Forbidden love (Chapter 5)

Author: Kim Sung Rin

Rating: PG 15
Genre: romance, fantasy, AU
Length: chaptered
Main Cast:
– Jung Seo Jin (OC)
-Lee Jonghyun
Other Cast:
– Other member CN BLUE
-Kim Sunggyu INFINITE
Disclaimer: ide cerita dari va dan aku merealisasikannya disini. chapter dua dan seterusnya murni pemikian aku
:P
Note: tidak bashing, silent reader dan RCL!! itu sangat penting bagiku dan mungkin bagi author lain juga hahaha.
cerita ini sebelumnya sudah di publis di note FB aku. ini sedikit tidak orisinil karena ada beberapa bagian yang aku ubah. dan buat readers yang udah RCL di part sebelumnya gomawo *bow bareng jonghyun?* I LOVE YOU ALL *kibarin bendera biru ( ?)*
so, happy reading :D
previous part : [1]  [2] [3]  [4]
~~~

Mata Seo Jin membelalak. Degupan jantung dan sekelebatan memori tentang kejadian yang dialaminya beberapa minggu lalu datang bersamaan. Hembusan nafas hangat Jonghyun telah menerpa permukaan kulit pipinya, membuatnya terbuai dan melupakan segenap peristiwa yang hampir merenggut nyawa kakak laki-lakinya, Yonghwa.

Namun, beberapa saat kemudian Seo Jin menggeleng cepat dan tersadar. Dengan sigap dia mendorong tubuh Jonghyun menjauh darinya.

Jonghyun tersentak, mata hitamnya seolah berkata “Kenapa kau menolakku?”  dan menatap tajam Seo Jin.

Gadis itu berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan meremas ujung kemejanya kuat-kuat. Ujung-ujung jarinya mulai dingin, apalagi melihat bola mata Jonghyun yang berubah menjadi berwarna merah, pertanda bahwa amarah tengah menguasai jiwanya dan bersiap ingin menjadi blacdarc.

“Kau tidak ingat apa yang terjadi saat kau menciumku beberapa waktu yang lalu? Kau mencekik oppaku dan menggigit leherku!” Kesal Seo Jin berhasil mencicitkan suaranya. Jonghyun masih terdiam dan memandang wajah Seo Jin intens, yang membuat gadis itu bergerak tak nyaman ditempatnya.

“Dan juga kau belum minta maaf kepadaku! Bagaimana bisa kau mengigit leherku dan menghilang dariku selama tiga minggu ini?” tambah Seo Jin ketus. Gadis itu mulai berani berteriak kepada Jonghyun karena bola mata lelaki itu telah kembali berwarna hitam. Jonghyun menghela napasnya dan berjalan mendekati Seo Jin lagi. Tatapannya tidak tajam seperti tadi, ada getaran cinta yang lembut tersirat didalamnya.

“Yah, aku minta maaf. Semua itu diluar kendaliku.”

Mendengar suara parau Jonghyun, Seo Jin jadi salah tingkah karena biasanya lelaki itu selalu tidak ingin kalah berdebat dengannya. Seo Jin memilih untuk duduk di tepi ranjangnya sedangkan Jonghyun masih diam berdiri ditempatnya.

“Untuk apa kau kesini? Berniat untuk menghisap darahku?”

Jonghyun yang tengah tertunduk langsung mengangkat kepalanya, antara sedih dan marah lelaki itu bersuara, “Apa aku seburuk itu dimatamu?”

Seo Jin terdiam. Sebenarnya dia enggan untuk berargumen seperti itu, apalagi sejak lama dia sudah mempercayai Jonghyun, tak perduli bahwa dirinya adalah seorang blacdarc. Namun kejadian yang telah menimpanya tiga minggu yang lalu membuatnya berfikir dua kali, apalagi Jonghyun tidak hanya mencelakai dirinya beberapa waktu yang lalu.

“Aku mau tidur, kau masih ingin berdiri disitu? Kalau tidak kau bisa keluar dari kamarku!” hardik Seo Jin akhirnya. Dia tidak bisa lebih lama berdekatan dengan Jonghyun, karena lelaki itu selalu ingin membuat Seo Jin memeluknya.

Jonghyun menatap Seo Jin tajam, “Aku…akan berada disini sampai kau tertidur.”

Seo Jin menggeleng cepat, “Terima kasih kau telah berbaik hati kepadaku, tapi maaf, aku tidak mau! Jadi bisa kau…”

Seo Jin terpaksa menghentikan kata-katanya karena permukaan bibir Jonghyun telah mendarat sempurna dipermukaan bibirnya.

Dibalik pohon linden disebrang rumah Seo Jin, seseorang lelaki dengan sayap hitamnya Nampak tersenyum meremehkan, “Itu saja yang bisa kau lakukan, Jonghyun? Kalau kau tidak membunuhnya, aku yang akan membunuhnya!” katanya sinis.

~~~

Sinar matahari berlomba-lomba masuk melalui balkon menerangi kamar Seo Jin. Gadis itu menggeliat lemah karena pantulan matahari yang tepat menerpa sebagian wajahnya.

Perlahan dia mengerjapkan matanya dan menatap kesekitar . Tidak ada Jonghyun disekitarnya, mungkin dia telah pergi begitu Seo Jin terlelap. Buru-buru dia bangkit dari ranjangnya karena jarum jam telah menunjukkan pukul delapan, artinya kemungkinan besar dia akan terlambat mengikuti mata kuliah yang akan diselenggarakan pukul setengah Sembilan.

“Seo Jin, makanlah dulu, aku sudah membuatkanmu sarapan.” Teriak Minhyuk kepada Seo Jin yang telah mencapai pintu depan.

“Tidak, aku akan terlambat kalau sarapan dulu. Terima kasih Minhyuk, aku pergi dulu!” teriak Seo Jin sambil mengikat tali sepatunya.

Seo Jin semakin gusar kala melihat tidak ada bus yang berhenti di halte tempatnya berdiri.

“Kenapa bus jadi tidak berguna saat aku sedang buru-buru?” gerutunya kesal sambil menghentakkan kaki. Dia memutuskan untuk duduk dikursi halte dan cemberut mengamati arus lalu lintas dihadapannya.

Diliriknya lagi ke jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, “Percuma saja, sepuluh menit lagi perkuliahan akan dimulai dan itu tandanya aku tidak mengikuti kuis hari ini.” Katanya mendengus.

Sebuah motor berhenti dihadapan Seo Jin. Awalnya dia tidak menggubris motor tersebut, tapi setelah pengemudi motor itu membuka helm nya barulah Seo Jin tau kalau orang tersebut memang ingin bertemu dengan dirinya.

“Cepat naik, kuyakin kau tidak mau terlambat mengikuti kuis kan?” ucap Jonghyun. Seo Jin mau tak mau tersenyum karena Jonghyun hadir disaat yang tepat . Dan tak perlu menunggu lama lagi, Seo Jin telah duduk manis dibelakang Jonghyun.

“Pegangan yang kuat,” titah Jonghyun. Seo Jin mengernyit, “Tidak mau, kan tidak harus berpegangan denganmu kan?” cibir Seo Jin.

Jonghyun kembali memasang helmnya, “Terserah kau sajalah.”

Jonghyun menggas motornya dengan cepat, membuat Seo Jin yang duduk dibelakangnya otomatis memeluk Jonghyun.

Jonghyun tersenyum saat tangan Seo Jin sukses melingkar di pinggangnya.

Nappeun namja!” desis Seo Jin kesal.

~~~

Jonghyun pov

“Seo Jin, tunggu sebentar,” teriakku memanggil Seo Jin yang sudah keluar kelas. Dia berbalik dan menoleh kearahku, “Ada apa?” tanyanya yang masih mengamati paper yang didapatinya tadi.

Ah, bagaimana aku mengatakannya ya? Ini pertama kalinya bagiku mengajak seorang gadis untuk makan malam denganku. Dan…kenapa jantungku berdetak cepat sekali sekarang?

“Kau mau ngomong apa sih?” Tanya Seo Jin yang mulai penasaran. Aku tersenyum kearahnya, biar bagaimanapun akulah yang telah membuka pembicaraan ini, jadi, aku harus melanjutkannya hingga akhir.

“Besok malam kau ada acara?”

Seo Jin tampak berpikir, “Tidak ada. Kenapa bertanya seperti itu kepadaku?” Tanya Seo Jin singkat.

“Kau galak sekali sih,” gerutuku sambil mendengus kesal. Dia tersenyum dan memukul lenganku pelan, “Benakah? Ngomong-ngomong, ada apa?” Seo Jin bertanya lagi.

“Aku mau mengajakmu makan malam.”

Sejenak Seo Jin membeku ditempatnya, “Makan…malam?”

Ne, apa yang aneh dari itu?” gerutuku kesal. Seo Jin terkekeh pelan, “Tidak ada, yasudah kutunggu besok malam.” Bisik Seo Jin sebelum dia berlalu.

Aku menghela napas lega, aku harus mengatakan ini semua kepadanya. Yeah harus!

“Ouch!” tanganku! Aku merasa tanganku seperti tersayat pisau belati, namun tidak ada darah disana. Akupun mengamati dengan jelas kedua tanganku. Ah, tidak! tanganku tidak terluka, lalu yang tadi itu apa?

~~~

Kubaringkan tubuhku yang penat ke ranjang single dikamarku. Hampir tengah malam namun mataku tak kunjung mengantuk padahal tubuhku sangatlah lelah.

Secara tak sadar, wajahku menarik garis senyum kala mengingat Seo Jin. Yah, gadis itu telah membuatku benar-benar gila sekarang sehingga aku melupakan tugasku untuk membunuhnya. Melupakan bahwa aku menautkan hati kepada orang yang tidak tepat, tapi mau bagaimana lagi? Bukankah cinta tidak bisa dicegah?

“Sedang senang rupanya?” suara tegas nan dingin itu memaksaku menoleh dan mataku sukses terbelalak. Lelaki berperawakan tinggi dengan sayap hitamnya tengah berdiri di balkon kamarku. Rambut panjang usangnya kali ini diikat asal.

“Jangan kaget seperti itu hyung,” katanya sambil menelusuri kamarku, “Tidak merindukanku ya?” lanjutnya lagi.

Rahangku mengeras dan berusaha menahan emosiku agar tidak bergelora saat ini juga.

“Apa yang kau lakukan disini, Lee Jungshin?”

Jungshin yang sedang membolak-balikkan asal diktat kuliah yang tergeletak di meja belajar, menatapku dengan sebelah alisnya yang terangkat, “Menurutmu apa yang akan kulakukan disini?” balasnya sengit sambil terkekeh pelan.

“Tentu saja sesuatu yang penting, bukankah begitu?” jawabku berusaha tenang. Dia mendekat kearahku dan menepuk pelan bahuku, “Benar hyung, tak kusadari kalau kau sangatlah pintar.”

Aku menepis kedua tangan panjangnya yang sempat bertengger dibahuku lantas menatapnya tajam, “Sudahlah jangan berbelit-belit, katakan apa maumu sebenarnya!”

Senyum diwajah tampannya perlahan memudar, digantikan dengan rahangnya yang mengeras serta tatapan dingin yang menusuk.

“Kau tau kan apa tugasmu turun ke bumi, kakak angkatku? Kurasa aku tidak perlu menjelaskan ulang karena kuyakin kau sangat mengerti tugas tersebut.”

Aku menatapnya tak kalah tajam, dari awal aku tidak menganggapnya sebagai adik angkatku. Tidak ada yang aku suka darinya! Sombong, penjilat dan memuakkan! Itulah dirinya!

“Bunuh dia secepatnya!” ucapnya dingin sambil memainkan kuku kuku kumuh panjang miliknya.

“Apa maksudmu?” Jungshin terkekeh pelan lalu mengangkat tangan kiriku, “Tidak merasa tersayat siang tadi hm? Kukira kau akan sadar itu adalah pertanda agar kau ingat niat aslimu turun ke bumi ini!”

aku tertegun memandang seutas tali yang kuyakini sebelumnya hanyalah gelang biasa.

“Pantas saja kau tidak menyadarinya, kau bahkan tidak menyangka pengatur kendali yang kubuat ada di gelang sederhana itu kan?”

aku menatap Jungshin tak percaya, “Jangan bodoh! Sunggyu yang memberikan gelang ini kepadaku! dia, tidak mungkin jadi mata-matamu kan?”

Jungshin terkekeh geli, “Hyung, tak kusangka kau bodoh sekali! aku jelas menukarnya saat Sunggyu membeli gelang yang serupa. kau lupa kalau kemampuanku adalah mengendalikan pikiran manusia.”

Aku terdiam. Semua ini cocok! Sunggyu sekarang bukanlah seorang blacdarc, melainkan seorang manusia. Dia tidak akan tau jika saat itu blacdarc tengah mempengaruhi pikirannya.

“Kita hentikan acara terkejut ini hyung. yah, ini merupakan hal yang mengejutkan juga bagiku, karena tak kusangka kau lebih bodoh dari apa yang aku kira.” Aku mendekat kearahnya dan langsung melayangkan tonjokan di wajahnya.

“Apa yang kau lakukan hyung?!” teriaknya murka. Aku emandangnya dengan sarkatis, “Hyung? Tch! Berhenti memanggilku dengan sebutan itu! Kau bukan adikku!”

Jungshin melotot dan taringnya kini mulai mencuat keluar, diikuti dengan bola matanya yang berubah berwarna merah pekat. Dia menarik kerah bajuku sehingga deruan nafasnya menerpa permukaan wajahku.

“Kalau kau pintar, kau tidak akan menyerangku apalagi membunuhku!” Kataku santai. Jungshin menggenggam tangannya kuat dan menatap keki kearahku alih alih melepaskan kerah bajuku, “Kau selamat kali ini Jonghyun! Kalau kau tidak cepat membunuhnya, aku sendiri yang akan membunuh gadis itu!”

Dia pergi melalui balkonku dan sayapnya yang besar mengepak menjauh dari kediamanku. Kuacak rambutku frustasi, aku tau Jungshin bukanlah tipe orang yang suka berman-main. Dia akan membuktikan apa yang dia ucapkan. Aku berjalan mondar mandir dikamarku sampai akhirnya pintu kamarku menjeblak terbuka.

“Kudengar ribut-ribut, ada apa?” Tanya Sunggyu dengan suaranya yang serak. Dia memasuki kamarku sambil mengucek matanya dan duduk di tepi ranjangku.

“Jungshin, dia bersamaku tadi, disini.”

Sunggyu membelalakkan matanya, “Jungshin? Adik angkatmu? Benarkah? Untuk apa dia disini?”

Aku menatapnya kesal dan tanpa ragu menjitak kepalanya.

“Yak! Kenapa malah menjitakku sih?” gerutu Sunggyu sambil mengusap kepalanya.

“Aku sedang gusar begini kau bertanya panjang sekali! Ya untuk apalagi kalau tidak untuk membunuh?! Dia bilang kalau aku tidak bisa membunuh Seo Jin dalam waktu dekat ini, dia yang akan membunuhnya.”

Sunggyu melongo ditempatnya dan tidak bersuara selama beberapa waktu.

“Sudahlah sebaiknya kau tidur, pikirkan lagi hal itu besok.” Sunggyu akhirnya bersuara. Aku menatapnya garang, “Kau tidak berniat memberikan solusi kepadaku? Kau tau kan aku tidak ingin membunuh gadis itu?”

Sunggyu mengangguk pelan, “Ya aku tau Jonghyun, hanya ada satu cara agar kau tak melakukannya dan aku tidak perlu memberi tahumu karena kau sudah pasti tau apa jawabannya.”

Dia keluar kamarku dan menutup pintu kamarku perlahan. Aku menghela napas panjang sambil kembali mengacak kesal rambutku. Ah! Benar-benar pilihan  yang sulit!

~~~

 

Author pov

Seo Jin bersenandung saat dia sedang bercermin dikamarnya. Rambut hitamnya kini dibiarkan tegerai natural, tidak seperti biasanya yang selalu diikat kuda.

Dan kali ini Seo Jin menyempatkan dirinya melepas skinny jeans yang biasa dipakainya bersama longslevees ataupun hoodie dan kemeja. Hari ini dia terlihat cantik menggunakan dress jeans selutut yang dipadukan dengan vest berwarna hitam.

“Wah, kenapa hari ini kau cantik sekali?” Yonghwa terkesiap menatap adik perempuannya menuruni anak tangga dengan perlahan. Seo Jin tersenyum, “Aku kan perempuan, tidak ada salahnya kan menggunakan dress?”

“Kau benar, mungkin oppa mu sedikit shock karena perubahanmu hari ini.” Minhyuk menebak sambil menuangkan susu di gelas Yonghwa, “Sarapan?” tawar Minhyuk. Seo Jin mengangguk semangat sambil menyambar sandwich buatan Minhyuk dan memakannya dengan riang.

“Tentu saja, kali ini aku tidak akan terlambat kekampus seperti kemarin.” “Ngomong-ngomong, kau tidak pernah bertemu dengan blackdarc itu lagi kan?”

Pertanyaan Yonghwa sukses membuat Seo Jin berhenti mengunyah sandwichnya. Dia mengedikkan pundak dan kembali menikmati sarapan, “Jangan tanyakan hal itu kepadaku.”

Yonghwa memicingkan matanya, “Kenapa? Apa kau selama ini masih berhubungan dengannya atau malahan semakin dekat?” tebak Yonghwa. Seo jin melirik Minhyuk yang juga menatapnya, “Aku berangkat dulu.”

Seo Jin menghempaskan sandwichnya dan menyambar tasnya namun langkahnya terhenti karena Yonghwa sudah terlebih dahulu menahan tangannya.

“Jangan main-main terhadapnya! Kau tidak lupa kan kalu dia hampir membuatku mati?”

Yonghwa menatap Seo Jin tajam sedangkan Seo Jin membuang pandangannya kearah lain. Dia sangat tau dan sangat paham apa yang dilakukannya itu salah, mencintai seorang blackdarc yang kapan saja bisa membunuhnya.

Oppa, yang kubutuhkan saat ini adalah orang-orang yang mendukungku. Percayalah Jonghyun itu orang baik walaupun dia seorang blackdarc. Waktu itu dia hanya –“

“Cukup!!!” potong Yonghwa setengah berteriak, “Jangan berkata hal-hal yang tidak masuk akal Seo Jin, semua blackdarc itu mempunyai tujuan yang sama, yaitu membunuh bianco aloto! Apalagi kau baru saja bertransformasi menjadi bianco aloto, kau menjadi sasaran empuk blackdarc manapun karena mereka yakin kekuatan bianco aloto yang baru bertransformasi jauh lebih kuat dan itu membuat blackhill semakin terancam! Kelahiran satu bianco aloto sama saja mengancam 10 blackdarc untuk mati! Kau dengar ucapanku?!!”

Air mata Seo Jin menggenang dipelupuk matanya. Baru kali ini dia menyaksikan oppanya berteriak dihadapannya. Dia sadar apa yang dikatakan tinya mulai mencintai Jonghyu

Yonghwa beranjak dengan marah kekamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan keras. Hal itu membuat Seo Jin semakin mengucurkan air matanya. Melihat hal ini, Minhyuk hanya bisa menghela napas sekaligus menenangkan Seo Jin.

“Sudahlah, oppamu begitu karena dia sayang kepadamu. Dan kuharap kau berhati-hati terhadap Jonghyun. Bukan tidak mungkin dia mengancammu dalam bahaya.”

Seo Jin mengangguk dan menghela airmata yang membanjiri wajahnya, “Aku tau dan mengerti. Baiklah, kuharap kau menjaga oppa  dengan baik ya. Aku mempercayaimu.”

Minhyuk mengernyitkan dahinya, “Apa maksudmu?”

Seo Jin tersenyum, “Tidak ada maksud, aku hanya ingin menyampaikannya karena aku percaya kepadamu. Sudah ya aku berangkat dulu.”

Minhyuk mengangguk dan mengantarkan Seo Jin sampai ke pintu depan.

“Hati-hati Seo Jin.” Minhyuk melambai kearah Seo Jin. Seo Jin menoleh dan membalas lambaian tangan Minhyuk, “Ne.”

~~~

Hari mulai malam namun bukan berarti perkuliahan di salah satu instansi dimana Seo Jin dan Jonghyun kuliah sepi dari aktivitas. Banyak mahasiswa yang memutuskan untuk kuliah dimalam hari karena pagi hingga sore mereka asik bekerja. Dan perkuliahan Jonghyun dan Seo Jin kali ini tidak seperti biasanya. Ada tambahan jam extra karena dosen yang bersangkutan tidak dapat hadir minggu depan sehingga membuat mereka pulang lewat dari jam seharusnya.

“Mau kuantar?” Tanya Jonghyun yang sudah siap dimotornya. Seo Jin menatapnya ragu, “Tidak apa kalau kau mengantarku dulu? Bagaimana dengan makan malam kita?”

“Itu bisa diatur, cepatlah! Aku sudah lapar sekali!” Seo Jin mengikuti perkataan Jonghyun dan duduk di motornya.

“Jonghyun, kita mau kemana? Ini kan bukan jalan menuju rumahku?” Tanya Seo Jin sambil mengamati sekitarnya. Jonghyun tak menjawab, melainkan tetap mengemudikan motornya.

“Jonghyun, kenapa kau tidak menjawab? Kau mau membawaku kemana?” SEo Jin emakin gusar. Gadis itu mulai bergerak tak nyaman diatas motor besar milik Jonghyun.

Jonghyun tetap diam dan menepikan motornya dibawah pohon acasia yang berjejer dijalanan itu. Dia menarik tangan Seo Jin dengan paksa menuju suatu tempat.

“Kumohon lepaskan aku Jonghyun!” teriak Seo Jin yang hampir menangis. Lagi-lagi Jonghyun mengabaikannya dan sampailah dia disebuah tempat yang membuat mata Seo Jin sukses membelalak.

“Apa-apaan ini?!!!”

TBC

15 thoughts on “Forbidden love (Chapter 5)

  1. Ko, kynya aq udh pernah baca part ini ya?
    aq smpe liat tgl publishnya berkali-kali. tp emangnya baru hari ini di publishnya ya thor?

      • Yakin deh thor. Masa iy aq udh tau ceritanya sih? Dr awal baca part ini ngerasa pernah baca. Ngga di publish di t4 lain kan..???

  2. lestrina : iya makasih ya, akan aku lanjutkan secepatnya. gomawo chingu sudah baca😀

    aigum05 : chingu silahkan cek link yang sudah saya sajikan sebelum memulai part ini, lebih tepatnya part 4, silahkan chingu lihat apakah cerita ini sama atau tidak? memang ada beberapa scenes yang berada didalam kamar namun sebenarnya itu berbeda. jika chingu memang sudah membacanya tentu chingu tau :))))))

    • mohon maaf ya, saya kurang teliti terntaya dan salah sekali saya tidak mengeceknya berkali kali. benar kata chingu aigum05 dan beberapa chingu lainnya disini, par 4 ada dua dan sebenernya part 4 yang chingu baca sekalian itu adalah part 5. mohon maaf ya chingu dan link part 4 yang benar ada di previous part yang sudah tertera di post ini. terima kasih chingu atas koreksinya, sekali lagi saya mohon maaf :’)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s