I Found You [Chapter 2]

Title: I Found You [Chapter 2]

Author: ree

Rating: PG-15

Genre: AU (alternative universe), romance, thriller

Length: Short story

Main Cast:

-Jung Yonghwa CN Blue

-Shin Hye Ri (OCs)

-Song Joong Ki

Other Cast:

-Song Eun Kyung (OCs)

-Kang Minhyuk CN Blue

Disclaimer: This story is just my imagination. The characters belong to God, but the story is mine

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Seoul, South Korea

3.30 PM

“Yonghwa-ssi, kau hebat sekali! Fisura-mu sembuh hanya dalam waktu 2 minggu! Padahal orang-orang biasanya baru bisa sembuh setelah lebih dari 3 minggu.” Hye Ri memperhatikan bagian tulang kering kaki kiri Yonghwa. Saat itu mereka berada di rumah sakit Seoul untuk membuka gips yang membalut kaki kiri laki-laki itu.

“Mungkin karena tulangku cukup lentur dan masih memiliki cukup banyak zat kitin dan kalsium yang membantu mempercepat proses penyembuhan.” Yonghwa ikut memperhatikan kakinya.

“Aish, apa itu? Aku tidak mengerti istilah kedokteran!”

“Itu kan hanya istilah umum. Bukankah tadi dokter sudah menjelaskannya? Apa kau tidak mendengarkan?”

“Tentu saja aku mendengarnya! Tapi tetap saja aku tidak mengerti.” Hye Ri mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya didepan dada. Kenapa dokter itu harus menjelaskan panjang lebar soal keadaan tulang yang retak? Padahal dia hanya tinggal membuka gips-nya saja dan semuanya beres.

Yonghwa menolehkan kepalanya ke samping, memandangi gadis itu. Kenapa gadis itu harus merasa jengkel seperti itu padahal yang menjalani perawatan adalah dirinya? Entah sejak kapan ia punya kebiasaan memandangi wajah gadis itu dalam setiap ekspresinya seolah sedang menonton setiap adegan film. Bahkan terkadang ia sendiripun tidak sadar apa yang sedang dilakukannya.

Ketika gadis itu menolehkan kepalanya ke arah Yonghwa, cepat-cepat laki-laki itu memalingkan wajahnya ke arah lain dengan wajah tanpa dosa.

“Ya~ Yonghwa-ssi, bagaimana kalau aku mentraktirmu makan untuk merayakan kesembuhan kakimu? Mumpung kita sedang di luar.” sahut Hye Ri antusias.

“Bukankah kau sudah makan siang?”

“Memang. Tapi aku yakin kau belum.” Hye Ri menarik tangan kiri Yonghwa, “Kaja!”

***

“Shireo!”

“Memangnya kenapa?”

“Kenapa kau masih tanya juga?! Kau mau mempermalukanku didepan umum dengan menyuapiku seperti itu?! Seperti pasangan bodoh saja!” Yonghwa berusaha menahan volume suaranya. Gadis dihadapannya ini benar-benar sudah gila! Dengan wajah tanpa dosa dia menawarkan diri untuk menyuapinya di tempat umum seperti ini.

“Tapi makanannya sudah terlanjur dipesan. Lalu bagaimana kau memakannya kalau aku tidak membantumu?”

Yonghwa menatap piring berisi waffle dengan whip cream dan strawberry dihadapannya, kemudian mendengus. Diam-diam ia menyesali dirinya yang masih juga belum terbiasa makan dengan menggunakan tangan kiri. Di rumah ia sudah berusaha keras melawan gengsinya dan dengan sangat terpaksa menerima tawaran Hye Ri untuk menyuapinya. Tapi kalau di tempat umum seperti ini, membayangkan hal seperti itu saja sudah membuatnya mual. Harusnya ia pikir-pikir dulu tadi untuk menerima ajakan gadis itu.

Tiba-tiba terdengar suara pintu berdenting. Masuklah seseorang kedalam café itu. Laki-laki itu, Song Joong Ki, bergegas menuju meja kasir untuk mengambil pesanannya. Ia tidak menyadari keberadaan Hye Ri dan Yonghwa yang duduk di meja di salah satu sudut café itu, begitu pula sebaliknya.

Setelah menerima pesanannya; 2 cappuccino dan beberapa buah cupcakes kesukaan Hye Ri, Joong Ki berterima kasih kepada petugas kasir. Betapa terkejutnya ketika berbalik, ia mendapati Hye Ri sedang duduk bersama laki-laki lain yang tidak dikenalnya sama sekali. Mereka tampak mengobrol akrab, namun karena jaraknya yang cukup jauh Joong Ki tidak bisa mendengar percakapan mereka.

Joong Ki menyipitkan matanya, meyakinkan dirinya bahwa penglihatannya tidak salah. Ia benar-benar yakin bahwa gadis itu adalah Hye Ri, kekasihnya, yang sekarang tampak bahagia berbincang-bincang dengan laki-laki itu.

Karena rasa penasaran yang besar, Joong Ki lalu memutuskan untuk duduk di kursi kosong tidak jauh dari tempat duduk kedua orang itu dan memperhatikan mereka dari kejauhan. Beberapa pertanyaan muncul di benaknya, seperti; siapa orang itu? Bagaimana Hye Ri bisa mengenalnya? Kenapa gadis itu tidak pernah mengenalkan laki-laki itu padanya? Dan kenapa ia bisa tampak sebahagia itu saat bersamanya?

“Sini! Berikan padaku!” Hye Ri menarik piring dihadapan Yonghwa ke arahnya dan merebut sendok dari tangan laki-laki itu. Ia gemas melihat Yonghwa belum juga berhasil memasukkan sedikitpun waffle kedalam mulutnya. Yang ada malah potongan waffle itu jatuh dari sendok, meninggalkan sedikit noda whip cream di sweater hitam laki-laki itu.

“Nah, sekarang ayo buka mulutmu.” Hye Ri menyodorkan sepotong kecil waffle ke arah mulut Yonghwa. Tentu saja awalnya Yonghwa merasa gengsi, ia melirik ke kiri dan kanan dengan gelisah, namun akhirnya menerimanya juga. Habis, mau bagaimana lagi? Lagipula dia memang merasa lapar.

Mata Joong Ki membulat ketika melihat pemandangan didepannya, “Apa-apaan ini?! kenapa sekarang mereka bertingkah seperti sepasang kekasih?!”

Walaupun merasakan dadanya sedikit sesak, Joong Ki memutuskan untuk tetap duduk di kursinya dan mengamatinya lebih jauh. Sesekali ia mendengus pelan dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jujur, ia tidak memiliki tingkat kesabaran setinggi itu untuk menganggap kalau apa yang dilakukan Hye Ri dan laki-laki itu hanya sekedar rasa pertemanan saja. Ia kaget, pasti. Ia marah, tentu saja. Namun ia masih memiliki akal sehat untuk menyadari kalau sekarang ia berada di tempat umum dan memergoki mereka berdua dengan segala emosinya hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

Tampaknya, cukup lama Joong Ki terlarut dalam pikirannya sehingga saat ia menoleh, kedua orang itu baru saja bangkit dari tempat duduk mereka dan hendak menuju pintu keluar. Joong Ki meraih makanan dan kopi yang dipesannya di atas meja dan segera bergegas keluar tidak lama setelah kedua orang itu keluar.

Tidak sulit bagi Joong Ki untuk mengetahui kalau kedua orang itu akan menaiki bus. Dengan sembunyi-sembunyi ia ikut menaiki bus yang ditumpangi Hye Ri dan laki-laki itu, berusaha berbaur dengan orang lain agar tidak ada yang curiga sambil mengamati mereka dari kejauhan.

“Bukankah ini bus menuju apartemen Hye Ri? Kenapa mereka malah pulang ke rumah?” tanya Joong Ki dalam hati. Ia memperhatikan kedua orang itu dengan gelisah. Apa selama ini dia tidak tahu kalau Hye Ri…… Ah, untuk mengatakan kata-kata itu saja rasanya ia sudah sulit membayangkannya. Joong Ki sama sekali tidak ingin percaya pada pemikirannya itu, namun saat ini otaknya dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif. Dan ia benci dirinya yang seperti itu.

“Hye Ri tidak mungkin seperti itu.” batinnya. Dan yang harus dilakukannya sekarang adalah meminta penjelasan secepatnya.

***

“Haaaaah…!!” Yonghwa merebahkan dirinya di sofa diikuti Hye Ri. Ia tidak menyangka berjalan kaki dari halte bus menuju rumah Hye Ri akan sebegitu melelahkan. Walaupun masih terasa sedikit kebas, ia bersyukur karena kakinya sudah pulih kembali.

“Ah, kau ini payah! Masa’ jalan kaki segitu saja sudah capek!” sahut Hye Ri setengah bercanda.

“Ini semua gara-gara kakiku!” Yonghwa sedikit sewot. Ia tidak mau dianggap laki-laki lemah oleh perempuan, apalagi Hye Ri.

“Aku kan hanya bercanda, Yonghwa-ssi. Jangan marah begitu.” kata Hye Ri cengar-cengir, “Sudah, aku mau mengangkat pakaian yang dijemur dulu.”

Gadis itupun bangkit dari tempat duduknya dan segera bergegas menuju balkon yang terletak dibelakang apartemen itu. Tak lama kemudian, Yonghwa pun mengikutinya dari belakang.

“Ternyata masih ada orang yang menjemur pakaiannya di balkon di apartemen mewah begini. Kenapa kau tidak bawa ke laundry saja?” komentar Yonghwa.

“Tidak mungkin kan aku membawa selimut tebal ini ke laundry? Itu merepotkan. Lagipula aku masih bisa mengerjakannya sendiri. Bisa menghemat uang juga. Aku hanya membawa pakaian ke laundry saat keadaan terdesak.” jelas Hye Ri.

“Kurasa kau berasal dari keluarga berkecukupan. Keadaan ekonomi keluargamu tidak sulit.”

Hye Ri mengangguk-angguk, “Memang. Ayahku seorang pengusaha yang cukup berhasil. Tapi bagaimanapun juga aku tinggal sendirian di Korea ini. Ayah hanya mengirimkan uang sebulan sekali. Walaupun sudah bekerja, tapi aku tetap harus menggunakannya sebaik mungkin.”

Yonghwa tidak menjawab. Ia memperhatikan Hye Ri yang masih sibuk mengangkat selimut-selimut tebal berwarna putih dari tali tambang kecil yang diikatkannya sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menjemur pakaian.

“Sini, biar kubantu.” Yonghwa menghampiri gadis itu.

“Tapi tanganmu…”

Yonghwa tidak mempedulikan perkataan Hye Ri dan menyambar selimut yang baru saja hendak diangkat Hye Ri. Tiba-tiba saja muncul ide jahil di otak Hye Ri. Ia melemparkan selimut yang dipegangnya ke wajah Yonghwa sehingga menutupi penglihatan laki-laki itu.

“Ya~! Kau…” Yonghwa yang tidak terima dikerjai Hye Ri balik melempari wajah gadis itu dengan selimut yang dipegangnya. Akhirnya terjadilah aksi saling melempar jemuran di antara mereka yang diiringi dengan gelak tawa.

“Hye Ri?” tiba-tiba terdengar suara orang lain. Walaupun suara itu cukup lirih, tapi masih mampu terdengar oleh kedua orang itu.

Hye Ri menoleh, “O…oppa?”

Tiba-tiba saja dihadapannya berdiri Joong Ki, yang sekarang menatapnya dengan tajam. Tadinya Joong Ki tidak yakin dugaannya tepat, namun setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, barulah ia yakin. Pasti ada sesuatu diantara kedua orang itu. Dan sialnya, ia tidak tahu-menahu apa itu.

Hye Ri merasa tegang karena Joong Ki tidak pernah menatapnya sedingin itu. Merasa mengerti maksud laki-laki itu, Hye Ri lalu melirik ke arah Yonghwa, “Ah, di…dia…”

Joong Ki tersenyum sinis, “Jadi, inikah sikapmu yang sebenarnya? Inikah yang kau lakukan selama ini dibelakangku?”

“Ti…tidak, oppa. Kau salah paham.”

Karena diselimuti perasaan kesal, Joong Ki melemparkan kotak berisi cupcakes dan gelas kopi yang dibawanya ke lantai, dan segera membalikkan badannya menuju pintu keluar. Rasanya ia tidak perlu lagi mendengarkan penjelasan dari mulut gadis itu.

“Oppa, tunggu!” Hye Ri segera menjatuhkan selimut yang dipegangnya ke lantai dan berlari mengejar Joong Ki. Meninggalkan Yonghwa yang masih berdiri terpaku di tempatnya.

“Oppa, dengarkan aku dulu!”

Hye Ri terus mengejar Joong Ki keluar apartemen. Ketika langkahnya sudah bisa menyamai langkah Joong Ki, ia menarik tangan laki-laki itu agar bisa menghentikan langkahnya, namun laki-laki itu menepisnya. Hye Ri tidak menyerah. Ia terus berusaha menjelaskan semuanya pada Joong Ki, sampai laki-laki itu berhenti di halte.

“Oppa, dengarkan penjelasanku dulu. Kami hanya berteman…”

“Maksudmu, teman yang tinggal bersama, huh?” potong Joong Ki sinis.

“Bukan begitu. Waktu itu tanpa sengaja aku melihatnya sekarat di tengah jalan. Aku harus menolongnya dan…”

“Aku tidak menyangka kau akan semudah itu membiarkan orang asing masuk kedalam rumahmu.”

Baru saja Hye Ri membuka mulut, tiba-tiba sebuah bus berhenti didepan halte itu. Setelah pintu terbuka, Joong Ki segera bergegas masuk kedalamnya tanpa mempedulikan Hye Ri yang berusaha menahan kepergiannya.

Melihat sikap Joong Ki yang seperti ini, hati Hye Ri terasa seperti teriris-iris. Jika ia lebih cepat memberitahukan tentang Yonghwa yang tinggal serumah dengannya pada Joong Ki, kesalahpahaman seperti ini tidak mungkin terjadi. Selama mengenal Joong Ki, ia tidak pernah melihat laki-laki itu marah besar seperti ini. Dan itu membuatnya sangat, sangat takut.

Hye Ri tidak dapat lagi membendung air matanya. Satu per satu butir air mata menetes membasahi pipinya. Ia memandang bus yang ditumpangi Joong Ki dari kejauhan sampai bus itu menghilang dari pandangan.

***

“Susah sekali menghubungimu.” terdengar suara berat di seberang telepon. Dari cara bicaranya, Yonghwa langsung mengetahui siapa lawan bicaranya itu.

“Maaf, anak buahmu mengambil semua barang-barangku. Kau ingat?” jawab Yonghwa tenang.

Pria di seberang telepon itu terkekeh, “Tentu saja. Itu salah satu rencana agar terlihat natural kan?”

Yonghwa hanya tersenyum sinis.

“Untung saja kau mengecek e-mail tepat pada waktunya. Bagaimana keadaanmu?”

“Brengsek! Kaki kiriku sempat retak dan tangan kananku patah. Sekarang masih dalam proses pemulihan.” Yonghwa memperhatikan tangan kanannya yang masih dibalut perban.

“Hanya cedera segitu saja seharusnya tidak masalah bagimu. Pengorbanan itu dibutuhkan untuk mencapai tujuan kan?”

“Cih! Tugas semudah ini seharusnya tidak harus sampai seperti ini. Kau tahu betapa berharganya tangan kananku, hah!?”

“Dimana saja kau selama sebulan ini?”

Yonghwa tersenyum sinis, “Kau tidak akan menyangka kalau aku mengatakannya.”

“Jadi kau ada di rumah gadis itu?” kali ini pria itu tertawa puas, “Aku sudah menduga kau pasti bisa melakukannya dengan mudah. Dia benar-benar gadis yang bodoh! Tak kusangka aktingmu bagus juga. Harusnya kau bisa main film di Hollywood.”

“Jangan berlebihan, Jang Woo.” Yonghwa menoleh ke kiri dan kanan dari balik kaca kotak telepon itu, memastikan tidak ada orang yang mendengarkan percakapannya, “Kenapa kita harus melakukan rencana merepotkan begini? Tinggal bawa gadis itu kehadapan bos saja dan semuanya beres kan?”

“Aku tidak tahu. Ini perintahnya. Tapi, untuk memancing ikan yang besar diperlukan umpan yang bagus kan?”

“Apa dia akan membunuh gadis itu?”

“Entahlah. Aku tidak pernah tahu apa rencananya. Tapi yang kutahu, kau yang membunuhnya, Yonghwa. Bukan dia.”

Yonghwa terdiam. Selama ini ia sudah biasa melihat orang terbunuh, tapi membayangkan Hye Ri mati di tangannya, didepan matanya, entah kenapa rasanya hal itu sangat mengerikan.

Sebenarnya Yonghwa adalah seorang anggota geng mafia yang keberadaannya cukup ditakuti di Amerika. Tentu saja tidak ada orang yang tahu tentang hal ini kecuali anggota geng itu sendiri. Dan kali ini ia ditugaskan untuk mendekati Shin Hye Ri, anak sulung dari seorang pengusaha bernama Shin Dong Hyuk, yang menjadi buronan geng karena dituduh berkhianat. Pria itu sempat mengancam akan membeberkan semua kejahatan geng dan menjebloskan seluruh anggota geng ke penjara. Tentu saja ketua tidak tinggal diam. Ia menyusun strategi untuk secepatnya menangkap Shin Dong Hyuk dan membunuhnya─setidaknya itu rencana awalnya karena di luar dugaan, pria itu lebih licin dan sulit ditemukan. Akhirnya rencana pun diubah. Ketua geng memerintahkan para anak buahnya untuk menemukan kedua anak Shin Dong Hyuk dan membunuhnya didepan pria itu, untuk membuatnya menderita. Dan beberapa hari yang lalu, Shin Hye Sa, yang tidak lain adalah adik dari Shin Hye Ri, tanpa sengaja ditemukan dan kemudian dibunuh di kediamannya di Detroit.

Sekarang tinggal giliran Hye Ri. Ketua geng memerintahkan agar gadis itu segera ditemukan dan dibunuh jika waktunya sudah ditentukan. Dan yang harus melakukan tugas itu adalah Yonghwa. Ia dipilih karena kemampuannya yang sangat bisa diandalkan di usianya yang masih terbilang cukup muda untuk menjadi seorang anggota geng mafia. Kebetulan ia seumur dengan Hye Ri sehingga dapat dengan mudah melakukan pendekatan pada gadis itu.

“Yonghwa? Kau masih disitu?” suara Jang Woo, salah satu atasannya, membuyarkan lamunannya.

“Ya. Ada apa?”

“Kau tahu, sudah lebih dari sebulan kau berdiam diri di rumah itu dan tidak melakukan apa-apa. Bos selalu saja menanyakan hasil kerjamu.”

“Bilang saja padanya tidak perlu khawatir. Aku pasti akan segera melakukannya. Sebelum itu aku harus memulihkan tanganku dulu.”

“Baiklah kalau begitu. Kutunggu kerja bagusmu.”

***

Hye Ri menghentikan langkahnya ketika melihat Yonghwa sedang bersandar didepan pintu apartemennya. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana, dan sesekali ia memain-mainkan sebelah kakinya.

“Kau sedang apa?” tanya Hye Ri.

Yonghwa menoleh, “Menunggumu.”

“Kau kan bisa menunggu didalam.”

“Aku lupa nomor kuncinya.” Yonghwa menatap Hye Ri. Masih tampak gurat kesedihan di wajahnya yang lesu. Matanya bengkak akibat menangis semalaman. Sejak tadi pagi, gadis itu juga jadi sering melamun. Melihat itu saja, Yonghwa sudah tahu kalau masalah gadis itu dengan pacarnya masih belum menemukan titik terang.

Yonghwa menghela napas, “Kau kelihatan lelah. Bagaimana kalau malam ini kita makan di luar?”

“Tapi…”

“Kaja!” tanpa menunggu kata-kata dari Hye Ri, Yonghwa langsung menggandeng tangan gadis itu keluar apartemen.

***

Hye Ri memandang piring didepannya dengan tatapan kosong. Padahal daging di atas panggangan sudah hampir matang, tapi tampaknya ia tidak berniat sedikitpun untuk bergerak dari posisinya dan tidak terlihat nafsu makan juga. Yonghwa sampai harus membalik semua daging dalam panggangan itu sebelum gosong di salah satu sisinya.

“Ini. Makanlah. Kau harus makan.” Yonghwa menaruh beberapa potong daging di atas piring Hye Ri dan menyelipkan sumpit diantara jari-jari gadis itu karena dia tidak juga merespon.

Seolah baru tersadar dari lamunannya , Hye Ri menghentakkan sumpit itu ke atas meja dengan kasar, dan dengan cepat menyambar botol soju dihadapan Yonghwa, menuangnya kedalam gelas kecil, kemudian meneguknya. Ia sedikit meringis ketika merasakan cairan alkohol itu mengalir melewati kerongkongannya. Rasanya seperti terbakar, namun ia tidak peduli dan malah kembali menuangnya kedalam gelas.

“Hentikan, Hye Ri. Kau tidak boleh meminumnya.” cegah Yonghwa ketika gadis itu hendak menuangkan soju untuk yang ketiga kalinya.

“Memangnya hanya laki-laki saja yang boleh minum?!” kata Hye Ri sewot, lalu kembali meneguk soju. Ia yang tidak pernah minum minuman beralkohol itu sepertinya sudah mulai berada dalam pengaruh minuman keras itu.

Sekeras apapun usaha Yonghwa untuk menghentikan Hye Ri, gadis itu tetap saja meminumnya lagi dan lagi, sampai akhirnya ia ambruk ke atas meja karena sudah tidak kuat lagi.

“Hye Ri-ya~, gwaenchanha?” tanya Yonghwa sedikit panik. Ia memang ditugaskan untuk membunuh Hye Ri, tapi bukan berarti ia pembunuh berdarah dingin yang tidak peduli pada calon korbannya. Setidaknya ia harus bersikap wajar didepan gadis ini agar tidak dicurigai.

Hye Ri kembali mengangkat wajahnya, kemudian tertunduk lemas. Matanya tampak sayu dan pandangannya menerawang.

“Kenapa dia tidak mau mendengarkanku? Apa aku salah menolong orang lain?!” Hye Ri menumpahkan isi hatinya, emosinya mulai memuncak, “Aku menolongmu karena tidak bisa begitu saja membiarkanmu sekarat di tengah jalan! Apa itu salah?! Katakan padaku, apa itu salah??!!”

Yonghwa menatap Hye Ri, kemudian memalingkan wajahnya. Jujur, ia sedikit kasihan melihat Hye Ri yang frustasi seperti hanya karena seorang laki-laki bernama Song Joong Ki itu, tapi di sisi lain ia merasa sikap Hye Ri itu sangat menguntungkan pekerjaannya.

Hye Ri kembali menundukkan wajahnya, dan tak lama kemudian ia pun terisak-isak.

“Haruskah dia bersikap seperti ini? Sudah puluhan kali aku menghubunginya dan ia tidak meresponnya sekalipun!” kata Hye Ri lirih. Semakin lama, tangisannya pun semakin keras. Yonghwa memutar badan Hye Ri ke arahnya dan menghapus air mata yang membasahi pipi gadis itu, namun yang ada tangisannya malah semakin menjadi-jadi.

“Hye Ri, sudahlah, jangan menangis.” ujar Yonghwa setengah berbisik. Jujur ia tidak tahu apa yang harus dilakukan jika melihat seorang gadis menangis didepannya seperti ini. Ia melirik ke arah para pelanggan lain di warung itu yang sekarang sedang menatapnya sinis sambil berbisik-bisik. Mereka semua pasti mengira Yonghwa adalah laki-laki brengsek yang membuat seorang gadis menangis di tempat umum.

Ketika melihat Hye Ri hendak menuangkan soju lagi kedalam gelasnya, cepat-cepat Yonghwa merebut botol soju beserta gelasnya itu dari tangan Hye Ri dan meletakkannya di atas meja dengan kasar.

“Kita harus pulang.”

***

Yonghwa sedang melamun sambil memandangi jalanan kota Seoul di malam hari dari balik kaca jendela bus. Meskipun fasih berbahasa Korea, ini baru kedua kalinya ia menginjak negara ini. Yang pertama adalah tiga bulan yang lalu, saat bosnya baru saja menyuruhnya untuk mengenal sedikit tentang negara yang menjadi tanah kelahiran buronannya itu, Shin Dong Hyuk.

Tiba-tiba saja Yonghwa merasakan sesuatu yang bergetar. Dengan refleks ia menoleh ke arah Hye Ri yang sedang tertidur disampingnya. Pasti ponsel gadis itu yang bergetar, karena tidak mungkin ponselnya yang bergetar karena memang ia tidak punya─sengaja dirampas oleh anak buah Jang Woo waktu itu.

Karena tidak tega membangunkan Hye Ri, akhirnya Yonghwa memutuskan untuk diam-diam mengambil ponsel gadis itu dari dalam tasnya. Sekedar untuk mengetahui siapa yang menelepon.

Yonghwa melihat display ponsel gadis itu, dan mendecak pelan begitu melihat nama yang tertera disana.

Joong Ki oppa

Yonghwa terdiam. Jika Joong Ki menelepon Hye Ri, berarti itu tandanya dia sudah memaafkan gadis itu. Sayang, waktunya tidak tepat karena gadis itu sedang mabuk. Dan ia tidak mungkin mengangkatnya karena pasti akan menimbulkan masalah baru nantinya.

Yonghwa terus menatap display ponsel itu datar. Menunggu sampai panggilan itu berhenti, namun tak lama kemudian bergetar lagi. Rupanya Joong Ki masih belum menyerah untuk menghubungi Hye Ri.

“Pip!” tanpa ragu Yonghwa pun menekan tombol reject. Setelah menghapus daftar received calls, ia mengembalikan ponsel gadis itu ke tempatnya semula.

***

Keesokan harinya…

Hye Ri memandang jam tangannya dengan gelisah. Kalau dihitung-hitung, sudah hampir satu jam dia berdiri didepan restoran ini, restoran milik keluarga Joong Ki. Ia harus mengubur rasa gengsinya dalam-dalam saat para tamu yang keluar-masuk dan orang-orang yang melintas di sekitar situ memandangnya heran. Ya, tidak perlu merasa gengsi demi mendapatkan maaf dari seorang Song Joong Ki.

Setiap kali terdengar suara lonceng pintu berdenting, Hye Ri mendongakkan kepalanya, berharap yang membuka pintu adalah Joong Ki. Namun entah sudah berapa puluh kali pintu itu terbuka, laki-laki itu tidak juga menampakkan batang hidungnya. Hye Ri sendiri tidak berani masuk kedalam karena ia tahu, ayah Joong Ki tidak begitu suka padanya dan sekarang beliau ada didalam. Ia juga tidak berani menelepon ataupun mengirimkan pesan karena takut Joong Ki akan menghindarinya.

Hye Ri menghela napas berat. Kepalanya tertunduk. Seharusnya Joong Ki sudah keluar untuk istirahat makan siang saat ini, tapi dia belum juga muncul. Apa laki-laki itu sudah melihat kehadiran dirinya dan memutuskan untuk menghindar?

“Apa Joong Ki oppa benar-benar membenciku?” batin Hye Ri. Membayangkan hal itu saja sudah membuat dadanya sesak dan matanya memanas.

Tiba-tiba terdengar suara dentingan lonceng. Hye Ri segera mendongakkan kepalanya. Wajahnya yang sedikit cerah dan penuh harapan tiba-tiba berubah tegang begitu mengetahui siapa yang membuka pintu. Ayah Joong Ki, yang sekarang sedang menatapnya tajam dan dengan perlahan berjalan menghampirinya.

“A…annyeonghaseyo, abeonim.” Hye Ri membungkuk hormat begitu ayah Joong Ki sudah sampai dihadapannya.

Ayah Joong Ki memandang Hye Ri sinis, “Tidak perlu pura-pura hormat didepanku.”

Hye Ri tercekat mendengar perkataan ayah Joong Ki. Ia tidak sedang pura-pura, tapi kenapa ayah Joong Ki selalu beranggapan demikian? Apapun yang ia lakukan selalu saja salah di mata pria itu.

Hye Ri sedikit menunduk dan menelan ludah. Ia berusaha untuk tetap tegar. Ini bukan pertama kalinya ayah Joong Ki bersikap seperti ini padanya. Jadi, ia masih bisa menguatkan dirinya.

“Apa yang kau lakukan disini?” suara berat ayah Joong Ki kembali terdengar.

Hye Ri kembali menoleh, namun tidak langsung menjawab. Pandangannya berubah sendu. Ia tidak tahu harus menjawab dengan jujur atau tidak.

“Bukankah aku sudah pernah bilang padamu untuk secepatnya mengakhiri hubunganmu dengan anakku? Jangan pernah tampakkan lagi wajahmu didepannya.” ayah Joong Ki menatap Hye Ri dingin, “Kau ini gadis yang tidak pantas untuknya.”

“DEG!!!” bagaikan tersambar petir, Hye Ri sangat terkejut mendengar kata-kata ayah Joong Ki yang baginya sudah cukup keterlaluan. Ia menahan napas selama beberapa saat, dadanya terasa sesak, sangat sesak. Namun ia tidak punya cukup keberanian untuk melawan ayah Joong Ki, yang selama ini sudah dianggapnya seperti ayah sendiri. Apa sebegitu buruknya dirinya di mata pria itu? Sebenarnya apa yang sudah dilakukannya sehingga ayah Joong Ki sampai membencinya seperti ini?

Hye Ri menelan ludah dengan susah payah. Matanya tampak berkaca-kaca.

“Joisonghamnida, abeonim…” ujar Hye Ri tertahan. Ia sudah mengumpulkan segenap keberaniannya untuk berkata seperti ini, “Aku… tidak bisa… meninggalkan Joong Ki oppa…” perlahan sebutir air mata menetes di pipinya.

“Apa?!” nada suara ayah Joong Ki meninggi, “Jadi kau mau melawan perintahku?! Dasar anak kurang ajar!!” ia melayangkan tangan kanannya ke arah Hye Ri, hendak menampar pipi gadis itu.

Hye Ri menutup kedua matanya. Ia sudah siap menerima resiko dari perkataannya barusan. Namun setelah beberapa saat, ia tidak merasakan apapun. Dengan takut-takut, Hye Ri membuka sebelah matanya. Ia sedikit terkejut melihat Joong Ki sudah berdiri disamping ayahnya, menahan tangan pria itu dengan tangannya sebelum mendarat di pipi Hye Ri.

“Sebenarnya ayah macam apa kau ini? Berani menampar orang lain di tempat umum.” kata Joong Ki dingin. Ia masih belum melepaskan cengkeraman tangannya di tangan ayahnya, “Kau seorang chef kan? Seharusnya kau pergunakan tangan kananmu dengan baik, bukan mengotorinya dengan perbuatan rendah seperti ini.”

Ayah Joong Ki melepaskan tangannya dengan kasar, “Kau… sudah berani berkata kurang ajar padaku?!” ia mendelik sinis ke arah Hye Ri, “Ini semua pasti karena kau sudah terlalu lama berhubungan dengan gadis itu!”

“Hentikan omong kosongmu, ayah. Itu memalukan.” kata Joong Ki tegas. Ia lalu segera menghampiri Hye Ri dan menggandeng tangan gadis itu agar segera menjauh dari sana.

Baru satu langkah, Joong Ki kembali menoleh ke arah ayahnya, menatapnya tajam, “Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Hye Ri, sekalipun kau ayahku.”

Pria paruh baya itu memandang punggung Joong Ki dan Hye Ri yang mulai berjalan menjauh. Tatapannya datar dan sulit diartikan.

“Kau pasti akan menyesal.”

***

“Ini.” Joong Ki menyodorkan segelas kopi hangat pada Hye Ri, kemudian duduk disebelah gadis itu. Memandangi sungai Han yang sekarang berada tepat didepan mata mereka ditemani semilir angin musim gugur yang sesekali berhembus.

Hye Ri menatap Joong Ki yang sedang asyik memandangi sungai Han sambil menyesap kopinya, “Oppa… kau… sudah tidak marah padaku?”

“Aku masih marah.” jawab Joong Ki, “Tapi melihat kondisimu yang kacau seperti ini, aku jadi tidak tega.”

“Mianhae, ini semua salahku.”

“Kalau aku memaafkanmu, apa kau akan meminta laki-laki itu untuk segera keluar dari rumahmu?”

Hye Ri tersentak. Mana mungkin ia mengusir Yonghwa begitu saja dari rumahnya? Kedengarannya sangat tidak etis.

Joong Ki memiringkan kepalanya, berusaha menatap Hye Ri, “Tidak mungkin kan? Aku tahu kau tidak akan bisa melakukannya.”

“A…aku…”

“Kau terlalu baik hati, Hye Ri-ah. Dan yang bisa kulakukan adalah menerima kenyataan bahwa kau menolong orang itu dengan rasa kemanusiaan karena kau tidak tega melihat orang lain menderita.”

“Dia sekarat, oppa. Dia baru pertama kali datang ke Korea dan tidak punya siapa-siapa disini. Semua barang bawaannya dirampas oleh sekelompok berandalan.” Hye Ri mencoba menjelaskan, “Kaki kirinya retak, tangan kanannya patah, luka dalam di bagian perutnya dan sedikit gegar otak. Menurutmu apa yang harus kulakukan kalau sudah begitu? Menelantarkannya di rumah sakit?”

“Bayar saja biaya rumah sakitnya dan belikan dia tiket untuk pulang. Aku yang akan menggantikan uangnya.”

“Dengan kondisi seperti itu? Kau tahu, dia hampir saja jadi gelandangan karena memaksa keluar dari rumah sakit sesaat setelah siuman!”

Joong Ki tertegun. Ia tidak menyangka sebelumnya kalau cerita sebenarnya seperti itu. Diam-diam, ia menyesal karena sudah bersikap kasar pada Hye Ri dan tidak memberikannya kesempatan untuk menjelaskan.

Joong Ki menghela napas berat, “Maafkan aku, karena cemburu, aku jadi gelap mata. Aku merasa sangat marah waktu itu hingga tidak memberikanmu kesempatan untuk menjelaskan.”

“Tidak apa-apa. Kau berhak melakukan itu.”

“Sudah berapa lama dia tinggal di apartemenmu?”

Hye Ri terdiam sejenak, “Hampir satu bulan.”

“Dan selama itu aku tidak mengetahuinya?” ujar joong Ki pelan, seolah menertawakan kebodohannya pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia tidak mengetahuinya sama sekali?

“Mianhae, oppa… Aku bermaksud menceritakannya saat waktunya tepat.”

Joong Ki mendengus kecil, “Itu alasan klasik.” ia pun kembali menyeruput kopinya.

Hye Ri kembali terdiam. Berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk meyakinkan laki-laki itu, “Tapi dia bersikap sangat baik sejauh ini. Dia tidak berbuat macam-macam dan selalu mendengarkan apa yang kusarankan untuknya. Kurasa dia orang baik-baik.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Kondisinya sudah stabil. Tinggal patah tulangnya saja yang belum pulih. Minggu depan dokter akan membuka gipsnya.”

“Baiklah, aku akan menunggu sampai saat itu.”

Joong Ki lalu menolehkan kepalanya memandangi sungai Han. Mendengarkan suara aliran air dan merasakan hembusan dingin angin di musim gugur. Namun tak lama kemudian ia melirik Hye Ri. Gadis itu dari tadi menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.

“Kenapa kau memandangiku seperti itu?” tanya Joong Ki.

“Kukira… Kau akan marah dan membentakku habis-habisan. Tak kusangka kau malah bersikap tenang seperti ini.” jawab Hye Ri jujur.

“Mana mungkin aku melakukan itu padamu.”, Joong Ki menyunggingkan senyum, kemudian mengelus kepala Hye Ri lembut, “Aku percaya padamu.”

Hye Ri tersenyum haru, “Gomawo, oppa… Jeongmal gomawo…”

Melihat senyum manis yang kembali terpancar di wajah gadis itu, Joong Ki kemudian merengkuh Hye Ri kedalam pelukannya, membenamkan sebagian wajahnya di bahu gadis itu, dan menghirup napas dalam-dalam disana. Ia mengecup dahi Hye Ri singkat, kemudian mempererat pelukannya,

“Mianhae…”

***

“Ckckck…, kau jahat sekali, Hye Ri-ah!” Eun Kyung berdiri bertolak pinggang didepan meja kerja Hye Ri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Hye Ri yang sedang asyik menggoreskan pensilnya di atas sketch paper lalu mendongak, “Wae?”

“Padahal baru dua minggu yang lalu kau dan ‘Joong Ki-oppa’-mu itu makan siang romantis di atap. Tapi sekarang kau sudah bersama pria lain.”

“A…apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Kau putus dengan Joong Ki kan?”

Hye Ri menggeleng bingung, “Aniyo. Siapa yang bilang begitu?”

Eun Kyung memiringkan kepalanya, “Lalu siapa laki-laki yang menunggumu di lobby itu?”

Hye Ri mengernyitkan dahi, “Lobby?” dengan diselimuti rasa penasaran ia pun bangkit dari tempat duduknya dan beranjak menuju pintu.

Ketika melintas didepannya, Eun Kyung segera menepuk bahu Hye Ri, “Wajahnya lumayan juga. Siapa dia? Selingkuhanmu?”

Hye Ri langsung mendelik tajam, “Enak saja kalau bicara! Dia hanya teman!”

Eun Kyung tersenyum jahil, “Kalau begitu untukku saja, ya?”

Hye Ri menjitak kepala Eun Kyung gemas, “Ya~! Kau kan sudah punya Minhyuk! Urusi saja pacarmu sendiri!”

Eun Kyung meringis pelan, “Aish… iya, iya. Aku kan hanya bercanda. Kenapa kau jadi marah begitu?”

“Ah, sudahlah. Aku ke bawah dulu.” Hye Ri bergegas keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju lift.

Eun Kyung mengerucutkan bibirnya. Ia lalu mengambil ponselnya dan menekan beberapa tombol.

“Ya~, Minhyuk-ah! Kapan kau akan membawakanku makan siang kesini?”

***

“Yonghwa-ssi? Tumben kau kesini.” panggil Hye Ri begitu melihat siapa laki-laki yang menunggunya.

Yonghwa membalikkan badannya, kemudian tersenyum tipis, “Habis aku suntuk seharian didalam rumah.” jelasnya, “Kau sudah makan?”

Hye Ri menggeleng, lalu menarik tangan Yonghwa, “Kaja!”

“Eodie?”

“Katanya makan siang?” Hye Ri melirik jam tangannya, “Ini sudah hampir waktunya. Ayo!”

“Tapi… aku hanya ingin mengantarkan ini padamu.” Yonghwa menyodorkan sebuah map cokelat besar kepada Hye Ri. Gadis itu segera membuka map itu dan mengeluarkan isinya.

“Aigoo~, aku lupa membawa sketsa ini! Padahal setelah ini ada rapat redaksi. Gomawo, Yonghwa-ssi! Untung kau mengantarkannya.”

Yonghwa hanya tersenyum kalem.

“Tugasmu sudah selesai kan? Sekarang ayo kita pergi! Aku akan mengjakmu ke suatu tempat.” Hye Ri kembali menarik tangan Yonghwa sebelum laki-laki itu menghindar.

***

“Hyung, ayolah! Aku pinjam kotak bekal punyamu, ya? Ya? Ya?” pinta Minhyuk dengan wajah memelas. Ia menggosok-gosok kedua telapak tangannya didepan dada dan mengikuti kemanapun Joong Ki melangkah.

“Aish, memangnya kau tidak punya kotak bekal sendiri?” tanya joong Ki sedikit kesal. Kelakuan commis baru di restoran milik ayahnya itu lama-kelamaan membuatnya senewen.

“Aku tidak membawanya. Tiba-tiba saja Eun Kyung bilang ingin mencicipi bekal makan siang buatanku. Aku harus segera membuatkannya.”

“Eun Kyung? Siapa? Pacarmu?”

Minhyuk mengangguk mantap, “Kau mengenalnya?”

Joong Ki mendengus, “Mana mungkin aku mengenalnya? Kau kan tidak pernah cerita.”

Minhyuk menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “Jadi bagaimana? Kau mau meminjamkannya kan?” pintanya lagi.

“Kau kan masih berstatus sebagai asistenku. Memangnya kau boleh menyentuh alat-alat masak sembarangan?”

“Tenang saja. Kan ada kau.” seketika itu juga senyum di wajah Minhyuk mengembang, “Jadi artinya kau mau meminjamkannya kan? Ah, jeongmal gomawo, hyung!”

Minhyuk segera menyiapkan bahan-bahan serta alat-alat memasak dengan semangat. Melihat itu, Joong Ki hanya bisa menghela napas sambil geleng-geleng kepala.

“Whoaaa…!!!” ketika sedang mengocok telur, tiba-tiba saja Minhyuk berteriak kaget. Untung saja mangkuk yang dipegangnya tidak sampai jatuh dan adonan telurnya tidak tumpah mengotori lantai.

“Si…siapa kau?!” dengan sedikit gemetar Min Hyuk menunjuk seseorang dihadapannya. Terang saja, ketika sedang asyik mengocok telur ia melihat seorang gadis yang tiba-tiba sudah ada dihadapannya dan yang terlihat hanya kepalanya saja.

“Ma…maaf kalau aku mengagetkanmu. Kukira kau Joong Ki-oppa. Habis biasanya dia selalu berdiri disini.” Hye Ri merasa bersalah. Padahal tadi ia hanya menempelkan dagunya di meja didepan tempat Minhyuk berdiri seperti yang sudah biasa dilakukannya jika diam-diam memandangi Joong Ki bekerja di dapur.

“Joong Ki?” tanya Minhyuk heran.

“Ada apa sih? Ribut sekali.” Joong Ki menghampiri Minhyuk, “Hye Ri? Kapan kau datang?”

“Ehm, baru saja, kok. Hari ini aku mau makan siang disini.”

“Hyung, kau mengenalnya?” Minhyuk memperhatikan Hye Ri dan Joong Ki bergantian, “Ah, dia pacarmu?”

“Sudah, sana kerja! Kau mau dimarahi Eun Kyung?” Joong Ki bermaksud mengusir Minhyuk agar orang itu bisa meninggalkannya berdua dengan Hye Ri.

“Oh, baiklah.” kata Minhyuk patuh.

“Jadi dia pacar Eun Kyung? Aku baru lihat orangnya.” celetuk Hye Ri ketika Minhyuk sudah berjalan menjauh.

“Aku juga baru tahu.” sahut Joong Ki. Ia lalu mencondongkan badannya ke arah Hye Ri, “Jadi, anda mau pesan apa, tuan putri?”

Hye Ri melirik ke arah langit-langit, memikirkan kira-kira makanan apa yang sedang ia inginkan, “Bagaimana kalau steak? Aku akan menunggumu di tempat biasa.” gadis itu lalu tersenyum.

Joong Ki membalas senyuman Hye Ri, kemudian mengacak-acak pelan rambut gadis itu, “Ne, arasseumnida.”

***

“Oppa, kenalkan, ini Yonghwa.” Hye Ri mengenalkan Joong Ki pada Yonghwa yang duduk didepannya ketika laki-laki itu datang dengan membawakan hidangan steak pesanan gadis itu.

“Yonghwa.” Yonghwa mengulurkan tangan kanannya ke arah Joong Ki.

Laki-laki itu tidak langsung menyambut uluran tangan Yonghwa, melainkan menatap laki-laki itu sedikit tajam. Pantas saja ia heran ketika Hye Ri menyebutkan pesanan untuk tiga orang. Seharusnya ia tahu kalau gadis itu akan mengajak orang itu kesini.

Dengan sedikit ragu, akhirnya Joong Ki membalas uluran tangan Yonghwa dan menjabat tangan laki-laki itu. Dengan suasana yang mulai sedikit kaku, akhirnya mereka bertiga pun duduk di kursi masing-masing. Hye Ri duduk disebelah Joong Ki dan Yonghwa duduk dihadapan mereka berdua.

Ketika baru saja hendak makan, tiba-tiba Hye Ri melihat ayah Joong Ki sedang berdiri didepan pintu dapur. Memperhatikan gerak-gerik mereka bertiga sambil melipat tangannya didepan dada.

“Oppa, sepertinya ayahmu sedang memperhatikan kita.” ujar Hye Ri pelan. Walaupun samar, Joong Ki mendengar sedikit nada takut dalam suara gadis itu.

“Tidak apa-apa. Tenang saja.” jawabnya menenangkan.

Karena penasaran, Yonghwa ikut melihat ke arah salah satu sudut di ruangan yang dimaksud. Matanya terbelalak begitu melihat siapa orang yang sedang berdiri disana.

“I…itu…”

“Yonghwa-ssi, ada apa? kenapa matamu melotot begitu?” tanya Hye Ri polos setelah melihat ekspresi wajah Yonghwa yang terkejut.

“A…aniyo.” Yonghwa berusaha bersikap wajar, “Aku hanya ingin tahu siapa dia.”

Hye Ri sedikit mencondongkan badannya ke arah Yonghwa, “Dia itu Song Jang Woo, ayah Joong Ki-oppa, sekaligus pemilik dan executive chef di restoran ini. Kemampuannya sangat hebat! Tapi sayang, sepertinya dia tidak begitu menyukaiku.”

Mendengar penjelasan Hye Ri, Yonghwa jadi semakin yakin pada penglihatannya. Dia benar-benar Jang Woo, atasannya didalam geng. Tapi, kenapa dia jadi chef?

“Hye Ri, kau makan yang ini saja. Dagingnya sudah kupotongkan.” ujar Joong Ki sambil menukar piringnya dengan piring Hye Ri.

“Ah, gomawo, oppa.” Hye Ri lalu menusukkan potongan kecil daging steak itu dan menyuapkannya pada Joong Ki.

“Mashijji?” tanyanya kemudian.

“Tentu saja. Ini kan buatanku.” jawab Joong Ki. Mereka berdua lalu tertawa bersama.

Tanpa sadar, diam-diam Yonghwa memperhatikan kedua orang itu. Melihat Hye Ri menyuapi Joong Ki seperti tadi, ia jadi teringat ketika gadis itu menyuapinya saat ia masih memakai penyangga tangan. Sekarang ia sudah tidak memakainya dan tangannya hanya dibalut perban saja.

Yonghwa memperhatikan piring dihadapannya dan tangan kanannya secara bergantian. Memang sebentar lagi gips di tangan kanannya sudah boleh dilepas, tapi untuk memotong daging itu sendiri, ia masih merasa kaku.

Aish, apa yang sebenarnya ia pikirkan? Apakah dia berpikir agar Hye Ri memotongkan daging itu untuknya seperti yang dilakukan Joong Ki untuk gadis itu? Mustahil.

“Ehem!” Yonghwa berdeham, kemudian bangkit dari tempat duduknya.

“Yonghwa-ssi, kau mau kemana?” tanya Hye Ri.

“Sepertinya aku harus ke toilet.” jawab Yonghwa.

“Kalau begitu biar kupotongkan dagingnya untukmu, ya.” ujar Hye Ri.

Yonghwa tidak menjawab. Ia memasukkan tangannya kedalam saku celana dan bergegas menuju toilet.

***

“Kukira seorang executive chef sepertimu punya toilet tersendiri.” celetuk Yonghwa ketika melihat seseorang yang sedang mencuci tangan di wastafel toilet itu.

Jang Woo mendongak menatap cermin. Dalam bayangan di cermin itu, tampak Yonghwa sedang berdiri bersandar di salah satu pintu toilet sambil memandang ke arahnya.

Jang Woo membalikkan badannya, “Long time no see, Mr. Yonghwa Jung.”

Yonghwa tersenyum sinis, “Tidak perlu basa-basi, Tuan Song Jang Woo.”

“Seperti biasa. Kau tidak pernah bersikap sopan pada atasanmu sendiri.”

“Bagaimana kau bisa menjadi chef?” tanya Yonghwa to the point.

Jang Woo menyeringai, kemudian dengan perlahan berjalan mendekati Yonghwa. Sebelum menjawab, ia memasang tanda bertuliskan ‘Under Service’ di bagian luar pintu dan menutupnya agar tidak ada seorangpun yang masuk kedalam ke toilet itu dan mendengarkan percakapan mereka.

“Kenapa? Sepertinya kau terkejut.”

“Yeah, sedikit. Aku tidak tahu kau sebenarnya berada di Korea.”

“Ini profesiku, kau tahu? Menjadi seorang anggota geng mafia bukan berarti tidak punya profesi lain kan?”

“Sekarang aku mengerti kenapa kau tidak menyukai gadis itu. Kau benar-benar ayah yang baik.”

“Aneh, kau jadi banyak bicara.” Jang Woo menatap Yonghwa tajam, “Kau masih ingat dengan tugasmu kan?”

Yonghwa tidak langsung menjawab. Ia balik menatap Jang Woo tidak kalah tajam, “Kenapa? Ada masalah?”

“Bukankah sudah pernah kubilang kalau bos selalu menanyakan hasil kerjamu? Melihatmu sekarang ini, aku tidak yakin kau masih mengingatnya.”

Yonghwa memalingkan wajahnya sekilas sambil tersenyum sinis. Sepertinya ia tidak bisa berbohong dihadapan atasan serta rekan kerjanya yang satu ini.

“Setelah gips di tanganmu dibuka nanti, mulailah cari pekerjaan paruh waktu. Setelah itu aku akan memberikan ponselmu kembali. Kalau gadis itu menanyakannya, katakan saja itu dibeli dengan gaji pertamamu. Barang-barangmu yang lain akan kuberikan menyusul.” jelas Jang Woo. Ia lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah pistol.

“Ini akan kuberikan padamu untuk berjaga-jaga.” ia memberikan pistol itu pada Yonghwa.

“Kau sedang menyogokku?” tanya Yonghwa dengan nada menyindir. Ia tahu, Jang Woo memberikan pistol itu bukanlah untuk berjaga-jaga, melainkan bermaksud menyuruhnya segera menghabisi nyawa Hye Ri secepatnya dengan senjata api itu.

“Kau boleh menganggapnya begitu.” jawab Jang Woo setelah Yonghwa menerima pistol itu dan menyimpannya dibalik jaketnya.

“Dengar Yonghwa, setelah mendapatkan gaji pertamamu, cepatlah tentukan waktunya dan hubungi aku. Kalau tidak…” kata Jang Woo lambat agar Yonghwa merasa penasaran, “Aku yang terpaksa harus menggantikanmu. Dan kau tahu sendiri, aku lebih suka melakukannya dengan caraku sendiri.”

***

Hye Ri sedang asyik menggoreskan bermacam-macam pensil warna di atas sketch book-nya ketika Yonghwa menarik kursi makan dan duduk dihadapannya, memperhatikan setiap gerak-geriknya yang dengan lihai menciptakan gradasi warna sehingga gambar itu terlihat lebih hidup.

Hye Ri melirik sekilas ke arah Yonghwa, “Waeyo? Kau terpesona melihat gambarku?”

Yonghwa memperhatikan gambar Hye Ri, kemudian mengangguk-angguk, “Yah, gambarmu lumayan juga.”

“Atau kau terpesona melihat wajahku?”

Yonghwa tertawa kecil, “Dasar narsis!”

“Berarti aku benar.”

“Kenapa tidak menggambar di laptop saja? Lebih praktis.” Yonghwa berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Sudah cukup aku berlama-lama didepan komputer selama di kantor. Nanti mataku bisa lelah. Lagipula, ini sedang iseng-iseng saja.” Hye Ri meneruskan gambar sketsanya.

“Minta kertasmu. Aku juga mau menggambar.” Yonghwa mengambil selembar kertas dan pensil dihadapan Hye Ri.

“Kau juga bisa menggambar?”

“Yah, kita lihat saja nanti.” Yonghwa mulai menggoreskan pensil di atas kertasnya. Wajahnya tampak sangat serius saat berkutat dengan pensil dan penghapus. Hye Ri geli sendiri melihatnya. Selama ini belum pernah ia melihat orang yang begitu serius saat menggambar. Tapi sayangnya, Yonghwa menutupi gambarnya itu dan menghalangi Hye Ri untuk melihatnya sebelum selesai. Gadis itu hanya bisa pasrah dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Hye Ri-ah, coba lihat ini.” setelah selesai, Yonghwa menunjukkan hasil karyanya pada gadis itu.

Hye Ri mendongak dan memperhatikan gambar di kertas yang dipegang Yonghwa. Seketika itu juga tawanya meledak. Menurutnya, gambar itu sangatlah lucu. Dalam gambar tersebut tampak seorang laki-laki dan perempuan yang diapit 2 anak perempuan yang lebih kecil. Sepertinya mereka adalah sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, kakak dan adik perempuan. Entah kenapa ibu dan anak perempuan yang paling kecil hanya diberi warna abu-abu dan hitam oleh Yonghwa sedangkan yang lainnya berwarna-warni. Di sebelah kakak perempuan tampak gambar seorang laki-laki yang sedang mengacungkan pistol ke udara. Hye Ri mengira itu adalah gambar kakak laki-laki dalam keluarga itu yang berprofesi sebagai polisi.

Yang membuat lucu adalah, gambar itu dibuat Yonghwa dengan asal-asalan─entah karena sengaja atau dia memang tidak mahir menggambar─sehingga terlihat seperti lukisan anak TK yang baru belajar menggambar. Hye Ri tidak berhenti mengulum senyumnya ketika melihat gambar itu.

“Ini gambar keluargamu?” tanyanya kemudian. Melihat dari gambar anak laki-laki yang memegang pistol di pojok. Ia mengira gambar itu adalah gambar Yonghwa.

“Bukan. Aku tidak punya saudara.” jelas Yonghwa.

Hye Ri mengangguk-angguk, kemudian kembali memperhatikan gambar itu sambil tertawa kecil. Ia masih tidak menyangka gambar yang menurutnya kekanakan itu adalah hasil karya seorang laki-laki berumur 23 tahun.

Yonghwa menatap Hye Ri lekat-lekat. Berbeda dengan wajah Hye Ri yang terlihat senang, wajahnya justru tampak datar-datar saja. Ia melukis gambar itu bukanlah tanpa alasan, karena sebenarnya gambar itu adalah gambar keadaan keluarga Hye Ri. Gambar ibu dan adik perempuannya sengaja diarsir dengan warna abu-abu untuk menandakan bahwa mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dan gambar laki-laki yang memegang pistol disamping gambar Hye Ri menandakan bahwa gadis itulah korban selanjutnya.

“Ya, sekarang kau boleh tertawa, Shin Hye Ri. Setidaknya sampai nasib hidupmu ditentukan. Kau tidak tahu kan, apa yang sebenarnya terjadi pada keluargamu? Mereka membiarkanmu hidup di tengah kegelapan sehingga kau tidak tahu apa-apa.”

“Ng… Hye Ri…” ujar Yonghwa setelah beberapa saat.

“Hm?”

Yonghwa terdiam sejenak, “Aku sudah memutuskan untuk mencari kerja sambilan.”

“Mwo? Mentang-mentang tangan kananmu sudah sembuh, kau mau bebas berkeliaran di luar rumah?” tanya Hye Ri setengah bergurau. Patah tulang di tangan kanan Yonghwa memang sudah dinyatakan sembuh total sejak beberapa hari yang lalu.

“Aniyo, bukan begitu. Aku hanya ingin mengumpulkan uang untuk membeli keperluanku. Aku tidak bisa merepotkanmu terus-menerus.” jelas Yonghwa.

“Dimana kau akan bekerja?”

“Entahlah, aku belum tahu.”

Hye Ri mengangguk-angguk, “Baiklah kalau itu maumu.”

“Ng…selain itu…” tahan Yonghwa begitu Hye Ri hendak melanjutkan pekerjaannya. Gadis itu menoleh.

“Aku…” Yonghwa mendesah, “Setelah mendapatkan gaji pertama, aku sudah memutuskan untuk keluar dari rumahmu.”

Hye Ri tersentak. Keluar dari rumahnya? Secepat itukah? Apa laki-laki itu begitu merasa merepotkan sehingga memutuskan untuk keluar dari rumah ini secepatnya?

Sejujurnya, selama ini Hye Ri tidak pernah merasa direpotkan. Ia membantu Yonghwa dengan senang hati dan entah sejak kapan keberadaan Yonghwa di rumahnya terasa seperti hal yang sudah seharusnya. Seperti pekerjaan yang rutin dilakukannya sehari-hari sehingga jika tidak mengerjakannya, rasanya ada sesuatu yang kurang. Sejak awal Hye Ri tahu perpisahan seperti ini akan datang, namun ia tidak bisa seenaknya saja manahan laki-laki itu untuk tinggal sedikit lebih lama tanpa alasan yang jelas.

Hye Ri memalingkan wajahnya, dan hendak meraih kembali pensilnya di atas meja. Namun entah kenapa tangannya licin sehingga ia malah menjatuhkan hampir semua pensil warna ke lantai. Cepat-cepat Hye Ri berjongkok ke bawah meja makan dan memungut satu per satu pensil warna itu. Namun betapa terkejutnya ia ketika mendongak, wajah Yonghwa sudah berada tepat didepan wajahnya. Mungkin laki-laki itu bermaksud membantunya memungut pensil-pensil itu, dan mereka menoleh di waktu yang bersamaan.

Yonghwa menatap Hye Ri lekat-lekat. Membuat gadis itu menahan napasnya selama beberapa saat. Jarak diantara mereka sangat dekat sehingga Hye Ri bisa merasakan hembusan napas laki-laki itu menerpa ujung hidungnya.

Pandangan Yonghwa melembut. Dengan perlahan ia mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu. Entah apa yang ada dalam pikiran Hye Ri, gadis itu tetap bertahan di posisinya walaupun ia tahu apa yang akan Yonghwa lakukan. Hye Ri mempererat genggaman tangannya pada sekumpulan pensil warna yang baru saja dipungutnya. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang dan darahnya berdesir cepat. Terlebih lagi saat bibir laki-laki itu nyaris menyentuh bibirnya.

“Ngiiiiiiiiiing……!!!” tiba-tiba terdengar suara ketel tanda air sudah mendidih.

Seolah baru tersadar, Hye Ri segera menundukkan wajahnya dan mencari jalan keluar dari kolong meja. Ia lupa kalau dirinya sedang memasak air untuk membuat teh.

“Apa yang baru saja kulakukan!?” batin Hye Ri.

Setelah meletakkan kembali pensil-pensil warna yang dipegangnya ke atas meja, ia bergegas menuju dapur dan mematikan kompor. Diam-diam Yonghwa mengikutinya dari belakang.

“A…aku akan membuat teh. Kau mau kubuatkan juga?” tanya Hye Ri setelah menyadari keberadaan Yonghwa. Tangannya masih sibuk menyiapkan dua buah mug berukuran sedang. Setelah kejadian tadi, tampaknya ia tidak berani menatap wajah laki-laki itu secara langsung.

“Hye Ri-ah…”

“Hmm, teh hijau atau teh gandum ya?” Hye Ri memperhatikan dua buah wadah keramik kecil di tangannya. Kentara sekali kalau ia sedang mengalihkan perhatian karena gugup.

Yonghwa mendecak pelan. Ia lalu merebut wadah teh dari tangan Hye Ri dan meletakkannya kembali ke atas meja, kemudian menarik gadis itu kedalam pelukannya, membenamkan sebagian wajahnya di bahu gadis itu, dan menghirup napas dalam-dalam disana. Memenuhi rongga dadanya dengan aroma tubuh gadis itu.

“Yong…Yonghwa-ssi…?” Hye Ri berusaha melepaskan dirinya, namun Yonghwa malah semakin erat memeluknya.

Tak lama kemudian, Yonghwa melepaskan pelukannya, manatap Hye Ri lekat-lekat, kemudian menyapukan bibirnya di bibir gadis itu. Membuat Hye Ri membeku selama beberapa saat.

Gadis itu terbelalak. Tidak sadar sepenuhnya atas apa yang baru saja terjadi.

“Aku menyukaimu, Hye Ri-ah.” ujar Yonghwa dengan suara rendah, “Bisakah mulai saat ini kau hanya melihatku saja?”

“DEG!!!” sesaat Hye Ri merasakan jantungnya berhenti berdetak. Tidak percaya pada apa yang barusan Yonghwa katakan.

“Ta…tapi…”

“Kau masih mencintai Joong Ki?” potong Yonghwa. Ia memiringkan kepalanya, menatap Hye Ri lurus, “Kalau begitu, aku akan merebutmu darinya.”

(to be continued)

_________________________________

Halo semuanya!😀 Setelah selingan drabble akhirnya aku balik lagi ngelanjutin chapter kedua. Maaf buat yang udah lama nunggu…

Anyway, thanks to admin yang udah nerima aku sebagai author tetap disini😀 *tebarconfetti* mohon bantuannya ya, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik🙂

Oh ya, jangan lupa RCL, dan juga kritik dan sarannya. Sampai ketemu di chapter selanjutnya😀

 

6 thoughts on “I Found You [Chapter 2]

  1. Seperti biasa..bagus min!
    Min tp kalok blh kasi saran, vocak koreanya dikasi arti dong..krna sy emang nggk tau artinya, makasi🙂

  2. Baguuuuss banget ff nya!😀
    Bener2 kayak drama bacanya deh!
    Suka ama scene yang yonghwa gambar ituu aigooo~ lucu2 pengen ngebunuh aigooo~ tembak aku yonghwa-ssi~~~

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s