, mengejar yoona yang sudah lebih dulu berlari. Jonghyun kehilangan jejak yoona, tapi ia yakin yoona maish ada ditempat itu. jonghyun terus berlari mencari yoona hingga ia menemukan yoona tengan duduk bersandar disisi tembok sambil membenamkan wajahnya diatas lututnya. Badannya bergetar hebat,jonghyun yakin gadis itu sedang menangis. Jonghyun berjalan mendekat, lalu berjongkok dihadapan yoona, tangannya meraih wajah yoona agar gadis itu menatapnya.

“Ya!!! Pergi kau!!! Aku tidak mau melihatmu!!!” yoona berteriak sambil mendorong tubuh jonghyun emnjauh, tapi tubuh onghyun tidak bergerak sedikitpun. tangan jonghyun malah merengkuh wajah yoona dengan kedia tangannya

“mianhae…” bisik jonghyun, jonghyun bisa merasakan air mata yoona yang membasahi tangannya. Gadis itu semakin terisak. Jonghyun menarik tubuh yoona kedalam pelukannya.

“kau jahaat!!! Aku jahaaat!!” suara yoona teredam tangisnya

“aku tahu aku jahat… kau bisa boleh membenciku, kau boleh memakiku yoona. Tapi aku akan tetap mencintaimu… maaf aku memang bodoh hingga kau terluka… mian… mian” jonghyun mengeluarkan semua penyesalannya. Dan yoona mulai berhenti terisak, rasa cintanya pada jonghyun ternyata bisa mengalahkan rasa bencinya.

****

“kau mau bawa aku kemana?” Tanya yoona menebak-nebak. Karena matanya tertutup kain gelap yang jonghyun pasangkan.

“sebentar lagi kita sampai, sabarlah…” kata jonghyun yang focus mengemudi.

“nah kita sudah sampai” kata jonghyun lalu turun dari mobilnya, dan membukakan pintu penumpang dan membantu yoona keluar dari mobil, lalu menuntunnya menuju sebuah ruangan dengan grand piano yang berada tepat ditengah ruangan dengan jendela besar disampingnya, membat angin musim semi terasa hangat. Jonghyun lalu membuka penutup mata yoona.

“aigoo… tempat apa ini?? Indah sekali” kata yoona melihat ke sekililing ruangan, lalu jonghyun berjalan dan duduk dikursi piano, sedikit bergeser untuk memberi tempat untuk yoona duduk

“kemarilah, kita main piano bersama” ajak jonghyun. yoona terlihat ragu-ragu

“ayolah… sudah lama sekali kita tidak bermain piano bersama” kata jonghyun smabil tersenyum. Lalu yoona pun mendekat dan duduk disamping jonghyun.

“kita mainkan listz concerto no.2 Cyprien Katsaris” ajak jonghyun, ia meletakan jemarinya diatas tuts piano, tapi yoona menatapnya ragu

“wae?” Tanya jonghyun

“aku tidak pernah bisa menyelesaikan gubahan itu. kau tahu, semua karena kau… aku selalu takut memainkan gubahan itu” kata yoona, lalu jonghyun mengenggam tangan yoona, dan meletakannya diatas tuts.

“aku juga tidak pernah selesai memainkan gubahan itu, kau ingat saat konser seminggu yang lalu, saat aku sedang memainkan gubahan itu? kau berlati meninggalkan ruangan konser dan aku langsung mengejarmu. Aku juga tidak menyelesaikan gubahan itu, jadi sekarang kita selesaikan gubahan itu bersama” ajak jonghyun.

“tapi…” belum sempat yoona menyelesaikan kalimat, jemari jonghyun sudah mulai memainkan gubahan itu menciptakan nada-nada indah yang disempurnakan oleh suasana tenang disekitar mereka. Tanpa sadar yoona mulai ikut memainkan gubahan itu, mereka berdua akhirnya bermain piano bersama dan terhanyut dalam setiap nada yang tercipta. Hingga akhirnya gubahan itu selesai mereka mainkan.

Jonghyun dan yonna saling bertatapan, senyum mengembang di wajah mereka

“kita menyelesaikannya bersama” kata jonghyun, yoona mengangguk senang. Dan tanpa mereka sadari wajah mereka sudah sangat dekat. Dan bibir mereka saling bertaut, memainkan melody yang hanya mereka berdua yang tahu.  dan nada-nada yang tidak pernah terselaikan itu, sekarang mereka selesaikan dengan sempurna.

13 thoughts on “[OneShot] Unfinished Melody

  1. akhirnyaaaaaaa nemu ff jonghyun yoona lgi..
    beneran deh suka banget ama ni couple..
    ffnya kereeen beneran deh,, feelnya dapett.. sukkaaa~
    bikin ff jonghyun ama yoona lgi y thor,, please!!

  2. kyaaa aku ampir teriak girang liat jongyoon couple lg. ini benerbener sweet,dan permasalahannya juga beda dari biasanya,tentang musik! kereeen. typonya aja mungkin ya,masih banyak. tapi suer ini kereeen!

  3. Kyaaaaa jonghyun sweet bangeeet! Rela ninggalin konsernya demi ngejar yoona >///<
    Feelnya yoona waktu ditinggal jonghyun dapet, feelnya jonghyun waktu minta maaf sama yoona juga dapet! Aaaaa bagus banget! ^^
    Mungkin yg perlu diperbaiki cuma penulisan huruf kapitarnya aja🙂
    But overall, ceritanya kereeeen sangat ^^

  4. sebenarnya q phyro tp pas liat yoona dipasangin ma jonghyun cn blue…gak tau q suka banget,…tp tetep yoonhae no 1,hehhhhe..mianhe…..tp q suka kokk sama jungyoon couple…lanjut ya..bt ffy

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s