Stories [Part1]

 

Author : happyhanna @hannamoran

Length : Chaptered

Genre : Romance

Rating : G

Cast :

–          Kang Min Hyuk

–          Jung Yong Hwa

–          Lee Jong Hyun

–          Lee Jung Shin

Disclaimer : many things happened around me, inspired by some novel, movies or songs.

Note: kali ini saya coba ganti format FF, kalo biasanya formatnya cerita utuh, sekarang saya bikin kumpulan cerita. jadi FF saya kali ini hanya penggalan beberapa cerita (tidak dari awal sampai akhir) atu bisa dibilang cerita singkat. cerita satu dengan cerita lainnya tidak berkaitan sama sekali, dan beberapa member memiliki karakter yang berbeda disetiap ceritanya. kali ini saya baru post 4 cerita, pert selanjutkan bakal ada cerita-cerita yang berbeda lagi. penasaran gimana hasilnya?? silahkan dibaca, trus dilike dan terakhir di komen, okaaaay🙂

*****

1. Second Change

Minhyuk menuruni tangga rumahnya sambil membawa sebuah selimut yang tidak terlalu tebal. Lalu ia menghampiri seorang gadis yang tengah duduk menghadap jendela besar didekat ruang makan, gadis itu menyesap teh hangatnya sambil menikmati sisa hujan sore yang menyisakan rintik-rintik.

Lalu minhyuk menyampirkan selimut tadi ditubuh gadis itu, minhyuk duduk disampingnya, mengamati wajah muram gadis itu. sejak kepulangannya dari rumah sakit seminggu lalu, minhyuk belum melihat lagi senyum dan tawa ceria gadis itu. minhyuk meraih tangan wanita itu yang sedang tidak memegang cangkir tehnya, lalu minhyuk mengecupi jemari tangan itu.

“saranghae” bisik minhyuk disela kecupannya pada jemari gadis itu.

“mianhae…” bisik gadis itu dengan senyum lemahnya. Tangan minhyuk beralih mengusap wajah lesu gadis itu

“jagiya… sudah aku bilang berkali-kali berhenti mengucapkan maaf padaku, kau tidak salah apapun”

“tapi kau pasti kecewa minhyuk”

“anio, baiklah aku jujur, awalnya aku kecewa, sedikit. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi kita bisa biarkan ini berlalu. Ini bukan akhir dari segalanya”

“tapi kau sungguh bahagia saat kau tahu aku mangandung anakmu, tapi aku harus menghancurkan kebahagiaan kita karena aku tidak bisa merawatnya dengan baik, aku harus mengalami keguguran dan aku tahu kau sangat sedih minhyuk”

Minhyuk merengkuh tubuh gadis itu dalam pelukannya, dan mengecup puncak kepalanya

“dengarkan aku nyonya Kang, aku menikahimu bukan hanya karena aku menginnginkan anak darimu saja, aku ingin menghabiskan seluruh hidupku denganmu, karena aku mencintaimu. Dan masalah kita kehilangan calon anak kita, aku sudah merelakannya, lagipula dokter bilang kita masih punya kesempatan memiliki anak, hanya saja kita harus lebih berhati-hati kalau kau hamil lagi nanti”

“ah dan satu lagi, aku tahu kau masih trauma, jadi aku akan menyerahkan semua keputusan padamu. Kalau kau sudah siap nanti, kita bisa memulai program untuk memiliki anak lagi, ne?”

“hhmmm…. Terima kasih kau sudah menjadi suami yang sangat baik untukku” gadis itu mengeratkan pelukannya pada minhyuk.

“aku kita keatas, disini udaranya dingin” mereka berdiri dan beranjak menuju kamar, tapi minhyuk menghentikan langkah nya dan merengkuh pinggang gadis itu, minhyuk mengecup bibir gadis itu. gadis itu melingkarkan lengannya dileher minhyuk, sesekali mengelus leher minhyuk.

“kau nakal” bisik gadis itu disela ciuman mereka

“ini supaya kau tidak kedinginan” minhyuk memberi alasan

“terserah kau tuan Kang” gadis itu tersenyum, lalu minhyuk menarik lengan gadis itu lembut menuju kamar mereka.

 

****

3 bulan kemudian

Minhyuk membuka pintu rumahnya tapi tidak terkunci, dan yang ia dapati keadaan rumahnya sepi.

“jagiya… jagiya….” Minhyuk memanggil istrinya tapi ia tidak mendengar adanya jawaban.

“apa dia tidur?” pikir minhyuk sambil terus mencari, ia akan naik kelantai dua untuk mencari istrinya dikamar, tapi minhyuk mendengar suara-suara dari arah dapur, ia segera menuju dapur. Dan minhyuk mendapati istrinya sedang membungkuk didepan wastafel.

“hueeek…. Hueeek” hanya suara itu yang terdengar didapur, gadis itu tengah bergelut dengan mual diperutnya yang memaksa untuk memuntahkan isi perutnya.

“hueeek…hueeeek”

“jagiya… kau kenapa?” Tanya minhyuk panic sambil mengelus punggung istrinya dan mengusap lehernya

“gwenchana, aku hanya tidak enak badan.. hueeek” minhyuk semakin panic, ia buru-buru mengambilkan air putih dan memberikannya pada gadis itu.

Tak lama gadis itu mulai membaik, minhyuk membopongnya untuk duduk disofa, minhyuk membongkar kotak P3K mencari obat penahan rasa sakit.

“sesudah aku mandi, kau ku antarkan kedokter umum supaya kau cepat sembuh” celoteh minhyuk.

“jagiya…” panggil gadis itu

“hmm?” jawab minhyuk masih berusaha mencari obat penahan sakit

“aku rasa….” Gadis itu tampak ragu, minhyuk menoleh dan melihat gadis itu tengah memandangi kalender meja ditangannya.

“aku terlambat 8 hari” kata gadis itu, sontak senyum mengembang di bibir minhyuk, ia meninggalkan kotak P3Knya dan segera menghampiri istrinya.

“maksudmu, kau terlambat datang bulan?” gadis itu mengangguk,s enyum minhyuk semakin mengembang, begitupun gadis itu

“jadi, kau muntah-muntah tadi karena kau……hamil?” minhyuk semakin tampak kegirangan

“mungkin…tapi aku belum  yakin… ya!! Kang minhyuk!!” gadis itu protes saat mendapati suaminya tengah memeluknya erat hingga ia mulai kesulitan bernafas

“jagiya.. kalau begitu aku akan mengantarmu bukan ke dokter umum tapi dokter kandungan” minhyuk benar-benar kegirangan. Ia menggendong tubuh gadis itu dan membawanya berputar-putar.

“minhyuk, aku pusing… turunkan aku jagiya..”

“ah ya, maaf! Kali ini aku akan extra menjagamu, aku berjanji akan menjadi suami siaga. Kali ini kita tidak akan kehilangan calon bayi kita lagi” minhyuk memeluk istrinya, senyum mereka berdua merekah dan minhyuk kembali memagut bibir istrinya lagi. ***

 

 

 

 

 

****

2. Funeral

Kematian, selalu semenyedihkan ini. Kelam, dan menyakitkan.

Laki-laki itu berdiri disudut, sedikit menjauh dari pelayat yang lain, ia mengeratkan coat tebal yang ia kenakan berusaha melawan dingin karena gerimis yang turun tepat disaat ia harus melepaskan kepergian wanita yang memiliki tempat dihatinya.

Mata sembabnya ia tutupi dengan kaca mata hitamnya. Matanya tertuju pada sebuah peti, dimana Minhye telah terbaring tenang untuk selamanya didalam sana. Perlahan peti itu diturunkan masuk kedalam tanah, isakan semakin terdengar terlebih dari anggota keluarga yang ditinggalkan. Laki-laki itu masih tetap diposisinya, mengantarkan kepergian gadis yang pernah menjadi miliknya.

Hatinya hancur, dunianya seolah runtuh.

 

Pemakaman yang selalu memilukan itu akhirnya selesai, hanya tinggal laki-laki itu dan tanah basah yang baru saja ditaburi bunga.para pelayat yang lain tidak sanggup berlama-lama ditempat ini.  Laki-laki itu berjongkok, meletakan karangan bunga dipusara. Terselip sebuah amplop yang sudah lembab terkena tetesan air hujan. Laki-laki itu menatap lekat foto minhye yang diletakan di dekat nisan, laki-laki itu menelusiri gambaran wajah gadis dengan senyum termanis itu. lalu matanya kambali menelusuri tanah basah itu. lalu ia mulai melangkah meninggalkan area pemakaman itu. meninggalkan isi hatinya yang terselip didalam amplop diantara karangan bunganya, untuk gadis yang sudah tenang untuk selamanya.

 

Aku tidak pernah menyangka akhirnya akan seperti ini, yang aku tahu aku akan membahagiakanmu. Aku tidak pernah tahu kalau cintaku padamu tidak sebesar cintamu padaku. kau terlalu sempurna minhye.

Sekarang aku harus membiarkanmu pergi. Aku tidak pernah menyesal pernah mencintaimu.

Selamat jalan, tidak usah menungguku disana, aku tidak akan kembali padamu

 

***

Mobil jonghyun memasuki halaman, ia turun dari mobilnya. Ia disambut seorang wanita yang sudah menunggunya daritadi. Syona. Gadis yang ia nikahi 2 tahun lalu, gadis yang dijodohkan oleh orang tuanya. Gadis yang tahu kalau jonghyun memiliki wanita lain dihatinya tapi ia tetap bersabar menunggu jonghyun mencintainya.

Gadis itu tahu kacaunya hati jonghyun, gadis itu tidak banyak bicara. Selama ini hubungan mereka baik, baik sebatas sahabat. Belum mencapai hubungan layaknya suami istri normal. Tiba-tiba jonghyun mendekap tubuh syona, gadis itu terkesiap.

“maafkan aku… harusnya kau tidak perlu menunggu selama ini” jonghyun membenamkan wajahnya dipelukan gadis itu.

“mulai saat ini, bantu aku mencintaimu, bantu aku belajar mencintaimu” bisik jonghyun lirih. Dan syona menepuk pundak jonghyun, memberinya semangat dan tersenyum karena satu kesempatan berharga yang jonghyun berikan padanya. ***

 

 

 

 

 

****

3.Let Go

Aku sedang asik mendengarkan lagu dari headsetku sambil mengerjakan tugas sekolahku di perpustakaan sekolah, saat jin ae yang sedang duduk disampingku berbisik memanggilku.

“wae?” bisikku sambil melepas salah satu headsetku, takut menganggu keheningan perpustakaan

“itu minhyuuuuk” jin ae terlihat kegirangan, aku menoleh kearah yang ditunjuk jin ae, benar saja minhyuk baru saja duduk dideretan bangku yang agak jauh dari tempatku duduk, tapi maish terlihat cukup jelas. Jin ae tampak kegirangan, bagaimana tidak? kaka kelas yang ia sukai berada ditempat yang sama dengannya, begitu pula aku. Tanpa sepengetahuan jin ae aku juga menyimpan perasaan pada minhyuk hanya saja, aku rasa tidak penting untuk mengungkapkannya pada orang lain.

“jin ae… hei jin ae…” aku menggerak-gerakan telapak tanganku di depan wajahnya yang masih terpesona dengan minhyuk

“ah! Ne?” ia akhirnya kembali ke dunianya lagi

“lanjutkan tugas kita..” kataku, lalu berusaha terlihat biasa dan mengerjakan tugasku lagi, seolah tidak ada orang yang ingin aku perhatikan di deretan meja sana.

“omonaaa… minhyuk oppa keren sekali” jin ae kembali berceloteh dengan pipi bersemu merah.

“jin ae-ya.. selesaikan tugas kita dulu, setelah itu kau boleh menatapi minhyuk oppa sepuasmu” kataku tersenyum melihat sahabatku yang sedang kasmaran. Dan sedikit menekan perasaan ku yang mulai mengambang didalam hatiku.

***

“jin ae-ya… pulang sekolah mampir ke toko kue biasa ya… aku ingin membeli cupcakes”

“ah mian, aku sudah ada janji pulang sekolah nanti. Jeongmal mianhae…” jin ae terlihat sangat menyesal

“ne, gwenchana. Aku bisa membelinya sendiri kok” tak lama bel tanda kegiatan sekolah selesai aku pun segera membereskan buku-buku dan tasku, begitu juga jin ae yang duduk disebelahku.

“Jin ae-ya.. ayo kita pulang” terdengar suara seorang namja dipintu, aku terkejut melihat minhyuk sudah berdiri dipintu kelas.

“aku duluan ya, lain kali aku janji mengantarmu ke toko kue… annyeong…”

“tunggu dulu, jin ae… kau dan minhyuk?” tanyaku heran

“dia menyatakan perasaannya padaku kemarin, dan aku menerimanya” bisik jin ae girang.

“annyeong..” jin ae melambaikan tangannya lalu meninggalkan aku dengan senyum berseri, menghampiri minhyuk dan ia menggandeng tangan minhyuk, tak lama mereka beranjak meninggalkan kelasku.

Aku menghela nafas panjang, aku terlambat satu langkah, tapi ya sudahlah… toh mereka terlihat serasi, aku mendukung mereka. Akupun segera beranjak meninggalkan bangkuku.***

 

 

 

****

4. Perfection

Yonghwa menatap lurus kearah lautan luas yang terhampar didepannya, ia tengah duduk di teras belakang villa miliknya yang langsung menghadap laut. Masih cukup pagi, kabut tipis masih menyelimuti.

Yonghwa terhenyak saat merasakan pelukan dari belakang tubuhnya, sedikit menghembuskan nafas hangatnya di leher yonghwa.

“selamat pagi Tuan Jung yang hanya milikku seorang…” sapa wanita yang tengah memeluknya dengan ceria, lalu ia duduk disamping yonghwa.

“kau tidak kedinginan?” Tanya wanita itu, yonghwa menggeleng

“tadi ya, tapi setelah kau peluk rasanya hangat”

“aiiissshhh…. Kau mencoba menggombal?” protes gadis itu dengan nada sok sebal, yonghwa hanya terkekeh.

“ah tunggu sebentar…” lalu wanita itu menghilang kedalam villa, tak lama ia membawa 2 cangkir teh dan menyodorkan salah satunya pada yonghwa, gadis itu kembali duduk.

“teh buatanmu selalu enak” puji yonghwa sambil menyesap teh yang masih agak panas itu.

Lama tidak ada yang berbicara, keduanya hening, menikmati deburan ombak dan hangatnya teh yang mengurangi dinginnya pagi. Tak lama dari kejauhan terlihat seorang pria tengah lari pagi, melintasi pandangan yonghwa dan wanita itu, yonghwa berdeham

“Chaemin-a… kenapa kau tidak menceraikanku dan menikah dengan laki-laki seperti itu?” tunjuk yonghwa pada laki-laki yang tengah melintas lari pagi dipinggir pantai itu.

“lihat dia, tubuhnya atletis, tampangnya lumayan walaupun aku maish lebih baik, dia bisa melindungimu dari apapun aku rasa” mendengarkan celotehan yonghwa, chaemin hanya tersenyum.

“Aku hanya ingin kau yang ada bersamaku sampai aku mati nanti, tidak ada yang lain” jawab chaemin mantap

“kau cantik sayang. Kau sepantasnya mendapatkan seseorang yang sepadan denganmu juga”

“kau tampan yonghwa… kau ingat kau menjadi idola banyak wanita dikampus dulu, syukur kalau akhirnya kau melirikku sigadis biasa saja ini” yonghwa tersenyum getir setiap ingat masa-masa kuliahnya 6 tahun lalu.

“itu dulu chaemin-a… apa kau tidak iri dengan teman-temanmu yang bisa membanggakan suaminya yang sehat?”

“oh Jung Yong Hwa…. Kau tidak sedang sakit, tubuhmu 100% sehat. Bahkan penyakit flu pun kau tidak. apa yang kau bicarakan? Kau berbicara seolah kau sedang menderita penyakit menular atau penyakit parah yang mematikan” Chaerin mendelik kesal, selalu saja yonghwa berfikiran seperti ia akan mati besok, padahal yonghwa sehat tanpa satu penyakit apapun.

“chaerin, aku tidak seperti suami yang kau idamkan, aku tidak bisa melakukan apapun untukmu,aku tidak berguna”

“kau sangat berguna, kau sempurna dimataku. Kau tidak perlu melakukan apapun untukku, kau hanya perlu ada didekatkku, hadir dalam hidupku. Itu saja… kau sudah melakukan semuanya untukku dengan sempurna”

“kadang aku berfikir, kenapa kau berjodoh dengan aku ya? Kenapa kau tidak berjodoh dengan laki-laki lain yang jauh lebih berguna daripada aku? Kadang hidup itu lucu” yonghwa menerawang jauh, jemari tangan Chaemin menyusuri lekuk wajah yonghwa, membuat yonghwa menoleh kearahnya,

“dengarkan aku, aku hanya akan mengatakannya sekali padamu. Apapun dirimu, bagaimanapun dirimu aku akan selalu mencintaimu, kenapa Tuhan menyatukan kita, karena kita melengkapi satu sama lain. Bagaimanapun sempurnanya seorang laki-laki lain dihadapanku, kau tetap yang paling sempurna, selamanya aku hanya untukmu. Bahkan 3 tahun lalupun saat semuanya terjadi, saat kejadian paling menyedihkan dalam hidup kita terjadi, aku tidak pernah menyesal menjadi istrimu, aku tahu kau butuh aku, dan aku butuh kau. Kita akan bersama, sampai kita punya banya anak, membesarkan mereka bersama, melihat mereka bertumbuh sampai kita tua dan melihat cucu-cucu kita berlari riang disekiatr kita, sampai kita mati” chaemin mengecup bibir yonghwa singkat. Yonghwa menghapus tetesan air mata yang mulai menggenangi mata chaemin.

“nah sekarang ayo kita masuk, besok kita harus kembali ke busan dan kau harus memimpin rapat perusahaan. Sekarang aku siapkan semua yang kau butuhkan untuk membuat presentasi” chaemin berdiri berjalan kearah belakang yonghwa, ia memutar kursi roda yang diduduki yonghwa dan mendorongnya masuk kedalam villa.

****

– Part 1-

 

 

8 thoughts on “Stories [Part1]

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s