I Am a Loner

 

 

 

Title       : I Am a Loner

Genre   : Galau (?)

Length  : Oneshoot

Rating   : G

Cast       :

–          Kang Minhyuk

–          Other

Author  : Yoora (@Everlf_13)

Note      : Ff ini hasil kolaborasi (?) dari lagunya Big Bang Day by Day sama I’m a Loner nya CNBLUE. Kalau ada kesamaan jalan cerita ama ff lain, saya nggak nyontek loh, soalnya MV mereka (Big bang-CNBLUE) uda lama terbitnya, mungkin ada yang uda bikin dan jalan cerita sama. Tapi yang ini, saya membuat Day by Day dan I’m a Loner versi saya sendiri. Happy reading.

 

 

Minhyuk POV

 

“Mianhae, oppa. Tapi aku tidak bisa begini terus. Mianhae.”

 

Kutatap nanar pungung yeoja yang aku sayang, semakin lama semakin mengecil seiring jauh langkah kakinya. Pandanganku semakin mengabur, aku rasa karena sesuatu basah yang keluar dari mataku. Ya, aku menangis. Namja bodoh, kenapa menangisinya? Masih banyak yeoja lain diluar sana.

Mungkin, ah bukan mungkin tapi memang. Memang banyak yeoja diluar sana. Tapi, bagaimana jika hatiku tidak sebanyak yeoja-yeoja itu? Hatiku hanya satu. Dan dia telah menghancurkannya. Dia mengambil hatiku, membawanya terbang ke atas dan hari ini dia melemparkan dengan keras ke tanah. Sakit. Sangat sakit. Krystal, kenapa kau lakukan ini?

 

Ku langkahkan kakiku pergi dari taman ini, taman dimana aku dan Krystal bertemu pertama kali dan mungkin juga bertemu untuk yang terakhir kali. Mungkin? Ya, aku masih berharap dia kembali padaku.

Jalanan disini sepi, hanya terdengar lolongan anjing di bukit yang terdapat di belakang rumahku. Kenapa hari ini aku merasa kesepian? Dan kenapa malam ini juga suasana sepi? Apa malam juga ikut merayakan kesepianku? Hah, bicara apa aku ini.

 

“Aku pulang.”

Dengan malas dan asal kulemparkan sepatuku. Tidak ada sahutan dari siapa-siapa, bahkan lampupun tidak mau menyalakan diri. Entah memang sedang pemadaman bergilir (?) atau..

 

“Kau dengar,aku menyesali semua! Kenapa kau tidak menikah saja dengan wanita itu dulu?! Kenapa kau mau..”

 

“Ya! Jangan membentak suamimu! Kau pikir kau saja yang tersiksa?!”

 

“Aku tidak peduli!”

 

“Terserah!”

 

Berdecak dan menghela nafas. Hanya itu yang bisa aku lakukan, aku bosan setiap pulang kuliah hanya pertengkaran ayah dan ibuku saja yang terdengar. Apa mereka tidak malu dengan suara kencang mereka didengar tetangga? Aku saja yang tidak ikut berteriak ikut malu. Aku ingin bisa melihat mereka akur. Apa masalahnya karena mereka dijodohkan dulu? Kalau mereka tidak saling suka, bagaimana mungkin aku bisa lahir? Aku rasa ini hanya salah paham.

Tuhan, biarkan aku beristirahat. Hentikan pertengkaran orang tuaku sehari saja.

 

****

 

Aish, aku terlambat kuliah. Dimana umma yang setiap pagi membangunkanku? Aku selesai mandi juga tidak ada sepotong sarapan apapun di meja makan. Apa aku harus berlari menuju kampus tanpa pasokan energi? Sial sekali aku pagi ini.

 

“Jungshin-ah.. apa.. dosennya tidak.. ada?”

Tanyaku pada salah seorang temanku yang sedang santai menyalin sesuatu yang aku rasa adalah catatan. Aku masih mengatur nafasku yang tidak karuan setelah berlari dari rumah ke kampus. Untung saja jaraknya tidak seberapa jauh.

 

“Ya, kita disuruh mengerjakan sesuatu. Kau ambil saja lembarannya di depan.”

Ck! Tau begini aku tidak perlu capek-capek lari ke kampus. Atau minimal aku bisa mengisi perut dulu tadi di kantin. Kantin?

 

 

Ah, segar sekali jus ini. Ya walaupun setiap hari aku selalu minum jus berwarna kuning kemerahan ini tapi berkat dahagaku jadi terasa lebih segar. Kuitarkan pandanganku sembari mencari angin di kantin. Semalaman tanpa cahaya di rumah membuat kepalaku sedikit pusing.

 

“Krystal..?”

 

Jadi ini alasannya? Bukan karena sikapku yang dingin seperti yang kemarin kau katakan, jadi karena namja itu? Karena namja itu kau menendangku hingga aku menangis? Dan bodoh sekali diriku. Harusnya aku tidak disini. Membiarkan perutku lapar itu lebih baik daripada melihat Krystal dengan namja lain. Dan apa arti tatapan namja itu padaku? Kau mau bilang kalau sekarang Krystal milikmu?

Ayolah, kenapa kakiku tidak mau pergi darisini? Hei, kaki! Kau mau melihatku menangis lagi? Dengar ya, aku tidak akan menangis! Jadi ayo bawa aku pergi dari sini!

 

Lebih baik aku pulang saja. Kuliahku hanya satu jam dan dosen menyebalkan itu tidak hadir setelah aku berlarian. Kenapa hari-hari ku selalu sial?!

 

***

 

“Umma? Umma mau..”

 

“Minggir! Mulai sekarang, jangan hubungi umma lagi!. Umma tidak tahan lagi!”

Kutahan koper besar yang diseret umma. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya tatapanku yang berbicara pada umma agar tidak pergi. Aku tau umma mengerti arti tatapanku, bisa kulihat keraguannya pergi saat melihatku. Tapi tarikan tangannya tetap tidak mau lepas. Seakan tidak mau lebih lama terpengaruh tatapan sayuku.

 

“Umma.. apa tidak bisa bicara baik-ba..”

 

“Kau tidak mengerti, Minhyuk! Kau tidak mendengar apa terjadi setiap hari?! Apa kau tidak bisa mendengarnya?!”

Aku ingin sekali menghapus air mata umma. Tapi saat aku melakukannya, beliau menyentakkan tanganku. Apa aku juga bersalah?

 

“Umma..”

 

“Minggir..”

 

Aku hanya bisa mematung saat lengan umma sedikit menabrakku. Tanpa bisa aku mencegah umma pergi. Tuhan, kenapa kau ciptakan banyak air mata dimata ku? Kenapa kau memberiku hati yang rapuh?

 

“Minhyuk..”

 

“Wae? Wae appa?!..”

Aku menahan air mataku supaya tidak jatuh di depan appa yang kini memegang kedua bahuku. Tatapanku tajam menatapnya seolah berbicara ‘kenapa seperti ini?!’. Aku melepaskan tangan appa dan masuk ke kamarku. Kubiarkan tanpa cahaya disini, karena dengan begitu aku bisa merenungi semua. Tidak kuhiraukan teriakan appa yang memanggilku. Untuk apa? Appa yang bersalah kenapa aku juga ikut menderita?

Krystal, umma, lalu siapa lagi yang akan pergi dariku?

 

***

 

Yaa!!

Teriakku pada diriku sendiri, aku kembali gagal memasukkan bola ke ring. Padahal peluh sudah mengucur deras. Bagaimana mungkin pelatih bisa memilihku menjadi kapten dulu kalau memasukkan bola ke ring saja aku gagal? Kuhempaskan tubuhku yang lepek ke lapangan dan kubiarkan bolaku menggelinding. Kugunakan lengan kananku untuk menghalangi sinar matahari yang menerpa. Sepi, karena aku berlatih basket sendiri. 2 hari lalu aku mengundurkan diri dari tim-ku. Bukan mengundurkan diri, tepatnya diundurkan diri.

 

“Hei, Kang Minhyuk!”

 

Aish! Siapa yang beraninya melemparku dari belakang dengan bolaku sendiri? Tidak tau kalau aku sedang capek?

 

“Kau..?”

 

“Mau bertanding?”

Namja itu, melempar bola basket kearahku dengan tatapan yang menurutku sangat menghina. Namja itu, yang tadi pagi bersama Krystal. Namja itu, yang telah menggantikan posisiku sebagai kapten tim basket.

 

“Hei? Ayo bertanding? Masa baru lepas jabatan dari tim kemarin kau sudah lupa cara bermain basket?”

Apa katanya? Apa dia tidak lihat dari tadi aku sedang apa? Ya, walaupun dari tadi aku gagal memasukkan bola.

Baik, aku terima.

 

***

 

“Hanya ini kemampuanmu? Cih! Pantas saja pelatih lebih memilihku. Dasar namja cengeng.”

 

Apa katanya?! Hei! Jangan karena aku kalah kau bisa mengataiku cengeng! Aku tidak cengeng!

Hanya bisa menatap namja itu pergi menjauh dengan penuh emosi. Aku tidak mau beradu mulut dengannya, percuma karena dia punya sejuta omongan pedas untukku. Cih! Lihat saja cara berjalannya, memuakkan. Dia pikir dia sedang diatas red carpet? Ah, untuk apa aku melihat cara jalan angkuhnya itu?

 

“Oppa..”

 

Suara itu? Aku sangat mengenalnya. Suara yang selama ini selalu menghibur dan memberiku semangat. Suara yang mengusir kesepianku, suara yang menenangkan hatiku, suara yang membantuku melupakan masalah umma dan appa, suara yang membuatku merasa nyaman, suara dari yeoja yang sangat aku sayangi. Suara Krystal. Tapi untuk apa dia..

 

“Oppa, aku mencarimu. Kenapa kau tiba-tiba menghilang?”

 

Bukan aku. Suara itu tidak memanggilku. Suara itu tidak datang kepadaku. Suara itu tidak lagi untukku.

 

BAAMM!!

 

Kuhentakkan dengan keras bola yang kupegang, harusnya tadi aku tidak menoleh. Kang Minhyuk, betapa bodohnya dirimu!

Kenapa kau menoleh, Krystal? Kau terkejut dengan hantaman bolaku tadi?

 

“Jagi? Ayo aku antar pulang?”

Cih! Kau pikir aku akan cemburu melihat kau menggandeng tangan Krystal? Aku tidak peduli. Dan kenapa kau menatapku seperti itu, Krystal? Merasa kasihan? Tidak, jangan lakukan itu. Aku tidak butuh.

 

***

 

Aku masih tidak percaya, atau aku tidak mau percaya tepatnya. Aku dan dia benar-benar akrab sejak kami di SMA. Bahkan karena dia aku bisa mengenal Krystal, yeoja yang sampai sekarang masih sangat aku sayang. Aku tidak percaya ini, aku ingin sekali membencinya tapi hati kecilku melarangku untuk membencinya. Dia orang yang sangat baik padaku dan Krystal, dulu. Penghianat memang tidak bisa ditebak kapan akan bergerak.

 

Haish.. apa setelah Krystal meninggalkanku aku jadi berubah menjadi kutu buku? Kenapa aku senang sekali ada di tempat yang hanya dipenuhi rak-rak dengan buku? Setidaknya ini lebih baik daripada aku bermain drum atau basket yang hanya membuat tubuhku berkeringat dan bau.

 

“Minhyuk-ya!”

 

“Eh? Hyung? Ada apa?” ternyata Yonghwa hyung, tetangga depan rumah yang juga satu kampus denganku. Kututup buku yang dari tadi aku baca dan ikut duduk ke tempat yang diajak Yonghwa hyung.

 

“Temani aku ya nanti malam?”

 

“Eh? Eodi?”

 

“Ke toko alat musik.”

 

***

 

Saat ini aku sedang ada di parkiran tempat Yonghwa hyung memarkir mobil putihnya. Kami baru saja selesai membeli satu gitar kecil. Yonghwa hyung bilang untuk keponakannya yang mau ulang tahun. Tadi dia bilang suruh menunggu disini selama dia ke toilet. Kenapa tidak suruh menunggu di dalam saja sih? Nanti ada yang mengira aku tukang parkir lagi. Masa cakep-cakep begini disangkain yang begituan?

 

TIN TIN!!

 

Aish, aku bau sadar kalau aku ada di tengah-tengah area parkir yang masih kosong. Untung saja mobil itu tidak menabrakku. Dari kaca depan bisa kulihat wajah kesal si pengemudi mobil itu. Krystal? Dan.. namja itu. Tidak. Kenapa hatiku seperti dirajam ratusan duri? Aku tidak cemburu. Tidak akan. Walaupun..

Walaupun aku tau, sekali lagi namja itu merangkul lengan Krystal di depanku sambil melirik menatapku. Bola mata namja itu seolah berkata ‘Krystal milikku sekarang’ padaku. Cih! Aku tidak mau mempertaruhkan Krystal. Yonghwa hyung, ayolah cepat kembali.

 

Aku sudah mau masuk mobil untuk menghindari pemandangan tidak sedap itu, tapi sialnya Yonghwa hyung masih mengunci pintu mobilnya. Dasar hyung!

Dan.. apa-apaan ini?? Hei! Namja kurang ajar! Mau kau apakan Krystalku?

 

“YA! Keluar kau!”

Aku menggebrak kaca depan mobil namja itu, dia makin tersenyum licik lalu memandangku dan sesaat kemudian memainkan rambut Krystal. Shit! Kenapa kau diam saja Krystal?!

 

“Keluar atau kuhajar kau!”

 

Aku sidah bersiap mendobrak pintu mobil itu.

 

“Ya, Minhyuk?! Apa yang kau lakukan? Hei!”

Yonghwa hyung datang dan memegangi lenganku.

 

“Lepas! Aku mau menghajarnya! Lepaskan, hyung!”

 

“Minhyuk! Kita pulang!”

 

“Hyung! Lepas!”

 

Aku benar-benar tak menyangka kekuatan Yonghwa hyung sebesar ini untuk menyeretku pulang. Aku sangat ingin menghaja namja itu. Dan.. kenapa Krystal.. apa dia benar-benar..

Aish, lupakan. Kenapa aku harus menghajarnya? Setauku mereka sudah berhubungan kan? Apa salahnya kalau namja itu mau mencium Krystal? Ah! Tidak boleh! Aku tidak ikhlas!

 

***

 

Ada apa dengan appa? Kenapa wajahnya seserius ini? Dan.. kenapa wanita ini ada disini? Bukankah dia yang membuat umma pergi? Apa dia tidak punya malu datang ke hadapnku?

 

“Minhyuk?”

 

Appa membuyarkan lamunanku.

 

“Appa… akan menikah..”

 

“Mwo?! Maksud appa apa?! Ya!” aku berdiri dengan lantang. Aku  tidak bermimpi bukan? Aku bahkan belum melihat appa dan umma bercerai. Hal yang sangat tidak aku harapkan.

“Dengan wanita ini?! Appa sudah gila?!”

 

“Jaga bicaramu, Minhyuk! Appa serius!”

 

“Aku tidak menyangka appa melakukan ini! Sampai dunia kiamatpun aku tidak akan pernah mau melihat appa menikah dengan wanita sial ini!”

 

PLAK!

 

“Appa bilang jaga bicaramu!”

 

Sakit. Sangat. Baru kali ini appa menamparku. Setidaknya tidak sebanding dengan tamparan yang sering diberikan appa ke umma.

 

“Appa tidak peduli kau mau melihat appa menikah lagi atau tidak! Tapi kau harus menerimanya sebagai istri appa dan sebagai um..”

 

“Tidak akan pernah!”

 

BRAK!

 

Kubiarkan tubuhku longsor dibalik daun pintu kamarku yang baru saja kututup dengan frontal. Tuhan, ingin rasanya aku menangis.

 

PRANG!!

 

“Umma..”

 

Biarkan saja darah yang mengalir di tanganku ini sebagai pengganti air mata dan kaca itu sebagai wujud kehancuran hatiku.

 

***

 

“Minhyuk? Kau melamun?”

Ternyata Yonghwa hyung.

 

“Ani, hyung. Ada apa?”

 

Yonghwa hyung duduk di depanku, “Seminggu ini aku lihatvkau sering melamun di perpus? Apa ada masalah?”

 

“Tidak ada apa-apa hyung. Hanya terpikir tugas.” Aku tersenyum paksa ke arahnya. Terlihat dia sedikit lega. Suasana kembali sunyi, dan selanjutnya terdengar helaan nafas panjang Yonghwa hyung.

 

“Aku dengar Krystal masuk rumah sakit.”

 

Apa?

 

“Dua hari lalu Seohyun menjenguknya.”

 

Aku masih diam. Sakit apa Krystal? Ah, pasti sudah ada namja itu disana.

 

“Kau tidak mau menjenguknya?”

 

Aku hanya menggeleng.

 

“Seohyun bilang saat dia kesana Krystal sedang tidur dan hanya ada seorang namja yang menemaninya.”

Nah, benarkan?

 

“Seohyun juga bilang dia mengigau nama-mu saat dia tidur.”

 

Apa? Aku?

 

“Aku rasa dia kangen padamu,  jenguklah dia, Minhyuk.” Yonghwa hyung tersenyum dan mengacak rambutku. Kulihat Seohyun noona datang dan menggandeng hyung untuk pergi dari perpus.

 

Mian, Krys. Aku tidak mau sakit hati lagi.

 

***

 

Sudah seminggu ini, sejak Yonghwa hyung bilang Krystal masuk rumah sakit dan aku belum menjenguknya. Apa dia sudah pulang atau masih sakit? Semoga saja kau cepat sembuh, Krystal. Jadi aku tidak perlu terbebani untuk menjengukmu dan menghawatirkanmu.

 

“Jogi? Bisa tolong ambilkan buku itu?”

 

Seorang yeoja menepuk lenganku. Dia menunjuk rak paling atas dimana sebuah ensiklopedi besar yang dia maksud ada disana. Dia terlalu pendek untuk meraihnya.

 

“Ini..”

 

“Kamsahamnida..”

 

Aku kembali melanjutkan buku yang sejak tadi hanya aku bolak-balik halamannya. Aku tidak bisa konsen pada apapun. Keadaan Krystal, keberadaan umma, dan lagi appa yang tidak tau situasi itu.

 

Bip bip bip.

 

Sms? Yonghwa hyung? Mau mengajakku kemana lagi dia?

 

“Krystal kritis, dia mengigau namamu terus. Cepatlah kemari!”

 

Apa?!

 

Apa yang harus aku lakukan? Bukan aku tidak mau menjenguknya tapi.. Krystal tidak mengharapkanku lagi. Sudah ada yang lain disisinya. Tapi kenapa namaku yang dia panggil? Apa dia mempermainkanku? Tidak. Aku tidak mau tersakiti lagi. Krystal pasti akan sembuh tanpa aku harus kesana. Lebih baik aku lanjutkan mencari tugas,

 

-2jam kemudian..-

 

“Pabo! Kau dimana?! Sudah kubilang cepat ke rumah sakit!”

From : Yonghwa hyung.

 

 

“Tidak, hyung. Aku tau sudah ada yang menjaga Krystal disana. Dia akan baik-baik saja.”

To : Yonghwa hyung.

 

Drrrtt.. drrtt..

 

Aish, untuk apa hyung menelponku?

 

“Aku tidak akan kesana hyung, aku..”

 

“Krystal benar-benar kritis, babo! Kau tidak takut kehilangan dia?!”

 

“Dia memang sudah hilang dariku, hyung.”

 

“YA! Kankernya sudah terlalu parah, Minhyuk! Dia dioperasi! Cepat kemari!”

 

Tuut.. tuut.. tuut..

 

Tidak, hyung. Mianhae.

 

-1jam kemudian..-

 

From : Yonghwa hyung.

“Ini kesempatan terakhirmu melihat Krystal masih bernyawa dan bisa memanggilmu, Minhyuk! Datang atau kau akan menyesal!”

 

Aku menatap sms terakhir dari hyung dengan perasaan ragu dan takut. Ragu pergi kesana dan takut kehilangan Krystal.

 

“Aaaarrgggh!!”

Teriakanku menggema di perpus itu. Tak kuhiraukan tatapan mahasiswa lain dan penjaga perpus yang siap menendangku keluar.

Yang sekarang aku pikirkan, apa aku harus menemui Krystal?

Ayolah, Minhyuk. Kau harus tau Krystal membutuhkanmu.

 

“Krystal…”

 

Segera aku berlari keluar dari perpus menuju halte bis, ah tidak. Tidak ada bis di jam sibuk seperti ini. Apa aku harus berlari? Aku tau jaraknya tidak dekat. Tapi..

 

“Krystal..”

 

Kuseka air mataku yang terus mengalir selama aku berlarian. Tidak peduli orang memandangku dengan seribu tatapan aneh di jalan. Krystal..

 

Apa ini rumah sakitnya? Tidak lucu jika aku berlari tapi ternyata bukan disini Krystal dirawat.

 

“Yoboseyo? Hyung, di rumah sakit mana?!”

 

“Rumah sakit dekat kampus. Kau mau…”

 

Tutt tuut..

 

Benar.

Aku segera berlari ke lantai 6 setelah memastikan di resepsionis (?) kalau Krystal ada disini. Dan sekarang aku di lantai 3, bertemu namja itu. Namja yang dulu mempertemukanku dengan Krystal dan juga memisahkanku dengan Krystal, Choi Minho. Aku tidak tau apa yang harus aku katakan, hanya menunduk tidak mau menatapnya.

 

“Minhyuk..”

Tanpa aku duga dia menahan lenganku. Aku masih tidak mau melihatnya.

 

“Mianhae. Krystal hanya membutuhkanmu. Hanya kau yang dia butuh. Aku bersalah mau menurutinya berbohong padamu. Mianhae.”

Dia meletakkan sesuatu ke tanganku yang sedari tadi terkepal menahan emosi. Cincin ini?

Minho menyadarkanku yang masih mematung dengan menepuk-nepuk pundakku lalu berlalu pergi. Krystal? Jadi..

 

***

 

Semua mata menatapku saat aku tiba di depan ruang operasi. Yonghwa hyung, Seohyun, dan kakak Krystal, Jessica.

 

“Hyung?”

Aku tidak bisa menahan tubuhku yang lemas saat sampai disana. Air mataku juga tidak bisa aku cegah untuk keluar.

 

“Berdoalah yang terbaik, Minhyuk..”

 

***

 

 

“Ya! Disana licin. Jangan kesana..”

 

“Ayo kesini, oppa.. kejar aku kalau bisa..”

 

“Hei, kau ini.”

 

Aku tersenyum lalu mengikuti arah kemana kaki Krystal berjalan. Diatas jembatan yang tersusun dari batu dan tertancap kokoh diatas sebuah sungai buatan. Aku menuntun tangannya dari belakang hingga kami sampai di ujung.

 

“Oppa, foto aku ya?”

Dia tersenyum ceria sambil menyodorkan kameranya kepadaku. Aku tersenyum saat aku melihat pose nya yang sangat lucu.

 

“Sudah Krystal. Kau tidak capek berlarian terus? Ayo duduk.”

Kutarik tangan dinginnya duduk diatas sebuah batu besar. Dan ku keluarkan sesuatu dari sakuku.

 

“Hei, hari ini kan ulang tahunmu. Aku ada sesuatu..”

 

“Jinja? Apa itu, oppa? Hadiah ya? Aku pikir mengajakku kesini adalah hadiahnya..”

 

“Ani. Aku punya ini..”

 

“Aish? Cincin? Aku kira apa.”

 

Hey, setidaknya aku memberi sesuatu.

 

“Tapi cantik, pakaikan di jariku ya?” dia tersenyum nakal. Ck! Anak ini senang sekali menggodaku.

 

“Wuaah.. oppa. Kita foto berdua ya? Oppa pakai juga cincin oppa. Ayo..”

 

“Ne, ne. Tunggu sebentar aku rapikan dulu topiku..”

 

“Ok, siap? Hana, dul, set.. kimchi..”

 

 

Kilatan cahaya kamera itu muncul dan segera menghilang seiring menghilangnya kenangan itu. Kenangan bersama Krystal. Cincin yang dia pakai dulu dan saat ini, saat dia sudah beristirahat dengan nyaman.

Kutatap figura dimana ada wajah Krystal yang menggembungkan pipinya dan menunjukkan cincin kami di taman itu. Kudekap figura itu hingga aku merasakan hangat tangan Krystal yang sekarang sudah tidak bisa lagi kurasakan dengan nyata.

 

“Mianhae, Krystal-ah..”

 

Air mataku mengalir menatap hujan turun dari balik jendela kaca kamarku. Bayangan Krystal kurasa muncul diantara rintik hujan yang membasahi bumi. Tersenyum hangat seolah menghangatkanku yang diterpa dinginnya hujan.

 

=End=

 

 

 

 

 

 

Leave a Coment^^

 

6 thoughts on “I Am a Loner

  1. krystalnya meninggal?
    pukpuk minhyuk. ternyata skenario ya biar minhyuk ga terlalu kehilangan banget pas krystal udah ga ada.
    nice story

  2. Walaupun sad ending tapi keren thor!
    Aku ikut ‘kebawa’ waktu adegan minhyuk lari ke rumah sakit sambil nangis itu :’)
    Two thumbs up!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s