Forbidden Love (Chapter 6)

 

Author: Kim Sung Rin

Rating: PG 15
Genre: romance, fantasy, AU
Length: chaptered
Main Cast:
– Jung Seo Jin (OC)
-Lee Jonghyun
Other Cast:
– Other member CN BLUE
-Kim Sunggyu INFINITE
Disclaimer: ide cerita dari va dan aku merealisasikannya disini. chapter dua dan seterusnya murni pemikian aku
:P
Note: hemm Jeongmal mianhae untuk part 4 yang agak problem sebelumnya huhuhu mianhae mianhae dan jeongmal mianhae. part 4 yang bener itu yang ada di link dibawah ini. dan terima kasih untuk chingu chingu yang sudah mengoreksinya hingga saya sadar akan kesalahan saya :’) *kisshug* untuk menebus kesalahan saya, part 6 saya buat lebih cepat hoho.
tidak bashing, silent reader dan RCL!! itu sangat penting bagiku dan mungkin bagi author lain juga hahaha.
cerita ini sebelumnya sudah di publis di note FB aku. ini sedikit tidak orisinil karena ada beberapa bagian yang aku ubah. tenang, satu part lagi ff gaje ini akan end. dan buat readers yang udah RCL di part sebelumnya gomawo *bow bareng jonghyun?* I LOVE YOU ALL *kibarin bendera biru ( ?)*
so, happy reading :D
previous part : [1]  [2] [3]  [4] [5]
~~~

Jonghyun yang dari tadi diam kini mendesis kesal dan menepuk keningnya. Pemandangan didepannya membuatnya buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Sunggyu tapi ternyata Sunggyu telah terlebih dahulu mengirimkan pesan kepadanya.

 

From : Sunggyu

Maaf, aku harus pergi sebelum kau datang. Aku lupa mematikan kompor dan kuharap kau memakluminya kalau kau masih ingin punya tempat tinggal -,-

 

“Aish, pantas saja jadi seperti ini!” decak Jonghyun kesal memandang meja makan yang sudah dihias sedemikian rupa berantakan tertiup angin, bahkan ada seekor kucing yang sedang mengacak-acak makan malam mereka.

Seo Jin tertawa dan menghampiri kucing itu untuk menggendongnya, “Jangan marah terhadapnya, dia tidak tau apa-apa.” Seo Jin mengelus kepala kucing tersebut dengan lembut. Jonghyun menggaruk kepalanya asal, “Ya aku tau. Maaf ya makan malam kita berantakan seperti ini.” Sesal Jonghyun sambil mengedikkan bahunya.

Seo Jin melepas kucing yang berada dipelukannya lalu berjalan mendekati Jonghyun, “Tidak apa-apa ini berkesan untukku,” ujarnya terkikik geli, “Dan terima kasih.”

Jonghyun menatap dalam bola mata Seo Jin yang meneduhkan baginya. Gadis itu tersenyum dengan tulus sambil mengelus lembut pipi kanan Jonghyun. Tanpa menunggu lama lagi, bibir Jonghyun telah menempel di permukaan bibir Seo Jin yang mungil.

Prok Prok Prok

Suara tepuk tangan mengharuskan mereka melepaskan tautan bibir mereka. Seorang lelaki berperawakan tinggi keluar dari balik pohon acasia sambil tersenyum sinis menatap Jonghyun dan Seo Jin bergantian.

“Salam perpisahan yang mengharukan sekali!” katanya dengan kekehan mengejek. Sayap hitamnya berkelebat menutup dan menghilang dibalik punggungnya.

“Kau siapa?” Tanya Seo Jin setengah berteriak. Lelaki yang tak lain Jungshin itu menatap tajam Seo Jin, “Jaga nada bicaramu, nona kecil!”

Seo Jin menggeram dan maju untuk menampar Jungshin namun Jungshin telah terlebih dahulu mencegah tangan Seo Jin. Mata Jungshin memicing lalu menatap Jonghyun yang berdiri dibelakang Seo Jin.

“Jonghyun, apa kau tidak menjelaskannya kepada teman perempuanmu ini? Apa harus aku yang menjelaskannya?”

Jonghyun membuang pandangnya. Tangannya mengepal untuk meredam amarahnya.

“Lepaskan tanganmu brengsek! Jangan ganggu dia!”

Jungshin melepas cengkramannya pada tangan Seo Jin lalu tersenyum licik, “Baiklah kalau begitu. Kuharap kau tidak melupakan prosedurnya.” Jungshin terkekeh pelan sambil melipat kedua tangannya didepan dada, memperhatikan gerak-gerik Jonghyun dan Seo Jin bersamaan.

“Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?” lagi-lagi Seo Jin tak kuasa menahan rasa penasarannya.

“Oh Jonghyun, ternyata kau benar-benar belum menjelaskannya? Baiklah, aku akan menjelaskannya. Begini nona, aku ada disini untuk memastikan Jonghyun benar-benar membunuhmu!”

Seo Jin terbelalak, “Mem…bunuh…ku?”

Jungshin mengangguk cepat, “Benar nona! Kau pikir apa alasan Jonghyun mendekatimu selama ini?” perlahan Jungshin berjalan sementara Seo Jin melangkah mundur, berusaha menjauhi Jungshin.

“Tidak! Dia tidak akan melakukan itu semua kepadaku!” teriak Seo Jin meyakinkan dirinya yang kini diliputi rasa takut. Jungshin terkekeh pelan, “Begitukah? Kalau begitu kau sangat bodoh!”

Seo Jin tersentak kala punggungnya menabrak sesuatu yang ternyata tubuh Jonghyun. Jonghyun menatap Seo Jin tajam dan mendorong Seo Jin hingga punggung gadis itu menabrak batang pohon akasia yang berada didekatnya. Seo Jin menatap kedua mata Jonghyun tak percaya, “Jadi ini yang kau inginkan dariku?”

Jonghyun terdiam dan membuang pandangnya kearah lain. Mata tajam yang menusuk miliknya kini tidak dapat menatap mata jernih milik Seo Jin, yang kini tengah bertanya kepadanya.

“Kenapa kau menyuruhku untuk mempercayaimu Jonghyun? Kenapa?” kini Seo Jin terisak. Dia merasa dipermainkan oleh Jonghyun. Dia merasa sangat bodoh sekarang karena tidak mendengarkan nasihat Yonghwa dan mencintai orang yang salah.

“Jangan diam saja! Jawab aku, Lee Jonghyun, Jawab aku!!!” Seo Jin memberontak dalam cengkraman Jonghyun. Isak tangisnya membahana, membuat Jonghyun semakin enggan melancarkan niatnya.

“Jonghyun, jangan terlalu lama bermain-main padanya! Atau aku yang akan membunuhnya sekarang juga?!” teriak Jungshin dibalik punggung Jonghyun. Taring Jonghyun kini telah mencuat keluar dibalik bibirnya. Bola matanya telah berubah berwarna merah, menandakan bahwa Jonghyun yang sekarang adalah Jonghyun yang berstatus sebagai seorang blackdarc.

Seo Jin menangis pasrah dalam cengkraman tangan Jonghyun yang mendingin. Matanya yang telah dibanjiri air mata sejak tadi memaksa untuk menatap bola mata merah yang menyala-nyala didepannya,

“Lee Jonghyun, aku tidak pernah menyesal telah mempercayaimu walaupun pada akhirnya kau akan membunuhku. Karena…karena aku mencintaimu.” Bisik Seo Jin lirih saat taring Jonghyun hampir menyentuh permukaan kulit leher Seo Jin.

Jonghyun membeku. Perasaan hangat itu kembali menyelimuti hatinya yang dingin dan membuat bola mata merahnya berganti dengan hitam serta taringnya menghilang kala itu juga.

Matanya menatap wajah Seo Jin yang sembab, yang terpejam menanti sakit yang akan diberikan olehnya. Memori tentang mereka berdua berkelebatan dengan indah di otak Jonghyun. Lelaki itu kini menangis, menangis karena hampir saja dia melakukan hal bodoh yang mungkin tidak akan ditemukannya lagi dilain waktu.

Dengan sigap, Jonghyun memeluk Seo Jin erat, “Nado, aku juga mencintaimu Seo Jin!”

Seo Jin terkejut karena mendapat pelukan hangat dari Jonghyun. Senyum mengembang diwajahnya dan membalas pelukan Jonghyun sesegera mungkin. Rasanya ini seperti mimpi baginya. Seseorang yang beberapa detik lalu ingin membunuhnya kini benar-benar memeluknya.

“Roman picisan macam apa yang kau tunjukkan padaku?! Minggir!”

Jungshin menarik Seo Jin kasar sehingga dia terlepas dari pelukan Jonghyun. Dia mencekik Seo Jin tanpa ampun, sementara Jonghyun kembali dengan taring dan bola mata merahnya. Dia sangat tidak sudi gadisnya disakiti oleh orang lain.

BUK!

Pukulan tepat mengenai wajah Jungshin, membuatnya beralih menatap Jonghyun.

“Lawan aku!” teriak Jonghyun murka. Tanpa menunggu waktu lama Jungshin menubruk tubuh Jonghyun hingga dia terjembab. Jungshin lalu mencakar tubuh Jonghyun hingga darah mencuat kemana-mana.

Andwaeeee! Jangan lakukan itu terhadapnya!” pekik Seo Jin histeris saat mendengar teriakan lirih dari Jonghyun. Jungshin tak menghiraukannya, malahan semakin semangat untuk mencabik-cabik tubuh Jonghyun.

“Per…gi!!!” Jonghyun teriak dengan sekuat tenaganya kepada Seo Jin yang berlari mendekat.

Seo Jin membeku ditempatnya sambil menangis. Dia bingung harus melakukan apa.

“Hentikan, tolong hentikan!!” teriak Seo Jin sekuat tenaga. Jungshin kini berbalik menghadap Seo Jin. Wajahnya dipenuhi darah dan ujung kukunya menetes darah yang berasal dari tubuh Jonghyun. Dengan perlahan Jungshin menghampiri gadis itu lalu mencekiknya.

“Tolong jangan bunuh aku!” pinta Seo Jin memohon. Jungshin tertawa dan menatap Seo Jin sadis.

“Percuma kau memohon kepadaku karena kau akan mati ditanganku!” pekiknya geram dan gemas menatap mangsa yang masih berkeliaran dihadapannya.

BUK!!

Jungshin tersungkur dan tangannya terlepas dari leher Seo Jin. Kali ini bukan Jonghyun yang melakukannya, melainkan Minhyuk!

“Jangan menyentuh sahabatku, mengerti kau?!” Nafas Minhyuk tersengal sambil mendorong Seo Jin agar menjauh dari pandangan Jungshin.

“Sialan kau!!” pekik Jungshin kesal sambil menghela darah yang mulai mengalir dari ujung bibirnya.

Jungshin tak tinggal diam, dia melancarkan serangannya kepada Minhyuk. Ditariknya kerah baju Minhyuk hingga sobek. Minhyuk yang merasa terancam langsung saja mencakar sebagian wajah Jungshin sehingga darah menyiprati sebagian wajah putihnya.

“Seo Jin ah, kita harus meninggalkan tempat ini!” usul Yonghwa yang langsung menarik tangan Seo Jin menjauh dari pergulatan Jungshin dan Minhyuk yang semakin parah.

“Tidak! Oppa, Jonghyun, ia terluka parah oppa.”

Yonghwa menggeleng dan menarik tangan Seo Jin, “Kau tidak bisa mendekatinya sekarang ini.”

Seo Jin berpaling untuk memandang Jonghyun yang tengah merintih kesakitan. Air matanya kembali membanjiri wajahnya saat dirinya semakin sulit untuk menatap Jonghyun.

Lutunya lemas dan kepala Seo Jin mendadak pusing sehingga dia terjembab dan tak sadarkan diri.

~~~

Seo Jin pov

Jonghyun, kau mau kemana?” aku berusaha menggapainya yang berada beberapa meter didepanku. Dia tersenyum sangat lembut, “Jangan menungguku karena aku tidak tau kapan kita akan bertemu lagi.”

Aku menggeleng, “Tidak! Apa maksudmu?! Aku…tidak ingin berpisah darimu Jonghyun, kau tidak bisa pergi begitu saja dariku!”

Jonghyun tersenyum lagi , “Kupastikan aku bertemu denganmu dengan keadaan yang jauh lebih baik dibanding sekarang. Saat cinta kita utuh dan terikat.”

Jonghyun bergerak menjauh dariku dan tenggelam dengan cahaya putih yang menyilaukan mata.

 

“Jonghyun ah!”

“Kau sudah bangun Seo Jin?” Tanya Yonghwa oppa yang daritadi duduk ditepi ranjang. Aku diam dan menatap sekeliling. Jadi itu semua hanya mimpi?

“Dimana aku?!”

“Kau dirumah sakit, kau pingsan dan semenjak dua hari yang lalu kau tidak sadarkan diri.”

Aku mengernyitkan keningku, “Dua hari? Kau bercanda. Mana mungkin aku pingsan selama itu?”

Yonghwa oppa mengedikkan pundaknya, “Entahlah aku tidak tau kenapa selama itu, tapi memang benar kau pingsan selama dua hari.”

Aku menghela nafasku dan menatap pergelangan tanganku yang sedang diinfus. Ingatanku tertuju pada malam itu. Malam dimana Jonghyun bertengkar dengan Jungshin dan aku meninggalkannya saat dia merintih kesakitan. Aku menatap Yonghwa oppa yang sedang asik membaca majalah.

Oppa, boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?”

Yonghwa mengangguk, “Apa saja.” Katanya sambil menutup majalahnya.

“Dimana Jonghyun sekarang? Dia tidak mati kan, oppa?”

Yonghwa oppa menghela napasnya panjang dan berjalan mendekatiku untuk mengelus punggungku pelan, “Dia sudah pergi. Dia kembali ke Blackhill setelah dia membunuh adik angkatnya sendiri, Lee Jungshin.”

Mwo? Dia…dia membunuh lelaki itu? Tapi oppa, bukankah dia waktu itu…”

“Lemah?” Potong Yonghwa oppa, “Yah, aku akui fisiknya jauh lebih kuat dari dugaanku. Tak berapa lama saat kita pergi, dia bangkit dan membunuh Lee Jungshin. Minhyuk yang menceritakannya kepadaku.”

Perasaan lega menyelimuti hatiku, setidaknya dia hidup meskipun mungkin aku tidak dapat melihatnya lagi. Akupun menatap sekeliling, kenapa tidak ada Minhyuk?

“Ngomong-ngomong kemana Minhyuk? Aku tidak melihatnya daritadi.”

“Dia juga sudah pergi.” Jawab Yonghwa oppa singkat. Wajah tampannya berubah murung.

“Pergi? Pergi kemana?” tanyaku penasaran. Yonghwa oppa mengusap kepalaku gemas, “Kembali ke Aloto World.”

Mwo?” kataku tak percaya, “Tapi dia tidak mengucapkan kata perpisahan dulu kepadaku, dasar jahat!” kataku cemberut. Yonghwa oppa terkikik geli, “Sebenarnya dia ingin pamit kepadamu kemarin tapi kau sedang pingsan jadi dia hanya menitipkan ini kepadamu.”

Yonghwa oppa merogoh saku celananya dan menyodorkan permata biru kepadaku.

Aku mengamati permata biru itu. Sangat cantik dan berkilau, “Cantik sekali oppa.”

Yonghwa tersenyum dan ikut memandang permata yang tengah kuputar-putar ditanganku, “Kau benar tapi bukan tak ada maksud dia memberimu permata itu.”

Aku mengernyit heran, “Maksudmu apa?”

“Kau harus memutuskannya dalam waktu dekat ini sebelum struktur sayapmu semakin sempurna. Permata itu yang akan menyerap kekuatan bianco aloto mu.”

“Begitukah?” Yonghwa oppa mengangguk kuat sebagai jawabannya.

Kembali aku menatap permata biru yang berada digenggaman tanganku. Yah bukan hal mudah memang menjadi seorang Bianco aloto, untuk itulah Yonghwa oppa, Umma dan Appa memilih menjadi manusia biasa. Tapi, aku juga tidak berbohong kalau aku mulai nyaman dengan keberadaan sayap ini, dan aku bisa terbang kapanpun aku suka. Hmmm, kenapa ini semua menjadi pilihan sulit?

“Kalau begitu aku sudah mendapat jawabannya sekarang oppa.” Kataku mantap setelah menimbang beberapa saat. Yonghwa oppa tersenyum sambil mengacak ujung kepalaku saat aku mengutarakan keputusan tersebut, “Apapun keputusanmu, kau tetap adikku.”

Akupun tersenyum sambil menggenggam batu permata biru itu didepan dadaku.

Dan cahaya biru yang menyilaukan memenuhi ruang inapku.

~~~

TBC

6 thoughts on “Forbidden Love (Chapter 6)

  1. Semua orang pasti pernah salah, termasuk author😉
    Yg penting cerita ini emang keren bgt thor, jd next partnya jgn lama2, ditunggu bgt ya author…

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s