Teardrops in The Rain

Image

Teardrops in The Rain

CNBLUE/OC; Yonghwa,Jonghyun,Minhyuk,Jungshin,Juhyun&Junhee

Angst

Oneshot

By Yen Yen Mariti (yeowon)

Awal musim gugur di Tokyo sudah diwarnai dengan gerimis setengah harian. Jalanan basah, dan daun-daun menumpuk di jalanan dan banyak juga yang beterbangan karena pengaruh angin yang agak kencang hari ini.

Yonghwa berlari kecil memasuki rumah minimalis yang sudah ditinggalinya hampir empat tahun itu. perasaannya sedikit lega saat memasuki rumahnya yang hangat, dia segera mengganti pakaian kantornya dengan pakaian rumahan yang santai. Lalu berjalan ke dapur dan memasak air untuk membuat secangkir kopi.

Selagi menunggu airnya matang, Yonghwa memutar musik klasik perancis lewat tape kuno yang dia dapatkan di pameran saat masih SMA dulu. Kemudian dia duduk menghadap jendela dapur, dari situ dapat dia lihat halaman kecil rumahnya. Sebatang pohon kiri yang kokoh dan digeromboli susuki di sekitarnya. Yonghwa senang sekali bersantai seperti ini sepulang bekerja, menurutnya ini dapat menghilangkan bebannya sebagai konsultan hukum.

Deringan telepon di ruang kerjanya membuatnya merangsek malas dari kursinya.

“Kediaman Jung Yonghwa di sini,” sapanya sopan, seperti biasa, pada siapapun.

“Hyung !” seseorang di sana memekik, dan nadanya terdengar sangat gembira. “Apa kabar kau?” pekikan itu kembali terulang.

“Jonghyun?” Yonghwa mengerutkan keningnya setengah tak percaya. “Ini kau? Lee Jonghyun?” suara di seberang sudah terlalu lama tak dia dengar, sudah hampir lima tahun lamanya.

“Ya, aku Jonghyun. Apa kabar hyung?”

“Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” Yonghwa balik bertanya sambil mengukir senyum. Jonghyun adalah sahabat sekaligus laki-laki yang sudah dianggapnya seperti adik kandung.

“Aku…” suara Jonghyun tertahan, seakan menahan tawa dan Yonghwa masih menunggu lanjutan ucapan laki-laki itu, “Aku akan menikah.”

Senyum itu menghilang dari wajah Yonghwa, dan mendadak tangannya berpeluh. Tapi dia diam saja, tidak mengucap sepatah katapun.

“Kau harus datang hyung, berjanjilah. Minhyuk dan Jungshin juga sudah kuhubungi dan mereka akan terbang dari china sesegera mungkin,” terang Jonghyun pada Yonghwa. “Tadinya aku ingin kau yang menjadi pendamping-ku di altar nanti, tapi Jungshin dan Minhyuk bersikukuh agar mereka saja, lucu sekali ya,” terdengar suara canda Jonghyun, dan kelihatannya laki-laki itu begitu bahagia hingga dia tidak sadar Yonghwa membisu sejak tadi.

“Itu bagus,” ucap Yonghwa tanpa sadar.

“Ne?”

“Tidak apa-apa, aku harus bekerja sekarang, aku akan hubungi kau jika aku sudah mendapatkan tiket menuju korea,” Yonghwa mendesah pelan dan menutup telepon tanpa persetujuan Jonghyun. Laki-laki itu terdiam, mencoba bernafas dengan teratur.

Sudah begitu lama dia tidak bertemu Jonghyun, dan kini sahabatnya itu menelepon, memberi kabar bahagia yang sebenarnya begitu menusuk bagi Yonghwa. Suara air mendidih dari dapur membawa kembali pikiran sadar Yonghwa yang sempat tenggelam dalam kenangan masa lalu. Dengan langkah pelan dia berjalan ke arah dapur dan mematikan api kompor. Meraih cangkir kopi dan meracik kopi untuknya dengan tergesa-gesa, hingga dia lupa memasukkan gula.

Yonghwa kembali duduk di depan jendela dapur, dan dilihatnya di luar sana gerimis telah berganti menjadi hujan yang deras, bahkan percikan air hujan sampai ke wajahnya. Dihirupnya pelan aroma kopinya sebelum menyeduhnya. Yonghwa mendecakkan lidah saat merasakan kopinya begitu pahit. Tapi ini bagus.

Seseorang pernah berkata padanya bahwa kopi pahit bisa membuatmu lupa akan beberapa masalah. Yonghwa bangkit dari duduknya dan bergerak gusar menuju laci-laci dapur, dan dia menemukan sekotak rokok. Dengan cepat dia meraih mancis dan menghirup rokok. Matanya memerhatikan asap rokok yang mulai melayang bersama angin.

Menghabiskan beberapa batang rokok adalah kebiasaan yang dilakukannya saat dia punya masalah besar. Itu mulai dilakukannya sejak SMA, sejak dia bergabung dengan geng brandal yang sering membisikkan padanya bahwa rokok adalah teman setia yang akan menemanimu saat tiada seorangpun yang dapat mengerti dirimu. Dan sepertinya hari ini adalah masalah besar bagi Yonghwa.

Yonghwa kembali duduk di depan jendela, menghirup rokoknya dan sesekali menyeduh kopinya. Hujanpun benar-benar deras sekarang. Dia mendongakkan kepala, menatap langit yang begitu menyeramkan, sungguh gelap. Langit ini sama persis dengn langit lima tahun yang lalu, saat kelulusan SMA, saat dia tersenyum dan berniat menyatakan cintanya pada gadis yang disukainya sejak SMP tapi semuanya tidak terwujudkan saat dia mendengar suara langkah kaki Jonghyun yang berlari kearahnya sambil berkata ‘Hyung aku dan Juhyun resmi berpacaran.’ Dan langit ini juga sama, saat dia memutuskan meninggalkan Korea dan memilih untuk melanjutkan kuliahnya di Tokyo. Dia masih ingat semuanya dengan jelas. Dan dia yakin betul walau dia tidak bertanya siapa calon istri Jonghyun, jawabnya pastilah Im Jihyun.

Yonghwa mendesah, setidaknya dia berterima kasih pada Minhyuk dan Jungshin. Karena mereka dia tidak harus menjadi pendamping Jonghyun saat di altar nanti, dia tidak perlu susah-susah menyembunyikan tangisnya nanti.

Junhee menggoreskan pensilnya di atas selembar kertas dengan seksama. Sudah berhari-hari dia melakukan kegiatan yang sama—mencoba membuat desain gaun pengantin yang indah. Tapi tetap saja hasilnya sama. Hancur.

Ini sangat aneh, dia sendiri adalah salah satu desainer terkemuka yang ada di korea. Karyanya tidak pernah dipandang sebelah mata, dan membuat desain gaun pengantin bagi Junhee adalah bagai menjentikkan jari saja. Tapi kali ni berbeda, sungguh berbeda. Dia mendesah panjang, menatap kalender di atas meja. Terbayang-bayang wajah Juhyun yang merengek bagai kucing padanya agar gaun pengantinnya dibuatkan oleh Junhee. Dan Junhee setengah menyesali kenapa dia mengiyakannya begitu saja saat itu. tapi apakah masuk akal jika kau menolak permintaan kakakmu sendiri? Im Junhee mendesah untuk yang kesekian kalinya.

Deringan telepon membuyarkan lamunannya, dan dia dengan enggan menjawabnya.

“Im Junhee di sini.”

“Hai, apa kabar?” suara hangat laki-laki menyentuh telinga Junhee.

Junhee tersenyum tipis, dia mengingat suara ini meski terakhir kali dia mendengarnya adalah lima tahun yang lalu. Suara ini suka memenuhi rumahnya, dulu. Suara ini suka membuat lelucon untuknya maupun untuk Juhyun, dulu.

“Kabarku akan kau ketahui jika kau melihatku secara langsung,” jawab Junhee diselingi tawa kecil. Dan laki-laki itu juga ikut tertawa.

“Ya, aku akan datang menemuimu nanti…” ujar laki-laki itu menggantung, “di pernikahan kakakmu,” lanjutnya kemudian. Junhee tersenyum miris.

“Ya.”

Mereka terdiam, terdengar deru nafas masing-masing. Mereka saling tenggelam dalam pikiran masing-masing. Junhee tenggelam akan mimpinya sewaktu kecil; menjadi seorang desainer, dan menikah dengan orang yang dicintainya dengan mengenakan gaun pengantin yang didesainnya sendiri. Tapi sepertinya hanya setengah dari mimpinya yang mampu dia wujudkan. Dan lebih parahnya lagi, kali ini dia harus membuat gaun pengantin untuk kakak kandungnya yang akan menikah dengan laki-laki yang begitu dicintainya. Lee Jonghyun, Im Juhyun.

“Aku harus menutup telepon sekarang, sampai jumpa Yonghwa oppa,” Junhee segera memutus sambungan telepon, dan dia menangis tersedu-sedu hingga merosot jatuh ke lantai ruangannya yang dingin.

Tidak semua mimpi bisa menjadi sempurna, ternyata begitu ya. Junhee bergumam dalam hati.

Yonghwa sendirian, menjauh dari keramaian dan hiruk-pikuk para undangan. Upacara pernikahan telah berakhir dan berjalan dengan sukses. Dia melihat dengan jelas saat Jonghyun tersenyum menatap Juhyun maupun Juhyun yang bahagia saat Jonghyun mencium bibirnya walau hanya dalam hitungan detik. Dan Yonghwa hanya bisa menatap langit, mencoba menahan air matanya yang hampir saja berjatuhan.

“Hyung…” Minhyuk menepuk pundak Yonghwa, pria itu hanya tersenyum tipis dan Minhyuk ikut menyandarkan tubuhnya di dinding seperti Yonghwa. “aku tahu ini sulit bagimu, tegarlah.”

“Hn…” Yonghwa menggumam pelan tanpa menatap Minhyuk.

“Tuhan itu adil hyung, percayalah.”

“Hn…” lagi-lagi Yonghwa hanya bergumam. “Minhyuk…”

“Ya, hyung?”

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Aku tidak harus menjadi pendamping pria-nya. Aku tidak tahu lagi jika benar saja aku yang menjadi pendamping Jonghyun, bagaimana aku bisa mengantarnya ke altar, bagaimana aku bisa melihat senyum bahagia Juhyun, semuanya akan sangat sulit jika saja bukan karenamu dan Jungshin. Sampaikan ucapan terima kasihku pada Jungshin juga,” Yonghwa tidak mendesah, tapi berucap dengan suaranya yang begitu berat.

“Hyung…”

“Aku harus pergi, sampaikan salam bahagiaku pada pengantin baru, sampai bertemu di lain waktu,” Yonghwa menyela ucapan Minhyuk, dan berlalu begitu saja. Meninggalkan taman luas itu tanpa pamit pada siapapun selain pada Minhyuk.

Dan Yonghwa menemukan Junhee bersandar di tembok besar yang sudah berlumut, tak jauh dari taman. Gadis itu tampil cantik dengan gaun putihnya yang sederhana, tapi sayang matanya bengkak.

“Junhee…” Yonghwa mendekat, memegang pundak Junhee yang bergetar. Gadis itu tidak mampu mengucapkan kata apapun, dan air matanya mengucur begitu saja. Yonghwa mendekap tubuh Junhee, menenggelamkan wajah gadis itu di dadanya. “Menangislah semaumu,” bisiknya pelan tepat di telinga Junhee. Printah itu juga berlaku pada diriya sendiri. Setidaknya saat Junhee berhasil meraung di dadanya, Yonghwa juga ikut menangis. Bagaimanapun mereka adalah sama; mereka sama-sama mencintai sejak lama, dan mereka juga sama-sama terluka dan harus menyembunyikan semua lukanya di hari yang sama.

Gerimis tiba-tiba datang secara perlahan, dan dalam beberapa menit kepala Yonghwa sudah basah. Begitu juga dengan Junhee. Tapi setidaknya ini membantu mereka menyembunyikan air mata. sekilas memori melayang-layang di hadapan mereka. Di taman ini, bertahun-tahun yang lalu, Yonghwa dan Jonghyun yang masih remaja dan membawa gitar, serta Juhyun dan Junhee yang juga masih belum dewasa bernyanyi bersama. Lalu Minhyuk dan Jungshin ikut bergabung dan membisikkan beberapa kata-kata yang dapat membuat keempat anak itu berdebar.

Di tempat ini teringat jelas di benak Yonghwa maupun Junhee. Mereka pertama kali jatuh cinta, mereka pertama kali punya cita-cita, dan tampaknya hari ini, di sini mereka harus melupakan cinta dan cita-cita yang sekarang benar-benar tidak bisa mereka gapai walau sekeras apapun mereka berusaha.

Every love story is beautiful, but ours  hurts….

#

Hallo kawan bertemu lagi. saya sudah sangat lama tidak update di sini ya. Akhir-akhir ini saya sulit sekali menulis, entah kenapa tapi saya sangat sulit menghasilkan ff yang bagus dan tampaknya ff yang ini juga tidak bagus haha.

Kalau boleh sedikit curcol, agak aneh ya membayangkan Yonghwa merokok. Ya…begitulah, ini hanya fiksi dan Yonghwa memang benar-benar tidak merokok. Jadi tulisan saya tentang rokok jangan dianggap serius ya.

Silahkan tinggalkan komentar dan pendapat kalian setelah membaca ff ini.

Sekian dan terima kasih ^^

11 thoughts on “Teardrops in The Rain

  1. Gak bagus gimana thor? FF nya bagus kok, malah bagus banget.. nyesek bacanya & dapet banget feelnya :’)

    Kasian Yonghwa sm Junhee :’)
    Eh btw thor, Junhee di FF ini Juniel atau OC? Hehee cuma penasaran aj..
    Overall daebak ^^

  2. Every love story is beautiful, but ours is hurts….
    Kata2nya yg terakhir ini menyentuh sekali.
    Hehehe
    Siapa bilang gag menghasilkan FF yg bagus? Ini cukup bagus kok.
    Membayangkan YH merokok? Oh no!

  3. sblumny sya mw nyapa authornya dlu..
    annyeong author..
    ayuna imnida..^^
    crta yg author bikin keren, meski tdk brakhr bhgia bwt Yong sma Junhee.
    dskripnya dtail, narasiny sy sk.. trz alurnya runtut, meski agak bingung sm cast yg namany Juhyun, krn tb2 gnti Jihyun dn blik lg ke Juhyun, hehe, mgkn misstypo, tp ga ppa..XD
    oh ya, karya author yg lain apa kalo bleh tau? kepengen bc, krn ud lma bgt gak ngunjungn blog ni (krn ksbukn prbdi), dan ngmomg2, jdulny sma kyk jdul lguny Jonghyun yg jd ost.ny Heartstrings ya?
    ok, yg trkhr mian komenny panjang..kkk:~

  4. nggak aneh, aku suka karakter yonghwa yg perokok. dan aku suka ceritanya. ending cerita emang ga selalu happy ending dan aku suka cerita ini. nais!!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s